Senin, 16 Maret 2026

Langkah Soreku



Karya: Gutamining Saida

Sore itu langkah kaki saya membawa diri menjauh dari hiruk pikuk kehidupan. Perlahan saya menuju sebuah tempat yang terasa berbeda dari biasanya. Tempat itu jauh dari keramaian kota, jauh dari suara kendaraan yang berlalu-lalang, jauh dari kesibukan manusia yang sering kali membuat hati terasa penat. Perjalanan menuju tempat itu melewati jalan kecil.  Pinggir hutan dan hamparan persawahan yang hampir panen. Padi-padi menguning berdiri tegak seolah sedang menunggu waktu untuk dipetik hasilnya.

Langit tampak cerah dengan cahaya matahari yang mulai merendah. Sinar keemasan jatuh perlahan di atas hamparan sawah, membuat bulir-bulir padi terlihat berkilau. Angin berhembus lembut, menggerakkan daun-daun dan batang padi sehingga tampak seperti gelombang kecil yang menari dengan tenang. Tidak ada suara bising kendaraan, tidak ada teriakan manusia, bahkan suara hewan pun hampir tidak terdengar. Keheningan itu justru terasa begitu menenangkan.

Di tempat itu terdapat sebuah tempat duduk sederhana yang sengaja disediakan untuk orang yang ingin beristirahat atau sekadar menikmati pemandangan alam. Saya duduk di sana dengan tenang. Di hadapan saya terbentang luas ciptaan Allah Subhanahu Wata'alla yang begitu indah. Hutan berdiri kokoh seolah menjadi penjaga alam. Persawahan yang hampir panen memberi gambaran tentang kehidupan para petani yang sabar menunggu hasil kerja keras mereka.

Angin sore yang sejuk menyentuh wajah dengan lembut. Rasanya seperti pelukan alam yang menenangkan hati. Dalam suasana sunyi seperti itu, saya merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Hati terasa lebih ringan, pikiran menjadi jernih, dan jiwa seakan diajak untuk kembali mengingat siapa diri ini sebenarnya.

Di tengah keindahan alam itu saya merasa sangat kecil. Begitu kecil di hadapan kebesaran Allah Subhanahu Wata'alla yang menciptakan langit, bumi, hutan, sawah, angin, dan segala yang ada di sekitar kita. Selama ini manusia sering merasa kuat, merasa mampu melakukan banyak hal. Ketika duduk diam di hadapan alam yang luas, kesadaran itu muncul dengan sendirinya bahwa manusia hanyalah makhluk yang lemah.

Saya memandang hamparan sawah yang menguning. Bulir padi yang berisi itu tidak muncul dengan sendirinya. Ada tangan-tangan petani yang menanam, merawat, menyiram, dan menjaga dari hama. Pada akhirnya, semua itu tetap berada dalam kehendak Allah Subhanahu Wata'alla.. Jika Allah Subhanahu Wata'alla menghendaki panen yang baik, maka padi akan tumbuh subur. Jika Allah Subhanahu Wata'alla berkehendak lain, manusia tidak bisa menolaknya.

Pemandangan itu mengingatkan saya tentang nikmat Allah Subhanahu Wata'alla yang sering kali tidak kita sadari. Udara yang kita hirup setiap saat adalah nikmat. Angin yang sejuk adalah nikmat. Pemandangan alam yang indah adalah nikmat. Bahkan kesempatan untuk duduk tenang dan merenung seperti saat itu pun merupakan nikmat yang tidak semua orang miliki.

Sering kali dalam kehidupan sehari-hari kita terlalu sibuk dengan urusan dunia. Pekerjaan, tanggung jawab, dan berbagai aktivitas membuat hati jarang berhenti untuk sejenak memikirkan kebesaran Allah Subhanahu Wata'alla. Melalui alam semesta ini Allah Subhanahu Wata'alla telah menunjukkan begitu banyak tanda kekuasaan-Nya.

