Sabtu, 09 Mei 2026

Panggung Uji Nyali

 Karya: Gutamining Saida

Setiap kali kaki ini melangkah masuk area kolam renang, ada semacam energi baru yang meresap ke dalam dada. Air yang tenang seolah menawarkan lembaran pelajaran baru yang siap untuk dituliskan dalam catatan perjalanan hidup. Usia rasanya hanyalah deretan angka ketika semangat untuk menaklukkan ketakutan dan belajar hal baru terus menyala terang. Di sinilah, bersama rekan-rekan yang tergabung dalam semangat kebersamaan, rasa gentar terhadap air perlahan luntur, berganti dengan semangat yang tak pernah padam.

Suasana di sekitar kolam selalu menyimpan kesegaran. Permukaan air bagaikan panggung tempat kami menguji nyali. Para siswa penuh semangat, sang pelatih yang berdedikasi tinggi, semuanya larut dalam harmoni proses belajar yang tak kenal lelah.

Sosok yang kami hormati dan senantiasa kami sapa dengan panggilan yang terdiri dari enam huruf yaitu "PAK GUN". Beliau bukan sekadar pelatih, melainkan seorang pembimbing, motivator kami. 

Kami mulai konsentrasi. Suara gemercik air beradu dengan dinding kolam menjadi musik latar yang mengiringi instruksi Pak Gun.

"Silakan semuanya berdiri berjajar di pinggir kolam, rapatkan barisan!" serunya dengan suara lantang yang memecah riuhnya suasana.

Kami segera mengatur posisi membentuk satu garis lurus yang rapi, berdiri di dalam air sambil menghadap lurus ke arah beliau. Tubuh kami yang separuhnya sudah terendam air merasakan sensasi dingin yang menyegarkan. Instruksi selanjutnya terdengar sederhana, sebuah teknik dasar yang esensial.

"Semua menenggelamkan tubuh perlahan ke dalam air," instruksi Pak Gun memecah keheningan sesaat, "kemudian, saat muncul kembali ke permukaan, ucapkan hitungan dengan suara yang jelas!" Namun, ada satu syarat khusus ya.

"Saat muncul di permukaan, pastikan mata kalian tetap terbuka! Ingat, telapak tangan tidak boleh digunakan untuk mengusap air yang menempel di wajah. Biarkan air itu turun dengan sendirinya!" ucap pak Gun.

Sebuah ilmu yang secara teori terdengar sangat sederhana. Hanya menenggelamkan diri, lalu muncul sambil membuka mata dan menghitung. Kenyataan di lapangan sungguh berbeda. Refleks manusiawi, segera memejamkan mata rapat-rapat saat air menyentuh wajah, dan tangan secara otomatis akan bergerak mengusap mata setelah kepala menembus permukaan. 

Satu... Dua... Tiga... Suara hitungan terdengar bersahutan saat kepala-kepala mulai bermunculan dari air. Pemandangan yang tercipta mengundang senyum. Ada saja yang belum sesuai instruksi. Beberapa tangan tanpa sadar langsung bergerak cepat mengusap wajah yang basah kuyup. Beberapa yang lain muncul ke permukaan dengan mata yang masih terpejam rapat, menahan rasa tidak nyaman atau sekadar menuruti insting. Pak Gun mengamati setiap gerakan kami dengan saksama, tersenyum kecil melihat tingkah polah siswanya yang tengah berjuang melawan refleks alami.

Melihat banyaknya gerakan yang belum sempurna, Pak Gun tiba-tiba menghentikan latihan sejenak. Suasana menjadi hening, hanya tersisa suara napas kami yang sedikit terengah dan bunyi kepakan air yang perlahan mereda.

"Ibu-ibu..." panggil beliau 

"Ada yang tahu apa sebenarnya fungsi dari alis dan bulu mata kita?"

Pak Gun mulai memberikan penjelasan. Beliau menjabarkan bahwa Allah SSubhanahu Wata'alla menciptakan  alis dan bulu mata, ada manfaat dan fungsinya . Dari sudut pandang agama, tidak ada satupun ciptaan-Nya yang sia-sia. Alis diciptakan melengkung di atas pelipis bertugas bagaikan talang alami, menahan tetesan keringat atau guyuran air dari dahi agar tidak langsung mengalir deras menembus mata. Begitu pula dengan bulu mata, yang difungsikan layaknya tirai pelindung dari air dan debu. Memastikan mata tetap bisa berkedip dan melihat dengan jelas. 

"Itulah mengapa ibu-ibu tidak perlu panik dan buru-buru mengusap wajah," tambah Pak Gun "Percayakan pada desain sempurna yang telah Allah Subhanahu Wata'alla berikan pada raga kita. Bersyukurlah atas keberadaan alis dan bulu mata. 

Pak Gun kembali menyuruh kami mengulang gerakan tersebut berulang kali. Ajaibnya, kali ini perbedaannya sangat terasa. Saat tubuh kembali ditenggelamkan dan memecah permukaan air untuk bangkit, tangan-tangan ini menjadi jauh lebih tenang dan bisa ditahan untuk tidak menyentuh wajah. Mata kami berusaha keras untuk menatap lurus ke depan dengan kelopak yang terbuka, membiarkan butiran air mengalir secara alami mengikuti jalur yang telah diciptakan Sang Maha Kuasa melewati rintangan alis dan bulu mata. Hitungan demi hitungan diteriakkan dengan lebih lantang, lebih lepas, dan penuh keyakinan.

Kisah-kisah di kolam tidak akan kami biarkan menguap begitu saja, akan rangkai dan abadikan sebagai jejak langkah yang kelak bisa dibaca, dinikmati, dan direnungkan oleh anak, saudara, hingga cucu di masa depan. Sebuah warisan cerita tentang keberanian, rasa syukur, dan semangat belajar yang tak pernah mengenal kata usai. Aamiin

Cepu, 9 Mei 2026

Angkuk-angkuk en


Karya: Gutamining Saida
Di tepi kolam, kami berkumpul dengan satu tujuan yaitu ikhtiar sehat. Ada yang masih muda, ada yang sudah lanjut usia, ada yang sudah pandai berenang, dan ada pula yang masih takut pada air. Di tempat itu kami seperti keluarga yang saling menguatkan.

Di tengah suasana santai itu, muncul satu istilah khas Jawa yang membuat sore terasa lebih hidup, yaitu “angkuk-angkuk en.” Sebagai orang Jawa, istilah itu tentu tidak asing di telinga. Menurut pemahaman saya, angkuk-angkuk en memiliki makna hampir sama dengan ragu-ragu, maju mundur, tidak mantap melangkah karena hati masih penuh keraguan.

Istilah itu muncul saat latihan terjun ke kolam dipandu oleh Pak Gun. Beliau dikenal sabar membimbing. Wajahnya tenang, tetapi penuh semangat. Sore itu beliau memberikan teori sekaligus praktik bagaimana cara terjun ke kolam dengan benar.

“Kita belajar pelan-pelan. Jangan takut air,” ucap beliau sambil tersenyum.
Kami semua diminta berdiri berjajar di bibir kolam. Satu per satu harus mencoba terjun. Sebagian siswa tampak percaya diri, tetapi sebagian lagi terlihat tegang. Ada yang memegang pinggir kolam erat-erat seperti takut kehilangan pegangan hidup.

Pak Gun lalu memberi contoh terlebih dahulu. Beliau berdiri tegap di bibir kolam. Kaki mencengkeram kuat di pinggir kolam. Badan membungkuk. Kedua tangan lurus sejajar, jempol dikunci rapat. Setelah itu beliau meluncur masuk ke air dengan indah dan tenang. Byuuur...

Air terbelah rapi tanpa percikan berlebihan. “Begitu caranya,” kata beliau sambil tersenyum.
Kami semua bertepuk tangan kecil. Ternyata sesuatu yang terlihat mudah sering kali membutuhkan keberanian dan keyakinan. Giliran peserta pertama maju. Ia tampak siap. Ketika sudah berdiri di bibir kolam, mendadak tubuhnya berhenti. Kakinya maju sedikit lalu mundur lagi. Membungkuk sebentar lalu berdiri lagi. Tangannya sudah lurus lalu turun kembali. Pak Gun langsung tertawa kecil.

“Nah, itu namanya angkuk-angkuk en,” katanya.
Semua siswa langsung tertawa. Akhirnya memberanikan diri terjun. Cebuuuur... Air muncrat ke mana-mana. Posisi tubuh kurang sempurna karena tadi terlalu lama ragu-ragu. Kontan terdengar suara kompak tanpa aba-aba. “Geeeeer...” Tawa pecah di pinggir kolam. Yang tadi tegang ikut tertawa. Suasana menjadi cair dan hangat. Tidak ada ejekan yang menyakitkan. Yang ada hanya kebersamaan dan kegembiraan.

