Sabtu, 19 September 2026

Jangan Diam

 


Karya: Gutamining Saida

Matahari Sabtu sore merayap turun dengan warna keemasan. Cahaya membakar langit dengan pesona tiada tara. Di usia yang tak lagi belia sebuah fase kehidupan tempat rambut mulai bersalut perak dan sendi-sendi meratapi perjalanan waktu. Jiwa saya menolak untuk layu. Ada sebuah api yang membara di dalam dada. Sebuah tekad untuk mengejar kesehatan. Tekad itu lahir bukan karena keangkuhan, melainkan sebuah ikhtiar sehat. Saya ingin terus berdiri kokoh untuk menemani langkah sang suami tercinta, melukis senyum pada raut wajah anak-anak tersayang, serta melimpahkan kasih tak bertepi kepada cucu-cucu.

Lebih dari sekadar usia panjang, ada rindu yang bergetar di dalam kalbu untuk mempersembahkan ibadah terbaik. Tubuh yang fit adalah bahtera, dan ibadah adalah samudra syukur. Biarlah usia merambat tua, namun semangat dan jiwa ini harus tetap berkobar layak sepeti kawula muda. Sabtu sore, medan perjuangan membentang di hadapan mata. Sebuah kolam renang  dengan air biru jernih tampak tenang. Dia menyimpan misteri di kedalamannya yang mencapai dua meter. Kedalaman tak kasat mata yang menantang keberanian siapa pun yang memandangnya. 

Desir angin sore mengembuskan sedikit keraguan, menembus pori-pori kulit dan membuat denyut jantung berdegup lebih kencang dari biasanya. Bayangan keraguan itu seketika sirnah diterpa ketenangan sang pelatih yang berdiri siap siaga. Pak Gun, sosok pelindung di kolam siap menjadi penjaga keselamatan seluruh siswanya.

Kini, saatnya pembuktian. Kami berbaris rapi dari ujung hingga ke ujung bibir kolam, membentuk deretan yang siap menaklukkan dinginnya air. Satu per satu siswa mulai mempraktikkan petunjuk yang telah disampaikan sebelumnya. Satu tangan terentang lurus ke depan, sementara tangan satunya mencengkeram erat bibir kolam sebagai tumpuan terakhir sebelum melepas tubuh menuju kebebasan.

"Setelah meluncur, ibu-ibu bisa gaya bebas  atau memilih gaya dada dan ketiga jangan pernah berhenti, jangan pernah diam!"

Dengan menahan napas  dan dorongan semangat jiwa muda yang meluap-luap, saya menjejakkan kaki. Tubuh saya meluncur! Air dingin menyergap seketika, memeluk seluruh raga dalam keheningan bawah air.  Saya memutuskan untuk membelah kedalaman air dengan gaya dada. Gerakan demi gerakan saya kayuh dengan penuh keyakinan. Tangan menguak air dengan keteguhan hati, sementara kaki menendang lurus demi mendorong tubuh yang merindukan garis finis.

Namun, alam memiliki hukumnya sendiri yang tak mampu dilawan oleh prasangka manusia. Baru saja setengah perjalanan terlewati, benteng pertahanan fisik saya mulai goyah secara drastis. Paru-paru saya mendadak seperti kehabisan oksigen. Kepanikan kecil mulai merayap, merobohkan seluruh ketenangan. Tak kuasa menahan nafas. 

Sisa-sisa tenaga yang kian terkuras habis, saya menurunkan kedua kaki secara paksa Saya mencari pijakan di dasar kolam demi mengambil seteguk udara untuk bernafas. Di tengah  napas yang terengah-engah, sebuah bayangan tegap mendadak muncul tepat di belakang saya. Pak Gun, sang pelatih, telah berada di sana dengan ketangkasan yang luar biasa. Suaranya membelah gemericik air. "Lhooo, tidak boleh berdiri! Lanjut sampai finis!"



Suara itu sejatinya adalah lecutan semangat, sebuah panggilan untuk melampaui batas kemampuan. Kepakan sayap fisik saya benar-benar telah patah di tengah kolam. Tubuh renta ini telah mengerahkan seluruh daya hingga titik darah penghabisan. Dengan tatapan layu, suara yang bergetar hebat, dan napas yang terputus-putus, saya hanya mampu merintih, "Waaah tidak kuat lagi, Pak... Maaf..."

Kata "maaf" itu terlempar ke udara, membawa serta runtuhnya seluruh cita-cita indah. Ada kepedihan mendalam yang mendadak menyeruak. Semangat membara yang tadi meluap-luap kini padam seketika, tergilas oleh kenyataan pahit bahwa batas fisik tak lagi mampu mengejar kehendak jiwa.

Saya berdiri termangu di tengah kedalaman kolam, terisolasi dalam kegagalan yang memilukan. Menatap garis finis di ujung sana yang terasa mustahil untuk dicapai. Impian untuk menuntaskan tantangan dengan sempurna hancur, tenggelam bersama rasa duka, menyisakan kesadaran pedih. Semoga lain hari mampu mencapai finis dan sehat selalu. Salam sehat.

Cepu, 19 September 2026

Jumat, 18 September 2026

Hutang Sudah Lunas

Karya: Gutamining Saida

Siang yang semula tenang di dalam grup Muda Swimming Squad2 mendadak riuh oleh sebuah hantaman visual. Pak Gun melemparkan sebuah amunisi berupa foto dan video, dipungkasi satu kalimat pemicu yang menohok ulu hati: "Hutangnya sudah lunas bu ibu?" tak lupa dsertakan tameng emoji tertawa.

Pertanyaan itu melayang di udara digital seperti kembang api yang meletup di malam gulita. Reaksinya? Sunyi yang membatu. Para ibu-ibu di grup mendadak diserang amnesia kata-kata. Sebagian besar memilih membisu ada tapi tak bernyawa, tenggelam dalam samudera keheningan. Saya sendiri memilih meringkuk di balik layar, menjadi penonton setia drama singkat ini tanpa berani menyisipkan satu ketukan jempol pun. Hanya Bu Pur, seorang pejuang yang berani membalas lemparan api itu dengan stiker tertawa sebuah respons pertahanan diri yang menggelikan. 

Fenomena ini bukanlah rahasia yang terkunci di dasar samudera. Di zaman sekarang, bank dan lembaga keuangan melambaikan jemari manisnya kepada para pegawai pemerintahan, pedagang. Mereka menenun jaring-jaring godaan yang begitu halus, menjanjikan surga duniawi lewat jalur pintas bernama kredit. Di balik kemilau uang pinjaman yang melimpah ruah itu, tersembunyi belenggu besi yang siap mengikat leher siapa saja yang tergiur.

Dalam kacamata syariat, utang bukanlah sekadar deretan angka di atas kertas tagihan, melainkan sebuah beban yang sanggup meremukkan jiwa.  Islam memandang utang dengan kacamata yang amat tegas dan bernuansa peringatan keras. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam berkali-kali berlindung kepada Allah Subhanahu Wata'alla dari jeratan utang,

Kemudahan mengambil utang di era modern ini kerap kali menyihir mata manusia hingga buta membedakan antara kebutuhan primer dan hawa nafsu yang tak bertepi. Uang pinjaman menyuntikkan ilusi kekayaan yang semu. Seseorang bisa merasa menjadi raja dalam sekejap, membeli segala kemewahan duniawi.

Melihat fenomena yang terjadi di grup WhatsApp tersebut, sebuah doa tulus membubung tinggi ke angkasa. Semoga seluruh anggota grup Muda Swimming Squad2 khususnya  dipelihara oleh Allah Subhanahu Wata'alla dari godaan berwujud utang. Semoga pikiran mereka dijauhkan dari keinginan untuk menggadaikan masa depan demi kenikmatan sesaat.

Tidak ada kekayaan di muka bumi yang mampu menandingi indahnya hidup tanpa utang. Tidak memiliki utang adalah bentuk kemerdekaan jiwa yang paling murni. Manusia yang bebas dari utang adalah raja sejati di dunia. Kita bisa memejamkan mata dengan tenang, menghirup udara pagi dengan dada lapang dan menikmati setiap suapan nasi dengan rasa syukur yang membuncah. Tidur mereka ditemani kedamaian yang membumbung tinggi dan bangun pagi mereka disambut oleh senyuman tanpa bayang-bayang ketakutan. Hidup tenang tanpa kepungan tagihan adalah kenikmatan surgawi yang tiada tara nilainya.

Cepu, 19 September 2026

Kaki Saya Masih Malu-malu


Karya: Gutamining Saida

Suasana sore di kolam renang selalu menyimpan ceritanya sendiri. Angin berembus pelan dan suara kecipak air yang menenangkan biasanya menjadi latar alami latihan kami. Jum'at sore atmosfer di sekitar kolam mendadak terasa berbeda. Ada antusiasme yang membumbung tinggi, bercampur dengan sedikit rasa mendebarkan. Pak Gun, pelatih yang tidak pernah kehabisan ide untuk menguji batasan kemampuan kami, berdiri tegak di tengah kolam dengan gaya khasnya.

