gutaminingsaida SMPN 3 CEPU
Kamis, 30 Juli 2026
Sang Motivator Kesehatan
Rabu, 29 Juli 2026
Es Krim Mengubah Cara Pandang
Kreativitas Panitia Hajatan
Karya: Gutamining Saida
Setiap menghadiri sebuah hajatan, saya selalu berusaha melihat sesuatu yang berbeda. Bagi sebagian orang, menghadiri undangan khitanan mungkin hanya sebatas memenuhi undangan, bersalaman dengan tuan rumah, memberikan doa, menikmati hidangan, lalu pulang. Saya memiliki kebiasaan lain. Saya senang mengamati hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian banyak orang. Dari pengamatan sederhana itulah sering lahir sebuah cerita yang layak dibagikan kepada pembaca.
Kemarin saya menghadiri undangan khitanan di rumah salah seorang saudara. Suasana halaman rumah sudah ramai sejak saya datang. Para tamu silih berganti berdatangan. Ada yang datang bersama pasangan, ada pula yang datang bersama anggota keluarganya. Perhatian saya justru tertuju pada sesuatu yang tidak biasa di depan pintu masuk.
Di dekat penerima tamu berjajar beberapa alat dorong bangunan atau gerobak sorong. Biasanya alat itu digunakan para pekerja bangunan untuk mengangkut pasir, batu, semen, atau bata. Melihat gerobak sorong berada di depan rumah yang sedang mengadakan hajatan tentu membuat saya penasaran. Dalam hati saya bertanya-tanya, "Untuk apa gerobak ini disiapkan di serambi depan?"
Saya memilih mengamati daripada langsung bertanya. Tidak lama kemudian, rasa penasaran itu mulai terjawab. Satu per satu tamu berdatangan membawa berbagai macam bawaan. Pemandangan yang saya lihat berbeda dengan beberapa tahun lalu. Sebagian besar tamu datang membawa bahan kebutuhan pokok. Ada yang membawa kantong berisi beras sepuluh kilogram, ada yang membawa tas belanja berisi gula pasir, mi instan, minyak goreng, teh, atau kebutuhan dapur lainnya. Sebagian tamu bahkan membawa beberapa jenis sembako sekaligus. Hanya sebagian kecil saja yang datang dengan membawa amplop.
Bawaan para tamu ternyata cukup berat. Apalagi banyak tamu perempuan yang membawa tas belanja penuh isi. Melihat kondisi itu, para penerima tamu langsung sigap membantu. Begitu tamu menyerahkan bingkisan, mereka segera meletakkannya di atas gerobak sorong yang sudah disiapkan sejak awal. Tidak perlu mengangkat satu per satu menuju ruang penyimpanan di dalam rumah. Setelah gerobak terisi penuh, salah seorang panitia langsung mendorongnya masuk ke dalam rumah. Semua barang ditata rapi di tempat yang telah disediakan. Setelah selesai, gerobak sorong kembali lagi ke halaman depan untuk menerima kiriman sembako dari tamu berikutnya.
Proses itu berlangsung berulang-ulang selama tamu terus berdatangan. Gerobak sorong keluar masuk melewati para tamu yang duduk-duduk menjadi bagian penting dari jalannya acara. Tidak ada yang merasa aneh. Semua berjalan begitu alami. Para penerima tamu tampak lebih ringan pekerjaannya karena tidak harus berkali-kali mengangkat karung beras atau tas belanja yang berat menggunakan tangan.
Saya melihat sendiri bagaimana sebuah alat sederhana mampu membuat pekerjaan menjadi jauh lebih efisien. Biasanya dua orang harus membawa karung beras ke dalam rumah. Kini cukup ditata di atas gerobak sorong, lalu didorong menuju tempat penyimpanan. Tenaga lebih hemat, waktu lebih singkat, dan pekerjaan terasa lebih ringan.
Fenomena ini menurut saya menarik untuk didokumentasikan. Saya pun mengabadikannya melalui beberapa foto. Bukan sekadar memotret gerobak sorong, tetapi ingin menyimpan sebuah cerita tentang perubahan budaya masyarakat. Perubahan kecil yang mungkin belum banyak disadari orang.
Kini, tradisi memberikan hadiah saat menghadiri hajatan tampaknya mulai mengalami penyesuaian. Di kampung, masyarakat memilih memberikan sembako daripada sekadar uang dalam amplop. Beras, gula, minyak goreng, mi instan, dan berbagai kebutuhan pokok dianggap lebih bermanfaat bagi keluarga yang sedang mempunyai hajatan. Di tengah harga kebutuhan sehari-hari yang terus berubah, bantuan dalam bentuk bahan makanan menjadi bentuk kepedulian yang terasa manfaatnya.
Saya merasa inilah bentuk inovasi yang lahir dari pengalaman. Tidak perlu membeli peralatan baru yang mahal. Cukup memanfaatkan alat yang sudah ada di rumah atau meminjam dari tetangga, pekerjaan menjadi jauh lebih mudah. Solusi sederhana, tetapi manfaatnya besar.
