Rabu, 23 September 2026

 


Bonus Belum Tercapai


Karya: Gutamining Saida

Setiap kali notifikasi dari grup Muda Swimming Squad berdenting, selalu ada energi tersendiri yang memancar. Sekitar pukul 09.15 WIB, layar telepon genggam saya menyala membawa kabar kebaikan. Sebuah pesan dari Pak Gun masuk, membawa deretan kalimat yang tidak sekadar dibaca oleh mata, melainkan langsung meresap jauh merengkuh kedalaman jiwa. Kata-kata itu dilemparkan ke grup bak amunisi semangat, menyuntikkan rasa optimisme dan tawakal, khususnya bagi ibu-ibu yang sedang berjuang menaklukkan dinginnya air serta rasa takut dalam diri.

Pak Gun menulis kata-kata dengan tegas  "Semua pasti 'BISA' tanpa pengecualian. Kita butuh waktu, butuh kontinuitas. Ada yang sudah lima tahun baru bisa berenang. Ada yang tiga bulan sudah bisa berenang, ada yang latihan sekali lalu tak kelihatan lagi. Target kita adalah sehat dengan menjaga, mencegah, dan mengurangi rasa sakit. Jangan sedikit-sedikit kerokan, jangan ketergantungan obat."

Membaca pesan tersebut huruf demi huruf, ada rasa hangat yang mendesir halus di dalam dada. Di balik nasihat itu, saya tersadar betapa pesan tersebut adalah cara Sang Pencipta menegur dan menguatkan hati saya. Sampai hari ini, berbulan-bulan sudah waktu berganti, namun Allah Subhanahu Wata'alla tampaknya belum menakdirkan saya untuk menerima "bonus" berupa keahlian berenang.

Jujur saja, menyusuri ingatan tentang masa-masa awal latihan hingga detik ini kerap menghadirkan perenungan mendalam. Kadang kala, ujian hati berupa rasa iri sempat melintas tanpa diundang. Saya menyaksikan sendiri bagaimana ibu-ibu lain yang mendaftar jauh setelah saya, kini dengan begitu anggun dan ringannya meliuk-liuk membelah air, menguasai berbagai gaya dengan estetik. Sementara saya? Sejauh ini pencapaian utama yang diizinkan-Nya barulah meluncur. Ya, meluncur dan terus meluncur. Jika ditanya apakah bisa gaya bebas, saya akan menjawab bisa namun itu adalah gaya bebas versi saya sendiri, sebuah gerakan ikhtiar mandiri yang tentu masih jauh dari sempurna

"Ibu sudah berapa lama ikut latihan?" tanya Bu Pur suatu ketika, memecah derak gemericik air di tepi kolam.

"Sudah berbulan-bulan Bu," jawab saya singkat.

Jawaban singkat itu menyimpan lembaran kisah panjang tentang sebuah kesabaran. Mengapung pun, jika jujur pada diri sendiri, posisi tubuh saya di air masih jauh dari kata sempurna. Masih sering goyah, masih sering tenggelam perlahan. Di balik keterbatasan itu, keindahan skenario Allah justru hadir melalui hadirnya orang-orang baik. Di kolam renang saya tidak pernah merasa berjuang sendirian. Ada teman-teman yang dengan penuh keikhlasan ulurkan tangan, membantu menjaga tubuh saya agar tetap di atas air, memastikan berjalan bersama menuju kesuksesan. Bukankah ini bentuk rezeki yang tak ternilai, saat Allah Subhanahu Wata'alla menghadirkan sosok-sosok penolong di kala kita berjuang?

Pesan dari Pak Gun pagi ini seolah menjadi pengingat yang menyegarkan keimanan. Berenang ternyata bukan sekadar tentang seberapa cepat kita menyeberangi kolam. Bagi saya, ini adalah ibadah ikhtiar tentang bagaimana kita belajar bersabar meniti proses, merawat amanah berupa tubuh fisik yang telah dikaruniakan Sang Maha Kuasa.

Saya telah berusaha berjuang semampu dan sekuat tenaga. Setiap pekan, rasa malas serta sisa-sisa rasa takut selalu saya serahkan dalam doa, lalu saya bangkit untuk kembali menyentuh air. Walaupun Allah belum memberikan "bonus" berupa kepandaian berenang seperti orang lain, saya sangat bersyukur karena menyadari satu hal: buah dari ikhtiar itu sudah saya rasakan dalam bentuk nikmat yang begitu nyata.

Setelah ikut terapi air, kesehatan saya terasa jauh lebih membaik dari hari ke hari. Rasa pegal dan kaku pada tubuh perlahan terurai, menjadikan badan terasa lebih bugar. Tidur malam pun menjadi sangat nyenyak. Sebuah nikmat istirahat yang luar biasa berharganya. Bahkan, nafsu makan bertambah hidangan apa saja yang tersaji di meja makan terasa nikmat dan penuh keberkahan untuk disantap, walau hanya dengan lauk pauk sederhana tanpa kehadiran ikan sekalipun. Allah Subhanahu Wata'alla mengganti keterbatasan gerak saya di air dengan limpahan nikmat sehat yang tiada tara.

Maka, untuk apa saya harus berkecil hati? Bukti nyata dari ketabahan saya adalah api semangat yang tidak pernah padam. Saya terus berlatih, mencoba, dan tak bosan mengulang. Keberanian untuk tetap melangkah ke kolam Bumool.  Setiap Jum'at, Sabtu dan Minggu bentuk kesyukuran atas kesempatan hidup dan kesehatan yang masih diberikan-Nya.

Kata-kata Pak Gun akan terus saya simpan sebagai penyejuk hati. Bahwa setiap hamba memiliki garis waktu dan takdirnya masing-masing. Ada yang diberi kemudahan dengan cepat, ada pula yang perlahan baru bisa. Yang terpenting, kita tidak berhenti melangkah dan tidak kehilangan rasa syukur. Bonus kemampuan mungkin belum Allah Subhanahu Wata'alla turunkan hari ini, tetapi nikmat sehat, indahnya silaturahmi, dan kedamaian hati sudah lebih dari cukup untuk membuat perjalanan panjang ini terasa begitu indah, penuh berkah, dan bermakna. Aamiin. Terimakasih pak Gun dan teman-teman seperjuangan.

Cepu, 24 September 2026

Shena Kyrani Aurelia Putri


Karya: Gutamining Saida

Shena Kyrani Aurelia Putri. Sebuah nama yang indah, dirangkai dengan penuh cinta oleh kedua orang tuanya. Di ruang kelas 8B, nama itu tidak sekadar tertera di lembar presensi, melainkan mewujud pada sosok seorang siswi yang selalu berhasil mencuri perhatian lewat kesederhanaan dan ketulusannya.

Shena memiliki paras yang manis dengan senyum yang ramah dan tak pernah dipaksakan. Tubuhnya yang langsing dan posturnya yang tegap membuatnya senantiasa terlihat rapi dalam balutan seragam sekolah. Dia selalu memilih duduk di bangku barisan kedua dari depan. Sebuah tempat duduk strategis yang menggambarkan kesiapannya untuk menyerap ilmu tanpa ingin terlalu menonjolkan diri.

Mata saya tak pernah absen memperhatikan gerak-geriknya. Shena memiliki ketertarikan yang sangat kuat pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.  Setiap kali materi pembelajaran dimulai, dari jejak sejarah nusantara hingga dinamika penduduk Indonesia, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu. Dia adalah tipe murid idaman rajin menyimak tanpa memotong penjelasan, selalu mencatat hal-hal penting, dan selalu menjadi yang terdahulu dalam mengumpulkan tugas. Maka, tidak mengherankan jika lembar evaluasinya senantiasa dihiasi angka-angka yang sangat memuaskan. Keseriusannya belajar mencerminkan sikap kedewasaan. 