Pak Gun geleng-geleng kepala sambil tersenyum. “Jangan angkuk-angkuk en ya. Kalau ragu-ragu malah tidak sempurna,” ujar beliau.
Kata itu menempel pada kita . Bukan hanya tentang terjun ke kolam, tetapi juga tentang kehidupan. Bukankah manusia sering angkuk-angkuk en dalam menjalani hidup?
Kadang ingin berbuat baik tetapi masih ragu. Ingin sedekah takut miskin. Ingin meminta maaf gengsi. Ingin memulai hidup sehat malas. Ingin mendekat kepada Allah Subhanahu Wata'alla tetapi masih menunda-nunda.

Keraguan sering membuat langkah menjadi tidak sempurna. Saya memandangi air kolam yang bergelombang kecil. Belajar berenang bukan hanya melatih tubuh, tetapi juga melatih hati. Air mengajarkan keberanian. Air mengajarkan ketenangan. Air juga mengajarkan tawakal.

Saat seseorang terjun ke air, ada keberanian untuk melepaskan rasa takut. Setelah tubuh masuk ke air, barulah ia belajar menyesuaikan diri dan percaya bahwa tubuhnya mampu mengapung jika tidak panik.
Kehidupan manusia kadang Allah membawa kita masuk ke dalam keadaan yang tidak nyaman agar kita belajar percaya kepada-Nya. Jika terlalu banyak takut, hati menjadi berat. Jika yakin bahwa Allah selalu bersama hamba-Nya, langkah terasa lebih ringan.

Ada yang berkata tertawa itu sehat. Wajah-wajah yang awalnya tegang berubah cerah. Bahkan siswa  yang tadi salah posisi tidak malu. Ia justru ikut tertawa paling keras. Di situlah indahnya kebersamaan.
Yang takut diberi semangat. Yang jatuh ditolong. Yang ragu diyakinkan.

Saya jadi teringat bahwa dalam agama pun diajarkan pentingnya saling menguatkan dalam kebaikan. Hidup tidak bisa dijalani sendiri. Manusia membutuhkan saudara, teman, dan guru yang mengingatkan.
Pak Gun sore itu bukan sekadar pelatih. Beliau guru kehidupan. Beliau mengajarkan bahwa keraguan berlebihan hanya membuat seseorang sulit maju.

“Jangan angkuk-angkuk en.” Kalimat itu terus terngiang di kepala saya. Dalam melaksanakan ibadah  manusia jangan angkuk-angkuk en. Ketika adzan berkumandang, segeralah shalat. Ketika punya kesempatan berbuat baik, lakukan. Ketika masih diberi kesehatan, gunakan untuk bersyukur dan menjaga amanah tubuh.

Hidup di dunia sebenarnya seperti berdiri di bibir kolam. Kita tidak tahu seberapa dalam air di depan kita. Kita harus yakin bahwa Allah Subhanahu Wata'alla tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang mau berusaha. Sore ini saya mendapat istilah baru, keberanian menjalani hidup tanpa terlalu banyak angkuk-angkuk en. Sampai jumpa. Barokallah ilmunya pak Gun.
Cepu, 9 Mei 2026

Siswa Tertua


Karya : Gutamining Saida

Sinar matahari memantul di permukaan air yang beriak tenang. Di antara riuh rendah suara cipratan air dan canda tawa para siswa. Ada sebuah pemandangan yang selalu berhasil membuat hati saya menghangat. Di sanalah ibu saya berada, seorang wanita tangguh yang kini telah menginjak usia 75 tahun. Garis-garis halus di wajahnya adalah peta perjalanan hidup yang panjang, binar matanya menceritakan hal yang berbeda yaitu semangat menolak untuk menua.

Di kelas terapi air, ibu saya menyandang predikat sebagai siswa paling senior, dipandang dari usia di antara yang lainnya. Hal itu tidak sedikit pun menyurutkan langkahnya. Beliau memiliki tekad yang kuat, sebuah ikhtiar sehat dengan menceburkan diri ke kolam. Tujuannya sederhana untuk merawat kebugaran tubuh, memperpanjang usia yang barokah, dan yang terpenting, untuk menemukan kebahagiaan di setiap hela napasnya. Bagi ibu, air sebagai terapi yang menyegarkan raga dan menenangkan jiwa.

Sesi pertemuan sore dimulai, di area yang paling membuat ibu merasa aman dan nyaman, yakni kolam anak-anak. Airnya yang dangkal, hanya sebatas paha orang dewasa, memberikan rasa aman bagi siapa saja yang baru beradaptasi. Ibu melakukan gerakan-gerakan pemanasan ringan. Mengayunkan tangan, memutar bahu, dan melangkah perlahan membelah air. Senyum sesekali mengembang di bibirnya ketika ia berhasil menyeimbangkan diri. Bagi orang lain, mungkin itu hanya gerakan sederhana, tetapi bagi seorang lansia berusia 75 tahun, itu adalah sebuah pencapaian yang patut dirayakan.

Waktu berlalu, tubuh sudah cukup beradaptasi dengan suhu air. Pemanasan di kolam anak-anak dirasa sudah cukup. Saat itulah, sang pelatih yang mendampingi kami, berjalan menghampiri dengan senyum ramahnya. Beliau adalah sosok pelatih yang sabar dan sangat memahami psikologis para siswanya, terutama para lansia.

"Monggo, pindah sana, Yang-ti," ucap Pak Gun dengan nada suara yang lembut namun penuh dorongan. Ia menunjuk ke arah kolam dewasa yang membentang di sisi lain, dengan air kebiruan yang tampak lebih tenang namun menyembunyikan kedalaman yang berbeda.

Mendengar ajakan itu, raut wajah ibu seketika berubah. Senyumnya tertahan, digantikan oleh sorot mata yang menyiratkan keraguan dan kecemasan. Bagi seseorang yang tidak terbiasa, kedalaman air adalah sebuah ketakutan yang sangat nyata. Imajinasi tentang kaki yang tidak menjejak dasar kolam cukup untuk membuat nyali ciut.

"Di sini saja, Pak," jawab ibu saya dengan cepat. Tangannya secara refleks memegang pinggiran kolam anak-anak. Suaranya terdengar sedikit bergetar. "Takuuuut di sana, lebih dalam."

Pak Gun terkekeh pelan, tawa yang menenangkan dan tidak menghakimi. Beliau sangat mengerti bahwa ketakutan itu wajar. "Tidak apa-apa, Yang-ti. Tidak akan kelelep, Yang-ti," bujuk Pak Gun dengan nada meyakinkan, memberikan garansi keamanan bahwa semuanya akan berada di bawah kendalinya.

Melihat ibu yang masih ragu-ragu mematung di tempat, saya pun mengambil inisiatif. Saya berjalan mendekat, menyusulnya ke pinggir kolam. Saya pegang tangan kiri ibu. Sentuhan itu adalah bentuk transfer keberanian, sebuah pesan tanpa kata bahwa ia tidak sendirian.

"Ayo Bu, pelan-pelan saja," bisik saya.

Dengan tangan kiri yang terus saya genggam erat, kami berdua melangkah meninggalkan kolam anak-anak menuju area kolam dewasa. Setibanya di bibir kolam yang baru, ibu menatap tangga besi yang menjorok ke dalam air. Satu per satu, dengan sangat hati-hati, ibu mulai menuruni tangga tersebut. Kakinya meraba dasar kolam pada setiap pijakan. Semakin turun, air terasa semakin naik menyelimuti tubuhnya, dari pinggang, perut, hingga sebatas dada.

"Coba jalan-jalan dulu di sekitar sini, Yang-ti. Rasakan airnya," instruksi Pak Gun yang sudah bersiap di dalam air, menjaga jarak aman di dekat kami.

Ibu mulai melangkahkan kakinya perlahan. Air di kolam dewasa memberikan daya apung yang berbeda. Awalnya langkahnya kaku, namun perlahan-lahan ritmenya mulai terbentuk. Ketenangan mulai menggantikan ketegangan di wajahnya.

"Gimana, masih takut Yang-ti?" tanya Pak Gun memecah konsentrasi ibu, mencoba mengevaluasi kondisi psikologis murid tertuanya itu.

Ibu menoleh ke arah Pak Gun, kemudian menggelengkan kepalanya pelan. Senyum kecil, senyum kemenangan atas ketakutannya sendiri, mulai terukir di wajahnya yang basah oleh air. Kata 'tidak' terwakili dengan sempurna oleh gelengan kepala tersebut. Kekhawatiran akan 'kelelep' perlahan sirna seiring dengan keyakinannya bahwa kakinya masih menjejak kuat dan ada tangan-tangan yang siap menjaganya.

"Bagus. Kalau sudah tidak takut, sambil latihan napas, nggih," lanjut Pak Gun memberikan instruksi berikutnya. Beliau mengajarkan cara mengambil udara dari mulut dan membuangnya perlahan di dalam air. Ibu mengikuti dengan saksama. Wajahnya menunduk ke permukaan air, meniupkan gelembung-gelembung kecil, lalu mengangkat wajahnya kembali untuk meraup oksigen. Ibu tampak begitu bersemangat, aura kesehatannya memancar menembus batasan usianya.