Di tempat yang sunyi itu saya merasa seperti sedang diajak berdialog dengan diri sendiri. Tanpa suara manusia, tanpa gangguan telepon, tanpa percakapan apa pun, hati justru menjadi lebih peka. Pikiran mulai mengingat perjalanan hidup yang telah dilalui. Banyak sekali nikmat yang telah diberikan Allah Subhanahu Wata'alla selama ini, namun sering kali manusia lupa untuk bersyukur.

Saya pun menundukkan kepala sejenak. Dalam hati terucap rasa syukur yang mendalam. “Ya Allah, betapa besar nikmat yang Engkau berikan kepada hamba-Mu ini.” Kadang manusia baru merasakan ketenangan ketika menjauh dari keramaian. Padahal ketenangan itu sebenarnya selalu ada jika hati mampu mengingat Allah Subhanahu Wata'alla.

Angin sore terus berhembus pelan. Matahari semakin rendah menuju ufuk barat. Cahaya jingga mulai mewarnai langit, menambah keindahan pemandangan yang ada di depan mata. Suasana seperti itu, hati terasa begitu damai. Tidak ada kegelisahan, tidak ada kegaduhan pikiran.

Tempat seperti ini memang sangat cocok untuk merenung. Alam seolah menjadi guru yang mengajarkan banyak hal tanpa kata-kata. Saya menyadari bahwa manusia membutuhkan waktu untuk menyendiri seperti ini. Bukan untuk melarikan diri dari kehidupan, tetapi untuk menata kembali hati dan pikiran. Dengan merenung, manusia bisa mengingat tujuan hidup yang sebenarnya. Bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara, dan pada akhirnya kita semua akan kembali kepada Allah Subhanahu Wata'alla.

Saat matahari hampir tenggelam, saya pun perlahan berdiri. Hati terasa lebih lapang dan penuh rasa syukur. Saya menyadari  keindahan alam bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga untuk mengingatkan manusia akan kebesaran Sang Pencipta.

Saya pulang dengan membawa satu pelajaran penting dalam hati yaitu bahwa ketika manusia mampu berhenti sejenak dari kesibukan dunia dan memandang alam dengan penuh kesadaran, maka ia akan menemukan ketenangan, kerendahan hati, dan rasa syukur yang lebih dalam kepada Allah Subhanahu Wata'alla.

Cepu, 16 Maret 2026

Mimpiku Menjadi Nyata



Karya : Gutamining Saida

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah mengikuti sebuah kelas menulis secara daring. Kelas itu bukan sekadar belajar merangkai kata, tetapi juga belajar tentang kesabaran, ketekunan, dan keikhlasan dalam menjalani proses. Dalam kelas tersebut saya dipandu oleh seorang mentor yang penuh semangat, Kak Wayan namanya. Beliau sering mengingatkan bahwa menulis itu bukan hanya tentang bakat, tetapi tentang kebiasaan. Pesannya sederhana namun sangat membekas di hati, yaitu menulis setiap hari, minimal satu cerita.

Nasihat itu terdengar sederhana, tetapi dalam praktiknya ternyata tidak mudah. Sebagai seorang guru yang memiliki banyak tanggung jawab, waktu saya sering terbagi untuk berbagai tugas. Mengajar di kelas, menyiapkan materi pelajaran, mengurus administrasi sekolah, membimbing siswa, serta menjalani peran sebagai ibu dan anggota masyarakat. Semua itu membuat waktu terasa begitu cepat berlalu.

Pesan Kak Wayan tetap terngiang di pikiran saya. Setiap hari saya mencoba membuka buku atau gawai untuk menuliskan sesuatu. Kadang satu cerita berhasil selesai, tetapi tidak jarang pula tulisan itu berhenti di tengah jalan. Ada hari-hari ketika saya hanya mampu menuliskan sebuah judul tanpa mampu melanjutkan menjadi cerita yang utuh.

