gutaminingsaida SMPN 3 CEPU
Kamis, 18 Juni 2026
Ketenangan Jiwa
Es Teler
Rabu, 17 Juni 2026
Tangkuban Perahu
Ban glunDung
Karya: Gutamining Saida
Perjalanan literasi budaya menuju Bandung menjadi pengalaman yang berkesan bagi saya. Kami berangkat dari Cepu pada hari Kamis sore bersama para siswa dan beberapa guru pendamping. Suasana keberangkatan terasa meriah. Para siswa tampak antusias karena akan melakukan perjalanan jauh ke Kota Bandung. Bagi sebagian siswa, perjalanan ini mungkin menjadi pengalaman pertama mengunjungi kota besar di Jawa Barat.
Di dalam bus, suasana begitu hidup. Ada yang bercanda, ada yang menyanyi, ada pula yang sibuk mengabadikan momen dengan telepon genggam mereka. Saya sendiri menikmati perjalanan sambil sesekali berbincang dengan teman guru yang duduk berdekatan.
Sehari sebelum keberangkatan terjadi sebuah percakapan lucu yang hingga kini masih membuat saya tersenyum ketika mengingatnya. Di sela-sela kesibukan koreksi Bu Wiwik yang duduk tidak jauh dari saya tiba-tiba bertanya, “Menginap di hotel Bandung dua hari, ya?”
Saya yang belum berpengalaman menemani siswa literasi budaya hanya menjawab singkat, “Belum tahu nama hotelnya, Bu?”
Mendengar jawaban saya, Bu Wiwik kembali berkata dengan nada meyakinkan, “Biasanya dua hari menginap di hotel Bandung.”
Saya semakin bingung. Dalam pikiran saya, mungkin memang ada hotel bernama Hotel Bandung yang akan menjadi tempat menginap kami. Karena tidak ingin salah bicara, saya hanya mengangguk dan mengiyakan perkataan beliau.
Beberapa saat kemudian Bu Wiwik bertanya lagi.
“Njenengan tahu hotel Bandung yang saya maksud?”
Saya menjawab dengan jujur, “Tidak tahu, Bu.”
Beliau lalu tertawa kecil sambil berkata, “Hotel Bandung itu tidurnya di atas ban glundung alias bus!”
Mendengar penjelasan tersebut, saya langsung memahami maksud candaan beliau. Ternyata yang dimaksud bukan nama sebuah hotel yang berada di Kota Bandung. Bus yang terus melaju dengan roda berputar atau dalam bahasa Jawa disebut ban glundung.
Saya pun spontan ikut tertawa. Tawa kami pecah di tengah kesibukan di ruang guru. Beberapa guru lain yang mendengar candaan itu ikut tersenyum. Suasana yang semula biasa saja mendadak menjadi lebih hangat dan menyenangkan. Memang terkadang kebahagiaan tidak harus datang dari sesuatu yang besar. Sebuah permainan kata sederhana, candaan ringan, atau percakapan singkat mampu menghadirkan kegembiraan yang tulus. Di tengah kesibukan menjalankan rutinitas menjadi penyegar yang sangat berharga.
Perjalanan yang panjang sering kali membuat tubuh lelah. Duduk berjam-jam di dalam bus tentu bukan perkara mudah, terutama bagi kami yang usianya tidak lagi muda. Suasana akrab dan penuh canda membuat rasa lelah terasa lebih ringan.
Saya teringat sebuah ungkapan bahwa tertawa adalah obat yang murah. Meskipun bukan obat untuk segala penyakit, tertawa dapat membuat hati lebih tenang dan pikiran lebih segar. Saat seseorang tertawa, beban yang semula terasa berat seakan berkurang. Hubungan antar teman pun menjadi lebih dekat karena tawa menciptakan kehangatan dan kebersamaan.
