gutaminingsaida SMPN 3 CEPU
Sabtu, 22 Agustus 2026
Kecemasan Seorang Ibu
Jumat, 21 Agustus 2026
Karya: Gutamining Saida
“Lala,” begitu biasanya saya menyapanya. Nama lengkapnya cukup indah dan mudah diingat, Chrestella Giovanna Yunianto. Nama bukan sekadar rangkaian kata yang melekat pada seseorang. Nama adalah identitas, doa, harapan, sekaligus bagian kecil dari perjalanan hidup yang kelak akan menjadi kenangan.
Lala adalah salah satu peserta didik yang rajin mengikuti pembelajaran yang saya ampu. Ia hadir, memperhatikan, mengerjakan tugas dengan telaten, dan berusaha menyelesaikannya tepat waktu. Bagi seorang guru, hal-hal seperti itu mungkin terlihat sederhana. Di balik sebuah tugas yang selesai tepat waktu, ada tanggung jawab, kedisiplinan, dan kesungguhan seorang anak dalam menjalani proses belajar.
Saya selalu percaya bila keberhasilan seorang guru tidak hanya diukur dari seberapa banyak materi yang mampu disampaikan kepada peserta didik. Keberhasilan dapat terlihat dari bagaimana seorang guru mampu menumbuhkan semangat belajar, tanggung jawab, kepercayaan diri, dan kebahagiaan dalam diri anak-anak yang didampinginya.
Lala mengajarkan saya tentang hal sederhana. Setiap kali tugas selesai dikerjakan, ia mengumpulkannya dengan penuh perhatian. Tidak asal selesai, tetapi dikerjakan dengan telaten. Ketika waktunya mengumpulkan tugas tiba, ada satu kebiasaan kecil yang membuat saya tersenyum.
“Bu, boleh foto?”
Ia meminta saya memotretnya sebagai bukti bahwa ia sudah mengumpulkan tugas. Bukan hanya sekadar bukti, tetapi menurutnya foto itu juga bisa menjadi sesuatu yang abadi. Permintaan sederhana, menyimpan makna yang dalam.
Kadang-kadang kita terlalu sibuk mengejar sesuatu yang besar sehingga lupa bahwa kebahagiaan sering kali lahir dari hal-hal kecil. Sebuah foto, sebuah senyum, sebuah tugas yang berhasil diselesaikan, atau sekadar sapaan dari seorang guru dapat menjadi kenangan yang tersimpan lama dalam ingatan seorang anak.
Saya pun memenuhi permintaannya. Saya mengambil foto Lala. Dalam sekejap, sebuah momen sederhana berubah menjadi kenangan. Tugas telah dikumpulkan, tanggung jawab telah ditunaikan, dan sebuah gambar menjadi saksi bahwa pada suatu hari seorang anak bernama Lala pernah berjuang menyelesaikan tugasnya dengan sungguh-sungguh.
Bukan hanya Lala yang mendapatkan kebahagiaan dari momen itu. Saya pun ikut bahagia. Saya melihat senyumnya. Senyum yang sederhana, tetapi mampu menunjukkan bahwa ia merasa senang. Dari senyum itu saya dapat melihat kebahagiaannya. Kebahagiaan seorang anak ternyata dapat menular kepada gurunya.
Menjadi guru harus menghadirkan ruang bagi anak-anak untuk merasa dihargai, diperhatikan, dan diterima. Seorang anak mungkin lupa materi pelajaran yang disampaikan gurunya beberapa tahun kemudian. Ia mungkin lupa tanggal kapan sebuah tugas pernah diberikan. Ia mungkin lupa nilai yang pernah diperolehnya. Tetapi bisa jadi ia akan mengingat sebuah peristiwa kecil ketika gurunya tersenyum, memanggil namanya, menghargai hasil pekerjaannya, atau bersedia mengabadikan dirinya dalam sebuah foto.
Mungkin foto itu suatu hari nanti akan kembali dilihatnya ketika ia sudah dewasa.
Ia mungkin akan tersenyum dan berkata dalam hati, “Dulu aku pernah menjadi anak sekolah yang rajin mengerjakan tugas. Dulu ada guru yang menghargai usahaku.”
Betapa indah jika sebuah pembelajaran mampu meninggalkan kenangan seperti itu.
Saya sengaja ingin mengabadikan Lala bukan hanya melalui foto, tetapi juga melalui tulisan. Sebab bagi saya, foto mengabadikan wajah, sedangkan tulisan berusaha mengabadikan makna di balik sebuah peristiwa.
Hari ini mungkin Lala masih menjadi seorang pelajar. Ia sedang berada dalam fase kehidupan ketika tugas sekolah, teman-teman, guru, bermain, bercanda, dan belajar menjadi bagian dari hari-harinya. Namun waktu akan terus berjalan. Suatu saat ia akan meninggalkan bangku SMP. Ia akan melanjutkan perjalanan menuju jenjang pendidikan berikutnya. Akan ada lingkungan baru, teman baru, guru baru, tantangan baru, bahkan mungkin impian baru.
Saya berharap satu hal: jangan pernah kehilangan semangat seperti yang terlihat hari ini.
Tetaplah menjadi anak yang rajin. Tetaplah telaten. Tetaplah menghargai proses. Jangan takut melakukan kesalahan, karena kesalahan adalah bagian dari perjalanan belajar. Jangan merasa kecil hanya karena belum mampu mencapai sesuatu yang besar. Ingatlah bahwa keberhasilan selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten.
Tugas yang dikerjakan tepat waktu mungkin terlihat sederhana.
Tetapi kebiasaan menyelesaikan tanggung jawab tepat waktu adalah bekal kehidupan.
Ketelitian yang dilakukan ketika mengerjakan tugas mungkin terlihat biasa.
Tetapi ketelitian dapat menjadi kekuatan ketika kelak menghadapi pekerjaan dan kehidupan yang lebih kompleks.
Keberanian meminta sebuah foto mungkin terlihat sepele.
Tetapi keinginan untuk mengabadikan sebuah proses menunjukkan bahwa Lala mampu menghargai momen yang sedang dijalaninya.
Dan senyum yang terlihat hari ini mungkin kelak menjadi salah satu kenangan paling manis tentang masa sekolah.
Saya juga belajar dari Lala bahwa kebahagiaan tidak selalu harus dicari jauh-jauh. Kadang kebahagiaan hadir ketika kita mampu membuat orang lain bahagia. Ketika seorang anak tersenyum karena permintaannya dipenuhi, gurunya pun ikut tersenyum. Ketika seorang siswa merasa dihargai, guru merasakan kepuasan. Ketika sebuah tugas selesai dengan baik, ada rasa syukur yang tumbuh.
Begitulah hubungan sederhana antara guru dan murid.
Tidak selalu membutuhkan sesuatu yang mewah.
Tidak harus dengan hadiah mahal.
Terkadang cukup dengan perhatian, penghargaan, dan sebuah senyum.
Lala, teruslah melangkah.
Jadilah pribadi yang rajin bukan karena takut mendapatkan nilai rendah, tetapi karena memahami bahwa belajar adalah investasi untuk masa depan. Kerjakan tugas bukan hanya untuk memenuhi kewajiban kepada guru, tetapi sebagai latihan untuk menjadi manusia yang bertanggung jawab.
Dan jangan pernah kehilangan senyum.
Karena senyum yang tulus bukan hanya membuat wajah terlihat lebih indah, tetapi juga mampu membuat orang lain merasakan kebahagiaan.
Hari ini saya mengabadikanmu dalam sebuah foto.
Namun lebih dari itu, saya ingin mengabadikan sebuah pesan dalam tulisan ini: setiap usaha kecil yang dilakukan dengan sungguh-sungguh layak dihargai.
