Kamis, 13 Agustus 2026

Fani

Karya: Gutamining Saida

Setiap saya masuk ke kelas 8C, selalu saja ada yang menarik perhatian. Anak-anaknya aktif, ramai, penuh energi, dan masing-masing memiliki keunikan. Kadang saya menemukan tingkah lucu, jawaban spontan, kreativitas, benda-benda sederhana yang ternyata menyimpan cerita.

Ketika saya sedang mengajar, pandangan saya tertuju pada meja salah satu siswa perempuan bernama Fani. Saya melihat beberapa lembar kertas putih yang bentuknya agak berbeda. Kertas-kertas itu dibuat seperti contongan, digulung atau dibentuk menyerupai kerucut.

Entah mengapa, benda sederhana itu langsung membuat rasa penasaran saya muncul. Saya pun mendekati meja Fani.

“Ini apa, Fani?”tanya saya sambil mengambil salah satu kertas tersebut dan memperhatikannya.

Fani menjawab singkat,“Untuk membuat buket, Bu.”

Jawaban sangat singkat. Tetapi bagi saya justru mengundang pertanyaan berikutnya. “Buket?”

“Iya, Bu.”

“Buket bunga?”

Fani mengangguk.

Saya semakin penasaran. “Buat sendiri?”

“Iya.”

“Dari kertas ini?”

“Iya, Bu.”

Saya tersenyum. Dalam hati saya berpikir, ternyata anak-anak memiliki kreativitas yang sering kali tidak terlihat ketika mereka duduk mengikuti pembelajaran di kelas. Saya pun mulai kepo.

“Belajarnya dari mana?”

“Lihat tutorial.”

“Tutorial di mana?”

“HP, Bu.”

“Berarti kamu suka membuat kerajinan?”

Fani mengangguk lagi.

Saya kemudian memperhatikan kertas-kertas putih itu lebih teliti. Bentuknya memang sederhana. Hanya kertas putih yang dibuat menyerupai contongan. Namun, di tangan seorang anak yang kreatif, benda sederhana bisa berubah menjadi sesuatu yang bernilai. Saya membayangkan kertas-kertas itu nantinya tersusun menjadi buket yang cantik.

Saya lalu bertanya lagi,“Buketnya nanti untuk siapa?”

Fani tersenyum. Saya menunggu jawabannya. Ternyata, dari sebuah pertanyaan sederhana, saya justru menemukan sisi lain dari seorang siswa yang selama ini saya kenal hanya sebagai bagian dari kelas 8C. Di depan guru, Fani adalah seorang siswa.

Tetapi di luar pembelajaran, ia memiliki dunia kreativitasnya sendiri. Ia mau menghasilkan sesuatu dengan tangannya sendiri. Saya pun semakin menyadari bahwa setiap anak memiliki potensi yang berbeda-beda.

Tugas guru bukan hanya menyampaikan materi pelajaran. Guru juga perlu melihat, memperhatikan, dan menemukan potensi yang tersembunyi dalam diri siswa. Kadang potensi itu tidak muncul ketika kita memberikan soal di papan tulis.

Jangan pernah menganggap sesuatu yang sederhana itu tidak berarti. Mungkin hari ini Fani hanya membuat buket dari kertas. Tetapi siapa tahu, kelak kreativitas sederhana itu menjadi keterampilan yang menghasilkan karya, bahkan menjadi jalan kehidupannya.

“Ternyata anak-anak bukan hanya belajar dari guru. Guru pun harus mau belajar membaca keunikan anak-anaknya.”

Dan Fani, dengan kertas putih berbentuk contongan, telah mengingatkan saya sekali lagi yaitu Setiap anak mempunyai cerita. Tugas guru adalah mau mendekat, bertanya, dan menemukan cerita itu. Semoga kesuksesan menyertai langkah kakimu. Aamiin.

Cepu, 13 Agustus 2026

AL dan EL

Karya: Gutamining Saida 
Menjadi guru IPS di Esmega memberi saya banyak pengalaman. Ada materi tentang interaksi sosial, sumber daya manusia, keberagaman, mobilitas sosial, dan berbagai konsep kehidupan masyarakat. Ternyata, menjadi guru juga mengajarkan saya satu pelajaran yang sangat sederhana, dan membutuhkan perjuangan luar biasa tentang menghafal nama siswa.

Sudah kurang lebih satu bulan saya bersama anak-anak. Saya mengajar tujuh kelas dengan jumlah siswa sekitar 256 anak. Jika hanya melihat wajah, perlahan saya mulai mengenali mereka. Saya sudah mulai bisa membedakan, “Oh, anak ini kelas 7A,” atau “Ini anak 7B,” atau “Sepertinya ini anak 7C.” 

Wajah mulai tersimpan dalam ingatan. Tetapi nama? Nah, ini yang menjadi perjuangan tersendiri. Saya harus jujur kepada mereka bahwa kemampuan saya dalam menghafal nama memang tidak secepat yang mereka harapkan. Terkadang, ketika berpapasan di halaman sekolah, ada siswa yang sengaja menghentikan langkah saya.

“Bu Saida!”ucap dia
Saya menoleh.
“Saya siapa, Bu?”tanya dia

Pertanyaan sederhana. Bagi saya, pertanyaan itu seperti sebuah ujian mendadak. Saya memandang wajahnya. Saya mencoba mengingat. Saya membuka kembali “lemari” ingatan yang ada di kepala. Kadang saya berhasil.

“Eh... kamu Bagus!” ucap saya.
Wajahnya langsung tersenyum.
“Benar, Bu!”jawab dia
Ada kebahagiaan kecil di wajahnya. Tidak jarang saya justru salah.
“Afif?”
“Bukan, Bu!”jawab dia
“Lho... siapa?”tanya saya.
Anak itu tertawa.
“Ya saya, Bu...”

Kemudian saya ikut tertawa. Kami sama-sama menyadari bahwa menghafal nama 256 anak bukanlah pekerjaan yang mudah. Yang lebih lucu lagi adalah ketika saya bertemu dengan dua anak di kelas 7A yang memiliki nama panggilan sangat mirip yaitu Al dan El. Kalau hanya melihat postur tubuh, sebenarnya sangat mudah membedakan mereka. Yang satu bertubuh kecil, sementara yang satunya jauh lebih tinggi. Seharusnya tidak sulit. Tetapi ternyata otak saya memiliki cara sendiri untuk menguji kesabaran.

“Al!”ucap saya
Anak yang saya panggil justru tersenyum sambil menggeleng.
“Bukan..., Bu. Saya El.”
Saya terdiam. “Oh iya... El.”

Pertemuan berikutnya saya mencoba lebih hati-hati. Saya melihat anak yang lain. “Kalau kamu Al, ya?”
Dia menjawab, “Iya, Bu.”jawabnya. Saya merasa menang. Akhirnya saya berhasil! Tetapi beberapa hari kemudian, kejadian yang sama terulang lagi. Saya salah lagi. Anak-anak tentu saja tertawa.

“Bu Saida kok masih ketuker?”
Saya pun tertawa bersama mereka.
“Maaf, Nak. Ibu sedang berjuang menghafal kalian semua.”

Sebenarnya, di balik tawa itu ada perasaan yang cukup dalam. Saya tahu bagi seorang siswa, dipanggil dengan nama sendiri oleh gurunya adalah sesuatu yang menyenangkan. Nama adalah identitas. Nama adalah bagian dari diri mereka. Ketika seorang guru mampu menyebut nama murid dengan tepat, ada perasaan bahwa dirinya diperhatikan, dikenal, dan dianggap penting. Karena itu, saya memahami ketika mereka sering bertanya,

“Bu, saya siapa?”
Mungkin pertanyaan itu bukan sekadar ingin menguji saya. 
Mungkin mereka sedang berkata, “Bu, kenali saya.”
“Bu, ingat saya.”
“Bu, saya juga ingin dianggap berarti.”

Dari situlah saya belajar. Menjadi guru ternyata bukan hanya menyampaikan materi pelajaran. Guru juga sedang belajar mengenal manusia. Setiap anak memiliki nama, wajah, karakter, keluarga, kebiasaan, kelebihan, kekurangan, mimpi, dan perjalanan hidup masing-masing. 
Ada anak yang cerewet, pendiam,  selalu menjawab pertanyaan, lebih suka tersenyum, aktif bergerak,  duduk tenang tetapi sebenarnya menyimpan banyak potensi, senang menggoda gurunya hanya untuk mendapatkan perhatian.

Semua itu menjadi warna dalam perjalanan saya mengajar. Saya pun mulai memiliki cara sederhana untuk membantu diri sendiri. Ketika bertemu dengan siswa di luar kelas dan saya lupa namanya, terkadang saya berkata, “Coba sebutkan nama kalian.”

Mereka menyebutkan nama masing-masing. Saya tersenyum. “Terima kasih. Ibu jadi ingat lagi.” Saya tidak ingin berpura-pura hafal jika memang belum hafal. Saya memilih jujur kepada mereka.
Ternyata, meminta mereka menyebutkan nama justru menjadi sebuah proses belajar yang menyenangkan. Mereka membantu saya. Saya membantu mereka. Kami sama-sama belajar.

Saya kemudian menyadari  menghafal nama siswa bukan hanya persoalan daya ingat. Ada proses membangun kedekatan di dalamnya. Saya teringat dalam kehidupan ini, manusia diberikan begitu banyak nama dan wajah untuk dikenali. Allah Subhanahu Wata'alla menciptakan manusia dengan keunikan masing-masing. Tidak ada dua manusia yang benar-benar sama.

Dua anak yang memiliki nama panggilan hampir mirip pun tetap memiliki karakter yang berbeda. Al adalah Al. El adalah El. Mereka bukan sekadar nama dalam daftar presensi. Mereka adalah pribadi yang sedang tumbuh. Mereka adalah anak-anak yang kelak akan menjadi bagian dari masyarakat.

Mungkin suatu hari nanti mereka sudah dewasa. Mereka mungkin menjadi dokter, guru, pengusaha, polisi, tentara, petani, teknisi, seniman, atau profesi lain yang hari ini belum mereka bayangkan. Saya salah satu guru yang pernah hadir dalam perjalanan hidup mereka. Karena itu saya berusaha untuk tidak merasa malu ketika salah menyebut nama.

