Rabu, 01 April 2026

NENEK MOYANG BANGSA INDONESIA

 


Karya : Gutamining Saida

                                     NENEK MOYANG BANGSA INDONESIA


┌─────────────────────────────┼─────────────────────────────┐
│ │ │
ASAL-USUL MIGRASI JALUR & CARA
│ │ │
├─ Yunnan (utama) ├─ Proto Melayu ├─ Jalur Barat
├─ Out of Taiwan │ - ±1500 SM │ Yunnan→Sumatra
└─ Nusantara │ - Batu (Neolitikum) │
│ - Kapak batu ├─ Jalur Timur
│ │ Yunnan→Sulawesi
└─ Deutero Melayu │
- ±500 SM ├─ Cara:
- Logam │ - Perahu
- Nekara │ - Ikuti angin
│ - Migrasi

┌─────────────────────────────┼─────────────────────────────┐
│ │ │
BUDAYA KEPERCAYAAN DAMPAK
│ │ │
├─ Batu ├─ Animisme ├─ Banyak suku
│ - Kapak ├─ Dinamisme ├─ Budaya beragam
│ │ ├─ Gotong royong
├─ Logam     └─ Tradisi adat
│ - Nekara
│ - Moko

└─ Maritim
- Perahu
- Pelayaran


HASIL BUDAYA PROTO MELAYU

                                        Kapak Batu




Kapak persegi


Kapak Lonjong




HASIL BUDAYA DEUTRO MELAYU

                                        Bejana Perunggu


Nekara

Perhatikan pernyataan berikut:

1. Nenek moyang berasal dari Yunnan

2. Datang dalam dua gelombang migrasi

3. Sudah mengenal teknologi logam4. 4.

4. Hidup nomaden tanpa menetap

Manakah pernyataan yang tepat untuk Deutero Melayu?

A. 1, 2, dan 3
B. 1 dan 3 saja
C. 2 dan 4 saja
D. 3 dan 4 saja

Perhatikan ilustrasi berikut:
“Sebuah daerah di Indonesia memiliki tradisi pembuatan perahu dan perdagangan antar pulau sejak zaman dahulu.”

Analisis yang tepat terhadap kondisi tersebut adalah…

A. Dipengaruhi budaya animisme
B. Warisan budaya maritim nenek moyang
C. Pengaruh langsung bangsa Eropa
D. Tidak ada kaitannya dengan nenek moyang



Cepu, 2 April 2026





Selasa, 31 Maret 2026

THR Lebaran

 


Karya: Gutamining Saida

Pertemuan kedua setelah Hari Raya Idulfitri terasa begitu berbeda. Ada nuansa yang lebih hangat, lebih tenang, sekaligus penuh harapan. Pagi itu saya melangkah menuju kelas 8H dengan hati yang diliputi rasa syukur. Saya masuk tepat pada jam pembelajaran ke 1-2 . Setelah sebulan ditempa dalam madrasah Ramadan, saya percaya setiap anak membawa secercah perubahan dalam dirinya, sekecil apa pun itu.

Saat memasuki kelas, suasana masih terasa riuh, namun berbeda dari biasanya. Wajah-wajah mereka tampak lebih bersih, bukan hanya karena pakaian rapi yang dikenakan, tetapi juga karena hati yang mungkin telah dibersihkan melalui ibadah dan saling memaafkan. Saya membuka pembelajaran dengan mengucap salam, yang dijawab serempak dengan penuh semangat.

“Anak-anak, setelah kita saling memaafkan di hari yang fitri, mari kita isi hari-hari kita dengan ilmu yang bermanfaat,” ucap saya.

Saya memulai pembelajaran dengan membahas keadaan ekonomi Indonesia pada awal kemerdekaan. Saya jelaskan pengertiannya terlebih dahulu, bahwa kondisi ekonomi saat itu sangat memprihatinkan. Negara yang baru saja merdeka harus menghadapi berbagai kesulitan, mulai dari kekurangan sumber daya hingga belum stabilnya pemerintahan.

Kemudian saya lanjutkan dengan sebab-sebabnya. Saya sampaikan bahwa penjajahan yang begitu lama telah menguras kekayaan bangsa. Infrastruktur rusak, produksi menurun, dan rakyat hidup dalam keterbatasan. Ditambah lagi adanya inflasi tinggi karena beredarnya berbagai mata uang secara bersamaan.

Saya melihat beberapa siswa mulai mengangguk, mencoba memahami. Lalu saya ajak mereka merenung sejenak.

“Coba bayangkan, anak-anak, bagaimana rasanya hidup di masa itu? Saat makan saja sulit, pekerjaan tidak menentu, dan negara masih berjuang mencari jati diri,” kata saya pelan.

Suasana kelas menjadi lebih hening. Saya lanjutkan dengan menjelaskan permasalahan ekonomi yang dihadapi, seperti kas negara yang kosong, utang luar negeri, serta kurangnya tenaga ahli. Semua itu membawa akibat yang tidak ringan: kemiskinan merajalela, pengangguran meningkat, dan pembangunan terhambat.

Di balik semua itu, saya tekankan nilai pentingnya: perjuangan dan tawakal.

“Anak-anak, para pendahulu kita tidak menyerah. Mereka tetap berusaha, berikhtiar, dan tentu saja berdoa kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Karena mereka yakin, setelah kesulitan pasti ada kemudahan,” ujar saya sambil mengingatkan makna firman-Nya.

Saya ingin mereka tidak hanya memahami sejarah sebagai hafalan, tetapi sebagai pelajaran hidup.

Setelah materi selesai, saya merasa suasana perlu sedikit dicairkan. Namun tetap dalam koridor pembelajaran yang bermakna. Saya pun mengeluarkan beberapa lembar uang mainan yang sudah saya siapkan sebelumnya yaitu pecahan 100 ribu, 50 ribu, 20 ribu, 10 ribu, 2 ribu, dan 1 ribu. Uang tersebut berjumlah 40 biji. Jumlah siswa ada 32 anak. Tujuannya agar yang sudah menyelesaikan bisa langsung mengambil sisa uang yang ada di depan tanpa menunggu temannya selesai.

Mata mereka langsung berbinar.

“Wah, ada THR, Bu?” celetuk salah satu siswa.

Saya tersenyum. “Iya, ini THR… tapi bukan untuk dibelanjakan, melainkan untuk menambah ilmu dan diselesaikan.”

Mereka tertawa kecil, penasaran.

Saya menjelaskan bahwa di balik setiap uang terdapat pertanyaan. Siapa yang mengambil, harus menjawab pertanyaan tersebut. Jika benar, mereka boleh menyimpan uang itu sebagai simbol keberhasilan.

Permainan pun dimulai. Satu per satu siswa maju dengan penuh semangat. Ada yang mendapatkan pertanyaan mudah, ada pula yang harus berpikir lebih keras. Yang membuat saya terharu, mereka mengambil uang sesuai dengan keinginan mereka dan saling membantu. Jika ada teman yang kesulitan, yang lain memberi semangat, bahkan membantu mengingatkan.

Di situlah saya melihat nilai kebersamaan yang indah. Seorang siswa yang biasanya pendiam, hari itu memberanikan diri maju. Ia mendapatkan uang pecahan kecil, namun pertanyaannya cukup menantang. Ia sempat ragu, menunduk sejenak, lalu mencoba menjawab.

“Menurut saya… karena kas negara kosong, Bu,” jawabnya pelan.

“MasyaAllah, benar sekali,” kata saya.

Wajahnya langsung berseri. Teman-temannya memberi tepuk tangan. Saya melihat bukan sekadar permainan, tetapi ada rasa percaya diri yang tumbuh.

Permainan terus berlangsung dengan penuh antusias. Satu per satu siswa maju, menjawab, dan berhasil. Tidak ada yang menyerah, tidak ada yang diam. Bahkan siswa yang biasanya kurang percaya diri hari itu ikut mencoba. Dengan semangat yang luar biasa, akhirnya seluruh siswa berhasil menyelesaikan pertanyaan mereka dengan baik.

Setelah semua selesai, mereka pun dengan tertib mengumpulkan hasilnya kepada saya. Uang-uang mainan yang mereka pegang menjadi bukti usaha mereka. Mereka datang satu per satu, bahkan ada yang berbaris rapi, sambil berkata dengan penuh harap, “Bu, ini sudah saya kerjakan, mohon nilainya.”