"Kalau cuma posisi tangan meluncur di atas air, itu sih sudah biasa!" seru Pak Gun memecah keheningan. Kalimat pembukanya langsung memancing rasa penasaran seluruh anggota kelompok. Kami semua saling pandang, menebak-nebak kejutan apa lagi yang akan disajikan.

Pak Gun kemudian mengumumkan tantangan sore ini. Sebuah gerakan yang menuntut keseimbangan, keberanian, dan kontrol tubuh di dalam air. Kami diminta untuk menyelam perlahan, menyentuh dasar kolam dengan kedua telapak tangan, lalu mendorong tubuh sedemikian rupa hingga kedua kaki lurus mengarah tegak lurus ke atas. Sebuah gerakan menyerupai handstand di dalam air.

Sebelum giliran kami tiba, Pak Gun memberi contoh terlebih dahulu. Tenang dan luwes, beliau meluncur ke bawah. Hanya dalam hitungan detik, kedua tangannya sudah menumpu kokoh di lantai kolam, sementara kedua kakinya menjulang lurus ke atas permukaan air dengan sangat sempurna. Gerakan itu terlihat begitu mudah, elegan, dan tanpa beban. Kami yang menyaksikan dari tepi kolam hanya bisa melongo kagum sekaligus makin berdebar-debar.

Satu per satu dari kami dipanggil untuk mempraktikkannya secara langsung di bawah pengawasan ketat Pak Gun. Momen menunggu giliran selalu menjadi saat-saat yang paling menegangkan sekaligus mendebarkan. Muncul dorongan kuat untuk menaklukkan rasa ragu. Prinsip saya sederhana yaitu bila tidak pernah mencoba, kita tidak akan pernah tahu sampai di mana batas kemampuan kita. Keberanian harus dikedepankan, urusan hasil adalah nomor dua.

Ketika giliran saya tiba, saya menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh fokus, lalu menyelam dengan sepenuh jiwa. Di dalam air, saya mengarahkan tubuh ke bawah dan berusaha menggapai dasar kolam. Perlahan tapi pasti, jemari dan telapak tangan saya akhirnya berhasil menyentuh lantai kolam. Sebuah rasa lega dan syukur langsung menyelimuti pikiran saya. Meski saya sadar gerakan ini jauh dari kata sempurna, berhasil menyentuh dasar kolam saja sudah menjadi pencapaian kecil yang sangat berarti.

Begitu saya kembali muncul ke permukaan air sambil menyapu air dari wajah, Pak Gun yang memperhatikan dari tepi kolam langsung bertanya, "Bagaimana, tangan sudah menyentuh lantai, Bu?"

"Sudah, Pak!" jawab saya singkat, masih sedikit terengah-engah.

Pak Gun terkekeh pelan lalu melempar pandangan jenaka, "Lhoo lhoo... kakinya mana?"

Dengan spontan dan tanpa pikir panjang, saya berseru, "Kaki saya malu, Pak!"

Seketika itu juga, tawa pecah dari rekan-rekan di sekeliling kolam. Jawaban asal bunyi berhasil mencairkan suasana yang semula agak tegang. Gelak tawa berderai memantul di antara dinding-dinding area kolam renang. Belum selesai rasa geli dari percakapan saya, perhatian Pak Gun berpindah ke peserta berikutnya yang sedang berjuang di dalam air.

"Lha, Bu Yeni kakinya belum kelihatan juga!" komentar Pak Gun sambil tertawa kecil mengamati perjuangan Bu Yeni yang mencoba menegakkan kakinya ke atas. Bu Yeni yang baru saja muncul ke udara tidak mau kalah santai. Dengan wajah tanpa dosa dan napas yang agak terengah, beliau menjawab spontan, "Telapak kaki saya pecah-pecah, Pak!"

Sontak, lelucon Bu Yeni makin menambah riuh suasana. Suara tawa ibu-ibu kembali membahana. Kolam renang sore itu benar-benar berubah menjadi panggung komedi spontan yang penuh kehangatan.

"Ayo, sekarang giliran Bu Pur!" perintah Pak Gun mengalihkan fokus ke barisan selanjutnya. Beliau kemudian menunjuk anggota berikutnya dengan penuh semangat, "Ayo, selanjutnya!"

Tiba giliran Bu Ima. Saking semangatnya ingin menuntaskan tantangan dan menyempurnakan gerakan, Bu Ima meluncur dengan dorongan yang terlalu kuat. Bukannya membentuk posisi lurus ke atas, tubuh Bu Ima malah berputar tak terkendali di dalam air hingga gerakannya persis seperti orang sedang koprol atau berguling di udara. Begitu kepalanya muncul kembali ke permukaan dengan ekspresi bingung, gelak tawa kembali meledak tanpa bisa ditahan!

Dasar ibu-ibu, mau gerakannya benar atau salah, semuanya disambut dengan tawa riang. Ketika gagal melakukan gerakan dengan benar pun, kami tetap tertawa lepas tanpa rasa malu atau berkecil hati. Melihat keriuhan dan semangat murid-muridnya, Pak Gun tidak marah sedikit pun. Beliau justru tersenyum lebar dan memberikan apresiasi yang sangat hangat kepada kami semua.

"Bila salah lalu ibu-ibu tertawa, itu bagus!" tegas Pak Gun dengan nada suportif.

Saya yang penasaran langsung menyela, "Lhoo, kok begitu, Pak?"

Pak Gun lalu menjelaskan, "Itu tandanya ibu-ibu mau mencoba dan mencoba, mengulang dan mengulang. Tidak takut salah, tidak takut gagal. Itu kunci utama dalam belajar."

Di tengah-tengah penjelasan Pak Gun yang inspiratif itu, tiba-tiba Bu Ratih melempar celetukan dari sudut kolam dengan raut wajah polos, "Kaki saya kok mengambang terus ya, Pak?"

Pak Gun menatap Bu Ratih lalu menjawab dengan seloroh khasnya yang penuh optimisme, "Lhaaa... itu artinya kita tidak akan pernah tenggelam!"

Jawaban Pak Gun yang menggelitik itu menutup sesi latihan sore dengan gelak tawa yang kembali membahana. Jum'at sore sinar matahari yang mulai meredup, kami belajar tentang arti keberanian untuk mencoba hal baru, indahnya kebersamaan. Semoga besok bisa dipertemukan kembali dan tertawa bersama. Aamiin.

Kamis, 17 September 2026

Melawan Rasa Takut


Karya: Gutamining Saida

Sebagian orang, melihat hamparan air biru di kolam renang adalah sebuah undangan untuk bersenang-senang, menyegarkan badan, atau sekadar melepas penat. Sekelompok ibu-ibu, air biru yang tampak tenang itu menyimpan tantangan psikologis yang sangat besar. Rasa takut tenggelam, kehilangan pijakan, atau ketidakmampuan mengendalikan diri di dalam air . Bagai tembok tebal yang tidak mudah dirobohkan hanya dalam satu atau dua hari.

Meskipun demikian, keberanian terbesar sebenarnya sudah mereka tunjukkan sejak awal dengan  keberanian untuk mendaftar, melangkah datang, dan masuk ke dalam kelas terapi. Mereka tidak memilih untuk menyerah pada ketakutan, melainkan berikhtiar untuk menaklukkannya.

Proses belajar menghadapi ketakutan di dalam air memang tidak pernah berjalan linear. Setelah melewati beberapa kali pertemuan. Bayang-bayang kecemasan sering kali masih bertahan. Jemari masih mencengkeram erat tepi kolam, napas masih terasa agak memburu saat tubuh mulai terombang-ambing, dan pijakan kaki terasa begitu berharga.

Melihat kondisi tersebut, Pak Gun sang pelatih  sabar dan berpengalaman terus memutar otak. Beliau paham betul bila mengajari orang dewasa, khususnya ibu-ibu yang memiliki trauma atau ketakutan mendalam terhadap air. Beliau membutuhkan pendekatan yang berbeda. Ini bukan sekadar soal teknik menggerakkan kaki atau mengatur pernapasan, melainkan soal melatih pikiran dan membangun rasa percaya diri dari nol.

Pak Gun mencoba mendorong batas kenyamanan mereka secara bertahap. Beliau menuntun para peserta menuju area kolam dengan kedalaman 140 sentimeter. Sebuah kedalaman yang bagi pemula sudah cukup untuk memicu ketegangan.

"Ayo, lawan rasa takut bu!" seru Pak Gun memberikan dorongan semangat, berharap kalimat itu menjadi pemantik keberanian di dalam dada murid-muridnya.

Mengalahkan rasa takut yang sudah mengakar tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bu Isna, salah satu peserta, langsung menyahut dengan jujur, "Naaah, ini saya yang belum bisa, Pak."

Kejujuran Bu Isna adalah cerminan dari perasaan banyak ibu-ibu di dalam kelas terapi. Ada keraguan yang nyata, sebuah pengakuan tubuh dan pikiran mereka belum sepenuhnya siap untuk melepas pegangan.

Mendengar keraguan Bu Isna, Bu Rini melangkah sedikit lebih jauh dalam proses belajar turut membuka suara untuk memberikan dukungan moral.

"Saya dulu juga begitu, Bu," kata Bu Rini menenangkan.

