Karya : Gutamining Saida
Momen perpisahan sering kali identik dengan suasana haru, isak tangis, dan untaian kata-kata puitis yang menyayat hati. Sabtu pagi di lapangan SMPN 3 Cepu, narasi perpisahan ditulis dengan tinta yang berbeda. Tidak ada awan mendung kesedihan yang menggelayut; yang ada justru pancaran sinar dengan binar kebahagiaan di wajah ratusan siswa. Purna tugas Bapak Bambang, sosok guru Ilmu Pengetahuan Sosial yang selama ini menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut nadi SMPN 3 Cepu.
Sesi pamitan Pak Bambang dimulai. Lapangan sekolah yang biasanya menjadi saksi ketegasan disiplin, mendadak berubah menjadi panggung keakraban, keseruan yang hangat. Pak Bambang, dengan senyum khas yang selalu menyapa siapa pun di koridor sekolah, berdiri di depan mikrofon. Bukan untuk mengajarkan tentang geografi atau sejarah, ekonomi, melainkan untuk merayakan akhir masa baktinya dengan cara yang paling unik.
Alih-alih memberikan pidato perpisahan yang formal. Pak Bambang memilih untuk menghidupkan suasana melalui interaksi langsung. Beliau memahami bahwa cara terbaik untuk dikenang adalah dengan meninggalkan jejak kegembiraan. Setelah sepatah kata pamit yang tulus, beliau mengejutkan semua orang dengan mengeluarkan "amunisi" perpisahan yang tidak biasa sejumlah lembaran uang kertas lima puluh ribuan yang telah disiapkan rapi dari rumah.
"Siapa yang bisa menjawab pertanyaan saya, silakan maju ke depan!" seru beliau dengan suara yang masih lantang, memecah rasa penasaran para siswa.
Seketika, atmosfer lapangan berubah menjadi riuh. Tantangan tersebut disambut dengan antusiasme yang luar biasa. Bagi para siswa, ini bukan sekadar tentang nilai nominal uang yang ditawarkan, melainkan tentang momen kedekatan terakhir dengan sang guru tercinta. Pak Bambang mulai melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan mata pelajaran yang selama ini beliau ampu. Pertanyaan-pertanyaan seputar wawasan kebangsaan, perkembangan teknologi handphone, letak astronomis Indonesia, hingga tokoh-tokoh sejarah meluncur satu per satu.
Suasana kompetisi yang sehat pun tercipta. Siswa-siswi saling berebut berlari menuju ke pak Bambang yang berada di tengah lapangan. Setiap kali seorang siswa berhasil menjawab dengan tepat, mereka langsung mendapat lima puluh ribu rupiah. Di tengah lapangan yang panas terasa sejuk karena tawa, Pak Bambang menyerahkan selembar uang kertas dengan tangan terbuka.
Pemandangan itu sungguh menyentuh. Ada binar kebanggaan di mata siswa yang berhasil menjawab, bukan hanya karena hadiahnya. Mereka berhasil memberikan "hadiah" terakhir bagi Pak Bambang berupa pembuktian bahwa ilmu yang diajarkan selama ini telah terserap dengan baik. Senyum bahagia terpancar luas, tidak hanya dari para pemenang kuis dadakan itu, tetapi juga dari Pak Bambang sendiri. Beliau seolah sedang memanen hasil tanamannya selama puluhan tahun mengajar: kebahagiaan anak didik.
Bagi kalangan rekan sejawat, aksi Pak Bambang ini adalah cerminan kepribadian beliau selama ini. Beliau dikenal sebagai sosok yang ringan tangan, komunikatif, dan selalu punya cara untuk mencairkan suasana. Purna tugas baginya bukanlah sebuah akhir yang menyedihkan, melainkan garis finis yang dicapai dengan rasa syukur yang meluap. Beliau memilih untuk "membeli" kenangan terakhir para siswanya dengan keceriaan, memastikan bahwa nama "Pak Bambang" akan selalu diingat sebagai guru yang menyenangkan hingga detik terakhir masa jabatannya.
Jika ditelisik lebih jauh, aksi pak Bambang simbol dari kemurahan hati seorang pendidik. Guru IPS ini ingin mengajarkan satu pelajaran terakhir yang tidak ada di buku teks. Pelajaran tentang berbagi kebahagiaan di saat kita melepaskan sesuatu yang berharga.
Lapangan SMPN 3 Cepu hari itu menjadi saksi bahwa pendidikan tidak selalu tentang duduk diam di dalam kelas dan mendengarkan ceramah. Pendidikan juga tentang membangun memori, tentang bagaimana seorang manusia menyentuh hidup manusia lainnya. Pak Bambang membuktikan bahwa seorang guru purna tugas tetap bisa menjadi pusat energi positif.
Sisa-sisa kegembiraan masih terasa di udara. Para siswa mengerumuni beliau untuk bersalaman dan berfoto bersama. Uang kertas yang mereka terima mungkin akan habis dalam sehari untuk membeli jajan di kantin, namun momen berdiri di depan Pak Bambang, menjawab pertanyaannya, dan melihat senyum tulus beliau di hari purna tugasnya adalah memori yang akan bertahan selamanya.
Pak Bambang meninggalkan lapangan dengan langkah yang ringan, meninggalkan warisan berupa tawa dan semangat belajar yang meledak-ledak. SMPN 3 Cepu mungkin kehilangan salah satu guru IPS terbaiknya namun semangat "Pak Bambang" akan tetap hidup di koridor-koridor kelas dan di dalam hati setiap siswa yang pernah beliau ajar.
Kepada Pak Bambang, selamat memasuki masa purna tugas. Terima kasih telah mengajarkan bahwa perpisahan tidak harus selalu dibasahi air mata. Perpisahan bisa dirayakan dengan kuis kecil, tawa yang lepas, dan lembaran-lembaran kebaikan yang dibagikan dengan penuh cinta di tengah lapangan sekolah. Keikhlasan Bapak untuk tetap memberi di hari terakhir adalah pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial yang paling nyata yaitu bahwa manusia adalah makhluk sosial yang paling indah ketika mereka mampu membahagiakan sesamanya. Aamiin.
Cepu, 4 Mei 2026










.jpeg)