Rabu, 02 September 2026

Jeritan, Pekikan Dan Tawa

 


Karya: Gutamining Saida

Matahari perlahan mulai condong ke arah barat, memancarkan semburat keemasan yang menghangatkan suasana sore di Kota Yogyakarta. Perjalanan penuh kehangatan diawali dengan kesederhanaan, di mana sebuah bus berwarna kuning setia membersamai rombongan guru dan karyawan Esmega. Bus kuning itu bukan sekadar kendaraan, melainkan saksi bisu kebersamaan, canda tawa, dan ikatan kekeluargaan yang terjalin erat di antara kami para pendidik dan tenaga kependidikan. Tujuan kami sore ini adalah salah satu mahakarya alam yang tersembunyi di pesisir selatan, yakni hamparan Gumuk Pasir.

Sesampainya di lokasi, hamparan pasir luas bak gurun sahara menyambut pandangan kami.  Kami tidak sekadar melakukan perjalanan wisata, melainkan sebuah perjalanan tadabbur alam, membaca ayat-ayat kauniyah Allah Subhanahu Wata'alla yang terhampar luas di bumi-Nya. Salah satu daya tarik utama yang kami pilih untuk menelusuri kebesaran alam dengan menaiki mobil jeep. Mesin-mesin menderu, siap membawa kami membelah lautan pasir yang eksotis.

Satu jeep diisi oleh empat orang penumpang. Tidak ada pengelompokan yang diatur secara kaku, kami memilih teman satu jeep secara spontan saat kendaraan tersebut menghampiri. Spontanitas ini justru menghadirkan keindahan tersendiri. Di hadapan alam yang luas dan di bawah naungan langit  tidak ada batasan status atau jabatan. Kami semua adalah hamba-Nya yang sedang sama-sama mencari sejenak jeda dari penatnya urusan duniawi, duduk berdampingan dengan hati yang lapang.

Saat jeep mulai bergerak meninggalkan titik kumpul, mulailah sebuah pengalaman yang memacu adrenalin sekaligus memantik kesadaran spiritual. Kami dihadapkan pada jalanan pasir yang terjal, bergelombang, dan berliku. Tanpa aba-aba, sang pengemudi memacu jeep melaju kencang di atas medan yang sama sekali tidak mulus. Tubuh kami terguncang ke kanan dan ke kiri, terhempas oleh gravitasi saat kendaraan menukik tajam, lalu kembali terdorong ke belakang saat jeep menanjak gundukan pasir yang tinggi.

Kondisi jalan yang ekstrem ini secara alami mengundang suara-suara keluar secara spontan dari mulut kami. Jeritan tertahan, tawa yang meledak, hingga pekikan takbir "Allahu Akbar!" bersahutan di tengah deru angin dan mesin. Kami sangat menikmati setiap guncangan dan rintangan yang kami lewati. Jalan pasir yang terjal dan berliku itu, alih-alih membuat kami marah, justru menghadirkan kegembiraan dan kebahagiaan yang luar biasa.

Di tengah gelak tawa dan guncangan hebat itulah, terlintas sebuah renungan tajam yang menampar relung kesadaran. Ada sebuah ironi besar dalam sikap kita sebagai manusia. Para guru dan karyawan Esmega dengan sadar, bahkan rela membayar sejumlah uang, sengaja memilih jalan yang berliku, terjal, dan sama sekali tidak nyaman untuk dilewati. Kami tertawa lepas dan bersorak gembira di atas jalanan yang penuh rintangan ini.

Mari kita sejenak bermuhasabah dan menengok kehidupan keseharian kita. Betapa sering kita dianugerahi Allah jalan yang teramat mulus dalam kehidupan ini? Berupa kesehatan, keluarga yang rukun, rezeki yang cukup, tempat kerja yang nyaman, hingga jalan aspal peradaban yang memudahkan setiap langkah kita. Jalan-jalan mulus itu adalah manifestasi dari rahmat dan nikmat Allah yang tak terhingga jumlahnya. Sebagaimana firman-Nya, "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya." (QS. Ibrahim: 34).

Lalu, apa yang terjadi ketika di tengah jalanan hidup yang mulus itu terdapat satu lubang kecil saja? Entah itu berupa ban kendaraan yang bocor, gaji yang sedikit terlambat, tubuh yang tiba-tiba disapa flu. Hanya karena satu lubang kecil di jalan yang mulus, lisan kita seketika fasih menggerutu. Kita mengeluh, menyalahkan keadaan, dan seolah-olah dunia telah berbuat tidak adil kepada kita. Satu ujian kecil seketika menutup mata kita dari kilometer demi kilometer jalan mulus yang selama ini kita nikmati tanpa henti.

Sifat asli manusia yang sering kali tidak pandai bersyukur terekspos dengan nyata. Allah SWT telah memperingatkan hal ini dalam Al-Qur'an, "Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar (tidak bersyukur) kepada Tuhannya." (QS. Al-Adiyat: 6). Kita menjadi manusia yang amnesia terhadap ribuan kebaikan hanya karena satu ketidaknyamanan.

Mengapa saat menaiki jeep di jalan yang sengaja dibuat rusak kita bisa menikmati setiap guncangannya, sementara saat menghadapi sedikit "lubang" dalam takdir kehidupan kita begitu mudah berputus asa? Jawabannya ada pada penerimaan dan keikhlasan. Di atas jeep, kita sadar dan menerima guncangan itu bagian dari perjalanan yang pada akhirnya akan membawa kebahagiaan. Seharusnya, demikian pula kita memaknai ujian hidup. Setiap "lubang" dan rintangan yang Allah hadirkan di jalan mulus kehidupan kita bentuk pendidikan dari-Nya. Lubang itu ada untuk menggugurkan dosa-dosa kita, mengangkat derajat kita, dan mengingatkan kita agar tidak sombong dan lupa daratan saat sedang berada di jalan yang nyaman.

Perjalanan di Gumuk Pasir berakhir, meninggalkan jejak ban di atas pasir yang sebentar lagi akan terhapus oleh angin. Jejak hikmah yang terukir di dalam hati kami para guru dan karyawan Esmega pantang untuk terhapus. Melalui sejuknya angin pesisir dan terjalnya lautan pasir, Allah mengajarkan tentang hakekat syukur yang sesungguhnya. Bahwa baik jalan yang mulus maupun jalan yang berliku, keduanya adalah anugerah yang harus dinikmati dengan prasangka baik kepada Sang Pencipta, agar kita tidak tergolong sebagai hamba-hamba-Nya yang kufur nikmat. Aamiin

Cepu, 3 September 2026

Lepaskan Rindumu

 

Karya : Gutamining Saida

Yogyakarta selalu memiliki cara tersendiri untuk memeluk siapa saja yang singgah. Kami ke Jogja bersama rombongan Esmega. Ketika langkah ini kembali menjejakkan kaki di kota yang sarat akan nilai sejarah dan kenangan. 

Jogja selalu berhasil memantik kerinduan yang mendalam akan wajah-wajah lama, memori masa lalu, dan kehangatan tali persaudaraan. Di tengah jeda waktu istirahat yang tersedia, sebuah dorongan batin yang begitu kuat muncul dari dalam hati untuk merajut kembali silaturahmi yang mungkin sempat merenggang karena jarak, tuntutan profesi, dan rutinitas sehari-hari. 

Jemari ini mulai menyusuri daftar kontak di layar ponsel, mencoba mengirimkan pesan demi pesan kepada kawan maupun kerabat yang menetap di kota istimewa ini. Ada sebuah harapan kecil yang menggantung, sebuah kerinduan murni untuk sekadar berjumpa, duduk bersama, membiarkan cerita mengalir begitu saja, dan menertawakan kepolosan masa lalu. 

Kebahagiaan sejati, terutama pada fase kehidupan yang semakin matang ini, tidak lagi berbentuk materi semata, melainkan momen-momen sederhana di mana kita bisa menatap mata seorang sahabat dan melepaskan rindu yang telah lama mengendap.

Jarum jam seolah bergerak sedikit lebih lambat saat hati menunggu sebuah balasan pesan. Ketika layar kecil itu kembali menyala dan menampilkan rentetan kalimat balasan yang hangat, ada desir kebahagiaan luar biasa yang sulit diuraikan dengan sekadar kata-kata. Rasa bahagia itu membuncah, menghangatkan rongga dada, sekaligus menyadarkan bahwa jarak fisik dan panjangnya bentangan waktu tidak pernah benar-benar mampu memutuskan ikatan emosional sebuah persahabatan. 

Perasaan dihargai, diingat, dan direspons dengan antusias oleh seorang kawan lama memberikan asupan energi positif yang sungguh luar biasa. Tidak berselang lama setelah pesan tersebut saling berbalas, sebuah kepastian yang membahagiakan pun datang.

Ia sedang dalam perjalanan, meluangkan waktunya yang berharga hanya untuk menemui saya. Penantian pasif pun seketika berubah menjadi debar antusiasme yang begitu menyenangkan. Sembari menunggu di area lobi Hotel INDIES, sebuah tempat singgah dengan desain arsitektur yang klasik dan memancarkan aura ketenangan, pikiran ini otomatis melayang terbang jauh menembus lorong waktu ke masa lampau. 

Kawan yang sebentar lagi akan melangkah masuk melewati pintu itu bukanlah sekadar kenalan yang kebetulan lewat dalam hidup. Ia rekan seperjuangan di kala seragam putih-biru dan putih-abu-abu masih menjadi identitas kami sehari-hari. Namanya Nanik. Seorang sahabat karib dari masa Sekolah Menengah Pertama hingga Sekolah Menengah Atas, sosok yang menjadi saksi bisu dari fase pencarian jati diri yang penuh dengan dinamika belajar dan canda tawa remaja yang lepas tanpa beban. 

Sudah sekian lama, melewati rentang tahun yang panjang, takdir belum mengizinkan kami bertatap muka secara langsung. Nanik telah mantap memilih jalan kehidupannya di tanah Jogja, menetap di kota budaya ini semenjak momen kelulusan SMA kami dahulu. 

