Sabtu, 21 Maret 2026

Halal Bihalal

Karya: Gutamining Saida 
Halal bihalal keluarga besar Bani Seman-Pani tahun 2026  menjadi momen yang begitu berkesan dan penuh makna. Sejak pagi hari, satu per satu anggota keluarga mulai berdatangan dari berbagai daerah. Undangan pukul 10.00 WIB. Keluarga dari almarhum bapak saya datang terlambat karena jlnan macet.  Ada yang menempuh perjalanan jauh dari Jember, Bojonegoro, Yogyakarta, Cepu, hingga yang paling banyak berasal dari Tambakrejo. Meski jarak memisahkan, semangat untuk bersilaturahmi mampu mengalahkan lelahnya perjalanan. Semua hadir dengan satu tujuan yaitu mempererat tali persaudaraan dan merajut kembali kasih sayang dalam bingkai kebersamaan.

Suasana terasa hangat sejak langkah pertama memasuki lokasi acara. Senyum tulus, pelukan hangat, dan sapaan penuh rindu menjadi pemandangan yang begitu indah. Anak-anak berlarian ceria, sementara orang dewasa saling bertukar kabar, mengingat masa lalu, dan berbagi cerita kehidupan.

Dalam momen itu, terasa betapa pentingnya keluarga sebagai tempat kembali, tempat berbagi, dan tempat menemukan ketenangan hati.
Acara dibuka dengan penuh khidmat. Diawali dengan ss yang menggema, menyejukkan hati setiap yang hadir. Seakan menjadi pengingat bahwa setiap pertemuan, setiap kebersamaan, sejatinya adalah karunia dari Allah Subhanahu Wata'alla yang patut disyukuri. Dilanjutkan dengan sambutan dari sesepuh keluarga yang akan pesan-pesan kebijaksanaan. Beliau mengingatkan pentingnya menjaga silaturahmi, karena dalam setiap jalinan hubungan yang baik, terdapat keberkahan hidup.

Dalam suasana yang penuh kekeluargaan, inti acara halal bihalal pun dimulai. Satu per satu anggota keluarga saling bersalaman, saling memohon maaf dengan penuh keikhlasan. Tidak ada lagi sekat usia, jabatan, ataupun kedudukan. Yang muda menghormati yang tua, yang tua menyayangi yang muda. Semua melebur dalam satu rasa yaitu kerendahan hati dan keinginan untuk saling memaafkan.

Air mata haru tak sedikit yang jatuh, terutama saat menyadari bahwa waktu terus berjalan.
Ada orang-orang tercinta yang mungkin sudah tidak lagi bersama, namun kenangan mereka tetap hidup dalam setiap doa dan kebersamaan keluarga. Momen halal bihalal ini menjadi pengingat bahwa hidup di dunia hanyalah sementara, dan yang abadi adalah amal kebaikan serta hubungan yang dilandasi keikhlasan. 

Setelah prosesi salam-salaman, acara dilanjutkan dengan makan bersama. Hidangan sangat beragam. Ada lontong sate ayam, lontong opor, nasi asem-asem, bakso. Kerupuk udang sebagai pelengkap. 
Terasa begitu nikmat karena dinikmati dalam suasana kebersamaan. Tidak ada yang lebih mewah dari kebersamaan itu sendiri. Saling berbagi, bercanda ringan, hingga tawa yang pecah di sana-sini menjadi pelengkap kehangatan hari itu. Kebahagiaan terasa begitu sederhana, justru di situlah letak keindahannya.
Tak hanya sekadar berkumpul, halal bihalal ini juga menjadi ajang mempererat ukhuwah islamiyah. Dalam setiap percakapan, terselip doa-doa kebaikan. Dalam setiap senyum, ada harapan agar keluarga ini senantiasa diberi kesehatan, keberkahan rezeki, serta perlindungan dari Allah Subhanahu Wata'alla. 

Kebersamaan ini bukan hanya untuk hari ini, tetapi menjadi bekal untuk menjaga hubungan di masa yang akan datang.
Menjelang akhir acara, sesi foto bersama menjadi penutup yang tak kalah berkesan. Dimulai dari keluarga anak pertama hingga terakhir, semua mendapatkan giliran untuk mengabadikan momen kebersamaan. Meski sempat diwarnai canda ada yang belum siap, ada yang bercanda saat difoto. Keadaan justru itulah keadaan yang membuat suasana semakin hidup. Foto-foto itu kelak akan menjadi kenangan berharga, bukti bahwa keluarga besar ini pernah berkumpul dalam kebahagiaan.