Di balik prestasinya yang cemerlang di kelas, ada sisi kehidupan keluarga yang hangat dan menarik dari sosok Shena. Rahasia kecil itu baru terkuak pada suatu siang, persis setelah bel tanda berakhirnya jam pelajaran terakhir bergema di seluruh penjuru sekolah.

Saat saya sedang merapikan buku-buku di atas meja guru, sekelompok siswa kelas 8B berjalan mendekati meja saya dengan wajah sumringah dan tawa ceria khas remaja.

"Bu… ayo kita makan-makan di Shena!" seru salah seorang dari mereka dengan semangat yang meluap-luap.

Saya menghentikan gerakan tangan saya, menatap mereka satu persan dengan dahi berkerut heran. "Acara apa?" tanya saya penasaran.

"Itu Bu, mamanya Shena jualan di rumah makan Padang!" sahut yang lain sambil menunjuk ke arah Shena yang berdiri agak tersipu di tengah lingkaran temannya.

"Ohhhh…" ucap saya mengangguk-angguk, kini mengerti alasan di balik riuhnya ajakan mereka. Rasa bangga menyelinap di hati melihat bagaimana Shena tidak pernah malu menunjukkan usaha orang tuanya. 

"Alamatnya di mana?" tanya saya lagi.

"Ngareng, Bu!" jawab mereka serempak.

Suasana kelas yang mulai sepi mendadak terasa makin hangat. Saya lalu menatap Shena yang berdiri  dengan senyum manisnya. 

"Satu porsi berapa, Shena?" goda saya sambil tersenyum.

Shena tersenyum semakin lebar, matanya menyipit ramah saat memberikan jawaban spontan yang tak terduga. 

"Gratis untuk Bu Saida, tapi teman-teman bayar!" ucap Shena polos namun penuh nada gurauan.

Sontak saja, sorak-sorai dan gelak tawa riuh pecah memecah keheningan siang hari. Teman-teman sekelasnya yang berdiri di dekatnya kompak tertawa lepas sambil menepuk-nepuk pelan pundak Shena. Suasana riang itu menghangatkan ruangan kelas 8B, memperlihatkan betapa Shena  menjadi bagian penting dari kebersamaan mereka.

Dia memiliki kepribadian yang hangat dan supel. Kehadirannya selalu membawa keceriaan, membuat siapa saja merasa nyaman berada di dekatnya. Sifatnya yang ramah dan mudah bergaul membuatnya memiliki banyak teman dari berbagai kelas. Di mana pun Shena berada, tawa dan obrolan hangat selalu mengalir di sekitarnya.

Salah satu kebiasaan kecil yang konsisten ia lakukan setiap hari adalah membawa bekal air minum putih sendiri dari rumah. Deretan penjual kantin sekolah menyajikan berbagai pilihan minuman manis yang berwarna-warni, dingin, dan menggoda selera. Hampir sebagian besar siswa tergiur untuk mengantri dan membeli minuman kemasan kekinian tersebut. Dia tidak tergoda untuk ikut-ikutan membeli.

Di meja belajarnya yang berada di barisan kedua, sebuah tumbler berukuran besar selalu berdiri kokoh. Tumbler itu bukan sekadar wadah air, melainkan simbol komitmen Shena untuk belajar hidup sehat dan hemat. Tanpa ada rasa malu sedikit pun di tengah teman-temannya yang sibuk membeli minuman di kantin, Shena dengan percaya diri meneguk air putih dari tumblernya. 

Langkah sederhana ini memberikan dampak yang sangat positif baginya. Tidak  membeli minuman di sekolah, uang saku yang diberikan orang tuanya tetap tersisa. Dia paham betul arti kerja keras orang tuanya, sehingga dia memilih untuk melatih dirinya berhemat sejak dini. 

Cepu, 23 September 2026

Selasa, 22 September 2026

Empat Sekawan


Karya: Gutamining Saida

Sang Empat Sekawan di Kelas 8C, empat sosok terkenal mampu menepis kabut kebodohan dan menyinari sekolah  yang biasa disebut SEKOLAH SULTAN. Reny, Lala, Alifa, dan Nina kelompok siswi yang berada di bangku belakang. Mereka memilih duduk di belakang tentu banyak pertimbangan. Posisi yang nyaman, aman serta cocok.

Mereka melangkahkan kaki menerobos gerbang sekolah menuju ruang kelas 8C. Papan tulis di ruang menantikan sentuhan jemari mereka. Mengucapkan nama mereka satu per satu Reny, Lala, Alifa, Nina bukan sekadar menyapa, melainkan memanggil empat sekawan yang selalu aktif pembelajaran IPS.

Setiap kali jemari mereka untuk berkarya, dunia seni dan logika langsung bertabrakan dalam sebuah ledakan dahsyat yang menciptakan mahakarya tak tertandingi. Tulisan mereka menjelma menjadi tumpukan karya yang memukau mata. 

Sang Empat Sekawan tidak sekadar duduk mendengarkan. Semangat mereka untuk belajar adalah api abadi yang tak sanggup dipadamkan. Ketika murid lain tertunduk layu dihantam kelelahan mereka justru makin berkobar. 

Mereka sosok yang responsif dan berani mengutarakan pendapat. Mereka tidak ragu untuk bertanya saat menemukan materi yang membingungkan, aktif berdiskusi dalam kelompok, dan konsisten menunjukkan semangat yang tinggi terhadap setiap mata pelajaran.

Setiap lembar tugas mata pelajaran yang dibebankan kepada mereka dituntaskan dengan kecepatan kilat. Mereka tersimpul dalam satu ikatan persahabatan sejati yang tak tergoyahkan oleh hantaman fitnah. Mereka bersama bersaing dalam berjuang meraih prestasi tanpa ada permusuhan. Mereka saling memotivasi dengan persaingan yang sehat. Semoga kesuksesan berpihak pada kalian semua. Aamiin.

Cepu 23 September 2026


 

Senin, 21 September 2026

Kekawatiran Sang Mama


Karya; Gutamining Saida

Di bawah mentari pagi yang baru saja menyapa bumi, deru mesin sepeda motor meraung membelah keramaian lalu lintas. Alifa, seorang siswi kelas 8C yang berparas manis, duduk manis di jok belakang dengan seragam putih-biru. Di depannya, sang mama memegang kendali setang dengan penuh ketangkasan. Selasa, sebuah hari yang awalnya berjalan begitu sempurna, meluncur mulus bak kereta api. Sang mama bukan sekadar untuk mengantar sang buah hati menuju gerbang Esmega, melainkan juga untuk menunaikan baktinya sendiri. 

Takdir pagi itu tiba-tiba saja memutar kemudinya dengan begitu drastis. Di tengah perjalanan yang mulus, tepat di sebuah ruas jalan yang dikelilingi rindangnya pepohonan, sepeda motor yang mereka kendarai mendadak terbatuk-batuk. Mesinnya terbatuk sekali, dua kali, lalu mati total. Usaha sang mama untuk menyalakan kembali mesin itu sia-sia belaka, roda besi itu membisu.

Kepanikan seketika meledak di dalam dada sang mama. Jarum jam seolah-olah berputar ribuan kali lebih cepat, bergerak seperti kilat. Bayangan Alifa yang terlambat, berdiri menggeletar di balik gerbang sekolah yang tertutup rapat, membakar pikiran sang mama hingga hangus. Di tengah pusaran kecemasan, melintaslah seorang bapak-bapak mengendarai sepeda motor. Melihat raut wajah sang mama yang hampir meneteskan air mata kecemasan, bapak itu memperlambat laju kendaraannya.

