gutaminingsaida SMPN 3 CEPU
Senin, 20 Juli 2026
Kesan Hari Pertama
Minggu, 19 Juli 2026
Akar Pohon
Karya: Gutamining Saida
Di sela-sela menikmati keindahan alam, saya sering memiliki kebiasaan sederhana, yaitu memperhatikan hal-hal kecil yang mungkin luput dari pandangan banyak orang. Ada yang sibuk memotret bunga karena keindahannya, ada yang mengabadikan langit senja karena warnanya yang memikat. Kali ini perhatian saya justru tertuju pada sesuatu yang jarang menjadi objek foto, yaitu akar sebuah pohon.
Bagi sebagian orang, akar hanyalah bagian pohon yang tersembunyi di dalam tanah. Ia tidak berbunga, tidak berbuah, bahkan tidak memberikan keindahan yang mencolok seperti daun yang hijau atau batang yang menjulang tinggi. Akan tetapi, ketika saya menemukan sebuah pohon dengan akar yang menjalar di permukaan tanah, saya seakan diajak berhenti untuk berpikir.
Akar itu tampak begitu unik. Ada yang besar, ada yang kecil. Sebagiannya menjulur ke kanan, sebagian lagi ke kiri. Ada yang melengkung seperti tangan yang sedang merangkul bumi. Ada pula yang tampak kokoh seolah menjadi tiang penyangga batang pohon. Yang membuat saya semakin kagum, akar pohon itu tidak lagi berada di dalam tanah, melainkan muncul ke permukaan dengan bentuk yang tidak beraturan, namun tetap indah dipandang.
Saya pun mengabadikan pemandangan akar pohon. Bukan sekadar untuk koleksi foto, tetapi sebagai pengingat bahwa setiap ciptaan Allah Subhanahu Wata'alla menyimpan hikmah yang luar biasa. Foto itu menjadi pengingat bahwa rasa syukur bisa tumbuh dari sesuatu yang sederhana, selama hati mau melihat dengan mata keimanan.
Mengapa Allah menciptakan akar dengan bentuk yang berbeda-beda? Mengapa ada akar yang tersembunyi, sementara yang lain justru tampak di permukaan? Mengapa ada yang lurus, ada yang berkelok-kelok, bahkan ada yang terlihat saling bertaut?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak harus selalu dijawab dengan pengetahuan ilmiah semata. Justru pertanyaan itu membawa saya bahwa kebesaran Allah Subhanahu Wata'alla tidak pernah terbatas oleh cara berpikir manusia. Setiap bentuk memiliki tujuan. Setiap lekukan memiliki fungsi. Tidak ada satu pun ciptaan-Nya yang sia-sia.
Akar yang menjalar di permukaan mungkin sedang mencari jalan terbaik agar pohon tetap mendapatkan air. Akar yang membesar mungkin sedang memperkuat batang agar mampu bertahan menghadapi angin kencang. Akar yang kecil mungkin sedang tumbuh perlahan menjalankan tugasnya. Semua memiliki peran sesuai dengan ketetapan Allah Subhanahu Wata'alla .
Bukankah kehidupan manusia juga demikian? Tidak semua orang menempuh jalan yang sama. Ada yang kehidupannya tampak lurus dan mudah. Ada yang harus berbelok, berliku, bahkan jatuh bangun sebelum mencapai tujuan. Ada yang memperoleh rezeki dengan cepat, ada pula yang harus berjuang bertahun-tahun. Semua berjalan sesuai takdir yang telah Allah Subhanahu Wata'alla tetapkan.
Akar mengajarkan bahwa kekuatan tidak selalu terlihat. Justru bagian yang paling menentukan kehidupan pohon adalah bagian yang sering terlupakan. Selama akar bekerja dengan baik, pohon akan tetap berdiri tegak, menghasilkan daun yang rindang, bunga yang indah, dan buah yang bermanfaat.
Begitu pula manusia. Keimanan, keikhlasan, kesabaran, dan ketakwaan ibarat akar kehidupan. Mungkin tidak tampak oleh manusia lain, tetapi itulah yang menjadi sumber kekuatan ketika menghadapi berbagai ujian. Orang lain mungkin hanya melihat keberhasilan seseorang, tidak melihat doa-doa panjang, air mata, kesabaran, dan perjuangan yang menjadi akar dari keberhasilan.
Semakin lama saya memandang akar pohon tersebut, semakin saya menyadari bahwa Allah Subhanahu Wata'alla sedang mengajarkan pelajaran melalui alam. Alam adalah kitab bagi siapa saja yang mau membaca. Pepohonan, sungai, gunung, langit, dan seluruh isi bumi senantiasa bertasbih kepada-Nya. Tinggal manusialah yang mau mengambil pelajaran atau justru melewatinya tanpa makna.
Saya bersyukur masih diberi kesempatan untuk memperhatikan hal-hal sederhana seperti ini. Di tengah kesibukan, ternyata Allah masih menghadirkan momen-momen kecil yang mampu menguatkan hati. Tidak perlu menunggu peristiwa besar untuk meningkatkan keimanan. Terkadang, hanya dengan memperhatikan akar pohon, hati sudah dapat merasakan betapa agungnya Sang Pencipta.
Akar yang muncul ke permukaan seolah mengingatkan bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dugaan. Ada kalanya sesuatu yang seharusnya tersembunyi justru tampak jelas. Ada kalanya jalan yang kita anggap aneh ternyata menjadi jalan terbaik. Allah Maha Mengetahui apa yang dibutuhkan setiap makhluk-Nya. Dari sanalah tumbuh rasa kagum, rasa syukur, dan keinginan untuk semakin mengenal Sang Pencipta. Ketika keimanan bertambah karena merenungi ciptaan-Nya, maka sesungguhnya setiap langkah di alam ini telah menjadi bagian dari ibadah dan perjalanan menuju Allah Subhanahu Wata'alla. Semoga kita juga belajar menghargai akar yang diam, bekerja tanpa pujian, tetapi menjadi penopang kehidupan. Aamiin
Cepu, 20 Juli 2026
Jumat, 17 Juli 2026
Hari Spesial
PRASETYO CAHYO NUGROHO
Karya : Gutamining Saida
P : Pemimpin yang bijak tuntun langkah pejuang pengajaran
R : Ramah bersikap tegas mengambil keputusan
A : Amanah mengemban tanggung jawab dunia pengasuhan
S : Senantiasa menginspirasi guru karyawan
E : Energi positif terpancar dalam setiap kebijakan
T : Tulus mengabdi demi masa depan dunia pendidikan
Y : Yakin perubahan besar dimulai dari kebersamaan
O : Optimisme cahaya kuatkan setiap langkah persatuan
C : Cerdas bangun budaya belajar berkeunggulan
A : Adil memberi ruang bagi guru menuju perkembangan
H : Harmoni kau ciptakan atas kepemimpinan
Y : Yang kau utamakan bukan prestasi namun kepribadian
O : Oleh keteladananmu sekolah tumbuh membanggakan
N : Nilai luhur kau jadikan pijakan
U : Unggul berkarya rendah hati dalam pengabdian
G : Guru kau hargai dukung motivasi tuk kesuksesan
R : Rasa kebersamaan kau tumbuhkan
O : Orang tua guru peserta didik bersinergi bangun impian
H : Harapan pendidikan bermutu kini jadi kenyataan
O : Oleh mu semangat
belajar berkarya terus nyalakan
Cepu, 17 Juli 2026
Mendingkan Tubuh, Menyejukkan Hati
Karya: Gutamining Saida
Ada sebuah fenomena sederhana yang terus berputar dalam pikiran saya. Mungkin bagi sebagian orang hal itu biasa saja, tetapi bagi saya menyimpan pelajaran kehidupan yang sangat dalam. Fenomena itu saya alami berkali-kali ketika mengikuti terapi bersama teman-teman di kolam.
