Sabtu, 02 Mei 2026

Sumringah

 


Karya: Gutamining Saida

Kami yang telah melewati usia setengah abad, ruang kelas itu telah berpindah ke sebuah kolam renang yang jernih dan menyegarkan. Di bawah bimbingan Pak Gun, air bukan lagi sekadar elemen alam, melainkan media yang membawa kami kembali ke masa kecil yang penuh keceriaan. Belajar renang di usia di atas lima puluh tahun memberikan kebahagiaan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata, sebuah suasana di tengah rutinitas masa tua yang sering kali mulai menjemukan.

Setiap sore, setelah sesi teori yang dipandu dengan telaten oleh Pak Gun, kami melangkah menuju tepian kolam dengan perasaan yang campur aduk antara semangat dan sisa-sisa rasa takut yang masih menggelayut. Uniknya, suasana di kolam renang ini selalu dipenuhi oleh aura positif. Disaat praktik kami belum maksimal ketika tangan masih kaku menggapai air atau kaki yang salah melakukan gerakan tidak ada amarah atau rasa malu yang berlebihan. Yang pecah justru suara tawa dan senyuman yang merekah lebar. Kami menertawakan kekakuan tubuh kami sendiri, sebuah kejujuran yang hanya bisa dimiliki oleh mereka yang sudah berdamai dengan usia.

Di tengah-tengah keseriusan berlatih, selalu ada ruang untuk humor yang menyegarkan suasana. Sore itu, saat kami sedang asyik mencoba mengoordinasikan gerakan tangan dan kaki yang sering kali masih "bermusuhan", Pak Gun yang sedari tadi berdiri mengawasi di pinggir kolam tiba-tiba menghentikan instruksinya sejenak.

"Maaf Bapak dan Ibu, saya izin naik sebentar ya, mau minum dulu," ujar Pak Gun 

Mendengar itu, entah dari mana datangnya keberanian untuk menjahili sang guru, saya langsung menyahut dengan spontan. "Lho, Pak Gun... tidak perlu repot-repot naik ke atas, Pak. Cukup minum air kolam ini saja, kan praktis!"

Pak Gun seketika menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah kami dengan tatapan jenaka. Sambil tersenyum simpul, beliau membalas, "Wah, ....., Enak, Air mineral "

Kami semua pun tertawa serempak. "Hmmmm... segar sekali Pak, mineralnya alami!" imbuh kami sambil terus terkekeh. Candaan ringan seperti itulah yang membuat jarak antara guru dan murid seolah melenyap. Di dalam air, kami bukan lagi orang tua yang kaku, melainkan sekumpulan sahabat yang sedang bermain bersama. Guyonan dan guyonan sukses mengusir rasa lelah dan ketegangan otot setelah berkali-kali mencoba gerakan yang gagal.

Pak Gun sangat memahami pentingnya dokumentasi dalam proses belajar kami. Hampir setiap sore, setelah sesi canda dan lelah bergelut dengan teknik pernapasan, beliau dengan setia mengambil foto maupun video kegiatan kami. Dokumentasi ini bukan sekadar untuk pamer, melainkan cermin bagi proses panjang yang kami lalui.

Momen yang paling menarik justru terjadi saat kami sudah kembali ke rumah masing-masing. Sambil duduk santai tangan ini mulai membuka ponsel untuk melihat-lihat kiriman foto dan video dari Pak Gun. Di saat itulah, tawa kembali pecah meski sendirian. Melihat video diri sendiri yang tampak "lucu" saat mencoba mengapung atau melihat ekspresi teman sekelompok yang tegang namun menggemaskan, membuat kami senyum-senyum sendiri. Ada perasaan aneh yang merayap di hati sebuah perasaan bahwa kami layaknya kembali menjadi anak-anak kecil yang baru mengenal dunia. Di usia 57 tahun, kemampuan untuk merasakan kegembiraan murni layaknya anak kecil adalah kemewahan yang tak ternilai harganya.T

Manfaat belajar renang di usia senja ternyata jauh melampaui sekadar penguasaan teknik olahraga. Kolam renang telah menjadi tempat pelampiasan stres yang sangat efektif. Saat tubuh masuk ke dalam air, beban pikiran seolah ikut larut dan hanyut. Segala keruwetan hidup, kekhawatiran tentang masa depan, atau keluhan fisik yang sering muncul di usia ini, seakan hilang digantikan oleh rasa sejuk yang membalut kulit. Air memiliki kemampuan alami untuk menenangkan saraf dan memberikan ruang bagi pikiran untuk beristirahat.

Lebih dari itu, aktivitas ini menjadi cara ampuh untuk menghilangkan pikiran negatif. Di dalam air, fokus kami teralihkan sepenuhnya pada koordinasi tubuh dan napas. Tidak ada ruang untuk memikirkan hal-hal buruk atau rasa pesimis. Setiap gerakan yang berhasil dilakukan, sekecil apa pun itu, adalah kemenangan besar yang meningkatkan rasa percaya diri. Kami merasa hidup kembali, merasa masih memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang meski usia terus beranjak. Rasa segar yang menyergap setelah keluar dari kolam renang bukan hanya terasa di raga, tapi juga merasuk ke dalam jiwa.

Pak Gun sering mengingatkan bahwa belajar renang di usia kami adalah tentang konsistensi dan keberanian melawan ego. Beliau tidak menuntut kami menjadi atlet, tapi beliau menuntut kami untuk sehat dan bahagia. Dokumentasi video yang dikirimkan Pak Gun menjadi bukti otentik bahwa belajar adalah perjalanan yang menyenangkan. Saat melihat video diri sendiri yang awalnya takut masuk ke air hingga akhirnya berani meluncur, ada rasa bangga yang menyelinap. Ternyata, kami masih bisa! Kami bukan hanya "berumur" dan "berbobot", tapi kami juga "berani" mencoba hal baru.

Kembali ke rumah dengan tubuh yang segar dan hati yang ringan adalah anugerah. Senyum-senyum sendiri saat melihat dokumentasi sore hari adalah obat awet muda yang paling mujarab. Kami belajar bahwa di kolam renang itu, status sosial, gelar, dan beban usia ditinggalkan di ruang ganti. Yang masuk ke dalam air hanyalah jiwa-jiwa yang haus akan ilmu dan kebahagiaan.

Pengalaman bersama kelompok 3B di bawah asuhan Pak Gun ini membuktikan bahwa bahagia itu sederhana. Ia bisa ditemukan di antara kecipak air, di dalam tawa saat gagal praktik, tengelam dan minum air kolam. Di  layar ponsel saat mengenang kembali perjuangan sore hari. Kolam renang bukan lagi sekadar tempat olahraga, melainkan tempat kami menemukan kembali jati diri yang ceria, sehat, dan penuh energi positif. Belajar renang di usia senja bukan lagi tentang seberapa cepat kita sampai ke ujung kolam, melainkan tentang seberapa lebar senyum yang kita bawa pulang ke rumah untuk dibagikan kepada keluarga. Semoga bermanfaat.

Bukan Sulap

 

Karya: Gutamining Saida

Sabtu sore, suasana pembelajaran terasa begitu hangat . Kami dipandu oleh Pak Gun, seorang mentor yang tidak hanya sabar, tetapi juga sangat memahami psikologi siswanya yang heterogen. Pak Gun memiliki metode yang unik dalam mengelola siswanya. Beliau mengelompokkan kami berdasarkan kemampuan menyerap materi, kecepatan mempraktikkan teori, dan tentu saja faktor usia. Pengelompokan ini bukan untuk membeda-bedakan dalam arti negatif, melainkan agar setiap individu mendapatkan porsi perhatian yang pas sesuai dengan kapasitas masing-masing.

Saya tergabung dalam sebuah kelompok kecil yang terdiri dari tiga orang. Bu Nani, bu Nur dan saya. Pak Gun dengan nada canda yang khas menjuluki kami sebagai Kelompok 3B. Huruf "B" yang pertama adalah Berbobot, sebuah istilah halus untuk mengatakan bahwa kami memiliki pengalaman hidup yang padat (atau mungkin secara fisik memang mantap). "B" yang kedua adalah Berumur, pengakuan jujur bahwa kami adalah barisan senior dalam usia di kelas ini. Sedangkan "B" yang ketiga seolah menjadi teka-teki yang menggantung yaitu "Berani-berani Takut".

Di Kelompok 3B inilah, drama kecil nan menggelitik sering terjadi. Harus diakui, belajar di usia kepala lima menuju enam memiliki tantangan tersendiri. Ada tembok besar bernama "pertimbangan" dan "rasa takut yang berlebih". Saat melihat Pak Gun memberikan contoh, semuanya tampak begitu sederhana, mengalir, dan mudah dilakukan. Dalam pikiran kami, "Ah, itu mudah, saya pasti bisa." Namun, begitu tiba giliran kami untuk praktik, realitanya berbanding terbalik 180 derajat. Tiba-tiba saja gerakan tangan salah, kaki tak digerakkan, gegapan, kecebur dan perasaan was-was menyelimuti hati.

"Pak... saya kok belum bisa-bisa ya?" celetuk salah satu dari kami dengan nada agak putus asa setelah berkali-kali mencoba namun tetap saja salah.