Saya justru menjadikannya sebagai pengingat bahwa saya harus terus belajar. Bukankah belajar tidak mengenal usia? Guru pun tetap seorang pembelajar. Saya belajar IPS dari buku. Saya belajar teknologi dari perkembangan zaman. Saya belajar kesabaran dari tingkah laku siswa.Saya belajar ketulusan dari anak-anak yang tetap menyapa meskipun terkadang nama mereka masih tertukar. Saya belajar kerendahan hati dari kesalahan-kesalahan kecil saya sendiri. 

Kadang saya berpikir, mungkin Allah Subhanahu Wata'alla sedang memberikan saya sebuah latihan melalui 256 anak ini. Latihan untuk lebih sabar. lebih teliti, lebih dekat dengan anak-anak, memahami bahwa setiap manusia ingin dihargai.

Mungkin saya belum mampu menghafal seluruh nama mereka dengan cepat. Saya tidak ingin berhenti berusaha. Setiap hari saya mencoba menyimpan satu nama lagi. Satu wajah lagi. Satu karakter lagi. Satu cerita lagi. Sedikit demi sedikit. Hari ini mungkin saya masih berkata, “Maaf, kamu siapa?”

Besok mungkin saya sudah mampu menyebut namanya. Ketika suatu hari seorang siswa datang lalu saya menyapanya lebih dulu, “Eh, Al!” atau “El, bagaimana kabarmu?” Saya yakin akan ada senyum kecil di wajah mereka. Bagi saya mungkin itu hanya keberhasilan mengingat sebuah nama. Tetapi bagi mereka, mungkin itu adalah pesan sederhana yaitu “Bu Saida mengingat saya.”

Betapa indah jika seorang guru bukan hanya diingat karena nilai, tugas, atau materi pelajaran yang pernah disampaikan, tetapi juga karena pernah membuat seorang anak merasa dikenal dan dihargai. Maka saya akan terus belajar, terus menghafal serta meminta mereka menyebutkan namanya jika saya lupa.

Saya akan terus memohon kepada Allah Subhanahu Wata'alla agar diberi kemudahan dalam menjalankan amanah sebagai seorang guru. Sebab pada akhirnya, menjadi guru bukan tentang seberapa cepat kita mampu menghafal 256 nama.

Lebih dari itu, menjadi guru adalah bagaimana kita mampu mengenal, menghargai, menyayangi, dan mendoakan 256 anak yang Allah Subhanahu Wata'alla titipkan dalam perjalanan pengabdian kita. Jika hari ini saya masih sering keliru antara Al dan El. semoga kesalahan kecil itu tidak mengurangi ketulusan saya dalam mendidik mereka. Karena saya percaya, setiap nama yang saya coba hafalkan adalah bagian dari doa.

Setiap wajah yang saya kenali adalah bagian dari amanah. Setiap anak yang saya temui adalah kesempatan dari Allah Subhanahu Wata'alla untuk belajar menjadi manusia yang lebih sabar, lebih rendah hati, dan lebih penuh kasih.

Terima kasih, anak-anakku. Kalian bukan sekadar nama dalam daftar presensi. Kalian adalah bagian dari cerita panjang perjalanan saya sebagai seorang guru. Semoga Allah Subhanahu Wata'alla memudahkan saya mengingat nama kalian, memahami karakter kalian, membimbing langkah kalian, dan menjaga kalian hingga menjadi pribadi-pribadi hebat yang bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama. Aamiin

Cepu, 13 Agustus 2026 

Rabu, 12 Agustus 2026

Minggu Membara


Karya : Gutamining Saida

Minggu Sore, air kolam renang Bumool Dengok Padangan menjadi saksi sebuah perjuangan kecil yang ternyata menyimpan makna kehidupan begitu besar. Hari demi hari, kolam ini semakin ramai. Bukan hanya oleh anak-anak yang bermain air atau mereka yang datang untuk belajar berenang. Aktivitas olahraga pun semakin beragam.

Ada renang yang pesertanya mulai dari anak-anak, remaja hingga orang tua. Ada terapi untuk ibu-ibu yang ingin menjaga dan memulihkan kebugaran. Ada zumba yang dipenuhi ibu-ibu dengan gerakan penuh semangat. Ada pula aerobik yang membuat suasana semakin hidup.

Sore ini terasa berbeda. Para ibu tidak hanya diajak menggerakkan tubuh. Mereka diajak berdamai dengan ketakutan. Mereka dibawa ke kolam dengan kedalaman sekitar 200 sentimeter. Bagi orang yang sudah terbiasa berenang, mungkin angka itu biasa saja. Tetapi bagi seseorang yang takut air, kedalaman dua meter bisa terasa seperti jurang yang sangat dalam.

Di sinilah perjuangan itu dimulai. Saya melihat tangan-tangan yang terus berpegangan pada bibir kolam, Kuat bahkan sangat kuat.  Seolah-olah jika tangan itu terlepaskan, sesuatu yang buruk akan terjadi.

Wajah-wajah tampak tegang. Ada rasa takut. Ada keraguan. Ada kecemasan. Tetapi bukankah kita semua pernah seperti itu? Bukankah dalam kehidupan, kita juga sering berpegangan pada sesuatu karena takut kehilangan?

Kita berpegangan pada keluarga. Berpegangan pada pekerjaan. Berpegangan pada harta. Berpegangan pada orang yang kita cintai. Berpegangan pada sesuatu yang membuat kita merasa aman. Padahal hidup mengajarkan bahwa tidak ada yang benar-benar kekal. Semua yang kita miliki hanyalah titipan. 

“Coba Tenggelam...” Instruksi diberikan oleh pak Gun

“Coba tenggelam, kemudian muncul kembali.”tambahnya

Sejenak suasana menjadi tegang. Tenggelam? Di kedalaman dua meter?

Bagi mereka yang takut, perintah itu tentu bukan perkara mudah. Satu demi satu mulai mencoba. Tubuh diturunkan. Wajah menyentuh air. Tenggelam. Kemudian muncul. Menarik napas. Mencoba lagi. Tenggelam. Muncul. Lagi. Dan lagi.

Pada awalnya tangan masih mencari pegangan. Kaki masih tegang. Napas belum teratur. Tetapi sesuatu mulai berubah. Rasa takut yang semula begitu besar, perlahan mulai mengecil. Bukankah ketakutan memang sering kali menjadi besar karena kita belum pernah mencoba menghadapinya?

Ketika kita berani mendekatinya, ternyata tidak selalu seburuk yang kita bayangkan. Ketika berani mencobanya, kita mulai berkata dalam hati,

"Ternyata saya bisa."

Kalimat sederhana. Bagi seseorang yang sedang berjuang melawan rasa takut, kalimat itu sangat berarti.

Sampai Tangan Itu Berani Lepas. Kemudian datang tahap yang lebih menggetarkan hati.

“Tangannya dilepas.”

Inilah saat yang mungkin paling sulit. Tangan yang sejak awal menjadi tempat bergantung harus dilepaskan. Perlahan. Pelan-pelan. Jari-jari mulai membuka. Pegangan dilepas. Tubuh tenggelam. Kemudian muncul. Tenggelam. Muncul. Berulang kali.

Setiap kali berhasil, ada sedikit keberanian yang tumbuh. Saya membayangkan, mungkin bukan hanya air yang sedang mereka lawan. Mungkin mereka sedang melawan suara di dalam hati yang selama ini berkata:

"Saya tidak bisa."

"Saya takut."

"Saya tidak berani."

"Bagaimana kalau saya gagal?"

Tetapi sore itu suara-suara itu perlahan dikalahkan oleh suara yang lain:

"Saya bisa."

"Saya berani."

"Saya mencoba."

Betapa indahnya sebuah keberanian yang lahir dari ketakutan. Keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Berani adalah tetap melangkah meskipun rasa takut masih ada.

Air Mengajarkan Tentang Kehidupan. Di dalam air, kita belajar bahwa tubuh tidak selalu harus melawan. Ada saatnya kita harus rileks, saatnya kita harus mengatur napas, saatnya kita harus percaya bahwa tubuh kita mampu bertahan.

Bukankah kehidupan juga demikian? Terlalu banyak melawan terkadang membuat kita semakin lelah. Terlalu banyak mencemaskan masa depan membuat hati kehilangan ketenangan. Terlalu kuat menggenggam sesuatu membuat kita lupa bahwa segala sesuatu adalah milik Allah.

Allah Subhanahu Wata'alla sedang mengajarkan melalui air,

Belajarlah tenang.

Belajarlah percaya.

Belajarlah melepaskan.

Ketika kita menyerahkan segala sesuatu kepada Allah Subhanahu Wata'alla setelah melakukan ikhtiar terbaik, hati menjadi lebih ringan.

Allah berfirman dalam QS. Al-Insyirah ayat 5:

“Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”

Minggu sore saya melihat ayat tersebut seakan hadir dalam bentuk nyata.

Ada kesulitan.

Ada ketakutan.

Ada perjuangan.

Kemudian sedikit demi sedikit datang kemudahan.

Dari Takut Menjadi Percaya Diri

Setelah keberanian mulai tumbuh, latihan dilanjutkan. Gaya bebas dipraktikkan. Gaya dada dicoba. Gaya punggung dipelajari. Bahkan gaya dolphin pun diperkenalkan. Lengkap sudah ilmu sore itu. Tetapi sebenarnya bukan hanya teknik berenang yang didapat. Ada ilmu yang jauh lebih penting.

Ilmu tentang keberanian.

Ilmu tentang mengendalikan rasa takut.

Ilmu tentang percaya kepada kemampuan diri.

Yang paling penting, ilmu tentang bersyukur.

Tubuh KITA yang masih bisa bergerak adalah nikmat. Napas yang masih bisa diatur adalah nikmat. Kaki yang masih mampu menendang air adalah nikmat. Tangan yang masih mampu mengayuh adalah nikmat.

Kesempatan untuk berkumpul, belajar, tertawa dan menjaga kesehatan bersama adalah nikmat yang sering kali kita lupa syukuri.

Lingkaran yang Menenangkan Hati

Menjelang akhir kegiatan, semua peserta diminta membuat formasi lingkaran. Tubuh sudah lelah. Tetapi hati terasa berbeda. Lebih ringan. Lebih tenang. Lingkaran itu seperti mengajarkan satu hal,

Tidak ada manusia yang harus berjalan sendirian.

