Kamis, 01 Oktober 2026

Nilai PTS


Karya: Gutamining Saida

Suasana kelas 7A pagi itu terasa sedikit berbeda. Lembar Penilaian Tengah Semester (PTS) yang bertumpuk rapi di atas meja guru bukan sekadar tumpukan kertas berisi angka-angka merah dan hitam, melainkan cermin kecil dari setiap ikhtiar, doa, dan perjuangan yang telah dilalui anak-anak selama setengah semester terakhir. Hari ini adalah hari pembagian hasil, sebuah momen penting agar setiap siswa mampu menakar seberapa jauh melangkah, mengenali potensi diri, serta bersyukur atas setiap jengkal hasil yang diperoleh.

Satu per satu nama dipanggil ke depan. Di hadapan meja guru, dinamika jiwa anak-anak terpancar begitu jujur melalui bahasa tubuh mereka. Ada yang berjalan ragu sambil menundukkan kepala, Seolah sedang bersiap menanggung rasa malu di hadapan takdir. Ada yang melangkah dengan dada terangkat dan senyum terkembang, penuh keyakinan akan hasil yang diraih. Saat kertas bertuliskan angka-angka itu berpindah tangan, panggung kecil di depan kelas berubah menjadi pentas ekspresi mereka.

Seorang siswa spontan menepuk jidatnya begitu melihat angka yang disebut gurunya. Dia mungkin mendapati harapannya belum selaras dengan realitas. Setelah ucapan gurunya berbah lebih baik, siswa langsung mengelus dada seraya membisikkan doa, mengalirkan rasa lega yang membuncah dari relung hatinya. Ada pula yang tak sanggup menahan kebahagiaan hingga berteriak riang, menyuarakan rasa syukur atas buah dari malam-malam panjang yang dihabiskannya bersama buku pelajaran. Semua gerak dan raut wajah itu adalah gambaran betapa berharganya sebuah penilaian bagi jiwa-jiwa yang sedang bertumbuh.

Hingga tibalah giliran seorang murid bernama Abas.

"Abas," panggil saya singkat, memecah keriuhan kecil di sudut kelas.

Abas bangkit dari tempat duduknya dan melangkah ke depan. Wajahnya polos, menyimpan campuran antara rasa cemas dan penasaran. Ia berdiri tepat di hadapan meja guru, menunggu ketetapan apa yang akan diserahkan kepadanya hari itu.

Tanpa sengaja, lidah saya terselip ketika membaca baris nilai pada lembar jawabannya. "Kamu dapat dua puluh," ucap saya datar, mengonfirmasikan angka yang salah saya baca.

Seketika itu juga, reaksi refleks terpancar dari tubuh Abas. Kedua tangannya langsung melayang menempel di kepala. Wajahnya menyiratkan keterkejutan yang mendalam, seolah langit baru saja runtuh menimpa pundaknya yang kecil. Angka dua puluh sebuah cobaan berat, sebuah tamparan keras bagi prasangka dan harapannya. Dalam pandangan Islam, manusia memang sering kali diuji dengan rasa takut dan kekurangan, dan saat itu Abas sedang mengecap kepasrahan yang mendalam atas takdir yang disangkanya pahit.

Melihat ekspresi dan perubahan mendadak pada raut wajahnya, saya teringat kembali pada lembar kertas di tangan. Saya mencermati ulang angka yang tertera. Seketika sadar atas kekhilafan lisan tersebut, saya bergegas membetulkan.

"Eh... maaf, delapan puluh. Saya keliru mengucap," ralat saya seraya menyunggingkan senyum penyesalan.

Seketika itu pula, sebuah keajaiban kecil terjadi di depan mata. Tangan Abas yang tadinya mencengkeram kepala bergeser dengan cepat, berpindah menempel rapat di dadanya. Matanya terpejam sejenak, dan dari hembusan napas panjang yang keluar dari mulutnya, terucap rasa lega yang begitu membuncah. Angka delapan puluh mungkin bukanlah nilai sempurna di atas kertas, namun di mata Abas detik itu, nilai tersebut terasa seperti hujan rahmat yang menyiram tanah kering berdebu. Dari jurang keputusasaan, ia mendadak diangkat menuju rasa syukur.

Teman-temannya di kelas yang menyaksikan kejadian tersebut tak kuasa menahan tawa dan rasa heran. Saya sendiri hanya bisa menggelengkan kepala, terpesona oleh betapa cepatnya mood dan ekspresi seorang hamba berubah hanya karena sebuah kabar.

Kejadian singkat bersama Abas bukan sekadar peristiwa lucu di sela-sela jam pelajaran, melainkan sebuah ikhtibar pelajaran spiritual yang sangat mendalam. Al-Qur'an mengingatkan manusia diciptakan dengan sifat keluh kesah dan mudah berputus asa, namun juga sangat mudah bergembira ketika menerima kebaikan.

Berapa sering manusia merasa dunianya hancur berkeping-keping saat menerima kabar buruk atau ujian hidup yang terasa berat? Kepala dipegang, dada terasa sesak, dan harapan seolah sirna. Ketika Allah  menyingkap tabir rahasia-Nya dan menunjukkan rahmat yang sebenarnya, belas kasih-Nya ternyata jauh lebih besar dari apa yang dikhawatirkan. Perubahan dari angka dua puluh ke delapn  puluh mengajarkan bahwa sesudah kesulitan, selalu ada kemudahan yang melapangkan dada.

PTS adalah takdir kecil yang melatih anak-anak untuk bersikap sabar ketika hasil tak sesuai harapan, dan syukur ketika mendapati kebaikan. Abas dan teman-temannya tidak hanya belajar tentang nilai akademik, tetapi juga belajar menyadarkan diri tempat bersandar terbaik saat cemas adalah dengan menepuk dada, menyebut nama Allah, dan meyakini bahwa setiap ketetapan-Nya selalu menyimpan hikmah yang melapangkan hati. Aamiin

Cepu, 1 Oktober 2026

Rabu, 30 September 2026

Esmega Sakti


Karya: Gutamining Saida

Momentum Hari Kesaktian Pancasila di SMPN 3 Cepu (ESMEGA) menjadi bukti nyata bahwa semangat juang dan kerja keras generasi muda tak pernah padam. Di tengah peringatan hari bersejarah ini, ESMEGA kembali berkibar bangga berkat deretan prestasi gemilang yang diraih oleh para siswa terbaiknya dalam ajang Bimbel Genius Competition tingkat SMP/MTs Tahun Ajaran 2026/2027.

Keberhasilan ini bukanlah hasil yang didapat dalam semalam, melainkan buah dari ketekunan, konsistensi, dan dedikasi tanpa henti. Berikut adalah jajaran bintang muda ESMEGA yang telah membuktikan bahwa proses tidak akan pernah mengkhianati hasil:

  • Kezia Putri Anidena (Kelas 8G) Menunjukkan keunggulannya yang multidisiplin dengan berhasil menyabet Juara 1 Genius Competition Bahasa Inggris sekaligus Juara 2 Genius Competition IPA. Kezia membuktikan bahwa dengan penguasaan bahasa dan pemahaman sains yang kuat, tidak ada batas untuk meraih impian.

  • Calisa Rafiqah Zulfa Azka (Kelas 8H) Tampil luar biasa sebagai pemborong kejuaraan di berbagai bidang. Calisa sukses meraih Juara 1 Genius Competition IPS, Juara 1 Genius Competition Matematika, Juara Harapan 1 Competition Bahasa Inggris, serta Juara Harapan 2 Competition IPA. Kegigihannya merambah berbagai cabang kompetisi menjadi inspirasi nyata tentang pentingnya daya juang dan pantang menyerah.

  • Akbar Febrian (Kelas 8A) Menunjukkan konsistensi dan semangat kompetisi yang tinggi hingga berhasil mengamankan Juara 3 Genius Competition IPS dan Juara 3 Genius Competition Bahasa Inggris. Prestasi ini menegaskan bahwa kejelian membaca peluang dan fokus pada proses akan selalu membuahkan hasil yang membanggakan.