Oleh karena itu, pertemuan hari ini bukanlah sekadar ajang kumpul biasa, melainkan sebuah jembatan emas yang akan menghubungkan dua titik waktu yang berjauhan. Detik-detik yang sangat dinantikan itu pun tiba. Dari kejauhan, di antara lalu-lalang tamu hotel, tampak sesosok wajah yang sangat familier. 

Meski raut wajahnya telah tertup cadar. Ia tetap menyisakan guratan senyum manis serta sorot mata bersahabat yang sangat saya kenal betul. Hal yang membuat momen ini semakin mengharukan adalah kenyataan bahwa Nanik tidak datang menyetir sendiri. Ia diantar oleh anak lelakinya yang kini telah tumbuh menjadi seorang pemuda dewasa. 

Pemandangan itu seketika menjadi cerminan nyata yang menyadarkan saya betapa jauhnya perjalanan hidup yang telah kami lewati di jalan masing-masing. Tanpa perlu aba-aba atau rangkaian kata sambutan yang formal, langkah kaki kami otomatis saling mendekat. 

Di tengah kehangatan nuansa lobi Hotel INDIES, kami berpelukan dengan sangat erat. Pelukan persahabatan itu terasa begitu magis dan syahdu, seolah memiliki kekuatan penyembuh yang mampu meluruhkan semua penat kehidupan dan meleburkan rindu yang menggunung menjadi titik-titik air mata kebahagiaan. Satu dekapan singkat yang tulus itu, tergambar ribuan memori masa lalu yang seolah kembali menari-nari di pelupuk mata.

Meski realitas waktu pertemuan kami sangatlah terbatas, benar-benar hanya berlangsung selama beberapa menit saja. Kualitas dari perjumpaan bernilai tak terhingga. Kami duduk sejenak, saling menatap, dan bertukar kabar dengan ritme yang antusias. 

Suara tawa kami yang khas sesekali memecah keheningan, mengenang kembali sekelumit kisah di lorong-lorong sekolah yang kini terasa begitu berharga untuk diingat. Nanik bercerita sekilas tentang ritme kehidupannya selama di Jogja, sementara saya menyimak setiap tutur katanya dengan penuh rasa syukur. Hati ini merasa sangat lega menyadari bahwa sahabat masa muda saya ini senantiasa berada dalam keadaan baik, sehat, dan menjalani hidup yang bahagia. 

Perjumpaan yang begitu singkat ini seakan menjadi mata air di tengah padang gurun, menyegarkan kembali jiwa yang dahaga akan koneksi manusia yang tulus murni. Rindu kami terobati dengan sempurna, mengukuhkan sebuah kebenaran mutlak bila durasi menit atau jam bukanlah penentu utama dari besarnya makna sebuah pertemuan, melainkan kehadiran hati yang seutuhnya.

Momen singkat  di Hotel INDIES ini menjadi jauh lebih bermakna dari sekadar perjumpaan dua kawan lama. Ia  menjadi sebuah monumen ingatan yang amat berharga, serta penggalan narasi kehidupan yang kelak sangat pantas untuk dirangkai menjadi jejak literasi.

Sebuah warisan cerita yang akan dibaca oleh anak, saudara, hingga cucu-cucu kita di masa depan. Catatan kecil ini menjadi bukti bila kehidupan yang sejati selalu ditopang oleh ikatan cinta kasih dan persahabatan yang tak lekang oleh waktu. Pertemuan dengan Nanik menjadi pengingat yang indah pada akhirnya, kenangan akan perjumpaan-perjumpaan tulus seperti inilah yang akan selalu setia menjadi pelita dan penghangat jiwa. 

Yogyakarta, dengan segala pesona dan keramahannya, sekali lagi telah berbaik hati menjadi saksi bisu sebuah persahabatan sejati memiliki kekuatan luar biasa untuk menembus kerasnya batas waktu, membisikkan sejauh apa pun raga melangkah pergi menempuh takdir, hati kita akan selalu mengingat jalan pulang menuju kehangatan seorang sahabat sejati.

Cepu, 3 September 2026

Nol KM Jogja

 


Karya: Gutamining Saida


Bocor


Karya: Gutamining Saida

Suasana di kolam renang Bumool begitu riuh dan hidup. Suara kecipak air beradu dengan riak tawa yang saling bersahutan. Di sudut dangkal, anak-anak kecil berenang dengan pelampung warna-warni, sementara rombongan remaja asyik berlatih gaya dada, ibu-ibu terapi air. Di area lain, irama musik energetik membahana mengiringi gerak zumba ibu-ibu yang serempak memecah air. Kolam renang itu bukan sekadar tempat olahraga, melainkan sebuah ruang yang sarat energi positif dan kehangatan.

Melihat keramaian itu, ada dorongan kuat dalam diri saya untuk ikut menceburkan diri. Padahal,  sebenarnya tidak ada jadwal terapi khusus untuk ibu-ibu pada Rabu sore. Perasaan rindu yang membuncah setelah absen  Sabtu dan Minggu kemarin. Air seakan mengundang kaki ini tidak bisa ditahan untuk ke kolam. Ada rasa kangen yang menyeruak hanya untuk sekadar berendam, merasakan dinginnya air melingkupi tubuh, dan menyerap keceriaan.

Pusat dari segala keceriaan kami yaitu Pak Gun, sang pelatih renang yang seolah tidak pernah kehabisan energi. Hampir setiap pertemuan, selalu saja ada wajah baru yang bergabung. Hari demi hari, jumlah siswanya terus bertambah pesat, terutama anak-anak yang jumlahnya sungguh luar biasa. Bukan hanya anak-anak yang terikat oleh pesona cara mengajarnya, para ibu pun betah berlama-lama menyerap ilmu dan kegembiraan darinya.

Belajar renang bersama Pak Gun berarti bersiap untuk tertawa sepanjang sesi. Tiada hari yang dilewati tanpa derai tawa yang lepas. Kami tertawa bukan karena ingin menyakiti atau mengejek, melainkan karena kepolosan dan kejadian-kejadian spontan yang menggelitik perut. Bayangkan saja, saat melihat seorang teman yang gerakannya belum pas, atau ketika ada yang berenang miring hingga akhirnya menabrak teman di sebelahnya kejadian-kejadian seperti itu selalu memicu gelak tawa bersama.

Keajaiban dari suasana yang dibangun Pak Gun adalah tidak ada seorang pun yang tersulut emosi saat ditertawakan. Tidak ada rasa gengsi, malu yang berlebihan, apalagi amarah. Sebaliknya, yang ditertawakan justru ikut tertawa paling keras, menyadari kekonyolan gerakannya sendiri. Air kolam seolah melarutkan seluruh beban hidup, ego, dan stres yang biasanya menumpuk di rumah.

Rabu sore kedatangan seorang ibu yang menjadi siswa baru. Pak Gun mulai mengajarkan teknik paling dasar yaitu melatih pernapasan.

"Ayo, Bu, kita latihan menahan napas dulu," ujar Pak Gun dengan nada suaranya yang khas. 

"Atur posisi ya. Tutup mulut rapat-rapat, pejamkan mata, lalu perlahan masukkan kepala ke dalam air."

Siswa baru itu mengangguk paham. Pak Gun mulai bersiap memberi hitungan.

"Saya hitung ya... Satu... Dua... Tiga..."

Belum sempat hitungan ketiga benar-benar usai, kepala sang ibu sudah melesat keluar dari permukaan air. Napasnya terengah-engah, dan matanya berkedip-kedip menahan air.

"Gak kuat, Pak!" ucap siswa baru itu sambil mengusap wajahnya, ngos-ngosan seperti habis berlari marathon.

"Gak apa-apa, Bu! Bagus itu untuk permulaan. Kalau hari ini baru bisa sampai hitungan tiga, besok tambah lagi pelan-pelan. Begitu seterusnya ya, Bu. Yang penting konsisten." ucap pak Gun.

Pak Gun kemudian menambahkan satu petunjuk penting dengan gayanya yang jenaka. 

"Tapi ingat ya, Bu, waktu kepala di dalam air, jangan sampai keluar gelembung air dari mulut atau hidung." kata pak Gun selanjutnya.

"Kalau keluar gelembung air, nanti seperti ban bocor!"

"Lho...itu ada gelembung air, bocor ya!"

"Iya, gak kuat nahan nafas."

Seketika itu juga, ledakan tawa kami pecah di seluruh sudut area berlatih. Analogi "ban bocor" yang diucapkan Pak Gun dengan wajah polosnya benar-benar terlalu menggelitik untuk ditahan. Kami semua tertawa terbahak-bahak, membayangkan sesosok manusia yang mengempis di dalam air seperti ban sepeda.

Ibu-ibu yang baru bergabung sore ini,  kaget mendengar riuhnya suara kami langsung menoleh ke kanan dan ke kiri. Matanya membelalak lucu. "Lho, aku ditertawakan!" serunya.

Pak Gun mendekat dan menepuk air pelan, menyebarkan gelombang kehangatan. "Gak apa-apa, Bu. Tertawa itu sehat. Di kolam ini, kita memang selalu tertawa. Jangan dimasukkan ke hati ya, Bu."

Mendengar ucapan Pak Gun dan melihat ketulusan dari tawa kami semua, raut tegang di wajah ibu perlahan melunak. Senyum mulai terukir di bibirnya, hingga akhirnya ia ikut tertawa terpingkal-pingkal bersama kami. Dalam hitungan detik, rasa canggung sebagai anggota baru musnah tanpa bekas, tergantikan oleh rasa keterikatan yang hangat.

Kejadian sederhana itu membawa kami tidak hanya belajar cara mengapung atau menggerakkan kaki dan tangan di atas air. Secara tidak langsung, Pak Gun sedang mengajarkan kami sebuah terapi kehidupan yang sangat berharga.

Belajar menahan napas di dalam air adalah cerminan dari bagaimana kita menghadapi tekanan hidup. Ada kalanya kita harus menyelam, memejamkan mata dari kebisingan luar, merapatkan mulut dari keluhan, dan bertahan sebentar dalam ketenangan jiwa. Ketika kita merasa tidak kuat dan harus muncul ke permukaan sambil terengah-engah, itu bukanlah sebuah kegagalan. Itu adalah proses bersiap untuk bertahan lebih lama di kesempatan berikutnya.