Kita membutuhkan orang lain. Kita saling menguatkan. Saling menyemangati. Saling mendoakan. Di atas semua itu, kita membutuhkan Allah Subhanahu Wata'alla.

Minggu sore ada ibu yang datang membawa ketakutan. Tetapi ia pulang membawa keberanian. Ada yang datang dengan keraguan. Pulang dengan kepercayaan diri. Ada yang datang dengan kecemasan. Pulang dengan ketenangan.

Saya yakin, pengalaman sederhana di dalam kolam itu akan terbawa ke luar kolam. Ketika suatu hari menghadapi persoalan hidup, mungkin mereka akan teringat:

"Dulu saya takut masuk ke air sedalam dua meter. Tetapi saya mencoba. Saya berani melepaskan pegangan. Saya ternyata bisa."

Maka ketika menghadapi masalah kehidupan, semoga muncul keyakinan yang sama: "Saya pernah melewati ketakutan. Saya pasti bisa melewati ini. Dengan ikhtiar dan pertolongan Allah."

Semoga setiap tetes air menjadi saksi sebuah ikhtiar. Ikhtiar untuk sehat. Ikhtiar untuk berani. Ikhtiar untuk berdamai dengan diri sendiri. Ikhtiar untuk semakin dekat kepada Allah Subhanahu Wata'alla.

Bismillah dalam setiap langkah.
Tawakal setelah berusaha.
Syukur atas setiap nikmat yang Allah berikan.

Cepu, 10 Agustus 2026

Ilmu Yang Luar Biasa

 

Karya: Gutamining Saida

Kurang lebih sejak pukul 09.45 WIB Pak Gun membagikan sebuah video tentang ibu saya di grup Muda Swimming Squad 2. Saat itu saya hanya sempat melihat sekilas. Beberapa komentar teman-teman juga saya baca sambil lalu. Bukan karena tidak tertarik, tetapi hari Rabu memang menjadi hari yang cukup padat bagi saya.

Sejak jam pertama sampai jam terakhir, saya harus mengajar. Fokus saya tertuju pada tugas dan tanggung jawab di sekolah. Di sela-sela istirahat, sesekali saya membuka ponsel. Bukan untuk membaca semua percakapan di grup, tetapi hanya melihat pesan-pesan yang saya anggap penting.

Saya berpikir, nanti kalau sudah selesai mengajar, saya bisa membaca lebih tenang. Menjelang sore, setelah tugas mengajar selesai, saya mulai membuka kembali beberapa chat di grup Muda Swimming Squad 2.

Wiiiiih...

Ternyata banyak sekali ilmu yang dibagikan Pak Gun!

Saya yang tadi pagi hanya melihat sekilas, sore harinya justru mendapatkan banyak hal yang membuat saya berhenti sejenak untuk membaca. Ternyata, di balik obrolan sederhana di grup, ada banyak pesan tentang kesehatan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Pak Gun memang hampir setiap saat berbagi ilmu kesehatan di grup. Tidak hanya sekadar memberikan nasihat, tetapi mengajak kami memahami tubuh sendiri. Lebih menarik lagi, ketika berada di kolam, Pak Gun tidak banyak memberikan teori panjang. Ia lebih suka mengarahkan kami langsung untuk praktik.

“Begini gerakannya...”

Kemudian beliau memberikan contoh.

Kami tinggal mengikuti. Menurut saya, cara seperti ini justru membuat ilmu lebih mudah diterima. Tidak perlu terlalu banyak istilah rumit. Tidak harus mendengarkan teori waktu lama. Tubuh langsung bergerak, mencoba, merasakan, lalu belajar.

Banyak orang yang datang ke kolam membawa keluhan kesehatan masing-masing. Ada yang keluhannya ringan, ada pula yang cukup berat. Sebagian besar adalah ibu-ibu yang memiliki keinginan sederhana. Ingin sehat.

Tidak ada yang lebih mahal daripada kesehatan. Ketika tubuh sehat, kita bisa melakukan banyak hal. Bisa bekerja, mengajar, mengurus keluarga, berkumpul dengan teman, bepergian, bahkan sekadar menikmati pagi dengan perasaan tenang.

Ketika kesehatan terganggu, banyak hal yang sebelumnya terasa biasa menjadi sangat berarti. Berjalan terasa berat, tidur tidak nyaman, bekerja tidak maksimal. Bahkan tersenyum pun kadang membutuhkan perjuangan.

Pesan-pesan Pak Gun tentang kesehatan terasa begitu dekat. Dalam penuturannya, berbagai keluhan yang kita rasakan tidak selalu datang begitu saja. Ada hubungan antara kondisi tubuh dengan hati, pikiran, dan perasaan.

Kadang tubuh terasa lelah bukan semata-mata karena aktivitas fisik. Pikiran yang terlalu penuh juga bisa membuat tubuh ikut lelah. Hati yang tidak tenang bisa membuat tidur terganggu. Perasaan yang terus dipendam bisa membuat kita kehilangan semangat. Di sinilah saya mulai memahami bahwa menjaga kesehatan ternyata bukan hanya soal obat atau terapi, menjaga kesehatan berarti belajar menjaga pikiran, menjaga hati, mengelola perasaan. Tentu saja menjaga pola hidup.

Pak Gun selalu mengingatkan agar kita banyak bergerak, berolahraga, menjaga makan dan minum, serta memberikan tubuh waktu yang cukup untuk beristirahat. Sederhana. Tetapi sering kali justru hal-hal sederhana itulah yang paling sulit kita lakukan. Kita tahu olahraga itu penting, tetapi sering malas bergerak. Kita tahu makanan harus dijaga, tetapi godaan makanan enak begitu besar. Kita tahu istirahat cukup itu penting, tetapi sering kali kita masih sibuk dengan pekerjaan.

Kita tahu pikiran harus tenang, tetapi masalah kehidupan terus datang silih berganti. Maka pesan Pak Gun sebenarnya bukan sekadar tentang berenang. Lebih jauh dari itu, beliau sedang mengajak kami mengubah kebiasaan, mengajak kami lebih peduli kepada tubuh sendiri.

Salah satu bagian chat yang saya baca berisi beberapa keluhan yang sering dialami banyak orang. Sakit gigi, linu-linu, nyeri karena otot kaku, sampai leher yang terasa “cengeng” karena salah posisi tidur atau bantal. 

Saya membaca pelan-pelan. Sampai akhirnya tiba pada kalimat terakhir. Saya langsung tersenyum. “Eh...” Rasanya seperti membaca promosi seorang tukang jamu! Hahaha... Ada saja cara Pak Gun menyampaikan pesan kesehatan yang membuat pembacanya tidak merasa sedang digurui.

Saya sebenarnya ingin ikut berkomentar di grup. Namun ketika melihat jam, ternyata sudah malam. Saya pun berpikir, kalau sekarang baru ikut berkomentar, rasanya berita serunya sudah kedaluwarsa

Akhirnya saya hanya tersenyum sendiri sambil membaca kembali beberapa pesan. Terlambat membaca, tetapi tidak terlambat mendapatkan ilmu. Itulah yang saya rasakan .Kadang sebuah pesan memang tidak harus langsung kita respons. Yang lebih penting, pesan tersebut sampai kepada kita pada waktu yang tepat.

Dari Pak Gun saya belajar berbagi ilmu tidak harus selalu melalui ruang kelas, seminar, atau buku tebal. Ilmu bisa datang dari kolam renang, percakapan sederhana, gerakan yang dicontohkan, sebuah chat di grup yang kita baca setelah pekerjaan selesai.

Dan yang paling penting, ilmu tersebut akan menjadi berarti apabila kita mau mempraktikkannya. Saya pun kembali teringat pada teman-teman di kolam. Mereka datang dengan cerita kesehatan masing-masing, ingin mengurangi rasa sakit, ingin tubuh lebih kuat, ingin kembali aktif, ingin menjaga kesehatan agar tetap bisa mendampingi keluarga.

Tujuannya berbeda-beda, tetapi ada satu kesamaan yaitu Kami ingin sehat. Mungkin itulah alasan mengapa kolam renang terasa begitu istimewa. Di sana kami tidak hanya belajar menggerakkan tangan dan kaki, belajar mendengarkan tubuh, belajar bersabar, belajar konsisten, belajar kesehatan tidak bisa diperoleh hanya dalam satu atau dua kali latihan. Kesehatan membutuhkan kebiasaan, kemauan,  kesadaran dari dalam diri sendiri.

Mungkin benar apa yang sering disampaikan Pak Gun, bahwa tubuh kita perlu diajak bergerak. Jangan menunggu sakit baru mulai peduli. Jangan menunggu tubuh memberi tanda keras baru kita memperhatikan pola hidup.

Mulailah dari hal kecil, bergerak, berolahraga, menjaga makanan dan minuman. Beristirahat, menjaga pikiran, menjaga hati, menjaga perasaan. Saya mungkin terlambat membaca pesan Pak Gun. Tetapi saya justru mendapatkan pelajaran yang lebih dalam.

Terlambat membaca bukan berarti terlambat belajar. Dan sebuah pesan sederhana di grup WhatsApp ternyata bisa menjadi pengingat besar, kesehatan adalah investasi yang harus dijaga setiap hari. Terima kasih, Pak Gun. Terima kasih sudah tidak bosan berbagi ilmu. Terima kasih sudah mengajarkan kesehatan bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan gerakan.

Semoga kami semua bukan hanya rajin membaca pesan kesehatan di grup, tetapi juga rajin mempraktikkannya. Karena pada akhirnya, kesehatan bukan sekadar pengetahuan. Kesehatan adalah kebiasaan yang kita lakukan setiap hari.

Malam ini sambil tersenyum merasa ketinggalan “berita seru” di grup, saya kembali menyadari satu hal yaitu Tidak apa-apa menjadi pembaca terakhir, selama kita tetap menjadi pelaku yang tidak pernah berhenti menjaga kesehatan.

Cepu, 13 Agustus 2026

Sebuah Tawa

Karya: Gutamining Saida

Ada kalanya sebuah pertemuan tidak perlu dirancang dengan istimewa untuk meninggalkan kesan yang mendalam. Tidak harus ada acara besar, permainan yang meriah, atau pembelajaran dengan media yang penuh warna. Kadang-kadang, sebuah kalimat sederhana yang terlontar tanpa sengaja justru mampu membuka kembali pintu kenangan yang sempat tertutup.