  • Nayaka Kenzie Arganta Melani Tampil impresif dan mendominasi podium di hampir seluruh mata pelajaran yang dipertandingkan. Nayaka berhasil membawa pulang Juara 2 Genius Competition Bahasa Inggris, Juara 2 Genius Competition Matematika, Juara 2 Genius Competition IPS, serta Juara 3 Genius Competition IPA. Pencapaian serba bisa ini menjadi bukti betapa besarnya potensi yang terasah dengan baik.

Pencapaian para juara ini memberikan pesan berharga bagi seluruh warga sekolah: keberhasilan adalah milik mereka yang berani mencoba, tekun berlatih, dan percaya pada proses. Semoga semangat juang para pemenang ini memantik motivasi seluruh siswa ESMEGA untuk terus melangkah, mengasah potensi, dan mengukir prestasi-prestasi baru di masa depan.

Selamat kepada para juara! Jadikan raihan ini sebagai pijakan awal untuk melompat lebih tinggi dan teruslah menginspirasi. ESMEGA Sakti, ESMEGA Berprestasi!

Cepu 1 Oktober 2026

Pistol Caca

Karya: Gutamining Saida

Suasana sekolah menengah pertama yang terkenal dengan sebutan Esmega. Selalu menyajikan dinamika yang penuh warna. Di antara derap langkah para siswa yang keluar ruang kelas saat bel pergantian jam pelajaran berbunyi. Momen-momen kecil yang diam-diam menyentuh hati seorang pendidik. Di lorong dekat kelas tujuh F, langkah saya terhenti oleh sebuah perjumpaan dengan Caca yang menyulut kehangatan. 

Siswi itu bernama Caca. Hampir sebagian besar warga Esmega mengenalnya. Caca adalah sosok yang ceria, pandai bergaul, dan seolah memiliki magnet sosial yang membuat siapa saja nyaman berada di dekatnya. Senyumnya selalu merekah, dan sapaannya tidak pernah ragu. Memori saya kembali berputar pada masa ketika ia masih duduk di kelas tujuh. Saat itu, saya berkesempatan mendampinginya secara intensif sebagai wali kelas. Melihat tumbuh kembangnya dari anak baru yang beradaptasi hingga kini melangkah mantap di kelas delapan adalah sebuah perjalanan emosional.

Saat kami berpapasan, Caca langsung menghampiri saya. Tanpa canggung, ia menyapa, meraih tangan saya untuk berjabat dengan takzim, lalu memberikan sebuah tantangan yang tak disangka-sangka.

"Bu... saya mau dong dibuatkan cerita," ucapnya penuh antusias, mata binar-binarnya memancarkan harapan yang lugu sekaligus menggemaskan.

"Boleh," jawab saya singkat sambil tersenyum. Sebuah respons sederhana yang ternyata langsung disambut dengan permohonan susulan yang tak kalah bersemangat.

"Bu... Bu, sekalian saya difoto ya, untuk ditaruh di ceritanya!" tambahnya lagi.

Saya paham betul alasan di balik permintaannya itu. Caca adalah salah satu pengikut jejak cerita yang kerap saya bagikan di media sosial. Di sela-sela kesibukan mendidik, saya memang suka mengabadikan kisah-kisah kecil tentang siswa-siswi Esmega. Bagi saya, setiap anak memiliki cerita unik yang layak diangkat, dihargai, dan diabadikan. Caca rupanya mengamati  dan merindukan giliran namanya diabadikan dalam bentuk narasi.

Setelah mengiyakan permintaannya, pandangan saya tertuju pada sebuah foto. Objek yang dipegang oleh Caca.  Benda itu adalah sebuah pistol mainan. Saya sempat tersenyum dalam hati, bercampur sedikit rasa heran yang menggelitik. Anak gadis yang sudah berada di jenjang kelas delapan ternyata masih membawa mainan ke sekolah. Uniknya lagi, yang ia genggam bukanlah mainan umum anak perempuan, melainkan mainan yang biasanya identik dengan anak laki-laki.

Bisikan kelakar melintas di benak saya secara spontan: Sudah besar kok masih membawa mainan? Apalagi pistol mainan anak laki-laki. Oh, barangkali pistol mainan itu nantinya mau dipakai untuk 'nembak' cowok? Tentu saja itu hanya gurauan di dalam hati seorang guru yang melihat tingkah polah muridnya. 

Di balik keunikan gagang pistol mainan dan tawa renyahnya. Potret Caca dengan pistol mainannya bukan sekadar momen lucu untuk ditertawakan, melainkan sebuah simbol tentang masa remaja yang begitu indah dan transisi yang sedang bergerak dinamis.

Dunia remaja awal seperti yang dialami anak-anak kelas delapan adalah masa di mana mereka berada di ambang batas antara kepolosan anak-anak dan kedewasaan yang mulai membentuk identitas. Di satu sisi, mereka mulai belajar memahami tanggung jawab, persahabatan yang lebih dewasa, dan dinamika sosial sekolah. 

Sebagai guru, momen-momen seperti ini menyadarkan betapa berharganya arti kehadiran kita di mata para siswa. Permintaan Caca agar dibuatkan cerita dan difoto bukan sekadar bentuk pencarian perhatian atau keinginan untuk tampil di media sosial. Lebih dari itu, itu adalah bentuk kerinduan seorang anak untuk diakui, dilihat, dan diapresiasi keberadaannya oleh guru. 

Ketika seorang siswa merasa nyaman mendekati gurunya, menyapa dengan santun, lalu tanpa ragu meminta bagian dari perhatian gurunya, di situlah letak keberhasilan hubungan emosional dalam pendidikan. Pendidikan tidak melulu tentang mentransfer teori di dalam kelas atau menuntut nilai akademis di atas kertas evaluasi. Pendidikan yang berjiwa adalah tentang membangun jembatan hati, mendengarkan suara-suara kecil mereka, dan memberikan apresiasi atas keunikan setiap pribadi.

Bahagia itu sungguh sederhana. Rasa hangat mengalir deras di dada saya saat menyadari  tindakan kecil seperti mengulas cerita mereka atau memajang foto mereka dengan narasi penuh kasih dapat mengukir senyum bahagia di wajah mereka. Senyuman Caca  menjadi pengingat berharga bahwa tugas seorang pendidik tidak hanya mengajar, tetapi juga memberi ruang bagi mereka untuk merasa berharga dan dicintai.

Caca, teruslah melangkah dan menebar kebahagiaan. Biarkan keberanian, dan keceriaanmu terus mewarnai ruang-ruang sekolah ini. Sebab dari hal-hal kecil dan tulus seperti inilah, kehangatan sebuah proses belajar dan bertumbuh akan selalu menemukan maknanya yang paling sejati.

Cepu, 30 September 2026

Selasa, 29 September 2026

Menolak Tua


Karya: Gutamining Saida

Siapa bilang usia kepala lima harus kehilangan daya pikat dan keceriaan? Angka boleh saja terus bertambah, namun urusan semangat dan jiwa, kami bertiga dengan tegas memilih untuk menolak tua. Kami adalah tiga sahabat yang enggan menyerah pada kaku-kaku sendi atau garis-garis halus di wajah. Jiwa kami masih riuh oleh letup-letup hasrat khas kawula muda penuh rasa ingin tahu, gemar mencoba hal baru, dan tentu saja, selalu punya alasan untuk tertawa bersama.

Setiap kali kami bertiga berkumpul, rentang waktu rasanya melesat balik ke puluhan tahun silam. Memori masa remaja kami mendadak bangkit kembali, membawa kenangan akan betapa berbedanya zaman tempo dulu dengan masa kini. Dulu, ketika darah muda kami sedang bergelora, teknologi belum sedemikian memanjakan seperti sekarang. Khususnya dalam urusan mengabadikan momen melalui potret atau foto.

Masa muda kami adalah era di mana sebuah foto memiliki harga dan proses yang tak murah. Jika ingin memiliki foto yang agak keren, kami harus berjalan rapi menuju studio foto profesional, berdiri atau duduk kaku di depan layar latar berwarna polos, lalu mengikuti aba-aba fotografer dengan senyum yang sering kali tertahan. Alternatif lainnya adalah membeli kamera tustel kami biasa menyebutnya "kamera Kodak" yang bentuknya lumayan berat. Tidak berhenti di situ, kami masih harus membeli rol film secara terpisah.

