Karya; Gutamining Saida
Di bawah mentari pagi yang baru saja menyapa bumi, deru mesin sepeda motor meraung membelah keramaian lalu lintas. Alifa, seorang siswi kelas 8C yang berparas manis, duduk manis di jok belakang dengan seragam putih-biru. Di depannya, sang mama memegang kendali setang dengan penuh ketangkasan. Selasa, sebuah hari yang awalnya berjalan begitu sempurna, meluncur mulus bak kereta api. Sang mama bukan sekadar untuk mengantar sang buah hati menuju gerbang Esmega, melainkan juga untuk menunaikan baktinya sendiri.
Takdir pagi itu tiba-tiba saja memutar kemudinya dengan begitu drastis. Di tengah perjalanan yang mulus, tepat di sebuah ruas jalan yang dikelilingi rindangnya pepohonan, sepeda motor yang mereka kendarai mendadak terbatuk-batuk. Mesinnya terbatuk sekali, dua kali, lalu mati total. Usaha sang mama untuk menyalakan kembali mesin itu sia-sia belaka, roda besi itu membisu.
Kepanikan seketika meledak di dalam dada sang mama. Jarum jam seolah-olah berputar ribuan kali lebih cepat, bergerak seperti kilat. Bayangan Alifa yang terlambat, berdiri menggeletar di balik gerbang sekolah yang tertutup rapat, membakar pikiran sang mama hingga hangus. Di tengah pusaran kecemasan, melintaslah seorang bapak-bapak mengendarai sepeda motor. Melihat raut wajah sang mama yang hampir meneteskan air mata kecemasan, bapak itu memperlambat laju kendaraannya.
Tanpa berpikir panjang, sang mama mengambil keputusan. Ia menitipkan Alifa kepada bapak asing yang kebetulan searah menuju sekolah tersebut. Alifa pun naik ke boncengan motor bapak itu, menghilang di balik debu jalanan yang membumbung tinggi.
Saat bayangan putri kesayangannya lenyap di telan tikungan jalan, pada saat itulah emosional mamanya bergerak. Perasaan khawatir dan was-was yang melingkupinya. Hati seorang ibu yang selembut sutra kini diliputi kecemasan. Berjuta-juta spekulasi buruk yang mengerikan di dalam benaknya.
Waktu merayap begitu lambat, terasa seperti puluhan jam yang menyiksa. Jam demi jam dilewatinya di tempat kerja dengan jiwa yang melayang-layang entah ke mana, sementara badannya bergetar oleh kecemasan yang membakar sukma.
Ketika jarum jam akhirnya menunjukkan jam ketiga pembelajaran, waktu di mana ruang-ruang kelas mulai dipenuhi riuh rendah proses belajar. Ketahanan batin sang mama benar-benar berada di ambang keruntuhan. Tanpa mampu menahannya lagi, jemarinya mengetik pesan di layar ponselnya. Ia mengirimkan pesan singkat kepada wali kelas 8C.
Tanpa menunda waktu sedetik pun, sang wali kelas segera beranjak dari tempat duduknya. Langkah kakinya yang mantap membelah koridor sekolah yang hening, menuju ruang 8C membawa misi mencari jiwa. Begitu sampai di depan pintu, pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) sedang berlangsung dengan begitu khidmat. Sang guru IPS sedang memaparkan materi dengan begitu memikat, sementara para siswa menyerap ilmu bak spons yang menyerap air.
Sang wali kelas mengetuk pintu dan memohon izin untuk mengganggu jalannya pelajaran sejenak. Matanya yang tajam menyapu seluruh sudut ruangan, mencari satu sosok yang menjadi pusat dari segala kecemasan. Di barisan bangku kelas, terlihatlah Alifa. Anak itu sedang duduk dengan tenang, jemarinya menari-nari menggoreskan pena di atas buku catatan.
Legalah dada sang wali kelas. Tanpa membuang kesempatan, ia merengkuh ponselnya dan mengambil potret Alifa yang sedang tekun belajar dari jarak dekat. Foto itu seketika dikirimkan kembali melalui aplikasi pesan kepada sang mama, sebagai sebuah bukti sang putri telah sampai di sekolah.
Ketika layar ponsel sang mama menyala, menampakkan foto Alifa yang tersenyum di tengah pelajaran IPS. Seketika, benteng kecemasan yang tadinya berdiri setinggi langit langsung hancur berkeping-keping menjadi debu yang hilang diterbangkan angin.
Hati sang mama kini melayang-layang di atas awan kebahagiaan. Rasa syukur yang tak terhingga membumbung tinggi menembus langit, menggema ke seluruh penjuru alam semesta. Rasa lega yang tak terlukiskan dengan kata-kata memenuhi setiap relung sukmanya. Sebuah rasa tenang menyejukkan jiwa. Alhamdulillah dilafatkan sebagai rasa syukur.
Cepu, 22 September 2026
.jpeg)