Mungkin bagi orang lain, kisah ini hanyalah cerita sederhana tentang seorang siswa yang mengumpulkan tugas dan meminta foto.
Tetapi bagi saya, ini adalah cerita tentang semangat belajar, tanggung jawab, penghargaan, kebahagiaan, dan indahnya hubungan antara guru dengan peserta didik.
Lala, suatu hari nanti ketika kamu membaca tulisan ini kembali, mungkin kamu sudah jauh lebih dewasa. Mungkin kamu sudah mencapai cita-cita yang sekarang sedang kamu impikan. Saat itu, semoga kamu masih mengingat satu hal:
Pernah ada seorang guru yang bahagia melihat senyummu.
Dan mungkin, tanpa kamu sadari, pada hari itu kamu bukan hanya berhasil menyelesaikan sebuah tugas.
Kamu juga telah mengajarkan gurumu bahwa kebahagiaan bisa tumbuh dari sebuah perhatian kecil, sebuah foto sederhana, dan sebuah senyum yang tulus.
Teruslah belajar, teruslah bertumbuh, dan teruslah menjadi Lala yang rajin, telaten, bertanggung jawab, serta mampu membawa kebahagiaan bagi orang-orang di sekitarmu.
Sebab kehidupan ini terlalu singkat untuk hanya diisi dengan mengejar keberhasilan.
Sesekali, berhentilah sejenak.
Tersenyumlah.
Nikmati prosesnya.
Dan abadikan kenangan baik sebanyak mungkin.
Karena kelak, ketika waktu telah berlalu, kenangan-kenangan kecil itulah yang sering kali menjadi harta paling berhar
Merdeka Dari sakit
Karya: Gutamining Saida
Setiap bulan Agustus, hati kita kembali diingatkan pada sebuah perjuangan besar. Bangsa Indonesia pernah berada dalam masa yang tidak mudah. Para pahlawan berjuang melawan penjajahan dengan seluruh kekuatan yang mereka miliki. Mereka rela kehilangan waktu, tenaga, harta, bahkan nyawa demi satu kata yang begitu berharga bernama kemerdekaan.
Kemerdekaan tidak datang dengan mudah. Ada air mata yang jatuh, darah yang tertumpah, keluarga yang kehilangan orang-orang tercinta. Para pejuang tidak berhenti. Mereka terus melangkah karena memiliki keyakinan bahwa suatu hari bangsa ini akan terbebas dari belenggu penjajahan.
Membaca sebuah chat Pak Gun di grup Muda Swimming Squad 2, tiba-tiba saya menemukan makna perjuangan yang lain. Bukan lagi perjuangan bangsa melawan penjajah, tetapi perjuangan manusia melawan rasa sakit.
"Bangsa Indonesia berjuang untuk merdeka dari penjajah. Kita berjuang untuk merdeka dari sakit."
Selama ini kita sering memandang sakit sebagai sesuatu yang harus ditakuti. Ketika tubuh terasa tidak nyaman, tenaga berkurang, aktivitas yang dahulu mudah dilakukan tiba-tiba terasa berat, hati kita bertanya, “Mengapa saya harus mengalami ini?”
Tidak jarang rasa sakit membuat seseorang merasa lemah, kehilangan semangat, merasa hidupnya tidak lagi sebebas dahulu, diam-diam menangis karena tidak ingin orang lain mengetahui betapa berat perjuangan yang sedang dijalani.
Allah Subhanahu Wata'alla memberikan ujian bukan untuk membuat manusia hancur. Ujian dapat menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Ketika sehat, terkadang manusia terlalu sibuk dengan dunia. Langkah kaki begitu cepat mengejar pekerjaan, keluarga, keinginan, cita-cita, dan berbagai urusan. Doa mungkin hanya menjadi bagian kecil dari kesibukan.
Ketika tubuh mulai memberi tanda, kekuatan berkurang, harus berhenti sejenak, saat itulah manusia sering kembali mengingat dirinya hanyalah makhluk. Akhirnya, kita membutuhkan Allah Subhanahu Wata'alla. Sakit terkadang menjadi pengingat yang sangat lembut bahwa manusia bukan pemilik kehidupan. Kita hanya menjalani amanah yang diberikan oleh-Nya.
Kita perlu berjuang bukan hanya kesembuhan dari penyakit, tetapi kemerdekaan hati dari rasa takut, kecewa, putus asa, dan terlalu banyak mengeluh.
Sembuh tentu menjadi harapan. Berobat adalah ikhtiar. Menjaga tubuh adalah bentuk tanggung jawab. Berolahraga, mengikuti terapi, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, menjaga pola hidup, dan melakukan berbagai usaha untuk mendapatkan kesehatan merupakan bagian dari perjuangan manusia.
Setelah semua ikhtiar dilakukan, ada satu hal yang harus kita belajar berserah diri. Manusia boleh merencanakan, Allah Subhanahu Wata'alla yang menentukan. Manusia boleh berusaha sekuat tenaga, tetapi Allah Subhanahu Wata'alla yang memiliki keputusan terakhir. Manusia boleh berharap kesembuhan datang hari ini, tetapi Allah Subhanahu Wata'alla memiliki waktu yang paling tepat.
Di sinilah arti ridha menjadi begitu penting. Ridha bukan berarti menyerah tanpa usaha. Ridha juga bukan berarti pasrah dan tidak melakukan apa-apa. Ridha menerima ketetapan Allah dengan hati yang berusaha tetap percaya, sambil terus melakukan ikhtiar terbaik.
Duduk dengan nyaman, berjalan tanpa rasa sakit, tidur nyenyak, menikmati secangkir minuman hangat, tertawa bersama teman, menghirup udara pagi, atau sekadar bisa melakukan aktivitas sehari-hari ternyata adalah nikmat yang luar biasa.
Kadang manusia baru menyadari mahalnya sebuah nikmat setelah nikmat itu berkurang. Saya pun belajar bahwa perjuangan mendapatkan kesehatan tidak selalu harus dilakukan sendirian. Ada orang-orang yang hadir memberikan semangat. Ada teman yang mengajak bergerak. Ada seseorang yang mengingatkan untuk tetap berusaha. Ada lingkungan yang membuat kita merasa bahwa kita tidak sendirian menghadapi ujian.
Para pejuang kemerdekaan yang dahulu berjuang bersama, manusia yang sedang menghadapi sakit pun membutuhkan dukungan. Satu kalimat penyemangat terkadang mampu membuat seseorang kembali berdiri. Satu senyuman bisa mengurangi rasa berat. Satu ajakan sederhana untuk bergerak bisa menjadi awal dari harapan baru.
Ada yang hari ini terlihat kuat, mungkin karena kemarin ia pernah melewati masa yang sangat berat. Ada yang tertawa lepas, mungkin karena ia sudah belajar berdamai dengan keadaan. Ada yang terus menyemangati orang lain, mungkin karena ia tahu bagaimana rasanya ketika dirinya membutuhkan semangat.
Allah tentu mengetahui kemampuan setiap hamba-Nya. Ujian datang dengan ukuran yang tidak pernah salah. Apa yang menurut kita terlalu berat, mungkin dalam pandangan Allah kita memiliki kekuatan untuk melewatinya. Bahkan ketika kita merasa sudah tidak sanggup, sering kali masih ada kekuatan yang muncul sedikit demi sedikit.
Tidak perlu membandingkan perjalanan kita dengan perjalanan orang lain. Sebab setiap tubuh memiliki kemampuan berbeda, setiap hati memiliki kekuatan berbeda, dan setiap manusia memiliki waktunya sendiri. Ada pula yang justru mendapatkan pelajaran kehidupan yang jauh lebih besar daripada sekadar kesembuhan.