Saya tersenyum haru melihat pemandangan itu. Ada kesungguhan, ada tanggung jawab, dan ada keinginan untuk dihargai atas usaha mereka.

“MasyaAllah, luar biasa. Kalian semua hebat hari ini,” ucap saya sambil memberikan penilaian.

Di sela itu, saya menyisipkan pesan. “Anak-anak, uang yang kalian pegang ini hanya kertas. Tapi dalam kehidupan nyata, uang bisa menjadi ujian. Bisa membuat orang lupa diri, bahkan lupa bersyukur. Maka gunakanlah rezeki dengan cara yang baik, halal, dan bermanfaat.”

Mereka terdiam, mendengarkan. Saya lanjutkan, “Seperti para pejuang kita dahulu, meski hidup serba kekurangan, mereka tetap jujur dan berjuang dengan penuh keikhlasan. Itulah yang harus kita teladani.”

Permainan berakhir dengan penuh keceriaan. Tidak ada yang merasa kalah, karena semua telah berusaha dan berhasil. Saya menutup pembelajaran dengan refleksi sederhana.

“Apa yang kalian pelajari hari ini?” tanya saya.

Beberapa tangan terangkat.

“Belajar bersyukur, Bu.”

“Belajar tentang perjuangan.”

“Belajar berani menjawab.”

“Belajar bertanggung jawab, Bu, karena harus mengumpulkan hasil,” tambah salah satu siswa.

Saya tersenyum haru. Saya berdoa, semoga ilmu yang mereka dapatkan hari ini menjadi amal jariyah, tidak hanya untuk saya, tetapi juga untuk mereka di masa depan.

Sebelum keluar kelas pergantian jam pembelajaran, saya mengajak mereka membaca hamdalah bersama. Saya ingin setiap pembelajaran ditutup dengan rasa syukur.

Hari itu saya keluar kelas dengan hati yang senang. Mengajar bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi juga menanamkan nilai. Saya yakin, sekecil apa pun kebaikan yang ditanam, suatu saat akan tumbuh menjadi sesuatu yang besar, atas izin Allah Subhanahu Wata'alla, Aamiin.

Cepu, 1 April 2026

Hari Pertama Setelah Lebaran

 


Karya : Gutamining Saida

Hari Senin, 30 Maret 2026, menjadi hari pertama pembelajaran. Kita kembali memulai setelah libur panjang. Suasana sekolah terasa berbeda. Pagi itu udara masih segar, semangat siswa sudah mulai terasa sejak langkah kaki mereka memasuki gerbang sekolah. Ada wajah-wajah ceria yang penuh cerita tentang liburan, ada pula yang masih terbawa suasana santai khas hari-hari sebelumnya.

Bagi saya pribadi, hari itu sudah saya siapkan sejak sehari sebelumnya. Sebagai guru, tentu saya ingin hari pertama masuk setelah libur tidak terasa kaku atau membosankan. Saya menyadari betul bahwa siswa membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri kembali dengan ritme belajar. Oleh karena itu, saya mempersiapkan LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik) yang ringan, menarik, yang saya sesuaikan dengan keadaan lebaran.

Minggu sore, saya sudah membagikan LKPD tersebut melalui grup WhatsApp masing-masing kelas, termasuk kelas 8G. Saya juga menuliskan pesan singkat, “Anak-anak, besok jangan lupa LKPD-nya dibawa ya. Kita akan belajar dengan cara yang menyenangkan.” Saya berharap mereka benar-benar membaca dan mempersiapkan diri.

Waktu terus berjalan hingga tibalah giliran saya mengajar di jam terakhir di kelas 8G. Jam terakhir memang sering menjadi tantangan tersendiri. Energi siswa biasanya sudah mulai menurun, apalagi di hari pertama masuk sekolah. Saya mencoba masuk kelas dengan senyum dan semangat yang tetap utuh.

“Assalamu’alaikum, anak-anak!” sapa saya membuka pembelajaran.

“Wa’alaikumussalam, Bu!” jawab mereka serempak, meskipun beberapa masih terdengar lelah.

Saya memulai dengan obrolan ringan tentang liburan mereka. Ternyata benar, suasana kelas langsung mencair. Beberapa siswa bercerita tentang mudik, berkumpul dengan keluarga, hingga pengalaman lucu selama liburan. Tawa kecil pun mulai terdengar, membuat suasana kelas menjadi lebih hidup.

Setelah suasana cukup hangat, saya mulai masuk ke kegiatan inti.

“Anak-anak, siapa yang membawa LKPD?” tanya saya.

Hampir semua siswa mengangkat LKPD mereka dengan penuh percaya diri. Saya tersenyum melihat kesiapan mereka. Namun, seperti yang sudah saya duga, ada beberapa yang belum membawa.

Saya menghitung dengan cepat. Ternyata ada tiga siswa yang tidak membawa LKPD.

“Baik, tidak apa-apa,” kata saya dengan nada tetap tenang. “Ibu punya tugas khusus untuk kalian bertiga.”

Ketiga siswa itu tampak sedikit tegang, mungkin khawatir akan mendapatkan hukuman. Namun, Saya tidak ingin membuat mereka merasa tertekan. Sebaliknya, saya ingin tetap memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan.

“Kalian bertiga, tugasnya membuat tebakan atau teka-teki lebaran. Bebas, boleh tentang apa saja, tapi harus menarik dan nanti dibacakan di depan kelas.”

Wajah mereka yang tadinya tegang perlahan berubah. Ada sedikit kelegaan, bahkan mulai terlihat rasa penasaran. Teman-teman yang lain pun tampak tertarik.

Sementara itu, siswa yang membawa LKPD mulai mengerjakan tugas yang sudah saya siapkan. Mereka bekerja dengan cukup serius, meskipun sesekali masih diselingi obrolan kecil. Saya berkeliling kelas, membantu siswa yang mengalami kesulitan, dan memastikan semua berjalan dengan baik.

Di sudut kelas, tiga siswa yang mendapat tugas khusus tampak berdiskusi. Mereka terlihat berpikir keras, sesekali tertawa, dan mencoba merangkai kalimat tebakan yang unik. Saya memperhatikan mereka dari jauh dan merasa senang. Ternyata, dengan pendekatan yang berbeda, mereka justru menjadi lebih aktif.

Beberapa menit kemudian, saya meminta perhatian seluruh kelas.

“Sekarang, kita dengarkan hasil karya teman-teman kita yang membuat tebakan,” kata saya.

Salah satu siswa maju dengan sedikit malu-malu, namun tetap berani.

“Tebakan pertama, Bu… dan teman-teman…,” katanya.

Suasana kelas langsung hening, semua memperhatikan.

“Aku punya bentuk panjang. Aku terbalut daun pisang dan memiliki manfaat dapat membuat kenyang semua yang menikmati aku. Siapakah aku?”

Beberapa siswa langsung berbisik, mencoba menebak. Ada yang menjawab salah, ada yang tertawa.

“Lontong!” teriak salah satu siswa.

“Betul!” jawab siswa yang maju dengan wajah sumringah.

Tepuk tangan pun terdengar di seluruh kelas.

Siswa kedua maju dengan lebih percaya diri.

“Aku berada di kuah bersantan warnaku menarik untuk dilihat dan ada di saat lebaran. Biasa dinikmati bersama lontong, ketupat. Apa aku?”

Kelas kembali ramai dengan berbagai jawaban. Hingga akhirnya ada yang menjawab, “Opor ayam!”

“Ya, benar!” jawabnya dengan bangga.

Kini giliran siswa ketiga. Ia terlihat paling gugup, namun tetap mencoba.

“Aku bentuknya pipih, kotak membuat orang senang bila menerima. Apa aku?”

Kelas sempat terdiam, berpikir. Hingga akhirnya ada yang menjawab, “Tempe goreng?”

“Bukan…” katanya sambil tersenyum.

“Apa ya?” tanya teman-temannya penasaran.

“Jawabannya… Uang THR!” katanya.

Kelas langsung riuh. Ada yang tertawa, ada yang mengangguk paham.

Momen itu menjadi sangat berkesan. Siswa yang tidak membawa LKPD justru memberikan warna tersendiri dalam pembelajaran hari itu. Mereka tidak hanya belajar, tetapi juga menghibur dan menghidupkan suasana kelas.

