Senin, 16 Februari 2026

Domino IPS di Kelas 7F


Karya : Gutamining Saida

Hari Jum'at saya melangkah menuju kelas 7F dengan perasaan berbeda. Di tangan saya ada setumpuk kartu sederhana yang sudah saya siapkan sejak malam sebelumnya. Kartu-kartu itu bukan kartu biasa, melainkan media pembelajaran yang saya beri nama “Domino IPS”. Saya membuatnya sendiri di kartu Domino yang saya beli kemudian diberi tulisan sesuai materi IPS. Sederhana memang, tetapi penuh harapan.

Sebagai guru IPS, saya sering berpikir bagaimana caranya agar materi tidak terasa berat di kepala siswa. IPS sering dianggap hafalan tentang istilah, konsep, nama tokoh, peristiwa, dan berbagai istilah ekonomi, sejarah, sosiologi atau geografi. Padahal jika dikemas dengan cara yang tepat, IPS bisa sangat menyenangkan. Saya teringat pengalaman ketika menggunakan kartu domino untuk materi nasionalisme di kelas lain, dan siswa terlihat jauh lebih hidup. Dari situlah ide Domino IPS untuk 7F semakin matang.

Sebelum pelajaran dimulai, saya menjelaskan aturan permainan. Siswa saya bagi menjadi kelompok yang masing-masing berjumlah empat orang. Mereka bebas memilih anggota kelompok. Boleh campuran laki-laki dan perempuan, boleh juga sesama perempuan atau sesama laki-laki. Kebebasan ini membuat suasana awal kelas riuh rendah. Ada yang langsung berlari menghampiri sahabatnya, ada yang masih ragu mencari anggota, ada pula yang ditarik-tarik oleh temannya agar bergabung.

Setelah terbentuk delapan kelompok, saya mengeluarkan delapan set Domino IPS yang berbeda model. Setiap set berisi pasangan kata yang harus dicocokkan. Misalnya, satu kartu bertuliskan “Sumber Daya Alam” dan kartu pasangannya “Pertanian, Perikanan, Hutan”. Ada juga “Bahan tambang” dengan pasangannya “Emas, Batu bara, Minyak, Nikel”. Untuk materi geografi, ada “Indonesia” yang harus dipasangkan dengan “Kekayaan alam melimpah”. Semua sudah saya sesuaikan dengan materi yang sedang mereka pelajari.

Saya menjelaskan bahwa mereka harus menyusun kartu seperti bermain domino. Kartu harus saling berhubungan antara satu sisi dengan sisi lainnya. Tidak boleh asal menempel. Jika salah mencocokkan, rangkaian akan terhenti. Di sinilah kerja sama dan ketelitian diuji.

Begitu saya berkata, “Mulai!”, kelas langsung berubah menjadi arena kompetisi kecil yang seru. Setiap kelompok membagi tugas. Ada yang membaca kartu dengan suara keras, ada yang mencatat, ada yang langsung mencari pasangan. Beberapa siswa terlihat serius menekuni setiap kata. Ada yang berdebat kecil, “Ini cocoknya ke sini, bukan ke situ!” Yang lain menyanggah, “Bukan, definisinya beda.”

Saya tersenyum melihat dinamika itu. Tanpa mereka sadari, mereka sedang mengulang materi. Mereka membaca berulang-ulang istilah dan pengertiannya. Mereka berdiskusi, mengoreksi, dan saling meyakinkan. Tidak ada wajah mengantuk. Tidak ada yang sekadar menatap kosong ke papan tulis. Semua terlibat.

Karena ada delapan kelompok, saya memang menyiapkan delapan model Domino IPS yang berbeda. Ketika satu kelompok selesai, mereka boleh menukar dengan set milik kelompok lain. Aturan ini membuat permainan semakin menantang. Tidak cukup hanya memahami satu set; mereka harus siap menghadapi variasi soal lainnya.

Kelompok pertama yang selesai langsung bersorak kecil, “Bu, sudah!” Saya mengecek susunannya dengan teliti. Ada satu pasangan yang kurang tepat. Mereka sempat kecewa, tetapi justru semakin semangat memperbaiki. Di sisi lain, kelompok lain mulai menyusul. Suara kelas semakin riuh, tetapi riuh yang produktif.

Agar motivasi mereka semakin tinggi, sejak awal saya memang mengumumkan bahwa permainan ini dilombakan. Saya akan mengambil tiga kelompok tercepat dengan susunan paling tepat sebagai pemenang. Mendengar kata “lomba”, mata mereka berbinar. Ada energi berbeda yang terasa.

Beberapa kelompok tampak sangat kompak. Mereka duduk melingkar, kartu diletakkan di tengah, semua anggota aktif. Tidak ada yang diam saja. Ada juga kelompok yang awalnya kurang solid. Satu anak terlihat dominan, sementara yang lain hanya memperhatikan. Saya mendekat dan memberi arahan, “Semua harus terlibat, ya. Ini kerja tim.”