Setiap kali menekan tombol rana, ada rasa waswas yang menyelip: “Apakah matanya kedip?”, “Apakah gambarnya bakal goyang?”, atau “Apakah cahayanya cukup?” Sebab, isi rol film itu sangat terbatas biasanya hanya 24 atau 36 jepretan. Tidak ada kesempatan untuk melihat hasilnya saat itu juga. Setelah rol film habis diputar kembali ke dalam selongsongnya, kami harus membawanya ke studio cetak foto dan menunggu dengan sabar selama beberapa hari, bahkan kadang hingga berminggu-minggu, hanya demi melihat sekeping kertas gambar. Ketika cetakan dibuka dan ternyata ada foto yang buram atau bergaya aneh, ya apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Foto itu tetap tercetak dan tak bisa diubah.

Betapa jauh berbedanya dengan dunia hari ini. Zaman telah berputar cepat, melompati batas-batas imajinasi masa muda kami dulu. Kini, teknologi genggam telah mengubah segalanya menjadi begitu serba instan, praktis, dan menyenangkan.

Dalam satu hari saja, kami bertiga bisa mencoba puluhan model dan pose tanpa rasa ribet sedikit pun. Tidak ada lagi ketakutan kehabisan rol film. Tidak ada lagi penantian berhari-hari di depan pintu toko cetak foto. Cukup satu sentuhan jari di layar telepon pintar, jepret! Hasilnya langsung terpampang nyata di depan mata dalam hitungan detik.

Dunia fotografi modern benar-benar menjadi arena bermain baru bagi kami bertiga. Jika pose yang kami lakukan terasa kaku, gaya kurang pas, atau senyum terlihat agak memaksa, kami cukup menekan tombol hapus (delete). Sekejap mata, foto itu hilang tanpa meninggalkan bekas atau kerugian materi. Setelah itu, tinggal ganti gaya lagi, sesuaikan posisi tubuh lagi, lalu jepret ulang!

Kami bertiga memanfaatkan kemudahan ini dengan penuh suka cita. Layaknya anak muda zaman sekarang yang tak pernah kehabisan ide, kami sibuk mencari referensi dan contoh-contoh gaya foto yang estetik di internet. Kami saling unjuk layar ponsel, "Nah, coba lihat pose yang ini, sepertinya bagus kalau kita tiru!" atau "Ayo, kita coba berdiri sejajar dengan gaya santai seperti yang di foto ini!"

Proses mengambil foto itu sendiri sudah menjadi pertunjukan komedi yang luar biasa bagi kami. Kami mencoba model yang berbeda-beda dari gaya yang anggun, gaya formal, hingga pose-pose ekspresif yang mengejutkan. Kami mengulang dan mengulang lagi. Menggeser sudut pengambilan gambar, menyesuaikan arah cahaya, hingga menyilangkan tangan atau memiringkan kepala demi mendapatkan angle terbaik.

Letak keajaiban sejati dari kegiatan ini bukan sekadar pada gambar yang tersimpan di memori ponsel, melainkan pada energi bahagia yang terpancar selama prosesnya. Ternyata, urusan foto-memfoto ini sanggup memicu ledakan tawa yang sudah lama tidak kami rasakan.

Setiap kali melihat hasil jepretan di layar, kami bertiga bisa mendadak tersenyum lebar, lalu meledak dalam tawa lepas yang seru. Kami tertawa melihat muka sendiri yang kadang terlalu serius, tertawa melihat gaya salah satu teman yang sedikit kaku, atau tertawa gembira karena akhirnya berhasil menirukan pose yang sulit.

Keseruan itu semakin memuncak ketika kami mulai menjelajahi fitur-fitur penyuntingan dan filter modern. Begitu polesan warna dan sedikit sentuhan efek diterapkan, wajah kami di layar tampak begitu segar, anggun, dan memikat. Hasil gambarnya terlihat tambah cantik, bahkan terkadang terasa melebihi aslinya! Melihat transformasi itu, tawa kami kembali pecah lagi dan lagi, makin kencang dan makin riang.

Di antara derai tawa dan gurauan hangat itu, ada rasa bahagia yang begitu murni mengalir di dalam dada. Kami menyadari bahwa menjadi tua adalah kepastian secara usia, namun merasa bahagia dan berjiwa muda adalah sebuah pilihan. Kamera ponsel dan pose-pose foto ini hanyalah perantara; kuncinya ada pada kebersamaan, rasa syukur, dan keberanian untuk menikmati hidup tanpa beban.

Di bawah kilatan kamera ponsel, kami bertiga tidak melihat tiga orang yang mulai dimakan usia. Yang kami lihat di layar dan di dalam hati kami adalah tiga orang yang menang melawan waktu. Tiga jiwa muda yang selalu tahu cara merayakan hidup dengan senyuman dan tawa yang paling lepas.

Cepu, 29 September 2026

Tertangkap Kamera


 Karya : Gutamining Saida

Di dalam riak air yang tenang, terkadang tersimpan sejuta kehangatan yang tak terucapkan. Sebuah foto sederhana yang diunggah di grup Muda Swimming Squad2 mendadak mencuri perhatian dan menghentikan jemari saat menggeser layar ponsel. Di dalam bingkai gambar itu, hanya ada dua sosok saya dan ibu tercinta. Tidak ada orang lain di sekeliling kami, seolah waktu sengaja diputar lebih lambat untuk memberi ruang bagi momen indah tersebut. Foto itu diambil secara diam-diam oleh sang pelatih dari tepi kolam. Sebuah potret kandid yang jujur dan tanpa rekayasa. Di bawah foto tersebut, sang pelatih menyematkan sebuah keterangan singkat yang menggelitik: "Tertangkap kamera."

Kata-kata sederhana itu justru terasa penuh makna. Ada rasa geli sekaligus haru ketika membaca kalimat tersebut. Namun lebih dari sekadar candaan ringan di dalam grup, foto itu langsung menyulut sebuah ide hangat di dalam kepala. Momen tak sengaja ini terlalu berharga untuk sekadar berlalu menjadi tumpukan media di memori ponsel. Momen ini layak diabadikan menjadi sebuah kisah inspiratif yang dapat disuguhkan kepada siapa saja yang membacanya sebuah pengingat akan indahnya ikatan kasih sayang, keberanian, dan semangat hidup yang tak pernah padam.

Melihat ibu berdiri di dalam air, ada rasa bangga yang begitu membuncah dan sulit dilukiskan dengan kata-kata. Di antara seluruh peserta yang tergabung dalam rombongan latihan, beliaulah yang paling senior secara usia kini sudah 75 tahun. Ketika banyak orang di usia senja memilih untuk membatasi diri, berdiam diri di rumah, atau menyerah pada rasa lelah dan keterbatasan fisik, ibu justru melangkah dengan berani menuju kolam renang. Beliau tidak membiarkan usia menjadi penghalang untuk terus bergerak, belajar, dan merawat diri.

Langkah kaki ibu memasuki kolam renang adalah sebuah keputusan yang penuh keberanian. Terapi air yang dijalani beliau bukan sekadar aktivitas fisik rutin untuk mengisi waktu luang, melainkan sebuah bentuk ikhtiar yang sungguh-sungguh untuk meraih kesehatan yang lebih baik. Air yang dingin dan kedalaman yang mungkin dahulu terasa asing, kini telah menjadi sahabat dekat. Hari demi hari berlalu, latihan demi latihan dilalui dengan ketekunan. Rasa canggung yang mungkin sempat singgah di awal perjalanan perlahan luluh, berganti menjadi rasa nyaman yang kian bersemi.

Sungguh menakjubkan menyaksikan bagaimana kebiasaan baik ini mengubah segalanya. Semangat ibu untuk tetap sehat melalui terapi di air semakin hari terasa semakin meluas dan menular. Ada ketenangan yang memancar dari wajah beliau setiap kali berada di dalam air. Gerakan-gerakannya yang semula ragu, kini bertransformasi menjadi kayuhan yang makin mantap dan percaya diri. Rasa nyaman yang beliau rasakan di dalam air bukan datang begitu saja, melainkan hasil dari keberanian untuk melawan rasa takut dan konsistensi yang dijaga dengan penuh kesabaran.

