Minggu, 03 Mei 2026

Lembaran Lima Puluh Ribu

 


Karya : Gutamining Saida

Momen perpisahan sering kali identik dengan suasana haru, isak tangis, dan untaian kata-kata puitis yang menyayat hati. Sabtu pagi di lapangan SMPN 3 Cepu, narasi perpisahan ditulis dengan tinta yang berbeda. Tidak ada awan mendung kesedihan yang menggelayut; yang ada justru pancaran sinar dengan binar kebahagiaan di wajah ratusan siswa. Purna tugas Bapak Bambang, sosok guru Ilmu Pengetahuan Sosial yang selama ini menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut nadi SMPN 3 Cepu.

Sesi pamitan Pak Bambang dimulai. Lapangan sekolah yang biasanya menjadi saksi ketegasan disiplin, mendadak berubah menjadi panggung keakraban, keseruan yang hangat. Pak Bambang, dengan senyum khas yang selalu menyapa siapa pun di koridor sekolah, berdiri di depan mikrofon. Bukan untuk mengajarkan tentang geografi atau sejarah, ekonomi, melainkan untuk merayakan akhir masa baktinya dengan cara yang paling unik.

Alih-alih memberikan pidato perpisahan yang formal. Pak Bambang memilih untuk menghidupkan suasana melalui interaksi langsung. Beliau memahami bahwa cara terbaik untuk dikenang adalah dengan meninggalkan jejak kegembiraan. Setelah sepatah kata pamit yang tulus, beliau mengejutkan semua orang dengan mengeluarkan "amunisi" perpisahan yang tidak biasa sejumlah lembaran uang kertas lima puluh ribuan yang telah disiapkan rapi dari rumah.

"Siapa yang bisa menjawab pertanyaan saya, silakan maju ke depan!" seru beliau dengan suara yang masih lantang, memecah rasa penasaran para siswa.

Seketika, atmosfer lapangan berubah menjadi riuh. Tantangan tersebut disambut dengan antusiasme yang luar biasa. Bagi para siswa, ini bukan sekadar tentang nilai nominal uang yang ditawarkan, melainkan tentang momen kedekatan terakhir dengan sang guru tercinta. Pak Bambang mulai melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan mata pelajaran yang selama ini beliau ampu. Pertanyaan-pertanyaan seputar wawasan kebangsaan, perkembangan teknologi handphone, letak astronomis Indonesia, hingga tokoh-tokoh sejarah meluncur satu per satu.

Suasana kompetisi yang sehat pun tercipta. Siswa-siswi saling berebut berlari menuju ke pak Bambang yang berada di tengah lapangan. Setiap kali seorang siswa berhasil menjawab dengan tepat, mereka langsung mendapat lima puluh ribu rupiah. Di tengah lapangan yang panas terasa sejuk karena tawa, Pak Bambang menyerahkan selembar uang kertas dengan tangan terbuka.

Pemandangan itu sungguh menyentuh. Ada binar kebanggaan di mata siswa yang berhasil menjawab, bukan hanya karena hadiahnya. Mereka berhasil memberikan "hadiah" terakhir bagi Pak Bambang berupa pembuktian bahwa ilmu yang diajarkan selama ini telah terserap dengan baik. Senyum bahagia terpancar luas, tidak hanya dari para pemenang kuis dadakan itu, tetapi juga dari Pak Bambang sendiri. Beliau seolah sedang memanen hasil tanamannya selama puluhan tahun mengajar: kebahagiaan anak didik.

Bagi kalangan rekan sejawat, aksi Pak Bambang ini adalah cerminan kepribadian beliau selama ini. Beliau dikenal sebagai sosok yang ringan tangan, komunikatif, dan selalu punya cara untuk mencairkan suasana. Purna tugas baginya bukanlah sebuah akhir yang menyedihkan, melainkan garis finis yang dicapai dengan rasa syukur yang meluap. Beliau memilih untuk "membeli" kenangan terakhir para siswanya dengan keceriaan, memastikan bahwa nama "Pak Bambang" akan selalu diingat sebagai guru yang menyenangkan hingga detik terakhir masa jabatannya.

Jika ditelisik lebih jauh, aksi pak Bambang simbol dari kemurahan hati seorang pendidik. Guru IPS ini ingin mengajarkan satu pelajaran terakhir yang tidak ada di buku teks. Pelajaran tentang berbagi kebahagiaan di saat kita melepaskan sesuatu yang berharga. 

Lapangan SMPN 3 Cepu hari itu menjadi saksi  bahwa pendidikan tidak selalu tentang duduk diam di dalam kelas dan mendengarkan ceramah. Pendidikan juga tentang membangun memori, tentang bagaimana seorang manusia menyentuh hidup manusia lainnya. Pak Bambang membuktikan bahwa seorang guru purna tugas tetap bisa menjadi pusat energi positif.

Sisa-sisa kegembiraan masih terasa di udara. Para siswa mengerumuni beliau untuk bersalaman dan berfoto bersama. Uang kertas yang mereka terima mungkin akan habis dalam sehari untuk membeli jajan di kantin, namun momen berdiri di depan Pak Bambang, menjawab pertanyaannya, dan melihat senyum tulus beliau di hari purna tugasnya adalah memori yang akan bertahan selamanya.

Pak Bambang meninggalkan lapangan dengan langkah yang ringan, meninggalkan warisan berupa tawa dan semangat belajar yang meledak-ledak. SMPN 3 Cepu mungkin kehilangan salah satu guru IPS terbaiknya namun semangat "Pak Bambang" akan tetap hidup di koridor-koridor kelas dan di dalam hati setiap siswa yang pernah beliau ajar.

Kepada Pak Bambang, selamat memasuki masa purna tugas. Terima kasih telah mengajarkan bahwa perpisahan tidak harus selalu dibasahi air mata. Perpisahan bisa dirayakan dengan kuis kecil, tawa yang lepas, dan lembaran-lembaran kebaikan yang dibagikan dengan penuh cinta di tengah lapangan sekolah. Keikhlasan Bapak untuk tetap memberi di hari terakhir adalah pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial yang paling nyata yaitu bahwa manusia adalah makhluk sosial yang paling indah ketika mereka mampu membahagiakan sesamanya. Aamiin.

Cepu, 4 Mei 2026

Telapak Pak Gun



Karya: Gutamining Saida

Dunia air adalah dunia yang jujur. Ia tidak bisa dibohongi oleh gerakan fisik yang dipaksakan jika batin sedang berkecamuk. Di balik jernihnya permukaan kolam, terdapat filosofi tentang keseimbangan yang hanya bisa dicapai melalui satu kunci utama yaitu ketenangan. Tanpa ketenangan, air yang seharusnya menjadi penopang tubuh justru akan terasa seperti hambatan yang berat dan membingungkan.

Bagi siapa pun yang baru mengenal olahraga renang, air sering kali dianggap sebagai "lawan" yang harus ditaklukkan. Persepsi ini justru menjadi bumerang. Ketika seseorang merasa takut atau cemas, otot-otot tubuh secara otomatis akan menegang. Tubuh yang tegang cenderung kehilangan daya apung alami dan menjadi tidak stabil. Inilah yang sering kita sebut "oleng".

Tubuh yang oleng di dalam air bukan sekadar masalah teknik kaki yang salah atau koordinasi tangan yang kurang pas. Sering kali, itu adalah cerminan dari pikiran yang tidak sinkron dengan keadaan sekitar. Hati yang gelisah menciptakan napas yang tidak teratur, dan napas yang pendek membuat tubuh kehilangan keseimbangan. Di sinilah letak ketenangan ia adalah fondasi. 

Proses belajar, bagi pemula yang mungkin menyimpan trauma atau rasa takut terhadap air, membutuhkan figur yang mampu memberi rasa aman. Di sinilah peran seorang pelatih seperti Pak Gun menjadi sangat penting. Keberadaan beliau bukan hanya sekadar pemberi instruksi teknis, melainkan sebagai jangkar emosional bagi para perenangnya.

Ada sebuah fenomena menarik yang terjadi saat melakukan gerakan baru di bawah pengawasan langsung. Pak Gun memiliki kebiasaan untuk selalu berada tepat di depan perenang, memantau setiap inci pergerakan. Ada satu hal yang lebih dari sekadar visual yaitu telapak tangan.

Perenang yang sedang ragu atau merasa tubuhnya mulai tidak seimbang, telapak tangan Pak Gun tumpuan sementara sebagai sumber ketenangan. Telapak tangan itu seolah menyalurkan energi kepastian. Saat keraguan melanda. apakah tubuh akan tenggelam atau apakah gerakan tangan sudah benar kehadiran fisik pelatih di depan mata dan kesiapan tangannya untuk membantu menciptakan ruang aman di dalam pikiran. Ketakutan pun perlahan sirna, berganti dengan keberanian untuk mencoba gerakan yang lebih sulit. 