Di dalam air, kami bergerak dengan arah yang berbeda. Ada yang sedang meluncur, ada yang berlatih mengambil napas, ada yang sedang belajar mengapung, dan ada pula yang sedang menyempurnakan gerakan kaki. Karena jumlah peserta cukup banyak, sesekali kaki saling beradu, tangan tidak sengaja menyentuh tubuh teman, bahkan terkadang kaki saling bersenggolan.
Anehnya, hampir tidak pernah terdengar suara kemarahan. Yang muncul justru senyum. Bahkan sering kali disusul tawa yang lepas.
"Maaf ya..."
"Iya, tidak apa-apa."
Lalu kami tersenyum, tertawa bersama dan lanjut berenang seolah tidak terjadi apa-apa. Tidak ada wajah memerah karena emosi. Tidak ada mata melotot. Tidak ada kata-kata kasar. Tidak ada keinginan membalas. Yang ada hanyalah saling memahami bahwa semua itu terjadi tanpa disengaja. Saya kemudian bertanya dalam hati, mengapa suasana di kolam bisa sedamai itu? Padahal benturan fisik benar-benar terjadi. Mengapa hati terasa begitu lapang?
Semakin lama kita merenung, semakin kita menemukan bahwa air bukan sekadar tempat berolahraga. Air memiliki sifat yang mengajarkan ketenangan. Air selalu mencari tempat yang rendah. Air tidak pernah sombong. Air mampu membersihkan kotoran. Air juga mampu menyejukkan tubuh yang kepanasan. Tanpa disadari, air ikut mendinginkan hati orang-orang yang berada di dalamnya.
Dalam ajaran Islam, air memiliki kedudukan yang sangat mulia. Air menjadi sarana bersuci melalui wudu maupun mandi. Sebelum menghadap Allah Subhanahu Wata'alla dalam salat, seorang muslim diperintahkan membersihkan anggota tubuhnya dengan air. Bukan hanya badan yang dibersihkan, tetapi hati juga dipersiapkan agar lebih tenang ketika berdiri di hadapan Sang Pencipta.
Rasulullah, mengajarkan ketika seseorang sedang marah, hendaknya ia berwudu. Para ulama menjelaskan bahwa marah diibaratkan berasal dari panasnya godaan setan, sedangkan air mampu memadamkan panas tersebut. Betapa indahnya ajaran Islam. Bahkan sebelum ilmu psikologi modern berkembang, Islam telah mengajarkan cara mengendalikan emosi dengan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata'alla melalui air dan ibadah.
Ketika seseorang membasuh wajahnya, seolah ia sedang mencuci kesombongan. Ketika membasuh tangan, mengingat kita agar tidak mudah menyakiti orang lain. Ketika membasuh kepala, ia diajak menjernihkan pikiran. Ketika membasuh kaki, diingatkan agar melangkah menuju kebaikan.
Air ternyata bukan hanya membersihkan tubuh, tetapi juga mendidik jiwa. Lalu pikiran saya melayang ke tempat lain, yaitu jalan raya. Di sana suasananya sering kali berbeda. Senggolan kecil antara kendaraan bisa berubah menjadi pertengkaran besar. Klakson dibunyikan berkali-kali. Kata-kata kasar terlontar. Wajah berubah merah. Bahkan tidak sedikit yang berakhir dengan perkelahian hanya karena persoalan yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan saling meminta maaf.
Jika direnungkan, banyak kejadian di jalan terjadi karena tidak sengaja. Sama seperti benturan di kolam renang. Bedanya hanyalah cara hati menyikapinya. Di kolam, orang lebih mudah berkata, "Maaf." Di jalan raya, sebagian orang justru lebih cepat berkata, "Salahmu!"
Padahal satu kata maaf sering kali jauh lebih kuat daripada seribu kata pembelaan. Alangkah indahnya jika suasana di jalan raya memiliki semangat seperti suasana di kolam. Ketika tersenggol, masing-masing tersenyum. Ketika terjadi kesalahan, saling memaafkan. Ketika ada kekeliruan, lebih memilih menahan ego daripada mempertahankan amarah.
Bukankah Allah Subhanahu Wata'alla mencintai orang-orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan sesamanya?
Menahan marah bukan berarti lemah. Justru itulah tanda kekuatan sejati. Orang yang mampu mengalahkan emosinya adalah orang yang berhasil mengalahkan dirinya sendiri. Kemenangan terbesar bukanlah ketika mampu mengalahkan orang lain, melainkan ketika mampu mengendalikan hawa nafsu.
Air kolam pun dapat menjadi guru kehidupan. Ia mengajarkan kelembutan, kesabaran, kebersamaan, dan kerendahan hati. Setiap cipratan air seolah mengingatkan bahwa hidup akan jauh lebih damai jika hati tetap sejuk. Setiap senyum teman yang tidak sengaja tersenggol menjadi bukti bahwa memaafkan adalah pilihan yang membahagiakan. Setiap tawa yang terdengar di tengah latihan menjadi isyarat bahwa persaudaraan jauh lebih penting daripada mempertahankan ego.
Semoga kita mampu membawa kesejukan air itu ke mana pun melangkah. Ke rumah, ke sekolah, ke tempat kerja, ke media sosial, hingga ke jalan raya. Jangan biarkan hati menjadi panas hanya karena persoalan kecil. Jika emosi mulai muncul, ingatlah nasihat Rasulullah untuk segera berwudhu. Basuhlah wajah, tangan, kepala, dan kaki. Mohonlah kepada Allah Subhanahu Wata'alla agar hati kembali teduh.
Karena dunia tidak membutuhkan banyak orang yang mudah marah. Dunia membutuhkan lebih banyak hati yang lembut, jiwa yang lapang, dan manusia yang mudah memaafkan. Semoga setiap tetes air yang menyentuh tubuh kita menjadi pengingat agar hati tetap bersih, pikiran tetap jernih, dan akhlak semakin mulia. Aamiin
Cepu, 17 Juli 2026
Selasa, 14 Juli 2026
Lempar Dadu
Karya : Gutamining Saida
Siang hari sering kali menjadi waktu yang tepat untuk beristirahat setelah menjalani berbagai aktivitas. Bagi saya, siang ini saat ada cucu-cucu menjadi kesempatan yang sangat berharga untuk menemaninya. Mereka belajar dengan cara yang menyenangkan. Kami ajak mereka untuk kebersamaan, tawa yang mengalir tanpa henti, dan permainan sederhana yang mampu menghadirkan pembelajaran.
