Senin, 17 Februari 2025

Menyesuaikan Langkah di Tempat Baru



Karya: Gutamining Saida

Penilaian Tengah Semester (PTS) Genap tahun ajaran 2024/2025 kali ini membawa pengalaman baru bagi saya. Meski sudah terbiasa menjadi pengawas dalam berbagai ujian, kali ini ada sesuatu yang berbeda. Saya ditugaskan di SMPN 3 Cepu, sebuah sekolah yang masih terasa asing bagi saya. Ini adalah kali pertama saya menjadi pengawas di sini.  Tentu saja ada rasa penasaran sekaligus sedikit canggung yang menyertai langkah saya.

Ketika tiba di sekolah, saya sempat berpikir akan langsung mendapat tugas mengawasi sejak jam pertama. Ternyata saya tugas mengawasi di jam kedua. Ada perasaan lega, karena saya bisa mengamati suasana terlebih dahulu. Ada sedikit gelisah, karena saya harus mencari lokasi ruangan yang belum saya kenal. Saat melihat jadwal pengawas PTS, saya membaca nama saya di ruang 24 untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Saya menghela napas dan mulai mencari ruang 24. Sekilas, saya melihat peta lokasi yang terpasang di dinding. Saya merasa perlu bertanya agar tidak salah jalan. Beruntung, ada seorang teman yang lewat di saat saya berjalan. Kami berjalan beriringan dan dia dengan sabar menunjukkan arah yang harus saya tempuh.

“Naik tangga samping masjid, lalu ikuti jalan lurus sampai ke kelas yang paling akhir,” ujarnya.

Saya mengangguk tak lupa mengucapkan terima kasih. Saya bersyukur kepada Allah Subhanahu Wata’alla ada yang membantu menunjukkan. Dengan hati-hati, saya melangkah menaiki tangga. Udara pagi masih terasa sejuk walau sudah di jam kedua. Suasana sekolah sudah cukup hening siswa sudah bersiap menghadapi Penilaian Tengah semester (PTS). Saya terus berjalan lurus mengikuti petunjuk teman hingga akhirnya sampai di ruang 24.

Sesampainya di depan kelas, saya menarik napas dalam-dalam. Saya terlebih dahulu mengamati suasana kelas sebelum masuk. Setiap tempat memiliki kebiasaannya masing-masing dalam kegiatan PTS atau semesteran. Saya harus cepat menyesuaikan diri.

Saya masuk ke dalam kelas. Para siswa sudah duduk rapi di bangku mereka masing-masing. Amplop coklat yang berisi  lembar soal serta jawaban saya buka. Sebelumnya saya membaca mata Pelajaran dan waktu pelaksanaan sudah sesuai. Kemudian saya bagikan kepada peserta PTS. Mereka semangat membaca soal dengan serius.

Saya kemudian melihat sekeliling kelas. Ada satu hal yang menarik perhatian saya. Tas sekolah para siswa tetap berada di dekat mereka. Di sekolah tempat saya dulu ada kebiasaan meletakkan tas di depan kelas atau dibawah papan tulis sebelum ujian dimulai. Ini dilakukan untuk memastikan tidak ada catatan atau contekan yang tersembunyi di dalam tempat pensil atau penghapus. Di SMPN 3 Cepu, tampaknya sudah ada kepercayaan penuh terhadap siswa.  Saya pun menyesuaikan diri dan tidak mempermasalahkan hal ini.

Selama Penilaian Tengah semester berlangsung, saya memastikan suasana tetap kondusif. Beberapa siswa tampak mengerutkan dahi, berpikir keras mencari jawaban.  Sementara yang lain menulis dengan lancar. Saya memperhatikan bahwa tidak ada gerakan mencurigakan. Semua siswa tampak fokus pada lembar jawaban masing-masing.

Sekitar setengah jam berlalu, saya tetap focus bertugas sebagai pengawas. Ada salah satu siswa berjalan mendekati saya. “Bu, ini jawaban B dan D sama.” tanya dia dengan singkat.

“Kerjakan nomor yang lain dulu, sambil menunggu bila ada pengumuman.”jawab saya.

“Baik bu.”jawabnya sambil membalikkan badan menuju tempat duduknya.

Waktu terus berjalan dan suasana tetap kondusif hingga akhir sesi. Ketika waktu habis, saya meminta siswa untuk berhenti menulis dan mengumpulkan lembar jawaban. Mereka melakukannya dengan tertib, tanpa perlu banyak diingatkan. Saya tersenyum dalam hati. Mungkin memang benar, karakter disiplin di sini sudah terbentuk dengan baik.

Setelah memastikan semua lembar jawaban terkumpul, saya melangkah keluar dari ruangan dengan perasaan lega. Meskipun ini pengalaman pertama saya menjadi pengawas di SMPN 3 Cepu, semuanya berjalan dengan lancar.

Saat saya menuruni tangga, saya kembali berpikir bahwa setiap sekolah memang memiliki caranya sendiri dalam melaksanakan tes (ujian). Ada kebiasaan yang berbeda, ada aturan yang mungkin tidak sama dengan tempat lain. Tetapi pada akhirnya yang paling penting adalah bagaimana kita menyesuaikan diri dan menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya.

Hari  ini saya belajar bahwa dengan sikap terbuka dan keinginan untuk menyesuaikan diri, kita bisa melewati semua tantangan dengan baik. Saya tersenyum sambil melangkah menuju ruang guru, siap untuk melanjutkan tugas berikutnya.

Cepu, 17 Februari 2025

 

Rabu, 12 Februari 2025

Langkahmu Lewat Jalan Tol

Karya: Gutamining Saida

Bel berbunyi menandakan pergantian jam setelah jeda istirahat. Saya bergegas dari ruang guru menuju kelas 7C. Di sela-sela langkah, beberapa guru lain juga bersiap menuju kelas masing-masing. Ada yang ke lantai atas, ada yang menuju ruang laboratorium dan ada pula yang menuju kelas yang lebih jauh.

Di samping saya, seorang guru yang mengajar di kelas 9 berjalan dengan santai. "Saya lewat jalan tol biar cepat sampai Bu," katanya sambil tersenyum.

Saya ikut tersenyum mendengar ucapannya. Jalan tol di sekolah? Ternyata maksudnya adalah lorong atau jalur yang lebih cepat untuk mencapai kelas. Setiap guru memiliki jalannya sendiri-sendiri untuk sampai ke tempat tujuan. Beberapa orang mencari cara tercepat, sementara saya menikmati langkah-langkah yang harus ditempuh.

Kelas 7C berada di bagian ujung bawah sekolah, cukup jauh dari ruang guru. Untuk mencapainya saya harus melewati beberapa ruang kelas, kantin dan menuruni beberapa tanjakan. Jarak ini mungkin terasa melelahkan bagi sebagian orang.  Tetapi bagi saya, ini adalah berkah. Alhamdulillah, saya masih diberi kesempatan dan kekuatan untuk melangkahkan kaki jarak jauh.

Dengan berjalan lebih jauh, kaki saya menjadi lebih kuat. Setiap langkah yang  saya ambil adalah bagian dari perjalanan hidup saya sebagai seorang guru IPS. Saya tidak hanya berjalan secara fisik, tetapi juga secara batin. Setiap langkah menuju kelas adalah perjalanan menuju ilmu, menuju pertemuan dengan para siswa yang menanti.

Ketika sampai di depan kelas 7C, beberapa siswa sudah menunggu. Ada yang masih sibuk mengobrol, ada yang membereskan meja, dan ada yang buru-buru masuk begitu melihat saya datang. Saya tersenyum, lalu melangkah masuk.

"Assalamu alaikum, anak-anak," sapa saya.

"Waalaikum salam Bu!" jawab mereka serempak.