Menariknya, konsep ketenangan ini memiliki wajah yang berbeda. Saat kita berpindah ke lingkungan sekolah. Jika di kolam renang ketenangan bersumber dari kontrol fisik dan kepercayaan pada pelatih, maka di ruang kelas terutama saat menghadapi ujian ketenangan bersumber dari persiapan.

Bayangkan seorang siswa yang duduk di depan lembar soal ujian. Rasa "oleng" di sini bukan berupa tubuh yang miring ke kiri atau ke kanan, melainkan pikiran yang buntu dan tangan yang gemetar. Sumber kegelisahan tersebut biasanya adalah ketidaktahuan. Bagi mereka yang sudah belajar dengan sungguh-sungguh, ujian bukanlah momok.

Belajar adalah proses membangun kepercayaan diri. Setiap materi yang dipahami, setiap rumus yang diingat, dan setiap konsep yang dikuasai adalah bekal yang membuat hati menjadi mantap. Ketenangan saat ujian adalah buah dari disiplin panjang sebelumnya. Sama seperti perenang yang harus membuktikan gerakannya di air, siswa membuktikan pemahamannya di atas kertas. Keduanya membutuhkan hati yang tenang agar hasil yang dicapai bisa maksimal dan seimbang.

Ketenangan adalah jembatan menuju keberhasilan. Di kolam, kita belajar untuk pasrah pada hukum alam dan percaya pada bimbingan pelatih. Jika kita masih ragu akan kekuatan ketenangan, tidak ada jalan lain selain mencobanya sendiri. Terjunlah ke kolam, rasakan! Buktikan sendiri! Bagaimana ketenangan akan mengubah cara kita bergerak.

Cepu, 4 Mei 2026

Epek-epek


Karya: Gutamining Saida

Suasana sore di kolam renang Bumool terasa lebih ramai. Matahari mulai condong. Permukaan air yang tenang, seolah ikut menyambut kehadiran empat "pendatang baru" di keluarga besar latihan renang.  Ada pemandangan yang cukup kontras, harmonis dua anak kecil yang tampak semangat sekaligus waspada, didampingi dua ibu-ibu yang ekspresinya merupakan campuran antara niat hidup sehat dan kekhawatiran akan gaya gravitasi di dalam air.

Kami, yang sudah lebih dulu akrab dengan bau kaporit, tentu saja tidak mau melewatkan momen ini. Ada semacam ritual tidak tertulis di sini yaitu setiap ada anggota baru, kami semua mendadak menjadi pengamat dari pinggir kolam. Sambil sesekali membetulkan posisi atau sekadar stretching ala kadarnya, mata kami tertuju pada proses perkenalan tersebut. Rasanya seperti melihat kilas balik ke masa lalu. Saya sendiri membayangkan saat pertama kali bergabung saat kaki ini gemetar hanya untuk sekadar menyentuh permukaan air, persis seperti yang sedang dirasakan para pemula ini.

Setelah sesi perkenalan formal dengan Pak Gun, dimulailah mengenalkan teori paling dasardi air. Beliau meminta keempat siswa baru itu duduk berjajar di bibir kolam. Kakinya terjuntai, bergerak-gerak kecil menciptakan riak-riak air yang pecah.

"Jangan buru-buru masuk, rasakan dulu airnya. Biar akrab, supaya tidak kaget," ujar Pak Gun dengan nada kebapakan. Setelah itu, mereka diminta membasahi seluruh tubuh, mulai dari kaki naik ke atas, agar suhu tubuh beradaptasi.

Sambil mereka berbasah-basah ria, Pak Gun mulai memberikan asupan teori. Beliau menjelaskan langkah-langkah teknis masuk ke kolam dengan aman dan efisien. Kami yang berada di sekitar pun ikut menyimak, sekadar menyegarkan ingatan atau mungkin mencari celah untuk belajar kembali. Untuk menguji sejauh mana pemahaman para siswa baru ini menangkap penjelasannya, Pak Gun tiba-tiba berhenti bicara dan melempar pertanyaan mendadak.

"Tadi Bapak sudah jelaskan tiga langkah penting untuk masuk ke kolam dan mulai bergerak. Coba, siapa yang bisa mengulang? Apa saja langkah-langkahnya?" tanya Pak Gun singkat namun penuh wibawa.

Salah satu anak dengan wajah polos dan sisa-sisa air yang masih menetes dari ujung rambutnya, langsung menyahut dengan penuh percaya diri. Sepertinya dia merasa telah menguasai seluruh ucapan dari sang guru renang. 

"Langkahnya... yang pertama meluncur, Pak!" serunya lantang. Pak Gun mengangguk mantap. "Bagus, lalu yang kedua?" "Kedua, kaki digerakkan!" lanjut si anak. "Mantap. Nah, yang terakhir apa?" pancing Pak Gun.

Si anak terdiam sejenak, matanya menatap langit-langit seolah mencari contekan di sana, lalu dengan wajah tanpa dosa dia menjawab, "Dan yang ketiga... epek-epek!"

Hening sejenak. Pak Gun yang biasanya punya jawaban untuk segala masalah teknis renang, kali ini tampak heran dengan istilah baru si anak.

"Lho... lho... kok epek-epek? Apaan itu?" sahut Pak Gun dengan nada bingung yang tidak bisa disembunyikan. Matanya mengerjap-ngerjap, mencoba mencari istilah "epek-epek" 

Seketika itu juga, ledakan tawa pecah di seluruh penjuru kolam. Kami yang semula hanya mengamati, langsung tertawa terpingkal-pingkal. Bahkan ibu-ibu yang tadi sedang serius mengatur napas pun sampai harus memegang pinggiran kolam karena lemas menahan tawa.

"Apa katanya tadi? Epek-epek?" tanya seorang teman yang berada agak jauh, masih berusaha mencerna istilah baru tersebut. "Itu lho, ada istilah baru di dunia renang yaitu teknik epek-epek!" timpal yang lain sambil menyeka air di mata karena terlalu banyak tertawa.

Suasana menjadi sangat riuh. Si anak tampak bingung melihat orang-orang dewasa di sekitarnya tertawa sampai heboh sendiri. Dengan wajah yang masih sangat polos, dia mencoba membela diri.

"Itu lho Pak Gun... maksud saya tangannya digerak-gerakkan begini," katanya sambil memperagakan gerakan tangan  di atas air. Rupanya, dalam kamus pribadinya, gerakan tangan yang menepak-nepak air itu dinamakan "epek-epek."

Pak Gun akhirnya ikut tertawa lebar sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Oalah ... itu namanya gerakan tangan bukan epek-epek! Kalau epek-epek itu istilah buat telapak tangan di bahasa Jawa!"

Kejadian itu seketika mencairkan segala ketegangan. Rasa takut akan air yang tadinya menggelayut di wajah para siswa baru itu lenyap, berganti dengan suasana kekeluargaan yang hangat. Kami kembali melanjutkan latihan dengan semangat baru, sambil sesekali saling melempar candaan, "Ayo, jangan lupa epek-epeknya dikencangkan!" Bagi saya, "epek-epek" resmi menjadi istilah favorit baru yang akan selalu dikenang setiap kali melihat siswa baru bergabung di bawah asuhan Pak Gun. Sampai jumpa di episode mendatang.

Cepu, 4 Mei 2026

Renyah


Karya: Gutamining Saida

Renyah, selama ini kita kenal sebagai bunyi khas kerupuk yang digigit di sela makan siang. Suara kecil yang menggoda selera, ringan, dan membuat suasana makan terasa lebih hidup. Nah... siapa sangka, di sebuah kolam renang pada sore yang cerah, “renyah” menjelma menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda bukan dari makanan, melainkan dari tawa yang pecah tanpa rencana.

Sore itu adalah jadwal renang dan terapi. Suasana sejak awal sudah berbeda dengan pembelajaran di dalam kelas. Di kolam renang, tidak ada meja, tidak ada kursi, tidak ada papan tulis yang biasanya menjadi pusat perhatian. Yang ada hanyalah air yang berkilau diterpa matahari, riak-riak kecil yang saling berkejaran, dan wajah-wajah penuh semangat sekaligus cemas. Beberapa siswa tampak percaya diri, sementara yang lain terlihat ragu, bahkan sedikit takut.

Satu per satu siswa mencoba praktik sesuai arahan. Ada yang mulai dari tepi kolam, ada yang mencoba meluncur perlahan, dan ada pula yang masih berpegangan erat pada pinggiran, seolah itu satu-satunya penyelamat. Di tengah keseriusan itu, tiba-tiba terdengar suara yang tak biasa yaitu tertawa. Bukan sekadar tawa biasa, melainkan tawa yang “renyah”. Ringan, spontan, dan menular ke yang lain.

Awalnya hanya satu orang yang tertawa. Seperti riak air yang meluas, tawa itu cepat menyebar. Suasana yang tadinya tegang berubah menjadi cair. Beberapa siswa yang sebelumnya terlihat kaku mendadak ikut tersenyum, bahkan ikut tertawa. Ternyata sumbernya adalah momen tak terduga dari Bu Nanik.

