Minggu, 01 Februari 2026

Lagu Rukun Bersama Teman

 


Karya: Gutamining Saida

Hari Senin pagi tanggal 2 Pebruari 2026 di SMPN 3 Cepu terasa berbeda dari biasanya. Mentari belum sepenuhnya tinggi, namun halaman sekolah sudah dipenuhi semangat yang mengalir dari wajah-wajah warga Esmega. Seragam putih biru tampak rapi, barisan siswa tertata, guru-guru berdiri dengan penuh wibawa, dan suasana upacara bendera siap dimulai. Ada satu hal yang membuat pagi itu terasa istimewa bukan sekadar rutinitas pengibaran Sang Merah Putih, melainkan sebuah penampilan group band.  

Upacara bendera tetap berjalan dengan khidmat. Lagu Indonesia Raya dikumandangkan dengan penuh penghayatan, bendera perlahan naik mengikuti irama kebangsaan, dan semua hadirin berdiri tegak, menundukkan hati pada nilai-nilai persatuan. Dalam rangkaian inti upacara ada penambahan untuk menyanyikan lagu Rukun Bersama Teman. Suasana berubah menjadi lebih hangat dan penuh antusiasme.

Warga Esmega dibuat terpesona oleh penampilan sebuah grup band sekolah yang bertugas membawakan lagu “Rukun Sama Teman”. Lagu terdengar hidup saat dinyanyikan dengan penuh percaya diri oleh para siswa. Dentingan gitar, alunan keyboard, dan suara vokal yang jernih berpadu harmonis. Lagu tersebut seolah bukan hanya dinyanyikan, tetapi dihidupkan menjadi pesan yang mengalir ke seluruh penjuru lapangan upacara.

Yang membuat penampilan ini semakin membanggakan adalah fakta bahwa SMPN 3 Cepu memiliki banyak grup band. Bukan hanya satu atau dua, tetapi tersebar dari kelas 7, 8, hingga kelas 9. Bahkan ada grup band yang anggotanya merupakan gabungan dari kelas 7 dan kelas 8. Keberagaman usia dan tingkat kelas justru melahirkan kekompakan, saling belajar, dan saling menguatkan. Tidak ada sekat senior atau junior, yang ada hanyalah semangat berkarya bersama.

Sekolah memberikan kesempatan kepada seluruh grup band tersebut untuk tampil secara bergantian pada setiap pelaksanaan upacara bendera. Kesempatan ini bukan sekadar hiburan tambahan, melainkan bagian dari proses pendidikan karakter. Melalui panggung sederhana di lapangan sekolah, siswa belajar tentang keberanian tampil di depan umum, disiplin latihan, tanggung jawab terhadap peran masing-masing, dan kepercayaan diri atas bakat yang Allah Subhanahu Wata'alla titipkan pada diri mereka.

Setiap penampilan membawa warna yang berbeda. Satu hal yang sama adalah kebanggaan terpancar jelas dari wajah para personel. Mereka berdiri di hadapan ratusan pasang mata teman, guru, dan tenaga kependidikan bukan dengan rasa takut, melainkan dengan keyakinan bahwa mereka sedang melakukan sesuatu yang bermakna.

Saya melihat bagaimana kesempatan tampil ini menjadi ruang tumbuh bagi siswa. Mereka tidak hanya berkembang dalam keterampilan bermusik, tetapi juga dalam sikap mental. Anak-anak yang sebelumnya pendiam, perlahan berani mengekspresikan diri. Anak-anak yang biasa berada di balik bangku kelas, kini berdiri di depan, menunjukkan potensi terbaiknya. Sekolah benar-benar menjadi rumah kedua yang aman untuk belajar dan mencoba.

Kebanggaan tidak hanya dirasakan oleh para siswa yang tampil. Guru-guru yang menyaksikan pun merasakan keharuan tersendiri. Ada rasa syukur melihat anak didik tumbuh sesuai bakatnya. Ada rasa bangga karena sekolah mampu memberi ruang yang bermakna. 

Cepu, 2 Pebruari 2026

Langkah Kakiku


Karya : Gutamining Saida

Minggu pagi di awal bulan Februari 2026 saya awali dengan langkah yang terasa lebih ringan dari biasanya. Udara masih menyisakan dingin malam, embun belum sepenuhnya menguap, dan langit perlahan berubah warna dari hitam pekat menuju biru pucat. Sehabis menunaikan salat Subuh berjamaah, saya melangkahkan kaki menuju Masjid Al Mujahidin. Hati saya sudah menetapkan satu tujuan utama yaitu menuntut ilmu sebagai bekal perjalanan panjang menuju akhirat.