Waktu latihan akhirnya usai. Sebelum kami benar-benar mengakhiri sesi dan naik ke tepian untuk pulang, Pak Gun meminta seluruh peserta untuk berkumpul sejenak. Beliau menginstruksikan kami untuk membentuk sebuah formasi saling berpegangan tangan dalam bentuk melingkar di tengah kolam.

Tangan ibu menggenggam tangan teman-teman seperjuangannya. Di tengah lingkaran itu, terjalin sebuah ikatan solidaritas yang tak terlihat. Pak Gun kemudian mengambil perangkat kameranya dan mengabadikan momen kebersamaan tersebut. Jepretan kamera dan rekaman video singkat itu merekam senyum-senyum sumringah para siswa, dengan ibu.

Momen tersebut diabadikan bukan tanpa alasan. Dokumentasi itu memiliki tujuan yang sangat penting. Ke depannya, saat sedang bersantai di rumah, video dan foto itu bisa dilihat kembali. Dari sanalah, ibu dan peserta lainnya bisa melihat rekam jejak perjuangan di kolam. Mereka bisa melihat secara visual kemajuan yang telah dicapai hari demi hari.

Sebuah pepatah kembali terngiang yaitu "Bisa karena biasa." Pepatah itulah yang selama ini sering dipakai sebagai motivasi utama. Bahwa tidak ada kata terlambat untuk memulai, tidak ada kata terlalu tua untuk belajar, dan bahwa setiap langkah kecil yang diulang secara konsisten akan membuahkan hasil yang luar biasa. Ibu saya, di usianya yang ke-75, telah membuktikan bahwa kebiasaan melawan rasa takut dan kebiasaan berikhtiar adalah kunci menuju hidup yang sehat dan bahagia. Aamiin.

Cepu, 9 Mei 2026

Jumat, 08 Mei 2026

Berdoalah


Karya: Gutamining Saida

Hari Sabtu, 10 Mei 2026, pukul 09.57 WIB terasa berbeda. Ada sejuk yang menyusup ke rongga dada, entah dari mana datangnya. Saya tengah duduk di ruang ujian (penilai sumatif akhir jenjang) kelas IX. Tiba-tiba layar handphone menyala. Sebuah panggilan video masuk. Nama yang tertera membuat jantung saya berdegup lebih kencang yaitu Emy Retno Asih.

Bu Emy, yang kini tengah berada di tanah yang paling dirindukan oleh setiap jiwa yang bersyahadat. Tanah suci Mekkah. Dengan tangan yang sedikit bergetar, saya menjawab panggilan tersebut.

“Assalamualaikum,” sapa Emy.

“Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,” balas saya dengan suara sedikit tertahan di tenggorokan.

Layar handphone seketika berubah. Bukan lagi wajah bu Emy yang memenuhi layar, melainkan sebuah pemandangan yang menggetarkan seluruh hati. Di sana,  bangunan suci Ka'bah. Bangunan berbentuk kubus yang diselimuti Kiswah hitam pekat, dihiasi kaligrafi emas. Saya tertegun, mulut terkunci. Mata ini terpaku pada layar kecil berukuran beberapa inci itu, jiwa ini seolah tersedot ribuan kilometer melintasi benua dan samudra, langsung menuju pelataran Masjidil Haram.

"Berdoalah," suara bu Emy memecah keheningan. 

"Mumpung saya ada di depan Ka'bah. Biar saya yang aamiin-kan."

Kata-kata itu bagaikan anak panah yang meluncur menembus relung hati terdalam. Di sana, di depan kiblat jutaan umat Islam, bu Emy menawarkan diri menjadi penyambung lidah doa-doa saya. Saya mencoba mengatur napas, mengumpulkan serpihan doa yang selama ini tersimpan rapat dalam dada. Sepatah kata pun terucap, pertahanan diri runtuh.

Air mata, yang entah sejak kapan menggenang di pelupuk mata, akhirnya tumpah tak tertahankan. Bulir-bulir hangat itu mengalir membasahi pipi. Tangisan ini bukan tangisan kesedihan, melainkan luapan kerinduan yang membuncah, rasa syukur yang tak terhingga, dan kepasrahan seorang hamba di hadapan kebesaran Tuhannya.

Melalui layar handphone, saya melihat dengan jelas lautan manusia dari berbagai penjuru dunia, bersatu dalam satu tujuan, satu arah. Mereka tawaf mengelilingi Ka'bah, menengadahkan tangan, merapalkan doa-doa dengan penuh khusyuk. Ada yang menangis, ada yang menempelkan dahi ke lantai marmer, memohon ampunan dan pertolongan Sang Pencipta.

Pemandangan menyayat hati, mengingatkan sebagai hamba yang penuh dosa dan khilaf. Di saat yang sama, pemandangan itu juga menumbuhkan secercah harapan. “Ya Allah,“Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Engkaulah yang menuntun hati hamba-hamba-Mu.” Saya mulai memanjatkan doa. Doa yang tak pernah putus, doa yang selalu mengalir dalam setiap sujud. Saya memohon ampunan, kesehatan, keberkahan hidup, dan kebaikan untuk diri sendiri, keluarga, serta seluruh umat Islam.

Saya dengar suara bu Emy dari seberang sana, “Aamiin... Ya Allah, aamiin.”

Suaranya, yang berpadu dengan gema lantunan talbiyah dari ribuan jamaah lainnya, menciptakan harmoni yang menyayat hati. Doa-doa saya ikut terbawa terbang, melesat menembus langit, menembus hijab, dan sampai ke hadapan Arsy-Nya.

Tetes air mata yang jatuh, terukir kesaksian. Kesaksian bahwa jiwa ini benar-benar terhubung dengan Ka'bah, meskipun secara fisik masih terpisahkan oleh jarak yang teramat jauh. Layar handphone hanyalah perantara, rindu dan imananyang menjadi jembatannya.

“Alhamdulillah,” gumam saya lirih. “Terima kasih, Ya Allah. Engkau telah mengizinkanku menatap baitullah-Mu, meski hanya melalui sebidang layar.”

Saya menyadari, pengalaman ini adalah sebuah anugerah yang tak ternilai harganya.  Sebuah pengingat bahwa Allah Subhanahu Wata'alla tidak pernah tidur, dan rahmat-Nya senantiasa mengalir kepada siapa saja yang Dia kehendaki.

Sebuah tekad terpatri kuat. Sebuah keyakinan yang tak terbantahkan. “Apa yang tidak bisa?” tanya saya pada diri sendiri, sebuah pertanyaan yang menggema dalam relung kalbu.

“Jika Allah telah berkehendak, tak ada yang tak mungkin,” jawab saya yakin.

Saya sangat berharap, dengan izin dan ridho Allah, suatu saat nanti kaki ini akan melangkah menapaki pelataran Masjidil Haram. Bahwa dahi ini akan sujud di atas marmer putih yang dingin, dan lisan ini akan merapalkan talbiyah secara langsung di hadapan Ka'bah. Setelahnya, merajut rindu di kota Nabi, Madinah Al-Munawwarah.

Saya yakin, jika Allah telah menetapkan waktunya, tidak ada satu kekuatan pun di alam semesta ini yang bisa menghalanginya. Dia adalah Dzat yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu. Kun Fayakun. Jadilah, maka terjadilah. Panggilan video berakhir. Layar handphone kembali gelap. Bayangan Ka'bah dan gema talbiyah terus menari-nari dalam pikiran.

Kehadiran Allah Subhanahu Wata'alla sangat dekat. Betapa besar cinta-Nya kepada setiap hamba-Nya. Saya menyadari bahwa kerinduan pada Ka'bah adalah sebuah anugerah, sebuah pengingat akan tujuan hakiki dari perjalanan hidup ini akan kembali kepada-Nya dalam keadaan berserah diri seutuhnya.  SEMOGA BU EMY SEKALIAN DIBERIKAN KELANCARAN IBADAH, KESEHATAN. PULANG MEMBAWA PREDIKAT HAJI YANG MABRUR. Aamiin Ya Rabbal 'Alamiin.

Cepu, 10 Mei 2026

Rabu, 06 Mei 2026

3 Generasi

Karya: Gutamining Saida

Rabu sore langit tampak teduh. Matahari mulai turun di ufuk barat, sinarnya tidak lagi menyengat, justru terasa hangat dan menenangkan. Angin berembus pelan menemani langkah kami menuju kolam renang. Hari istimewa karena kami datang bukan hanya untuk berenang, tetapi untuk berikhtiar sehat bersama  tiga generasi yaitu nenek, ibu dan anak..

Di samping saya ada ibu tercinta yang sudah berusia 75 tahun. Beliau berjalan sambil tersenyum menikmati suasana. Sementara di depan kami berjalan anak perempuan saya. Tiga generasi berjalan bersama dengan tujuan yang sama, yaitu menjaga kesehatan dan menikmati kebersamaan.

“Dik, saat usia lanjut tubuh biasanya perlu bantuan alat." ujar saya.
"Lihat mbahyi dan umi." tambah saya.
"Iya, mii."jawabnya singakat.

