Karya: Gutamining Saida
Suasana kelas 8D pada hari Kamis siang menjelang akhir pembelajaran selalu memiliki ritme tersendiri. Pukul 5-6 biasanya menjadi jam-jam yang rawan bagi konsentrasi siswa. Rasa lelah setelah seharian digempur berbagai mata pelajaran eksak maupun bahasa sering kali membuat energi anak-anak terkuras habis. Nuansa yang berbeda di sudut-sudut ruangan kelas 8D. Udara berhembus melalui jendela-jendela kelas yang terbuka, menambah semangat. Di depan dekat papan tulis, belakang meja-meja belajar formasi kelompok, terdampar papan permainan ular tangga menanti untuk dijelajahi.
Pekan lalu, instruksi telah saya diberikan dengan jelas. Setiap kelompok mendapat tantangan mandiri yaitu menyiapkan dadu, pion, serta daftar pertanyaan IPS buatan mereka sendiri untuk diintegrasikan ke dalam permainan ular tangga IPS. Ini bukan sekadar permainan ular tangga biasa yang dibeli di toko mainan, melainkan sebuah media edukatif di mana materi pelajaran sosial yang kerap dianggap penuh hafalan, kini menjadi arena petualangan. Sejak bel tanda pergantian jam berbunyi wajah-wajah yang tadinya tampak lesu seketika berbinar cerah. Mereka menagih janji. janji yang sudah dinanti-nantikan sejak pekan lalu untuk segera menjajal papan permainan ular tangga.
Mereka terbagi menjadi enam kelompok. Pembentukan kelompok secara bebas. Tanpa intervensi guru, mereka membentuk formasi yang mencerminkan kedekatan pertemanan yang alami. Ada kelompok yang beranggotakan perempuan semua, campuran laki dan perempuan. Sejak awal sudah terlihat sibuk merapikan perlengkapan tulis, mencatat skor, dan memastikan kartu soal tertata rapi tanpa ada yang terlipat. Ada pula kelompok yang diisi sepenuhnya oleh siswa laki-laki, yang langsung memamerkan dadu berukuran agak besar dengan gelak tawa khas remaja sebaya, saling berbalas candaan mengenai siapa yang paling jago melempar dadu nanti. Tidak ketinggalan, kelompok dengan formasi campuran antara laki-laki dan perempuan turut menghiasi barisan bangku.
Sebelum melangkah di atas kotak start, sebuah ritual kecil yang tak pernah ditinggalkan oleh anak-anak yaitu hompimpah. Suara riuh tangan yang bertepatan dengan ayunan serentak memenuhi ruangan. "Hompimpah alaium gambreng!" pekik anak-anak dari salah satu sudut kelompok. Tawa langsung pecah ketika salah satu dari mereka kalah dan harus rela menduduki urutan lemparan terakhir, sementara sang pemenang hompimpah bersorak girang karena berhak memegang dadu untuk giliran pertama. Ritual sederhana ini bukan sekadar penentu urutan, melainkan sebuah pencair suasana yang meruntuhkan sekat-sekat kecanggungan antar-anggota kelompok.
Begitu permainan resmi dimulai, suasana kelas berubah menjadi lautan energi positif. Papan ular tangga IPS itu mendadak hidup. Setiap kali dadu diguncang di dalam genggaman tangan lalu dilemparkan mata seluruh anggota kelompok langsung tertuju tajam pada angka yang muncul. Suara ketukan dadu berpadu dengan sorak-sorai kemenangan tatkala angka enam keluar, memberikan keleluasaan untuk melangkah lebih jauh. Keseruan yang sesungguhnya bukan terletak pada siapa yang paling cepat mencapai kotak finish, melainkan pada momen ketika pion mendarat di kotak bertanda khusus yang mewajibkan mereka mengambil kartu pertanyaan IPS.
Di sinilah proses belajar yang sesungguhnya terjadi tanpa terasa sebagai beban. Ketika seorang siswa mendarat di kotak teman sekelompoknya dengan sigap. Lembaran kertas berisi soal-soal seputar materi dibacakan dengan nada serius. Jika siswa yang mendapat giliran mampu menjawab dengan tepat, mereka berhak tetap berada di posisinya atau bahkan menaiki tangga keberuntungan yang meluncurkan pion mereka beberapa tingkat ke atas. Sebaliknya, jika jawaban meleset atau ragu-ragu, siap-siap saja menerima konsekuensi turun melalui gambar ular yang meliuk ke bawah.
Waktu berjalan begitu cepat. Jarum jam dinding kelas bergerak merangkak, mendekati detik-detik berakhirnya jam pelajaran. Di luar jendela, waktu istirahat sore telah tiba. Biasanya, pada jam-jam seperti ini, anak-anak bersiap menyambut suara bel istirahat demi bisa segera melipir ke kantin sekolah.
Suara bel panjang tanda pergantian jam berdering nyaring ke seluruh penjuru sekolah. Di kelas 8D, bel itu seakan menguap begitu saja, kalah gaung oleh riuhnya permainan sekeliling papan ular tangga. Tidak ada satu pun kelompok yang bergegas merapikan alat permainan. Tangan-tangan mereka masih sibuk memegang pion, mata mereka masih mengawasi jalannya giliran kawan sekelompok, dan perdebatan seru mengenai siapa yang akan menang masih berlangsung sengit.
"Ayo sudah, belnya sudah berbunyi."ucap saya singkat.
Kalimat itu, yang biasanya menjadi komando para siswa untuk berhamburan keluar kelas, hari ini mendatفقkan respons yang sama sekali di luar kebiasaan. Tanpa dikomando, tanpa ada instruksi panduan dari ketua kelas, sebuah jawaban serempak membahana memenuhi seisi ruangan dari berbagai penjuru meja kelompok:
"Bentar, Bu..."
Jawaban itu diucapkan begitu kompak, oleh anak-anak kelas 8D. Mereka memancarkan permohonan terselubung agar waktu dihentikan barang sejenak saja. Ada kilatan protes kecil di mata mereka direnggut begitu cepat oleh aturan waktu sekolah.
Mereka benar-benar asyik menolak untuk berganti mata pelajaran. Jangankan memikirkan buku catatan mata pelajaran berikutnya yang harus disiapkan di atas meja, melirik ke arah pintu keluar pun tidak ada yang mau. Pikiran mereka sepenuhnya terkunci pada guliran dadu berikutnya, pada pertanyaan IPS yang belum terjawab, dan pada gengsi kelompok yang dipertaruhkan di atas papan permainan. Seolah-olah, jajanan di luar sana, makanan ringan favorit di kantin, dan rasa lelah seharian menguap begitu saja, tergantikan oleh kepuasan batin belajar bersama melalui permainan.
Ketika materi pelajaran dikemas dengan kreativitas yang menyentuh dunia mereka dunia bermain, bersosialisasi, dan berkompetisi secara sehat belajar tidak lagi menjadi momok yang melelahkan. Ruang kelas bukan lagi tempat di mana siswa duduk pasif mendengarkan ceramah satu arah, melainkan sebuah lkerja sama, kejujuran, sportivitas, dan pemahaman konsep IPS berpadu dalam tawa. Bel boleh berdering, waktu boleh saja menuntut pergantian jam, tetapi kenangan tentang bagaimana sebuah pelajaran IPS mampu membuat mereka lupa waktu.
Cepu, 30 Oktober 2026
.jpeg)