Tanpa berpikir panjang, sang mama mengambil keputusan. Ia menitipkan Alifa kepada bapak asing yang kebetulan searah menuju sekolah tersebut. Alifa pun naik ke boncengan motor bapak itu, menghilang di balik debu jalanan yang membumbung tinggi.

Saat bayangan putri kesayangannya lenyap di telan tikungan jalan, pada saat itulah emosional mamanya bergerak. Perasaan khawatir dan was-was yang melingkupinya. Hati seorang ibu yang selembut sutra kini diliputi kecemasan. Berjuta-juta spekulasi buruk yang mengerikan di dalam benaknya.

Waktu merayap begitu lambat, terasa seperti puluhan jam yang menyiksa. Jam demi jam dilewatinya di tempat kerja dengan jiwa yang melayang-layang entah ke mana, sementara badannya bergetar oleh kecemasan yang membakar sukma.

Ketika jarum jam akhirnya menunjukkan jam ketiga pembelajaran, waktu di mana ruang-ruang kelas mulai dipenuhi riuh rendah proses belajar. Ketahanan batin sang mama benar-benar berada di ambang keruntuhan. Tanpa mampu menahannya lagi, jemarinya mengetik pesan di layar ponselnya. Ia mengirimkan pesan singkat kepada wali kelas 8C.

Tanpa menunda waktu sedetik pun, sang wali kelas segera beranjak dari tempat duduknya. Langkah kakinya yang mantap membelah koridor sekolah yang hening, menuju ruang 8C membawa misi mencari jiwa. Begitu sampai di depan pintu, pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) sedang berlangsung dengan begitu khidmat. Sang guru IPS sedang memaparkan materi dengan begitu memikat, sementara para siswa menyerap ilmu bak spons yang menyerap air.

Sang wali kelas mengetuk pintu dan memohon izin untuk mengganggu jalannya pelajaran sejenak. Matanya yang tajam menyapu seluruh sudut ruangan, mencari satu sosok yang menjadi pusat dari segala kecemasan. Di barisan bangku kelas, terlihatlah Alifa. Anak itu sedang duduk dengan tenang, jemarinya menari-nari menggoreskan pena di atas buku catatan. 

Legalah dada sang wali kelas. Tanpa membuang kesempatan, ia merengkuh ponselnya dan mengambil potret Alifa yang sedang tekun belajar dari jarak dekat. Foto itu seketika dikirimkan kembali melalui aplikasi pesan kepada sang mama, sebagai sebuah bukti sang putri telah sampai di sekolah. 

Ketika layar ponsel sang mama menyala, menampakkan foto Alifa yang tersenyum di tengah pelajaran IPS.  Seketika, benteng kecemasan yang tadinya berdiri setinggi langit langsung hancur berkeping-keping menjadi debu yang hilang diterbangkan angin.

Hati sang mama kini melayang-layang di atas awan kebahagiaan. Rasa syukur yang tak terhingga membumbung tinggi menembus langit, menggema ke seluruh penjuru alam semesta. Rasa lega yang tak terlukiskan dengan kata-kata memenuhi setiap relung sukmanya. Sebuah rasa tenang  menyejukkan jiwa. Alhamdulillah dilafatkan sebagai rasa syukur.

Cepu, 22 September 2026


Minggu, 20 September 2026

Meluncur, Gerak dan Nafas


Karya: Gutamining Saida

Suasana kolam renang Bumool hari itu terasa luar biasa hidup. Gerakan air yang membiru memantulkan derai tawa dan semangat.  Ada satu pemandangan yang selalu konsisten dan menarik perhatian dari minggu ke minggu.  Setiap kali sesi latihan, selalu ada wajah-wajah baru yang bergabung. Mulai dari anak-anak,  remaja yang penuh energi, hingga ibu-ibu yang datang untuk belajar menaklukkan rasa takut pada air.

Mengamati kolam melahirkan sebuah rasa senang dan haru. Di antara sekian banyak pelatih yang membuka kelas di Bumool, harus diakui jumlah anak didik Pak Gun menjadi yang terbanyak. Deretan peserta yang mengular. Bukti nyata betapa metode pendekatan Pak Gun sangat diterima dan diminati. Terbesit doa Semoga ilmu yang dibagikan Pak Gun menjadi bermanfaat, membawa kebaikan, dan berlimpah berkah, baik bagi beliau maupun bagi setiap peserta. 

Ada kejadian unik yang menyedot perhatian di tengah latihan. Di antara jajaran peserta, tampak seorang remaja baru bergabung. Dia sudah menunjukkan kemampuan adaptasi yang luar biasa pesat. Jika biasanya peserta pemula membutuhkan waktu cukup lama untuk menjinakkan rasa cemas terhadap kedalaman air. Dia justru terlihat begitu tenang, rileks, dan sudah sangat nyaman menyatu dengan air.

Pak Gun meminta seluruh peserta untuk berbaris rapi dalam satu deret panjang tepat di bibir kolam. Ibu-ibu berdiri sejajar, siap mendengarkan aba-aba. Ketegangan, fokus membayang di wajah-wajah mereka. Begitu peluit ditiup oleh Pak Gun, gerakan serentak pun terjadi. Ibu-ibu meluncur dengan percaya diri, memadukan gerakan kaki, dorongan tangan yang membelah air, serta napas.  Kolam seketika ramai oleh kecipak air yang berirama.

Tatapan Pak Gun tertuju pada barisan peserta baru, lalu jari telunjuknya tepat kepada peserta baru.

"Satu apa, Mbak?" tanya Pak Gun.

Dia menunjuk dirinya sendiri dengan raut wajah polos.

"Saya, Pak?" balasnya memastikan.

"Iya," jawab Pak Gun singkat sambil mengangguk.

Tanpa ragu, saya pak?, "Dina!"

Pak Gun yang mendengar jawaban itu seketika tak sanggup menahan tawa. Gelak tawa pun langsung meledak pelan di antara peserta lain yang mendengar percakapan jujur tersebut.

"Siapa nanya nama?" sahut Pak Gun tertawa kekeh.

"Maksud saya, hitungan 'satu' itu artinya apa?" tanya Pak Gun kembali.

Tanpa rasa canggungdia tersenyum tipis dan langsung mengambil posisi. Dengan sigap, Mbak Dina mempraktikkan seluruh urutan teknik yang dimaksud. Dia melakukan dorongan meluncur yang mulus, mengibaskan gerakan kaki dengan mantap, disusul gerakan tangan yang rapi menembus air.

Melihat gerakan yang begitu lancar dan sempurna dari Mbak Dina, kekehan Pak Gun berubah menjadi nada kagum yang tulus.

"Mantap!" ucap Pak Gun spontan. 

Momen-momen  seperti inilah yang membuat setiap sesi latihan di kolam Bumool terasa  berharga dan berkesan. Menyaksikan secara langsung bagaimana seorang dari yang awalnya tidak tahu apa-apa, ragu, atau bersalah paham bisa langsung menguasai gerakan.  Sebuah kebahagiaan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Ada rasa senang yang meluap dan kedamaian yang hadir saat melihat proses belajar yang dibalut kehangatan, keakraban, dan tawa. Keberhasilan para murid menaklukkan tantangan di dalam air tak hanya menjadi kebanggaan bagi Pak Gun sebagai pelatih. Juga membawa keceriaan dan inspirasi mendalam bagi siapa saja yang menyaksikannya dari tepi kolam. Ayo kita tetap fokus teman. 