Saya menutup pembelajaran dengan refleksi singkat.

“Anak-anak, hari ini kita belajar bahwa setiap orang punya kesempatan untuk berkontribusi. Yang membawa LKPD belajar dengan tugasnya, yang tidak membawa juga tetap belajar dengan cara yang berbeda.”

Mereka mengangguk pelan.

“Yang terpenting, kita tetap semangat dan bertanggung jawab, ya.”

“Siap, Bu!” jawab mereka kompak.

Hari pertama ditutup dengan perasaan hangat. Ternyata, pembelajaran tidak harus selalu sempurna sesuai rencana. Justru dari hal-hal kecil yang tidak terduga, muncul pengalaman yang berharga.

Jam terakhir di kelas 8G di hari pertama masuk sekolah pun menjadi salah satu momen yang tak terlupakan. Sebuah pengingat bahwa kreativitas dalam mengajar mampu mengubah keadaan sederhana menjadi luar biasa.

Cepu, 1 April 2026

Senin, 30 Maret 2026

Ultah Auryn

 


Karya: Gutamining Saida

Senin 30 Maret 2026, suasana sekolah terasa berbeda. Hari pertama masuk setelah libur panjang hari Raya Idul Fitri masih menyisakan nuansa hangat di hati. Wajah-wajah siswa tampak cerah, penuh semangat, sekaligus sedikit canggung setelah beberapa hari menikmati kebersamaan dengan keluarga di rumah. Ada rasa rindu yang akhirnya terobati saat kembali bertemu teman dan guru di sekolah.

Langkah kaki saya menuju ke ruang kelas 7G. Dari luar kelas, terdengar riuh rendah suara anak-anak. Bukan suara gaduh yang mengganggu, tetapi lebih seperti gelak tawa dan obrolan ringan yang penuh keakraban. Saat saya melongok ke pintu, pemandangan yang tersaji begitu menghangatkan hati. Anak-anak duduk di tempatnya masing-masing, menikmati hidangan nasi kuning lengkap dengan lauk-pauknya. 

Aroma nasi kuning yang gurih bercampur dengan lauk sederhana menggugah selera memenuhi ruangan. Ada  mie kuning goreng, sambal goreng kentang,  ayam dan kering tempe serta lalapan. Mereka makan bersama dengan lahap, sesekali diselingi canda tawa. Kebersamaan itu tampak begitu tulus, tanpa sekat, tanpa perbedaan.

Saya pun bertanya, “Wah, ada acara apa nich, anak-anak?”

Serentak beberapa siswa menjawab dengan penuh semangat, “Ada yang ulang tahun, Bu!”

Rasa penasaran saya bertambah. “Siapa yang ulang tahun?”

Salah satu dari mereka menunjuk seorang siswi yang tampak sedikit malu, namun wajahnya bersinar bahagia. “Auryn, Bu. Hari ini ulang tahunnya yang ke-13.”

MasyaAllah… hati saya langsung tergerak. Di tengah suasana pasca lebaran yang penuh makna saling memaafkan, Allah Subhanahu Wata'alla mempertemukan saya dengan momen sederhana penuh nilai sebuah perayaan ulang tahun yang dipenuhi kebersamaan dan rasa syukur.

Saya mendekati Auryn. Spontan, terucap doa dari hati yang paling dalam, “Selamat ulang tahun ya, Semoga menjadi anak yang sholehah, berbakti kepada orang tua, rajin belajar, dan selalu dalam lindungan Allah.”

Auryn tersenyum, matanya berbinar. Mungkin sederhana, tetapi doa adalah hadiah terbaik yang bisa kita berikan. Dalam ajaran Islam, doa adalah bentuk kasih sayang yang tidak terlihat, tetapi sangat kuat pengaruhnya.

Saya lalu memandang seluruh siswa di kelas itu. Mereka makan bersama tanpa memandang siapa yang membawa lebih atau kurang. Tidak ada yang merasa paling hebat, tidak ada yang merasa kekurangan. Semua menikmati dengan penuh syukur. Inilah salah satu wujud keindahan berbagi.

Saya teringat sebuah nilai penting dalam kehidupan, bahwa rezeki yang kita nikmati bukan semata hasil usaha kita, tetapi juga karena izin dan kasih sayang Allah Subhanahu Wata'alla. Makanan yang mereka santap pagi itu mungkin terlihat sederhana, tetapi jika dinikmati dengan rasa syukur, ia menjadi luar biasa.

Kebersamaan itu juga mengingatkan saya pada makna Hari Raya Idul Fitri yang baru saja dilalui. Idul Fitri bukan sekadar tentang baju baru atau hidangan lezat, tetapi tentang kembali kepada kesucian, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan memperkuat keimanan kepada Allah Subhanahu Wata'alla.

Apa yang dilakukan Auryn kelas 7G pagi itu seakan menjadi refleksi kecil dari nilai-nilai tersebut. Mereka berbagi makanan, berbagi kebahagiaan, dan secara tidak langsung belajar tentang arti kebersamaan dan kepedulian.

Hari ini kalian berbagi, makan bersama, dan saling mendoakan. Itu semua adalah amalan yang dicintai Allah Subhanahu Wata'alla. Jangan lupa untuk selalu bersyukur, karena tidak semua orang bisa merasakan kebersamaan seperti ini, ucap saya.

Mereka mengangguk ambil mengunyah, ada yang tersenyum, tetapi saya yakin pesan itu sampai ke hati mereka. Di usia 13 tahun, Auryn sedang berada di fase penting dalam kehidupannya. Masa remaja awal adalah masa pembentukan karakter. Saya berharap, dengan doa dan lingkungan yang baik, ia tumbuh menjadi pribadi yang kuat dalam iman, lembut dalam akhlak, dan cerdas dalam berpikir.

Peristiwa sederhana pagi itu menjadi pengingat sebagai seorang guru. Bahwa pendidikan tidak selalu harus melalui buku dan papan tulis. Nilai-nilai kehidupan justru sering kali hadir dalam momen-momen sederhana seperti ini makan bersama, berbagi, dan saling mendoakan.

“Ya Allah, berkahilah mereka. Jadikan mereka generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Tanamkan dalam hati mereka rasa syukur, kepedulian, dan cinta kepada sesama.”

Saya percaya, dari kelas sederhana itu, akan lahir pribadi-pribadi hebat yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kaya akan nilai spiritual dan kemanusiaan. Semoga kesuksesan menyertai kalian semua. Aamiin

Cepu, 30 Maret 2026

Jumat, 27 Maret 2026

Kereta Sudah Berangkat


Karya: Gutamining Saida

Pagi itu terasa udara masih sama, rumah masih hangat, tetapi hati seorang ibu selalu peka terhadap tanda-tanda perpisahan. Hari Jum;at, anak laki-laki saya, Abida, akan kembali ke Salatiga. Kota kecil yang menjadi saksi perjuangannya mencari rezeki dan belajar tentang kehidupan.

Abida bukan tipe anak yang mudah panik. Ia dikenal sangat santai, bahkan cenderung terlalu santai. Sehari sebelum keberangkatan, saya sudah mencoba memastikan semuanya.

“Kapan balik ke Salatiga?” tanya saya.

“Hari Jum’at,” jawabnya singkat.

“Naik apa?”

“Kereta, mi.”

“Sudah beli tiket?”

“Sudah.”

“Berangkat jam berapa?”

“Jam delapan.”

Jawabannya pendek-pendek. Tidak banyak penjelasan. Seolah semuanya sudah terkendali. Tapi sebagai seorang ibu, hati ini tidak bisa sepenuhnya tenang hanya dengan jawaban singkat.

Pagi itu, waktu berjalan seperti biasa. Namun bagi saya, setiap detiknya terasa lebih cepat. Jarum jam seperti berlari, sementara Abida justru seolah berjalan di tempat.

Pukul 07.30 WIB, saya mulai merasa gelisah.

“Dik, sudah jam setengah delapan, siap-siap,” saya mengingatkan.

Ia masih saja rebahan. Tubuhnya masih berat untuk bangun. Mungkin hatinya masih ingin tinggal lebih lama di rumah. Mungkin ada rasa enggan meninggalkan kenyamanan yang sudah ia rasakan beberapa hari ini.

Waktu tidak pernah menunggu siapa pun. “Dik, jam berapa keretanya?” saya kembali bertanya, kali ini dengan nada yang lebih serius.