Lebih dari itu, saya melihat adanya semangat gotong royong yang tetap hidup di tengah masyarakat. Para penerima tamu bekerja tanpa mengeluh. Mereka saling bergantian mendorong gerobak, mengangkat barang, dan menata sembako di dalam rumah. Semua dilakukan dengan wajah ramah dan penuh semangat. Para tamu pun merasa dihargai karena barang bawaan mereka langsung dibantu sejak turun dari kendaraan.
Peristiwa sederhana ini mengajarkan bahwa pelayanan yang baik sering kali lahir dari kepedulian terhadap hal-hal kecil. Mereka tidak membiarkan tamu atau penerima tamu bekerja lebih keras dari yang diperlukan. Sebaliknya, mereka mencari cara agar semua menjadi lebih mudah. Itulah makna pelayanan yang sesungguhnya. Inspirasi sering kali tidak datang dari peristiwa besar, melainkan dari kebiasaan sehari-hari yang dilakukan dengan penuh kreativitas.
Gerobak sorong menjadi simbol perubahan zaman, kreativitas masyarakat, dan semangat gotong royong yang tetap terjaga. Sebuah alat sederhana, saya belajar setiap persoalan selalu memiliki solusi. Yang diperlukan hanyalah kepekaan untuk melihat kebutuhan dan kemauan untuk berinovasi.
Semoga fenomena kecil yang saya saksikan ini dapat menjadi inspirasi bagi keluarga lain yang akan menyelenggarakan hajatan. Siapa sangka, gerobak sorong yang biasa mengangkut pasir dan batu kini justru menjadi "pahlawan" yang membantu mengangkut beras, gula, minyak goreng, dan berbagai sembako.
Cepu, 29 Juli 2026
Selasa, 28 Juli 2026
Es Krim
Lepaskan Atribut
Senin, 27 Juli 2026
Rezeki Saya Di Urutan 40
Jumat, 24 Juli 2026
5 M
Karya : Gutamining Saida
Jam mengajar sedang kosong. Suasana sekolah terasa lebih tenang. Sebagian guru memanfaatkan waktu untuk bersantai, ada yang berbincang dengan rekan sejawat, dan ada pula yang sekadar menikmati minuman. Saya memilih membuka telepon genggam. Bukan untuk mencari hiburan, melainkan membaca percakapan di grup Swimming Squad 2. Grup yang sering menghadirkan pelajaran hidup .
Mata saya tertuju pada tulisan dari Pak Gun. Beliau menuliskan tiga kalimat pendek berbentuk pertanyaan.
Mencegah sakit?
Menjaga sehat?
Mengobati sakit?
Hanya tiga kalimat. Tidak panjang, tidak disertai penjelasan. Justru karena singkat, pertanyaan itu mengajak setiap anggota grup untuk berpikir. Masing-masing orang tentu memiliki jawaban berdasarkan pengalaman hidupnya.
Beberapa menit saya membaca tanpa memberi komentar. Saya mencoba memahami maksud pertanyaan tersebut. Saya teringat pengalaman saat mengikuti latihan di kolam renang. Peserta datang dengan berbagai latar belakang. Ada yang memiliki keluhan pada tulang, pinggang, lutut, bahkan jantung. Ada pula yang sebenarnya sehat, tetapi ingin mempertahankan kebugarannya agar tetap bisa menikmati hari-hari bersama keluarga.
Akhirnya saya memberanikan diri menulis satu kalimat singkat.
"Salah satu caranya yaitu dengan terapi di air."
Tidak lama kemudian Pak Gun memberikan tanggapan.
"Mendengar, memahami, melihat, memperhatikan, mencoba."
Saya tersenyum membaca balasan itu. Kata sederhana, tetapi terasa begitu dalam maknanya. Saya spontan menuliskan komentar lagi.
"4M nich..."
Saat itu saya mengira hanya ada empat langkah penting. Saya membacanya sekilas sehingga belum benar-benar menghitung dengan teliti. Grup kembali sunyi. Tidak ada komentar lanjutan. Seperti biasanya, setiap anggota mungkin sedang sibuk dengan aktivitas masing-masing.
Rasa penasaran membuat saya membuka kembali percakapan tersebut beberapa saat kemudian. Saya membaca perlahan, satu demi satu kata yang ditulis Pak Gun.
"Mendengar..."
"Memahami..."
"Melihat..."
"Memperhatikan..."
"Mencoba..."
Saya menghitung ulang.
Satu...
Dua...
Tiga...
Empat...
Lima.
Saya tersenyum sendiri. Ternyata bukan 4M, melainkan 5M. Saya terlalu cepat menyimpulkan sehingga melewatkan satu langkah penting. Peristiwa kecil itu mengingatkan saya bahwa dalam kehidupan kita sering kali terburu-buru memberikan penilaian. Padahal, jika kita mau membaca lebih teliti, memperhatikan lebih saksama, dan memahami lebih dalam, kita akan menemukan pelajaran yang jauh lebih bermakna.
Kelima kata tersebut ternyata bukan hanya berlaku di kolam renang. Semuanya juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Langkah pertama adalah mendengar. Mendengar bukan sekadar suara masuk ke telinga. Mendengar berarti membuka hati terhadap nasihat, pengalaman, dan ilmu dari orang lain. Banyak orang gagal berkembang bukan karena tidak memiliki kesempatan, melainkan karena merasa sudah tahu segalanya sehingga enggan mendengar.
