Senin, 01 Juni 2026

Nostalgia

 


Karya : Gutamining Saida

Hari Minggu menjadi hari yang istimewa bagi saya. Sejak beberapa hari sebelumnya, hati sudah dipenuhi kerinduan untuk kembali mengunjungi Kedungtuban. Sebuah tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan dalam perjalanan hidup saya. Daerah itu bukan sekadar wilayah yang pernah menjadi rumah kedua atau saya lewati pagi dan siang hari. Ia saksi berbagai kisah perjuangan, persahabatan, pengabdian, dan pembelajaran hidup yang diberikan Allah Subhanahu Wata'alla.

Saya berangkat dengan perasaan bahagia. Tujuan utama bukan hanya sekadar berjalan-jalan, melainkan bernostalgia menyusuri jalanan yang dahulu begitu akrab dengan kehidupan sehari-hari. Ketika kendaraan mulai memasuki wilayah Kedungtuban, berbagai kenangan lama bermunculan satu per satu. Ingatan saya kembali pada masa-masa ketika jalanan masih dipenuhi bebatuan dan lubang yang cukup banyak. Saat musim hujan, jalan menjadi licin dan berlumpur bahkan kubangan air. Ketika musim kemarau tiba, debu beterbangan mengikuti setiap kendaraan yang melintas.

Hari minggu tanggal 31 Mei 2026 pemandangan yang saya lihat sungguh berbeda. Jalanan yang dulu penuh tantangan kini telah berubah menjadi mulus dan nyaman dilalui. Perjalanan terasa lebih cepat dan aman. Saya tersenyum menyaksikan perubahan tersebut. Saya bersyukur karena pembangunan yang dilakukan pemerintah telah memberikan manfaat bagi masyarakat.

Rumah-rumah penduduk yang dahulu sederhana kini banyak yang berdiri megah dan tertata rapi. Beberapa bahkan sudah bertingkat dengan halaman yang asri. Daerah yang dulu terlihat lengang kini semakin ramai dan berkembang. Persawahan yang dahulu terbentang luas di beberapa sudut wilayah telah berubah menjadi kawasan pemukiman. Deretan rumah baru berdiri menunjukkan bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat.

Melihat perubahan itu membuat saya merenung. Waktu memang terus berjalan tanpa pernah berhenti. Tidak ada yang tetap selain perubahan itu sendiri. Apa yang dahulu terlihat biasa, kini berubah menjadi lebih maju. Satu hal yang tidak boleh berubah adalah rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wata'alla yang telah memberikan berbagai nikmat kepada manusia.

Dalam Al-Qur'an Allah mengingatkan bahwa jika manusia bersyukur, maka Allah Subhanahu Wata'alla akan menambah nikmat-Nya. Ketika melihat perkembangan Kedungtuban, saya merasakan betapa besar karunia Allah Subhanahu Wata'allayang diberikan kepada masyarakat di sana. Kemajuan yang terlihat bukan semata-mata hasil kerja manusia, tetapi juga karena izin dan pertolongan-Nya.

Malam sebelum keberangkatan, saya sudah menghubungi beberapa teman yang tinggal di sekitar Kedungtuban. Saya berharap dapat bertemu dan berkumpul bersama untuk melepas rindu. Sudah cukup lama kami tidak berjumpa secara langsung. Kesibukan pekerjaan, urusan keluarga, dan berbagai aktivitas lainnya membuat kesempatan bertemu menjadi semakin jarang.

Saya mengirim pesan kepada beberapa sahabat. Alhamdulillah, mereka menyambut dengan hangat. Ada yang langsung merespons dengan antusias, ada pula yang mengatakan akan berusaha datang jika tidak ada halangan. Saya memahami bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab dan kesibukan masing-masing.

Ketika hari yang dinanti tiba, ternyata tidak semua teman dapat hadir. Ada yang sedang memiliki keperluan keluarga, ada yang sedang bekerja, dan ada pula yang memiliki agenda lain yang tidak bisa ditinggalkan. Mereka tetap menghubungi saya dan menyampaikan harapan agar saya berkenan mampir ke rumah mereka.

Saat itu saya kembali belajar tentang takdir dan ketentuan Allah Subhanahu Wata'alla. Manusia boleh merencanakan pertemuan, tetapi Allah yang menentukan bagaimana pertemuan itu terjadi. Kadang kita berharap berkumpul ramai-ramai, tetapi yang terjadi justru kunjungan sederhana dari rumah ke rumah. Di balik semua itu selalu ada hikmah yang indah.

Saya kemudian menyempatkan diri berkunjung ke rumah Bu Yani. Kehadiran saya disambut dengan penuh keramahan dan kehangatan. Kami berbincang tentang banyak hal, mengenang masa lalu, bertukar cerita tentang keluarga, kesehatan, pekerjaan, dan berbagai pengalaman hidup yang telah dilalui.

Silaturahmi memang memiliki keistimewaan tersendiri. Rasulullah mengajarkan bahwa siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung tali silaturahmi. Saat duduk bersama dan berbincang penuh keakraban, saya merasakan sendiri nikmatnya silaturahmi yang mampu menghangatkan hati dan mempererat persaudaraan.

Waktu terasa berjalan begitu cepat. Tanpa terasa saatnya berpamitan untuk pulang. Saya berpikir bahwa hari itu saya sudah mendapatkan hadiah terbesar berupa kesempatan bertemu dan bersilaturahmi.  Allah  Subhanahu Wata'alla menyiapkan kejutan lain yang tidak pernah saya duga sebelumnya.

Ketika hendak meninggalkan rumah Bu Yani, beliau memberikan sekarung makanan ternak untuk dibawa pulang. Saya sempat terkejut sekaligus terharu menerima pemberian tersebut. Tidak pernah sedikit pun saya datang dengan niat mengharapkan sesuatu. Tujuan saya murni untuk bersilaturahmi dan melepas kerinduan setelah sekian lama tidak bertemu.

Saat itulah saya kembali diingatkan tentang salah satu rahasia kehidupan yang sering kali terlupakan. Rezeki memang sudah diatur Allah Subhanahu Wata'alla dengan cara yang tidak selalu dapat ditebak oleh manusia. Terkadang rezeki datang dari arah yang tidak pernah diperkirakan. Kadang datang melalui orang yang tidak disangka-sangka. Kadang pula hadir dalam bentuk yang sederhana tetapi sangat bermanfaat.

Saya teringat sebuah keyakinan yang selalu saya pegang bahwa rezeki tidak akan pernah tertukar. Apa yang menjadi bagian seseorang akan tetap sampai kepadanya meskipun harus melalui berbagai jalan dan peristiwa. Sebaliknya, apa yang bukan menjadi haknya tidak akan pernah bisa dimiliki walaupun dikejar dengan berbagai cara.

Perjalanan nostalgia ke Kedungtuban akhirnya memberikan banyak pelajaran berharga. Saya tidak hanya menyaksikan perubahan fisik sebuah daerah, tetapi juga merasakan kehangatan persahabatan, nikmatnya silaturahmi, dan bukti nyata bagaimana Allah Subhanahu Wata'alla mengatur segala sesuatu dengan sangat indah.

Di sepanjang perjalanan pulang, saya bersyukur masih diberi kesehatan untuk melakukan perjalanan. Bersyukur masih memiliki sahabat-sahabat yang baik. Bersyukur dapat menyaksikan kemajuan daerah yang pernah menjadi bagian dari kehidupan saya. Dan tentu saja bersyukur atas rezeki yang Allah Subhanahu Wata'alla titipkan melalui tangan orang-orang yang tulus.

Semakin bertambah usia, semakin saya menyadari bahwa hidup bukan sekadar tentang apa yang kita miliki. Hidup adalah tentang bagaimana kita mensyukuri setiap nikmat yang Allah Subhanahu Wata'alla berikan. Sebab ketika hati dipenuhi rasa syukur, maka sekecil apa pun pemberian akan terasa besar, dan sesederhana apa pun peristiwa akan menghadirkan kebahagiaan.

Alhamdulillah, perjalanan nostalgia ke Kedungtuban bukan hanya mengobati kerinduan, tetapi juga memperkuat keyakinan bahwa Allah Subhanahu Wata'alla adalah sebaik-baik Pengatur kehidupan. Dialah yang mempertemukan manusia, menggerakkan hati-hati untuk bersilaturahmi, dan mengalirkan rezeki melalui jalan-jalan yang tidak pernah terduga. Maka tiada kata yang pantas terucap selain hamdalah yang terus mengalir dari hati, "Alhamdulillahi rabbil 'alamiin."

Cepu, 1 Juni 2026

Menikmati Alam

 


Karya: Gutamining Saida

Hari Minggu menjadi hari yang sangat saya rindukan. Setelah enam hari disibukkan dengan berbagai aktivitas, tiba saatnya memberikan kesempatan kepada tubuh, pikiran, dan hati untuk beristirahat. Saya memilih melakukan refreshing dengan menikmati keindahan alam yang masih asri dan alami. Bukan ke tempat mewah atau pusat keramaian, melainkan ke sebuah sungai yang menawarkan ketenangan, kesejukan, dan berbagai pelajaran kehidupan yang berharga.

Saya berangkat bersama anak dan ibu tercinta. Di lokasi yang sama hadir pula sahabat lama saya, Bu Endang, bersama anak dan cucunya. Pertemuan tersebut terasa begitu istimewa. Sudah satu setengah tahun kami jarang bertemu sejak saya meninggalkan Kedungtuban. Kesibukan masing-masing membuat komunikasi tidak seintens dulu. Karena itulah kesempatan bertemu kali ini menjadi momen yang sangat berharga.

Sesampainya di lokasi, mata saya langsung dimanjakan oleh panorama alam yang begitu indah. Air sungai mengalir jernih di antara bebatuan besar dan kecil. Dari tepian sungai tampak dasar sungai yang dipenuhi batu-batu dengan berbagai ukuran dan warna. Air yang mengalir memantulkan sinar matahari sehingga terlihat berkilauan seperti permata yang berserakan.

Saya memandangi aliran sungai itu dengan penuh kekaguman. Dalam hati terlintas firman Allah bahwa pada penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda kebesaran-Nya bagi orang-orang yang berpikir. Semakin saya memperhatikan alam, semakin terasa betapa luar biasanya kuasa Allah Subhanahu Wata'alla. Tidak ada satu pun manusia yang mampu menciptakan keindahan seperti ini. Semua tersusun begitu sempurna sesuai kehendak Sang Pencipta.

Suara gemuruh air yang mengalir menjadi musik alam yang menenangkan jiwa. Percikan-percikan air yang menghantam bebatuan menciptakan irama yang indah. Tidak ada suara kendaraan, tidak ada hiruk-pikuk kota, yang terdengar hanya nyanyian alam yang mengajak hati untuk berdzikir dan mengingat kebesaran Allah Subhanahu Wata'alla.