Masjid Al Mujahidin pagi itu tampak berbeda. Dari kejauhan, lampu-lampu masih menyala lembut, seolah menyambut setiap jamaah yang datang dengan niat tulus. Saya melihat ibu-ibu berjalan beriringan, sebagian menggandeng anak, sebagian lagi membawa tas kecil. Bapak-bapak tampak duduk rapi di serambi, bercengkerama pelan, menjaga adab pagi yang penuh berkah. Di sudut lain, tampak anak-anak yatim yang akan menerima santunan, duduk tertib dengan wajah polos yang menenangkan hati siapa saja yang memandang.

Kegiatan pengajian ini bukanlah hal baru. Santunan untuk anak-anak yatim rutin diberikan sebulan sekali, tepat pada hari Minggu Wage. Setiap pertemuan selalu menghadirkan rasa yang berbeda. Ada getar haru, ada rasa syukur, dan ada pengingat halus bahwa hidup bukan sekadar tentang diri sendiri.

Sebelum acara inti berupa tausiah dimulai, jamaah disuguhi sebuah pertunjukan yang meneduhkan jiwa yaitu tarian sufi. Alunan hadroh mulai terdengar, ritmenya perlahan, menghentak lembut, seolah mengetuk pintu-pintu hati yang mungkin selama ini tertutup oleh kesibukan dunia. Penari tampil anggun mengenakan kostum putih bersih, simbol kesucian dan keikhlasan. Jilbab marun yang dikenakan menambah kesan khidmat dan elegan, seakan melambangkan cinta dan pengorbanan dalam perjalanan spiritual seorang hamba.

Gerakan mereka berputar perlahan, konsisten, penuh penghayatan. Tidak ada kata yang terucap, setiap putaran seolah mengajarkan makna: bahwa hidup adalah perjalanan kembali kepada Sang Pencipta. Bahwa sekeras apa pun badai kehidupan, poros hidup seorang manusia seharusnya tetap Allah Subhanahu Wata'alla. Saya merasakan dada ini menghangat, mata terasa berat, dan hati bergetar. Tanpa sadar, doa-doa pendek meluncur lirih dari bibir.

Masjid semakin penuh. Jamaah ibu-ibu dan bapak-bapak memenuhi setiap saf, ditambah anak-anak yatim yang duduk rapi di barisan depan. Pemandangan itu menjadi pengingat nyata bahwa masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat kepedulian, persaudaraan, dan cinta kasih. Di sanalah iman dipupuk, dan empati ditumbuhkan.

Setelah tarian sufi usai, suasana kembali hening. Hadroh perlahan berhenti, digantikan oleh lantunan salawat yang menggema serempak. Tak lama kemudian, Bapak Jalal naik ke mimbar untuk menyampaikan tausiah. Beliau membuka dengan salam dan pujian kepada Allah Subhanahu Wata'alla. , lalu mengajak jamaah untuk sejenak menundukkan hati, bukan sekadar mendengarkan dengan telinga, tetapi juga menyimak dengan jiwa.

Isi tausiah pagi itu terasa sederhana, namun menghunjam. Tentang pentingnya ilmu sebagai cahaya kehidupan. Tentang waktu yang sering kita sia-siakan, padahal setiap detiknya adalah amanah. Tentang anak-anak yatim yang hadir di hadapan kami, bukan sebagai objek belas kasihan, melainkan sebagai ladang pahala dan pengingat bahwa dunia tidak selalu adil, tetapi Allah Maha Adil.

Saya tersentuh ketika beliau menyampaikan bahwa menyantuni anak yatim bukan hanya tentang memberi materi, tetapi juga tentang menghadirkan rasa aman, cinta, dan perhatian. “Bisa jadi,” kata beliau, “doa tulus dari anak yatim itulah yang kelak menjadi sebab Allah Subhanahu Wata'alla  memudahkan urusan hidup kita.”

Saat santunan dibagikan, suasana menjadi sangat haru. Satu per satu anak yatim maju, menerima dengan wajah polos dan senyum yang tulus. Ada yang menunduk malu, ada yang tersenyum lebar, ada pula yang menggenggam amplop itu erat-erat seolah memegang harapan. Di momen itu, saya merasa Allah Subhanahu Wata'alla.  sedang mengajarkan makna syukur secara nyata. Bahwa apa yang kita keluhkan hari ini, mungkin adalah impian bagi orang lain.

