Selasa, 27 Oktober 2026

 

Setelah seharian bergelut dengan aktivitas di sekolah, saya mendapatkan ajakan yang cukup menarik. Bukan ajakan untuk pergi ke pusat perbelanjaan, makan di restoran, atau jalan-jalan ke tempat wisata yang sedang ramai dikunjungi orang. Ajakannya sederhana, tetapi cukup membuat rasa penasaran saya muncul. Saya diajak melihat bunga enceng gondok yang sedang bermekaran di sepanjang aliran Bengawan Solo.

Pemandangan itu sedang viral di media sosial. Wah, mendengar kata viral, rasa penasaran saya langsung bangkit. Maklum, zaman sekarang kalau ada sesuatu yang viral, rasanya sayang sekali kalau hanya menjadi penonton dari kejauhan. Apalagi lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal saya. Masa iya, orang lain sudah berfoto ria, sementara saya hanya bisa melihat unggahannya di layar ponsel?

Akhirnya, tanpa berpikir panjang, saya pun ikut berangkat. Anggap saja ini sebagai hadiah kecil untuk diri sendiri setelah menjalani rutinitas sebagai seorang guru. Seharian berada di sekolah tentu membutuhkan energi, kesabaran, dan pikiran yang tidak sedikit. Maka, menikmati pemandangan sore hari menjadi salah satu cara sederhana untuk menyegarkan pikiran.

Siapa tahu, setelah melihat bunga enceng gondok, pikiran gondoknya hilang. Hehehe!

Bengawan Solo bukanlah sungai yang asing bagi masyarakat di sekitar kami. Sungai ini memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari. Airnya menjadi sumber penghidupan bagi para petani, membantu memenuhi kebutuhan masyarakat, serta menjadi bagian dari kehidupan warga yang tinggal di sekitarnya.

Namun, musim kemarau panjang membawa perubahan pada wajah sungai yang selama ini akrab dengan kehidupan masyarakat. Debit air menyusut, permukaan air menurun, dan bagian-bagian yang sebelumnya dipenuhi air kini tampak berbeda. Di beberapa bagian, hamparan enceng gondok tumbuh memenuhi permukaan sungai.

Tanaman yang biasanya hanya dianggap tumbuhan air biasa itu kini justru menjadi pusat perhatian. Terlebih ketika bunganya bermekaran, menciptakan pemandangan yang menarik untuk dilihat.

Siapa sangka, tanaman yang sering dianggap mengganggu aliran air itu mendadak naik kelas menjadi objek wisata dadakan?

Kalau biasanya orang berbondong-bondong mencari bunga di taman, kali ini bunga enceng gondok di Bengawan Solo pun berhasil mengundang perhatian. Bahkan, tanpa tiket masuk, tanpa gerbang megah, dan tanpa papan bertuliskan Welcome to Tourist Destination, masyarakat sudah berdatangan untuk menikmati pemandangannya.

Begitulah kehidupan. Kadang-kadang sesuatu yang selama ini dianggap biasa, bahkan kurang diperhatikan, bisa mendadak menjadi istimewa ketika dilihat dari sudut pandang yang berbeda.

Semakin Sore, Semakin Ramai

Sesampainya di lokasi, saya mulai memahami mengapa pemandangan ini ramai diperbincangkan. Hamparan tanaman air yang tumbuh memenuhi permukaan sungai terlihat menarik, apalagi ketika bunga-bunganya sedang bermekaran.

Orang-orang berdatangan silih berganti. Ada remaja yang datang bersama teman-temannya, ibu-ibu yang asyik berbincang sambil mencari sudut foto terbaik, anak-anak yang ikut menikmati suasana, hingga kaum bapak yang ternyata tidak mau kalah dalam urusan berburu foto.

Pemandangannya benar-benar seperti tempat wisata dadakan.

Semakin sore, jumlah pengunjung semakin bertambah. Ada yang berdiri berkelompok, ada yang sibuk mengatur posisi kamera, dan ada pula yang berkali-kali mengulang pengambilan gambar demi mendapatkan hasil terbaik.

Saya tersenyum melihat tingkah mereka. Ternyata, kebahagiaan tidak selalu harus dicari di tempat yang jauh dan mahal. Cukup dengan pemandangan yang sedang menarik perhatian, suasana sore yang menyenangkan, dan teman untuk berbagi cerita, orang-orang sudah bisa menikmati waktu dengan penuh kegembiraan.

Di tengah keramaian itu, saya pun tidak ingin ketinggalan.

Masa iya, sudah jauh-jauh datang, tetapi pulang hanya membawa cerita tanpa bukti foto?

Tentu saja tidak!

Saya pun ikut mencari posisi yang bagus. Sesekali melihat ke arah hamparan enceng gondok, kemudian mengatur gaya, tersenyum, dan berusaha tampil sebaik mungkin di depan kamera.

Kalau hasil fotonya bagus, bisa dipajang di status WhatsApp. Kalau kurang bagus, tinggal diulang. Kalau masih kurang bagus juga, mungkin kameranya yang perlu diajak bermusyawarah. Hehehe!

Namanya juga usaha. Yang penting, hati senang dan kenangan tersimpan.

Dari Pinggir Sungai ke Status WhatsApp

Setelah puas menikmati suasana dan berfoto, saya merasa sayang kalau pengalaman sederhana ini hanya berhenti sebagai kenangan pribadi. Maka, beberapa foto pilihan pun saya unggah ke status WhatsApp.

Bagi saya, status WhatsApp bukan sekadar tempat memamerkan kegiatan. Terkadang, status menjadi jendela kecil untuk berbagi cerita dengan keluarga, sahabat, teman kerja, dan orang-orang yang tidak bisa bertemu setiap hari.

Termasuk anak-anak saya yang berada di luar kota.

Saya tahu, jarak membuat kami tidak selalu bisa menikmati momen bersama. Mereka memiliki kesibukan sendiri, begitu pula saya. Karena itu, melalui foto dan cerita sederhana, setidaknya mereka masih bisa mengikuti sebagian aktivitas ibunya di rumah.

Namun, saya tidak menyangka unggahan tentang bunga enceng gondok itu justru menuai berbagai komentar dari anak-anak saya.

Ada saja tanggapan mereka yang membuat saya tersenyum sendiri. Rasanya seperti sedang berada di rumah bersama mereka, meskipun sebenarnya kami terpisah jarak.

Saya membayangkan mereka melihat foto ibunya yang sedang asyik menikmati pemandangan sungai. Mungkin ada yang terkejut, mungkin ada yang geli, atau mungkin mereka berpikir, Wah, Ibu ternyata tidak mau kalah dengan anak-anak muda kalau urusan jalan-jalan dan berfoto!

Dalam hati saya hanya tertawa.

Lho, memangnya kalau sudah menjadi ibu-ibu tidak boleh menikmati pemandangan? Apakah setelah anak-anak tumbuh dewasa, seorang ibu harus duduk manis di rumah, mengurus pekerjaan, lalu menunggu mereka menelepon?

Tentu tidak!

Ibu juga manusia. Ibu juga membutuhkan hiburan. Ibu juga boleh tertawa, berjalan-jalan, berfoto, dan menikmati keindahan alam.

Usia boleh bertambah, tetapi semangat menikmati kehidupan jangan sampai ikut menua.

Apalagi kalau ada kesempatan untuk menyegarkan pikiran setelah menjalani aktivitas yang melelahkan. Mengapa harus dilewatkan?

Saya justru merasa bahagia ketika anak-anak memberikan komentar. Bagi saya, komentar itu menjadi tanda bahwa mereka masih memperhatikan aktivitas ibunya. Walaupun tidak berada di dekat saya, mereka tetap bisa ikut terlibat dalam cerita kecil yang saya bagikan.

Kadang-kadang, perhatian memang tidak selalu hadir dalam bentuk pelukan. Ada kalanya perhatian datang melalui pesan singkat, komentar lucu, atau pertanyaan sederhana yang membuat hati seorang ibu terasa hangat.

Dan sore itu, bunga enceng gondok bukan hanya memberi saya pengalaman melihat pemandangan yang sedang viral, tetapi juga menghadirkan kebahagiaan kecil melalui interaksi dengan anak-anak.

Pelajaran dari Bunga Enceng Gondok

Di balik keseruan berburu foto, saya sempat berpikir bahwa ada sesuatu yang bisa direnungkan dari kejadian sore itu.

Bengawan Solo sedang mengalami penyusutan air akibat musim kemarau panjang. Kondisi ini tentu bukan sesuatu yang sepenuhnya menggembirakan. Berkurangnya air sungai dapat memengaruhi kehidupan masyarakat, terutama petani dan warga yang bergantung pada ketersediaan air.

Di satu sisi, hamparan enceng gondok yang bermekaran menghadirkan pemandangan menarik. Namun, di sisi lain, kita juga perlu mengingat bahwa pertumbuhan enceng gondok yang berlebihan dapat mengganggu aliran air dan keseimbangan ekosistem sungai.

Artinya, kita boleh menikmati keindahan yang hadir, tetapi jangan sampai melupakan kondisi alam yang melatarbelakanginya.

Jangan pula karena ingin mendapatkan foto yang bagus, kita mengabaikan keselamatan. Sungai tetaplah sungai. Permukaan air yang tampak tenang belum tentu aman, terlebih ketika kondisi air sedang surut dan dasar sungai tidak terlihat jelas.

Menikmati keindahan alam tidak harus dengan mengambil risiko. Cukup melihat dari tempat yang aman, mengabadikan momen sewajarnya, dan tetap menjaga kebersihan lingkungan.

Bagi saya, kejadian ini juga mengajarkan bahwa kebahagiaan bisa ditemukan dalam hal-hal sederhana. Tidak harus menunggu liburan panjang, tidak harus pergi ke luar kota, dan tidak harus mengeluarkan banyak uang.

Kadang-kadang, cukup menerima ajakan spontan, meluangkan sedikit waktu, dan bersedia membuka diri terhadap pengalaman baru.

Setelah pulang sekolah, saya bisa saja langsung beristirahat di rumah. Namun, sore itu saya memilih menikmati suasana berbeda. Ternyata, pilihan sederhana tersebut memberi saya cerita baru yang bisa dikenang dan dibagikan.

Ada pemandangan yang menarik, ada keramaian yang menghibur, ada foto yang bisa dipajang, dan yang paling menyenangkan, ada komentar anak-anak yang membuat saya tersenyum.

Bukankah itu sudah cukup menjadi hadiah kecil untuk sebuah sore?

Viral Boleh, Bahagia Harus!

Akhirnya, sore itu saya pulang membawa lebih dari sekadar foto bunga enceng gondok. Saya membawa cerita, pengalaman, dan kebahagiaan sederhana yang mungkin tidak akan saya dapatkan jika hanya berdiam diri di rumah.

Bunga enceng gondok memang sedang viral. Orang-orang datang silih berganti, mencari sudut terbaik untuk berfoto. Media sosial pun menjadi sarana untuk membagikan keindahan yang mereka temukan.

