Karya: Gutamining Saida
Kamis pagi itu suasana grup WhatsApp Muda Swimming Squad 2 terasa hangat dan penuh semangat. Seperti biasa, Pak Gun, pelatih renang sekaligus pembimbing terapi yang selama ini membersamai para peserta, menyapa seluruh anggota grup dengan keramahan.
Beliau mengirimkan sebuah foto dirinya mengenakan baju koko bermotif kotak-kotak yang dipadukan dengan peci hitam. Penampilannya sederhana, tetapi memancarkan kesan bersahaja. Di bawah foto tersebut tertulis pesan singkat.
"Assalamualaikum, selamat pagi. Salam sehat buat semuanya."
Sapaan sederhana itu seolah menjadi pembuka hari yang menyenangkan bagi para anggota grup. Tidak hanya memberikan salam, Pak Gun juga membagikan beberapa video latihan renang dan terapi yang pernah dilakukan bersama para peserta.
Salah satu video yang menarik perhatian memperlihatkan enam belas peserta berdiri di dalam kolam sambil bergandengan tangan membentuk lingkaran besar. Mereka tampak tersenyum, saling menatap, dan mengikuti arahan dengan penuh semangat.
Di bawah video tersebut Pak Gun menuliskan kalimat yang sangat menyentuh.
"Saling menguatkan satu sama lain. Saling mensupport satu dengan yang lain"
Kalimat itu mungkin sederhana, tetapi mengandung pelajaran hidup yang sangat dalam. Manusia memang tidak diciptakan untuk hidup sendiri. Dalam menjalani kehidupan, setiap orang membutuhkan bantuan, dukungan, perhatian, dan doa dari orang lain. Ketika seseorang sedang lemah, yang lain hadir menguatkan. Saat ada yang kehilangan semangat, sahabat-sahabatnya hadir memberikan motivasi.
Tidak lama kemudian, Bu Sulikah membalas pesan tersebut.
"Waalaikumsalam. Pagi juga, Pak Gun."
Balasan itu segera mendapat tanggapan dari Pak Gun.
"Bu Sulikah, sehat?"
Pertanyaan sederhana yang menunjukkan kepedulian. Di dalam sebuah kelompok yang penuh kekeluargaan, perhatian kecil seperti itu sering kali mampu menghadirkan kebahagiaan tersendiri.
Bu Sulikah pun menjawab dengan jujur.
"Alhamdulillah, tangannya agak kram gara-gara makan sate kambing, Pak."
Membaca jawaban tersebut, Pak Gun langsung menanggapi dengan nada bercanda.
"Looooh, habis berapa tusuk?"
Pertanyaan itu membuat suasana grup semakin cair. Bu Sulikah tidak menjawab dengan angka, melainkan hanya mengirimkan gambar tertawa.
Melihat hal itu, Pak Gun kembali menambahkan komentar yang membuat para anggota grup tersenyum.
"Sate itu enak, tetapi tidak mengenakkan juga."
Ucapan tersebut mengandung humor sekaligus nasihat. Makanan yang lezat memang nikmat disantap, tetapi jika berlebihan tentu dapat menimbulkan dampak yang kurang baik bagi kesehatan. Dalam ajaran agama pun, manusia diajarkan untuk tidak berlebihan dalam segala hal, termasuk dalam urusan makan dan minum.
Allah Subhanahu Wata'alla berfirman agar manusia makan dan minum, tetapi tidak berlebih-lebihan. Allah Subhanahu Wata'alla tidak menyukai orang-orang yang berlebihan. Pesan tersebut sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari. Banyak penyakit muncul bukan karena kekurangan makanan, melainkan karena tidak mampu mengendalikan keinginan.
Percakapan ringan di grup terus berlanjut. Anggota yang lain mulai memberikan respons, baik berupa gambar, komentar, maupun candaan yang membuat suasana semakin hidup. Meski hanya melalui media digital, kehangatan persaudaraan tetap terasa.
Menariknya, kebersamaan yang terjalin di grup tidak hanya terjadi saat berada di dunia maya. Hubungan yang akrab itu telah terbangun sejak mereka berlatih bersama di kolam renang. Di sana mereka belajar bukan hanya tentang teknik berenang atau terapi air, melainkan juga tentang kehidupan.
Saat berada di kolam, mereka saling membantu. Peserta yang sudah mahir dengan sabar mendampingi yang masih belajar. Mereka saling menyemangati ketika ada yang merasa takut masuk ke air. Mereka saling memberi tepuk tangan ketika ada yang berhasil melakukan gerakan yang sebelumnya belum mampu dilakukan.
Lingkaran yang dibentuk dalam video itu menjadi simbol persaudaraan yang indah. Bentuk lingkaran tidak memiliki ujung dan pangkal. Semua berada pada posisi yang sama. Tidak ada yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah. Semuanya saling terhubung dan saling menguatkan.
Begitulah seharusnya kehidupan seorang muslim. Persaudaraan tidak dibangun atas dasar kepentingan pribadi, melainkan atas dasar kasih sayang dan keikhlasan. Rasulullah mengajarkan bahwa orang-orang beriman itu ibarat satu tubuh. Jika satu bagian merasakan sakit, maka bagian yang lain ikut merasakan dan berusaha membantu.
Nilai-nilai seperti itulah yang tampak dalam komunitas renang dan terapi. Ketika ada anggota yang sakit, yang lain mendoakan. Ketika ada yang berhalangan hadir, yang lain menanyakan kabarnya. Saat ada yang berhasil mencapai kemajuan dalam terapi, semua ikut bergembira.
Kebersamaan semacam ini merupakan nikmat yang patut disyukuri. Tidak semua orang memiliki lingkungan yang penuh dukungan dan kepedulian. Karena itu, menjaga silaturahmi menjadi hal yang sangat penting.
Dari sebuah foto, beberapa video, dan percakapan ringan tentang sate kambing, tersimpan pelajaran yang sangat berharga. Bahwa hidup akan terasa lebih ringan ketika dijalani bersama orang-orang yang saling mendukung. Bahwa kesehatan bukan hanya soal tubuh yang kuat, tetapi juga hati yang bahagia karena memiliki sahabat-sahabat yang peduli.
Semoga kebersamaan yang terjalin dalam Muda Swimming Squad 2 terus terjaga. Semoga setiap anggota selalu diberikan kesehatan, keselamatan, dan keberkahan oleh Allah . Semoga semangat saling menguatkan, saling mendoakan, serta saling membantu dapat terus tumbuh, tidak hanya di dalam kolam renang, tetapi juga dalam setiap langkah kehidupan. Sesungguhnya manusia yang terbaik bukanlah yang hidup untuk dirinya sendiri, melainkan yang mampu memberi manfaat dan menguatkan orang lain di sekitar.
Cepu, 4 Juni 2026