Acara pun ditutup dengan doa bersama. Tangan-tangan terangkat, suara lirih mengalun, memohon ampun, kesehatan, keberkahan, dan husnul khatimah. Saya pulang dengan langkah yang sama seperti saat datang, namun hati yang jauh berbeda. Ada ketenangan yang menetap, ada rasa cukup yang sulit dijelaskan, dan ada tekad untuk menjadi pribadi yang lebih bermanfaat.

Cepu, 2 Pebruari 2026

Sabtu, 31 Januari 2026

"BARU"


Karya: Gutamining Saida

Refleksi sering kali dianggap sebagai kegiatan pembuka, sehingga muncul pertanyaan: apakah refleksi harus dilaksanakan di awal semester? Jawabannya tentu tidak harus. Refleksi sangat baik jika dilaksanakan di awal semester, karena di situlah hati dan pikiran siswa masih berada pada masa transisi. Dari libur menuju rutinitas, dari santai menuju tanggung jawab. Refleksi menjadi jembatan yang lembut agar siswa tidak merasa terpaksa kembali belajar, tetapi diajak dengan kesadaran dan kesiapan batin.

Keyakinan itulah yang saya pegang saat memasuki kelas 7C pada awal semester genap. Anak-anak kelas tujuh adalah anak-anak yang masih mencari bentuk. Mereka sedang belajar mengenali diri, emosi, dan lingkungan baru. Sebelum mengajak mereka berlari mengejar target materi, ada baiknya saya mengajak mereka berhenti sejenak, menata niat, dan menyelaraskan hati. Karena dalam Islam, segala sesuatu bermula dari niat. Niat yang baik akan menuntun pada proses yang baik pula.

Di kelas 7C, saya memilih kata “BARU” sebagai media refleksi. Kata yang sederhana, dekat dengan dunia mereka, dan penuh makna positif. Saya meminta mereka menuliskan kata “BARU” dengan ukuran besar di kertas buku. Model huruf saya bebaskan, tidak ada ketentuan. Mereka boleh menulis dengan gaya apa pun, sesuai karakter masing-masing. Saya ingin mereka merasa merdeka berekspresi, tanpa takut salah, tanpa takut dinilai.

Setiap huruf dalam kata “BARU” harus dijawab dengan dua pertanyaan reflektif. Pertanyaan-pertanyaan itu saya susun bukan untuk menguji pengetahuan, melainkan untuk menggugah kesadaran. Di antaranya: Bagaimana perasaan di awal semester genap ini? Bagaimana sikap kalian saat rasa malas menyerang? Apa upaya yang akan dilakukan untuk meraih mimpi yang belum tercapai? dan Sikap apa saja yang seharusnya mulai dihilangkan? Sikap baik apa yang harus dipertahankan?Apa harapanmu saat pembelajaran IPS?

Sebelum mereka mulai menulis, saya kembali menjelaskan apa itu refleksi. Refleksi adalah upaya berdialog dengan diri sendiri. Mengajak hati untuk jujur, mengajak pikiran untuk sadar. Refleksi adalah bentuk muhasabah, sebagaimana ajaran agama mengajarkan kita untuk selalu mengevaluasi diri sebelum Allah Subhanahu Wata'alla mengevaluasi kita. Saya sampaikan bahwa Allah Subhanahu Wata'alla menyukai hamba-Nya yang mau belajar dari kesalahan dan berusaha memperbaiki diri.

Dua jam pelajaran pun dimulai dengan suasana yang berbeda. Kelas tidak riuh, tidak gaduh, tetapi hidup. Pena-pena bergerak, sesekali berhenti, lalu bergerak lagi. Ada siswa yang tampak tersenyum ketika menuliskan perasaannya, ada pula yang terdiam cukup lama, mungkin sedang berjuang melawan rasa malas yang ia tuliskan sendiri. Saya melihat kejujuran tumbuh perlahan di wajah-wajah mereka.

Hasilnya sungguh di luar dugaan. Kata “BARU” yang saya kira hanya akan menjadi tulisan biasa, berubah menjadi karya penuh makna. Ada huruf yang dihias dengan warna cerah, ada yang diberi ornamen kecil, ada pula yang sederhana namun sarat isi. Di balik tulisan mereka, tersimpan kejujuran yang tidak bisa dibuat-buat. Ada siswa yang menulis bahwa ia sebenarnya masih malas, tetapi ingin berubah. Mereka mengaku sering menunda tugas, namun berjanji pada dirinya sendiri untuk lebih disiplin. Ada pula yang menuliskan mimpi sederhana, namun disertai doa agar Allah Subhanahu Wata'alla memudahkan jalannya.