Dunia di luar sana sering kali begitu keras, menuntut kita untuk selalu sempurna, tidak boleh salah, dan gampang tersinggung jika dikritik. Namun, di kolam renang ini, Pak Gun menciptakan sebuah tempat di mana kesalahan dinikmati sebagai bagian dari proses belajar, dan ketidaksempurnaan dirayakan dengan gelak tawa yang menyembuhkan.

Ketika kita mampu tertawa saat "menabrak" jalan yang salah, tertawa saat arah hidup kita sedikit "serong", atau tertawa saat napas kita terasa bagai "ban bocor", kita sebenarnya sedang menyembuhkan jiwa kita sendiri. Tawa yang lahir dari rasa kebersamaan dan kerendahan hati adalah obat paling mujarab untuk melepaskan penat.

Kolam Bumool akan selalu menjadi saksi bisu bahwa di balik gerakan renang yang sederhana, ada jiwa-jiwa yang sedang disembuhkan oleh hangatnya kebersamaan, ketulusan seorang pelatih, dan terapi terbaik sebuah tawa yang lepas dan tulus.  Semoga kita bahagia bersama. Aamiin.

Cepu, 3 September 2026

Jumat, 28 Agustus 2026

Suara Perutmu Sampai Ke Rumah

Karya : Gutamining Saida 
Jum'at sore ada yang menghabiskan waktu dengan beristirahat di rumah. Ada yang menikmati secangkir teh sambil bercengkerama bersama keluarga. Kami memilih datang ke kolam. Bukan sekadar ingin berenang. Bukan pula ingin menunjukkan siapa yang paling pandai menguasai air. Kami datang membawa satu harapan sederhana yaitu ingin sehat. Kami, ibu-ibu yang sedang belajar mencintai tubuh yang selama ini begitu setia menemani perjalanan hidup. Tubuh yang sudah bekerja keras, mengurus keluarga, menyelesaikan banyak pekerjaan, dan sering kali baru kami perhatikan ketika mulai mengeluh. 

Kami mencoba berikhtiar. Mencari jalan untuk sehat tanpa selalu bergantung pada obat, tentu dengan tetap memahami bahwa obat dan pertolongan medis tetap diperlukan ketika memang dibutuhkan. Kolam menjadi tempat kami berusaha. Air menjadi teman. Pak Gun menjadi pembimbing yang tidak hanya mengajarkan bagaimana tubuh bergerak, tetapi juga bagaimana hati belajar berani. Setelah pemanasan sebentar, Pak Gun memberikan instruksi.
“Pertama meluncur. Kedua gerakan kaki. Ketiga gerakan tangan. Keempat bernapas.”
Kami mencoba. Ada yang lancar, masih kaku, berani, ada pula yang diam-diam masih menyimpan rasa takut.

Begitulah manusia. Tidak semua orang datang dengan keberanian yang sama. Orang memiliki kemampuan yang sama. Pak Gun selalu mempunyai cara untuk membuat kami percaya bahwa belum bisa bukan berarti tidak BISA. “Tidak ada kata tidak bisa.” Kalimat itu berkali-kali kami DENGAR. Entah mengapa, kalimat sederhana itu terasa BEGITU dalam. Di kehidupan, kita sering terlalu cepat mengatakan kepada diri sendiri. Aku tidak bisa. Aku takut. Aku sudah tua. Aku tidak kuat.  Padahal mungkin Allah hanya sedang menunggu kita mencoba sekali lagi.

Saat latihan meluncur, Pak Gun melihat ada yang belum tepat. Ada ibu yang ketika meluncur justru menjatuhkan perut ke air. Tiba-tiba terdengar suara Pak Gun,
“Bu ibu, suara perutnya siapa yang jatuh ke air? Terdengar sampai ke rumah!”
Kami semua tertawa. Tawa yang lepas. Tawa yang tidak dibuat-buat.Tawa yang mungkin sederhana bagi orang lain, tetapi terasa mahal bagi kami. Semakin bertambah usia, kita semakin menyadari bahwa tertawa bersama orang-orang yang membuat kita nyaman adalah sebuah nikmat.

Pak Gun kemudian bertanya,  “Yang dijatuhkan ke air apa hayo?" 
“Saya tidak menyalahkan. Saya hanya membenarkan siapa yang belum betul. Membetulkan yang sudah betul.”lanjut pak Gun.
Sebagai seorang guru. Saya setiap hari berdiri di depan siswa dan mengajarkan ilmu. Sore ini di dalam kolam,  saya merasa sedang menjadi murid. Saya belajar dari seorang guru kehidupan. Ternyata membenarkan tidak harus menyakitkan. Menegur tidak harus membuat seseorang malu. Mengoreksi tidak harus membuat orang merasa bodoh.

Pak Gun mengajarkan kesalahan tanpa membuat kami takut pada kesalahan. Dalam hati saya berkata, “Ya Allah, semoga saya bisa menjadi guru seperti beliau.” Guru yang ketika muridnya salah tidak langsung membuatnya merasa gagal. Guru yang mampu mengatakan, “Belum benar, ayo kita coba lagi.”Guru yang membuat anak berani mencoba. Guru yang membuat murid percaya bahwa dirinya mampu.Bukankah tugas seorang guru sesungguhnya bukan hanya memindahkan ilmu dari kepala guru ke kepala murid? Tetapi juga menyalakan keyakinan di dalam hati murid bahwa ia berharga dan mampu bertumbuh.

Pak Gun mengajak kami menuju bagian kolam yang kedalamannya dua meter. Kami berjalan mengikutinya. “Bu ibu, sengaja saya ajak ke kedalaman dua meter,” katanya.
Saya bertanya-tanya dalam hati, Mengapa harus dua meter? Seakan pak Gun mengetahui isi hati ibu-ibu yang tak terucap. Jawaban pak Gun begitu sederhana. “Agar ibu-ibu tidak hanya membaca tulisan dua meter, sambil jarinya menunjuk papan tulisan kedalaman 2 Meter. Sekarang harus merasakan sendiri kedalaman dua meter.” 

Kalimat itu membuat saya berpikir. Bukankah kehidupan juga seperti itu? Ada banyak hal yang hanya kita pahami setelah mengalaminya. Kita bisa membaca tentang kesabaran. Tetapi kita baru memahami arti sabar ketika diuji. Kita bisa membaca tentang keberanian. Kita baru tahu arti berani ketika berada di hadapan sesuatu yang menakutkan. Kita bisa tahu tentang tawakal. Kita memahami tawakal ketika sudah berusaha sekuat tenaga, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah Subhanahu Wata'alla.

Kami diminta merasakan sendiri kedalaman dua meter. “Takuut, Pak!” suara Bu Asih terdengar singkat.
Saya yakin bukan hanya Bu Asih yang takut. Mungkin beberapa di antara kami juga merasakan hal yang sama. Takut tenggelam, takut tidak bisa menggerakkan kaki, takut kehilangan pegangan, takut sesuatu yang buruk terjadi. Pak Gun menjawab dengan tenang, “Gak papa, Bu. Ayo dicoba. Ada saya di sini.” Entah mengapa, kalimat itu terasa lebih tenang daripada kedalaman kolam.

Bukankah kita semua, dalam perjalanan hidup, pernah berada di titik ketika hanya membutuhkan seseorang yang berkata, “Jangan takut. Ada saya di sini.”Seorang anak membutuhkan orang tuanya. Seorang murid membutuhkan gurunya. Seorang sahabat membutuhkan sahabatnya. Seorang manusia membutuhkan keyakinan bahwa dirinya tidak sendirian. Lebih jauh lagi, sebagai orang beriman, kita memiliki Allah Subhanahu Wata/alla. Ketika manusia tidak lagi mampu menemani, Allah tetap ada. Ketika manusia tidak memahami air mata kita, Allah Maha mengetahui.

Ketika manusia tidak mengerti ketakutan yang kita simpan dalam hati, Allah Maha Mengetahui. Karena itu, keberanian kami sore itu bukan semata-mata karena kami hebat. Kami belajar percaya. Allah selalu menyertai ikhtiar hamba-Nya.“Kalau sudah berani, lepaskan pegangan tangan.” ucap pak Gun. Kami mencoba. Sedikit demi sedikit. Kaki digerakkan. Tubuh belajar mengapung. Rasa takut perlahan dikalahkan. 

“Hilangkan rasa takut, Bu ibu.”
Kalimat itu kembali menusuk hati saya. Betapa sering manusia menangis diam-diam karena merasa sendirian. Padahal di sekeliling kita ada orang-orang yang menyayangi. Paling utama, ada Allah yang tidak pernah meninggalkan kita. Lalu suasana yang semula penuh ketegangan kembali berubah menjadi tawa. Pak Gun berkata bahwa jika kaki tidak bisa bergerak, berarti perut ibu-ibu ada masalah.
Saya pun spontan menjawab, “Iya, Pak. Perut saya memang bermasalah.”
Pak Gun langsung bertanya, “Kenapa, Bu?”
Saya menjawab, “Hehehe... perutnya lapar, Pak.”
Kontan ibu-ibu tertawa bersama dengan suara lepas, bahagia serta tanpa beban.

Inilah salah satu bentuk sehat yang sering kita lupakan. Bukan hanya sehatnya tubuh. Tetapi sehatnya hati. Hati yang masih mampu tertawa. Hati yang masih mampu menikmati kebersamaan.Hati yang tidak terlalu sibuk memikirkan kesedihan. Hati yang masih bisa bersyukur atas hal-hal kecil. Kami akhirnya pulang. Tubuh terasa lelah. Anehnya, hati terasa ringan. Ada energi baru yang kami bawa pulang.

Ya Allah... Terima kasih untuk sore yang sederhana ini. Terima kasih masih memberi kami tubuh yang bisa digerakkan. Terima kasih masih memberi kami kesempatan untuk belajar. Terima kasih masih memberi kami teman-teman yang membuat kami tertawa. Terima kasih menghadirkan orang-orang baik yang dengan caranya masing-masing mengajarkan kami arti kehidupan.