Langkah kedua adalah memahami. Setelah mendengar, jangan buru-buru menyimpulkan. Pahami maksudnya terlebih dahulu. Tidak semua nasihat langsung bisa dimengerti dalam sekali dengar. Kadang kita perlu merenungkannya agar menemukan hikmah yang tersembunyi.
Langkah ketiga adalah melihat. Kita belajar bukan hanya dari teori, tetapi juga dari contoh nyata. Di kolam renang, peserta baru biasanya mengamati gerakan pelatih dan teman-temannya terlebih dahulu sebelum mencoba sendiri. Dari pengamatan itulah muncul gambaran yang benar tentang apa yang harus dilakukan.
Langkah keempat adalah memperhatikan. Melihat saja belum cukup. Memperhatikan berarti fokus pada hal-hal kecil yang sering terabaikan. Posisi tangan, cara bernapas, keseimbangan tubuh, hingga ketenangan pikiran menjadi bagian penting dalam latihan. Demikian pula dalam kehidupan. Keberhasilan sering lahir dari perhatian terhadap hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten.
Barulah langkah kelima adalah mencoba. Tidak ada ilmu yang benar-benar menjadi milik kita jika hanya didengar dan dipahami tanpa dipraktikkan. Keberanian mencoba akan melahirkan pengalaman. Pengalaman akan melahirkan kemampuan. Kemampuan yang terus diasah akan menjadi kebiasaan baik.
Saya kemudian teringat bahwa bonus dari semua proses itu adalah bisa berenang dengan lebih baik. Sesungguhnya bonus yang lebih besar bukan hanya kemampuan berenang. Bonus terindah adalah tubuh yang lebih sehat, pikiran yang lebih segar, hati yang lebih bahagia, serta persahabatan yang semakin erat.
Kolam renang ternyata bukan hanya tempat berolahraga. Ia menjadi ruang belajar yang unik. Di sana tidak ada batasan usia. Anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga lanjut usia dapat belajar bersama. Tidak ada yang merasa paling hebat karena setiap orang memiliki prosesnya masing-masing.
Saya juga belajar kesehatan tidak datang secara instan. Ia harus dijaga dengan kesungguhan, kedisiplinan, dan kesabaran. Mencegah sakit jauh lebih ringan daripada mengobati ketika penyakit sudah datang. Menjaga kesehatan merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat yang telah Allah berikan.
Percakapan singkat di grup WhatsApp hanya berlangsung beberapa menit. Hikmah yang saya peroleh terasa jauh lebih panjang daripada jumlah kalimat yang tertulis. Terkadang Allah menghadirkan pelajaran melalui sebuah pertanyaan sederhana yang mampu menggugah hati.
Kini saya tidak lagi mengingatnya sebagai 4M, melainkan 5M: Mendengar, Memahami, Melihat, Memperhatikan, dan Mencoba. Lima langkah sederhana yang dapat diterapkan bukan hanya saat belajar berenang, tetapi saat belajar menjadi pribadi yang lebih baik.
Menjelang siang, pak Gun kembali komentar, "Naaaaahhhh." Saya jadi malulah 😊
Cepu, 25 Juli 2026
Senin, 20 Juli 2026
Kesan Hari Pertama
Minggu, 19 Juli 2026
Akar Pohon
Karya: Gutamining Saida
Di sela-sela menikmati keindahan alam, saya sering memiliki kebiasaan sederhana, yaitu memperhatikan hal-hal kecil yang mungkin luput dari pandangan banyak orang. Ada yang sibuk memotret bunga karena keindahannya, ada yang mengabadikan langit senja karena warnanya yang memikat. Kali ini perhatian saya justru tertuju pada sesuatu yang jarang menjadi objek foto, yaitu akar sebuah pohon.
Bagi sebagian orang, akar hanyalah bagian pohon yang tersembunyi di dalam tanah. Ia tidak berbunga, tidak berbuah, bahkan tidak memberikan keindahan yang mencolok seperti daun yang hijau atau batang yang menjulang tinggi. Akan tetapi, ketika saya menemukan sebuah pohon dengan akar yang menjalar di permukaan tanah, saya seakan diajak berhenti untuk berpikir.
Akar itu tampak begitu unik. Ada yang besar, ada yang kecil. Sebagiannya menjulur ke kanan, sebagian lagi ke kiri. Ada yang melengkung seperti tangan yang sedang merangkul bumi. Ada pula yang tampak kokoh seolah menjadi tiang penyangga batang pohon. Yang membuat saya semakin kagum, akar pohon itu tidak lagi berada di dalam tanah, melainkan muncul ke permukaan dengan bentuk yang tidak beraturan, namun tetap indah dipandang.
Saya pun mengabadikan pemandangan akar pohon. Bukan sekadar untuk koleksi foto, tetapi sebagai pengingat bahwa setiap ciptaan Allah Subhanahu Wata'alla menyimpan hikmah yang luar biasa. Foto itu menjadi pengingat bahwa rasa syukur bisa tumbuh dari sesuatu yang sederhana, selama hati mau melihat dengan mata keimanan.