Kamis saya mendapat tugas piket di kelas 8F. Saya masuk ke kelas bukan sebagai guru yang membawa jadwal pembelajaran seperti biasanya. Saya datang untuk menggantikan guru yang berhalangan hadir. Mata pelajaran yang kosong adalah Seni Budaya. Ada sesuatu yang lebih menarik daripada sekadar menggantikan guru yang tidak hadir.

Saya kembali bertemu dengan anak-anak kelas 8F. Sudah sebulan saya tidak pernah berdiri di depan mereka. Sejak awal tahun pembelajaran 2026–2027, saya memang tidak mendapatkan jadwal mengajar di kelas 8F. Hari-hari berlalu begitu saja. Saya hanya sesekali bertemu dengan mereka ketika berpapasan di halaman sekolah.

Kadang ada yang menyapa. Kadang hanya saling melempar senyum. Kadang saya melihat mereka dari kejauhan ketika sedang berjalan menuju kelas masing-masing. Pertemuan di halaman tentu berbeda dengan pertemuan di dalam kelas. Di halaman, kami hanya bertemu beberapa detik. Tidak ada kesempatan untuk bertanya, bercanda, atau melihat ekspresi mereka lebih lama.

Ketika kaki saya melangkah masuk ke kelas 8F, ada perasaan yang sulit dijelaskan. Rasanya seperti kembali ke sebuah ruang yang pernah begitu akrab. Mereka tampak menyadari kehadiran saya. Saya melihat wajah-wajah yang sebenarnya masih saya kenali. Ada yang langsung tersenyum,  memperhatikan, mungkin masih menyimpan kebiasaan-kebiasaan kecil mereka ketika saya mengajar dahulu.

Bertemu di halaman berbeda banget sama ketemu di kelas. Di halaman cuma sebentar. Kami tidak sempat ngobrol, bercanda, atau lihat ekspresi mereka lebih lama. Jadi waktu saya melangkah masuk ke kelas 8F pagi itu, rasanya  balik ke tempat yang dulu akrab banget, tapi belakangan menjadi agak jauh. 

Saya kemudian bertanya kepada mereka,

“Bagaimana kabar kalian?”

Ada satu suara yang nyeletuk dari salah satu sudut kursi belakang. Saya langsung mengenali suara itu. "Zio" menjawab dengan suara lantang, Anak yang memang sering komentar spontan. Kadang jawabannya membuat kelas jadi hidup. 

“Sehat, Paak!”

Sejenak kelas hening. Lalu…Hahaha!

Seketika satu kelas tertawa. Tidak ada aba-aba. Tidak ada yang memimpin. Tidak ada komando. Tawa itu muncul begitu saja, seperti air yang tiba-tiba mengalir setelah bendungan dibuka. Zio sendiri ikut tertawa. Wajahnya tampak santai. Tidak terlihat sedikit pun ekspresi bersalah. Seolah-olah ia tidak merasa salah. Saya pun tidak bisa menahan senyum. Saya memandang ke arah Zio.

“Lho… memangnya saya lelaki?” tanya saya.

Zio tersenyum. “Maaf, Bu,” jawabnya sambil tetap tersenyum.

Jawaban sederhana itu justru semakin membuat suasana kelas hangat. Saya ikut tertawa. Anak-anak pun kembali tertawa. Saya sedang menemukan kembali sebuah kebersamaan yang sempat hilang. Sebulan tidak bertemu dalam pembelajaran ternyata membuat pertemuan terasa begitu berarti. Saya melihat wajah-wajah mereka yang dahulu setiap minggu ada di depan saya. Saya mendengar kembali suara-suara khas mereka. Saya melihat senyum yang mungkin selama ini hanya saya jumpai sekilas di halaman sekolah.

Ada aura bahagia yang tiba-tiba tercipta. Tawa Zio menjadi pemantik. Kalimat “Sehat, Paak!” yang sebenarnya salah sebut justru menjadi pintu pembuka sebuah pertemuan yang hangat. Betapa seringnya kita sebagai guru terlalu sibuk mengejar target pembelajaran, menyelesaikan materi, memberikan tugas. Mengoreksi pekerjaan siswa. Mengisi administrasi. Semua itu memang penting.

Tetapi terkadang kita lupa bahwa di balik semua proses tersebut ada manusia-manusia kecil yang sedang bertumbuh, membutuhkan ruang untuk tertawa, membutuhkan guru yang bisa tersenyum bersama mereka, membutuhkan suasana kelas yang membuat mereka merasa diterima.

Bagi saya, tawa mereka adalah hadiah. Ada rasa kangen yang sedikit terobati. Mungkin Zio bakal lupa tugas yang saya berikan. Teman-temannya juga mungkin nggak ingat detail obrolan setelahnya. Saya berharap mereka nggak lupa satu hal, pagi itu kita pernah ketawa bareng. Kamis pagi yang paling terasa bukan cuma sehat, tapi bahagia. Sampai jumpa lagi.

Cepu, 13 Agustus 2026


Senin, 10 Agustus 2026

Telur Ceplok



Karya: Gutamining Saida

Jam pertama sampai kedua adalah waktunya saya menjalankan tugas mengajar IPS. Bagi sebagian siswa, dua jam pelajaran mungkin terasa biasa saja. Bagi saya, setiap pertemuan selalu memiliki kesempatan untuk menciptakan sesuatu yang berbeda.

Saya sadar betul IPS sering kali masih dianggap sebagai mata pelajaran yang kurang penting. Bahkan tidak sedikit siswa yang menganggap IPS sebagai mata pelajaran yang membosankan. Mereka lebih mudah mengatakan, “IPS mata pelajaran kurang keren, tidak penting, hafalan.”

Anggapan seperti itulah yang membuat saya tertantang. Sebagai guru IPS sekaligus wali kelas mereka, saya tidak ingin hanya menyampaikan materi, memberikan tugas, lalu selesai. Saya ingin mengubah cara pandang mereka. Saya ingin membuat mereka merasakan IPS bukan sekadar tulisan di buku, bukan sekadar nama tokoh, tempat, tahun, peta, atau teori yang harus dihafalkan.

IPS adalah kehidupan. Setiap hari kita bersentuhan dengan IPS. Ketika kita berbicara dengan teman, bekerja sama dalam kelompok, berinteraksi dengan guru, berbelanja di kantin, menggunakan uang, mengikuti aturan sekolah, mengenal lingkungan, memahami perbedaan karakter teman, bahkan ketika kita menentukan cita-cita dan mempersiapkan masa depan semuanya memiliki hubungan dengan ilmu pengetahuan sosial.

Manusia adalah makhluk sosial. Itulah yang ingin saya tanamkan kepada mereka. Bagaimana caranya agar pesan itu tidak hanya berhenti sebagai nasihat? Saya pun mencoba menghadirkan sesuatu yang sederhana.

Telor ceplok.

Ya, telor ceplok!

Mungkin terdengar lucu. Apa hubungannya IPS dengan telor ceplok?  Saya siapkan media pembelajaran berupa gambar telor ceplok. Saya ingin mengajak mereka seolah-olah sedang sarapan pagi bersama. Bukan sarapan biasa, menu sarapan telor ceplok spesial.

Telor ceplok itu saya jadikan simbol. Putih telurnya mengingatkan tentang ketulusan. Kuning telurnya menjadi simbol semangat yang harus terus menyala. Keseluruhan telor ceplok menjadi gambaran  sesuatu yang sederhana bisa menjadi luar biasa apabila dikemas dengan kreativitas.

Saya masuk kelas VIIIA sebagai guru IPS sekaligus wali kelas dengan membawa media yang sudah siap. Saya bisa membayangkan rasa penasaran mereka.

“Mau belajar apa, Bu?”

“Mengapa ada telor ceplok?”

“Mau sarapan, Bu?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang saya harapkan muncul. Saya ingin menciptakan rasa penasaran sebelum materi dimulai. Menurut saya, pembelajaran yang menyenangkan tidak selalu membutuhkan media yang mahal. Tidak harus menggunakan teknologi canggih. Tidak harus menggunakan alat yang rumit.

Kadang-kadang sebuah telor ceplok yang sederhana mampu membuka pintu perhatian siswa. Saya pun mengajak mereka untuk “sarapan pagi”. 

"Ayo kita sarapan pagi bersama dengan telor ceplok."ucap saya sambil menata telor ceplok di meja. "Saya sudah sarapan di rumah, bu." jawab Rangga. Suasana kelas menjadi lebih hidup.

"Wah baguus bila sudah sarapan!"jawab saya

"Sarapan pagi ini tidak membuat kalian kenyang."

"Kalau tidak kenyang, lalu bagaimana bu?"tanya Dika

"Kalian menjadi haus."jawab saya singkat

"Koook bisa bu?"tanya Mustofa

"Ya iyalah, haus ilmu pengetahuan maksudnya!"

"Oooooh begitu."jawab Atta

"Membuat kalian sehat dan melek pikiran."jawab saya

Bukan sekadar sarapan makanan, tetapi sarapan semangat. Saya ingin mereka sehat jasmani sekaligus sehat pikiran. Sebab masa depan tidak cukup hanya dibangun dengan tubuh yang sehat. Pikiran juga harus sehat. Cara berpikir harus berkembang. Hati harus memiliki semangat. Pengetahuan harus terus bertambah.

Saya ingin setiap siswa memiliki keyakinan bahwa mereka mampu mencapai kesuksesan di masa depan. Kesuksesan itu tidak datang tiba-tiba. Kesuksesan membutuhkan proses. Belajar. Berlatih. Bekerja sama. Menghargai orang lain. Mampu berkomunikasi. Mampu memahami lingkungan. Mampu mengambil keputusan. Semua itu ada di IPS.

Saya sering berpikir, mungkin selama ini yang membuat IPS terasa membosankan bukan karena materinya tidak menarik. Bisa jadi cara menyampaikannya yang perlu terus diperbarui. Guru IPS harus memiliki seribu cara. Ketika siswa bosan dengan buku, kita hadirkan gambar. Ketika mereka jenuh dengan tulisan, kita hadirkan permainan.