Tidak ada jawaban yang menunjukkan rasa tergesa. Hanya gerakan pelan, seakan waktu masih panjang.

Padahal jarum jam terus berjalan… 07.35… 07.40… 07.43…WIB

Dan tepat ketika waktu menunjukkan pukul 07.45 WIB, Abida bangkit, berjalan mendekati saya, lalu berkata dengan tenang yaotu

“Kereta sudah berangkat, mi. Ketinggalan. Tu suaranya sudah jalan. Suara kereta memang bisa terdengar di rumah. Rumah saya dekat dekat dengan stasiun kereta Cepu.

Saya terdiam sejenak. Bukan hanya karena ia ketinggalan kereta, tetapi karena reaksinya yang begitu tenang. Tidak ada wajah panik. Tidak ada nada penyesalan. Bahkan tidak ada keluhan.

“Ya sudah,” katanya lagi ringan.

Sebagai ibu, tentu saja saya tidak bisa setenang itu.

“Lha terus gimana tiketnya? Bisa kembali?” tanya saya.

“Enggaklah,” jawabnya singkat.

Di situlah saya menarik napas dalam-dalam. Bukan untuk marah, tapi untuk bisa menerima. Karena dalam hidup, ada banyak hal yang memang tidak bisa diulang, tidak bisa dikembalikan, termasuk waktu yang telah terlewat.

Saya pun mencoba melihat kejadian ini dengan kacamata iman.

“Ya sudah… tidak rezeki. Berarti disuruh banyak sedekah,” kata saya.

Kalimat itu sederhana, tapi sebenarnya adalah pengingat untuk diri saya sendiri juga. Bahwa dalam setiap kehilangan, ada pesan yang Allah Subhanahu Wata;alla titipkan. Dalam setiap kegagalan, ada hikmah yang sedang disiapkan.

Abida tidak membantah. Tidak menyalahkan keadaan. Ia langsung mengambil ponselnya, membuka aplikasi, dan mulai mencari tiket baru.

Beberapa menit kemudian, ia berkata,

“Dapat lagi, mi. Jam sepuluh.”

“Alhamdulillah,” jawab saya spontan.

Di situlah hati ini terasa lebih tenang. Seolah Allah Subhanahu Wata'lla sedang menunjukkan bahwa rezeki tidak akan pernah tertukar. Bahwa apa yang terlewat bukan berarti hilang selamanya. Saat itu, saya belajar banyak dari kejadian sederhana.

Ketinggalan kereta ternyata bukan hanya tentang kehilangan tiket atau waktu. Tapi tentang bagaimana kita menyikapi takdir. Ada orang yang ketika kehilangan sesuatu langsung marah, menyalahkan diri sendiri atau orang lain. Tapi ada juga yang memilih diam, menerima, lalu mencari jalan lain.

Dan mungkin, di situlah letak kedewasaan. Saya juga merenung, bukankah hidup ini seperti perjalanan? Kita punya rencana, punya jadwal, punya target. Tapi pada akhirnya, semua tetap berada dalam kendali Allah Subhanahu Wata'lla.

Kita bisa saja merasa sudah tepat waktu, tapi ternyata Allah Subhanahu Wata'lla berkata, “Belum sekarang.”

Kita bisa saja merasa terlambat, tapi ternyata Allah Subhanahu Wata'lla justru sedang menyelamatkan kita dari sesuatu yang tidak kita ketahui.

Siapa yang tahu, mungkin jika Abida naik kereta sebelumnya, ada hal yang tidak baik. Atau mungkin Allah Subhanahu Wata'lla ingin memberinya waktu lebih lama bersama keluarga. Atau mungkin Allah Subhanahu Wata'lla ingin mengajarkan tentang arti tanggung jawab, tentang waktu, dan tentang menerima konsekuensi dengan lapang dada.

Karena sejatinya, setiap kejadian adalah bagian dari skenario terbaik dari Allah Subhanahu Wata'lla. Hari ini, Abida memang ketinggalan kereta. Tapi ia tidak ketinggalan kesabaran. Ia tidak ketinggalan ketenangan. Ia tidak ketinggalan keimanan. Saya pun belajar sebagai seorang ibu.

Bahwa tugas kita bukan hanya mengingatkan, tapi juga mendoakan. Bukan hanya mengarahkan, tapi juga merelakan. Karena pada akhirnya, anak-anak kita akan berjalan di jalan hidupnya sendiri. Yang bisa kita lakukan hanyalah memastikan mereka membawa bekal iman.

Kereta boleh saja pergi tanpa menunggu. Tapi takdir… tidak pernah salah waktu. Dan rezeki… akan selalu menemukan jalannya kepada siapa yang sabar dan berserah diri. Aamiin. Aamiin Semoga anak saya selalu dalam lindungan-Nya.

Cepu, 27 Maret 2026

Rabu, 25 Maret 2026

Allahumma Paksa Wa Paksa


Karya: Gutamining Saida

Bulan Maret 2026 menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan terapi saya. Di bulan itu, saya mengikuti terapi menulis yang awalnya saya anggap hanya sebagai kegiatan biasa. Seiring waktu, saya menyadari bahwa terapi ini bukan sekadar merangkai kata, melainkan sebuah jalan untuk mengenal diri, menata hati, melatih disiplin dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata'alla.

Prosesnya, saya memahami satu hal yang sangat sulit ,banyak rintangan. Semua terapi, apapun bentuknya, tidak bisa dilakukan hanya sekali dua kali tampak hasilnya. Ia membutuhkan pengulangan, kesabaran, dan ketekunan. Minimal satu bulan untuk mulai membentuk kebiasaan tentunya tanpa bolong. Bahkan hasil yang lebih terasa akan hadir jika dilakukan secara konsisten hingga tiga bulan tanpa bolong. Dari situlah pembiasaan terbentuk, dan perubahan perlahan tumbuh dalam diri.

Menulis setiap hari menjadi latihan yang tidak hanya mengasah pikiran, tetapi juga menyentuh hati. Setiap tulisan, saya seperti diajak berdialog dengan diri sendiri. Saya belajar disiplin, konsisten, tidak tergesa-gesa, rasa syukur atas nikmat yang sering terlewat. Bahkan mengurai kegelisahan yang selama ini terpendam, serta memohon ampun atas dosa-dosa yang mungkin tak saya sadari. Menulis berubah menjadi bentuk merenungi perjalanan hidup, menyadari kekurangan, dan memperbaiki arah langkah.

Saya pun harus jujur bahwa perjalanan ini tidak selalu berjalan lurus. Ada hari-hari di mana semangat menurun. Kesibukan datang silih berganti, waktu terasa sempit, dan saya pun mengakui bahwa saya belum pandai dalam mengelola waktu. Di situlah ujian datang. Beberapa hari saya bolong, tidak menyetorkan tugas. Awalnya terasa biasa saja, tetapi semakin lama, ada perasaan bersalah yang mulai muncul dalam hati.

Hingga suatu sore, Allah Subhanahu Wata'alla seakan mengirimkan teguran lembut melalui seorang perantara. Saya menerima chat pribadi dari mentor terapi yang bernama Pak Afif. Pesannya sederhana, tetapi begitu mengena di hati, “Bagaimana belajarnya? Bila beberapa hari bolong tugas gak apa-apa. Ayo dimulai lagi, semangat. Ditunggu responnya.”

Waduh… saya benar-benar tertegun. Di tengah kesibukan beliau yang mengadakan berbagai terapi dengan tema yang berbeda, ternyata beliau masih memperhatikan peserta satu per satu, bahkan sampai mengetahui bahwa saya tidak menyetorkan tugas selama beberapa hari. Saat itu, hati saya terasa disentuh. Bukan dengan teguran keras, tetapi dengan ajakan yang penuh kelembutan.

Saya merasa itu bukan sekadar pesan dari seorang mentor, tetapi seperti sapaan dari Allah yang mengingatkan saya agar tidak berhenti di tengah jalan. Rasa malas yang sempat menguasai perlahan runtuh. Berganti dengan rasa haru, rasa malu, sekaligus semangat baru yang tumbuh dalam hati.

Saya pun tergerak untuk kembali melanjutkan tugas demi tugas yang tersisa, apalagi waktu terapi sudah hampir berakhir. Saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan berharga ini hanya karena kelalaian saya sendiri.