Mengapa Allah menciptakan akar dengan bentuk yang berbeda-beda? Mengapa ada akar yang tersembunyi, sementara yang lain justru tampak di permukaan? Mengapa ada yang lurus, ada yang berkelok-kelok, bahkan ada yang terlihat saling bertaut?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak harus selalu dijawab dengan pengetahuan ilmiah semata. Justru pertanyaan itu membawa saya bahwa kebesaran Allah Subhanahu Wata'alla tidak pernah terbatas oleh cara berpikir manusia. Setiap bentuk memiliki tujuan. Setiap lekukan memiliki fungsi. Tidak ada satu pun ciptaan-Nya yang sia-sia.
Akar yang menjalar di permukaan mungkin sedang mencari jalan terbaik agar pohon tetap mendapatkan air. Akar yang membesar mungkin sedang memperkuat batang agar mampu bertahan menghadapi angin kencang. Akar yang kecil mungkin sedang tumbuh perlahan menjalankan tugasnya. Semua memiliki peran sesuai dengan ketetapan Allah Subhanahu Wata'alla .
Bukankah kehidupan manusia juga demikian? Tidak semua orang menempuh jalan yang sama. Ada yang kehidupannya tampak lurus dan mudah. Ada yang harus berbelok, berliku, bahkan jatuh bangun sebelum mencapai tujuan. Ada yang memperoleh rezeki dengan cepat, ada pula yang harus berjuang bertahun-tahun. Semua berjalan sesuai takdir yang telah Allah Subhanahu Wata'alla tetapkan.
Akar mengajarkan bahwa kekuatan tidak selalu terlihat. Justru bagian yang paling menentukan kehidupan pohon adalah bagian yang sering terlupakan. Selama akar bekerja dengan baik, pohon akan tetap berdiri tegak, menghasilkan daun yang rindang, bunga yang indah, dan buah yang bermanfaat.
Begitu pula manusia. Keimanan, keikhlasan, kesabaran, dan ketakwaan ibarat akar kehidupan. Mungkin tidak tampak oleh manusia lain, tetapi itulah yang menjadi sumber kekuatan ketika menghadapi berbagai ujian. Orang lain mungkin hanya melihat keberhasilan seseorang, tidak melihat doa-doa panjang, air mata, kesabaran, dan perjuangan yang menjadi akar dari keberhasilan.
Semakin lama saya memandang akar pohon tersebut, semakin saya menyadari bahwa Allah Subhanahu Wata'alla sedang mengajarkan pelajaran melalui alam. Alam adalah kitab bagi siapa saja yang mau membaca. Pepohonan, sungai, gunung, langit, dan seluruh isi bumi senantiasa bertasbih kepada-Nya. Tinggal manusialah yang mau mengambil pelajaran atau justru melewatinya tanpa makna.
Saya bersyukur masih diberi kesempatan untuk memperhatikan hal-hal sederhana seperti ini. Di tengah kesibukan, ternyata Allah masih menghadirkan momen-momen kecil yang mampu menguatkan hati. Tidak perlu menunggu peristiwa besar untuk meningkatkan keimanan. Terkadang, hanya dengan memperhatikan akar pohon, hati sudah dapat merasakan betapa agungnya Sang Pencipta.
Akar yang muncul ke permukaan seolah mengingatkan bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dugaan. Ada kalanya sesuatu yang seharusnya tersembunyi justru tampak jelas. Ada kalanya jalan yang kita anggap aneh ternyata menjadi jalan terbaik. Allah Maha Mengetahui apa yang dibutuhkan setiap makhluk-Nya. Dari sanalah tumbuh rasa kagum, rasa syukur, dan keinginan untuk semakin mengenal Sang Pencipta. Ketika keimanan bertambah karena merenungi ciptaan-Nya, maka sesungguhnya setiap langkah di alam ini telah menjadi bagian dari ibadah dan perjalanan menuju Allah Subhanahu Wata'alla. Semoga kita juga belajar menghargai akar yang diam, bekerja tanpa pujian, tetapi menjadi penopang kehidupan. Aamiin
Cepu, 20 Juli 2026
Jumat, 17 Juli 2026
Hari Spesial
PRASETYO CAHYO NUGROHO
Karya : Gutamining Saida
P : Pemimpin yang bijak tuntun langkah pejuang pengajaran
R : Ramah bersikap tegas mengambil keputusan
A : Amanah mengemban tanggung jawab dunia pengasuhan
S : Senantiasa menginspirasi guru karyawan
E : Energi positif terpancar dalam setiap kebijakan
T : Tulus mengabdi demi masa depan dunia pendidikan
Y : Yakin perubahan besar dimulai dari kebersamaan
O : Optimisme cahaya kuatkan setiap langkah persatuan
C : Cerdas bangun budaya belajar berkeunggulan
A : Adil memberi ruang bagi guru menuju perkembangan
H : Harmoni kau ciptakan atas kepemimpinan
Y : Yang kau utamakan bukan prestasi namun kepribadian
O : Oleh keteladananmu sekolah tumbuh membanggakan
N : Nilai luhur kau jadikan pijakan
U : Unggul berkarya rendah hati dalam pengabdian
G : Guru kau hargai dukung motivasi tuk kesuksesan
R : Rasa kebersamaan kau tumbuhkan
O : Orang tua guru peserta didik bersinergi bangun impian
H : Harapan pendidikan bermutu kini jadi kenyataan
O : Oleh mu semangat
belajar berkarya terus nyalakan
Cepu, 17 Juli 2026
Mendingkan Tubuh, Menyejukkan Hati
Karya: Gutamining Saida
Ada sebuah fenomena sederhana yang terus berputar dalam pikiran saya. Mungkin bagi sebagian orang hal itu biasa saja, tetapi bagi saya menyimpan pelajaran kehidupan yang sangat dalam. Fenomena itu saya alami berkali-kali ketika mengikuti terapi bersama teman-teman di kolam.