 Ada yang membawa kursi lipat, tongkat, kacamata, atau bantal kecil seperti umi. Itu bukan tanda kelemahan, tetapi bentuk ikhtiar agar tubuh tetap nyaman.”Anak saya mendengarkan sambil tersenyum. “Kalau ingin tetap sehat sampai tua, ikhitiarlah dari sekarang." kata saya.
"Tanpa banyak alat bantu, maka harus dimulai sejak dini. Rajin bergerak, menjaga pola makan, hati dibuat bahagia, dan tubuh dilatih.”lanjut saya.

Suasana kolam sudah cukup ramai. Anak-anak kecil yang bermain air sambil berteriak kegirangan. Ada bapak-bapak dan ibu-ibu yang sedang latihan gerakan terapi di air. Suara cipratan air berpadu dengan tawa para peserta membuat sore itu terasa hidup.

Pelatih kami pak Gun, sudah berdiri di pinggir kolam. Beliau dikenal sabar dan telaten membimbing siapa saja. Mulai anak-anak sampai lansia dibimbing dengan perhatian. Peserta yang awalnya takut air pun perlahan bisa berani masuk kolam.

“Silakan pemanasan dulu,” kata Pak Gun sambil tersenyum.
Kami pun mengikuti arahan. Gerakan demi gerakan kami ikuti. Air kolam sore itu terasa hangat. Tubuh yang awalnya lelah setelah aktivitas sehari penuh perlahan terasa ringan. Kami nikmati setiap gerakan dengan hati senang. Tidak ada target berat, tidak ada siapa paling hebat. Yang ada hanyalah semangat sehat bersama.

Setelah beberapa saat latihan, tiba-tiba Pak Gun memberi tantangan. 
“Sekarang coba bertiga pegangan tangan,” katanya.
Kami saling mendekat. Tangan kanan saya memegang tangan ibu, sementara tangan kiri memegang tangan anak saya. Rasanya haru, belum pernah seperti ini di dalam air. Tiga generasi  (nenek, ibu dan anak) berdiri di dalam air sambil saling menggenggam tangan.

“Kepala dimasukkan ke dalam air bersama-sama,” kata Pak Gun lagi.
“Satu… dua… tiga!”
Kami mencoba menundukkan kepala bersama-sama ke dalam air. Awalnya terlihat mudah. ternyata menjaga keseimbangan sambil saling berpegangan tangan itu tidak gampang. Anak saya bergerak terlalu cepat. Saya ikut kehilangan keseimbangan. Ibu saya yang memegang tangan saya ikut goyah. Air muncrat ke mana-mana. Kepala kami muncul dari air dengan posisi tidak karuan. Spontan… Kami bertiga tertawa. Bukan tertawa mengejek. Bukan menertawakan ketidak bisa an. Tetapi tawa yang muncul begitu saja karena hati kami benar-benar bahagia.

Suara tawa kami menyatu dengan suara air yang bergelombang kecil di kolam. Pak Gun melihat kami, menjadi  heran.
“Njenengan itu kenapa saling menertawakan?” tanyanya sambil ikut tersenyum.
"Tawa kami bahagia, Pak.” jawab saya.
Kalimat itu sederhana, tetapi benar-benar keluar dari hati. Kebahagiaan tidak membutuhkan sesuatu yang mahal. Tidak perlu pergi jauh. Tidak harus memiliki kemewahan. Kebahagiaan bisa hadir dari hal kecil seperti tertawa bersama di kolam renang.

Meski usia sudah 75 tahun, semangatnya luar biasa. Sehat bukan hanya tentang tubuh yang kuat. Sehat juga tentang hati yang gembira. Tentang hubungan keluarga yang hangat. Bisa berkumpul tanpa beban sambil menikmati waktu bersama di kolam.

Kolam menjadi saksi kebersamaan tiga generasi. Tiga usia berbeda, tiga kebiasaan berbeda, tetapi dipersatukan oleh kasih sayang dan semangat hidup sehat. Tidak semua orang memiliki kesempatan menikmati waktu seperti ini bersama nenek, ibu dan anak dalam satu momen sederhana. Sore itu terasa sangat mahal nilainya. Tawa sederhana, menghangatkan hati sepanjang waktu. Sampai jumpa cerita esok.
Cepu, 8 Mei 2026

Njeplaplang

 

Karya: Gutamining Saida

Di pagi yang masih menyisakan embun, obrolan di grup komunitas renang mendadak riuh hanya karena satu kata yang dilemparkan oleh sang pelatih kebanggaan kami, Pak Gun. Pak Gun, tiba-tiba mengirimkan sebuah foto dokumentasi latihan sore kemarin. Di layar ponsel, saya melihat sosok yang sedang mempraktikkan posisi njepaplang di atas permukaan air. Melihat foto itu, saya tersenyum sendiri. Foto itu bagi saya, adalah sebuah "pancingan". Tujuannya  untuk membakar semangat para pejuang air yang usianya di atas lima puluh tahun, nyalinya harus terus diasah.

Dalam teori renang, posisi ini sebenarnya adalah inti dari kepercayaan diri. Pelaku harus memiliki hati yang tenang, pikiran yang hening, serta tubuh yang rileks sepenuhnya. Pandangan mata harus lurus ke atas menatap langit kedua kaki lurus merapat, dan telapak tangan menelungkup. Kedengarannya sangat sederhana, bukan? Hanya diam dan membiarkan air menopang kita. Bagi saya yang sedang berjuang melawan trauma dan rasa takut pada air, teori ini adalah ujian yang nyata.

Saya ingat betul momen ketika saya mencoba mempraktikkan posisi njepaplang tersebut. Begitu tubuh menyentuh air, niat hati ingin meluncur indah. Apa daya, baru beberapa detik meluncur, tubuh saya justru langsung "nyungsep" ke dasar kolam. Saya tenggelam cukup untuk membuat hidung terasa perih terkena air. Mengapa saya gagal? Mengapa teman saya yang lain bisa begitu tenang bak kayu yang hanyut, sementara saya justru seperti gaya batu?

Kesimpulannya yaitu hati saya belum tenang. Ada ketakutan yang masih bersembunyi, ada kecemasan bahwa air akan menelan saya jika saya lepas kendali. Dalam renang, musuh terbesar kita bukanlah kedalaman air, melainkan kekakuan otot yang dipicu oleh pikiran yang berisik. Ketika hati belum ikhlas "menyerah" pada air, maka tubuh akan menegang, dan tubuh yang tegang secara fisik akan menjadi lebih berat sehingga lebih mudah tenggelam.

Di sinilah peran Pak Gun menjadi sangat penting. Beliau bukan sekadar pelatih yang mengajarkan gerakan tangan atau kaki. Beliau adalah motivator ulung. Beliau paham bahwa bagi kami, belajar renang hanya untuk menaklukkan diri sendiri. Beliau sering berkata dengan nada guyon kuncinya pada kemauan untuk mencoba. 

Di grup "Muda Swimming Squad" Yang memotivasi saya yaitu postur tubuhnya jauh lebih berisi daripada saya bisa sukses njeplaplang.  Kenyataannya, mereka justru mengapung dengan begitu indahnya, sangat rileks, seolah-olah air adalah kasur empuk bagi mereka. Melihat hal itu, saya merasa terinspirasi. Jika mereka bisa, mengapa saya tidak? Jadi, faktor kegagalan saya murni karena faktor psikologis. Saya bertekad tidak akan patah semangat. Saya belajar untuk  berusaha menyinkronkan antara pikiran dan gerakan. Saya mulai menyadari bahwa posisi njepaplang  harus pasrah, tetap terjaga. 

Puncaknya adalah kepuasan batin yang tak ternilai harganya. Ketika saya berhasil tidak tenggelam dalam beberapa detik rasanya kebahagiaan itu meledak-ledak. Meski hasilnya belum maksimal, meski posisi tangan saya belum sepenuhnya sempurna. Kaki terkadang masih goyah, fakta bahwa saya "tidak tenggelam" saja sudah merupakan kemenangan besar. Bahagia itu sederhana yaitu cukup dengan melihat tubuh kita tidak lagi ditolak oleh air. Hal itu sudah cukup untuk membuat tersenyum dan tertawa.

Hidup itu mirip dengan posisi njepaplang. Kadang kita terlalu keras mencoba mengendalikan segala sesuatu sehingga kita menjadi tegang dan akhirnya "tenggelam" dalam masalah. Padahal, jika kita sedikit lebih rileks, memiliki hati yang tenang, dan pandangan yang selalu menatap kepada Tuhan, hidup akan terasa lebih ringan. Masalah tidak akan menenggelamkan kita jika kita tahu cara "mengapung" di atasnya dengan kepasrahan.

Saya sudah tidak sabar untuk kembali bertemu Pak Gun dan teman-teman. Saya akan kembali mencoba posisi njepaplang. Saya akan menikmati setiap proses belajar tanpa rasa takut yang menghalangi kebahagiaan kita. Sampai jumpa di hari Jum'at mendatang.