Kalimat sederhana dari Bu Rini memberikan dampak yang sangat besar. Di dalam sebuah kelompok terapi, mengetahui bahwa orang lain pernah berada di posisi yang sama dan berhasil melewatinya. Sebuah dorongan emosional yang sangat kuat. Sebagai bentuk empati murni, menyatakan  rasa takut itu wajar, dan semua orang memulai dari titik yang sama.

Pak Gun kemudian menambahkan penjelasannya untuk memperkuat mental mereka. "Sering datang ke kolam dan mencoba berenang itu adalah sebuah proses," tutur Pak Gun dengan tenang. Beliau menekankan jika keberhasilan di dalam air tidak diukur dari seberapa cepat seseorang bisa berenang ke seberang, melainkan dari konsistensi untuk terus hadir, mencoba, dan tidak menyerah pada rasa cemas.

Dinamika percakapan menjadi semakin menarik ketika Bu Sulikah memberikan tanggapannya. "Saya sering ke kolam ya tetap saja masih takut, Pak," potong Bu Sulikah polos.

Candaan ringan bernada protes itu memicu tawa kecil di antara mereka. Seseorang menyahut singkat bercanda, "Senior kok masih takut?"

Bu Sulikah tidak tinggal diam dan membela diri dengan kalimat yang sangat filosofis, "Takut itu datangnya dari rasa."

Pernyataan Bu Sulikah sangat tepat. Ketakutan bukanlah sesuatu yang bisa dihilangkan hanya dengan instruksi verbal atau logika semata. Ketakutan adalah respons emosional, sebuah "rasa" yang tertanam di dalam sistem saraf manusia untuk melindungi diri dari bahaya. Selama pikiran masih menganggap air sebagai ancaman, rasa takut itu akan tetap ada.

Membaca dinamika tersebut, Bu Rini kembali memberikan komentar di grup obrolan mereka kemudian, menegaskan bahwa ketakutan adalah hal yang sangat manusiawi. "Sama dengan saya, Bu. Kalau sudah di kedalaman dua meter, saya juga takut," tulis Bu Rini.

Membicarakan tema "rasa takut" di dalam grup obrolan ibu-ibu memang seperti membuka pintu percakapan yang tidak ada ujungnya. Semalam saja, ketika baru beberapa anggota yang memberikan tanggapan, diskusi sudah berlangsung begitu hangat dan riuh.

Dapat dibayangkan apabila seluruh anggota grup ikut memberikan komentar secara bersamaan. Diskusi itu pasti akan berlanjut hingga larut malam dan tidak akan selesai dalam satu sesi. Ada ungkapan populer yang menyebutkan bahwa wanita atau ibu-ibu memiliki dua puluh ribu kata per hari. Ketika energi percakapan itu disalurkan ke dalam sebuah topik yang mereka rasakan bersama. 

Di balik riuhnya kata-kata dan ramainya komentar di obrolan tersebut, tersimpan sebuah kekuatan yang luar biasa. Ibu-ibu ini tidak hanya sekadar mengeluh atau membicarakan ketakutan mereka. Lewat setiap kalimat yang diketik, mereka sedang saling mendengarkan,  emosi satu sama lain, dan merayakan setiap perkembangan kecil yang berhasil dicapai. Ketika satu orang merasa ragu, yang lain hadir untuk menceritakan pengalamannya. Ketika satu orang merasa takut, yang lain mengingatkan bahwa mereka tidak berjuang sendirian.

Pelajaran terpenting dari dinamika kelas terapi ini adalah memahami arti keberanian. Keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut sama sekali. Keberanian adalah tindakan untuk tetap melangkah dan mencoba, meskipun rasa takut itu masih menggebu-gebu di dalam dada.

Keberhasilan mereka tercermin dari hal-hal kecil yang sangat berarti:

  • Keberanian untuk tetap datang ke kolam renang setiap minggu.

  • Kemampuan untuk menurunkan kaki ke kedalaman dua meter, walau tangan masih memegang tepi kolam.

  • Keikhlasan untuk mengakui ketakutan tanpa merasa malu.

  • Keceriaan untuk saling mendukung dan tertawa bersama di tengah proses terapi.

Proses ini membutuhkan waktu, kesabaran, dan konsistensi. Selama Pak Gun terus mendampingi dengan telaten, dan selama ibu-ibu ini terus saling menyemangati dengan ribuan kata hangat setiap harinya, hari di mana mereka bisa melayang bebas di atas air tanpa rasa takut pasti akan tiba. Setiap pertempuran kecil melawan rasa ragu sebuah kemenangan besar yang patut dirayakan.

Cepu 18 September 2026

 

Minggu, 13 September 2026

Ibu-ibu Lupa Dengan Hutangnya


Karya: Gutamining Saida

Suasana di area kolam benar-benar penuh energi dan tawa. Sesi terapi air yang dipandu oleh Pak Gun sebenarnya sudah hampir usai, namun beliau tidak langsung mengakhirinya begitu saja. Sebagai penutup yang manis dan membekas, Pak Gun menyiapkan sebuah sesi khusus yaitu mengambil foto-foto bersama dengan berbagai tantangan unik yang sengaja beliau rancang untuk mencairkan suasana.

Tantangan pertama dimulai ketika Pak Gun meminta seluruh ibu-ibu untuk menyatukan kedua telapak tangan mereka, mengambil air kolam sebanyak-banyaknya, lalu melemparnya tinggi-tinggi ke atas udara. Seketika itu juga, cipratan air membumbung dan jatuh seperti hujan lokal di tengah kolam. Riak air yang terpantul sinar matahari membuat pemandangan di sekitar kolam terlihat sangat hidup. Kamera Pak Gun terus membidik momen demi momen spontan tersebut, menangkap ekspresi wajah ibu-ibu yang mulai lepas tanpa beban.

Tidak berhenti di situ, Pak Gun memberikan tantangan berikutnya yang makin seru. Beliau meminta peserta untuk menenggelamkan diri sejenak ke dalam air. Setelah beberapa detik berada di bawah permukaan, mereka diminta untuk kembali muncul ke atas secara bersamaan sambil meneriakkan satu kata dengan keras “SEHAT!”

Satu per satu kepala mulai menyembul dari dalam air. Suara teriakan “SEHAT!” bergema nyaring di sekitar area kolam, saling bersahut-sahutan. Teriakan yang penuh semangat itu tidak hanya menggetarkan udara di sekitar mereka, tetapi juga seolah menyalurkan energi positif yang luar biasa ke dalam diri masing-masing peserta.

Keseruan makin memuncak pada tantangan ketiga. Pak Gun menginstruksikan para ibu untuk menepuk-nepuk permukaan air dengan cepat dan kuat. Cipratan air kolam memercik ke mana-mana, membentengi dan menutupi wajah. Air melayang ke udara hingga wajah para peserta hampir tidak terlihat sama sekali di balik tirai cipratan air tersebut. Justru di saat-saat itulah Pak Gun menekan tombol rana kameranya bertubi-tubi, mengabadikan momen dinamis yang sangat alami.

Uniknya, sepanjang sesi foto dengan serangkaian instruksi yang cukup menguras tenaga tersebut, ibu-ibu seperti terhipnotis. Tanpa ragu sedikit pun, mereka menuruti setiap detail perintah yang diucapkan oleh Pak Gun. Tidak ada yang mengeluh basah, tidak ada yang takut riasan wajahnya luntur, dan tidak ada pula yang merasa enggan untuk tampil konyol di depan kamera. Semua bergerak kompak mengikuti komando sang instruktur.

Setelah serangkaian tantangan foto selesai dan semua orang masih berdiri membasahi diri di dalam kolam, Pak Gun tiba-tiba memecahkan keheningan dengan celetukan khasnya.

“Ibu-ibu sampai lupa dengan hutangnya!” seru Pak Gun bernada canda, yang langsung disusul dengan gelak tawa beliau sendiri yang lepas.

Kalimat singkat itu seketika memutus "sihir" kepatuhan yang baru saja terjadi. Ibu-ibu yang semula fokus menuruti instruksi tiba-tiba tersadar dari momen tersebut. Dalam hitungan detik, tawa renyah pecah di setiap sudut kolam. Mereka saling pandang, tertawa terpingkal-pingkal menyadari betapa kepatuhan polos mereka saat mengikuti tantangan tadi benar-benar membuat pikiran mereka bersih dari segala beban hidup.

Suasana kolam yang tadinya tenang kini berubah menjadi sangat ramai dan penuh kehangatan. Gelak tawa bersahut-sahutan di antara riak air yang belum sepenuhnya tenang. Pendekatan Pak Gun yang ramah, santai, dan penuh humor berhasil membimbing para peserta tanpa terkesan memaksa. Ibu-ibu  sama sekali tidak merasa sedang dikerjai atau dijadikan bahan lelucon. Sebaliknya, mereka merasa sangat bahagia karena berhasil melepaskan kepenatan sejenak dari rutinitas harian. Sesi terapi air  ditutup bukan hanya dengan tubuh yang lebih segar, tetapi juga dengan hati yang lega dan penuh kegembiraan. Sampai jumpa. Semoga terhibur.

