Karya: Gutamining Saida
Pagi itu terasa udara masih sama, rumah masih hangat, tetapi hati seorang ibu selalu peka terhadap tanda-tanda perpisahan. Hari Jum;at, anak laki-laki saya, Abida, akan kembali ke Salatiga. Kota kecil yang menjadi saksi perjuangannya mencari rezeki dan belajar tentang kehidupan.
Abida bukan tipe anak yang mudah panik. Ia dikenal sangat santai, bahkan cenderung terlalu santai. Sehari sebelum keberangkatan, saya sudah mencoba memastikan semuanya.
“Kapan balik ke Salatiga?” tanya saya.
“Hari Jum’at,” jawabnya singkat.
“Naik apa?”
“Kereta, mi.”
“Sudah beli tiket?”
“Sudah.”
“Berangkat jam berapa?”
“Jam delapan.”
Jawabannya pendek-pendek. Tidak banyak penjelasan. Seolah semuanya sudah terkendali. Tapi sebagai seorang ibu, hati ini tidak bisa sepenuhnya tenang hanya dengan jawaban singkat.
Pagi itu, waktu berjalan seperti biasa. Namun bagi saya, setiap detiknya terasa lebih cepat. Jarum jam seperti berlari, sementara Abida justru seolah berjalan di tempat.
Pukul 07.30 WIB, saya mulai merasa gelisah.
“Dik, sudah jam setengah delapan, siap-siap,” saya mengingatkan.
Ia masih saja rebahan. Tubuhnya masih berat untuk bangun. Mungkin hatinya masih ingin tinggal lebih lama di rumah. Mungkin ada rasa enggan meninggalkan kenyamanan yang sudah ia rasakan beberapa hari ini.
Waktu tidak pernah menunggu siapa pun. “Dik, jam berapa keretanya?” saya kembali bertanya, kali ini dengan nada yang lebih serius.
Tidak ada jawaban yang menunjukkan rasa tergesa. Hanya gerakan pelan, seakan waktu masih panjang.
Padahal jarum jam terus berjalan… 07.35… 07.40… 07.43…WIB
Dan tepat ketika waktu menunjukkan pukul 07.45 WIB, Abida bangkit, berjalan mendekati saya, lalu berkata dengan tenang yaotu
“Kereta sudah berangkat, mi. Ketinggalan. Tu suaranya sudah jalan. Suara kereta memang bisa terdengar di rumah. Rumah saya dekat dekat dengan stasiun kereta Cepu.
Saya terdiam sejenak. Bukan hanya karena ia ketinggalan kereta, tetapi karena reaksinya yang begitu tenang. Tidak ada wajah panik. Tidak ada nada penyesalan. Bahkan tidak ada keluhan.
“Ya sudah,” katanya lagi ringan.
Sebagai ibu, tentu saja saya tidak bisa setenang itu.
“Lha terus gimana tiketnya? Bisa kembali?” tanya saya.
“Enggaklah,” jawabnya singkat.
Di situlah saya menarik napas dalam-dalam. Bukan untuk marah, tapi untuk bisa menerima. Karena dalam hidup, ada banyak hal yang memang tidak bisa diulang, tidak bisa dikembalikan, termasuk waktu yang telah terlewat.
Saya pun mencoba melihat kejadian ini dengan kacamata iman.
“Ya sudah… tidak rezeki. Berarti disuruh banyak sedekah,” kata saya.
Kalimat itu sederhana, tapi sebenarnya adalah pengingat untuk diri saya sendiri juga. Bahwa dalam setiap kehilangan, ada pesan yang Allah Subhanahu Wata;alla titipkan. Dalam setiap kegagalan, ada hikmah yang sedang disiapkan.
Abida tidak membantah. Tidak menyalahkan keadaan. Ia langsung mengambil ponselnya, membuka aplikasi, dan mulai mencari tiket baru.
Beberapa menit kemudian, ia berkata,
“Dapat lagi, mi. Jam sepuluh.”
“Alhamdulillah,” jawab saya spontan.
Di situlah hati ini terasa lebih tenang. Seolah Allah Subhanahu Wata'lla sedang menunjukkan bahwa rezeki tidak akan pernah tertukar. Bahwa apa yang terlewat bukan berarti hilang selamanya. Saat itu, saya belajar banyak dari kejadian sederhana.
Ketinggalan kereta ternyata bukan hanya tentang kehilangan tiket atau waktu. Tapi tentang bagaimana kita menyikapi takdir. Ada orang yang ketika kehilangan sesuatu langsung marah, menyalahkan diri sendiri atau orang lain. Tapi ada juga yang memilih diam, menerima, lalu mencari jalan lain.
Dan mungkin, di situlah letak kedewasaan. Saya juga merenung, bukankah hidup ini seperti perjalanan? Kita punya rencana, punya jadwal, punya target. Tapi pada akhirnya, semua tetap berada dalam kendali Allah Subhanahu Wata'lla.
Kita bisa saja merasa sudah tepat waktu, tapi ternyata Allah Subhanahu Wata'lla berkata, “Belum sekarang.”
Kita bisa saja merasa terlambat, tapi ternyata Allah Subhanahu Wata'lla justru sedang menyelamatkan kita dari sesuatu yang tidak kita ketahui.
Siapa yang tahu, mungkin jika Abida naik kereta sebelumnya, ada hal yang tidak baik. Atau mungkin Allah Subhanahu Wata'lla ingin memberinya waktu lebih lama bersama keluarga. Atau mungkin Allah Subhanahu Wata'lla ingin mengajarkan tentang arti tanggung jawab, tentang waktu, dan tentang menerima konsekuensi dengan lapang dada.
Karena sejatinya, setiap kejadian adalah bagian dari skenario terbaik dari Allah Subhanahu Wata'lla. Hari ini, Abida memang ketinggalan kereta. Tapi ia tidak ketinggalan kesabaran. Ia tidak ketinggalan ketenangan. Ia tidak ketinggalan keimanan. Saya pun belajar sebagai seorang ibu.
Bahwa tugas kita bukan hanya mengingatkan, tapi juga mendoakan. Bukan hanya mengarahkan, tapi juga merelakan. Karena pada akhirnya, anak-anak kita akan berjalan di jalan hidupnya sendiri. Yang bisa kita lakukan hanyalah memastikan mereka membawa bekal iman.
Kereta boleh saja pergi tanpa menunggu. Tapi takdir… tidak pernah salah waktu. Dan rezeki… akan selalu menemukan jalannya kepada siapa yang sabar dan berserah diri. Aamiin. Aamiin Semoga anak saya selalu dalam lindungan-Nya.
Cepu, 27 Maret 2026