Cepu, 7 Mei 2026

Selasa, 05 Mei 2026

Rindu kepada-Mu


Karya: Gutamining Saida

Para Calon Jamaah Haji (Calhaj) melangkah, meninggalkan zona nyaman demi memenuhi panggilan yang telah bergema sejak zaman Nabi Ibrahim AS: Labbaykallahumma Labbayk. Menyaksikan keberangkatan ini, terlebih ketika ada sahabat dekat dan tetangga yang ikut di dalamnya, adalah sebuah pengalaman batin yang menguras emosi. Meski raga ini tak sempat berjabat tangan langsung di depan pintu rumahnya karena kendala jarak, doa-doa tulus telah saya terbangkan melalui langit-langit harapan. Saya memilih hadir dalam upacara pemberangkatan di dekat rumah sebuah titik temu antara doa saksi bisu perjuangan iman. 

Prosesi pamitan haji adalah salah satu drama kemanusiaan paling murni dalam ajaran Islam. Di sana, batas antara kesedihan dan kebahagiaan menjadi sangat tipis, bahkan melebur menjadi satu aliran air mata yang tak terbendung.

  1. Sedih karena Berpisah: Ada rasa haru melepaskan orang-orang tercinta menuju tanah yang jauh. Di balik lambaian tangan, ada rasa khawatir sekaligus rasa kehilangan sementara. Lingkungan  akan terasa lebih sepi. 

  2. Bahagia karena Terpilih: Di atas rasa sedih itu, membuncah kebahagiaan yang tak terlukiskan. Menjadi tamu Allah bukanlah soal kekayaan materi, melainkan soal "undangan" (ma'unah). Banyak orang kaya yang belum tergerak, dan banyak orang sederhana yang justru diberangkatkan dengan cara-cara ajaib. Melihat sahabat berangkat adalah melihat bukti nyata kasih sayang Allah Subhanahu Wata'alla..

Setiap tetesan air mata yang jatuh saat azan dikumandangkan untuk melepas keberangkatan mereka adalah saksi bahwa hati kita masih memiliki iman. Tangisan itu adalah bentuk pengakuan bahwa kita ikut merasakan getaran keagungan Allah yang memanggil hamba-hamba-Nya untuk bersujud di depan Ka’bah.

Melihat mereka berangkat, memicu alarm rindu dalam dada saya sendiri. Makkah Al-Mukarramah dan Madinah Al-Munawwarah bukanlah sekadar titik koordinat di atas peta dunia. Bagi seorang muslim, keduanya adalah tanah suci.

  • Makkah: Membayangkan diri berdiri di depan Ka'bah, melihat bangunan hitam yang megah di tengah kerumunan manusia dari berbagai bangsa, adalah impian tertinggi. Di sana, identitas duniawi luruh. Tidak ada pejabat, tidak ada rakyat jelata, yang ada hanyalah hamba yang merintih memohon ampunan.

  • Madinah: Kerinduan pada Madinah adalah kerinduan pada ketenangan. Membayangkan melangkah di Raudhah, menyampaikan salam secara langsung di depan makam Rasulullah SAW, membawa rasa damai yang tak bisa ditawarkan oleh kemewahan kota mana pun di dunia.

Rindu ini seringkali terasa sesak. Ada semacam rasa "iri" melihat sahabat dekat bisa segera mencium aroma tanah haram, sementara kita di sini masih harus bergulat dengan persiapan waktu. Rindu inilah yang menjadi bahan bakar doa agar suatu saat nanti, nama kita pun akan dipanggil.

"Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh." (QS. Al-Hajj: 27)

Ayat ini terngiang-ngiang saat bus mulai bergerak perlahan. Saya menyadari bahwa setiap langkah kaki Calhaj pagi ini adalah penggenapan dari janji Allah ribuan tahun yang lalu. Saya menyelipkan sebuah munajat kecil yang sangat personal. Sebuah harapan agar Allah tidak membiarkan kerinduan ini hanya menjadi mimpi yang tak berujung.

"Ya Allah, hari ini aku melepas sahabatku dengan doa. Jika Engkau izinkan, di waktu yang paling tepat menurut-Mu, gerakkanlah kakiku, mudahkanlah urusanku, dan cukupkanlah rezekiku untuk bisa bersimpuh di Baitullah."

Saya percaya bahwa setiap niat baik yang ditanam hari ini, meski hanya melalui kehadiran di upacara pemberangkatan. Hadirnya saya adalah bentuk penghormatan. Saya ingin atmosfer suci itu menular, ingin aroma keberangkatan itu melekat dalam ingatan, sehingga semangat memperbaiki diri semakin berkobar.

Untukmu, sahabat dan saudara saya yang kini sedang dalam perjalanan menuju embarkasi, ketahuilah bahwa meski jarak memisahkan kita, hatiku tertaut pada setiap doa yang kau panjatkan nanti di depan Multazam.

Titip salam saya pada Baginda Rasulullah. Sebutkan nama saya di antara ribuan doa yang kau panjatkan. Katakan pada Sang Pemilik Ka'bah bahwa di sebuah sudut kecil di wilayah Cepu, ada seorang hamba yang sangat merindukan rumah-Nya.

Selamat jalan, para tamu Allah. Semoga perjalanan ini menjadi safar yang penuh berkah, menjadi jembatan menuju perubahan hidup yang lebih takwa, dan semoga kembalinya nanti membawa cahaya yang menyinari lingkungan sekitar. Makkah dan Madinah, tunggu kami. Kami akan datang, cepat atau lambat, atas izin-Nya. Aamiin Ya Rabbal 'Aalamiin.

Cepu, 6 Mei 2026

Keberangkatan Calhaj




Karya Gutamining Saida

Fajar di ufuk timur menyisakan rona merah yang membelah kegelapan langit di atas musala Miftahul Falah. Suara zikir pelan masih terdengar di dalam musala, namun ada getaran yang berbeda pagi ini. Jamaah tidak langsung membubarkan diri ke rumah masing-masing. Ada sebuah magnet yang menarik langkah kaki mereka menuju satu titik yaitu kediaman Bapak Puji Utomo.

Bapak Puji Utomo bukan sekadar tetangga. Beliau adalah jamaah dari Musala Miftahul Falah, sosok yang biasa disapa dengan "Pak Ut, Lek Ut". Rumahnya telah berubah menjadi pintu gerbang menuju Tanah Suci. Kekhusyukan doa memenuhi udara, menciptakan suasana yang seolah-olah menghubungkan tanah Jawa dengan padang pasir di Mekah.

Suasana haru langsung menyergap. Bapak Puji Utomo duduk bersimpuh di tengah ruangan, mengenakan pakaian seragam batik haji rapi nan bersih, wajahnya memancarkan cahaya ketenangan sekaligus kegelisahan rindu yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Ini adalah puncak dari penantian belasan tahun sebuah kesabaran yang akhirnya dijawab oleh Allah Subhanahu Wata'alla melalui undangan resmi menjadi tamu-Nya.

Prosesi upacara pelepasan dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an. Setiap lantunan ayat yang dibacakan seolah menjadi pengingat bahwa perjalanan ini bukanlah perjalanan biasa. Ini bukan perjalanan wisata untuk melihat keindahan dunia, melainkan perjalanan "pulang" ke rumah asal bagi setiap jiwa, yaitu Baitullah.

Saat tiba pada sesi yang paling dinanti, yakni acara pamitan, suasana berubah menjadi sangat hening. Beliau tidak kuasa lagi untuk berkata-kata sendiri, Bapak Puji Utomo hanya mampu menunduk. Prosesi pamitan tersebut diwakilkan kepada salah seorang tokoh masyarakat setempat. Hatinya terlalu penuh oleh rasa syukur hingga lidahnya kelu untuk berucap. Beliau menitipkan permohonan maaf atas segala khilaf, baik sengaja maupun tidak, agar langkahnya menuju Tanah Suci menjadi ringan dan suci," ujar sang tokoh masyarakat. Mendengar itu, tangisan jamaah yang sedari tadi ditahan akhirnya pecah. Ruangan itu dipenuhi oleh tetesan air mata dari para sahabat dan tetangga yang hadir.

Bapak Utomo dan ibu melangkah keluar pintu rumahnya. Di ambang pintu, seorang muazin yaitu bapak Joko berdiri tegap dengan tangan menempel di telinga. Suara Adzan pun berkumandang. Dilanjut iqomah di sebelah kiri. Biasanya, adzan memanggil orang untuk menunaikan salat. Kali ini, adzan itu terasa seperti pengumuman kepada alam semesta bahwa seorang hamba Allah sedang memulai langkah kakinya menuju pusat bumi, pusat kiblat. Suara Allahu Akbar yang melengking di pagi itu membuat bulu kuduk merinding. Seolah-olah langit ikut bertasbih menyaksikan keberangkatan seorang calon haji. Disusul kemudian dengan Iqomah, yang menandakan bahwa waktu keberangkatan telah tiba. Tidak ada lagi waktu untuk menoleh ke belakang, fokus hanya pada satu titik yaitu  Allah dan Rasul-Nya.

Saat beliau melangkah menuju kendaraan, seluruh tamu yang berderet di dekat pintu mulai mengumandangkan Talbiyah secara serentak, dengan suara yang mantap

Labbaykallahumma labbayk, labbayka laa syariika laka labbayk. Innal hamda wan ni'mata laka wal mulk, laa syariika lak.