Beliau yang mencoba membalikkan badan di air justru mengalami kesulitan. Gerakan yang seharusnya sederhana berubah menjadi perjuangan besar yang cukup mengundang perhatian. Bukannya berbalik dengan mulus, tubuh beliau justru kehilangan keseimbangan, dan sesaat terlihat seperti tenggelam sebelum akhirnya muncul kembali ke permukaan. Momen itu begitu spontan dan apa adanya, sehingga memancing tawa yang pecah tanpa bisa ditahan.

Yang menarik, tidak ada rasa mengejek dalam tawa itu. Tidak ada nada merendahkan. Justru yang terasa adalah kehangatan. Bu Nanik sendiri ikut tertawa kembali, menyadari bahwa kejadian itu memang lucu. Di situlah letak keunikan suasana kolam renang dibandingkan ruang kelas.

Di ruang kelas, kesalahan sering kali membuat seseorang guru emosi, siswa merasa canggung. Ada rasa takut ditertawakan, ada kekhawatiran akan penilaian teman lain. Di kolam, semuanya terasa berbeda. Air seolah menjadi media yang melarutkan rasa sungkan. Kesalahan menjadi bagian dari proses yang wajar, bahkan bisa menjadi sumber kebahagiaan bersama.

Tawa yang terdengar pun bukan tawa yang menyakitkan, melainkan tawa yang menyatukan. Tawa yang “renyah” ringan, jujur, dan mengalir begitu saja. Bahkan mereka yang tertawa sebenarnya belum tentu bisa melakukan gerakan dengan sempurna. Dii situlah letak keseruan, keindahannya. Tidak ada yang merasa lebih hebat, tidak ada yang merasa paling benar. Semua berada pada posisi yang sama yaitu  belajar.

Kolam renang bukan sekadar tempat praktik keterampilan berenang. Ia berubah menjadi ruang pembelajaran yang penuh arti. Belajar tidak harus selalu serius dan tegang. Bila tegang akan tambah berbahaya bagi tubuh. Kesalahan bukan untuk ditakuti, melainkan untuk dinikmati sebagai bagian dari perjalanan.

Air yang membasahi tubuh seakan membersihkan pikiran dari rasa takut dan gengsi. Setiap percikan air, setiap gerakan yang belum sempurna, dan setiap tawa yang pecah menjadi bagian dari cerita yang tak terlupakan. Mungkin, yang paling diingat bukanlah teknik berenangnya, melainkan momen-momen kecil seperti tawa Bu Nanik yang renyah.

Di akhir sesi, kelelahan memang terasa. Di balik itu, ada kebahagiaan yang tersisa. Senyum masih terukir di wajah, dan suasana hangat masih terasa. Ternyata benar, “renyah” tidak selalu tentang kerupuk. Ia bisa hadir dalam bentuk lain dalam tawa yang tulus, dalam kebersamaan, dan dalam momen sederhana yang menghidupkan suasana.

Dari kolam renang, kita belajar satu hal penting yaitu terkadang, yang membuat proses belajar menjadi berkesan bukanlah kesempurnaan, melainkan keberanian untuk tertawa bersama atas ketidaksempurnaan. Semoga bermanfaat.

Cepu, 3 Mei 2026

Sabtu, 02 Mei 2026

Sumringah

 


Karya: Gutamining Saida

Kami yang telah melewati usia setengah abad, ruang kelas itu telah berpindah ke sebuah kolam renang yang jernih dan menyegarkan. Di bawah bimbingan Pak Gun, air bukan lagi sekadar elemen alam, melainkan media yang membawa kami kembali ke masa kecil yang penuh keceriaan. Belajar renang di usia di atas lima puluh tahun memberikan kebahagiaan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata, sebuah suasana di tengah rutinitas masa tua yang sering kali mulai menjemukan.

Setiap sore, setelah sesi teori yang dipandu dengan telaten oleh Pak Gun, kami melangkah menuju tepian kolam dengan perasaan yang campur aduk antara semangat dan sisa-sisa rasa takut yang masih menggelayut. Uniknya, suasana di kolam renang ini selalu dipenuhi oleh aura positif. Disaat praktik kami belum maksimal ketika tangan masih kaku menggapai air atau kaki yang salah melakukan gerakan tidak ada amarah atau rasa malu yang berlebihan. Yang pecah justru suara tawa dan senyuman yang merekah lebar. Kami menertawakan kekakuan tubuh kami sendiri, sebuah kejujuran yang hanya bisa dimiliki oleh mereka yang sudah berdamai dengan usia.

Di tengah-tengah keseriusan berlatih, selalu ada ruang untuk humor yang menyegarkan suasana. Sore itu, saat kami sedang asyik mencoba mengoordinasikan gerakan tangan dan kaki yang sering kali masih "bermusuhan", Pak Gun yang sedari tadi berdiri mengawasi di pinggir kolam tiba-tiba menghentikan instruksinya sejenak.

"Maaf Bapak dan Ibu, saya izin naik sebentar ya, mau minum dulu," ujar Pak Gun 

Mendengar itu, entah dari mana datangnya keberanian untuk menjahili sang guru, saya langsung menyahut dengan spontan. "Lho, Pak Gun... tidak perlu repot-repot naik ke atas, Pak. Cukup minum air kolam ini saja, kan praktis!"

Pak Gun seketika menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah kami dengan tatapan jenaka. Sambil tersenyum simpul, beliau membalas, "Wah, ....., Enak, Air mineral "

Kami semua pun tertawa serempak. "Hmmmm... segar sekali Pak, mineralnya alami!" imbuh kami sambil terus terkekeh. Candaan ringan seperti itulah yang membuat jarak antara guru dan murid seolah melenyap. Di dalam air, kami bukan lagi orang tua yang kaku, melainkan sekumpulan sahabat yang sedang bermain bersama. Guyonan dan guyonan sukses mengusir rasa lelah dan ketegangan otot setelah berkali-kali mencoba gerakan yang gagal.

Pak Gun sangat memahami pentingnya dokumentasi dalam proses belajar kami. Hampir setiap sore, setelah sesi canda dan lelah bergelut dengan teknik pernapasan, beliau dengan setia mengambil foto maupun video kegiatan kami. Dokumentasi ini bukan sekadar untuk pamer, melainkan cermin bagi proses panjang yang kami lalui.

Momen yang paling menarik justru terjadi saat kami sudah kembali ke rumah masing-masing. Sambil duduk santai tangan ini mulai membuka ponsel untuk melihat-lihat kiriman foto dan video dari Pak Gun. Di saat itulah, tawa kembali pecah meski sendirian. Melihat video diri sendiri yang tampak "lucu" saat mencoba mengapung atau melihat ekspresi teman sekelompok yang tegang namun menggemaskan, membuat kami senyum-senyum sendiri. Ada perasaan aneh yang merayap di hati sebuah perasaan bahwa kami layaknya kembali menjadi anak-anak kecil yang baru mengenal dunia. Di usia 57 tahun, kemampuan untuk merasakan kegembiraan murni layaknya anak kecil adalah kemewahan yang tak ternilai harganya.

Manfaat belajar renang di usia senja ternyata jauh melampaui sekadar penguasaan teknik olahraga. Kolam renang telah menjadi tempat pelampiasan stres yang sangat efektif. Saat tubuh masuk ke dalam air, beban pikiran seolah ikut larut dan hanyut. Segala keruwetan hidup, kekhawatiran tentang masa depan, atau keluhan fisik yang sering muncul di usia ini, seakan hilang digantikan oleh rasa sejuk yang membalut kulit. Air memiliki kemampuan alami untuk menenangkan saraf dan memberikan ruang bagi pikiran untuk beristirahat.

Lebih dari itu, aktivitas ini menjadi cara ampuh untuk menghilangkan pikiran negatif. Di dalam air, fokus kami teralihkan sepenuhnya pada koordinasi tubuh dan napas. Tidak ada ruang untuk memikirkan hal-hal buruk atau rasa pesimis. Setiap gerakan yang berhasil dilakukan, sekecil apa pun itu, adalah kemenangan besar yang meningkatkan rasa percaya diri. Kami merasa hidup kembali, merasa masih memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang meski usia terus beranjak. Rasa segar yang menyergap setelah keluar dari kolam renang bukan hanya terasa di raga, tapi juga merasuk ke dalam jiwa.

Pak Gun sering mengingatkan bahwa belajar renang di usia kami adalah tentang konsistensi dan keberanian melawan ego. Beliau tidak menuntut kami menjadi atlet, tapi beliau menuntut kami untuk sehat dan bahagia. Dokumentasi video yang dikirimkan Pak Gun menjadi bukti otentik bahwa belajar adalah perjalanan yang menyenangkan. Saat melihat video diri sendiri yang awalnya takut masuk ke air hingga akhirnya berani meluncur, ada rasa bangga yang menyelinap. Ternyata, kami masih bisa! Kami bukan hanya "berumur" dan "berbobot", tapi kami juga "berani" mencoba hal baru.