Saya semakin salut kepada Pak Afif. Tidak semua orang mampu memberikan perhatian sedetail itu. Di tengah banyaknya peserta dan beragam kegiatan terapi yang beliau kelola, beliau tetap memantau perkembangan kami. Itu menunjukkan bahwa beliau tidak hanya mengajar, tetapi juga membimbing dengan hati.

Lebih dari itu, setiap tugas yang kami setorkan pun mendapatkan umpan balik. Dari sanalah saya merasa dihargai. Setiap tulisan tidak hanya dibaca, tetapi juga diperhatikan, diarahkan, dan diberi masukan. Hal ini membuat saya sadar bahwa proses ini bukan sekadar menggugurkan kewajiban, melainkan benar-benar sebuah perjalanan pembelajaran.

Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa istiqomah adalah kunci, tetapi istiqomah bukan berarti tanpa cela. Akan selalu ada jeda, akan ada bolong dalam perjalanan. Namun yang terpenting adalah kemauan untuk kembali bangkit. Dalam Islam, kita diajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang mau bertaubat dan memperbaiki diri.

Saya juga menyadari bahwa Allah Subhanahu Wata'alla tidak melihat seberapa sempurna amal kita, tetapi seberapa tulus dan sungguh-sungguh usaha kita. Bahkan ketika kita terjatuh, selama kita mau kembali, pintu kebaikan selalu terbuka.

Terapi menulis ini akhirnya menjadi lebih dari sekadar kegiatan. Ia menjadi jalan untuk mendekat kepada Allah Subhanahu Wata'alla, jalan untuk mengenal diri, dan jalan untuk belajar tentang kesabaran serta keikhlasan. Saya percaya, setiap kata yang saya tulis, setiap usaha kecil yang saya lakukan, semuanya akan menjadi saksi di hadapan-Nya.

Dan mungkin, dari pengalaman sederhana ini, Allah ingin mengajarkan saya satu hal penting bahwa kebaikan tidak harus sempurna, tetapi harus terus diupayakan. Karena dalam setiap langkah kecil yang kita jaga, di situlah keberkahan perlahan tumbuh dan menguatkan jiwa.

Malam itu kembali menjadi momen yang menggetarkan hati saya. Setelah sore hari berlalu tanpa setoran tugas, saya kembali menerima pesan dari Pak Afif. Sebuah pengingat sederhana, ajakan untuk tetap semangat dan tidak menyerah. Padahal idealnya, tugas disetorkan dua kalipagi dan sore. Saya pun terdiam sejenak. Hati ini terasa tersentuh, sekaligus muncul rasa malu yang sulit saya sembunyikan dari diri sendiri.

Malu… karena kelalaian yang berulang. Malu… karena sudah diingatkan, tetapi belum juga bergegas. Namun justru dari rasa malu itulah muncul kesadaran. Bahwa ini bukan sekadar tugas yang harus diselesaikan, tetapi bagian dari proses melatih diri agar lebih disiplin dan bertanggung jawab.

Di pagi harinya, saya berusaha menepati janji pada diri sendiri. Saya sempatkan waktu untuk menulis. Tidak menunggu waktu luang, tetapi “memaksa” diri untuk menyediakan waktu. Dalam keterbatasan, saya mulai menuliskan kata demi kata. Tidak perlu sempurna, yang penting bergerak. Dan alhamdulillah, saya berhasil menyetorkan tugas. Lebih dari itu, saya juga mendapatkan umpan balik yang kembali menguatkan langkah saya.

Dari pengalaman sederhana ini, saya semakin memahami bahwa semua kebiasaan baik memang tidak lahir begitu saja. Ia harus dilatih, bahkan terkadang harus “dipaksa”. Dipaksa untuk bangun lebih awal, dipaksa untuk melawan rasa malas, dipaksa untuk tetap berjalan meski hati belum sepenuhnya siap.

Saya teringat perkataan suami, “Allahumma paksa dan paksa.” Sebuah ungkapan sederhana namun dalam maknanya. Seakan menjadi doa sekaligus pengingat, bahwa dalam kebaikan, memaksa diri bukanlah hal yang buruk. Justru di situlah letak perjuangannya. Memaksa diri untuk tetap berada di jalan yang benar, hingga akhirnya hati pun akan terbiasa dan merasa ringan menjalaninya.

Bukankah dalam ibadah pun demikian? Awalnya terasa berat, tetapi jika terus dilatih, akan menjadi kebutuhan. Bahkan jika ditinggalkan, justru terasa ada yang kurang. Saya menyadari, mungkin inilah cara Allah mendidik saya. Melalui rasa malu, melalui teguran lembut dari seorang mentor, melalui dorongan kecil dari orang terdekat, hingga akhirnya saya belajar untuk melangkah kembali.

Perjalanan ini mengajarkan saya bahwa perubahan tidak datang secara instan. Ia butuh proses, butuh perjuangan, dan butuh kesungguhan. Dan dalam setiap usaha kecil yang dipaksa dengan niat baik, ada harapan besar bahwa suatu hari nanti, semua itu akan berubah menjadi kebiasaan yang ringan, bahkan menjadi kebutuhan jiwa.Alhamdulillah, satu langkah kecil itu kembali saya ambil. Saya percaya, selama masih mau berusaha dan tidak berhenti, Allah akan selalu membuka jalan untuk menjadi lebih baik.

Cepu, 26 Maret 2026

Memaafkan Di Hari Lebaran



Karya : Gutamining Saida

Lebaran selalu datang dengan suasana yang membahagiakan. Tidak hanya tentang baju baru, hidangan istimewa, atau rumah yang ramai oleh keluarga. Lebaran adalah momen ketika hati diajak kembali ke fitrah bersih, lapang, dan penuh keikhlasan. Di saat itu, manusia seolah diingatkan bahwa sebesar apa pun kesalahan, selalu ada pintu maaf yang terbuka, selama kita mau mengetuknya dengan tulus.

Setelah menunaikan salat Id, saya duduk sejenak memandangi layar ponsel. Satu per satu pesan ucapan selamat Idulfitri masuk. Grup keluarga, grup sekolah, grup guru, hingga grup siswa semuanya ramai. Kalimat yang hampir seragam, terasa hangat yaitu mohon maaf lahir dan batin.

Saya pun mulai menyusun kata. Tidak sekadar formalitas, tetapi benar-benar ingin menyampaikan permohonan maaf yang tulus. Saya kirimkan pesan itu ke berbagai grup siswa, teman, rekan guru, bahkan grup sekolah. Dalam hati, saya berharap bukan hanya sekadar ucapan, tetapi juga menjadi pengingat bagi diri saya untuk benar-benar memperbaiki hubungan dengan sesama.

Tak lama, balasan mulai berdatangan. Ada yang panjang, ada yang singkat, ada pula yang hanya membalas dengan emotikon. Namun, semuanya membawa pesan yang sama: saling memaafkan.

Di tengah banyaknya balasan itu, ada satu pesan yang membuat saya berhenti sejenak. Pesan itu datang dari seorang teman. Awalnya ia membalas dengan kalimat umum, “Sama-sama, saya juga minta maaf.” Beberapa saat kemudian, muncul pesan lagi darinya.

“Eeee… keduluan, padahal saya banyak dosa.” tulisnya

Saya tersenyum membaca kalimat itu. Ada kejujuran di dalamnya, ada kerendahan hati yang terasa begitu tulus. Tanpa berpikir panjang, saya membalas singkat, “Gak cari kalah atau menang.”

Tak lama kemudian, ia bertanya lagi, “Lha terus?”

Saya menatap layar, lalu mengetik perlahan, “Yang utama saling untuk memaafkan.”

Percakapan sederhana itu ternyata menyimpan makna yang dalam. Di balik candaan ringan, terselip pelajaran besar tentang keikhlasan. Betapa sering manusia tanpa sadar menjadikan permintaan maaf seperti sebuah “perlombaan”. Siapa yang lebih dulu, siapa yang lebih banyak dosanya, bahkan siapa yang lebih pantas meminta maaf.

Menurut ajaran agama islam, meminta maaf bukanlah tentang kalah atau menang. Bukan tentang gengsi atau harga diri. Melainkan tentang keberanian untuk merendahkan hati di hadapan sesama manusia, demi mendapatkan ridha Allah Subhanahu Wata'alla.