Saya meletakkan buku di meja dan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Seperti biasa, kelas ini penuh dengan energi. Ada semangat, ada tawa, ada rasa ingin tahu. Di sinilah tugas saya.  Di ruangan ini bersama mereka yang sedang tumbuh dan giat belajar.

Kami membahas materi baru. Saya mencoba menjelaskan dengan cara yang menyenangkan, agar mereka tidak merasa bosan. Beberapa anak terlihat antusias, mengangkat tangan dan mengajukan pertanyaan. Ada juga yang masih ragu-ragu.  Saya tahu, mereka menyimak dengan baik.

Setiap kali mengajar di kelas 7C, saya merasa mendapatkan energi baru. Mungkin karena perjalanan saya ke kelas cukup panjang.  Saya melihat semangat mereka yang masih segar dalam belajar. Banyak siswa yang menarik perhatian, yaitu yang memiliki postur besar yang aktif, satunya kalem penampilannya. Si kecil selalu usil dengan temannya.

Setelah pelajaran usai.  Saya melangkah keluar kelas dengan hati yang ringan. Kembali menaiki tanjakan, kembali menyusuri jalan dan ke ruang guru dengan perasaan puas serta bahagia. Saya telah selesai menjalani tugas dengan baik.

Di perjalanan, saya kembali teringat ucapan teman tadi tentang jalan tol. Ya, setiap orang memang memiliki jalannya masing-masing. Ada yang mencari jalan cepat, ada yang menikmati perjalanan. Saya memilih untuk menikmati setiap langkah saya. Karena dalam setiap langkah itu, ada makna, ada kekuatan, dan ada kebahagiaan. Semoga bermanfaat.

Cepu, 13 Februari 2025

 


 

Cerita Yang Ditunggu

 


Rabu sore selalu menjadi waktu yang  saya tunggu-tunggu. Setelah dua hari jam mengajar penuh tanpa jeda. Saya akhirnya memiliki waktu untuk membuka kembali catatan ide yang telah saya simpan rapi. Di hari Senin dan Selasa, saya terlalu sibuk dengan tanggung jawab sebagai seorang guru. Dari jam pertama hingga jam terakhir. Saya berada di kelas, mengajar, membimbing, dan mendampingi siswa. Tiada kosong jam, bahkan saat istirahat saya lebih memilih untuk bersantai sejenak menikmati jeda waktu.

Rabu sore semua berubah. Saya duduk di depan meja kerja, membuka catatan ide yang sudah saya susun sebelumnya. Saya mulai mencurahkan pikiran ke dalam kata-kata. Saya ingin merangkai sebuah cerita. Cerita yang telah dinantikan oleh para pembaca setia saya. Ada kepuasan tersendiri saat  melihat deretan kalimat mulai tersusun rapi, mengalir menjadi kisah yang utuh.

Menulis bukan sekadar hobi bagi. Ini adalah bagian dari diri saya. Sebuah cara terbaik untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan. Setiap kata yang  saya tulis membawa makna. Setiap kalimat yang tersusun memiliki cerita tersendiri. Saya ingin setiap pembaca yang menemukan tulisan saya dapat merasakan sesuatu. Baik itu inspirasi, kebahagiaan, atau sekadar refleksi kecil tentang kehidupan.

Kadang menulis tidak semudah yang dibayangkan. Ada saat di mana saya menatap layar kosong, berpikir keras, tetapi tidak satu kata pun terangkai. Saya tidak pernah menyerah. Saya tahu bahwa setiap ide membutuhkan waktu untuk berkembang. Maka, ketika saya merasa buntu. Saya kembali membuka catatan ide, membaca ulang, mencari inspirasi dari sekeliling, atau sekadar mengambil jeda dengan menikmati segelas air putih.

Ketika akhirnya tulisan selesai dan saya merasa lega. Saya segera mengunggahnya ke blog, tempat di mana para pembaca bisa menikmatinya. Setiap kali menekan tombol "unggah," ada rasa bahagia yang tak bisa dijelaskan. Saya membayangkan bagaimana mereka akan membaca tulisan, bagaimana cerita ini mungkin akan menyentuh hati seseorang, atau memberikan makna bagi mereka yang membutuhkannya.

Saya tidak pernah mengharapkan pujian atau penghargaan besar dari menulis. Bagi saya, kebahagiaan tidak harus mahal. Cukup dengan mengetahui bahwa tulisan bisa dinikmati orang lain. Hal tersebut sudah membuat hati penuh rasa syukur kepada Sang Pencipta.

Menjadi seseorang yang bermanfaat adalah anugerah terbesar dalam hidup. Saya bersyukur bisa berbagi ilmu di kelas sebagai seorang guru IPS.  Berbagi cerita di dunia maya sebagai seorang penulis. Kedua peran ini membuat hidup lebih berarti. Membuat saya merasa bahwa setiap hari yang berlalu memiliki makna.

Saya akan terus belajar menulis, merangkai kata, mengabadikan kisah, dan berbagi dengan dunia. Karena bagi seorang penulis, tidak ada kebahagiaan yang lebih besar selain melihat tulisannya hidup di hati pembaca.

Cepu, 13 Februari 2025

 

 

Tangga Menuju Kesuksesan

Karya: Gutamining Saida

Saya kembali bergegas menuju kelas setelah istirahat. Seperti biasa langkah saya melewati depan masjid sekolah. Tempat yang selalu memberikan ketenangan. Hari ini ada sesuatu yang menarik perhatian mata saya. Saya melihat dan membaca tulisan di tangga masuk masjid SMPN 3 Cepu lebih saksama. Di setiap anak tangga tertulis kata-kata penuh makna.

Saya berdiri sejenak di hadapan tangga itu, membacanya dari bawah ke atas.

  • Aku semangat.
  • Aku optimis.
  • Aku berdoa.
  • Aku bertawakal.
  • Aku lulus dan sukses.

Kalimat-kalimat itu begitu sederhana, tetapi memiliki kekuatan luar biasa. Saya tersenyum, membayangkan setiap siswa yang melewati tangga ini. Mungkin bagi mereka, ini hanya sekadar tulisan. Akan tetapi jika direnungkan, sebuah pesan berharga tentang perjalanan menuju keberhasilan.

Saya menaiki anak tangga pertama. Aku semangat. Ya, segala sesuatu harus dimulai dengan semangat. Tanpa semangat, langkah pertama pun terasa berat. Seperti siswa-siswa saya yang setiap pagi datang ke sekolah, mereka butuh semangat untuk belajar, untuk berjuang. Begitu pula saya, sebagai guru baru, harus tetap bersemangat agar bisa mengajar dengan baik.

Langkah saya naik ke tangga kedua. Aku optimis. Keyakinan adalah kunci. Seberapa pun sulitnya sebuah perjalanan, jika kita optimis pasti ada jalan keluar. Saya sering melihat siswa yang merasa kesulitan dalam belajar, tetapi mereka yang tetap optimis akhirnya bisa memahami materi dengan baik. Optimisme adalah bahan bakar yang membuat kita terus maju.

Saya melangkah ke tangga ketiga. Aku berdoa. Manusia hanya bisa berusaha, tetapi hasilnya tetap di tangan Tuhan yaitu Allah Subhanahu Wata’alla. Saya mengingat betapa pentingnya doa dalam setiap langkah hidup saya. Banyak hal yang  saya pikirkan tak akan bisa dilalui. Akan tetapi dengan doa dan keyakinan, semuanya menjadi lebih mudah.

Tangga keempat. Aku bertawakal. Setelah berusaha dan berdoa, ada satu hal yang harus dilaksanakan yaitu berserah diri. Tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi percaya bahwa Tuhan Allah Subhanahu Wata’alla akan memberikan yang terbaik. Saya selalu mengajarkan ini kepada siswa-siswa saya. Berjuanglah, berusahalah, tetapi tetaplah bertawakal.