Semoga Allah  Subhanahu Wata'alla memberi kami sehat tanpa keluhan, hati tanpa ketakutan, persahabatan tanpa kepura-puraan, dan usia yang dipenuhi kebermanfaatan. Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa dalam kita mampu menyelam. Tetapi tentang seberapa dalam kita mampu mensyukuri setiap nikmat yang Allah Subhanahu Wata'alla titipkan. .
Cepu, 29 Agustus 2026 

Kamis, 27 Agustus 2026

Pasti Bisa


Karya: Gutamining Saida

Akhir bulan Agustus ternyata belum benar-benar meninggalkan suasana kemerdekaan. Di berbagai daerah, semangat memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia masih terasa begitu kuat. Jalan-jalan dipenuhi warna-warni hiasan merah putih. Suara musik terdengar dari kejauhan. Anak-anak, remaja, orang tua, bahkan para lansia ikut larut dalam kemeriahan.

Di tingkat kecamatan pun suasana tidak kalah ramai. Karnaval masih digelar. Berbagai kelompok menampilkan kreativitas masing-masing. Ada yang mengenakan pakaian adat, pakaian perjuangan, tokoh-tokoh pahlawan, hingga kostum unik hasil kreasi warga. Semua tersenyum, tertawa, dan berjalan bersama dalam satu suasana merayakan kemerdekaan.

Saya yang melihat kemeriahan itu tiba-tiba teringat sebuah momen beberapa hari sebelumnya. Tepat tanggal 17 Agustus, kami anggota Muda Swimming Squad 2 juga tidak ingin melewatkan perayaan kemerdekaan. Bedanya, kami tidak melaksanakan upacara di lapangan. Kami merayakannya di dalam air.

Dengan membawa bendera Merah Putih, kami membentuk berbagai formasi di kolam. Ada rasa bangga ketika melihat warna merah putih berada di tengah birunya air. Kami bergerak bersama, mengikuti arahan Pak Gun. Tidak mudah membuat formasi di air. Setiap orang harus memahami posisi, mengikuti aba-aba, dan menjaga kekompakan.

Kalau satu orang bergerak tidak sesuai arahan, formasi bisa berubah. Tetapi justru di situlah indahnya. Kami belajar kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang perjuangan para pahlawan. Kemerdekaan juga mengajarkan kita tentang persatuan, keberanian, kebersamaan, dan kemauan untuk melakukan sesuatu bersama-sama.

Di bawah bimbingan Pak Gun, kami mencoba, mengulang, memperbaiki, lalu mencoba lagi. Tidak ada yang sibuk memikirkan dirinya sendiri. Semua berusaha menyesuaikan diri agar formasi terlihat indah. Bendera Merah Putih berkibar di atas air. Kami tersenyum. Ada kebahagiaan sederhana yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Kini, ketika melihat karnaval di darat, ingatan saya kembali kepada kolam. Tiba-tiba muncul sebuah pertanyaan di benak saya. Saya pun melontarkannya di grup Muda Swimming Squad 2.

Karnaval di air bisakah, Pak Gun?

Jawaban yang muncul justru membuat saya tersenyum.

Kostum mermaid,” jawab Bu Rini.

Saya membayangkan kami semua memakai kostum putri duyung, lalu berenang bersama dalam sebuah karnaval di dalam air. Rasanya lucu, unik, sekaligus menantang.

Kemudian Pak Gun memberikan jawaban yang jauh lebih kuat.

Tidak ada kamus tidak bisa.

Saya membacanya sekali.

Kemudian membacanya lagi.

Tidak ada kamus tidak bisa.

Kalimat sederhana, tetapi memiliki tenaga yang besar.

Belum selesai sampai di situ, muncul kata penegas dari Pak Gun:

“Pasti bisa!”

Ah, dua kata itu terasa seperti sebuah suntikan semangat.

Kata "pasti bisa” adalah sikap hati selama kita mau berusaha, belajar, bekerja sama, dan memohon pertolongan Allah, selalu ada jalan yang dapat dicoba. Saya kemudian berpikir, mungkin inilah salah satu pelajaran paling berharga yang kami dapatkan dari Swimming Squad 2.

Kita belajar  tubuh yang berbeda kemampuan tetap dapat bergerak dalam satu irama.Kita belajar untuk tidak mudah mengatakan “tidak bisa.” Di kehidupan pun sering kali tantangan datang terlebih dahulu sebelum kemampuan kita terlihat.

Allah Subhanahu Wata'alla mengajarkan manusia untuk berusaha. Kita tidak tahu hasil akhirnya, tetapi kita diperintahkan untuk terus berikhtiar. Ada kalanya sesuatu terlihat mustahil karena kita melihatnya dengan kemampuan kita yang terbatas. Allah Mahakuasa memberikan jalan yang tidak pernah kita bayangkan.

Bukankah banyak hal dalam hidup yang awalnya kita pikir tidak mungkin, ternyata bisa kita lewati? Dulu mungkin takut masuk air. karena mencoba, akhirnya sedikit demi sedikit bisa. Begitu pula dengan ide karnaval di air.

Entah nanti benar-benar akan diwujudkan atau hanya menjadi sebuah ide lucu di grup, saya tidak tahu. Bagi saya, percakapan itu sudah memberikan sebuah pelajaran. Kadang-kadang sebuah gagasan tidak perlu langsung sempurna. Yang penting berani bermimpi.

Kini tugas kita bukan lagi mengangkat senjata melawan penjajah. Tugas kita mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang bermanfaat. Menjaga persatuan. Menjaga kesehatan. Menebarkan semangat. Membahagiakan sesama.

Kita terus berkarya sesuai kemampuan yang Allah Subhanahu Wata'alla berikan. Mungkin suatu hari nanti benar-benar akan ada karnaval di air. Bendera Merah Putih kembali hadir di kolam. Kami mengenakan kostum unik. Formasi dibentuk. Musik mengiringi. Senyum menghiasi wajah.

Cepu, 28 Agustus 2016

Sabtu, 22 Agustus 2026

Kecemasan Seorang Ibu

Karya : Gutamining Saida 
Hati seorang ibu mendadak panik ketika melihat handphone anak tidak aktif sejak pukul 22.30 WIB  hingga 05.00 WIB. Pesan sudah dikirim, telepon berkali-kali dilakukan, hanya centang satu yang terlihat. Pikiran pun mulai dipenuhi berbagai kekhawatiran. Kecemasan, saya segera menghubungi anak pertama untuk meminta nomor telepon teman dekatnya yang sering bermain bersamanya, tinggal satu kota. Tujuan minta nomor dekat di Cepu. 

Nomor pun diperoleh. Dengan hati-hati, saya mengirim pesan, “Maaf mengganggu, Mbak. Saya uminya Faiz. Faiz bersama Mbak?”
Beberapa waktu ibu menunggu dengan cemas. Setiap beberapa menit, handphone kembali dilihat. Hingga akhirnya muncul tanda centang biru. 

Ada setitik rasa lega. Setidaknya pesan sudah terbaca dan mungkin sebentar lagi ada kabar. Balasan yang datang justru membuat hati kembali berdebar.
“Tidak, Bu. Chat saya semalam juga belum dibalas.” Seribu pikiran kembali berkelindan. Belum ada titik terang tentang keberadaan Faiz.

Saya kemudian mencoba mencari cara lain. Tetangga yang rumahnya dekat dengan rumah.  
“Tolong lihatkan rumah, Bu?”
Tak lama kemudian, balasan masuk.
“Lampu masih nyala.”
Sedikit informasi itu belum cukup menenangkan. 
“Motor ada?”
“Motor hanya satu,”
“Motor putih nggak ada?” 
Saya berharap dari kendaraan itu bisa diketahui apakah Faiz berada di rumah atau sedang pergi.

Pagi terasa begitu panjang. Saya hanya membutuhkan satu hal sederhana kabar anaknya baik-baik saja. 
Hingga sekitar pukul 06.05, tiba-tiba sebuah chat masuk dari Faiz.
“Habis subuh berangkat.”
Sesederhana itu kalimatnya. Bagi seorang ibu yang sejak pagi diliputi kecemasan, pesan singkat tersebut terasa seperti disiram air dingin ke tubuh yang panas creees! Seketika dada terasa lapang. Napas yang sejak tadi tertahan seolah kembali normal. 

Kekhawatiran yang memenuhi kepala perlahan luruh, berganti dengan rasa syukur. Keadaan anak baik-baik saja. Ia berangkat setelah salat Subuh dan mungkin tidak menyadari ada seorang ibu yang sejak pagi menunggu kabarnya dengan penuh kecemasan.

Anak mungkin menganggap sebuah pesan hanyalah kabar biasa,  bagi ibu, satu pesan bisa menjadi penawar kecemasan, bahkan mampu mengubah air mata menjadi senyum. Kejadian itu mengajarkan kabar kecil bisa memiliki arti yang sangat besar bagi seseorang yang mencintai kita. Alhamdulillah. Satu kabar dari anak, seribu syukur bagi seorang ibu.
Kudus, 22 Agustus 2026 

Jumat, 21 Agustus 2026

Lala

 

Karya: Gutamining Saida

“Lala,” begitu biasanya saya menyapanya. Nama lengkapnya cukup indah dan mudah diingat, Chrestella Giovanna Yunianto. Nama bukan sekadar rangkaian kata yang melekat pada seseorang. Nama adalah identitas, doa, harapan, sekaligus bagian kecil dari perjalanan hidup yang kelak akan menjadi kenangan.

Lala adalah salah satu peserta didik yang rajin mengikuti pembelajaran yang saya ampu. Ia hadir, memperhatikan, mengerjakan tugas dengan telaten, dan berusaha menyelesaikannya tepat waktu. Bagi seorang guru, hal-hal seperti itu mungkin terlihat sederhana. Di balik sebuah tugas yang selesai tepat waktu, ada tanggung jawab, kedisiplinan, dan kesungguhan seorang anak dalam menjalani proses belajar.

Saya selalu percaya bila keberhasilan seorang guru tidak hanya diukur dari seberapa banyak materi yang mampu disampaikan kepada peserta didik. Keberhasilan dapat terlihat dari bagaimana seorang guru mampu menumbuhkan semangat belajar, tanggung jawab, kepercayaan diri, dan kebahagiaan dalam diri anak-anak yang didampinginya.

