Karya : Gutamining Saida
Tidak semua kebahagiaan harus dicari di tempat yang jauh. Tidak selalu harus hadir dalam bentuk perjalanan wisata atau hadiah yang mahal. Terkadang, kebahagiaan justru tumbuh dari kegiatan sederhana di rumah bersama orang-orang yang kita cintai. Itulah yang saya rasakan ketika merencanakan sebuah kegiatan berkarya bersama cucu-cucu tercinta.
Sejak beberapa hari sebelumnya saya sudah menyiapkan berbagai bahan. Saya membuat potongan kertas karton berbentuk menyerupai kue donat. Bentuknya sederhana, tetapi cukup menarik perhatian anak-anak. Selain itu saya juga menyiapkan berbagai bahan sebagai hiasan atau topping, di antaranya tepung, beras yang sudah saya beri warna merah, tepung roti, lem dobel tape, gunting, sendok, dan beberapa mangkuk kecil sebagai wadah. Semua saya tata dengan rapi agar mudah dijangkau oleh tangan-tangan mungil mereka.
Saya menyiapkan sembilan donat dari karton. Masing-masing anak mendapatkan tiga buah. Saya tidak memberikan contoh yang harus ditiru. Saya juga tidak menentukan warna apa yang harus dipilih atau pola seperti apa yang harus dibuat. Saya hanya mengatakan kepada mereka, "Silakan berkreasi sesuai keinginan kalian."
Mendengar itu, mata mereka berbinar-binar. Mereka segera mengambil bahan yang disukai. Ada yang memilih beras berwarna terlebih dahulu, ada yang lebih tertarik pada tepung roti, ada pula yang sibuk membuka lem agar bisa segera menempelkan hiasannya.
Yang menarik perhatian saya, masing-masing begitu fokus dengan pekerjaannya. Mereka tidak sibuk memperhatikan hasil karya saudaranya. Tidak ada yang berkata, "Punyaku harus lebih bagus." Tidak ada pula yang sibuk membandingkan. Mereka larut dalam dunianya sendiri, menikmati proses dengan penuh kegembiraan.
Saya tersenyum melihat pemandangan itu. Betapa anak-anak sering kali mengajarkan sesuatu yang mulai hilang dari kehidupan orang dewasa. Anak-anak berkarya karena ingin bergembira. Sementara orang dewasa kadang berkarya karena ingin dipuji, ingin diakui, atau ingin lebih hebat daripada orang lain.
Di antara ketiga cucu itu, si kecil Elmira memberikan kejutan yang luar biasa. Usianya yang paling kecil tidak membuatnya tertinggal. Justru dialah yang paling cepat menyelesaikan ketiga donat buatannya.
Tangannya bergerak lincah mengambil sendok kecil, menaburkan beras warna-warni, lalu menambahkan tepung roti tanpa banyak berpikir. Sesekali ia menekan perlahan agar semua bahan menempel dengan baik. Wajahnya tampak ceria. Ia tidak terlihat bingung memilih warna. Ia tidak terlalu banyak mempertimbangkan apakah hasilnya akan dipuji atau tidak.
Begitu selesai, ia segera memperlihatkan hasil karyanya. Saya memandang karya kecil itu dengan penuh rasa syukur. Mungkin jika dilihat oleh orang lain, hiasannya belum tentu sempurna. Bagi saya, hasil itu luar biasa. Di balik karya sederhana itu tersimpan keberanian untuk mencoba, rasa percaya diri, dan kegembiraan yang muncul dari hati yang masih bersih.
Saat itu saya mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Ternyata terlalu banyak pertimbangan sering kali justru membuat seseorang lambat memulai. Terlalu banyak berpikir kadang membuat seseorang kehilangan keberanian untuk berkarya. Sebaliknya, hati yang sederhana akan lebih mudah melangkah.
Saya teringat bahwa Allah Subhanahu Wata'alla mencintai hamba yang mau berusaha dengan sungguh-sungguh. Kesempurnaan bukanlah syarat utama dalam beramal. Yang paling penting adalah keikhlasan dan kesungguhan hati. Bukankah Allah Subhanahu Wata'alla lebih melihat ketakwaan dan niat daripada penampilan lahiriah semata?