Saya terdiam sejenak, merenungi percakapan itu. Betapa indahnya jika kebiasaan meminta maaf ini tidak hanya hadir saat Lebaran. Andai dalam kehidupan sehari-hari, setiap kali kita melakukan kesalahan, kita langsung berani mengakui dan meminta maaf tanpa menunggu momen khusus seperti lebaran.

Kenyataannya, tidak semudah itu. Ego sering kali menjadi penghalang. Rasa gengsi, takut dianggap lemah, atau bahkan merasa diri lebih benar membuat kata “maaf” terasa berat untuk diucapkan.

Padahal, dalam pandangan Allah  Subhanahu Wata'alla, orang yang mau meminta maaf justru adalah orang yang mulia. Ia mampu mengalahkan hawa nafsunya sendiri. Ia berani jujur pada dirinya bahwa ia tidak luput dari kesalahan.

Begitu pula dengan memberi maaf. Tidak semua orang mudah melakukannya. Ada luka yang dalam, ada kekecewaan yang sulit dilupakan. Lebaran mengajarkan bahwa memaafkan adalah jalan menuju ketenangan hati. Saat kita memaafkan, sejatinya kita sedang membebaskan diri dari beban yang kita pikul sendiri.

Saya kembali membuka pesan-pesan yang masuk. Di sana, saya melihat begitu banyak orang yang saling merendahkan hati, saling mengakui kekurangan, dan saling memaafkan. Sebuah pemandangan yang indah, meski hanya melalui layar kecil.

Dalam hati saya berbisik, “Ya Allah, andai kebiasaan ini bisa terus kami jaga, tidak hanya di hari raya.”

Saya teringat dengan sabda Rasulullah bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling baik akhlaknya. Dan salah satu bentuk akhlak yang mulia adalah mudah meminta maaf dan mudah memaafkan.

Percakapan singkat dengan teman tadi menjadi pengingat yang kuat bagi saya. Bahwa dalam hidup ini, tidak perlu ada yang merasa paling benar. Tidak perlu ada yang merasa paling suci. Karena pada hakikatnya, kita semua adalah hamba yang penuh dosa dan kekurangan.

Yang membedakan hanyalah siapa yang lebih cepat menyadari, siapa yang lebih berani meminta maaf, dan siapa yang lebih lapang dalam memberi maaf. Lebaran bukan sekadar tradisi tahunan. Ia adalah latihan hati. Latihan untuk menundukkan ego, melembutkan jiwa, dan memperbaiki hubungan dengan sesama. Sebelum menutup ponsel, saya kembali mengetik satu kalimat di grup kecil bersama teman dekat.

“Semoga setelah Lebaran ini, kita tidak hanya pandai meminta maaf, tapi juga terbiasa melakukannya setiap hari.” Saya tersenyum. Karena sejatinya, kemuliaan bukan terletak pada siapa yang lebih tinggi derajatnya di mata manusia, tetapi pada siapa yang paling mampu merendahkan hati di hadapan sesamanya. Dan di situlah, nilai Lebaran menemukan maknanya yang paling berarti.

Cepu,25 Maret 2026

Mudik Dunia Dan Akhirat


Karya: Gutamining Saida

Bulan suci selalu hadir membawa nuansa yang berbeda. Ia bukan sekadar pergantian waktu dalam kalender hijriah, melainkan ruang perenungan yang begitu dalam bagi setiap insan. Di bulan inilah, manusia seakan diajak berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia, menata hati, dan mengingat kembali tujuan akhir dari perjalanan hidupnya.

Di tengah suasana yang penuh berkah, kabar duka datang silih berganti. Dari tetangga dekat, kerabat jauh, teman, bahkan dari lingkungan keluarga sendiri. Ada yang berpulang secara tiba-tiba, ada yang melalui proses sakit, dan ada pula yang sebelumnya tampak sehat tanpa tanda apa pun. Semua berpulang dengan cara masing-masing,  menuju tujuan yang sama yaitu alam akhirat.

Orang-orang sering menyebutnya sebagai “mudik”. Kata yang biasanya identik dengan pulang kampung, berkumpul bersama keluarga, kini memiliki makna yang lebih dalam. Mudik bukan hanya perjalanan dari kota ke desa, dari perantauan ke kampung halaman. Lebih dari itu, mudik sejati adalah perjalanan kembali kepada Sang Pencipta.

Di dunia ini, mudik selalu dipersiapkan dengan matang. Seseorang akan menabung jauh-jauh hari, membeli tiket, menyiapkan kendaraan, bahkan memikirkan oleh-oleh untuk keluarga di kampung. Ada yang rela berdesak-desakan di jalan, menghadapi macet berjam-jam, demi bisa sampai di rumah dengan selamat. Semua dilakukan dengan penuh semangat, karena di sana ada keluarga yang menunggu dengan rindu.

Pernahkah kita berpikir tentang mudik yang sebenarnya? Mudik yang tidak membutuhkan tiket, tidak mengenal jadwal keberangkatan, dan tidak bisa ditunda. Mudik yang datang tanpa pemberitahuan, tanpa bisa memilih waktu. Yaitu mudik ke alam akhirat.

Jika mudik dunia saja membutuhkan bekal yang begitu banyak, lalu bagaimana dengan mudik akhirat? Bekal apa yang sudah kita siapkan?

Sering kali kita terlalu sibuk mengumpulkan bekal dunia. Uang ditabung, rumah dibangun, kendaraan diperbarui, pakaian dibeli mengikuti tren. Semua terasa penting, seolah-olah kita akan hidup selamanya di dunia ini. Padahal, semua itu akan kita tinggalkan. Tidak ada satu pun yang bisa kita bawa saat tiba waktunya pulang ke kampung akhirat.

Bekal yang sesungguhnya bukanlah harta, melainkan amal. Bukan pakaian mewah, melainkan ketakwaan. Bukan makanan lezat, melainkan keikhlasan. Setiap kebaikan sekecil apa pun, setiap doa yang tulus, setiap sedekah yang diberikan dengan hati yang lapang, itulah bekal yang akan menemani perjalanan panjang menuju keabadian.

Kisah demi kisah yang terjadi di sekitar kita seakan menjadi pengingat. Ada seorang tetangga yang setiap hari terlihat sehat, masih bercengkerama seperti biasa, namun takdir berkata lain. Dalam hitungan hari, ia telah berpulang. Ada pula seorang teman yang masih sempat berbagi cerita, tertawa bersama, tetapi kini hanya tinggal kenangan. Bahkan dari lingkungan pasien anak saya, kabar duka itu datang, menyadarkan bahwa usia tidak mengenal batas.

Semua peristiwa itu seperti bisikan lembut dari langit, mengingatkan bahwa hidup ini fana. Tidak ada yang abadi selain Allah Subhanahu Wata'alla. Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Cepat atau lambat, siap atau tidak, semua akan mengalami perjalanan itu.

Bulan suci seharusnya menjadi momentum terbaik untuk memperbanyak bekal. Saat pahala dilipatgandakan, saat pintu ampunan dibuka lebar, saat doa-doa lebih mudah dikabulkan. Di sinilah kesempatan emas bagi setiap hamba untuk memperbaiki diri, menambal kekurangan, dan memperbanyak amal kebaikan.

Bayangkan jika mudik dunia saja kita persiapkan berbulan-bulan, bahkan setahun sebelumnya. Kita tidak ingin perjalanan kita terganggu karena kurang persiapan. Lalu mengapa untuk mudik akhirat, yang jelas-jelas lebih panjang dan lebih penting, kita sering menundanya?

Mungkin karena kita merasa waktu masih panjang. Mungkin karena kita merasa masih muda. Atau mungkin karena kita terlalu nyaman dengan kehidupan dunia. Padahal, tidak ada jaminan bahwa kita akan sampai pada hari esok.

Mudik ke akhirat bukan perjalanan biasa. Ia adalah perjalanan yang menentukan segalanya. Tidak ada kesempatan kedua, tidak ada jalan kembali. Di sanalah semua amal diperhitungkan, semua perbuatan dipertanggungjawabkan.

Oleh karena itu, mari kita mulai mempersiapkan bekal sejak sekarang. Tidak perlu menunggu sempurna, karena tidak ada manusia yang sempurna. Mulailah dari hal kecil: memperbaiki salat, memperbanyak sedekah, menjaga lisan, berbuat baik kepada sesama, dan selalu mengingat Allah Subhanahu Wata'alla dalam setiap langkah.

