Karya : Gutamining Saida
Rezeki Allah Subhanahu Wata'alla benar-benar rahasia. Ia datang tanpa aba-aba, tanpa pemberitahuan, bahkan sering kali di saat hati sudah berhenti berharap. Seperti peristiwa yang saya alami pada hari Kamis yang tampak biasa, namun ternyata menyimpan cerita luar biasa tentang kesabaran, keikhlasan, dan janji Allah Subhanahu Wata'alla yang tak pernah ingkar.
Sejenak saya terdiam. Pikiran saya menolak untuk langsung percaya. Rompi? Rompi apa? Dari mana? Untuk saya? Saya merasa tidak pernah memesan, tidak pula menunggu kiriman apa pun. Bahkan, dalam benak saya sama sekali tidak terlintas bahwa akan ada kiriman rompi dari BBGTK Semarang.
Teman itu melanjutkan ceritanya. Rompi tersebut adalah bagian dari agenda kegiatan yang pernah saya ikuti di Solo pada tanggal 20 November 2025. Sebuah agenda yang kala itu saya jalani dengan penuh tanggung jawab, meski tanpa ekspektasi apa pun selain menambah ilmu dan pengalaman. Agenda itu sudah lama berlalu. Bulan demi bulan telah berganti. Jeda waktunya bukan sebentar. Bahkan, kalau boleh jujur, saya sendiri hampir lupa bahwa dalam agenda tersebut ada hak berupa rompi.
Rompi itu dititipkan melalui peserta lain yang berasal dari Blora. Ia dibawa, disimpan, dijaga, hingga akhirnya sampai juga ke tangan saya. Tidak tertukar. Tidak salah alamat. Tidak hilang. Padahal, sudah begitu lama tertunda. Di titik itulah hati saya bergetar.
Saya tersadar, inilah yang disebut rezeki tertunda. Bukan tertolak. Bukan terlewat. Hanya ditunda waktunya. Allah Subhanahu Wata'alla menahannya hingga waktu yang Dia anggap paling tepat. Dan ketika waktunya tiba, tak satu pun yang mampu menghalangi.
Dalam hati saya berkata lirih, “Kalau memang ini rezekiku, sejauh apa pun jaraknya, selama apa pun waktunya, pasti akan sampai.” Benar, janji Allah Subhanahu Wata'alla terbukti. Rezeki itu tidak tertukar dengan milik orang lain. Tidak menguap meski waktu berjalan. Ia menunggu, sebagaimana saya pun tanpa sadar sedang dipersiapkan untuk menerimanya dengan rasa syukur yang lebih dalam.
Rompi itu mungkin bagi sebagian orang hanyalah sehelai pakaian. Namun bagi saya, ia adalah simbol. Simbol yang ditetapkan Allah Subhanahu Wata'alla tidak pernah salah sasaran. Ia menjadi pengingat lembut bahwa tugas kita hanyalah berusaha dan berserah. Soal hasil, biarlah Allah Subhanahu Wata'alla yang mengatur jalannya.
Sering kali manusia gelisah ketika merasa haknya belum diterima. Kita tergesa-gesa, membandingkan diri dengan orang lain, merasa tertinggal, bahkan berprasangka buruk pada takdir. Padahal, bisa jadi Allah Subhanahu Wata'alla sedang menyimpan rezeki itu agar datang di saat hati kita lebih siap, lebih lapang, dan lebih pandai bersyukur.
Saya teringat satu nasihat yang sering terdengar sederhana, namun dalam maknanya sangat dalam yaitu “Apa yang menjadi milikmu tidak akan pernah melewatkanmu.” Hari Kamis itu, kalimat tersebut terasa nyata. Tidak hanya sebatas kata-kata.
Ketika rompi itu akhirnya berada di tangan saya, refleks ucapan “Alhamdulillah” meluncur begitu saja. Bukan sekadar basa-basi lisan, melainkan rasa syukur yang lahir dari kesadaran penuh. Syukur karena Allah Subhanahu Wata'alla masih berkenan memperhatikan hamba-Nya dengan cara yang lembut. Syukur karena Dia mengajarkan bahwa sabar tidak pernah sia-sia. Syukur karena iman kembali dikuatkan melalui peristiwa kecil namun bermakna besar.
Peristiwa ini juga mengajarkan saya untuk tidak meremehkan apa pun yang datang. Bisa jadi, hal yang tampak sepele adalah pesan cinta dari Allah Subhanahu Wata'alla. Bisa jadi, sesuatu yang tertunda adalah bentuk penjagaan-Nya. Bisa jadi, apa yang kita anggap biasa justru menjadi penguat keyakinan di tengah lelahnya perjalanan hidup.
Sejak hari itu, saya belajar untuk lebih tenang. Tidak terlalu risau tentang apa yang belum sampai. Tidak berlebihan mengkhawatirkan apa yang belum terjadi. Karena jika memang sudah tertulis sebagai rezeki, ia akan datang dengan caranya sendiri, di waktu yang paling tepat, dan dengan cerita yang kelak membuat kita tersenyum sambil berkata, “Ternyata Allah Subhanahu Wata'alla tidak pernah lupa.” Rezeki memang rahasia.
Cepu, 4 Pebruari 2026
.jpeg)






.jpeg)