Kembali ke rumah dengan tubuh yang segar dan hati yang ringan adalah anugerah. Senyum-senyum sendiri saat melihat dokumentasi sore hari adalah obat awet muda yang paling mujarab. Kami belajar bahwa di kolam renang itu, status sosial, gelar, dan beban usia ditinggalkan di ruang ganti. Yang masuk ke dalam air hanyalah jiwa-jiwa yang haus akan ilmu dan kebahagiaan.

Pengalaman bersama kelompok 3B di bawah asuhan Pak Gun ini membuktikan bahwa bahagia itu sederhana. Ia bisa ditemukan di antara kecipak air, di dalam tawa saat gagal praktik, tengelam dan minum air kolam. Di  layar ponsel saat mengenang kembali perjuangan sore hari. Kolam renang bukan lagi sekadar tempat olahraga, melainkan tempat kami menemukan kembali jati diri yang ceria, sehat, dan penuh energi positif. Belajar renang di usia senja bukan lagi tentang seberapa cepat kita sampai ke ujung kolam, melainkan tentang seberapa lebar senyum yang kita bawa pulang ke rumah untuk dibagikan kepada keluarga. Semoga bermanfaat.

Cepu, 2 Mei 2026

Bukan Sulap

 

Karya: Gutamining Saida

Sabtu sore, suasana pembelajaran terasa begitu hangat . Kami dipandu oleh Pak Gun, seorang mentor yang tidak hanya sabar, tetapi juga sangat memahami psikologi siswanya yang heterogen. Pak Gun memiliki metode yang unik dalam mengelola siswanya. Beliau mengelompokkan kami berdasarkan kemampuan menyerap materi, kecepatan mempraktikkan teori, dan tentu saja faktor usia. Pengelompokan ini bukan untuk membeda-bedakan dalam arti negatif, melainkan agar setiap individu mendapatkan porsi perhatian yang pas sesuai dengan kapasitas masing-masing.

Saya tergabung dalam sebuah kelompok kecil yang terdiri dari tiga orang. Bu Nani, bu Nur dan saya. Pak Gun dengan nada canda yang khas menjuluki kami sebagai Kelompok 3B. Huruf "B" yang pertama adalah Berbobot, sebuah istilah halus untuk mengatakan bahwa kami memiliki pengalaman hidup yang padat (atau mungkin secara fisik memang mantap). "B" yang kedua adalah Berumur, pengakuan jujur bahwa kami adalah barisan senior dalam usia di kelas ini. Sedangkan "B" yang ketiga seolah menjadi teka-teki yang menggantung yaitu "Berani-berani Takut".

Di Kelompok 3B inilah, drama kecil nan menggelitik sering terjadi. Harus diakui, belajar di usia kepala lima menuju enam memiliki tantangan tersendiri. Ada tembok besar bernama "pertimbangan" dan "rasa takut yang berlebih". Saat melihat Pak Gun memberikan contoh, semuanya tampak begitu sederhana, mengalir, dan mudah dilakukan. Dalam pikiran kami, "Ah, itu mudah, saya pasti bisa." Namun, begitu tiba giliran kami untuk praktik, realitanya berbanding terbalik 180 derajat. Tiba-tiba saja gerakan tangan salah, kaki tak digerakkan, gegapan, kecebur dan perasaan was-was menyelimuti hati.

"Pak... saya kok belum bisa-bisa ya?" celetuk salah satu dari kami dengan nada agak putus asa setelah berkali-kali mencoba namun tetap saja salah.

Pak Gun, dengan ketenangan seorang guru sejati, menanggapi keluhan kami dengan jawaban yang sangat menohok sekaligus menenangkan. "Namanya belajar ya butuh proses, Bu. Pak Gun ini guru, bukan tukang sulap!" ujarnya sambil terkekeh. Beliau kemudian mengimbuhkan kalimat yang sangat membekas, "Kalau sekali coba langsung bisa, itu namanya sulapan. Kita di sini bukan sedang atraksi, kita sedang menanam ilmu."

Kalimat itu seketika meruntuhkan ekspektasi instan yang sering kali menghantui kami. Sering kali, kami merasa malu karena sudah berkali-kali praktik namun tetap saja tidak ada keberanian yang muncul, atau penguasaan materi yang masih jauh dari sempurna. Ada rasa "sungkan" pada usia sendiri merasa seharusnya di usia setua ini kami bisa lebih cepat paham. Padahal, mata dan otak mungkin berkata "paham", tetapi fisik dan mental sering kali membutuhkan waktu lebih lama untuk sinkron.

Melihat Pak Gun melakukan praktik itu seperti menonton pertunjukan yang sangat mudah begitu luwes. Namun saat kami mencoba sendiri, yang terjadi adalah "salah melulu". Terkadang kaki salah gerak, tangan salah posisi, atau urutan yang tertukar. Di sinilah letak keindahan belajar dalam kelompok 3B. Meskipun penuh dengan kesalahan dan rasa takut, kami tetap tertawa. Kami menertawakan kesalahan kami sendiri, sekaligus saling menyemangati bahwa "salah" adalah bagian dari proses yang harus kami lewati.

Pak Gun tidak pernah bosan mengingatkan bahwa pengulangan adalah kunci. Bagi kami yang sudah "berumur", pengulangan mungkin harus dilakukan beberapa kali lebih banyak dibandingkan mereka yang masih muda. Setiap tetes keringat karena rasa takut yang dilawan, setiap rasa malu karena salah praktik, adalah bagian dari ibadah menuntut ilmu.

Proses ini mengajarkan kami tentang kerendahan hati. Bahwa setinggi apa pun posisi atau pengalaman kami di luar sana, di kolam renang, kami tetaplah seorang siswa yang butuh bimbingan. Kami belajar untuk tidak terburu-buru, menghargai setiap progres kecil, dan yang paling penting, membuang jauh-jauh rasa takut akan kegagalan.

Sore itu, di bawah arahan Pak Gun, kami kembali mencoba. Meskipun masih ada getar ketakutan di kolam dan keraguan di gerakan kaki dan tangan, kami tetap mencoba. Karena kami tahu, selama jantung masih berdetak, kewajiban untuk belajar tidak akan pernah usai. Biarlah kami menjadi Kelompok 3B yang bergerak pelan, asalkan tidak berhenti. Sebab ilmu yang diraih dengan susah payah, biasanya akan terpatri. Belajar bukan tentang seberapa cepat kita sampai ke garis finis, tapi tentang seberapa tangguh kita menikmati setiap proses "salah melulu" hingga akhirnya menjadi "bisa karena terbiasa". Semangat selalu ya.

Cepu, 2 Mei 2026

Jumat, 01 Mei 2026

Gelagepan

                                           

Karya : Gutamining Saida

Pagi ini saya bersama teman-teman mendapat ilmu baru yang tak terlupakan. Semua bermula kemarin malam, saat Bu Lis usul kepada Pak Gun, "Pak, besok diajari geblak alias mlumah ya." Permintaan itu langsung disambut tawa dan emoji lucu oleh anggota grup. Bahkan ada yang sudah merasa mahir langsung menawarkan jasa, "Besok saya bantu geblak Bu!"

Saat latihan tiba, Pak Gun memberikan instruksi tekniknya yaitu tidur telentang, pandangan lurus ke atas, kedua kaki lurus, dan kedua tangan melebar. Benar-benar posisi athang-athang. Saat  mencoba bangun setelah mempraktikkan posisi itu, Bu Lis malah glagepan (kelabakan/sesak napas ringan) sampai ditertawakan oleh Pak Gun.

Bu Nani yang melihat itu tak tahan untuk menggoda, "Latihan athang-athang kok mau bangun saja gelagapan, hmmm..." "Lha katanya belajar geblak," sahut Pak Gun santai sambil terkekeh. Masih dengan napas yang agak tersengal, Bu Lis mengaku, "Tadi setelah glagepan saya langsung minum dua gelas, Pak!"

Mendengar itu, Pak Gun langsung menyambar dengan wajah serius yang dibuat-buat, "Oooo... makanya air kolam di sini berkurang banyak!"Kami semua pun makin tertawa saat Pak Gun melanjutkan aktingnya, "Pantas saja tadi saya ditanya sama yang punya kolam, 'Pak Gun, ini air kolam kok berkurang drastis, siapa yang minum?' Ya saya jawab saja jujur, 'Itu lho, ibu-ibu yang latihan pagi tadi!'"

Sontak saja, tawa kami pecah membayangkan air kolam renang habis diminum gara-gara ilmu geblak permintaan  Bu Lis. Obrolan demi obrolan mengundang tawa sambil mengingat kejadian tadi pagi. Selamat berjumpa lagi di teknik yang lain bersama pak Gun.

