gutaminingsaida SMPN 3 CEPU
Selasa, 16 Juni 2026
Bandung
Senin, 15 Juni 2026
Jejak Kapur Tulis "NMK"
Sabtu, 13 Juni 2026
Tanggal Special
Tanggal 12 Juni biasanya menjadi salah satu tanggal yang selalu saya tunggu. Bukan karena ada pesta besar atau hadiah yang mewah. Tanggal itu menyimpan sejarah istimewa dalam perjalanan hidup keluarga saya. Pada tanggal tersebut, saya selalu berusaha menyiapkan sesuatu yang sederhana untuk suami dan ibu tercinta. Kadang hanya makan bersama, menikmati hidangan seadanya, bercengkerama sambil mengenang perjalanan hidup yang telah Allah Subhanahu Wata'alla berikan kepada kami.
Bagi saya, kebersamaan adalah nikmat yang tidak ternilai. Makan bersama bukan sekadar mengisi perut, tetapi menjadi sarana bersyukur atas kesehatan, umur panjang, dan kesempatan untuk berkumpul dengan orang-orang yang Allah Subhanahu Wata'alla titipkan. Karena itulah setiap tahun saya berusaha mengingat tanggal tersebut dan mempersiapkannya dengan penuh rasa syukur.
Namun tahun ini berbeda. Kesibukan dan aktivitas membuat saya lupa. Bahkan pada tanggal 12 Juni itu saya sedang tidak berada di rumah. Sejak pagi hingga siang saya menjalani kegiatan seperti biasa. Tidak ada sesuatu yang terasa berbeda. Saya menjalani hari dengan santai tanpa menyadari bahwa ada tanggal penting yang sedang saya lewati.
Sore hari, ketika membuka handphone genggam, saya membaca beberapa komentar dan pesan dari anak-anak. Mereka menuliskan doa-doa yang indah untuk abah mereka. Ada yang mengucapkan selamat, ada yang mendoakan kesehatan, keberkahan umur, dan kebahagiaan. Saat itulah saya terdiam. Jantung saya seakan berhenti sejenak.
"Ya Allah, hari ini tanggal 12 Juni."
Saya baru sadar bahwa hari istimewa yang biasanya saya persiapkan dengan penuh perhatian ternyata telah saya lewati begitu saja. Tidak ada ucapan khusus sejak pagi. Tidak ada makan bersama. Tidak ada persiapan sederhana seperti tahun-tahun sebelumnya. Perasaan bersalah perlahan memenuhi hati saya.
Sebagai seorang istri dan anak, saya merasa telah lalai. Padahal setiap tahun saya selalu berusaha mengingat dan menghormati hari yang bermakna bagi keluarga. Saya menundukkan kepala dan memandang layar handphpne yang masih dipenuhi doa dari anak-anak.
Allah Subhanahu Wata'alla mengingatkan saya tentang satu hal penting. Manusia memang tempatnya lupa. Bahkan kata "insan" dalam bahasa Arab sering dikaitkan dengan sifat lupa yang melekat pada manusia. Tidak ada manusia yang sempurna. Tidak ada manusia yang terbebas dari kekhilafan.
Saya teringat firman Allah Subhanahu Wata'alla bahwa Dia tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Allah juga Maha Mengetahui isi hati hamba-Nya. Dia mengetahui bahwa kelupaan saya bukan karena tidak sayang, bukan karena tidak peduli, melainkan karena keterbatasan sebagai manusia. Saya segera memanjatkan doa.
"Ya Allah, ampunilah kelalaian ini. Limpahkanlah kesehatan, keberkahan umur, kebahagiaan, dan rahmat-Mu kepada suamiku tercinta dan ibuku tersayang. Jadikan mereka hamba-hamba yang selalu Engkau lindungi dalam setiap langkah kehidupannya."
Sebaliknya, ada orang yang hanya mampu mengangkat kedua tangannya dan berdoa dengan tulus. Doa itulah yang menjadi hadiah paling berharga. Kadang Allah membiarkan kita lupa agar kita menyadari bahwa segala sesuatu tidak selalu berada dalam kendali kita. Kelupaan mengajarkan kerendahan hati. Kelupaan mengingatkan bahwa kita hanyalah manusia biasa yang membutuhkan pertolongan-Nya setiap saat.
Saya semakin memahami bahwa hidup bukan tentang menjadi sempurna. Hidup adalah tentang terus memperbaiki diri. Ketika salah, kita meminta maaf. Ketika lupa, kita mengingat kembali. Ketika lalai, kita segera bertobat dan memperbaikinya.
Kini saya bertekad untuk lebih menghargai setiap momen kebersamaan yang Allah berikan. Sebab kita tidak pernah tahu berapa banyak kesempatan yang masih tersisa. Hari ini kita masih bisa berkumpul, masih bisa berbicara, masih bisa mengucapkan terima kasih dan meminta maaf. Besok belum tentu kesempatan itu masih ada.