Dalam ajaran agama, kebahagiaan merupakan nikmat yang patut disyukuri. Senyum yang tulus bahkan termasuk amal kebaikan. Apalagi jika senyum dan tawa tersebut mampu menghibur orang lain tanpa menyakiti atau merendahkan siapa pun.
Candaan Bu Wiwik tentang “Hotel Bandung” mungkin terdengar sederhana. Saya belajar bahwa perjalanan hidup tidak selalu harus dijalani dengan wajah tegang dan pikiran penuh beban. Sesekali kita perlu memberi ruang bagi humor dan kegembiraan agar hati tetap sehat.
Perjalanan kami berlangsung dengan lancar. Kami menginap dua malam di hotel Bandung dan sehari di hotel Citradream kembali pulang ke Cepu pada hari Minggu pagi. Banyak pengalaman berharga yang kami peroleh selama kegiatan literasi budaya tersebut. Berbagai kunjungan dan aktivitas yang dilakukan, menjadi salah satu kenangan.
Sampai sekarang, setiap kali mendengar kata “hotel Bandung”, saya tidak hanya teringat sebuah kota tempat menginap. Saya justru teringat tawa bersama Bu Wiwik di ruang guru, tawa yang sederhana. Perjalanan panjang terasa lebih ringan, lebih hangat, dan lebih menyenangkan. Tertawa yang penuh kebersamaan memang salah satu cara Allah Subhanahu Wata'alla menghadirkan kesehatan dan kebahagiaan.
Cepu, 18 Juli 2026
Ploating Market
Karya : Gutamining Saida
Keindahan alam adalah untaian ayat-ayat kauniyah yang terhampar nyata di hadapan manusia. Salah satu tempat yang memancarkan pesona tersebut adalah Ploating Market. Ia sebuah destinasi wisata populer yang terletak di kawasan berudara sejuk, Lembang, Bandung.
Tempat ini bukan sekadar pusat
rekreasi buatan manusia, melainkan sebuah ruang di mana kita bisa bersila,
merenung, dan mengagumi betapa luasnya karunia yang telah Sang Pencipta
anugerahkan kepada bumi Parahyangan. Udara yang dingin, kabut tipis yang kadang
menyapa, serta hamparan air yang tenang menjadi pengingat akan kebesaran-Nya
yang menenteramkan jiwa.
Ploating Market berarti pasar
terapung. Sebuah konsep pasar tradisional yang dinamis dipadukan dengan
keindahan tata ruang beralaskan alam. Ketika melangkah masuk, sejauh mata
memandang, kita akan disuguhi pemandangan sebuah cekungan besar berisi air
jernih seperti sebuah danau atau kolam yang tenang.
Di sepanjang pinggiran cekungan
air inilah, para penjual berjejer rapi di atas perahu-perahu kayu yang ditata
sedemikian rupa. Air adalah sumber kehidupan dan simbol kesucian. Melihat para
pedagang yang menjemput rezeki di tepian air mengingatkan kita pada filosofi
bahwa rezeki Allah Subhanahu Wata’alla mengalir. Tugas manusia hanyalah
berikhtiar dengan cara yang baik dan halal. Keramaian yang teratur di atas air menciptakan
harmoni yang indah. Sebuah gambaran kecil tentang bagaimana manusia
memanfaatkan alam demi kelangsungan hidup tanpa merusaknya.
Allah Subhanahu Wata’alla menciptakan
manusia dengan berbagai suku bangsa dan budaya, yang melahirkan pula aneka
ragam cita rasa kuliner. Di Ploating Market Bandung, keberagaman itu menjelma
menjadi surga kuliner yang menggugah selera. Para pengunjung ditawarkan
berbagai macam pilihan yang melimpah, di antaranya:
- Aneka Suvenir: Buah tangan kreatif
hasil kerajinan tangan manusia yang memanfaatkan bahan alam.
- Makanan Kekinian & Kuliner Khas Bandung: Mulai
dari camilan modern hingga makanan tradisional yang sarat akan warisan
budaya local seperti batagor, siomay, dan colenak.