Melihat dan membaca hasil karya siswa 7C membuat hati saya bergetar. Saya merasa sangat bangga. Bukan karena tulisan mereka rapi atau penuh warna, tetapi karena keberanian mereka untuk jujur pada diri sendiri. Di usia yang masih sangat muda, mereka sudah belajar mengenali kelemahan dan harapan. Itu adalah bekal yang sangat berharga dalam hidup.

Saya sadar, jerih payah selama dua jam pelajaran itu tidak sia-sia. Mungkin tidak langsung terlihat dalam nilai ujian, tetapi tertanam dalam kesadaran mereka. Bahwa belajar bukan sekadar kewajiban, tetapi perjalanan. Bahwa rasa malas bukan musuh yang harus ditakuti, melainkan tantangan yang harus dihadapi. Sebuah mimpi tidak cukup hanya dituliskan, tetapi perlu diupayakan dengan sungguh-sungguh dan disertai doa.


Sebagai guru IPS, saya belajar banyak dari kegiatan ini. Saya belajar bahwa anak-anak membutuhkan ruang untuk didengar, bukan hanya diperintah. Mereka membutuhkan kepercayaan agar berani membuka hati. Refleksi menjadi cara sederhana namun bermakna untuk mendekatkan guru dan siswa, bukan sebagai pengajar dan pelajar semata, tetapi sebagai manusia yang sama-sama sedang bertumbuh.

Saya memanjatkan doa. Semoga tulisan “BARU”menjadi pengingat ketika mereka kembali merasa malas. Semoga kata-kata yang mereka tulis dengan jujur itu menjadi saksi bahwa mereka pernah berjanji pada diri sendiri untuk berubah. Semoga Allah membimbing langkah kecil mereka, menjadikan mereka pribadi yang tangguh, berakhlak, dan tidak mudah menyerah.

Akhirnya saya semakin yakin, refleksi tidak harus menunggu momen tertentu. Ketika refleksi dilakukan di awal semester, ia menjadi pondasi. Menjadi arah. Menjadi cahaya kecil yang menuntun perjalanan panjang mereka dalam menuntut ilmu. Kelas 7C telah membuktikan, bahwa dengan pendekatan hati dan sentuhan iman, pembelajaran bisa menjadi benar-benar baru, bermakna, dan penuh harapan. 

Cepu, 7 Januari 2026

Awal Semester Genap

 


Karya : Gutamining Saida

Kelas 8F memiliki keunikan tersendiri saat mengikuti pembelajaran IPS. Setiap masuk ke ruang kelas itu, saya selalu merasa ada energi yang berbeda. Bukan hanya karena jumlah siswanya, tetapi karena warna-warna karakter yang mereka miliki. Ada yang pendiam namun penuh pemikiran, ada yang ceria dan suka berbagi cerita, ada pula yang kreatif dan inovatif, sering kali menghadirkan ide-ide di luar dugaan. Semua berpadu menjadi satu mozaik yang indah, sebagaimana Allah Subhanahu Wata'alla menciptakan manusia dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Awal semester genap menjadi momentum penting. Setelah liburan usai, saya menyadari bahwa siswa tidak hanya perlu kembali pada rutinitas belajar, tetapi juga perlu disapa hatinya. Liburan panjang sering kali membawa banyak cerita yaitu kebahagiaan, kelelahan, bahkan luka kecil yang tak terlihat. Maka saya mengawali pembelajaran IPS dengan sebuah kegiatan refleksi. Saya ingin mereka menengok ke belakang sejenak, lalu melangkah ke depan dengan hati yang lebih siap.

Saya mengajak mereka untuk menulis sebuah refleksi dengan tema besar “TAHUN”. Kata sederhana, namun sarat makna. Saya meminta mereka menuliskan kata “TAHUN” dengan huruf besar di kertas buku tulis, sepanjang dua halaman. Setiap huruf tidak sekadar menjadi tulisan, tetapi menjadi pintu perenungan. Pada setiap huruf, saya berikan dua pertanyaan yang harus mereka jawab. Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu mudah, karena sebagian menuntut kejujuran pada diri sendiri: tentang apa yang telah dilalui, apa yang disyukuri, apa yang disesali, dan apa yang diharapkan.

