Karya: Gutamining Saida
Senin 30 Maret 2026, suasana sekolah terasa berbeda. Hari pertama masuk setelah libur panjang hari Raya Idul Fitri masih menyisakan nuansa hangat di hati. Wajah-wajah siswa tampak cerah, penuh semangat, sekaligus sedikit canggung setelah beberapa hari menikmati kebersamaan dengan keluarga di rumah. Ada rasa rindu yang akhirnya terobati saat kembali bertemu teman dan guru di sekolah.
Langkah kaki saya menuju ke ruang kelas 7G. Dari luar kelas, terdengar riuh rendah suara anak-anak. Bukan suara gaduh yang mengganggu, tetapi lebih seperti gelak tawa dan obrolan ringan yang penuh keakraban. Saat saya melongok ke pintu, pemandangan yang tersaji begitu menghangatkan hati. Anak-anak duduk di tempatnya masing-masing, menikmati hidangan nasi kuning lengkap dengan lauk-pauknya.
Aroma nasi kuning yang gurih bercampur dengan lauk sederhana menggugah selera memenuhi ruangan. Ada mie kuning goreng, sambal goreng kentang, ayam dan kering tempe serta lalapan. Mereka makan bersama dengan lahap, sesekali diselingi canda tawa. Kebersamaan itu tampak begitu tulus, tanpa sekat, tanpa perbedaan.
Saya pun bertanya, “Wah, ada acara apa nich, anak-anak?”
Serentak beberapa siswa menjawab dengan penuh semangat, “Ada yang ulang tahun, Bu!”
Rasa penasaran saya bertambah. “Siapa yang ulang tahun?”
Salah satu dari mereka menunjuk seorang siswi yang tampak sedikit malu, namun wajahnya bersinar bahagia. “Auryn, Bu. Hari ini ulang tahunnya yang ke-13.”
MasyaAllah… hati saya langsung tergerak. Di tengah suasana pasca lebaran yang penuh makna saling memaafkan, Allah Subhanahu Wata'alla mempertemukan saya dengan momen sederhana penuh nilai sebuah perayaan ulang tahun yang dipenuhi kebersamaan dan rasa syukur.
Saya mendekati Auryn. Spontan, terucap doa dari hati yang paling dalam, “Selamat ulang tahun ya, Semoga menjadi anak yang sholehah, berbakti kepada orang tua, rajin belajar, dan selalu dalam lindungan Allah.”
Auryn tersenyum, matanya berbinar. Mungkin sederhana, tetapi doa adalah hadiah terbaik yang bisa kita berikan. Dalam ajaran Islam, doa adalah bentuk kasih sayang yang tidak terlihat, tetapi sangat kuat pengaruhnya.
Saya lalu memandang seluruh siswa di kelas itu. Mereka makan bersama tanpa memandang siapa yang membawa lebih atau kurang. Tidak ada yang merasa paling hebat, tidak ada yang merasa kekurangan. Semua menikmati dengan penuh syukur. Inilah salah satu wujud keindahan berbagi.
Saya teringat sebuah nilai penting dalam kehidupan, bahwa rezeki yang kita nikmati bukan semata hasil usaha kita, tetapi juga karena izin dan kasih sayang Allah Subhanahu Wata'alla. Makanan yang mereka santap pagi itu mungkin terlihat sederhana, tetapi jika dinikmati dengan rasa syukur, ia menjadi luar biasa.
Kebersamaan itu juga mengingatkan saya pada makna Hari Raya Idul Fitri yang baru saja dilalui. Idul Fitri bukan sekadar tentang baju baru atau hidangan lezat, tetapi tentang kembali kepada kesucian, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan memperkuat keimanan kepada Allah Subhanahu Wata'alla.
Apa yang dilakukan Auryn kelas 7G pagi itu seakan menjadi refleksi kecil dari nilai-nilai tersebut. Mereka berbagi makanan, berbagi kebahagiaan, dan secara tidak langsung belajar tentang arti kebersamaan dan kepedulian.
Hari ini kalian berbagi, makan bersama, dan saling mendoakan. Itu semua adalah amalan yang dicintai Allah Subhanahu Wata'alla. Jangan lupa untuk selalu bersyukur, karena tidak semua orang bisa merasakan kebersamaan seperti ini, ucap saya.
Mereka mengangguk ambil mengunyah, ada yang tersenyum, tetapi saya yakin pesan itu sampai ke hati mereka. Di usia 13 tahun, Auryn sedang berada di fase penting dalam kehidupannya. Masa remaja awal adalah masa pembentukan karakter. Saya berharap, dengan doa dan lingkungan yang baik, ia tumbuh menjadi pribadi yang kuat dalam iman, lembut dalam akhlak, dan cerdas dalam berpikir.
Peristiwa sederhana pagi itu menjadi pengingat sebagai seorang guru. Bahwa pendidikan tidak selalu harus melalui buku dan papan tulis. Nilai-nilai kehidupan justru sering kali hadir dalam momen-momen sederhana seperti ini makan bersama, berbagi, dan saling mendoakan.
“Ya Allah, berkahilah mereka. Jadikan mereka generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Tanamkan dalam hati mereka rasa syukur, kepedulian, dan cinta kepada sesama.”
Saya percaya, dari kelas sederhana itu, akan lahir pribadi-pribadi hebat yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kaya akan nilai spiritual dan kemanusiaan. Semoga kesuksesan menyertai kalian semua. Aamiin
Cepu, 30 Maret 2026