Pak Gun, dengan ketenangan seorang guru sejati, menanggapi keluhan kami dengan jawaban yang sangat menohok sekaligus menenangkan. "Namanya belajar ya butuh proses, Bu. Pak Gun ini guru, bukan tukang sulap!" ujarnya sambil terkekeh. Beliau kemudian mengimbuhkan kalimat yang sangat membekas, "Kalau sekali coba langsung bisa, itu namanya sulapan. Kita di sini bukan sedang atraksi, kita sedang menanam ilmu."

Kalimat itu seketika meruntuhkan ekspektasi instan yang sering kali menghantui kami. Sering kali, kami merasa malu karena sudah berkali-kali praktik namun tetap saja tidak ada keberanian yang muncul, atau penguasaan materi yang masih jauh dari sempurna. Ada rasa "sungkan" pada usia sendiri merasa seharusnya di usia setua ini kami bisa lebih cepat paham. Padahal, mata dan otak mungkin berkata "paham", tetapi fisik dan mental sering kali membutuhkan waktu lebih lama untuk sinkron.

Melihat Pak Gun melakukan praktik itu seperti menonton pertunjukan yang sangat mudah begitu luwes. Namun saat kami mencoba sendiri, yang terjadi adalah "salah melulu". Terkadang kaki salah gerak, tangan salah posisi, atau urutan yang tertukar. Di sinilah letak keindahan belajar dalam kelompok 3B. Meskipun penuh dengan kesalahan dan rasa takut, kami tetap tertawa. Kami menertawakan kesalahan kami sendiri, sekaligus saling menyemangati bahwa "salah" adalah bagian dari proses yang harus kami lewati.

Pak Gun tidak pernah bosan mengingatkan bahwa pengulangan adalah kunci. Bagi kami yang sudah "berumur", pengulangan mungkin harus dilakukan beberapa kali lebih banyak dibandingkan mereka yang masih muda. Setiap tetes keringat karena rasa takut yang dilawan, setiap rasa malu karena salah praktik, adalah bagian dari ibadah menuntut ilmu.

Proses ini mengajarkan kami tentang kerendahan hati. Bahwa setinggi apa pun posisi atau pengalaman kami di luar sana, di kolam renang, kami tetaplah seorang siswa yang butuh bimbingan. Kami belajar untuk tidak terburu-buru, menghargai setiap progres kecil, dan yang paling penting, membuang jauh-jauh rasa takut akan kegagalan.

Sore itu, di bawah arahan Pak Gun, kami kembali mencoba. Meskipun masih ada getar ketakutan di kolam dan keraguan di gerakan kaki dan tangan, kami tetap mencoba. Karena kami tahu, selama jantung masih berdetak, kewajiban untuk belajar tidak akan pernah usai. Biarlah kami menjadi Kelompok 3B yang bergerak pelan, asalkan tidak berhenti. Sebab ilmu yang diraih dengan susah payah, biasanya akan terpatri. Belajar bukan tentang seberapa cepat kita sampai ke garis finis, tapi tentang seberapa tangguh kita menikmati setiap proses "salah melulu" hingga akhirnya menjadi "bisa karena terbiasa". Semangat selalu ya.

Cepu, 2 Mei 2026

Jumat, 01 Mei 2026

Gelagepan

                                           

Karya : Gutamining Saida

Pagi ini saya bersama teman-teman mendapat ilmu baru yang tak terlupakan. Semua bermula kemarin malam, saat Bu Lis usul kepada Pak Gun, "Pak, besok diajari geblak alias mlumah ya." Permintaan itu langsung disambut tawa dan emoji lucu oleh anggota grup. Bahkan ada yang sudah merasa mahir langsung menawarkan jasa, "Besok saya bantu geblak Bu!"

Saat latihan tiba, Pak Gun memberikan instruksi tekniknya yaitu tidur telentang, pandangan lurus ke atas, kedua kaki lurus, dan kedua tangan melebar. Benar-benar posisi athang-athang. Saat  mencoba bangun setelah mempraktikkan posisi itu, Bu Lis malah glagepan (kelabakan/sesak napas ringan) sampai ditertawakan oleh Pak Gun.

Bu Nani yang melihat itu tak tahan untuk menggoda, "Latihan athang-athang kok mau bangun saja gelagapan, hmmm..." "Lha katanya belajar geblak," sahut Pak Gun santai sambil terkekeh. Masih dengan napas yang agak tersengal, Bu Lis mengaku, "Tadi setelah glagepan saya langsung minum dua gelas, Pak!"

Mendengar itu, Pak Gun langsung menyambar dengan wajah serius yang dibuat-buat, "Oooo... makanya air kolam di sini berkurang banyak!"Kami semua pun makin tertawa saat Pak Gun melanjutkan aktingnya, "Pantas saja tadi saya ditanya sama yang punya kolam, 'Pak Gun, ini air kolam kok berkurang drastis, siapa yang minum?' Ya saya jawab saja jujur, 'Itu lho, ibu-ibu yang latihan pagi tadi!'"

Sontak saja, tawa kami pecah membayangkan air kolam renang habis diminum gara-gara ilmu geblak permintaan  Bu Lis. Obrolan demi obrolan mengundang tawa sambil mengingat kejadian tadi pagi. Selamat berjumpa lagi di teknik yang lain bersama pak Gun.

Cepu, 1 Mei 2026




Langkahku di Perpusda



Karya: Gutamining Saida

Selasa pagi itu bukan sekadar pergantian waktu dari gelap menuju terang. Semburat fajar di ufuk timur Kabupaten Blora hari itu membawa aroma harapan yang berbeda. Kaki saya melangkah ringan menuju Gedung Perpustakaan Daerah (Perpusda) Kabupaten Blora, namun di dalam dada, ada debar yang tak biasa. Langkah ini bukan sekadar kunjungan rutin, melainkan sebuah ikhtiar untuk menimba ilmu, menyelami samudera kearifan lokal, dan menjemput takdir yang telah digariskan-Nya.

Seringkali kita merasa bahwa pencapaian adalah murni hasil keringat dan kecerdasan kita. Di ruang Perpusda hari itu, saya tersungkur dalam kesadaran yang paling dalam: "Laa haula walaa quwwata illa billah." Tiada daya dan upaya kecuali atas pertolongan Allah. Bisa berada di satu ruangan bersama 50 penulis hebat lainnya bukanlah sebuah kebetulan. Ini adalah skenario langit.

Saya bersyukur, di antara ribuan jiwa yang memiliki keinginan serupa, Allah Subhanahu Wata'alla mengetuk pintu hati saya dan membukakan jalan melalui izin-Nya. Menjadi bagian dari sebuah karya kolektif adalah amanah. Saya menyadari sepenuhnya bahwa saya berhasil duduk di sana bukan karena saya merasa lebih hebat dari yang lain. Tidak ada ruang bagi kesombongan ketika kita menyadari bahwa setiap ide yang terlintas, setiap diksi yang terpilih, dan setiap energi yang tersalurkan adalah titipan dari Sang Maha Pemilik Ilmu. Takdir-Nya lah yang memilih saya untuk membersamai para pejuang literasi ini.

Fokus saya jatuh pada sesuatu yang sangat dekat dengan denyut nadi kehidupan saya Kuliner Cepu. Mengapa kuliner? Karena di dalam sebungkus hidangan, terdapat filosofi syukur yang panjang. Dari hulu ke hilir, dari petani hingga ke meja makan, ada jejak rezeki yang diatur oleh-Nya dengan sangat rapi.

Mencoba merangkai kata tentang kuliner Cepu khususnya "WINGKO" di tengah suasana Cepu yang tenang adalah upaya saya untuk "membahasakan" rasa syukur. Cepu, dengan segala kekayaan rasanya, adalah tanah tempat saya berpijak. Menulis tentang jajanan khas daerah sendiri bukan hanya soal memuaskan lidah, tapi soal memuliakan nikmat Tuhan yang diturunkan melalui kesuburan tanah dan kreativitas tangan-tangan masyarakatnya. Setiap campuran adonan yang meresap, setiap aroma yang menggoda, adalah bukti kebaikan Allah yang tak terhingga.

Harapan yang tertanam di hati ini melampaui sekadar nama yang tercetak di sampul buku. Ada misi yang lebih luas, sebuah misi yang saya titipkan dalam doa-doa di sela tulisan diantaranya,

  1. Mengenalkan Kearifan Lokal: Bahwa Blora dan Cepu memiliki identitas yang kuat. Melalui tulisan ini, saya ingin dunia tahu bahwa ada keberkahan dalam setiap sajian jajanan khas kuliner kita.

  2. Menggerakkan Roda Ekonomi: Saya bermimpi, lewat goresan pena yang sederhana ini, warung-warung kecil milik warga, pelaku UMKM, dan pedagang kaki lima di pinggiran jalan Cepu dapat dikenal lebih luas. Jika tulisan ini mampu membawa satu pelanggan tambahan bagi mereka, maka itu adalah sedekah jariyah yang tak ternilai harganya. Menulis adalah cara saya membantu mengangkat ekonomi umat.

  3. Memperluas Cakrawala: Proses kreatif ini adalah sekolah kehidupan. Bertemu dengan penulis lain, bertukar pikiran, dan mendalami budaya sendiri adalah cara saya menambah wawasan agar tidak menjadi hamba yang kerdil pikirannya.

Banyak orang mencari bahagia dalam angka dan materi, namun bagi saya, kebahagiaan hari itu adalah bentuk syukur  kepada Yang Maha Pencipta. Bahagia karena diberi kesempatan untuk bermanfaat. Bahagia karena bisa menjadi perantara bagi syiar kebaikan daerah sendiri.