Perlahan mereka mulai berbagi peran. Anak yang tadinya diam mulai berani membaca kartu. Yang biasanya kurang percaya diri, kini ikut menyumbang pendapat. Saya merasa inilah tujuan pembelajaran sesungguhnya yaitu bukan hanya memahami materi, tetapi juga belajar bekerja sama, menghargai pendapat, dan mengatur strategi.

Setelah waktu hampir habis, tiga kelompok berhasil menyelesaikan delapan set domino dengan waktu tercepat dan hasil paling tepat. Saya umumkan pemenangnya. Kelas langsung bertepuk tangan. Wajah-wajah ceria terpancar. Tidak ada hadiah besar, hanya apresiasi dan nilai tambahan. Tetapi bagi mereka, pengakuan itu sudah sangat membahagiakan.

Sebelum pelajaran berakhir, saya melakukan refleksi singkat. Saya bertanya, “Lebih mudah memahami materi dengan cara ini atau hanya membaca buku?” Hampir semua menjawab serempak, “Main domino, Bu!” Beberapa bahkan meminta agar permainan seperti ini diadakan lagi.

Saya bersyukur. Media sederhana dari kartu Domino ternyata mampu mengubah suasana belajar. Domino IPS bukan sekadar permainan. Ia menjadi jembatan antara konsep dan pemahaman, antara teori dan pengalaman. Anak-anak belajar tanpa merasa sedang belajar.

Sebagai guru, kebahagiaan saya sederhana. Melihat siswa bersemangat, saling bekerja sama, dan memahami materi dengan cara yang menyenangkan sudah lebih dari cukup. Kelas 7F bukan hanya belajar IPS, tetapi juga belajar tentang kekompakan, strategi, dan sportivitas.

Saya perasaan lega. Lelah memang, karena harus mengawasi delapan kelompok sekaligus. Lelah itu terbayar lunas oleh suara tawa dan semangat mereka. Domino IPS buatan tangan saya mampu mengubah suasana bahagia. Semoga menginspirasi dan bermanfaat. Selamat mencoba.

Cepu, 16 Pebruari 2026

Wajah Ditusuk Jarum

 


Karya: Gutamining Saida

Hari libur bagi sebagian orang adalah waktu untuk beristirahat. Bagi saya, hari libur justru menjadi ruang untuk melakukan hal-hal yang selama hari kerja sulit saya sentuh. Setelah urusan rumah selesai, saya duduk sejenak memegang ponsel. Terlintas keinginan untuk membantu anak saya yang sedang merintis jalan sebagai terapis akupunktur.

Akupunktur. Sebuah kata yang bagi sebagian orang masih terdengar asing, bahkan menyeramkan. Padahal terapi ini sudah dikenal ribuan tahun dan menjadi bagian dari pengobatan tradisional di Tiongkok. Di Indonesia sendiri, praktik akupunktur juga telah diakui dan berada di bawah pembinaan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Tetap saja, pemahaman masyarakat belum merata.

Saya mulai membuat story promo sederhana. Tidak muluk-muluk, hanya penjelasan singkat tentang akupunktur. Akupungtur adalah terapi tanpa obat yang menggunakan jarum halus pada titik-titik tertentu tubuh untuk membantu meredakan nyeri, memperbaiki sirkulasi, hingga meningkatkan keseimbangan energi tubuh. Saya sertakan vidio ruang praktik yang bersih, rapi, dan nyaman serta sebuah foto. Saya ingin orang-orang melihat bahwa ini bukan sesuatu yang menakutkan.

Setiap unggahan di media sosial selalu mengundang beragam tanggapan. Ada yang bertanya dengan tulus, “Itu sakit nggak, Bu?” Ada yang penasaran, “Bisa untuk asam lambung?” Ada pula yang langsung bercanda, “Jarumnya segede paku ya?” Bahkan ada komentar negatif yang bernada meremehkan, “Ah, paling cuma sugesti.” "Ngeri , wajahe dicoblosi jarum." Bisa di wajah juga , bu?"

Saya membaca satu per satu dengan hati yang mencoba tetap lapang. Memang tidak semua orang memahami. Banyak yang membayangkan jarum akupunktur sebesar jarum suntik di rumah sakit. Padahal jarumnya sangat tipis, jauh lebih halus dari jarum suntik biasa. Saat dimasukkan pun sebagian besar pasien hanya merasakan sensasi ringan kadang seperti digigit semut, kadang hanya rasa hangat atau kesemutan kecil.