Kami berjalan menyusuri tepian sungai. Sesekali kaki menginjak tanah liat yang licin. Tantangan kecil itu justru menambah keseruan. Kami harus berhati-hati agar tidak terpeleset. Saat itulah saya teringat bahwa kehidupan juga penuh dengan jalan licin yang dapat membuat manusia jatuh kapan saja. Karena itu manusia membutuhkan pegangan yang kuat berupa iman dan takwa agar tidak mudah tergelincir dalam kesalahan.

Di beberapa bagian sungai terdapat batu-batu besar yang harus dilalui dengan penuh keberanian. Langkah demi langkah kami jalani dengan hati-hati. Jantung berdegup lebih cepat, tubuh bergerak lebih aktif, dan tanpa sadar aktivitas tersebut menjadi olahraga yang menyehatkan. Saya bersyukur karena Allah Subhanahu Wata'alla masih memberikan kesehatan sehingga dapat menikmati ciptaan-Nya secara langsung.

Sambil menikmati suasana, kami saling bercengkerama. Saya dan Bu Endang banyak mengenang masa-masa ketika masih sering bersama di Kedungtuban. Berbagai cerita lama kembali hadir dalam percakapan. Ada kisah lucu yang membuat kami tertawa, ada pula kenangan yang menghadirkan rasa haru. Waktu memang terus berjalan, namun persahabatan yang dibangun dengan ketulusan ternyata tetap bertahan meskipun dipisahkan oleh jarak dan kesibukan.

Saya memandang ibu yang tampak bahagia menikmati suasana. Kehadiran beliau menjadi nikmat tersendiri. Tidak semua orang masih memiliki kesempatan berjalan bersama ibu di usia yang semakin bertambah. Dalam hati saya berdoa semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan, umur yang berkah, dan kebahagiaan kepada beliau.

Anakdan cucu bu Endang terlihat gembira bermain di sekitar sungai. Tawa mereka berpadu dengan suara aliran air menciptakan suasana yang hangat dan penuh kebersamaan. Saya menyadari bahwa kebahagiaan sejati sering kali hadir dari hal-hal sederhana. Tidak harus mahal, tidak harus mewah. Kebersamaan keluarga dan sahabat dalam suasana penuh syukur sudah cukup menghadirkan kebahagiaan yang luar biasa.

Di sela-sela menikmati pemandangan, saya mengingat tentang perjalanan hidup. Waktu satu setengah tahun ternyata terasa begitu cepat berlalu. Banyak peristiwa yang telah terjadi, banyak perubahan yang telah dialami. Sungai itu tetap mengalir sebagaimana mestinya. Dari sana saya belajar bahwa kehidupan harus terus berjalan. Seperti air sungai yang tidak pernah berhenti mengalir menuju muara, manusia pun harus terus melangkah menuju tujuan akhir kehidupannya.

Air sungai yang jernih juga mengingatkan saya tentang pentingnya menjaga kebersihan hati. Jika hati dipenuhi iri, dengki, dan kebencian, maka kejernihannya akan hilang. Sebaliknya, hati yang dipenuhi rasa syukur, ikhlas, dan sabar akan memancarkan ketenangan sebagaimana jernihnya air sungai yang mengalir.

Semakin lama berada di sana, semakin terasa ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Kerinduan yang selama ini tersimpan perlahan terobati. Pertemuan dengan sahabat lama, kebersamaan dengan keluarga, serta keindahan alam ciptaan Allah Subhanahu Wata'alla  seolah menjadi obat bagi hati yang lelah.

Saya merasakan kesejukan bukan hanya pada tubuh yang terkena percikan air sungai, tetapi juga pada jiwa yang selama ini dipenuhi berbagai kesibukan. Rasanya seperti hati yang kering diguyur hujan rahmat. Segala penat, lelah, dan kerinduan perlahan larut bersama aliran air yang terus bergerak menuju hilir.

Menjelang pulang, saya memandangi sungai itu sekali lagi. Dalam hati saya mengucapkan syukur kepada Allah Subhanahu Wata'alla atas nikmat kesehatan, kesempatan, keluarga, sahabat, dan keindahan alam yang masih dapat dinikmati. Saya menyadari bahwa setiap perjalanan bukan sekadar rekreasi, tetapi juga sarana untuk semakin mengenal kebesaran Sang Pencipta.

Semoga setiap langkah yang kami tempuh menjadi pengingat bahwa hidup ini adalah perjalanan menuju Allah.Semoga kehidupan kita pun senantiasa mengalir menuju ridha-Nya. Semoga setiap keindahan yang kita saksikan di dunia semakin menambah rasa syukur, keimanan, serta kecintaan kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Aamiin.

Cepu, 1 Juni 2026

Satu Huruf Yang Lari



Karya: Gutamining Saida 

Sore hari yang teduh membawa sebuah pesan singkat ke telepon genggam saya. Pesan itu datang dari seorang teman yang biasa disapa Bu Nanik. Kami memang belum lama saling mengenal. Pertemuan kami baru beberapa kali saja, tetapi entah mengapa terasa begitu akrab. Ada kalanya Allah Subhanahu Wata'alla mempertemukan dua orang yang sebelumnya asing, namun hati mereka terasa dekat seperti saudara yang telah lama bersama.

Saat membuka pesan tersebut, saya membaca sebuah komentar yang cukup singkat.

"Kere Bu Saida" disertai emoji 💖👍

Sekilas saya tersenyum. Dalam hati saya berpikir positif. Saya yakin Bu Nanik sedang terburu-buru saat mengetik pesan itu. Apalagi selama ini beliau dikenal sebagai pribadi yang baik dan suka memberikan apresiasi kepada teman-temannya.

Saya tidak langsung menanggapi secara serius. Setelah membaca pesan tersebut, saya kembali melanjutkan aktivitas yang sedang saya kerjakan. Saya bersyukur Allah  Subhanahu Wata'alla mengajarkan kepada saya untuk tidak mudah tersinggung, tidak gampang marah, dan tidak buru-buru berprasangka buruk kepada orang lain.

Bukankah dalam kehidupan sehari-hari sering kali masalah besar muncul hanya karena salah paham? Sebuah kata yang kurang huruf, sebuah kalimat yang kurang jelas, atau sebuah pesan yang dikirim terburu-buru terkadang mampu memicu pertengkaran. Jika ditelusuri, semuanya hanya karena kesalahan kecil yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan senyum dan pengertian.

Setelah beberapa saat, saya membalas pesan tersebut dengan nada bercanda.

"Kok ada huruf yang lari ya, Bu?"

Saya sengaja membalas dengan ringan agar suasana tetap hangat. Benar saja, tidak lama kemudian Bu Nanik menyadari kesalahannya. Beliau segera mengedit pesan dan mengirimkan permintaan maaf.

"Masya Allah."

"Sudah saya edit, mohon maaf typo" ditambah emoji 💖.

Saya pun menjawab,

"Biasa sajalah, Bu. Bercanda biar kita awet muda."

Membaca balasan itu, beliau tertawa dan menambahkan satu kalimat yang sangat sederhana tetapi penuh makna.

"Kita wajib bahagia."

Kalimat itulah yang membuat pikiran saya langsung berbinar. Seperti ada lampu kecil yang menyala di dalam hati.

"Kita wajib bahagia."

Betapa indahnya kalimat tersebut.

Bahagia bukan berarti hidup tanpa masalah. Bahagia juga bukan berarti semua keinginan terpenuhi. Bahagia adalah kemampuan menerima takdir Allah  dengan hati yang lapang. Bahagia adalah bersyukur atas apa yang dimiliki, bukan sibuk menghitung apa yang belum dimiliki.

Saya teringat firman Allah bahwa dengan mengingat-Nya hati akan menjadi tenteram. Ketenangan hati itulah sumber kebahagiaan sejati. Kadang manusia terlalu fokus pada kekurangan sehingga lupa mensyukuri nikmat yang telah ada. Padahal masih bisa bernapas dengan sehat, masih memiliki keluarga yang menyayangi, masih diberi kesempatan beribadah, dan masih dapat bertemu dengan orang-orang baik merupakan nikmat yang luar biasa.

Percakapan singkat dengan Bu Nanik sore itu mengajarkan banyak hal kepada saya.

Pertama, pentingnya berprasangka baik kepada sesama. Tidak semua kesalahan dilakukan dengan sengaja. Terkadang jari lebih cepat daripada pikiran saat mengetik pesan. Jika setiap kesalahan kecil dibalas dengan kemarahan, tentu hubungan persaudaraan akan mudah retak.

Kedua, pentingnya memelihara suasana gembira. Rasulullah Salallahu Allaihi Wassalam pun mengajarkan umatnya untuk murah senyum. Senyum adalah sedekah yang tidak membutuhkan biaya, tetapi mampu menghadirkan kebahagiaan bagi banyak orang.

Ketiga, menjaga silaturahmi. Persahabatan yang baik tidak selalu diukur dari lamanya perkenalan. Ada orang yang bertahun-tahun bersama tetapi tetap terasa jauh. Sebaliknya ada pula yang baru beberapa kali bertemu, namun terasa dekat karena dipersatukan oleh kebaikan hati.

Saya bersyukur dipertemukan dengan teman-teman yang membawa energi positif dalam kehidupan. Kehadiran mereka menjadi pengingat bahwa hidup tidak harus dijalani dengan wajah muram. Ada saatnya kita tertawa bersama, saling menyemangati, dan saling mengingatkan dalam kebaikan.

Sore itu saya semakin yakin bahwa Allah Subhanahu Wata'alla sering mengirimkan pelajaran hidup melalui cara-cara sederhana. Kadang melalui anak-anak, melalui peristiwa kecil, melalui kegiatan sehari-hari, bahkan melalui sebuah pesan singkat yang kehilangan satu huruf.

Huruf yang hilang ternyata menghadirkan senyum.

Senyum menghadirkan percakapan.

Percakapan menghadirkan keakraban.

Dan keakraban perlahan tumbuh menjadi persaudaraan.

Semoga persahabatan yang mulai terjalin antara saya dan Bu Nanik senantiasa diberkahi Allah Subhanahu Wata'alla. Semoga kami dapat saling mengingatkan dalam kebaikan, saling mendoakan dalam diam, serta saling mendukung dalam menjalani kehidupan.Karena pada akhirnya, harta yang paling berharga bukanlah materi yang kita miliki, melainkan hati-hati baik yang Allah Subhanahu Wata'alla hadirkan di sekitar kita.

Benar seperti kata Bu Nanik sore ini,

"Kita wajib bahagia."

Bahagia karena bersyukur.

Bahagia karena memaafkan.

Bahagia karena memiliki sahabat yang baik.

Bahagia karena Allah Subhanahu Wata'alla masih memberikan kesempatan kepada kita untuk terus menebar kebaikan dalam kehidupan ini. Semoga Allah menjaga langkah kita.  Aamiin.