Sehari sebelumnya saya telah menyiapkan media permainan. Dengan semangat saya menggambar pola di atas tiga lembar kertas. Tutup botol yang saya beri angka satu sampai enam. Gambarnya sederhana, dibuat sendiri dengan alat yang tersedia di rumah. Tidak perlu mahal, tidak perlu mewah, melainkan bagaimana media tersebut mampu menghidupkan suasana belajar yang menyenangkan.
Permainan yang kami lakukan menggunakan lemparan dadu. Setiap angka yang muncul menjadi penentu langkah berikutnya. Mereka menunggu giliran melempar dadu. Mata mereka berbinar penuh rasa penasaran. Sesekali terdengar sorak kecil ketika angka yang diharapkan muncul. Terkadang mereka juga tertawa ketika menemukan gambar bulatan satu satu
Suasana rumah pun berubah menjadi arena belajar yang penuh kegembiraan. Tidak ada wajah murung. Yang terdengar hanyalah gelak tawa, canda, dan semangat untuk mencoba lagi. Mereka saling menyemangati, bukan saling menjatuhkan. Ketika salah satu lebih dulu maju, yang lain tetap memberikan tepuk tangan. Ketika ada yang tertinggal, mereka tidak mengejek, melainkan ikut memberi semangat agar tetap melanjutkan permainan.
Mereka belajar persaingan tidak harus melahirkan permusuhan. Mereka belajar bahwa kemenangan akan terasa lebih indah jika diraih dengan cara yang jujur dan sportif. Mereka juga belajar menerima hasil dengan lapang dada, baik ketika menang maupun ketika belum berhasil.
Saya memperhatikan setiap ekspresi mereka. Betapa polosnya wajah-wajah kecil itu ketika tertawa bersama. Tidak sedikit pun tampak keinginan untuk menang sendiri. Mereka menikmati setiap proses permainan. Mereka tetap tersenyum dan kembali berusaha. Anak-anak sebenarnya memiliki kemampuan luar biasa untuk menikmati proses, sesuatu yang kadang justru mulai hilang ketika mereka beranjak dewasa.
Di balik permainan sederhana, tersimpan proses belajar yang alami. Mereka menghitung jumlah titik pada dadu, mengenali angka, menentukan langkah, membandingkan posisi, bahkan tanpa sadar melatih kemampuan berhitung. Semua berlangsung begitu ringan karena dibungkus dalam suasana bermain. Mereka tidak merasa sedang belajar. Otak mereka sedang aktif mengolah berbagai informasi baru.
Ketika suasana penuh kegembiraan, ilmu akan lebih mudah melekat dalam ingatan. Belajar tidak selalu identik dengan duduk diam berjam-jam. Terkadang, pembelajaran terbaik justru hadir melalui permainan yang sederhana, penuh interaksi, dan sarat kasih sayang.
Permainan mengajarkan banyak nilai kehidupan yang tidak ditemukan dalam buku pelajaran. Anak-anak belajar menunggu giliran dengan sabar. Mereka belajar mengendalikan emosi ketika hasil lemparan dadu tidak sesuai harapan. Mereka belajar menghargai orang lain dan menikmati kebersamaan. Nilai-nilai seperti inilah yang kelak akan menjadi bekal dalam kehidupan.
Sebagai nenek, terkadang kita terlalu fokus pada hasil belajar anak. Kita berharap mereka cepat bisa membaca, berhitung. Padahal, yang jauh lebih penting adalah menumbuhkan kecintaan mereka terhadap proses belajar. Anak yang senang belajar akan terus mencari ilmu sepanjang hidupnya.
Anak-anak tidak selalu membutuhkan hadiah mahal atau tempat bermain yang mewah. Mereka lebih membutuhkan kehadiran orang-orang yang mereka cintai. Mereka ingin ditemani, diajak berbicara, didengarkan, dan diajak bermain. Waktu yang saya berikan akan menjadi kenangan yang tersimpan dalam hati mereka hingga dewasa nanti.
Kenangan seperti itulah yang akan menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka. Saat menghadapi berbagai tantangan di masa depan, semoga mereka tetap mengingat bahwa belajar bisa dilakukan dengan gembira, bahwa persaingan tidak harus menghilangkan persaudaraan, dan bahwa kebersamaan adalah hadiah terindah yang tidak dapat dibeli dengan apa pun.
Pendidikan mulai dari rumah yang dipenuhi cinta. Guru pertama seorang anak adalah keluarga, dan media pembelajaran terbaik adalah perhatian yang tulus. Dari sebuah dadu, tiga lembar kertas, dan tawa cucu-cucu tercinta, saya kembali percaya bahwa hal-hal sederhana mampu melahirkan kenangan yang luar biasa.
Mari luangkan waktu untuk bermain bersama anak dan cucu. Tidak harus menunggu momen istimewa, tidak harus memiliki permainan yang mahal. Cukup hadir sepenuh hati, ciptakan suasana yang hangat, dan nikmati setiap detik kebersamaan. Dibalik permainan sederhana, tersimpan pelajaran kehidupan yang akan terus mereka bawa hingga dewasa.
Cepu, 15 Juli 2026
Senin, 13 Juli 2026
Pohon Harapan
Karya : Gutamining Saida
Hari pertama tahun ajaran baru 2026-2027 selalu istimewa. Setelah melewati masa liburan, para siswa kembali memasuki ruang kelas dengan wajah yang beragam. Ada yang tampak penuh semangat karena bertemu teman-teman, ada yang masih malu-malu, ada pula yang penasaran dengan pengalaman belajar yang akan mereka jalani selama satu tahun ke depan.
Di hadapan saya duduk siswa-siswi kelas VIII C. Mereka bukan lagi peserta didik baru yang masih asing dengan lingkungan sekolah. Mereka telah naik satu tingkat, membawa pengalaman, cerita, keberhasilan, sekaligus berbagai tantangan yang pernah mereka hadapi selama duduk di kelas VII. Saya berpikir bahwa hari pertama bukanlah waktu yang tepat untuk langsung membahas materi pelajaran. Ada sesuatu yang jauh lebih penting untuk dilakukan, yaitu mengajak mereka mengenali diri sendiri.
Belajar tidak hanya tentang memahami konsep atau menghafal materi. Belajar berarti memahami siapa diri kita, apa yang menjadi kekuatan kita, apa yang masih perlu diperbaiki, dan ke mana langkah kehidupan akan diarahkan. Dari pemikiran itulah saya mengajak mereka melakukan sebuah refleksi sederhana melalui gambar sebuah pohon.
Saya meminta setiap siswa menggambar sebuah pohon di atas kertas. Bentuknya bebas. Tidak ada contoh yang harus ditiru. Tidak ada ukuran yang harus diikuti. Mereka boleh menggambar pohon besar atau kecil, rindang atau sederhana, lengkap dengan akar, batang, ranting, dan daun sesuai imajinasi masing-masing.