Namun, bagi saya, yang paling berkesan bukanlah seberapa banyak orang menyukai foto yang saya unggah. Bukan pula seberapa ramai komentar yang muncul di status WhatsApp.

Yang paling membahagiakan adalah kesempatan menikmati waktu, menyegarkan pikiran, dan merasakan kedekatan dengan anak-anak meskipun kami tidak berada di tempat yang sama.

Saya belajar bahwa hidup tidak selalu membutuhkan peristiwa besar untuk menghadirkan kebahagiaan. Ada kalanya, kebahagiaan justru bersembunyi di balik kejadian sederhana yang tidak pernah kita rencanakan.

Hari ini bunga enceng gondok menjadi bintang. Besok mungkin ada pemandangan lain yang mencuri perhatian. Namun, kesempatan untuk menikmati kehidupan dengan hati yang bersyukur selalu terbuka selama kita mau melihatnya.

Terima kasih, Bengawan Solo. Sore itu, engkau bukan hanya menjadi saksi tumbuhnya enceng gondok, tetapi juga menjadi tempat saya menemukan hiburan kecil setelah seharian menjalankan tugas.

Dan untuk anak-anak saya yang berada di luar kota, jangan terlalu heran melihat ibu kalian ikut berburu foto.

Ibu masih punya semangat jalan-jalan, masih suka mencoba hal baru, dan masih bisa tersenyum bahagia hanya karena melihat bunga yang sedang bermekaran.

Jadi, jangan khawatir. Ibu baik-baik saja!

Selama Allah masih memberi kesehatan, kesempatan, dan rasa syukur, saya ingin terus menikmati kehidupan dengan cara yang sederhana.

Sebab, bahagia tidak harus menunggu semuanya sempurna. Terkadang, bahagia cukup dengan melihat bunga yang sedang bermekaran, mengabadikan satu dua foto, lalu tertawa bersama anak-anak melalui layar ponsel.

Viral boleh, berfoto jangan ketinggalan, tetapi yang paling penting, jangan sampai lupa bersyukur.

Alhamdulillah, sore yang sederhana berubah menjadi kenangan yang istimewa.

Jumat, 23 Oktober 2026

Indahnya Kebersamaan

Karya: Gutamining Saida

Jum’at sore, saya kembali mendapatkan kesempatan untuk hadir di tengah keluarga besar Muda Swimming Squad 2. Sebuah kebersamaan yang menyimpan kebahagiaan luar biasa. Bagi sebagian orang, mungkin kehadiran di kolam renang hanyalah kegiatan olahraga untuk mengisi waktu luang. Bagi saya, ada makna yang lebih. Saya tidak sekadar berjuang menggerakkan tubuh agar tetap sehat, tetapi juga belajar menguatkan hati, menumbuhkan keberanian, dan merasakan indahnya persaudaraan yang tumbuh tanpa memandang perbedaan.

Saya semakin menyadari bila kesehatan merupakan salah satu nikmat Allah yang sering kali baru benar-benar kita syukuri ketika tubuh mulai merasakan keterbatasan. Saat tubuh tidak lagi sekuat dahulu, langkah tidak lagi sebebas dulu, dan beberapa gerakan membutuhkan usaha lebih keras, barulah kita memahami bahwa bisa bergerak, berjalan, mengangkat tangan, bahkan sekadar menikmati udara sore merupakan anugerah yang luar biasa. Oleh karena itu, selagi Allah masih memberikan kesempatan, saya ingin terus berikhtiar. Saya ingin merawat tubuh yang telah Allah titipkan ini dengan penuh rasa syukur, meskipun perjalanan menuju sehat tidak selalu mudah.

Kami berkumpul bersama, mengikuti arahan Pak Gun, sosok pelatih yang senantiasa membimbing kami dengan kesabaran. Beliau bukan hanya mengajarkan gerakan di dalam air, tetapi juga menanamkan semangat agar kami tidak mudah menyerah pada keterbatasan diri. Ada kalanya kami berhasil melakukan gerakan yang sebelumnya terasa sulit. Ada pula saat kami harus mengulang berkali-kali karena tubuh belum mampu mengikuti apa yang diharapkan. Semua butuh proses,  setiap orang mempunyai perjalanan masing-masing. Tidak perlu membandingkan langkah sendiri dengan langkah orang lain, sebab yang terpenting adalah terus berusaha sesuai kemampuan.

Di bawah bimbingan Pak Gun, kami mendapatkan arahan untuk saling bergandengan tangan. Tangan yang satu bertemu dengan tangan yang lain. Jari-jari saling menguatkan, genggaman dipertahankan, dan tidak seorang pun boleh melepaskannya begitu saja. Berkali-kali terdengar pesan agar kami memegang dengan erat. Pegang erat, jangan dilepas. Kalimat sederhana itu seolah mengandung pesan kehidupan yang begitu dalam.

Saya memandangi tangan-tangan yang saling terhubung. Ada tangan yang mungkin lebih kuat, ada yang masih gemetar, ada yang terbiasa bergerak lincah, dan ada pula yang masih belajar mengatasi rasa takut. Ketika semua tangan itu bergandengan, tidak ada lagi yang merasa berjalan sendirian. Kekuatan bukan hanya berasal dari diri sendiri, melainkan juga dari orang-orang yang bersedia berdiri di samping kita.

Bukankah demikian pula kehidupan yang kita jalani? Tidak selamanya kita mampu menghadapi segala sesuatu seorang diri. Ada saatnya kita membutuhkan uluran tangan, dukungan, dan semangat dari orang lain. Ada masa ketika hati terasa lemah, keyakinan mulai goyah, dan langkah terasa berat. Pada saat seperti itulah kehadiran seseorang yang berkata, “Ayo, kamu pasti bisa. Kita berjuang bersama,” dapat menjadi sumber kekuatan yang tidak ternilai harganya.

Saya merasakan sendiri betapa berharganya dukungan semacam itu. Ketika seseorang memberikan semangat, kita merasa lebih berani. Ketika teman-teman tetap bertahan menggenggam tangan, tumbuh keyakinan bahwa kita tidak sendirian. Ketika ada yang mengingatkan untuk tidak menyerah, muncul kembali keinginan untuk mencoba. Terkadang, yang dibutuhkan seseorang bukanlah nasihat panjang atau bantuan yang mahal, melainkan kesediaan untuk menemani dan meyakinkan bahwa dirinya tetap berharga.

Genggaman tangan sore itu mengajarkan saya tentang arti kebersamaan yang sesungguhnya. Bergandengan tangan bukan sekadar menyatukan telapak dan jari, melainkan menyatukan hati dalam tujuan yang sama. Kami datang dengan latar belakang, pengalaman, kemampuan, dan cerita kehidupan yang berbeda-beda. Masing-masing membawa harapan untuk menjadi lebih sehat. Ada yang ingin tubuhnya lebih bugar, ada yang ingin mengatasi rasa takut terhadap air, dan ada pula yang ingin menjaga kesehatan agar tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih baik.

Meskipun tujuan kami mungkin tidak sepenuhnya sama. Kami dipertemukan oleh satu semangat: berjuang bersama. Tidak ada yang perlu merasa paling hebat. Tidak ada pula yang harus merasa rendah diri hanya karena belum mampu melakukan gerakan tertentu. Semua mendapatkan kesempatan untuk belajar, mencoba, dan memperbaiki diri. Di dalam kebersamaan itu, perbedaan seolah melebur. Tidak ada batas yang memisahkan kami. Kami merasa sama sebagai sesama manusia yang sedang berikhtiar menjaga amanah kesehatan dari Allah.

Saya teringat firman Allah dalam Al-Qur’an, Surah Al-Ma'idah ayat 2, yang mengajarkan agar kita saling menolong dalam kebajikan dan ketakwaan. Bagi saya, kebersamaan di kolam renang itu menjadi salah satu gambaran sederhana bagaimana semangat saling menolong dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Kami saling menguatkan, saling menyemangati, dan berusaha menciptakan suasana yang membuat setiap orang merasa diterima.

Tidak harus menunggu memiliki harta berlimpah untuk dapat berbuat baik. Tidak harus menjadi orang hebat untuk memberikan manfaat kepada sesama. Sebuah genggaman yang tidak dilepaskan, senyuman yang menenangkan, sapaan yang ramah, atau kalimat penyemangat yang tulus pun dapat menjadi kebaikan yang berarti. Barangkali bagi kita hal itu terlihat sederhana, tetapi bagi orang yang sedang berjuang, perhatian kecil tersebut bisa menjadi alasan untuk kembali melangkah.

Saya pun belajar bahwa sehat bukan hanya persoalan tubuh. Hati yang bahagia, pikiran yang lebih tenang, dan lingkungan pertemanan yang positif ikut memberikan warna dalam perjalanan menjaga kesehatan. Ketika berada di tengah teman-teman yang saling mendukung, beban terasa lebih ringan. Kegiatan yang awalnya mungkin melelahkan berubah menjadi pengalaman yang dinantikan. Rasa takut perlahan mendapatkan ruang untuk dikalahkan oleh keberanian. Keraguan sedikit demi sedikit digantikan oleh kemauan untuk mencoba.

Tentu saja, kebersamaan tidak serta-merta membuat semua kesulitan menghilang. Setiap orang tetap memiliki keterbatasan dan tantangannya sendiri. Namun, kebersamaan mengajarkan bahwa kesulitan tidak harus dihadapi dengan perasaan terasing. Kita bisa tetap berjuang sambil tertawa, belajar sambil saling mengingatkan, dan menerima kenyataan bahwa kemampuan setiap orang tidak selalu sama. Yang penting bukan siapa yang paling cepat berhasil, melainkan siapa yang tetap mau berusaha dan tidak berhenti menghargai proses.

Di bawah bimbingan Pak Gun, kami belajar mempertahankan genggaman. Saya memaknai pesan itu bukan hanya sebagai arahan dalam kegiatan sore tersebut, tetapi juga sebagai pengingat untuk kehidupan yang lebih luas. Dalam keluarga, genggaman berarti saling menjaga. Dalam persahabatan, genggaman berarti setia mendukung. Dalam lingkungan masyarakat, genggaman berarti tidak membiarkan seseorang merasa sendirian ketika menghadapi kesulitan. Dan dalam perjalanan menuju sehat, genggaman berarti saling memberikan semangat tanpa harus mengukur siapa yang lebih mampu.

Betapa indahnya jika semangat itu juga kita bawa pulang. Ketika kembali ke rumah, kita berusaha lebih sabar terhadap keluarga. Ketika bertemu tetangga, kita menyapa dengan ramah. Ketika melihat seseorang sedang kesulitan, kita berusaha membantu sesuai kemampuan. Ketika ada teman yang belum berhasil mencapai tujuannya, kita tidak menertawakan, tetapi memberikan dorongan agar ia tetap bersemangat. Sebab, kehidupan akan terasa lebih damai apabila setiap orang bersedia menjadi penguat bagi orang lain.