Suara ini bergemuruh, membelah keheningan. Kalimat "Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah" bukan lagi sekadar hafalan manasik, melainkan jeritan kerinduan dari setiap jiwa yang hadir. Air mata tumpah tak terbendung bukan tangis kesedihan karena perpisahan, melainkan tangis haru atas kebesaran Allah. Menyaksikan Bapak Utomo sekalian berangkat.  Bukti nyata bahwa Allah  memampukan orang-orang yang Ia panggil dengan kesabaran dan keikhlasan.

Betapa rasa syukur ini meluap-luap. Kini beliau berangkat untuk menjadi tamu Rasulullah di Madinah dan tamu Allah di Makkah. Kebahagiaan hati ini sungguh tiada tandingan. Ada rasa iri yang mulia di hati setiap orang yang melihatnya. Sebuah keinginan kuat agar suatu saat nanti kami juga dipanggil untuk bersujud di tempat yang sama.

Rombongan kendaraan perlahan bergerak menjauh, meninggalkan debu yang beterbangan dan suara talbiyah yang semakin sayup di telinga. Kami kembali ke rumah masing-masing dengan hati yang dipenuhi doa, berharap suatu saat nanti, kami pun akan berdiri di posisi yang sama yaitu mengenakan kain ihram putih, melupakan dunia, dan hanya berseru dengan penuh cinta, "Labbayk, ya Allah..." Selamat jalan, wahai tamu Allah. Semoga menjadi haji yang mabrur, yang tiada balasannya di sisi Allah Subhanahu Wata'alla kecuali surga-Nya yang abadi. Aamiin ya Rabbal 'Alamiin.

Cepu, 5 Mei 2026

Senin, 04 Mei 2026

Sapaan Pagi

Karya : Gutamining Saida 

Sinar mentari bukan sekadar tanda dimulainya hari, melainkan sebuah undangan dari Sang Khalik untuk merayakan kehidupan. Di sebuah grup percakapan digital yang biasanya riuh dengan obrolan ringan, foto dan vidio, muncul sebuah sapaan hangat dari Pak Gun. "Salam sehat lahir dan batin," tulisnya. Kalimat sederhana itu seketika mengubah layar ponsel menjadi lebih sejuk, layaknya tetesan embun yang jatuh di atas tanah yang gersang.

Pak Gun bukan sedang sekadar menjalankan formalitas pagi. Bagi beliau, menjaga kesehatan adalah sebuah bentuk amanah yang paling mendasar. Mengapa demikian? Karena tubuh manusia  untuk dijaga sebaik-baiknya

Pak Gun sangat memahami bahwa jiwa yang tenang dan hati yang bersinar membutuhkan wadah yang kuat. Bagaimana mungkin seorang hamba bisa bersujud dengan khusyuk jika punggungnya didera linu karena kurang gerak? Bagaimana mungkin seorang siswa bisa menyerap ilmu jika otaknya tumpul akibat aliran darah yang tidak lancar?

Anjuran Pak Gun untuk bergerak badan selama lima belas menit sebelum memulai aktivitas bukan sekadar tips kebugaran dari majalah kesehatan. Itu adalah sebuah rasa syukur pada Sang Pencipta. Setiap tarikan napas saat kita melakukan peregangan adalah dzikir tanpa kata. Setiap detak jantung yang mengencang saat kita melompat atau berjalan cepat adalah tasbih yang mengalir dalam darah.

Lima belas menit tersebut adalah waktu di mana kita "melaporkan diri" kepada Pencipta bahwa kita siap menggunakan raga ini untuk menebar kebaikan hari ini. Bergerak adalah cara kita berterima kasih atas engsel sendi yang masih berfungsi, otot yang masih lentur, dan paru-paru yang masih mampu menghirup oksigen secara baik. 

Lebih dari sekadar olahraga, anjuran Pak Gun untuk "nyemplung" di kolam minimal seminggu sekali. Air adalah unsur yang melunakkan kekakuan dan membasuh kotoran, baik yang tampak maupun yang tersembunyi di dalam batin.

Saat seorang siswa membiarkan tubuhnya tenggelam dalam dekapan air kolam, sebenarnya ia sedang melakukan proses introspeksi diri. Di dalam air, suara bising dunia luar meredup. Yang terdengar hanyalah detak jantung sendiri dan gemericik air yang menenangkan.

  • Keheningan: Di bawah permukaan air, kita belajar untuk diam dan mendengarkan suara hati.

  • Ketertundukan: Air mengajarkan kita untuk tidak keras kepala, dan selalu mengalir menuju tempat yang lebih rendah sebuah simbol kerendahhatian. 

  • Kekuatan: Berenang melatih napas, dan napas adalah jembatan antara ruh dan jasad.

Pak Gun ingin para siswanya tidak hanya memiliki otot yang kuat, tetapi juga batin yang sebening air kolam di pagi hari. Dengan berenang, beban pikiran yang menumpuk selama seminggu seolah luruh bersama riak air, menyisakan kesegaran yang baru untuk menghadapi hari esok. 

"Sehat dan bahagia selalu,"  Dua kata ini adalah sepasang sayap. Sehat tanpa bahagia akan terasa hambar. Bahagia tanpa sehat akan terasa rapuh dan terbatas. Seorang mukmin yang bahagia adalah ia yang ridha atas ketetapan Tuhannya dan optimis menatap masa depan. Pak Gun ingin menanamkan mindset bahwa menjadi sehat adalah bagian dari ibadah, dan menjadi bahagia adalah bentuk ketaatan.

Bayangkan jika seluruh siswa menjalankan dengan penuh kesadaran, 

  1. Pagi: Bangun dengan hati penuh syukur, melakukan gerak badan 15 menit sebagai bentuk pemanasan.

  2. Sepanjang Hari: Belajar  fokus karena oksigen mengalir lancar ke otak, memandang teman dan guru dengan senyum karena hati yang bahagia.

  3. Akhir Pekan: Membersihkan stres dengan berenang, merasakan kuasa Tuhan lewat air yang menyegarkan.

Pak Gun sedang membangun "peradaban sehat" di tengah generasi yang mungkin lebih sering menunduk menatap layar daripada menatap langit. Semoga bermanfaat.

Cepu, 5 Mei 2026


Minggu, 03 Mei 2026

Lembaran Lima Puluh Ribu

 


Karya : Gutamining Saida

Momen perpisahan sering kali identik dengan suasana haru, isak tangis, dan untaian kata-kata puitis yang menyayat hati. Sabtu pagi di lapangan SMPN 3 Cepu, narasi perpisahan ditulis dengan tinta yang berbeda. Tidak ada awan mendung kesedihan yang menggelayut; yang ada justru pancaran sinar dengan binar kebahagiaan di wajah ratusan siswa. Purna tugas Bapak Bambang, sosok guru Ilmu Pengetahuan Sosial yang selama ini menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut nadi SMPN 3 Cepu.

Sesi pamitan Pak Bambang dimulai. Lapangan sekolah yang biasanya menjadi saksi ketegasan disiplin, mendadak berubah menjadi panggung keakraban, keseruan yang hangat. Pak Bambang, dengan senyum khas yang selalu menyapa siapa pun di koridor sekolah, berdiri di depan mikrofon. Bukan untuk mengajarkan tentang geografi atau sejarah, ekonomi, melainkan untuk merayakan akhir masa baktinya dengan cara yang paling unik.

Alih-alih memberikan pidato perpisahan yang formal. Pak Bambang memilih untuk menghidupkan suasana melalui interaksi langsung. Beliau memahami bahwa cara terbaik untuk dikenang adalah dengan meninggalkan jejak kegembiraan. Setelah sepatah kata pamit yang tulus, beliau mengejutkan semua orang dengan mengeluarkan "amunisi" perpisahan yang tidak biasa sejumlah lembaran uang kertas lima puluh ribuan yang telah disiapkan rapi dari rumah.

"Siapa yang bisa menjawab pertanyaan saya, silakan maju ke depan!" seru beliau dengan suara yang masih lantang, memecah rasa penasaran para siswa.

Seketika, atmosfer lapangan berubah menjadi riuh. Tantangan tersebut disambut dengan antusiasme yang luar biasa. Bagi para siswa, ini bukan sekadar tentang nilai nominal uang yang ditawarkan, melainkan tentang momen kedekatan terakhir dengan sang guru tercinta. Pak Bambang mulai melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan mata pelajaran yang selama ini beliau ampu. Pertanyaan-pertanyaan seputar wawasan kebangsaan, perkembangan teknologi handphone, letak astronomis Indonesia, hingga tokoh-tokoh sejarah meluncur satu per satu.

Suasana kompetisi yang sehat pun tercipta. Siswa-siswi saling berebut berlari menuju ke pak Bambang yang berada di tengah lapangan. Setiap kali seorang siswa berhasil menjawab dengan tepat, mereka langsung mendapat lima puluh ribu rupiah. Di tengah lapangan yang panas terasa sejuk karena tawa, Pak Bambang menyerahkan selembar uang kertas dengan tangan terbuka.