Ketika instruksi saya sampaikan, ruang kelas mendadak menjadi hening. Pensil mulai menari di atas kertas. Beberapa siswa langsung menggambar dengan penuh percaya diri. Ada yang memulai dari batang, ada yang lebih dahulu membuat akar, bahkan ada yang menggambar daun terlebih dahulu sebelum menyempurnakan bagian lainnya. Saya membiarkan mereka menikmati proses itu tanpa intervensi. Sebab setiap pohon adalah cerminan dari cara mereka memandang dirinya sendiri.
Setelah gambar selesai, saya memberikan arahan untuk mengisi setiap bagian pohon dengan makna yang berbeda. Pada bagian akar, saya meminta mereka menuliskan nilai-nilai pribadi yang selama ini mereka miliki. Bukan hanya nilai yang baik, tetapi juga kebiasaan atau sifat yang masih perlu diperbaiki. Saya ingin mereka belajar jujur kepada diri sendiri. Sebab seseorang tidak akan berkembang jika hanya melihat kelebihannya, tetapi menutup mata terhadap kekurangannya.
Beragam jawaban muncul. Ada yang menuliskan jujur, disiplin, sopan, suka menolong, bertanggung jawab, dan rajin beribadah. Ada pula yang dengan berani mengakui masih mudah marah, kurang percaya diri, sering menunda pekerjaan, malas belajar, atau sulit mengatur waktu. Kejujuran mereka menjadi langkah awal untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Selanjutnya, pada bagian batang pohon, mereka menuliskan kelebihan yang dimiliki. Saya ingin mereka menyadari bahwa setiap manusia memiliki potensi yang patut disyukuri. Tidak harus selalu menjadi juara kelas. Ada yang pandai menggambar, suka berolahraga, mudah berteman, pandai berbicara di depan umum, cepat memahami pelajaran, mampu bekerja sama, atau memiliki rasa empati yang tinggi.
Batang pohon menjadi simbol kekuatan yang menopang kehidupan. Begitu pula kelebihan yang dimiliki setiap anak akan menjadi penyangga ketika mereka menghadapi berbagai tantangan di masa depan. Kemudian, pada bagian ranting, saya meminta mereka menuliskan langkah-langkah nyata yang akan dilakukan. Saya sengaja memilih kata "langkah nyata" karena cita-cita tidak akan pernah terwujud tanpa tindakan. Ranting-ranting itu menjadi simbol usaha yang terus berkembang.
Ada yang menulis akan belajar lebih teratur setiap malam, mengurangi bermain gawai, lebih aktif bertanya kepada guru, membantu orang tua di rumah, rajin membaca buku, memperbaiki kedisiplinan, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, hingga berlatih mengendalikan emosi. Kalimat-kalimat sederhana itu menunjukkan bahwa mereka mulai memahami perubahan besar selalu diawali oleh tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Terakhir, pada bagian daun, mereka menuliskan cita-cita dan target yang ingin dicapai. Daun-daun itu seolah menjadi harapan yang menghiasi pohon kehidupan mereka. Berbagai impian tertulis dengan penuh keyakinan. Ada yang bercita-cita menjadi dokter, guru, polisi, tentara, pengusaha, atlet, arsitek, programmer, desainer, hingga ingin membahagiakan kedua orang tua. Ada pula yang menargetkan masuk peringkat sepuluh besar di kelas, lebih percaya diri saat berbicara, atau menjadi pribadi yang lebih disiplin.
Saat saya berkeliling mengamati hasil pekerjaan mereka, hati saya dipenuhi rasa bangga. Tidak ada satu pun pohon yang sama. Ada pohon yang menjulang tinggi dengan akar yang kokoh. Ada yang batangnya besar dan kuat. Ada yang memiliki ranting sangat banyak dengan daun yang lebat. Ada pula yang sederhana tetapi tampak indah. Perbedaan itu bukti bahwa setiap anak adalah pribadi yang unik.
Begitu pula kehidupan mereka. Tidak ada dua manusia yang memiliki perjalanan hidup yang benar-benar sama. Setiap anak membawa latar belakang keluarga, pengalaman, bakat, cara berpikir, dan impian yang berbeda. Tugas seorang guru bukanlah menyeragamkan mereka, melainkan membantu setiap anak menemukan jalan terbaik untuk bertumbuh sesuai potensinya.
Melalui gambar pohon sederhana ini, saya melihat lebih dari sekadar hasil menggambar. Saya melihat keberanian mereka untuk mengenali diri sendiri. Saya melihat harapan-harapan yang mulai tumbuh. Saya melihat benih-benih karakter yang sedang dipupuk agar kelak menjadi pohon yang kuat menghadapi berbagai musim kehidupan.
Hari pertama sekolah akhirnya bukan sekadar tentang absensi, pembagian jadwal pelajaran, atau pengenalan aturan kelas. Hari pertama menjadi momentum untuk menanamkan kesadaran bahwa pendidikan sejatinya adalah proses menumbuhkan manusia seutuhnya.
Saya percaya, pohon-pohon yang mereka gambar hari ini bukan hanya akan menjadi tugas di selembar kertas. Semoga ia menjadi pengingat bahwa akar yang kuat akan menjaga mereka tetap teguh pada nilai-nilai kehidupan. Batang yang kokoh akan mengingatkan mereka akan potensi yang dimiliki. Ranting-ranting yang terus bertambah akan menjadi simbol usaha yang tidak pernah berhenti. Sementara daun-daun yang menghijau akan terus mengingatkan bahwa setiap impian layak diperjuangkan dengan kerja keras, doa, dan ketekunan.
Sebuah pohon yang besar tidak tumbuh dalam semalam. Ia bertumbuh sedikit demi sedikit, menguat dari akar, tegak oleh batang, berkembang melalui ranting, lalu menghadirkan daun yang memberi kehidupan. Demikian pula setiap siswa, mereka sedang bertumbuh menjadi pribadi terbaiknya, dan tugas kami sebagai guru adalah merawat proses itu dengan penuh kesabaran, kepercayaan, dan keyakinan. Aamiin.
Cepu, 14 Juli 2026
Kenangan Indah
Karya : Gutamining Saida
Tahun ajaran baru telah dimulai. Suasana rumah kembali seperti semula. Kamar-kamar yang beberapa minggu lalu dipenuhi suara tawa kini kembali sunyi. Mainan yang berserakan sudah dirapikan. Gelas-gelas kecil yang biasa digunakan untuk minum bersama cucu telah kembali tersusun rapi di rak. Setelah liburan panjang usai, ketiga cucu kembali pulang ke Tegal untuk melanjutkan sekolah dan aktivitas mereka.
Kesunyian itu selalu datang setiap kali liburan berakhir. Di balik sunyi tersebut, hati saya dipenuhi rasa syukur. Liburan kali ini kembali menghadirkan begitu banyak kenangan indah yang layak disimpan, bukan hanya dalam ingatan, tetapi juga dalam bentuk tulisan.