Akhirnya, Saya sampai di tangga paling atas. Aku lulus dan sukses. Ini adalah tujuan dari semua perjuangan. Namun, kesuksesan bukan hanya tentang nilai yang tertulis di ijazah. Sukses adalah tentang menjadi pribadi yang lebih baik, yang terus berkembang dan memberi manfaat bagi orang lain.

Saya berdiri di atas tangga, memandang ke bawah. Saya membayangkan para siswa yang menaiki tangga ini setiap hari. Mereka mungkin belum menyadari bahwa setiap langkah yang mereka ambil di tangga ini adalah gambaran dari perjalanan mereka menuju masa depan.

Saya melanjutkan langkah ke kelas dengan hati yang lebih santai tapi pasti. Kata-kata di tangga itu akan selalu menjadi pengingat bagi saya. Bahwa setiap keberhasilan dimulai dari semangat, optimisme, doa, tawakal, dan akhirnya, kesuksesan. Aamiin

Cepu, 12 Februari 2025

 

 

Tangga Harapan

Karya : Gutamining Saida

Rabu pagi tanggal 12 Februari 2025 Saya berangkat lebih awal ke sekolah. Hari itu terasa berbeda, mungkin karena udara yang lebih sejuk setelah gerimis semalam.  Setelah parker motor. Saya melangkah menuju ruang guru. Saat di Tengah perjalanan ke ruang guru, saya menemukan sesuatu yang menarik. Sejak satu bulan mengajar di SMPN 3, masih banyak sudut-sudut sekolah yang belum sempat Saya jelajahi. Bukan karena tidak ingin, tetapi kesibukan mengajar penuh. Saya baru menjelajahi tempat-tempat yang saya anggap penting. Contohnya yaitu kamar kecil, masjid, kelas yang saya ajar. Di hari Selasa dan Rabu membuat waktu terasa begitu terbatas. Saya hanya bisa mencari ide dan mengumpulkannya, tanpa sempat menuliskannya dengan rapi. Namun, Saya selalu menanamkan dalam diri bahwa hari Kamis adalah hari yang Merdeka khususnya untuk mengajar di kelas. Hari di mana saya bisa menuliskan semua yang tersimpan di kepala.

Saat melangkah menuju ruang guru, mata saya tertuju pada tangga masuk masjid sekolah. Di setiap anak tangga, tertulis deretan kata-kata yang begitu sederhana tetapi penuh makna: "Aku lulus dan sukses, Aku bertawakal, Aku berdoa, Aku Opimis, Aku semangat." Lima kalimat singkat, tetapi seakan memiliki energi yang luar biasa. Saya berhenti sejenak, membaca kembali tulisan itu dengan lebih saksama. Ada sesuatu yang menarik di sana, sesuatu yang bisa kutuliskan nanti.

Saya mengambil ponsel dari dalam tas dan mengabadikan tangga tersebut dalam beberapa gambar. Saat itu seorang siswa lewat dan tersenyum pada saya. "Bu, untuk apa tulisan di tangga ini difoto?" tanyanya.

“Untuk diabadikan.” jawab saya singkat.

“Sudah pernah membaca bu?” tanya dia kembali

Saya menggeleng. "Baru kali ini memperhatikannya lebih dekat. Kamu sering membacanya?"

Anak itu mengangguk. "Iya, Bu. Setiap naik ke masjid, saya selalu membaca tulisan ini dalam hati. Rasanya seperti mengingatkan diri sendiri untuk tetap semangat."

Saya tersenyum mendengar jawabannya. Ternyata, kata-kata itu bukan sekadar dekorasi di tangga, tetapi benar-benar menjadi sugesti positif bagi yang membacanya.

Saat istirahat sekolah saya masih memikirkan tangga itu. Saya bertanya-tanya siapa yang pertama kali mencetuskan ide menuliskan kata-kata tersebut di sana. Apakah guru agama? Apakah kepala sekolah? Atau mungkin para siswa sendiri? Saya bertanya dalam hati. Suatu saat yang tepat pasti akan saya cari jawaban dari guru yang sudah lama mengajar di SMPN 3 Cepu.

Saya tersenyum pasti ada kisah di balik tulisan itu. Tulisan begitu sederhana, tetapi maknanya begitu dalam. Kata-kata memiliki kekuatan. Apa yang sering kita ucapkan dan kita baca bisa menjadi doa, bisa menjadi penyemangat.

Tangga harapan di masjid SMPN 3 Cepu menjadi inspirasi saya kali ini. Saya berharap, semoga suatu hari nanti, para siswa yang membaca tulisan di tangga itu benar-benar merasakan dampaknya dalam hidup mereka. "Aku lulus dan sukses, Aku bertawakal, Aku berdoa, Aku Opimis, Aku semangat." Aamiin Ya Rabbal Aalamiin.

Cepu, 12 Februari2025

 

 

 


 

Selasa, 11 Februari 2025

Karya: Gutamining Saida

Anak dan cucu-cucu sedang berlibur di Cepu. Tempat tinggal mereka di kota Tegal. Jarak tempuh dengan kereta api butuh waktu lima jam.  Situasi rumah terasa lebih ramai dari biasanya. Mereka mengisi setiap sudut rumah dengan tawa dan keceriaan mereka. Satu hal yang menarik perhatian mereka apabila ada pasien datang terapi.  Tiap saat hadir pasien di ruang terapi mereka ingin ikut masuk ke ruang terapi. Ruang terapi bekam dan akupungtur yang dikelola oleh tante mereka. Tante yang biasa disapa dengan “Amah Faiz”.

Amah Faiz membuka praktik akupungtur dan bekam. Pasien datang silih berganti, ada yang mengeluh pegal-pegal, ada yang merasa tidak enak badan, dan ada juga yang sekedar ingin menjaga kesehatannya. Umi Bilta sering melihat prosesnya, tetapi tak pernah punya keberanian untuk mencoba. Uminya takut pada jarum.

"Umi, tuh amah Faiz ngapain di ruang terapi?" tanya Zaskia, anak pertama dari umi Bilta.

"Itu, nerapi pasien." jawab umi Bilta.

"Kakak Zaskia mau coba, mii!" seru cucu saya dengan mata berbinar.

"Kamu masih kecil, apa tidak takut?." Tanya Umi  Bilta sambil tertawa kecil.

“Tidak takut Mii,” jawab Zaskia singkat.

“Bilang sana, sama amah Faiz.” Ujar umi Bilta

Saat di ruang terapi, dan tidak ada pasien Zaskia minta di bekam. Si adik laki-laki yang bernama Hamzah dan adik perempuan El membuntututi dari belakang.

“El juga mau! El juga, nggak takut mii!"

“Hamzah nanti juga, ya mii!” ujar Hamzah

Bekam adalah terapi pengobatan tradisional yang sudah ada sejak zaman dahulu. Metode ini bekerja dengan cara menyedot darah kotor dari tubuh menggunakan alat khusus yang disebut kop bekam. Dalam praktiknya, bekam dipercaya bisa melancarkan peredaran darah, membuang racun dari dalam tubuh, mengurangi nyeri, hingga meningkatkan daya tahan tubuh.

Orang-orang yang rutin melakukan bekam sering merasa tubuh mereka lebih ringan, segar, dan berenergi. Bahkan, bekam juga sering digunakan sebagai terapi untuk mengatasi berbagai penyakit seperti migrain, tekanan darah tinggi, atau nyeri sendi.