Maka, ketika sakit datang, semoga kita tidak hanya bertanya, “Kapan saya sembuh?” Tetapi juga berani bertanya, “Apa yang sedang Allah ajarkan kepada saya melalui sakit ini?” Allah sedang mempertemukan kita dengan orang-orang baik yang sebelumnya tidak pernah kita kenal.
Kemerdekaan bangsa diraih melalui perjuangan panjang. Begitu pula kemerdekaan dari rasa sakit. Tidak selalu berarti tubuh kembali seperti semula. Terkadang kemerdekaan itu justru terjadi ketika hati sudah tidak lagi dikuasai ketakutan.
Kita semua sedang menjadi pejuang dalam bentuk yang berbeda. Para pahlawan dahulu berjuang agar bangsa ini merdeka. Kita hari ini berjuang agar tubuh dan hati kembali menemukan kekuatan. Perjuangan terbesar bukanlah melawan rasa sakit, melainkan belajar menerima di balik setiap ujian ada kehendak Allah yang belum tentu langsung mampu kita pahami.
“Ya Allah, saya akan terus berusaha. Jika kesembuhan adalah jalan terbaik bagi saya, mudahkanlah. Jika ujian ini masih harus saya jalani, kuatkanlah hati saya. Jangan biarkan rasa sakit menjauhkan saya dari-Mu. Jadikan setiap rasa sakit sebagai jalan untuk semakin dekat kepada-Mu dan menemukan hikmah yang luar biasa.” Melainkan ketika hati telah merdeka menerima ketetapan-Nya, jiwa tetap penuh harapan, dan langkah tetap berjalan menuju Allah.
Cepu 21 Agustus 2026
Rabu, 19 Agustus 2026
GoodDay Rasa IPS
Kopi selama ini sering identik dengan orang tua. Ketika mendengar kata “kopi”, yang terbayang mungkin adalah bapak-bapak yang duduk santai di teras rumah, berbincang dengan tetangga, atau menikmati secangkir kopi sambil membaca koran. Kopi seolah menjadi bagian dari kehidupan orang dewasa.
Zaman terus berubah. Kopi kini tidak lagi hanya menjadi minuman yang dinikmati oleh kalangan orang tua. Anak-anak dan remaja pun mulai mengenal berbagai jenis minuman kopi. Minuman rasa kopi telah menjadi salah satu minuman yang cukup populer di kalangan mereka. Berbagai merek hadir dengan kemasan yang menarik, rasa yang beragam, dan cara penyajian yang semakin kreatif.
Minuman yang dahulu sederhana kini tampil lebih modern. Kemasan dibuat berwarna-warni. Nama produk dibuat mudah diingat. Rasanya disesuaikan dengan selera anak muda. Ada yang menyukai rasa original, ada yang memilih rasa manis, cokelat, susu, dan berbagai perpaduan lainnya.
Semua itu menunjukkan sebuah kebiasaan dapat berubah mengikuti perkembangan zaman. Sebagai guru, saya mencoba melihat perubahan tersebut bukan sekadar sesuatu yang terjadi di luar kelas. Saya berusaha mendekatkan pembelajaran dengan sesuatu yang akrab dengan kehidupan siswa. Saya ingin menciptakan suasana belajar yang tidak terasa jauh dari dunia mereka.
Salah satunya melalui sesuatu yang sederhana yaitu kopi. Pagi itu muncul sebuah percakapan ringan.
“Kita ngopi, Bu?”tanya Aditya
“Iya, Good Day.” saya menjawab santai,
Kemudian saya menambahkan, “Cocok untuk pagi ini, ya.”
"GoodDay semua, bu?"
"Iya, agar kalian tidak banyak memilih."
"Ohhh, begitu?jawab mereka hampir bersamaan
Sebuah percakapan yang sebenarnya sederhana. Tidak ada kalimat yang rumit. Tidak ada teori panjang. Percakapan sederhana itu tercipta suasana yang berbeda. Ada rasa akrab, ada senyum, dan ada energi positif untuk memulai kegiatan.
Kopi tidak hanya menjadi minuman. Ia bisa menjadi simbol kebersamaan. Secangkir kopi sering kali menjadi alasan seseorang berhenti sejenak dari kesibukan. Duduk bersama, berbincang, bertukar cerita, dan menikmati waktu. Kadang yang membuat kopi terasa nikmat bukan hanya rasanya, tetapi siapa yang menemani kita meminumnya.
Begitu pula dalam pembelajaran. Guru tidak selalu harus hadir dengan suasana yang serius dan penuh tekanan. Ada kalanya pembelajaran justru menjadi lebih hidup ketika guru mampu menciptakan kedekatan dengan siswa melalui hal-hal sederhana yang mereka sukai.
Saya mencoba mengikuti perkembangan minuman yang sedang mereka kenal. Guru harus mengikuti semua tren, memahami dunia siswa dapat menjadi salah satu cara untuk membangun komunikasi yang lebih baik.
Sebab siswa bukan hanya sekumpulan anak yang datang ke kelas untuk menerima materi.
Mereka memiliki kesukaan, kebiasaan, cerita, rasa ingin tahu, dan dunia mereka sendiri.
Ketika guru berusaha memahami dunia itu, jarak antara guru dan siswa menjadi lebih dekat.
Awalnya mungkin hanya mencoba.
“Coba ah…”
Begitulah sering kali sebuah kebiasaan dimulai.
Tidak ada yang menyangka bahwa sesuatu yang awalnya hanya dicoba akhirnya menjadi bagian dari rutinitas. Dari sekadar ingin tahu, kemudian menjadi suka. Dari suka, akhirnya menjadi kebiasaan.
Pagi terasa kurang lengkap tanpa sesuatu yang menemani.
Bukan berarti setiap kebiasaan harus dipertahankan hanya karena sudah menjadi kebiasaan. Kita tetap harus bijak memilih mana yang baik bagi tubuh dan mana yang perlu dibatasi. Terutama bagi anak-anak dan remaja, minuman yang mengandung gula atau kafein sebaiknya dikonsumsi secara wajar dan tidak berlebihan.
Namun, dari cerita sederhana tentang kopi ini, ada pelajaran yang jauh lebih besar.
Kebiasaan besar sering kali lahir dari tindakan kecil yang dilakukan berulang-ulang.
Seorang siswa yang awalnya hanya mencoba membaca satu halaman buku mungkin suatu hari bisa menjadi orang yang senang membaca. Anak yang awalnya hanya mencoba menjawab satu pertanyaan mungkin lama-kelamaan berani bertanya dan berdiskusi. Siswa yang awalnya malu tampil di depan kelas mungkin setelah beberapa kali mencoba akhirnya mampu berbicara dengan percaya diri.
Semua berawal dari satu langkah kecil.
Begitu pula seorang guru.
Awalnya mungkin hanya mencoba menggunakan satu media pembelajaran. Kemudian mencoba permainan. Mencoba gambar. Mencoba teka-teki. Mencoba sesuatu yang dekat dengan kehidupan siswa. Tidak semuanya langsung berhasil. Tidak semuanya langsung membuat kelas sempurna.
Tetapi proses mencoba itulah yang membuat guru terus belajar.
Saya percaya bahwa guru juga harus menjadi pembelajar.
Dunia siswa berubah. Cara mereka memperoleh informasi berubah. Selera mereka berubah. Teknologi berkembang. Tren datang silih berganti. Jika guru berhenti belajar, maka jarak dengan dunia siswa akan semakin jauh.
Karena itu, saya memilih untuk tidak hanya berdiri di depan kelas dan menjelaskan. Saya ingin sesekali masuk ke dunia mereka. Memahami apa yang mereka sukai, kemudian menggunakannya sebagai jembatan menuju pembelajaran.
Bukan untuk menjadi seperti mereka.