Saya teringat cerita anak saya. Pasien yang datang biasanya bukan orang yang benar-benar baru mengenal akupunktur. Mereka datang karena sudah pernah merasakan manfaatnya. Ada yang datang dengan keluhan nyeri punggung menahun, sudah minum obat ke sana kemari. Ada yang sulit tidur. Ada yang sering migrain. Setelah beberapa kali terapi, mereka merasakan perubahan. Dari situlah kabar menyebar dari mulut ke mulut.

Yang belum pernah mencoba justru sering kali takut duluan. Takut karena membayangkan jarum besar. Takut karena belum tahu. Takut karena mendengar cerita yang belum tentu benar. Saya memahami ketakutan itu. Bahkan dulu, pertama kali mendengar kata “akupunktur”, saya juga membayangkan sesuatu yang ngeri.

Dalam story berikutnya, saya mencoba menjelaskan dengan bahasa sederhana. Saya tulis bahwa akupunktur bukan sekadar menusukkan jarum sembarangan. Ada titik-titik tertentu di tubuh yang sudah dipelajari secara ilmiah maupun tradisional. Terapis pun tidak boleh sembarangan; harus memiliki pendidikan dan sertifikasi yang jelas. Saya ingin orang tahu bahwa ini bukan praktik asal-asalan.

Komentar pun terus berdatangan. Ada teman lama yang bertanya serius tentang terapi untuk nyeri lutut. Ada wali murid yang mengirim pesan pribadi, menanyakan apakah aman untuk lansia. Bahkan ada yang awalnya bercanda, kemudian menghubungi lebih lanjut karena ternyata ibunya sering sakit kepala.

Tentu tetap ada yang iseng. Ada yang sengaja menulis komentar untuk memancing perdebatan. Dahulu mungkin saya mudah tersinggung. Kali ini saya memilih melihatnya sebagai bagian dari proses. Setiap usaha pasti ada ujiannya. Setiap niat baik pasti akan disertai tantangan.

Saya belajar satu hal yaitu promosi bukan hanya soal menawarkan jasa, tetapi juga soal edukasi. Masyarakat perlu diberi pemahaman perlahan-lahan. Tidak bisa instan. Tidak bisa sekali posting langsung semua percaya. Bahkan perlu berkali-kali penjelasan agar rasa takut berubah menjadi rasa ingin tahu.

Hari libur terasa berbeda. Bukan hanya karena saya membuat story promo, tetapi karena saya ikut membersamai perjuangan anak saya. Saya tahu merintis usaha di bidang kesehatan tidak mudah. Kepercayaan adalah kunci. Kepercayaan tidak dibangun dalam sehari.

Setiap komentar baik yang positif maupun negatif adalah tanda bahwa orang membaca, bahwa mereka mulai memperhatikan. Dari yang awalnya tidak tahu menjadi tahu. Dari yang awalnya takut menjadi bertanya. Dari yang awalnya ragu mungkin suatu saat akan mencoba.

Saya percaya, rezeki tidak akan tertukar. Tugas kami hanya berikhtiar dan memberikan informasi yang benar. Soal siapa yang akhirnya datang terapi, itu adalah bagian dari perjalanan masing-masing.

Saya belajar bahwa di balik jarum kecil yang sering dibayangkan menakutkan, ada harapan besar untuk kesembuhan. Ada doa seorang ibu untuk anaknya agar langkahnya dimudahkan, usahanya diberkahi, dan ilmunya bermanfaat bagi banyak orang. Membantu kesembuhan pasien. Semoga bermanfaat.

Cepu, 16 Pebruari 2026

Minggu, 15 Februari 2026

Kunci Motor

 


Karya: Gutamining Saida

Jam terakhir pada hari Sabtu saya mengajar di kelas 8H terasa berbeda. Seperti biasa, setelah saya menutup pembelajaran dan kami berdoa bersama, suasana kelas langsung berubah. Anak-anak yang sejak tadi duduk rapi mulai bersiap menyambut bel pulang. Ada yang sigap mengangkat kursi ke atas meja, ada yang menyapu lantai, ada pula yang menata kembali buku-buku di rak kelas.

Saya berdiri di depan, mengamati mereka satu per satu. Dalam hati saya bersyukur, kebiasaan menjaga kebersihan kelas mulai tumbuh menjadi budaya. Bukankah kebersihan sebagian dari iman? Hal sederhana seperti menyapu dan menata meja ternyata bisa menjadi ladang pahala jika diniatkan karena Allah Subhanahu Wata'alla.

Di antara keramaian kecil itu, mata saya tertuju pada seorang siswi yang duduk di barisan depan. Wajahnya manis, tubuhnya kecil mungil. Anak itu biasa dipanggil Pipit. Raut wajahnya tidak seperti biasanya. Ia tampak gelisah. Celingak-celinguk ke kanan dan kiri. Tangannya membuka tas, lalu menutupnya lagi. Berdiri, duduk kembali. Wajahnya murung.

Saya mendekati salah satu sahabat dekatnya. “Ada apa dengan Pipit?” tanya saya pelan.

