Karya: Gutamining Saida
Tahun ajaran 2026–2027 menjadi babak baru dalam perjalanan saya sebagai guru IPS. Kini saya kembali menyambut siswa-siswi kelas VII yang baru memasuki dunia SMP. Rasanya seperti kembali ke titik awal. Mereka datang dengan wajah-wajah penuh harapan, rasa ingin tahu, dan semangat yang meluap-luap. Salah satu kelas yang menjadi tempat saya berbagi adalah kelas 7C.
Sejak pertemuan pertama, saya sudah bisa merasakan bahwa kelas ini berbeda. Suasananya hidup, ramai, penuh energi, bahkan terkadang terasa sangat heboh. Di balik keramaian itu tersimpan semangat belajar yang luar biasa. Mereka aktif bertanya, antusias menjawab, tidak takut mengemukakan pendapat, dan selalu membuat pembelajaran terasa lebih berwarna. Kelas 7C benar-benar menjadi ruang belajar yang seru.
Saya sering bercanda kepada mereka. "Wah, kelas ini cowok-cowoknya ganteng semua, cewek-ceweknya cantik-cantik, ditambah lagi kreatif." Mendengar ucapan itu, mereka langsung tertawa. Ada yang malu-malu, ada yang tersenyum bangga, bahkan ada yang saling menunjuk temannya sambil bercanda. Suasana kelas pun menjadi semakin akrab.
Ketua kelas 7C bernama Jonathan. Dia berasal dari Merah Molyorejo. Agar terdengar lebih unik dan mudah saya ingat, saya sering menggodanya dengan menyebut, "Jonathan rumahnya Blok M." Anak-anak langsung tertawa karena mereka tahu yang saya maksud bukan Blok M di Jakarta, melainkan singkatan yang saya buat sendiri dari Desa Merah. Candaan sederhana itu justru membuat suasana kelas menjadi lebih cair.
Meski demikian, ada satu tantangan yang selalu hadir di awal tahun ajaran, yaitu menghafalkan nama seluruh siswa. Bagi saya yang mengajar tujuh kelas, mengingat ratusan nama dalam waktu singkat bukanlah perkara mudah. Saya baru berhasil menghafal beberapa nama saja.
Di antara siswi yang mulai saya kenal ada Kia, Yunior, Zahwa, Jihan, dan tentu saja Muna. Muna adalah siswi yang paling mudah saya ingat. Bukan karena karena duduk di barisan belakang, melainkan karena ia sangat aktif berbicara. Hampir setiap kesempatan selalu ada saja yang ingin ia sampaikan. Wajahnya manis, kulit sawo matang, senyumnya ceria, dan ia berasal dari Sambong. Kehadirannya membuat suasana kelas selalu hidup.
Sementara itu, dari siswa laki-laki saya mulai mengenal Bagus, Afif, Alvaro, dan Saka. Walaupun beberapa nama sudah saya hafal, tidak jarang saya masih tertukar ketika memanggil mereka.
"Bambang... eh, maaf, ternyata Bagus."
"Afif... eh, ternyata Alvaro."
Begitulah yang sering terjadi. Setiap kali saya salah menyebut nama, ekspresi mereka berubah. Ada yang langsung tersenyum malu, ada yang tertawa, tetapi ada juga yang memasang wajah kecewa seolah berkata, "Bu..., masa nama saya belum hafal juga?"
Melihat wajah-wajah itu saya selalu meminta maaf sambil berkata, "Sabar ya, Bu Saida masih proses menghafal. Nanti pasti hafal semuanya." Mereka pun akhirnya tersenyum lagi. Saya menyadari bahwa memanggil siswa dengan nama yang benar bukan sekadar formalitas. Nama adalah identitas. Ketika seorang guru mengingat nama muridnya, mereka merasa dihargai, diperhatikan, dan diakui keberadaannya. Karena itulah saya terus berusaha menghafalkan nama satu per satu.
Ternyata, bukan hanya saya yang sering keliru. Mereka pun pernah melakukan kesalahan yang hingga kini selalu mengundang tawa. Suatu hari, saat saya berjalan di lingkungan kelas tujuh, tiba-tiba terdengar suara keras dari kejauhan.
"Bu Peniiiiii...!"
Saya tetap berjalan tanpa menoleh. Dalam hati saya berpikir, "Itu pasti memanggil guru PKn. Beberapa langkah kemudian suara itu terdengar lagi, bahkan lebih keras.
"Bu Peniiiiii...!"
Saya masih tidak merasa dipanggil. Tidak lama kemudian terdengar untuk ketiga kalinya.
"Bu Peniiiiii...!"
Karena penasaran, saya menoleh ke belakang. Ternyata ada seorang siswi yang melambaikan tangan sambil tertawa lebar. Ia adalah Muna. Saya pun ikut tertawa.
"Muna... itu bukan nama saya."
Wajahnya langsung berubah malu. Sambil tersenyum ia berkata, "Maaf, Bu... mirip bu Peni."
Sejak kejadian itu, setiap kali kami berpapasan di sekolah, Muna selalu tersenyum, sering tertawa sendiri. Mungkin ia masih teringat kekeliruannya memanggil saya dengan nama guru lain. Saya pun selalu membalas senyumnya. Kesalahan kecil itu justru menjadi kenangan yang menyenangkan.
Peristiwa sederhana tersebut mengajarkan saya proses saling mengenal membutuhkan waktu. Guru sedang belajar mengenal siswanya, sementara siswa juga sedang belajar mengenal guru-gurunya. Tidak ada yang perlu ditertawakan dengan rasa malu, karena semua itu merupakan bagian dari perjalanan membangun kedekatan.
Saya percaya, hubungan yang baik antara guru dan siswa tidak selalu dibangun melalui pelajaran yang rumit. Justru sering kali lahir dari percakapan ringan, candaan sederhana, atau bahkan kekeliruan yang mengundang tawa. Momen-momen seperti itulah yang membuat kelas terasa hangat dan penuh kenangan.
Setiap kali memasuki kelas 7C, saya semakin bersemangat. Sedikit demi sedikit nama mereka mulai saya hafal. Saya yakin suatu hari nanti saya akan mengenal mereka bukan hanya dari namanya, tetapi juga dari karakter, cita-cita, bakat, dan impian yang mereka miliki.
Kelas 7C telah mengingatkan saya bila menjadi guru bukan hanya tentang menyampaikan materi. Menjadi guru juga membangun hubungan, menumbuhkan rasa percaya, dan menciptakan kenangan indah yang akan selalu dikenang. Siapa sangka, sebuah kesalahan memanggil nama justru menjadi awal lahirnya kedekatan, tawa, dan cerita yang akan selalu tersimpan dalam ingatan, baik bagi guru maupun bagi siswanya. Semoga selalu ingat pada guru IPS kalian.
Cepu, 6 Agustus 2026