Di dalam air, kami bergerak dengan arah yang berbeda. Ada yang sedang meluncur, ada yang berlatih mengambil napas, ada yang sedang belajar mengapung, dan ada pula yang sedang menyempurnakan gerakan kaki. Karena jumlah peserta cukup banyak, sesekali kaki saling beradu, tangan tidak sengaja menyentuh tubuh teman, bahkan terkadang kaki saling bersenggolan.
Anehnya, hampir tidak pernah terdengar suara kemarahan. Yang muncul justru senyum. Bahkan sering kali disusul tawa yang lepas.
"Maaf ya..."
"Iya, tidak apa-apa."
Lalu kami tersenyum, tertawa bersama dan lanjut berenang seolah tidak terjadi apa-apa. Tidak ada wajah memerah karena emosi. Tidak ada mata melotot. Tidak ada kata-kata kasar. Tidak ada keinginan membalas. Yang ada hanyalah saling memahami bahwa semua itu terjadi tanpa disengaja. Saya kemudian bertanya dalam hati, mengapa suasana di kolam bisa sedamai itu? Padahal benturan fisik benar-benar terjadi. Mengapa hati terasa begitu lapang?
Semakin lama kita merenung, semakin kita menemukan bahwa air bukan sekadar tempat berolahraga. Air memiliki sifat yang mengajarkan ketenangan. Air selalu mencari tempat yang rendah. Air tidak pernah sombong. Air mampu membersihkan kotoran. Air juga mampu menyejukkan tubuh yang kepanasan. Tanpa disadari, air ikut mendinginkan hati orang-orang yang berada di dalamnya.
Dalam ajaran Islam, air memiliki kedudukan yang sangat mulia. Air menjadi sarana bersuci melalui wudu maupun mandi. Sebelum menghadap Allah Subhanahu Wata'alla dalam salat, seorang muslim diperintahkan membersihkan anggota tubuhnya dengan air. Bukan hanya badan yang dibersihkan, tetapi hati juga dipersiapkan agar lebih tenang ketika berdiri di hadapan Sang Pencipta.
Rasulullah, mengajarkan ketika seseorang sedang marah, hendaknya ia berwudu. Para ulama menjelaskan bahwa marah diibaratkan berasal dari panasnya godaan setan, sedangkan air mampu memadamkan panas tersebut. Betapa indahnya ajaran Islam. Bahkan sebelum ilmu psikologi modern berkembang, Islam telah mengajarkan cara mengendalikan emosi dengan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata'alla melalui air dan ibadah.
Ketika seseorang membasuh wajahnya, seolah ia sedang mencuci kesombongan. Ketika membasuh tangan, mengingat kita agar tidak mudah menyakiti orang lain. Ketika membasuh kepala, ia diajak menjernihkan pikiran. Ketika membasuh kaki, diingatkan agar melangkah menuju kebaikan.
Air ternyata bukan hanya membersihkan tubuh, tetapi juga mendidik jiwa. Lalu pikiran saya melayang ke tempat lain, yaitu jalan raya. Di sana suasananya sering kali berbeda. Senggolan kecil antara kendaraan bisa berubah menjadi pertengkaran besar. Klakson dibunyikan berkali-kali. Kata-kata kasar terlontar. Wajah berubah merah. Bahkan tidak sedikit yang berakhir dengan perkelahian hanya karena persoalan yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan saling meminta maaf.
Jika direnungkan, banyak kejadian di jalan terjadi karena tidak sengaja. Sama seperti benturan di kolam renang. Bedanya hanyalah cara hati menyikapinya. Di kolam, orang lebih mudah berkata, "Maaf." Di jalan raya, sebagian orang justru lebih cepat berkata, "Salahmu!"
Padahal satu kata maaf sering kali jauh lebih kuat daripada seribu kata pembelaan. Alangkah indahnya jika suasana di jalan raya memiliki semangat seperti suasana di kolam. Ketika tersenggol, masing-masing tersenyum. Ketika terjadi kesalahan, saling memaafkan. Ketika ada kekeliruan, lebih memilih menahan ego daripada mempertahankan amarah.
Bukankah Allah Subhanahu Wata'alla mencintai orang-orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan sesamanya?