Jadikan setiap detik kehidupan sebagai ladang amal. Jadikan setiap pertemuan sebagai kesempatan untuk berbagi kebaikan. Dan jadikan setiap perpisahan sebagai pengingat bahwa suatu saat nanti, kita juga akan menyusul.

Bulan suci ini bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, ia adalah latihan untuk mengendalikan diri, membersihkan hati, dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Ia adalah pengingat bahwa hidup ini sementara, dan tujuan akhir kita adalah kembali kepada-Nya.

Semoga ketika saat itu tiba, kita tidak pulang dengan tangan kosong. Semoga kita termasuk hamba yang membawa bekal yang cukup, bahkan berlimpah. Semoga perjalanan mudik kita ke alam akhirat menjadi perjalanan yang penuh cahaya, menuju tempat terbaik di sisi-Nya.

Karena pada akhirnya, semua akan pulang. Tinggal menunggu waktu. Tinggal bagaimana kita mempersiapkan diri. Semoga kita selamat dunia akhirat.

Cepu, 25 Maret 2026

Minggu, 22 Maret 2026

Kisah Keluarga Mbah Seman-Mbah Pani

 


Karya: Gutamining Saida

Di sebuah sudut desa Malingmati, pernah berdiri kisah keluarga yang begitu hangat dan penuh keberkahan. Mbah Seman dan Mbah Pani, sosok sederhana yang menanamkan nilai-nilai kebersamaan, dikaruniai lima orang anak. Empat laki-laki dan satu perempuan sebagai penutup yang melengkapi keindahan keluarga itu.

Pak Dhe Yadi, Pak Dhe Dali, Pak Dhe Pandi, bapak saya, dan yang terakhir Bulik Yati. Empat di antara mereka tinggal berdekatan, seakan jarak tak diberi ruang untuk memisahkan kasih sayang. Rumah-rumah yang berdiri tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga menjadi saksi tumbuhnya cinta, gotong royong, dan doa yang tak pernah putus.

Hidup mereka sederhana. Dua anaknya menjadi guru, menebar ilmu sebagai amal jariyah yang terus mengalir pahalanya. Tiga menjadi petani, mengolah tanah dengan keringat yang halal, berharap setiap butir padi yang tumbuh menjadi keberkahan bagi keluarga. Perbedaan profesi, mereka tetap satu dalam tujuan yaitu menggapai ridha Allah Subhanahu Wata'alla.

Salah satu anak mbah Seman-Pani yaitu bapak saya, memilih tinggal di Mbaru. Meski jarak memisahkan, hati tetap terpaut. Silaturahmi tidak pernah putus, sebab mereka memahami bahwa menjaga hubungan keluarga adalah bagian dari ibadah.

Waktu terus berjalan. Usia pun menua. Hingga pada akhirnya, Mbah Seman dan Mbah Pani dipanggil kembali oleh Sang Pemilik kehidupan. Kepergian mereka bukan sekadar kehilangan, tetapi juga pengingat bahwa setiap yang hidup pasti akan kembali.

Warisan terbesar dari Mbah Seman dan Mbah Pani bukanlah harta, melainkan keluarga besar yang terus bertumbuh dalam ikatan cinta dan iman. Dari Pak Dhe Yadi, kini telah berkembang menjadi keluarga besar dengan jumlah anak dan cucu mencapai 71 orang. Dari Pak Dhe Dali, tumbuh 33 orang keturunan yang menjadi bagian dari rantai silaturahmi. Begitu pula Pak Dhe Pandi, yang juga memiliki 33 orang anak dan cucu. Dari bapak saya menjadi 23 orang dan dari bulik Yati jumlahnya mencapai 32 orang.

Jumlah itu bukan sekadar angka, melainkan bukti nyata betapa luasnya keberkahan yang Allah Subhanahu Wata'alla, limpahkan melalui generasi yang terus berlanjut. Setiap anak, setiap cucu, adalah doa yang hidup yang kelak akan menjadi penolong bagi leluhurnya melalui doa-doa yang tak terputus.

Kini, yang tersisa dari generasi anak hanyalah Bulik Yati. Sosok perempuan yang menjadi pengikat kenangan, penjaga cerita, sekaligus saksi hidup perjalanan panjang keluarga. Di dalam dirinya, tersimpan jejak didikan orang tua yang penuh kesabaran, keikhlasan, dan keimanan.

Cucu dan cicit yang ditinggalkan adalah amanah sekaligus harapan. Dari mereka, doa-doa terus dipanjatkan. Sebab dalam ajaran agama, anak cucu yang saleh adalah salah satu yang akan terus mengalirkan pahala bagi orang tua yang telah tiada.

Kisah keluarga Mbah Seman-Pani bukan hanya tentang hubungan darah, tetapi tentang bagaimana iman menuntun langkah, bagaimana kebersamaan menjadi kekuatan, dan bagaimana kematian bukanlah akhir, melainkan awal perjalanan menuju kehidupan yang hakiki.

Semoga Allah Subhanahu Wata'alla melapangkan kubur Mbah Seman dan Mbah Pani, menerima segala amal ibadahnya, serta menjadikan keluarga yang ditinggalkan tetap dalam rukun, penuh cinta, dan selalu berada dalam lindungan-Nya. Aamiin.

Cepu, 23 Maret 2026

Sabtu, 21 Maret 2026

Pertemuan Bani Seman-Pani

Karya: Gutamining Saida 

Pertemuan keluarga besar Bani Seman-Pani tahun 2026  menjadi momen yang begitu berkesan dan penuh makna. Tanggal 22 Maret 2026 suasana hangat terasa di rumah mbak Susmintari yang akrap dipanggil mbak Sus menjadi saksi berkumpulnya keluarga besar.Beliau sebagai putri ketiga  dari pak dhe Pandi. Lokasi rumah berada di Brangkal-Pohbaru Baureno. Beliau menyambut saudara dari berbagai tempat. 

Pertemuan ini menjadi ruang untuk menyambung silaturrahmi, mengenang sosok yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan keluarga besar. Pertemuan ini berjalan sudah delapan tahun. Salah satu momen yang dinantikan semua keluarga.

Sejak pagi hari, satu per satu anggota keluarga mulai berdatangan dari berbagai daerah. Undangan pukul 10.00 WIB. Keluarga  saya datang terlambat karena jalanan macet.  Peserta datang dari berbagai daerah  dari Jember, Bojonegoro, Yogyakarta, Purwosari, Cepu, hingga yang paling banyak berasal dari Tambakrejo. Meski jarak memisahkan, semangat untuk bersilaturahmi mampu mengalahkan lelahnya perjalanan. Semua hadir dengan satu tujuan yaitu mempererat tali persaudaraan dan merajut kembali kasih sayang dalam bingkai kebersamaan.

Suasana terasa hangat sejak langkah pertama memasuki lokasi acara. Senyum tulus, pelukan hangat, dan sapaan penuh rindu menjadi pemandangan yang begitu indah. Anak-anak duduk ceria, sementara orang dewasa saling bertukar kabar, mengingat masa lalu, dan berbagi cerita kehidupan.

Dalam momen itu, terasa betapa pentingnya keluarga sebagai tempat kembali, tempat berbagi, dan tempat menemukan ketenangan hati. Acara dibuka dengan penuh khidmat. Diawali dengan bacaan Basmallah, surah Al Fatihah dan tahlil dipimpin bapak Mansur. Pertemuan menyejukkan hati setiap yang hadir. Seakan menjadi pengingat bahwa setiap pertemuan, setiap kebersamaan, sejatinya adalah karunia dari Allah Subhanahu Wata'alla yang patut disyukuri. Dilanjutkan dengan sambutan dari sesepuh keluarga yaitu bapak Mustaji yang memberikan pesan-pesan bijak. Beliau mengingatkan pentingnya menjaga silaturahmi, karena dalam setiap jalinan hubungan yang baik, terdapat keberkahan hidup.

Dilanjutkan tauziah sebentar. Diteruskan anggota keluarga saling bersalaman, saling memohon maaf dengan penuh keikhlasan. Tidak ada lagi sekat usia, jabatan, ataupun kedudukan. Yang muda menghormati yang tua, yang tua menyayangi yang muda. Semua melebur dalam satu rasa yaitu kerendahan hati dan keinginan untuk saling memaafkan.