Tetapi agar mereka merasa bahwa guru mau memahami mereka.
Dari secangkir kopi, saya menemukan makna tentang hubungan.
Hubungan antara guru dan siswa tidak selalu harus dibangun melalui nasihat panjang. Kadang cukup dengan percakapan sederhana.
“Ngopi, Bu?”
“Iya, Good Day.”
“Cocok untuk pagi ini.”
Percakapan singkat itu mungkin terlihat biasa bagi orang lain. Bagi saya, di situlah ada kehangatan, komunikasi, rasa dekat, kesempatan untuk menciptakan suasana pagi yang lebih menyenangkan. Dari kebiasaan kecil itu muncul sebuah pengingat. Jangan takut mencoba sesuatu yang baru. Kita tidak pernah tahu apa yang akan kita temukan setelah mencoba.
Dunia pendidikan, mencoba adalah bagian dari perjalanan. Guru mencoba metode baru. Siswa mencoba menjawab pertanyaan. Guru mencoba memahami karakter siswa. Siswa mencoba memahami materi. Semuanya membutuhkan keberanian untuk memulai.
Kopi menjadi lebih dari sekadar minuman. Ia menjadi teman kecil untuk memulai hari. Ia menjadi simbol sesuatu yang awalnya hanya dicoba dapat berubah menjadi kebiasaan. Saya pun semakin yakin bahwa dalam kehidupan, hal-hal besar sering kali tumbuh dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan konsisten.
Tetapi semangat yang tumbuh ketika menikmatinya bersama, percakapan yang tercipta setelahnya, dan energi positif yang dibawa untuk menjalani hari—itulah yang memiliki nilai. Bagi seorang siswa, hal-hal kecil itu bisa menjadi awal tumbuhnya keberanian, kepercayaan diri, dan semangat belajar. Mari terus mencoba.
Karena seperti kopi yang awalnya hanya dicoba lalu menjadi kebiasaan, kebaikan yang dilakukan berulang-ulang pun suatu hari akan menjadi karakter.
Cepu, 20 Agustus 2026
Kembalikan Semangatmu
Karya: Gutamining Saida
Pembelajaran IPS di kelas 8A kali ini berada pada jam terakhir. Sebagian besar siswa biasanya sudah mulai lelah. Mereka selesai mengikuti berbagai kegiatan pembelajaran sejak pagi. Konsentrasi bisa saja menurun, semangat mulai berkurang, dan keinginan untuk segera pulang terkadang lebih besar daripada keinginan untuk mengikuti pelajaran. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi guru untuk menghadirkan pembelajaran yang mampu membangkitkan kembali perhatian dan semangat siswa.
Saya pun mencoba menghadirkan sesuatu yang sederhana, tetapi menarik perhatian. Media pembelajaran yang saya siapkan adalah gambar Nutrijell dan D’Jelly. Gambar tersebut menarik dan penasaran siswa. Ketika media ditampilkan, perhatian mereka mulai tertuju ke depan. Ada yang bertanya-tanya, ada yang memperhatikan dengan serius, bahkan ada yang langsung ingin mengetahui apa yang akan dilakukan dengan gambar tersebut.
Saya menjelaskan bahwa dalam kegiatan kali ini tersedia 40 biji yang dapat dipilih oleh siswa. Angka 40 itu bukan sekadar jumlah, tetapi menjadi bagian dari permainan pembelajaran. Setiap siswa mempunyai kesempatan untuk memilih sesuai keinginannya. Dari pilihan sederhana tersebut, mereka kemudian harus menghadapi sebuah tantangan.
Nutrijell sendiri selama ini dikenal sebagai salah satu makanan yang dapat diolah menjadi berbagai hidangan menarik. Jika dikonsumsi dalam porsi yang tepat dan diolah dengan bahan yang baik, makanan berbahan agar-agar seperti Nutrijell dapat menjadi bagian dari makanan yang mengandung serat. Hal yang menarik adalah bagaimana sesuatu yang tampak sederhana dapat saya jadikan jembatan menuju kegiatan belajar yang menyenangkan.
Tujuan utama pembelajaran bukanlah membahas Nutrijell atau D’Jelly. Keduanya hanyalah media untuk menarik perhatian siswa. Di balik gambar yang tampak seperti makanan biasa itu, tersimpan tantangan yang berhubungan dengan materi IPS yang baru saja mereka pelajari.
Tantangan hari ini adalah menyusun satu kata. Kata tersebut terdiri atas beberapa huruf yang sengaja belum disusun sesuai urutan. Siswa harus memperhatikan setiap huruf, kemudian berpikir, mengingat kembali materi IPS yang telah dijelaskan, dan mencoba menemukan kata yang tepat.
Di sinilah pembelajaran menjadi menarik. Siswa tidak cukup hanya melihat huruf. Mereka harus menghubungkan huruf-huruf tersebut dengan pengetahuan yang baru saja diperoleh. Mereka harus membuka kembali ingatan tentang materi. Apa istilah yang sesuai? Apa kata yang berhubungan dengan pembahasan hari ini? Huruf mana yang harus berada di depan? Huruf mana yang harus berada di belakang?
Kelihatannya sederhana, tetapi ternyata membutuhkan konsentrasi. Saya melihat perubahan suasana kelas yang cukup jelas. Meskipun pembelajaran berlangsung jam terakhir, siswa terlihat bersemangat. Mereka mulai bekerja dengan serius. Ada yang menatap huruf satu per satu. Ada yang mencoba menyusun dalam pikirannya. Ada pula yang menulis beberapa kemungkinan jawaban sebelum menentukan pilihan terakhir.
Mereka tidak ingin terlalu lama. Masing-masing ingin segera menyelesaikan tantangan dan mendapatkan hasil yang memuaskan. Semangat mereka terlihat dari cara mereka berusaha menemukan jawaban. Mereka berusaha menggunakan kemampuan berpikirnya sendiri.
Yang menarik, dalam suasana tersebut siswa terlihat begitu fokus dengan tantangannya masing-masing. Mereka sibuk berusaha. Mereka tidak terlalu memedulikan apa yang sedang dikerjakan temannya. Bukan tidak peduli terhadap teman dalam arti yang sebenarnya. Mereka sedang menikmati tantangan pribadi yang harus ditaklukkan.
Ada kepuasan tersendiri ketika seseorang berhasil menemukan jawaban dengan kemampuannya sendiri. Di sinilah saya melihat pembelajaran IPS sebenarnya tidak harus selalu dilakukan dengan cara membaca buku, mendengarkan penjelasan guru, kemudian menjawab pertanyaan di buku tugas. Materi IPS yang cukup luas dapat dikemas menjadi kegiatan yang sederhana, menyenangkan, dan menantang.
Sebuah gambar Nutrijell dapat menjadi pintu menuju pembelajaran. Empat puluh pilihan dapat menjadi pemantik rasa ingin tahu. Huruf-huruf yang belum tersusun dapat menjadi tantangan berpikir. Satu kata yang berhasil ditemukan dapat memberikan pengalaman bahwa belajar membutuhkan usaha.
Saya semakin menyadari bahwa siswa akan lebih mudah terlibat ketika mereka merasa memiliki kesempatan untuk memilih dan mencoba. Mereka bukan hanya menjadi penerima informasi, tetapi menjadi pelaku dalam proses pembelajaran.
Ada nilai penting yang sebenarnya sedang tumbuh melalui kegiatan tersebut. Anak-anak belajar bahwa untuk mendapatkan hasil yang baik, mereka harus berusaha. Tidak semua jawaban langsung terlihat. Tidak semua masalah dapat diselesaikan dalam sekali mencoba. Terkadang harus berpikir ulang, mencoba susunan yang berbeda, mengingat kembali materi, bahkan mengalami kesalahan sebelum akhirnya menemukan jawaban yang benar.