Semoga Allah senantiasa menjaga suami tercinta dan ibu tersayang dalam lindungan-Nya. Semoga Allah melimpahkan kesehatan, keberkahan umur, rezeki yang halal, serta kebahagiaan dunia dan akhirat kepada mereka Semoga kelupaan yang saya alami menjadi pengingat bahwa manusia memang tidak luput dari salah dan lupa, tetapi pintu rahmat Allah selalu terbuka bagi hamba yang mau kembali kepada-Nya dengan hati yang tulus.
Alhamdulillahi rabbil ‘ala
Jumat, 12 Juni 2026
Tantangan Di Trans Studio
Rabu, 10 Juni 2026
Suasana Heboh
Selasa, 09 Juni 2026
Perjuangan Kehidupan
Minggu, 07 Juni 2026
Pejuang Sehat
Karya : Gutamining Saida
Ide menulis pagi ini berasal dari Grup Swimming Squad 2. Seperti biasa, Pak Gun mengirimkan sebuah video latihan yang disertai komentar singkat di bawahnya. Video itu memperlihatkan dua orang peserta terapi renang yang sedang berlatih. Ketika saya perhatikan lebih saksama, ternyata dua orang dalam video tersebut adalah saya dan Bu Aci.
Melihat rekaman itu, hati saya dipenuhi rasa syukur. Saya teringat perjalanan yang telah kami lalui selama beberapa bulan terakhir. Kami datang ke kolam dengan membawa berbagai persoalan dan keluhan kesehatan. Kami memiliki tujuan yang sama, yaitu berikhtiar untuk menjadi lebih sehat, lebih kuat, dan lebih bahagia.
Setiap orang yang datang ke kolam membawa cerita masing-masing. Ada yang ingin mengurangi nyeri pada tubuhnya, ada yang ingin memperbaiki pernapasan, ada pula yang ingin menghilangkan trauma terhadap air. Tidak sedikit yang datang dengan hati yang lelah karena persoalan hidup yang bertubi-tubi.
Saya mengikuti terapi renang, ada rasa takut yang begitu besar. Jangankan berada di bagian kolam yang dalam, melihat air yang tampak gelap saja sudah membuat jantung berdebar lebih cepat. Pikiran buruk sering muncul tanpa diundang. Bagaimana jika tenggelam? Bagaimana jika tidak mampu mengendalikan diri? Bagaimana jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan?
Rasa takut itu ternyata tidak mudah dihilangkan. Saya belajar bahwa keberanian bukanlah keadaan ketika seseorang tidak memiliki rasa takut. Keberanian adalah kemampuan untuk tetap melangkah meskipun rasa takut masih ada.
Pertemuan demi pertemuan kami jalani dengan penuh kesabaran. Pak Gun tidak hanya mengajarkan teknik berenang atau terapi di dalam air. Beliau juga sering menyisipkan pelajaran kehidupan yang sangat berharga. Banyak nasihat sederhana yang ternyata mengandung arti.
Di kolam renang, saya belajar bahwa tubuh yang tegang akan sulit mengapung. Sebaliknya, ketika tubuh rileks dan pikiran tenang, tubuh akan lebih mudah mengapung di atas air. Pelajaran sederhana ini mengingatkan saya pada kehidupan sehari-hari.
Bukankah sering kali kita tenggelam bukan karena masalah yang terlalu besar, melainkan karena hati yang terlalu tegang dalam menghadapinya? Manusia memiliki kewajiban untuk berusaha. Setelah usaha dilakukan, ada saatnya kita harus menyerahkan hasilnya kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Ketika hati dipenuhi kecemasan berlebihan, pikiran menjadi sempit dan langkah terasa berat. Sebaliknya, ketika hati dipenuhi tawakal, jiwa menjadi lebih tenang
Allah Subhanahu Wata'alla berfirman dalam Al-Qur'an bahwa barang siapa bertawakal kepada-Nya, maka Allah akan mencukupkan keperluannya. Ayat ini terasa begitu nyata dalam kehidupan. Banyak persoalan yang dahulu tampak besar ternyata dapat terlewati dengan pertolongan-Nya.
Saya merasakan perubahan yang perlahan tetapi pasti. Rasa berdebar yang dulu sering muncul kini semakin berkurang. Ketakutan yang dahulu menguasai pikiran perlahan mulai meninggalkan saya. Bahkan sesuatu yang dulu terasa mustahil kini mulai bisa saya lakukan.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah ketika saya mulai berani berada di area kolam yang lebih dalam. Dahulu saya selalu mencari tempat yang dangkal agar merasa aman. Kini, dengan pendampingan dan latihan yang teratur, saya mulai berani berada di kedalaman sekitar 200 meter.
Tentu saja keberanian itu tidak muncul dalam semalam. Bim Salabim. Ada proses panjang yang harus dilalui. Ada jatuh bangun, ada keraguan, ada rasa ingin menyerah, dan ada saat-saat ketika saya merasa tidak mengalami kemajuan apa pun. Allah Subhanahu Wata'alla sedang mengajarkan satu hal penting, yaitu kesabaran.
Dalam kehidupan, banyak orang ingin hasil yang cepat. Padahal setiap perubahan membutuhkan proses. Sebagaimana benih yang ditanam tidak langsung menjadi pohon besar, demikian pula kemampuan dan keberanian manusia membutuhkan waktu untuk bertumbuh.