Cepu, 13 September 2026

Jumat, 11 September 2026

Ambyar


Karya: Gutamining Saida

Kadang sebuah tulisan tidak lahir dari kejadian yang luar biasa. Tidak harus dari perjalanan jauh, tempat yang indah, atau peristiwa besar yang menggemparkan. Sebuah tulisan bisa saja lahir dari satu kata sederhana yang terdengar sepele.

Seperti Jumat sore ini, Saya mendapatkan ide menulis dari sebuah ucapan Pak Gun yang sangat singkat, padat, dan jelas. Satu kata “Ambyar.”

Entah mengapa kata itu terus terngiang di pikiran saya. Kata yang sebenarnya sering kita dengar dalam percakapan sehari-hari, terutama ketika menggambarkan sesuatu yang berantakan, tidak sesuai rencana, atau keadaan yang tiba-tiba kacau.

 “Ambyar” memiliki cerita tersendiri. Semua bermula ketika kami sudah mulai melakukan berbagai gerakan di dalam kolam. Untuk mempermudah memantau kemampuan peserta, Pak Gun kemudian mengelompokkan ibu-ibu sesuai dengan kemampuannya.

Kali ini kami diarahkan untuk melakukan praktik secara bergantian. “Empat peserta dulu,” begitu kira-kira instruksinya. Yang lainnya melihat terlebih dahulu. Empat peserta dari sebelah kanan bersiap mengambil posisi. Kami yang menunggu giliran memperhatikan dari belakang. Ada rasa penasaran, ada juga rasa ingin tahu apakah gerakan yang selama ini dilatih bisa dilakukan dengan baik.

Pak Gun berada di posisi yang memungkinkan dirinya melihat gerakan kami dengan jelas. Peluit menjadi tanda.

Priiiiiit!

Empat peserta mulai bergerak. Mereka berusaha melakukan gerakan sesuai arahan yang sudah diberikan. Beberapa detik kemudian terdengar peluit kedua.

Priiiiiit!

Itulah tanda untuk berhenti. Namun sesuatu yang tidak direncanakan justru terjadi. Bukannya berhenti dengan rapi di tempat yang diharapkan, empat peserta itu malah... ambyar!

Satu bergerak serong ke kanan. Satu lagi serong ke kiri. Yang satu meluncur lurus semakin menjauh. Satu lagi justru menabrak temannya. Pemandangan yang sebenarnya sederhana itu langsung membuat suasana kolam pecah. Kami yang menyaksikan tidak mampu menahan tawa. Ada yang tertawa terpingkal-pingkal. Ada yang sampai memegangi tubuh karena terlalu geli.

Yang melakukan gerakan pun tidak bisa marah. Mereka justru ikut tertawa melihat posisi masing-masing yang sudah tidak beraturan. Sementara Pak Gun hanya tersenyum, tidak panik, tidak menyalahkan, serta tidak memarahi.

Ia hanya memberikan satu komentar yang singkat, tetapi tepat sasaran.

“Ambyar.”

Satu kata itu sudah cukup menjelaskan semuanya. Gerakan yang seharusnya berjalan teratur ternyata berakhir ke mana-mana. Kejadian lucu itulah saya mendapatkan bahan untuk berpikir. Bukankah kehidupan manusia juga terkadang seperti itu?

Kita sudah memiliki arah, sudah mempunyai tujuan, sudah diberi petunjuk. Kita bahkan sudah berusaha mengikuti arahan. Tetapi dalam perjalanan, terkadang kita bisa saja kehilangan keseimbangan. Akhirnya arah menjadi tidak jelas.

Sebenarnya apa yang menyebabkan seseorang bisa “ambyar”?

Setidaknya ada beberapa hal diantaranya adalah Pertama, terlalu tergesa-gesa. Kedua, tumpuan hanya pada satu kaki. Ketiga, hati sedang resah. Keempat, kurang percaya diri. Sebuah gerakan  “ambyar” justru menjadi kenangan yang menyenangkan. Mungkin itulah salah satu alasan saya senang berada di kolam. Sampai Jumpa di lain kesempatan.

Cepu, 11 September 2026

Lihat Diriku Dulu

 

Karya: Gutamining Saida

Jumat sore kembali menjadi waktu yang saya tunggu. Bukan untuk mengejar sesuatu yang besar, bukan pula untuk mencari kesempurnaan. Saya ingin berikhtiar menjaga kesehatan dengan cara  sederhana  datang ke kolam, bergerak bersama, belajar berenang, dan menikmati kebersamaan.

Kolam renang bukan sekadar tempat untuk bermain air. Ada ikhtiar di dalamnya, keberanian untuk melawan rasa takut, kemauan untuk belajar, dan yang tidak kalah penting, ada kebahagiaan yang tumbuh karena bertemu dengan teman-teman seperjuangan.

Ibu-ibu yang datang lumayan banyak. Suasana kolam pun terasa lebih ramai. Suara air bercampur dengan suara tawa dan sapaan. Belum mulai latihan saja, suasana sudah terasa menyenangkan. Setelah kami berkumpul, Pak Gun menyapa dan mulai memantau kami satu per satu. Beliau kemudian memandu berbagai gerakan yang harus kami lakukan. Sebelum meminta kami mempraktikkan gerakan, Pak Gun selalu memberikan contoh terlebih dahulu.

“Bu ibu, ayo lihat diriku dulu ya,” kata Pak Gun.

Kami harus melihat contoh gerakannya agar tidak salah ketika mempraktikkannya. Namanya juga ibu-ibu. Kadang saking semangatnya, belum selesai Pak Gun memperagakan gerakan, beberapa sudah mulai bergerak sendiri. Ada yang mungkin merasa sudah paham. Ada pula yang terlalu bersemangat sehingga tubuh lebih cepat bereaksi daripada telinga menerima instruksi. Baru saja Pak Gun bersiap memperagakan gerakan, beberapa ibu sudah mulai melakukan gerakan.

“Lho... lho... lihat dulu diriku!” seru Pak Gun sambil tersenyum.

Seketika suasana pecah oleh tawa. Kami saling melihat. Ibu yang ketahuan bergerak lebih dahulu langsung menjadi sasaran candaan teman-temannya. Lucunya, ibu yang ditertawakan tidak merasa tersinggung. Ia justru ikut tertawa bersama. Itulah yang membuat suasana di kolam terasa berbeda.

Di sini tidak ada istilah sakit hati karena ditertawakan. Tidak ada marah karena menjadi bahan candaan. Semua terjadi dalam suasana akrab. Tawa menjadi perekat kebersamaan. Kami seperti belajar satu hal penting tertawa bersama jauh lebih menyenangkan daripada menertawakan seseorang.

Setelah suasana kembali tenang, Pak Gun mulai memberikan contoh gerakan berikutnya. Kali ini gaya terlentang. Tubuh berada di permukaan air. Kepala diletakkan di atas air seolah-olah sedang menggunakan bantal. Tangan diluruskan, sementara kaki digerakkan untuk membantu tubuh meluncur. Punggung dibuat sedikit ndegek (istilah yang sering kami gunakan dalam bahasa Jawa).

Saya pun memperhatikan dengan sungguh-sungguh. Namun masih ada satu hal yang membuat saya penasaran.

“Pak, kaki agar tidak tenggelam bagaimana caranya?” tanya saya.

Pak Gun menjawab dengan sederhana, “Kaki diluruskan, jangan tegak ke atas.”

Kadang dalam belajar sesuatu, kita tidak membutuhkan teori yang rumit. Kita hanya membutuhkan satu penjelasan sederhana yang tepat, kemudian berani mencoba. Setelah memberikan penjelasan, Pak Gun kembali mengajak kami mempraktikkannya.

“Ayo, sekarang ibu-ibu mencoba teori yang sudah saya berikan dan meniru praktik gerakan saya.”

Kami pun bersiap. Pak Gun berada di sisi kanan. Dengan telunjuknya ia menunjuk ibu-ibu yang mendapat giliran. Peluit pun terdengar.

Priiit!

Satu per satu mulai bergerak. Ada yang langsung meluncur dengan percaya diri. Ada yang masih ragu-ragu. Ada yang berusaha menjaga keseimbangan tubuh. Ada pula yang mungkin dalam hati sedang bernegosiasi dengan dirinya sendiri, “Bisa tidak ya?” Tetapi semua mencoba. Itulah bagian yang paling berharga.

Ketika gerakan belum sempurna, tidak ada wajah murung. Tidak ada rasa malu yang berlebihan. Sebaliknya, selalu ada tawa yang membuat suasana menjadi ringan. Saya semakin memahami bila proses belajar tidak harus selalu serius dan menegangkan. Belajar bisa dilakukan dengan senyum, tawa, dan kebersamaan.

Begitu pula dengan menjaga kesehatan. Tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang mahal. Tidak selalu harus menggunakan cara yang rumit. Kadang cukup dengan menyediakan waktu, menggerakkan tubuh, belajar dari orang yang lebih paham, lalu menjalaninya dengan hati yang bahagia.