- Minuman Tradisional, dan Rebusan: Hidangan
hangat yang sangat cocok dengan suasana pegunungan yang dingin.
Setiap aroma makanan yang
terhirup dan setiap kepulan asap dari makanan yang baru matang adalah bentuk
nyata dari rezeki-Nya. Semua ragam kuliner ini seolah mengundang kita untuk
mampir, membelinya, dan menikmatinya di kursi-kursi yang telah disediakan di
tepi danau. Duduk di sana, menyantap hidangan, sambil memandang air yang beriak
kecil adalah momen terbaik untuk melantunkan rasa syukur yang mendalam atas
nikmat rasa yang masih diberikan-Nya kepada kita.
Salah satu keunikan yang menjadi
daya tarik di Ploating Market adalah sistem transaksinya. Pengunjung tidak
dapat membeli makanan atau barang secara langsung menggunakan uang tunai
(cash). Pengelola menerapkan aturan di mana setiap pengunjung harus menukarkan
uang tunai mereka terlebih dahulu dengan koin-koin khusus yang telah disediakan
di loket penukaran.
Koin-koin tersebut memiliki nilai
nominal yang bervariasi untuk memudahkan transaksi, seperti:
- Pecahan Rp20.000,00
- Pecahan Rp10.000,00
- Pecahan Rp5.000,00
Ada sebuah hal menarik dalam
sistem penukaran ini. Untuk mendapatkan koin dengan nilai tertentu, misalnya
koin senilai Rp25.000,00, pembeli harus membayar sebesar Rp27.500,00.
Selisih uang tersebut dapat kita pandang sebagai bentuk nilai jasa,
administrasi, atau pengorbanan kecil demi menikmati ketertiban sistem yang ada.
Hal ini mengajarkan kita tentang
pentingnya menaati aturan di mana pun kita berada. Hidup di dunia memiliki sistem dan "mata
uang" tersendiri, yaitu amal saleh, kebaikan, dan kesabaran, yang sering
kali membutuhkan pengorbanan ego serta materi di awal.
Perjalanan fisik ini terasa
semakin sempurna ketika dilewati bersama orang-orang terkasih. Saya
berkesempatan melangkah bersama Bu Endang. Bersamanya, perjalanan
ini bukan sekadar rekreasi, melainkan ruang untuk mempererat tali silaturahmi
yang diberkahi.
Kami berdua
ingin merasakan pelayanan yang ramah dari para penjual serta menikmati hidangan
hangat di tengah sejuknya udara Lembang. Kami melangkah menuju loket dan
mengeluarkan uang sebesar Rp50.000,00. Dari uang tersebut, kami
mendapatkan koin yang kemudian kami tukarkan dengan dua porsi hidangan yang
sangat sederhana. Satu Porsi Gorengan: Berisi 6 biji gorengan yang
renyah dan hangat. Satu Porsi Rebusan: Terdiri dari tiga iris
pisang rebus serta sejumput kacang godok (rebus) yang gurih. Total Pengeluaran:
Rp50.000,00 ditambah jasa penukaran. Setiap Rp.25.000,00
Jika dihitung secara matematis di
tempat lain, mungkin jumlah makanan dengan harga Rp25.000,00 per porsi ini
terasa sedikit. Enam biji gorengan, tiga iris pisang, dan sejumput kacang
tampak sederhana. Di sinilah letak ujian hati yang disebut dengan Qana'ah
merasa cukup dan rida atas apa yang ada di depan mata.
Ketika makanan itu disantap
dengan rasa syukur, sepotong pisang rebus terasa begitu nikmat tiada tara. Sejumput
kacang godok berubah menjadi berkah yang mengenyangkan. Nilai sebuah hidangan
tidak lagi diukur dari seberapa banyak jumlahnya atau seberapa mahal harganya.