Cepu, 1 Mei 2026




Langkahku di Perpusda



Karya: Gutamining Saida

Selasa pagi itu bukan sekadar pergantian waktu dari gelap menuju terang. Semburat fajar di ufuk timur Kabupaten Blora hari itu membawa aroma harapan yang berbeda. Kaki saya melangkah ringan menuju Gedung Perpustakaan Daerah (Perpusda) Kabupaten Blora, namun di dalam dada, ada debar yang tak biasa. Langkah ini bukan sekadar kunjungan rutin, melainkan sebuah ikhtiar untuk menimba ilmu, menyelami samudera kearifan lokal, dan menjemput takdir yang telah digariskan-Nya.

Seringkali kita merasa bahwa pencapaian adalah murni hasil keringat dan kecerdasan kita. Di ruang Perpusda hari itu, saya tersungkur dalam kesadaran yang paling dalam: "Laa haula walaa quwwata illa billah." Tiada daya dan upaya kecuali atas pertolongan Allah. Bisa berada di satu ruangan bersama 50 penulis hebat lainnya bukanlah sebuah kebetulan. Ini adalah skenario langit.

Saya bersyukur, di antara ribuan jiwa yang memiliki keinginan serupa, Allah Subhanahu Wata'alla mengetuk pintu hati saya dan membukakan jalan melalui izin-Nya. Menjadi bagian dari sebuah karya kolektif adalah amanah. Saya menyadari sepenuhnya bahwa saya berhasil duduk di sana bukan karena saya merasa lebih hebat dari yang lain. Tidak ada ruang bagi kesombongan ketika kita menyadari bahwa setiap ide yang terlintas, setiap diksi yang terpilih, dan setiap energi yang tersalurkan adalah titipan dari Sang Maha Pemilik Ilmu. Takdir-Nya lah yang memilih saya untuk membersamai para pejuang literasi ini.

Fokus saya jatuh pada sesuatu yang sangat dekat dengan denyut nadi kehidupan saya Kuliner Cepu. Mengapa kuliner? Karena di dalam sebungkus hidangan, terdapat filosofi syukur yang panjang. Dari hulu ke hilir, dari petani hingga ke meja makan, ada jejak rezeki yang diatur oleh-Nya dengan sangat rapi.

Mencoba merangkai kata tentang kuliner Cepu khususnya "WINGKO" di tengah suasana Cepu yang tenang adalah upaya saya untuk "membahasakan" rasa syukur. Cepu, dengan segala kekayaan rasanya, adalah tanah tempat saya berpijak. Menulis tentang jajanan khas daerah sendiri bukan hanya soal memuaskan lidah, tapi soal memuliakan nikmat Tuhan yang diturunkan melalui kesuburan tanah dan kreativitas tangan-tangan masyarakatnya. Setiap campuran adonan yang meresap, setiap aroma yang menggoda, adalah bukti kebaikan Allah yang tak terhingga.

Harapan yang tertanam di hati ini melampaui sekadar nama yang tercetak di sampul buku. Ada misi yang lebih luas, sebuah misi yang saya titipkan dalam doa-doa di sela tulisan diantaranya,

  1. Mengenalkan Kearifan Lokal: Bahwa Blora dan Cepu memiliki identitas yang kuat. Melalui tulisan ini, saya ingin dunia tahu bahwa ada keberkahan dalam setiap sajian jajanan khas kuliner kita.

  2. Menggerakkan Roda Ekonomi: Saya bermimpi, lewat goresan pena yang sederhana ini, warung-warung kecil milik warga, pelaku UMKM, dan pedagang kaki lima di pinggiran jalan Cepu dapat dikenal lebih luas. Jika tulisan ini mampu membawa satu pelanggan tambahan bagi mereka, maka itu adalah sedekah jariyah yang tak ternilai harganya. Menulis adalah cara saya membantu mengangkat ekonomi umat.

  3. Memperluas Cakrawala: Proses kreatif ini adalah sekolah kehidupan. Bertemu dengan penulis lain, bertukar pikiran, dan mendalami budaya sendiri adalah cara saya menambah wawasan agar tidak menjadi hamba yang kerdil pikirannya.

Banyak orang mencari bahagia dalam angka dan materi, namun bagi saya, kebahagiaan hari itu adalah bentuk syukur  kepada Yang Maha Pencipta. Bahagia karena diberi kesempatan untuk bermanfaat. Bahagia karena bisa menjadi perantara bagi syiar kebaikan daerah sendiri.

Setiap kalimat yang saya susun adalah tasbih yang saya rapalkan dalam diam. Setiap paragraf yang terbentuk adalah sujud syukur atas akal budi yang masih berfungsi dengan baik. Saya percaya, ketika kita menulis dengan niat lillahi ta'ala, maka tulisan itu akan memiliki "ruh". Ia tidak akan hanya berhenti di mata pembaca, tapi akan meresap ke dalam hati dan menggerakkan perubahan.

Perjalanan di Perpusda Blora ini hanyalah awal. Menulis tentang budaya dan kuliner adalah cara kita menjaga warisan Tuhan. Kita hanyalah pena, dan Allah adalah Sang Penulis Takdir yang sesungguhnya. Jika kelak karya bersama 50 penulis ini terbit dan menebar manfaat, itu adalah semata-mata karena rahmat-Nya yang melimpah.

Saya pulang membawa lebih dari sekadar ilmu kepenulisan. Saya pulang membawa ketenangan jiwa, bahwa dengan menulis, saya sedang berbicara dengan masa depan, sambil tetap merunduk pada Sang Pemilik Kehidupan. Semoga setiap huruf yang tertuang menjadi saksi di akhirat kelak, bahwa saya telah mencoba mencintai tanah kelahiran saya dengan cara yang paling terhormat yaitu melalui literasi.

"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" (QS. Ar-Rahman).

Melalui kuliner jajanan khas Cepu, melalui sejarah Blora, dan melalui kebersamaan ini, saya menemukan jawaban bahwa syukur tak cukup hanya di lisan, ia harus mewujud dalam karya yang nyata. Mari kita terus berkarya, bukan untuk dipuji manusia, tapi untuk mencari ridha-Nya. Selamat menulis, selamat menebar keberkahan melalui aksara.

Cepu, 30 April 2026

Rabu, 29 April 2026

Sapaan Pak Gun

 


Karya: Gutamining Saida

"Sehat itu investasi. Mulailah hari ini, karena tubuhmu adalah satu-satunya tempat tinggal yang kamu miliki seumur hidup."

Pagi menyapa dengan lembut melalui getaran ponsel di atas meja. Sebuah pesan masuk di grup WhatsApp bukan sekadar pesan basa-basi, melainkan untaian doa yang dipanjatkan oleh Pak Gun. Sebagai sosok guru yang penuh perhatian, sapaannya selalu membawa kesejukan. Satu per satu anggota grup membalas dengan kata "Aamiin Ya Robbal Alamin", sebuah bentuk tata krama digital yang sederhana.. Sebagai tanda bahwa doa tersebut telah meresap ke dalam sanubari.

Pagi ini Pak Gun tidak hanya membawa doa. Beliau membawa sebuah perenungan mendalam tentang ikhtiar sehat. Dengan nada yang kebapakan, Pak Gun mengingatkan kita pada fenomena alamiah manusia. Bagi mereka yang telah melampaui usia 50 tahun, tubuh tak lagi bisa berbohong. Kondisi kesehatan telah jauh berbeda dibandingkan saat masih muda. Beliau menyebutnya sebagai momen di mana "kenikmatan mulai dikurangi secara perlahan oleh Allah Subahanahu Wata'alla."

Dulu, berjalan kaki berkilo-kilometer terasa ringan. Kini, untuk jarak dekat pun kita lebih memilih memutar kunci motor atau menginjak gas mobil, bahkan naik kendaraan lainnya. Dulu, menaiki tangga adalah hal sepele, kini lutut mulai protes, dan lift menjadi sahabat setia. Ini adalah pengingat bahwa raga kita memiliki masa pakai, dan tanpa perawatan yang tepat, ia akan aus sebelum waktunya.

Salah satu ilmu baru yang dibagikan Pak Gun adalah ajakan untuk bersahabat dengan air. Mengapa air? Air adalah sumber kehidupan. Air bukan hanya untuk diminum, tetapi juga sebagai media terapi fisik yang paling ramah bagi persendian yang mulai menua. Bagi mereka yang sulit berlari atau melompat karena faktor usia, air menawarkan solusi melalui olahraga atau sekadar berjalan di dalam kolam. Massa jenis air menopang berat badan kita, sehingga beban pada lutut dan tulang belakang berkurang drastis. Inilah cara cerdas untuk tetap bergerak tanpa menyakiti raga. Air mengajarkan kita tentang kelenturan, ketenangan, dan konsistensi.

Pak Gun mengajak kita bersahabat dengan air sejalan dengan wahyu Allah dalam Al-Qur'an. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Anbiya ayat 30:

"...Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?"