Cepu, 24 September 2026

Kisah Yuyu Kangkang

 


Karya: Gutamining Saida

Sabtu sore tepatnya tanggal 19 September 2026 di sisi kolam renang itu riuh oleh tawa dan keceriaan yang menyeruak di antara kecipak air. Sore yang pelan-pelan meredup, Pak Gun, seorang pelatih terapi renang profesional, bersiap memimpin sesi latihan yang berbeda dari biasanya. Jika pada pertemuan sebelumnya para peserta yang mayoritas terdiri dari ibu-ibu selalu diminta berjalan menyusuri bibir kolam saat hendak menuju area kedalaman dua meter.  Pak Gun menyiapkan sebuah tantangan baru.

Beliau meminta peserta untuk langsung menyeberang melintasi permukaan air. Kami harus membelah lintasan dari kedalaman 1,80 meter menuju area dua meter. Bagi yang sudah mahir dan senior berenang, jarak dan kedalaman tersebut mungkin terdengar biasa. Namun, bagi ibu-ibu lainnya  melangkah dan meluncur ke area yang melebihi tinggi badan tentu mendatangkan sensasi tersendiri. Ragu, was-was, dan rasa khawatir seketika membayang di wajah ibu-ibu. Air kedalaman dua meter seolah menjadi rintangan besar yang harus ditaklukkan.

Melihat raut cemas yang mulai terlihat di antara senyum ibu-ibu, Pak Gun tidak tinggal diam. Sebagai pelatih profesional yang berpengalaman, beliau paham betul. Kunci utama dalam terapi air bukan hanya mengajarkan teknik fisik, melainkan juga membangun rasa aman dan kepercayaan diri. Pak Gun langsung turun tangan. Dengan sigap dan penuh kesabaran, beliau bersiap mendampingi setiap peserta satu per satu, memastikan tak ada seorang pun yang tenggelam dalam ketakutannya sendiri.

Di sinilah keseruan itu bermula. Dengan posisi tubuh yang siap menopang, bergerak lincah ke kiri dan ke kanan membelah air untuk menjemput dan mengawal para ibu-ibu. Gaya Pak Gun mendadak mengingatkan pada satu tokoh cerita rakyat Jawa yang sangat populer tentang Yuyu Kangkang. Si kepiting raksasa penyeberang sungai dalam kisah Klenting Kuning.

"Saya kayak Yuyu Kangkang niiiih..." ucapan Pak Gun terlontar begitu saja di tengah-tengah air, diiringi gaya tubuhnya yang jenaka saat bersiap 'menyeberangkan' ibu-ibu berikutnya. Kelakar spontan itu seketika pecah di udara. Tawa ibu-ibu melelehkan suasana tegang yang sempat menggantung. Metafora Yuyu Kangkang yang dilemparkan Pak Gun sangat pas menggambarkan perannya. Sosok yang siap mengantar siapa saja menyeberangi 'kolam' kedalaman dua meter.

"Tapi kita Klenting Hitam, Pak!" ujar Bu Yeni sambil tertawa lepas.

Suasana di sekitar kolam renang yang semula tegang kini berubah menjadi panggung komedi air. Celetukan Bu Yeni tentang rombongan "Klenting Hitam" rupanya menjadi pemantik dari obrolan kocak yang terus bersambung di antara kecipak air. 

Sautan itu beralasan kuat. Jika dalam cerita rakyat legendaris para gadis yang menyeberang sungai adalah Klenting Kuning dan saudara-saudaranya. Sabtu sore di dalam kolam renang tak ada seorang pun yang memakai baju kuning. Mayoritas ibu-ibu mengenakan baju renang berwarna hitam. Maka, jadilah mereka rombongan "Klenting Hitam" yang siap di bawah pengawalan sang Yuyu Kangkang.

"Waduh, Klenting Hitam ya?" balas Pak Gun sambil memasang muka penuh seloroh, tangannya masih siaga mengapung di kedalaman dua meter. "Tapi inget ya Ibu-ibu, Yuyu Kangkang zaman now itu udah modern! Nggak mau disogok pake ciuman kayak di dongeng legendaris dulu. Sekarang zamannya serba digital!"

"Trus mintanya apa dong, Pak Gun?" sahut Bu Rahayu dari ujung kolam sambil tertawa kekeh, tangannya masih memegang erat tepi kolam.

"Yuyu Kangkang modern minta transferan Bu! Atau minimal di-follow akun TikTok saya biar viral!" jawab Pak Gun sambil memperagakan gerakan capit kepiting dengan kedua tangannya, lalu bergerak lincah mendekati Bu Pur.

Tawa ibu-ibu langsung meledak.. Suara gelak tawa renyah bergema menembus area kolam renang. "Yah, pak Gun! Kalau mintanya transferan  mending kita berenang sendiri aja deh, nggak jadi nyebrang!" celetuk Bu Diah dari seberang, disambut sorak-sorai setuju.

"Wah, jangan gitu dong Bu." potong Pak Gun cepat dengan nada bercanda. 

"Layanan Yuyu Kangkang ini lengkap lho. Pengawalan VIP, dijamin nggak tenggelam."

Rasa takut yang semula mencengkeram perlahan terangkat, berganti menjadi semangat keberanian yang meluap-luap. Gaya Pak Gun yang bergerak ke sana kemari menuntun peserta yang masih ragu, lalu bergerak cepat ke kiri menjemput peserta lain yang panik. Kondisi aman  hingga mendarat di zona dua meter. Tanpa sadar, lewat pendekatan humor dari Pak Gun, ibu-ibu berhasil. Rasa khawatir dikalahkan oleh rasa percaya pada sang pelatih. 

Di tangan seorang pelatih yang humoris dan empatik seperti Pak Gun, terapi air berubah menjadi momen pementasan dongeng modern yang penuh gelak tawa. Pak Gun berhasil memerankan "Yuyu Kangkang" yang tidak meminta imbalan apa pun, selain melihat keberanian dan senyum lega dari para "Klenting Hitam". Sampai jumpa episode yang lebih seru. Terimakasih pak Gun.

Cepu, 20 September 2026







Sabtu, 19 September 2026

Lho ... Jangan Diam

 


Karya: Gutamining Saida

Matahari Sabtu sore merayap turun dengan warna keemasan. Cahaya membakar langit dengan pesona tiada tara. Di usia yang tak lagi belia sebuah fase kehidupan tempat rambut mulai bersalut perak dan sendi-sendi meratapi perjalanan waktu. Jiwa saya menolak untuk layu. Ada sebuah api yang membara di dalam dada. Sebuah tekad untuk mengejar kesehatan. Tekad itu lahir bukan karena keangkuhan, melainkan sebuah ikhtiar sehat. Saya ingin terus berdiri kokoh untuk menemani langkah sang suami tercinta, melukis senyum pada raut wajah anak-anak tersayang, serta melimpahkan kasih tak bertepi kepada cucu-cucu.

Lebih dari sekadar usia panjang, ada rindu yang bergetar di dalam kalbu untuk mempersembahkan ibadah terbaik. Tubuh yang fit adalah bahtera, dan ibadah adalah samudra syukur. Biarlah usia merambat tua, namun semangat dan jiwa ini harus tetap berkobar layak sepeti kawula muda. Sabtu sore, medan perjuangan membentang di hadapan mata. Sebuah kolam renang  dengan air biru jernih tampak tenang. Dia menyimpan misteri di kedalamannya yang mencapai dua meter. Kedalaman tak kasat mata yang menantang keberanian siapa pun yang memandangnya. 