Setiap kalimat yang saya susun adalah tasbih yang saya rapalkan dalam diam. Setiap paragraf yang terbentuk adalah sujud syukur atas akal budi yang masih berfungsi dengan baik. Saya percaya, ketika kita menulis dengan niat lillahi ta'ala, maka tulisan itu akan memiliki "ruh". Ia tidak akan hanya berhenti di mata pembaca, tapi akan meresap ke dalam hati dan menggerakkan perubahan.

Perjalanan di Perpusda Blora ini hanyalah awal. Menulis tentang budaya dan kuliner adalah cara kita menjaga warisan Tuhan. Kita hanyalah pena, dan Allah adalah Sang Penulis Takdir yang sesungguhnya. Jika kelak karya bersama 50 penulis ini terbit dan menebar manfaat, itu adalah semata-mata karena rahmat-Nya yang melimpah.

Saya pulang membawa lebih dari sekadar ilmu kepenulisan. Saya pulang membawa ketenangan jiwa, bahwa dengan menulis, saya sedang berbicara dengan masa depan, sambil tetap merunduk pada Sang Pemilik Kehidupan. Semoga setiap huruf yang tertuang menjadi saksi di akhirat kelak, bahwa saya telah mencoba mencintai tanah kelahiran saya dengan cara yang paling terhormat yaitu melalui literasi.

"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" (QS. Ar-Rahman).

Melalui kuliner jajanan khas Cepu, melalui sejarah Blora, dan melalui kebersamaan ini, saya menemukan jawaban bahwa syukur tak cukup hanya di lisan, ia harus mewujud dalam karya yang nyata. Mari kita terus berkarya, bukan untuk dipuji manusia, tapi untuk mencari ridha-Nya. Selamat menulis, selamat menebar keberkahan melalui aksara.

Cepu, 30 April 2026

Rabu, 29 April 2026

Sapaan Pak Gun

 


Karya: Gutamining Saida

"Sehat itu investasi. Mulailah hari ini, karena tubuhmu adalah satu-satunya tempat tinggal yang kamu miliki seumur hidup."

Pagi menyapa dengan lembut melalui getaran ponsel di atas meja. Sebuah pesan masuk di grup WhatsApp bukan sekadar pesan basa-basi, melainkan untaian doa yang dipanjatkan oleh Pak Gun. Sebagai sosok guru yang penuh perhatian, sapaannya selalu membawa kesejukan. Satu per satu anggota grup membalas dengan kata "Aamiin Ya Robbal Alamin", sebuah bentuk tata krama digital yang sederhana.. Sebagai tanda bahwa doa tersebut telah meresap ke dalam sanubari.

Pagi ini Pak Gun tidak hanya membawa doa. Beliau membawa sebuah perenungan mendalam tentang ikhtiar sehat. Dengan nada yang kebapakan, Pak Gun mengingatkan kita pada fenomena alamiah manusia. Bagi mereka yang telah melampaui usia 50 tahun, tubuh tak lagi bisa berbohong. Kondisi kesehatan telah jauh berbeda dibandingkan saat masih muda. Beliau menyebutnya sebagai momen di mana "kenikmatan mulai dikurangi secara perlahan oleh Allah Subahanahu Wata'alla."

Dulu, berjalan kaki berkilo-kilometer terasa ringan. Kini, untuk jarak dekat pun kita lebih memilih memutar kunci motor atau menginjak gas mobil, bahkan naik kendaraan lainnya. Dulu, menaiki tangga adalah hal sepele, kini lutut mulai protes, dan lift menjadi sahabat setia. Ini adalah pengingat bahwa raga kita memiliki masa pakai, dan tanpa perawatan yang tepat, ia akan aus sebelum waktunya.

Salah satu ilmu baru yang dibagikan Pak Gun adalah ajakan untuk bersahabat dengan air. Mengapa air? Air adalah sumber kehidupan. Air bukan hanya untuk diminum, tetapi juga sebagai media terapi fisik yang paling ramah bagi persendian yang mulai menua. Bagi mereka yang sulit berlari atau melompat karena faktor usia, air menawarkan solusi melalui olahraga atau sekadar berjalan di dalam kolam. Massa jenis air menopang berat badan kita, sehingga beban pada lutut dan tulang belakang berkurang drastis. Inilah cara cerdas untuk tetap bergerak tanpa menyakiti raga. Air mengajarkan kita tentang kelenturan, ketenangan, dan konsistensi.

Pak Gun mengajak kita bersahabat dengan air sejalan dengan wahyu Allah dalam Al-Qur'an. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Anbiya ayat 30:

"...Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?"

Ayat ini menegaskan bahwa air merupakan inti dari eksistensi makhluk hidup. Sel-sel tubuh kita, darah yang mengalir, hingga metabolisme yang membakar energi, semuanya membutuhkan air. Dengan menjaga hidrasi dan memanfaatkan air untuk terapi fisik, kita sebenarnya sedang menjaga amanah kehidupan yang Allah Subhanahu Wata'alla titipkan pada tubuh kita. Selain itu saran dari pak Gun kita butuh gerak badan. Sesuai perintah Allah Subhanahu Wata'alla mengingatkan tentang pentingnya gerak dan perubahan dalam Surah Ar-Ra’d ayat 11:

"...Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri..."

Sehat tidak datang dengan berdiam diri. Sehat adalah hasil dari perubahan gaya hidup, dari malas bergerak menjadi aktif bergerak, dari pola makan sembarangan menjadi tertata.

Ada kisah tokoh yang tidak mengenal kata "terlambat". Kisah seorang pria bernama Kakek Fauja Singh. Fauja Singh bukanlah atlet sejak muda. Ia mulai menekuni olahraga lari maraton di usia yang sangat senja, yaitu 89 tahun. Mengapa? Karena ia mengalami duka mendalam setelah kehilangan istrinya dan ingin mencari cara untuk tetap sehat secara mental dan fisik. Banyak orang mencibir, menganggap fisiknya yang sudah renta tidak akan kuat menahan beban lari jarak jauh.

Fauja Singh memilih untuk "bersahabat dengan alam". Ia mengatur pola makannya dengan sangat ketat (vegetarian) dan banyak mengonsumsi air putih serta teh jahe. Ia tidak memaksakan diri, tetapi ia konsisten bergerak setiap hari. Hasilnya? Di usia 100 tahun, ia menjadi orang tertua yang menyelesaikan maraton penuh (42 km) di Toronto.

Kisah Fauja Singh adalah bukti nyata dari apa yang dipesankan Pak Gun: "Tidak ada kata terlambat untuk memulai." Sehat jasmani akan mendukung sehat rohani. Ketika raga bugar, ibadah menjadi lebih khusyuk, sujud bisa lebih lama, dan kita bisa lebih banyak bermanfaat bagi orang lain.

Inti dari nasihat Pak Gun pagi ini adalah tentang kesadaran. Banyak orang mencari sehat dengan metode instan, obat-obatan mahal, atau alat-alat canggih. Padahal, kuncinya sederhana yaitu gerak badan dan olah raga.

Olahraga bukan hanya tentang membentuk otot, tetapi tentang menjaga fungsi organ agar tetap optimal di masa tua. Dengan bersahabat dengan air, menjaga asupan, dan tetap aktif bergerak meskipun hanya berjalan santai, kita sedang mensyukuri nikmat sehat yang masih tersisa.

Mari kita jadikan pesan Pak Gun sebagai pemantik semangat. Usia boleh bertambah, tenaga mungkin berkurang, namun semangat untuk berikhtiar sehat tidak boleh padam. Karena raga ini adalah kendaraan kita untuk pulang menghadap-Nya dalam keadaan terbaik.

Cepu, 30 April 2026

Senin, 27 April 2026

Testimoni Siswa Pak Gun

Karya : Gutamining Saida

Senin malam, pukul 20.30 WIB. Di saat rutinitas harian mulai melambat dan tubuh menuntut istirahat, saya justru menemukan sebuah sumber energi baru. Begitu layar ponsel menyala, rentetan pesan di grup Muda Swimming Squad memenuhi notifikasi. Di sana, nama saya disebut oleh sang guru, Pak Gun sosok yang bukan hanya mengajar kami teknik menggerakkan lengan dan kaki, tapi juga teknik mengelola rasa syukur.

Seketika, kantuk saya hilang. Motivasi itu membuncah hingga saya memutuskan untuk membuka laptop, merangkai kata demi kata. Saya merasa, ilmu yang saya dapatkan dari Pak Gun, meski hanya setetes, adalah amanah yang harus dibagikan. Karena bukankah sebaik-baiknya nikmat adalah yang disyukuri, dan sebaik-baiknya syukur adalah yang bermanfaat bagi sesama?

Dalam obrolan grup yang semakin seru itu, saya tertegun membaca testimoni teman-teman. Pak Gun menceritakan tentang Mas Andrian, yang setelah rutin menceburkan diri di kolam, mendapati perutnya mengecil secara drastis hingga semua celananya kedodoran. Ada pula kisah Bu Etik, yang selama ini "berteman" dengan obat migrain, namun menemukan kesembuhan justru saat belajar "jungkir balik" di dalam air.