Air kolam akan kembali tenang, aktivitas akan berakhir, dan kami akan pulang ke rumah masing-masing. Namun, kebahagiaan yang saya rasakan tidak berhenti ketika langkah meninggalkan kolam renang. Ada pelajaran yang ingin saya simpan erat-erat di dalam hati: bahwa kesehatan patut diperjuangkan, persaudaraan patut dirawat, dan kebaikan sekecil apa pun layak disyukuri.

Saya bersyukur kepada Allah karena masih diberikan kesempatan untuk hadir, bergerak, belajar, dan bertemu dengan orang-orang yang menghadirkan semangat positif. Saya juga bersyukur karena di tengah perjuangan menjaga kesehatan, saya menemukan kebahagiaan yang tidak dapat dinilai dengan uang. Kebahagiaan itu hadir melalui kebersamaan, melalui genggaman tangan yang saling menguatkan, dan melalui perasaan bahwa kami semua memiliki tempat yang sama untuk belajar menjadi lebih baik.

Terima kasih, Pak Gun, atas bimbingan dan semangat yang diberikan. Terima kasih pula kepada seluruh teman seperjuangan yang telah menghadirkan suasana hangat, tanpa sekat dan tanpa membeda-bedakan. Semoga kebersamaan ini tidak hanya bertahan selama kami berada di kolam renang, tetapi juga tumbuh menjadi persaudaraan yang terus menguatkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, saya memahami bahwa perjalanan menuju sehat bukan semata-mata tentang kemampuan menguasai gerakan atau mencapai hasil tertentu. Perjalanan ini juga tentang belajar bersabar, menghargai diri sendiri, menerima perbedaan, dan mensyukuri setiap kemajuan sekecil apa pun. Kita mungkin tidak selalu mampu berjalan dengan kecepatan yang sama, tetapi kita tetap bisa berjalan berdampingan. Kita mungkin memiliki keterbatasan yang berbeda, tetapi kita tetap dapat saling menguatkan.

Genggam erat, jangan dilepas. Sebuah pesan sederhana yang sore itu terasa begitu bermakna. Semoga Allah senantiasa menjaga kesehatan kami, melapangkan hati kami, menguatkan langkah kami, dan menjadikan kebersamaan ini sebagai jalan untuk menebar kebaikan. Semoga setiap ikhtiar yang kami lakukan bernilai ibadah, setiap tawa menjadi penghibur hati, dan setiap genggaman menjadi pengingat bahwa kita tidak harus menjadi sempurna untuk dapat saling menguatkan.

Ketika tangan saling menggenggam dan hati saling menguatkan, perbedaan tidak lagi menjadi pemisah. Yang tersisa adalah persaudaraan, rasa syukur, dan harapan untuk terus berjuang bersama. Semoga Allah meridai ikhtiar kecil kami, karena sehat adalah nikmat yang patut dijaga, kebersamaan adalah anugerah yang patut disyukuri, dan saling menguatkan adalah kebaikan yang semoga mengantarkan kita pada keberkahan hidup. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Cepu, 24 Oktober 2926

Sabtu, 17 Oktober 2026

Gaya Ayam Sayur Tenggelam

Karya: Gutamining Saida
Rasa-rasanya, menunggu video sendiri diunggah ke grup itu lebih menegangkan daripada menunggu pengumuman hasil seleksi kelulusan. Dari kemarin, jempol saya sudah siap standby untuk tekan tombol download, tapi setiap kali notification bunyi "Ting!", yang muncul video milik ibu-ibu yang profesional  bagaikan lumba-lumba di laut lepas.

Mereka berenang dengan gaya dada, gaya bebas, yang begitu gemulai. Begitu air terciprat, rasanya seperti adegan di film-film Hollywood. Tak lupa, pelatih kebanggaan kami, Pak Gun, memberikan deretan emotikon jempol dan komentar di bawah videonya. Semuanya nampak sempurna, bagaikan deretan atlet siap tanding olimpiade.

Lalu, di manakah video milik saya? Jawabannya, masih tersimpan rapi mungkin sengaja dikarantina dalam di gallery HP Pak Gun agar saya tidak malu.

Dalam dunia media sosial ada sebuah hukum tak tertulis yang berlaku Foto dan Video yang indah, estetik, dan menawan akan dipajang.  Sedangkan video yang gayanya amburadul siap-siap disingkirkan.

Pak Gun mungkin mengalami pergulatan batin yang amat dahsyat sebelum mengunggah video saya. Bayangkan, dari total 12 peserta, 11 di antaranya sudah berhasil berenang dengan mulus. Tinggal satu ya, saya sendiri. Ha ha ha yang gaya renangnya masih sulit terdefinisi dalam kamus Bahasa Indonesia. Kalau gaya peserta lain adalah "Gaya Dada" atau "Gaya Bebas", gaya saya saat berada di dalam air mungkin lebih tepat dinamakan "Gaya Ayam Sayur Tenggelam". Air kolam yang tadinya tenang seketika berubah menjadi ombak laut selatan setiap kali saya mulai mengayuh tangan.

Padahal kalau dipikir-pikir, justru foto dan video yang "jelek" itulah yang paling berharga! Video yang ngelagepan karena kemasukan air kaporit, serta kayuhan tangan tanpa arah, adalah materi kilas balik yang sangat mahal harganya. Itu bukan sekadar rekaman visual, melainkan sebuah perjuangan! Dari sanalah kita bisa belajar, mengintrospeksi diri, dan tertawa bersama atas segala kesalahan yang perlu diperbaiki.

Tadi malam, begitu beberapa video dibagikan ke grup, ibu-ibu pasti tertawa. Saat menonton rekaman ingatan ibu-ibu langsung terbang kembali ke  kolam kemarin. Gelak tawa pun tak diragukan lagi. Saya sendiri yang melihatnya jangankan marah, malah tertawa! Saya sadar betul di mana letak kekurangannya. Tubuh saya di air mungkin terlihat seperti sedang bertarung melawan monster air tak kasat mata. Padahal saya cuma berusaha maju satu meter ke depan.

Di balik semua canda tawa, ada satu hal yang patut saya syukuri yaitu mental juara! Tidak semua orang berani tersenyum, atas kesalahannya sendiri di hadapan umum. Memiliki keberanian untuk tertawa di atas ketidaksempurnaan diri sendiri. 

Untuk Pak Gun Harap bersabar ya, Pak! Saya tidak akan menyerah. Semangat saya tidak akan pernah surut. Saya akan tetap giat berlatih, mengayuh tangan, dan menendang air demi satu tujuan mulia Mendapatkan bonus renang! Mari kita terus tertawa, belajar dari kesalahan, dan bersiap ke  kolam renang lagi! Semangat terus Pak Gun, saya siap beraksi kembali!
Cepu, 18 Oktober 2026 

Jumat, 16 Oktober 2026

Tak Sesuai Impian


Karya: Gutamining Saida

Gelisah melingkupi dada, sebuah rasa yang datang di luar perkiraan saya. Sebelum menyentuh dinginnya air di kolam, saya sempat mengukur batas diri dan membayangkan mampu menuntaskan setidaknya setengah dari jarak perjalanan yang ditentukan oleh Pak Gun. Ada bisikan harapan yang membumbung, sebuah kerinduan hati untuk bisa meluncur sejajar dan selincah teman-teman lain yang sudah mahir menaklukkan kedalaman.

Namun, realita kerap mengajarkan ketundukan. Teman-teman yang sudah mahir meluncur bebas tanpa perlu pendampingan. Pak Gun cukup mengawasi dari kejauhan. Sementara saya, sebagai peserta terakhir yang mengarungi lintasan, mendapatkan perhatian khusus. Pak Gun yang sangat paham akan batas kemampuan saya merasa khawatir. Beliau tidak sekadar berdiri di tepi, melainkan rela menunggu dan bereaksi langsung di dalam kolam.

Ternyata kekhawatiran beliau terbukti. Dari kejauhan, gerakan saya benar-benar amburadul dan tak beraturan. Karena jernihnya air kolam sore itu, setiap kepakan tangan dan kayuhan kaki saya terlihat sangat jelas dari permukaan. Teman-teman yang melihat dari tepi kolam pun tak sanggup menahan tawa. Riuh gelak tawa pecah menyelimuti suasana sebuah hal yang sangat biasa dan lumrah terjadi di tengah keakraban kami di kolam renang. Uniknya, alih-alih merasa berkecil hati, saya yang menjadi pusat perhatian dan objek tertawaan justru ikut tertawa lepas bersama mereka. Suasana canggung seketika mencair menjadi kehangatan. 

Di tengah perjuangan itu, saya terengah-engah menahan napas hingga tak sengaja menelan air kolam beberapa kali tegukan. Di saat rasa lelah dan tenggorokan yang basah oleh air kolam itu menyapa, spontan saya teringat pada sebuah ucapan yang pernah disampaikan oleh seorang teman: "Kalau sudah merasakan minum air kolam, itu tandanya sebentar lagi bakal bisa berenang!"

Seketika, kalimat sederhana itu terngiang-ngiang indah di telinga dan membuncahkan rasa senang yang luar biasa di dalam dada. Tertelan air kolam bukan lagi sebuah kegagalan, melainkan "syarat" atau tradisi kecil menuju keberhasilan.

Allah Azza wa Jalla mungkin belum mengizinkan jemari, tungkai kaki, dan irama napas saya menyatu sempurna. Yang Maha Kuasa memberi saya hal lain yang tak kalah berharga. Kepedulian seorang pelatih, kehangatan tawa bersama teman-teman, dan semangat yang tak pernah padam. Tantangan dari Pak Gun bukan lagi beban, melainkan proses belajar yang menyenangkan. Dengan rasa senang yang membayang, saya yakin tiap kayuhan basah dan setiap teguk air kolam sore itu adalah bagian dari langkah kecil menuju kemampuan yang saya impikan. Terimakasih Pak Gun dan teman-teman semua.

Cepu, 16 Oktober 2026

Pertemuan Di Gerbang Sekolah

Karya: Gutamining Saida

Waktu menunjukkan sekitar pukul 10.24 WIB sebuah denting pesan WhatsApp masuk ke ponsel saya. Di tengah riuhnya riak ilmu dan antusiasme para siswa kelas 8B, saya belum sempat menyentuh layar kaca tersebut. Seluruh fokus, jiwa, dan ragam pengabdian saya padukan untuk menuntun anak-anak bangsa. Menjalankan amanah, dan menghadirkan hati secara utuh di dalam kelas sebagai bentuk ketakwaan yang berusaha saya jaga.

Setelah bel tanda berahirnya jam pelajaran berbunyi dan suasana kelas kembali tenang, barulah saya menyempatkan diri membuka gawai. Di layar tertera sebuah pesan dari salah satu orang tua siswa

"Assalamu'alaikum, nanti jam 11.00 saya minta ijin bertemu boleh apa tidak?"

Membaca salam tersebut, hati saya berdesir hangat. Salam adalah doa, dan setiap doa yang terucap di antara sesama muslim adalah simpul kebaikan. Tanpa ragu, saya pun segera mengetikkan balasan dengan penuh keikhlasan:

"Wa'alaikumsalam, silakan. Dengan senang hati. Saya tunggu di mana?"