Desir angin sore mengembuskan sedikit keraguan, menembus pori-pori kulit dan membuat denyut jantung berdegup lebih kencang dari biasanya. Bayangan keraguan itu seketika sirnah diterpa ketenangan sang pelatih yang berdiri siap siaga. Pak Gun, sosok pelindung di kolam siap menjadi penjaga keselamatan seluruh siswanya.

Kini, saatnya pembuktian. Kami berbaris rapi dari ujung hingga ke ujung bibir kolam, membentuk deretan yang siap menaklukkan dinginnya air. Satu per satu siswa mulai mempraktikkan petunjuk yang telah disampaikan sebelumnya. Satu tangan terentang lurus ke depan, sementara tangan satunya mencengkeram erat bibir kolam sebagai tumpuan terakhir sebelum melepas tubuh menuju kebebasan.

"Setelah meluncur, ibu-ibu bisa gaya bebas  atau memilih gaya dada dan ketiga jangan pernah berhenti, jangan pernah diam!"

Dengan menahan napas  dan dorongan semangat jiwa muda yang meluap-luap, saya menjejakkan kaki. Tubuh saya meluncur! Air dingin menyergap seketika, memeluk seluruh raga dalam keheningan bawah air.  Saya memutuskan untuk membelah kedalaman air dengan gaya dada. Gerakan demi gerakan saya kayuh dengan penuh keyakinan. Tangan menguak air dengan keteguhan hati, sementara kaki menendang lurus demi mendorong tubuh yang merindukan garis finis.

Namun, alam memiliki hukumnya sendiri yang tak mampu dilawan oleh prasangka manusia. Baru saja setengah perjalanan terlewati, benteng pertahanan fisik saya mulai goyah secara drastis. Paru-paru saya mendadak seperti kehabisan oksigen. Kepanikan kecil mulai merayap, merobohkan seluruh ketenangan. Tak kuasa menahan nafas. 

Sisa-sisa tenaga yang kian terkuras habis, saya menurunkan kedua kaki secara paksa Saya mencari pijakan di dasar kolam demi mengambil seteguk udara untuk bernafas. Di tengah  napas yang terengah-engah, sebuah bayangan tegap mendadak muncul tepat di belakang saya. Pak Gun, sang pelatih, telah berada di sana dengan ketangkasan yang luar biasa. Suaranya membelah gemericik air. "Lhooo, tidak boleh berdiri! Lanjut sampai finis!"

Suara itu sejatinya adalah lecutan semangat, sebuah panggilan untuk melampaui batas kemampuan. Kepakan sayap fisik saya benar-benar telah patah di tengah kolam. Tubuh renta ini telah mengerahkan seluruh daya hingga titik darah penghabisan. Dengan tatapan layu, suara yang bergetar hebat, dan napas yang terputus-putus, saya hanya mampu merintih, "Waaah tidak kuat lagi, Pak... Maaf..."

Kata "maaf" itu terlempar ke udara, membawa serta runtuhnya seluruh cita-cita indah. Ada kepedihan mendalam yang mendadak menyeruak. Semangat membara yang tadi meluap-luap kini padam seketika, tergilas oleh kenyataan pahit bahwa batas fisik tak lagi mampu mengejar kehendak jiwa.

Saya berdiri termangu di tengah kedalaman kolam, terisolasi dalam kegagalan yang memilukan. Menatap garis finis di ujung sana yang terasa mustahil untuk dicapai. Impian untuk menuntaskan tantangan dengan sempurna hancur, tenggelam bersama rasa duka, menyisakan kesadaran pedih. Semoga lain hari mampu mencapai finis dan sehat selalu. Salam sehat.

Cepu, 19 September 2026

Jumat, 18 September 2026

Hutang Sudah Lunas

Karya: Gutamining Saida

Siang yang semula tenang di dalam grup Muda Swimming Squad2 mendadak riuh oleh sebuah hantaman visual. Pak Gun melemparkan sebuah amunisi berupa foto dan video, dipungkasi satu kalimat pemicu yang menohok ulu hati: "Hutangnya sudah lunas bu ibu?" tak lupa dsertakan tameng emoji tertawa.

Pertanyaan itu melayang di udara digital seperti kembang api yang meletup di malam gulita. Reaksinya? Sunyi yang membatu. Para ibu-ibu di grup mendadak diserang amnesia kata-kata. Sebagian besar memilih membisu ada tapi tak bernyawa, tenggelam dalam samudera keheningan. Saya sendiri memilih meringkuk di balik layar, menjadi penonton setia drama singkat ini tanpa berani menyisipkan satu ketukan jempol pun. Hanya Bu Pur, seorang pejuang yang berani membalas lemparan api itu dengan stiker tertawa sebuah respons pertahanan diri yang menggelikan. 

Fenomena ini bukanlah rahasia yang terkunci di dasar samudera. Di zaman sekarang, bank dan lembaga keuangan melambaikan jemari manisnya kepada para pegawai pemerintahan, pedagang. Mereka menenun jaring-jaring godaan yang begitu halus, menjanjikan surga duniawi lewat jalur pintas bernama kredit. Di balik kemilau uang pinjaman yang melimpah ruah itu, tersembunyi belenggu besi yang siap mengikat leher siapa saja yang tergiur.

Dalam kacamata syariat, utang bukanlah sekadar deretan angka di atas kertas tagihan, melainkan sebuah beban yang sanggup meremukkan jiwa.  Islam memandang utang dengan kacamata yang amat tegas dan bernuansa peringatan keras. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam berkali-kali berlindung kepada Allah Subhanahu Wata'alla dari jeratan utang,

Kemudahan mengambil utang di era modern ini kerap kali menyihir mata manusia hingga buta membedakan antara kebutuhan primer dan hawa nafsu yang tak bertepi. Uang pinjaman menyuntikkan ilusi kekayaan yang semu. Seseorang bisa merasa menjadi raja dalam sekejap, membeli segala kemewahan duniawi.

Melihat fenomena yang terjadi di grup WhatsApp tersebut, sebuah doa tulus membubung tinggi ke angkasa. Semoga seluruh anggota grup Muda Swimming Squad2 khususnya  dipelihara oleh Allah Subhanahu Wata'alla dari godaan berwujud utang. Semoga pikiran mereka dijauhkan dari keinginan untuk menggadaikan masa depan demi kenikmatan sesaat.

Tidak ada kekayaan di muka bumi yang mampu menandingi indahnya hidup tanpa utang. Tidak memiliki utang adalah bentuk kemerdekaan jiwa yang paling murni. Manusia yang bebas dari utang adalah raja sejati di dunia. Kita bisa memejamkan mata dengan tenang, menghirup udara pagi dengan dada lapang dan menikmati setiap suapan nasi dengan rasa syukur yang membuncah. Tidur mereka ditemani kedamaian yang membumbung tinggi dan bangun pagi mereka disambut oleh senyuman tanpa bayang-bayang ketakutan. Hidup tenang tanpa kepungan tagihan adalah kenikmatan surgawi yang tiada tara nilainya.

Cepu, 19 September 2026

Kaki Saya Masih Malu-malu


Karya: Gutamining Saida

Suasana sore di kolam renang selalu menyimpan ceritanya sendiri. Angin berembus pelan dan suara kecipak air yang menenangkan biasanya menjadi latar alami latihan kami. Jum'at sore atmosfer di sekitar kolam mendadak terasa berbeda. Ada antusiasme yang membumbung tinggi, bercampur dengan sedikit rasa mendebarkan. Pak Gun, pelatih yang tidak pernah kehabisan ide untuk menguji batasan kemampuan kami, berdiri tegak di tengah kolam dengan gaya khasnya.