Teman dekatnya menjawab singkat, seolah sudah hafal dengan situasi seperti ini. “Itu, Bu… kebiasaan Pipit.”

“Kebiasaan bagaimana?” tanya saya penasaran.

“Lupa naruh kunci motor, Bu,” jawab Early cepat sambil melangkah keluar kelas.

Saya tersenyum kecil. Anak seusia mereka memang sering ceroboh. Di balik kecerobohan, selalu ada pelajaran. “Tolong dibantu cari ya,” pinta saya.

Salma langsung sigap membongkar tas Pipit. Buku-buku pelajaran dikeluarkan, tempat pensil dibuka, lembaran-lembaran kertas diperiksa. Saya ikut mengamati dari dekat. Pipit mendekati tasnya dengan wajah makin murung. Sepertinya ia sudah membayangkan akan dimarahi orang tua karena ceroboh.

Dalam hati saya berdoa, “Ya Allah, mudahkan urusan anak ini.”

Beberapa detik suasana menjadi hening. Anak-anak lain mulai ikut memperhatikan. Ada yang menahan tawa, ada yang ikut membantu mencari di bawah meja dan kursi.

Tiba-tiba terdengar suara Pipit,
“Ooooo…”

Kami semua menoleh. Pipit justru tertawa kecil, wajahnya berubah cerah.

“Ada apa, Pit?” tanya saya heran.

Dengan nada sedikit malu ia berkata, “Saya tadi berangkat diantar ayah, Bu… baru ingat.”

Sejenak kelas hening, lalu pecah oleh tawa ringan. Saya pun ikut tersenyum lebar. Ternyata dari tadi ia sibuk mencari sesuatu yang memang tidak ia bawa.

“Aduuuh, Pipit… Pipit…” celetuk salah satu temannya.

Saya mendekatinya dan berkata lembut, “Nah, itu namanya manusia tempatnya lupa. Tapi jangan lupa belajar dari kejadian ini ya.”

Pipit mengangguk, masih dengan wajah kemerahan menahan malu.  Betapa sering kita, bukan hanya anak-anak, mencari sesuatu dengan gelisah padahal sebenarnya tidak pernah kita miliki sejak awal. Kita panik, kita cemas, bahkan kadang menyalahkan keadaan. Padahal jika kita tenang dan mengingat kembali dengan jernih, masalah itu mungkin sederhana.

Saya kemudian mengajak mereka ngobrol sejenak sebelum mereka pulang.
“Anak-anak, kita boleh  diambil satu pelajaran dari kejadian Pipit hari ini?”

Mereka serempak menjawab, “Boleh, Bu.” “Saat kita merasa panik, jangan langsung cemas berlebihan. Tenanglah dulu. Istighfar. Ingat Allah Subhanahu Wata'alla. Kadang solusi itu muncul setelah hati kita tenang.”

Saya melihat beberapa anak mengangguk. Pipit pun tersenyum kecil.

“Satu lagi,” lanjut saya, “Biasakan berdoa sebelum berangkat dari rumah. Minta pada Allah SubhanahuWata'alla supaya dijaga dari lupa, dari kecerobohan, dan dari hal-hal yang tidak baik.”

Saya teringat doa yang sering diajarkan para ulama, agar Allah Subhanahu Wata'alla.melindungi dari sifat lalai dan lupa. Lupa memang manusiawi, tetapi jika terlalu sering bisa merugikan diri sendiri.

Anak-anak bersiap keluar kelas. Pipit berjalan di samping saya. “Maaf ya, Bu, bikin ribet,” katanya pelan. Saya tersenyum dan menepuk bahunya lembut.

“Tidak apa-apa, Pit.”

“Kita ini sering seperti itu. Mencari-cari sesuatu dengan gelisah, padahal Allah Subhanahu Wata'alla sudah mengatur semuanya dengan baik. Yang penting kita tetap tidak panik berlebihan, dan mau belajar.”

Pipit mengangguk pelan. Saya bersyukur bisa menyaksikan kepolosan anak-anak setiap hari. Dari mereka, saya belajar sabar. Belajar menahan tawa. Belajar menasihati tanpa menyakiti. Mengajar bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi juga menanamkan nilai tentang ketenangan, kejujuran, dan kesadaran bahwa Allah selalu bersama kita dalam setiap kejadian kecil sekalipun.

Cepu, 15 Pebruari 2026

Rabu, 11 Februari 2026

Materi IPS kelas 7 Semester Genap


Karya : Gutamining Saida

SUMBER DAYA ALAM (SDA)

Sumber daya alam adalah segala sesuatu yang berasal dari alam dan dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Contohnya: air, tanah, tumbuhan, hewan, hasil tambang, angin, sinar matahari, dan sebagainya.