Meskipun banyak manfaatnya, tidak semua orang berani mencoba bekam. Umi Bilta salah satunya. Ada beberapa alasan mengapa bekam sering kali terasa menakutkan bagi orang awam yaitu

  1. Takut jarum
    Proses bekam memang melibatkan sayatan kecil untuk mengeluarkan darah kotor. Membayangkan kulit saya ditusuk dan darah keluar sudah cukup membuat saya merinding.
  2. Kurangnya Pemahaman
    Banyak orang, menganggap bekam hanya sebatas mengeluarkan darah tanpa memahami cara kerjanya secara ilmiah. Ketidaktahuan ini menambah keraguan untuk mencoba.
  3. Persepsi Negatif
    Beberapa orang masih menganggap bekam itu menyeramkan atau kurang higienis, padahal jika dilakukan oleh terapis yang berpengalaman dan menggunakan alat yang steril, bekam justru sangat aman dan bermanfaat.

Zaskia berbaring tanpa takut. Ketika kop bekam mulai ditempelkan ke kulit, ada sensasi tarikan yang cukup kuat, ternyata dia tidak merasa sakit. Setelah beberapa menit, bekam selesai. Kakak Zaskia bangun dan turun sambil senyum.

Melihat Kakak Zaskia baik-baik saja. Elmi dan Hamzah naik ke tempat terapi dan berbaring. "Kakak  hebat!  Saya belajar sesuatu yang berharga dari kisah tersebut. Terkadang, keberanian bukan hanya soal usia, tetapi tentang bagaimana kita menghadapi ketakutan. Umi Bilta yang sudah memiliki tiga anak terlalu banyak berpikir dan merasa takut. Sementara anak-anak menghadapi sesuatu dengan polos dan penuh semangat. Mungkin inilah saatnya umi Bilta belajar untuk lebih berani, bukan hanya dalam menghadapi bekam, tetapi juga dalam menghadapi tantangan hidup.

Cepu, 11 Pebruari 2025

 

 

Keseruan Bersama Kelas VIIA

Karya: Gutamining Saida

Suasana kelas 7A di SMPN 3 Cepu terasa lebih hidup dari biasanya. Setelah bel berbunyi, para siswa sudah siap dengan buku dan catatan mereka. Sebagai guru IPS, saya menjelaskan materi tentang pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia.

Saya ingin memastikan pemahaman mereka dengan cara yang lebih menarik. Bukan sekadar kuis biasa, melainkan permainan tebak benar atau salah dengan media kertas dua warna.  Biru untuk jawaban benar, sedangkan oranye untuk jawaban salah. Saya telah membagikan dua lembar kertas berwarna kepada setiap siswa yaitu satu warna biru dan satu warna oranye

“Sebelum kita mulai, siapa yang siap menjawab dengan benar semuanya?” tanya saya, menyemangati mereka.

“Saya, Bu!” seru beberapa siswa dengan antusias.

Mereka tampak tak sabar menunggu pertanyaan pertama. Saya tersenyum melihat semangat mereka.

“Oke, kita mulai! Pertanyaan pertama: Kerajaan Kutai adalah kerajaan bercorak Hindu tertua di Indonesia.”

Beberapa detik hening. Lalu, hampir semua siswa serempak mengangkat kertas berwarna biru.

“Semuanya yakin?” saya bertanya lagi.

“Iya, Bu!” jawab mereka kompak.

Saya tersenyum dan mengangguk. “Jawaban kalian benar! Hebat!”

Sorak-sorai terdengar di seluruh kelas. Wajah-wajah mereka tampak berseri-seri. Ada yang bersorak kecil, ada yang saling memberi tos dengan teman sebangkunya. Saya bisa melihat kebahagiaan di mata mereka saat mengetahui jawaban mereka benar.

Saya melanjutkan ke pertanyaan berikutnya.

“Pertanyaan kedua adalah Candi Borobudur merupakan peninggalan kerajaan hindu.”

Kali ini, beberapa siswa tampak ragu. Sebagian mengangkat kertas biru, tetapi sebagian lagi mengangkat kertas oranye. Ada yang saling melirik, mencoba mencari petunjuk dari teman sebangku.

“Jawaban yang benar adalah… salah! Candi Borobudur merupakan peninggalan kerajaan Syailendra yang bercorak Buddha, bukan hindu.”

Sepersekian detik, wajah-wajah kecewa bermunculan. Beberapa siswa yang mengangkat kertas biru menghela napas panjang, lalu menunduk. “Aduh, salah, Bu…” gumam seorang siswa di bangku tengah.

Saya tersenyum. “Jangan kecewa. Justru dari kesalahan ini kalian bisa belajar. Yang tadi salah, sekarang sudah tahu jawabannya, kan?”

Mereka mengangguk, dan semangat mereka kembali bangkit. Pertanyaan demi pertanyaan saya lontarkan. Setiap jawaban yang benar disambut dengan keceriaan, sedangkan jawaban salah sering kali membuat mereka menghela napas atau menggerutu kecil. Ada juga yang bercanda, menertawakan diri sendiri karena salah menjawab.

Saat saya memberikan pertanyaan terakhir, suasana semakin menegangkan.

“Pertanyaan terakhir: Relief di dinding candi Prambanan termasuk karya sastra cerita Ramayana.”

Beberapa siswa tampak berpikir keras. Kali ini mereka lebih hati-hati dalam menjawab.

“Lima detik lagi!” saya memberi aba-aba.

Beberapa siswa yang awalnya ragu akhirnya mengangkat kertas biru, sementara ada yang tetap bertahan dengan kertas oranye.

Saya memberikan jeda sejenak sebelum mengumumkan jawabannya. “Jawaban yang benar adalah… betul! .” Karya sastra cerita Ramayana dilihat di dinding candi Prambanan yang disebut relief”

Tiba-tiba, kelas dipenuhi suara sorak-sorai. Para siswa yang menjawab benar tampak sangat bahagia. Beberapa dari mereka berdiri sebentar lalu duduk kembali, merasa bangga karena berhasil menjawab pertanyaan terakhir dengan benar.

Sementara itu, mereka yang salah menjawab tampak kecewa. Namun, saya segera memberi motivasi. “Jangan khawatir. Kalian sudah berusaha dengan baik! Justru dari sini kalian bisa mengingat lebih lama mana yang benar dan mana yang salah.”

Salah satu siswa, Ihsan mengangkat tangan. “Bu, kalau besok-besok ada kuis lagi, boleh pakai cara ini?”

Saya tersenyum. “Tentu! Asal kalian tetap semangat belajar.”

Mereka bertepuk tangan. Saya merasa lega dan bahagia melihat mereka menikmati proses belajar. Dengan metode ini, mereka tidak hanya belajar materi, tetapi juga belajar menerima kesalahan dan memperbaikinya.

Bel berbunyi, menandakan akhir pelajaran. Sebelum meninggalkan kelas, beberapa siswa masih membahas pertanyaan-pertanyaan tadi dengan teman sebangkunya. Saya pun meninggalkan kelas dengan perasaan puas, karena hari ini bukan hanya mereka yang belajar.  Saya juga belajar bahwa pembelajaran yang menyenangkan akan selalu dikenang oleh siswa. Semoga menginspirasi.

Cepu, 11 Februari 2025

Bottom of Form

 


 

Jumat, 07 Februari 2025

Pengalaman Baru

Karya: Gutamining Saida

Jum’at siang saya mendapatkan pelajaran berharga tentang kemandirian. Biasanya, saya selalu meminta anak saya untuk menemani ke mana-mana, mengantar, bahkan sekadar menunggu saat saya mengurus sesuatu. Kali ini berbeda, walau diatar tapi disuruh masuk sendiri. Anak saya menyarankan agar saya mencoba sendiri, tanpa bergantung padanya. Saya harus masuk ke Bank BCA sendiri. Dia menunggu di tempat parker.

Awalnya saya merasa sedikit ragu. "Apa saya bisa?" pikir saya dalam hati. Selama ini, saya terbiasa dengan sistem lama di mana jika ingin mencetak buku Tabungan hanya menyerahkan buku tersebut kepada petugas bank.  Di bank BCA ada mesin khusus untuk mencetak buku tabungan sendiri. Saya penasaran sekaligus cemas, takut melakukan kesalahan.