Awalnya saya merasa kecewa pada diri sendiri. Rasanya seperti berjalan di tempat. Akan tetapi, kemudian saya menyadari bahwa setiap usaha kecil yang dilakukan dengan niat baik tidak pernah sia-sia di hadapan Allah Subhanahu Wata'alla. Saya mulai belajar untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri. Yang penting adalah tetap melangkah, meskipun langkahnya kecil.

Saya percaya bahwa setiap niat baik adalah doa. Setiap doa yang dipanjatkan dengan sungguh-sungguh pasti akan Allah Subhanahu Wata'alla dengar pada waktu yang tepat.

Waktu terus berjalan. Hingga akhirnya pada tahun 2025 saya mencoba membuat sebuah komitmen baru pada diri sendiri. Saya ingin lebih serius menekuni dunia menulis. Saya mulai menata waktu dengan lebih baik, menyisihkan waktu khusus setiap hari untuk menulis.

Saya menantang diri sendiri dengan sebuah kebiasaan sederhana: satu hari satu cerita. Jika suatu hari saya tidak menemukan ide atau tidak sempat menyelesaikan tulisan, maka saya harus menggantinya pada hari berikutnya dengan menulis dua cerita. Cara ini membuat saya lebih disiplin. Perlahan-lahan, menulis bukan lagi menjadi beban, tetapi berubah menjadi kebutuhan.

Setiap hari saya mencoba menangkap peristiwa-peristiwa kecil di sekitar kehidupan saya. Pengalaman mengajar di sekolah, percakapan dengan siswa, pertemuan dengan teman, perjalanan sederhana, hingga perenungan tentang kehidupan. Semua itu saya rangkai menjadi tulisan.

Saya menyadari bahwa kehidupan sehari-hari ternyata menyimpan begitu banyak pelajaran berharga. Kadang kita hanya perlu berhenti sejenak, memperhatikan, lalu menuliskannya. Bagi saya, menulis juga menjadi sarana untuk bersyukur. Dengan menulis, saya bisa mengingat kembali nikmat-nikmat kecil yang sering terlewatkan. Hal-hal sederhana  jika direnungkan ternyata memiliki makna yang berarti.

Hari demi hari berlalu. Tulisan demi tulisan mulai terkumpul. Tanpa terasa waktu sudah berjalan enam bulan. Ketika saya menghitung kembali tulisan-tulisan itu, saya merasa terkejut sekaligus bersyukur. Dari kebiasaan sederhana menulis setiap hari, ternyata telah terkumpul begitu banyak cerita.

Semua itu terasa seperti keajaiban kecil dalam hidup saya. Setiap tulisan mungkin sederhana, tetapi di dalamnya tersimpan pengalaman, perasaan, dan pelajaran kehidupan. Saya percaya bahwa tulisan bukan hanya sekadar kata-kata, tetapi juga jejak perjalanan hidup seseorang.

Proses penyusunan buku pun dimulai. Naskah-naskah yang telah saya tulis dikumpulkan, diperbaiki, dan disusun menjadi dua judul buku. Proses ini juga membutuhkan kesabaran dan ketelitian. Saya kembali belajar bahwa menghasilkan sebuah karya tidak bisa dilakukan dengan tergesa-gesa.

Hingga akhirnya tibalah hari yang sangat saya tunggu. Hari Jum’at tanggal 13 Maret 2026 menjadi hari yang istimewa bagi saya. Buku cetak yang selama ini hanya berupa file akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka paket dan melihat buku itu secara langsung, hati saya dipenuhi rasa haru dan syukur.

Buku itu cukup tebal, sekitar 350 halaman dan terdiri dari dua judul. Ketika saya memegangnya, rasanya seperti memegang mimpi yang dulu terasa begitu jauh. Saya terdiam sejenak, memandangi halaman-halamannya. Dalam hati saya berkata, “Ya Allah, ini benar-benar terjadi.”

Perjalanan yang dimulai dari keraguan, keterbatasan waktu, dan langkah-langkah kecil akhirnya sampai pada titik ini. Semua itu mengingatkan saya bahwa jika Allah  Subhanahu Wata'alla.sudah berkehendak, maka tidak ada yang mustahil.

