Karya: Gutamining Saida
Ada sebuah tempat yang selalu menghadirkan fenomena menarik. Setiap kali datang ke sana, rasanya seperti memasuki ruang yang berbeda dari kehidupan sehari-hari. Tempat itu adalah kolam. Entah mengapa, kesedihan seolah kehilangan tempat untuk bersembunyi. Kesusahan yang mungkin dibawa dari rumah, persoalan pekerjaan yang belum selesai, kelelahan menghadapi kehidupan, pikiran yang sempat penuh dengan berbagai masalah, perlahan seperti dilarungkan bersama air.
Bukan berarti orang-orang yang datang ke kolam tidak memiliki masalah. Mereka tetap manusia. Mereka memiliki cerita masing-masing. Ada yang datang dengan tubuh lelah, sedang berjuang menjaga kebugaran, ingin menghilangkan rasa takut, ingin belajar berenang, dan sekadar membutuhkan teman untuk berbagi cerita.
Begitu kaki menginjak area kolam, sesuatu seperti berubah. Wajah-wajah yang semula tampak serius perlahan berubah menjadi senyum. Sapaan mulai terdengar. Tawa mulai pecah. Saling menggoda menjadi hal biasa. Kesalahan dalam melakukan gerakan pun bisa menjadi bahan tertawaan bersama.
Di situlah keindahan kolam.Tidak harus selalu sempurna untuk bisa bahagia. Salah gerakan, tertawa. Salah posisi, tertawa. Saling bertabrakan ketika latihan, tertawa. Bahkan ketika tidak sengaja saling menendang pun, bukannya marah, justru tertawa.
Suasana semakin meriah ketika Pak Gun memberikan instruksi. Gaya khasnya yang penuh semangat, ia mengajak semua peserta menikmati latihan bukan sebagai beban, melainkan sebagai kegembiraan bersama.
“Ayo, Bu Ibu, masuk! Tenggelamkan kepala, terus muncul ke atas! Tangan ambil air, lalu lemparkan sambil sorak... sehat!”
Seketika ibu-ibu mengikuti aba-aba tersebut. “Sehaaaat!” Suara itu menggema di sekitar kolam. Kepala masuk ke dalam air, kemudian muncul lagi. Tangan mengambil air dan melemparkannya ke udara. Air berhamburan. Wajah-wajah basah justru semakin ceria. Ada yang gerakannya tepat, ada yang terlambat, ada yang terlalu bersemangat hingga air mengenai teman di sebelahnya.
Pak Gun pun terus memberikan semangat. Instruksinya bukan sekadar mengajak tubuh bergerak, tetapi seperti mengajak hati untuk ikut bergerak. Di kolam, olahraga tidak terasa seperti kewajiban. Ia berubah menjadi permainan. Terapi berubah menjadi kebersamaan. Latihan berubah menjadi kesempatan untuk tertawa.
Salah satu rahasia mengapa orang-orang betah datang kembali. Bayangkan, dalam kehidupan sehari-hari, tersenggol sedikit saja terkadang bisa membuat seseorang kesal. Tetapi di kolam, ketika kaki seseorang tidak sengaja mengenai kaki teman di sebelahnya, yang muncul justru tawa. “Eh, ngapunten!” Lalu disambut dengan senyum. Tidak ada dendam. Tidak ada kemarahan. Semuanya kembali seperti biasa.
Barangkali karena air mengajarkan satu hal penting: jangan terlalu serius menghadapi kesalahan. Air tidak pernah marah ketika seseorang jatuh ke dalamnya. Air menerima. Air tidak menertawakan ketika seseorang belum bisa melakukan gerakan dengan baik. Air tetap menjadi tempat untuk belajar.
Ada yang gerakannya sudah bagus. Ada yang masih kaku. Ada yang sudah berani meluncur. Ada yang masih takut. Ada yang bisa mengapung dengan tenang. Ada pula yang masih berjuang mengendalikan napas. Tetapi semuanya berada dalam satu tempat. Tidak ada yang merasa lebih tinggi. Mereka belajar bersama.
Kolam bukan sekadar tempat untuk menggerakkan tubuh. Kolam juga menjadi tempat untuk menggerakkan hati. Tawa yang muncul bukan sekadar suara. Tawa itu seperti pelepasan. Pelepasan dari ketegangan, kekhawatiran, dan beban yang selama ini mungkin dipendam sendirian.
Menariknya lagi, setiap pertemuan hampir selalu memiliki penutup yang sama: foto dan video. Setelah latihan selesai, orang-orang berkumpul. Ada yang masih basah, ada yang rambutnya berantakan, ada yang kelelahan, ada yang baru selesai melakukan gerakan tertentu. Namun ketika kamera diarahkan, hampir semuanya tersenyum.
Foto-foto itu kemudian menjadi bukti bahwa pernah ada sebuah pertemuan yang penuh kebahagiaan. Mungkin beberapa jam sebelumnya masing-masing membawa masalah. Tetapi ketika kamera mengambil gambar, yang tersimpan adalah senyum.
Bukankah hidup juga seperti itu? Kita tidak bisa memilih agar kehidupan selalu bebas dari masalah. Kita tidak bisa meminta agar setiap hari berjalan sesuai keinginan. Kesedihan pasti datang. Kegagalan mungkin terjadi. Tubuh bisa lelah. Hati bisa kecewa.
Tetapi kita selalu bisa memilih bagaimana menghadapi semuanya. Kolam memberikan contoh yang sederhana.
Datanglah. Bergeraklah. Tersenyumlah. Berbagilah.
Senyum sederhana dari kita adalah obat bagi seseorang yang sedang menyembunyikan kesedihan. Mereka datang untuk mengingat bahwa kebahagiaan masih bisa ditemukan di tengah berbagai persoalan.
Kesedihan tidak benar-benar hilang. Kesusahan tidak benar-benar selesai. Tetapi untuk sementara, semuanya dititipkan kepada air.
ketika pertemuan selesai, masing-masing kembali membawa kehidupan masing-masing. Namun mereka pulang dengan sesuatu yang berbeda: hati yang sedikit lebih ringan. Pak Gun, dengan aba-abanya yang sederhana, seolah mengingatkan bahwa kesehatan pun bisa dirayakan dengan kegembiraan.
“Ayo, Bu Ibu! Tenggelamkan kepala... muncul lagi... ambil air... lemparkan... dan sorak bersama! Sehat!”
“SEHAAAAT!”
Teriakan itu bukan sekadar suara. Ia seperti doa. Doa agar tubuh tetap diberi kekuatan, hati diberi kebahagiaan, persahabatan tetap terjaga, dan setiap langkah dalam kehidupan selalu mendapatkan keberkahan dari Allah Subhanahu Wata'alla. Aamiin
Cepu, 15 Agustus 2026.






.jpeg)