Lala mengajarkan saya tentang hal sederhana. Setiap kali tugas selesai dikerjakan, ia mengumpulkannya dengan penuh perhatian. Tidak asal selesai, tetapi dikerjakan dengan telaten. Ketika waktunya mengumpulkan tugas tiba, ada satu kebiasaan kecil yang membuat saya tersenyum.

“Bu, boleh foto?”

"Boleh."

Ia meminta saya memotretnya sebagai bukti bahwa ia sudah mengumpulkan tugas. Bukan hanya sekadar bukti, tetapi menurutnya foto itu juga bisa menjadi sesuatu yang abadi. Permintaan  sederhana,  menyimpan makna yang dalam.

Kadang-kadang kita terlalu sibuk mengejar sesuatu yang besar sehingga lupa bahwa kebahagiaan sering kali lahir dari hal-hal kecil. Sebuah foto, sebuah senyum, sebuah tugas yang berhasil diselesaikan, atau sekadar sapaan dari seorang guru dapat menjadi kenangan yang tersimpan lama dalam ingatan seorang anak.

Saya pun memenuhi permintaannya. Saya mengambil foto Lala. Dalam sekejap, sebuah momen sederhana berubah menjadi kenangan. Tugas telah dikumpulkan, tanggung jawab telah ditunaikan, dan sebuah gambar menjadi saksi bahwa pada suatu hari seorang anak bernama Lala pernah berjuang menyelesaikan tugasnya dengan sungguh-sungguh.

Bukan hanya Lala yang mendapatkan kebahagiaan dari momen itu. Saya pun ikut bahagia. Saya melihat senyumnya. Senyum yang sederhana, tetapi mampu menunjukkan bahwa ia merasa senang. Dari senyum itu saya dapat melihat kebahagiaannya. Kebahagiaan seorang anak ternyata dapat menular kepada gurunya.

Menjadi guru harus menghadirkan ruang bagi anak-anak untuk merasa dihargai, diperhatikan, dan diterima. Seorang anak mungkin lupa materi pelajaran yang disampaikan gurunya beberapa tahun kemudian. Ia mungkin lupa tanggal kapan sebuah tugas pernah diberikan. Ia mungkin lupa nilai yang pernah diperolehnya. Tetapi bisa jadi ia akan mengingat sebuah peristiwa kecil ketika gurunya tersenyum, memanggil namanya, menghargai hasil pekerjaannya, atau bersedia mengabadikan dirinya dalam sebuah foto.

Mungkin foto itu suatu hari nanti akan kembali dilihatnya ketika ia sudah dewasa. Ia mungkin akan tersenyum dan berkata dalam hati, “Dulu aku pernah menjadi anak sekolah yang rajin mengerjakan tugas. Dulu ada guru yang menghargai usahaku.” Betapa indah jika sebuah pembelajaran mampu meninggalkan kenangan seperti itu. Saya sengaja ingin mengabadikan Lala bukan hanya melalui foto, tetapi juga melalui tulisan. Bagi saya, foto mengabadikan wajah, sedangkan tulisan berusaha mengabadikan makna di balik sebuah peristiwa.

Hari ini Lala masih menjadi seorang pelajar. Ia sedang berada dalam fase kehidupan ketika tugas sekolah, teman-teman, guru, bermain, bercanda, dan belajar menjadi bagian dari hari-harinya. Waktu akan terus berjalan. Suatu saat ia akan meninggalkan bangku SMP. Ia akan melanjutkan perjalanan menuju jenjang pendidikan berikutnya. Akan ada lingkungan baru, teman baru, guru baru, tantangan baru, bahkan mungkin impian baru.

Saya berharap satu hal, jangan pernah kehilangan semangat seperti yang terlihat hari ini. Tetaplah menjadi anak yang rajin, telaten, menghargai proses. Jangan takut melakukan kesalahan, karena kesalahan adalah bagian dari perjalanan belajar. Jangan merasa kecil hanya karena belum mampu mencapai sesuatu yang besar. Ingatlah keberhasilan selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten.

Tugas yang dikerjakan tepat waktu terlihat sederhana. Kebiasaan menyelesaikan tanggung jawab tepat waktu adalah bekal kehidupan. Ketelitian yang dilakukan ketika mengerjakan tugas mungkin terlihat biasa. Tetapi ketelitian dapat menjadi kekuatan ketika kelak menghadapi pekerjaan dan kehidupan yang lebih kompleks.

Lala, teruslah melangkah. Jadilah pribadi yang rajin bukan karena takut mendapatkan nilai rendah. Belajar adalah investasi untuk masa depan. Kerjakan tugas  sebagai latihan untuk menjadi manusia yang bertanggung jawab. Jangan pernah kehilangan senyum. Karena senyum yang tulus bukan hanya membuat wajah terlihat lebih indah, tetapi juga mampu membuat orang lain merasakan kebahagiaan.

Suatu hari nanti ketika saya membaca tulisan ini, mungkin ia sudah jauh lebih dewasa. Mungkin ia  sudah mencapai cita-cita yang sekarang sedang diimpikan. Teruslah belajar, teruslah bertumbuh, dan teruslah menjadi Lala yang mampu membawa kebahagiaan bagi orang-orang di sekitarmu.

Kehidupan ini terlalu singkat untuk hanya diisi dengan mengejar keberhasilan. Sesekali, berhentilah sejenak. Tersenyumlah. Nikmati prosesnya. Abadikan kenangan baik sebanyak mungkin. Karena kelak, ketika waktu telah berlalu, kenangan-kenangan kecil itulah yang sering kali menjadi harta paling berharga.

Cepu,  3 September 2026

Merdeka Dari sakit


Karya: Gutamining Saida

Setiap bulan Agustus, hati kita kembali diingatkan pada sebuah perjuangan besar. Bangsa Indonesia pernah berada dalam masa yang tidak mudah. Para pahlawan berjuang melawan penjajahan dengan seluruh kekuatan yang mereka miliki. Mereka rela kehilangan waktu, tenaga, harta, bahkan nyawa demi satu kata yang begitu berharga bernama kemerdekaan.

Kemerdekaan tidak datang dengan mudah. Ada air mata yang jatuh, darah yang tertumpah, keluarga yang kehilangan orang-orang tercinta. Para pejuang tidak berhenti. Mereka terus melangkah karena memiliki keyakinan bahwa suatu hari bangsa ini akan terbebas dari belenggu penjajahan.

Membaca sebuah chat Pak Gun di grup Muda Swimming Squad 2, tiba-tiba saya menemukan makna perjuangan yang lain. Bukan lagi perjuangan bangsa melawan penjajah, tetapi perjuangan manusia melawan rasa sakit.

"Bangsa Indonesia berjuang untuk merdeka dari penjajah. Kita berjuang untuk merdeka dari sakit."

Selama ini kita sering memandang sakit sebagai sesuatu yang harus ditakuti. Ketika tubuh terasa tidak nyaman, tenaga berkurang, aktivitas yang dahulu mudah dilakukan tiba-tiba terasa berat, hati kita bertanya, “Mengapa saya harus mengalami ini?”

Tidak jarang rasa sakit membuat seseorang merasa lemah, kehilangan semangat, merasa hidupnya tidak lagi sebebas dahulu, diam-diam menangis karena tidak ingin orang lain mengetahui betapa berat perjuangan yang sedang dijalani.

Allah Subhanahu Wata'alla memberikan ujian bukan untuk membuat manusia hancur. Ujian dapat menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Ketika sehat, terkadang manusia terlalu sibuk dengan dunia. Langkah kaki begitu cepat mengejar pekerjaan, keluarga, keinginan, cita-cita, dan berbagai urusan. Doa mungkin hanya menjadi bagian kecil dari kesibukan.

Ketika tubuh mulai memberi tanda, kekuatan berkurang, harus berhenti sejenak, saat itulah manusia sering kembali mengingat dirinya hanyalah makhluk. Akhirnya, kita membutuhkan Allah Subhanahu Wata'alla. Sakit terkadang menjadi pengingat yang sangat lembut bahwa manusia bukan pemilik kehidupan. Kita hanya menjalani amanah yang diberikan oleh-Nya.

Kita perlu berjuang bukan hanya kesembuhan dari penyakit, tetapi kemerdekaan hati dari rasa takut, kecewa, putus asa, dan terlalu banyak mengeluh.

Sembuh tentu menjadi harapan. Berobat adalah ikhtiar. Menjaga tubuh adalah bentuk tanggung jawab. Berolahraga, mengikuti terapi, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, menjaga pola hidup, dan melakukan berbagai usaha untuk mendapatkan kesehatan merupakan bagian dari perjuangan manusia.

Setelah semua ikhtiar dilakukan, ada satu hal yang harus kita belajar berserah diri. Manusia boleh merencanakan,  Allah Subhanahu Wata'alla yang menentukan. Manusia boleh berusaha sekuat tenaga, tetapi Allah  Subhanahu Wata'alla yang memiliki keputusan terakhir. Manusia boleh berharap kesembuhan datang hari ini, tetapi Allah Subhanahu Wata'alla memiliki waktu yang paling tepat.

Di sinilah arti ridha menjadi begitu penting. Ridha bukan berarti menyerah tanpa usaha. Ridha juga bukan berarti pasrah dan tidak melakukan apa-apa. Ridha menerima ketetapan Allah dengan hati yang berusaha tetap percaya, sambil terus melakukan ikhtiar terbaik.

Duduk dengan nyaman, berjalan tanpa rasa sakit, tidur nyenyak, menikmati secangkir minuman hangat, tertawa bersama teman, menghirup udara pagi, atau sekadar bisa melakukan aktivitas sehari-hari ternyata adalah nikmat yang luar biasa.

Kadang manusia baru menyadari mahalnya sebuah nikmat setelah nikmat itu berkurang. Saya pun belajar bahwa perjuangan mendapatkan kesehatan tidak selalu harus dilakukan sendirian. Ada orang-orang yang hadir memberikan semangat. Ada teman yang mengajak bergerak. Ada seseorang yang mengingatkan untuk tetap berusaha. Ada lingkungan yang membuat kita merasa bahwa kita tidak sendirian menghadapi ujian. 