Saya melangkah ke dalam bank dengan perasaan campur aduk. Begitu masuk, seorang satpam menyambut saya dengan ramah. Dia tersenyum dan bertanya dengan sopan, "Bisa dibantu, Bu?" Saya menarik napas dan berusaha menjawab dengan percaya diri, "Saya mau print out buku tabungan."

Satpam itu mengangguk dan menunjuk seorang pegawai wanita yang berdiri tak jauh dari sana. "Silakan duduk, Bu. Nanti dibantu oleh Mbaknya." Saya pun duduk di kursi yang disediakan.

Tak lama kemudian, seorang pegawai bank menghampiri saya. Wanita muda itu tersenyum ramah dan bertanya, "Ada yang bisa saya bantu, Bu?" Dengan sedikit ragu, saya menjawab, "Saya mau print buku tabungan."

"Baik, mari silakan saya bantu," katanya sambil mengajak saya menuju sebuah mesin yang terlihat modern. Saya mengikuti langkahnya, merasa seperti seorang siswa yang akan belajar hal baru.

Di depan mesin itu, dia mulai menjelaskan cara menggunakannya. "Ibu cukup memasukkan ATM dan  buku tabungan di sini," katanya sambil menunjuk slot pada mesin. Saya mengangguk dan mencoba memasukkan ATM dan buku tabungan ke dalam mesin.

"Pastikan posisinya benar." lanjutnya sambil membantu saya sedikit merapikan posisi ATM dan buku tabungan agar terbaca dengan baik oleh mesin.

Begitu ATM masuk, layar mesin menyala dan mulai memproses transaksi. Saya melihat dengan takjub bagaimana proses langkah-langkahnya sesuai petunjuk. Tulisan dan angka-angka muncul di layar. Beberapa detik kemudian, terdengar suara mesin bekerja. Buku tabungan mulai bergerak sendiri, mencetak transaksi terbaru yang belum tercatat sebelumnya.

Saya mengamati dengan seksama. "Oh, ternyata begini caranya," gumam saya pelan. Pegawai itu tersenyum. "Iya, Bu. Ini lebih cepat dan praktis. Jadi kalau nanti mau print lagi, Ibu bisa langsung ke sini tanpa perlu antri ke teller."

Saya mengangguk, mulai merasa percaya diri. Mesin itu menyelesaikan tugasnya dalam waktu singkat. Buku tabungan keluar dengan cetakan terbaru. Saya mengambilnya dan mengecek hasilnya. Semua transaksi sudah tercetak rapi di dalamnya. "Sudah selesai. Gampang, kan bu?" kata pegawai itu dengan senyum ramah. Saya tersenyum lebar. "Iya, ternyata mudah. Saya pikir bakal sulit."

Pegawai itu tertawa kecil. "Awalnya terasa baru tapi kalau sudah terbiasa, pasti tidak ada kesulitan." Sebelum berbalik arah, tak lupa saya minta ijin memfoto mesin print out pada mbaknya yang cantik. Sekilas muncul ide untuk mengabadikan pengalaman pertama saya. Lantas saya mengucapkan terima kasih kepadanya dan lanjut keluar menuju ke tempat parkir. Anak saya menunggu di sana. Dengan tersenyum, saya menunjukkan buku tabungan yang sudah tercetak.

Anak saya tersenyum. "Tuuuuuh, kan bisa sendiri?" ucapnya. Saya mengangguk. "Iya, ternyata mudah. Umi selama ini selalu bergantung padamu."

Sepulang dari bank BCA, saya merenung. Pengalaman kecil ini mengajarkan saya sesuatu yang besar. Kadang kita terlalu nyaman bergantung pada orang lain. Padahal jika mau mencoba, kita bisa melakukannya sendiri. Saya merasa lebih percaya diri dan bertekad untuk mulai belajar lebih mandiri dalam hal-hal kecil seperti ini. Hari Jum’at siang bukan sekedar hari biasa. Itu adalah hari di mana saya mengambil langkah pertama menuju kemandirian yang lebih besar. Semoga menginspirasi.

Cepu, 8 Februari 2025


 

Keceriaan Zaskia Saat Hari Pertama

Karya : Gutamining Saida

Liburan sekolah selalu menjadi momen yang dinanti-nantikan oleh anak-anak. Begitu pula dengan cucu saya yaitu Zaskia, Hamzah, Elmi. Zaskia duduk di kelas satu, penuh energi, dan tak pernah lelah untuk bermain. Di rumah, dia biasa dipanggil "Kakak" karena yang paling besar di antara saudara-saudaranya. Setiap kali berlibur ke Cepu, rumah mendadak menjadi lebih ramai. Suasana yang awalnya tenang berubah menjadi penuh suara canda, tawa, dan permintaan-permintaan tak berujung untuk bermain.

Sebagai nenek, saya sudah paham betul dengan kebiasaannya. Zaskia cepat bosan dengan permainan. Dia selalu ingin mencoba hal baru. Maka sebelum dia datang saya sudah menyiapkan berbagai cara agar liburannya menyenangkan. Saya tak ingin dia merasa bosan atau kehabisan kegiatan. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, saya tahu bahwa sehari dua permainan saja tidak cukup. Dia bisa saja meminta lebih, bahkan sebelum satu permainan benar-benar selesai dimainkan.

Pada hari pertama liburannya, saya sudah menyiapkan kegiatan kreatif yang bisa dilakukan bersama kedua saudaranya. Saya mengumpulkan botol bekas Aqua, kertas warna-warni, lem, gunting, dan beberapa peralatan lain untuk membuat bunga hias. Mereka membuat bunga dari kertas. Lalu menempelkannya ke botol aqua yang sudah saya potong-potong sebagai tangkai. Saya membayangkan betapa serunya mereka berkreasi, menempel, dan merangkai bunga warna-warni yang cantik.

Namun realitas tak selalu berjalan sesuai harapan. Baru beberapa menit setelah memulai, cucu saya yang paling kecil tiba-tiba kabur! Dia tampaknya kurang tertarik dengan kegiatan ini dan lebih memilih untuk berlari kesana kemari. Saya hanya bisa tersenyum melihat tingkah lucunya.

Sementara itu Zaskia dan Hamzah adiknya tetap bersemangat. Tangannya yang mungil dengan lincah memasang kertas ke batang. Dia memilih warna-warna cerah untuk bunga buatannya. Matanya berbinar saat melihat hasilnya mulai terbentuk. “Timi, bunga Kakak bagus, kan?” tanyanya dengan penuh kebanggaan. Timi adalah sapaan yang diberikan cucu-cucuku. Saya menjawab sambil tersenyum. “Bagus sekali! Kakak memang kreatif.”

Setelah beberapa bunga selesai dibuat, ekspresinya mulai berubah. Dia menoleh ke Hamzah adiknya. Dia memberikan semangat pada adiknya yang belum selesai. Ayo dik, cepet dikit dong. Dia mulai melihat ke sekeliling. Saya tahu betul tanda-tanda ini. Dia mulai bosan! Saya buru-buru mengajaknya berbicara agar tetap tertarik.

“Kakak, kalau bunga ini sudah jadi, kita bisa membuat model lain lho. Mau coba?”

“Ah…nanti saja Timi. Kakak mau main yang lain dulu,” jawabnya cepat.

Tak berapa lama, dia menghilang ke ruang belakang. Saya tertawa kecil. Nah…seperti yang sudah saya duga, satu permainan belum cukup untuk membuatnya bertahan lama. Semoga terhibur.