Bukankah kehidupan juga demikian? Tidak semua persoalan datang dengan jawaban yang sudah tersusun rapi. Sering kali manusia harus mengumpulkan berbagai informasi, berpikir, mencoba, gagal, memperbaiki, lalu mencoba kembali. Keberhasilan menjadi lebih bermakna karena diperoleh melalui proses.
Saya ingin pembelajaran IPS tidak hanya membuat siswa tahu materi, tetapi juga memiliki pengalaman belajar yang dapat mereka bawa dalam kehidupan sehari-hari. Melalui kegiatan menyusun kata ini, mereka belajar tentang ketelitian. Mereka belajar berkonsentrasi. Mereka belajar mengingat. Mereka belajar menghubungkan pengetahuan dengan persoalan. Mereka juga belajar mengendalikan keinginan untuk menyerah ketika jawaban belum ditemukan.
Bagi guru, melihat siswa bersemangat pada jam terakhir merupakan kebahagiaan tersendiri. Jam terakhir bukan lagi alasan untuk mengurangi semangat belajar. Justru dengan media yang tepat, suasana kelas dapat kembali hidup. Gambar Nutrijell dan D’Jelly menjadi media kecil yang menghadirkan energi besar dalam pembelajaran.
Keberhasilan pembelajaran bukan hanya ketika siswa mampu menemukan kata yang benar. Keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika mereka mau berusaha, berani mencoba, tidak mudah menyerah, dan merasakan bahwa belajar ternyata bisa menyenangkan.
Mungkin suatu hari nanti mereka tidak lagi mengingat semua huruf yang pernah mereka susun. Bisa jadi mereka juga lupa berapa banyak gambar Nutrijell dan D’Jelly yang tersedia. Saya berharap mereka tetap mengingat satu hal untuk memperoleh hasil yang memuaskan, diperlukan kemauan untuk berusaha.
Pendidikan, proses menumbuhkan rasa ingin tahu, keberanian mencoba, ketekunan, dan keyakinan setiap tantangan pasti dapat ditaklukkan ketika kita mau berusaha. Sebuah kegiatan sederhanayaitu memilih, berpikir, menyusun, berusaha, dan akhirnya menemukan jawaban. Kesuksesan menyertaimu anak-anak 8A. Aamiin.
Cepu, 20 Agustus 2026
Minggu, 16 Agustus 2026
Tasyakuran Bersama Suhu
Karya: Gutamining Saida
Hari Kemerdekaan Republik Indonesia selalu menghadirkan suasana yang meriah. Bendera Merah Putih berkibar di berbagai tempat, lagu-lagu kebangsaan terdengar, berbagai perlombaan digelar, dan masyarakat bersama-sama mengenang perjuangan para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan. Merayakan kemerdekaan tidak harus selalu dengan acara besar, panggung megah, atau hidangan yang mahal. Kadang-kadang, kemerdekaan justru terasa begitu dekat ketika beberapa orang berkumpul, duduk bersama, saling berbagi makanan, tersenyum, tertawa, dan mensyukuri nikmat Allah Subhanahu Wata'alla yang begitu banyak.
Saya bersama ibu-ibu tidak ingin ketinggalan untuk ikut merasakan semarak kemerdekaan. Kami mengadakan syukuran kecil-kecilan. Tidak ada panitia khusus, tidak ada daftar menu, tidak ada ketentuan siapa harus membawa makanan apa. Semuanya berjalan secara sederhana dan apa adanya. Masing-masing membawa bekal dari rumah sesuai kemampuan dan apa yang tersedia di rumah.
Semuanya mengalir begitu saja. Di situlah terasa indahnya kebersamaan. Setiap orang datang membawa sesuatu yang sederhana. Ketika semuanya dikumpulkan menjadi satu di meja, menjadi hidangan yang begitu beragam. Ada donat, tahu pentol, cakwe, aneka jajanan kering, dan berbagai makanan ringan lainnya. Yang awalnya hanya makanan dari rumah masing-masing, setelah dikumpulkan berubah menjadi sajian kebersamaan.
Menariknya, beberapa ibu ternyata membawa makanan yang sama. Sebagian besar membawa tahu pentol. Tidak ada yang merasa kecewa karena membawa jenis makanan yang sama. Tidak ada yang berkata, “Lho, kok saya membawa tahu juga?” Justru kami tertawa bersama. Ternyata tanpa janjian pun hati kami bisa memiliki pikiran yang sama (sehati).
Beginilah cara Allah Subhanahu Wata'alla menunjukkan rezeki tidak selalu datang melalui jalan yang kita rencanakan. Allah Subhanahu Wata'alla bisa mempertemukan banyak tangan dengan satu tujuan. Allah Subhanahu Wata'alla bisa membuat beberapa orang membawa makanan yang sama. Lalu menjadikannya bagian dari sebuah kebersamaan yang indah.
Makanan kemudian ditata dan disajikan di meja bulat. Semua duduk bersama. Tidak ada lagi makanan milik siapa. Setelah diletakkan di tengah, semuanya menjadi milik bersama untuk dinikmati bersama. Yang membawa donat tidak hanya makan donatnya sendiri. Yang membawa tahu tidak hanya mengambil tahu yang dibawanya. Yang membawa cakwe ikut menikmati makanan lainnya.
Di sinilah terasa makna berbagi. Satu makanan mungkin terlihat sederhana jika hanya dinikmati sendiri. Ketika dibagikan kepada banyak orang, nilainya menjadi jauh lebih besar. Bukan karena harganya, melainkan karena ada keikhlasan di dalamnya.
Bukankah rezeki memang akan terasa lebih nikmat ketika kita mau berbagi? Dalam ajaran agama, berbagi tidak harus menunggu menjadi kaya. Sedekah tidak selalu berupa uang. Memberikan makanan, membuat orang lain tersenyum, menyediakan sesuatu untuk dinikmati bersama, bahkan menghadirkan suasana bahagia pun dapat menjadi bentuk kebaikan apabila dilakukan dengan niat yang tulus.
Kami mungkin hanya membawa jajanan sederhana. Di balik tahu pentol, donat, cakwe, dan makanan ringan lainnya, ada doa yang tidak terlihat. Ada rasa syukur yang tumbuh. Ada silaturahmi yang terjaga. Ada persaudaraan yang semakin dekat.Kemerdekaan akhirnya tidak hanya kami rayakan dengan mengibarkan bendera Merah Putih. Kami juga merayakannya dengan mengibarkan rasa syukur di dalam hati.
Sesungguhnya, menjadi manusia yang merdeka bukan hanya terbebas dari penjajahan. Kita juga perlu belajar membebaskan hati dari keinginan untuk memiliki semuanya sendiri. Berbagi makanan mengajarkan kami akan kebahagiaan.
Ada hal lain yang membuat hati semakin bahagia. Setelah semua ibu menikmati hidangan, ternyata makanan masih tersisa cukup banyak. Kami pun tersenyum. “Berarti berkah,” mungkin begitu yang terlintas dalam pikiran kami.
Makanan yang tersisa bukan sekadar tanda hidangan yang dibawa terlalu banyak. Lebih jauh dari itu, kami memaknainya sebagai keberkahan. Allah Subhanahu Wata'alla telah mencukupkan rezeki kami. Allah Subhanahu Wata'allamemberi lebih dari yang kami perlukan. sesuatu yang berlebih sebaiknya tidak disia-siakan, melainkan dapat dibagikan kembali kepada orang lain.
