Karya : Gutamining Saida
Hari Minggu menjadi hari yang istimewa bagi saya. Sejak beberapa hari sebelumnya, hati sudah dipenuhi kerinduan untuk kembali mengunjungi Kedungtuban. Sebuah tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan dalam perjalanan hidup saya. Daerah itu bukan sekadar wilayah yang pernah menjadi rumah kedua atau saya lewati pagi dan siang hari. Ia saksi berbagai kisah perjuangan, persahabatan, pengabdian, dan pembelajaran hidup yang diberikan Allah Subhanahu Wata'alla.
Saya berangkat dengan perasaan bahagia. Tujuan utama bukan hanya sekadar berjalan-jalan, melainkan bernostalgia menyusuri jalanan yang dahulu begitu akrab dengan kehidupan sehari-hari. Ketika kendaraan mulai memasuki wilayah Kedungtuban, berbagai kenangan lama bermunculan satu per satu. Ingatan saya kembali pada masa-masa ketika jalanan masih dipenuhi bebatuan dan lubang yang cukup banyak. Saat musim hujan, jalan menjadi licin dan berlumpur bahkan kubangan air. Ketika musim kemarau tiba, debu beterbangan mengikuti setiap kendaraan yang melintas.
Hari minggu tanggal 31 Mei 2026 pemandangan yang saya lihat sungguh berbeda. Jalanan yang dulu penuh tantangan kini telah berubah menjadi mulus dan nyaman dilalui. Perjalanan terasa lebih cepat dan aman. Saya tersenyum menyaksikan perubahan tersebut. Saya bersyukur karena pembangunan yang dilakukan pemerintah telah memberikan manfaat bagi masyarakat.
Rumah-rumah penduduk yang dahulu sederhana kini banyak yang berdiri megah dan tertata rapi. Beberapa bahkan sudah bertingkat dengan halaman yang asri. Daerah yang dulu terlihat lengang kini semakin ramai dan berkembang. Persawahan yang dahulu terbentang luas di beberapa sudut wilayah telah berubah menjadi kawasan pemukiman. Deretan rumah baru berdiri menunjukkan bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat.
Melihat perubahan itu membuat saya merenung. Waktu memang terus berjalan tanpa pernah berhenti. Tidak ada yang tetap selain perubahan itu sendiri. Apa yang dahulu terlihat biasa, kini berubah menjadi lebih maju. Satu hal yang tidak boleh berubah adalah rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wata'alla yang telah memberikan berbagai nikmat kepada manusia.
Dalam Al-Qur'an Allah mengingatkan bahwa jika manusia bersyukur, maka Allah Subhanahu Wata'alla akan menambah nikmat-Nya. Ketika melihat perkembangan Kedungtuban, saya merasakan betapa besar karunia Allah Subhanahu Wata'allayang diberikan kepada masyarakat di sana. Kemajuan yang terlihat bukan semata-mata hasil kerja manusia, tetapi juga karena izin dan pertolongan-Nya.
Malam sebelum keberangkatan, saya sudah menghubungi beberapa teman yang tinggal di sekitar Kedungtuban. Saya berharap dapat bertemu dan berkumpul bersama untuk melepas rindu. Sudah cukup lama kami tidak berjumpa secara langsung. Kesibukan pekerjaan, urusan keluarga, dan berbagai aktivitas lainnya membuat kesempatan bertemu menjadi semakin jarang.
Saya mengirim pesan kepada beberapa sahabat. Alhamdulillah, mereka menyambut dengan hangat. Ada yang langsung merespons dengan antusias, ada pula yang mengatakan akan berusaha datang jika tidak ada halangan. Saya memahami bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab dan kesibukan masing-masing.
Ketika hari yang dinanti tiba, ternyata tidak semua teman dapat hadir. Ada yang sedang memiliki keperluan keluarga, ada yang sedang bekerja, dan ada pula yang memiliki agenda lain yang tidak bisa ditinggalkan. Mereka tetap menghubungi saya dan menyampaikan harapan agar saya berkenan mampir ke rumah mereka.
Saat itu saya kembali belajar tentang takdir dan ketentuan Allah Subhanahu Wata'alla. Manusia boleh merencanakan pertemuan, tetapi Allah yang menentukan bagaimana pertemuan itu terjadi. Kadang kita berharap berkumpul ramai-ramai, tetapi yang terjadi justru kunjungan sederhana dari rumah ke rumah. Di balik semua itu selalu ada hikmah yang indah.