Pemandangan itu sungguh menyentuh. Ada binar kebanggaan di mata siswa yang berhasil menjawab, bukan hanya karena hadiahnya. Mereka berhasil memberikan "hadiah" terakhir bagi Pak Bambang berupa pembuktian bahwa ilmu yang diajarkan selama ini telah terserap dengan baik. Senyum bahagia terpancar luas, tidak hanya dari para pemenang kuis dadakan itu, tetapi juga dari Pak Bambang sendiri. Beliau seolah sedang memanen hasil tanamannya selama puluhan tahun mengajar: kebahagiaan anak didik.

Bagi kalangan rekan sejawat, aksi Pak Bambang ini adalah cerminan kepribadian beliau selama ini. Beliau dikenal sebagai sosok yang ringan tangan, komunikatif, dan selalu punya cara untuk mencairkan suasana. Purna tugas baginya bukanlah sebuah akhir yang menyedihkan, melainkan garis finis yang dicapai dengan rasa syukur yang meluap. Beliau memilih untuk "membeli" kenangan terakhir para siswanya dengan keceriaan, memastikan bahwa nama "Pak Bambang" akan selalu diingat sebagai guru yang menyenangkan hingga detik terakhir masa jabatannya.

Jika ditelisik lebih jauh, aksi pak Bambang simbol dari kemurahan hati seorang pendidik. Guru IPS ini ingin mengajarkan satu pelajaran terakhir yang tidak ada di buku teks. Pelajaran tentang berbagi kebahagiaan di saat kita melepaskan sesuatu yang berharga. 

Lapangan SMPN 3 Cepu hari itu menjadi saksi  bahwa pendidikan tidak selalu tentang duduk diam di dalam kelas dan mendengarkan ceramah. Pendidikan juga tentang membangun memori, tentang bagaimana seorang manusia menyentuh hidup manusia lainnya. Pak Bambang membuktikan bahwa seorang guru purna tugas tetap bisa menjadi pusat energi positif.

Sisa-sisa kegembiraan masih terasa di udara. Para siswa mengerumuni beliau untuk bersalaman dan berfoto bersama. Uang kertas yang mereka terima mungkin akan habis dalam sehari untuk membeli jajan di kantin, namun momen berdiri di depan Pak Bambang, menjawab pertanyaannya, dan melihat senyum tulus beliau di hari purna tugasnya adalah memori yang akan bertahan selamanya.

Pak Bambang meninggalkan lapangan dengan langkah yang ringan, meninggalkan warisan berupa tawa dan semangat belajar yang meledak-ledak. SMPN 3 Cepu mungkin kehilangan salah satu guru IPS terbaiknya namun semangat "Pak Bambang" akan tetap hidup di koridor-koridor kelas dan di dalam hati setiap siswa yang pernah beliau ajar.

Kepada Pak Bambang, selamat memasuki masa purna tugas. Terima kasih telah mengajarkan bahwa perpisahan tidak harus selalu dibasahi air mata. Perpisahan bisa dirayakan dengan kuis kecil, tawa yang lepas, dan lembaran-lembaran kebaikan yang dibagikan dengan penuh cinta di tengah lapangan sekolah. Keikhlasan Bapak untuk tetap memberi di hari terakhir adalah pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial yang paling nyata yaitu bahwa manusia adalah makhluk sosial yang paling indah ketika mereka mampu membahagiakan sesamanya. Aamiin.

Cepu, 4 Mei 2026

Telapak Pak Gun



Karya: Gutamining Saida

Dunia air adalah dunia yang jujur. Ia tidak bisa dibohongi oleh gerakan fisik yang dipaksakan jika batin sedang berkecamuk. Di balik jernihnya permukaan kolam, terdapat filosofi tentang keseimbangan yang hanya bisa dicapai melalui satu kunci utama yaitu ketenangan. Tanpa ketenangan, air yang seharusnya menjadi penopang tubuh justru akan terasa seperti hambatan yang berat dan membingungkan.

Bagi siapa pun yang baru mengenal olahraga renang, air sering kali dianggap sebagai "lawan" yang harus ditaklukkan. Persepsi ini justru menjadi bumerang. Ketika seseorang merasa takut atau cemas, otot-otot tubuh secara otomatis akan menegang. Tubuh yang tegang cenderung kehilangan daya apung alami dan menjadi tidak stabil. Inilah yang sering kita sebut "oleng".

Tubuh yang oleng di dalam air bukan sekadar masalah teknik kaki yang salah atau koordinasi tangan yang kurang pas. Sering kali, itu adalah cerminan dari pikiran yang tidak sinkron dengan keadaan sekitar. Hati yang gelisah menciptakan napas yang tidak teratur, dan napas yang pendek membuat tubuh kehilangan keseimbangan. Di sinilah letak ketenangan. 

Bagi pemula yang mungkin menyimpan trauma atau rasa takut terhadap air, membutuhkan figur yang mampu memberi rasa aman. Di sinilah peran seorang pelatih seperti Pak Gun menjadi sangat penting. Keberadaan beliau bukan hanya sekadar pemberi instruksi teknis, melainkan sebagai jangkar emosional bagi para perenangnya.

Ada sebuah fenomena menarik yang terjadi saat melakukan gerakan baru di bawah pengawasan langsung. Pak Gun memiliki kebiasaan untuk selalu berada tepat di depan perenang, memantau setiap inci pergerakan. Ada satu hal yaitu telapak tangan.

Perenang yang sedang ragu atau merasa tubuhnya mulai tidak seimbang, telapak tangan Pak Gun tumpuan sementara sebagai sumber ketenangan. Telapak tangan itu seolah menyalurkan energi kepastian. Saat keraguan melanda. apakah tubuh akan tenggelam atau apakah gerakan tangan sudah benar kehadiran fisik pelatih di depan mata dan kesiapan tangannya untuk membantu menciptakan ruang aman di dalam pikiran. Ketakutan pun perlahan sirna, berganti dengan keberanian untuk mencoba gerakan yang lebih sulit. 

Menariknya, konsep ketenangan ini memiliki wajah yang berbeda. Saat kita berpindah ke lingkungan sekolah. Jika di kolam renang ketenangan bersumber kepercayaan pada pelatih, maka di ruang kelas terutama saat menghadapi ujian ketenangan bersumber dari persiapan belajar.

Bayangkan seorang siswa yang duduk di depan lembar soal ujian. Rasa "oleng" di sini bukan berupa tubuh yang miring ke kiri atau ke kanan, melainkan pikiran yang buntu dan tangan yang gemetar. Sumber kegelisahan tersebut biasanya adalah ketidaktahuan. Bagi mereka yang sudah belajar dengan sungguh-sungguh, ujian bukanlah momok.

Belajar adalah proses membangun kepercayaan diri. Setiap materi yang dipahami, setiap rumus yang diingat, dan setiap konsep yang dikuasai adalah bekal yang membuat hati menjadi mantap. Ketenangan saat ujian adalah buah dari disiplin panjang sebelumnya. Sama seperti perenang yang harus membuktikan gerakannya di air. Keduanya membutuhkan hati yang tenang agar hasil yang dicapai bisa maksimal dan seimbang.

Ketenangan adalah jembatan menuju keberhasilan. Di kolam, kita belajar untuk pasrah pada hukum alam dan percaya pada bimbingan pelatih. Jika kita masih ragu akan kekuatan ketenangan, tidak ada jalan lain selain mencobanya sendiri. Terjunlah ke kolam, rasakan! Buktikan sendiri! Bagaimana ketenangan akan mengubah cara kita bergerak.

Cepu, 4 Mei 2026

Epek-epek


Karya: Gutamining Saida

Suasana sore di kolam renang Bumool terasa lebih ramai. Matahari mulai condong. Permukaan air yang tenang, seolah ikut menyambut kehadiran empat "pendatang baru" di keluarga besar latihan renang.  Ada pemandangan yang cukup kontras, harmonis dua anak kecil yang tampak semangat sekaligus waspada, didampingi dua ibu-ibu yang ekspresinya merupakan campuran antara niat hidup sehat dan kekhawatiran akan gaya gravitasi di dalam air.

Kami, yang sudah lebih dulu akrab dengan bau kaporit, tentu saja tidak mau melewatkan momen ini. Ada semacam ritual tidak tertulis di sini yaitu setiap ada anggota baru, kami semua mendadak menjadi pengamat dari pinggir kolam. Sambil sesekali membetulkan posisi atau sekadar stretching ala kadarnya, mata kami tertuju pada proses perkenalan tersebut. Rasanya seperti melihat kilas balik ke masa lalu. Saya sendiri membayangkan saat pertama kali bergabung saat kaki ini gemetar hanya untuk sekadar menyentuh permukaan air, persis seperti yang sedang dirasakan para pemula ini.

Setelah sesi perkenalan formal dengan Pak Gun, dimulailah mengenalkan teori paling dasardi air. Beliau meminta keempat siswa baru itu duduk berjajar di bibir kolam. Kakinya terjuntai, bergerak-gerak kecil menciptakan riak-riak air yang pecah.