Saya memang memiliki kebiasaan mengabadikan setiap momen bersama keluarga. Bagi sebagian orang, mungkin cukup dengan foto atau video. Bagi saya, tulisan memiliki kekuatan yang berbeda. Tulisan mampu menyimpan suasana, emosi, percakapan, bahkan pelajaran hidup yang mungkin suatu saat nanti terlupakan.
Tujuan saya sangat sederhana. Saya ingin ketika cucu-cucu saya telah dewasa, mereka dapat membaca kembali kisah-kisah masa kecilnya. Mungkin saat itu mereka sudah menjadi mahasiswa, bekerja, atau bahkan telah berkeluarga. Saya berharap tulisan-tulisan ini dapat membawa mereka kembali ke masa ketika mereka menghabiskan liburan di Cepu bersama Akung dan Timminya.
Setiap liburan mereka datang ke Cepu. Saya selalu berusaha agar liburan mereka tidak sekadar diisi dengan menonton televisi. Saya ingin mereka memiliki pengalaman yang beragam, belajar sambil bermain, tertawa bersama, sekaligus membawa pulang kenangan yang menyenangkan.
Tentu tidak mudah menghibur anak-anak. Dunia mereka berubah sangat cepat. Apa yang hari ini membuat mereka antusias, belum tentu menarik lagi keesokan harinya. Mereka memiliki rasa ingin tahu yang besar sekaligus mudah merasa bosan.
Saya pun belajar memahami dunia mereka. Setiap akan membuat permainan baru, saya sering mencari inspirasi dari berbagai media sosial. Saya mengamati berbagai ide kreatif dari para pendidik, orang tua, maupun kreator pendidikan. Setelah menemukan ide yang menarik, saya tidak serta-merta menirunya. Saya menerapkan prinsip ATM, yaitu Amati, Tiru, dan Modifikasi.
Saya mengamati konsep permainannya, memahami tujuan belajarnya, lalu memodifikasinya agar sesuai dengan usia cucu-cucu saya. Kadang saya menyesuaikan dengan bahan yang ada di rumah sehingga tidak perlu membeli perlengkapan baru. Di situlah letak keseruannya.
Barang-barang sederhana yang sering dianggap sampah dapat berubah menjadi media belajar yang menyenangkan. Kardus bekas bungkus makanan ringan, kertas warna, tutup botol, stik es krim, hingga kardus bekas kemasan dapat disulap menjadi alat permainan edukatif.
Suatu hari saya membuat media belajar penjumlahan menggunakan potongan kardus bekas bungkus makanan ringan. Saya memotongnya menjadi beberapa bagian, menuliskan angka-angka, lalu menyusun aturan permainan yang sederhana. Tidak ada teknologi canggih. Tidak ada suara digital. Hanya kreativitas dan sedikit sentuhan imajinasi.
Sebelum permainan dimulai, saya sempat bertanya dalam hati, "Apakah mereka akan tertarik?" Sebab saya tahu betul, mereka tidak suka memainkan permainan yang sama berulang kali. Jika permainan itu pernah dimainkan saat liburan sebelumnya, biasanya mereka akan langsung berkata, "Ini sudah pernah timmi."
Karena itulah saya selalu berusaha menghadirkan sesuatu yang baru. Begitu permainan dimulai, mereka justru sangat antusias. Mereka saling berebut giliran, menghitung dengan penuh semangat, kemudian mencocokkan jawaban sambil tertawa ketika ada yang keliru.
Yang membuat saya semakin bahagia adalah mereka memainkan permainan itu hingga selesai. Tidak ada yang meninggalkan tempat permainan. Tidak ada yang sibuk mencari ainan lain. Mereka menikmati setiap prosesnya.
Saat melihat wajah-wajah kecil yang penuh semangat itu, saya kembali menyadari bahwa anak-anak sebenarnya tidak selalu membutuhkan mainan mahal. Mereka lebih membutuhkan orang dewasa yang mau hadir, menemani, dan ikut bermain bersama mereka. Kehadiran jauh lebih berharga daripada hadiah.
Permainan sederhana yang dibuat dengan penuh perhatian ternyata mampu menciptakan kebahagiaan yang begitu besar. Tnpa disadari, mereka sedang belajar berhitung, melatih konsentrasi, bersabar menunggu giliran, bekerja sama, sekaligus belajar menerima jika jawabannya belum benar.
Semua itu terjadi secara alami, tanpa mereka merasa sedang belajar. Keterbatasan sering kali memunculkan ide-ide terbaik. Barang bekas yang semula dianggap tidak berguna dapat menjadi sarana belajar yang menarik apabila dipadukan dengan kasih sayang dan kreativitas.
Liburan akan selalu berakhir. Anak-anak akan tumbuh. Permainan-permainan sederhana ini suatu hari nanti mungkin akan mereka lupakan. Kardus-kardus bekas itu pun suatu saat akan dibuang. Saya berharap, rasa bahagia yang mereka rasakan akan tetap tinggal di dalam hati.
Saya ingin setiap tawa, setiap permainan, setiap perjalanan kecil selama liburan di Cepu tetap hidup melalui rangkaian kata. Kelak ketika mereka membaca tulisan ini, saya berharap mereka akan tersenyum dan berkata, "Dulu, setiap liburan kami selalu ke rumah Akung ke Cepu. Di sana ada Akung dan Timmi yang selalu punya permainan baru untuk kami."
Mungkin mereka tidak akan mengingat semua detail permainan yang pernah dibuat. Pada akhirnya, warisan paling berharga yang dapat diberikan kepada anak dan cucu yaitu perhatian, kasih sayang, dan kenangan yang indah. Masa kecil hanya datang sekali. Ketika ia telah berlalu, tidak ada yang dapat mengulangnya. Melalui tulisan, setiap jejak kebahagiaan itu akan tetap hidup, menjadi pengingat.
Cepu, 14 Juli 2026
Minggu, 12 Juli 2026
Hanya Bertiga
Tawa Yang Terjeda
Sabtu, 11 Juli 2026
Penangkaran Hiu Di Karimunjawa
Karya : Gutamining Saida
Hari kedua perjalanan kami di Karimunjawa kembali menghadirkan pengalaman yang tidak terlupakan. Setelah menikmati keindahan laut dan berbagai pesona alamnya, rombongan melanjutkan perjalanan menuju sebuah tempat yang memiliki nilai edukasi sekaligus konservasi, yaitu penangkaran hiu. Tempat ini menjadi salah satu destinasi yang banyak dikunjungi wisatawan karena memberikan kesempatan melihat hiu dari jarak dekat, sekaligus mengenalkan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem laut.
Perjalanan menuju lokasi penangkaran dilakukan dengan naik perahu. Seluruh rombongan berada dalam satu perahu yang bergerak perlahan membelah permukaan laut yang tenang. Angin laut bertiup lembut menyapa wajah kami. Sesekali ombak kecil menggoyangkan perahu sehingga suasana terasa semakin menyenangkan. Dari kejauhan tampak beberapa petak penangkaran yang berdiri kokoh di atas laut. Pemandangan birunya air berpadu dengan langit cerah menjadi lukisan alam yang begitu indah. Hati saya dipenuhi rasa syukur karena Allah Subhanahu Wata'alla masih memberikan kesempatan untuk menikmati salah satu keajaiban ciptaan-Nya.