Di kolam saya menemukan sesuatu yang lebih dari sekadar latihan berenang, keberanian untuk mencoba, kerendahan hati untuk menerima arahan, dan kebahagiaan karena memiliki teman-teman yang bisa tertawa bersama. Pak Gun mungkin hanya melihat kami sebagai ibu-ibu yang sedang belajar berbagai gaya berenang. Bagi saya, setiap gerakan memiliki cerita. Semoga setiap langkah kecil dalam ikhtiar menjaga kesehatan menjadi jalan menuju tubuh yang lebih kuat, hati yang lebih bahagia, dan kehidupan yang lebih penuh syukur. Aamiin

Cepu, 11 September 2026

Rabu, 09 September 2026

Najwa Aisyah Zaara

 


Karya: Gutamining Saida

Suara riuh di koridor kelas VIIIB selalu menyimpan kehangatan tersendiri setiap paginya. Di antara derap langkah dan tawa para siswa yang bersahut-sahutan menyambut dimulainya jam pelajaran, ada satu sosok yang kehadirannya selalu berhasil menyita perhatian. Siswi tersebut adalah Najwa Aisyah Zaara, seorang remaja putri asal Nglanjuk yang membawa pesona serta keceriaan tersendiri di lingkungan sekolah.

Najwa memiliki paras yang sungguh cantik dan menawan. Rona wajahnya yang begitu bersih dan terawat memberikan kesan yang sangat segar, membuat siapa saja yang memandangnya merasa teduh dan nyaman. Keelokan rupa itu semakin sempurna manakala ia melangkah menyusuri lorong sekolah. Senyum manisnya yang tulus hampir tidak pernah absen membingkai bibirnya, seolah-olah keceriaan senantiasa menghias dan menuntun di setiap pijakan langkah kakinya. Penampilannya yang rapi berpadu dengan raut wajahnya yang elok menjadikan sosok Najwa sangat anggun dan elok dipandang.

Kistimewaan Najwa tidak hanya terletak pada penampilan fisiknya saja. Ciri khas paling memikat dari dirinya justru hadir dari kelantangan suaranya. Najwa memiliki vokal yang keras dan melengking, mencerminkan karakter anak muda yang terbuka, dan penuh rasa percaya diri. Ketika ia sedang asyik berbincang atau memberikan komentar di luar ruang kelas, gema suaranya dapat terdengar begitu jelas menembus keriuhan selasar. Tak jarang, sebelum saya melangkahkan kaki memasuki pintu kelas VIIIB, suara melengkingnya yang khas sudah lebih dulu menyapa udara. Suara itu begitu akrab di telinga, hingga secara refleks membuat saya sering kali menghentikan langkah dan mencari-cari dari sudut mana keceriaan itu berasal sebelum kelas dimulai.

Di balik suaranya yang nyaring dan sifatnya yang riang di luar ruang belajar, Najwa menunjukkan kesungguhan yang luar biasa tatkala bel pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dimulai. Di dalam kelas, ia menjelma menjadi seorang murid yang sangat tertib, dan penuh tanggung jawab. Najwa tidak pernah menunda-nunda pekerjaan. Ia selalu rajin menyelesaikan setiap tugas yang diberikan dengan hasil yang memuaskan. Tatkala materi IPS disampaikan, matanya menyimak dengan saksama, sementara tangannya dengan cekatan mencatat setiap detail dan hal-hal penting di buku tulisnya. Rasa ingin tahu serta kedisiplinannya dalam belajar menunjukkan dedikasi yang sangat tinggi terhadap pendidikannya.

Najwa Aisyah Zaara adalah gambaran utuh dari seorang siswi yang seimbang. Keindahan paras, kehangatan senyuman, serta keunikan suaranya di luar kelas berpadu harmonis dengan ketekunan serta keseriusannya di meja belajar. Kehadiran siswi cantik dari Nglanjuk ini tidak hanya menghidupkan dinamika kelas VIIIB, tetapi juga menjadi salah satu warna indah yang selalu memberi semangat dalam lembaran rutinitas mengajar sehari-hari.

Cepu, 10 September 2026

Sabya Indah Listiyani

 

Karya: Gutamining Saida

Lingkungan sekolah selalu memiliki warna dan nadanya sendiri. Udara yang masih menyisakan kesejukan sisa malam seolah berpadu dengan derap langkah kaki-kaki kecil yang berlarian menyusuri selasar kelas. Menjadi seorang pendidik, rutinitas pagi ini adalah sebuah kanvas kehidupan yang senantiasa dinikmati dengan penuh rasa syukur. Setelah menempuh perjalanan membelah angin pagi, memacu kendaraan melintasi rute menuju sekolah. Rasa lelah terkadang sempat singgah sejenak di pundak. 

Segala penat itu selalu memiliki cara ajaib untuk menguap, terhapus seketika oleh semaraknya kehidupan khas anak-anak usia menengah pertama yang begitu murni dan jujur. Di antara ratusan wajah yang menghiasi lorong-lorong dan ruang kelas itu, ada satu presensi yang selalu berhasil mencuri perhatian dan menghangatkan hati. 

Sabya Indah Listiyani adalah salah satu siswi yang duduk di bangku kelas VIIIB. Kehadirannya di sekolah tidak pernah luput dari pandangan, bukan semata-mata karena ia berada di lingkungan kelas tempat saya berbagi ilmu.  Energi luar biasa yang selalu ia bawa ke mana pun ia melangkah. Apabila harus merangkum sosok Sabya, kata pertama yang paling pantas untuk mendeskripsikannya  'lincah'. 

Ia seolah memiliki pegas tak kasat mata di kedua kakinya, selalu bergerak dengan kelincahan seorang anak yang sedang merayakan indahnya kehidupan itu sendiri. Tidak pernah sekalipun saya menangkap gurat kesedihan, keluhan, atau kemurungan di wajahnya. Dunia di mata Sabya sepertinya adalah sebuah taman bermain yang luas, penuh dengan hal-hal menakjubkan yang patut disambut dengan gegap gempita dan antusiasme tanpa batas.

Rutinitas pertemuan kami di sekolah pun selalu memiliki koreografinya sendiri yang unik dan mengesankan. Tidak peduli di sudut mana kami berpapasan entah itu di ujung kelas yang ramai, di dekat gerbang sekolah saat senyum pagi merekah, atau di lapangan tatkala jam istirahat tiba. 

Sabya selalu menjadi pihak yang pertama kali menyapa. Ia tidak sekadar mengangguk pelan atau tersenyum malu-malu sambil menunduk seperti kebanyakan anak seusianya. Sebaliknya, ia akan setengah berlari menghampiri, melambaikan tangannya dengan semangat yang meluap-luap, dan berteriak nyaring memanggil-manggil nama saya dari kejauhan.

Panggilannya yang penuh suka cita itu bukan sekadar formalitas seorang murid kepada gurunya, melainkan sebuah sapaan tulus yang merambat bagai gelombang hangat, menembus keriuhan sekolah dan langsung menyentuh relung hati.

Penampilan fisik Sabya juga memiliki daya tarik dan keunikan yang membuatnya semakin istimewa di mata siapa saja yang memandangnya. Ia memiliki rona kulit sawo matang yang eksotis, tipikal kecantikan sejati anak-anak Nusantara yang bersahabat dengan hangatnya sinar matahari saat beraktivitas di luar ruangan. 

Warna kulitnya itu tampak begitu sehat dan berseri-seri, membingkai wajahnya yang selalu memancarkan binar kegembiraan. Di atas hidungnya, bertengger sebuah kacamata minus yang seolah menjadi ciri khas tak terpisahkan dari identitasnya. Bingkai kacamata tersebut sering kali sedikit melorot manakala ia sedang tertawa terbahak-bahak atau bergerak cepat, memaksanya untuk mendorong kacamata itu kembali ke atas dengan gerakan yang teramat natural dan menggemaskan. Kacamata itu sama sekali tidak menutupi keceriaannya, justru memberikan kesan cerdas yang berpadu apik dengan sifat jenakanya.

Pesona yang paling memukau dari seorang Sabya Indah Listiyani adalah senyumannya. Setiap kali ia menyapa, merespons pertanyaan, atau sekadar mendengarkan sebuah cerita di kelas, bibirnya akan melengkung membentuk senyuman paling lebar, memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih dan terawat dengan baik. Kontras antara kulit sawo matangnya dan kilau gigi yang seputih mutiara itu menciptakan sebuah harmoni visual yang membuat penampilannya semakin menarik dan tak terlupakan. Senyuman seolah memancarkan cahaya tersendiri. Sebuah sinyal tak bersuara yang menegaskan  hari ini adalah hari yang baik dan tidak ada ruang untuk berkeluh kesah.

Di dalam ruang kelas VIIIB, semangat sekolahnya benar-benar terasa menghidupkan suasana. Ketika pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial tengah berlangsung, membahas dinamika masyarakat hingga sejarah masa lampau, Sabya bukanlah tipe siswa yang pasif. Matanya di balik lensa kacamata itu selalu berbinar-binar menyiratkan rasa ingin tahu yang besar. 