Di balik semua rangkaian acara yang berjalan lancar, ada rasa syukur yang begitu dalam. Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk berkumpul lengkap bersama keluarga. Oleh karena itu, momen ini menjadi sangat berharga dan patut dijaga. Halal bihalal bukan sekadar tradisi, tetapi menjadi sarana untuk membersihkan hati, memperbaiki hubungan, dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata'alla. 

Semoga kebersamaan keluarga besar Bani Seman–Pani ini selalu diridhai Allah Subhanahu Wata'alla. Semoga tali silaturahmi tetap terjaga, meski jarak dan waktu menjadi tantangan. Semoga setiap langkah yang ditempuh dalam perjalanan pulang masing-masing senantiasa dalam lindungan-Nya.

Karena sejatinya, keluarga adalah anugerah. Tempat kita belajar tentang cinta, kesabaran, dan keikhlasan. Dan dalam setiap pertemuan yang dilandasi iman, selalu ada keberkahan yang mengalir tanpa henti.
Cepu, 22 Maret 2026 

Foto Anak, Menantu dan Cucu

Karya : Gutamining Saida 
Lebaran selalu menghadirkan kehangatan yang tak tergantikan. Bukan sekadar tentang hidangan yang tersaji di meja, bukan pula semata tentang baju baru yang dikenakan, tetapi lebih dari itu tentang kebersamaan yang dirajut dengan cinta, tawa, dan doa. Di momen istimewa itu, ada satu tradisi sederhana yang justru meninggalkan kesan mendalam yaitu mengabadikan foto bersama keluarga besar.

Pagi ini suasana rumah terasa hidup. Anak-anak berlarian, cucu-cucu bercanda tanpa henti, sementara para menantu sibuk membantu di dapur atau sekadar berbincang ringan di ruang tamu. Di tengah suasana penuh berkah itu, tiba-tiba muncul sebuah ide sederhana bermakna yaitu mengabadikan momen kebersamaan dalam sebuah foto keluarga.
Sebagai yang dituakan, saya memberanikan diri mengajak, “Ayo, kita foto bersama. Mumpung semua kumpul.” Ajakan itu disambut dengan senyum dan anggukan. Tidak ada penolakan, tidak ada alasan sibuk. Semua seakan paham bahwa momen seperti ini tidak selalu datang setiap waktu. Ada rasa rindu yang terbayar, ada cinta yang ingin diabadikan.

“Silakan siap-siap menantu dulu,” ujar saya sambil tersenyum. Para menantu pun mulai berbaris, ada yang masih merapikan jilbab, ada yang tertawa kecil karena merasa canggung. Wajah mereka tampak malu-malu, namun justru di situlah letak keindahannya. Malu adalah bagian dari iman, tanda hati yang masih terjaga kesuciannya. Dalam kesederhanaan sikap itu, terpancar nilai-nilai yang diajarkan dalam agama bahwa rasa malu bukanlah kelemahan, melainkan kemuliaan.
Setelah sesi menantu, giliran anak-anak. Mereka mulai berpose, ada yang bergaya santai, ada pula yang tetap kaku. Tawa kecil pecah ketika salah satu dari mereka salah posisi atau terlambat tersenyum. Tidak ada yang sempurna, tetapi justru ketidaksempurnaan itulah yang membuat suasana terasa hidup dan penuh makna.

Selanjutnya, cucu-cucu. Ah, bagian ini yang paling meriah. Mereka sulit diatur, ada yang masih ingin bermain, ada yang berlari ke sana ke mari, bahkan ada yang menangis karena tidak mau diam. Namun di situlah letak kebahagiaan yang sesungguhnya. Anak-anak adalah amanah, penyejuk hati, sekaligus pengingat bahwa kehidupan terus berlanjut.
“Diam dulu ya, Nak… lihat kamera…” ujar salah satu orang tua dengan penuh kesabaran. Meski tak selalu berhasil, usaha itu sendiri sudah menjadi bagian dari cerita yang indah.

Foto satu kelompok ternyata tidak cukup satu kali. Ada saja komentar yang muncul.
“Kok saya belum siap?” “Lho, tadi saya merem!” “Ulangi lagi, tadi kurang rapi.”
Akhirnya, sesi foto diulang berkali-kali. Tidak ada yang marah, tidak ada yang mengeluh. Semua justru menikmati prosesnya. Dalam setiap pengulangan itu, terselip tawa, canda, dan kehangatan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Waktu berjalan tanpa terasa. Dari satu kelompok ke kelompok lain, dari satu pose ke pose berikutnya. Kamera terus bekerja, menangkap setiap momen kecil yang penuh arti. Hingga akhirnya, sesi foto pun selesai.