Video yang dikirim Pak Gun pagi ini menjadi saksi perjalanan tersebut. Dalam video itu terlihat saya dan Bu Aci berlatih bersama. Kami tampak tertawa, bercanda, dan menikmati suasana kolam. Tidak ada lagi wajah tegang seperti pada masa-masa awal latihan.
Tawa itu mungkin terdengar sederhana bagi orang lain. Bagi kami, tawa tersebut memiliki makna yang mendalam. Tawa itu adalah tanda bahwa hati mulai menemukan ketenangan. Tawa itu adalah bukti bahwa rasa takut yang dulu begitu besar kini mulai tergantikan oleh rasa percaya diri.
Saya percaya bahwa kebahagiaan adalah salah satu nikmat yang sering terlupakan. Banyak orang menunggu bahagia setelah mendapatkan sesuatu yang besar. Padahal Allah Subhanahu Wata'alla sering menghadirkan kebahagiaan melalui hal-hal kecil yang terjadi setiap hari.
Bisa bernapas dengan lega adalah nikmat. Bisa bergerak tanpa rasa sakit adalah nikmat. Bisa tertawa bersama teman-teman adalah nikmat. Bisa belajar hal baru adalah nikmat. Bahkan bisa bangun pagi dan menyaksikan matahari terbit pun merupakan nikmat yang luar biasa.
Karena itu, pagi ini saya kembali mengucapkan syukur. Syukur kepada Allah Subhanahu Wata'alla, yang telah mempertemukan saya dengan orang-orang baik. Syukur karena diberikan kesempatan untuk terus berikhtiar menjaga kesehatan. Syukur karena diberikan kekuatan untuk menghadapi ketakutan yang dahulu terasa begitu besar.
Saya juga bersyukur atas keberadaan teman-teman di Swimming Squad2 yang selalu saling menyemangati. Kehadiran mereka membuat proses belajar menjadi lebih ringan dan menyenangkan. Kami tidak hanya belajar tentang teknik di dalam air, tetapi juga belajar tentang makna kebersamaan, kesabaran, dan rasa syukur.
Kolam renang ternyata bukan sekadar tempat berolahraga. Bagi saya, kolam telah menjadi ruang pembelajaran kehidupan. Di sana saya belajar tentang keberanian, keikhlasan, kesabaran, dan tawakal. Air mengajarkan bahwa semakin kita melawan dengan ketegangan, semakin berat rasanya. Namun ketika kita percaya, tenang, dan berserah kepada Allah setelah berusaha, banyak hal menjadi lebih mudah. Semoga setiap langkah ikhtiar yang kami lakukan menjadi bagian dari ibadah. Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan. Aamiin.
Cepu, 8 Juni 2026
Senin Berkarya
Bergandengan Tangan
Teriakkannya Mana?
Karya : Gutamining Saida
Minggu sore waktunya untuk berolahraga, kegiatan terapi dan latihan renang. Pak Gun selalu menghadirkan pengalaman yang unik. Tidak hanya melatih fisik, tetapi juga memberikan pelajaran kehidupan yang sering kali sederhana namun bermakna.
Saat latihan hampir selesai. Matahari mulai condong ke barat. Cahaya keemasan memantul di permukaan air kolam, menciptakan pemandangan yang indah dan menenangkan. Setelah berbagai latihan dilakukan, mulai dari meluncur, mengatur pernapasan, hingga mencoba berbagai gerakan, kami mengira kegiatan akan segera ditutup seperti biasa. Pak Gun ternyata masih memiliki satu kegiatan penutup yang harus kami lakukan bersama.
"Ibu-ibu, semuanya berkumpul dulu!" panggil Pak Gun dengan suara lantang.
Kami pun mendekat dan membentuk barisan di dalam kolam. Wajah para peserta terlihat ceria meskipun sebagian tampak lelah setelah berlatih cukup lama. Pak Gun kemudian memberikan instruksi.
"Sekarang angkat kedua tangan ke atas."
Kami mengikuti perintah tersebut. Kedua tangan terangkat tinggi mengarah ke langit.
"Lalu nanti badan masuk ke dalam air. Setelah ada aba-aba peluit, muncul ke permukaan sambil berteriak sekeras-kerasnya. Bayangkan semua beban pikiran, rasa sedih, rasa takut, rasa kecewa, dan penyakit ikut keluar bersama teriakan itu."
Kami mendengarkan dengan saksama. Sebagian mengangguk-angguk, sebagian lagi tersenyum. Saya berpikir bahwa instruksi ini terdengar sederhana. Ternyata ketika harus dilakukan bersama-sama, tidak semudah yang dibayangkan. Peluit pun berbunyi. Tubuh kami serempak masuk ke dalam air. Beberapa detik kemudian kami muncul ke permukaan.