Cepu, 8 Februari 2025

 


 

Kamis, 06 Februari 2025

Sebuah Perjalanan

Karya: Gutamining Saida

Rabu 29 Januari 2024, aku pergi ke Pondok Temboro. Sebuah perjalanan yang tak pernah aku duga dan rencanakan sebelumnya. Dua hari sebelumnya, seseorang mengajakku pergi ke sana. Aku tak begitu mengenalnya, hanya sekadar tahu namanya dari sahabatku . Ajakan itu terasa begitu tulus, sehingga aku mempertimbangkannya dengan serius.

Awalnya ada keraguan. Bagaimana bisa aku pergi bersama seseorang yang belum begitu kukenal? Apalagi di zaman sekarang di mana setiap orang lebih sibuk dengan urusannya masing-masing. Sulit rasanya menemukan seseorang yang rela berbagi dan mengajak dengan penuh keikhlasan. Namun, hatiku tergerak. Mungkin ini adalah salah satu cara Allah Subhanahu Wata’alla menunjukkan jalan-Nya.

Setelah berbincang lebih lanjut melalui pesan bersamanya. Aku semakin merasa bahwa ajakan ini bukan sekadar ajakan biasa. Namun suami saya ajak tidak bisa. Kemudian saya ijin untuk mengajak teman. Dia memperbolehkan  aku membawa teman lain. "Kalau ada teman yang saya ajak boleh?”,  tulisku  dalam pesan. Aku tersenyum membaca pesan itu. Anehkan, diajak malah mengajak teman-temannya. Dari jawababnya ada ketulusan yang terpancar. Seolah-olah dia hanya ingin berbagi kebaikan tanpa mengharapkan balasan apa pun.

“Ibu-ibu ada yang mau diajak ke Temboro?’’ pesanku terkirim pada ibu-ibu. Emang ibu kenal baik sama yang mengajak?" tanyanya ragu. Aku hanya menjawab tidak.  "Bisa saja, kalau Allah Subhanahu Wata’alla berkehendak. Kadang, ada hal-hal yang tak bisa kita jelaskan dengan logika, tapi kita bisa merasakannya dengan hati."

Hari Rabupun tiba. Aku dan temanku menunggu di depan masjid.  Kami dijemput di depan masjid. Ternyata, dia datang bersama suaminya baru pertama kali kenal dan ketemu. Meski awalnya canggung, ada rasa nyaman yang perlahan tumbuh. Kami pun berangkat menuju Pondok Temboro dengan penuh semangat.

Dalam perjalanan, kami berbincang banyak hal. Serasa sudah mengenal lama. Dia tersenyum dan menjawab, "Kebaikan itu harus disebarkan. Kalau kita punya kesempatan untuk berbagi sesuatu yang baik, mengapa tidak? Kadang, kita berpikir terlalu banyak tentang siapa yang harus kita ajak, padahal bisa jadi orang yang tidak kita kenal justru sedang membutuhkan ajakan itu." Jawabannya membuatku terdiam sejenak. Ada kebenaran dalam kata-katanya.

Setibanya di Pondok Temboro, aku merasakan suasana yang begitu damai. Bangunan pondok yang mewah, santri-santri yang memakai gamis hitam lengkap dengan cadar. Santri laki memakai gamis, semua menciptakan ketenangan di dalam hati. Aku mulai memahami mengapa banyak orang ingin datang ke tempat ini. Ada sesuatu yang berbeda di sini, sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Saya melihat bagaimana kehidupan di pondok berjalan dengan begitu sederhana tetapi penuh keberkahan. Semua itu membuatku merenung. Betapa selama ini aku sibuk dengan dunia luar, dengan hiruk-pikuk kehidupan yang sering kali membuat hati gelisah. Di tempat ini, aku merasa ada ketenangan yang lama kucari.

Akhirnya saya mengakui bahwa perjalanan ini memberikan banyak pelajaran. Aku pikir awalnya ini hanya perjalanan biasa, tapi ternyata lebih dari itu. Aku jadi sadar bahwa ada banyak kebaikan yang masih bisa kita temui, asal kita mau membuka hati.

Dalam perjalanan pulang, aku kembali teringat tentang bagaimana semua ini bermula. Dari sebuah ajakan sederhana melalui WhatsApp, perjalanan ini terjadi. Aku semakin yakin bahwa ketika Allah Subhanahu Wata’alla berkehendak, segala sesuatu bisa terjadi dengan cara yang tak terduga. Mungkin, ini adalah salah satu bentuk kasih sayang-Nya, menunjukkan jalan bagi hamba-Nya yang ingin mencari kebaikan.

Setelah perjalanan ini, aku jadi berpikir bahwa di dunia yang serba sibuk ini, masih ada orang-orang yang dengan tulus ingin berbagi kebaikan. Orang-orang yang rela mengajak, membantu, dan memberi tanpa mengharapkan imbalan. Mungkin, jika lebih banyak orang seperti itu, dunia ini akan menjadi tempat yang lebih indah.

Aku pulang dengan hati yang lebih tenang dan pikiran yang lebih terbuka. Perjalanan ini bukan hanya sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan hati dan pemahaman. Aku belajar bahwa terkadang, kita hanya perlu menerima ajakan kebaikan dengan tulus.  Tanpa terlalu banyak pertimbangan. Karena siapa tahu, di balik ajakan itu, ada sesuatu yang Allah Subhanahu Wata’alla siapkan untuk mengubah hidup kita menjadi lebih baik. Aamiin

Cepu, 7 Februari 2025

 


 

Kisah Bilta dan Buah Mangis

Karya: Gutamining Saida

Saat Bilta mengabarkan bahwa dirinya hamil, kebahagiaan memenuhi rumah kami. Sebagai orang tua, aku merasa bahagia, bangga sekaligus cemas. Saat ingin memastikan semua keinginan terpenuhi selama masa kehamilan. Siapa sangka kehamilan itu membawa cerita lucu sekaligus penuh usaha yang tak akan pernah kulupakan.

Suatu pagi, saat kami sedang berbincang santai bersama adiknnya di rumah, Bilta menelpon mengungkapkan keinginannya. "Miii, kok akhir-akhir ini aku pengin banget makan buah manggis ya? Rasanya nggak enak kalau nggak kesampaian," katanya sambil tertawa suara di ujung kota Tegal.

Aku yang sedang menyeduh teh langsung memutar otak. Manggis memang buah yang enak dan menyegarkan, tetapi mencarinya di pasar seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Meski demikian, aku tahu betul bahwa keinginan ibu hamil, atau biasa disebut ngidam harus dipenuhi. Dalam hati, aku berjanji untuk melakukan apapun agar Bilta bisa mendapatkan buah manggis yang diidamkannya.

Keesokan harinya, aku pergi ke pasar terdekat. Mulai dari lapak buah di ujung barat hingga pedagang keliling di sisi timur pasar sudah kutanyai, tetapi semuanya menggeleng. "Bu, sekarang bukan musim manggis. Coba nanti kalau sudah masuk musim biasanya banyak di sini," ujar salah satu pedagang.

Aku pulang dengan tangan kosong, tetapi hatiku tidak tenang. Aku tidak ingin cucuku kelak mendapat julukan "ngiler" karena saat ibunya hamil, keinginannya tidak terpenuhi. Maka, aku mencari cara lain. Aku mulai bertanya kepada teman-teman dan kerabat, siapa tahu ada yang tahu tempat menjual manggis. Ada satu yang memberikan ide, "Coba pesan dari luar daerah, mungkin ada yang masih menyimpan stok."

Berbekal semangat, aku mencari informasi. Akhirnya, aku menemukan seseorang yang bisa mengirim manggis dari luar kota, meski harga dan ongkos kirimnya cukup mahal. Tanpa pikir panjang, aku setuju. Namun, hari demi hari berlalu dan kabar tentang kiriman manggis itu belum juga datang. Kekhawatiranku semakin besar. Sifat Bilta yang sering marah, ngambek, keras kepala bila memiliki keinginan.