Ketika semua sudah berkumpul kembali, seseorang mulai membuka hasil foto di layar ponsel. Satu per satu gambar dilihat bersama. Reaksi yang muncul begitu beragam ada yang tertawa, ada yang tersenyum, bahkan ada yang merasa haru.
“MasyaAllah… banyak sekali fotonya…”
Ternyata jumlahnya tidak sedikit. Bukan sepuluh, bukan dua puluh, tetapi hampir seratus foto. Mata pun membelalak, disertai tawa yang pecah bersama.
“Hhhaaa… seratus foto!”

Di balik jumlah yang banyak itu, tersimpan sesuatu yang jauh lebih berharga. Setiap foto bukan sekadar gambar, melainkan potongan kenangan. Ada doa yang terselip, ada rasa syukur yang mengalir, dan ada harapan agar kebersamaan ini dapat terulang kembali di masa yang akan datang.

Hari Raya mengajarkan kita arti kebersamaan yang sesungguhnya. Bahwa di tengah kesibukan dan jarak yang memisahkan, masih ada waktu yang Allah Subhanahu Wata'alla berikan untuk berkumpul, saling memaafkan, dan mempererat tali silaturahmi. Foto-foto itu hanyalah media, tetapi maknanya jauh melampaui sekadar visual.

Dalam hati, terucap doa lirih, “Ya Allah, panjangkan umur kami dalam kebaikan. Kumpulkan kami kembali dalam momen yang penuh berkah seperti ini. Jadikan keluarga kami keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.”
Karena pada akhirnya, yang akan kita kenang bukanlah seberapa banyak foto yang diambil, tetapi seberapa dalam makna yang tertinggal di dalam hati. Dan hari itu, di tengah tawa dan seratus foto yang tercipta, kami menyadari satu hal: kebersamaan adalah nikmat yang luar biasa, yang patut disyukuri sepanjang hayat.
Cepu, 22 Maret 2026 

Kebersamaan Di Hari Raya

 


Karya: Gutamining Saida

Hari Raya Idul Fitri selalu datang membawa suasana yang berbeda. Ada haru, ada rindu, ada syukur yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata sederhana. Suasana, rumah terasa lebih hidup dari biasanya. Suara takbir yang semalam berkumandang masih terngiang di telinga, seakan menjadi pengingat bahwa hari kemenangan telah tiba. Hari di mana hati kembali bersih, dosa-dosa diharapkan luruh, dan silaturahmi kembali terjalin dengan hangat.

Di tengah suasana itu, tanpa direncanakan sebelumnya, tiba-tiba terlintas sebuah ide sederhana   dalam benak saya yaitu mengabadikan momen kebersamaan. Sebuah keinginan yang mungkin terlihat sepele, tetapi sesungguhnya menyimpan nilai yang sangat bersejarah. Saya sadar, waktu tidak pernah bisa diulang. Momen berkumpul lengkap seperti ini bukanlah sesuatu yang bisa terjadi setiap saat.

Sebagai anak tertua, saya mencoba mengajak semua yang hadir untuk berfoto bersama. Ada ibu saya, sosok yang menjadi pusat kasih sayang dalam keluarga. Ada adik-adik, anak-anak, serta para ipar yang turut meramaikan suasana. Ajakan itu ternyata disambut dengan penuh antusias. Tidak ada penolakan, tidak ada alasan untuk menunda. Semua seolah memahami bahwa momen ini terlalu berharga untuk dilewatkan.

Persiapan pun berlangsung sangat sederhana. Hanya satu kursi yang disiapkan, khusus untuk ibu. Sebuah simbol penghormatan dan cinta, beliau adalah pusat dari kebersamaan ini. Tidak ada yang sibuk mencari pakaian terbaik, tidak ada yang berlari ke kamar untuk berdandan. Semuanya berjalan spontan, alami, apa adanya.

Para perempuan hanya merapikan jilbab seadanya. Tangan-tangan mereka bergerak cepat, saling membantu, tanpa cermin pun tetap tersenyum. Wajah-wajah itu memancarkan ketulusan, bukan karena make up, tetapi karena kebahagiaan yang tulus dari hati. Anak-anak berlari kecil mencari posisi, sementara yang lain mengikuti arahan dengan canda tawa.

Saat semua mulai mengambil posisi, suasana semakin hangat. Ada yang salah berdiri, ada yang terlambat masuk ke dalam frame, ada yang justru membuat gaya lucu yang mengundang tawa. Gelak tawa pecah begitu saja, tanpa dibuat-buat. Momen itu terasa begitu hidup, penuh warna, dan sangat membahagiakan.

Betapa Allah Subhanahu Wata'alla begitumemberikan kesempatan ini. Tidak semua orang bisa merasakan kebersamaan seperti ini. Tidak semua keluarga bisa berkumpul lengkap, tertawa bersama di hari yang suci. Ada yang terpisah oleh jarak, ada yang terhalang oleh kesibukan, bahkan ada yang harus merelakan orang tercinta karena telah lebih dulu dipanggil oleh-Nya.