Tak butuh waktu lama, balasan berikutnya datang dengan singkat namun sarat akan kesungguhan:

"Di sekolah saja Bu." jawabnya.

          "Saya tunggu."

         "Saya sudah di gerbang."

Subhanallah. Tanpa saya sadari, tatanan Allah Subhanahu Wata'alla sungguh teramat rapi. Ibu tersebut telah menunggu dengan sabar di gerbang sekolah, menantikan momen kecil ini untuk bersilaturahmi. Saya pun bergegas melangkahkan kaki menuju pintu gerbang, toleh kanan, kiri tertuju tamu yang dihadirkan Sang Maha Mengatur Takdir.

Saya menyambut beliau dengan senyuman terbaik dan sapaan yang hangat. Untuk menciptakan suasana yang nyaman, saya mengajak beliau duduk santai dan berbincang-bincang. Beliau langsung menyapa saya dengan nada suara yang begitu ramah dan penuh keakraban.

"Saya pernah bertemu dengan bu Saida di Kedungtuban Satu," ujar beliau membuka percakapan.

Rasa ingin tahu tumbuh di dalam dada. Saya tersenyum sembari bertanya, "Lho, acara apa Bu?"

"Anak saya dulu sekolah di sana," jawab beliau menjelaskan asal usul kebersamaan kami di masa lalu.

"Ohh, nama siapa Bu?" rasa penasaran saya kian terpanggil untuk mengingat kembali jejak-jejak pengabdian masa lalu.

"Fattah," jawabnya singkat.

Ingatan saya melesat ke masa lalu. Nama Fattah seolah membukakan kembali lembaran kenangan di ruang kelas Kedungtuban satu. Masya Allah, Alhamdulillah! Memori tentang anak bernama Fattah langsung terbayang jelas. Dalam ingatan saya, Fattah adalah sosok anak yang cerdas, santun, dan senantiasa bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Setiap kali mata pelajaran yang saya ampu berlangsung, Fattah kerap meraih nilai yang sangat memuaskan di antara teman-temannya. Sungguh, anak yang giat belajar selalu meninggalkan jejak indah di hati seorang guru.

Percakapan kami berlanjut dengan hangat. Tiba-tiba, beliau menambahkan sebuah fakta yang membuat hati saya kian tersentuh dan terharu. Beliau berkata dengan lembut.

"Saya pernah beli buku karya Bu Saida."

Alhamdulillah wa syukrulillah... Kalimat tasyakur itu bergema halus di dalam dada saya. Sungguh, bumi Allah ini begitu luas, jika Allah berkehendak mempertemukan dua jiwa yang pernah terikat dalam kebaikan, maka jarak dan waktu bukanlah halangan. Siapa yang menyangka bahwa karya sederhana berupa buku yang pernah saya tulis dapat sampai ke tangan beliau, dan ilmu yang sempat saya bagikan kepada putranya menjadi jembatan silaturahmi yang tak terputus?

Dengan rasa haru yang membuncah, saya menatap wajah seorang ibu dan menyampaikan rasa syukur yang mendalam:

"Alhamdulillah, ternyata kita sudah pernah bertemu dan hari ini dipertemukan kembali," jawab saya penuh rasa syukur. "Saya sangat bersyukur dipertemukan dengan orang-orang baik seperti Ibu."

Pertemuan singkat di sudut sekolah itu rasanya bukan sekadar kebetulan biasa. Allah Azza wa Jalla yang menggerakkan hati ibu tersebut untuk berkunjung, Allah pula yang mengatur  hingga kami bisa duduk bersama menyambung tali silaturahmi.

Rasulullah bersabda bahwa silaturahmi dapat melapangkan rezeki dan memanjangkan umur . Pertemuan Jum'at siang menjadi cermin bagi saya tentang betapa indahnya menanam benih kebaikan. Ketika seorang guru mengajar dengan hati dan melahirkan karya berupa buku dengan niat lillahi ta'ala, kebaikan itu akan berputar dan kembali dalam bentuk kasih sayang serta ikatan ukhuwah yang tulus dari masyarakat.

Pertemuan di gerbang sekolah berakhir dengan rasa bahagia dan kedamaian yang membuncah. Saya memohon kepada Allah Subhanahu Wata'alla senantiasa menjaga hubungan baik ini, melimpahkan keberkahan kepada kita. Serta menjadikan setiap langkah kaki kita sebagai ladang pahala jariyah yang tak pernah terputus hingga yaumil akhir. Amin ya Rabbal 'Alamin.

Cepu, 16 Oktober 2026

Kamis, 15 Oktober 2026

Coba Lagi Dan Lagi


Karya: Gutamining Saida

Di tengah suasana hangat sesi terapi fisik yang didampingi oleh Pak Gun, sebuah kejutan kecil menghidupkan suasana. Pak Gun menyebar beberapa keping uang koin ke dasar kolam di berbagai sudut. Sebelum instruksi dimulai, seorang anak laki-laki kecil yang mengamati dari jauh tiba-tiba menyelam, mengambil salah satu koin, lalu berlari mendekati Pak Gun sambil berkata polos: "Pak... nih saya nemu koin!" Senyum dan tawa hangat menyelimuti para peserta terapi.

Tantangan sebenarnya baru akan saja dimulai. Pak Gun memberi instruksi agar para ibu mengambil koin-koin tersebut dengan posisi tubuh yang tidak biasa. Posisi tangan menumpu di dasar kolam sebagai pengganti kaki, sementara kedua kaki terangkat lurus menembus permukaan air.

Prosesnya tentu tidak mudah. Perjuangan, gelak tawa, dan rasa putus asa bercampur menjadi satu.Para peserta bergantian mengatur posisi tubuh di dalam air.

Bu Rini sempat mengeluh, "Sulit, Pak..."

Pak Gun dengan sabar terus memberikan dorongan: "Dicoba dan dicoba, Bu. Tidak cukup sekali untuk sukses. Tuh, kaki sudah nampak satu!"

Meskipun belum sempurna dan baru satu kaki yang berhasil terangkat, Pak Gun memberi apresiasi dan semangat untuk mencobanya lagi besok hingga kedua kaki bisa berdiri lurus sempurna ke atas air.

Di akhir latihan, Pak Gun menyampaikan sebuah kalimat kunci yang menjadi refleksi bersama:

"Ibu-ibu, bila tidak di dalam air, kita tidak akan mampu mengangkat kaki seperti tadi. Bila di dalam air, terasa ringan."

Kisah sederhana di atas menyimpan analogi yang sangat kuat bagi kehidupan kita sehari-hari. Ada empat pelajaran berharga yang dapat kita petik:

1. Lingkungan yang Tepat Mengubah "Yang Mustahil" Menjadi "Mungkin"

Sama halnya dengan hukum fisika (gaya apung air) yang membuat tubuh terasa lebih ringan dan mampu melakukan gerakan handstand yang sulit dilakukan di darat, lingkungan hidup kita juga memegang peranan vital.

Sering kali kita merasa gagal atau tidak mampu melakukan sesuatu bukan karena kita kurang berbakat, melainkan karena kita berada di "lingkungan yang salah." Ketika Anda berada di dalam ekosistem yang mendukung (yang baik, komunitas yang positif, serta pembimbing yang sabar seperti Pak Gun), beban berat yang tadinya tampak mustahil untuk diangkat akan terasa jauh lebih ringan. Cari dan ciptakanlah "kolam" lingkungan tempat potensi terbaik kita bisa mengapung dan berkembang.

2. Proses Sukses Membutuhkan "Coba dan Coba Lagi"

Saat Bu Rini mengeluhkan betapa sulitnya menjaga keseimbangan dan mengangkat kaki ke atas air, respons Pak Gun sangat tegas namun menyejukkan: "Tidak cukup sekali sukses."

Di dunia nyata, tidak ada keberhasilan instant. Keberhasilan adalah akumulasi dari percobaan demi percobaan yang tak kenal menyerah. Ketika kita mencoba hari ini dan baru satu langkah (satu kaki) yang kelihatan, jangan berkecil hati. Itu adalah bukti kita sedang berproses. Sukses bukanlah tentang langsung sempurna di percobaan pertama, melainkan tentang keberanian untuk datang kembali besok pagi dan mencobanya lagi sampai kedua kaki berdiri lurus tegak.

3. Kepolosan dan Keberanian Seorang Anak Kecil

Aksi anak kecil yang tiba-tiba mengambil koin memberikan sudut pandang menarik. Anak-anak bertindak dengan rasa ingin tahu, tanpa beban ketakutan akan kegagalan atau penilaian orang lain.

Dalam mengejar impian atau keluar dari masa-masa pemulihan dan kesulitan, sering kali kita terlalu banyak berpikir dan ragu-ragu. Kadang, kita perlu kembali memiliki keberanian seperti anak kecil itu: melihat peluang (koin), bergerak menyambutnya, dan menikmatinya tanpa terlalu banyak memikirkan hambatan.

4. Hargai Setiap Kemajuan Kecil

Pak Gun tidak menuntut para ibu untuk langsung bisa berdiri sempurna di atas air pada hari itu juga. Begitu satu kaki berhasil menyembul ke permukaan, beliau langsung memberikan pujian.

Dalam perjalanan hidup atau proses pemulihan fisik maupun mental, hargailah setiap pencapaian sekecil apa pun. Jangan fokus pada apa yang belum bisa kita lakukan, tetapi syukuri kemajuan kecil yang sudah berhasil kita capai hari ini. Satu kaki yang terangkat hari ini adalah jaminan  kaki kedua akan menyusul esok hari.

Jika hari ini kita sedang merasa beban hidup terlalu berat untuk dipikul, ingatlah pesan dari kolam. Mungkin saat ini hanya butuh merubah sudut pandang, mencari lingkungan pendukung yang tepat, dan memberi waktu bagi diri sendiri untuk terus mencoba.

Teruslah melangkah, teruslah berlatih, dan percaya di dalam "kolam kehidupan" yang tepat, semua beban berat akan terasa ringan untuk ditaklukkan.

Cepu, 15 Oktober 2026

Rabu, 14 Oktober 2026

Ko-pi



Karya: Gutamining Saida

Sebuah pesan sederhana dari pak Gun mampu mengajak kita berhenti sejenak. Kita merenung, lalu menemukan makna kehidupan yang mungkin terlewatkan. Tidak harus melalui ceramah panjang, nasihat yang berlembar-lembar, atau kata-kata bijak dari seorang ahli. Adakalanya, sebuah gambar sederhana yang dibagikan di grup WhatsApp  mampu mengetuk hati. 

Kala membuka grup Muda Swimming Squad2, pandangan saya tertuju pada sebuah gambar sebathok kopi yang diposting oleh Pak Gun. Di bawah gambar tersebut terdapat keterangan singkat yang membuat saya tersenyum sekaligus berpikir.

“Kopi punya makna sendiri”

"Bathok dari tempurung kelapa."tulis bu Rini.

"KO PIKIRAN" imbuh pak Gun.

"O" komentar bu Rini singkat. menunjukkan rasa paham luar biasa.

