Karya : Gutamining Saida
Hari Jum'at saya melangkah menuju kelas 7F dengan perasaan berbeda. Di tangan saya ada setumpuk kartu sederhana yang sudah saya siapkan sejak malam sebelumnya. Kartu-kartu itu bukan kartu biasa, melainkan media pembelajaran yang saya beri nama “Domino IPS”. Saya membuatnya sendiri di kartu Domino yang saya beli kemudian diberi tulisan sesuai materi IPS. Sederhana memang, tetapi penuh harapan.
Sebagai guru IPS, saya sering berpikir bagaimana caranya agar materi tidak terasa berat di kepala siswa. IPS sering dianggap hafalan tentang istilah, konsep, nama tokoh, peristiwa, dan berbagai istilah ekonomi, sejarah, sosiologi atau geografi. Padahal jika dikemas dengan cara yang tepat, IPS bisa sangat menyenangkan. Saya teringat pengalaman ketika menggunakan kartu domino untuk materi nasionalisme di kelas lain, dan siswa terlihat jauh lebih hidup. Dari situlah ide Domino IPS untuk 7F semakin matang.
Sebelum pelajaran dimulai, saya menjelaskan aturan permainan. Siswa saya bagi menjadi kelompok yang masing-masing berjumlah empat orang. Mereka bebas memilih anggota kelompok. Boleh campuran laki-laki dan perempuan, boleh juga sesama perempuan atau sesama laki-laki. Kebebasan ini membuat suasana awal kelas riuh rendah. Ada yang langsung berlari menghampiri sahabatnya, ada yang masih ragu mencari anggota, ada pula yang ditarik-tarik oleh temannya agar bergabung.
Setelah terbentuk delapan kelompok, saya mengeluarkan delapan set Domino IPS yang berbeda model. Setiap set berisi pasangan kata yang harus dicocokkan. Misalnya, satu kartu bertuliskan “Sumber Daya Alam” dan kartu pasangannya “Pertanian, Perikanan, Hutan”. Ada juga “Bahan tambang” dengan pasangannya “Emas, Batu bara, Minyak, Nikel”. Untuk materi geografi, ada “Indonesia” yang harus dipasangkan dengan “Kekayaan alam melimpah”. Semua sudah saya sesuaikan dengan materi yang sedang mereka pelajari.
Saya menjelaskan bahwa mereka harus menyusun kartu seperti bermain domino. Kartu harus saling berhubungan antara satu sisi dengan sisi lainnya. Tidak boleh asal menempel. Jika salah mencocokkan, rangkaian akan terhenti. Di sinilah kerja sama dan ketelitian diuji.
Begitu saya berkata, “Mulai!”, kelas langsung berubah menjadi arena kompetisi kecil yang seru. Setiap kelompok membagi tugas. Ada yang membaca kartu dengan suara keras, ada yang mencatat, ada yang langsung mencari pasangan. Beberapa siswa terlihat serius menekuni setiap kata. Ada yang berdebat kecil, “Ini cocoknya ke sini, bukan ke situ!” Yang lain menyanggah, “Bukan, definisinya beda.”
Saya tersenyum melihat dinamika itu. Tanpa mereka sadari, mereka sedang mengulang materi. Mereka membaca berulang-ulang istilah dan pengertiannya. Mereka berdiskusi, mengoreksi, dan saling meyakinkan. Tidak ada wajah mengantuk. Tidak ada yang sekadar menatap kosong ke papan tulis. Semua terlibat.
Karena ada delapan kelompok, saya memang menyiapkan delapan model Domino IPS yang berbeda. Ketika satu kelompok selesai, mereka boleh menukar dengan set milik kelompok lain. Aturan ini membuat permainan semakin menantang. Tidak cukup hanya memahami satu set; mereka harus siap menghadapi variasi soal lainnya.
Kelompok pertama yang selesai langsung bersorak kecil, “Bu, sudah!” Saya mengecek susunannya dengan teliti. Ada satu pasangan yang kurang tepat. Mereka sempat kecewa, tetapi justru semakin semangat memperbaiki. Di sisi lain, kelompok lain mulai menyusul. Suara kelas semakin riuh, tetapi riuh yang produktif.
Agar motivasi mereka semakin tinggi, sejak awal saya memang mengumumkan bahwa permainan ini dilombakan. Saya akan mengambil tiga kelompok tercepat dengan susunan paling tepat sebagai pemenang. Mendengar kata “lomba”, mata mereka berbinar. Ada energi berbeda yang terasa.
Beberapa kelompok tampak sangat kompak. Mereka duduk melingkar, kartu diletakkan di tengah, semua anggota aktif. Tidak ada yang diam saja. Ada juga kelompok yang awalnya kurang solid. Satu anak terlihat dominan, sementara yang lain hanya memperhatikan. Saya mendekat dan memberi arahan, “Semua harus terlibat, ya. Ini kerja tim.”
Perlahan mereka mulai berbagi peran. Anak yang tadinya diam mulai berani membaca kartu. Yang biasanya kurang percaya diri, kini ikut menyumbang pendapat. Saya merasa inilah tujuan pembelajaran sesungguhnya yaitu bukan hanya memahami materi, tetapi juga belajar bekerja sama, menghargai pendapat, dan mengatur strategi.
Setelah waktu hampir habis, tiga kelompok berhasil menyelesaikan delapan set domino dengan waktu tercepat dan hasil paling tepat. Saya umumkan pemenangnya. Kelas langsung bertepuk tangan. Wajah-wajah ceria terpancar. Tidak ada hadiah besar, hanya apresiasi dan nilai tambahan. Tetapi bagi mereka, pengakuan itu sudah sangat membahagiakan.
Sebelum pelajaran berakhir, saya melakukan refleksi singkat. Saya bertanya, “Lebih mudah memahami materi dengan cara ini atau hanya membaca buku?” Hampir semua menjawab serempak, “Main domino, Bu!” Beberapa bahkan meminta agar permainan seperti ini diadakan lagi.
Saya bersyukur. Media sederhana dari kartu Domino ternyata mampu mengubah suasana belajar. Domino IPS bukan sekadar permainan. Ia menjadi jembatan antara konsep dan pemahaman, antara teori dan pengalaman. Anak-anak belajar tanpa merasa sedang belajar.
Sebagai guru, kebahagiaan saya sederhana. Melihat siswa bersemangat, saling bekerja sama, dan memahami materi dengan cara yang menyenangkan sudah lebih dari cukup. Kelas 7F bukan hanya belajar IPS, tetapi juga belajar tentang kekompakan, strategi, dan sportivitas.
Saya perasaan lega. Lelah memang, karena harus mengawasi delapan kelompok sekaligus. Lelah itu terbayar lunas oleh suara tawa dan semangat mereka. Domino IPS buatan tangan saya mampu mengubah suasana bahagia. Semoga menginspirasi dan bermanfaat. Selamat mencoba.
Cepu, 16 Pebruari 2026