Kebersamaan ini adalah nikmat. Seperti yang sering kita dengar, nikmat yang jarang disadari justru adalah nikmat yang paling besar. Duduk bersama di satu tempat, tertawa tanpa beban, merasakan kehangatan keluarga semua itu adalah karunia yang tidak ternilai.

Saat kamera mulai diarahkan dan hitungan mundur dimulai, saya melihat wajah ibu. Ada senyum yang sederhana, tetapi penuh makna. Senyum yang seolah berkata bahwa beliau bahagia melihat anak-anaknya berkumpul. Dalam senyum itu, ada doa yang tak terucap, ada harapan agar kebersamaan ini bisa terus terjaga.

“Bahagia itu mahal harganya,” batin saya. Bukan mahal karena harus dibeli dengan materi, tetapi karena tidak semua orang bisa merasakannya di waktu yang sama. Bahagia itu sederhana, namun sering kali kita melewatkannya karena terlalu sibuk mencari hal-hal besar.

Foto itu akhirnya berhasil diambil. Satu demi satu jepretan, tetapi menyimpan ribuan cerita. Sebuah potret yang bukan sekadar gambar, melainkan rekaman rasa bahwa cinta, syukur, kebersamaan, dan kehangatan keluarga.

Setelahnya, kami kembali berbincang, menikmati hidangan sederhana, dan saling bertukar cerita. Momen foto tadi tetap terasa istimewa. Ia menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada kemewahan, tetapi pada kebersamaan yang tulus.

Semoga Allah Subhanahu Wata'alla selalu menjaga keluarga ini. Memberikan kesehatan, umur panjang yang penuh berkah, serta kesempatan untuk kembali berkumpul di hari-hari berikutnya. Semoga kebersamaan ini tidak hanya terjadi di dunia, tetapi juga bisa terulang kembali di surga-Nya kelak.

Karena pada akhirnya, hidup ini hanyalah perjalanan singkat. Waktu terus berjalan, usia terus bertambah, dan kesempatan tidak selalu datang dua kali. Maka ketika Allah Subhanahu Wata'alla menghadirkan momen indah seperti ini, sudah seharusnya kita mensyukurinya dengan sepenuh hati.

Hari Raya yang penuh berkah, kami belajar satu hal penting bahwa kebersamaan adalah anugerah, dan mengabadikannya adalah cara sederhana untuk mensyukuri nikmat dari-Nya. Aamiin.

Cepu, 22 Maret 2026

Selasa, 17 Maret 2026

Kehebohan Grup Anak Putu


Karya : Gutamining Saida 

Tanggal 18 Maret 2026 menjadi hari yang cukup ramai di grup keluarga besar Mbah Seman. Sejak pagi sekitar pukul 10.00 WIB percakapan silih berganti memenuhi layar ponsel. Bukan tanpa sebab, topik yang dibicarakan adalah sesuatu yang sangat dinanti yaitu pertemuan keluarga besar yang sudah menjadi tradisi beberapa tahun lalu/

Seperti tahun-tahun sebelumnya, pertemuan keluarga dilaksanakan pada hari kedua Lebaran. Hari yang penuh makna, ketika suasana Idulfitri masih hangat, hati masih lembut, dan rasa rindu antar saudara begitu terasa. Tahun ini ada sedikit perbedaan yang membuat semuanya harus dipikirkan lebih matang.

Awal bulan Ramadan terjadi perbedaan penetapan antara Muhammadiyah dan pemerintah. Selisih satu hari ini berdampak pada penentuan hari Lebaran. Bagi sebagian orang mungkin hal biasa, namun untuk keluarga besar yang ingin berkumpul dari berbagai daerah, ini menjadi hal yang perlu dipastikan dengan matang.

Di tengah ramainya diskusi, ada satu hal yang terasa menenangkan yaitu semua anggota keluarga menyadari bahwa perbedaan adalah bagian dari kehidupan. Tidak ada perdebatan yang memanas, tidak ada saling menyalahkan. Justru yang muncul adalah sikap saling memahami. Mereka menyadari bahwa perbedaan dalam menentukan awal puasa dan lebaran adalah sesuatu yang sudah sering terjadi di Indonesia, dan tidak perlu menjadi sumber perpecahan.

“Perbedaan itu nikmat, tinggal bagaimana kita menyikapinya,” tulis salah satu anggota grup. Kalimat sederhana, namun mengandung makna yang dalam. Di balik pembahasan tanggal, muncul pula persoalan lain yang tidak kalah penting yaitu transportasi. Mengingat lokasi rumah anggota keluarga yang berjauhan, sebagian mengusulkan untuk menyewa mobil elf agar bisa berangkat bersama. Selain lebih hemat, juga lebih aman dan mengurangi rasa lelah dibandingkan membawa kendaraan sendiri.