Kelincahannya bukan sekadar gerak fisik, melainkan cerminan dari kelincahan berpikirnya. Ia merespons segala hal dengan semangat yang sering kali menular kepada teman-temannya yang lain. Bagi seorang pendidik yang telah menyaksikan pergantian generasi dan berbagai macam karakter murid, menemukan seorang anak yang tangguh secara mental dan dibalut dalam keceriaan murni seperti Sabya adalah sebuah oase yang sangat menyegarkan.

Menatap wajahnya yang selalu riang dan mendengarkan suaranya yang melengking ceria saat memanggil dari ujung selasar, diam-diam menjadi semacam pengingat personal. Anak-anak seperti Sabya adalah alasan utama mengapa profesi mendidik ini begitu indah. Mereka bukan sekadar hadir untuk menimba ilmu. Ia membawa energi positif yang mampu mengusir kepenatan orang dewasa di sekitarnya. 

Kelak, ketika lembaran-lembaran ingatan ini dirajut dan dikumpulkan menjadi sebuah naskah tulisan utuh untuk diwariskan kepada anak cucu, nama Sabya Indah Listiyani pasti akan menempati satu ruang cerita tersendiri. Ia akan abadi sebagai sebuah memori manis. Ia dengan langkah lincah dan senyum putih bersihnya, selalu berhasil merayakan sekolah layaknya sebuah panggung kegembiraan yang tak pernah sepi.

Cepu, 10 September 2026

Juna Arya Sismanto

 


Karya: Gutamining Saida

"Mimpi boleh jauh. Langkah boleh perlahan. Yang penting, terus bergerak menuju tujuan."

Setiap anak memiliki mimpi. Ada yang sudah tahu ingin menjadi apa, ada pula yang masih mencari arah. Tugas orang dewasa bukan menentukan mimpi mereka, tetapi membantu agar mimpi itu memiliki jalan untuk diwujudkan.

Juna Arya Sismanto nama lengkap dari kedua orang tuanya. Saya biasa menyapanya dengan nama Juna. Saya mengenalnya cukup dekat karena ketika kelas tujuh, saya mendapat amanah sebagai wali kelasnya. Selama menjadi wali kelas, saya melihat Juna sebagai anak yang memiliki semangat belajar dan kelebihan yang cukup menonjol, terutama dalam mata pelajaran Bahasa Inggris.

Kemampuannya dalam Bahasa Inggris tidak datang begitu saja. Juna mengikuti kursus di kampung Inggris saat liburan. Tujuannya agar semakin mampu menggunakan Bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari. Ia tidak hanya ingin mendapatkan nilai yang bagus di sekolah, tetapi juga ingin memiliki kemampuan yang bisa digunakan dalam kehidupan nyata.

Menurut saya, hal tersebut merupakan sesuatu yang baik. Belajar bahasa bukan sekadar menghafalkan kosakata atau mengerjakan soal. Bahasa adalah alat untuk berkomunikasi. Dengan menguasai bahasa asing, seseorang memiliki kesempatan untuk berkomunikasi dengan lebih banyak orang dan mengenal dunia yang lebih luas.

Juna pernah bercerita tentang mimpinya untuk pergi ke Negeri Sakura, Jepang. Mimpi itu mungkin terdengar sederhana bagi sebagian orang.  Sebuah mimpi yang diucapkan seorang anak adalah sesuatu yang patut dihargai.

Saya masih teringat ketika sedang mengajar materi tentang negara maju. Saat pembelajaran sampai pada pembahasan Jepang, Juna langsung bertanya kepada saya,

“Bu, apakah harus bisa bahasa Jepang?”

“Iya,” jawab saya singkat.

“Saya sudah bisa Bahasa Inggris, Bu.”kata Juna dengan percaya diri, 

“Bagus!” jawab saya.

Saya kemudian menjelaskan kepadanya Bahasa Inggris merupakan bahasa internasional yang banyak digunakan di berbagai negara. Dengan kemampuan Bahasa Inggris, seseorang akan lebih mudah berkomunikasi ketika berada di luar negeri.

Jika tujuan Juna benar-benar ingin pergi ke Jepang, tentu akan lebih baik jika ia juga memiliki bekal Bahasa Jepang. Jepang memiliki bahasa nasional sendiri. Masyarakatnya tentu lebih nyaman menggunakan Bahasa Jepang dalam kehidupan sehari-hari.

Saya mengatakan kepadanya, tidak ada salahnya mempersiapkan diri sejak sekarang. Kalau suatu saat benar-benar mendapatkan kesempatan pergi ke Jepang, kemampuan Bahasa Inggris akan menjadi bekal yang baik, sedangkan Bahasa Jepang akan menjadi bekal tambahan yang sangat berguna.

Saya melihat Juna cukup antusias ketika membicarakan hal tersebut. Dari pertanyaan sederhananya, saya menangkap bahwa ia memiliki rasa ingin tahu yang besar. Ia tidak hanya belajar untuk hari ini, tetapi sudah mulai memikirkan kebutuhan di masa depan.

Di situlah pentingnya sebuah mimpi. Mimpi membuat seseorang memiliki tujuan. Ketika seseorang memiliki tujuan, ia akan lebih mudah menentukan langkah yang harus dilakukan. Juna tinggal di Sambong. Di daerah tempat tinggalnya sebenarnya terdapat sekolah tingkat SMP. Dia memilih bersekolah di SMP yang berada di Cepu. Pilihan itu tentu memiliki pertimbangan tersendiri.

Setiap hari setelah sekolah, Juna pulang ke rumah neneknya yang berada di Cepu. Jarak dan aktivitas sehari-hari menjadi bagian dari perjuangannya dalam mendapatkan pendidikan yang ia inginkan. Cepu sebagai daerah perkotaan memiliki berbagai fasilitas yang dapat menunjang kegiatan belajar. Tidak hanya sekolah, tetapi juga tersedia berbagai tempat kursus dan kegiatan pengembangan diri. Anak-anak dapat mengikuti les mata pelajaran untuk membantu meningkatkan kemampuan akademiknya. Selain itu, ada pula berbagai kegiatan lain seperti kursus musik, renang, dan keterampilan lainnya.

Lingkungan seperti itu tentu memberikan banyak pilihan untuk mengembangkan kemampuan. Saya melihat pilihannya untuk bersekolah di Cepu bukan sekadar memilih tempat belajar. Ada keinginan untuk mendapatkan lingkungan yang lebih luas dan kesempatan yang lebih banyak. Ia ingin memanfaatkan fasilitas yang tersedia untuk mempersiapkan dirinya menghadapi masa depan.

Saat ini mimpi pergi ke Jepang masih sebatas cerita seorang anak kepada gurunya. Belum tentu kapan mimpi itu akan terwujud. Saya percaya bahwa setiap mimpi yang disertai usaha memiliki kemungkinan untuk menjadi kenyataan.

Tidak ada yang tahu seperti apa perjalanan Juna beberapa tahun mendatang. Bisa jadi ia benar-benar menginjakkan kaki di Jepang. Bisa jadi ia melanjutkan pendidikan di tempat yang jauh dari rumah. Bisa jadi kemampuan Bahasa Inggris yang sekarang dipelajarinya menjadi bekal penting dalam pekerjaannya kelak.

Atau mungkin jalan hidupnya membawa Juna kepada sesuatu yang saat ini belum pernah ia bayangkan. Sebagai seorang guru, saya tidak memiliki kuasa untuk menentukan masa depannya. Saya hanya bisa memberikan dorongan, menjawab pertanyaannya, dan menanamkan keyakinan bahwa belajar adalah salah satu jalan untuk membuka kesempatan.

Anak yang hari ini duduk di bangku kelas delapan. Beberapa tahun lagi akan menjadi orang dewasa yang menentukan jalan hidupnya sendiri. Maka, jangan pernah meremehkan mimpi seorang anak. Bisa jadi pertanyaan sederhana yang ia sampaikan di dalam kelas adalah awal dari perjalanan yang panjang. Semoga Juna terus belajar, terus berusaha, dan tidak takut memiliki mimpi yang tinggi. Masa depan memang belum terlihat. Tetapi masa depan dapat dipersiapkan mulai dari hari ini. Semoga tercapai cita-citamu. Semangat...

Cepu, 10 September 2026





Bersama Ibu-ibu Bermutu


Karya: Gutamining Saida

Rabu pagi, grup Musa Swimming Squad 2 kembali mendapat sapaan dari Pak Gun. Beliau menulis, “Saya nanti sore di kolam.” Kabar tersebut tentu menjadi berita menggembirakan bagi ibu-ibu yang ingin berlatih dan menjaga kesehatan bersama. Meskipun Rabu bukan jadwal khusus untuk latihan kami, Pak Gun tetap memberikan kesempatan kepada siapa saja yang ingin datang ke kolam. Beliau bersedia hadir untuk berbagi ilmu dan mengondisikan kegiatan apabila ada ibu-ibu yang datang.

Tidak lama kemudian, beberapa ibu langsung memberikan tanggapan.

“Alhamdulillah, sehat, Pak,” tulis Bu Rini.

“Sehat, Pak!” jawab Bu Aci.

Percakapan sederhana di dalam grup itu menunjukkan bahwa ibu-ibu menyambut kabar tersebut dengan penuh semangat. Kemudian ada yang bertanya, “Adakah nanti yang ke kolam?”