Cepu, 1 Juni 2026

Tidak Ada Kata Tenggelam

 


Karya: Gutamining Saida

Setiap kali mengikuti terapi renang bersama Pak Gun, saya selalu merasakan pengalaman yang berbeda. Bukan hanya latihan fisik yang didapatkan, tetapi juga pelajaran hidup yang penuh arti. Ada saja kejutan, nasihat, dan hikmah yang beliau sisipkan di sela-sela praktik renang. Hal itulah yang membuat saya selalu terkesan dan berusaha hadir.

Sore ini suasana kolam renang cukup ramai. Beberapa peserta sudah datang lebih awal. Ada yang sedang melakukan pemanasan, ada yang berbincang santai, dan ada pula yang masih menikmati udara sore sambil duduk di pinggir kolam. Pak Gun tampak tersenyum melihat kami berkumpul.

"Bu ibu, hari ini kita belajar sesuatu yang sederhana, tetapi penting," kata beliau membuka sesi latihan.

Kami saling berpandangan. Masing-masing penasaran apa yang akan dilakukan sore ini.

Setelah beberapa latihan dasar dilakukan, Pak Gun meminta seluruh peserta turun ke kolam.

"Silakan ibu-ibu masuk ke air dan coba duduk di dasar kolam," ujar beliau.

Mendengar instruksi itu, beberapa peserta tampak ragu-ragu. Karena sudah percaya kepada pelatih, kami mencoba mengikuti arahan tersebut. Satu per satu peserta berusaha menurunkan tubuh ke dalam air. Anehnya, beberapa detik kemudian mereka justru muncul kembali ke permukaan.

"Pak Gun, saya tidak bisa duduk di lantai kolam!" ucap salah satu peserta.

Belum sempat Pak Gun menjawab. Bu Aci yang berada di dekatnya langsung berseru sambil tertawa.

"Saya juga, Pak! Mau duduk malah badan ini muncul sendiri!"

“Nich, tubuh saya terangkat ke atas juga!” kata bu Wahyu.

Suasana kolam seketika dipenuhi gelak tawa. Pak Gun ikut tersenyum lalu berkata dengan suara yang tenang,

"Naaaah, inilah yang ingin saya tunjukkan. Tidak ada kata tenggelam. Bu Ibu... yubuh manusia sebenarnya memiliki daya apung. Air akan membantu kita naik ke permukaan." ucap pak Gun.

Kami mendengarkan dengan saksama. "Yang sering membuat orang tenggelam justru rasa takut, panik, dan tidak percaya diri. Saat panik, tubuh menjadi tegang sehingga gerakan menjadi tidak teratur."

Kalimat sederhana itu terasa menancap dalam hati saya. Selama ini, sebelum mengikuti terapi renang, saya memiliki keyakinan bahwa saya termasuk orang yang tidak bisa mengapung. Bahkan saya pernah mendengar istilah yang populer di masyarakat, yaitu "gaya batu."

Konon katanya ada orang yang begitu masuk air langsung tenggelam seperti batu. Saya pun dulu percaya pada teori tersebut. Namun sore ini keyakinan  saya mulai runtuh. Faktanya, ketika mencoba duduk di dasar kolam, tubuh saya justru terdorong naik ke atas. Air tidak serta-merta menarik saya ke bawah seperti yang selama ini saya bayangkan.

Saya mulai menyadari bahwa banyak ketakutan dalam hidup sebenarnya muncul karena prasangka dan asumsi yang belum tentu benar. Bukankah demikian pula dalam kehidupan sehari-hari? Sering kali kita merasa tidak mampu sebelum mencoba. Kita merasa akan gagal sebelum melangkah. Kita merasa akan jatuh sebelum berjalan. Padahal Allah Subhanahu Wata’alla telah memberikan banyak kemampuan yang mungkin belum kita sadari.

Dalam Al-Qur'an, Allah Subhanahu Wata’alla mengingatkan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Allah Subhanahu Wata’alla memberikan akal, hati, dan berbagai potensi agar manusia mampu menjalani kehidupan dengan baik.

Terapi renang sore ini seolah menjadi pengingat bahwa pertolongan Allah Subhanahu Wata’alla sering hadir dalam bentuk yang tidak kita sangka. Air yang selama ini saya takuti ternyata dapat menjadi sahabat.

Kolam yang dulu membuat trauma kini menjadi tempat belajar. Ketakutan yang dulu membelenggu perlahan berubah menjadi keberanian. Saya teringat pengalaman beberapa bulan lalu ketika pertama kali mengikuti terapi renang. Saat itu rasa takut masih sangat besar. Bayangan pernah tenggelam membuat saya selalu waspada. Jangankan berenang, masuk ke kolam saja sudah membuat jantung berdebar.

Pak Gun dengan sabar membimbing setiap langkah. Sedikit demi sedikit rasa takut berkurang. Saya belajar mengenali air, belajar mengendalikan napas, belajar mengapung, dan belajar percaya pada kemampuan diri sendiri.

Kini saya memahami bahwa proses belajar memang membutuhkan waktu. Tidak ada keberhasilan yang datang secara instan. Bim Salabim, kata-kata dari pak Gun yang sering saya dengar. Semua membutuhkan kesabaran, latihan, dan ketekunan.

Sama seperti seorang mukmin yang berusaha memperbaiki diri. Ia tidak langsung menjadi sempurna. Ia belajar sedikit demi sedikit. Kadang jatuh, kadang salah, kadang gagal. Selama mau bangkit dan terus berusaha, Allah Subhanahu Wata’alla akan menunjukkan jalan kemudahan.

Di sela-sela tawa peserta yang mencoba duduk di dasar kolam tetapi terus muncul ke permukaan, saya merasakan kebahagiaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Ternyata belajar tidak harus selalu tegang. Belajar bisa dilakukan dengan gembira. Belajar bisa diselingi canda. Belajar bisa menghadirkan persaudaraan.

Di kolam renang saya tidak hanya mendapatkan ilmu tentang teknik berenang. Saya juga memperoleh teman-teman baru, pengalaman baru, serta pandangan baru tentang kehidupan. Ada yang datang dengan rasa takut seperti saya. Ada yang datang untuk menjaga kesehatan. Ada pula yang sekadar ingin menambah keterampilan. Pada akhirnya kami semua dipersatukan oleh semangat untuk terus belajar dan semangat sehat.

Menjelang akhir sesi, saya memandang permukaan air yang berkilau terkena sinar matahari sore. Hati saya bersyukur kepada Allah Subhanahu Wata’alla atas nikmat kesehatan, kesempatan belajar, dan pertemuan dengan orang-orang baik yang mau berbagi ilmu.

Jangan mudah percaya pada ketakutan yang belum teruji kebenarannya.

Jangan buru-buru menyerah sebelum mencoba.

Dan jangan pernah merasa sendirian menghadapi kesulitan.

Sebagaimana tubuh yang diciptakan Allah Subhanahu Wata’alla memiliki kemampuan untuk mengapung di air, setiap manusia juga telah dibekali kemampuan untuk bangkit dari berbagai persoalan hidup. Selama masih ada ikhtiar, doa, dan tawakal kepada Allah Subhanahu Wata’alla, tidak ada alasan untuk berputus asa.

Karena sebagaimana pesan Pak Gun yang terus terngiang di telinga saya yaitu

"Tidak ada kata tenggelam, Bu Ibu."

Kalimat sederhana tersebut ternyata bukan hanya berlaku di kolam renang, tetapi juga dalam perjalanan kehidupan. Selama kita berpegang kepada Allah Subhanahu Wata’alla, terus berusaha, dan tidak menyerah pada rasa takut, insyaallah kita akan selalu menemukan jalan untuk kembali muncul ke permukaan, bangkit untuk menyongsong masa depan.

Cepu, 1 Juni 2026

Kutemukan Gula dan Garam di Kolam


Karya: Gutamining Saida

Minggu sore salah satu waktu yang selalu saya nantikan. Di saat sebagian orang memilih beristirahat di rumah menikmati suasana santai bersama keluarga. Saya bersemangat menuju kolam renang untuk mengikuti terapi bersama Pak Gun. Menurut sebagian orang, kegiatan ini mungkin hanya dianggap sebagai latihan renang biasa. Bagi saya, setiap pertemuan selalu menghadirkan pelajaran hidup yang berharga. Tidak hanya tubuh yang bergerak dan berlatih, tetapi pikiran dan hati juga diajak untuk belajar memahami makna kehidupan.

Pak Gun bukan hanya seorang pelatih renang. Beliau memiliki kebiasaan menyisipkan nasihat sederhana di sela-sela praktik. Nasihat itu disampaikan dengan bahasa yang ringan, penuh humor, tetapi mengandung makna mendalam. Siapa saja yang mau mendengarkan dan merenungkannya akan menemukan banyak pelajaran yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sore itu suasana kolam cukup ramai. Beberapa peserta sedang berlatih meluncur, sebagian lainnya mencoba berbagai gaya renang yang telah diajarkan sebelumnya. Setelah latihan beberapa saat, Pak Gun mengumpulkan peserta dan mulai berbicara.

"Ibu-ibu pasti sudah tahu yang namanya gula, garam, dan micin atau sasa," kata beliau sambil tersenyum.

Semua peserta mengangguk.

"Warnanya sama-sama putih, tetapi rasanya berbeda." lanjut pak Gun.

Peserta kembali mengangguk setuju.

"Kalau ingin tahu mana yang manis, mana yang asin, dan mana yang gurih, caranya bagaimana?" imbuh pak Gun.

"Diincip, Pak!" jawab beberapa peserta hampir bersamaan.

Pak Gun tersenyum lebar.

"Nah, benar. Jangan sampai membuat wedang malah pakai garam. Bukannya manis, nanti malah membuat kaget yang minum."

Mendengar kalimat itu, peserta langsung tertawa. Suasana menjadi cair dan penuh keakraban.

Setelah tawa mereda, saya mulai merenungkan perkataan tersebut. Memang benar, gula, garam, dan micin memiliki warna yang sama. Jika hanya dilihat dari luar, mungkin sulit dibedakan. Tetapi ketika dicicipi, perbedaannya langsung terasa.

Begitu pula dengan kehidupan manusia. Tidak semua yang tampak baik dari luar benar-benar baik di dalam. Tidak semua yang terlihat sederhana ternyata tidak berharga. Allah Subhanahu Wata'alla mengajarkan manusia untuk tidak hanya melihat penampilan luar, tetapi juga memahami hakikat dan isi yang sesungguhnya.

Di kehidupan sehari-hari, sering kali kita menilai sesuatu hanya berdasarkan pandangan mata. Padahal Allah Subhanahu Wata'alla lebih melihat hati, niat, dan amal seseorang. Ada orang yang tampil sederhana tetapi memiliki akhlak mulia. Ada pula yang terlihat hebat, tetapi ternyata kurang mampu menjaga sikap dan perilakunya.

Setelah jeda sejenak, Pak Gun melanjutkan nasihatnya.

"Sama seperti renang. Kalau ingin tahu teknik mana yang nyaman, gaya mana yang cocok, ya harus dicoba. Kalau tidak pernah praktik, mana tahu enaknya gaya dada, gaya bebas, atau gaya punggung!"

Semua peserta kembali mengangguk.