Beberapa anggota mulai menghitung jumlah penumpang. Ternyata ada sekitar 17 orang yang akan ikut dalam rombongan. Jumlah yang tidak sedikit, sehingga membutuhkan kendaraan elf berukuran besar. Diskusi pun semakin ramai.

"Kira-kira reuni keluarga tanggal dan hari apa ya?" salah chat yang masuk.

"Gak tahu, lebaranne kapan, pokok e lebaran kedua ya, kumohon hadir semua!" jawab tuan rumah.

“Ayo segera ditentukan, Sabtu atau Minggu?” tulis salah satu anggota dengan nada sedikit mendesak.

Yang lain menimpali, “Kalau tidak segera, takutnya mobilnya sudah dibooking orang lain.”

"Gimana bila dipastikan dan disepakati hari Minggu?"

"Maaf belum bisa memastikan lebaran kapan."

" Gimana pak Ketua?"

"Sepakate lebatran kedua Mas."

"Sewa mobil elef harus ada kesepakatan hari ya."

"Cari yang bisa ae lah."

"Ya sudah biar diputuskan oleh sesepuh kita dulu."

"Jangan dirubah, intinya tetap lebaran kedua."

Memang menjelang lebaran, permintaan sewa kendaraan meningkat drastis. Tidak semua penyedia jasa bisa menyesuaikan jadwal sesuai keinginan. Hal ini menambah kegelisahan di antara anggota keluarga.

Ada yang mulai bertanya-tanya, “Bagaimana pak ketua?”

Semua berharap ketua keluarga bisa memberikan keputusan. Namun, sebagai pemimpin yang bijak, beliau tidak langsung memutuskan. Ia justru meminta pendapat dari tuan rumah, sebagai bentuk penghormatan.

"Kalau saya manut yang ditempati, gimana dik?"

"Saya minta hari Sabtu, Kalau yang memutuskan aku, aku gak tahu lebaaran kapan?"

Jawaban dari tuan rumah pun sederhana, bahkan terkesan menggantung. Hal ini sempat membuat beberapa anggota merasa khawatir. Ada yang mulai merasa putus asa karena belum ada keputusan yang jelas, sementara waktu terus berjalan.

Di sinilah letak ujian kebersamaan. Dalam kondisi seperti itu, kesabaran benar-benar diuji. Tidak semua keinginan bisa langsung terwujud. Tidak semua rencana berjalan mulus. Tetapi justru dari situlah nilai keikhlasan dan tawakal tumbuh.

Beberapa anggota mulai mengambil inisiatif untuk mencari informasi tentang sewa mobil elf yang masih tersedia. Mereka menghubungi beberapa penyedia jasa, menanyakan kemungkinan penyesuaian jadwal.

Dan atas izin Allah, di tengah ketidakpastian itu, datanglah kabar baik. Ada satu penyedia mobil elf yang bersedia menyesuaikan dengan kebutuhan keluarga. Seolah menjadi jawaban dari doa-doa yang terucap dalam diam.

"Ya sudah mbah, Alhamdulillah, Insya Allah ada sewa elef yang bisa menyesuaikan."

Rasa lega pun menyelimuti grup tersebut. Percakapan yang sebelumnya penuh tanda tanya, kini berubah menjadi ungkapan syukur.

“Alhamdulillah… akhirnya dapat juga.”

“Semoga dimudahkan sampai hari H.”

“MasyaAllah, rezeki tidak ke mana.”

Akhirnya, dengan penuh kesepakatan, diputuskan bahwa pertemuan keluarga tetap dilaksanakan pada hari kedua Lebaran, sebagaimana tradisi yang sudah berjalan selama ini.

Keputusan itu bukan sekadar tentang tanggal. Lebih dari itu, ini adalah tentang menjaga silaturahmi. Tentang merawat hubungan kekeluargaan yang mungkin jarang bertemu di hari-hari biasa. Tentang menguatkan kembali ikatan hati yang terkadang renggang karena kesibukan masing-masing.

Dalam suasana religius, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa segala sesuatu membutuhkan ikhtiar dan doa. Manusia boleh merencanakan, berdiskusi, bahkan berdebat dalam batas wajar. Akhirnya, keputusan terbaik adalah yang Allah  Subhanahu Wata'alla mudahkan jalannya.

Perbedaan yang sempat menjadi kendala, justru mengajarkan arti toleransi. Ketidakpastian yang sempat membuat gelisah, mengajarkan arti sabar dan tawakal. Kebersamaan yang akhirnya terwujud, menjadi bukti bahwa niat baik yang disertai doa tidak akan sia-sia.