Akan tetapi, sesuatu yang lucu terjadi. Tidak ada teriakan. Tidak ada suara keras. Yang terdengar hanya suara percikan air dan napas peserta yang muncul dari dalam kolam. Semua peserta berdiri dengan wajah biasa saja. Ada yang tersenyum kecil, ada yang menahan tawa, dan ada yang hanya memandang ke kanan dan ke kiri. Pak Gun menatap kami beberapa saat. Kemudian beliau tersenyum sambil menggelengkan kepala.
"Lho, bagaimana ini?" kata beliau sambil tertawa.
"Disuruh teriak keras malah diam semua?"
Mendengar komentar itu, kami langsung saling berpandangan. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba tawa pecah di antara kami. Suasana yang semula hening berubah menjadi penuh gelak tawa. Ada yang menutup wajah karena malu. Ada yang tertawa sambil memegang perut.
Ada pula yang menunjuk temannya sambil berkata, "Saya kira yang lain duluan."
Rupanya semua memiliki pikiran yang hampir sama. Masing-masing menunggu peserta lain memulai teriakan lebih dahulu. Akibatnya tidak ada seorang pun yang bersuara. Pak Gun kembali tersenyum melihat tingkah kami.
"Baik, kita ulang sekali lagi," ujar beliau.
"Tapi kali ini harus sungguh-sungguh. Yang keras ya. Jangan malu. Tidak ada yang akan menertawakan."
Kami mengangguk serempak. Suasana mendadak menjadi lebih serius meskipun senyum masih menghiasi wajah kami. Pak Gun lalu mengangkat tangan memberi aba-aba.
"Saya hitung."
"Satu..." Kami mulai bersiap.
"Dua..." Tubuh perlahan masuk ke dalam air.
"Tiga!" Serentak kami muncul dari dalam kolam.
"Aaaaaaaahhhhhh...!"
Suara teriakan menggema memenuhi area kolam. Kali ini semua kompak. Semua melakukannya dengan penuh semangat. Suasana yang tadinya canggung berubah menjadi sangat meriah. Setelah berteriak, sebagian peserta langsung tertawa. Ada yang tersenyum lega, ada pula yang mengangkat kedua tangan dengan wajah gembira. Pak Gun pun mengacungkan jempol.
"Nah, begitu!"
"Bagus!"
Kami kembali tertawa bersama. Meskipun hanya berupa teriakan singkat, entah mengapa hati terasa lebih ringan. Seakan-akan ada sesuatu yang dilepaskan. Bukan karena teriakan itu memiliki kekuatan ajaib, melainkan karena kami belajar melepaskan ketegangan yang selama ini mungkin tersimpan dalam hati.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia memang sering memikul banyak beban. Ada beban pekerjaan, beban keluarga, beban ekonomi, maupun berbagai persoalan yang tidak selalu dapat diceritakan kepada orang lain. Kadang seseorang terlihat tersenyum di luar, tetapi di dalam hatinya sedang berjuang menghadapi berbagai kesulitan.
Karena itulah, menjaga kesehatan tidak hanya berkaitan dengan tubuh, tetapi juga pikiran dan jiwa. Sebagai orang beriman, kita meyakini bahwa tempat terbaik untuk mencurahkan segala beban adalah kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Dalam setiap salat, doa, dan dzikir, seorang hamba dapat mengadukan segala kesulitan yang dirasakannya.
Allah berfirman bahwa dengan mengingat-Nya hati menjadi tenteram. Ketenteraman itulah yang sesungguhnya dicari oleh setiap manusia. Manusia memang perlu belajar melepaskan beban. Setelah itu, beban tersebut hendaknya diserahkan kepada Allah yang Maha Kuasa.
Kita boleh berusaha menjaga kesehatan melalui olahraga, terapi, dan aktivitas positif lainnya. Akan tetapi, kesembuhan yang sesungguhnya tetap berasal dari Allah Subhanahu Wata'alla. Rasa sedih, kecewa, dan berbagai persoalan hidup. Kita berikhtiar mengelolanya dengan baik, tetapi hati tetap bersandar kepada-Nya.
Setelah kegiatan selesai, Pak Gun kembali memberikan senyum khasnya.
"Ya, boleh pulang, Ibu-Ibu."
"Sampai jumpa Minggu depan."
Ucapan sederhana itu langsung disambut oleh kami dengan wajah ceria.
"Siap, Pak!"
"Sampai jumpa!"
Sebagian peserta masih tertawa mengingat kejadian saat percobaan pertama yang gagal total karena semua diam membisu. Peristiwa sederhana itu justru menjadi kenangan yang menyenangkan. Kebahagiaan bisa muncul dari tawa yang sederhana, dan hati yang bersyukur. Hidup akan terasa lebih ringan ketika dijalani dengan hati yang gembira, tubuh yang sehat, persaudaraan yang erat, serta keyakinan bahwa Allah selalu menemani setiap langkah perjalanan kita. Semoga kebersamaan yang penuh kebaikan itu terus terjaga, dan setiap pertemuan menjadi sarana untuk semakin bersyukur atas nikmat kesehatan, persahabatan, dan kesempatan beribadah yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wata'alla. Aamiin
Cepu, 7 Juni 2026
Gaya Dollpin
Karya: Gutamining Saida
Sabtu sore kembali menjadi waktu yang saya tunggu-tunggu. Seperti biasanya, kami berkumpul di kolam renang untuk mengikuti latihan dan terapi bersama Pak Gun. Setiap pertemuan selalu menghadirkan pengalaman baru, ilmu baru, sekaligus hikmah kehidupan yang dapat direnungkan. Sore itu, materi yang kami pelajari adalah gaya dolpin atau gaya lumba-lumba.
