Karya: Gutamining Saida
Hari Jumat sore, langit mendung tipis mengiringi langkah saya menuju Bumool. Niat awal sungguh mulia yaitu ikhtiar sehat. Membakar kalori, melenturkan otot-otot yang kaku, dan menghirup udara segar tepi kolam. Namun, kita semua tahu bahwa rencana ikhtiar sehat ibu-ibu di kolam renang sering kali berbelok menjadi ikhtiar bahagia lewat gelak tawa.
Sesampainya di sana, saya bertemu dengan bu Lis, bu Nanik, bu Atik dan masih banyak lagi. Lengkaplah formasi Trio Bumool sore itu. Sayangnya, Sang Pelatih tercinta sedang absen ada kepentingan ke luar kota. Apakah absennya sang pelatih membuat semangat kami kendor? Tentu tidak! Justru tanpa pengawasan Sang Pelatih, jiwa-jiwa "eksperimen" kami makin membara.
Bu Lis membuka percakapan dengan nada penuh ambisi, "Bu, ayo kita ulang teori meluncur yang diajarkan pak Gun kemarin. Mumpung sepi, kita praktikkan!"
Kami bertiga bu Lis, bu Nanik dan saya pun berdiri berjejer di bibir kolam. Pandangan lurus ke depan, dada dibusungkan, tangan diluruskan ke atas setidaknya begitulah bayangan kami di dalam pikiran. Di benak masing-masing, kami membayangkan akan meluncur sehalus lumba-lumba, tanpa kecipak air yang berarti, dan membelah air dengan keanggunan tingkat tinggi.
"Satu... dua... tiga... !"
BYURRRRRR!
Bukan suara "cemplung" halus yang terdengar, melainkan ledakan air skala besar! Suara deburan airnya begitu dahsyat, sampai-sampai kami curiga tetangga yang rumahnya di sebelah Bumool langsung keluar membawa gayung, mengira ada banjir lokal mendadak. Air kolam meluap ke tepi, muncrat ke mana-mana, sampai-sampai rasanya kedalaman kolam Bumool berkurang beberapa sentimeter dalam sekejap.
Di dalam air, kami saling pandang dan agak melenceng saat meluncu bersamaan. Kemudian kami ubah satu-satu atau bergantian Sesuai latihan, yang sudah selesai meluncur bertugas menjadi "pengamat" di dalam air untuk melihat bagian tubuh mana yang menyentuh air terlebih dahulu. Kami bergiliran mencoba.
Bu Lis pertama meluncur... BYUR!
Bu Nanik kedua meluncur... BYURRR!
Lalu giliran saya meluncur... BYUUURRR-BLEK!
Di sinilah hasil dari pengamat bawah air. Ternyata, saudara-saudara... yang mendarat duluan ke permukaan air bukanlah ujung jari tangan kita, bukan pula kepala yang menunduk rapi. Melainkan... PERUUUUT!
Ya, bagian perut dengan indahnya menghempas permukaan air terlebih dahulu dengan posisi horizontal sempurna! Gaya meluncur melingkar yang kami impikan berubah menjadi gaya penyet di atas air. Bu Lis yang baru menyulut kepala keluar dari air langsung terbatuk-batuk bukan karena kemasukan air, tapi karena menahan tawa yang meledak. Dengan wajah merah padam dan napas terengah-engah, Bu Lis berteriak dari ujung kolam:
"Bu... Buuu! Ya Allah, kok rasanya tadi kayak ada paus raksasa jatuh dari langit ya?!"
Pecahlah tawa kami bertiga di tengah kolam. Suara tawa kami bersahut-sahutan, menggema di seluruh area Bumool. Anehnya, inilah ajaibnya suasana di kolam renang bersama kawan-kawan,
Kalau gerakan kita benar... kita tertawa bahagia karena bangga.
Kalau gerakan kita salah... kita tertawa makin keras karena lucu.
Dan kalau kita ditertawakan... kita malah makin tertawa terbahak-bahak!
Pokoknya sore itu sebagai ajang terapi tawa nasional. Kalori mungkin terbakar sedikit dari berenang, tapi otot perut kami dijamin kencang karena kebanyakan tertawa!
Malam harinya, dengan kepolosan tanpa dosa, saya mengunggah satu cerita pendek grup Muda Swimming Squad2 tentang ikhtiar sore itu. Tidak berselang lama, Bu Lis langsung menyambar di kolom komentar dengan emoji tertawa sampai keluar air mata.
"Bu Ida, tolong jangan cerita ke Pak Gun ya! Nanti beliau kaget kalau tahu air kolam Bumool keceburan paus besar sampai airnya meluber dan muncrat hampir habis! 🤣🤣🤣"
Saya yang membaca komentar Bu Lis di rumah langsung tertawa sendirian. Mengingat kembali bayangan kami bertiga "menceburkan diri" dengan gaya mendarat perut, candaan Bu Lis tentang "Paus Bumool" itu benar-benar tepat sasaran.
Saya pun membalas, "Bu Lis, kalau ini dibuat cerita humor, saya jamin yang baca pasti terhibur!"
Bu Lis hanya mengirimkan deretan emoji tertawa lagi. Ternyata... pak Gun sempat memantau dan membaca grup! Meskipun beliau sedang berada di luar kota dan lelah setelah perjalanan, rasa penasaran seorang pelatih tidak bisa dibendung. Beliau melihat obrolan mencurigakan tentang "muncratnya air kolam" dan "penampakan paus".
Empat hari berikutnya, tidak tahan dengan rasa penasarannya, pak Gun mengetik komentar di grup,
"Ditunggu episode cerita paus-nya... 👀"
Waduh! pak Gun sudah menagih! Rahasia "paus meluncur" akhirnya terbongkar juga.
Pesan untuk Sang Pelatih Tercinta
Pak Gun yang kami hormati... Melalui tulisan ini, kami bertiga mengaku dengan ikhlas. Memang benar, Jum'at sore teori meluncur yang pak Gun ajarkan dengan penuh kesabaran selama berbulan-bulan mendadak menguap diterpa angin sore Bumool.
Kami sudah berusaha menjadi lumba-lumba yang anggun, Pak. Tapi apa daya, gravitasinya terlalu kuat dan perut kami terlalu mantap, sehingga hasil akhirnya lebih mirip Trio Paus Yang Jatuh.
Kami yakin, andaikata pak Gun ada di pinggir kolam menyaksikan kami bertiga "mengepakan perut" ke air, pak Gun tidak akan sanggup memberikan perintah teori. Pak Gun pasti akan ikut tertawa terbahak-bahak bersama kami.
Tapi tidak apa-apa, Pak. Walaupun gerakannya masih jauh dari kata sempurna dan lebih banyak gaya "muncrat"-nya daripada gaya meluncurnya, ikhtiar sehat kami sukses besar! Kami pulang dengan hati yang sangat bahagia, dada yang lapang, dan pikiran yang segar.
Terima kasih Bumool, terima kasih Bu Lis dan kawan-kawan. Dan untuk Pak Gun... siap-siap ya Pak, di pertemuan berikutnya dengan "Trio Paus Bumool" siap menerima koreksi gaya meluncur yang sebenar-benarnya!
Cepu, 13 Oktober 2026