"Kalau cuma posisi tangan meluncur di atas air, itu sih sudah biasa!" seru Pak Gun memecah keheningan. Kalimat pembukanya langsung memancing rasa penasaran seluruh anggota kelompok. Kami semua saling pandang, menebak-nebak kejutan apa lagi yang akan disajikan.

Pak Gun kemudian mengumumkan tantangan sore ini. Sebuah gerakan yang menuntut keseimbangan, keberanian, dan kontrol tubuh di dalam air. Kami diminta untuk menyelam perlahan, menyentuh dasar kolam dengan kedua telapak tangan, lalu mendorong tubuh sedemikian rupa hingga kedua kaki lurus mengarah tegak lurus ke atas. Sebuah gerakan menyerupai handstand di dalam air.

Sebelum giliran kami tiba, Pak Gun memberi contoh terlebih dahulu. Tenang dan luwes, beliau meluncur ke bawah. Hanya dalam hitungan detik, kedua tangannya sudah menumpu kokoh di lantai kolam, sementara kedua kakinya menjulang lurus ke atas permukaan air dengan sangat sempurna. Gerakan itu terlihat begitu mudah, elegan, dan tanpa beban. Kami yang menyaksikan dari tepi kolam hanya bisa melongo kagum sekaligus makin berdebar-debar.

Satu per satu dari kami dipanggil untuk mempraktikkannya secara langsung di bawah pengawasan ketat Pak Gun. Momen menunggu giliran selalu menjadi saat-saat yang paling menegangkan sekaligus mendebarkan. Muncul dorongan kuat untuk menaklukkan rasa ragu. Prinsip saya sederhana yaitu bila tidak pernah mencoba, kita tidak akan pernah tahu sampai di mana batas kemampuan kita. Keberanian harus dikedepankan, urusan hasil adalah nomor dua.

Ketika giliran saya tiba, saya menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh fokus, lalu menyelam dengan sepenuh jiwa. Di dalam air, saya mengarahkan tubuh ke bawah dan berusaha menggapai dasar kolam. Perlahan tapi pasti, jemari dan telapak tangan saya akhirnya berhasil menyentuh lantai kolam. Sebuah rasa lega dan syukur langsung menyelimuti pikiran saya. Meski saya sadar gerakan ini jauh dari kata sempurna, berhasil menyentuh dasar kolam saja sudah menjadi pencapaian kecil yang sangat berarti.

Begitu saya kembali muncul ke permukaan air sambil menyapu air dari wajah, Pak Gun yang memperhatikan dari tepi kolam langsung bertanya, "Bagaimana, tangan sudah menyentuh lantai, Bu?"

"Sudah, Pak!" jawab saya singkat, masih sedikit terengah-engah.

Pak Gun terkekeh pelan lalu melempar pandangan jenaka, "Lhoo lhoo... kakinya mana?"

Dengan spontan dan tanpa pikir panjang, saya berseru, "Kaki saya malu, Pak!"

Seketika itu juga, tawa pecah dari rekan-rekan di sekeliling kolam. Jawaban asal bunyi berhasil mencairkan suasana yang semula agak tegang. Gelak tawa berderai memantul di antara dinding-dinding area kolam renang. Belum selesai rasa geli dari percakapan saya, perhatian Pak Gun berpindah ke peserta berikutnya yang sedang berjuang di dalam air.

"Lha, Bu Yeni kakinya belum kelihatan juga!" komentar Pak Gun sambil tertawa kecil mengamati perjuangan Bu Yeni yang mencoba menegakkan kakinya ke atas. Bu Yeni yang baru saja muncul ke udara tidak mau kalah santai. Dengan wajah tanpa dosa dan napas yang agak terengah, beliau menjawab spontan, "Telapak kaki saya pecah-pecah, Pak!"

Sontak, lelucon Bu Yeni makin menambah riuh suasana. Suara tawa ibu-ibu kembali membahana. Kolam renang sore itu benar-benar berubah menjadi panggung komedi spontan yang penuh kehangatan.

"Ayo, sekarang giliran Bu Pur!" perintah Pak Gun mengalihkan fokus ke barisan selanjutnya. Beliau kemudian menunjuk anggota berikutnya dengan penuh semangat, "Ayo, selanjutnya!"

Tiba giliran Bu Ima. Saking semangatnya ingin menuntaskan tantangan dan menyempurnakan gerakan, Bu Ima meluncur dengan dorongan yang terlalu kuat. Bukannya membentuk posisi lurus ke atas, tubuh Bu Ima malah berputar tak terkendali di dalam air hingga gerakannya persis seperti orang sedang koprol atau berguling di udara. Begitu kepalanya muncul kembali ke permukaan dengan ekspresi bingung, gelak tawa kembali meledak tanpa bisa ditahan!

Dasar ibu-ibu, mau gerakannya benar atau salah, semuanya disambut dengan tawa riang. Ketika gagal melakukan gerakan dengan benar pun, kami tetap tertawa lepas tanpa rasa malu atau berkecil hati. Melihat keriuhan dan semangat murid-muridnya, Pak Gun tidak marah sedikit pun. Beliau justru tersenyum lebar dan memberikan apresiasi yang sangat hangat kepada kami semua.

"Bila salah lalu ibu-ibu tertawa, itu bagus!" tegas Pak Gun dengan nada suportif.

Saya yang penasaran langsung menyela, "Lhoo, kok begitu, Pak?"

Pak Gun lalu menjelaskan, "Itu tandanya ibu-ibu mau mencoba dan mencoba, mengulang dan mengulang. Tidak takut salah, tidak takut gagal. Itu kunci utama dalam belajar."

Di tengah-tengah penjelasan Pak Gun yang inspiratif itu, tiba-tiba Bu Ratih melempar celetukan dari sudut kolam dengan raut wajah polos, "Kaki saya kok mengambang terus ya, Pak?"

Pak Gun menatap Bu Ratih lalu menjawab dengan seloroh khasnya yang penuh optimisme, "Lhaaa... itu artinya kita tidak akan pernah tenggelam!"

Jawaban Pak Gun yang menggelitik itu menutup sesi latihan sore dengan gelak tawa yang kembali membahana. Jum'at sore sinar matahari yang mulai meredup, kami belajar tentang arti keberanian untuk mencoba hal baru, indahnya kebersamaan. Semoga besok bisa dipertemukan kembali dan tertawa bersama. Aamiin.

Kamis, 17 September 2026

Melawan Rasa Takut


Karya: Gutamining Saida

Sebagian orang, melihat hamparan air biru di kolam renang adalah sebuah undangan untuk bersenang-senang, menyegarkan badan, atau sekadar melepas penat. Sekelompok ibu-ibu, air biru yang tampak tenang itu menyimpan tantangan psikologis yang sangat besar. Rasa takut tenggelam, kehilangan pijakan, atau ketidakmampuan mengendalikan diri di dalam air . Bagai tembok tebal yang tidak mudah dirobohkan hanya dalam satu atau dua hari.

Meskipun demikian, keberanian terbesar sebenarnya sudah mereka tunjukkan sejak awal dengan  keberanian untuk mendaftar, melangkah datang, dan masuk ke dalam kelas terapi. Mereka tidak memilih untuk menyerah pada ketakutan, melainkan berikhtiar untuk menaklukkannya.