Saat mendengar nama gaya lumba-lumba, saya sempat berpikir gerakan tersebut tidak terlalu sulit. Bayangan saya, gerakannya hanya meniru ikan lumba-lumba yang meluncur di air. Setelah mulai mempraktikkannya, ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Gerakan ini membutuhkan kelenturan tubuh, koordinasi gerak, serta kemampuan mengatur napas dengan baik.
Beberapa kali saya mencoba, tubuh terasa kaku. Gerakan kaki dan badan belum selaras. Napas menjadi pendek sehingga membuat saya engos-engosan. Setelah meluncur beberapa meter, tenaga terasa cepat terkuras. Saya kembali ke tepi kolam sambil mengatur napas.
"Masih belum pas," gumam saya dalam hati.
Saya teringat bahwa setiap kemampuan memerlukan proses. Tidak ada orang yang langsung mahir dalam satu kali percobaan. Begitu pula dalam kehidupan. Banyak hal yang Allah Subhanahu Wata'alla ajarkan melalui proses panjang agar manusia belajar bersabar dan tidak mudah menyerah.
Saya kembali mencoba. Lagi dan lagi. Kadang berhasil meluncur lebih jauh, kadang justru kehilangan keseimbangan. Sesekali air masuk ke hidung sehingga membuat saya batuk kecil. Meskipun demikian, suasana tetap menyenangkan. Tidak ada rasa malu. Tidak ada rasa takut ditertawakan. Yang ada justru semangat untuk terus belajar.
Setelah beberapa kali mencoba sendiri, Pak Gun meminta kami berkumpul. Beliau mengarahkan agar kami berbaris dari ujung kiri kolam hingga ujung kanan. Jarak antar peserta sekitar rentang satu tangan. Kami berdiri berjajar sambil menunggu instruksi berikutnya.
Pemandangan itu sungguh menarik. Ada yang sudah mulai bisa melakukan gerakan lumba-lumba dengan baik. Ada yang masih terlihat kaku. Ada pula yang gerakannya membuat teman-teman tersenyum karena unik dan lucu. tidak ada satu pun yang mengejek. Semua tertawa dalam suasana persaudaraan.
Ketika salah seorang peserta berhasil melakukan gerakan dengan baik, spontan terdengar tepuk tangan dan tawa bahagia.
"Alhamdulillah, sudah bisa!" seru seseorang.
Peserta yang berhasil hanya tersenyum malu-malu, sementara yang lain ikut merasa senang.
Sebaliknya, ketika ada peserta yang belum berhasil, teman-teman tidak mencemooh. Mereka justru memberikan semangat.
"Ayo, Bu, pasti bisa!"
"Coba lagi, sedikit lagi sudah benar."
Kalimat-kalimat sederhana itu terdengar begitu hangat. Tawa yang muncul bukanlah tawa yang melukai hati, melainkan tawa yang menguatkan. Tawa yang lahir dari kebersamaan. Tawa yang menghilangkan beban dan membuat suasana semakin akrab.
Bukankah kehidupan yang indah memang seperti itu? Ketika seseorang berhasil, kita ikut bahagia. Ketika seseorang belum berhasil, kita membantu dan menyemangatinya. Tidak ada iri hati, tidak ada dengki, dan tidak ada keinginan menjatuhkan orang lain.
Di kolam, perbedaan usia, profesi, jabatan, bahkan latar belakang seolah melebur menjadi satu. Semua sama-sama menjadi murid yang sedang belajar. Semua pernah gagal. Semua pernah minum air kolam. Semua pernah melakukan kesalahan gerakan. Karena itulah tidak ada alasan untuk merasa lebih hebat daripada yang lain.
Suasana seperti ini mengingatkan saya pada ajaran agama tentang pentingnya ukhuwah atau persaudaraan. Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wa Sallam mengajarkan agar sesama manusia saling menolong dalam kebaikan dan saling menguatkan. Orang beriman ibarat satu tubuh. Ketika satu bagian merasakan kesulitan, bagian lain ikut merasakan dan membantu.
Nilai kebaikan saya lihat nyata di kolam renang. Tidak ada yang merasa senang ketika temannya gagal. Tidak ada yang bangga melihat orang lain kesulitan. Sebaliknya, semua berharap temannya berhasil dan berkembang.
Yang paling menarik adalah soal emosi. Di kolam renang, saya jarang sekali melihat orang marah atau sakit hati. Mungkin karena suasananya penuh kegembiraan. Mungkin juga karena air membantu menenangkan pikiran. Atau bisa jadi karena semua orang datang dengan niat belajar dan memperbaiki diri.