Saya kemudian menyempatkan diri berkunjung ke rumah Bu Yani. Kehadiran saya disambut dengan penuh keramahan dan kehangatan. Kami berbincang tentang banyak hal, mengenang masa lalu, bertukar cerita tentang keluarga, kesehatan, pekerjaan, dan berbagai pengalaman hidup yang telah dilalui.
Silaturahmi memang memiliki keistimewaan tersendiri. Rasulullah mengajarkan bahwa siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung tali silaturahmi. Saat duduk bersama dan berbincang penuh keakraban, saya merasakan sendiri nikmatnya silaturahmi yang mampu menghangatkan hati dan mempererat persaudaraan.
Waktu terasa berjalan begitu cepat. Tanpa terasa saatnya berpamitan untuk pulang. Saya berpikir bahwa hari itu saya sudah mendapatkan hadiah terbesar berupa kesempatan bertemu dan bersilaturahmi. Allah Subhanahu Wata'alla menyiapkan kejutan lain yang tidak pernah saya duga sebelumnya.
Ketika hendak meninggalkan rumah Bu Yani, beliau memberikan sekarung makanan ternak untuk dibawa pulang. Saya sempat terkejut sekaligus terharu menerima pemberian tersebut. Tidak pernah sedikit pun saya datang dengan niat mengharapkan sesuatu. Tujuan saya murni untuk bersilaturahmi dan melepas kerinduan setelah sekian lama tidak bertemu.
Saat itulah saya kembali diingatkan tentang salah satu rahasia kehidupan yang sering kali terlupakan. Rezeki memang sudah diatur Allah Subhanahu Wata'alla dengan cara yang tidak selalu dapat ditebak oleh manusia. Terkadang rezeki datang dari arah yang tidak pernah diperkirakan. Kadang datang melalui orang yang tidak disangka-sangka. Kadang pula hadir dalam bentuk yang sederhana tetapi sangat bermanfaat.
Saya teringat sebuah keyakinan yang selalu saya pegang bahwa rezeki tidak akan pernah tertukar. Apa yang menjadi bagian seseorang akan tetap sampai kepadanya meskipun harus melalui berbagai jalan dan peristiwa. Sebaliknya, apa yang bukan menjadi haknya tidak akan pernah bisa dimiliki walaupun dikejar dengan berbagai cara.
Perjalanan nostalgia ke Kedungtuban akhirnya memberikan banyak pelajaran berharga. Saya tidak hanya menyaksikan perubahan fisik sebuah daerah, tetapi juga merasakan kehangatan persahabatan, nikmatnya silaturahmi, dan bukti nyata bagaimana Allah Subhanahu Wata'alla mengatur segala sesuatu dengan sangat indah.
Di sepanjang perjalanan pulang, saya bersyukur masih diberi kesehatan untuk melakukan perjalanan. Bersyukur masih memiliki sahabat-sahabat yang baik. Bersyukur dapat menyaksikan kemajuan daerah yang pernah menjadi bagian dari kehidupan saya. Dan tentu saja bersyukur atas rezeki yang Allah Subhanahu Wata'alla titipkan melalui tangan orang-orang yang tulus.
Semakin bertambah usia, semakin saya menyadari bahwa hidup bukan sekadar tentang apa yang kita miliki. Hidup adalah tentang bagaimana kita mensyukuri setiap nikmat yang Allah Subhanahu Wata'alla berikan. Sebab ketika hati dipenuhi rasa syukur, maka sekecil apa pun pemberian akan terasa besar, dan sesederhana apa pun peristiwa akan menghadirkan kebahagiaan.
Alhamdulillah, perjalanan nostalgia ke Kedungtuban bukan hanya mengobati kerinduan, tetapi juga memperkuat keyakinan bahwa Allah Subhanahu Wata'alla adalah sebaik-baik Pengatur kehidupan. Dialah yang mempertemukan manusia, menggerakkan hati-hati untuk bersilaturahmi, dan mengalirkan rezeki melalui jalan-jalan yang tidak pernah terduga. Maka tiada kata yang pantas terucap selain hamdalah yang terus mengalir dari hati, "Alhamdulillahi rabbil 'alamiin."
Cepu, 1 Juni 2026