Seberapa besar rasa syukur yang menyertainya saat masuk ke dalam tenggorokan.
Kami di kursi yang menghadap ke
cekungan air Ploating Market. Kami pun tenggelam dalam rasa takjub.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, penguasa semesta alam. Kami sangat
bersyukur dapat menikmati suasana yang asri, tempat yang tertata dengan baik,
pelayanan yang ramah, serta hidangan yang menghangatkan tubuh.
Pengalaman di Ploating
Market Bandung ini kembali mengetuk pintu hati kita. Ia mengingatkan bahwa
rezeki Allah Subhanahu Wata’alla ada di mana-mana. Bahkan di atas air
sekalipun. Tugas manusia adalah berjalan di muka bumi ini dengan mata hati yang
terbuka, mengambil pelajaran dari setiap jengkal langkah, menaati aturan hidup,
menjaga silaturahmi. Paling utama, selalu
kembali kepada-Nya dengan hati yang penuh dengan rasa syukur.
Cepu, 17 Juni
2026
Jejak Pabrik Es Cepu
Karya: Gutamining Saida
Alhamdulillah, pada hari yang penuh berkah saya mendapatkan kesempatan mengikuti kegiatan Cepu Walking Tour. Kegiatan ini bukan sekadar berjalan kaki menyusuri sudut-sudut Kota Cepu, tetapi juga menjadi perjalanan batin untuk mengenal sejarah, mengenang masa lalu, serta mengambil pelajaran berharga dari jejak kehidupan para pendahulu.
Sebagai seorang yang bertempat tinggal di wilayah Cepu. Saya merasa bahagia karena masih diberi kesehatan dan kesempatan oleh Allah Subhanahu Wata;alla untuk melihat langsung berbagai peninggalan sejarah yang selama ini hanya saya dengar dari cerita atau baca dari berbagai sumber. Salah satu lokasi yang menarik perhatian saya adalah jejak keberadaan pabrik es tua di Kota Cepu.
Mungkin bagi sebagian orang, pabrik es hanyalah tempat memproduksi es. Setelah mendengar penjelasan dari pemandu wisata sejarah, saya menyadari bahwa keberadaan pabrik es memiliki peran penting dalam perjalanan perkembangan Kota Cepu. Di balik bongkahan es yang dahulu diproduksi, tersimpan kisah panjang tentang kerja keras, perkembangan teknologi, dan perubahan zaman.
Dari berbagai catatan sejarah yang berhasil ditemukan, keberadaan pabrik es di Cepu ternyata sudah ada sejak masa Hindia Belanda. Salah satu bukti tertulis berasal dari iklan surat kabar Bataviaasch Nieuwsblad tahun 1918 yang menyebutkan adanya penjualan pabrik es di Cepu. Informasi ini menunjukkan bahwa lebih dari satu abad yang lalu, masyarakat Cepu telah mengenal industri pendingin yang pada masa itu tentu merupakan teknologi yang tidak sederhana.
Saya membayangkan bagaimana kondisi Cepu pada masa tersebut. Jalan-jalan belum seramai sekarang, kendaraan bermotor masih terbatas, dan listrik belum menjangkau seluruh wilayah. Di tengah keterbatasan, sudah berdiri sebuah pabrik yang menghasilkan es. Cepu sejak dahulu merupakan daerah yang berkembang dan memiliki aktivitas ekonomi yang cukup penting.
Dalam perjalanan sejarah berikutnya, surat kabar Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië tahun 1928 bahkan mencatat pabrik es tersebut sebagai salah satu penanda perjalanan menuju Desa Ngroto. Artinya, bangunan pabrik es sudah cukup dikenal oleh masyarakat sehingga dijadikan titik acuan arah. Sebuah bangunan tidak akan dijadikan penanda apabila tidak memiliki keberadaan yang kuat dalam kehidupan masyarakat saat itu.