Ketika memiliki kebahagiaan lebih, kita bisa menularkan kebahagiaan itu kepada orang lain. Begitulah keberkahan bekerja. Ia tidak selalu berbentuk bertambahnya jumlah harta. Kadang keberkahan hadir dalam bentuk hati yang tenang, tubuh yang sehat, persahabatan yang semakin erat, keluarga yang rukun, makanan yang cukup, dan perasaan bahagia setelah berkumpul dengan orang-orang yang kita sayangi.
Kita sering mencari kebahagiaan yang jauh, padahal Allah Subhanahu Wata'alla telah meletakkannya begitu dekat. Ada pada pertemuan. Ada pada persaudaraan. Ada pada makanan yang bisa dibagi. Ada pada kesempatan untuk tertawa bersama. Ada pada orang-orang yang hadir tanpa banyak tuntutan. Kami juga bersyukur atas kemerdekaan untuk berkumpul, bersilaturahmi, berbagi, dan menikmati rezeki Allah Subhanahu Wata'alla. dengan yang sesungguhnya bukan hanya tentang bebas dari penjajahan, tetapi tentang kemampuan membebaskan hati.
Cepu, 17 Agustus 2026
Merah Putih Pemersatu Kita
Merdekamu Merdeka Bangsaku
Karya: Gutamining Saida
Ada nama yang sekadar menjadi identitas seseorang. Ada pula nama yang menyimpan cerita, kenangan, sekaligus doa dari orang tua. Salah satunya adalah pak Tulas. Nama yang sederhana, tetapi memiliki makna istimewa bagi keluarga kami karena Tulas dilahirkan tepat pada tanggal 17 Agustus, hari ketika bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
Orang tua memberikan nama “Tulas” bukan tanpa alasan. Ada sebuah kenangan yang ingin diabadikan melalui nama tersebut. Setiap kali nama Tulas disebut, seakan-akan kita diajak kembali mengingat sebuah tanggal yang sangat istimewa dalam sejarah bangsa. Tidak perlu membuka kalender terlebih dahulu. Tidak perlu bertanya, “Tulas lahir tanggal berapa?” Orang yang membaca, berpikir, dan memahami kaitannya dengan kemerdekaan tentu bisa menebaknya tanpa keraguan.
Tanggal kelahirannya melekat kuat dengan tanggal kemerdekaan Indonesia. Setiap tahun, ketika memasuki bulan Agustus, suasana negeri berubah menjadi penuh semangat. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, sekolah, kantor, jalan kampung, hingga berbagai pelosok negeri. Lagu kebangsaan berkumandang. Perlombaan digelar. Masyarakat berkumpul dalam suasana penuh kegembiraan.
Di tengah seluruh kemeriahan itu, ada satu nama yang seolah ikut dipanggil oleh suasana kemerdekaan tersebut " Tulas." Betapa indahnya sebuah kehidupan ketika nama seseorang memiliki cerita yang tidak mudah dilupakan. Pak Tulas tidak perlu berusaha mengingat tanggal kelahirannya dengan membuka kalender. Ketika melihat angka 17 Agustus, ingatan tentang dirinya otomatis hadir. Ketika mendengar ucapan “Dirgahayu Republik Indonesia”, doa untuknya pun seolah mengalir dengan sendirinya.
Ada pesan yang lebih dalam dari sekadar keunikan tanggal kelahiran. Kemerdekaan seharusnya menjadi sumber motivasi dalam menjalani kehidupan. Kemerdekaan diperoleh melalui perjuangan, pengorbanan, keberanian, dan keteguhan hati. Begitu pula perjalanan hidup pak Tulas. Bertambahnya usia bukan sekadar bertambahnya angka, tetapi bertambah pula pengalaman, kebijaksanaan, kesabaran, dan kesempatan untuk memberikan manfaat.
Semoga pak Tulas selalu diberikan kesehatan dan kekuatan dalam menjalani kehidupan. Semoga langkahnya dimudahkan, rezekinya dilancarkan, hatinya diberi ketenangan, serta keluarganya selalu berada dalam lindungan Tuhan. Semoga segala perjuangan yang telah dilalui menjadi pengalaman berharga untuk menatap masa depan dengan lebih optimis.
Semoga pak Tulas juga mampu memaknai kemerdekaan dalam kehidupannya sendiri: merdeka dari rasa takut, merdeka dari keraguan, merdeka dari pikiran yang melemahkan, dan merdeka untuk terus melakukan kebaikan. Jadilah pribadi yang kuat dalam menghadapi tantangan, rendah hati ketika mendapatkan keberhasilan, dan selalu membawa manfaat bagi keluarga serta sesama. Aamiin.
Tulas Agus Nur Yasin
Tulus pengabdianmu mendidik sepenuh hati
Untuk generasi yang terus mencari jati diri
Luas pengetahuan kau bagikan tanpa pamrih bermanfaat
Ada bahagia saat orang lain menjadi hebat
Senyummu hadir meski lelah mendekat
Ajarkan pengalaman tanpa kau simpan sendiri
Gemar berbagi ilmu demi kemajuan negeri
Untuk sesama selalu bersedia membantu
Sabar melangkah tak mudah menggerutu
Niat baik kekuatanmu dalam pengabdian
Ujian cobaan lelah kau terima sebagai perjalanan
Rintangan tak membuat semangatmu terhenti,
Yakin setiap kebaikan kembali tuk energi
Amanah jalankan tugas sepenuh hati
Sederhana sikap ikhlas dalam berbagi
Ilmu kau tanam, manfaat setiap hari
Nyala inspirasi kau jadikan teladan sejati
Cepu,17 Agustus 2026
Rayakan Bersama Merah Putih
Karya: Gutamining Saida
Ada sebuah kebahagiaan yang terasa istimewa ketika seseorang dilahirkan pada tanggal yang sama dengan hari bersejarah bagi bangsanya. Dua saudara saya memiliki kisah yang unik. Mereka sama-sama lahir pada tanggal 17 Agustus, tanggal yang setiap tahun diperingati sebagai Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Hanya tahunnya yang berbeda. Karena itu, setiap kali tanggal kelahiran mereka tiba, rasanya perayaan tidak pernah sederhana. Bukan hanya keluarga yang mengingat, tetapi seluruh negeri seakan ikut merayakannya.
Bendera Merah Putih berkibar di berbagai tempat. Lagu-lagu kebangsaan terdengar. Jalan-jalan dihiasi umbul-umbul. Anak-anak mengikuti berbagai perlombaan, masyarakat berkumpul, dan berbagai kegiatan dilaksanakan dengan penuh kegembiraan. Di dalam maupun di luar negeri, masyarakat Indonesia mengenang hari kemerdekaan dengan rasa syukur dan bangga. Di tengah gegap gempita itulah dua saudara saya mendapatkan hadiah istimewa dari kehidupan tanggal kelahiran yang selalu diingat oleh bangsanya sendiri.
Mungkin tidak semua orang memiliki pengalaman seperti itu. Ada orang yang harus membuka kalender untuk memastikan tanggal kelahirannya. Ada pula yang hanya diingat oleh keluarga dan orang-orang terdekat.Bagi kedua saudara saya, tanggal kelahiran seolah sudah tertulis kuat dalam ingatan jutaan orang Indonesia. Setiap kali mereka melihat angka 17 Agustus, mereka tidak mungkin lupa hari itu juga merupakan bagian dari perjalanan hidup mereka.
Menjadi bagian dari tanggal bersejarah bukan hanya tentang mendapatkan ucapan selamat ulang tahun. Lebih dari itu, ada pesan kehidupan yang dapat direnungkan. Kemerdekaan mengajarkan setiap manusia memiliki kesempatan untuk tumbuh, berjuang, dan memberikan manfaat bagi orang lain. Usia yang bertambah hendaknya tidak sekadar dihitung dari banyaknya angka, tetapi dari sebanyak apa kebaikan yang sudah dilakukan.