Foto yang "tertangkap kamera" itu menjadi bukti autentik tentang betapa indahnya hubungan antara anak dan ibu yang saling mendukung dalam kebaikan. Menyelam berdua di dalam kolam renang, berdampingan meniti ikhtiar sehat, adalah sebuah anugerah yang sangat diragukan bisa dibeli dengan materi apa pun. Di sana, peran tidak lagi sekadar tentang siapa yang menuntun dan siapa yang dituntun, melainkan tentang bagaimana dua jiwa saling menguatkan. Kehadiran saya di samping beliau adalah bentuk pengabdian dan rasa syukur, sementara semangat pantang menyerah yang ditunjukkan ibu adalah pelajaran hidup yang luar biasa bagi saya.

Kehadiran ibu di tengah kelompok renang ini juga memberikan warna dan inspirasi yang begitu besar bagi anggota lainnya. Beliau adalah simbol hidup bahwa kesehatan adalah investasi sepanjang hayat dan tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baik. Setiap senyuman yang terukir di wajah ibu saat menjalani sesi terapi adalah pengingat bagi kami yang lebih muda, bahwa semangat dan kebahagiaan hidup tidak ditentukan oleh angka usia, melainkan oleh tekad di dalam dada serta rasa syukur yang senantiasa dipelihara.

Momen yang terekam secara tak sengaja oleh lensa sang pelatih ini mengajarkan kita satu hal penting: kebahagiaan terindah sering kali hadir dalam kesederhanaan yang tak direncanakan. Kita tidak perlu panggung yang megah atau pencahayaan buatan untuk menciptakan kenangan yang berharga. Cukup dengan ketulusan hati untuk hadir bersama orang-orang tercinta, berjuang bersama demi kebaikan, maka setiap detik yang tercipta akan menjadi mahakarya yang abadi.

Foto "tertangkap kamera" itu kini bukan lagi sekadar gambar digital di sebuah grup percakapan. Gambar itu diharapkan mampu memberikan sepercik kehangatan, inspirasi, dan senyuman bagi siapa saja yang membacanya. Bahwa selama kita memiliki tekad untuk sehat dan dikelilingi oleh orang-orang yang kita cintai, setiap langkah ikhtiar akan selalu terasa indah, nyaman, dan penuh dengan keberkahan. Aamiiin.

Cepu, 29 September 2026

Bukit Karimunjawa

 


Di balik pesona sejuta warna biru Karimunjawa, ada sebuah titik tinggi yang menjadi saksi bisu tentang bagaimana keindahan alam berkelindan dengan riuhnya ambisi manusia. Bukit Karimunjawa, sebuah bukit dengan pemandangan garis pantai yang memukau dan hamparan lautan luas yang tak bertepi, kini telah menjadi semacam buatan monumen wajib. Di situlah, sebuah spot foto ikonik berdiri tegak, menjadi magnet bagi setiap jiwa yang singgah. Bagi sebagian besar orang, berhasil berdiri di titik itu dan memosisikan raga di depan lensa kamera adalah bukti sahih—sebuah cap kelayakan bahwa footprint mereka benar-benar telah menjejak di surga kecil ini.

Namun, mengabadikan sebuah momen indah di tempat sepopuler itu rupanya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada harga tak kasatmata yang harus dibayar mahal: perjuangan dan kesabaran. Di atas bukit yang dikelilingi hembusan angin laut, suasana tidak selamanya tenang. Puluhan, bahkan ratusan pengunjung berkumpul di arena yang sama, memiliki satu impian seragam yang membumbung tinggi. Antrean memanjang, pasang mata saling mengawasi, dan desir gelisah mulai merayap pelan di antara mereka yang menunggu giliran.

Di sinilah letak ujian sesungguhnya. Berdiri di bawah terik matahari, menahan lelah setelah perjalanan jauh, sambil menyaksikan orang lain berganti gaya demi mendapatkan sudut gambar terbaik, menuntut tingkat kesabaran yang luar biasa. Setiap menit yang berlalu terasa begitu berharga dan menghimpit. Ada tekanan tersendiri yang muncul saat waktu begitu terbatas, sementara puluhan pasang mata di belakang kita sudah mengantre dengan tatapan penuh harap agar kita segera menyudahi sesi foto tersebut.

Saat giliran itu akhirnya tiba, dinamika psikologis yang tak biasa sering kali terjadi. Di bawah desakan waktu dan tatapan antrean yang tak sabar, spontanitas mengambil alih. Jemari menekan tombol rana kamera dengan cepat. Jepret, jepret, jepret! Hanya ada beberapa detik untuk berpose, tersenyum, dan berpindah posisi. Tanpa ada kesempatan untuk melihat ulang hasilnya, tanpa ada waktu untuk mengoreksi pencahayaan atau sudut kemiringan wajah. Semuanya berlalu dalam sekejap mata. Hasilnya? Entah bagaimana. Apakah senyum kita terlihat alami atau dipaksakan? Apakah komposisi gambarnya proporsional atau miring? Tidak ada yang tahu, dan yang paling krusial, momen itu tak bisa diulang kembali. Kesempatan emas itu sudah lewat seketika kita melangkah mundur memberi jalan bagi pengunjung berikutnya.

Namun, jika kita bersedia merenung sedikit lebih dalam dari sekadar persoalan estetika foto, peristiwa kecil di Bukit Karimunjawa ini menyimpan pelajaran hidup yang sangat inspiratif.

Kisah di atas bukit ini adalah miniatur sempurna dari kehidupan kita sehari-hari. Berapa sering kita merasa terburu-buru oleh waktu? Berapa sering kita merasa tertekan oleh ekspektasi lingkungan, antrean kesempatan yang rasanya terbatas, serta keinginan kuat untuk sekadar membuktikan kepada dunia bahwa "aku pernah berada di sini" atau "aku telah berhasil mencapai titik ini"?

Perjuangan menanti giliran foto mengajarkan kita arti penting dari rasa hormat dan empati. Di tempat umum yang dipenuhi banyak orang, kesabaran bukan lagi sekadar kebiasaan pribadi, melainkan sebuah bentuk penghargaan tertinggi terhadap hak orang lain. Ketika kita belajar mengendalikan ego untuk tidak berlama-lama menguasai panggung, kita sedang melatih jiwa kita untuk peduli pada ruang bersama.

Lebih dari itu, proses jepretan cepat yang tak bisa diulang mengajari kita tentang hakikat menghargai waktu. Kehidupan di dunia ini bekerja persis seperti momen singkat di depan lensa kamera Bukit Karimunjawa itu. Setiap kesempatan yang menghampiri sering kali datang tanpa jeda panjang. Waktu tidak pernah menyediakan tombol pause apalagi rewind. Apa yang sudah kita lakukan, apa yang sudah kita ciptakan, dan bagaimana kita mengekspresikan diri dalam satu detik kehidupan akan langsung menjadi sejarah. Kita tidak bisa memutar ulang waktu untuk memperbaiki ikhtiar yang setengah-setengah. Oleh karena itu, keberanian untuk memberikan yang terbaik—meski dalam waktu yang sangat singkat dan di bawah tekanan—adalah sebuah keterampilan hidup yang luar biasa.

Pada akhirnya, bagaimanapun nanti hasil foto yang tersimpan di memori kamera atau ponsel kita, hal paling berharga sebetulnya bukanlah gambar visual yang tercetak di layar. Gambar bisa saja kabur, pencahayaan bisa saja buruk, atau komposisinya tidak sempurna. Namun, pengalaman tentang bagaimana kita melatih kesabaran, bagaimana kita menikmati embusan angin bukit sembari menunggu giliran, dan bagaimana kita tersenyum tulus di tengah keterbatasan waktu—itulah kenangan abadi yang sesungguhnya.

Bukit Karimunjawa bukan hanya tempat untuk berburu kenang-kenangan visual, melainkan sebuah ruang perenungan. Di sana kita diajar bahwa jejak terindah yang pernah kita ukir bukanlah sekadar bukti digital yang diunggah ke media sosial, melainkan keikhlasan, kesabaran, dan kebijaksanaan yang berhasil kita tanam di dalam dada selama proses perjuangan itu berlangsung.