Para pejuang kemerdekaan yang dahulu berjuang bersama, manusia yang sedang menghadapi sakit pun membutuhkan dukungan. Satu kalimat penyemangat terkadang mampu membuat seseorang kembali berdiri. Satu senyuman bisa mengurangi rasa berat. Satu ajakan sederhana untuk bergerak bisa menjadi awal dari harapan baru.

Ada yang hari ini terlihat kuat, mungkin karena kemarin ia pernah melewati masa yang sangat berat. Ada yang tertawa lepas, mungkin karena ia sudah belajar berdamai dengan keadaan. Ada yang terus menyemangati orang lain, mungkin karena ia tahu bagaimana rasanya ketika dirinya membutuhkan semangat.

Allah tentu mengetahui kemampuan setiap hamba-Nya. Ujian datang dengan ukuran yang tidak pernah salah. Apa yang menurut kita terlalu berat, mungkin dalam pandangan Allah kita memiliki kekuatan untuk melewatinya. Bahkan ketika kita merasa sudah tidak sanggup, sering kali masih ada kekuatan yang muncul sedikit demi sedikit.

Tidak perlu membandingkan perjalanan kita dengan perjalanan orang lain. Sebab setiap tubuh memiliki kemampuan berbeda, setiap hati memiliki kekuatan berbeda, dan setiap manusia memiliki waktunya sendiri. Ada pula yang justru mendapatkan pelajaran kehidupan yang jauh lebih besar daripada sekadar kesembuhan.

Maka, ketika sakit datang, semoga kita tidak hanya bertanya, “Kapan saya sembuh?” Tetapi juga berani bertanya, “Apa yang sedang Allah ajarkan kepada saya melalui sakit ini?” Allah sedang mempertemukan kita dengan orang-orang baik yang sebelumnya tidak pernah kita kenal.

Kemerdekaan bangsa diraih melalui perjuangan panjang. Begitu pula kemerdekaan dari rasa sakit. Tidak selalu berarti tubuh kembali seperti semula. Terkadang kemerdekaan itu justru terjadi ketika hati sudah tidak lagi dikuasai ketakutan.

Kita semua sedang menjadi pejuang dalam bentuk yang berbeda. Para pahlawan dahulu berjuang agar bangsa ini merdeka. Kita hari ini berjuang agar tubuh dan hati kembali menemukan kekuatan. Perjuangan terbesar bukanlah melawan rasa sakit, melainkan belajar menerima di balik setiap ujian ada kehendak Allah yang belum tentu langsung mampu kita pahami.

“Ya Allah, saya akan terus berusaha. Jika kesembuhan adalah jalan terbaik bagi saya, mudahkanlah. Jika ujian ini masih harus saya jalani, kuatkanlah hati saya. Jangan biarkan rasa sakit menjauhkan saya dari-Mu. Jadikan setiap rasa sakit sebagai jalan untuk semakin dekat kepada-Mu dan menemukan hikmah yang luar biasa.” Melainkan ketika hati telah merdeka menerima ketetapan-Nya, jiwa tetap penuh harapan, dan langkah tetap berjalan menuju Allah.

Cepu 21 Agustus 2026


Rabu, 19 Agustus 2026

GoodDay Rasa IPS

 

Karya: Gutamining Saida

Kopi selama ini sering identik dengan orang tua. Ketika mendengar kata “kopi”, yang terbayang mungkin adalah bapak-bapak yang duduk santai di teras rumah, berbincang dengan tetangga, atau menikmati secangkir kopi sambil membaca koran. Kopi seolah menjadi bagian dari kehidupan orang dewasa.

Zaman terus berubah. Kopi kini tidak lagi hanya menjadi minuman yang dinikmati oleh kalangan orang tua. Anak-anak dan remaja pun mulai mengenal berbagai jenis minuman kopi. Minuman rasa kopi telah menjadi salah satu minuman yang cukup populer di kalangan mereka. Berbagai merek hadir dengan kemasan yang menarik, rasa yang beragam, dan cara penyajian yang semakin kreatif.

Minuman yang dahulu sederhana kini tampil lebih modern. Kemasan dibuat berwarna-warni. Nama produk dibuat mudah diingat. Rasanya disesuaikan dengan selera anak muda. Ada yang menyukai rasa original, ada yang memilih rasa manis, cokelat, susu, dan berbagai perpaduan lainnya.

Semua itu menunjukkan sebuah kebiasaan dapat berubah mengikuti perkembangan zaman. Sebagai guru, saya mencoba melihat perubahan tersebut bukan sekadar sesuatu yang terjadi di luar kelas. Saya berusaha mendekatkan pembelajaran dengan sesuatu yang akrab dengan kehidupan siswa. Saya ingin menciptakan suasana belajar yang tidak terasa jauh dari dunia mereka.

Salah satunya melalui sesuatu yang sederhana yaitu kopi. Pagi itu muncul sebuah percakapan ringan.

“Kita ngopi, Bu?”tanya Aditya

“Iya, Good Day.” saya menjawab santai,

Kemudian saya menambahkan, “Cocok untuk pagi ini, ya.”

"GoodDay semua, bu?"

"Iya, agar kalian tidak banyak memilih."

"Ohhh, begitu?jawab mereka hampir bersamaan

Sebuah percakapan yang sebenarnya sederhana. Tidak ada kalimat yang rumit. Tidak ada teori panjang. Percakapan sederhana itu tercipta suasana yang berbeda. Ada rasa akrab, ada senyum, dan ada energi positif untuk memulai kegiatan.

Kopi tidak hanya menjadi minuman. Ia bisa menjadi simbol kebersamaan. Secangkir kopi sering kali menjadi alasan seseorang berhenti sejenak dari kesibukan. Duduk bersama, berbincang, bertukar cerita, dan menikmati waktu. Kadang yang membuat kopi terasa nikmat bukan hanya rasanya, tetapi siapa yang menemani kita meminumnya.

Begitu pula dalam pembelajaran. Guru tidak selalu harus hadir dengan suasana yang serius dan penuh tekanan. Ada kalanya pembelajaran justru menjadi lebih hidup ketika guru mampu menciptakan kedekatan dengan siswa melalui hal-hal sederhana yang mereka sukai.

Saya mencoba mengikuti perkembangan minuman yang sedang mereka kenal. Guru harus mengikuti semua tren, memahami dunia siswa dapat menjadi salah satu cara untuk membangun komunikasi yang lebih baik.

Sebab siswa bukan hanya sekumpulan anak yang datang ke kelas untuk menerima materi.

Mereka memiliki kesukaan, kebiasaan, cerita, rasa ingin tahu, dan dunia mereka sendiri.

Ketika guru berusaha memahami dunia itu, jarak antara guru dan siswa menjadi lebih dekat.

Awalnya mungkin hanya mencoba.

“Coba ah…”

Begitulah sering kali sebuah kebiasaan dimulai.

Tidak ada yang menyangka bahwa sesuatu yang awalnya hanya dicoba akhirnya menjadi bagian dari rutinitas. Dari sekadar ingin tahu, kemudian menjadi suka. Dari suka, akhirnya menjadi kebiasaan.

Pagi terasa kurang lengkap tanpa sesuatu yang menemani.

Bukan berarti setiap kebiasaan harus dipertahankan hanya karena sudah menjadi kebiasaan. Kita tetap harus bijak memilih mana yang baik bagi tubuh dan mana yang perlu dibatasi. Terutama bagi anak-anak dan remaja, minuman yang mengandung gula atau kafein sebaiknya dikonsumsi secara wajar dan tidak berlebihan.

Namun, dari cerita sederhana tentang kopi ini, ada pelajaran yang jauh lebih besar.

Kebiasaan besar sering kali lahir dari tindakan kecil yang dilakukan berulang-ulang.

Seorang siswa yang awalnya hanya mencoba membaca satu halaman buku mungkin suatu hari bisa menjadi orang yang senang membaca. Anak yang awalnya hanya mencoba menjawab satu pertanyaan mungkin lama-kelamaan berani bertanya dan berdiskusi. Siswa yang awalnya malu tampil di depan kelas mungkin setelah beberapa kali mencoba akhirnya mampu berbicara dengan percaya diri.

Semua berawal dari satu langkah kecil.

Begitu pula seorang guru.

Awalnya mungkin hanya mencoba menggunakan satu media pembelajaran. Kemudian mencoba permainan. Mencoba gambar. Mencoba teka-teki. Mencoba sesuatu yang dekat dengan kehidupan siswa. Tidak semuanya langsung berhasil. Tidak semuanya langsung membuat kelas sempurna.

Tetapi proses mencoba itulah yang membuat guru terus belajar.

Saya percaya bahwa guru juga harus menjadi pembelajar.

Dunia siswa berubah. Cara mereka memperoleh informasi berubah. Selera mereka berubah. Teknologi berkembang. Tren datang silih berganti. Jika guru berhenti belajar, maka jarak dengan dunia siswa akan semakin jauh.

Karena itu, saya memilih untuk tidak hanya berdiri di depan kelas dan menjelaskan. Saya ingin sesekali masuk ke dunia mereka. Memahami apa yang mereka sukai, kemudian menggunakannya sebagai jembatan menuju pembelajaran.

Bukan untuk menjadi seperti mereka.

Tetapi agar mereka merasa bahwa guru mau memahami mereka.

Dari secangkir kopi, saya menemukan makna tentang hubungan.

Hubungan antara guru dan siswa tidak selalu harus dibangun melalui nasihat panjang. Kadang cukup dengan percakapan sederhana.

“Ngopi, Bu?”

“Iya, Good Day.”

“Cocok untuk pagi ini.”

Percakapan singkat itu mungkin terlihat biasa bagi orang lain. Bagi saya, di situlah ada kehangatan,  komunikasi,  rasa dekat,  kesempatan untuk menciptakan suasana pagi yang lebih menyenangkan. Dari kebiasaan kecil itu muncul sebuah pengingat.  Jangan takut mencoba sesuatu yang baru. Kita tidak pernah tahu apa yang akan kita temukan setelah mencoba.

