Karya: Gutamining Saida
Sebuah pesan singkat di layar ponsel mendarat layaknya sebuah tamparan yang keras. Anehnya, tak ada rasa perih di pipi, tak ada sesak di dada, apalagi rasa sakit hati. Justru sebaliknya, sebuah kehangatan menjalar ke seluruh relung jiwa, diiringi rasa haru yang membuat mata berkaca-kaca. Saya baru saja menerima "tamparan cinta" dari guru saya sebuah teguran yang menyadarkan saya dari kelalaian panjang.
Sebagai siswa yang baru beberapa bulan menimba ilmu di bawah bimbingan beliau, saya sempat berprasangka dalam diam. Saya mengira, di tengah lautan siswa beliau yang begitu banyak dan beragam, sosok saya hanyalah butiran debu yang tak terlihat. Saya pikir, beliau tidak akan sempat menghafal nama, apalagi memahami karakter dan kebiasaan saya. Prasangka itu runtuh seketika saat sebuah interaksi sederhana terjadi di grup WhatsApp.
Segalanya bermula saat saya membalas sapaan beliau di grup. Tak disangka, beliau langsung memberikan penilaian karakter dan menyoroti kebiasaan saya Bak seorang tabib yang tahu letak penyakit tanpa perlu bertanya, beliau menuliskan sebuah kalimat yang menghujam tepat ke sasaran: "Bu Saida kurang olahraga." Saya langsung menanggapinya. "Betul sekali."
Batin saya berseru kaget. Bagaimana beliau bisa tahu? Padahal saya merasa sudah cukup lihai menutupi kemalasan fisik ini. Dengan jujur saya mengiyakan, bahkan menambahkan pengakuan bahwa olahraga memang menjadi "musuh" terbesar saya sejak zaman sekolah.
"Lha dalah... bener khan." chat beliau berikutnya.
Dalam kacamata religi, peristiwa ini bukanlah sekadar kebetulan. Allah Subhanahu Wata'alla memiliki seribu satu cara untuk menegur hamba-Nya yang mulai lalai. Terkadang teguran itu datang lewat ayat-ayat suci, namun sering kali Allah meminjam lisan orang-orang mulia seperti sang guru untuk menyampaikan pesan-Nya. Inilah bentuk perhatian Allah Subhanahu Wata'alla yang nyata; Dia tak membiarkan saya "kebablasan" dalam kebiasaan yang kurang baik.
Teguran beliau bukan sekadar urusan fisik, melainkan sebuah pengingat akan esensi penciptaan manusia. Kita diciptakan di dunia ini hanyalah untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 56. Namun, bagaimana mungkin ibadah bisa tegak dengan sempurna jika raga ini rapuh dan layu karena kurang gerak?
Kesehatan adalah amanah. Tubuh ini adalah titipan yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Menjaga kesehatan melalui olahraga bukan hanya urusan gaya hidup, melainkan sebuah ikhtiar untuk menguatkan sendi-sendi ibadah. Dengan tubuh yang bugar, rukuk akan lebih mantap, sujud akan lebih khusyuk, dan langkah kaki menuju majelis ilmu akan lebih ringan.
Guru saya melihat apa yang terlihat. Beliau memberikan motivasi karena peduli pada keberlangsungan ibadah saya kepada Sang Pencipta. Beliau ingin siswanya tidak hanya cerdas secara akal, tapi juga tangguh secara fisik agar pengabdian kepada Allah Subhanahu Wata'alla tidak terhambat oleh keluhan penyakit yang sebenarnya bisa dicegah.
Teguran ini menjadi motivasi besar bagi saya. Saya merasa sangat beruntung memiliki guru yang tidak hanya mengajarkan materi, tetapi juga memperhatikan detail karakter dan pola hidup siswanya. Ini adalah bukti bahwa beliau bukan sekadar menggugurkan kewajiban.
Saya berterima kasih kepada Allah Subhanahu Wata'alla karena telah membukakan jalan hidayah lewat teguran guru saya pagi ini. Mungkin saatnya saya berdamai dengan "musuh lama" bernama olahraga itu. Saya ingin mengubah keringat yang keluar saat berolahraga nanti menjadi saksi bahwa saya sedang berupaya menjaga amanah-Nya. Terima kasih pak Guru, atas tamparan cintanya. Semoga setiap tetes keringat dan upaya saya menjaga kesehatan setelah ini, menjadi aliran pahala pula bagi ketulusan dalam membimbing saya. Aamiin.
Cepu, 22 April 2026