Beberapa orang tercinta yang mungkin sudah tidak lagi bersama. Satu per satu telah meninggalkan kita. Kenangan mereka tetap hidup dalam setiap doa dan kebersamaan keluarga. Momen halal bihalal (pertemuan) ini menjadi pengingat bahwa hidup di dunia hanyalah sementara, dan yang abadi adalah amal kebaikan serta hubungan yang dilandasi keikhlasan. 

Setelah prosesi salam-salaman, acara dilanjutkan dengan makan bersama. Hidangan sangat beragam. Ada lontong sate ayam, lontong opor, nasi asem-asem daging, bakso. Kerupuk udang sebagai pelengkap. buahnya semangka merah yang menarik perhatian yang melihatnya. Terasa begitu nikmat karena dinikmati dalam suasana kebersamaan. Tidak ada yang lebih mewah dari kebersamaan itu sendiri. 

Saling berbagi, bercanda ringan, hingga tawa yang pecah di sana-sini menjadi pelengkap kehangatan hari itu. Kebahagiaan terasa sederhana, justru di situlah letak keindahannya. Dalam setiap percakapan, terselip doa-doa kebaikan. Dalam setiap senyum, ada harapan agar keluarga ini senantiasa diberi kesehatan, keberkahan rezeki, serta perlindungan dari Allah Subhanahu Wata'alla. Kebersamaan ini bukan hanya untuk hari ini, tetapi menjadi bekal untuk menjaga hubungan di masa yang akan datang.

Menjelang akhir acara, sesi foto bersama menjadi penutup yang tak kalah berkesan. Dimulai dari keluarga anak pertama hingga terakhir, semua mendapatkan giliran untuk mengabadikan momen kebersamaan. Meski sempat diwarnai canda ada yang belum siap, ada yang bercanda saat difoto. Keadaan yang membuat suasana semakin hidup. Foto-foto itu kelak akan menjadi kenangan berharga, bukti bahwa keluarga besar ini pernah berkumpul dalam kebahagiaan.

Di balik semua rangkaian acara yang berjalan lancar, ada rasa syukur yang begitu dalam. Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk berkumpul lengkap bersama keluarga. Oleh karena itu, momen ini menjadi sangat berharga dan patut dijaga. Halal bihalal bukan sekadar tradisi, tetapi menjadi sarana untuk membersihkan hati, memperbaiki hubungan, dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata'alla. 

Semoga kebersamaan keluarga besar Bani Seman-Pani selalu diridhai Allah Subhanahu Wata'alla. Semoga tali silaturahmi tetap terjaga, meski jarak dan waktu menjadi tantangan. Semoga setiap langkah yang ditempuh dalam perjalanan pulang masing-masing senantiasa dalam lindungan-Nya. Dalam setiap pertemuan yang dilandasi iman, selalu ada keberkahan yang mengalir tanpa henti.
Cepu, 22 Maret 2026 

Foto Anak, Menantu dan Cucu

Karya : Gutamining Saida 
Lebaran selalu menghadirkan kehangatan yang tak tergantikan. Bukan sekadar tentang hidangan yang tersaji di meja, bukan pula semata tentang baju baru yang dikenakan, tetapi lebih dari itu tentang kebersamaan yang dirajut dengan cinta, tawa, dan doa. Di momen istimewa itu, ada satu tradisi sederhana yang justru meninggalkan kesan mendalam yaitu mengabadikan foto bersama keluarga besar.

Pagi ini suasana rumah terasa hidup. Anak-anak berlarian, cucu-cucu bercanda tanpa henti, sementara para menantu sibuk membantu di dapur atau sekadar berbincang ringan di ruang tamu. Di tengah suasana penuh berkah itu, tiba-tiba muncul sebuah ide sederhana bermakna yaitu mengabadikan momen kebersamaan dalam sebuah foto keluarga.
Sebagai yang dituakan, saya memberanikan diri mengajak, “Ayo, kita foto bersama. Mumpung semua kumpul.” Ajakan itu disambut dengan senyum dan anggukan. Tidak ada penolakan, tidak ada alasan sibuk. Semua seakan paham bahwa momen seperti ini tidak selalu datang setiap waktu. Ada rasa rindu yang terbayar, ada cinta yang ingin diabadikan.

“Silakan siap-siap menantu dulu,” ujar saya sambil tersenyum. Para menantu pun mulai berbaris, ada yang masih merapikan jilbab, ada yang tertawa kecil karena merasa canggung. Wajah mereka tampak malu-malu, namun justru di situlah letak keindahannya. Malu adalah bagian dari iman, tanda hati yang masih terjaga kesuciannya. Dalam kesederhanaan sikap itu, terpancar nilai-nilai yang diajarkan dalam agama bahwa rasa malu bukanlah kelemahan, melainkan kemuliaan.
Setelah sesi menantu, giliran anak-anak. Mereka mulai berpose, ada yang bergaya santai, ada pula yang tetap kaku. Tawa kecil pecah ketika salah satu dari mereka salah posisi atau terlambat tersenyum. Tidak ada yang sempurna, tetapi justru ketidaksempurnaan itulah yang membuat suasana terasa hidup dan penuh makna.

Selanjutnya, cucu-cucu. Ah, bagian ini yang paling meriah. Mereka sulit diatur, ada yang masih ingin bermain, ada yang berlari ke sana ke mari, bahkan ada yang menangis karena tidak mau diam. Namun di situlah letak kebahagiaan yang sesungguhnya. Anak-anak adalah amanah, penyejuk hati, sekaligus pengingat bahwa kehidupan terus berlanjut.
“Diam dulu ya, Nak… lihat kamera…” ujar salah satu orang tua dengan penuh kesabaran. Meski tak selalu berhasil, usaha itu sendiri sudah menjadi bagian dari cerita yang indah.

Foto satu kelompok ternyata tidak cukup satu kali. Ada saja komentar yang muncul.
“Kok saya belum siap?” “Lho, tadi saya merem!” “Ulangi lagi, tadi kurang rapi.”
Akhirnya, sesi foto diulang berkali-kali. Tidak ada yang marah, tidak ada yang mengeluh. Semua justru menikmati prosesnya. Dalam setiap pengulangan itu, terselip tawa, canda, dan kehangatan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Waktu berjalan tanpa terasa. Dari satu kelompok ke kelompok lain, dari satu pose ke pose berikutnya. Kamera terus bekerja, menangkap setiap momen kecil yang penuh arti. Hingga akhirnya, sesi foto pun selesai.

Ketika semua sudah berkumpul kembali, seseorang mulai membuka hasil foto di layar ponsel. Satu per satu gambar dilihat bersama. Reaksi yang muncul begitu beragam ada yang tertawa, ada yang tersenyum, bahkan ada yang merasa haru.
“MasyaAllah… banyak sekali fotonya…”
Ternyata jumlahnya tidak sedikit. Bukan sepuluh, bukan dua puluh, tetapi hampir seratus foto. Mata pun membelalak, disertai tawa yang pecah bersama.
“Hhhaaa… seratus foto!”

Di balik jumlah yang banyak itu, tersimpan sesuatu yang jauh lebih berharga. Setiap foto bukan sekadar gambar, melainkan potongan kenangan. Ada doa yang terselip, ada rasa syukur yang mengalir, dan ada harapan agar kebersamaan ini dapat terulang kembali di masa yang akan datang.

Hari Raya mengajarkan kita arti kebersamaan yang sesungguhnya. Bahwa di tengah kesibukan dan jarak yang memisahkan, masih ada waktu yang Allah Subhanahu Wata'alla berikan untuk berkumpul, saling memaafkan, dan mempererat tali silaturahmi. Foto-foto itu hanyalah media, tetapi maknanya jauh melampaui sekadar visual.

Dalam hati, terucap doa lirih, “Ya Allah, panjangkan umur kami dalam kebaikan. Kumpulkan kami kembali dalam momen yang penuh berkah seperti ini. Jadikan keluarga kami keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.”
Karena pada akhirnya, yang akan kita kenang bukanlah seberapa banyak foto yang diambil, tetapi seberapa dalam makna yang tertinggal di dalam hati. Dan hari itu, di tengah tawa dan seratus foto yang tercipta, kami menyadari satu hal: kebersamaan adalah nikmat yang luar biasa, yang patut disyukuri sepanjang hayat.
Cepu, 22 Maret 2026