Semoga pertemuan keluarga besar Mbah Seman nanti benar-benar menjadi momen penuh berkah. Momen saling memaafkan, saling menguatkan, dan saling mendoakan. Karena sejatinya, silaturahmi bukan hanya memperpanjang umur dan melapangkan rezeki, tetapi juga mendekatkan hati kepada Sang Pencipta. Semoga Allah meridhai langkah-langkah kecil ini, dan menjadikannya amal kebaikan yang bernilai ibadah. Aamiin.

Cepu, 18 Maret 2026

Senin, 16 Maret 2026

Langkah Soreku



Karya: Gutamining Saida

Sore itu langkah kaki saya membawa diri menjauh dari hiruk pikuk kehidupan. Perlahan saya menuju sebuah tempat yang terasa berbeda dari biasanya. Tempat itu jauh dari keramaian kota, jauh dari suara kendaraan yang berlalu-lalang, jauh dari kesibukan manusia yang sering kali membuat hati terasa penat. Perjalanan menuju tempat itu melewati jalan kecil.  Pinggir hutan dan hamparan persawahan yang hampir panen. Padi-padi menguning berdiri tegak seolah sedang menunggu waktu untuk dipetik hasilnya.

Langit tampak cerah dengan cahaya matahari yang mulai merendah. Sinar keemasan jatuh perlahan di atas hamparan sawah, membuat bulir-bulir padi terlihat berkilau. Angin berhembus lembut, menggerakkan daun-daun dan batang padi sehingga tampak seperti gelombang kecil yang menari dengan tenang. Tidak ada suara bising kendaraan, tidak ada teriakan manusia, bahkan suara hewan pun hampir tidak terdengar. Keheningan itu justru terasa begitu menenangkan.

Di tempat itu terdapat sebuah tempat duduk sederhana yang sengaja disediakan untuk orang yang ingin beristirahat atau sekadar menikmati pemandangan alam. Saya duduk di sana dengan tenang. Di hadapan saya terbentang luas ciptaan Allah Subhanahu Wata'alla yang begitu indah. Hutan berdiri kokoh seolah menjadi penjaga alam. Persawahan yang hampir panen memberi gambaran tentang kehidupan para petani yang sabar menunggu hasil kerja keras mereka.

Angin sore yang sejuk menyentuh wajah dengan lembut. Rasanya seperti pelukan alam yang menenangkan hati. Dalam suasana sunyi seperti itu, saya merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Hati terasa lebih ringan, pikiran menjadi jernih, dan jiwa seakan diajak untuk kembali mengingat siapa diri ini sebenarnya.

Di tengah keindahan alam itu saya merasa sangat kecil. Begitu kecil di hadapan kebesaran Allah Subhanahu Wata'alla yang menciptakan langit, bumi, hutan, sawah, angin, dan segala yang ada di sekitar kita. Selama ini manusia sering merasa kuat, merasa mampu melakukan banyak hal. Ketika duduk diam di hadapan alam yang luas, kesadaran itu muncul dengan sendirinya bahwa manusia hanyalah makhluk yang lemah.

Saya memandang hamparan sawah yang menguning. Bulir padi yang berisi itu tidak muncul dengan sendirinya. Ada tangan-tangan petani yang menanam, merawat, menyiram, dan menjaga dari hama. Pada akhirnya, semua itu tetap berada dalam kehendak Allah Subhanahu Wata'alla.. Jika Allah Subhanahu Wata'alla menghendaki panen yang baik, maka padi akan tumbuh subur. Jika Allah Subhanahu Wata'alla berkehendak lain, manusia tidak bisa menolaknya.

Pemandangan itu mengingatkan saya tentang nikmat Allah Subhanahu Wata'alla yang sering kali tidak kita sadari. Udara yang kita hirup setiap saat adalah nikmat. Angin yang sejuk adalah nikmat. Pemandangan alam yang indah adalah nikmat. Bahkan kesempatan untuk duduk tenang dan merenung seperti saat itu pun merupakan nikmat yang tidak semua orang miliki.

Sering kali dalam kehidupan sehari-hari kita terlalu sibuk dengan urusan dunia. Pekerjaan, tanggung jawab, dan berbagai aktivitas membuat hati jarang berhenti untuk sejenak memikirkan kebesaran Allah Subhanahu Wata'alla. Melalui alam semesta ini Allah Subhanahu Wata'alla telah menunjukkan begitu banyak tanda kekuasaan-Nya.

Di tempat yang sunyi itu saya merasa seperti sedang diajak berdialog dengan diri sendiri. Tanpa suara manusia, tanpa gangguan telepon, tanpa percakapan apa pun, hati justru menjadi lebih peka. Pikiran mulai mengingat perjalanan hidup yang telah dilalui. Banyak sekali nikmat yang telah diberikan Allah Subhanahu Wata'alla selama ini, namun sering kali manusia lupa untuk bersyukur.