Membaca itu, saya teringat akan sebuah pesan spiritual bahwa Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Air bukan sekadar benda mati, ia adalah media penyembuh yang disiapkan Sang Pencipta bagi hamba-Nya yang mau berikhtiar.

Saran Pak Gun sangat menusuk kalbu: "Jika terasa sakit, tidak perlu langsung ke apotek agar tidak ketergantungan obat." Kalimat ini terdengar seperti ajakan untuk kembali ke fitrah. Ke kolam renang bukan sekadar urusan olahraga, tapi urusan "pulang" ke dasar penciptaan manusia. Bu Sulikah pun menimpali dengan kalimat yang sangat puitis namun nyata, bahwa di kolam itulah kita menemukan "obat murah".

Saat Pak Gun membimbing saya untuk tidak lagi takut pada kedalaman, saya menyadari bahwa ketakutan kita selama ini sering kali hanya ada di pikiran. Kita takut tenggelam, kita takut lelah, kita takut pada penilaian orang lain. Di bawah bimbingan Pak Gun yang sabarnya seluas samudera, ketakutan itu luruh satu per satu. Beliau mengajarkan bahwa air akan menopang siapa saja yang tenang. Hanya dalam kondisi tenanglah, manusia bisa mengapung di atas ujian hidup. Jika kita panik dan melawan dengan emosi, kita justru akan tenggelam dalam masalah.

Kisah Mas Andrian yang celananya kedodoran bukan sekadar cerita tentang diet yang berhasil. Secara rohani, itu adalah simbol tentang bagaimana beban-beban lemak dan penyakit bisa luruh jika kita disiplin dalam berikhtiar. Begitu juga dengan Bu Etik migrain yang hilang setelah "jungkir balik" di air mengajarkan bahwa terkadang kita perlu melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda bahkan jika harus jungkir balik untuk menemukan kesembuhan dan solusi dari Sang Khalik.

Saya merasa tertinggal jauh saat ingin mengomentari keramaian di grup itu. Akhirnya menjadi pengamat pun adalah sebuah berkah. Dari layar kecil itu, saya melihat sebuah komunitas yang tidak hanya mengejar kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan jiwa. Kami adalah rombongan orang-orang yang menolak menyerah pada usia.

Pak Gun, dengan sapaannya yang keren dan pembawaannya yang berwibawa, telah menjadi perantara bagi kami untuk melihat kekuasaan Tuhan dalam diri kami sendiri. Beliau meyakinkan saya bahwa nenek-nenek pun punya hak untuk merasa gagah di dalam air. Beliau mengajarkan bahwa rasa malu kepada yang sudah mahir harus digantikan dengan rasa semangat untuk terus memperbaiki diri.

"Belajarlah dari buaian hingga liang lahat," sebuah pesan yang begitu nyata saya rasakan di pinggir kolam itu. Tidak ada kata malu untuk belajar mengambang, meski di samping kita ada balita yang sudah lincah meluncur. Justru di sanalah letak seninya menghancurkan kesombongan diri dan mengakui bahwa di hadapan ilmu Tuhan, kita semua adalah pemula.

Bagi pembaca setia saya, mungkin apa yang saya tulis ini terdengar sederhana. Hanya tentang berenang di usia senja. Namun bagi saya, ini adalah tentang merayakan sisa usia dengan cara yang dicintai Tuhan yaitu menjaga kesehatan.

Bisa bahagia di dalam air adalah sebuah kemewahan batin. Saat tubuh terasa ringan karena daya apung air, saat itulah beban-beban pikiran seolah dilepaskan satu per satu ke dasar kolam. Kita keluar dari air dengan perasaan yang lebih segar, jiwa yang lebih tenang, dan iman yang lebih mantap.

Kita tidak perlu selalu mencari kesembuhan di dalam botol-botol kimia jika kita bisa menemukannya dalam setiap riak air yang kita belah dengan tangan kita sendiri. Pak Gun telah membuka mata kami, bahwa sehat itu dekat, sehat itu murah, dan sehat itu adalah bagian dari ibadah.

Sambil merangkai kata-kata ini, saya tersenyum sendiri mengingat obrolan di grup Muda Swimming Squad. Senin malam ini menjadi istimewa bukan karena pencapaian besar duniawi, melainkan karena rasa syukur yang meluap.

Terima kasih Pak Gun, sang motivator yang tak kenal lelah. Terima kasih teman-teman seperjuangan yang telah menjadi inspirasi lewat celana yang kedodoran dan migrain yang hilang. Semoga tulisan ini menjadi pengingat bagi saya dan siapa pun yang membacanya bahwa selama napas masih dikandung badan, pintu untuk sehat dan belajar selalu terbuka lebar.

Jangan biarkan usia membelenggu langkahmu. Allah Subhanahu Wata'alla menciptakan air untuk kita seberangi, bukan untuk kita takuti. Dan di tangan guru yang tepat seperti Pak Gun, air yang semula asing kini menjadi sahabat karib bagi jiwa-jiwa yang haus akan kesehatan dan kedamaian. Sampai ketemu di hari Jum'at bersama pak Gun.

Cepu, 27 April 2026


Bersahabat Dengan Air


Karya: Gutamining Saida

Malam ini, di bawah temaram lampu kamar, saya merenungi sebuah perjalanan yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Di usia yang sudah melewati angka lima puluh tahun usia di mana orang-orang biasanya memilih untuk duduk di kursi goyang sambil menimang cucu. Saya justru memilih untuk menceburkan diri ke dalam kolam renang. Bukan sekadar berendam, tapi berjuang melawan rasa takut yang telah mengakar selama puluhan tahun.

Di balik perjuangan ini, ada satu nama yang selalu bergema di telinga kami yaitu  Pak Gun. Bagi kami, para siswanya, Pak Gun bukan sekadar instruktur renang. Beliau adalah cermin dari sifat  sabar yang luar biasa. Bayangkan saja, rentang usia muridnya begitu kontras. Di satu sisi, ada balita yang tawa dan tangisnya masih murni, yang melihat air sebagai taman bermain. Di sisi lain, ada kami barisan "nenek-nenek" yang membawa beban ketakutan, trauma masa lalu, dan sejuta pertimbangan logis yang justru sering kali menghambat gerak.

Mengajar balita mungkin hanya butuh keceriaan.  Pak Gun mengajar kami yang sudah berkepala lima ke atas? Itu butuh mukjizat kesabaran. Kami adalah tipe murid yang penuh dengan "tapi". "Tapi Pak, nanti kalau kaki saya kram bagaimana?" "Tapi Pak, kalau saya tenggelam bagaimana?" "Tapi Pak, kedalaman ini rasanya seperti samudera tak bertepi." Pak Gun hanya tersenyum, mendengar komentar kami.

Pikiran-pikiran itu sering kali membuat kami kaku. Dalam ajaran agama, kita diajarkan bahwa ketakutan yang berlebihan terkadang bisa menutup mata hati kita terhadap kekuasaan Tuhan yang ada di sekeliling kita. Air, yang seharusnya menjadi sumber kehidupan dan penyucian diri, justru menjadi monster dalam hidup kami. Pak Gun dengan ketenangan yang seperti air itu sendiri, tidak pernah sekalipun menunjukkan raut jemu, muka marah yang ada hanyalah senyuman.

Beliau memandang kami bukan sebagai beban, melainkan sebagai hamba Allah yang sedang berikhtiar menjaga amanah berupa tubuh yang sehat. Beliau menghadapi "rewelnya" nenek-nenek dengan senyum yang sama tulusnya saat beliau menyambut tawa balita. Puncak dari kebahagiaan saya terjadi kemarin hari Sabtu. Bagi seorang atlet atau anak muda, kedalaman 120 cm mungkin dianggap remeh, kecil bahkan dangkal. Bagi saya, itu adalah sebuah pencapaian yang besar.

Saat kaki saya tidak lagi menyentuh dasar secara kokoh, dan tubuh saya mulai diselimuti oleh massa air, di sanalah saya belajar tentang Tawakal. Pak Gun membimbing saya untuk tidak melawan air, melainkan bersahabat dengannya. Beliau mengajarkan bahwa jika kita tenang, air akan mengangkat kita. Bukankah hidup juga demikian? Jika kita tenang dan berserah diri kepada takdir-Nya, badai seberat apa pun akan membuat kita tetap mengapung.

"Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup..." (QS. Al-Anbya: 30)

Ayat itu terasa begitu nyata saat saya akhirnya bisa mengambang. Di dalam air yang tenang itu, saya menemukan kedamaian yang luar biasa. Hilang sudah rasa malu saat melihat teman-teman lain yang sudah mahir meluncur dengan lincah. Hilang sudah rasa minder karena usia. Yang ada hanyalah rasa syukur karena Allah Subhanahu Wata'alla masih memberi saya kesempatan untuk mencicipi nikmat-Nya yang berupa nikmat bisa bergerak, nikmat bernapas, dan nikmat menaklukkan ego sendiri.

Ilmu yang diberikan Pak Gun bukan sekadar teknik pernapasan atau gerakan tungkai. Beliau mengajarkan tentang kerendahan hati. Beliau, dengan segala keahliannya, mau merunduk dan membimbing kami yang bergerak lamban. Dari beliau saya belajar bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain, tanpa memandang status atau usia.