Ketika seseorang melakukan kesalahan gerakan, ia tertawa. Ketika gerakannya belum benar, ia mencoba lagi. Ketika berhasil, ia bersyukur. Tidak ada ruang bagi kesombongan maupun kemarahan. Betapa indahnya jika suasana seperti ini dapat dibawa ke kehidupan sehari-hari. Ketika menghadapi masalah, kita tetap tersenyum. Ketika gagal, kita tidak putus asa. Ketika melihat orang lain berhasil, kita ikut bahagia. Ketika melihat saudara kita kesulitan, kita memberikan dukungan.
Latihan gaya lumba-lumba bukan sekadar belajar berenang. Ada pelajaran besar yang saya peroleh. Allah Subhanahu Wata'alla mengajarkan bahwa keberhasilan membutuhkan kesabaran. Allah Subhanahu Wata'alla juga mengingatkan bahwa kebahagiaan sering kali hadir melalui kebersamaan, bukan melalui persaingan yang tidak sehat.
Menjelang latihan berakhir, kami kembali berkumpul di tepi kolam. Wajah-wajah peserta terlihat cerah. Sebagian masih membahas gerakan yang baru dipelajari. Sebagian lagi tertawa mengenang kejadian lucu selama latihan. Meskipun belum sepenuhnya menguasai gaya lumba-lumba, saya merasa memperoleh sesuatu yang jauh lebih berharga.
Kebahagiaan tidak selalu ditemukan di tempat-tempat mewah. Terkadang kebahagiaan hadir di kolam renang sederhana, melalui tawa teman-teman yang saling mendukung, melalui perjuangan yang dilakukan bersama, dan melalui hati yang selalu mengingat Allah Subhanahu Wata'alla dalam setiap aktivitas.
Semoga setiap langkah, setiap kayuhan tangan, setiap gerakan di dalam air, serta setiap ilmu yang kami pelajari menjadi sarana untuk menjaga kesehatan, mempererat persaudaraan, dan menambah rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Karena pada akhirnya, tujuan hidup bukan hanya menjadi pandai berenang, melainkan menjadi manusia yang lebih baik, lebih sabar, lebih rendah hati, dan lebih dekat kepada Sang Pencipta. Alhamdulillah, satu kesimpulan yang sama bahwa bisa atau belum bisa, berhasil atau masih belajar, ujung-ujungnya adalah bahagia.
Cepu, 7 Juni 2026
Kamis, 04 Juni 2026
Silaturrahmi ke Bu Neni
Karya: Gutamining Saida
Kadang Allah Subhanahu Wata'alla menghadirkan kebaikan bukan melalui perencanaan yang matang, melainkan melalui bisikan hati yang sederhana. Begitulah yang saya rasakan. Pada suatu ketika saya keliling Cepu. Tidak ada agenda khusus, tidak ada janji yang dibuat sebelumnya. Tiba-tiba terlintas dalam pikiran untuk bersilaturahmi ke Bu Neni, seorang penjual "Tan Cang Djo".
Ide itu muncul begitu saja. Mungkin bagi sebagian orang hal tersebut hanyalah keinginan sesaat. Saya percaya bahwa setiap niat baik yang muncul bisa jadi merupakan jalan yang Allah Subhanahu Wata'alla bukakan untuk mempererat persaudaraan.
"Dik, ayo mampir ke Bu Neni," ucap saya kepada anak yang saat itu mengendarai sepeda motor.
"Oke, siapa takut," jawabnya dengan semangat.
Motor pun melaju membelah jalanan Cepu. Angin malam terasa sejuk menyentuh wajah. Saya sendiri sebenarnya belum mengetahui lokasi rumah Bu Neni. Yang saya tahu hanya perkiraannya saja. Ketika motor tiba-tiba berbelok memasuki sebuah lorong kecil, saya menjadi penasaran.
"Lho... lho... mau ke mana nich?" tanya saya.
"Katanya mau mampir bu Neni," jawab anak saya singkat.
"Memang masih ingat rumahnya?" tanya saya lagi.
Anak saya hanya diam sambil terus menjalankan motornya. Beberapa saat kemudian motor berhenti di depan sebuah warung sederhana.
"Nah, sudah sampai." ucap dia.
Saya memandang sekeliling. Alhamdulillah, ternyata benar. Kami berhasil menemukan warung "Tan Cang Djo" Bu Neni. Hati saya dipenuhi rasa syukur. Di zaman sekarang, ketika banyak orang sibuk dengan urusan masing-masing, kesempatan untuk menjalin silaturahmi adalah nikmat yang patut disyukuri. Ketika kami mengucapkan salam, Bu Neni menyambut dengan wajah cerah penuh keramahan.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam. Lho, siapa nich," sambut beliau dengan hangat.
"Mbak Faiz bu." jawab anak saya.
Senyumnya seolah menghapus rasa lelah. Beliau menerima kami dengan penuh kegembiraan. Kami pun berbincang-bincang ringan. Menanyakan kabar, kesehatan, dan berbagai hal sederhana yang justru membuat hati terasa dekat. Tidak ada pembicaraan tentang urusan yang berat. Hanya percakapan penuh kehangatan yang mengingatkan bahwa manusia memang diciptakan untuk saling menguatkan.