Menahan marah bukan berarti lemah. Justru itulah tanda kekuatan sejati. Orang yang mampu mengalahkan emosinya adalah orang yang berhasil mengalahkan dirinya sendiri. Kemenangan terbesar bukanlah ketika mampu mengalahkan orang lain, melainkan ketika mampu mengendalikan hawa nafsu.
Air kolam pun dapat menjadi guru kehidupan. Ia mengajarkan kelembutan, kesabaran, kebersamaan, dan kerendahan hati. Setiap cipratan air seolah mengingatkan bahwa hidup akan jauh lebih damai jika hati tetap sejuk. Setiap senyum teman yang tidak sengaja tersenggol menjadi bukti bahwa memaafkan adalah pilihan yang membahagiakan. Setiap tawa yang terdengar di tengah latihan menjadi isyarat bahwa persaudaraan jauh lebih penting daripada mempertahankan ego.
Semoga kita mampu membawa kesejukan air itu ke mana pun melangkah. Ke rumah, ke sekolah, ke tempat kerja, ke media sosial, hingga ke jalan raya. Jangan biarkan hati menjadi panas hanya karena persoalan kecil. Jika emosi mulai muncul, ingatlah nasihat Rasulullah untuk segera berwudhu. Basuhlah wajah, tangan, kepala, dan kaki. Mohonlah kepada Allah Subhanahu Wata'alla agar hati kembali teduh.
Karena dunia tidak membutuhkan banyak orang yang mudah marah. Dunia membutuhkan lebih banyak hati yang lembut, jiwa yang lapang, dan manusia yang mudah memaafkan. Semoga setiap tetes air yang menyentuh tubuh kita menjadi pengingat agar hati tetap bersih, pikiran tetap jernih, dan akhlak semakin mulia. Aamiin
Cepu, 17 Juli 2026
Selasa, 14 Juli 2026
Lempar Dadu
Karya : Gutamining Saida
Siang hari sering kali menjadi waktu yang tepat untuk beristirahat setelah menjalani berbagai aktivitas. Bagi saya, siang ini saat ada cucu-cucu menjadi kesempatan yang sangat berharga untuk menemaninya. Mereka belajar dengan cara yang menyenangkan. Kami ajak mereka untuk kebersamaan, tawa yang mengalir tanpa henti, dan permainan sederhana yang mampu menghadirkan pembelajaran.
Sehari sebelumnya saya telah menyiapkan media permainan. Dengan semangat saya menggambar pola di atas tiga lembar kertas. Tutup botol yang saya beri angka satu sampai enam. Gambarnya sederhana, dibuat sendiri dengan alat yang tersedia di rumah. Tidak perlu mahal, tidak perlu mewah, melainkan bagaimana media tersebut mampu menghidupkan suasana belajar yang menyenangkan.
Permainan yang kami lakukan menggunakan lemparan dadu. Setiap angka yang muncul menjadi penentu langkah berikutnya. Mereka menunggu giliran melempar dadu. Mata mereka berbinar penuh rasa penasaran. Sesekali terdengar sorak kecil ketika angka yang diharapkan muncul. Terkadang mereka juga tertawa ketika menemukan gambar bulatan satu satu
Suasana rumah pun berubah menjadi arena belajar yang penuh kegembiraan. Tidak ada wajah murung. Yang terdengar hanyalah gelak tawa, canda, dan semangat untuk mencoba lagi. Mereka saling menyemangati, bukan saling menjatuhkan. Ketika salah satu lebih dulu maju, yang lain tetap memberikan tepuk tangan. Ketika ada yang tertinggal, mereka tidak mengejek, melainkan ikut memberi semangat agar tetap melanjutkan permainan.
Mereka belajar persaingan tidak harus melahirkan permusuhan. Mereka belajar bahwa kemenangan akan terasa lebih indah jika diraih dengan cara yang jujur dan sportif. Mereka juga belajar menerima hasil dengan lapang dada, baik ketika menang maupun ketika belum berhasil.
Saya memperhatikan setiap ekspresi mereka. Betapa polosnya wajah-wajah kecil itu ketika tertawa bersama. Tidak sedikit pun tampak keinginan untuk menang sendiri. Mereka menikmati setiap proses permainan. Mereka tetap tersenyum dan kembali berusaha. Anak-anak sebenarnya memiliki kemampuan luar biasa untuk menikmati proses, sesuatu yang kadang justru mulai hilang ketika mereka beranjak dewasa.
Di balik permainan sederhana, tersimpan proses belajar yang alami. Mereka menghitung jumlah titik pada dadu, mengenali angka, menentukan langkah, membandingkan posisi, bahkan tanpa sadar melatih kemampuan berhitung. Semua berlangsung begitu ringan karena dibungkus dalam suasana bermain. Mereka tidak merasa sedang belajar. Otak mereka sedang aktif mengolah berbagai informasi baru.
Ketika suasana penuh kegembiraan, ilmu akan lebih mudah melekat dalam ingatan. Belajar tidak selalu identik dengan duduk diam berjam-jam. Terkadang, pembelajaran terbaik justru hadir melalui permainan yang sederhana, penuh interaksi, dan sarat kasih sayang.