Sebuah benda sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari saya ubah menjadi pintu masuk pembelajaran. Saya ingin mereka memahami belajar tidak harus selalu dalam suasana tegang. Belajar boleh tertawa. Belajar sambil bermain. 

Ada perubahan kecil dalam cara mereka memandang pelajaran. Sebagai wali kelas, saya mempunyai tanggung jawab yang lebih dari sekadar mengajar materi. Saya ingin mengenal mereka. Saya ingin memahami karakter mereka. Saya ingin melihat kelebihan mereka. Saya ingin membangun kepercayaan diri mereka.

Saya ingin kelas menjadi tempat yang membuat mereka merasa aman untuk belajar, bertanya, mencoba, bahkan melakukan kesalahan. Saya percaya, anak-anak tidak hanya membutuhkan guru yang pintar menjelaskan materi. Mereka membutuhkan guru yang mampu menyalakan api semangat di dalam dirinya.

Api kecil itu mungkin hari ini hanya berupa rasa senang mengikuti pembelajaran. Besok berubah menjadi rasa ingin tahu. Lusa menjadi kebiasaan belajar. Suatu hari nanti mungkin berubah menjadi kesuksesan.

Saya tidak pernah tahu siswa mana yang kelak menjadi dokter, guru, pengusaha, polisi, tentara, pejabat, ilmuwan, seniman, atau profesi lainnya. Tetapi saya tahu satu hal. Mereka adalah generasi masa depan.

Karena itu, setiap pertemuan dengan mereka adalah kesempatan untuk menanam sesuatu. Bukan hanya materi pelajaran. Tetapi juga karakter. Semangat. Kemandirian. Kerja sama. Tanggung jawab. Serta kecintaan terhadap proses belajar.

Telor ceplok pagi itu akhirnya bukan sekadar media pembelajaran. Ia menjadi sebuah pesan. Sesuatu yang dianggap sederhana bisa memiliki makna besar. Pelajaran yang dianggap tidak penting bisa menjadi sangat dekat dengan kehidupan.

IPS yang dianggap kurang keren ternyata ada di mana-mana, di rumah, sekolah, pasar, lingkungan masyarakat, media sosial, dunia kerja. Hubungan kita dengan sesama manusia. IPS mengajarkan kita memahami manusia, lingkungan, perubahan, perbedaan dan memahami  hidup bersama sebagai bagian dari masyarakat.

Maka saya ingin mengubah satu kalimat di dalam kelas saya. Bukan lagi, “IPS itu membosankan.” Tetapi, “IPS itu kehidupan kita.” “IPS membantu kita memahami kehidupan.”

Sabtu pagi dua jam pelajaran. Saya berharap dua jam dapat meninggalkan sesuatu yang lebih panjang daripada sekadar catatan di buku. Saya berharap ada semangat yang tumbuh, senyum yang hadir dan  kecintaan baru terhadap IPS.

Telor ceplok bisa berubah menjadi sarapan semangat, sarapan ilmu, dan sarapan harapan untuk masa depan. Guru berusaha membuat siswa percaya dirinya mampu belajar, mampu berkembang, dan mampu menjadi manusia hebat di masa depan. Semangat  kecil hari ini, kelak bisa menjadi cahaya besar dalam perjalanan hidup mereka. Aamiin.

Cepu, 8 Agustus 2026


Rabu, 05 Agustus 2026

Salah Nama

 

Karya: Gutamining Saida

Tahun ajaran 2026–2027 menjadi babak baru dalam perjalanan saya sebagai guru IPS. Kini saya kembali menyambut siswa-siswi kelas VII yang baru memasuki dunia SMP. Rasanya seperti kembali ke titik awal. Mereka datang dengan wajah-wajah penuh harapan, rasa ingin tahu, dan semangat yang meluap-luap. Salah satu kelas yang menjadi tempat saya berbagi adalah kelas 7C.

Sejak pertemuan pertama, saya sudah bisa merasakan bahwa kelas ini berbeda. Suasananya hidup, ramai, penuh energi, bahkan terkadang terasa sangat heboh. Di balik keramaian itu tersimpan semangat belajar yang luar biasa. Mereka aktif bertanya, antusias menjawab, tidak takut mengemukakan pendapat, dan selalu membuat pembelajaran terasa lebih berwarna. Kelas 7C benar-benar menjadi ruang belajar yang seru.

Saya sering bercanda kepada mereka. "Wah, kelas ini cowok-cowoknya ganteng semua, cewek-ceweknya cantik-cantik, ditambah lagi kreatif." Mendengar ucapan itu, mereka langsung tertawa. Ada yang malu-malu, ada yang tersenyum bangga, bahkan ada yang saling menunjuk temannya sambil bercanda. Suasana kelas pun menjadi semakin akrab.

Ketua kelas 7C bernama Jonathan. Dia berasal dari Merah Molyorejo. Agar terdengar lebih unik dan mudah saya ingat, saya sering menggodanya dengan menyebut, "Jonathan rumahnya Blok M." Anak-anak langsung tertawa karena mereka tahu yang saya maksud bukan Blok M di Jakarta, melainkan singkatan yang saya buat sendiri dari Desa Merah. Candaan sederhana itu justru membuat suasana kelas menjadi lebih cair.

Meski demikian, ada satu tantangan yang selalu hadir di awal tahun ajaran, yaitu menghafalkan nama seluruh siswa. Bagi saya yang mengajar tujuh kelas, mengingat ratusan nama dalam waktu singkat bukanlah perkara mudah. Saya baru berhasil menghafal beberapa nama saja.

Di antara siswi yang mulai saya kenal ada Kia, Yunior, Zahwa, Jihan, dan tentu saja Muna. Muna adalah siswi yang paling mudah saya ingat. Bukan karena  karena duduk di barisan belakang, melainkan karena ia sangat aktif berbicara. Hampir setiap kesempatan selalu ada saja yang ingin ia sampaikan. Wajahnya manis, kulit sawo matang, senyumnya ceria, dan ia berasal dari Sambong. Kehadirannya membuat suasana kelas selalu hidup.

Sementara itu, dari siswa laki-laki saya mulai mengenal Bagus, Afif, Alvaro, dan Saka. Walaupun beberapa nama sudah saya hafal, tidak jarang saya masih tertukar ketika memanggil mereka.

"Bambang... eh, maaf, ternyata Bagus."

"Afif... eh, ternyata Alvaro."

Begitulah yang sering terjadi. Setiap kali saya salah menyebut nama, ekspresi mereka berubah. Ada yang langsung tersenyum malu, ada yang tertawa, tetapi ada juga yang memasang wajah kecewa seolah berkata, "Bu..., masa nama saya belum hafal juga?"

Melihat wajah-wajah itu saya selalu meminta maaf sambil berkata, "Sabar ya, Bu Saida masih proses menghafal. Nanti pasti hafal semuanya." Mereka pun akhirnya tersenyum lagi. Saya menyadari bahwa memanggil siswa dengan nama yang benar bukan sekadar formalitas. Nama adalah identitas. Ketika seorang guru mengingat nama muridnya, mereka merasa dihargai, diperhatikan, dan diakui keberadaannya. Karena itulah saya terus berusaha menghafalkan nama satu per satu.

Ternyata, bukan hanya saya yang sering keliru. Mereka pun pernah melakukan kesalahan yang hingga kini selalu mengundang tawa. Suatu hari, saat saya berjalan di lingkungan kelas tujuh, tiba-tiba terdengar suara keras dari kejauhan.

"Bu Peniiiiii...!"

Saya tetap berjalan tanpa menoleh. Dalam hati saya berpikir, "Itu pasti memanggil guru PKn. Beberapa langkah kemudian suara itu terdengar lagi, bahkan lebih keras.

"Bu Peniiiiii...!"

Saya masih tidak merasa dipanggil. Tidak lama kemudian terdengar untuk ketiga kalinya.

"Bu Peniiiiii...!"

Karena penasaran, saya menoleh ke belakang. Ternyata ada seorang siswi yang melambaikan tangan sambil tertawa lebar. Ia adalah Muna. Saya pun ikut tertawa.

"Muna... itu bukan nama saya."

Wajahnya langsung berubah malu. Sambil tersenyum ia berkata, "Maaf, Bu... mirip bu Peni."

Sejak kejadian itu, setiap kali kami berpapasan di sekolah, Muna selalu tersenyum, sering tertawa sendiri. Mungkin ia masih teringat kekeliruannya memanggil saya dengan nama guru lain. Saya pun selalu membalas senyumnya. Kesalahan kecil itu justru menjadi kenangan yang menyenangkan.

Peristiwa sederhana tersebut mengajarkan saya proses saling mengenal membutuhkan waktu. Guru sedang belajar mengenal siswanya, sementara siswa juga sedang belajar mengenal guru-gurunya. Tidak ada yang perlu ditertawakan dengan rasa malu, karena semua itu merupakan bagian dari perjalanan membangun kedekatan.

Saya percaya, hubungan yang baik antara guru dan siswa tidak selalu dibangun melalui pelajaran yang rumit. Justru sering kali lahir dari percakapan ringan, candaan sederhana, atau bahkan kekeliruan yang mengundang tawa. Momen-momen seperti itulah yang membuat kelas terasa hangat dan penuh kenangan.

Setiap kali memasuki kelas 7C, saya semakin bersemangat. Sedikit demi sedikit nama mereka mulai saya hafal. Saya yakin suatu hari nanti saya akan mengenal mereka bukan hanya dari namanya, tetapi juga dari karakter, cita-cita, bakat, dan impian yang mereka miliki.

Kelas 7C telah mengingatkan saya bila menjadi guru bukan hanya tentang menyampaikan materi. Menjadi guru juga membangun hubungan, menumbuhkan rasa percaya, dan menciptakan kenangan indah yang akan selalu dikenang. Siapa sangka, sebuah kesalahan memanggil nama justru menjadi awal lahirnya kedekatan, tawa, dan cerita yang akan selalu tersimpan dalam ingatan, baik bagi guru maupun bagi siswanya. Semoga selalu ingat pada guru IPS kalian.

Cepu, 6 Agustus 2026

Selasa, 04 Agustus 2026

Batu


Karya: Gutamining Saida

Allah Subhanahu Wata'alla tidak pernah menciptakan sesuatu tanpa hikmah. Langit yang membentang, pepohonan yang tumbuh, air yang mengalir, hingga tumpukan batu yang tampak diam sekalipun, semuanya menyimpan pelajaran bagi orang-orang yang mau berpikir.