"Jangan buru-buru masuk, rasakan dulu airnya. Biar akrab, supaya tidak kaget," ujar Pak Gun dengan nada kebapakan. Setelah itu, mereka diminta membasahi seluruh tubuh, mulai dari kaki naik ke atas, agar suhu tubuh beradaptasi.

Sambil mereka berbasah-basah ria, Pak Gun mulai memberikan asupan teori. Beliau menjelaskan langkah-langkah teknis masuk ke kolam dengan aman dan efisien. Kami yang berada di sekitar pun ikut menyimak, sekadar menyegarkan ingatan atau mungkin mencari celah untuk belajar kembali. Untuk menguji sejauh mana pemahaman para siswa baru ini menangkap penjelasannya, Pak Gun tiba-tiba berhenti bicara dan melempar pertanyaan mendadak.

"Tadi Bapak sudah jelaskan tiga langkah penting untuk masuk ke kolam dan mulai bergerak. Coba, siapa yang bisa mengulang? Apa saja langkah-langkahnya?" tanya Pak Gun singkat namun penuh wibawa.

Salah satu anak dengan wajah polos dan sisa-sisa air yang masih menetes dari ujung rambutnya, langsung menyahut dengan penuh percaya diri. Sepertinya dia merasa telah menguasai seluruh ucapan dari sang guru renang. 

"Langkahnya... yang pertama meluncur, Pak!" serunya lantang. Pak Gun mengangguk mantap. "Bagus, lalu yang kedua?" "Kedua, kaki digerakkan!" lanjut si anak. "Mantap. Nah, yang terakhir apa?" pancing Pak Gun.

Si anak terdiam sejenak, matanya menatap langit-langit seolah mencari contekan di sana, lalu dengan wajah tanpa dosa dia menjawab, "Dan yang ketiga... epek-epek!"

Hening sejenak. Pak Gun yang biasanya punya jawaban untuk segala masalah teknis renang, kali ini tampak heran dengan istilah baru si anak.

"Lho... lho... kok epek-epek? Apaan itu?" sahut Pak Gun dengan nada bingung yang tidak bisa disembunyikan. Matanya mengerjap-ngerjap, mencoba mencari istilah "epek-epek" 

Seketika itu juga, ledakan tawa pecah di seluruh penjuru kolam. Kami yang semula hanya mengamati, langsung tertawa terpingkal-pingkal. Bahkan ibu-ibu yang tadi sedang serius mengatur napas pun sampai harus memegang pinggiran kolam karena lemas menahan tawa.

"Apa katanya tadi? Epek-epek?" tanya seorang teman yang berada agak jauh, masih berusaha mencerna istilah baru tersebut. "Itu lho, ada istilah baru di dunia renang yaitu teknik epek-epek!" timpal yang lain sambil menyeka air di mata karena terlalu banyak tertawa.

Suasana menjadi sangat riuh. Si anak tampak bingung melihat orang-orang dewasa di sekitarnya tertawa sampai heboh sendiri. Dengan wajah yang masih sangat polos, dia mencoba membela diri.

"Itu lho Pak Gun... maksud saya tangannya digerak-gerakkan begini," katanya sambil memperagakan gerakan tangan  di atas air. Rupanya, dalam kamus pribadinya, gerakan tangan yang menepak-nepak air itu dinamakan "epek-epek."

Pak Gun akhirnya ikut tertawa lebar sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Oalah ... itu namanya gerakan tangan bukan epek-epek! Kalau epek-epek itu istilah buat telapak tangan di bahasa Jawa!"

Kejadian itu seketika mencairkan segala ketegangan. Rasa takut akan air yang tadinya menggelayut di wajah para siswa baru itu lenyap, berganti dengan suasana kekeluargaan yang hangat. Kami kembali melanjutkan latihan dengan semangat baru, sambil sesekali saling melempar candaan, "Ayo, jangan lupa epek-epeknya dikencangkan!" Bagi saya, "epek-epek" resmi menjadi istilah favorit baru yang akan selalu dikenang setiap kali melihat siswa baru bergabung di bawah asuhan Pak Gun. Sampai jumpa di episode mendatang.

Cepu, 4 Mei 2026

Renyah


Karya: Gutamining Saida

Renyah, selama ini kita kenal sebagai bunyi khas kerupuk yang digigit di sela makan siang. Suara kecil yang menggoda selera, ringan, dan membuat suasana makan terasa lebih hidup. Nah... siapa sangka, di sebuah kolam renang pada sore yang cerah, “renyah” menjelma menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda bukan dari makanan, melainkan dari tawa yang pecah tanpa rencana.

Sore itu adalah jadwal renang dan terapi. Suasana sejak awal sudah berbeda dengan pembelajaran di dalam kelas. Di kolam renang, tidak ada meja, tidak ada kursi, tidak ada papan tulis yang biasanya menjadi pusat perhatian. Yang ada hanyalah air yang berkilau diterpa matahari, riak-riak kecil yang saling berkejaran, dan wajah-wajah penuh semangat sekaligus cemas. Beberapa siswa tampak percaya diri, sementara yang lain terlihat ragu, bahkan sedikit takut.

Satu per satu siswa mencoba praktik sesuai arahan. Ada yang mulai dari tepi kolam, ada yang mencoba meluncur perlahan, dan ada pula yang masih berpegangan erat pada pinggiran, seolah itu satu-satunya penyelamat. Di tengah keseriusan itu, tiba-tiba terdengar suara yang tak biasa yaitu tertawa. Bukan sekadar tawa biasa, melainkan tawa yang “renyah”. Ringan, spontan, dan menular ke yang lain.

Awalnya hanya satu orang yang tertawa. Seperti riak air yang meluas, tawa itu cepat menyebar. Suasana yang tadinya tegang berubah menjadi cair. Beberapa siswa yang sebelumnya terlihat kaku mendadak ikut tersenyum, bahkan ikut tertawa. Ternyata sumbernya adalah momen tak terduga dari Bu Nanik.

Beliau yang mencoba membalikkan badan di air justru mengalami kesulitan. Gerakan yang seharusnya sederhana berubah menjadi perjuangan besar yang cukup mengundang perhatian. Bukannya berbalik dengan mulus, tubuh beliau justru kehilangan keseimbangan, dan sesaat terlihat seperti tenggelam sebelum akhirnya muncul kembali ke permukaan. Momen itu begitu spontan dan apa adanya, sehingga memancing tawa yang pecah tanpa bisa ditahan.

Yang menarik, tidak ada rasa mengejek dalam tawa itu. Tidak ada nada merendahkan. Justru yang terasa adalah kehangatan. Bu Nanik sendiri ikut tertawa kembali, menyadari bahwa kejadian itu memang lucu. Di situlah letak keunikan suasana kolam renang dibandingkan ruang kelas.

Di ruang kelas, kesalahan sering kali membuat seseorang guru emosi, siswa merasa canggung. Ada rasa takut ditertawakan, ada kekhawatiran akan penilaian teman lain. Di kolam, semuanya terasa berbeda. Air seolah menjadi media yang melarutkan rasa sungkan. Kesalahan menjadi bagian dari proses yang wajar, bahkan bisa menjadi sumber kebahagiaan bersama.

Tawa yang terdengar pun bukan tawa yang menyakitkan, melainkan tawa yang menyatukan. Tawa yang “renyah” ringan, jujur, dan mengalir begitu saja. Bahkan mereka yang tertawa sebenarnya belum tentu bisa melakukan gerakan dengan sempurna. Dii situlah letak keseruan, keindahannya. Tidak ada yang merasa lebih hebat, tidak ada yang merasa paling benar. Semua berada pada posisi yang sama yaitu  belajar.

Kolam renang bukan sekadar tempat praktik keterampilan berenang. Ia berubah menjadi ruang pembelajaran yang penuh arti. Belajar tidak harus selalu serius dan tegang. Bila tegang akan tambah berbahaya bagi tubuh. Kesalahan bukan untuk ditakuti, melainkan untuk dinikmati sebagai bagian dari perjalanan.

Air yang membasahi tubuh seakan membersihkan pikiran dari rasa takut dan gengsi. Setiap percikan air, setiap gerakan yang belum sempurna, dan setiap tawa yang pecah menjadi bagian dari cerita yang tak terlupakan. Mungkin, yang paling diingat bukanlah teknik berenangnya, melainkan momen-momen kecil seperti tawa Bu Nanik yang renyah.

Di akhir sesi, kelelahan memang terasa. Di balik itu, ada kebahagiaan yang tersisa. Senyum masih terukir di wajah, dan suasana hangat masih terasa. Ternyata benar, “renyah” tidak selalu tentang kerupuk. Ia bisa hadir dalam bentuk lain dalam tawa yang tulus, dalam kebersamaan, dan dalam momen sederhana yang menghidupkan suasana.

Dari kolam renang, kita belajar satu hal penting yaitu terkadang, yang membuat proses belajar menjadi berkesan bukanlah kesempurnaan, melainkan keberanian untuk tertawa bersama atas ketidaksempurnaan. Semoga bermanfaat.

Cepu, 3 Mei 2026