Kamis, 24 September 2026

Bahagia Di Akhir Bulan

Karya: Gutamining Saida

Di penghujung bulan September 2026, ketika dompet merintih halus dan saldo rekening bertransformasi menjadi barisan angka yang dermawan akan ketipisannya. Kami sekelompok pejuang membentangkan bendera kemenangan. Kami tidak menundukkan kepala. Kami menolak untuk tenggelam dalam nestapa finansial yang fana. Sebaliknya, kami mengguncang semesta dengan letupan kebahagiaan yang begitu dahsyat, hingga sanggup meretakkan dinding kesedihan dan meruntuhkan kecemasan yang mencoba mengintai di sudut kalbu.

Di saat orang lain menganggap akhir bulan sebagai drama berderai air mata, bagi kami, ini sebagai panggung untuk menciptakan bahagia. Kebahagiaan kami bukan sekadar senyum tipis yang layu diterpa angin. Kebahagiaan kami adalah ledakan tawa yang membakar segala keputusasaan. Ketika kami berkumpul, menyalakan api energi positif yang memancar hingga ke lapisan atmosfer terluar bumi.

Tawa kami melenting ke udara, membelah angkasa. Setiap kali salah satu dari kami menentukan pose baru, tawa kami pecah tanpa ampun. Gelak tawa itu bergulir bak gelombang suka cita, mengocok perut hingga menjadi baja kebahagiaan, memompa semangat yang tak akan pernah bisa padam oleh tanggal tua. Kami pun mencoba dan mencoba bahkan mengulang kembali dengan berbagai pose baru. Tertawa bersama.

Di dalam tubuh kami, sebuah keajaiban memproduksi hormon bahagia tanpa henti. Endorfin, dopamin, dan serotonin meluap-luap bagaikan air terjun yang tak pernah kering, membanjiri setiap pembuluh darah, membasuh setiap sel yang lelah, dan mengubah menjadi kristal sukacita. Hormon-hormon positif ini mengalir deras, membumihanguskan hormon stres hingga tak tersisa sedikit pun debunya. 

Senyuman kami bukan sekadar lengkungan bibir biasa. Senyuman yang terukir di wajah kami di akhir bulan ini adalah sinar kebahagiaan yang begitu terang benderang. Bintang-bintang di langit terpesona sekaligus cemburu melihat binar-binar keriangan yang memancar dari kelopak mata kami. Senyum ini  benteng pertahanan kami. Sebuah tameng tak akan sanggup ditembus oleh kegelisahan desakan ekonomi sementara.

Kami tertawa, napas lega dan tawa yang kami letupkan. Katanya bahagia membuat panjang umur? Bagi kami, bahagia di akhir bulan bersama kawan-kawan kunci rahasia untuk hidup melintasi zaman! Dengan setiap tawa yang kami guncangkan, kami seolah-olah menambahkan ribuan jam kehidupan baru ke dalam takdir kami. Kami sedang menenun keabadian, mengunci usia muda di dalam jiwa, dan mengusir keriput serta penuaan jauh-jauh. 

Akhir bulan bagi kami bukanlah batas akhir dari kesenangan, melainkan puncak kehidupan! Kebersamaan ini adalah energi murni yang tak terbatas, sebuah ikatan yang membuat hal-hal paling sederhana menjadi kemewahan tiada tara. Kami saling memandang, lalu meledak kembali dalam tawa yang bergema. memancing jiwa untuk tertawa bersama.

Maka biarlah kalender berganti dan angka-angka di rekening sesuai takdirnya, karena tak ada satu pun kekuatan di dunia ini yang sanggup memadamkan kebahagiaan kami. Bersama teman-teman, di penghujung bulan ini, kami sedang menaklukkan dunia dengan pedang tawa dan perisai kebahagiaan yang tak akan pernah hilang. 
Cepu, 29 September 2026

Rabu, 23 September 2026

Bonus Belum Tercapai


Karya: Gutamining Saida

Setiap kali notifikasi dari grup Muda Swimming Squad berdenting, selalu ada energi tersendiri yang memancar. Sekitar pukul 09.15 WIB, layar telepon genggam saya menyala membawa kabar kebaikan. Sebuah pesan dari Pak Gun masuk, membawa deretan kalimat yang tidak sekadar dibaca oleh mata, melainkan langsung meresap jauh merengkuh kedalaman jiwa. Kata-kata itu dilemparkan ke grup bak amunisi semangat, menyuntikkan rasa optimisme dan tawakal, khususnya bagi ibu-ibu yang sedang berjuang menaklukkan dinginnya air serta rasa takut dalam diri.

Pak Gun menulis kata-kata dengan tegas  "Semua pasti 'BISA' tanpa pengecualian. Kita butuh waktu, butuh kontinuitas. Ada yang sudah lima tahun baru bisa berenang. Ada yang tiga bulan sudah bisa berenang, ada yang latihan sekali lalu tak kelihatan lagi. Target kita adalah sehat dengan menjaga, mencegah, dan mengurangi rasa sakit. Jangan sedikit-sedikit kerokan, jangan ketergantungan obat."

Membaca pesan tersebut huruf demi huruf, ada rasa hangat yang mendesir halus di dalam dada. Di balik nasihat itu, saya tersadar betapa pesan tersebut adalah cara Sang Pencipta menegur dan menguatkan hati saya. Sampai hari ini, berbulan-bulan sudah waktu berganti, namun Allah Subhanahu Wata'alla tampaknya belum menakdirkan saya untuk menerima "bonus" berupa keahlian berenang.

Jujur saja, menyusuri ingatan tentang masa-masa awal latihan hingga detik ini kerap menghadirkan perenungan mendalam. Kadang kala, ujian hati berupa rasa iri sempat melintas tanpa diundang. Saya menyaksikan sendiri bagaimana ibu-ibu lain yang mendaftar jauh setelah saya, kini dengan begitu anggun dan ringannya meliuk-liuk membelah air, menguasai berbagai gaya dengan estetik. Sementara saya? Sejauh ini pencapaian utama yang diizinkan-Nya barulah meluncur. Ya, meluncur dan terus meluncur. Jika ditanya apakah bisa gaya bebas, saya akan menjawab bisa namun itu adalah gaya bebas versi saya sendiri, sebuah gerakan ikhtiar mandiri yang tentu masih jauh dari sempurna

"Ibu sudah berapa lama ikut latihan?" tanya Bu Pur suatu ketika, memecah derak gemericik air di tepi kolam.

"Sudah berbulan-bulan Bu," jawab saya singkat.

Jawaban singkat itu menyimpan lembaran kisah panjang tentang sebuah kesabaran. Mengapung pun, jika jujur pada diri sendiri, posisi tubuh saya di air masih jauh dari kata sempurna. Masih sering goyah, masih sering tenggelam perlahan. Di balik keterbatasan itu, keindahan skenario Allah justru hadir melalui hadirnya orang-orang baik. Di kolam renang saya tidak pernah merasa berjuang sendirian. Ada teman-teman yang dengan penuh keikhlasan ulurkan tangan, membantu menjaga tubuh saya agar tetap di atas air, memastikan berjalan bersama menuju kesuksesan. Bukankah ini bentuk rezeki yang tak ternilai, saat Allah Subhanahu Wata'alla menghadirkan sosok-sosok penolong di kala kita berjuang?

Pesan dari Pak Gun pagi ini seolah menjadi pengingat yang menyegarkan keimanan. Berenang ternyata bukan sekadar tentang seberapa cepat kita menyeberangi kolam. Bagi saya, ini adalah ibadah ikhtiar tentang bagaimana kita belajar bersabar meniti proses, merawat amanah berupa tubuh fisik yang telah dikaruniakan Sang Maha Kuasa.

Saya telah berusaha berjuang semampu dan sekuat tenaga. Setiap pekan, rasa malas serta sisa-sisa rasa takut selalu saya serahkan dalam doa, lalu saya bangkit untuk kembali menyentuh air. Walaupun Allah belum memberikan "bonus" berupa kepandaian berenang seperti orang lain, saya sangat bersyukur karena menyadari satu hal: buah dari ikhtiar itu sudah saya rasakan dalam bentuk nikmat yang begitu nyata.