Ayat ini menegaskan bahwa air merupakan inti dari eksistensi makhluk hidup. Sel-sel tubuh kita, darah yang mengalir, hingga metabolisme yang membakar energi, semuanya membutuhkan air. Dengan menjaga hidrasi dan memanfaatkan air untuk terapi fisik, kita sebenarnya sedang menjaga amanah kehidupan yang Allah Subhanahu Wata'alla titipkan pada tubuh kita. Selain itu saran dari pak Gun kita butuh gerak badan. Sesuai perintah Allah Subhanahu Wata'alla mengingatkan tentang pentingnya gerak dan perubahan dalam Surah Ar-Ra’d ayat 11:

"...Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri..."

Sehat tidak datang dengan berdiam diri. Sehat adalah hasil dari perubahan gaya hidup, dari malas bergerak menjadi aktif bergerak, dari pola makan sembarangan menjadi tertata.

Ada kisah tokoh yang tidak mengenal kata "terlambat". Kisah seorang pria bernama Kakek Fauja Singh. Fauja Singh bukanlah atlet sejak muda. Ia mulai menekuni olahraga lari maraton di usia yang sangat senja, yaitu 89 tahun. Mengapa? Karena ia mengalami duka mendalam setelah kehilangan istrinya dan ingin mencari cara untuk tetap sehat secara mental dan fisik. Banyak orang mencibir, menganggap fisiknya yang sudah renta tidak akan kuat menahan beban lari jarak jauh.

Fauja Singh memilih untuk "bersahabat dengan alam". Ia mengatur pola makannya dengan sangat ketat (vegetarian) dan banyak mengonsumsi air putih serta teh jahe. Ia tidak memaksakan diri, tetapi ia konsisten bergerak setiap hari. Hasilnya? Di usia 100 tahun, ia menjadi orang tertua yang menyelesaikan maraton penuh (42 km) di Toronto.

Kisah Fauja Singh adalah bukti nyata dari apa yang dipesankan Pak Gun: "Tidak ada kata terlambat untuk memulai." Sehat jasmani akan mendukung sehat rohani. Ketika raga bugar, ibadah menjadi lebih khusyuk, sujud bisa lebih lama, dan kita bisa lebih banyak bermanfaat bagi orang lain.

Inti dari nasihat Pak Gun pagi ini adalah tentang kesadaran. Banyak orang mencari sehat dengan metode instan, obat-obatan mahal, atau alat-alat canggih. Padahal, kuncinya sederhana yaitu gerak badan dan olah raga.

Olahraga bukan hanya tentang membentuk otot, tetapi tentang menjaga fungsi organ agar tetap optimal di masa tua. Dengan bersahabat dengan air, menjaga asupan, dan tetap aktif bergerak meskipun hanya berjalan santai, kita sedang mensyukuri nikmat sehat yang masih tersisa.

Mari kita jadikan pesan Pak Gun sebagai pemantik semangat. Usia boleh bertambah, tenaga mungkin berkurang, namun semangat untuk berikhtiar sehat tidak boleh padam. Karena raga ini adalah kendaraan kita untuk pulang menghadap-Nya dalam keadaan terbaik.

Cepu, 30 April 2026

Senin, 27 April 2026

Testimoni Siswa Pak Gun

Karya : Gutamining Saida

Senin malam, pukul 20.30 WIB. Di saat rutinitas harian mulai melambat dan tubuh menuntut istirahat, saya justru menemukan sebuah sumber energi baru. Begitu layar ponsel menyala, rentetan pesan di grup Muda Swimming Squad memenuhi notifikasi. Di sana, nama saya disebut oleh sang guru, Pak Gun sosok yang bukan hanya mengajar kami teknik menggerakkan lengan dan kaki, tapi juga teknik mengelola rasa syukur.

Seketika, kantuk saya hilang. Motivasi itu membuncah hingga saya memutuskan untuk membuka laptop, merangkai kata demi kata. Saya merasa, ilmu yang saya dapatkan dari Pak Gun, meski hanya setetes, adalah amanah yang harus dibagikan. Karena bukankah sebaik-baiknya nikmat adalah yang disyukuri, dan sebaik-baiknya syukur adalah yang bermanfaat bagi sesama?

Dalam obrolan grup yang semakin seru itu, saya tertegun membaca testimoni teman-teman. Pak Gun menceritakan tentang Mas Andrian, yang setelah rutin menceburkan diri di kolam, mendapati perutnya mengecil secara drastis hingga semua celananya kedodoran. Ada pula kisah Bu Etik, yang selama ini "berteman" dengan obat migrain, namun menemukan kesembuhan justru saat belajar "jungkir balik" di dalam air.

Membaca itu, saya teringat akan sebuah pesan spiritual bahwa Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Air bukan sekadar benda mati, ia adalah media penyembuh yang disiapkan Sang Pencipta bagi hamba-Nya yang mau berikhtiar.

Saran Pak Gun sangat menusuk kalbu: "Jika terasa sakit, tidak perlu langsung ke apotek agar tidak ketergantungan obat." Kalimat ini terdengar seperti ajakan untuk kembali ke fitrah. Ke kolam renang bukan sekadar urusan olahraga, tapi urusan "pulang" ke dasar penciptaan manusia. Bu Sulikah pun menimpali dengan kalimat yang sangat puitis namun nyata, bahwa di kolam itulah kita menemukan "obat murah".

Saat Pak Gun membimbing saya untuk tidak lagi takut pada kedalaman, saya menyadari bahwa ketakutan kita selama ini sering kali hanya ada di pikiran. Kita takut tenggelam, kita takut lelah, kita takut pada penilaian orang lain. Di bawah bimbingan Pak Gun yang sabarnya seluas samudera, ketakutan itu luruh satu per satu. Beliau mengajarkan bahwa air akan menopang siapa saja yang tenang. Hanya dalam kondisi tenanglah, manusia bisa mengapung di atas ujian hidup. Jika kita panik dan melawan dengan emosi, kita justru akan tenggelam dalam masalah.

Kisah Mas Andrian yang celananya kedodoran bukan sekadar cerita tentang diet yang berhasil. Secara rohani, itu adalah simbol tentang bagaimana beban-beban lemak dan penyakit bisa luruh jika kita disiplin dalam berikhtiar. Begitu juga dengan Bu Etik migrain yang hilang setelah "jungkir balik" di air mengajarkan bahwa terkadang kita perlu melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda bahkan jika harus jungkir balik untuk menemukan kesembuhan dan solusi dari Sang Khalik.

Saya merasa tertinggal jauh saat ingin mengomentari keramaian di grup itu. Akhirnya menjadi pengamat pun adalah sebuah berkah. Dari layar kecil itu, saya melihat sebuah komunitas yang tidak hanya mengejar kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan jiwa. Kami adalah rombongan orang-orang yang menolak menyerah pada usia.

Pak Gun, dengan sapaannya yang keren dan pembawaannya yang berwibawa, telah menjadi perantara bagi kami untuk melihat kekuasaan Tuhan dalam diri kami sendiri. Beliau meyakinkan saya bahwa nenek-nenek pun punya hak untuk merasa gagah di dalam air. Beliau mengajarkan bahwa rasa malu kepada yang sudah mahir harus digantikan dengan rasa semangat untuk terus memperbaiki diri.

"Belajarlah dari buaian hingga liang lahat," sebuah pesan yang begitu nyata saya rasakan di pinggir kolam itu. Tidak ada kata malu untuk belajar mengambang, meski di samping kita ada balita yang sudah lincah meluncur. Justru di sanalah letak seninya menghancurkan kesombongan diri dan mengakui bahwa di hadapan ilmu Tuhan, kita semua adalah pemula.

Bagi pembaca setia saya, mungkin apa yang saya tulis ini terdengar sederhana. Hanya tentang berenang di usia senja. Namun bagi saya, ini adalah tentang merayakan sisa usia dengan cara yang dicintai Tuhan yaitu menjaga kesehatan.

Bisa bahagia di dalam air adalah sebuah kemewahan batin. Saat tubuh terasa ringan karena daya apung air, saat itulah beban-beban pikiran seolah dilepaskan satu per satu ke dasar kolam. Kita keluar dari air dengan perasaan yang lebih segar, jiwa yang lebih tenang, dan iman yang lebih mantap.

Kita tidak perlu selalu mencari kesembuhan di dalam botol-botol kimia jika kita bisa menemukannya dalam setiap riak air yang kita belah dengan tangan kita sendiri. Pak Gun telah membuka mata kami, bahwa sehat itu dekat, sehat itu murah, dan sehat itu adalah bagian dari ibadah.

Sambil merangkai kata-kata ini, saya tersenyum sendiri mengingat obrolan di grup Muda Swimming Squad. Senin malam ini menjadi istimewa bukan karena pencapaian besar duniawi, melainkan karena rasa syukur yang meluap.