Seiring berkembangnya industri perminyakan dan bertambahnya pemukiman orang Eropa di Cepu, kebutuhan akan es pun semakin meningkat. Pada masa itu, es bukan sekadar untuk mendinginkan minuman seperti sekarang. Es menjadi kebutuhan penting untuk menyimpan bahan makanan, kebutuhan rumah tangga, hingga berbagai kepentingan industri. Surat kabar De Indische Courant tahun 1935 mencatat bahwa pasokan es bahkan didatangkan dari pabrik es Rejo Muljo di Madiun untuk memenuhi kebutuhan yang terus bertambah.
Mendengar kisah tersebut, saya semakin kagum kepada para pendahulu yang mampu membangun usaha dan teknologi sesuai kebutuhan zamannya. Mereka bekerja keras dengan segala keterbatasan yang ada. Di balik setiap balok es yang dihasilkan, ada tenaga, pemikiran, dan perjuangan manusia yang berusaha mencari rezeki halal untuk keluarganya.
Catatan lain dari surat kabar De Locomotief tahun 1938 menyebut nama Jeronimus sebagai pemilik pabrik es yang telah lama menetap di Cepu. Nama itu kini mungkin hanya tersisa dalam arsip sejarah, tetapi karya dan usahanya pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Cepu. Dari sini saya belajar bahwa manusia boleh datang dan pergi, tetapi amal, karya, dan manfaat yang ditinggalkan akan terus dikenang oleh generasi berikutnya.
Saat berdiri di lokasi yang dahulu menjadi bagian dari perjalanan pabrik es tersebut, hati saya dipenuhi rasa syukur. Allah Subhanahu Wata'alla memperlihatkan kepada saya bagaimana sebuah usaha dapat bertahan melintasi berbagai zaman. Dari masa kolonial, masa kemerdekaan, hingga era modern saat ini, tradisi usaha es di Cepu ternyata masih berlanjut melalui CV Tirta Agung Cepu.
Memang bentuk es yang diproduksi sekarang berbeda dengan masa lalu. Dahulu berupa balok-balok besar yang diangkut dengan tenaga manusia. Kini teknologi telah berkembang sehingga es hadir dalam berbagai bentuk dan ukuran sesuai kebutuhan masyarakat modern. Hakikatnya tetap sama, yaitu memberikan manfaat bagi sesama manusia.
Perubahan tersebut mengingatkan saya pada salah satu sunnatullah dalam kehidupan. Zaman akan terus berubah. Teknologi berkembang. Cara bekerja berganti. Bentuk usaha menyesuaikan kebutuhan masyarakat. Tetapi nilai kerja keras, kejujuran, dan kebermanfaatan akan tetap relevan sepanjang masa.
Dalam Al-Qur'an Allah Subhanahu Wata'alla mengingatkan manusia agar berjalan di muka bumi dan memperhatikan jejak orang-orang terdahulu. Melalui kegiatan walking tour ini saya merasakan makna ayat tersebut secara nyata. Menelusuri sejarah bukan hanya untuk mengetahui kapan sebuah bangunan berdiri atau siapa pemiliknya, tetapi juga untuk mengambil hikmah dari perjalanan kehidupan manusia.
Saya membayangkan para pekerja pabrik es yang dahulu berangkat pagi hari mencari nafkah. Mereka mungkin memiliki harapan yang sama seperti kita saat ini, yaitu ingin keluarga hidup bahagia, anak-anak mendapatkan masa depan yang baik, dan kehidupan berjalan dengan penuh keberkahan. Walaupun mereka telah lama tiada, perjuangan mereka menjadi bagian dari sejarah yang patut dihargai.
Perjalanan ini juga mengingatkan saya bahwa tidak ada yang abadi selain Allah Subhanahu Wata'alla. Bangunan bisa berubah, pemilik usaha bisa berganti, teknologi dapat berkembang, bahkan generasi manusia datang dan pergi. Allah tetap menjadi Penguasa segala zaman. Karena itulah manusia hendaknya tidak hanya sibuk membangun kehidupan dunia, tetapi juga mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.