Proses belajar menghadapi ketakutan di dalam air memang tidak pernah berjalan linear. Setelah melewati beberapa kali pertemuan. Bayang-bayang kecemasan sering kali masih bertahan. Jemari masih mencengkeram erat tepi kolam, napas masih terasa agak memburu saat tubuh mulai terombang-ambing, dan pijakan kaki terasa begitu berharga.

Melihat kondisi tersebut, Pak Gun sang pelatih  sabar dan berpengalaman terus memutar otak. Beliau paham betul bila mengajari orang dewasa, khususnya ibu-ibu yang memiliki trauma atau ketakutan mendalam terhadap air. Beliau membutuhkan pendekatan yang berbeda. Ini bukan sekadar soal teknik menggerakkan kaki atau mengatur pernapasan, melainkan soal melatih pikiran dan membangun rasa percaya diri dari nol.

Pak Gun mencoba mendorong batas kenyamanan mereka secara bertahap. Beliau menuntun para peserta menuju area kolam dengan kedalaman 140 sentimeter. Sebuah kedalaman yang bagi pemula sudah cukup untuk memicu ketegangan.

"Ayo, lawan rasa takut bu!" seru Pak Gun memberikan dorongan semangat, berharap kalimat itu menjadi pemantik keberanian di dalam dada murid-muridnya.

Mengalahkan rasa takut yang sudah mengakar tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bu Isna, salah satu peserta, langsung menyahut dengan jujur, "Naaah, ini saya yang belum bisa, Pak."

Kejujuran Bu Isna adalah cerminan dari perasaan banyak ibu-ibu di dalam kelas terapi. Ada keraguan yang nyata, sebuah pengakuan tubuh dan pikiran mereka belum sepenuhnya siap untuk melepas pegangan.

Mendengar keraguan Bu Isna, Bu Rini melangkah sedikit lebih jauh dalam proses belajar turut membuka suara untuk memberikan dukungan moral.

"Saya dulu juga begitu, Bu," kata Bu Rini menenangkan.

Kalimat sederhana dari Bu Rini memberikan dampak yang sangat besar. Di dalam sebuah kelompok terapi, mengetahui bahwa orang lain pernah berada di posisi yang sama dan berhasil melewatinya. Sebuah dorongan emosional yang sangat kuat. Sebagai bentuk empati murni, menyatakan  rasa takut itu wajar, dan semua orang memulai dari titik yang sama.

Pak Gun kemudian menambahkan penjelasannya untuk memperkuat mental mereka. "Sering datang ke kolam dan mencoba berenang itu adalah sebuah proses," tutur Pak Gun dengan tenang. Beliau menekankan jika keberhasilan di dalam air tidak diukur dari seberapa cepat seseorang bisa berenang ke seberang, melainkan dari konsistensi untuk terus hadir, mencoba, dan tidak menyerah pada rasa cemas.

Dinamika percakapan menjadi semakin menarik ketika Bu Sulikah memberikan tanggapannya. "Saya sering ke kolam ya tetap saja masih takut, Pak," potong Bu Sulikah polos.

Candaan ringan bernada protes itu memicu tawa kecil di antara mereka. Seseorang menyahut singkat bercanda, "Senior kok masih takut?"

Bu Sulikah tidak tinggal diam dan membela diri dengan kalimat yang sangat filosofis, "Takut itu datangnya dari rasa."

Pernyataan Bu Sulikah sangat tepat. Ketakutan bukanlah sesuatu yang bisa dihilangkan hanya dengan instruksi verbal atau logika semata. Ketakutan adalah respons emosional, sebuah "rasa" yang tertanam di dalam sistem saraf manusia untuk melindungi diri dari bahaya. Selama pikiran masih menganggap air sebagai ancaman, rasa takut itu akan tetap ada.

Membaca dinamika tersebut, Bu Rini kembali memberikan komentar di grup obrolan mereka kemudian, menegaskan bahwa ketakutan adalah hal yang sangat manusiawi. "Sama dengan saya, Bu. Kalau sudah di kedalaman dua meter, saya juga takut," tulis Bu Rini.

Membicarakan tema "rasa takut" di dalam grup obrolan ibu-ibu memang seperti membuka pintu percakapan yang tidak ada ujungnya. Semalam saja, ketika baru beberapa anggota yang memberikan tanggapan, diskusi sudah berlangsung begitu hangat dan riuh.

Dapat dibayangkan apabila seluruh anggota grup ikut memberikan komentar secara bersamaan. Diskusi itu pasti akan berlanjut hingga larut malam dan tidak akan selesai dalam satu sesi. Ada ungkapan populer yang menyebutkan bahwa wanita atau ibu-ibu memiliki dua puluh ribu kata per hari. Ketika energi percakapan itu disalurkan ke dalam sebuah topik yang mereka rasakan bersama. 

Di balik riuhnya kata-kata dan ramainya komentar di obrolan tersebut, tersimpan sebuah kekuatan yang luar biasa. Ibu-ibu ini tidak hanya sekadar mengeluh atau membicarakan ketakutan mereka. Lewat setiap kalimat yang diketik, mereka sedang saling mendengarkan,  emosi satu sama lain, dan merayakan setiap perkembangan kecil yang berhasil dicapai. Ketika satu orang merasa ragu, yang lain hadir untuk menceritakan pengalamannya. Ketika satu orang merasa takut, yang lain mengingatkan bahwa mereka tidak berjuang sendirian.

Pelajaran terpenting dari dinamika kelas terapi ini adalah memahami arti keberanian. Keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut sama sekali. Keberanian adalah tindakan untuk tetap melangkah dan mencoba, meskipun rasa takut itu masih menggebu-gebu di dalam dada.

Keberhasilan mereka tercermin dari hal-hal kecil yang sangat berarti:

  • Keberanian untuk tetap datang ke kolam renang setiap minggu.

  • Kemampuan untuk menurunkan kaki ke kedalaman dua meter, walau tangan masih memegang tepi kolam.

  • Keikhlasan untuk mengakui ketakutan tanpa merasa malu.

  • Keceriaan untuk saling mendukung dan tertawa bersama di tengah proses terapi.

Proses ini membutuhkan waktu, kesabaran, dan konsistensi. Selama Pak Gun terus mendampingi dengan telaten, dan selama ibu-ibu ini terus saling menyemangati dengan ribuan kata hangat setiap harinya, hari di mana mereka bisa melayang bebas di atas air tanpa rasa takut pasti akan tiba. Setiap pertempuran kecil melawan rasa ragu sebuah kemenangan besar yang patut dirayakan.

Cepu 18 September 2026

 

Minggu, 13 September 2026

Ibu-ibu Lupa Dengan Hutangnya


Karya: Gutamining Saida

Suasana di area kolam benar-benar penuh energi dan tawa. Sesi terapi air yang dipandu oleh Pak Gun sebenarnya sudah hampir usai, namun beliau tidak langsung mengakhirinya begitu saja. Sebagai penutup yang manis dan membekas, Pak Gun menyiapkan sebuah sesi khusus yaitu mengambil foto-foto bersama dengan berbagai tantangan unik yang sengaja beliau rancang untuk mencairkan suasana.

Tantangan pertama dimulai ketika Pak Gun meminta seluruh ibu-ibu untuk menyatukan kedua telapak tangan mereka, mengambil air kolam sebanyak-banyaknya, lalu melemparnya tinggi-tinggi ke atas udara. Seketika itu juga, cipratan air membumbung dan jatuh seperti hujan lokal di tengah kolam. Riak air yang terpantul sinar matahari membuat pemandangan di sekitar kolam terlihat sangat hidup. Kamera Pak Gun terus membidik momen demi momen spontan tersebut, menangkap ekspresi wajah ibu-ibu yang mulai lepas tanpa beban.