Di sudut tokoku, ada sebuah etalase kaca yang selalu mencuri perhatian siapa saja yang berkunjung. Etalase itu penuh dengan celengan dari tanah liat. Ada yang berbentuk buah-buahan, seperti apel, jeruk, dan tentu saja manggis. Ada juga yang berbentuk hewan lucu seperti kucing, ikan, dan kura-kura. Tak ketinggalan, beberapa model karakter kartun favorit anak-anak juga menghiasinya. Aku menyusun semuanya dengan rapi agar terlihat menarik bagi siapa saja yang melintas. Banyak pembeli yang terpikat, terutama anak-anak yang merengek kepada orang tua mereka untuk membeli satu atau dua celengan.

Aku segera mengambil celengan berbentuk buah manggis di etalase. Bentuknya mirip sekali dengan buah manggis asli. Manggis dengan warna ungu tua yang cantik, lengkap dengan hiasan daun hijau di bagian atasnya. Aku membungkusnya dengan hati-hati, menambahkan catatan kecil yang kutulis dengan penuh cinta yaitu "Untuk Bilta tersayang, ini manggis dari Umi. Meski tidak bisa dimakan, semoga ini bisa mengobati keinginanmu. Maafkan Umi yang belum bisa memenuhi keinginanmu buah anggur yang sesungguhnya.”

Keesokan harinya, aku mengirimkan paket itu ke alamat Tegal. Ketika paket itu sampai, Bilta langsung meneleponku. Suaranya terdengar bercampur antara tawa dan haru. "Miii, Umi kirim manggis? Celengan manggis maksudku? Makasih, Mii," katanya sambil terkekeh.

Meski itu bukan buah manggis sungguhan, Bilta menyimpan celengan itu dengan penuh rasa sayang. Celengan manggis itu menjadi kenangan indah yang penuh makna, mengingatkan kami pada perjuangan kecil yang dibalut cinta.

Beberapa minggu kemudian, akhirnya aku berhasil mendapatkan manggis sungguhan dari seorang teman di luar kota. Aku segera mengirimkannya ke Bilta. Aku membayangkan ketika ia mencicipi manggis itu, wajahnya berseri-seri penuh bahagia. Meski demikian, celengan manggis itu tetap menjadi benda yang istimewa. Celengan buah manggis sebuah pengingat bahwa kasih sayang seorang ibu selalu ada, bahkan dalam bentuk yang paling sederhana.

Cerita ini menjadi kenangan indah yang sering kami ceritakan ulang. Aku bahagia bisa melihat anakku tersenyum, dan lebih bahagia lagi ketika cucuku lahir dengan sehat dan ceria. Celengan buah manggis itu tetap menjadi pengingat betapa besarnya cinta seorang ibu kepada anaknya, dan bagaimana usaha kecil sekalipun bisa berarti besar bagi keluarga.

Cepu, 7 Februari 2025

 


 

Rabu, 05 Februari 2025

Mimpiku Menjadi Nyata


 Karya: Gutamining Saida

Aku memiliki keinginan untuk berkunjung ke Pondok Pesantren Temboro. Beberapa bulan yang lalu, aku sudah merencanakan perjalanan ke sana Bersama ibu-ibu pengurus yatim. Bahkan, kendaraan sudah dipesan dan uang muka sudah dibayarkan. Rncana tinggalah rencana. Rencana itu gagal karena berbagai kepentingan ibu-ibu pengurus yang tiba-tiba muncul.  Ada yang masih berada di rumah anaknya di luar kota, ada yang diuji sakit. Aku pun harus menerima kenyataan bahwa uang muka yang telah dibayarkan hangus begitu saja. Rasanya kecewa tetap ada, tetapi aku percaya bahwa Allah Subhanahu Wata’alla mungkin belum menakdirkan aku pergi ke sana.

Hari-hari berlalu, namun keinginan untuk mengunjungi pondok pesantren itu tidak pernah pudar. Aku sering mendengar cerita tentang kehidupan santri di sana, tentang kesederhanaan, ketekunan dalam menuntut ilmu, dan keistimewaan suasana keagamaan yang begitu kental. Semakin banyak aku mendengar cerita, semakin besar pula keinginanku untuk bisa merasakan sendiri pengalaman berada di lingkungan tersebut.

Hingga suatu hari, Allah Subhanahu Wata’alla mempertemukanku dengan sahabatku yang sangat baik. Aku pernah bercerita dengannya tentang keinginan tersebut. Sehingga sahabatku ini mengetahui keinginanku yang tertunda. Sahabatku memiliki teman yang memiliki anak yang belajar atau mondok di sana. Cerita punya cerita sahabatku menceritakan pada temannya. Akhirnya nomor handphone diberikanlah pada temannya. Aku diajak berkenalan sekaligus ditarawi untuk ikut di saat dia akan menjengguk anaknya. Dia dengan tulus menawarkan kepada aku bisa mewujudkan impianku. Tanpa ragu, aku menerima ajakannya. Aku merasa sangat bersyukur dan terharu karena Allah Subhanahu Wata’alla mengabulkan keinginanku.  Melalui perantara orang baik yang Allah Subhanahu Wata’alla kirimkan kepadaku.

Akhirnya, hari keberangkatan pun tiba. Dengan penuh semangat, aku bersiap untuk perjalanan yang telah lama kudambakan ini. Kami berangkat Minggu pagi sekitar pukul 08.00 WIB agar bisa sampai di Pondok Temboro sebelum waktu dhuhur. Sepanjang perjalanan, aku membayangkan bagaimana suasana pondok pesantren yang akan aku kunjungi. Apakah benar seperti yang diceritakan orang-orang? Ataukah ada kejutan lain yang menanti?

Setibanya di sana, aku langsung disambut dengan suasana yang begitu berbeda dari kehidupan sehari-hariku. Aku melihat santri-santri berjalan dengan pakaian hitam dilengkapi cadar seolah aku berada di tanah suci. Beberapa dari santriwan mengenakan jubah dengan dilengkapi peci. Mereka berjalan dengan penuh ketenangan, wajah-wajah mereka memancarkan keteduhan. Ada yang membawa kitab, ada yang duduk di serambi masjid sambil menghafal ayat-ayat suci, dan ada pula yang sedang berbincang ringan dengan teman-temannya.

Aku mengelilingi area pondok pesantren dengan rasa kagum. Lingkungannya sangat asri, dipenuhi dengan pepohonan yang rimbun. Bangunan pondok megah beberapa tingkat. Di setiap sudut, terdengar lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibaca dengan penuh kekhusyukan. Aku merasa seperti berada di dunia yang berbeda, dunia yang penuh dengan ketenangan dan keberkahan.

Di sela-sela kunjunganku, aku berkesempatan berbincang dengan beberapa santri. Mereka dengan senang hati berbagi cerita tentang kehidupan di dalam pondok pesantren. Salah satu dari mereka bercerita bagaimana setiap hari mereka harus bangun pukul 03.00 WIB untuk melaksanakan shalat tahajud dan membaca Al-Qur’an. Setelah Subuh, mereka akan menghafal hadits, belajar kitab, dan melanjutkan berbagai kegiatan keagamaan lainnya hingga malam tiba. Rutinitas mereka penuh dengan ilmu dan ibadah, sesuatu yang membuatku sangat terinspirasi.

Aku juga berkesempatan mendengar cerita dari santri bagaimana disiplin yang diterapkan di pondok pesantren ini. Para santri diajarkan untuk hidup mandiri, bertanggung jawab atas kebersihan kamar mereka sendiri, dan mengatur waktu dengan baik. Tidak ada waktu yang terbuang sia-sia, setiap detik diisi dengan kegiatan yang bermanfaat. Aku teringat akan kehidupanku sendiri yang masih sering menyia-nyiakan waktu dengan hal-hal yang kurang produktif. Aku merasa mendapatkan pelajaran berharga dari para santri yang jauh lebih muda dariku.