Saya bersyukur masih diberi kesempatan menyaksikan jejak sejarah yang masih bertahan hingga sekarang. Pabrik es mengajarkan bahwa sebuah usaha yang dikelola dengan baik dapat memberikan manfaat lintas generasi. Setiap jejak masa lalu bukan hanya tentang cerita manusia, melainkan juga tentang tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu Wata'alla yang patut disyukuri dan direnungkan oleh setiap hamba yang beriman. Aamiin.
Cepu, 17 Juni 2026
Cepu Walking Tour
Karya: Gutamining Saida
Hari Minggu 14 Juni 2026 menjadi hari yang cukup istimewa bagi saya. Setelah menempuh perjalanan panjang dari Bandung dan baru tiba di rumah menjelang waktu Subuh, tubuh sebenarnya masih terasa lelah. Mata pun terasa pedih belum cukup beristirahat. Ketika ada info akan diadakan kegiatan Cepu Walking Tour “Ngareng Weg”, saya berusaha mengumpulkan semangat untuk ikut serta. Saya meyakini bahwa kesempatan seperti ini tidak selalu datang dua kali. Jika dilewatkan, belum tentu di masa mendatang ada kesempatan yang sama.
“Ngareng Weg” merupakan istilah yang merujuk pada Jalan Ngareng, salah satu ruas jalan bersejarah yang berada di kawasan kota bawah Cepu. Jalan ini menyimpan banyak cerita tentang perkembangan Cepu dari masa ke masa. Melalui kegiatan walking tour, para peserta diajak berjalan kaki menyusuri kawasan tersebut sambil mendengarkan berbagai kisah sejarah yang mungkin selama ini luput dari perhatian masyarakat.
Suasana Cepu masih terasa sejuk. Udara segar menyambut para peserta. Mereka yang memiliki ketertarikan terhadap sejarah dan budaya daerah. Wajah-wajah penuh antusias tampak menghiasi titik kumpul kegiatan. Meski sebagian peserta baru saling mengenal, suasana keakraban segera terjalin karena memiliki tujuan yang sama, yaitu belajar memahami sejarah Cepu secara lebih dekat.
Perjalanan dimulai dengan penjelasan dari pemandu yang menguasai sejarah lokal. Beliau menjelaskan bahwa kawasan kota bawah memiliki peran penting dalam perkembangan Cepu, terutama pada masa kejayaan industri minyak dan perkereta apian. Banyak bangunan tua yang masih berdiri menjadi saksi perjalanan panjang daerah ini. Setiap sudut jalan menyimpan cerita yang menarik untuk digali.
Saat berjalan menyusuri jalan Ngareng, saya mencoba mengamati lingkungan sekitar dengan lebih saksama. Bangunan-bangunan lama yang mungkin selama ini hanya dilewati begitu saja ternyata memiliki nilai sejarah yang tinggi. Ada bangunan yang dahulu digunakan sebagai tempat usaha, kantor, maupun hunian yang berkaitan dengan aktivitas masyarakat pada masa lampau. Melihatnya secara langsung membuat saya membayangkan bagaimana kehidupan masyarakat Cepu puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu.
Di beberapa titik, pemandu menceritakan perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu. Dahulu kawasan ini sangat ramai karena menjadi jalur penting aktivitas ekonomi. Kehadiran industri minyak dan transportasi kereta api membawa dampak besar bagi perkembangan kota. Banyak pendatang datang untuk bekerja dan menetap di Cepu. Interaksi berbagai budaya pun turut membentuk karakter masyarakat yang beragam.