Semoga bertambahnya usia kedua saudara saya menjadi pengingat untuk terus bersyukur. Semoga kesehatan selalu menyertai langkah mereka, rezeki dilapangkan, urusan dimudahkan, hati diberi ketenangan, dan keluarga senantiasa berada dalam kebersamaan. Semoga mereka mampu menikmati setiap fase kehidupan dengan penuh rasa syukur, tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan, serta tetap rendah hati ketika memperoleh keberhasilan.
Tanggal 17 Agustus juga mengajarkan bila kemerdekaan tidak diperoleh dengan mudah. Ada perjuangan, pengorbanan, air mata, keberanian, dan doa para pahlawan. Begitu pula kehidupan. Tidak semua jalan akan selalu mulus. Ada masa bahagia, ada masa sulit. Ada keberhasilan, ada pula kegagalan. Tetapi selama masih diberi kesempatan untuk melangkah, jangan pernah berhenti berharap dan berbuat baik.
Untuk kedua saudara yang lahir bersama semangat kemerdekaan, jadikan tanggal istimewa itu sebagai sumber motivasi. Jika seluruh negeri merayakan kemerdekaan setiap tahun, maka jadikan setiap pertambahan usia sebagai momentum untuk memerdekakan diri dari rasa takut, keraguan, kemalasan, dan pikiran-pikiran yang melemahkan.
Selamat bertambah usia. Semoga hidup semakin bermakna, langkah semakin mantap, hati semakin bijaksana, dan kehadiran kalian selalu membawa kebahagiaan bagi keluarga serta orang-orang di sekitar. Aamiin.
Terkhusus untuk saudaraku Bu Heny, barokallah fii umrik
Heny Purwaningsih
Hari-hari kau lalui penuh pengabdian
Engkau hadir membawa ilmu keteladanan
Niat tulus tak pernah mengenal lelah
Yakin tuk berbagi ilmu termasuk ibadah
Pengetahuan kau tebarkan tanpa mengharap balasan
Untuk setiap insan yang butuh bimbingan
Rela berbagi pengalaman tuk inspirasi
Walau sederhana selalu berarti di hati
Ada kebahagiaan ketika ilmu menjadi manfaat
Nasihatmu menuju langkah masa depan yang hebat,
Ilmu kau bagikan jadikan cahaya
Nyala kebaikanmu terus membara
Guna menanam benih kehidupan
Setiap ilmu tumbuh menjadi harapan
Ikhlas dalam memberi tulus dalam mengabdi
Hingga kebaikanmu menjadi jejak yang abadi
Cepu, 17 Agustus 2026
Merah Putih Pemersatu Kita
Sabtu, 15 Agustus 2026
Jalan Menuju Cinta pada IPS
Karya : Gutamining Saida
Setiap anak memiliki warna favorit. Bukan hanya baju yang dikenakan para anak, melainkan warna semangat, karakter mereka. Sebagai guru IPS, saya belajar bahwa memahami warna kesukaan siswa terkadang menjadi pintu kecil yang mampu membuka semangat belajar mereka. Dari pengamatan sederhana selama mengajar, saya menemukan bahwa warna merah dan pink menjadi dua warna yang paling banyak disukai oleh anak-anak. Warna-warna itu tampak ceria, penuh energi, dan mampu menarik perhatian mereka dalam sekejap.
Bagi sebagian orang, warna mungkin hanya pelengkap. Namun, di dalam kelas, warna dapat menjadi bahasa yang mampu berbicara tanpa kata. Warna mampu mengundang rasa penasaran, menghadirkan kegembiraan, sekaligus menciptakan suasana belajar yang lebih hidup. Karena itulah, saya mencoba mengikuti alur dunia mereka. Saya tidak memaksakan semua harus sesuai dengan keinginan saya sebagai guru, tetapi berusaha menjembatani apa yang mereka sukai dengan tujuan pembelajaran yang ingin saya capai.
Saya menyadari bahwa tanpa keterlibatan siswa, pembelajaran IPS tidak akan berjalan dengan baik. Guru boleh memiliki materi yang lengkap, media yang menarik, bahkan metode yang beragam. Namun, jika hati siswa belum hadir di dalam kelas, semua itu belum tentu menghasilkan pembelajaran yang bermakna. Oleh karena itu, setiap kali memasuki ruang kelas, saya membawa satu tekad sederhana, yaitu memahami siswa terlebih dahulu sebelum mengajar mereka.
Saya berusaha mengenali apa yang mereka sukai, apa yang membuat mereka tersenyum, dan apa yang mampu membangkitkan semangat mereka. Selama semua itu tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan dan kaidah pembelajaran, mengapa tidak dimanfaatkan? Justru dari situlah kedekatan antara guru dan siswa mulai terbangun.
Pendekatan inilah yang saya yakini sebagai salah satu kunci keberhasilan pembelajaran. Guru bukan hanya menyampaikan materi, tetapi juga menjadi sahabat belajar yang mampu memahami dunia peserta didiknya. Ketika siswa merasa dihargai, didengarkan, dan dipahami, mereka akan lebih terbuka menerima pelajaran. Mereka tidak lagi datang ke kelas karena terpaksa, melainkan karena merasa nyaman.
Dalam pembelajaran IPS, saya sering memanfaatkan media dengan dominasi warna merah dan pink. Kartu soal, gambar, tantangan belajar, hingga permainan kelompok saya kemas dengan warna-warna yang mereka sukai. Hasilnya sungguh di luar dugaan. Mata mereka berbinar ketika media pembelajaran dibagikan. Rasa penasaran muncul bahkan sebelum kegiatan dimulai. Suasana kelas berubah menjadi lebih hidup. Anak-anak yang biasanya pasif mulai berani bertanya, berdiskusi, dan mengemukakan pendapat.
Saya semakin yakin bahwa belajar tidak harus selalu dimulai dari buku. Kadang-kadang, belajar dimulai dari hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan siswa. Sebuah warna dapat menjadi jembatan menuju perhatian. Perhatian akan melahirkan rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu akan membawa mereka pada proses belajar yang menyenangkan. Dan ketika belajar terasa menyenangkan, materi IPS yang selama ini dianggap membosankan perlahan berubah menjadi pelajaran yang dinantikan.
Bagi saya, menjadi guru berarti terus belajar membaca bahasa siswa. Ada yang senang permainan, ada yang menyukai tantangan, ada pula yang lebih percaya diri ketika diberi kesempatan bekerja sama dengan teman-temannya. Tidak ada satu cara yang cocok untuk semua siswa. Oleh karena itu, saya terus mencoba berbagai pendekatan agar setiap anak menemukan alasan untuk mencintai pembelajaran IPS.
Saya percaya bahwa keberhasilan seorang guru tidak hanya diukur dari nilai ulangan yang diperoleh siswa. Keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika siswa mulai berkata, "Ternyata IPS itu menyenangkan." Kalimat sederhana tersebut memiliki makna yang luar biasa. Artinya, mereka telah mengubah cara pandang terhadap mata pelajaran yang sebelumnya dianggap sulit, membosankan, atau kurang penting.
Perubahan itu memang tidak terjadi dalam sehari. Dibutuhkan kesabaran, kreativitas, dan kemauan untuk terus berinovasi. Setiap hari saya mencoba menghadirkan pengalaman belajar yang berbeda. Ada permainan, kartu tantangan, gambar, teka-teki, diskusi, hingga media sederhana yang mudah ditemukan di sekitar siswa. Semua saya lakukan dengan satu tujuan, yaitu menghadirkan kebahagiaan dalam belajar.
Saya percaya bahwa pembelajaran yang menyenangkan akan lebih lama tersimpan dalam ingatan. Anak-anak mungkin suatu hari lupa rumus atau definisi, tetapi mereka akan selalu mengingat bagaimana perasaan mereka ketika belajar. Jika yang mereka rasakan adalah kegembiraan, penghargaan, dan semangat, maka kenangan itu akan melekat sepanjang hidup.