Permainan kata yang sederhana, tetapi mengandung pesan yang dalam. Saya membacanya berulang kali. Dalam hati, saya membenarkan makna yang tersirat di balik tulisan tersebut. Betapa banyak persoalan kehidupan yang berawal dari pikiran. Pikiran yang semula sederhana bisa berkembang menjadi beban ketika terlalu banyak dipikirkan, dikhawatirkan, bahkan ditakutkan sebelum sesuatu benar-benar terjadi.

Sebathok kopi yang tampak biasa saja seolah mengajak saya menyelami sesuatu yang luar biasa. Bagaimana manusia memperlakukan pikirannya sendiri?

Manusia dianugerahi akal untuk berpikir, menimbang, belajar, dan mengambil keputusan. Dengan pikiran, kita mampu merencanakan masa depan, menyelesaikan persoalan, serta membedakan mana yang baik dan mana yang perlu dihindari. Namun, pikiran juga bisa menjadi sumber kegelisahan apabila tidak dikelola dengan baik.

Ada orang yang belum menghadapi masalah, tetapi pikirannya sudah dipenuhi berbagai kemungkinan buruk. Belum tentu sesuatu terjadi, tetapi hatinya telah diliputi kecemasan. Belum tentu orang lain bermaksud menyakiti, tetapi pikirannya telanjur menafsirkan perkataan dan sikap orang lain sebagai sesuatu yang menyakitkan.

Akhirnya, tubuh ikut merasakan akibatnya. Tidur menjadi tidak nyenyak, kepala terasa berat, bahu dan leher menegang, bahkan selera makan dapat berubah. Stres berkepanjangan juga bisa memperburuk berbagai keluhan kesehatan.

Saya pun merenung. Selama ini kita terlalu sibuk memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi, sampai lupa menikmati nikmat yang sudah ada di depan mata. Kita memikirkan hari esok, tetapi lupa mensyukuri hari ini. Kita menyesali masa lalu, tetapi lupa bahwa waktu tidak pernah berjalan mundur. Kita sibuk membandingkan kehidupan dengan orang lain, padahal setiap manusia memiliki perjalanan, ujian, dan takdirnya masing-masing.

Bukankah melelahkan apabila pikiran terus bekerja tanpa memberikan kesempatan kepada hati untuk beristirahat?

Saya kemudian membayangkan batok kelapa yang digunakan sebagai wadah kopi. Bentuknya sederhana, permukaannya keras, dan di dalamnya dapat dituangkan minuman yang menghangatkan tubuh. Bathok mengingatkan pada bagian dahi manusia, tempat garis-garis kerutan terkadang tampak ketika seseorang sedang memikirkan banyak persoalan.

Dahi yang semula tampak santai bisa berubah berkerut ketika seseorang sedang menghadapi masalah. Alis bertaut, pandangan menerawang, bibir terkatup rapat. Seolah-olah seluruh beban kehidupan sedang berkumpul di kepala.

Gambaran menjadi perumpamaan yang menarik bagi saya. Betapa mudahnya pikiran yang kusut tercermin dalam ekspresi wajah dan sikap tubuh kita. Pernahkah kita melihat seseorang yang duduk diam, tetapi pikirannya seperti sedang berlari ke berbagai arah? Tubuhnya berada di satu tempat, sementara pikirannya mengembara ke masa lalu, masa depan, persoalan keluarga, pekerjaan, kesehatan, dan berbagai urusan lainnya.

Pikiran memang penting, tetapi tidak semua hal harus dipikirkan secara berlebihan. Ada masalah yang perlu diselesaikan dengan tindakan. Ada persoalan yang perlu dibicarakan baik-baik. Ada pula hal-hal yang harus diterima karena berada di luar kemampuan manusia.

Kita perlu belajar membedakan antara berusaha dan mencemaskan, antara merencanakan dan mengkhawatirkan, serta antara berpikir untuk menemukan jalan keluar dan berpikir tanpa ujung yang justru menguras tenaga.

Kesehatan merupakan nikmat yang sangat berharga. Ketika tubuh terasa sehat, kita sering menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa. Kita bisa berjalan, bekerja, tertawa, bertemu keluarga, menjalankan ibadah, dan melakukan berbagai kegiatan tanpa banyak memikirkan betapa berharganya kemampuan tersebut.

Ketika kesehatan mulai terganggu, barulah kita menyadari bahwa tubuh memiliki keterbatasan. Saya berusaha menjaga kesehatan melalui berbagai ikhtiar, termasuk terapi di kolam renang. Saya belajar bahwa menjaga kesehatan bukan hanya persoalan gerakan tubuh, tetapi juga melatih keberanian, kesabaran, dan ketenangan pikiran.

Ada gerakan yang belum berhasil saya kuasai. Ada rasa takut yang sesekali muncul. Ada saat ketika saya melihat orang lain lebih cepat mengalami kemajuan, sementara saya masih harus berlatih mengulang gerakan yang sama.

Jika pikiran dibiarkan membandingkan diri secara terus-menerus, tentu hati mudah merasa kecil. Akan tetapi, saya berusaha mengingat bahwa setiap orang memiliki kemampuan dan proses belajar yang berbeda. Tugas saya bukan mengalahkan pencapaian orang lain, melainkan memperbaiki diri sesuai kemampuan.

Dari pengalaman, saya semakin memahami pentingnya menjaga pikiran agar tetap sehat. Ketika hati lebih tenang, kita bisa menjalani proses dengan lebih sabar. Ketika kita mampu menerima keterbatasan, kita tidak mudah menyalahkan diri sendiri.

Namun, tidak semua penyakit berasal dari pikiran. Penyakit dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti infeksi, keturunan, lingkungan, pola hidup, dan kondisi tubuh. Pikiran yang tertekan dapat memengaruhi kesehatan, tetapi orang yang sakit bukan berarti kurang bersyukur atau kurang mampu mengendalikan pikirannya.

Ikhtiar sehat tidak hanya berarti menggerakkan tubuh, tetapi juga belajar menerima diri sendiri, mengurangi beban yang tidak perlu, dan menumbuhkan rasa syukur dalam setiap keadaan. Kita berusaha, berdoa, dan bertawakal. Kita boleh memiliki rencana, cita-cita, dan harapan. Tetapi, kita perlu menyadari tidak semua yang kita inginkan akan terjadi sesuai kehendak kita.

Ada pintu yang terbuka setelah perjuangan panjang. Ada pula pintu yang tetap tertutup meskipun kita sudah berusaha sekuat tenaga. Ada doa yang terasa segera terjawab, dan ada doa yang jawabannya belum kita pahami.

Pikiran sering kali menjadi tempat berkumpulnya pertanyaan. Mengapa harus saya? Mengapa tidak sesuai harapan? Mengapa orang lain terlihat lebih mudah menjalani kehidupan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut manusiawi. Kita jangan sampai terus-menerus terperangkap di dalamnya hingga lupa bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang tidak kita ketahui.

Ayat ini menjadi pengingat bagi saya untuk kembali mendekat kepada-Nya ketika pikiran mulai terasa penuh. Bukan berarti setiap persoalan akan langsung hilang setelah berzikir, melainkan zikir membantu saya mengingat bahwa saya tidak menghadapi kehidupan seorang diri. Allah tempat memohon pertolongan, ada doa yang dapat dipanjatkan, dan ada ikhtiar yang tetap harus dijalankan.

Ketika pikiran mulai ruwet, kita belajar berhenti sejenak. Mengambil napas dengan tenang, beristigfar, membaca doa, dan menata kembali persoalan satu demi satu.

Mana yang bisa saya selesaikan hari ini? Mana yang perlu saya bicarakan dengan orang lain? Mana yang harus saya tunggu? Mana yang memang perlu saya serahkan kepada Allah setelah berusaha semampu saya?

Tidak semua persoalan membutuhkan jawaban saat itu juga. Terkadang, yang kita perlukan adalah hati yang lebih tenang agar mampu melihat persoalan dengan jernih.

Kini saya memandang gambar sebathok kopi dari sudut yang berbeda. Bagi sebagian orang, mungkin sekadar gambar kopi dengan permainan kata yang mengundang senyum. Ada pesan kehidupan yang bisa dibawa pulang.

Grup Muda Swimming Squad2 bukan sekadar tempat berbagi informasi tentang jadwal berenang. Di dalamnya ada cerita tentang proses belajar, keberanian mencoba, kegagalan yang mengundang tawa, dan semangat untuk terus berusaha menjaga kesehatan.

Kehadiran Pak Gun dengan pesan sederhana menjadi salah satu warna dalam kebersamaan. Terkadang sebuah arahan disampaikan melalui gerakan di kolam. Terkadang melalui candaan. Kali ini, melalui gambar sebathok kopi.

Mungkin inilah salah satu cara Allah menghadirkan pelajaran dalam kehidupan. Melalui orang-orang di sekitar kita, melalui pengalaman sehari-hari, bahkan melalui sesuatu yang terlihat sepele. Kita hanya perlu belajar peka dan tidak tergesa-gesa melewatkannya.

Saya belajar menikmati kehidupan dengan lebih sederhana. Jika ada masalah, saya berusaha mencari jalan keluar. Jika ada kekurangan, saya belajar memperbaiki diri. Jika ada sesuatu yang belum mampu saya lakukan, saya tidak ingin langsung menyerah. Jika ada hal yang berada di luar kendali, saya belajar menerima sambil terus berdoa.

Saya ingin mengurangi kebiasaan memikirkan sesuatu secara berlebihan. Bukan karena semua persoalan tidak penting, melainkan karena tenaga, waktu, dan ketenangan hati juga perlu dijaga. Hidup terlalu berharga jika hanya dihabiskan untuk mencemaskan hal-hal yang belum tentu terjadi.

Menjaga kesehatan juga berarti belajar mengelola stres, memberikan ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat, memelihara hubungan baik dengan sesama, dan mendekatkan hati kepada Allah. Saya tidak ingin menjadikan pikiran sebagai musuh. Pikiran tetap diperlukan untuk belajar, merencanakan, dan mencari solusi.Saya juga tidak ingin membiarkannya menguasai seluruh ruang kehidupan hingga kebahagiaan hari ini hilang karena kekhawatiran tentang hari esok.

Kita cukup menjalani hari ini dengan ikhtiar terbaik, menjaga amanah tubuh yang Allah titipkan, dan mensyukuri nikmat yang masih dapat dirasakan.

Kopi boleh pahit, tetapi jangan biarkan pikiran membuat kehidupan terasa lebih pahit.

Masalah boleh datang, tetapi jangan sampai kita kehilangan rasa syukur.

Tubuh boleh menua, tenaga boleh terbatas, tetapi semangat untuk berikhtiar. 

Semoga Allah Subhanahu Wata' alla senantiasa memberikan kesehatan, ketenangan hati, kejernihan pikiran, dan kekuatan untuk menjalani setiap ujian kehidupan. Semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mampu bersabar ketika diuji, bersyukur ketika diberi nikmat, dan bertawakal setelah berusaha. Aamiin ya Rabbal 'alamin. Terimakasih pak Gun.