Kegiatan ini bukan sekadar berjalan kaki mengelilingi kota. Ada banyak pelajaran berharga yang dapat dipetik. Saya menyadari bahwa sejarah bukan hanya terdapat dalam buku pelajaran, melainkan hadir di sekitar kita. Jalan yang setiap hari dilalui ternyata menyimpan kisah perjuangan, kerja keras, dan perjalanan panjang para pendahulu. Dengan mengenal sejarah daerah sendiri, tumbuh rasa bangga sekaligus tanggung jawab untuk ikut menjaga warisan tersebut.
Meski kondisi fisik masih lelah akibat perjalanan dari Bandung, rasa lelah itu perlahan tergantikan oleh semangat dan rasa ingin tahu. Setiap penjelasan yang diberikan pemandu menambah wawasan baru. Saya merasa beruntung dapat mengikuti kegiatan ini. Jika pagi itu saya memilih beristirahat di rumah, tentu saya akan kehilangan pengalaman yang sangat berharga.
Selain memperoleh pengetahuan sejarah, kegiatan walking tour juga menjadi sarana silaturahmi. Saya dapat bertemu dengan banyak orang yang memiliki kepedulian terhadap budaya dan sejarah lokal. Dari perbincangan ringan selama perjalanan, saya mendapatkan berbagai cerita dan perspektif baru tentang Cepu. Hal ini semakin memperkaya pengalaman yang saya peroleh.
Kegiatan Cepu Walking Tour “Ngareng Weg” mengajarkan bahwa belajar tidak selalu harus dilakukan di dalam ruang kelas. Jalanan, bangunan tua, dan lingkungan sekitar dapat menjadi ruang belajar yang hidup. Melalui langkah demi langkah yang ditempuh, kami diajak memahami perjalanan sebuah kota yang telah memberikan banyak manfaat bagi masyarakatnya.
Saya merasa bersyukur telah mengambil keputusan untuk ikut serta. Walaupun hanya beberapa jam, pengalaman tersebut meninggalkan kesan yang mendalam. Saya pulang dengan membawa pengetahuan baru, rasa bangga terhadap sejarah daerah, serta kesadaran bahwa menjaga dan menghargai warisan masa lalu merupakan tanggung jawab bersama. Semoga kegiatan seperti ini terus dilaksanakan sehingga semakin banyak generasi muda yang mengenal, mencintai, dan melestarikan sejarah Cepu untuk masa depan.
Cepu, 16 Juni 2026
Selasa, 16 Juni 2026
Bandung
Senin, 15 Juni 2026
Jejak Kapur Tulis "NMK"
Sabtu, 13 Juni 2026
Tanggal Special
Tanggal 12 Juni biasanya menjadi salah satu tanggal yang selalu saya tunggu. Bukan karena ada pesta besar atau hadiah yang mewah. Tanggal itu menyimpan sejarah istimewa dalam perjalanan hidup keluarga saya. Pada tanggal tersebut, saya selalu berusaha menyiapkan sesuatu yang sederhana untuk suami dan ibu tercinta. Kadang hanya makan bersama, menikmati hidangan seadanya, bercengkerama sambil mengenang perjalanan hidup yang telah Allah Subhanahu Wata'alla berikan kepada kami.
Bagi saya, kebersamaan adalah nikmat yang tidak ternilai. Makan bersama bukan sekadar mengisi perut, tetapi menjadi sarana bersyukur atas kesehatan, umur panjang, dan kesempatan untuk berkumpul dengan orang-orang yang Allah Subhanahu Wata'alla titipkan. Karena itulah setiap tahun saya berusaha mengingat tanggal tersebut dan mempersiapkannya dengan penuh rasa syukur.
Namun tahun ini berbeda. Kesibukan dan aktivitas membuat saya lupa. Bahkan pada tanggal 12 Juni itu saya sedang tidak berada di rumah. Sejak pagi hingga siang saya menjalani kegiatan seperti biasa. Tidak ada sesuatu yang terasa berbeda. Saya menjalani hari dengan santai tanpa menyadari bahwa ada tanggal penting yang sedang saya lewati.