Salah satu momen yang paling berkesan adalah ketika aku berbincang tentang pentingnya keikhlasan dalam beribadah dan bagaimana seharusnya seorang Muslim senantiasa memperbaiki niat dalam setiap perbuatannya. Kata-katanya begitu dalam dan membuatku merenung. Aku merasa seperti diingatkan kembali tentang tujuan hidup yang sebenarnya, tentang bagaimana aku harus lebih mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata’alla.

Tak terasa, waktu berlalu begitu cepat. Hari semakin sore, dan aku diajak bersiap untuk pulang. Rasanya aku belum puas, masih banyak hal yang ingin aku pelajari dari sini. Namun, aku tahu bahwa pengalaman singkat ini sudah cukup memberi pelajaran berharga bagi kehidupanku. Aku merasa sangat bersyukur atas kesempatan yang telah Allah Subhanahu Wata’alla berikan melalui orang-orang baik di sekitarku.

Dalam perjalanan pulang, aku merenung. Allah Subhanahu Wata’alla memang memiliki cara-Nya sendiri dalam mengabulkan doa hamba-Nya. Dulu, ketika aku gagal berangkat ke Temboro, aku merasa sedih dan kecewa. Namun sekarang, aku menyadari bahwa segala sesuatu terjadi pada waktunya yang terbaik. Jika aku berangkat saat itu, mungkin aku tidak akan mendapatkan pengalaman seindah ini. Mungkin aku tidak akan bertemu dengan teman baik yang telah membantuku mewujudkan impianku. Semua ini adalah bukti bahwa Allah Subhanahu Wata’alla selalu memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya, hanya saja terkadang kita terlalu terburu-buru dalam menilai segala sesuatu.

Aku kembali ke kehidupanku dengan hati yang lebih tenang dan penuh rasa syukur. Aku pulang membawa banyak pelajaran berharga yang aku dapatkan dari pondok pesantren ini. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk lebih menghargai waktu, lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah, dan lebih banyak bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah Subhanahu Wata’alla berikan. Aku yakin bahwa kunjungan ini bukanlah yang terakhir. Suatu hari nanti, aku pasti akan kembali ke Pondok Temboro, membawa hati yang lebih siap untuk belajar lebih banyak lagi.

Terima kasih ya Allah atas segala nikmat dan kesempatan ini. Terima kasih juga kepada sahabat baikku yang telah menjadi perantara dalam mewujudkan impianku. Terimakasih temanku. Semoga perjalanan ini menjadi langkah awal menuju kehidupan yang lebih baik dan lebih dekat dengan-Mu. Aamiin.

Cepu, 6 Februari 2025

 


Story Yang Memikat Pembeli

Karya: Gutamining Saida

Di sela-sela jam istirahat pertama, aku menyempatkan diri untuk membuka media sosial anak pertamaku. Kebiasaanku sebagai orang tua adalah memantau perkembangannya yaitu bukan untuk mengawasi berlebihan. Tetapi lebih kepada bentuk perhatian dan dukungan. Terlebih, aku ingin tahu bagaimana bisnisnya berjalan. Sejak memulai usaha sendiri, ia semakin mandiri dan bertanggung jawab.

Kubuka story yang dipostingnya pagi ini. Mataku tertuju pada rangkaian kata yang disusunnya dengan begitu apik. Sebagai orang yang sering memperhatikan cara orang berbicara dan menulis, aku bisa merasakan betapa cerdasnya ia dalam mengolah kata. Kalimat-kalimatnya bukan sekadar promosi biasa, tetapi memiliki daya tarik tersendiri. Dalam hati, aku membatin, Pintar sekali anakku ini!

“Yuk mariii awali hari dengan beli baju bun, karena kalau mau mengawali beli rumah berat bun.” Kubaca dengan senyum-senyum… bisa aja anakku ini ucapku dalam hati.

Baju yang bagus bukan hanya soal gaya, tapi juga tentang bagaimana kita merasa nyaman dan percaya diri. Saat memakai pakaian yang tepat, mood jadi lebih baik, energi positif mengalir, dan kamu siap menghadapi hari dengan lebih bahagia.

Jadi, daripada galau mikirin cicilan rumah yang berat, kenapa tidak mulai dengan sesuatu yang lebih ringan? Yuk, pilih baju favoritmu sekarang dan rasakan perubahan dalam gayamu! Belanja mudah, harga bersahabat, dan pastinya bikin hari-harimu lebih berwarna. Jangan tunggu nanti, karena stok terbatas! Wah wah story dia semakin mengundang pembeli semakin tergoda.

Sebagai seorang ibu, tentu aku bangga. Dulu, aku selalu mengajarkan pentingnya bekerja keras dan tidak mudah menyerah. Aku selalu menanamkan nilai bahwa sukses bukan hanya tentang materi saja. Akan tetapi juga tentang usaha, kejujuran, dan keberanian dalam menghadapi tantangan. Kini aku melihat dia bertumbuh dan berkembang dalam dunia bisnis. Aku merasa doa-doaku perlahan mulai terjawab.

Bisnis yang awalnya hanya iseng-iseng, kini semakin dikenal. Setiap hari, pesanan bertambah dan pelanggan setia mulai berdatangan. Ia mulai belajar bagaimana melayani dengan baik, bagaimana menarik pelanggan dengan kata-kata yang meyakinkan, serta bagaimana mengelola keuangan dengan cermat. Sebagai orang tua, aku tahu perjalanan ini tidak selalu mudah. Pasti ada masa-masa sulit yang harus dihadapi. Tapi dari caranya berbicara dan menulis promosi, aku bisa melihat semangat dan optimisme yang besar dalam dirinya.

Tak hanya itu, yang membuatku semakin bangga adalah bagaimana ia tetap rendah hati dan tidak cepat puas. Ia tidak hanya sekadar menjual barang, tetapi juga membangun hubungan baik dengan para pelanggan. Ia sering berbagi cerita tentang bagaimana ia berusaha memberikan pelayanan terbaik, bagaimana ia menghadapi komplain dengan kepala dingin, dan bagaimana ia selalu belajar untuk meningkatkan kualitas usahanya.

Awalnya dia meristis bisnis jilbab sebelum berkeluarga. Sekarang berubah menjadi bisnis buku, pakaian bahkan bekal makan anak sekolah. Aku masih ingat saat pertama kali ia bercerita tentang keinginannya berbisnis makanan. Awalnya, aku sedikit khawatir. Aku takut ia tidak bisa membagi waktu untuk anak-anaknya, keluarga. Tapi ternyata, ia membuktikan bahwa ia bisa bertahan. Bahkan, setiap rintangan yang datang justru menjadi tantangan yang membuatnya semakin kuat.

Hari ini, aku melihat usahanya semakin berkembang. Aku bersyukur kepada Allah Subhanahu Wata’alla atas segala nikmat yang diberikan kepada anakku. Aku hanya bisa berdoa, semoga ia semakin sukses dan selalu diberikan keberkahan dalam setiap langkahnya.

Sebagai orang tua, aku merasa tidak bisa selalu berada di sampingnya untuk mengarahkan segala hal. Tapi aku percaya, nilai-nilai yang telah kutanamkan sejak kecil akan selalu menjadi bagian dari dirinya. Aku ingin ia tahu bahwa aku selalu mendukungnya, bahwa aku selalu bangga dengan setiap usahanya, dan bahwa aku akan selalu berdoa untuk keberhasilannya.

Aku menutup ponsel dengan senyum. Aku merasa tenang karena tahu bahwa anakku berada di jalur yang tepat. Aku yakin dengan kerja keras dan kejujuran, ia akan terus maju. Sebagai ibu akan selalu menjadi pendukung setia dalam doa dan dalam kasih sayang yang tiada henti. Semoga menginspirasi

Cepu, 5 Februari 2025