Kegiatan sederhana bersama cucu-cucu itu kemudian berubah menjadi ruang kecil yang penuh pelajaran. Saya melihat bagaimana mereka menikmati setiap proses tanpa mengeluh. Jika beras tumpah, mereka memungutnya kembali. Jika tepung berceceran, mereka tertawa. Tidak ada wajah yang murung hanya karena hasilnya belum sesuai harapan.
Betapa berbeda dengan kehidupan orang dewasa. Sedikit kesalahan saja kadang membuat semangat menjadi hilang. Sedikit kritikan sudah cukup membuat seseorang enggan berkarya lagi. Anak-anak justru mengajarkan bahwa proses jauh lebih penting daripada rasa takut gagal.
Saya pun merenung bahwa kehidupan ini sebenarnya mirip dengan menghias donat dari karton itu. Allah Subhanahu Wata'alla telah memberikan kepada setiap manusia "media" yang sama berupa kehidupan. Hasil akhirnya akan berbeda-beda sesuai dengan pilihan, usaha, dan amal yang dilakukan masing-masing.
Ada yang menghiasi hidupnya dengan kejujuran, kesabaran, kasih sayang, ilmu, dan ibadah. Ada pula yang mengisinya dengan kesombongan, iri hati, dan kemalasan. Pada akhirnya, setiap manusia akan mempersembahkan hasil karyanya kepada Sang Pencipta.
Karena itulah, hidup ini hendaknya dipenuhi dengan warna-warna kebaikan. Setiap ucapan yang lembut adalah hiasan. Setiap sedekah adalah hiasan. Setiap senyum yang tulus adalah hiasan. Setiap doa yang dipanjatkan adalah hiasan yang akan memperindah perjalanan menuju akhirat.
Saya juga belajar dari sikap Elmira yang tidak banyak berpikir rumit. Kesederhanaannya mengingatkan saya pada pentingnya bertawakal. Setelah berusaha, jangan terlalu sibuk memikirkan penilaian manusia. Serahkan hasilnya kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Tugas kita adalah melakukan yang terbaik dengan hati yang ikhlas.
Rasulullah, mengajarkan bahwa amal yang paling dicintai Allah Subhanahu Wata'allaadalah amal yang dilakukan dengan ikhlas dan terus-menerus, meskipun tampak kecil. Maka kegiatan sederhana menghias donat karton bersama cucu-cucu pun dapat bernilai ibadah apabila diniatkan untuk menumbuhkan kasih sayang, melatih kreativitas, mengajarkan kesabaran, serta mengenalkan bahwa setiap kemampuan adalah karunia dari Allah Subhanahu Wata'alla.
Suasana rumah dipenuhi tawa. Tangan-tangan kecil yang masih dipenuhi sisa tepung menjadi pemandangan yang menghangatkan hati. Saya tidak hanya melihat tiga anak yang sedang membuat karya, tetapi juga menyaksikan bagaimana Allah sedang mengajarkan banyak hikmah melalui kepolosan mereka.
Saya bersyukur diberi kesempatan menikmati masa-masa indah bersama cucu-cucu tercinta. Semoga kebersamaan seperti ini menjadi kenangan yang kelak tetap hidup dalam ingatan mereka. Semoga dari kegiatan sederhana ini tumbuh jiwa-jiwa yang kreatif, percaya diri, saling menyayangi, serta senantiasa bersyukur atas setiap nikmat yang Allah Subhanahu Wata'alla anugerahkan.
Semoga setiap detik kebersamaan, setiap senyum yang terukir, setiap karya kecil yang lahir dari tangan-tangan mungil mereka, dicatat sebagai amal kebaikan. Sebab dalam pandangan Allah Subhanahu Wata'alla, tidak ada kebaikan yang sia-sia apabila dilakukan dengan niat yang tulus. Semoga keluarga kami senantiasa dipenuhi keberkahan, dipersatukan dalam kasih sayang, dan kelak dipertemukan kembali di surga-Nya yang penuh kenikmatan. Aamiin.
Cepu, 29 Juni 2026








