Karya: Gutamining Saida
Suasana di tepi kolam renang begitu penuh semangat. Cahaya matahari sore memantul lembut di atas permukaan air yang tenang, menciptakan kilatan-kilatan cahaya yang menyejukkan mata. Sejumlah ibu-ibu berkumpul dengan niat yang mulia sebuah ikhtiar menjaga kesehatan tubuh sebagai bentuk rasa syukur atas amanah fisik yang diberikan oleh Sang Maha Pencipta. Mereka, menjaga kebugaran bukan sekadar gaya hidup, melainkan bagian dari ibadah agar dapat terus beraktivitas dan beribadah dengan ikhlas serta maksimal.
Di tengah-tengah mereka, berdiri Pak Gun, seorang pelatih. Sabar dan penuh perhatian, Pak Gun senantiasa membimbing setiap gerakan ibu-ibu. Latihan kali ini terasa berbeda. Ada nuansa baru yang disiapkan oleh Pak Gun untuk melatih keberanian, ketangkasan, dan kerja sama para peserta. Pak Gun memegang sebuah peluit yang biasa digunakan untuk memberikan aba-aba.
Tanpa diduga, Pak Gun melempar peluit tersebut ke tengah kolam renang. Plash! Bunyi cipratan air terdengar jernih, disusul gelombang kecil yang memancar ke segala arah saat peluit tenggelam perlahan menuju dasar kolam.
"Ibu-ibu, tantangan hari ini mengambil peluit dari dasar kolam," ujar Pak Gun dengan nada suara yang membakar semangat.
Seketika, para peserta berbaris rapi di sepanjang tepi kolam, dari ujung satu hingga ke ujung lainnya. Wajah-wajah mereka memancarkan perpaduan antara rasa penasaran, antusiasme, dan sedikit rasa ragu. Pak Gun kemudian memberikan arahan teknis mengenai cara terbaik dan aman untuk menyelam serta meraih peluit di tengah kolam. Arahan itu didengarkan dengan cermat oleh seluruh peserta. Setiap petunjuk adalah jalan menuju keberhasilan.
Waktu demi waktu pun berlalu. Air kolam bergelombang seiring dengan upaya ibu-ibu yang berusaha menceburkan diri, mencoba menyelam kedalaman air demi menemukan peluit yang terbenam. Ada yang mencoba berenang pelan, ada yang mencoba bertahan di dalam air beberapa detik, peluit tersebut seolah masih tersembunyi di balik kejernihan air kolam.
Tiba-tiba, dari salah satu sudut kolam, terdengar suara lembut yang memecah konsentrasi.
"Pak... Pak..."
Suara itu milik Bu Endah. Beliau berjalan perlahan mendekat ke arah Pak Gun yang berdiri di tepi kolam. Langkah kakinya tenang, membawa serta aura ketenangan yang membuat ibu-ibu lainnya secara refleks menghentikan aktivitas mereka. Semua pandangan kini tertuju pada Bu Endah. Keheningan singkat tercipta di area kolam renang tersebut, diiringi rasa penasaran yang membuncah di hati para peserta lainnya.
Saat Bu Endah semakin dekat, terlihat tangannya tergenggam rapat. Ia kemudian mengulurkan tangannya di hadapan Pak Gun. Di atas telapak tangannya yang basah, terbaring peluit milik Pak Gun.
"Pak Gun, saya berhasil," ucap Bu Endah dengan nada polos, tanpa sedikit pun kesan ingin menyombongkan diri.
Pak Gun tersenyum lebar, matanya memancarkan rasa bangga atas keberhasilan pesertanya. Ia menerima peluit tersebut dengan penuh rasa hormat dan rasa syukur.
"Hebat... njenengan, Bu," puji Pak Gun tulus sambil mengambil kembali peluit yang sempat dilempat ke kolam. Di tengah suasana apresiasi tersebut, Bu Endah tidak berhenti sampai di situ. Ada dorongan kuat dari dalam hatinya kejujuran. Bu Endah menatap Pak Gun, lalu berucap kembali dengan jujur.
"Peluit saya ambil dengan kaki, Pak."
Kata-kata sederhana itu meluncur begitu saja dari bibir Bu Endah. Beliau menyadari cara yang dilakukannya tidak sepenuhnya sesuai dengan instruksi awal atau harapan umum untuk mengambilnya menggunakan tangan saat menyelam. Bu Endah memilih untuk membuka kebenaran secara utuh, tanpa mengurangi atau menambah-nambahi.
Mendengar pengakuan jujur tersebut, senyum di wajah Pak Gun justru semakin memancar penuh ketakjuban. Bagi Pak Gun, tindakan Bu Endah bukan sekadar keberhasilan fisik dalam meraih sebuah benda di dalam air, melainkan sebuah kemenangan jiwa.
"Hebat sekali, Bu Endah!" kata Pak Gun kembali dengan nada suara yang bergetar penuh rasa hormat. "Njenengan berani jujur, Bu Endah." ucap pak Gun.
Di balik peristiwa sederhana di tepi kolam renang ibu-ibu bertepuk tangan. Bu Endah jujur sebagai wujud nyata seorang hamba di hadapan Sang Maha Melihat. Tantangan mengambil peluit di dasar kolam menjadi cermin kehidupan duniawi. Sering kali manusia berpacu mengejar tujuan, meraih capaian kehidupan. Cara kita meraih tujuan tersebut adalah ujian yang sebenarnya. Bu Endah membuktikan bahwa hasil akhir tidak pernah lebih penting daripada kebersihan niat dan kejujuran .
Pak Gun, sebagai seorang pembimbing, memberikan teladan luar biasa. Peristiwa di kolam renang berakhir menjadi sebuah ikhtiar yang tidak hanya menyegarkan jasad, tetapi juga menyirami rohani. Ibu-ibu yang hadir pulang dengan tubuh yang lebih sehat dan bugar. Setiap langkah dan upaya kita di dunia ini, kejujuran adalah perhiasan jiwa yang paling indah, dan keberanian untuk jujur adalah jalan tertinggi menuju keberkahan hidup.
Cepu, 6 Oktober 2026








.jpeg)