"Termasuk rasa air kolam," tambah beliau.

Spontan seluruh peserta tertawa lebih keras.

"Hayooo, yang tertawa pasti pernah minum kolam!" ujar pak Gun.

Kalimat sederhana itu ternyata mengandung pelajaran yang sangat dalam. Banyak orang ingin berhasil, tetapi tidak mau mencoba. Banyak yang ingin pandai, tetapi takut berlatih. Bahkan ada yang ingin mencapai tujuan besar, tetapi enggan memulai langkah pertama.

Ilmu tidak cukup hanya dibaca atau didengar. Ilmu harus diamalkan. Pengetahuan yang tidak dipraktikkan ibarat benih yang tidak pernah ditanam. Ia tidak akan tumbuh dan menghasilkan manfaat. Dalam ajaran Islam, menuntut ilmu memiliki kedudukan yang sangat mulia. Namun kemuliaan ilmu akan semakin sempurna ketika ilmu tersebut diamalkan. Rasulullah, mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang belajar dan mengajarkan ilmu. Artinya, ilmu harus hidup dalam tindakan nyata.

Di kolam renang, saya melihat sendiri bagaimana teori dan praktik saling melengkapi. Ketika pertama kali belajar, saya merasa takut terhadap air. Trauma masa lalu membuat saya ragu untuk mencoba. Bahkan berada di tengah kolam saja sudah membuat jantung berdebar.

Kini, perlahan, dengan bimbingan Pak Gun dan dukungan teman-teman, rasa takut itu mulai berkurang. Saya belajar meluncur, belajar mengatur napas, belajar mengapung, hingga mencoba berbagai teknik renang. Hasilnya memang belum seberapa, tetapi ada perkembangan yang saya rasakan.

Pengalaman tersebut mengingatkan saya bahwa Allah Subhanahu Wata'alla menciptakan manusia untuk terus belajar sepanjang hayat. Kesalahan bukan alasan untuk berhenti. Kegagalan bukan tanda akhir perjalanan. Justru dari kesalahan dan kegagalan itulah manusia memperoleh pengalaman yang berharga.

Nasihat tentang gula, garam, dan micin dengan kehidupan spiritual. Ketiganya sama-sama putih, tetapi memiliki fungsi berbeda. Demikian pula manusia. Allah Subhanahu Wata'alla menciptakan setiap orang dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Ada yang pandai berbicara, ada yang pandai bekerja. Ada yang ahli mengajar, ada yang ahli berdagang. Ada yang mampu memimpin, ada yang lebih nyaman menjadi pelaksana. Semua memiliki peran yang berbeda, namun semuanya penting.

Jika gula memaksakan diri menjadi garam, tentu tidak akan tepat. Jika garam ingin menjadi micin, hasilnya juga tidak sesuai. Begitu pula manusia. Kebahagiaan sering kali muncul ketika seseorang mampu mengenali potensi dirinya dan mensyukurinya.

Di penghujung latihan sore itu, saya pulang membawa tubuh yang lelah tetapi hati yang bahagia. Saya sadar bahwa kolam renang bukan sekadar tempat berolahraga. Di sana terdapat banyak pelajaran kehidupan yang bisa dipetik.

Dari gula, saya belajar tentang manisnya syukur. Dari garam, saya belajar bahwa kehadiran yang sederhana sering kali memberi rasa dalam kehidupan. Dari micin, saya belajar bahwa setiap unsur memiliki fungsi yang berbeda-beda.

Dari air kolam, saya belajar tentang keberanian menghadapi ketakutan. Dari praktik renang, saya belajar bahwa keberhasilan membutuhkan usaha dan latihan. Dari Pak Gun, saya belajar bahwa ilmu bisa disampaikan dengan cara yang sederhana, menyenangkan, dan mudah dipahami.

Minggu sore Allah Subhanahu menghadirkan hikmah yang luar biasa. Tugas manusia adalah membuka hati, mendengarkan dengan penuh perhatian, kemudian merenungkan dan mengamalkannya. Sebab ilmu yang paling berharga bukanlah ilmu yang hanya disimpan dalam pikiran, melainkan ilmu yang mampu mengubah perilaku menjadi lebih baik dan mendekatkan diri kepada Allah.

Alhamdulillah, Semoga setiap langkah, setiap gerakan, dan setiap ilmu yang diperoleh menjadi jalan menuju kesehatan, kebahagiaan, serta keberkahan hidup di dunia dan akhirat. Sukses selalu teman-temaan. Sehat selalu buat guru saya bapak Hari Gunawan.

Cepu, 1 Juni 2026

Minggu, 31 Mei 2026

Kunci Kejujuran



Karya: Gutamining Saida 
Air sering kali menjadi guru yang diam. Ia tidak banyak bicara, tidak memberikan nasihat panjang lebar, tetapi mampu menunjukkan keadaan seseorang dengan cara yang unik. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia dapat menyembunyikan banyak hal. Senyum bisa menutupi kesedihan, kata-kata bisa menyamarkan kenyataan, bahkan argumentasi yang panjang dapat digunakan untuk membenarkan sesuatu yang sebenarnya kurang tepat.

Saat berada di dalam air, terutama ketika belajar renang, banyak hal yang sulit disembunyikan. Di tepi kolam renang, suasana terlihat tenang. Cahaya matahari mulai menyinari permukaan air yang berkilauan. Beberapa peserta terapi renang sudah berkumpul. Mereka melakukan pemanasan sambil menunggu arahan dari Pak Gun, pelatih yang sering  menyisipkan nilai-nilai kehidupan.

Setelah pemanasan para peserta melakukan latihan meluncur. Satu per satu masuk ke dalam kolam. Ada yang meluncur lurus dengan baik, tetapi ada pula yang tubuhnya bergerak ke kanan atau serong ke kiri. Sebagian peserta menganggap hal itu sekadar masalah teknik biasa. Pak Gun memperhatikan dengan saksama. Setelah semua selesai mencoba, beliau memberikan penjelasan.
 
"Ibu-ibu kenapa ada yang meluncurnya lurus dan ada yang serong?" tanya Pak Gun.
Berbagai jawaban muncul.
"Mungkin posisi tangan kurang pas, pak."
"Bisa jadi karena kaki tidak rapat."
"Ada yang kurang fokus."
Pak Gun tersenyum lalu mengangguk.
"Semua jawaban ibu-ibu benar. Tetapi ada satu hal lagi yang sering terlupakan, yaitu kondisi hati dan pikiran."
Para peserta saling memandang dan tertawa. Mereka penasaran dengan penjelasan tersebut. Pak Gun melanjutkan, "Saat hati sedang resah, gelisah, banyak pikiran, atau galau, sering kali tubuh ikut memberikan respons. Ketika meluncur, gerakan menjadi tidak seimbang. Tubuh cenderung condong ke kanan atau ke kiri. Sebaliknya, ketika hati tenang dan pikiran siap, arah meluncur lebih mudah lurus."
Ucapan itu membuat suasana  menjadi hening. Banyak peserta mulai memikirkan pengalaman mereka sendiri.

Dalam pandangan agama, hati memang memiliki peran yang sangat besar. Rasulullah, pernah menjelaskan bahwa dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, rusaklah seluruh tubuh. Segumpal daging itu adalah hati. Hati yang tenang akan memengaruhi cara berpikir, berbicara, bertindak, bahkan memengaruhi gerakan tubuh. Tidak heran jika seseorang yang sedang banyak beban pikiran terlihat berbeda dibandingkan saat dirinya sedang bahagia.

Di kolam renang, keadaan itu menjadi lebih nyata. Air seakan menjadi cerminan kejujuran. Ia menunjukkan apa adanya tanpa rekayasa. Dalam kehidupan sosial, manusia sering pandai menyusun kata-kata. Ketika melakukan kesalahan, terkadang seseorang berusaha mencari pembenaran. Lidah dapat bergerak lincah seperti pesilat yang memainkan jurus-jurusnya. Argumentasi dibuat sedemikian rupa agar orang lain percaya.

Ada yang mampu berbicara panjang lebar untuk menutupi kekurangan. Ada yang pandai mencari alasan agar terlihat benar. Bahkan terkadang seseorang berhasil meyakinkan banyak orang melalui kata-kata yang indah.

Di hadapan Allah, tidak ada satu pun yang dapat disembunyikan. Allah Subhanahu Wata'alla  mengetahui apa yang tampak dan apa yang tersembunyi. Allah Subhanahu Wata'alla mengetahui isi hati manusia bahkan sebelum manusia mengucapkannya. Oleh sebab itu, kejujuran menjadi salah satu kunci utama dalam kehidupan.

Pak Gun kemudian mengajak ibu-ibu kembali ke dalam kolam. "Kali ini sebelum meluncur, pejamkan mata sejenak. Tarik napas perlahan. Niatkan olahraga ini sebagai bentuk syukur kepada Allah karena masih diberi kesehatan. Hilangkan prasangka buruk, hilangkan kemarahan, hilangkan kegelisahan. Serahkan semuanya kepada Allah."

Ibu-ibu mengikuti arahan tersebut. Beberapa saat kemudian mereka mencoba meluncur kembali. Ajaibnya, banyak yang merasakan perubahan. Tubuh terasa lebih ringan. Gerakan menjadi lebih rileks. Arah meluncur pun lebih lurus dibanding sebelumnya.
Seorang ibu berkata, "Pak, ternyata benar. Saat hati saya lebih tenang, rasanya badan juga lebih mudah dikendalikan."

Pak Gun tersenyum. "Itulah pentingnya ketenangan hati. Renang bukan hanya melatih otot, tetapi juga melatih kejujuran terhadap diri sendiri." Perkataan itu sangat dalam maknanya. Kejujuran ternyata bukan hanya tentang berkata benar kepada orang lain. Kejujuran juga berarti berani mengakui keadaan diri sendiri.

Jika sedang sedih, akuilah bahwa diri sedang sedih.
Jika sedang lelah, akuilah bahwa diri sedang lelah.
Jika melakukan kesalahan, akuilah kesalahan itu dan berusahalah memperbaikinya.
Sikap jujur kepada diri sendiri akan membuka jalan menuju ketenangan. Sebaliknya, kebiasaan menutupi kenyataan hanya akan menambah beban dalam hati.

Allah  Subhanahu Wata'alla berfirman bahwa dengan mengingat-Nya, hati akan menjadi tenteram. Ketenteraman itulah yang menjadi sumber keseimbangan hidup. Orang yang dekat dengan Allah tidak berarti bebas dari masalah, tetapi ia memiliki tempat bersandar ketika masalah datang. Air kolam  seolah memberikan pelajaran berharga. Meluncur lurus bukan sekadar persoalan teknik. Ia menjadi simbol perjalanan hidup manusia. Untuk mencapai tujuan yang benar, diperlukan keseimbangan antara hati, pikiran, dan tindakan.