Terima kasih Pak Gun, sang motivator yang tak kenal lelah. Terima kasih teman-teman seperjuangan yang telah menjadi inspirasi lewat celana yang kedodoran dan migrain yang hilang. Semoga tulisan ini menjadi pengingat bagi saya dan siapa pun yang membacanya bahwa selama napas masih dikandung badan, pintu untuk sehat dan belajar selalu terbuka lebar.

Jangan biarkan usia membelenggu langkahmu. Allah Subhanahu Wata'alla menciptakan air untuk kita seberangi, bukan untuk kita takuti. Dan di tangan guru yang tepat seperti Pak Gun, air yang semula asing kini menjadi sahabat karib bagi jiwa-jiwa yang haus akan kesehatan dan kedamaian. Sampai ketemu di hari Jum'at bersama pak Gun.

Cepu, 27 April 2026


Bersahabat Dengan Air


Karya: Gutamining Saida

Malam ini, di bawah temaram lampu kamar, saya merenungi sebuah perjalanan yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Di usia yang sudah melewati angka lima puluh tahun usia di mana orang-orang biasanya memilih untuk duduk di kursi goyang sambil menimang cucu. Saya justru memilih untuk menceburkan diri ke dalam kolam renang. Bukan sekadar berendam, tapi berjuang melawan rasa takut yang telah mengakar selama puluhan tahun.

Di balik perjuangan ini, ada satu nama yang selalu bergema di telinga kami yaitu  Pak Gun. Bagi kami, para siswanya, Pak Gun bukan sekadar instruktur renang. Beliau adalah cermin dari sifat  sabar yang luar biasa. Bayangkan saja, rentang usia muridnya begitu kontras. Di satu sisi, ada balita yang tawa dan tangisnya masih murni, yang melihat air sebagai taman bermain. Di sisi lain, ada kami barisan "nenek-nenek" yang membawa beban ketakutan, trauma masa lalu, dan sejuta pertimbangan logis yang justru sering kali menghambat gerak.

Mengajar balita mungkin hanya butuh keceriaan.  Pak Gun mengajar kami yang sudah berkepala lima ke atas? Itu butuh mukjizat kesabaran. Kami adalah tipe murid yang penuh dengan "tapi". "Tapi Pak, nanti kalau kaki saya kram bagaimana?" "Tapi Pak, kalau saya tenggelam bagaimana?" "Tapi Pak, kedalaman ini rasanya seperti samudera tak bertepi." Pak Gun hanya tersenyum, mendengar komentar kami.

Pikiran-pikiran itu sering kali membuat kami kaku. Dalam ajaran agama, kita diajarkan bahwa ketakutan yang berlebihan terkadang bisa menutup mata hati kita terhadap kekuasaan Tuhan yang ada di sekeliling kita. Air, yang seharusnya menjadi sumber kehidupan dan penyucian diri, justru menjadi monster dalam hidup kami. Pak Gun dengan ketenangan yang seperti air itu sendiri, tidak pernah sekalipun menunjukkan raut jemu, muka marah yang ada hanyalah senyuman.

Beliau memandang kami bukan sebagai beban, melainkan sebagai hamba Allah yang sedang berikhtiar menjaga amanah berupa tubuh yang sehat. Beliau menghadapi "rewelnya" nenek-nenek dengan senyum yang sama tulusnya saat beliau menyambut tawa balita. Puncak dari kebahagiaan saya terjadi kemarin hari Sabtu. Bagi seorang atlet atau anak muda, kedalaman 120 cm mungkin dianggap remeh, kecil bahkan dangkal. Bagi saya, itu adalah sebuah pencapaian yang besar.

Saat kaki saya tidak lagi menyentuh dasar secara kokoh, dan tubuh saya mulai diselimuti oleh massa air, di sanalah saya belajar tentang Tawakal. Pak Gun membimbing saya untuk tidak melawan air, melainkan bersahabat dengannya. Beliau mengajarkan bahwa jika kita tenang, air akan mengangkat kita. Bukankah hidup juga demikian? Jika kita tenang dan berserah diri kepada takdir-Nya, badai seberat apa pun akan membuat kita tetap mengapung.

"Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup..." (QS. Al-Anbya: 30)

Ayat itu terasa begitu nyata saat saya akhirnya bisa mengambang. Di dalam air yang tenang itu, saya menemukan kedamaian yang luar biasa. Hilang sudah rasa malu saat melihat teman-teman lain yang sudah mahir meluncur dengan lincah. Hilang sudah rasa minder karena usia. Yang ada hanyalah rasa syukur karena Allah Subhanahu Wata'alla masih memberi saya kesempatan untuk mencicipi nikmat-Nya yang berupa nikmat bisa bergerak, nikmat bernapas, dan nikmat menaklukkan ego sendiri.

Ilmu yang diberikan Pak Gun bukan sekadar teknik pernapasan atau gerakan tungkai. Beliau mengajarkan tentang kerendahan hati. Beliau, dengan segala keahliannya, mau merunduk dan membimbing kami yang bergerak lamban. Dari beliau saya belajar bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain, tanpa memandang status atau usia.

Sering kali di tengah latihan, saya melihat Pak Gun mengarahkan kami dengan bahasa yang sangat lembut. Tidak ada bentakan, yang ada hanyalah motivasi. Beliau seolah-olah sedang menanamkan benih keberanian di tanah yang sudah mulai kering. Beliau meyakinkan saya bahwa tidak ada kata terlambat untuk belajar. Tidak ada penghalang walau sudah nenek-nenek.

Belajar di usia senja memang berat. Otot tidak lagi seelastis dulu, ingatan terkadang meleset, dan rasa was-was sering menghantui.Melalui perantara Pak Gun, Allah Subhanahu Wata'alla menunjukkan bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh tidak akan pernah sia-sia.

Saya tidak lagi melihat air sebagai ancaman yang akan menenggelamkan, melainkan sebagai makhluk Allah Subhanahu Wata'alla yang menopang tubuh saya. Saya merasa bahagia. Bahagia yang sangat sederhana. 

Bisa mengambang di permukaan air membuat saya merasa begitu ringan. Segala beban pikiran tentang "nanti gini, nanti gitu" seolah luruh bersama aliran air di kolam itu. Saya tidak lagi patah semangat. Justru, semangat ini semakin membara karena saya tahu, di tepi kolam sana, ada Pak Gun yang dengan sabar menunggu dan siap mengoreksi jika saya salah.

Saya merasa sangat beruntung. Di usia saya yang tidak lagi muda, Allah Subhanahu Wata'alla  mempertemukan saya dengan lingkungan belajar yang positif. Bersama teman-teman seperjuangan, kami saling menguatkan. Tidak ada kompetisi, yang ada hanyalah keinginan untuk sehat dan bahagia bersama.

Teriring doa Semoga Pak Gun selalu diberi kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkahnya. Kesabaran beliau dalam membimbing kami, para nenek-nenek yang penuh pertimbangan ini, semoga dicatat sebagai amal jariyah yang pahalanya mengalir tiada putus, seperti air yang beliau ajarkan kepada kami. Terima kasih, Pak Gun. Barokallah.

Cepu, 27 April 2026

Sabtu, 25 April 2026

Pertemuan Singkat


Karya : Gutamining Saida 

Pertemuan yang diatur oleh semesta seringkali bukan sekadar kebetulan, melainkan skenario indah yang telah dituliskan oleh Sang Pemilik Takdir. Sabtu sore yang tenang menyuguhkan langit yang mulai meneteskan air seolah memberikan isyarat bahwa akan ada tangis kebahagiaan. Di tengah keramaian kolam Bumool, Allah Subhanahu Wata'alla mempertemukan saya kembali dengan sepotong kenangan masa lalu yang sempat terpisah oleh tabir waktu dan jarak.

Sudah empat belas bulan lamanya saya meninggalkan tugas di Kedungtuban. Selama itu pula, wajah-wajah murid yang dulu setiap hari menghiasi hari-hari saya perlahan mulai memudar dalam ingatan. Semua itu tertutup oleh rutinitas baru dan pertemuan-pertemuan lain yang tak kalah padatnya. Namun, sore itu berbeda. Di antara sekian banyak anak dan orang perempuan, seorang gadis manis berjalan ke arah saya dengan binar mata yang penuh kerinduan.

Dia masih sangat mengenali saya. Sebaliknya, saya justru terpaku, mencoba mengais sisa-sisa memori yang mungkin tertinggal di sudut pikiran. Saya mengamati langkahnya yang semakin mendekat. Dia bukan lagi gadis kecil yang saya ingat di bangku kelas delapan dulu. Kini, penampilannya tampak jauh lebih dewasa, tubuhnya lebih berisi, dan satu hal yang membuat saya sempat ragu adalah dia sedang tidak mengenakan jilbab. Perubahan fisik yang drastis ini benar-benar menguji daya ingat saya.

"Bu Saida...!" serunya dengan nada penuh kehangatan yang tak mampu ia sembunyikan.