Sering kali di tengah latihan, saya melihat Pak Gun mengarahkan kami dengan bahasa yang sangat lembut. Tidak ada bentakan, yang ada hanyalah motivasi. Beliau seolah-olah sedang menanamkan benih keberanian di tanah yang sudah mulai kering. Beliau meyakinkan saya bahwa tidak ada kata terlambat untuk belajar. Tidak ada penghalang walau sudah nenek-nenek.

Belajar di usia senja memang berat. Otot tidak lagi seelastis dulu, ingatan terkadang meleset, dan rasa was-was sering menghantui.Melalui perantara Pak Gun, Allah Subhanahu Wata'alla menunjukkan bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh tidak akan pernah sia-sia.

Saya tidak lagi melihat air sebagai ancaman yang akan menenggelamkan, melainkan sebagai makhluk Allah Subhanahu Wata'alla yang menopang tubuh saya. Saya merasa bahagia. Bahagia yang sangat sederhana. 

Bisa mengambang di permukaan air membuat saya merasa begitu ringan. Segala beban pikiran tentang "nanti gini, nanti gitu" seolah luruh bersama aliran air di kolam itu. Saya tidak lagi patah semangat. Justru, semangat ini semakin membara karena saya tahu, di tepi kolam sana, ada Pak Gun yang dengan sabar menunggu dan siap mengoreksi jika saya salah.

Saya merasa sangat beruntung. Di usia saya yang tidak lagi muda, Allah Subhanahu Wata'alla  mempertemukan saya dengan lingkungan belajar yang positif. Bersama teman-teman seperjuangan, kami saling menguatkan. Tidak ada kompetisi, yang ada hanyalah keinginan untuk sehat dan bahagia bersama.

Teriring doa Semoga Pak Gun selalu diberi kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkahnya. Kesabaran beliau dalam membimbing kami, para nenek-nenek yang penuh pertimbangan ini, semoga dicatat sebagai amal jariyah yang pahalanya mengalir tiada putus, seperti air yang beliau ajarkan kepada kami. Terima kasih, Pak Gun. Barokallah.

Cepu, 27 April 2026

Sabtu, 25 April 2026

Pertemuan Singkat


Karya : Gutamining Saida 

Pertemuan yang diatur oleh semesta seringkali bukan sekadar kebetulan, melainkan skenario indah yang telah dituliskan oleh Sang Pemilik Takdir. Sabtu sore yang tenang menyuguhkan langit yang mulai meneteskan air seolah memberikan isyarat bahwa akan ada tangis kebahagiaan. Di tengah keramaian kolam Bumool, Allah Subhanahu Wata'alla mempertemukan saya kembali dengan sepotong kenangan masa lalu yang sempat terpisah oleh tabir waktu dan jarak.

Sudah empat belas bulan lamanya saya meninggalkan tugas di Kedungtuban. Selama itu pula, wajah-wajah murid yang dulu setiap hari menghiasi hari-hari saya perlahan mulai memudar dalam ingatan. Semua itu tertutup oleh rutinitas baru dan pertemuan-pertemuan lain yang tak kalah padatnya. Namun, sore itu berbeda. Di antara sekian banyak anak dan orang perempuan, seorang gadis manis berjalan ke arah saya dengan binar mata yang penuh kerinduan.

Dia masih sangat mengenali saya. Sebaliknya, saya justru terpaku, mencoba mengais sisa-sisa memori yang mungkin tertinggal di sudut pikiran. Saya mengamati langkahnya yang semakin mendekat. Dia bukan lagi gadis kecil yang saya ingat di bangku kelas delapan dulu. Kini, penampilannya tampak jauh lebih dewasa, tubuhnya lebih berisi, dan satu hal yang membuat saya sempat ragu adalah dia sedang tidak mengenakan jilbab. Perubahan fisik yang drastis ini benar-benar menguji daya ingat saya.

"Bu Saida...!" serunya dengan nada penuh kehangatan yang tak mampu ia sembunyikan.

Tanpa ragu, ia merengkuh tubuh saya dalam sebuah pelukan erat. Sebuah pelukan yang seketika meruntuhkan tembok keraguan saya. Kehangatannya terasa tulus, sebuah manifestasi dari rasa hormat seorang murid kepada gurunya.

"Ooooh, kamu Asley ya?" jawab saya singkat setelah berhasil menyusun kepingan ingatan.

"Iya, Bu... Dari tadi sudah saya panggil-panggil, Bu Saida diam saja," lanjutnya dengan nada manja yang mengingatkan saya pada masa-masa di kelas delapan B dulu.

"Maaf, maaf... Ibu tadi samar sekali, kamu sudah banyak berubah, Nak," ucap saya membela diri sambil tersenyum kecil. Ada rasa haru yang menyelinap; betapa seorang guru seringkali lupa pada wajah muridnya karena banyaknya wajah yang ditemui, namun seorang murid jarang sekali melupakan sosok yang pernah menanamkan ilmu di dalam dadanya.

Pertemuan singkat itu terputus sejenak karena saya harus menuju ruang ganti. Rncana Allah tidak berhenti di situ. Saat saya hendak bersiap pulang, langkah saya terhenti oleh sapaan seorang guru senior yang sangat saya hormati, beliau Pak Gun.

"Bu Saida... Ini muridnya, ya?" tanya Pak Gun sambil menunjuk ke arah Asley.

"Iya, Pak. Alhamdulillah bisa ketemu di sini" jawab saya terheran-heran.

"Iya, ini murid saya waktu saya masih bertugas di Kedungtuban dulu," jelas saya lagi.

Akhirnya, kami berempat duduk bersama. Sebuah obrolan hangat pun mengalir, membelah keheningan sore yang kian beranjak menuju maghrib. Kami bercerita banyak hal, mulai dari kabar kawan-kawan lama di Kedungtuban hingga perjalanan hidup yang telah dilalui Asley selama empat belas bulan terakhir. Di sela-sela obrolan itu, betapa luar biasa cara Allah menyambung kembali tali silaturahmi.

Silaturahmi bukan sekadar berkunjung atau mengobrol. Silaturahmi adalah jembatan keberkahan yang mampu memperpanjang usia dan melapangkan rezeki. Pertemuan dengan Asley sore itu adalah rezeki batin yang tak ternilai harganya bagi saya. Melihatnya tumbuh menjadi sosok yang percaya diri dan tetap memiliki adab untuk menyapa gurunya lebih dulu adalah sebuah pencapaian tersendiri bagi seorang pendidik.

Ada rasa syukur yang membuncah di dada. Saya menyadari bahwa tugas seorang guru tidak hanya selesai saat bel sekolah berbunyi atau saat masa pengabdian di suatu daerah berakhir. Jejak-jejak didikan itu akan terus dibawa oleh sang murid ke mana pun ia pergi. Meskipun penampilannya kini berbeda tanpa jilbab. Ssaya tetap melihat percikan cahaya  ketulusan dalam dirinya. Saya berdoa dalam hati agar hidayah selalu menyertai setiap langkahnya, dan agar ilmu yang pernah saya bagikan menjadi pelita baginya di tengah perubahan zaman yang kian cepat.

Kerinduan yang selama ini terpendam pun seolah terobati. Hadirnya Asley mewakili kerinduan saya pada seluruh siswa di Kedungtuban. Satu siswa saja sudah mampu membuat hati ini berbunga-bunga, apalagi jika seandainya saya bisa berkumpul kembali dengan seluruh siswa dalam satu kelas. Betapa riuhnya suasana itu, betapa banyak tawa yang akan pecah, dan betapa banyak doa yang akan terucap.

Saya sadar bahwa hidup adalah tentang fase yang harus dilewati. Ada masa untuk menanam, dan ada masa untuk melihat benih-benih itu tumbuh di ladang yang berbeda. Asley adalah salah satu benih yang kini sedang merekah di ladang barunya.

Sore itu ditutup dengan sebuah harapan yang saya gantungkan setinggi langit. Semoga pertemuan ini bukanlah yang terakhir. Semoga di lain waktu, Allah Subhanahu Wata'alla mengizinkan kami berkumpul kembali dalam suasana yang jauh lebih indah, mungkin dalam sebuah reuni besar di mana semua wajah hadir dengan cerita sukses dan keberkahan masing-masing.

Sabtu sore itu bukan lagi sekadar pergantian hari menuju akhir pekan, melainkan sebuah pengingat dari Sang Khalik bahwa tidak ada yang benar-benar hilang dalam kasih sayang-Nya. Jarak boleh memisahkan, waktu boleh berlalu, ikatan batin antara guru dan murid adalah ikatan abadi yang akan terus hidup dalam doa-doa yang tulus. Terima kasih, Ya Allah, atas pertemuan singkat. Kumpulkanlah kami kembali dalam kebaikan, baik di dunia maupun di Jannah-Mu kelak. Aamiiin.

Cepu, 26 April 2026

Jumat, 24 April 2026

Sepincuk Nasi Pecel

 


Karya : Gutamining Saida

Di pinggir lintasan double track yang membelah kota Cepu, sebuah warung nasi pecel berada. Warung  sederhana  menjadi saksi bisu bagaimana takdir bekerja dalam porsi-porsi kecil yang mengenyangkan perut. Sepincuk nasi dengan siraman sambal kacang menggugah selera pembeli.