Setelah ikut terapi air, kesehatan saya terasa jauh lebih membaik dari hari ke hari. Rasa pegal dan kaku pada tubuh perlahan terurai, menjadikan badan terasa lebih bugar. Tidur malam pun menjadi sangat nyenyak. Sebuah nikmat istirahat yang luar biasa berharganya. Bahkan, nafsu makan bertambah hidangan apa saja yang tersaji di meja makan terasa nikmat dan penuh keberkahan untuk disantap, walau hanya dengan lauk pauk sederhana tanpa kehadiran ikan sekalipun. Allah Subhanahu Wata'alla mengganti keterbatasan gerak saya di air dengan limpahan nikmat sehat yang tiada tara.

Maka, untuk apa saya harus berkecil hati? Bukti nyata dari ketabahan saya adalah api semangat yang tidak pernah padam. Saya terus berlatih, mencoba, dan tak bosan mengulang. Keberanian untuk tetap melangkah ke kolam Bumool.  Setiap Jum'at, Sabtu dan Minggu bentuk kesyukuran atas kesempatan hidup dan kesehatan yang masih diberikan-Nya.

Kata-kata Pak Gun akan terus saya simpan sebagai penyejuk hati. Bahwa setiap hamba memiliki garis waktu dan takdirnya masing-masing. Ada yang diberi kemudahan dengan cepat, ada pula yang perlahan baru bisa. Yang terpenting, kita tidak berhenti melangkah dan tidak kehilangan rasa syukur. Bonus kemampuan mungkin belum Allah Subhanahu Wata'alla turunkan hari ini, tetapi nikmat sehat, indahnya silaturahmi, dan kedamaian hati sudah lebih dari cukup untuk membuat perjalanan panjang ini terasa begitu indah, penuh berkah, dan bermakna. Aamiin. Terimakasih pak Gun dan teman-teman seperjuangan.

Cepu, 24 September 2026

Shena Kyrani Aurelia Putri


Karya: Gutamining Saida

Shena Kyrani Aurelia Putri. Sebuah nama yang indah, dirangkai dengan penuh cinta oleh kedua orang tuanya. Di ruang kelas 8B, nama itu tidak sekadar tertera di lembar presensi, melainkan mewujud pada sosok seorang siswi yang selalu berhasil mencuri perhatian lewat kesederhanaan dan ketulusannya.

Shena memiliki paras yang manis dengan senyum yang ramah dan tak pernah dipaksakan. Tubuhnya yang langsing dan posturnya yang tegap membuatnya senantiasa terlihat rapi dalam balutan seragam sekolah. Dia selalu memilih duduk di bangku barisan kedua dari depan. Sebuah tempat duduk strategis yang menggambarkan kesiapannya untuk menyerap ilmu tanpa ingin terlalu menonjolkan diri.

Mata saya tak pernah absen memperhatikan gerak-geriknya. Shena memiliki ketertarikan yang sangat kuat pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.  Setiap kali materi pembelajaran dimulai, dari jejak sejarah nusantara hingga dinamika penduduk Indonesia, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu. Dia adalah tipe murid idaman rajin menyimak tanpa memotong penjelasan, selalu mencatat hal-hal penting, dan selalu menjadi yang terdahulu dalam mengumpulkan tugas. Maka, tidak mengherankan jika lembar evaluasinya senantiasa dihiasi angka-angka yang sangat memuaskan. Keseriusannya belajar mencerminkan sikap kedewasaan. 

Di balik prestasinya yang cemerlang di kelas, ada sisi kehidupan keluarga yang hangat dan menarik dari sosok Shena. Rahasia kecil itu baru terkuak pada suatu siang, persis setelah bel tanda berakhirnya jam pelajaran terakhir bergema di seluruh penjuru sekolah.

Saat saya sedang merapikan buku-buku di atas meja guru, sekelompok siswa kelas 8B berjalan mendekati meja saya dengan wajah sumringah dan tawa ceria khas remaja.

"Bu… ayo kita makan-makan di Shena!" seru salah seorang dari mereka dengan semangat yang meluap-luap.

Saya menghentikan gerakan tangan saya, menatap mereka satu persan dengan dahi berkerut heran. "Acara apa?" tanya saya penasaran.

"Itu Bu, mamanya Shena jualan di rumah makan Padang!" sahut yang lain sambil menunjuk ke arah Shena yang berdiri agak tersipu di tengah lingkaran temannya.

"Ohhhh…" ucap saya mengangguk-angguk, kini mengerti alasan di balik riuhnya ajakan mereka. Rasa bangga menyelinap di hati melihat bagaimana Shena tidak pernah malu menunjukkan usaha orang tuanya. 

"Alamatnya di mana?" tanya saya lagi.

"Ngareng, Bu!" jawab mereka serempak.

Suasana kelas yang mulai sepi mendadak terasa makin hangat. Saya lalu menatap Shena yang berdiri  dengan senyum manisnya. 

"Satu porsi berapa, Shena?" goda saya sambil tersenyum.

Shena tersenyum semakin lebar, matanya menyipit ramah saat memberikan jawaban spontan yang tak terduga. 

"Gratis untuk Bu Saida, tapi teman-teman bayar!" ucap Shena polos namun penuh nada gurauan.

Sontak saja, sorak-sorai dan gelak tawa riuh pecah memecah keheningan siang hari. Teman-teman sekelasnya yang berdiri di dekatnya kompak tertawa lepas sambil menepuk-nepuk pelan pundak Shena. Suasana riang itu menghangatkan ruangan kelas 8B, memperlihatkan betapa Shena  menjadi bagian penting dari kebersamaan mereka.

Dia memiliki kepribadian yang hangat dan supel. Kehadirannya selalu membawa keceriaan, membuat siapa saja merasa nyaman berada di dekatnya. Sifatnya yang ramah dan mudah bergaul membuatnya memiliki banyak teman dari berbagai kelas. Di mana pun Shena berada, tawa dan obrolan hangat selalu mengalir di sekitarnya.

Salah satu kebiasaan kecil yang konsisten ia lakukan setiap hari adalah membawa bekal air minum putih sendiri dari rumah. Deretan penjual kantin sekolah menyajikan berbagai pilihan minuman manis yang berwarna-warni, dingin, dan menggoda selera. Hampir sebagian besar siswa tergiur untuk mengantri dan membeli minuman kemasan kekinian tersebut. Dia tidak tergoda untuk ikut-ikutan membeli.

Di meja belajarnya yang berada di barisan kedua, sebuah tumbler berukuran besar selalu berdiri kokoh. Tumbler itu bukan sekadar wadah air, melainkan simbol komitmen Shena untuk belajar hidup sehat dan hemat. Tanpa ada rasa malu sedikit pun di tengah teman-temannya yang sibuk membeli minuman di kantin, Shena dengan percaya diri meneguk air putih dari tumblernya. 

Langkah sederhana ini memberikan dampak yang sangat positif baginya. Tidak  membeli minuman di sekolah, uang saku yang diberikan orang tuanya tetap tersisa. Dia paham betul arti kerja keras orang tuanya, sehingga dia memilih untuk melatih dirinya berhemat sejak dini. 

Cepu, 23 September 2026

Selasa, 22 September 2026

Empat Sekawan


Karya: Gutamining Saida

Sang Empat Sekawan di Kelas 8C, empat sosok terkenal mampu menepis kabut kebodohan dan menyinari sekolah  yang biasa disebut SEKOLAH SULTAN. Reny, Lala, Alifa, dan Nina kelompok siswi yang berada di bangku belakang. Mereka memilih duduk di belakang tentu banyak pertimbangan. Posisi yang nyaman, aman serta cocok.

Mereka melangkahkan kaki menerobos gerbang sekolah menuju ruang kelas 8C. Papan tulis di ruang menantikan sentuhan jemari mereka. Mengucapkan nama mereka satu per satu Reny, Lala, Alifa, Nina bukan sekadar menyapa, melainkan memanggil empat sekawan yang selalu aktif pembelajaran IPS.

Setiap kali jemari mereka untuk berkarya, dunia seni dan logika langsung bertabrakan dalam sebuah ledakan dahsyat yang menciptakan mahakarya tak tertandingi. Tulisan mereka menjelma menjadi tumpukan karya yang memukau mata. 

