Karya: Gutamining Saida
Bu Emy, yang kini tengah berada di tanah yang paling dirindukan oleh setiap jiwa yang bersyahadat. Tanah suci Mekkah. Dengan tangan yang sedikit bergetar, saya menjawab panggilan tersebut.
“Assalamualaikum,” sapa Emy.
“Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,” balas saya dengan suara sedikit tertahan di tenggorokan.
Layar handphone seketika berubah. Bukan lagi wajah bu Emy yang memenuhi layar, melainkan sebuah pemandangan yang menggetarkan seluruh hati. Di sana, bangunan suci Ka'bah. Bangunan berbentuk kubus yang diselimuti Kiswah hitam pekat, dihiasi kaligrafi emas. Saya tertegun, mulut terkunci. Mata ini terpaku pada layar kecil berukuran beberapa inci itu, jiwa ini seolah tersedot ribuan kilometer melintasi benua dan samudra, langsung menuju pelataran Masjidil Haram.
"Berdoalah," suara bu Emy memecah keheningan.
"Mumpung saya ada di depan Ka'bah. Biar saya yang aamiin-kan."
Kata-kata itu bagaikan anak panah yang meluncur menembus relung hati terdalam. Di sana, di depan kiblat jutaan umat Islam, bu Emy menawarkan diri menjadi penyambung lidah doa-doa saya. Saya mencoba mengatur napas, mengumpulkan serpihan doa yang selama ini tersimpan rapat dalam dada. Sepatah kata pun terucap, pertahanan diri runtuh.
Air mata, yang entah sejak kapan menggenang di pelupuk mata, akhirnya tumpah tak tertahankan. Bulir-bulir hangat itu mengalir membasahi pipi. Tangisan ini bukan tangisan kesedihan, melainkan luapan kerinduan yang membuncah, rasa syukur yang tak terhingga, dan kepasrahan seorang hamba di hadapan kebesaran Tuhannya.
Melalui layar handphone, saya melihat dengan jelas lautan manusia dari berbagai penjuru dunia, bersatu dalam satu tujuan, satu arah. Mereka tawaf mengelilingi Ka'bah, menengadahkan tangan, merapalkan doa-doa dengan penuh khusyuk. Ada yang menangis, ada yang menempelkan dahi ke lantai marmer, memohon ampunan dan pertolongan Sang Pencipta.
Pemandangan menyayat hati, mengingatkan sebagai hamba yang penuh dosa dan khilaf. Di saat yang sama, pemandangan itu juga menumbuhkan secercah harapan. “Ya Allah,“Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Engkaulah yang menuntun hati hamba-hamba-Mu.” Saya mulai memanjatkan doa. Doa yang tak pernah putus, doa yang selalu mengalir dalam setiap sujud. Saya memohon ampunan, kesehatan, keberkahan hidup, dan kebaikan untuk diri sendiri, keluarga, serta seluruh umat Islam.
Saya dengar suara bu Emy dari seberang sana, “Aamiin... Ya Allah, aamiin.”
Suaranya, yang berpadu dengan gema lantunan talbiyah dari ribuan jamaah lainnya, menciptakan harmoni yang menyayat hati. Doa-doa saya ikut terbawa terbang, melesat menembus langit, menembus hijab, dan sampai ke hadapan Arsy-Nya.
Tetes air mata yang jatuh, terukir kesaksian. Kesaksian bahwa jiwa ini benar-benar terhubung dengan Ka'bah, meskipun secara fisik masih terpisahkan oleh jarak yang teramat jauh. Layar handphone hanyalah perantara, rindu dan imananyang menjadi jembatannya.
“Alhamdulillah,” gumam saya lirih. “Terima kasih, Ya Allah. Engkau telah mengizinkanku menatap baitullah-Mu, meski hanya melalui sebidang layar.”
Saya menyadari, pengalaman ini adalah sebuah anugerah yang tak ternilai harganya. Sebuah pengingat bahwa Allah Subhanahu Wata'alla tidak pernah tidur, dan rahmat-Nya senantiasa mengalir kepada siapa saja yang Dia kehendaki.
Sebuah tekad terpatri kuat. Sebuah keyakinan yang tak terbantahkan. “Apa yang tidak bisa?” tanya saya pada diri sendiri, sebuah pertanyaan yang menggema dalam relung kalbu.
“Jika Allah telah berkehendak, tak ada yang tak mungkin,” jawab saya yakin.
Saya sangat berharap, dengan izin dan ridho Allah, suatu saat nanti kaki ini akan melangkah menapaki pelataran Masjidil Haram. Bahwa dahi ini akan sujud di atas marmer putih yang dingin, dan lisan ini akan merapalkan talbiyah secara langsung di hadapan Ka'bah. Setelahnya, merajut rindu di kota Nabi, Madinah Al-Munawwarah.
Saya yakin, jika Allah telah menetapkan waktunya, tidak ada satu kekuatan pun di alam semesta ini yang bisa menghalanginya. Dia adalah Dzat yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu. Kun Fayakun. Jadilah, maka terjadilah. Panggilan video berakhir. Layar handphone kembali gelap. Bayangan Ka'bah dan gema talbiyah terus menari-nari dalam pikiran.
Kehadiran Allah Subhanahu Wata'alla sangat dekat. Betapa besar cinta-Nya kepada setiap hamba-Nya. Saya menyadari bahwa kerinduan pada Ka'bah adalah sebuah anugerah, sebuah pengingat akan tujuan hakiki dari perjalanan hidup ini akan kembali kepada-Nya dalam keadaan berserah diri seutuhnya. SEMOGA BU EMY SEKALIAN DIBERIKAN KELANCARAN IBADAH, KESEHATAN. PULANG MEMBAWA PREDIKAT HAJI YANG MABRUR. Aamiin Ya Rabbal 'Alamiin.
Cepu, 10 Mei 2026