Dalam hati saya teringat sabda Rasulullah bahwa siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi. Hadis tersebut bukan sekadar nasihat, tetapi pedoman hidup yang luar biasa. Silaturahmi terkadang cukup dengan berkunjung, menyapa, menanyakan kabar, dan menunjukkan perhatian yang tulus.
Di tengah perbincangan, saya memperhatikan wajah Bu Neni yang tampak bahagia menerima kedatangan kami. Saya pun merasakan kebahagiaan yang sama. Ternyata kebahagiaan itu menular. Ketika datang energi positif kepada orang lain.
Saya semakin yakin bahwa salah satu penyebab hati terasa sempit adalah ketika kita sibuk dengan diri sendiri. Sebaliknya, ketika kita meluangkan waktu untuk mengunjungi saudara, teman, atau kenalan, hati menjadi lebih lapang. Kita hidup ini tidak dijalani sendirian.
Di zaman media sosial seperti sekarang, banyak orang merasa sudah cukup bersilaturahmi hanya dengan memberikan tanda suka atau mengirim pesan singkat. Memang baik, tetapi bertemu langsung memiliki nilai yang berbeda. Ada senyum yang terlihat nyata, ada jabat tangan yang menghangatkan persaudaraan, ada doa yang terucap secara langsung, dan ada kebahagiaan yang tidak bisa digantikan oleh layar telepon genggam.
Sebelum berpamitan, saya meminta anak saya untuk mengambil foto bersama Bu Neni.
"Mari Bu, foto sebentar."
Beliau tersenyum dan mengiyakan. Jepretan kamera sederhana itu sebenarnya bukan sekadar untuk mengabadikan momen. Saya memiliki niat lain. Foto tersebut ingin saya kirim ke grup terapi renang yang selama ini menjadi tempat kami saling berbagi semangat dan inspirasi.
Saya berharap ketika teman-teman melihat foto tersebut, mereka juga tergerak untuk melakukan hal yang sama. Mungkin ada yang teringat sahabat lamanya. Ada yang ingin mengunjungi guru yang pernah berjasa. Ada yang ingin menyambung hubungan dengan kerabat yang lama tidak ditemui.
Bukankah kebaikan akan semakin indah jika menginspirasi orang lain untuk melakukan kebaikan yang serupa? Perjalanan pulang, hati saya dipenuhi rasa syukur. Saya menyadari bahwa umur manusia memang terbatas. Kesempatan berbuat baik selalu terbuka selama napas masih berhembus. Karena itu, jangan menunda silaturahmi. Jangan menunggu hari raya atau acara khusus. Jika ada kesempatan, datanglah. Jika ada waktu, sempatkanlah.
Siapa tahu, kunjungan sederhana yang kita lakukan hari ini menjadi sebab bertambahnya keberkahan hidup, bertambahnya persaudaraan, dan bertambahnya pahala di sisi Allah Subhanahu Wata'alla.
Semoga Allah Subhanahu Wata'alla. senantiasa menjaga tali persaudaraan di antara kita, melembutkan hati untuk saling memaafkan, melapangkan rezeki, menyehatkan jasmani dan rohani, serta menjadikan setiap langkah silaturahmi sebagai jalan menuju ridha-Nya. Aamiin ya Rabbal 'alamiin
Cepu, 5 Juni 2026
Rabu, 03 Juni 2026
Saling Menguatkan
Karya: Gutamining Saida
Kamis pagi itu suasana grup WhatsApp Muda Swimming Squad 2 terasa hangat dan penuh semangat. Seperti biasa, Pak Gun, pelatih renang sekaligus pembimbing terapi yang selama ini membersamai para peserta, menyapa seluruh anggota grup dengan keramahan.
Beliau mengirimkan sebuah foto dirinya mengenakan baju koko bermotif kotak-kotak yang dipadukan dengan peci hitam. Penampilannya sederhana, tetapi memancarkan kesan bersahaja. Di bawah foto tersebut tertulis pesan singkat.
"Assalamualaikum, selamat pagi. Salam sehat buat semuanya."
Sapaan sederhana itu seolah menjadi pembuka hari yang menyenangkan bagi para anggota grup. Tidak hanya memberikan salam, Pak Gun juga membagikan beberapa video latihan renang dan terapi yang pernah dilakukan bersama para peserta.
Salah satu video yang menarik perhatian memperlihatkan enam belas peserta berdiri di dalam kolam sambil bergandengan tangan membentuk lingkaran besar. Mereka tampak tersenyum, saling menatap, dan mengikuti arahan dengan penuh semangat.
Di bawah video tersebut Pak Gun menuliskan kalimat yang sangat menyentuh.
"Saling menguatkan satu sama lain. Saling mensupport satu dengan yang lain"
Kalimat itu mungkin sederhana, tetapi mengandung pelajaran hidup yang sangat dalam. Manusia memang tidak diciptakan untuk hidup sendiri. Dalam menjalani kehidupan, setiap orang membutuhkan bantuan, dukungan, perhatian, dan doa dari orang lain. Ketika seseorang sedang lemah, yang lain hadir menguatkan. Saat ada yang kehilangan semangat, sahabat-sahabatnya hadir memberikan motivasi.