Dunia pendidikan, mencoba adalah bagian dari perjalanan. Guru mencoba metode baru. Siswa mencoba menjawab pertanyaan. Guru mencoba memahami karakter siswa. Siswa mencoba memahami materi. Semuanya membutuhkan keberanian untuk memulai.

Kopi menjadi lebih dari sekadar minuman. Ia menjadi teman kecil untuk memulai hari. Ia menjadi simbol sesuatu yang awalnya hanya dicoba dapat berubah menjadi kebiasaan. Saya pun semakin yakin bahwa dalam kehidupan, hal-hal besar sering kali tumbuh dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan konsisten.

Tetapi semangat yang tumbuh ketika menikmatinya bersama, percakapan yang tercipta setelahnya, dan energi positif yang dibawa untuk menjalani hari—itulah yang memiliki nilai. Bagi seorang siswa, hal-hal kecil itu bisa menjadi awal tumbuhnya keberanian, kepercayaan diri, dan semangat belajar. Mari terus mencoba.

Karena seperti kopi yang awalnya hanya dicoba lalu menjadi kebiasaan, kebaikan yang dilakukan berulang-ulang pun suatu hari akan menjadi karakter.

Cepu, 20 Agustus 2026


Kembalikan Semangatmu

Karya: Gutamining Saida

Pembelajaran IPS di kelas 8A kali ini berada pada jam terakhir. Sebagian besar siswa biasanya sudah mulai lelah. Mereka selesai mengikuti berbagai kegiatan pembelajaran sejak pagi. Konsentrasi bisa saja menurun, semangat mulai berkurang, dan keinginan untuk segera pulang terkadang lebih besar daripada keinginan untuk mengikuti pelajaran. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi guru untuk menghadirkan pembelajaran yang mampu membangkitkan kembali perhatian dan semangat siswa.

Saya pun mencoba menghadirkan sesuatu yang sederhana, tetapi menarik perhatian. Media pembelajaran yang saya siapkan adalah gambar Nutrijell dan D’Jelly. Gambar tersebut menarik dan penasaran siswa. Ketika media ditampilkan, perhatian mereka mulai tertuju ke depan. Ada yang bertanya-tanya, ada yang memperhatikan dengan serius, bahkan ada yang langsung ingin mengetahui apa yang akan dilakukan dengan gambar tersebut.

Saya menjelaskan bahwa dalam kegiatan kali ini tersedia 40 biji yang dapat dipilih oleh siswa. Angka 40 itu bukan sekadar jumlah, tetapi menjadi bagian dari permainan pembelajaran. Setiap siswa mempunyai kesempatan untuk memilih sesuai keinginannya. Dari pilihan sederhana tersebut, mereka kemudian harus menghadapi sebuah tantangan.

Nutrijell sendiri selama ini dikenal sebagai salah satu makanan yang dapat diolah menjadi berbagai hidangan menarik. Jika dikonsumsi dalam porsi yang tepat dan diolah dengan bahan yang baik, makanan berbahan agar-agar seperti Nutrijell dapat menjadi bagian dari makanan yang mengandung serat. Hal yang menarik adalah bagaimana sesuatu yang tampak sederhana dapat saya jadikan jembatan menuju kegiatan belajar yang menyenangkan.

Tujuan utama pembelajaran bukanlah membahas Nutrijell atau D’Jelly. Keduanya hanyalah media untuk menarik perhatian siswa. Di balik gambar yang tampak seperti makanan biasa itu, tersimpan tantangan yang berhubungan dengan materi IPS yang baru saja mereka pelajari.

Tantangan hari ini adalah menyusun satu kata. Kata tersebut terdiri atas beberapa huruf yang sengaja belum disusun sesuai urutan. Siswa harus memperhatikan setiap huruf, kemudian berpikir, mengingat kembali materi IPS yang telah dijelaskan, dan mencoba menemukan kata yang tepat.

Di sinilah pembelajaran menjadi menarik. Siswa tidak cukup hanya melihat huruf. Mereka harus menghubungkan huruf-huruf tersebut dengan pengetahuan yang baru saja diperoleh. Mereka harus membuka kembali ingatan tentang materi. Apa istilah yang sesuai? Apa kata yang berhubungan dengan pembahasan hari ini? Huruf mana yang harus berada di depan? Huruf mana yang harus berada di belakang?

Kelihatannya sederhana, tetapi ternyata membutuhkan konsentrasi. Saya melihat perubahan suasana kelas yang cukup jelas. Meskipun pembelajaran berlangsung jam terakhir, siswa  terlihat bersemangat. Mereka mulai bekerja dengan serius. Ada yang menatap huruf satu per satu. Ada yang mencoba menyusun dalam pikirannya. Ada pula yang menulis beberapa kemungkinan jawaban sebelum menentukan pilihan terakhir.

Mereka tidak ingin terlalu lama. Masing-masing ingin segera menyelesaikan tantangan dan mendapatkan hasil yang memuaskan. Semangat mereka terlihat dari cara mereka berusaha menemukan jawaban. Mereka berusaha menggunakan kemampuan berpikirnya sendiri.

Yang menarik, dalam suasana tersebut siswa terlihat begitu fokus dengan tantangannya masing-masing. Mereka sibuk berusaha. Mereka tidak terlalu memedulikan apa yang sedang dikerjakan temannya. Bukan tidak peduli terhadap teman dalam arti yang sebenarnya.  Mereka sedang menikmati tantangan pribadi yang harus ditaklukkan.

Ada kepuasan tersendiri ketika seseorang berhasil menemukan jawaban dengan kemampuannya sendiri. Di sinilah saya melihat pembelajaran IPS sebenarnya tidak harus selalu dilakukan dengan cara membaca buku, mendengarkan penjelasan guru, kemudian menjawab pertanyaan di buku tugas. Materi IPS yang cukup luas dapat dikemas menjadi kegiatan yang sederhana, menyenangkan, dan menantang.

Sebuah gambar Nutrijell dapat menjadi pintu menuju pembelajaran. Empat puluh pilihan dapat menjadi pemantik rasa ingin tahu. Huruf-huruf yang belum tersusun dapat menjadi tantangan berpikir. Satu kata yang berhasil ditemukan dapat memberikan pengalaman bahwa belajar membutuhkan usaha.

Saya semakin menyadari bahwa siswa akan lebih mudah terlibat ketika mereka merasa memiliki kesempatan untuk memilih dan mencoba. Mereka bukan hanya menjadi penerima informasi, tetapi menjadi pelaku dalam proses pembelajaran.

Ada nilai penting yang sebenarnya sedang tumbuh melalui kegiatan tersebut. Anak-anak belajar bahwa untuk mendapatkan hasil yang baik, mereka harus berusaha. Tidak semua jawaban langsung terlihat. Tidak semua masalah dapat diselesaikan dalam sekali mencoba. Terkadang harus berpikir ulang, mencoba susunan yang berbeda, mengingat kembali materi, bahkan mengalami kesalahan sebelum akhirnya menemukan jawaban yang benar.

Bukankah kehidupan juga demikian? Tidak semua persoalan datang dengan jawaban yang sudah tersusun rapi. Sering kali manusia harus mengumpulkan berbagai informasi, berpikir, mencoba, gagal, memperbaiki, lalu mencoba kembali. Keberhasilan menjadi lebih bermakna karena diperoleh melalui proses.

Saya ingin pembelajaran IPS tidak hanya membuat siswa tahu materi, tetapi juga memiliki pengalaman belajar yang dapat mereka bawa dalam kehidupan sehari-hari. Melalui kegiatan menyusun kata ini, mereka belajar tentang ketelitian. Mereka belajar berkonsentrasi. Mereka belajar mengingat. Mereka belajar menghubungkan pengetahuan dengan persoalan. Mereka juga belajar mengendalikan keinginan untuk menyerah ketika jawaban belum ditemukan.

Bagi guru, melihat siswa bersemangat pada jam terakhir merupakan kebahagiaan tersendiri. Jam terakhir bukan lagi alasan untuk mengurangi semangat belajar. Justru dengan media yang tepat, suasana kelas dapat kembali hidup. Gambar Nutrijell dan D’Jelly menjadi media kecil yang menghadirkan energi besar dalam pembelajaran.

Keberhasilan pembelajaran bukan hanya ketika siswa mampu menemukan kata yang benar. Keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika mereka mau berusaha, berani mencoba, tidak mudah menyerah, dan merasakan bahwa belajar ternyata bisa menyenangkan.

Mungkin suatu hari nanti mereka tidak lagi mengingat semua huruf yang pernah mereka susun. Bisa jadi mereka juga lupa berapa banyak gambar Nutrijell dan D’Jelly yang tersedia. Saya berharap mereka tetap mengingat satu hal untuk memperoleh hasil yang memuaskan, diperlukan kemauan untuk berusaha.

Pendidikan, proses menumbuhkan rasa ingin tahu, keberanian mencoba, ketekunan, dan keyakinan  setiap tantangan pasti dapat ditaklukkan ketika kita mau berusaha. Sebuah kegiatan sederhanayaitu  memilih, berpikir, menyusun, berusaha, dan akhirnya menemukan jawaban. Kesuksesan menyertaimu anak-anak 8A. Aamiin.

Cepu, 20 Agustus 2026

Minggu, 16 Agustus 2026

Tasyakuran Bersama Suhu

 

Karya: Gutamining Saida

Hari Kemerdekaan Republik Indonesia selalu menghadirkan suasana yang meriah. Bendera Merah Putih berkibar di berbagai tempat, lagu-lagu kebangsaan terdengar, berbagai perlombaan digelar, dan masyarakat bersama-sama mengenang perjuangan para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan. Merayakan kemerdekaan tidak harus selalu dengan acara besar, panggung megah, atau hidangan yang mahal. Kadang-kadang, kemerdekaan justru terasa begitu dekat ketika beberapa orang berkumpul, duduk bersama, saling berbagi makanan, tersenyum, tertawa, dan mensyukuri nikmat Allah Subhanahu Wata'alla yang begitu banyak.