“Ada, Bu."jawab Bu Asih.

"Ya, Bu siap menemani,” jawab Mbak Ima.

Saya hanya membaca percakapan tersebut dalam diam. Tidak ikut memberikan komentar ataupun memastikan akan datang. Bukan karena tidak ingin berenang, tetapi hari Rabu merupakan jadwal mengajar saya yang cukup padat. Sejak pagi hingga siang, kegiatan di sekolah terasa penuh. Setelah menyelesaikan tugas mengajar, tubuh tentu membutuhkan istirahat.

Saya sebenarnya ada keinginan untuk datang ke kolam. Saya membayangkan akan bertemu dengan ibu-ibu yang lain. Pasti suasananya ramai, penuh canda, dan menyenangkan. Hanya saja, rasa lelah dan malas terkadang lebih mudah memenangkan hati daripada keinginan untuk bergerak.

Sore hari pun tiba. Ketika saya masih mempertimbangkan untuk pergi atau tidak, tiba-tiba sang anak bertanya singkat, “Gak ke kolam?”

Pertanyaan itu sederhana, justru mampu menggugah semangat saya. Saya seperti diingatkan kembali bila ingin  sehat membutuhkan usaha. Kalau hanya menunggu tubuh benar-benar segar atau menunggu rasa malas hilang, mungkin saya tidak akan pernah berangkat.

Akhirnya saya memutuskan untuk bersiap. Sesampainya di sana, sudah ada beberapa ibu yang datang. Dari kejauhan, mereka menyambut dengan senyum yang terlihat begitu bahagia. Senyum sederhana  terasa menyejukkan hati. Rasa lelah setelah seharian mengajar seolah perlahan berkurang ketika melihat wajah-wajah yang akrab dan penuh semangat.

Sore itu terasa berbeda. Kami datang bukan hanya untuk berolahraga, tetapi juga untuk bertemu, berbagi cerita, dan saling memberikan semangat. Kolam renang menjadi tempat bertemunya orang-orang yang memiliki tujuan yang sama, yaitu berusaha menjaga kesehatan sambil menikmati kebersamaan.

Pak Gun pun datang menghampiri kami. Meskipun sebenarnya hari itu bukan jadwal khusus bersama ibu-ibu, beliau tetap bersedia meluangkan waktu. Hal tersebut membuat saya kembali mengagumi sosok Pak Gun. Beliau tidak pelit ilmu dan tidak menghitung-hitung waktu ketika ada kesempatan untuk berbagi. Bagi beliau, membantu orang lain agar lebih sehat dan mampu berenang merupakan sesuatu yang menyenangkan.

“Apa kabar, ibu-ibu? Sehat semua?”sapa pak Gun dengan ramah dan senyum.

“Alhamdulillah sehaaaaat!” jawab kami hampir bersamaan tanpa ada yang memberikan komando.

Suasana pun menjadi semakin akrab. Pak Gun kemudian berkata dengan nada bercanda, “Ini kelompok ibu-ibu bermutu, ya?”

“Betul, Pak!” jawab kami.

Ternyata yang dimaksud dengan ibu-ibu “bermutu” adalah ibu-ibu yang sudah memiliki cucu. Candaan tersebut membuat suasana semakin hangat. Kami pun tertawa sambil membicarakan jumlah cucu masing-masing.

Pak Gun kemudian menunjuk deretan ibu-ibu yang berada di sebelah kanan sambil bertanya, “Njenengan berapa?”

“Empat!”

“Tiga!”

“Dua!”

Jawaban tersebut terdengar bersahutan. Ada yang sudah memiliki empat cucu, tiga cucu, dan dua cucu. Masing-masing menyebutkan dengan penuh kebanggaan dan rasa syukur.

Pak Gun kemudian mengatakan, “Alhamdulillah, cucu itu warisan yang berharga, nggih.”

Kalimat tersebut membuat saya diam sejenak. Memang benar, cucu merupakan salah satu anugerah yang begitu berharga. Kehadiran mereka menjadi bagian dari perjalanan kehidupan yang panjang. Dahulu kita sibuk membesarkan anak-anak. Mengasuh mereka, mengantar sekolah, memenuhi kebutuhan mereka, serta mendampingi mereka melewati berbagai tahap kehidupan. Tanpa terasa, anak-anak tumbuh dewasa dan memiliki kehidupan sendiri. Kemudian hadir generasi berikutnya yang membuat kehidupan keluarga terasa semakin lengkap.

Cucu bukan hanya tentang bertambahnya anggota keluarga. Kehadiran mereka juga menjadi pengingat jika waktu terus berjalan. Usia bertambah, anak-anak tumbuh, dan kehidupan terus berganti generasi.Oleh karena itu, menjaga kesehatan menjadi sesuatu yang penting. Bukan semata-mata agar dapat berenang atau melakukan aktivitas fisik, tetapi agar kita masih diberi kesempatan untuk menikmati kebersamaan bersama keluarga, anak-anak, dan cucu-cucu.

Saya semakin memahami kesehatan tidak selalu harus ditempuh dengan cara yang rumit. Kadang-kadang, kemauan untuk bergerak, berkumpul dengan orang-orang yang positif, belajar sesuatu yang baru, serta menikmati suasana dengan hati yang bahagia juga menjadi bagian dari ikhtiar menjaga diri.

Saya bersyukur telah mengalahkan rasa malas sore itu. Jika saya memilih tetap di rumah karena lelah, saya tentu akan kehilangan suasana hangat bersama ibu-ibu. Saya mungkin juga tidak akan mendengar candaan tentang “ibu-ibu bermutu” dan tidak akan mendapatkan pelajaran sederhana tentang arti berbagi dari Pak Gun.

Kebaikan akan terasa lebih indah ketika dilakukan dengan ikhlas. Pak Gun berbagi waktu dan ilmu tanpa mempermasalahkan apakah hari itu merupakan jadwalnya atau bukan. Beliau hadir karena ingin berbagi. Dari sikap tersebut, saya belajar bahwa ilmu yang dibagikan tidak akan berkurang. Justru ketika ilmu diberikan kepada orang lain, manfaatnya dapat menjadi lebih luas.

Berbagi waktu, berbagi ilmu, berbagi pengalaman, bahkan sekadar berbagi senyum, semuanya dapat menjadi kebaikan. Kita tidak pernah tahu, mungkin bagi seseorang sebuah sapaan sederhana atau senyum tulus dapat menjadi penyemangat di tengah rasa lelahnya.

Mungkin suatu hari nanti tubuh kita tidak lagi sekuat sekarang. Gerakan yang hari ini terasa ringan bisa jadi menjadi sesuatu yang sulit dilakukan. Oleh karena itu, selagi Allah Subhanahu Wata'alla masih memberikan kesehatan dan kesempatan, mari kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Pada akhirnya, yang paling berharga dalam hidup bukanlah seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, melainkan seberapa banyak kebaikan yang sempat kita berikan dan seberapa banyak kebahagiaan yang pernah kita bagikan kepada orang lain.

Cepu,  10 September 2026

Senin, 07 September 2026

Refresing Tipis-tipis

 


Karya: Gutamining Saida

Senin, 31 Agustus 2026, seharusnya menjadi hari biasa seperti hari-hari lainnya. Ternyata  hari  Senin kali ini  memiliki cara sendiri untuk menghadirkan cerita. Kami mendapat undangan makan siang di Warung Makan Jendil, milik Pak Pin, yang terkenal dengan menu iwak gawan. Undangan makan siang tentu menyenangkan. Kami menemukan satu keseruan lain yang justru menjadi pembuka cerita hari itu.

Kami melihat sebuah perahu yang siap membawa siapa saja menyusuri aliran Bengawan Solo. Tanpa banyak berpikir, kami berempat sepakat memanfaatkan kesempatan tersebut. Kapan lagi bisa menikmati Bengawan Solo dari atas perahu dengan suasana yang masih begitu alami?

Perahu itu terlihat sederhana. Tidak ada kemewahan, tidak ada fasilitas yang berlebihan. Kesederhanaan itulah yang membuatnya menarik. Perahu akan berangkat setelah ada penumpang. Berapa pun jumlahnya, tetap siap mengantar siapa saja yang ingin menikmati perjalanan menyusuri air bengawan Solo.

Kami pun naik. Perahu mulai bergerak perlahan meninggalkan tepian. Suara mesin terdengar menemani perjalanan. Air Bengawan Solo terbelah oleh laju perahu, menciptakan riak-riak kecil yang bergerak ke belakang. Perlahan suasana di daratan terasa menjauh.

Ada sensasi berbeda ketika melihat alam dari atas air. Jika selama ini kita hanya melihat Bengawan Solo dari pinggir. Kami bisa merasakan bagaimana rasanya berada di tengah alirannya. Pemandangan yang selama ini mungkin luput dari perhatian tiba-tiba menjadi begitu menarik.

Pepohonan tumbuh menghijau di tepian. Beberapa bagian masih terlihat alami, seolah belum banyak tersentuh tangan manusia. Hamparan alam itu menghadirkan kesejukan tersendiri. Tidak ada hiruk-pikuk kendaraan. Tidak ada suara bising perkotaan yang mendominasi. Yang ada hanyalah aliran air, hembusan angin, pepohonan, dan suara kami berempat yang sesekali pecah oleh tawa.