Sore itu, langit berwarna jingga tembaga. Suara gemuruh kereta api yang melintas di jalur ganda menciptakan simfoni bising yang justru terasa akrab di telinga para pelanggan nasi pecel. Kerumunan pembeli semakin memadat. Ada pemuda dengan jaket ojek daringnya, ibu-ibu yang masih mengenakan daster, hingga bapak-bapak parlente yang memarkir mobil mewahnya di bahu jalan. Di mata Tuhan, mereka semua sama: hamba-hamba lapar yang sedang menjemput rezeki dalam bentuk nasi lengkap sayuran rebus dan bumbu kacang.

Saya berdiri di sana, menghirup aroma wangi sambal kacang yang menguar dari adonan di mangkok. Saya sudah membayangkan sepotong tempe goreng yang garing, berwarna cokelat keemasan, sebagai pendamping nasi pecel. Tempe adalah kemewahan sederhana, sebuah bentuk syukur atas hasil bumi yang diolah dengan sabar.

"Tempenya masih digoreng, bu. Masih basah, belum kering. Mau nunggu?" tanya penjual yang sudah nenek-nenek.  tanpa mengalihkan pandangan dari tangannya yang lincah menata kangkung dan tauge. Saya melirik ke arah wajan besar. Seorang laki-laki ceritanya cucunya yang bagian mengoreng. Di sana, potongan-potongan tempe masih berenang di dalam minyak panas, mengeluarkan bunyi desis yang menandakan proses pematangan masih panjang. Di belakang, antrean semakin mengular. Beberapa orang memilih untuk setia menunggu. Mereka berdiri mematung, pandangannya terkunci pada wajan, seolah-olah kebahagiaan hidup mereka bergantung sepenuhnya pada tingkat kerenyahan tempe tersebut.

Pada saat itulah, sebuah bisikan lembut muncul di hati. Bukankah hidup seringkali memaksa kita memilih antara keinginan dan ketetapan waktu?

"Mbah, saya lauk kerupuk saja dua," jawab si anak saya mantap.

Keputusan itu spontan, namun terasa benar. Anak saya memilih kerupuk sesuatu yang ringan, rapuh, namun segera tersedia. Mbahnya tersenyum, dengan cepat ia mengambil nasi ditambah sayuran dan sambal, meletakkan dua kerupuk putih yang lebar di atasnya, dan menyerahkannya kepada anak saya.

Saat saya dan anak melangkah keluar warung membawa sepincuk nasi pecel,  menoleh sejenak. Orang-orang yang bersikeras menunggu tempe goreng masih berdiri di sana. Mereka terjebak dalam penantian. Sementara itu, saya sudah bisa menikmati di kursi luar.  Kerupuk yang kuterima bukan sekadar pelengkap makan, melainkan simbol keridaan atas apa yang ada di depan mata. Sambil menikmati nasi pecel bersama kerupuk yang renyah. Kerupuk itu hancur saat digigit, mengingatkanku bahwa dunia ini pun fana dan mudah hancur. Di balik kriuknya, ia memberikan rasa gembira.

Ada beberapa hikmah yang bisa dipetik antara lain,
1. Menerima kerupuk saat hati menginginkan tempe adalah latihan kecil untuk selalu merasa cukup            dengan pemberian-Nya.
2. Kita mengorbankan waktu yang sangat mahal hanya untuk mengejar kenikmatan materi yang sepele.
3. Dua kerupuk adalah rezeki terbaik dari Sang Pencipta
Nasi pecel sore ini bukan hanya mengenyangkan perut, tapi juga memberi kenikmatan pada jiwa-jiwa  yang seringkali lupa cara berterima kasih.

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."

Cepu, 25 April 2026

Rabu, 22 April 2026

Menu Makan Siang Yang Menarik


Karya : Gutamining Saida

Rabu siang di sekolah sering kali menjadi waktu yang menantang. Matahari tepat berada di puncak kepala, menyiramkan panas yang merayap masuk melalui ventilasi kelas. Ia membawa serta rasa kantuk dan perut yang mulai berbunyi. Di kelas 8F, suasana itu terasa nyata. Jam dinding seakan bergerak lebih lambat, dan konsentrasi para siswa mulai memudar, teralihkan oleh bayangan rumah atau aroma masakan yang entah datang dari mana. Hari itu bukan jam pelajaran IPS yang biasa. Ada sebuah skenario yang telah saya dirancang. Rancangan sedemikian rupa untuk mengubah kelesuan siang hari menjadi sebuah perburuan ilmu yang penuh gairah.

Sesi pemberian materi telah usai. Papan tulis yang tadi penuh dengan poin-poin keadaan ekonomi masa deokrasi terpimpin. Suasana  tergantikan oleh pemandangan yang tak lazim. Di salah satu meja siswa, tertata rapi 35 lembar gambar yang seketika mengubah atmosfer ruangan. Jika biasanya media pembelajaran adalah peta dunia atau grafik ekonomi, siang itu kelas 8F berubah menjadi sebuah "food court" yang menggugah selera.

Bayangkan saja, di tengah rasa lapar yang mulai mendera, siswa disuguhi gambar nasi soto dengan uap yang seolah mengepul, nasi rawon dengan kuah hitam pekat yang kaya rempah, hingga seblak dengan warna merah cabai yang menantang nyali. Tidak ketinggalan, ada bakso keju yang tampak lumer, nasi pecel dengan siraman bumbu kacang yang kental, dan nasi ayam goreng yang garing. Kehadiran gambar-gambar ini bukan tanpa alasan. Di sekolah, program Makan Bergizi Gratis (MBG) biasanya dibagikan menjelang jam pulang. MBG hadir tepat saat perut sedang berada di titik nadir kesabaran. Maka, menyajikan "menu-menu"  di jam siang adalah sebuah keharusan bagi saya.

Anak-anak kelas 8F yang tadinya bersandar lesu di kursi, mendadak tegak. Mata mereka berbinar, bukan karena definisi atau dampak ekonomi, melainkan karena pilihan favorit yang terpampang nyata. Ada diskusi kecil yang pecah di antara mereka; ada yang menunjuk mie kuah karena cuaca sedang gerah namun ingin yang segar, ada yang bersikukuh memilih bakso keju karena itu adalah kenyamanan dalam setiap gigitan. Ketertarikan ini adalah "umpan" pertama yang berhasil disambar. Mereka bergerak maju, bukan karena diperintah secara instruksional yang kaku, melainkan karena dorongan insting dan selera.

Di balik kelezatan tersebut, terdapat sebuah jebakan intelektual. Setiap gambar yang mereka pilih dengan penuh semangat itu menyimpan sebuah rahasia di baliknya. Saya telah menempelkan jawaban-jawaban singkat yang merupakan kunci dari sebuah materi keadaan ekonomi Indonesia. Tugas mereka bukanlah sekadar mengagumi keindahan fotografi makanan, melainkan membedah jawaban tersebut menggunakan teknik 5W+1H (What, Who, Where, When, Why, dan How).

Teknik ini adalah fondasi dari cara berpikir kritis dalam IPS. Dengan memegang gambar "Nasi Soto", seorang siswa mungkin menemukan potongan informasi di belakangnya yang berbunyi:  "Inflasi, ekspor, kemiskinan" Tugas mereka kemudian adalah menyusun pertanyaan yang tepat. Kenapa terjadi inflasi? Di mana kemiskinan itu terjadi? Siapa yang terlibat dalam upaya pemerintah?

Keajaiban terjadi saat proses pemilihan berlangsung. Karena visual makanan tersebut begitu menggoda, para siswa seolah kehilangan kewaspadaan terhadap beban tugas yang ada di baliknya. Mereka memilih menu tanpa menghiraukan serumit apa jawaban atau pertanyaan yang harus mereka selesaikan nantinya. Motivasi mereka telah bergeser dari "mengerjakan tugas" menjadi "mengamankan menu favorit". Ini adalah bentuk dari gamification dalam pembelajaran; mengubah beban menjadi tantangan, dan mengubah instruksi menjadi petualangan.

Seorang siswa laki-laki di barisan tengah berlari kecil demi mendapatkan gambar seblak. Dia adalah Yoga. Baginya, tingkat kepedasan seblak dalam gambar itu adalah representasi dari semangatnya siang itu. Begitu ia membalik kertasnya, ia menemukan sebuah fakta sejarah atau fenomena sosial yang harus ia urai dengan 5W+1H. Ia tidak mengeluh. Rasa bangga karena berhasil "memiliki" gambar seblak pilihannya memberikan energi tambahan untuk berpikir lebih keras. Ia mulai menuliskan pertanyaan: Apa dampak dari peristiwa ini? Kapan hal ini mulai memengaruhi masyarakat luas?

Di sudut lain, sekelompok siswi tertawa renyah sambil membandingkan gambar nasi pecel dan mie kuah. Mereka sedang dalam misi mengumpulkan informasi dari balik gambar-gambar tersebut. Terjadi pertukaran ide yang cair. "Aku punya jawaban 'di pasar tradisional', berarti pertanyaannya 'di mana', kan?" tanya salah satu dari mereka. Tanpa sadar, mereka sedang mempraktikkan analisis data dan konstruksi kalimat tanya yang sistematis.

Suasana kelas yang tadinya sunyi dan berat kini riuh dengan aktivitas intelektual yang dibungkus selera makan. Teknik ini berhasil memecah kebuntuan kognitif yang sering terjadi di jam-jam rawan. Sebagai pengajar IPS, melihat mereka begitu antusias adalah sebuah kepuasan tersendiri. Ilmu Pengetahuan Sosial sering kali dianggap sebagai hafalan yang menjemukan, namun siang itu, IPS terasa sangat dekat dengan lidah dan perut mereka. Ia terasa nyata, senyata keinginan mereka untuk segera menyantap makan siang setelah bel pulang berbunyi.