JENIS SUMBER DAYA ALAM 

A. BERDASAR DAPAT DAN TIDAK DAPAT DIPERBAHARUI

1. Sumber Daya Alam yang Dapat Diperbarui (Renewable)

SDA yang bisa diperbaharui kembali dalam waktu relatif cepat.
Contoh:

  • Hutan (pohon dapat tumbuh kembali)
  • Hewan ternak dan ikan
  • Air
  • Tanah
  • Angin
  • Sinar matahari

2. Sumber Daya Alam yang Tidak Dapat Diperbarui (Non-renewable)

SDA yang tidak dapat diganti dalam waktu singkat..
Contoh:

  • Bahan tambang: minyak bumi, batu bara, gas alam
  • Logam: emas, perak, tembaga, nikel
  • Bahan mineral lainnya

B. BERDASARKAN TEMPATNYA

1. SDA Kehutanan

 ·         Meliputi berbagai jenis hutan dan hasilnya.

Contoh: kayu, rotan, getah, bambu, satwa liar.

2. SDA Pertambangan

·         Segala hasil dari perut bumi.

Contoh: emas, perak, minyak bumi, batu bara, bauksit, gas alam.

3. SDA Kemaritiman

·         Sumber daya yang berasal dari laut.

Contoh: ikan, rumput laut, garam, terumbu karang, energi gelombang laut.

C. JENIS SDA BERDASARKAN BENTUKNYA

1. SDA Hayati (Biotik)

Berasal dari makhluk hidup.
Contoh:

  • Tumbuhan: padi, jagung, pohon jati, karet
  • Hewan: ayam, kambing, ikan, sapi

2. SDA Non-Hayati (Abiotik)

Berasal dari benda mati.
Contoh:

  • Air
  • Udara
  • Tanah
  • Batu bara
  • Minyak bumi
  • Gas alam
  • Logam

 

 JAWAB DAN LENGKAPI TABEL DI BAWAH INI!

BIDANG

PENGERTIAN

CONTOH

SUMBER DAPAT  DIPERBAHARUI

 

 

SUMBER TIDAK DAPAT DIPERBAHARUI

 

 

SUMBER DAYA ALAM INDONESIA

 

 

 

BIDANG

PENGERTIAN

CONTOH

KEHUTANAN

 

 

PERTAMBANGAN

 

 

KEMARITIMAN

 

 

 

BIDANG

PENGERTIAN

CONTOH

SUMBER DAYA HAYATI

 

 

SUMBER DAYA NON HAYATI

 

 

 

SELAMAT MENGERJAKAN

EKSTRA KURIKULER OSN IPS

 

Karya : Gutamining Saida

Kamis siang, pukul 13.30–15.00 WIB, saya sudah menyiapkan waktu khusus untuk menemani beberapa siswa bimbingan. Sejak pagi, hati saya terasa lebih bersemangat dari biasanya. Ada kepuasan tersendiri ketika bisa membersamai anak-anak belajar dalam kelompok kecil, lebih fokus, lebih intens, dan lebih leluasa berdialog. Materi yang akan kami bahas hari ini adalah masa praaksara materi yang bagi sebagian siswa terasa jauh dan abstrak, tetapi sesungguhnya sangat menarik jika dikupas dengan cara yang tepat.

Saya sudah membuka kembali silabus. Saya memilih dan memilah materi yang paling esensial yaitu  pengertian masa praaksara, pembabakan zaman berdasarkan geologi dan arkeologi, jenis-jenis manusia purba di Indonesia, serta corak kehidupan masyarakat berburu-meramu hingga bercocok tanam. Saya juga menyiapkan beberapa soal latihan yang menuntut pemahaman, bukan sekadar hafalan. 

Ada tujuh belas siswa yang mendaftar bimbingan. Jumlah yang cukup banyak, tetapi masih memungkinkan untuk diskusi aktif. Saya membayangkan wajah-wajah mereka ada yang pendiam, ada yang kritis, ada yang sering kali baru paham setelah dijelaskan dengan contoh konkret. Karena itu, saya menyiapkan cara menjelaskan yang lebih sederhana, bahkan mencoba mengaitkan masa praaksara dengan kehidupan mereka sekarang.

Ketika waktu menunjukkan pukul 13.30, satu per satu siswa mulai datang. Beberapa terlihat masih lelah setelah kegiatan sekolah, tetapi tetap menyempatkan hadir. Itu saja sudah membuat saya bangga. Kami memulai dengan doa singkat, lalu saya membuka sesi dengan pertanyaan ringan, “Menurut kalian, kenapa disebut masa praaksara?” 

Saya jelaskan perbedaan zaman Arkaikum, Paleozoikum, Mesozoikum, dan Neozoikum secara runtut namun santai. Sesekali saya menyelipkan cerita tentang kehidupan dinosaurus atau perubahan alam agar mereka tidak merasa sedang menghafal istilah sulit. Ketika masuk pada pembahasan manusia purba seperti Pithecanthropus erectus dan Homo sapiens, beberapa siswa terlihat lebih antusias. 