Saat menatap tumpukan batu di alam, saya terpaku sejenak. Batu-batu itu memiliki ukuran yang berbeda. Ada yang besar, sedang, dan kecil. Namun, ketika tersusun secara alami, semuanya tampak serasi. Tidak saling berebut tempat. Tidak saling menjatuhkan. Justru perbedaan itulah yang melahirkan keindahan.

Saya membayangkan, batu-batu itu telah berada di sana bertahun-tahun, bahkan mungkin puluhan atau ratusan tahun. Hujan datang silih berganti, panas matahari menyengat, angin bertiup kencang, tetapi mereka tetap berdiri pada tempatnya. Alam telah mengajarkan keseimbangan yang begitu indah.

Pemandangan itu mengingatkan saya bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dengan ukuran dan ketentuan yang sempurna. Tidak ada yang sia-sia. Batu besar memiliki fungsinya, demikian pula batu kecil. Semua saling melengkapi dalam harmoni ciptaan-Nya.

Keindahan itu dapat berubah dalam waktu singkat ketika tangan manusia mulai ikut campur tanpa rasa tanggung jawab. Batu-batu yang semula tersusun rapi dipindahkan sesuka hati, dipecah, diambil, atau dirusak demi kepentingan sesaat. Alam yang indah perlahan kehilangan pesonanya karena ulah manusia sendiri.

Bukankah Allah telah mengingatkan dalam Al-Qur'an bahwa kerusakan di darat dan di laut terjadi karena perbuatan tangan manusia? Ayat itu menjadi pengingat bahwa manusia diberi amanah sebagai khalifah di bumi, bukan sebagai perusaknya. Menjaga alam berarti menjaga titipan Allah, sedangkan merusaknya berarti mengkhianati amanah yang telah diberikan.

Tumpukan batu itu akhirnya mengajarkan saya sebuah pelajaran yang sangat berharga. Kehidupan akan indah apabila setiap orang mampu menempatkan diri sesuai porsinya. Yang kuat melindungi yang lemah. Yang besar tidak meremehkan yang kecil. Perbedaan bukan alasan untuk saling menjatuhkan, tetapi kesempatan untuk saling menguatkan.

Semoga setiap langkah tadabur kepada alam semakin menambah keimanan kepada Allah.. Semoga mata kita tidak hanya melihat keindahan ciptaan-Nya, tetapi juga mampu menangkap hikmah di balik setiap ciptaan. Semoga kita termasuk hamba-hamba yang menjaga bumi dengan penuh rasa syukur, sehingga alam tetap indah untuk dinikmati oleh generasi yang akan datang. Aamiin.

Cepu, 4 Agustus 2026

Jepang

Karya: Gutamining Saida

Jam pelajaran ke 5-6 saya mengajar IPS di kelas 7C. Matahari siang mulai terasa hangat. Sebagian siswa baru saja selesai beristirahat. Ada yang masih membawa semangat, ada pula yang tampak mulai lelah. Sebelum memulai materi, saya memiliki kebiasaan sederhana, yaitu menyapa siswa satu per satu. Sapaan itu menjadi cara saya membangun kedekatan sekaligus mengetahui keadaan mereka.

Saat memasuki kelas, pandangan saya tertuju kepada seorang siswa yang duduk di pojok depan. Namanya Afif. Minggu sebelumnya ia tidak masuk sekolah karena izin. Sebagai guru, saya merasa perlu menanyakan kabarnya. Bukan untuk menginterogasi, melainkan menunjukkan bahwa kehadirannya berarti dan selalu diperhatikan.

Saya menghampiri bangkunya. "Afif, minggu kemarin ke mana? Kok tidak masuk sekolah?"

Tanpa berpikir lama, Afif menjawab dengan wajah polos.

"Saya habis dari Jepang, Bu Saida."

Saya sejenak terdiam. Dalam hati saya langsung membayangkan Negeri Sakura. Pikiran saya melayang pada bunga sakura yang bermekaran, Gunung Fuji yang megah, hingga kota Tokyo yang modern. Saya bahkan sempat merasa kagum.

"Wah... luar biasa sekali. Jalan-jalannya jauh amat," kata saya spontan.

Kemudian saya bertanya lagi dengan rasa penasaran.

"Oleh-olehnya apa?"

"Oleh-olehnya barongan."

"Lho...kok!"

"Naik apa ke Jepang?"

Belum sempat saya menerka jawabannya, Afif langsung menjawab dengan penuh percaya diri.

"Itu lho, Bu... Jepang itu Jejeree Ketapang."

Seketika seluruh kelas meledak dalam gelak tawa. Anak-anak tertawa lepas. Bahkan saya sendiri ikut tertawa karena baru menyadari bahwa yang dimaksud bukan negara Jepang, melainkan sebuah istilah yang mereka ciptakan sendiri.

Begitulah dunia anak-anak zaman sekarang. Mereka sangat kreatif memainkan kata. Sebuah singkatan sederhana mampu membuat orang dewasa berpikir jauh, sementara mereka menikmati kelucuannya dengan sangat alami.

Saya pun ikut menikmati suasana tersebut. Tawa yang memenuhi ruang kelas membuat suasana belajar menjadi hangat dan penuh kegembiraan. Tidak ada rasa malu ataupun takut. Yang ada hanyalah kebersamaan.

Saya kemudian berkata kepada seluruh siswa, "Nah, ini namanya kreativitas. Tapi kalau Bu Saida tadi benar-benar percaya kamu habis dari Jepang, berarti kamu pintar membuat cerita."

Seluruh siswa kembali tertawa. Peristiwa sederhana itu membuat saya merenung. Ternyata bahasa terus berkembang mengikuti zamannya. Anak-anak memiliki dunia sendiri, lengkap dengan istilah, singkatan, dan cara berkomunikasi yang terkadang belum tentu dipahami oleh orang dewasa.

Sebagai guru, saya menyadari , kita tidak harus selalu menjadi orang yang paling tahu. Ada kalanya justru siswa yang mengenalkan kosakata baru kepada gurunya. Hubungan belajar akhirnya menjadi dua arah. Guru mengajarkan ilmu pengetahuan, sedangkan siswa mengajarkan bagaimana memahami perkembangan bahasa dan budaya generasi mereka.

Saya pun menjelaskan kepada mereka bahwa kreativitas memang baik, tetapi harus digunakan pada tempat yang tepat. Bermain kata boleh saja untuk menciptakan suasana ceria, selama tidak digunakan untuk mengejek, menyakiti teman, ataupun menyebarkan informasi yang tidak benar.

Kelas kembali menjadi tenang. Kami melanjutkan pembelajaran IPS dengan semangat yang berbeda. Tawa tadi mampu mengembalikan energi siswa yang mulai menurun karena belajar di jam siang. Mereka lebih aktif bertanya, lebih berani menjawab, dan lebih antusias mengikuti kegiatan pembelajaran.

Menjadi guru harus siap menerima kejutan setiap hari. Kadang kejutan itu datang dari jawaban siswa, tingkah laku mereka, atau cara mereka memandang dunia yang jauh berbeda dengan orang dewasa.

Afif mungkin tidak menyadari bahwa jawabannya hari itu akan menjadi kenangan yang sulit saya lupakan. Kalimat "Saya habis dari Jepang" ternyata berhasil menghidupkan suasana kelas hanya dalam hitungan detik. Tawa yang tercipta menjadi pengingat bahwa belajar tidak harus selalu serius. Sesekali humor yang santun justru membuat pembelajaran semakin bermakna.

Saya juga belajar untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan. Ketika mendengar kata "Jepang", pikiran saya langsung menuju sebuah negara yang sangat jauh. Dalam dunia anak-anak, maknanya bisa saja berbeda. Inilah pentingnya mendengarkan sampai selesai sebelum memberikan tanggapan.

Setiap generasi memiliki cara berkomunikasi yang unik. Jika guru mau membuka diri, maka ruang kelas akan menjadi tempat yang menyenangkan bagi semua. Siswa merasa dihargai, guru pun mendapatkan pengalaman baru setiap harinya.

Saya keluar kelas dengan membawa satu cerita baru. Bukan cerita tentang perjalanan ke Negeri Sakura, melainkan perjalanan memahami dunia anak-anak yang penuh kreativitas. Mereka mengajarkan bahwa belajar dapat dimulai dari tawa, dilanjutkan dengan rasa ingin tahu, lalu berakhir menjadi pengalaman yang akan selalu dikenang.

Terima kasih, Afif. Berkat "Jepang" versimu, kelas 7C hari itu menjadi lebih hidup. Saya semakin yakin bahwa setiap anak memiliki cara unik untuk menghadirkan warna dalam pembelajaran. Tugas guru adalah menangkap warna-warna itu, merangkainya menjadi semangat belajar, lalu menjadikannya kenangan indah yang akan terus hidup dalam perjalanan pendidikan. Sukses buat kelas 7C.

Cepu, 4 Agustus 2026

Senin, 03 Agustus 2026

Kopi Pagi yang Menghidupkan Semangat

 

Karya: Gutamining Saida

Senin pagi memiliki energi yang berbeda. Bagi sebagian orang, pagi identik dengan secangkir kopi yang menghangatkan tubuh dan membangkitkan semangat memulai aktivitas. Begitu pula yang saya rasakan ketika memasuki jam pelajaran ke-4 sampai ke-5 di kelas 7A. Saya ingin menghadirkan suasana belajar yang tidak biasa. Saya ingin anak-anak merasakan bahwa belajar IPS juga bisa menyenangkan, penuh tantangan, dan membuat mereka bersemangat sejak pagi.

Sebelum memasuki kelas, saya telah menyiapkan sebuah media pembelajaran sederhana. Bentuknya gambar-gambar kopi saset GULA AREN yang saya beri nama KOPAG, singkatan dari Kopi Pagi. Nama itu sengaja dipilih karena mudah diingat, terdengar akrab, dan sesuai dengan waktu pembelajaran yang masih berlangsung di pagi hari. Saya berharap, sebagaimana satu saset kopi mampu membangunkan semangat seseorang, media pembelajaran ini juga mampu membangunkan semangat belajar peserta didik.