Jika hati dipenuhi kejujuran, pikiran dipenuhi prasangka baik, dan langkah selalu disertai doa, maka perjalanan hidup akan lebih terarah. Mungkin tidak selalu mulus, tetapi tetap berada pada jalur yang benar. Ketika latihan selesai, para peserta keluar dari kolam dengan wajah cerah. Mereka bukan hanya mendapatkan manfaat kesehatan, tetapi juga memperoleh hikmah yang mendalam.

Hari ini belajar bahwa air tidak pernah pandai berbohong. Air memperlihatkan apa adanya. Dan dari kolam renang sederhana itu, mereka memahami satu pelajaran penting yaitu ketenangan hati adalah anugerah yang sangat berharga, sedangkan kejujuran adalah jalan yang mengantarkan manusia menuju ketenangan tersebut. Siapa yang mampu menjaga hatinya tetap jujur di hadapan Allah, maka ia akan lebih mudah meluncur lurus dalam menjalani perjalanan kehidupan di dunia maupun menuju kehidupan yang abadi di akhirat. Aamiin
Cepu, 1 Juni 2026

Sabtu, 30 Mei 2026

Purnawiyata Esmega


Karya: Gutamining Saida 

Hari Sabtu tanggal 30 Mei 2026 menjadi hari yang istimewa bagi keluarga besar Esmega. Sejak pagi, suasana di Gedung Soos Cepu tampak berbeda dari biasanya. Gedung yang menjadi saksi berbagai kegiatan masyarakat itu dipenuhi oleh para siswa, orang tua, guru, tamu undangan, serta berbagai pihak yang turut memberikan dukungan bagi kemajuan pendidikan. Mereka hadir dalam acara Tasyakuran Purnawiyata Murid, sebuah momentum penuh makna sebagai ungkapan syukur atas selesainya perjalanan belajar para siswa di jenjang sekolah menengah pertama.

Langit pagi yang cerah seolah ikut menyambut kebahagiaan hari itu. Para siswa mengenakan pakaian terbaik mereka. Wajah-wajah ceria terpancar dari para lulusan yang sebentar lagi akan melanjutkan perjalanan menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Para orang tua pun tampak bangga melihat putra-putri mereka berhasil menyelesaikan salah satu tahapan penting dalam kehidupan.

Acara ini bukan sekadar seremoni kelulusan. Lebih dari itu, tasyakuran merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wata'alla atas nikmat ilmu, kesehatan, kesempatan belajar, serta keberhasilan yang telah diraih bersama. Tidak semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan dengan baik. Karena itu, setiap keberhasilan layak disambut dengan rasa syukur yang mendalam.

Acara dimulai dengan penuh khidmat. Lantunan ayat suci Al-Qur'an menggema di dalam gedung, menghadirkan suasana yang menenangkan hati. Ayat-ayat Allah yang dibacakan oleh Naila kelas 7H menjadi pengingat bahwa ilmu merupakan cahaya yang diberikan kepada manusia agar mampu membedakan antara yang benar dan yang salah. Pendidikan sejatinya bukan hanya tentang nilai rapor dan ijazah, tetapi juga tentang membentuk akhlak, karakter, dan keimanan.

Setelah rangkaian pembukaan, berbagai penampilan mulai dipersembahkan. Gedung Soos Cepu yang megah semakin hidup dengan beragam kreativitas para siswa. Setiap penampilan mendapat sambutan hangat dari hadirin yang memenuhi ruangan.

Salah satu yang menarik perhatian adalah penampilan dongeng. Dengan penuh percaya diri, Jassen  siswa kelas 7H membawakan cerita yang mengandung pesan moral dan nilai kehidupan. Mereka mampu menghidupkan suasana melalui ekspresi, intonasi suara, serta penghayatan yang memukau. Dari dongeng tersebut terselip pelajaran bahwa kebaikan akan membawa manfaat, sedangkan keburukan pada akhirnya akan merugikan diri sendiri.

Tak kalah menarik adalah penampilan vokal suara yang menggema indah di seluruh ruangan. Nada demi nada mengalun merdu, menunjukkan hasil latihan yang sungguh-sungguh. Mendengar suara mereka, saya teringat bahwa setiap manusia memiliki kelebihan yang berbeda-beda. Ada yang pandai bernyanyi, ada yang ahli berbicara, ada yang berbakat dalam bidang olahraga, seni, maupun akademik. Semua bakat itu adalah amanah dari Allah subhanahu Wata'alla yang harus dijaga dan dikembangkan dengan baik.

Penampilan pantomim oleh Faza dan Andhika yang menjadi juara satu tingkat kabupaten Blora. Mereka juga berhasil mengundang kekaguman para hadirin. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, para siswa mampu menyampaikan pesan melalui gerakan tubuh dan ekspresi wajah. Kreativitas mereka menunjukkan bahwa komunikasi tidak selalu harus menggunakan kata-kata. Kadang-kadang sebuah tindakan nyata lebih bermakna daripada ribuan nasihat yang diucapkan.

Suasana semakin semarak ketika kelompok musik tampil di atas panggung. Alunan nada yang harmonis membuat para penonton menikmati setiap detiknya. Para siswa membuktikan bahwa mereka tidak hanya mampu belajar di dalam kelas, tetapi juga mampu mengembangkan bakat seni yang dimiliki.

Yang tidak kalah membanggakan adalah penampilan gamelan tradisional. Denting saron, kenong, gong, dan berbagai alat musik tradisional lainnya berpadu menghasilkan irama yang indah dan menenangkan. Penampilan ini menjadi bukti bahwa generasi muda masih mencintai budaya bangsa. Di tengah derasnya arus modernisasi, mereka tetap menjaga dan melestarikan warisan leluhur. Penampilan dengan dipadu wayang krucil. 

Saat menyaksikan gamelan dimainkan dengan penuh penghayatan, saya merasakan kebanggaan tersendiri. Budaya adalah identitas bangsa. Menjaga budaya berarti menjaga jati diri. Dalam pandangan religius, melestarikan budaya yang baik juga merupakan bentuk rasa syukur atas karunia Allah berupa kekayaan tradisi dan peradaban yang diwariskan oleh para pendahulu.

Selain berbagai penampilan seni, acara juga menjadi ajang apresiasi bagi para siswa berprestasi. Nama-nama siswa yang berhasil meraih juara akademik, non akademik. Tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan setiap kali nama mereka dipanggil.

Momen tersebut bukan hanya membanggakan bagi siswa yang menerima penghargaan, tetapi juga bagi orang tua, guru, dan sekolah. Di balik sebuah prestasi terdapat perjuangan panjang, latihan yang tidak mudah, pengorbanan waktu, serta doa yang terus dipanjatkan.

Saya melihat beberapa orang tua tampak terharu ketika putra-putri mereka naik ke atas panggung menerima penghargaan. Mungkin mereka teringat perjalanan panjang sejak mengantar anak pertama kali masuk sekolah hingga kini berhasil menyelesaikan pendidikan dengan berbagai prestasi yang membanggakan.

Acara ini juga mengajarkan bahwa prestasi bukanlah tujuan akhir. Prestasi hanyalah salah satu sarana untuk meningkatkan kualitas diri dan memberikan manfaat bagi orang lain. Yang lebih penting adalah bagaimana ilmu dan kemampuan yang dimiliki digunakan untuk kebaikan.

Di tengah kemeriahan acara, bahwa perjalanan hidup para lulusan masih sangat panjang. Purnawiyata bukanlah garis akhir, melainkan gerbang menuju perjalanan baru yang lebih menantang. Mereka akan melanjutkan pendidikan, bertemu lingkungan baru, menghadapi berbagai tantangan, dan belajar menjadi pribadi yang lebih dewasa.

Sebagai pendidik, saya berharap mereka tidak hanya membawa ilmu pengetahuan yang diperoleh selama belajar di sekolah, tetapi juga membawa nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, disiplin, hormat kepada orang tua, serta semangat untuk terus belajar sepanjang hayat.

Acara tasyakuran hari itu berakhir dengan penuh kebahagiaan. Senyum, tawa, foto bersama, dan ucapan selamat menjadi penutup yang indah. Di balik semua kemegahan yang terlihat, ada satu hal yang paling penting, yaitu rasa syukur kepada Allah.

Segala prestasi, bakat, kemampuan, dan keberhasilan yang ditampilkan pada hari itu sejatinya adalah karunia-Nya. Manusia hanya berusaha, sedangkan Allah yang memberikan jalan, kesempatan, dan hasil terbaik.

Alhamdulillah, Tasyakuran Purnawiyata Murid Esmega di Gedung Soos Cepu berlangsung dengan luar biasa. Acara yang megah itu tidak hanya menampilkan berbagai kebolehan dan prestasi siswa, tetapi juga menjadi pengingat bahwa pendidikan adalah jalan untuk membentuk generasi yang berilmu, berakhlak, mencintai budaya, serta senantiasa bersyukur kepada Allah dalam setiap langkah kehidupannya. Semoga para lulusan Esmega menjadi generasi yang sukses di dunia, bermanfaat bagi sesama, dan memperoleh kebahagiaan.

Cepu, 30 Mei 2026

Sepak Terjang Langkah Kakiku



Karya: Gutamining Saida

Setiap manusia memiliki jalan hidup yang berbeda-beda. Ada yang menempuh perjalanan penuh kemudahan. Ada pula yang harus melewati berbagai tikungan, tanjakan, dan ujian yang menguatkan jiwa. Begitu pula dengan perjalanan hidup saya di dunia pendidikan. Sebuah perjalanan panjang yang tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan. Tetapi juga mengajarkan makna kesabaran, keikhlasan, pengabdian, dan ketundukan kepada Allah Subhanahu Wata'alla.

Perjalanan itu dimulai ketika saya mengabdi di SMAN 2 Cepu. Saat itu, semangat muda masih menyala dalam dada. Saya datang dengan membawa harapan besar untuk menjadi bagian dari upaya mencerdaskan generasi bangsa. Menjadi seorang pendidik bukan sekadar pekerjaan untuk mencari nafkah, melainkan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Setiap hari saya belajar memahami karakter siswa yang beragam, menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah, serta berusaha memberikan yang terbaik dalam setiap proses pembelajaran.

Dari SMAN 2 Cepu, perjalanan berlanjut sebagai guru bantu di SMPN 1 Cepu. Masa itu menjadi salah satu fase penting dalam kehidupan saya. Sebagai guru bantu, tentu ada berbagai keterbatasan yang harus diterima. Keterbatasan tidak pernah menghalangi semangat untuk terus mengabdi. Saya belajar bahwa penghargaan terbesar seorang guru bukanlah materi yang berupa gaji.  Ketika saya melihat siswa mampu memahami pelajaran, memiliki akhlak yang baik, dan tumbuh menjadi pribadi yang berguna bagi masyarakat.

Setelah itu, saya mendapatkan kesempatan mengajar di SMPN 2 Kedungtuban. Lingkungan baru menghadirkan tantangan baru. Saya harus kembali beradaptasi dengan budaya sekolah, rekan kerja, serta karakter peserta didik yang berbeda. Di tempat ini, saya semakin memahami bahwa menjadi guru berarti harus siap belajar sepanjang hayat. Setiap siswa membawa cerita dan keunikannya masing-masing. Dari mereka, saya belajar tentang kesederhanaan, semangat, dan harapan.