Sesampainya di lokasi, pemandu wisata menjelaskan bahwa penangkaran hiu ini bukan sekadar objek wisata. Tempat ini dibangun sebagai salah satu upaya menjaga kelestarian hiu yang populasinya terus menurun akibat ulah manusia. Tidak sedikit hiu yang diburu untuk diambil siripnya, sementara bagian tubuh lainnya dibuang begitu saja. Ada pula yang menjadi korban penangkapan ikan secara berlebihan maupun kerusakan habitat laut. Mendengar penjelasan tersebut membuat saya semakin sadar bahwa manusia memiliki tanggung jawab besar sebagai penjaga bumi, bukan sebagai perusaknya.
Penangkaran ini terdiri atas beberapa petak dengan ukuran yang berbeda. Di setiap petak terdapat hiu dengan ukuran yang beragam, mulai dari yang masih kecil, sedang, hingga yang berukuran cukup besar. Airnya begitu jernih sehingga gerakan hiu dapat terlihat dengan jelas dari atas jembatan kayu. Mereka berenang berputar-putar mengikuti naluri alaminya. Kadang bergerak perlahan, kadang melesat dengan cepat. Melihat mereka dari dekat memberikan pengalaman yang sulit digambarkan dengan kata-kata.
Pemandu wisata kemudian mengarahkan rombongan menuju salah satu petak yang memang diperbolehkan untuk aktivitas wisata. Di tempat itulah wisatawan dapat turun ke dalam air dangkal untuk berfoto bersama hiu. Sebelum turun, pemandu memberikan berbagai arahan keselamatan. Salah satunya adalah tidak membuat gerakan tangan yang berlebihan agar hiu tidak merasa terganggu atau terkejut. Selama mengikuti aturan, kegiatan tersebut relatif aman karena hiu yang dipelihara telah terbiasa dengan keberadaan manusia.
Satu demi satu teman dalam rombongan mulai turun ke dalam petak penangkaran. Wajah mereka tampak sedikit tegang. Ada yang tertawa, ada yang berteriak kecil ketika hiu melintas di dekat kaki mereka. Momen itu menjadi pengalaman yang menguji keberanian sekaligus menghadirkan kenangan yang sulit dilupakan. Kamera-kamera pun sibuk mengabadikan setiap detik kebersamaan dengan penghuni laut yang selama ini lebih sering dilihat melalui layar televisi atau media sosial.
Sementara itu, saya memilih tetap berada di atas jembatan kayu. Keputusan tersebut saya ambil bukan karena tidak menghargai pengalaman itu, melainkan karena mempertimbangkan kondisi diri sendiri. Saya menyadari bahwa setiap orang memiliki batas kenyamanan dan keberanian yang berbeda. Saya tidak merasa harus mengikuti semua aktivitas hanya karena orang lain melakukannya. Menikmati pemandangan dari atas, mengamati gerakan hiu, dan merasakan suasana penangkaran sudah menjadi kebahagiaan tersendiri bagi saya.
Bagi sebagian orang, keberanian ditunjukkan dengan berani menghadapi tantangan. Bagi saya, keberanian juga berarti mampu mengatakan "cukup" ketika sebuah aktivitas tidak sesuai dengan kondisi diri. Tidak semua tantangan harus diterima. Tidak semua kesempatan harus diambil. Kadang-kadang keputusan paling bijaksana adalah mengenali kemampuan diri, mempertimbangkan risiko, lalu memilih langkah yang paling aman.
Saya lebih leluasa menikmati keindahan penangkaran dari atas. Dari posisi itu saya dapat melihat seluruh petak dengan lebih jelas. Hiu-hiu kecil berenang lincah mengikuti kelompoknya. Hiu berukuran sedang tampak lebih tenang, sedangkan hiu yang lebih besar bergerak perlahan tetapi memancarkan wibawa sebagai salah satu predator laut. Pemandangan tersebut mengingatkan saya bahwa setiap makhluk memiliki perannya masing-masing dalam menjaga keseimbangan alam. Tidak ada makhluk yang diciptakan tanpa tujuan.
Pengalaman ini juga mengajarkan bahwa hiu tidak selalu seperti gambaran yang sering muncul dalam film. Selama habitatnya tidak diganggu manusia , hiu dapat hidup berdampingan dengan aman. Justru manusialah yang sering kali menjadi ancaman terbesar bagi kehidupan mereka. Karena itu, konservasi menjadi langkah penting agar generasi mendatang masih dapat menyaksikan hiu berenang bebas sebagai bagian dari kekayaan hayati Indonesia.
Laut bukan hanya tempat rekreasi, tetapi juga rumah bagi jutaan makhluk hidup. Jika manusia terus mengeksploitasi tanpa memikirkan dampaknya, bukan tidak mungkin suatu hari nanti anak cucu kita hanya mengenal hiu melalui gambar di buku atau video di internet. Pikiran itu membuat saya semakin menghargai setiap upaya pelestarian yang dilakukan oleh para pegiat konservasi.
Perjalanan singkat ke penangkaran hiu akhirnya memberikan pelajaran yang jauh lebih berharga. Tidak semua kenangan harus diabadikan dengan turun ke dalam air. Ada kalanya kenangan terbaik justru tersimpan dalam hati, melalui rasa syukur, kekaguman, dan kesadaran bahwa manusia hanyalah salah satu bagian kecil dari alam semesta yang harus hidup selaras dengan seluruh makhluk ciptaan-Nya.
Saya meninggalkan penangkaran hiu dengan hati yang penuh rasa syukur. Alam selalu menjadi guru terbaik. Ia mengajarkan tentang keseimbangan, kehati-hatian, keberanian, dan tanggung jawab. Semoga pengalaman sederhana ini menjadi pengingat bahwa menjaga alam sama artinya dengan menjaga kehidupan, sehingga keindahan laut Indonesia akan tetap dapat dinikmati oleh anak cucu kita di masa yang akan datang
Cepu, 26 Juni 2026
Jejak Langkah Kecil di SD Padangan Satu
Karya : Gutamining Saida
Setiap orang memiliki tempat yang menyimpan serpihan kenangan. Ada kenangan yang begitu jelas seolah baru terjadi kemarin, ada pula yang tinggal bayangan samar yang sesekali hadir ketika hati sedang rindu pada masa lalu. Bagi saya, salah satu tempat yang menyimpan kenangan itu adalah gedung SD Padangan Satu. Di sanalah saya memulai perjalanan sebagai seorang pelajar, meskipun hanya selama dua tahun. Setelah itu, Allah menakdirkan saya berpindah ke SD Banjarjo Satu untuk melanjutkan pendidikan.
Jika saya kembali mengingat masa itu, ternyata tidak banyak peristiwa yang benar-benar masih tersimpan dalam ingatan. Mungkin karena usia yang masih sangat kecil sehingga banyak kenangan yang telah memudar dimakan waktu. Ada satu hal yang tetap melekat hingga sekarang, yaitu perjalanan menuju sekolah.