Melalui 35 gambar menu ini, kita belajar bahwa pendidikan tidak harus selalu kaku. Terkadang, untuk menyentuh pikiran seorang siswa, kita harus terlebih dahulu menyentuh apa yang mereka sukai. Kita memancing rasa ingin tahu mereka dengan hal-hal yang bersifat manusiawi seperti rasa lapar dan makanan favorit.

Begitu jam pelajaran berakhir, gambar-gambar dikumpulkan di meja. Buku pekerjaan  membuat  pertanyaan 5W+1H yang telah mereka susun dengan mandiri. Mereka pulang bukan hanya dengan perut yang menanti jatah MBG, tetapi juga dengan otak yang telah kenyang mengolah pertanyaan. Kelas 8F telah membuktikan bahwa di balik semangkuk soto atau sepiring nasi rawon imajiner, terdapat dunia ilmu pengetahuan yang luas yang siap untuk dijelajahi, satu pertanyaan pada satu waktu. Siang itu, literasi bukan lagi soal membaca buku teks yang tebal, melainkan tentang bagaimana memaknai sebuah jawaban di balik gambar yang paling kita sukai. Selamat mencoba.

Cepu, 23 April 2026



 

Selasa, 21 April 2026

Tamparan Cinta

Karya: Gutamining Saida

Sebuah pesan singkat di layar ponsel mendarat layaknya sebuah tamparan yang keras. Anehnya, tak ada rasa perih di pipi, tak ada sesak di dada, apalagi rasa sakit hati. Justru sebaliknya, sebuah kehangatan menjalar ke seluruh relung jiwa, diiringi rasa haru yang membuat mata berkaca-kaca. Saya baru saja menerima "tamparan cinta" dari guru saya sebuah teguran yang menyadarkan saya dari kelalaian panjang.

Sebagai siswa yang baru beberapa bulan menimba ilmu di bawah bimbingan beliau, saya sempat berprasangka dalam diam. Saya mengira, di tengah lautan siswa beliau yang begitu banyak dan beragam, sosok saya hanyalah butiran debu yang tak terlihat. Saya pikir, beliau tidak akan sempat menghafal nama, apalagi memahami karakter dan kebiasaan saya. Prasangka itu runtuh seketika saat sebuah interaksi sederhana terjadi di grup WhatsApp.

Segalanya bermula saat saya membalas sapaan beliau di grup. Tak disangka, beliau langsung memberikan penilaian karakter dan menyoroti kebiasaan saya  Bak seorang tabib yang tahu letak penyakit tanpa perlu bertanya, beliau menuliskan sebuah kalimat yang menghujam tepat ke sasaran: "Bu Saida kurang olahraga." Saya langsung menanggapinya. "Betul sekali." 

Batin saya berseru kaget. Bagaimana beliau bisa tahu? Padahal saya merasa sudah cukup lihai menutupi kemalasan fisik ini. Dengan jujur saya mengiyakan, bahkan menambahkan pengakuan bahwa olahraga memang menjadi "musuh" terbesar saya sejak zaman sekolah.

"Lha dalah... bener khan." chat beliau berikutnya. 

Dalam kacamata religi, peristiwa ini bukanlah sekadar kebetulan. Allah Subhanahu Wata'alla memiliki seribu satu cara untuk menegur hamba-Nya yang mulai lalai. Terkadang teguran itu datang lewat ayat-ayat suci, namun sering kali Allah meminjam lisan orang-orang mulia seperti sang guru untuk menyampaikan pesan-Nya. Inilah bentuk perhatian Allah Subhanahu Wata'alla yang nyata; Dia tak membiarkan saya "kebablasan" dalam kebiasaan yang kurang baik.

Teguran beliau bukan sekadar urusan fisik, melainkan sebuah pengingat akan esensi penciptaan manusia. Kita diciptakan di dunia ini hanyalah untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 56. Namun, bagaimana mungkin ibadah bisa tegak dengan sempurna jika raga ini rapuh dan layu karena kurang gerak?

Kesehatan adalah amanah. Tubuh ini adalah titipan yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Menjaga kesehatan melalui olahraga bukan hanya urusan gaya hidup, melainkan sebuah ikhtiar untuk menguatkan sendi-sendi ibadah. Dengan tubuh yang bugar, rukuk akan lebih mantap, sujud akan lebih khusyuk, dan langkah kaki menuju majelis ilmu akan lebih ringan.

Guru saya melihat apa yang terlihat. Beliau memberikan motivasi karena peduli pada keberlangsungan ibadah saya kepada Sang Pencipta. Beliau ingin siswanya tidak hanya cerdas secara akal, tapi juga tangguh secara fisik agar pengabdian kepada Allah Subhanahu Wata'alla tidak terhambat oleh keluhan penyakit yang sebenarnya bisa dicegah.

Teguran ini menjadi motivasi besar bagi saya. Saya merasa sangat beruntung memiliki guru yang tidak hanya mengajarkan materi, tetapi juga memperhatikan detail karakter dan pola hidup siswanya. Ini adalah bukti bahwa beliau bukan sekadar menggugurkan kewajiban.

Saya berterima kasih kepada Allah Subhanahu Wata'alla karena telah membukakan jalan hidayah lewat teguran guru saya pagi ini. Mungkin saatnya saya berdamai dengan "musuh lama" bernama olahraga itu. Saya ingin mengubah keringat yang keluar saat berolahraga nanti menjadi saksi bahwa saya sedang berupaya menjaga amanah-Nya. Terima kasih pak Guru, atas tamparan cintanya. Semoga setiap tetes keringat dan upaya saya menjaga kesehatan setelah ini, menjadi aliran pahala pula bagi ketulusan dalam membimbing saya. Aamiin.

Cepu, 22 April 2026






Senin, 20 April 2026

Raden Ajeng Kartini

 


Karya : Gutamining Saida

Selasa, 21 April 2026, suasana sekolah tampak tidak biasa. Riuh rendah suara siswa dan sapaan para guru terdengar lebih hangat di tengah warna-warni kain kebaya yang dikenakan ibu-ibu guru. Para bapak guru dan siswa laki-laki pun tampak gagah dengan seragam Samin yang bersahaja, mencerminkan identitas akar rumput yang kuat. Pemandangan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan sebuah simfoni nasionalisme yang dibalut dengan rasa syukur mendalam kepada Sang Pencipta.

Di sela-sela kesibukan jempol saya menari di atas layar ponsel. Di media sosial, story teman-teman sejawat dari sekolah lain mulai bermunculan. Mereka mengunggah momen kebersamaan, senyum sumringah dalam balutan busana kebaya. Meski sekolah kami belum sempat melakukan foto bersama karena padatnya agenda pagi, geliat peringatan Hari Kartini ini terasa sangat kental di dalam sanubari. Ucapan-ucapan selamat hari Kartini pun berseliweran di grup WhatsApp, menjadi pengingat kolektif akan jasa seorang perempuan pingit yang pemikirannya melampaui zaman.

Perjuangan Raden Ajeng Kartini dapat kita maknai sebagai manifestasi dari perintah Allah SWT untuk menuntut ilmu tanpa memandang kasta atau gender. Jika kita menarik benang merah ke belakang, Kartini adalah sosok yang gelisah karena keterbatasan akses pendidikan bagi kaumnya. Kegelisahan ini sejalan dengan spirit wahyu pertama, Iqra’ (Bacalah).

Seandainya Allah Subhanahu Wata'alla tidak menggerakkan hati Kartini untuk berjuang demi emansipasi dan pendidikan perempuan di tanah Jawa, mungkin hari ini saya tidak akan berdiri di sini sebagai seorang pendidik. Betapa besar skenario Allah Subhanahu Wata'alla melalui perjuangan beliau. Tanpa pena dan surat-surat Kartini yang mengguncang pemikiran kolonial, akses perempuan untuk menjadi guru, dokter, atau ilmuwan mungkin masih menjadi mimpi yang terkunci rapat di balik tembok pingitan.

Islam sangat memuliakan perempuan berilmu. Sebagaimana Siti Aisyah r.a. yang menjadi rujukan ilmu hadits dan hukum bagi para sahabat, Kartini pun menjadi wasilah bagi terbukanya pintu ilmu bagi perempuan Indonesia. Kebebasan yang saya rasakan hari ini untuk mengajar, bersosialisasi, dan berkontribusi bagi bangsa adalah nikmat yang harus disyukuri dengan tindakan nyata, bukan sekadar perayaan busana.

Rasa syukur atas jasa Kartini tidak cukup hanya dengan mengenakan kebaya yang indah. Bagi saya, syukur yang paling hakiki adalah dengan mewakafkan diri, ilmu, dan tenaga untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Setiap butir ilmu yang saya bagikan kepada siswa adalah bentuk terima kasih saya kepada sejarah.

Setiap sesi di kelas, saya tidak hanya mentransfer pengetahuan tekstual. Lebih dari itu, saya berusaha menyelipkan nilai-nilai kebaikan dan budi pekerti. Mengajak siswa untuk mencintai ilmu adalah cara saya menjaga api perjuangan Kartini tetap menyala. Di hadapan Tuhan, pekerjaan sebagai pendidik ini saya niatkan sebagai amal jariyah.