Kami lalu membedah beberapa soal latihan. Saya minta mereka tidak langsung menjawab, tetapi membaca soal dengan cermat dan menggarisbawahi kata kunci. Saya ingin mereka belajar strategi, bukan hanya hasil. Saat ada jawaban yang kurang tepat, saya tidak langsung menyalahkan, melainkan mengajak mereka menelusuri kembali konsepnya. 

Sebelum mengakhiri bimbingan, saya memberikan sedikit refleksi. Saya katakan bahwa belajar sejarah bukan sekadar mengingat masa lalu, tetapi memahami proses panjang perjalanan manusia hingga menjadi seperti sekarang. Masa praaksara mengajarkan kita tentang ketahanan, adaptasi, dan kreativitas manusia.

SOAL OSN IPS

1. Periodisasi Geologis
Zaman di mana tanda-tanda kehidupan mulai muncul dengan adanya binatang kecil tak bertulang punggung, jenis ikan, dan reptil, dikenal dengan istilah...

  • A. Arkaikum
  • B. Paleozoikum
  • C. Mesozoikum
  • D. Neozoikum

2. Corak Kehidupan Arkeologis
Penemuan Kjokkenmoddinger (sampah dapur berupa kulit kerang) dan Abris Sous Roche (gua sebagai tempat tinggal) merupakan ciri khas kehidupan manusia pada masa...

  • A. Paleolitikum
  • B. Mesolitikum
  • C. Neolitikum
  • D. Megalitikum

3. Revolusi Kebudayaan
Transisi dari masa food gathering (berburu dan meramu) ke masa food producing (bercocok tanam) dianggap sebagai revolusi besar dalam sejarah manusia karena...

  • A. Manusia mulai menggunakan logam untuk alat pertanian.
  • B. Adanya perubahan pola hidup dari nomaden menjadi menetap (sedenter).
  • C. Ditemukannya tulisan sebagai alat komunikasi.
  • D. Munculnya sistem kepercayaan animisme secara mendadak.

4. Peninggalan Budaya
Manakah dari artefak berikut yang termasuk dalam peninggalan zaman perundagian (logam) di Indonesia?

  • A. Kapak Persegi dan Kapak Lonjong
  • B. Nekara, Moko, dan Candrasa
  • C. Menhir dan Sarkofagus
  • D. Chopper dan Flakes

Korelasi Kebudayaan dan Sosial
5. Munculnya tradisi Megalitikum (kebudayaan batu besar) seperti Sarkofagus dan Punden Berundak menunjukkan adanya lompatan struktur sosial yang signifikan dibandingkan masa sebelumnya. Hal ini membuktikan bahwa...

  • A. Manusia saat itu sudah mengenal sistem kasta seperti di India.
  • B. Telah tercipta sistem pembagian kerja dan kepemimpinan (Primus Inter Pares) yang mampu menggerakkan massa.
  • C. Ketersediaan alat logam yang sangat melimpah untuk memahat batu besar.
  • D. Hilangnya tradisi berburu karena fokus pada pemujaan roh nenek moyang

6. Perbandingan Teknologi (Komparatif)
Perhatikan tabel berikut!

Masa

Ciri Teknologi

Paleolitikum

Kapak Perimbas (kasar)

Neolitikum

Kapak Persegi (dihaluskan)

Perubahan teknik pengerjaan dari kasar menjadi halus pada masa Neolitikum secara sosiologis  mencerminkan....

  • A. Adanya keinginan untuk estetika murni tanpa memperhatikan fungsi.
  • B. Perubahan pola pikir manusia yang mulai menetap sehingga memiliki waktu luang untuk mengasah alat.
  • C. Punahnya bahan baku batu yang keras sehingga manusia menggunakan batu yang lebih lunak.
  • D. Pengaruh migrasi bangsa Proto Melayu yang membawa teknologi besi ke Nusantara.

 

……………………….SAIDA………………….


LEMBAGA KEUANGAN

 



 1. Pengertian Lembaga Keuangan

Lembaga keuangan adalah badan atau institusi yang bergerak di bidang jasa keuangan, yaitu menghimpun dan menyalurkan dana kepada masyarakat.

Contoh Lembaga Keuangan:

  • Bank
  • Koperasi simpan pinjam
  • Pegadaian
  • Asuransi
  • Pasar modal

📘 BANK

2. Pengertian Bank

Menurut UU Perbankan, bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau bentuk lainnya untuk meningkatkan taraf hidup rakyat.