Setiap pagi saya berangkat dengan langkah kecil yang penuh semangat. Tidak ada kendaraan yang mengantar. Tidak ada sepeda motor yang menunggu di depan rumah. Saya berjalan kaki seorang diri, kemudian mampir ke rumah teman sekelas. Setelah berkumpul, kami melanjutkan perjalanan bersama menuju sekolah.
Jaraknya lebih dari satu kilometer. Bagi anak seusia tujuh tahun, tentu bukan perjalanan yang pendek. Saat itu kami tidak pernah menganggapnya sebagai beban. Justru perjalanan itulah yang menjadi bagian paling menyenangkan. Kami berjalan melewati lorong-lorong kecil, jalan setapak, pepohonan yang masih rindang, serta hamparan sawah yang menghijau. Udara pagi terasa begitu segar. Burung-burung berkicau seolah ikut menyambut langkah kami.
Saat itu lalu lintas belum seramai sekarang. Kendaraan bermotor masih sangat sedikit. Jalanan terasa aman bagi anak-anak yang berjalan kaki menuju sekolah. Orang tua pun tidak merasa khawatir seperti saat ini. Hampir semua anak berangkat sendiri atau bersama teman-temannya. Kami belajar mandiri sejak usia dini tanpa merasa dipaksa.
Kini keadaan telah berubah. Banyak orang tua mengantar anak-anaknya hingga depan gerbang sekolah. Bahkan jarak yang sangat dekat pun sering ditempuh dengan kendaraan bermotor. Perubahan zaman memang membawa banyak kemudahan, tetapi saya juga bersyukur pernah menikmati masa kecil yang sederhana. Kesederhanaan itu justru membentuk mental untuk berani, mandiri, dan bertanggung jawab.
Semakin dewasa, saya semakin memahami bahwa setiap langkah kecil menuju sekolah pada masa itu ternyata bukan sekadar perjalanan biasa. Allah Subhanahu Wata'alla sedang mendidik saya melalui jalan-jalan kecil yang saya lalui setiap pagi. Dari perjalanan itu saya belajar disiplin karena harus berangkat tepat waktu. Saya belajar setia kepada teman karena selalu menunggu mereka sebelum berangkat bersama. Saya juga belajar menghargai proses karena setiap tujuan membutuhkan usaha.
Allah Subhanahu Wata'alla berfirman dalam Al-Qur'an bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Saat itu mungkin kami merasa lelah berjalan cukup jauh. Setelah tiba di sekolah, rasa lelah itu seakan hilang berganti kegembiraan bertemu guru dan teman-teman. Dari situlah saya belajar bahwa setiap perjuangan akan menghadirkan kebahagiaan apabila dijalani dengan penuh keikhlasan.
Saya juga menyadari bahwa nikmat Allah Subhanahu Wata'alla tidak selalu berupa harta yang melimpah. Masa kecil kami sangat sederhana. Bekal sekolah pun apa adanya. Seragam tidak berganti-ganti model. Tas sekolah pun dipakai selama masih layak. Namun hati kami terasa ringan dan bahagia. Kami tidak pernah membandingkan apa yang dimiliki teman dengan milik sendiri. Kami belajar menerima rezeki yang Allah Subhanahu Wata'alla berikan dengan penuh rasa syukur.
Perjalanan menuju sekolah menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya terjadi di dalam ruang kelas. Jalan setapak yang kami lalui setiap pagi ternyata juga menjadi ruang belajar. Di sanalah kami belajar saling menyapa, saling membantu ketika ada teman yang tertinggal, dan belajar menghormati orang-orang yang kami jumpai di sepanjang jalan.
Kini ketika saya menjadi seorang guru, kenangan itu sering muncul kembali. Saya membayangkan langkah-langkah kecil yang pernah saya ayunkan puluhan tahun silam. Tidak pernah terlintas dalam benak seorang anak kecil saat itu bahwa suatu hari Allah Subhanahu Wata'alla akan mengizinkan dirinya berdiri di depan kelas sebagai pendidik. Sungguh, rencana Allah Subhanahu Wata'alla selalu jauh lebih indah daripada yang mampu dibayangkan manusia.
Gedung SD Padangan Satu mungkin hanya menjadi tempat saya belajar selama dua tahun. Setiap sudutnya tetap menjadi saksi awal perjalanan hidup saya. Dari sanalah Allah Subhanahu Wata'alla mulai menanamkan benih-benih ilmu yang kemudian tumbuh hingga mengantarkan saya menjadi seorang guru. Tidak ada perjalanan yang sia-sia ketika semuanya diniatkan untuk mencari ilmu.
Rasulullah mengajarkan bahwa menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Kalimat itu kini terasa begitu dekat dengan pengalaman masa kecil saya. Meski harus berjalan kaki cukup jauh, kami tetap berangkat ke sekolah dengan hati gembira. Barangkali langkah-langkah kecil itu menjadi bagian dari ikhtiar mencari ilmu yang dicatat sebagai amal kebaikan di sisi Allah Subhanahu Wata'alla.
Hari ini, ketika sesekali lewat SD Padangan Satu yang pernah saya lalui saat kecil, hati terasa hangat. Lorong-lorong itu sudah berubah. Sawah-sawah sebagian telah berganti menjadi bangunan. Teman-teman seperjalanan pun telah menempuh jalan hidup masing-masing. Kenangan itu tetap hidup di dalam hati.
Saya percaya bahwa Allah Subhanahu Wata'alla tidak pernah menyia-nyiakan setiap langkah hamba-Nya menuju kebaikan. Allah Subhanahu Wata'alla mengantarkan saya menjadi seorang pendidik yang kini mengajak generasi muda mencintai ilmu.
Semoga setiap langkah yang pernah kita ayunkan untuk mencari ilmu menjadi saksi di hadapan-Nya pada hari kelak. Semoga setiap kenangan masa kecil yang sederhana mampu mengingatkan kita bahwa keberkahan hidup diukur dari rasa syukur, keikhlasan, dan kesungguhan dalam menjalani setiap amanah yang Allah Subhanahu Wata'alla titipkan kepada kita. Aamiin.
Cepu, 12 Juli 2026
Rindu Yang Menguatkan Langkah Menuju Sehat
Karya: Gutamining Saida
Hari Sabtu menjadi hari yang penuh makna meskipun saya tidak berada di tepi kolam renang. Seperti biasanya, Pak Gun menyapa seluruh anggota grup melalui beberapa pesan yang sederhana.Kalimat-kalimat yang beliau tuliskan seakan menjadi suntikan energi bagi siapa saja yang membacanya. Tidak ada kata-kata yang berlebihan, tetapi setiap pesan mengandung kepedulian yang tulus agar seluruh anggota tetap menjadikan kesehatan sebagai prioritas utama.
Beliau mengingatkan bahwa kesehatan bukanlah sesuatu yang datang begitu saja. Tubuh yang sehat merupakan hasil dari kebiasaan baik yang dilakukan secara terus-menerus. Salah satunya adalah olahraga renang. Menurut beliau, renang merupakan olahraga yang melibatkan hampir seluruh bagian tubuh. Saat berenang, otot-otot bekerja, persendian bergerak, tulang menjadi lebih kuat, jantung memompa darah dengan lebih baik, dan paru-paru dilatih untuk mengatur pernapasan secara optimal. Semua organ tubuh saling bekerja sama sehingga memberikan manfaat yang luar biasa bagi kesehatan.