Cepu, 15 Oktober 2026

Bersahabat Dengan Air


Karya: Gutamining Saida

Air adalah sumber kehidupan manusia yang paling tulus. Sejak awal mula keberadaan manusia, air telah menjadi penopang utama yang mengalir tenang di dalam tubuh kita. Secara biologis, mayoritas wujud manusia terdiri dari cairan sebuah bukti tak terbantahkan. Namun, tidak jarang rasa cemas dan ketakutan hadir menyingkirkan keakraban kita. Gelombang air yang tampak asing, kedalaman air kolam  sering kali menumbuhkan benih rasa takut. Sudah saatnya kita membuang jauh-jauh keraguan dan merangkul kembali air sebagai sahabat sejati.

Dalam bentang kehidupan, air sebagai penggerak roda dunia. Tanpa air, tanah-tanah pertanian akan meranggas dan mengering, mematikan sistem irigasi yang menghidupi jutaan jiwa. Sektor industri pun membutuhkan air sebagai pelengkap yang melancarkan proses produksi dan kreativitas manusia. Dari kebutuhan yang paling sederhana seperti membasuh wajah di pagi hari, menyeduh minuman hangat, hingga menyegarkan raga setelah lelah beraktivitas. Air selalu setia mendampingi setiap langkah kita.

Air tidak pernah meminta balasan. Dia hanya mengalir, menyesuaikan diri dengan wadahnya, dan memberikan kesegaran bagi siapa saja yang bersedia mendekatnya. Ketika kita menyadari betapa besarnya peran air dalam kehidupan sehari-hari, rasa takut perlahan akan lumer, berganti menjadi rasa syukur dan kehangatan persahabatan.

Salah satu jalan paling indah dan menyenangkan untuk menjalin kembali hubungan baik dengan air adalah melalui aktivitas di kolam renang. Di arena beratap langit atau bersuasana tenang, air menyambut siapa saja tanpa membedakan usia. Baik anak-anak yang penuh keceriaan, dewasa yang mencari kebugaran, hingga para ibu-ibu yang ingin menjaga kesehatan sendi dan otot, kolam renang menjadi ruang ramah yang senantiasa terbuka lebar.

Saat melangkah masuk ke dalam air kolam yang bening, sentuhan pertamanya memberikan sensasi dingin yang menyegarkan sekaligus menenangkan. Berat badan yang selama ini menumpu pada sendi dan tulang mendadak terasa ringan karena gaya apung air. Di dalam air, tubuh seolah dibebaskan dari gravitasi yang melelahkan. Rasa takut yang dulu membelenggu perlahan menguap saat kita belajar mempercayai sifat alami air yang menopang.

Aktivitas berenang atau sekadar berolahraga air mengajarkan kita arti penting kelenturan badan. Saat meluncur tenang di atas permukaan air, membiarkan tubuh mengambang dengan pasrah, kita sedang melakukan dialog sunyi dengan air. Setiap kayuhan tangan dan ayunan kaki bukan lagi bentuk perlawanan terhadap arus.  

Bersahabat dengan air di kolam renang memberikan kebaikan luar biasa bagi kesehatan fisik. Berolahraga di air merupakan bentuk latihan low-impact yang sangat aman bagi persendian, jantung, dan paru-paru.

  • Menjaga Kesehatan Jantung dan Paru-Paru: Gerakan yang teratur saat berenang melatih ritme pernapasan menjadi lebih dalam dan teratur, memperkuat otot jantung, serta melancarkan sirkulasi darah ke seluruh tubuh.

  • Meningkatkan Kelenturan dan Kekuatan Otot: Daya tahan alami air memberikan resistensi yang lembut namun efektif untuk melatih seluruh kelompok otot tubuh tanpa risiko cedera yang tinggi.

  • Meringankan Beban Persendian: Bagi kaum kita maupun siapa saja yang sering merasakan pegal di area lutut dan punggung, air menjadi pelindung terbaik karena mengurangi tekanan langsung pada persendian.

Setiap tetes air yang membasahi kulit bekerja bagai pijatan lembut yang mengurai ketegangan otot-otot yang kaku setelah seharian beraktivitas.

Di balik manfaat fisik yang nyata, ada keajaiban lain yang ditawarkan oleh persahabatan dengan air: tumbuhnya rasa bahagia yang melimpah. Ketika tubuh bergerak aktif di dalam air, otak secara alami melepaskan hormon endorfin—senyawa kimia pemantik rasa senang dan damai.

Suara gemericik air yang jernih, irama kepakan air yang konstan, serta sensasi mengapung yang bebas menghadirkan efek yang luar biasa. Beban pikiran, keletihan mental, serta kepatan rutinitas seolah luruh dan larut bersama arus air. Ada perasaan lega yang membuncah saat kita berhasil melintasi kolam, menguasai teknik meluncur dengan tenang, atau sekadar menikmati momen mengambang sambil menatap langit.

Kebahagiaan ini juga makin terasa hangat ketika bersama orang-orang tercinta. Gelak tawa ibu-ibu yang bermain air, kebersamaan berlatih, hingga senyum puas setelah menyelesaikan beberapa putaran renang, semuanya merajai suasana di sekitar kolam. Air mempertemukan manusia dalam semangat kebersamaan yang penuh keceriaan.

Menjadikan air sebagai sahabat adalah pilihan hidup yang memulihkan. Kita tidak perlu lagi memandang air dengan rasa cemas atau ragu. Sebaliknya, pandanglah air sebagai kawan lama yang selalu siap menyegarkan raga, menenangkan jiwa, dan mengembalikan senyum gembira di wajah kita.

Mari melangkah menuju kolam renang dengan hati yang terbuka. Biarkan air merengkuh tubuh kita, menyerap rasa lelah, dan menggantinya dengan kebugaran serta kebahagiaan yang sejati. Sebab saat manusia bersahabat ramah dengan air, kehidupan akan terasa jauh lebih ringan, segar, dan berwarna.

Cepu, 15 Oktober 2026

Selasa, 13 Oktober 2026

Trio Paus Yang Jatuh


Karya: Gutamining Saida

Hari Jumat sore, langit mendung tipis mengiringi langkah saya menuju Bumool. Niat awal sungguh mulia yaitu ikhtiar sehat. Membakar kalori, melenturkan otot-otot yang kaku, dan menghirup udara segar tepi kolam. Namun, kita semua tahu bahwa rencana ikhtiar sehat ibu-ibu di kolam renang sering kali berbelok menjadi ikhtiar bahagia lewat gelak tawa.

Sesampainya di sana, saya bertemu dengan bu Lis, bu Nanik, bu Atik dan masih banyak lagi. Lengkaplah formasi Trio Bumool sore itu. Sayangnya, Sang Pelatih tercinta sedang absen ada kepentingan ke luar kota. Apakah absennya sang pelatih membuat semangat kami kendor? Tentu tidak! Justru tanpa pengawasan Sang Pelatih, jiwa-jiwa "eksperimen" kami makin membara.

Bu Lis membuka percakapan dengan nada penuh ambisi, "Bu, ayo kita ulang teori meluncur yang diajarkan pak Gun kemarin. Mumpung sepi, kita praktikkan!"

Kami bertiga bu Lis, bu Nanik dan saya pun berdiri berjejer di bibir kolam. Pandangan lurus ke depan, dada dibusungkan, tangan diluruskan ke atas setidaknya begitulah bayangan kami di dalam pikiran. Di benak masing-masing, kami membayangkan akan meluncur sehalus lumba-lumba, tanpa kecipak air yang berarti, dan membelah air dengan keanggunan tingkat tinggi.

"Satu... dua... tiga... !"

BYURRRRRR!

Bukan suara "cemplung" halus yang terdengar, melainkan ledakan air skala besar! Suara deburan airnya begitu dahsyat, sampai-sampai kami curiga tetangga yang rumahnya di sebelah Bumool langsung keluar membawa gayung, mengira ada banjir lokal mendadak. Air kolam meluap ke tepi, muncrat ke mana-mana, sampai-sampai rasanya kedalaman kolam Bumool berkurang beberapa sentimeter dalam sekejap.

Di dalam air, kami saling pandang dan agak melenceng saat meluncu bersamaan. Kemudian kami ubah satu-satu atau bergantian Sesuai latihan, yang sudah selesai meluncur bertugas menjadi "pengamat" di dalam air untuk melihat bagian tubuh mana yang menyentuh air terlebih dahulu. Kami bergiliran mencoba.

Bu Lis pertama meluncur... BYUR!

Bu Nanik kedua meluncur... BYURRR!

Lalu giliran saya meluncur... BYUUURRR-BLEK!

Di sinilah hasil dari pengamat bawah air. Ternyata, saudara-saudara... yang mendarat duluan ke permukaan air bukanlah ujung jari tangan kita, bukan pula kepala yang menunduk rapi. Melainkan... PERUUUUT!

Ya, bagian perut dengan indahnya menghempas permukaan air terlebih dahulu dengan posisi horizontal sempurna! Gaya meluncur melingkar yang kami impikan berubah menjadi gaya penyet di atas air. Bu Lis yang baru menyulut kepala keluar dari air langsung terbatuk-batuk bukan karena kemasukan air, tapi karena menahan tawa yang meledak. Dengan wajah merah padam dan napas terengah-engah, Bu Lis berteriak dari ujung kolam:

"Bu... Buuu! Ya Allah, kok rasanya tadi kayak ada paus raksasa jatuh dari langit ya?!"

Pecahlah tawa kami bertiga di tengah kolam. Suara tawa kami bersahut-sahutan, menggema di seluruh area Bumool. Anehnya, inilah ajaibnya suasana di kolam renang bersama kawan-kawan,

  • Kalau gerakan kita benar... kita tertawa bahagia karena bangga.

  • Kalau gerakan kita salah... kita tertawa makin keras karena lucu.

  • Dan kalau kita ditertawakan... kita malah makin tertawa terbahak-bahak!

Pokoknya sore itu sebagai ajang terapi tawa nasional. Kalori mungkin terbakar sedikit dari berenang, tapi otot perut kami dijamin kencang karena kebanyakan tertawa!

Malam harinya, dengan kepolosan tanpa dosa, saya mengunggah satu cerita pendek grup Muda Swimming Squad2 tentang ikhtiar sore itu. Tidak berselang lama, Bu Lis langsung menyambar di kolom komentar dengan emoji tertawa sampai keluar air mata.

"Bu Ida, tolong jangan cerita ke Pak Gun ya! Nanti beliau kaget kalau tahu air kolam Bumool keceburan paus besar sampai airnya meluber dan muncrat hampir habis! 🤣🤣🤣"

Saya yang membaca komentar Bu Lis di rumah langsung tertawa sendirian. Mengingat kembali bayangan kami bertiga "menceburkan diri" dengan gaya mendarat perut, candaan Bu Lis tentang "Paus Bumool" itu benar-benar tepat sasaran.

Saya pun membalas, "Bu Lis, kalau ini dibuat cerita humor, saya jamin yang baca pasti terhibur!"