3. Manfaat Bank

No

Manfaat Bank

Penjelasan

1

Tempat menyimpan uang

Uang lebih aman daripada disimpan di rumah

2

Mempermudah transaksi

Bisa transfer, bayar listrik, belanja online

3

Memberi pinjaman (kredit)

Membantu modal usaha

4

Menabung untuk masa depan

Untuk pendidikan, rumah, dll

5

Mendukung pertumbuhan ekonomi

Dana disalurkan untuk usaha dan pembangunan


4. Produk-Produk Perbankan

No

Produk Bank

Penjelasan

1

Tabungan

Simpanan yang bisa diambil kapan saja

2

Giro

Simpanan untuk transaksi bisnis (menggunakan cek/bilyet giro)

3

Deposito

Simpanan berjangka dengan bunga lebih tinggi

4

Kredit

Pinjaman dana yang harus dikembalikan dengan bunga

5

Kartu ATM/Debit

Untuk menarik uang dan transaksi


 5. Jasa-Jasa Bank

No

Jasa Bank

Penjelasan

1

Transfer uang

Mengirim uang antar rekening

2

Pembayaran tagihan

Listrik, air, internet, sekolah

3

Penukaran uang (valas)

Tukar rupiah dengan mata uang asing

4

Safe deposit box

Penyimpanan barang berharga

5

Kliring

Penyelesaian pembayaran antarbank


 

Lembaga Keuangan Bukan Bank

Pengertian

Lembaga keuangan bukan bank (LKBB) adalah lembaga yang bergerak di bidang jasa keuangan tetapi tidak menghimpun dana masyarakat dalam bentuk giro seperti bank.

Lembaga ini tetap membantu masyarakat dalam hal keuangan, namun kegiatannya tidak sama seperti bank.


 Fungsi Lembaga Keuangan Bukan Bank

  • Memberikan pembiayaan
  • Memberikan perlindungan risiko
  • Membantu kegiatan usaha masyarakat
  • Meningkatkan kesejahteraan anggota

 Contoh Lembaga Keuangan Bukan Bank

No

Jenis

Penjelasan Sederhana

Contoh

1

Asuransi

Memberikan perlindungan terhadap risiko (sakit, kecelakaan, kebakaran) dengan membayar premi

Asuransi Jiwa, Asuransi Kesehatan, Asuransi Kendaraan

2

Koperasi Simpan Pinjam

Menghimpun dan menyalurkan dana untuk anggota

Koperasi sekolah, Koperasi desa

3

Pegadaian

Memberikan pinjaman dengan jaminan barang

PT Pegadaian

4

Leasing (Sewa Guna Usaha)

Memberikan pembiayaan pembelian kendaraan/barang secara cicilan

Perusahaan pembiayaan motor/mobil

5

Pasar Modal

Tempat jual beli saham dan obligasi

Bursa Efek Indonesia


 Perbedaan Singkat dengan Bank

Bank

Lembaga Keuangan Bukan Bank

Menghimpun dana dalam bentuk tabungan, giro, deposito

Tidak menghimpun dana seperti bank

Menyalurkan kredit

Fokus pada pembiayaan, perlindungan, atau jasa tertentu


Bottom of Form

 

 


Pemerataan Pembangunan di Indonesia

 


 Pengertian

Pemerataan pembangunan adalah usaha pemerintah untuk membangun seluruh wilayah Indonesia secara adil dan seimbang agar kesejahteraan masyarakat tidak hanya dirasakan di kota besar saja, tetapi juga sampai ke daerah terpencil

1Faktor Penyebab Pembangunan Belum Merata

No

Faktor Penyebab

Penjelasan Sederhana

1

Kondisi geografis

Indonesia terdiri dari ribuan pulau, pegunungan, dan daerah terpencil sehingga sulit dijangkau.

2

Perbedaan sumber daya alam

Ada daerah yang kaya SDA, ada yang minim.

3

Kualitas sumber daya manusia (SDM)

Pendidikan dan keterampilan masyarakat belum sama.

4

Infrastruktur terbatas

Jalan, listrik, internet belum merata.

5

Pemusatan pembangunan

Pembangunan lebih banyak terpusat di Pulau Jawa.


2️Faktor yang Mempengaruhi Pemerataan Pembangunan

No

Faktor

Pengaruh terhadap Pembangunan

1

Sumber daya alam

Daerah kaya SDA lebih cepat berkembang.

2

Sumber daya manusia

SDM berkualitas mendorong kemajuan ekonomi.

3

Teknologi

Teknologi mempercepat komunikasi dan produksi.

4

Transportasi

Akses transportasi mempermudah distribusi barang dan jasa.

5

Kebijakan pemerintah

Peraturan dan program menentukan arah pembangunan.