Permainan mengajarkan banyak nilai kehidupan yang tidak ditemukan dalam buku pelajaran. Anak-anak belajar menunggu giliran dengan sabar. Mereka belajar mengendalikan emosi ketika hasil lemparan dadu tidak sesuai harapan. Mereka belajar menghargai orang lain dan menikmati kebersamaan. Nilai-nilai seperti inilah yang kelak akan menjadi bekal dalam kehidupan.
Sebagai nenek, terkadang kita terlalu fokus pada hasil belajar anak. Kita berharap mereka cepat bisa membaca, berhitung. Padahal, yang jauh lebih penting adalah menumbuhkan kecintaan mereka terhadap proses belajar. Anak yang senang belajar akan terus mencari ilmu sepanjang hidupnya.
Anak-anak tidak selalu membutuhkan hadiah mahal atau tempat bermain yang mewah. Mereka lebih membutuhkan kehadiran orang-orang yang mereka cintai. Mereka ingin ditemani, diajak berbicara, didengarkan, dan diajak bermain. Waktu yang saya berikan akan menjadi kenangan yang tersimpan dalam hati mereka hingga dewasa nanti.
Kenangan seperti itulah yang akan menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka. Saat menghadapi berbagai tantangan di masa depan, semoga mereka tetap mengingat bahwa belajar bisa dilakukan dengan gembira, bahwa persaingan tidak harus menghilangkan persaudaraan, dan bahwa kebersamaan adalah hadiah terindah yang tidak dapat dibeli dengan apa pun.
Pendidikan mulai dari rumah yang dipenuhi cinta. Guru pertama seorang anak adalah keluarga, dan media pembelajaran terbaik adalah perhatian yang tulus. Dari sebuah dadu, tiga lembar kertas, dan tawa cucu-cucu tercinta, saya kembali percaya bahwa hal-hal sederhana mampu melahirkan kenangan yang luar biasa.
Mari luangkan waktu untuk bermain bersama anak dan cucu. Tidak harus menunggu momen istimewa, tidak harus memiliki permainan yang mahal. Cukup hadir sepenuh hati, ciptakan suasana yang hangat, dan nikmati setiap detik kebersamaan. Dibalik permainan sederhana, tersimpan pelajaran kehidupan yang akan terus mereka bawa hingga dewasa.
Cepu, 15 Juli 2026
Senin, 13 Juli 2026
Pohon Harapan
Karya : Gutamining Saida
Hari pertama tahun ajaran baru 2026-2027 selalu istimewa. Setelah melewati masa liburan, para siswa kembali memasuki ruang kelas dengan wajah yang beragam. Ada yang tampak penuh semangat karena bertemu teman-teman, ada yang masih malu-malu, ada pula yang penasaran dengan pengalaman belajar yang akan mereka jalani selama satu tahun ke depan.
Di hadapan saya duduk siswa-siswi kelas VIII C. Mereka bukan lagi peserta didik baru yang masih asing dengan lingkungan sekolah. Mereka telah naik satu tingkat, membawa pengalaman, cerita, keberhasilan, sekaligus berbagai tantangan yang pernah mereka hadapi selama duduk di kelas VII. Saya berpikir bahwa hari pertama bukanlah waktu yang tepat untuk langsung membahas materi pelajaran. Ada sesuatu yang jauh lebih penting untuk dilakukan, yaitu mengajak mereka mengenali diri sendiri.
Belajar tidak hanya tentang memahami konsep atau menghafal materi. Belajar berarti memahami siapa diri kita, apa yang menjadi kekuatan kita, apa yang masih perlu diperbaiki, dan ke mana langkah kehidupan akan diarahkan. Dari pemikiran itulah saya mengajak mereka melakukan sebuah refleksi sederhana melalui gambar sebuah pohon.
Saya meminta setiap siswa menggambar sebuah pohon di atas kertas. Bentuknya bebas. Tidak ada contoh yang harus ditiru. Tidak ada ukuran yang harus diikuti. Mereka boleh menggambar pohon besar atau kecil, rindang atau sederhana, lengkap dengan akar, batang, ranting, dan daun sesuai imajinasi masing-masing.
Ketika instruksi saya sampaikan, ruang kelas mendadak menjadi hening. Pensil mulai menari di atas kertas. Beberapa siswa langsung menggambar dengan penuh percaya diri. Ada yang memulai dari batang, ada yang lebih dahulu membuat akar, bahkan ada yang menggambar daun terlebih dahulu sebelum menyempurnakan bagian lainnya. Saya membiarkan mereka menikmati proses itu tanpa intervensi. Sebab setiap pohon adalah cerminan dari cara mereka memandang dirinya sendiri.
Setelah gambar selesai, saya memberikan arahan untuk mengisi setiap bagian pohon dengan makna yang berbeda. Pada bagian akar, saya meminta mereka menuliskan nilai-nilai pribadi yang selama ini mereka miliki. Bukan hanya nilai yang baik, tetapi juga kebiasaan atau sifat yang masih perlu diperbaiki. Saya ingin mereka belajar jujur kepada diri sendiri. Sebab seseorang tidak akan berkembang jika hanya melihat kelebihannya, tetapi menutup mata terhadap kekurangannya.