Tanpa ragu, ia merengkuh tubuh saya dalam sebuah pelukan erat. Sebuah pelukan yang seketika meruntuhkan tembok keraguan saya. Kehangatannya terasa tulus, sebuah manifestasi dari rasa hormat seorang murid kepada gurunya.

"Ooooh, kamu Asley ya?" jawab saya singkat setelah berhasil menyusun kepingan ingatan.

"Iya, Bu... Dari tadi sudah saya panggil-panggil, Bu Saida diam saja," lanjutnya dengan nada manja yang mengingatkan saya pada masa-masa di kelas delapan B dulu.

"Maaf, maaf... Ibu tadi samar sekali, kamu sudah banyak berubah, Nak," ucap saya membela diri sambil tersenyum kecil. Ada rasa haru yang menyelinap; betapa seorang guru seringkali lupa pada wajah muridnya karena banyaknya wajah yang ditemui, namun seorang murid jarang sekali melupakan sosok yang pernah menanamkan ilmu di dalam dadanya.

Pertemuan singkat itu terputus sejenak karena saya harus menuju ruang ganti. Rncana Allah tidak berhenti di situ. Saat saya hendak bersiap pulang, langkah saya terhenti oleh sapaan seorang guru senior yang sangat saya hormati, beliau Pak Gun.

"Bu Saida... Ini muridnya, ya?" tanya Pak Gun sambil menunjuk ke arah Asley.

"Iya, Pak. Alhamdulillah bisa ketemu di sini" jawab saya terheran-heran.

"Iya, ini murid saya waktu saya masih bertugas di Kedungtuban dulu," jelas saya lagi.

Akhirnya, kami berempat duduk bersama. Sebuah obrolan hangat pun mengalir, membelah keheningan sore yang kian beranjak menuju maghrib. Kami bercerita banyak hal, mulai dari kabar kawan-kawan lama di Kedungtuban hingga perjalanan hidup yang telah dilalui Asley selama empat belas bulan terakhir. Di sela-sela obrolan itu, betapa luar biasa cara Allah menyambung kembali tali silaturahmi.

Silaturahmi bukan sekadar berkunjung atau mengobrol. Silaturahmi adalah jembatan keberkahan yang mampu memperpanjang usia dan melapangkan rezeki. Pertemuan dengan Asley sore itu adalah rezeki batin yang tak ternilai harganya bagi saya. Melihatnya tumbuh menjadi sosok yang percaya diri dan tetap memiliki adab untuk menyapa gurunya lebih dulu adalah sebuah pencapaian tersendiri bagi seorang pendidik.

Ada rasa syukur yang membuncah di dada. Saya menyadari bahwa tugas seorang guru tidak hanya selesai saat bel sekolah berbunyi atau saat masa pengabdian di suatu daerah berakhir. Jejak-jejak didikan itu akan terus dibawa oleh sang murid ke mana pun ia pergi. Meskipun penampilannya kini berbeda tanpa jilbab. Ssaya tetap melihat percikan cahaya  ketulusan dalam dirinya. Saya berdoa dalam hati agar hidayah selalu menyertai setiap langkahnya, dan agar ilmu yang pernah saya bagikan menjadi pelita baginya di tengah perubahan zaman yang kian cepat.

Kerinduan yang selama ini terpendam pun seolah terobati. Hadirnya Asley mewakili kerinduan saya pada seluruh siswa di Kedungtuban. Satu siswa saja sudah mampu membuat hati ini berbunga-bunga, apalagi jika seandainya saya bisa berkumpul kembali dengan seluruh siswa dalam satu kelas. Betapa riuhnya suasana itu, betapa banyak tawa yang akan pecah, dan betapa banyak doa yang akan terucap.

Saya sadar bahwa hidup adalah tentang fase yang harus dilewati. Ada masa untuk menanam, dan ada masa untuk melihat benih-benih itu tumbuh di ladang yang berbeda. Asley adalah salah satu benih yang kini sedang merekah di ladang barunya.

Sore itu ditutup dengan sebuah harapan yang saya gantungkan setinggi langit. Semoga pertemuan ini bukanlah yang terakhir. Semoga di lain waktu, Allah Subhanahu Wata'alla mengizinkan kami berkumpul kembali dalam suasana yang jauh lebih indah, mungkin dalam sebuah reuni besar di mana semua wajah hadir dengan cerita sukses dan keberkahan masing-masing.

Sabtu sore itu bukan lagi sekadar pergantian hari menuju akhir pekan, melainkan sebuah pengingat dari Sang Khalik bahwa tidak ada yang benar-benar hilang dalam kasih sayang-Nya. Jarak boleh memisahkan, waktu boleh berlalu, ikatan batin antara guru dan murid adalah ikatan abadi yang akan terus hidup dalam doa-doa yang tulus. Terima kasih, Ya Allah, atas pertemuan singkat. Kumpulkanlah kami kembali dalam kebaikan, baik di dunia maupun di Jannah-Mu kelak. Aamiiin.

Cepu, 26 April 2026

Jumat, 24 April 2026

Sepincuk Nasi Pecel

 


Karya : Gutamining Saida

Di pinggir lintasan double track yang membelah kota Cepu, sebuah warung nasi pecel berada. Warung  sederhana  menjadi saksi bisu bagaimana takdir bekerja dalam porsi-porsi kecil yang mengenyangkan perut. Sepincuk nasi dengan siraman sambal kacang menggugah selera pembeli.

Sore itu, langit berwarna jingga tembaga. Suara gemuruh kereta api yang melintas di jalur ganda menciptakan simfoni bising yang justru terasa akrab di telinga para pelanggan nasi pecel. Kerumunan pembeli semakin memadat. Ada pemuda dengan jaket ojek daringnya, ibu-ibu yang masih mengenakan daster, hingga bapak-bapak parlente yang memarkir mobil mewahnya di bahu jalan. Di mata Tuhan, mereka semua sama: hamba-hamba lapar yang sedang menjemput rezeki dalam bentuk nasi lengkap sayuran rebus dan bumbu kacang.

Saya berdiri di sana, menghirup aroma wangi sambal kacang yang menguar dari adonan di mangkok. Saya sudah membayangkan sepotong tempe goreng yang garing, berwarna cokelat keemasan, sebagai pendamping nasi pecel. Tempe adalah kemewahan sederhana, sebuah bentuk syukur atas hasil bumi yang diolah dengan sabar.

"Tempenya masih digoreng, bu. Masih basah, belum kering. Mau nunggu?" tanya penjual yang sudah nenek-nenek.  tanpa mengalihkan pandangan dari tangannya yang lincah menata kangkung dan tauge. Saya melirik ke arah wajan besar. Seorang laki-laki ceritanya cucunya yang bagian mengoreng. Di sana, potongan-potongan tempe masih berenang di dalam minyak panas, mengeluarkan bunyi desis yang menandakan proses pematangan masih panjang. Di belakang, antrean semakin mengular. Beberapa orang memilih untuk setia menunggu. Mereka berdiri mematung, pandangannya terkunci pada wajan, seolah-olah kebahagiaan hidup mereka bergantung sepenuhnya pada tingkat kerenyahan tempe tersebut.

Pada saat itulah, sebuah bisikan lembut muncul di hati. Bukankah hidup seringkali memaksa kita memilih antara keinginan dan ketetapan waktu?

"Mbah, saya lauk kerupuk saja dua," jawab si anak saya mantap.

Keputusan itu spontan, namun terasa benar. Anak saya memilih kerupuk sesuatu yang ringan, rapuh, namun segera tersedia. Mbahnya tersenyum, dengan cepat ia mengambil nasi ditambah sayuran dan sambal, meletakkan dua kerupuk putih yang lebar di atasnya, dan menyerahkannya kepada anak saya.

Saat saya dan anak melangkah keluar warung membawa sepincuk nasi pecel,  menoleh sejenak. Orang-orang yang bersikeras menunggu tempe goreng masih berdiri di sana. Mereka terjebak dalam penantian. Sementara itu, saya sudah bisa menikmati di kursi luar.  Kerupuk yang kuterima bukan sekadar pelengkap makan, melainkan simbol keridaan atas apa yang ada di depan mata. Sambil menikmati nasi pecel bersama kerupuk yang renyah. Kerupuk itu hancur saat digigit, mengingatkanku bahwa dunia ini pun fana dan mudah hancur. Di balik kriuknya, ia memberikan rasa gembira.

Ada beberapa hikmah yang bisa dipetik antara lain,
1. Menerima kerupuk saat hati menginginkan tempe adalah latihan kecil untuk selalu merasa cukup            dengan pemberian-Nya.
2. Kita mengorbankan waktu yang sangat mahal hanya untuk mengejar kenikmatan materi yang sepele.
3. Dua kerupuk adalah rezeki terbaik dari Sang Pencipta
Nasi pecel sore ini bukan hanya mengenyangkan perut, tapi juga memberi kenikmatan pada jiwa-jiwa  yang seringkali lupa cara berterima kasih.

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."

Cepu, 25 April 2026