Tidak berhenti di situ, Pak Gun memberikan tantangan berikutnya yang makin seru. Beliau meminta peserta untuk menenggelamkan diri sejenak ke dalam air. Setelah beberapa detik berada di bawah permukaan, mereka diminta untuk kembali muncul ke atas secara bersamaan sambil meneriakkan satu kata dengan keras “SEHAT!”

Satu per satu kepala mulai menyembul dari dalam air. Suara teriakan “SEHAT!” bergema nyaring di sekitar area kolam, saling bersahut-sahutan. Teriakan yang penuh semangat itu tidak hanya menggetarkan udara di sekitar mereka, tetapi juga seolah menyalurkan energi positif yang luar biasa ke dalam diri masing-masing peserta.

Keseruan makin memuncak pada tantangan ketiga. Pak Gun menginstruksikan para ibu untuk menepuk-nepuk permukaan air dengan cepat dan kuat. Cipratan air kolam memercik ke mana-mana, membentengi dan menutupi wajah. Air melayang ke udara hingga wajah para peserta hampir tidak terlihat sama sekali di balik tirai cipratan air tersebut. Justru di saat-saat itulah Pak Gun menekan tombol rana kameranya bertubi-tubi, mengabadikan momen dinamis yang sangat alami.

Uniknya, sepanjang sesi foto dengan serangkaian instruksi yang cukup menguras tenaga tersebut, ibu-ibu seperti terhipnotis. Tanpa ragu sedikit pun, mereka menuruti setiap detail perintah yang diucapkan oleh Pak Gun. Tidak ada yang mengeluh basah, tidak ada yang takut riasan wajahnya luntur, dan tidak ada pula yang merasa enggan untuk tampil konyol di depan kamera. Semua bergerak kompak mengikuti komando sang instruktur.

Setelah serangkaian tantangan foto selesai dan semua orang masih berdiri membasahi diri di dalam kolam, Pak Gun tiba-tiba memecahkan keheningan dengan celetukan khasnya.

“Ibu-ibu sampai lupa dengan hutangnya!” seru Pak Gun bernada canda, yang langsung disusul dengan gelak tawa beliau sendiri yang lepas.

Kalimat singkat itu seketika memutus "sihir" kepatuhan yang baru saja terjadi. Ibu-ibu yang semula fokus menuruti instruksi tiba-tiba tersadar dari momen tersebut. Dalam hitungan detik, tawa renyah pecah di setiap sudut kolam. Mereka saling pandang, tertawa terpingkal-pingkal menyadari betapa kepatuhan polos mereka saat mengikuti tantangan tadi benar-benar membuat pikiran mereka bersih dari segala beban hidup.

Suasana kolam yang tadinya tenang kini berubah menjadi sangat ramai dan penuh kehangatan. Gelak tawa bersahut-sahutan di antara riak air yang belum sepenuhnya tenang. Pendekatan Pak Gun yang ramah, santai, dan penuh humor berhasil membimbing para peserta tanpa terkesan memaksa. Ibu-ibu  sama sekali tidak merasa sedang dikerjai atau dijadikan bahan lelucon. Sebaliknya, mereka merasa sangat bahagia karena berhasil melepaskan kepenatan sejenak dari rutinitas harian. Sesi terapi air  ditutup bukan hanya dengan tubuh yang lebih segar, tetapi juga dengan hati yang lega dan penuh kegembiraan. Sampai jumpa. Semoga terhibur.

Cepu, 13 September 2026

Jumat, 11 September 2026

Ambyar


Karya: Gutamining Saida

Kadang sebuah tulisan tidak lahir dari kejadian yang luar biasa. Tidak harus dari perjalanan jauh, tempat yang indah, atau peristiwa besar yang menggemparkan. Sebuah tulisan bisa saja lahir dari satu kata sederhana yang terdengar sepele.

Seperti Jumat sore ini, Saya mendapatkan ide menulis dari sebuah ucapan Pak Gun yang sangat singkat, padat, dan jelas. Satu kata “Ambyar.”

Entah mengapa kata itu terus terngiang di pikiran saya. Kata yang sebenarnya sering kita dengar dalam percakapan sehari-hari, terutama ketika menggambarkan sesuatu yang berantakan, tidak sesuai rencana, atau keadaan yang tiba-tiba kacau.

 “Ambyar” memiliki cerita tersendiri. Semua bermula ketika kami sudah mulai melakukan berbagai gerakan di dalam kolam. Untuk mempermudah memantau kemampuan peserta, Pak Gun kemudian mengelompokkan ibu-ibu sesuai dengan kemampuannya.

Kali ini kami diarahkan untuk melakukan praktik secara bergantian. “Empat peserta dulu,” begitu kira-kira instruksinya. Yang lainnya melihat terlebih dahulu. Empat peserta dari sebelah kanan bersiap mengambil posisi. Kami yang menunggu giliran memperhatikan dari belakang. Ada rasa penasaran, ada juga rasa ingin tahu apakah gerakan yang selama ini dilatih bisa dilakukan dengan baik.

Pak Gun berada di posisi yang memungkinkan dirinya melihat gerakan kami dengan jelas. Peluit menjadi tanda.

Priiiiiit!

Empat peserta mulai bergerak. Mereka berusaha melakukan gerakan sesuai arahan yang sudah diberikan. Beberapa detik kemudian terdengar peluit kedua.

Priiiiiit!

Itulah tanda untuk berhenti. Namun sesuatu yang tidak direncanakan justru terjadi. Bukannya berhenti dengan rapi di tempat yang diharapkan, empat peserta itu malah... ambyar!

Satu bergerak serong ke kanan. Satu lagi serong ke kiri. Yang satu meluncur lurus semakin menjauh. Satu lagi justru menabrak temannya. Pemandangan yang sebenarnya sederhana itu langsung membuat suasana kolam pecah. Kami yang menyaksikan tidak mampu menahan tawa. Ada yang tertawa terpingkal-pingkal. Ada yang sampai memegangi tubuh karena terlalu geli.

Yang melakukan gerakan pun tidak bisa marah. Mereka justru ikut tertawa melihat posisi masing-masing yang sudah tidak beraturan. Sementara Pak Gun hanya tersenyum, tidak panik, tidak menyalahkan, serta tidak memarahi.

Ia hanya memberikan satu komentar yang singkat, tetapi tepat sasaran.

“Ambyar.”

Satu kata itu sudah cukup menjelaskan semuanya. Gerakan yang seharusnya berjalan teratur ternyata berakhir ke mana-mana. Kejadian lucu itulah saya mendapatkan bahan untuk berpikir. Bukankah kehidupan manusia juga terkadang seperti itu?

Kita sudah memiliki arah, sudah mempunyai tujuan, sudah diberi petunjuk. Kita bahkan sudah berusaha mengikuti arahan. Tetapi dalam perjalanan, terkadang kita bisa saja kehilangan keseimbangan. Akhirnya arah menjadi tidak jelas.

Sebenarnya apa yang menyebabkan seseorang bisa “ambyar”?

Setidaknya ada beberapa hal diantaranya adalah Pertama, terlalu tergesa-gesa. Kedua, tumpuan hanya pada satu kaki. Ketiga, hati sedang resah. Keempat, kurang percaya diri. Sebuah gerakan  “ambyar” justru menjadi kenangan yang menyenangkan. Mungkin itulah salah satu alasan saya senang berada di kolam. Sampai Jumpa di lain kesempatan.

Cepu, 11 September 2026