Tidak lama kemudian, Bu Sulikah membalas pesan tersebut.
"Waalaikumsalam. Pagi juga, Pak Gun."
Balasan itu segera mendapat tanggapan dari Pak Gun.
"Bu Sulikah, sehat?"
Pertanyaan sederhana yang menunjukkan kepedulian. Di dalam sebuah kelompok yang penuh kekeluargaan, perhatian kecil seperti itu sering kali mampu menghadirkan kebahagiaan tersendiri.
Bu Sulikah pun menjawab dengan jujur.
"Alhamdulillah, tangannya agak kram gara-gara makan sate kambing, Pak."
Membaca jawaban tersebut, Pak Gun langsung menanggapi dengan nada bercanda.
"Looooh, habis berapa tusuk?"
Pertanyaan itu membuat suasana grup semakin cair. Bu Sulikah tidak menjawab dengan angka, melainkan hanya mengirimkan gambar tertawa.
Melihat hal itu, Pak Gun kembali menambahkan komentar yang membuat para anggota grup tersenyum.
"Sate itu enak, tetapi tidak mengenakkan juga."
Ucapan tersebut mengandung humor sekaligus nasihat. Makanan yang lezat memang nikmat disantap, tetapi jika berlebihan tentu dapat menimbulkan dampak yang kurang baik bagi kesehatan. Dalam ajaran agama pun, manusia diajarkan untuk tidak berlebihan dalam segala hal, termasuk dalam urusan makan dan minum.
Allah Subhanahu Wata'alla berfirman agar manusia makan dan minum, tetapi tidak berlebih-lebihan. Allah Subhanahu Wata'alla tidak menyukai orang-orang yang berlebihan. Pesan tersebut sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari. Banyak penyakit muncul bukan karena kekurangan makanan, melainkan karena tidak mampu mengendalikan keinginan.
Percakapan ringan di grup terus berlanjut. Anggota yang lain mulai memberikan respons, baik berupa gambar, komentar, maupun candaan yang membuat suasana semakin hidup. Meski hanya melalui media digital, kehangatan persaudaraan tetap terasa.
Menariknya, kebersamaan yang terjalin di grup tidak hanya terjadi saat berada di dunia maya. Hubungan yang akrab itu telah terbangun sejak mereka berlatih bersama di kolam renang. Di sana mereka belajar bukan hanya tentang teknik berenang atau terapi air, melainkan juga tentang kehidupan.
Saat berada di kolam, mereka saling membantu. Peserta yang sudah mahir dengan sabar mendampingi yang masih belajar. Mereka saling menyemangati ketika ada yang merasa takut masuk ke air. Mereka saling memberi tepuk tangan ketika ada yang berhasil melakukan gerakan yang sebelumnya belum mampu dilakukan.
Lingkaran yang dibentuk dalam video itu menjadi simbol persaudaraan yang indah. Bentuk lingkaran tidak memiliki ujung dan pangkal. Semua berada pada posisi yang sama. Tidak ada yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah. Semuanya saling terhubung dan saling menguatkan.
Begitulah seharusnya kehidupan seorang muslim. Persaudaraan tidak dibangun atas dasar kepentingan pribadi, melainkan atas dasar kasih sayang dan keikhlasan. Rasulullah mengajarkan bahwa orang-orang beriman itu ibarat satu tubuh. Jika satu bagian merasakan sakit, maka bagian yang lain ikut merasakan dan berusaha membantu.
Nilai-nilai seperti itulah yang tampak dalam komunitas renang dan terapi. Ketika ada anggota yang sakit, yang lain mendoakan. Ketika ada yang berhalangan hadir, yang lain menanyakan kabarnya. Saat ada yang berhasil mencapai kemajuan dalam terapi, semua ikut bergembira.
Kebersamaan semacam ini merupakan nikmat yang patut disyukuri. Tidak semua orang memiliki lingkungan yang penuh dukungan dan kepedulian. Karena itu, menjaga silaturahmi menjadi hal yang sangat penting.
Dari sebuah foto, beberapa video, dan percakapan ringan tentang sate kambing, tersimpan pelajaran yang sangat berharga. Bahwa hidup akan terasa lebih ringan ketika dijalani bersama orang-orang yang saling mendukung. Bahwa kesehatan bukan hanya soal tubuh yang kuat, tetapi juga hati yang bahagia karena memiliki sahabat-sahabat yang peduli.
Semoga kebersamaan yang terjalin dalam Muda Swimming Squad 2 terus terjaga. Semoga setiap anggota selalu diberikan kesehatan, keselamatan, dan keberkahan oleh Allah . Semoga semangat saling menguatkan, saling mendoakan, serta saling membantu dapat terus tumbuh, tidak hanya di dalam kolam renang, tetapi juga dalam setiap langkah kehidupan. Sesungguhnya manusia yang terbaik bukanlah yang hidup untuk dirinya sendiri, melainkan yang mampu memberi manfaat dan menguatkan orang lain di sekitar.
Cepu, 4 Juni 2026