Saya membaca setiap kalimat yang beliau kirimkan dengan perlahan. Rasanya seperti sedang mendengarkan seorang guru yang sedang memberikan nasihat kepada murid-muridnya. Tidak hanya menjelaskan manfaat fisik, Pak Gun juga membagikan pengetahuan tentang dampak renang terhadap kesehatan mental. Beliau menuliskan bahwa setelah berenang, pikiran akan terasa lebih segar, hati menjadi lebih tenang, dan perasaan menjadi lebih nyaman. Aktivitas di dalam air mampu mengurangi beban pikiran yang selama ini menumpuk akibat rutinitas pekerjaan maupun berbagai persoalan kehidupan.
Saya mengangguk dalam hati karena apa yang beliau sampaikan benar adanya. Saya pernah merasakan sendiri bagaimana setiap selesai berenang tubuh terasa ringan. Nafas menjadi lebih lega, langkah terasa lebih mantap, bahkan tidur pada malam harinya menjadi lebih nyenyak. Renang bukan hanya sekadar menggerakkan tubuh, tetapi juga menjadi terapi bagi pikiran yang lelah.
Pak Gun kembali mengingatkan bahwa olahraga tidak boleh dilakukan hanya ketika sedang bersemangat saja. Kuncinya adalah rutin dan berkesinambungan. Hasil yang baik tidak diperoleh dari satu atau dua kali latihan, tetapi dari kebiasaan yang terus dipelihara. Sedikit demi sedikit, tubuh akan beradaptasi dan menjadi semakin sehat. Pesan itu terasa sangat dalam. Banyak orang memiliki niat untuk hidup sehat, tetapi tidak sedikit pula yang berhenti di tengah jalan karena kesibukan, rasa malas, atau berbagai alasan lainnya.
Di antara pesan-pesan yang beliau kirimkan, terdapat sebuah semboyan yang sangat akrab di telinga saya, yaitu, "Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat." Kalimat sederhana itu langsung membawa pikiran saya melayang jauh ke masa kecil.
Ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar, semboyan tersebut tertulis besar di dinding kelas. Setiap hari kami melihatnya. Guru-guru sering mengingatkan agar kami rajin berolahraga, menjaga kebersihan, dan mengonsumsi makanan bergizi. Saat itu mungkin saya belum memahami maknanya secara utuh. Kalimat itu hanya saya baca berulang-ulang tanpa benar-benar meresap ke dalam hati.
Kini, setelah bertambah usia dan mengalami berbagai perjalanan kehidupan, saya baru benar-benar memahami makna semboyan tersebut. Tubuh yang sehat bukan hanya membuat seseorang mampu bekerja lebih produktif, tetapi juga membantu menjaga kestabilan emosi, ketenangan hati, dan kejernihan pikiran. Ketika tubuh terasa bugar, seseorang lebih mudah bersyukur, lebih sabar menghadapi tantangan, dan lebih siap menjalani aktivitas sehari-hari.
Sebaliknya, ketika kesehatan mulai menurun, banyak aktivitas menjadi terbatas. Hal-hal sederhana yang dahulu mudah dilakukan kini memerlukan tenaga dan perjuangan lebih besar. Pengalaman itulah yang membuat saya semakin menghargai nikmat sehat sebagai salah satu karunia terbesar dari Allah Subhanahu Wata'alla.
Menjelang sore, Pak Gun kembali membagikan beberapa vidio dan aktivitas latihan renang bersama para ibu yang hadir di kolam. Wajah-wajah mereka tampak ceria. Ada yang sedang melakukan pemanasan, ada yang berlatih teknik pernapasan, dan ada pula yang berenang dengan penuh semangat. Melihat kebersamaan mereka, hati saya tiba-tiba dipenuhi rasa rindu.
Sudah cukup lama saya tidak hadir di kolam. Berbagai kesibukan dan kondisi kesehatan membuat frekuensi latihan saya berkurang. Padahal, dulu menjadi tempat yang selalu saya nantikan setiap akhir pekan. Di sana saya tidak hanya belajar teknik berenang, tetapi juga belajar tentang disiplin, keberanian, kesabaran, dan semangat pantang menyerah.
Kolam bukan sekadar tempat berolahraga. Kolam renang adalah ruang belajar kehidupan. Di sanalah saya belajar bahwa untuk bisa mengapung diperlukan ketenangan, bukan kepanikan. Untuk dapat melaju lebih cepat dibutuhkan teknik yang benar, bukan hanya tenaga yang besar. Begitu pula dalam kehidupan. Tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan kekuatan semata. Kadang kita membutuhkan ketenangan, kesabaran, dan strategi yang tepat.
Perasaan rindu itu akhirnya mendorong saya untuk ikut menyapa di grup. Saya menuliskan komentar singkat, "Kangen ke kolam nich!"
Tidak lama kemudian, Pak Gun langsung membalas dengan penuh semangat.
"Ayo besok datang, Bu."
Ajakan itu terasa sederhana. Saya merasakan perhatian seorang pelatih peduli terhadap kesehatan setiap anggotanya. Beliau tidak pernah memaksa, tetapi selalu mengajak dengan penuh kehangatan.
Saya pun menjawab singkat, "Insya Allah."
Dua kata itu menjadi sebuah doa sekaligus komitmen dalam hati. Saya berharap benar-benar dapat kembali ke kolam, kembali merasakan segarnya air yang menyentuh tubuh, kembali melatih napas, menggerakkan otot-otot yang mulai kaku, dan menikmati kebersamaan bersama teman-teman seperjuangan.
Saya menyadari bahwa menjaga kesehatan bukan hanya tanggung jawab tenaga medis atau pelatih olahraga. Menjaga kesehatan adalah tanggung jawab setiap individu sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wata'alla atas amanah tubuh yang telah diberikan. Tubuh yang sehat memungkinkan kita beribadah dengan lebih khusyuk, bekerja dengan lebih optimal, mengajar dengan penuh semangat, serta membersamai keluarga dengan hati yang bahagia.
Sebuah pesan singkat di grup ternyata mampu membangkitkan kembali semangat yang sempat meredup. Terkadang motivasi tidak selalu datang melalui seminar besar atau buku-buku tebal. Sebuah sapaan yang tulus, ajakan sederhana, dan perhatian dari seorang pelatih dapat menjadi pengingat bahwa kesehatan adalah investasi sepanjang hayat.
Semoga kerinduan ini benar-benar berubah menjadi langkah nyata. Sesungguhnya, tubuh yang sehat adalah kendaraan terbaik untuk menebar manfaat, berkarya, beribadah, dan menjalani kehidupan dengan penuh rasa syukur. Sehat bukanlah tujuan akhir, melainkan bekal agar setiap langkah kita semakin bermakna dan semakin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Aamiin
Cepu, 11 Januari 2026







.jpeg)