Bu Lis hanya mengirimkan deretan emoji tertawa lagi. Ternyata... pak Gun sempat memantau dan membaca grup! Meskipun beliau sedang berada di luar kota dan lelah setelah perjalanan, rasa penasaran seorang pelatih tidak bisa dibendung. Beliau melihat obrolan mencurigakan tentang "muncratnya air kolam" dan "penampakan paus". 

Empat hari berikutnya, tidak tahan dengan rasa penasarannya, pak Gun  mengetik komentar di grup,

"Ditunggu episode cerita paus-nya... 👀"

Waduh! pak Gun sudah menagih! Rahasia "paus meluncur" akhirnya terbongkar juga.

Pesan untuk Sang Pelatih Tercinta

Pak Gun yang kami hormati... Melalui tulisan ini, kami bertiga mengaku dengan ikhlas. Memang benar, Jum'at sore teori meluncur yang pak Gun ajarkan dengan penuh kesabaran selama berbulan-bulan mendadak menguap diterpa angin sore Bumool.

Kami sudah berusaha menjadi lumba-lumba yang anggun, Pak. Tapi apa daya, gravitasinya terlalu kuat dan perut kami terlalu mantap, sehingga hasil akhirnya lebih mirip  Trio Paus Yang Jatuh.

Kami yakin, andaikata pak Gun ada di pinggir kolam menyaksikan kami bertiga  "mengepakan perut" ke air, pak Gun tidak akan sanggup memberikan perintah teori. Pak Gun pasti akan ikut tertawa terbahak-bahak bersama kami.

Tapi tidak apa-apa, Pak. Walaupun gerakannya masih jauh dari kata sempurna dan lebih banyak gaya "muncrat"-nya daripada gaya meluncurnya, ikhtiar sehat kami sukses besar! Kami pulang dengan hati yang sangat bahagia, dada yang lapang, dan pikiran yang segar.

Terima kasih Bumool, terima kasih Bu Lis dan kawan-kawan. Dan untuk Pak Gun... siap-siap ya Pak, di pertemuan berikutnya dengan "Trio Paus Bumool" siap menerima koreksi gaya meluncur yang sebenar-benarnya! 

Cepu, 13 Oktober 2026

Jumat, 09 Oktober 2026

Gaya Terlentang

Karya : Gutamining Saida

Sore suasana kolam renang terasa tidak ramai. Pengumuman singkat dari sang pelatih bahwa beliau harus pergi ke luar kota. Hal tersebut tidak menyurutkan langkah ibu saya. Dengan penuh semangat, beliau mengajak saya untuk tetap pergi ke kolam renang guna melanjutkan sesi terapi airnya.

Melihat antusiasme ibu yang begitu tinggi demi menggapai kesembuhan dan kesehatan adalah sebuah pelajaran kepasrahan yang nyata. Beliau percaya bahwa air salah satu perantara rezeki kesehatan yang dititipkan oleh Allah Subhanahu Wata'alla. Semangat beliau yang tak padam itu seolah menularkan energi positif kepada saya untuk tidak melenyapkan kesempatan belajar Jum'at sore meski tanpa bimbingan langsung dari seorang instruktur.

Saya mendampingi ibu yang dengan tekun melakukan gerakan-gerakan terapi. Sambil menjaga dan mengawasi beliau, saya memanfaatkan waktu untuk berlatih mandiri. Target saya sore itu sederhana: belajar mengapung telentang, melayangkan tubuh di atas permukaan air dengan wajah menengadah lurus menatap langit.

Jujur, dalam hal berenang, saya menyadari betapa minimnya kemampuan saya.  Saya belum mampu menguasai gaya berenang. Sejauh ini, pencapaian terbaik saya hanyalah sekadar bisa meluncur beberapa meter. Ketika melempar pandangan ke sekeliling kolam, saya melihat teman-teman sebaya  begitu lincah membelah air. Ada yang meluncur cepat dengan gaya bebas, ada yang begitu anggun dengan gaya dada, dan ada pula yang tampak sangat mahir dengan gaya punggung. Gerakan mereka terlihat sangat luwes, seolah air dan tubuh mereka telah menyatu sempurna.

Ada keinginan yang mendalam di dalam dada untuk bisa mahir seperti mereka. Saya merindukan saat-saat di mana tubuh ini bisa menaklukkan kedalaman air dengan berbagai teknik yang sempurna. Kenyataannya, proses belajar yang saya jalani belum membuahkan hasil yang sama. Saya masih sering ragu, masih sering tersengal-sengal, dan gerakan saya masih jauh dari kata sempurna.

Allah menciptakan manusia dengan segala keunikan dan ketetapan-Nya masing-masing. Kemampuan setiap orang dalam menyerap ilmu dan menguasai suatu hal tidak pernah sama. Ada jiwa-jiwa yang dianugerahi kecepatan untuk belajar, hanya butuh beberapa kali mencoba langsung bisa. Ada pula jiwa-jiwa yang diberikan jalan yang lebih lambat, yang harus melewati puluhan kali kegagalan dan latihan ekstra untuk mencapai hal yang sama.

Kecepatan bukanlah ukuran utama, melainkan kesabaran dan ketekunan dalam menjalani prosesnya. Berhasil meluncur saja, bagi saya sudah merupakan sebuah nikmat yang sangat luar biasa. Betapa banyak orang yang bahkan takut untuk sekadar melangkahkan kaki ke dalam air. Maka, bisa meluncur dan merasakan tubuh terdorong air adalah sebuah rezeki kecil yang patut disyukuri dengan sedalam-dalamnya. Alhamdulillah.

Ketika saya mencoba kembali melatih teknik mengapung telentang, tubuh saya perlahan terangkat. Telinga saya terendam air, menyisakan suara ketenangan yang samar. Wajah saya sepenuhnya menghadap ke atas. Pada momen itulah, pandangan mata saya tertuju pada bentangan langit sore yang begitu cerah dan memesona.

Langit Jum'at sore itu dilukisi biru lembut, dan gumpalan awan putih yang beraroma kedamaian. Tidak ada kata yang sanggup melukiskan keindahannya secara utuh. Hati saya seketika bergetar hebat. Rasa takjub memenuh dada akan keagungan dan kebesaran ciptaan Allah Subhanahu wata'alla. Dari atas permukaan air yang tenang, saya menikmati mahakarya Sang Maha Pencipta yang membentang tanpa batas. Langit yang begitu luas itu berdiri kokoh tanpa tiang, menaungi bumi dan seisinya dengan penuh kasih sayang.

Di saat tubuh terlentang dan terombang-ambing pasrah di atas air, menatap keagungan langit. Sebuah hakikat kehidupan merasuk. Betapa kecilnya kita sebagai manusia. Kita hanyalah sebutir debu di tengah samudera ciptaan-Nya yang teramat luas. Air yang menopang tubuh saya dan langit yang menaungi pandangan saya, semuanya berada di bawah kendali dan genggaman kekuasaan Allah yang Maha Dahsyat.

Betapa konyolnya jika ada rasa sombong yang terselip di dalam hati manusia. Kita tidak memiliki daya dan kekuatan sedikit pun melainkan atas izin dan pertolongan-Nya (Laa haula wa laa quwwata illa billah). Bahkan untuk sekadar menjaga tubuh agar tidak tenggelam di dalam kolam ini saja, kita membutuhkan hukum-hukum alam yang telah Allah tetapkan. Jika Allah mencabut ketenangan air atau menarik rizki nafas kita sebentar saja, selesai sudah kisah kita di dunia ini. Lantas, atas dasar apa manusia kerap kali bersikap sombong atas harta, kepintaran, kedudukan, atau bahkan keahlian yang mereka miliki?

Di bawah langit Jum'at yang penuh keberkahan, saya tidak hanya belajar cara mengapung atau meluncur di atas air. Lebih dari itu, Allah mengajarkan saya arti kepasrahan, keikhlasan menerima proses diri, keindahan bersyukur atas pencapaian kecil, dan pentingnya meruntuhkan keangkuhan diri di hadapan Sang Maha Kuasa. Biarlah proses belajar berenang ini memakan waktu lebih lama, yang terpenting, hati ini terus belajar untuk senantiasa rendah hati dan memuji kebesaran-Nya di setiap kesempatan. Aamiin.

Cepu, 10 Oktober 2026

Rabu, 07 Oktober 2026

Peluit Sang Pelatih

Karya: Gutamining Saida

Suasana di tepi kolam renang begitu  penuh semangat. Cahaya matahari sore memantul lembut di atas permukaan air yang tenang, menciptakan kilatan-kilatan cahaya yang menyejukkan mata. Sejumlah ibu-ibu berkumpul dengan niat yang mulia sebuah ikhtiar menjaga kesehatan tubuh sebagai bentuk rasa syukur atas amanah fisik yang diberikan oleh Sang Maha Pencipta. Mereka, menjaga kebugaran bukan sekadar gaya hidup, melainkan bagian dari ibadah agar dapat terus beraktivitas dan beribadah dengan ikhlas serta maksimal.

Di tengah-tengah mereka, berdiri Pak Gun, seorang pelatih. Sabar dan penuh perhatian, Pak Gun senantiasa membimbing setiap gerakan ibu-ibu. Latihan kali ini terasa berbeda. Ada nuansa baru yang disiapkan oleh Pak Gun untuk melatih keberanian, ketangkasan, dan kerja sama para peserta. Pak Gun memegang sebuah peluit yang biasa digunakan untuk memberikan aba-aba.

Tanpa diduga, Pak Gun melempar peluit tersebut ke tengah kolam renang. Plash! Bunyi cipratan air terdengar jernih, disusul gelombang kecil yang memancar ke segala arah saat peluit tenggelam perlahan menuju dasar kolam.

"Ibu-ibu, tantangan hari ini mengambil peluit dari dasar kolam," ujar Pak Gun dengan nada suara yang membakar semangat.

Seketika, para peserta berbaris rapi di sepanjang tepi kolam, dari ujung satu hingga ke ujung lainnya. Wajah-wajah mereka memancarkan perpaduan antara rasa penasaran, antusiasme, dan sedikit rasa ragu. Pak Gun kemudian memberikan arahan teknis mengenai cara terbaik dan aman untuk menyelam serta meraih peluit di tengah kolam. Arahan itu didengarkan dengan cermat oleh seluruh peserta. Setiap petunjuk adalah jalan menuju keberhasilan. 

Waktu demi waktu pun berlalu. Air kolam bergelombang seiring dengan upaya ibu-ibu yang berusaha menceburkan diri, mencoba menyelam kedalaman air demi menemukan peluit yang terbenam. Ada yang mencoba berenang pelan, ada yang mencoba bertahan di dalam air beberapa detik, peluit tersebut seolah masih tersembunyi di balik kejernihan air kolam.

Tiba-tiba, dari salah satu sudut kolam, terdengar suara lembut yang memecah konsentrasi.

"Pak... Pak..."