Rasulullah bersabda bahwa salah satu amalan yang tidak akan putus pahalanya meski manusia telah wafat adalah ilmu yang bermanfaat. Inilah misi utama saya untuk menebarkan manfaat bagi lingkungan sekolah dan masyarakat. Ketika saya melihat seorang siswi memiliki cita-cita tinggi dan semangat belajar yang membara, saya melihat jejak Kartini di matanya. Dan di saat itulah, doa-doa saya lantunkan agar ilmu yang mereka dapatkan menjadi cahaya bagi kehidupan mereka di dunia dan akhirat.

Peringatan Hari Kartini dengan seragam adat samin dan kebaya ini memberikan pesan simbolis tentang kesahajaan dan keberanian. Sebagai wanita muslimah, saya memandang peran emansipasi ini sebagai tanggung jawab untuk menjadi rahmatan lil 'alamin. Memberi manfaat tidak harus dengan melakukan perubahan besar dalam sekejap, namun bisa dimulai dari hal kecil: memberikan senyuman semangat kepada siswa yang lesu, memberikan nasihat bijak saat mereka buntu, hingga menjadi teladan dalam bersikap.

Saya berharap, segala lelah dan peluh dalam menjalankan tugas ini dicatat oleh Allah Subhanahu Wata'alla sebagai bagian dari ibadah. Kita bergerak bukan hanya karena tuntutan profesi atau instruksi kedinasan, melainkan karena panggilan jiwa untuk memperbaiki umat. Kartini telah membuka jalannya, dan tugas kitalah untuk melanjutkan perjalanan itu dengan kompas keimanan.

Melihat foto-foto teman yang berseliweran di grup, saya tersenyum. Biarlah kami belum sempat berfoto bersama hari ini, karena potret yang paling abadi bukanlah yang tersimpan di memori ponsel, melainkan potret kebaikan yang terukir di hati para siswa.  Biarlah kesibukan kami menjaga tes PSAJ hari ini menjadi saksi di hadapan Allah Subhanahu Wata'alla bahwa kami menghargai pahlawan dengan cara bekerja keras demi masa depan generasi penerus.

Doa tulus saya panjatkan untuk almarhumah RA Kartini. Semoga Allah Subhanahu Wata'alla  mengampuni kekhilafannya dan memberikan tempat terbaik di sisi-Nya atas segala upaya beliau mengangkat derajat kaum wanita. Mari kita teruskan perjuangan RA Kartini dengan menebarkan manfaat seluas-luasnya, sembari berharap bahwa setiap langkah kecil kita di lorong sekolah ini adalah langkah menuju ridha-Nya. Habis gelap terbitlah terang, sebuah kalimat yang bukan sekadar judul buku, melainkan janji Allah Subhanahu Wata'alla bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan bagi mereka yang berilmu dan beriman.

Cepu, 21 April 2026

Refresing Ke Waduk Sonorejo


Karya : Gutamining Saida

Minggu pagi, matahari menyapa dengan malu-malu di balik ufuk timur, membiarkan semburat jingga menghiasi langit yang masih bersih dari polusi. Di sudut musala, suasana riuh rendah sudah mulai terasa. Bukan karena ada keributan, melainkan karena semangat para ibu jamaah yang sedang bersiap untuk sebuah agenda sederhana  refreshing tipis-tipis ke waduk Sonorejo.

Dalam Islam, menjaga kesehatan mental dan kebahagiaan hati bukanlah hal yang dilarang, bahkan sangat dianjurkan. Rasulullah pun sesekali bercanda dan mengajak keluarganya berlomba lari untuk menghibur hati. Inilah yang mendasari niat kami; bukan sekadar hura-hura tanpa makna, melainkan sebuah ikhtiar untuk melepas penat, mengurai kejenuhan, dan yang terpenting, mempererat tali silaturahmi.

Segalanya bermula dari sebuah ajakan sederhana di grup WhatsApp. Ajakan ini disambut dengan antusiasme yang luar biasa. "Jam 06.00 WIB siap berangkat ya!" tulis sebuah pesan. Jawaban pun mengalir satu per satu. Ada yang dengan sigap mengeluarkan motornya, ada pula yang dengan berat hati memohon maaf karena harus menemani keponakan atau memiliki urusan keluarga yang tidak bisa ditinggalkan.

Keindahan dari sebuah jamaah adalah kerelaan dan pengertian. Mereka yang tidak ikut tetap mendoakan, dan mereka yang berangkat membawa semangat kebersamaan. Berapapun jumlahnya, niat utama adalah mencari rida Allah melalui kegembiraan bersama saudara seiman.

Tepat saat jarum jam menunjuk angka enam, deru mesin motor mulai terdengar bersahutan. Tidak ada mobil mewah, hanya motor-motor sederhana yang siap mengantar kami menuju ketenangan. Kami berkendara secara berurutan, saling menunggu di persimpangan jika ada yang tertinggal. Di sinilah nilai saling menjaga dipraktikkan. Tak ada yang ingin mendahului demi ambisi pribadi; semua bergerak dalam satu ritme, memastikan tidak ada saudari yang tertinggal di belakang.

Sesampainya di lokasi tujuan yang tak jauh dari rumah namun asri, selembar tikar digelar di bawah naungan pohon yang rindang. Di sinilah letak kemewahan yang sesungguhnya. Bukan di restoran berbintang, melainkan di atas hamparan plastik sederhana di mana semua strata sosial melebur menjadi satu.

Tiada kesepakatan, membawa bekal. Bu Hajah Karsini, dengan kedermawanannya, membawakan nasi pecel untuk semua. Bau harum bumbu kacang dan segar sayuran seolah membangkitkan selera makan yang mungkin sempat hilang karena rutinitas dapur yang menjemukan. Tak hanya itu, Bu Hajah Karsini  juga membawa roti dan berbagai jajanan hari raya.

Ibu-ibu yang lain tak mau kalah dalam berlomba-lomba dalam kebaikan. Bu Joko mengeluarkan bekal roti dan marning yang renyah, sementara Bu Yatno membawa kacang dan camilan lainnya. Saat semua bungkusan dibuka, terlihatlah keberkahan dari berbagi. Makanan yang awalnya dibawa sendiri-sendiri, kini menjadi milik bersama.

"Keberkahan itu ada pada kebersamaan," begitulah sebuah hadits mengingatkan kita. Dan benar saja, nasi pecel itu terasa jauh lebih nikmat daripada hidangan paling mahal sekalipun. Sembari mengunyah, tawa pecah menyelingi cerita-cerita ringan tentang keseharian. Di sinilah beban pikiran yang menumpuk di rumah perlahan luruh, digantikan oleh hormon kebahagiaan yang muncul dari rasa syukur dan penerimaan.

Setelah perut kenyang dan hati tenang, kami melangkah menuju dermaga kecil tempat perahu dan bebek-bebekan bersandar. Ada delapan orang dari kami yang siap menantang riak air. Kami memesan dua perahu agar beban terbagi rata. Pembagian penumpang dilakukan dengan cermat. Ibu-ibu yang bertubuh agak besar (genduk) dipadukan dengan mereka yang lebih kecil agar perahu tetap seimbang dan tidak oleng.

Sambil menunggu tukang perahu yang belum siap di tempat, kami memanfaatkan waktu untuk mengabadikan momen. Foto bersama bukan sekadar untuk gaya-gayaan di media sosial, melainkan sebagai pengingat di masa depan bahwa kami pernah memiliki waktu bersama.

Saat perahu akhirnya mulai mengayuh menjauh dari tepian, rasa syukur itu semakin membuncah. Hanya dengan membayar lima ribu rupiah, kami diberikan kesempatan untuk melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Air yang tenang, semilir angin yang membelai wajah, dan pemandangan hijau di sekeliling adalah tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta yang seringkali luput dari perhatian kita saat sibuk dengan urusan duniawi.

Di atas perahu, kami merenung betapa kecilnya manusia di hadapan ciptaan-Nya. Masalah-masalah rumah tangga yang tadi terasa seberat gunung, perlahan tampak kecil seiring perahu yang menjauh. Kami diingatkan untuk selalu bersyukur, sebagaimana janji Allah: "Lain syakartum laazidannakum" (Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu).

Kegiatan refreshing ini mungkin terlihat sepele bagi sebagian orang. Namun bagi kami, ini adalah "baterai" spiritual. Kami pulang tidak hanya dengan perut yang kenyang atau memori ponsel yang penuh dengan foto, tetapi dengan hati yang lebih lapang.

Kebersamaan ini mengajarkan kita bahwa bahagia itu sederhana. Ia tidak butuh perjalanan ke luar negeri atau biaya jutaan rupiah. Bahagia itu ada pada tegur sapa yang tulus, pada sesuap nasi pecel yang dimakan bersama, dan pada rasa syukur yang dipupuk di atas perahu sederhana.

Semoga Allah Subhanahu Wata'alla senantiasa menjaga kerukunan jamaah ini, memberkahi setiap langkah kami, dan menjadikan setiap tawa kami sebagai bentuk ibadah yang mendatangkan rida-Nya. Karena sesungguhnya, setelah kesulitan itu pasti ada kemudahan, dan salah satu cara menjemput kemudahan itu adalah dengan melapangkan hati melalui silaturahmi yang penuh berkah. Sampai berjumpa di refresing mendatang.

Cepu, 21 April 2026