Perjalanan pengabdian kemudian membawa saya ke SMPN 3 Jiken. Di sana saya harus mencari tambahan jam mengajar. Di sekolah ini, banyak pengalaman berharga yang saya peroleh. Ada suka dan duka yang datang silih berganti. Kadang saya merasa bahagia ketika melihat keberhasilan siswa dalam belajar. Ada pula saat-saat yang menguji kesabaran ketika menghadapi berbagai permasalahan pendidikan. Semua itu menjadi bagian dari proses pendewasaan diri.

Saya menyadari bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Sebagai seorang guru, terkadang saya harus menerima kenyataan yang tidak sesuai harapan. Justru dalam kondisi seperti itulah saya belajar tentang makna tawakal. Allah Subhanahu Wata'alla mengajarkan bahwa tugas manusia adalah berikhtiar sebaik mungkin. Sedangkan hasil akhirnya merupakan hak prerogatif-Nya. Kesadaran ini membuat hati menjadi lebih tenang dan lebih mudah menerima setiap ketentuan yang diberikan.

Pengabdian saya kemudian berlanjut di SMPN 1 Kedungtuban. Di sekolah ini, banyak kenangan indah yang sulit dilupakan. Kebersamaan dengan rekan kerja, interaksi dengan siswa, serta berbagai kegiatan sekolah menjadi warna tersendiri dalam perjalanan hidup saya. Saya merasakan bahwa sekolah bukan hanya tempat bekerja, melainkan juga keluarga besar yang saling mendukung dan menguatkan.

Di sinilah saya semakin memahami bahwa ilmu yang paling penting bukan hanya ilmu yang diajarkan di dalam kelas, tetapi juga ilmu kehidupan. Saya belajar menghargai perbedaan, menjaga silaturahmi, serta membangun kerja sama yang baik dengan berbagai pihak. Saya menyaksikan bagaimana waktu terus berjalan. Siswa datang dan pergi. Mereka lulus dan melanjutkan perjalanan hidup masing-masing. Sebagian masih mengingat dan menyapa ketika bertemu. Bagi seorang guru, hal itu merupakan kebahagiaan yang tidak ternilai harganya.

Kini, menjelang masa purnatugas, saya mendapatkan amanah untuk mengabdi di SMPN 3 Cepu. Sekolah ini menjadi tempat persinggahan terakhir dalam perjalanan panjang sebagai seorang pendidik. Saat menoleh ke belakang, begitu banyak kenangan yang terlintas dalam ingatan. Ada tawa yang pernah menghiasi hari-hari di sekolah. Ada air mata yang pernah jatuh saat menghadapi berbagai ujian kehidupan. Ada keberhasilan yang patut disyukuri, dan ada pula kegagalan yang menjadi pelajaran berharga.

Semua pengalaman itu membentuk diri saya menjadi pribadi yang lebih matang. Saya menyadari bahwa hidup bukanlah tentang seberapa tinggi jabatan yang diraih atau seberapa banyak penghargaan yang diperoleh. Hidup adalah tentang bagaimana setiap langkah mampu mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Semakin bertambah usia, semakin saya memahami bahwa dunia hanyalah tempat singgah sementara. Jabatan, pangkat, dan kedudukan pada akhirnya akan ditinggalkan. Yang tersisa hanyalah amal kebaikan yang pernah dilakukan.

Dunia pendidikan telah mengajarkan banyak hal kepada saya. Mengajarkan arti kesabaran saat menghadapi siswa yang beragam karakter. Mengajarkan arti keikhlasan ketika usaha yang dilakukan belum membuahkan hasil sesuai harapan. Mengajarkan arti syukur ketika menyaksikan keberhasilan anak didik. Mengajarkan arti ketabahan saat menghadapi berbagai cobaan dan tantangan.

Semua pengalaman itu membuat saya semakin merunduk. Semakin banyak ilmu dan pengalaman yang diperoleh, semakin saya menyadari betapa sedikit pengetahuan yang saya miliki dibandingkan luasnya ilmu Allah. Kesadaran tersebut menumbuhkan kerendahan hati dan keinginan untuk terus belajar hingga akhir hayat.

Kini, di penghujung perjalanan karier sebagai pendidik, saya hanya mampu mengucapkan hamdalah. Segala puji bagi Allah Subhanahu Wata'alla yang telah memberikan kesehatan, kesempatan, dan kekuatan sehingga saya dapat menjalani pengabdian di dunia pendidikan selama bertahun-tahun. Tidak ada satu pun keberhasilan yang terjadi tanpa pertolongan-Nya. Tidak ada satu pun langkah yang dapat ditempuh tanpa izin-Nya.

Saya berharap setiap ilmu yang pernah saya sampaikan menjadi amal jariyah yang terus mengalir. Semoga setiap huruf yang diajarkan, setiap nasihat yang diberikan, dan setiap kebaikan yang ditanamkan kepada peserta didik menjadi bekal ketika kelak menghadap Sang Pencipta. Sebab pada akhirnya, perjalanan hidup manusia akan bermuara pada satu tujuan, yaitu kembali kepada Allah Subhanahu Wata'alla.

Dunia pendidikan telah menjadi ladang pengabdian sekaligus ladang pembelajaran bagi diri saya. Dari satu sekolah ke sekolah lainnya, dari satu pengalaman ke pengalaman berikutnya, saya belajar bahwa kehidupan adalah proses panjang untuk memperbaiki diri. Semoga langkah-langkah yang pernah terukir di dunia pendidikan menjadi saksi bahwa saya pernah berusaha memberikan manfaat bagi sesama.  Semoga Allah menerima setiap amal yang dilakukan dengan penuh ridha dan kasih sayang-Nya. Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Cepu, 30 Mei 2026

Minggu, 24 Mei 2026

Sapaan pak Gun

Karya: Gutamining saida
Saat membuka layar telepon genggam, saya melihat sebuah pesan masuk dari Pak Gun. Sapaan sederhana, tetapi terasa istimewa. Diawali dengan salam yang penuh doa. Kemudian disusul sebuah video sore kemarin. Hati saya langsung terasa hangat. Bukan sekadar video biasa. Satu bentuk motivasi  sekaligus pengingat. Tujuan pak Gun, agar saya menjaga kesehatan dan belajar melawan rasa takut.

Saya tersenyum saat melihat vidio. Kita bertahan hidup bukan hanya obat-obatan. Tetapi perhatian dan kepedulian dari sesama. Islam mengajarkan bahwa salam adalah doa. Saat seseorang mengucapkan salam, sesungguhnya ia sedang mendoakan keselamatan, rahmat, dan keberkahan bagi saudaranya. Pagi itu saya merasa mendapatkan energi baru. 

Beberapa bulan terakhir, hidup saya mengalami perubahan. Berawal dari rasa takut terhadap air. Trauma itu masih jelas tersimpan di ingatan. Saya pernah tenggelam di kolam.  Saya tidak memiliki ilmu renang. Peristiwa itu membuat hati  ciut setiap melihat kolam. Air bagi sebagian orang menjadi tempat bermain dan olahraga.

Allah menghadirkan jalan yang tidak sulit. Berdiri di pinggir kolam saja rasanya sudah penuh perjuangan. Kaki terasa berat melangkah, napas menjadi tidak tenang, dan pikiran dipenuhi keraguan. Pak Gun selalu memberi semangat dengan sabar.

Beliau tidak hanya mengajarkan teknik renang, melainkan juga menanamkan ketenangan hati. Saya masih ingat nasihat beliau.  Tubuh harus rileks, pikiran harus tenang, dan hati jangan dipenuhi ketakutan. Air tidak selalu menjadi musuh. Tubuh dapat menyatu dengan air secara alami.

Saya mulai latihan, berjalan di kolam, mengatur gerak tangan, kaki, hingga belajar mengapung. Setiap gerakan kecil terasa seperti kemenangan besar. Saya ingat bahwa Allah tidak akan membebani hamba-Nya di luar kemampuan.

Setelah berjalan beberapa bulan, saya merasakan perkembangan yang luar biasa. Walaupun hasilnya belum maksimal. Kini perubahan dalam diri sudah sangat terasa. Dulu takut mendekati kolam, sekarang sudah berani masuk dan praktik gerakan. Dulu tubuh terasa tegang, kini perlahan lebih lentur dan nyaman bergerak di air.

Yang paling saya syukuri bukan hanya kemampuan renangnya, melainkan perubahan hati dan kesehatan. Saya merasa lebih bahagia. Ada rasa senang yang sulit dijelaskan ketika berhasil melakukan gerakan kecil. Tubuh terasa lebih segar dan sehat. Gerak renang melatih pernapasan, melenturkan otot, dan membuat pikiran lebih rileks.

Air diciptakan Allah ternyata bukan hanya untuk diminum atau kebutuhan hidup. Ia menjadi sarana terapi dan kesehatan. Betapa luas nikmat Allah yang kadang tidak kita sadari. Rasa takut yang dahulu saya anggap beban, perlahan berubah menjadi jalan pembelajaran diri.

Saya belajar bahwa manusia harus ikhtiar menjaga kesehatan. Sehat adalah nikmat yang mahal. Orang baru menyadari berharganya kesehatan setelah sakit datang. Terapi renang menjadi salah satu bentuk syukur saya kepada Allah atas tubuh yang masih diberi kemampuan bergerak.

Setiap selesai latihan, hati terasa damai. Pikiran yang penat seperti ikut larut bersama gerakan air. Saya merasa lebih dekat dengan rasa sabar dan syukur. Saya membayangkan, seandainya saya memilih terus tenggelam dalam trauma, mungkin saya tidak akan pernah merasakan kebahagiaan seperti sekarang.

Saya semakin yakin bahwa setiap kesulitan pasti ada jalan keluar. Trauma bisa perlahan sembuh jika dibarengi niat, usaha, doa, dan dukungan dari orang-orang baik. Saya percaya Allah Subhanahu Wata'alla tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang mau berusaha.

Terapi renang ini bukan hanya membuat tubuh lebih sehat,.Ia membuat hati lebih hidup. Saya belajar berani, belajar percaya diri, belajar bersyukur, dan belajar menikmati proses sedikit demi sedikit. Walaupun belum sempurna, saya tetap bersyukur atas setiap perkembangan yang ada. Menurut pak Gun, semua ini perlu proses bukan bim salabim.

Semoga Allah selalu memberikan kesehatan kepada Pak Gun yang telah sabar membimbing dan menebarkan semangat kebaikan. Semoga ilmu yang diberikan menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya. Semoga saya tetap istiqamah menjaga kesehatan, melatih diri, serta terus mendekatkan hati kepada Allah Subhanahu Wata'alla dalam setiap langkah kehidupan.
Cepu, 25 Mei 2026

Rabu, 20 Mei 2026

Dua Foto


Karya : Gutamining Saida

Siang suasana matahari memancarkan cahaya hangatnya menyentuh dedaunan yang bergerak pelan tertiup angin. Di tengah kesibukan masing-masing, sebuah notifikasi muncul dari grup WhatsApp "muda swimming". Nama Pak Gun tampak muncul di layar. Sosok pelatih renang yang selama ini dikenal bukan hanya mengajarkan gerakan tubuh di air. Beliau sering menyisipkan pengetahuan renang, nasihat kehidupan.