Saya bersama ibu-ibu tidak ingin ketinggalan untuk ikut merasakan semarak kemerdekaan. Kami mengadakan syukuran kecil-kecilan. Tidak ada panitia khusus, tidak ada daftar menu, tidak ada ketentuan siapa harus membawa makanan apa. Semuanya berjalan secara sederhana dan apa adanya. Masing-masing membawa bekal dari rumah sesuai kemampuan dan apa yang tersedia di rumah.

Semuanya mengalir begitu saja. Di situlah terasa indahnya kebersamaan. Setiap orang datang membawa sesuatu yang sederhana. Ketika semuanya dikumpulkan menjadi satu di meja, menjadi hidangan yang begitu beragam. Ada donat, tahu pentol, cakwe, aneka jajanan kering, dan berbagai makanan ringan lainnya. Yang awalnya hanya makanan dari rumah masing-masing, setelah dikumpulkan berubah menjadi sajian kebersamaan.

Menariknya, beberapa ibu ternyata membawa makanan yang sama. Sebagian besar membawa tahu  pentol. Tidak ada yang merasa kecewa karena membawa jenis makanan yang sama. Tidak ada yang berkata, “Lho, kok saya membawa tahu juga?” Justru kami tertawa bersama. Ternyata tanpa janjian pun hati kami bisa memiliki pikiran yang  sama (sehati).

Beginilah cara Allah Subhanahu Wata'alla menunjukkan rezeki tidak selalu datang melalui jalan yang kita rencanakan. Allah Subhanahu Wata'alla  bisa mempertemukan banyak tangan dengan satu tujuan. Allah Subhanahu Wata'alla  bisa membuat beberapa orang membawa makanan yang sama. Lalu menjadikannya bagian dari sebuah kebersamaan yang indah.

Makanan kemudian ditata dan disajikan di meja bulat. Semua duduk bersama. Tidak ada lagi makanan milik siapa. Setelah diletakkan di tengah, semuanya menjadi milik bersama untuk dinikmati bersama. Yang membawa donat tidak hanya makan donatnya sendiri. Yang membawa tahu tidak hanya mengambil tahu yang dibawanya. Yang membawa cakwe ikut menikmati makanan lainnya.

Di sinilah terasa makna berbagi. Satu makanan mungkin terlihat sederhana jika hanya dinikmati sendiri. Ketika dibagikan kepada banyak orang, nilainya menjadi jauh lebih besar. Bukan karena harganya, melainkan karena ada keikhlasan di dalamnya.

Bukankah rezeki memang akan terasa lebih nikmat ketika kita mau berbagi? Dalam ajaran agama, berbagi tidak harus menunggu menjadi kaya. Sedekah tidak selalu berupa uang. Memberikan makanan, membuat orang lain tersenyum, menyediakan sesuatu untuk dinikmati bersama, bahkan menghadirkan suasana bahagia pun dapat menjadi bentuk kebaikan apabila dilakukan dengan niat yang tulus.

Kami mungkin hanya membawa jajanan sederhana. Di balik tahu pentol, donat, cakwe, dan makanan ringan lainnya, ada doa yang tidak terlihat. Ada rasa syukur yang tumbuh. Ada silaturahmi yang terjaga. Ada persaudaraan yang semakin dekat.Kemerdekaan akhirnya tidak hanya kami rayakan dengan mengibarkan bendera Merah Putih. Kami juga merayakannya dengan mengibarkan rasa syukur di dalam hati.

Sesungguhnya, menjadi manusia yang merdeka bukan hanya terbebas dari penjajahan. Kita juga perlu belajar membebaskan hati dari keinginan untuk memiliki semuanya sendiri. Berbagi makanan mengajarkan kami akan  kebahagiaan.

Ada hal lain yang membuat hati semakin bahagia. Setelah semua ibu menikmati hidangan, ternyata makanan masih tersisa cukup banyak. Kami pun tersenyum. “Berarti berkah,” mungkin begitu yang terlintas dalam pikiran kami.

Makanan yang tersisa bukan sekadar tanda hidangan yang dibawa terlalu banyak. Lebih jauh dari itu, kami memaknainya sebagai keberkahan. Allah Subhanahu Wata'alla telah mencukupkan rezeki kami. Allah Subhanahu Wata'allamemberi lebih dari yang kami perlukan. sesuatu yang berlebih sebaiknya tidak disia-siakan, melainkan dapat dibagikan kembali kepada orang lain.

Ketika memiliki kebahagiaan lebih, kita bisa menularkan kebahagiaan itu kepada orang lain. Begitulah keberkahan bekerja. Ia tidak selalu berbentuk bertambahnya jumlah harta. Kadang keberkahan hadir dalam bentuk hati yang tenang, tubuh yang sehat, persahabatan yang semakin erat, keluarga yang rukun, makanan yang cukup, dan perasaan bahagia setelah berkumpul dengan orang-orang yang kita sayangi.

Kita sering mencari kebahagiaan yang jauh, padahal Allah Subhanahu Wata'alla telah meletakkannya begitu dekat. Ada pada pertemuan. Ada pada persaudaraan. Ada pada makanan yang bisa dibagi. Ada pada kesempatan untuk tertawa bersama. Ada pada orang-orang yang hadir tanpa banyak tuntutan. Kami juga bersyukur atas kemerdekaan untuk berkumpul, bersilaturahmi, berbagi, dan menikmati rezeki Allah Subhanahu Wata'alla. dengan yang sesungguhnya bukan hanya tentang bebas dari penjajahan, tetapi tentang kemampuan membebaskan hati.

Cepu, 17 Agustus 2026


Merah Putih Pemersatu Kita

 

Karya : Gutamining Saida 
Perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia tidak selalu harus berlangsung di lapangan, stadion, halaman kantor, atau tempat-tempat resmi lainnya. Semangat kemerdekaan bisa tumbuh dan dirayakan di mana saja, termasuk di sebuah kolam renang. Kemerdekaan bukan sekadar upacara dan seremonial. 

Kemerdekaan adalah rasa syukur, kebanggaan, persatuan, kebersamaan, dan semangat untuk terus menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama. Suasana kolam terasa berbeda. Air yang biasanya menjadi tempat berlatih renang dan terapi kesehatan, berubah menjadi ruang kecil untuk mengekspresikan kecintaan kepada tanah air. Bendera Merah Putih dibawa dengan penuh kebanggaan. Kain sederhana berwarna merah dan putih itu bukan sekadar benda yang dikibarkan. Ia menjadi identitas bangsa, simbol perjuangan, dan pengingat bahwa di balik kehidupan yang kita nikmati hari ini ada sejarah panjang yang telah dilalui oleh para pejuang.

Bendera Merah Putih menjadi pemersatu. Ketika bendera itu dibawa ke tengah kolam, muncul rasa bangga yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Merah mengingatkan pada keberanian. Putih mengingatkan pada kesucian dan ketulusan. Keduanya menyatu menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Begitu pula dengan kehidupan bermasyarakat. Keberanian tanpa ketulusan dapat melahirkan kesombongan. Ketulusan tanpa keberanian terkadang membuat seseorang tidak mampu memperjuangkan kebaikan.

Semangat kemerdekaan pun terasa ketika para peserta mulai membentuk berbagai formasi. Kolam seolah menjadi gambaran kecil tentang Indonesia. Indonesia merupakan bangsa yang besar karena memiliki banyak perbedaan. Berbeda suku, bahasa, budaya, adat istiadat, makanan, kesenian, bahkan cara menjalani kehidupan. Perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menjauh. Merah Putih mengajarkan bahwa kita adalah satu bangsa.

Semangat itulah yang terasa. Perayaan kemerdekaan di dalam kolam menjadi bukti rasa cinta kepada tanah air dapat diwujudkan melalui banyak cara. Tidak harus selalu dengan acara besar. Tidak harus selalu dengan panggung megah. Tidak harus selalu dengan perlombaan yang membutuhkan biaya besar.
Menjaga kerukunan juga merupakan bentuk cinta kepada Indonesia. Saling menghormati  bentuk cinta kepada Indonesia. Kemerdekaan akhirnya bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga tentang kemampuan manusia membebaskan dirinya dari rasa egois, iri, sombong, dan keinginan untuk menang sendiri.

Hari Kemerdekaan menjadi momentum untuk kembali mengingat bahwa bangsa ini dibangun oleh kebersamaan. Para pendahulu kita tidak berjalan sendiri. Mereka berjuang dengan semangat persatuan. Karena itulah generasi hari ini memiliki tanggung jawab untuk merawat apa yang telah diperjuangkan. Mungkin kita tidak lagi mengangkat senjata seperti para pahlawan dahulu. Tetapi kita bisa mengangkat semangat.

Formasi-formasi yang terbentuk di dalam air mungkin terlihat sederhana. Di balik setiap gerakan ada pesan yang dalam. Ketika tangan saling mengikuti, ada persatuan. Ketika langkah bergerak bersama, ada kekompakan Air mengajarkan bahwa hidup harus terus bergerak. Jika kita berhenti bergerak, kita akan sulit mencapai tujuan. Arus air mengajarkan bahwa kehidupan kadang membawa kita ke arah yang tidak kita duga.  Ketenangan, keberanian, dan kebersamaan, kita dapat terus menghadapinya.

Merah Putih mengingatkan kita di mana pun berada, kita tetap bagian dari Indonesia. Di lapangan boleh. Selama di dalam hati masih tumbuh rasa syukur, cinta tanah air, persaudaraan, dan semangat menjaga kerukunan, di sanalah sesungguhnya kemerdekaan dirayakan. Semoga semangat Merah Putih tidak berhenti ketika perayaan selesai. Semoga ia terus hidup dalam perilaku sehari-hari. Menjadi pribadi yang lebih peduli, lebih ramah, lebih sehat, lebih bersyukur, dan lebih mampu membahagiakan orang lain.

Sebuah kolam kecil dengan bendera Merah Putih yang berkibar di tengah air telah mengajarkan kita satu hal penting. Kemerdekaan akan terasa semakin indah ketika dirayakan dengan kebersamaan, dijaga dengan kerukunan, dan diwujudkan dengan kebahagiaan bersama. Dirgahayu Republik Indonesia. Teruslah berkibar Merah Putih, bukan hanya di tiang bendera, tetapi juga di dalam hati setiap anak bangsa.
Cepu, 17 Agustus 2026