Sore hari, ketika membuka handphone genggam, saya membaca beberapa komentar dan pesan dari anak-anak. Mereka menuliskan doa-doa yang indah untuk abah mereka. Ada yang mengucapkan selamat, ada yang mendoakan kesehatan, keberkahan umur, dan kebahagiaan. Saat itulah saya terdiam. Jantung saya seakan berhenti sejenak.
"Ya Allah, hari ini tanggal 12 Juni."
Saya baru sadar bahwa hari istimewa yang biasanya saya persiapkan dengan penuh perhatian ternyata telah saya lewati begitu saja. Tidak ada ucapan khusus sejak pagi. Tidak ada makan bersama. Tidak ada persiapan sederhana seperti tahun-tahun sebelumnya. Perasaan bersalah perlahan memenuhi hati saya.
Sebagai seorang istri dan anak, saya merasa telah lalai. Padahal setiap tahun saya selalu berusaha mengingat dan menghormati hari yang bermakna bagi keluarga. Saya menundukkan kepala dan memandang layar handphpne yang masih dipenuhi doa dari anak-anak.
Allah Subhanahu Wata'alla mengingatkan saya tentang satu hal penting. Manusia memang tempatnya lupa. Bahkan kata "insan" dalam bahasa Arab sering dikaitkan dengan sifat lupa yang melekat pada manusia. Tidak ada manusia yang sempurna. Tidak ada manusia yang terbebas dari kekhilafan.
Saya teringat firman Allah Subhanahu Wata'alla bahwa Dia tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Allah juga Maha Mengetahui isi hati hamba-Nya. Dia mengetahui bahwa kelupaan saya bukan karena tidak sayang, bukan karena tidak peduli, melainkan karena keterbatasan sebagai manusia. Saya segera memanjatkan doa.
"Ya Allah, ampunilah kelalaian ini. Limpahkanlah kesehatan, keberkahan umur, kebahagiaan, dan rahmat-Mu kepada suamiku tercinta dan ibuku tersayang. Jadikan mereka hamba-hamba yang selalu Engkau lindungi dalam setiap langkah kehidupannya."
Sebaliknya, ada orang yang hanya mampu mengangkat kedua tangannya dan berdoa dengan tulus. Doa itulah yang menjadi hadiah paling berharga. Kadang Allah membiarkan kita lupa agar kita menyadari bahwa segala sesuatu tidak selalu berada dalam kendali kita. Kelupaan mengajarkan kerendahan hati. Kelupaan mengingatkan bahwa kita hanyalah manusia biasa yang membutuhkan pertolongan-Nya setiap saat.
Saya semakin memahami bahwa hidup bukan tentang menjadi sempurna. Hidup adalah tentang terus memperbaiki diri. Ketika salah, kita meminta maaf. Ketika lupa, kita mengingat kembali. Ketika lalai, kita segera bertobat dan memperbaikinya.
Kini saya bertekad untuk lebih menghargai setiap momen kebersamaan yang Allah berikan. Sebab kita tidak pernah tahu berapa banyak kesempatan yang masih tersisa. Hari ini kita masih bisa berkumpul, masih bisa berbicara, masih bisa mengucapkan terima kasih dan meminta maaf. Besok belum tentu kesempatan itu masih ada.
Semoga Allah senantiasa menjaga suami tercinta dan ibu tersayang dalam lindungan-Nya. Semoga Allah melimpahkan kesehatan, keberkahan umur, rezeki yang halal, serta kebahagiaan dunia dan akhirat kepada mereka Semoga kelupaan yang saya alami menjadi pengingat bahwa manusia memang tidak luput dari salah dan lupa, tetapi pintu rahmat Allah selalu terbuka bagi hamba yang mau kembali kepada-Nya dengan hati yang tulus.
Alhamdulillahi rabbil ‘ala