Tanpa banyak tulisan panjang, beliau langsung mengirim dua foto. Foto pertama memperlihatkan posisi tubuh terlentang di atas air. Wajah menghadap ke langit, badan mengapung dengan tenang mengikuti gerakan air kolam. Air tampak begitu damai, seolah mengajarkan bahwa manusia kadang perlu berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia untuk menenangkan hati.

Di bawah foto itu, Pak Gun menuliskan komentar singkat tentang keseimbangan hati, perasaan, dan pikiran. Kalimat sederhana, tetapi mampu membuat banyak anggota grup diam merenung. Posisi terlentang dengan pandangan ke atas ternyata bukan hanya soal teknik berenang. Ada makna yang lebih dalam. Saat wajah menatap langit, manusia seakan diingatkan untuk melihat kebesaran Allah. Langit luas tanpa tiang, awan berjalan teratur, cahaya matahari datang tepat waktunya. Semua bergerak atas kuasa Sang Pencipta.

Dalam kehidupan, hati manusia sering tidak seimbang. Kadang pikiran terlalu penuh dengan urusan dunia. Perasaan dipenuhi kecewa, marah, takut, atau iri. Akibatnya hidup terasa berat. Padahal, seperti tubuh yang harus seimbang agar bisa mengapung di air, hati manusia juga perlu keseimbangan agar tidak tenggelam dalam masalah kehidupan.

Renang ternyata bukan sekadar olahraga fisik. Air mengajarkan ketenangan. Tubuh yang terlalu tegang justru sulit mengapung. Semakin panik, tubuh semakin mudah tenggelam. Begitu pula hidup manusia. Ketika hati terlalu dipenuhi kecemasan, semuanya terasa gelap. Saat manusia berserah diri kepada Allah, hati menjadi lebih ringan seperti tubuh yang mengapung di permukaan air.

Foto kedua pun tak kalah menarik. Posisi tubuh menghadap ke bawah. Kepala masuk ke air dengan tenang. Pak Gun memberi komentar bahwa keadaan seperti itu membuat hati damai dan tidak membutuhkan obat penenang.

Kalimat itu langsung memancing balasan dari Bu Hermin. Dengan gaya bercanda beliau menulis bahwa kalau minum obat penenang malah bisa ketiduran di kolam, paaak. Grup WhatsApp pun terasa hangat. Candaan sederhana itu membuat suasana hidup. Pak Gun membalas dengan emoji tersenyum disertai tulisan, “he he nggih.”

Meski terlihat sederhana dan lucu, percakapan itu sebenarnya menyimpan hikmah yang mendalam. Banyak manusia hari ini mencari ketenangan dengan berbagai cara. Ada yang mencari hiburan berlebihan, ada yang sibuk mengejar kesenangan dunia, bahkan ada yang bergantung pada obat penenang karena hati terlalu lelah menghadapi tekanan hidup. Padahal ketenangan sejati tidak selalu datang dari obat. Ketenangan paling dalam lahir dari hati yang dekat kepada Allah.

Saat tubuh berada di dalam air, suara dunia terasa samar. Gerakan menjadi pelan. Nafas diatur dengan hati-hati. Semua itu seperti latihan untuk belajar hening. Dalam keheningan itulah manusia sering lebih mudah mendengar suara hati sendiri.

Air juga mengingatkan manusia tentang asal kehidupan. Allah menciptakan segala sesuatu dari air. Air menjadi sumber kehidupan bagi tumbuhan, hewan, dan manusia. Ketika seseorang berada di dalam air dengan penuh kesadaran, sebenarnya ia sedang belajar tentang kelembutan ciptaan Allah.

Pak Gun mungkin hanya mengirim dua foto sederhana. Bagi kita yang mau berpikir, dua foto itu seperti pelajaran kehidupan. Posisi terlentang mengajarkan tawakal. Pandangan ke atas mengingatkan manusia agar tidak lupa berdoa dan berharap hanya kepada Allah. Sedangkan posisi menghadap ke bawah mengajarkan ketenangan dan kerendahan hati. Manusia diingatkan bahwa sehebat apa pun dirinya, tetaplah makhluk kecil di hadapan Sang Pencipta.

Kadang Allah menghadirkan pelajaran hidup bukan melalui ceramah panjang di mimbar, tetapi lewat percakapan ringan di grup WhatsApp, lewat olahraga, lewat canda sederhana, bahkan lewat gerakan tubuh di kolam renang. Orang yang hatinya peka akan mampu mengambil hikmah dari mana saja.

Belajar tenang di air ternyata bisa menjadi latihan tenang dalam menghadapi kehidupan. Ketika tubuh rileks di kolam, hati pun perlahan belajar ikhlas. Ketika nafas diatur dengan baik, pikiran menjadi lebih jernih. Ketika wajah menatap langit saat mengapung, manusia diingatkan bahwa pertolongan Allah selalu ada di atas sana.

Renang bukan hanya tentang menggerakkan tangan dan kaki. Ada latihan kesabaran, keberanian, keseimbangan, dan ketenangan jiwa. Bercanda pun bisa menjadi ibadah jika menghadirkan kebahagiaan tanpa menyakiti orang lain. Candaan Bu Hermin dan balasan santai Pak Gun membuat grup terasa hangat penuh persaudaraan.

Begitulah indahnya kebersamaan dalam jalan kebaikan. Saling mengingatkan tanpa menggurui, saling menyemangati tanpa merendahkan. Dari kolam renang, mereka bukan hanya belajar sehat jasmani, tetapi juga belajar menyehatkan hati.

Dua foto sederhana berubah menjadi nasihat kehidupan. Air kolam seakan menjadi cermin bagi hati manusia. Bahwa hidup perlu keseimbangan, perlu ketenangan, dan yang paling penting perlu kedekatan dengan Allah agar jiwa tidak mudah tenggelam oleh gelombang dunia.

Cepu, 21 Mei 2026

Kamis, 14 Mei 2026

Jalan-jalan pagi

Karya : Gutamining Saida 

Jumat pagi menyapa dengan kehangatan. Libur nasional seolah menjadi peluit panjang. Waktu yang menandakan saat istirahat telah tiba. Angin segar pagi membisikkan undangan, rasa sayang bila terlewatkan. Ajakan untuk keluar rumah, menggerakkan badan, dan menghirup oksigen bersih. Harapan  menggebu-gebu, membayangkan ritme langkah kaki santai yang akan memecah keheningan pagi. Rencana awal mengajak sang anak tercinta.  Apa daya, rasa malas dia  kambuh dengan sukses. Dia menyisakan gelengan kepala. Dia menolak halus yang seketika membuat rencana saya sedikit goyah.

Di titik inilah, pertempuran batin mulai berkecamuk. Ada sebersit keraguan yang menyergap dada. Berjalan sendirian menyusuri rute jalanan kadang terasa aneh. Rasa minder tiba-tiba muncul bagai kabut tipis. Saya membayangkan orang yang berpapasan dan bertanya-tanya. Saya berjalan tanpa kawan di hari libur.  Ego dan keinginan untuk sehat segera berontak keras. Pagi terlalu indah untuk dilewatkan hanya dengan rebahan di rumah. Tekad pun dibulatkan. Membangun kepercayaan diri memang bukan hal yang mudah. Ia harus dimulai dari satu langkah dengan keberanian. Saya sambil mengikat tali sepatu dengan mantap. Saya meyakinkan diri sendiri.

Hati ini berusaha tegar berangkat sendiri. Jemari rupanya memiliki kehendak lain. Naluri untuk berbagi momen tetap meronta. Sambil merapikan pakaian, kuambil gawai dan mulai membuka aplikasi whatshap. Satu demi satu, nama-nama saya berikan sapaan. Mengirimkan pesan berisi ajakan spontan. Menit demi menit berlalu, layar ponsel tak kunjung memunculkan balasan. Menunggu jawaban di era digital kadang memang menguji kesabaran. Ada pesan yang hanya terkirim dengan centang satu, ada yang centang dua namun tak kunjung berubah biru. Semangat saya sama sekali tak surut. Kaki terus melangkah mendekati pintu rumah. Saya bersiap menembus pagi.

Sebuah nada dering singkat memecah kesunyian. Layar ponsel menyala, menampilkan pesan balasan. Ternyata dari Bu Wiwik. Tanpa membuang waktu satu detik pun, jemariku langsung menari lincah membalas pesannya.

"Ayo jalan-jalan di Nglajo!" chats saya cepat.

Tak berselang lama, Bu Wiwik membalas dengan sebuah pertanyaan.

"Njenengan dengan Mbak Faiz?"

"Tidak..., sendirian. Saya cari teman nih ceritanya," balas saya jujur. 

"Saya mau bersihkan gudang, Bu," tulisnya.

"Ooh, ya sudah," balas saya singkat.

Seolah semesta sedang senang menulis skenario kejutan, tak sampai beberapa menit berselang, ponsel ini kembali bergetar. Nama Bu Wiwik kembali muncul di layar. Kali ini, pesannya membawa angin segar.

"Jalan-jalan di embung ya, nanti saya temani," tulisnya.

"Ya , saya berangkat sekarang," balas saya dengan semangat 

"Motor taruh di rumah saya aja," tambahnya lagi.

 "Ya," jawab saya mengakhiri percakapan.

Di luar dugaan, ternyata rentetan kejutan pagi ini belum benar-benar usai. Melalui obrolan chat lanjutan.  Bu Wiwik sedang mengajak Bu Isna untuk ikut bergabung. Saya awalnya bersiap sendirian menepis rasa sepi.  Kini rombongan menjadi sebuah trio (Saida, Wiwik, Isna). Trio melangkah putar embung untuk ikhtiar sehat.

Cepu, 15 Mei 2026




Sabtu, 09 Mei 2026

Panggung Uji Nyali

 


Karya: Gutamining Saida

Setiap kali kaki ini melangkah masuk area kolam renang, ada semacam energi baru yang meresap ke dalam dada. Air yang tenang seolah menawarkan lembaran pelajaran baru yang siap untuk dituliskan dalam catatan perjalanan hidup. Usia rasanya hanyalah deretan angka ketika semangat untuk menaklukkan ketakutan dan belajar hal baru terus menyala terang. Di sinilah, bersama rekan-rekan yang tergabung dalam semangat kebersamaan, rasa gentar terhadap air perlahan luntur, berganti dengan semangat yang tak pernah padam.

Suasana di sekitar kolam selalu menyimpan kesegaran. Permukaan air bagaikan panggung tempat kami menguji nyali. Para siswa penuh semangat, sang pelatih yang berdedikasi tinggi, semuanya larut dalam harmoni proses belajar yang tak kenal lelah.