Kami pun tidak menyia-nyiakan kesempatan. Kamera dan ponsel mulai diarahkan ke berbagai sudut. Ada yang berfoto sendiri, berfoto berdua, kemudian tentu saja foto bersama. Bukan karena kami ingin terlihat hebat, tetapi karena kami ingin mengabadikan sebuah kebersamaan sederhana yang suatu hari nanti mungkin akan sangat dirindukan.

Bukankah kenangan sering kali lahir dari hal-hal sederhana? Bukan dari perjalanan mahal. Bukan dari tempat mewah. Bukan pula dari sesuatu yang harus direncanakan berbulan-bulan. Terkadang kebahagiaan justru muncul ketika kita mau berhenti sejenak dari rutinitas, melihat sekeliling, kemudian berkata, “Mengapa tidak kita coba?”

Perjalanan dengan perahu itu menjadi pengingat bagi kami  menikmati hidup tidak harus selalu mahal. Dengan ongkos yang sangat ramah di kantong, cukup Rp10.000 per orang, kami sudah bisa mendapatkan pengalaman yang mungkin nilainya jauh lebih besar daripada uang yang kami keluarkan.

Sepuluh ribu rupiah berubah menjadi perjalanan. Perjalanan berubah menjadi pemandangan. Pemandangan berubah menjadi cerita. Cerita berubah menjadi kenangan. Itulah yang membuat sebuah pengalaman terasa mahal, meskipun harganya murah.

Semakin jauh perahu bergerak, semakin kami menikmati suasananya. Angin yang menerpa wajah seperti membawa pergi sejenak kepenatan yang selama ini menumpuk. Rasanya seperti diberi kesempatan untuk menarik napas lebih panjang.

Kami akhirnya kembali menuju tepian. Perahu perlahan merapat. Perjalanan selesai, tetapi cerita belum berakhir. Setelah turun dari perahu, kami melanjutkan perjalanan menuju Warung Makan Jendil Pak Pin untuk memenuhi undangan makan siang.

Ikan gawan sudah menunggu. Sebelum menikmati hidangan, kami sudah mendapatkan “menu pembuka” yang tidak kalah istimewa yaitu kebersamaan dan pemandangan Bengawan Solo dari atas perahu.

Saya semakin percaya, hidup ini bukan hanya tentang seberapa jauh kita pergi atau seberapa mahal tempat yang kita kunjungi. Hidup adalah tentang bagaimana kita mampu menemukan makna dari setiap perjalanan. Perahu sederhana itu mengajarkan satu hal penting "jangan terlalu sibuk mengejar tujuan sampai lupa menikmati perjalanan."

Kami pulang dengan rasa syukur pernah menikmati satu hari yang sederhana dengan cara yang begitu istimewa. Bengawan Solo mengalir membawa airnya. Kami mengalir membawa cerita serta bahagia.

Cepu, 31 Agustus 2026

Sabtu, 05 September 2026

Masa Kecil Kurang Bahagia


Karya : Gutamining Saida 

Sabtu sore, Bumool seolah sedang mengenakan pakaian terbaiknya. Matahari perlahan condong ke barat. Cahayanya tidak lagi menyengat seperti siang hari. Angin berembus lembut, sementara permukaan kolam berkilauan diterpa cahaya sore.

Air kolam seperti sedang tersenyum. Mungkin ia tahu, sebentar lagi akan datang sekelompok ibu-ibu yang tidak hanya ingin berenang, tetapi juga ingin menitipkan lelahnya kepada air. Satu per satu ibu-ibu datang. Ada wajah-wajah lama yang sudah akrab dengan suasana kolam. Ada pula wajah baru yang membuat rombongan semakin ramai.

Bumool semakin penuh. Suara salam bersahutan. Tawa mulai terdengar. Canda mulai beterbangan.Seolah-olah rasa lelah dari rumah tertinggal di pintu masuk dan tidak diperbolehkan ikut masuk ke kolam.

Sore itu kami berbaris panjang. Dari ujung sampai ujung. Kalau ada yang melihat dari kejauhan, mungkin akan mengira kami sedang mengikuti upacara penting. Padahal kami sedang mempersiapkan diri untuk berperang. Bukan perang melawan manusia. Bukan pula perang melawan musuh. Kami sedang berperang melawan rasa takut, malas, pegal, dan mungkin juga berbagai pikiran yang selama ini memenuhi kepala.

Komandan kami tentu saja Pak Gun. Dengan penuh semangat, aba-aba pun diberikan. Kami bergerak. Gaya bebas dicoba. Gaya dada dicoba, mengapung pun dicoba. Tangan bergerak, kaki menendang, tubuh meluncur, air bergoyang ke sana kemari.

Kolam yang semula tenang berubah menjadi arena penuh gerakan. Seolah-olah air berkata, "Ayo, jangan takut. Percayalah kepadaku."

Kami pun menurut, ada yang meluncur dengan penuh percaya diri, masih ragu-ragu,  gerakannya begitu semangat sampai air pun mungkin kebingungan harus mengalir ke mana. Kami semua tetap mencoba. Kami tahu, tidak ada orang yang langsung pandai hanya dengan sekali mencoba. 

Burung pun harus belajar mengepakkan sayap sebelum mampu terbang. Begitu pula kami, sedang belajar mengalahkan rasa takut sedikit demi sedikit. Tanpa kami sadari, sebenarnya bukan hanya tubuh yang sedang dilatih.  Hati juga sedang dilatih. Belajar percaya, sabar, menerima bahwa setiap orang mempunyai kemampuan dan proses yang berbeda. Ada yang cepat, perlahan, sudah bisa berenang, masih belajar mengapung. Semuanya tetap berada dalam satu kolam yang sama.

Bukankah kehidupan juga demikian? Allah Subhanahu Wata'alla menciptakan manusia dengan jalan yang berbeda-beda. Ada yang hidupnya terlihat mudah. Ada yang harus berjuang lebih keras. Ada yang cepat mendapatkan apa yang diinginkan. Ada yang harus menunggu bertahun-tahun. Kita tetap berada dalam kolam kehidupan yang sama. Masing-masing mempunyai cerita, mempunyai perjuangan.

Masing-masing mempunyai waktu terbaik yang telah Allah Subhanahu Wata'alla tetapkan. Sore semakin berjalan. Latihan semakin seru. Suara tawa semakin sering terdengar. Rasa malu mulai hilang. Yang tersisa hanyalah kegembiraan. Sampai akhirnya kami sampai di penghujung latihan.

Kami pikir, setelah sampai di ujung kolam berarti petualangan selesai. Ternyata kami salah. Pak Gun kembali memberikan instruksi.

"Merapat!" 

Kami pun mendekat. Semakin rapat. Semakin dekat. Air kolam mulai terlihat mencurigakan. Seolah-olah ia sedang menyimpan sebuah rahasia. Kemudian terdengar perintah berikutnya. Kami diminta menepuk-nepuk air. Satu kali. Dua kali. Kemudian semakin ramai. Tangan kami menghantam permukaan kolam. Plak! Plak! Plak!

Air pun seperti terkejut. Ia meloncat-loncat ke udara. Cipratan air mengenai wajah kami. Bukannya marah, kami justru tertawa. Wajah-wajah yang tadinya serius berubah menjadi ceria. Ada yang menghindar. Ada yang terkena cipratan. Ada yang malah sengaja membuat air semakin tinggi. Kolam seolah berubah menjadi taman bermain. Dan tiba-tiba... kami seperti kembali menjadi anak-anak. Tidak ada usia. Tidak ada pekerjaan. Tidak ada jabatan. Tidak ada masalah.Yang ada hanya tawa.

Kemudian Pak Gun kembali memberikan instruksi. Tangan diminta mengambil air. Setelah itu tangan ditarik ke atas.

Byurrrrr! Air jatuh ke wajah. Tawa pun pecah. Bumool sore itu seolah-olah tidak lagi menjadi kolam renang. Ia berubah menjadi mesin waktu. Mengembalikan kami puluhan tahun ke belakang. Ke masa ketika bermain air adalah kebahagiaan.

"Ibu-ibu masa kecil kurang bahagia."ucap Pak Gun

Kami langsung tertawa. Entah itu sindiran. Entah itu candaan. Tetapi mungkin ada benarnya juga. Sebab setelah tua, kita terlalu sibuk mengejar banyak hal. Mengejar pekerjaan, kebutuhan, mengurus keluarga, memikirkan anak. Sampai terkadang lupa bagaimana caranya menikmati hari ini.

Selama Allah Subhanahu Wata'alla masih memberikan kesehatan, teman untuk berbagi, dan kesempatan untuk tertawa, sesungguhnya hidup ini masih menyimpan begitu banyak alasan untuk disyukuri. Bahagia tidak selalu harus dicari jauh-jauh. Kadang ia hanya berjarak beberapa langkah, menunggu kita berani mencelupkan tangan ke dalam air dan tertawa bersama. Alhamdulillah...

Cepu, 6 September 2026