Karya: Gutamining Saida
Minggu sore menjadi waktu yang kami tunggu-tunggu. Sebuah ruang jeda untuk meniti ikhtiar sehat, memanjakan raga dengan kesegaran air, sekaligus merawat benih-benih kebahagiaan bersama. Kami, merawat tubuh yang diamanahkan Sang Pencipta bukan sekadar tentang otot dan stamina, melainkan bagian dari rasa syukur atas nikmat hidup yang tak terhingga.
Bayangan Pak Gun selalu hadir dengan badan yang tegap. Beliau yang selalu memancarkan semangat. Beliau bukan sekadar melatih fisik, melainkan seorang pendamping yang mengajarkan kami arti kebersamaan, disiplin, dan kepasrahan. Di bawah bimbingan Pak Gun, tidak pernah ada sesi latihan yang membosankan. Tiap kali berkumpul, selalu saja ada tantangan baru, kejutan, dan pelajaran tak terduga yang ia selipkan di antara kepakan tangan dan kecipak air.
Sinar matahari membiaskan cahaya keemasan yang indah di atas permukaan air yang tenang. Sebelum memulai latihan, kami berdiri melingkar di kolam. Pak Gun menatap kami satu per satu dengan senyum tipis yang penuh rahasia, lalu menginstruksikan kami untuk aktivitas di kolam.
"Sore ini, kita latihan fokus, dan ketenangan jiwa," ujar Pak Gun. Suaranya bergema halus di antara dinding-dinding area kolam. "Bu ibu semua, buat lingkaran di tengah kolam. Saling berpegangan tangan dengan erat. Jangan lepaskan genggaman itu sampai instruksi berikutnya."
Kami menurut tanpa ragu. Tangan kanan dan kiri kami saling bertaut rapat, membentuk satu lingkaran kebersamaan yang kokoh. Ada rasa hangat yang menjalar ketika jemari kami saling mengunci, menyadarkan kami betapa indahnya persaudaraan dan saling menopang dalam kehidupan.
Pak Gun berdiri di tepi kolam dengan peluit menggantung di lehernya. Beliau menjelaskan aturan permainan sore itu dengan tegas: "Dengar baik-baik. Latihan ini bergantung pada aba-aba peluit.
Tiupan peluit pertama: Benamkan kepala ibu-ibu ke dalam air, julurkan kaki lurus ke belakang, melayang tanpa mengambil napas. Tetap saling berpegangan tangan.
Tiupan peluit kedua: Lepaskan pegangan tangan kalian.
Tiupan peluit ketiga: Turunkan kaki, tegakkan badan, dan kembalikan kepala ke atas permukaan air untuk menghirup udara."
Kami mengangguk serempak, memahami aktivitas yang dirancang sang pelatih. Kami menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-paru kami dengan udara sore yang segar, siap menyelami ujian ketahanan dan kepatuhan ini.
PRRRIIIITTTT!
Tiupan peluit pertama membahana menembus kesunyian sore. Seketika, kami secara serentak membenamkan wajah dan kepala kami ke dalam dinginnya air kolam. Kaki kami selonjorkan ke belakang, mengapung sejajar dengan permukaan air. Tangan kami masih saling menggenggam erat, membentuk lingkaran penyerahan diri di dalam air. Di dalam ketenangan bawah air, suara-suara luar meredup. Yang terdengar hanyalah detak jantung sendiri dan gemuruh halus air yang membelai telinga.
Satu detik, dua detik, lima detik... kami bertahan. Dalam posisi menahan napas itu, jiwa diajak memasuki kepasrahan yang mendalam. Menahan napas di dalam air mengajarkan betapa ringkihnya manusia tanpa oksigen yang disiapkan Allah Subhanahu Wata'alla secara gratis setiap detik. Kami memohon kekuatan dalam hati agar dada tidak cepat terasa sesak, menunggu sinyal peluit kedua untuk melepaskan pegangan, dan peluit ketiga untuk kembali menghirup napas kehidupan.