Sering kali manusia merasa kecil dan ragu pada kemampuannya. Tetapi ketika kita terus berusaha, bersabar, dan menyerahkan hasilnya kepada AllahSubhanahu Wata'alla. maka jalan-jalan kebaikan akan dibukakan tanpa kita duga.

Buku ini bukan hanya sekadar kumpulan tulisan bagi saya. Ia adalah saksi perjalanan belajar, saksi kesabaran, dan saksi dari doa-doa yang perlahan dikabulkan. Semua ini tidak mungkin terjadi tanpa pertolongan Allah Subhanahu Wata'alla., dukungan keluarga, serta nasihat dari para guru dan mentor yang pernah membimbing saya.

Kebiasaan kecil menulis satu hari satu cerita ternyata mampu mengubah sesuatu yang tampak sederhana menjadi karya nyata. Dari sekadar menulis untuk belajar, akhirnya berubah menjadi buku yang bisa dibaca banyak orang.

Bagi saya, ini bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal dari langkah berikutnya. Semoga tulisan-tulisan ini bisa menjadi amal kebaikan. Jika ada pembaca yang mendapatkan pelajaran, semangat, atau sekadar senyuman dari kisah-kisah sederhana ini, maka itu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri bagi saya.

Saya percaya bahwa setiap kata yang ditulis dengan niat baik akan menemukan jalannya sendiri untuk memberi manfaat. Saya kembali mengingat satu hal penting dalam hidup mimpi yang disertai doa, usaha, dan kesabaran, InsyaAllah akan menemukan waktunya untuk menjadi nyata.

Cepu. 16 Maret 2026

Jumat, 13 Maret 2026

MBolang

 


Karya: Gutamining Saida

Jum’at siang selepas pulang mengajar, suasana sekolah mulai sepi. Para siswa sudah pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat. Saya pun bersiap berangkat ke rencana mbolang. Saya bersama Bu Isna sepakat melakukan mbolang berkeliling melihat kehidupan masyarakat di pelosok desa. Bukan sekadar jalan-jalan, tetapi ingin melihat langsung kehidupan yang mungkin jarang tersentuh oleh pandangan kita sehari-hari.

Perjalanan kami menuju sebuah desa yang cukup jauh dari keramaian. Jalan yang kami lalui semakin lama semakin sempit. Rumah-rumah mulai jarang, pepohonan dan sawah terbentang luas di kanan kiri jalan. Udara terasa lebih segar,  membawa aroma khas pedesaan yang begitu kuat. Sawah-sawah tampak sudah selesai dipanen. Jerami tersisa menguning di atas tanah, menjadi tanda bahwa para petani baru saja melewati masa panen.

Kami berhenti di sebuah rumah sederhana di pinggir jalan desa. Dindingnya sebagian dari papan, sebagian lagi dari tembok yang sudah mulai kusam. Halaman rumah tidak begitu luas, namun cukup untuk aktivitas sehari-hari. Saat mendekat, aroma yang cukup tajam langsung terasa menusuk hidung. Di bagian dalam rumah ternyata terdapat kandang kambing dan ayam yang dipelihara oleh pemilik rumah.

Di sudut lain rumah terlihat beberapa karung besar yang ditumpuk rapi. Karung-karung itu berisi hasil pertanian. Ada yang berisi padi, ada pula yang berisi jagung. Semuanya ditaruh begitu saja di dalam rumah karena mungkin tidak ada gudang khusus untuk menyimpannya. Rumah tersebut bukan hanya tempat beristirahat, tetapi juga menjadi tempat menyimpan hasil kerja keras dari ladang dan sawah.

Saya dan Bu Isna saling berpandangan. Di dalam hati muncul perasaan yang sulit dijelaskan. Kehidupan di rumah itu terasa begitu sederhana, mungkin bagi sebagian orang terasa berat untuk menjalani. Bau kandang hewan bercampur dengan aroma gabah dan tanah yang lembap memenuhi ruangan.