Selesai menjelaskan materi, saya langsung menata media tersebut di atas dua meja. Satu meja saya siapkan untuk peserta didik perempuan, sedangkan satu meja lainnya untuk peserta didik laki-laki. Tiga puluh lima gambar kopi saya susun dengan rapi sehingga tampak menarik perhatian. Belum juga tantangan dimulai, mata anak-anak sudah tertuju pada meja di depan kelas.

Rasa penasaran mulai muncul. Beberapa siswa saling berbisik sambil menebak-nebak tujuan dari gambar kopi yang saya bawa. Tidak lama kemudian, salah seorang siswa memberanikan diri bertanya.

"Bu Saida, itu untuk apa?"

"Sabar sebentar ya. Nanti Ibu jelaskan."

Jawaban singkat itu justru membuat rasa ingin tahu mereka semakin besar. Semua mata kini tertuju ke depan kelas. Saya melihat kesempatan yang sangat baik. Ketika rasa penasaran tumbuh, berarti perhatian mereka sudah berhasil saya dapatkan. Inilah modal awal agar pembelajaran berlangsung lebih hidup.

Setelah semua siap, saya mulai menjelaskan aturan permainan.

"Anak-anak, hari ini kita akan melakukan kegiatan KOPAG, yaitu Kopi Pagi. Kalian nanti bergiliran mengambil satu gambar kopi. Di balik gambar tersebut terdapat sebuah tantangan atau soal IPS. Tugas kalian adalah membacanya dengan teliti, kemudian menuliskan soal dan jawabannya di buku masing-masing. Setelah selesai, kalian boleh mengambil lagi gambar berikutnya."

Belum selesai saya menjelaskan, terdengar beberapa siswa berkata pelan.

"Asyik, ya..."

"Wah, seru ini."

Mendengar tanggapan itu, hati saya ikut senang. Saya tahu mereka mulai tertarik mengikuti pembelajaran.

Ketika permainan dimulai, suasana kelas berubah menjadi sangat aktif. Satu per satu peserta didik maju mengambil gambar kopi Gula Aren. Mereka segera membalik gambar tersebut, membaca tantangan yang ada di belakangnya, lalu kembali ke tempat duduk untuk menuliskan soal dan jawaban.

Kelas yang biasanya terasa tenang kini dipenuhi semangat belajar. Tidak ada siswa yang mengobrol tanpa tujuan. Semua sibuk berpikir, membaca, mengingat materi, dan menuliskan jawaban terbaik mereka.

Beberapa menit kemudian, seorang siswa bernama Al mengangkat tangan.

"Bu, saya sudah selesai!"

Saya tersenyum dan menjawab,

"Bagus. Kalau sudah selesai, silakan ambil lagi satu gambar kopi dan kerjakan tantangan berikutnya."

Tanpa menunggu lama, Al segera berlari kecil menuju meja dan mengambil tantangan berikutnya. Melihat temannya kembali mengerjakan soal, siswa lain tidak mau kalah.

"Bu, saya juga sudah selesai."

"Saya juga, Bu."

"Bu, boleh ambil lagi?"

Suara-suara penuh semangat mulai terdengar dari berbagai sudut kelas. Mereka seakan berlomba dengan waktu. Tidak ada yang ingin menjadi peserta terakhir. Semua ingin menyelesaikan tantangan sebanyak mungkin.

Saya hanya berdiri sambil mengamati. Senyum tidak pernah lepas dari wajah saya. Rasanya bahagia melihat peserta didik begitu antusias. Mereka tidak merasa sedang diuji, melainkan sedang bermain sambil belajar.

Yang membuat saya semakin bangga adalah suasana kompetisi yang muncul berlangsung secara sehat. Mereka saling memotivasi, bukan saling menjatuhkan. Ketika ada teman yang lebih dahulu selesai, siswa lain justru semakin terpacu untuk bekerja lebih cepat dan lebih teliti.

Media yang sederhana ternyata mampu mengubah suasana kelas menjadi lebih hidup. Hanya dengan gambar kopi saset yang dipenuhi tantangan, peserta didik terdorong untuk terus belajar tanpa merasa terbebani.

Saya kembali menyadari bahwa dalam pembelajaran, yang paling penting bukanlah mahal atau canggihnya media yang digunakan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana guru mampu menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan, membangkitkan rasa ingin tahu, serta memberi ruang kepada peserta didik untuk aktif.

KOPAG menjadi bukti bahwa kreativitas kecil dapat menghasilkan dampak yang besar. Gambar kopi saset yang sederhana mampu menjadi jembatan agar materi IPS terasa lebih dekat dengan kehidupan peserta didik. Mereka tidak hanya membaca buku atau mendengarkan penjelasan guru, tetapi juga terlibat langsung dalam proses belajar yang penuh tantangan.

Di akhir pembelajaran, saya melihat wajah-wajah yang penuh kepuasan. Mereka tersenyum karena berhasil menyelesaikan berbagai tantangan. Bahkan beberapa siswa masih bertanya apakah minggu depan kegiatan seperti ini akan diadakan lagi.

Pertanyaan itu menjadi hadiah terindah bagi saya sebagai seorang guru. Artinya, pembelajaran hari itu meninggalkan kesan yang menyenangkan. Ketika peserta didik berharap kegiatan serupa kembali dilakukan, berarti mereka telah menemukan belajar IPS ternyata bisa menjadi pengalaman yang mengasyikkan.

Sebagai guru, saya semakin yakin bahwa setiap hari adalah kesempatan untuk berinovasi. Tidak perlu menunggu memiliki fasilitas yang lengkap. Ide sederhana, jika dirancang dengan penuh kasih sayang dan semangat, mampu menghadirkan pembelajaran yang bermakna.

Semoga KOPAG atau Kopi Pagi ini menjadi salah satu inspirasi bahwa satu saset "kopi" tidak selalu harus diminum. Di ruang kelas, kopi saset dapat berubah menjadi media belajar yang membangunkan rasa ingin tahu, menghangatkan suasana, mempererat kebersamaan, dan menyeduh semangat belajar IPS hingga peserta didik terus haus akan ilmu pengetahuan. Karena sesungguhnya, kelas yang hebat bukanlah kelas yang selalu sunyi, melainkan kelas yang dipenuhi rasa ingin tahu, semangat mencoba, kegembiraan belajar, dan senyum yang tumbuh dari pengalaman belajar yang bermakna. Semoga anak didik saya semakin semangat dan sukses. Aamiin.

Cepu, 3 Juli 2026

Kamis, 30 Juli 2026

Sang Motivator Kesehatan

Karya: Gutamining Saida 
Hari Jumat dan Sabtu tidak ada pak Gun.  Sosok yang biasanya berdiri di tepi kolam, memberikan arahan, menyemangati, sekaligus mengoreksi setiap gerakan peserta, kali ini tidak tampak. Pak Gun harus izin tidak hadir karena ada kepentingan keluarga yang tidak dapat ditinggalkan. Sebagai manusia, setiap orang memiliki tanggung jawab kepada keluarga yang harus dipenuhi. Dalam ajaran Islam pun, memenuhi amanah terhadap keluarga adalah bagian dari ibadah.

Meski tidak hadir secara fisik, ternyata hati seorang guru tidak pernah benar-benar meninggalkan murid-muridnya. Jarak bukanlah penghalang untuk tetap menebarkan manfaat. Di tengah kesibukannya, Pak Gun masih menyempatkan diri mengirimkan pesan kepada kami melalui grup. Siang itu notifikasi ponsel berbunyi. Sebuah pesan sederhana, tetapi maknanya luar biasa.

"Menjaga kesehatan jantung, menguatkan otot-otot, meningkatkan kebugaran, meningkatkan kesehatan mental"
"Solusinya ke kolam".
"Sehat tidak mesti pakai obat."

Rasanya seperti pengingat bahwa kesehatan adalah nikmat Allah Subhanahu Wata'alla yang harus dijaga. Sering kali manusia baru menyadari berharganya sehat ketika tubuh mulai melemah. Padahal Rasulullah, telah mengingatkan bahwa ada dua nikmat yang sering dilalaikan manusia, yaitu kesehatan dan waktu luang. Betapa benarnya sabda tersebut. Ketika tubuh sehat, kita mampu beribadah dengan khusyuk, bekerja dengan semangat, berkumpul bersama keluarga, bahkan tersenyum pun terasa ringan.

Tidak lama kemudian, Pak Gun kembali mengirim sebuah video. Saya membukanya dengan rasa penasaran. Saya mengira video itu berisi latihan terapi atau gerakan renang yang biasa beliau contohkan. Namun, ternyata dugaan saya keliru. Betapa terkejutnya saya ketika melihat sosok yang ada di dalam video itu. Wajah yang sangat saya kenal. Gerakannya pun tidak asing lagi. Ternyata video tersebut adalah rekaman saat ibu saya mengikuti terapi di kolam.

Seketika hati saya dipenuhi rasa haru. Di antara sekian banyak peserta yang pernah mengikuti terapi, ternyata beliau memilih membagikan video ibu saya. Saat ini, ibu saya menjadi peserta yang paling sepuh di kelompok terapi. Usia memang telah lanjut, tetapi semangat beliau untuk berikhtiar menjaga kesehatan tidak pernah surut.

Saya percaya, usia bukanlah penghalang untuk terus berusaha. Selama Allah masih memberikan kesempatan bernapas, selama itu pula manusia diperintahkan untuk berikhtiar. Hasil akhirnya kita serahkan kepada Allah sebagai Dzat Yang Maha Menyembuhkan.

Melihat video itu, saya langsung menuliskan komentar singkat.
"Lama tidak ke kolam."
Beberapa saat kemudian, Pak Gun membalas komentar saya.
"Kenal, Bu?"
Saya tersenyum membaca pertanyaan itu. Rasanya lucu sekaligus menghangatkan hati. Dengan spontan saya menjawab,
"Tidak hanya kenal, Pak?! Kenal banget... hhhh."
Jawaban sederhana itu mengandung banyak cerita. Sosok dalam video itu bukan orang lain. Beliau adalah ibu saya sendiri, yang selama ini berjuang menjaga kesehatan dengan penuh kesabaran. Percakapan singkat tersebut justru membawa pikiran saya melayang pada kebiasaan yang selalu saya lakukan setiap mengajar di sekolah.