Tujuh detik... delapan belas detik... waktu terasa berjalan sangat lambat. Dada mulai terasa hangat, tanda pasokan oksigen semakin menipis. Paru-paru mulai memberi sinyal darurat, meminta udara. Rasa patuh dan percaya kepada sang pelatih membuat kami tetap bertahan. Kami berpikir, Pak Gun tentu sedang menguji batas ketahanan dan fokus kami. Kami yakin tiupan peluit kedua dan ketiga akan segera terdengar dalam hitungan detik. Tangan teman di samping kanan dan kiri saya terasa sedikit mengetat, memberi sinyal bahwa mereka pun merasakan desakan yang sama di dalam dada. Kami saling menguatkan dalam diam bawah air.
Sembilan detik... sepuluh detik...
Suasana tetap hening. Tidak ada getaran suara peluit kedua, apalagi ketiga, yang menembus kedalaman air. Keheningan itu mulai terasa aneh. Kepasrahan berganti menjadi rasa heran. Kenapa Pak Gun begitu lama menahan kami? Apakah ini bagian dari ujian kesabaran yang ekstra berat? Atau adakah pelajaran spritual yang sedang beliau tancapkan ke dalam dada kami?
Ketika batas ketahanan dada sudah berada di ambang maksimal dan paru-paru tak lagi mampu menahan gejolak untuk menghirup udara. Akal sehat berbisik menjaga keselamatan jiwa adalah kewajiban yang utama. Tanpa menunggu suara peluit ketiga yang tak kunjung bergema, saya akhirnya memutuskan untuk memunculkan kepala dari dalam air.
BYURRR!
Kepala saya menyembul ke atas permukaan air, disusul oleh deru napas yang terengah-engah. Bersamaan dengan itu, satu per satu kepala ibu-ibu lain ikut menyembul dari air. Wajah-wajah yang basah itu menghembuskan napas lega sekaligus memancarkan kebingungan yang luar biasa. Kami saling pandang dengan mata membelalak, lalu secara refleks menoleh ke kanan dan ke kiri, menyapu seluruh sudut tepi kolam untuk mencari sosok sang pelatih.
Namun, tepi kolam itu kosong melompong. Sosok tegap Pak Gun yang biasanya berdiri menatap kami dengan penuh ketegasan telah hilang. Di kejauhan, dekat pintu masuk area kolam, tampak sepintas bayangan seorang pria bergegas sambil tertawa kecil tanpa suara.
Seketika menyadarlah kami semua, kami baru saja menjadi korban prank alias kejailan sang pelatih! Pak Gun sengaja meniup peluit pertama lalu melarikan diri, meninggalkan ibu-ibu yang menyelam dan menahan napas menantikan aba-aba yang takkan pernah datang.
Gema tawa riuh tiba-tiba pecah memecah keheningan sore itu. Kami semua tertawa terbahak-bahak di dalam kolam. Kami berhasil dikerjai dengan sempurna oleh Pak Gun. Suasana yang tadinya penuh ketegangan dan keseriusan berubah menjadi kebahagiaan yang membuncah.
Di balik rasa geli dan gelak tawa yang menghangatkan suasana. Kejadian sederhana ini seolah menjadi gambaran kecil hakikat kehidupan manusia di dunia.
Sering kali kita terjebak dalam prasangka, ketergantungan yang terlalu besar kepada sesama manusia. Kami yang begitu percaya Pak Gun pasti akan meniup peluitnya tepat waktu. Namun, pak Gun sore ini bercanda, meninggalkan ibu-ibu.
Sore itu penuh kejutan manis. Pak Gun mungkin telah melarikan diri dan berhasil memberi kami dua hal sekaligus yaitu hadiah tawa yang melapangkan jiwa dan pelajaran hidup yang tak ternilai harganya. Terimakasih pak Gun. Sehat selalu. Aamiin.
Cepu, 5 Oktober 2026







.jpeg)