Di balik semua itu, ada sesuatu yang terasa sangat kuat yaitu ketulusan hidup. Orang-orang di desa itu menjalani kehidupan mereka dengan apa adanya. Mereka bekerja di sawah, memelihara ternak, menyimpan hasil panen, lalu menjalani hari demi hari dengan penuh kesabaran.

Dalam perjalanan itu, hati saya seperti diajak berbicara. Betapa seringnya kita lupa bersyukur atas nikmat yang sudah Allah Subhanahu Wata'alla berikan kepada kita. Jika mau melihat sedikit saja ke sekitar, masih banyak saudara-saudara kita yang hidup dengan kondisi yang jauh lebih sederhana.

Allah  Subhanahu Wata'alla dalam Al-Qur’an telah mengingatkan manusia yaitu "Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu."

Ayat tersebut terasa begitu nyata saat melihat kehidupan masyarakat desa itu. Mereka mungkin tidak memiliki rumah besar, kendaraan mewah, atau fasilitas lengkap. Mereka tetap bekerja dengan tekun, menjalani kehidupan dengan sabar, dan tetap bersyukur atas apa yang dimiliki.

Saya teringat bahwa sering kali manusia justru lebih mudah melihat orang yang hidupnya di atas kita. Melihat mereka yang lebih kaya, lebih berhasil, lebih memiliki banyak hal. Tanpa sadar hal itu membuat hati merasa kurang, merasa belum cukup, bahkan terkadang mengeluh.

Rasulullah pernah mengajarkan kepada kita untuk melihat kepada orang yang berada di bawah kita dalam urusan dunia, agar kita bisa lebih mudah bersyukur. Melihat kehidupan masyarakat desa tersebut membuat saya benar-benar memahami makna nasihat itu.

Rumah sederhana yang mereka tempati mungkin terasa sempit bagi sebagian orang. Bagi mereka, rumah itu adalah tempat berlindung dari panas dan hujan. Kambing dan ayam yang mereka pelihara bukan sekadar hewan ternak, tetapi menjadi sumber penghidupan bagi keluarga. Karung-karung hasil panen yang tersimpan di rumah adalah bukti kerja keras yang penuh keringat.

Perjalanan siang itu menjadi pengingat yang sangat berharga. Bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dari seberapa banyak yang kita miliki. Kebahagiaan sering kali justru hadir dari rasa cukup dan rasa syukur yang tertanam di dalam hati.

Setiap hari guru mengajar, memberi ilmu kepada siswa, membimbing mereka agar menjadi manusia yang lebih baik. Terkadang kita lelah, terkadang merasa pekerjaan begitu banyak. Jika dipikir kembali, pekerjaan itu sendiri adalah nikmat besar yang Allah Subhanahu Wata'alla berikan.

Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk mengajar, berbagi ilmu, dan berinteraksi dengan generasi muda setiap hari. Profesi guru adalah amanah yang sangat mulia. Perjalanan Jum'at siang bersama Bu Isna siang itu seolah menjadi pelajaran kehidupan yang tidak tertulis di buku. Pelajaran tentang kesederhanaan, tentang kesabaran, dan yang paling penting tentang rasa syukur.

Angin bertiup pelan menggerakkan sisa jerami di ladang. Langit terlihat cerah, seakan mengingatkan bahwa hidup ini penuh dengan nikmat Allah Subhanahu Wata'alla yang sering kali tidak kita sadari.

Semoga Allah Subhanahu Wata'alla selalu menjaga hati kita agar tetap mampu bersyukur. Karena sejatinya kekayaan yang paling besar bukanlah harta yang melimpah, tetapi hati yang selalu merasa cukup atas pemberian-Nya.

Perjalanan Jum’at siang  berkeliling desa, melihat rumah-rumah warga, dan menyaksikan kehidupan apa adanya. Di balik kesederhanaan itu tersimpan pelajaran yang terkesan. Belajar untuk  bersyukur.

Cepu, 14 Maret 2026