Setiap memasuki ruang kelas, pandangan saya tidak hanya tertuju pada papan tulis atau materi pelajaran. Saya selalu memperhatikan bangku-bangku siswa. Jika ada satu bangku kosong, hampir pasti saya akan bertanya.
"Siapa yang tidak masuk hari ini?"
"Ke mana dia?"
"Sakit atau ada keperluan?"
Pertanyaan itu bukan sekadar formalitas. Saya ingin memastikan bahwa setiap siswa merasa kehadirannya berarti. Ketidakhadiran satu orang saja akan saya sadari. Sebab, seorang guru bukan hanya mengajar materi mata pelajaran, tetapi juga menjaga hati peserta didiknya.

Saya merasakan hal yang sama dari Pak Gun. Walaupun beliau tidak berada di kolam, pikirannya tetap tertuju kepada murid-muridnya. Beliau tetap memberikan motivasi, tetap menyemangati, bahkan masih mengingat peserta-peserta yang pernah belajar bersama beliau.

Saya semakin memahami bahwa seorang pendidik sejati tidak pernah berhenti mendidik. Ketika berada di kelas, ia mengajar dengan ilmu. Ketika berada di luar kelas, ia tetap mengajar melalui perhatian, teladan, dan kepedulian. Begitu pula seorang pelatih. Bukan hanya mengajarkan teknik berenang, tetapi juga menanamkan semangat hidup sehat sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wata'alla.

Allah Subhanahu Wata'alla  sering menghadirkan pelajaran melalui cara yang tidak kita duga. Sebuah notifikasi di ponsel dapat menjadi pengingat tentang kasih sayang seorang guru. Sebuah video sederhana mampu mengingatkan kita kepada orang tua yang harus selalu kita hormati dan doakan. Sebuah komentar ringan dapat menghadirkan senyum yang menghangatkan hati.

Saya juga semakin yakin bahwa sehat bukan sekadar urusan fisik. Sehat adalah perpaduan antara ikhtiar, doa, kesabaran, dan tawakal. Berolahraga, menjaga pola makan, beristirahat dengan cukup, serta mengikuti terapi adalah bagian dari usaha manusia. Sementara kesembuhan tetap berada dalam kuasa Allah
.
Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan kepada Pak Gun beserta keluarganya, karena telah menjadi jalan kebaikan bagi banyak orang. Semoga Allah juga memberikan kesehatan dan umur yang penuh keberkahan kepada ibu saya, yang hingga usia senja masih memiliki semangat untuk berikhtiar. Semoga kami semua termasuk hamba-hamba yang pandai mensyukuri nikmat sehat sebelum datang masa ketika tenaga mulai melemah.

Saya percaya, perhatian yang tulus adalah sedekah yang tidak pernah habis pahalanya. Guru yang mengingat muridnya, pelatih yang memikirkan pesertanya, anak yang memperhatikan orang tuanya, semuanya adalah bentuk kasih sayang yang dicintai Allah Subhanahu Wata'alla. Dari perhatian itulah tumbuh kepedulian. Dari kepedulian lahir doa. Dari doa, semoga Allah membukakan pintu kesehatan, keberkahan, serta kebahagiaan bagi kita semua. Aamiin.

Semoga cerita sederhana ini mengingatkan kita bahwa setiap pertemuan adalah takdir Allah Subhanahu Wata'alla, setiap perhatian adalah bentuk kasih sayang, dan setiap ikhtiar menjaga kesehatan adalah wujud syukur atas nikmat kehidupan yang telah Dia titipkan.

Cepu, 31 Juli 2026

Rabu, 29 Juli 2026

Es Krim Mengubah Cara Pandang



Karya : Gutamining Saida 
Menjadi seorang guru harus terus belajar, berinovasi, dan selalu mencari jalan agar ilmu yang diajarkan mampu diterima dengan hati yang gembira. Sebagai guru IPS, rasanya tidak berlebihan jika mengatakan bila seorang guru harus memiliki "seribu cara" untuk menghidupkan pembelajaran. Bukan karena mata pelajaran IPS sulit dipahami, tetapi karena masih banyak siswa yang sejak awal sudah memiliki anggapan bahwa IPS adalah pelajaran yang membosankan.

Kalimat-kalimat seperti, "IPS banyak hafalan," atau "IPS tidak sekeren Matematika dan IPA," sering kali terdengar dari mulut siswa. Ada pula yang menganggap IPS kurang penting dibanding mata pelajaran lainnya. Anggapan seperti inilah yang menjadi tantangan terbesar. Tantangan itu tidak boleh dijawab dengan keluhan, melainkan dengan kreativitas.

Setiap hari saya berusaha mencari cara yang sederhana, mudah diterapkan, tidak menyulitkan guru, tetapi mampu membuat siswa penasaran dan bersemangat. Saya percaya, ketika hati siswa sudah tertarik, maka proses belajar akan berjalan jauh lebih mudah. Guru tidak perlu banyak memaksa karena rasa ingin tahu akan bekerja dengan sendirinya.

Ketika saya memasuki kelas 8D pada jam 5-6 dengan membawa sesuatu yang sederhana. Bukan laptop canggih, bukan alat peraga mahal, melainkan gambar es krim berwarna-warni sebanyak 36 biji. Ada yang berwarna merah muda, cokelat, dan biru. Sekilas memang hanya potongan gambar biasa, tetapi tampilannya cukup menarik perhatian.

Mengapa memilih es krim? Jawabannya sederhana. Hampir semua anak menyukai es krim. Setiap jam istirahat, koperasi sekolah selalu ramai oleh siswa yang membeli berbagai jenis es krim. Mereka mengenal bentuknya, menyukai rasanya, bahkan sering menjadikannya sebagai teman saat cuaca panas. Dari kebiasaan sederhana itulah saya mencoba mengambil inspirasi.

Ketika gambar-gambar es krim itu saya keluarkan, beberapa siswa langsung berkomentar.
"Wah, bu Saida hari ini kita belajar pakai es krim?"
"Rasanya apa, bu Saida ?"
"Coba saja nanti."
"Boleh minta bu?"
"Sangat boleh."
"Boleh ambil dua bu Saida?
Rasa penasaran mulai tumbuh. Itulah tujuan pertama yang ingin saya capai. Sebelum materi disampaikan, perhatian mereka sudah berhasil saya dapatkan.

Ternyata gambar es krim itu bukan sekadar hiasan. Di balik setiap gambar terdapat tantangan yang harus mereka selesaikan. Ada pertanyaan,  yang harus diselesaikan. Siapa yang berani mengambil es krim, berarti siap menerima tantangannya.

Suasana kelas pun berubah. Biasanya ada beberapa siswa yang hanya duduk diam sambil menunggu teman lain menjawab. Kali ini berbeda. Hampir semua tangan ingin terangkat. Mereka saling menyemangati, saling berebut, bahkan ada yang ingin mencoba lebih dulu.

Setiap tantangan yang berhasil diselesaikan menghadirkan motivasi untuk teman-temannya. Tidak ada ejekan ketika ada teman yang kurang cepat. Teman-teman lain membantu mengambilkan. Kelas yang biasanya dipenuhi suara guru menjelaskan kini berubah menjadi ruang belajar yang penuh percakapan, dan semangat.

Saya hanya berperan sebagai fasilitator. Sesekali memberikan arahan, meluruskan jawaban, dan memberikan penguatan. Selebihnya, siswa sendirilah yang membangun proses belajarnya.Yang  membuat saya bahagia bukanlah karena semua soal berhasil dijawab dengan benar. Kebahagiaan itu muncul ketika melihat siswa yang biasanya kurang percaya diri mulai memberanikan diri maju ke depan kelas. Siswa yang biasanya hanya menunduk kini mengangkat tangan. Ada pula yang selama ini kurang tertarik pada IPS ternyata tersenyum bangga ketika mampu menyelesaikan tantangan.

Momen-momen seperti itu mengingatkan saya bahwa setiap anak sebenarnya memiliki potensi. Terkadang yang mereka butuhkan bukanlah tambahan penjelasan yang panjang, melainkan cara belajar yang membuat mereka merasa senang dan dihargai.Saya semakin yakin bahwa pembelajaran yang menyenangkan bukan berarti mengurangi kualitas materi. Justru ketika suasana hati siswa nyaman, mereka lebih mudah memahami konsep-konsep yang dipelajari. Belajar bukan lagi menjadi beban, tetapi menjadi pengalaman yang ingin diulang.

Media es krim hanyalah sebuah alat. Yang paling penting adalah bagaimana media itu mampu membangkitkan rasa ingin tahu, keberanian, kerja sama, dan semangat belajar. Kreativitas guru tidak selalu harus mahal. Benda yang sangat dekat dengan kehidupan siswa, lahirlah pembelajaran yang bermakna.

Di akhir pelajaran saya melihat wajah-wajah yang masih antusias. Beberapa siswa bahkan bertanya, "Bu Saida, besok pakai media apa lagi?" Pertanyaan sederhana itu menjadi hadiah yang sangat berharga. Artinya, mereka mulai menunggu pelajaran IPS, bukan lagi menghindarinya.

Saya menyadari keberhasilan pembelajaran tidak hanya diukur dari nilai ulangan. Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika siswa mulai menyukai proses belajarnya. Ketika mereka datang ke kelas dengan rasa penasaran, pulang membawa pengalaman baru, dan percaya bahwa mereka mampu belajar.

Saya kembali belajar dari siswa-siswa kelas 8D. Sebuah gambar es krim ternyata mampu mencairkan anggapan bahwa IPS adalah pelajaran yang membosankan. Es krim memang tidak bisa mengubah seluruh dunia pendidikan dalam sekejap, tetapi mampu mengubah suasana satu kelas, mengubah semangat beberapa anak, dan mungkin mengubah cara pandang mereka terhadap IPS.

Saya percaya, setiap guru memiliki "seribu cara" untuk menyalakan semangat belajar. Tidak harus sama, tidak harus rumit, dan tidak harus mahal. Yang terpenting adalah ketulusan untuk terus mencoba, keberanian untuk berinovasi, dan keyakinan setiap anak berhak merasakan pembelajaran yang menyenangkan.

Pelajaran yang paling berkesan bukanlah yang paling sulit, melainkan pelajaran yang disampaikan dengan hati. Ketika hati guru bertemu dengan semangat siswa, di situlah lahir pembelajaran yang benar-benar menginspirasi.
Cepu, 29 Juli 2026