Suara itu milik Bu Endah. Beliau berjalan perlahan mendekat ke arah Pak Gun yang berdiri di tepi kolam. Langkah kakinya tenang, membawa serta aura ketenangan yang membuat ibu-ibu lainnya secara refleks menghentikan aktivitas mereka. Semua pandangan kini tertuju pada Bu Endah. Keheningan singkat tercipta di area kolam renang tersebut, diiringi rasa penasaran yang membuncah di hati para peserta lainnya.

Saat Bu Endah semakin dekat, terlihat tangannya tergenggam rapat. Ia kemudian mengulurkan tangannya di hadapan Pak Gun. Di atas telapak tangannya yang basah, terbaring peluit milik Pak Gun.

"Pak Gun, saya berhasil," ucap Bu Endah dengan nada polos, tanpa sedikit pun kesan ingin menyombongkan diri.

Pak Gun tersenyum lebar, matanya memancarkan rasa bangga atas keberhasilan pesertanya. Ia menerima peluit tersebut dengan penuh rasa hormat dan rasa syukur.

"Hebat... njenengan, Bu," puji Pak Gun tulus sambil mengambil kembali peluit yang sempat dilempat ke kolam. Di tengah suasana apresiasi tersebut, Bu Endah tidak berhenti sampai di situ. Ada dorongan kuat dari dalam hatinya kejujuran. Bu Endah menatap Pak Gun, lalu berucap kembali dengan jujur.

"Peluit saya ambil dengan kaki, Pak."

Kata-kata sederhana itu meluncur begitu saja dari bibir Bu Endah. Beliau menyadari cara yang dilakukannya tidak sepenuhnya sesuai dengan instruksi awal atau harapan umum untuk mengambilnya menggunakan tangan saat menyelam. Bu Endah memilih untuk membuka kebenaran secara utuh, tanpa mengurangi atau menambah-nambahi.

Mendengar pengakuan jujur tersebut, senyum di wajah Pak Gun justru semakin memancar penuh ketakjuban. Bagi Pak Gun, tindakan Bu Endah bukan sekadar keberhasilan fisik dalam meraih sebuah benda di dalam air, melainkan sebuah kemenangan jiwa. 

"Hebat sekali, Bu Endah!" kata Pak Gun kembali dengan nada suara yang bergetar penuh rasa hormat. "Njenengan berani jujur, Bu Endah." ucap pak Gun.

Di balik peristiwa sederhana di tepi kolam renang ibu-ibu bertepuk tangan. Bu Endah jujur sebagai  wujud nyata seorang hamba di hadapan Sang Maha Melihat. Tantangan mengambil peluit di dasar kolam menjadi cermin kehidupan duniawi. Sering kali manusia berpacu mengejar tujuan, meraih capaian kehidupan. Cara kita meraih tujuan tersebut adalah ujian yang sebenarnya. Bu Endah membuktikan bahwa hasil akhir tidak pernah lebih penting daripada kebersihan niat dan kejujuran .

Pak Gun, sebagai seorang pembimbing, memberikan teladan luar biasa. Peristiwa di kolam renang  berakhir menjadi sebuah ikhtiar yang tidak hanya menyegarkan jasad, tetapi juga menyirami rohani. Ibu-ibu yang hadir pulang dengan tubuh yang lebih sehat dan bugar. Setiap langkah dan upaya kita di dunia ini, kejujuran adalah perhiasan jiwa yang paling indah, dan keberanian untuk jujur adalah jalan tertinggi menuju keberkahan hidup.

Cepu, 6 Oktober 2026

Senin, 05 Oktober 2026

Prank Sang Pelatih

Karya: Gutamining Saida

Minggu sore menjadi waktu yang kami tunggu-tunggu. Sebuah ruang jeda untuk meniti ikhtiar sehat, memanjakan raga dengan kesegaran air, sekaligus merawat benih-benih kebahagiaan bersama. Kami, merawat tubuh yang diamanahkan Sang Pencipta bukan sekadar tentang otot dan stamina, melainkan bagian dari rasa syukur atas nikmat hidup yang tak terhingga.

Bayangan Pak Gun selalu hadir dengan badan yang tegap. Beliau yang selalu memancarkan semangat. Beliau bukan sekadar melatih fisik, melainkan seorang pendamping yang mengajarkan kami arti kebersamaan, disiplin, dan kepasrahan. Di bawah bimbingan Pak Gun, tidak pernah ada sesi latihan yang membosankan. Tiap kali berkumpul, selalu saja ada tantangan baru, kejutan, dan pelajaran tak terduga yang ia selipkan di antara kepakan tangan dan kecipak air.

Sinar matahari membiaskan cahaya keemasan yang indah di atas permukaan air yang tenang. Sebelum memulai latihan, kami berdiri melingkar di kolam. Pak Gun menatap kami satu per satu dengan senyum tipis yang penuh rahasia, lalu menginstruksikan kami untuk aktivitas di kolam.

"Sore ini, kita latihan fokus, dan ketenangan jiwa," ujar Pak Gun. Suaranya bergema halus di antara dinding-dinding area kolam. "Bu ibu semua, buat lingkaran di tengah kolam. Saling berpegangan tangan dengan erat. Jangan lepaskan genggaman itu sampai instruksi berikutnya."

Kami menurut tanpa ragu. Tangan kanan dan kiri kami saling bertaut rapat, membentuk satu lingkaran kebersamaan yang kokoh. Ada rasa hangat yang menjalar ketika jemari kami saling mengunci, menyadarkan kami betapa indahnya persaudaraan dan saling menopang dalam kehidupan.

Pak Gun berdiri di tepi kolam dengan peluit menggantung di lehernya. Beliau menjelaskan aturan permainan sore itu dengan tegas: "Dengar baik-baik. Latihan ini bergantung pada aba-aba peluit.

  • Tiupan peluit pertama: Benamkan kepala ibu-ibu ke dalam air, julurkan kaki lurus ke belakang, melayang tanpa mengambil napas. Tetap saling berpegangan tangan.

  • Tiupan peluit kedua: Lepaskan pegangan tangan kalian.

  • Tiupan peluit ketiga: Turunkan kaki, tegakkan badan, dan kembalikan kepala ke atas permukaan air untuk menghirup udara."

Kami mengangguk serempak, memahami aktivitas yang dirancang sang pelatih. Kami menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-paru kami dengan udara sore yang segar, siap menyelami ujian ketahanan dan kepatuhan ini.

PRRRIIIITTTT!

Tiupan peluit pertama membahana menembus kesunyian sore. Seketika, kami secara serentak membenamkan wajah dan kepala kami ke dalam dinginnya air kolam. Kaki kami selonjorkan ke belakang, mengapung sejajar dengan permukaan air. Tangan kami masih saling menggenggam erat, membentuk lingkaran penyerahan diri di dalam air. Di dalam ketenangan bawah air, suara-suara luar meredup. Yang terdengar hanyalah detak jantung sendiri dan gemuruh halus air yang membelai telinga.

Satu detik, dua detik, lima detik... kami bertahan. Dalam posisi menahan napas itu, jiwa diajak memasuki kepasrahan yang mendalam. Menahan napas di dalam air mengajarkan betapa ringkihnya manusia tanpa oksigen yang disiapkan Allah Subhanahu Wata'alla secara gratis setiap detik. Kami memohon kekuatan dalam hati agar dada tidak cepat terasa sesak, menunggu sinyal peluit kedua untuk melepaskan pegangan, dan peluit ketiga untuk kembali menghirup napas kehidupan.

Tujuh detik... delapan belas detik... waktu terasa berjalan sangat lambat. Dada mulai terasa hangat, tanda pasokan oksigen semakin menipis. Paru-paru mulai memberi sinyal darurat, meminta udara. Rasa patuh dan percaya kepada sang pelatih membuat kami tetap bertahan. Kami berpikir, Pak Gun tentu sedang menguji batas ketahanan dan fokus kami. Kami yakin tiupan peluit kedua dan ketiga akan segera terdengar dalam hitungan detik. Tangan teman di samping kanan dan kiri saya terasa sedikit mengetat, memberi sinyal bahwa mereka pun merasakan desakan yang sama di dalam dada. Kami saling menguatkan dalam diam bawah air.

Sembilan detik... sepuluh detik...

Suasana tetap hening. Tidak ada getaran suara peluit kedua, apalagi ketiga, yang menembus kedalaman air. Keheningan itu mulai terasa aneh. Kepasrahan berganti menjadi rasa heran. Kenapa Pak Gun begitu lama menahan kami? Apakah ini bagian dari ujian kesabaran yang ekstra berat? Atau adakah pelajaran spritual yang sedang beliau tancapkan ke dalam dada kami?

Ketika batas ketahanan dada sudah berada di ambang maksimal dan paru-paru tak lagi mampu menahan gejolak untuk menghirup udara. Akal sehat berbisik  menjaga keselamatan jiwa adalah kewajiban yang utama. Tanpa menunggu suara peluit ketiga yang tak kunjung bergema, saya akhirnya memutuskan untuk memunculkan kepala dari dalam air.

BYURRR!

Kepala saya menyembul ke atas permukaan air, disusul oleh deru napas yang terengah-engah. Bersamaan dengan itu, satu per satu kepala ibu-ibu lain ikut menyembul dari air. Wajah-wajah yang basah itu menghembuskan napas lega sekaligus memancarkan kebingungan yang luar biasa. Kami saling pandang dengan mata membelalak, lalu secara refleks menoleh ke kanan dan ke kiri, menyapu seluruh sudut tepi kolam untuk mencari sosok sang pelatih.

Namun, tepi kolam itu kosong melompong. Sosok tegap Pak Gun yang biasanya berdiri menatap kami dengan penuh ketegasan telah hilang. Di kejauhan, dekat pintu masuk area kolam, tampak sepintas bayangan seorang pria bergegas  sambil tertawa kecil tanpa suara.

Seketika menyadarlah kami semua, kami baru saja menjadi korban prank alias kejailan sang pelatih! Pak Gun sengaja meniup peluit pertama lalu melarikan diri, meninggalkan ibu-ibu yang  menyelam dan menahan napas menantikan aba-aba yang takkan pernah datang.

Gema tawa riuh tiba-tiba pecah memecah keheningan sore itu. Kami semua tertawa terbahak-bahak di dalam kolam. Kami berhasil dikerjai dengan sempurna oleh Pak Gun. Suasana yang tadinya penuh ketegangan dan keseriusan berubah menjadi kebahagiaan yang membuncah.

Di balik rasa geli dan gelak tawa yang menghangatkan suasana. Kejadian sederhana ini seolah menjadi gambaran kecil hakikat kehidupan manusia di dunia.

Sering kali kita terjebak dalam prasangka, ketergantungan yang terlalu besar kepada sesama manusia. Kami yang begitu percaya Pak Gun pasti akan meniup peluitnya tepat waktu. Namun, pak Gun sore ini  bercanda, meninggalkan ibu-ibu. 

Sore itu penuh kejutan manis. Pak Gun mungkin telah melarikan diri dan berhasil memberi kami dua hal sekaligus yaitu hadiah tawa yang melapangkan jiwa dan pelajaran hidup yang tak ternilai harganya. Terimakasih pak Gun. Sehat selalu. Aamiin.

Cepu, 5 Oktober 2026