Saya pun menundukkan kepala sejenak. Dalam hati terucap rasa syukur yang mendalam. “Ya Allah, betapa besar nikmat yang Engkau berikan kepada hamba-Mu ini.” Kadang manusia baru merasakan ketenangan ketika menjauh dari keramaian. Padahal ketenangan itu sebenarnya selalu ada jika hati mampu mengingat Allah Subhanahu Wata'alla.

Angin sore terus berhembus pelan. Matahari semakin rendah menuju ufuk barat. Cahaya jingga mulai mewarnai langit, menambah keindahan pemandangan yang ada di depan mata. Suasana seperti itu, hati terasa begitu damai. Tidak ada kegelisahan, tidak ada kegaduhan pikiran.

Tempat seperti ini memang sangat cocok untuk merenung. Alam seolah menjadi guru yang mengajarkan banyak hal tanpa kata-kata. Saya menyadari bahwa manusia membutuhkan waktu untuk menyendiri seperti ini. Bukan untuk melarikan diri dari kehidupan, tetapi untuk menata kembali hati dan pikiran. Dengan merenung, manusia bisa mengingat tujuan hidup yang sebenarnya. Bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara, dan pada akhirnya kita semua akan kembali kepada Allah Subhanahu Wata'alla.

Saat matahari hampir tenggelam, saya pun perlahan berdiri. Hati terasa lebih lapang dan penuh rasa syukur. Saya menyadari  keindahan alam bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga untuk mengingatkan manusia akan kebesaran Sang Pencipta.

Saya pulang dengan membawa satu pelajaran penting dalam hati yaitu bahwa ketika manusia mampu berhenti sejenak dari kesibukan dunia dan memandang alam dengan penuh kesadaran, maka ia akan menemukan ketenangan, kerendahan hati, dan rasa syukur yang lebih dalam kepada Allah Subhanahu Wata'alla.

Cepu, 16 Maret 2026

Mimpiku Menjadi Nyata



Karya : Gutamining Saida

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah mengikuti sebuah kelas menulis secara daring. Kelas itu bukan sekadar belajar merangkai kata, tetapi juga belajar tentang kesabaran, ketekunan, dan keikhlasan dalam menjalani proses. Dalam kelas tersebut saya dipandu oleh seorang mentor yang penuh semangat, Kak Wayan namanya. Beliau sering mengingatkan bahwa menulis itu bukan hanya tentang bakat, tetapi tentang kebiasaan. Pesannya sederhana namun sangat membekas di hati, yaitu menulis setiap hari, minimal satu cerita.

Nasihat itu terdengar sederhana, tetapi dalam praktiknya ternyata tidak mudah. Sebagai seorang guru yang memiliki banyak tanggung jawab, waktu saya sering terbagi untuk berbagai tugas. Mengajar di kelas, menyiapkan materi pelajaran, mengurus administrasi sekolah, membimbing siswa, serta menjalani peran sebagai ibu dan anggota masyarakat. Semua itu membuat waktu terasa begitu cepat berlalu.

Pesan Kak Wayan tetap terngiang di pikiran saya. Setiap hari saya mencoba membuka buku atau gawai untuk menuliskan sesuatu. Kadang satu cerita berhasil selesai, tetapi tidak jarang pula tulisan itu berhenti di tengah jalan. Ada hari-hari ketika saya hanya mampu menuliskan sebuah judul tanpa mampu melanjutkan menjadi cerita yang utuh.

Awalnya saya merasa kecewa pada diri sendiri. Rasanya seperti berjalan di tempat. Akan tetapi, kemudian saya menyadari bahwa setiap usaha kecil yang dilakukan dengan niat baik tidak pernah sia-sia di hadapan Allah Subhanahu Wata'alla. Saya mulai belajar untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri. Yang penting adalah tetap melangkah, meskipun langkahnya kecil.

Saya percaya bahwa setiap niat baik adalah doa. Setiap doa yang dipanjatkan dengan sungguh-sungguh pasti akan Allah Subhanahu Wata'alla dengar pada waktu yang tepat.

Waktu terus berjalan. Hingga akhirnya pada tahun 2025 saya mencoba membuat sebuah komitmen baru pada diri sendiri. Saya ingin lebih serius menekuni dunia menulis. Saya mulai menata waktu dengan lebih baik, menyisihkan waktu khusus setiap hari untuk menulis.