Sang Empat Sekawan tidak sekadar duduk mendengarkan. Semangat mereka untuk belajar adalah api abadi yang tak sanggup dipadamkan. Ketika murid lain tertunduk layu dihantam kelelahan mereka justru makin berkobar. 

Mereka sosok yang responsif dan berani mengutarakan pendapat. Mereka tidak ragu untuk bertanya saat menemukan materi yang membingungkan, aktif berdiskusi dalam kelompok, dan konsisten menunjukkan semangat yang tinggi terhadap setiap mata pelajaran.

Setiap lembar tugas mata pelajaran yang dibebankan kepada mereka dituntaskan dengan kecepatan kilat. Mereka tersimpul dalam satu ikatan persahabatan sejati yang tak tergoyahkan oleh hantaman fitnah. Mereka bersama bersaing dalam berjuang meraih prestasi tanpa ada permusuhan. Mereka saling memotivasi dengan persaingan yang sehat. Semoga kesuksesan berpihak pada kalian semua. Aamiin.

Cepu 23 September 2026


 

Senin, 21 September 2026

Kekawatiran Sang Mama


Karya; Gutamining Saida

Di bawah mentari pagi yang baru saja menyapa bumi, deru mesin sepeda motor meraung membelah keramaian lalu lintas. Alifa, seorang siswi kelas 8C yang berparas manis, duduk manis di jok belakang dengan seragam putih-biru. Di depannya, sang mama memegang kendali setang dengan penuh ketangkasan. Selasa, sebuah hari yang awalnya berjalan begitu sempurna, meluncur mulus bak kereta api. Sang mama bukan sekadar untuk mengantar sang buah hati menuju gerbang Esmega, melainkan juga untuk menunaikan baktinya sendiri. 

Takdir pagi itu tiba-tiba saja memutar kemudinya dengan begitu drastis. Di tengah perjalanan yang mulus, tepat di sebuah ruas jalan yang dikelilingi rindangnya pepohonan, sepeda motor yang mereka kendarai mendadak terbatuk-batuk. Mesinnya terbatuk sekali, dua kali, lalu mati total. Usaha sang mama untuk menyalakan kembali mesin itu sia-sia belaka, roda besi itu membisu.

Kepanikan seketika meledak di dalam dada sang mama. Jarum jam seolah-olah berputar ribuan kali lebih cepat, bergerak seperti kilat. Bayangan Alifa yang terlambat, berdiri menggeletar di balik gerbang sekolah yang tertutup rapat, membakar pikiran sang mama hingga hangus. Di tengah pusaran kecemasan, melintaslah seorang bapak-bapak mengendarai sepeda motor. Melihat raut wajah sang mama yang hampir meneteskan air mata kecemasan, bapak itu memperlambat laju kendaraannya.

Tanpa berpikir panjang, sang mama mengambil keputusan. Ia menitipkan Alifa kepada bapak asing yang kebetulan searah menuju sekolah tersebut. Alifa pun naik ke boncengan motor bapak itu, menghilang di balik debu jalanan yang membumbung tinggi.

Saat bayangan putri kesayangannya lenyap di telan tikungan jalan, pada saat itulah emosional mamanya bergerak. Perasaan khawatir dan was-was yang melingkupinya. Hati seorang ibu yang selembut sutra kini diliputi kecemasan. Berjuta-juta spekulasi buruk yang mengerikan di dalam benaknya.

Waktu merayap begitu lambat, terasa seperti puluhan jam yang menyiksa. Jam demi jam dilewatinya di tempat kerja dengan jiwa yang melayang-layang entah ke mana, sementara badannya bergetar oleh kecemasan yang membakar sukma.

Ketika jarum jam akhirnya menunjukkan jam ketiga pembelajaran, waktu di mana ruang-ruang kelas mulai dipenuhi riuh rendah proses belajar. Ketahanan batin sang mama benar-benar berada di ambang keruntuhan. Tanpa mampu menahannya lagi, jemarinya mengetik pesan di layar ponselnya. Ia mengirimkan pesan singkat kepada wali kelas 8C.

Tanpa menunda waktu sedetik pun, sang wali kelas segera beranjak dari tempat duduknya. Langkah kakinya yang mantap membelah koridor sekolah yang hening, menuju ruang 8C membawa misi mencari jiwa. Begitu sampai di depan pintu, pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) sedang berlangsung dengan begitu khidmat. Sang guru IPS sedang memaparkan materi dengan begitu memikat, sementara para siswa menyerap ilmu bak spons yang menyerap air.

Sang wali kelas mengetuk pintu dan memohon izin untuk mengganggu jalannya pelajaran sejenak. Matanya yang tajam menyapu seluruh sudut ruangan, mencari satu sosok yang menjadi pusat dari segala kecemasan. Di barisan bangku kelas, terlihatlah Alifa. Anak itu sedang duduk dengan tenang, jemarinya menari-nari menggoreskan pena di atas buku catatan. 

Legalah dada sang wali kelas. Tanpa membuang kesempatan, ia merengkuh ponselnya dan mengambil potret Alifa yang sedang tekun belajar dari jarak dekat. Foto itu seketika dikirimkan kembali melalui aplikasi pesan kepada sang mama, sebagai sebuah bukti sang putri telah sampai di sekolah. 

Ketika layar ponsel sang mama menyala, menampakkan foto Alifa yang tersenyum di tengah pelajaran IPS.  Seketika, benteng kecemasan yang tadinya berdiri setinggi langit langsung hancur berkeping-keping menjadi debu yang hilang diterbangkan angin.

Hati sang mama kini melayang-layang di atas awan kebahagiaan. Rasa syukur yang tak terhingga membumbung tinggi menembus langit, menggema ke seluruh penjuru alam semesta. Rasa lega yang tak terlukiskan dengan kata-kata memenuhi setiap relung sukmanya. Sebuah rasa tenang  menyejukkan jiwa. Alhamdulillah dilafatkan sebagai rasa syukur.

Cepu, 22 September 2026


Minggu, 20 September 2026

Meluncur, Gerak dan Nafas


Karya: Gutamining Saida

Suasana kolam renang Bumool hari itu terasa luar biasa hidup. Gerakan air yang membiru memantulkan derai tawa dan semangat.  Ada satu pemandangan yang selalu konsisten dan menarik perhatian dari minggu ke minggu.  Setiap kali sesi latihan, selalu ada wajah-wajah baru yang bergabung. Mulai dari anak-anak,  remaja yang penuh energi, hingga ibu-ibu yang datang untuk belajar menaklukkan rasa takut pada air.

Mengamati kolam melahirkan sebuah rasa senang dan haru. Di antara sekian banyak pelatih yang membuka kelas di Bumool, harus diakui jumlah anak didik Pak Gun menjadi yang terbanyak. Deretan peserta yang mengular. Bukti nyata betapa metode pendekatan Pak Gun sangat diterima dan diminati. Terbesit doa Semoga ilmu yang dibagikan Pak Gun menjadi bermanfaat, membawa kebaikan, dan berlimpah berkah, baik bagi beliau maupun bagi setiap peserta. 

Ada kejadian unik yang menyedot perhatian di tengah latihan. Di antara jajaran peserta, tampak seorang remaja baru bergabung. Dia sudah menunjukkan kemampuan adaptasi yang luar biasa pesat. Jika biasanya peserta pemula membutuhkan waktu cukup lama untuk menjinakkan rasa cemas terhadap kedalaman air. Dia justru terlihat begitu tenang, rileks, dan sudah sangat nyaman menyatu dengan air.

Pak Gun meminta seluruh peserta untuk berbaris rapi dalam satu deret panjang tepat di bibir kolam. Ibu-ibu berdiri sejajar, siap mendengarkan aba-aba. Ketegangan, fokus membayang di wajah-wajah mereka. Begitu peluit ditiup oleh Pak Gun, gerakan serentak pun terjadi. Ibu-ibu meluncur dengan percaya diri, memadukan gerakan kaki, dorongan tangan yang membelah air, serta napas.  Kolam seketika ramai oleh kecipak air yang berirama.