Beragam jawaban muncul. Ada yang menuliskan jujur, disiplin, sopan, suka menolong, bertanggung jawab, dan rajin beribadah. Ada pula yang dengan berani mengakui masih mudah marah, kurang percaya diri, sering menunda pekerjaan, malas belajar, atau sulit mengatur waktu. Kejujuran mereka menjadi langkah awal untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Selanjutnya, pada bagian batang pohon, mereka menuliskan kelebihan yang dimiliki. Saya ingin mereka menyadari bahwa setiap manusia memiliki potensi yang patut disyukuri. Tidak harus selalu menjadi juara kelas. Ada yang pandai menggambar, suka berolahraga, mudah berteman, pandai berbicara di depan umum, cepat memahami pelajaran, mampu bekerja sama, atau memiliki rasa empati yang tinggi.
Batang pohon menjadi simbol kekuatan yang menopang kehidupan. Begitu pula kelebihan yang dimiliki setiap anak akan menjadi penyangga ketika mereka menghadapi berbagai tantangan di masa depan. Kemudian, pada bagian ranting, saya meminta mereka menuliskan langkah-langkah nyata yang akan dilakukan. Saya sengaja memilih kata "langkah nyata" karena cita-cita tidak akan pernah terwujud tanpa tindakan. Ranting-ranting itu menjadi simbol usaha yang terus berkembang.
Ada yang menulis akan belajar lebih teratur setiap malam, mengurangi bermain gawai, lebih aktif bertanya kepada guru, membantu orang tua di rumah, rajin membaca buku, memperbaiki kedisiplinan, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, hingga berlatih mengendalikan emosi. Kalimat-kalimat sederhana itu menunjukkan bahwa mereka mulai memahami perubahan besar selalu diawali oleh tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Terakhir, pada bagian daun, mereka menuliskan cita-cita dan target yang ingin dicapai. Daun-daun itu seolah menjadi harapan yang menghiasi pohon kehidupan mereka. Berbagai impian tertulis dengan penuh keyakinan. Ada yang bercita-cita menjadi dokter, guru, polisi, tentara, pengusaha, atlet, arsitek, programmer, desainer, hingga ingin membahagiakan kedua orang tua. Ada pula yang menargetkan masuk peringkat sepuluh besar di kelas, lebih percaya diri saat berbicara, atau menjadi pribadi yang lebih disiplin.
Saat saya berkeliling mengamati hasil pekerjaan mereka, hati saya dipenuhi rasa bangga. Tidak ada satu pun pohon yang sama. Ada pohon yang menjulang tinggi dengan akar yang kokoh. Ada yang batangnya besar dan kuat. Ada yang memiliki ranting sangat banyak dengan daun yang lebat. Ada pula yang sederhana tetapi tampak indah. Perbedaan itu bukti bahwa setiap anak adalah pribadi yang unik.
Begitu pula kehidupan mereka. Tidak ada dua manusia yang memiliki perjalanan hidup yang benar-benar sama. Setiap anak membawa latar belakang keluarga, pengalaman, bakat, cara berpikir, dan impian yang berbeda. Tugas seorang guru bukanlah menyeragamkan mereka, melainkan membantu setiap anak menemukan jalan terbaik untuk bertumbuh sesuai potensinya.
Melalui gambar pohon sederhana ini, saya melihat lebih dari sekadar hasil menggambar. Saya melihat keberanian mereka untuk mengenali diri sendiri. Saya melihat harapan-harapan yang mulai tumbuh. Saya melihat benih-benih karakter yang sedang dipupuk agar kelak menjadi pohon yang kuat menghadapi berbagai musim kehidupan.
Hari pertama sekolah akhirnya bukan sekadar tentang absensi, pembagian jadwal pelajaran, atau pengenalan aturan kelas. Hari pertama menjadi momentum untuk menanamkan kesadaran bahwa pendidikan sejatinya adalah proses menumbuhkan manusia seutuhnya.
Saya percaya, pohon-pohon yang mereka gambar hari ini bukan hanya akan menjadi tugas di selembar kertas. Semoga ia menjadi pengingat bahwa akar yang kuat akan menjaga mereka tetap teguh pada nilai-nilai kehidupan. Batang yang kokoh akan mengingatkan mereka akan potensi yang dimiliki. Ranting-ranting yang terus bertambah akan menjadi simbol usaha yang tidak pernah berhenti. Sementara daun-daun yang menghijau akan terus mengingatkan bahwa setiap impian layak diperjuangkan dengan kerja keras, doa, dan ketekunan.
Sebuah pohon yang besar tidak tumbuh dalam semalam. Ia bertumbuh sedikit demi sedikit, menguat dari akar, tegak oleh batang, berkembang melalui ranting, lalu menghadirkan daun yang memberi kehidupan. Demikian pula setiap siswa, mereka sedang bertumbuh menjadi pribadi terbaiknya, dan tugas kami sebagai guru adalah merawat proses itu dengan penuh kesabaran, kepercayaan, dan keyakinan. Aamiin.
Cepu, 14 Juli 2026