Saya menantang diri sendiri dengan sebuah kebiasaan sederhana: satu hari satu cerita. Jika suatu hari saya tidak menemukan ide atau tidak sempat menyelesaikan tulisan, maka saya harus menggantinya pada hari berikutnya dengan menulis dua cerita. Cara ini membuat saya lebih disiplin. Perlahan-lahan, menulis bukan lagi menjadi beban, tetapi berubah menjadi kebutuhan.

Setiap hari saya mencoba menangkap peristiwa-peristiwa kecil di sekitar kehidupan saya. Pengalaman mengajar di sekolah, percakapan dengan siswa, pertemuan dengan teman, perjalanan sederhana, hingga perenungan tentang kehidupan. Semua itu saya rangkai menjadi tulisan.

Saya menyadari bahwa kehidupan sehari-hari ternyata menyimpan begitu banyak pelajaran berharga. Kadang kita hanya perlu berhenti sejenak, memperhatikan, lalu menuliskannya. Bagi saya, menulis juga menjadi sarana untuk bersyukur. Dengan menulis, saya bisa mengingat kembali nikmat-nikmat kecil yang sering terlewatkan. Hal-hal sederhana  jika direnungkan ternyata memiliki makna yang berarti.

Hari demi hari berlalu. Tulisan demi tulisan mulai terkumpul. Tanpa terasa waktu sudah berjalan enam bulan. Ketika saya menghitung kembali tulisan-tulisan itu, saya merasa terkejut sekaligus bersyukur. Dari kebiasaan sederhana menulis setiap hari, ternyata telah terkumpul begitu banyak cerita.

Semua itu terasa seperti keajaiban kecil dalam hidup saya. Setiap tulisan mungkin sederhana, tetapi di dalamnya tersimpan pengalaman, perasaan, dan pelajaran kehidupan. Saya percaya bahwa tulisan bukan hanya sekadar kata-kata, tetapi juga jejak perjalanan hidup seseorang.

Proses penyusunan buku pun dimulai. Naskah-naskah yang telah saya tulis dikumpulkan, diperbaiki, dan disusun menjadi dua judul buku. Proses ini juga membutuhkan kesabaran dan ketelitian. Saya kembali belajar bahwa menghasilkan sebuah karya tidak bisa dilakukan dengan tergesa-gesa.

Hingga akhirnya tibalah hari yang sangat saya tunggu. Hari Jum’at tanggal 13 Maret 2026 menjadi hari yang istimewa bagi saya. Buku cetak yang selama ini hanya berupa file akhirnya tiba di tangan saya. Saat membuka paket dan melihat buku itu secara langsung, hati saya dipenuhi rasa haru dan syukur.

Buku itu cukup tebal, sekitar 350 halaman dan terdiri dari dua judul. Ketika saya memegangnya, rasanya seperti memegang mimpi yang dulu terasa begitu jauh. Saya terdiam sejenak, memandangi halaman-halamannya. Dalam hati saya berkata, “Ya Allah, ini benar-benar terjadi.”

Perjalanan yang dimulai dari keraguan, keterbatasan waktu, dan langkah-langkah kecil akhirnya sampai pada titik ini. Semua itu mengingatkan saya bahwa jika Allah  Subhanahu Wata'alla.sudah berkehendak, maka tidak ada yang mustahil.

Sering kali manusia merasa kecil dan ragu pada kemampuannya. Tetapi ketika kita terus berusaha, bersabar, dan menyerahkan hasilnya kepada AllahSubhanahu Wata'alla. maka jalan-jalan kebaikan akan dibukakan tanpa kita duga.

Buku ini bukan hanya sekadar kumpulan tulisan bagi saya. Ia adalah saksi perjalanan belajar, saksi kesabaran, dan saksi dari doa-doa yang perlahan dikabulkan. Semua ini tidak mungkin terjadi tanpa pertolongan Allah Subhanahu Wata'alla., dukungan keluarga, serta nasihat dari para guru dan mentor yang pernah membimbing saya.

Kebiasaan kecil menulis satu hari satu cerita ternyata mampu mengubah sesuatu yang tampak sederhana menjadi karya nyata. Dari sekadar menulis untuk belajar, akhirnya berubah menjadi buku yang bisa dibaca banyak orang.

Bagi saya, ini bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal dari langkah berikutnya. Semoga tulisan-tulisan ini bisa menjadi amal kebaikan. Jika ada pembaca yang mendapatkan pelajaran, semangat, atau sekadar senyuman dari kisah-kisah sederhana ini, maka itu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri bagi saya.

Saya percaya bahwa setiap kata yang ditulis dengan niat baik akan menemukan jalannya sendiri untuk memberi manfaat. Saya kembali mengingat satu hal penting dalam hidup mimpi yang disertai doa, usaha, dan kesabaran, InsyaAllah akan menemukan waktunya untuk menjadi nyata.

Cepu. 16 Maret 2026