Tatapan Pak Gun tertuju pada barisan peserta baru, lalu jari telunjuknya tepat kepada peserta baru.

"Satu apa, Mbak?" tanya Pak Gun.

Dia menunjuk dirinya sendiri dengan raut wajah polos.

"Saya, Pak?" balasnya memastikan.

"Iya," jawab Pak Gun singkat sambil mengangguk.

Tanpa ragu, saya pak?, "Dina!"

Pak Gun yang mendengar jawaban itu seketika tak sanggup menahan tawa. Gelak tawa pun langsung meledak pelan di antara peserta lain yang mendengar percakapan jujur tersebut.

"Siapa nanya nama?" sahut Pak Gun tertawa kekeh.

"Maksud saya, hitungan 'satu' itu artinya apa?" tanya Pak Gun kembali.

Tanpa rasa canggungdia tersenyum tipis dan langsung mengambil posisi. Dengan sigap, Mbak Dina mempraktikkan seluruh urutan teknik yang dimaksud. Dia melakukan dorongan meluncur yang mulus, mengibaskan gerakan kaki dengan mantap, disusul gerakan tangan yang rapi menembus air.

Melihat gerakan yang begitu lancar dan sempurna dari Mbak Dina, kekehan Pak Gun berubah menjadi nada kagum yang tulus.

"Mantap!" ucap Pak Gun spontan. 

Momen-momen  seperti inilah yang membuat setiap sesi latihan di kolam Bumool terasa  berharga dan berkesan. Menyaksikan secara langsung bagaimana seorang dari yang awalnya tidak tahu apa-apa, ragu, atau bersalah paham bisa langsung menguasai gerakan.  Sebuah kebahagiaan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Ada rasa senang yang meluap dan kedamaian yang hadir saat melihat proses belajar yang dibalut kehangatan, keakraban, dan tawa. Keberhasilan para murid menaklukkan tantangan di dalam air tak hanya menjadi kebanggaan bagi Pak Gun sebagai pelatih. Juga membawa keceriaan dan inspirasi mendalam bagi siapa saja yang menyaksikannya dari tepi kolam. Ayo kita tetap fokus teman. 

Cepu, 24 September 2026

Kisah Yuyu Kangkang

 


Karya: Gutamining Saida

Sabtu sore tepatnya tanggal 19 September 2026 di sisi kolam renang itu riuh oleh tawa dan keceriaan yang menyeruak di antara kecipak air. Sore yang pelan-pelan meredup, Pak Gun, seorang pelatih terapi renang profesional, bersiap memimpin sesi latihan yang berbeda dari biasanya. Jika pada pertemuan sebelumnya para peserta yang mayoritas terdiri dari ibu-ibu selalu diminta berjalan menyusuri bibir kolam saat hendak menuju area kedalaman dua meter.  Pak Gun menyiapkan sebuah tantangan baru.

Beliau meminta peserta untuk langsung menyeberang melintasi permukaan air. Kami harus membelah lintasan dari kedalaman 1,80 meter menuju area dua meter. Bagi yang sudah mahir dan senior berenang, jarak dan kedalaman tersebut mungkin terdengar biasa. Namun, bagi ibu-ibu lainnya  melangkah dan meluncur ke area yang melebihi tinggi badan tentu mendatangkan sensasi tersendiri. Ragu, was-was, dan rasa khawatir seketika membayang di wajah ibu-ibu. Air kedalaman dua meter seolah menjadi rintangan besar yang harus ditaklukkan.

Melihat raut cemas yang mulai terlihat di antara senyum ibu-ibu, Pak Gun tidak tinggal diam. Sebagai pelatih profesional yang berpengalaman, beliau paham betul. Kunci utama dalam terapi air bukan hanya mengajarkan teknik fisik, melainkan juga membangun rasa aman dan kepercayaan diri. Pak Gun langsung turun tangan. Dengan sigap dan penuh kesabaran, beliau bersiap mendampingi setiap peserta satu per satu, memastikan tak ada seorang pun yang tenggelam dalam ketakutannya sendiri.

Di sinilah keseruan itu bermula. Dengan posisi tubuh yang siap menopang, bergerak lincah ke kiri dan ke kanan membelah air untuk menjemput dan mengawal para ibu-ibu. Gaya Pak Gun mendadak mengingatkan pada satu tokoh cerita rakyat Jawa yang sangat populer tentang Yuyu Kangkang. Si kepiting raksasa penyeberang sungai dalam kisah Klenting Kuning.

"Saya kayak Yuyu Kangkang niiiih..." ucapan Pak Gun terlontar begitu saja di tengah-tengah air, diiringi gaya tubuhnya yang jenaka saat bersiap 'menyeberangkan' ibu-ibu berikutnya. Kelakar spontan itu seketika pecah di udara. Tawa ibu-ibu melelehkan suasana tegang yang sempat menggantung. Metafora Yuyu Kangkang yang dilemparkan Pak Gun sangat pas menggambarkan perannya. Sosok yang siap mengantar siapa saja menyeberangi 'kolam' kedalaman dua meter.

"Tapi kita Klenting Hitam, Pak!" ujar Bu Yeni sambil tertawa lepas.

Suasana di sekitar kolam renang yang semula tegang kini berubah menjadi panggung komedi air. Celetukan Bu Yeni tentang rombongan "Klenting Hitam" rupanya menjadi pemantik dari obrolan kocak yang terus bersambung di antara kecipak air. 

Sautan itu beralasan kuat. Jika dalam cerita rakyat legendaris para gadis yang menyeberang sungai adalah Klenting Kuning dan saudara-saudaranya. Sabtu sore di dalam kolam renang tak ada seorang pun yang memakai baju kuning. Mayoritas ibu-ibu mengenakan baju renang berwarna hitam. Maka, jadilah mereka rombongan "Klenting Hitam" yang siap di bawah pengawalan sang Yuyu Kangkang.

"Waduh, Klenting Hitam ya?" balas Pak Gun sambil memasang muka penuh seloroh, tangannya masih siaga mengapung di kedalaman dua meter. "Tapi inget ya Ibu-ibu, Yuyu Kangkang zaman now itu udah modern! Nggak mau disogok pake ciuman kayak di dongeng legendaris dulu. Sekarang zamannya serba digital!"

"Trus mintanya apa dong, Pak Gun?" sahut Bu Rahayu dari ujung kolam sambil tertawa kekeh, tangannya masih memegang erat tepi kolam.

"Yuyu Kangkang modern minta transferan Bu! Atau minimal di-follow akun TikTok saya biar viral!" jawab Pak Gun sambil memperagakan gerakan capit kepiting dengan kedua tangannya, lalu bergerak lincah mendekati Bu Pur.

Tawa ibu-ibu langsung meledak.. Suara gelak tawa renyah bergema menembus area kolam renang. "Yah, pak Gun! Kalau mintanya transferan  mending kita berenang sendiri aja deh, nggak jadi nyebrang!" celetuk Bu Diah dari seberang, disambut sorak-sorai setuju.

"Wah, jangan gitu dong Bu." potong Pak Gun cepat dengan nada bercanda. 

"Layanan Yuyu Kangkang ini lengkap lho. Pengawalan VIP, dijamin nggak tenggelam."

Rasa takut yang semula mencengkeram perlahan terangkat, berganti menjadi semangat keberanian yang meluap-luap. Gaya Pak Gun yang bergerak ke sana kemari menuntun peserta yang masih ragu, lalu bergerak cepat ke kiri menjemput peserta lain yang panik. Kondisi aman  hingga mendarat di zona dua meter. Tanpa sadar, lewat pendekatan humor dari Pak Gun, ibu-ibu berhasil. Rasa khawatir dikalahkan oleh rasa percaya pada sang pelatih. 

Di tangan seorang pelatih yang humoris dan empatik seperti Pak Gun, terapi air berubah menjadi momen pementasan dongeng modern yang penuh gelak tawa. Pak Gun berhasil memerankan "Yuyu Kangkang" yang tidak meminta imbalan apa pun, selain melihat keberanian dan senyum lega dari para "Klenting Hitam". Sampai jumpa episode yang lebih seru. Terimakasih pak Gun.

Cepu, 20 September 2026