3️Upaya Pemerintah dalam Pemerataan Pembangunan

No

Upaya Pemerintah

Contoh Nyata

1

Membangun infrastruktur

Jalan tol Trans Jawa, Trans Sumatra, pembangunan pelabuhan dan bandara

2

Dana Desa

Bantuan dana untuk pembangunan desa

3

Otonomi daerah

Daerah diberi hak mengatur wilayahnya sendiri

4

Pembangunan kawasan timur Indonesia

Fokus pembangunan di Papua, Maluku, NTT

5

Program pendidikan dan kesehatan

KIP, KIS, pembangunan sekolah dan puskesmas

 Pilihlah jawaban yang paling tepat!

1. Pemerataan pembangunan bertujuan untuk ....
A. Memusatkan pembangunan di kota besar
B. Meningkatkan pembangunan di luar negeri
C. Mewujudkan kesejahteraan yang adil di seluruh wilayah Indonesia
D. Mengurangi jumlah penduduk


2. Salah satu penyebab pembangunan belum merata adalah ....
A. Indonesia memiliki satu pulau besar
B. Kondisi geografis yang beragam
C. Semua daerah memiliki SDA melimpah
D. Teknologi sudah merata


3. Pembangunan lebih banyak terpusat di Pulau Jawa karena ....
A. Pulau Jawa tidak memiliki penduduk
B. Letaknya jauh dari pusat pemerintahan
C. Menjadi pusat pemerintahan dan ekonomi
D. Tidak memiliki infrastruktur


4. Perbedaan sumber daya alam dapat menyebabkan ....
A. Semua daerah berkembang sama
B. Ketimpangan pembangunan antarwilayah
C. Hilangnya penduduk
D. Berkurangnya pendidikan


5. Kualitas sumber daya manusia berpengaruh terhadap ....
A. Cuaca
B. Kemajuan pembangunan
C. Bentuk wilayah
D. Letak geografis


6. Contoh upaya pemerintah dalam pemerataan pembangunan adalah ....
A. Mengurangi dana desa
B. Membangun jalan tol dan pelabuhan
C. Menutup sekolah di desa
D. Menghapus otonomi daerah


7. Dana Desa bertujuan untuk ....
A. Membantu pembangunan di tingkat desa
B. Membangun gedung di luar negeri
C. Membayar pajak masyarakat
D. Mengurangi jumlah desa


8. Otonomi daerah berarti ....
A. Pemerintah pusat mengatur semua daerah
B. Daerah memiliki hak mengatur wilayahnya sendiri
C. Daerah tidak boleh membuat aturan
D. Semua keputusan dari luar negeri


9. Salah satu faktor yang mempengaruhi pemerataan pembangunan adalah ....
A. Warna bendera
B. Jumlah gunung
C. Infrastruktur
D. Bahasa daerah


10. Daerah yang sulit dijangkau biasanya mengalami ....
A. Pembangunan lebih cepat
B. Pembangunan terhambat
C. Banyak investor asing
D. Penduduk sangat padat


11. Program KIP bertujuan untuk ....
A. Membantu biaya pendidikan siswa
B. Membangun jembatan
C. Membeli kendaraan
D. Membayar pajak


12. Pembangunan pelabuhan dan bandara termasuk pembangunan di bidang ....
A. Pertanian
B. Transportasi
C. Kesehatan
D. Pendidikan


13. Salah satu dampak pembangunan yang tidak merata adalah ....
A. Semua daerah sejahtera
B. Tidak ada kemiskinan
C. Kesenjangan sosial antarwilayah
D. Pendapatan merata


14. Teknologi dapat membantu pemerataan pembangunan karena ....
A. Mempercepat komunikasi dan informasi
B. Menghambat transportasi
C. Mengurangi pendidikan
D. Menutup akses daerah


15. Pembangunan kawasan timur Indonesia bertujuan untuk ....
A. Mengurangi jumlah penduduk
B. Menyeimbangkan pembangunan nasional
C. Memusatkan pembangunan di Jawa
D. Mengurangi infrastruktur


16. Salah satu faktor geografis yang menghambat pembangunan adalah ....
A. Banyaknya sungai kecil
B. Wilayah kepulauan dan pegunungan
C. Tanah datar semua
D. Letak strategis


17. Infrastruktur yang baik akan ....
A. Menghambat distribusi barang
B. Mempermudah kegiatan ekonomi
C. Mengurangi pendapatan
D. Menambah kemiskinan


18. Tujuan akhir pemerataan pembangunan adalah ....
A. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
B. Keuntungan pribadi
C. Kekuasaan pemerintah
D. Mengurangi penduduk desa


19. Ketimpangan pembangunan dapat menyebabkan ....
A. Kerukunan meningkat
B. Kesenjangan ekonomi
C. Semua daerah maju
D. Pendapatan sama


20. Upaya yang dapat dilakukan masyarakat untuk mendukung pemerataan pembangunan adalah ....
A. Tidak mau sekolah
B. Meningkatkan kualitas diri dan pendidikan
C. Menolak pembangunan
D. Tidak menjaga fasilitas umum