Sosok yang kami hormati dan senantiasa kami sapa dengan panggilan yang terdiri dari enam huruf yaitu "PAK GUN". Beliau bukan sekadar pelatih, melainkan seorang pembimbing, motivator kami. 

Kami mulai konsentrasi. Suara gemercik air beradu dengan dinding kolam menjadi musik latar yang mengiringi instruksi Pak Gun.

"Silakan semuanya berdiri berjajar di pinggir kolam, rapatkan barisan!" serunya dengan suara lantang yang memecah riuhnya suasana.

Kami segera mengatur posisi membentuk satu garis lurus yang rapi, berdiri di dalam air sambil menghadap lurus ke arah beliau. Tubuh kami yang separuhnya sudah terendam air merasakan sensasi dingin yang menyegarkan. Instruksi selanjutnya terdengar sederhana, sebuah teknik dasar yang esensial.

"Semua menenggelamkan tubuh perlahan ke dalam air," instruksi Pak Gun memecah keheningan sesaat, "kemudian, saat muncul kembali ke permukaan, ucapkan hitungan dengan suara yang jelas!" Namun, ada satu syarat khusus ya.

"Saat muncul di permukaan, pastikan mata kalian tetap terbuka! Ingat, telapak tangan tidak boleh digunakan untuk mengusap air yang menempel di wajah. Biarkan air itu turun dengan sendirinya!" ucap pak Gun.

Sebuah ilmu yang secara teori terdengar sangat sederhana. Hanya menenggelamkan diri, lalu muncul sambil membuka mata dan menghitung. Kenyataan di lapangan sungguh berbeda. Refleks manusiawi, segera memejamkan mata rapat-rapat saat air menyentuh wajah, dan tangan secara otomatis akan bergerak mengusap mata setelah kepala menembus permukaan. 

Satu... Dua... Tiga... Suara hitungan terdengar bersahutan saat kepala-kepala mulai bermunculan dari air. Pemandangan yang tercipta mengundang senyum. Ada saja yang belum sesuai instruksi. Beberapa tangan tanpa sadar langsung bergerak cepat mengusap wajah yang basah kuyup. Beberapa yang lain muncul ke permukaan dengan mata yang masih terpejam rapat, menahan rasa tidak nyaman atau sekadar menuruti insting. Pak Gun mengamati setiap gerakan kami dengan saksama, tersenyum kecil melihat tingkah polah siswanya yang tengah berjuang melawan refleks alami.

Melihat banyaknya gerakan yang belum sempurna, Pak Gun tiba-tiba menghentikan latihan sejenak. Suasana menjadi hening, hanya tersisa suara napas kami yang sedikit terengah dan bunyi kepakan air yang perlahan mereda.

"Ibu-ibu..." panggil beliau 

"Ada yang tahu apa sebenarnya fungsi dari alis dan bulu mata kita?"

Pak Gun mulai memberikan penjelasan. Beliau menjabarkan bahwa Allah SSubhanahu Wata'alla menciptakan  alis dan bulu mata, ada manfaat dan fungsinya . Dari sudut pandang agama, tidak ada satupun ciptaan-Nya yang sia-sia. Alis diciptakan melengkung di atas pelipis bertugas bagaikan talang alami, menahan tetesan keringat atau guyuran air dari dahi agar tidak langsung mengalir deras menembus mata. Begitu pula dengan bulu mata, yang difungsikan layaknya tirai pelindung dari air dan debu. Memastikan mata tetap bisa berkedip dan melihat dengan jelas. 

"Itulah mengapa ibu-ibu tidak perlu panik dan buru-buru mengusap wajah," tambah Pak Gun "Percayakan pada desain sempurna yang telah Allah Subhanahu Wata'alla berikan pada raga kita. Bersyukurlah atas keberadaan alis dan bulu mata. 

Pak Gun kembali menyuruh kami mengulang gerakan tersebut berulang kali. Ajaibnya, kali ini perbedaannya sangat terasa. Saat tubuh kembali ditenggelamkan dan memecah permukaan air untuk bangkit, tangan-tangan ini menjadi jauh lebih tenang dan bisa ditahan untuk tidak menyentuh wajah. Mata kami berusaha keras untuk menatap lurus ke depan dengan kelopak yang terbuka, membiarkan butiran air mengalir secara alami mengikuti jalur yang telah diciptakan Sang Maha Kuasa melewati rintangan alis dan bulu mata. Hitungan demi hitungan diteriakkan dengan lebih lantang, lebih lepas, dan penuh keyakinan.

Kisah-kisah di kolam tidak akan kami biarkan menguap begitu saja, akan rangkai dan abadikan sebagai jejak langkah yang kelak bisa dibaca, dinikmati, dan direnungkan oleh anak, saudara, hingga cucu di masa depan. Sebuah warisan cerita tentang keberanian, rasa syukur, dan semangat belajar yang tak pernah mengenal kata usai. Aamiin

Cepu, 9 Mei 2026

Angkuk-angkuk en


Karya: Gutamining Saida
Di tepi kolam, kami berkumpul dengan satu tujuan yaitu ikhtiar sehat. Ada yang masih muda, ada yang sudah lanjut usia, ada yang sudah pandai berenang, dan ada pula yang masih takut pada air. Di tempat itu kami seperti keluarga yang saling menguatkan.

Di tengah suasana santai itu, muncul satu istilah khas Jawa yang membuat sore terasa lebih hidup, yaitu “angkuk-angkuk en.” Sebagai orang Jawa, istilah itu tentu tidak asing di telinga. Menurut pemahaman saya, angkuk-angkuk en memiliki makna hampir sama dengan ragu-ragu, maju mundur, tidak mantap melangkah karena hati masih penuh keraguan.

Istilah itu muncul saat latihan terjun ke kolam dipandu oleh Pak Gun. Beliau dikenal sabar membimbing. Wajahnya tenang, tetapi penuh semangat. Sore itu beliau memberikan teori sekaligus praktik bagaimana cara terjun ke kolam dengan benar.

“Kita belajar pelan-pelan. Jangan takut air,” ucap beliau sambil tersenyum.
Kami semua diminta berdiri berjajar di bibir kolam. Satu per satu harus mencoba terjun. Sebagian siswa tampak percaya diri, tetapi sebagian lagi terlihat tegang. Ada yang memegang pinggir kolam erat-erat seperti takut kehilangan pegangan hidup.

Pak Gun lalu memberi contoh terlebih dahulu. Beliau berdiri tegap di bibir kolam. Kaki mencengkeram kuat di pinggir kolam. Badan membungkuk. Kedua tangan lurus sejajar, jempol dikunci rapat. Setelah itu beliau meluncur masuk ke air dengan indah dan tenang. Byuuur...

Air terbelah rapi tanpa percikan berlebihan. “Begitu caranya,” kata beliau sambil tersenyum.
Kami semua bertepuk tangan kecil. Ternyata sesuatu yang terlihat mudah sering kali membutuhkan keberanian dan keyakinan. Giliran peserta pertama maju. Ia tampak siap. Ketika sudah berdiri di bibir kolam, mendadak tubuhnya berhenti. Kakinya maju sedikit lalu mundur lagi. Membungkuk sebentar lalu berdiri lagi. Tangannya sudah lurus lalu turun kembali. Pak Gun langsung tertawa kecil.

“Nah, itu namanya angkuk-angkuk en,” katanya.
Semua siswa langsung tertawa. Akhirnya memberanikan diri terjun. Cebuuuur... Air muncrat ke mana-mana. Posisi tubuh kurang sempurna karena tadi terlalu lama ragu-ragu. Kontan terdengar suara kompak tanpa aba-aba. “Geeeeer...” Tawa pecah di pinggir kolam. Yang tadi tegang ikut tertawa. Suasana menjadi cair dan hangat. Tidak ada ejekan yang menyakitkan. Yang ada hanya kebersamaan dan kegembiraan.

Pak Gun geleng-geleng kepala sambil tersenyum. “Jangan angkuk-angkuk en ya. Kalau ragu-ragu malah tidak sempurna,” ujar beliau.
Kata itu menempel pada kita . Bukan hanya tentang terjun ke kolam, tetapi juga tentang kehidupan. Bukankah manusia sering angkuk-angkuk en dalam menjalani hidup?
Kadang ingin berbuat baik tetapi masih ragu. Ingin sedekah takut miskin. Ingin meminta maaf gengsi. Ingin memulai hidup sehat malas. Ingin mendekat kepada Allah Subhanahu Wata'alla tetapi masih menunda-nunda.

Keraguan sering membuat langkah menjadi tidak sempurna. Saya memandangi air kolam yang bergelombang kecil. Belajar berenang bukan hanya melatih tubuh, tetapi juga melatih hati. Air mengajarkan keberanian. Air mengajarkan ketenangan. Air juga mengajarkan tawakal.

Saat seseorang terjun ke air, ada keberanian untuk melepaskan rasa takut. Setelah tubuh masuk ke air, barulah ia belajar menyesuaikan diri dan percaya bahwa tubuhnya mampu mengapung jika tidak panik.
Kehidupan manusia kadang Allah membawa kita masuk ke dalam keadaan yang tidak nyaman agar kita belajar percaya kepada-Nya. Jika terlalu banyak takut, hati menjadi berat. Jika yakin bahwa Allah selalu bersama hamba-Nya, langkah terasa lebih ringan.

Ada yang berkata tertawa itu sehat. Wajah-wajah yang awalnya tegang berubah cerah. Bahkan siswa  yang tadi salah posisi tidak malu. Ia justru ikut tertawa paling keras. Di situlah indahnya kebersamaan.
Yang takut diberi semangat. Yang jatuh ditolong. Yang ragu diyakinkan.

Saya jadi teringat bahwa dalam agama pun diajarkan pentingnya saling menguatkan dalam kebaikan. Hidup tidak bisa dijalani sendiri. Manusia membutuhkan saudara, teman, dan guru yang mengingatkan.
Pak Gun sore itu bukan sekadar pelatih. Beliau guru kehidupan. Beliau mengajarkan bahwa keraguan berlebihan hanya membuat seseorang sulit maju.

“Jangan angkuk-angkuk en.” Kalimat itu terus terngiang di kepala saya. Dalam melaksanakan ibadah  manusia jangan angkuk-angkuk en. Ketika adzan berkumandang, segeralah shalat. Ketika punya kesempatan berbuat baik, lakukan. Ketika masih diberi kesehatan, gunakan untuk bersyukur dan menjaga amanah tubuh.

Hidup di dunia sebenarnya seperti berdiri di bibir kolam. Kita tidak tahu seberapa dalam air di depan kita. Kita harus yakin bahwa Allah Subhanahu Wata'alla tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang mau berusaha. Sore ini saya mendapat istilah baru, keberanian menjalani hidup tanpa terlalu banyak angkuk-angkuk en. Sampai jumpa. Barokallah ilmunya pak Gun.
Cepu, 9 Mei 2026