Merah dan pink akhirnya bukan sekadar warna. Keduanya menjadi simbol bahwa seorang guru harus mau melihat dunia dari sudut pandang peserta didiknya. Ketika guru bersedia mendekat, memahami, dan menghargai apa yang mereka sukai, maka jarak antara guru dan siswa semakin dekat. Dari kedekatan itu lahirlah kepercayaan. Dari kepercayaan tumbuh semangat belajar. Dan dari semangat belajar itulah kecintaan terhadap IPS mulai bersemi.
Sebagai guru, saya tidak pernah berhenti mencari cara. Saya yakin masih ada seribu jalan untuk membuat siswa tersenyum saat pelajaran IPS dimulai. Selama mereka datang ke kelas dengan wajah ceria, penuh rasa ingin tahu, dan pulang membawa pengalaman belajar yang berkesan, saya merasa telah menjalankan tugas sebagai pendidik dengan sepenuh hati. Karena pada akhirnya, pembelajaran terbaik bukanlah yang paling rumit, melainkan yang mampu menyentuh hati siswa dan menumbuhkan kecintaan mereka untuk terus belajar.
Olah Badan
Jumat, 14 Agustus 2026
Teriakan Sehat
Karya: Gutamining Saida
Ada sebuah tempat yang selalu menghadirkan fenomena menarik. Setiap kali datang ke sana, rasanya seperti memasuki ruang yang berbeda dari kehidupan sehari-hari. Tempat itu adalah kolam. Entah mengapa, kesedihan seolah kehilangan tempat untuk bersembunyi. Kesusahan yang mungkin dibawa dari rumah, persoalan pekerjaan yang belum selesai, kelelahan menghadapi kehidupan, pikiran yang sempat penuh dengan berbagai masalah, perlahan seperti dilarungkan bersama air.
Bukan berarti orang-orang yang datang ke kolam tidak memiliki masalah. Mereka tetap manusia. Mereka memiliki cerita masing-masing. Ada yang datang dengan tubuh lelah, sedang berjuang menjaga kebugaran, ingin menghilangkan rasa takut, ingin belajar berenang, dan sekadar membutuhkan teman untuk berbagi cerita.
Begitu kaki menginjak area kolam, sesuatu seperti berubah. Wajah-wajah yang semula tampak serius perlahan berubah menjadi senyum. Sapaan mulai terdengar. Tawa mulai pecah. Saling menggoda menjadi hal biasa. Kesalahan dalam melakukan gerakan pun bisa menjadi bahan tertawaan bersama.
Di situlah keindahan kolam.Tidak harus selalu sempurna untuk bisa bahagia. Salah gerakan, tertawa. Salah posisi, tertawa. Saling bertabrakan ketika latihan, tertawa. Bahkan ketika tidak sengaja saling menendang pun, bukannya marah, justru tertawa.
Suasana semakin meriah ketika Pak Gun memberikan instruksi. Gaya khasnya yang penuh semangat, ia mengajak semua peserta menikmati latihan bukan sebagai beban, melainkan sebagai kegembiraan bersama.
“Ayo, Bu Ibu, masuk! Tenggelamkan kepala, terus muncul ke atas! Tangan ambil air, lalu lemparkan sambil sorak... sehat!”
Seketika ibu-ibu mengikuti aba-aba tersebut. “Sehaaaat!” Suara itu menggema di sekitar kolam. Kepala masuk ke dalam air, kemudian muncul lagi. Tangan mengambil air dan melemparkannya ke udara. Air berhamburan. Wajah-wajah basah justru semakin ceria. Ada yang gerakannya tepat, ada yang terlambat, ada yang terlalu bersemangat hingga air mengenai teman di sebelahnya.
Pak Gun pun terus memberikan semangat. Instruksinya bukan sekadar mengajak tubuh bergerak, tetapi seperti mengajak hati untuk ikut bergerak. Di kolam, olahraga tidak terasa seperti kewajiban. Ia berubah menjadi permainan. Terapi berubah menjadi kebersamaan. Latihan berubah menjadi kesempatan untuk tertawa.
Salah satu rahasia mengapa orang-orang betah datang kembali. Bayangkan, dalam kehidupan sehari-hari, tersenggol sedikit saja terkadang bisa membuat seseorang kesal. Tetapi di kolam, ketika kaki seseorang tidak sengaja mengenai kaki teman di sebelahnya, yang muncul justru tawa. “Eh, maaaaf!” Lalu disambut dengan senyum. Tidak ada dendam. Tidak ada kemarahan. Semuanya kembali seperti biasa.
Barangkali karena air mengajarkan satu hal penting: jangan terlalu serius menghadapi kesalahan. Air tidak pernah marah ketika seseorang jatuh ke dalamnya. Air menerima. Air tidak menertawakan ketika seseorang belum bisa melakukan gerakan dengan baik. Air tetap menjadi tempat untuk belajar.
Ada yang gerakannya sudah bagus, masih kaku, sudah berani meluncur, masih takut, bisa mengapung dengan tenang serta masih berjuang mengendalikan napas. Tetapi semuanya berada dalam satu tempat. Tidak ada yang merasa lebih tinggi. Mereka belajar bersama.
Kolam bukan sekadar tempat untuk menggerakkan tubuh. Kolam juga menjadi tempat untuk menggerakkan hati. Tawa yang muncul bukan sekadar suara. Tawa itu seperti pelepasan. Pelepasan dari ketegangan, kekhawatiran, dan beban yang selama ini mungkin dipendam sendirian.
Menariknya lagi, setiap pertemuan hampir selalu memiliki penutup yang sama yaitu foto dan video. Setelah latihan selesai, orang-orang berkumpul. Ada yang masih basah, rambutnya berantakan, kelelahan, serta ada yang baru selesai melakukan gerakan tertentu. Ketika kamera diarahkan, hampir semuanya tersenyum.
Foto-foto itu kemudian menjadi bukti bahwa pernah ada sebuah pertemuan yang penuh kebahagiaan. Mungkin beberapa jam sebelumnya masing-masing membawa masalah. Ketika kamera mengambil gambar, yang tersimpan adalah senyum.
Bukankah hidup juga seperti itu? Kita tidak bisa memilih agar kehidupan selalu bebas dari masalah. Kita tidak bisa meminta agar setiap hari berjalan sesuai keinginan. Kesedihan pasti datang. Kegagalan mungkin terjadi. Tubuh bisa lelah. Hati bisa kecewa.
Tetapi kita selalu bisa memilih bagaimana menghadapi semuanya. Kolam memberikan contoh yang sederhana.
Datanglah. Bergeraklah. Tersenyumlah. Berbagilah.
Senyum sederhana dari kita adalah obat bagi seseorang yang sedang menyembunyikan kesedihan. Mereka datang untuk mengingat bahwa kebahagiaan masih bisa ditemukan di tengah berbagai persoalan.
Kesedihan tidak benar-benar hilang. Kesusahan tidak benar-benar selesai. Tetapi untuk sementara, semuanya dititipkan kepada air.
“Ayo, Bu Ibu! Tenggelamkan kepala... muncul lagi... ambil air... lemparkan... dan sorak bersama! Sehat!”
“SEHAAAAT!”
Teriakan itu bukan sekadar suara. Ia seperti doa. Doa agar tubuh tetap diberi kekuatan, hati diberi kebahagiaan, persahabatan tetap terjaga, dan setiap langkah dalam kehidupan selalu mendapatkan keberkahan dari Allah Subhanahu Wata'alla. Aamiin
Cepu, 15 Agustus 2026.