Sebelum mereka mulai menulis, saya menjelaskan terlebih dahulu apa itu refleksi. Refleksi bukan sekadar mengingat kejadian, tetapi merenungi makna di baliknya. Refleksi adalah proses bercermin, melihat diri sendiri dengan jujur, lalu menyadari bahwa setiap langkah hidup tidak pernah lepas dari kehendak Allah Subhanahu Wata'alla. Saya sampaikan kepada mereka bahwa refleksi membantu kita belajar dari masa lalu, agar hari esok menjadi lebih baik. Dalam refleksi, kita diajak bersyukur atas nikmat, bersabar atas ujian, dan bertekad memperbaiki diri.

Tujuan refleksi ini pun saya sampaikan dengan sederhana yaitu agar mereka merasa nyaman, merasa dihargai, dan merasa didengarkan. Saya ingin mereka bahagia menyongsong semester genap, dengan harapan prestasi meningkat dan akhlak semakin baik. Saya ingin mereka menyadari bahwa belajar bukan hanya tentang angka dan nilai, tetapi juga tentang membentuk pribadi yang bertanggung jawab dan beriman.

Saat kegiatan dimulai, suasana kelas berubah menjadi lebih tenang. Pena mulai bergerak perlahan. Beberapa siswa tampak berpikir lama sebelum menulis, menatap kosong sejenak, lalu kembali menunduk. Ada yang tersenyum kecil saat menuliskan kenangan indah, ada pula yang diam lebih lama, mungkin sedang bergulat dengan perasaan yang belum sempat terucap.

Yang membuat hati saya tersentuh adalah kreativitas mereka. Tidak sedikit siswa yang menambahkan hiasan pada tulisannya. Ada yang menggambar bunga kecil di sudut huruf, ada yang memberi garis warna-warni, ada pula yang menambahkan ilustrasi sederhana sesuai makna jawaban mereka. Ide-ide itu mereka tuangkan di setiap celah yang ada, seolah ingin berkata bahwa hidup pun penuh dengan ruang untuk diperindah, meski di sela-sela kesibukan.

Saya merasa sangat bangga, terutama kepada siswa perempuan. Ketelitian, kepekaan rasa, dan keberanian mereka menuangkan isi hati terlihat jelas dalam setiap tulisan. Mereka menulis dengan jujur, lembut, dan penuh harap. Ada doa-doa sederhana yang mereka sisipkan bahwa harapan agar lebih rajin salat, agar lebih patuh kepada orang tua, agar lebih giat belajar, dan agar Allah Subhanahu Wata'alla  memudahkan cita-cita mereka. Membaca tulisan-tulisan itu membuat saya sadar, betapa besar potensi kebaikan yang Allah Subhanahu Wata'alla titipkan dalam diri mereka.

Dalam hati, saya berdoa semoga kegiatan refleksi ini menjadi amal jariyah kecil. Semoga tulisan-tulisan itu kelak menjadi pengingat ketika mereka lelah, ketika mereka hampir menyerah. Semoga mereka ingat bahwa pernah ada satu momen di kelas 8F, di mana mereka diajak berhenti sejenak, merenung, dan mengenal diri sendiri lebih dekat.

Menjadi guru bukan hanya tentang mengajar materi, tetapi tentang menemani perjalanan. Tentang menjadi saksi tumbuhnya kesadaran, doa, dan harapan dalam diri anak-anak. Kelas 8F mengajarkan saya bahwa di balik keceriaan dan kenakalan usia remaja, tersimpan hati-hati yang tulus, yang sedang belajar memahami hidup.

Semoga Allah  Subhanahu Wata'alla meridai setiap langkah kecil ini. Semoga kelas 8F tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berakhlak, dan penuh rasa syukur. Semoga refleksi sederhana ini menjadi awal dari tahun yang lebih bermakna, bukan hanya bagi mereka, tetapi juga bagi saya sebagai pendidik yang terus belajar memperbaiki niat dan ikhtiar. Aamiin

Cepu, 6 Januari 2026

Tas Kuning

 


Karya : Gutamining Saida

Ketika saya mendapat tugas MGMP di SMPN 1 Jiken, hati dan perasaan saya langsung tertuju pada keluarga besar SMP Triji. Entah mengapa, setiap kali nama Jiken disebut, ingatan saya selalu berjalan lebih cepat dari langkah kaki. Ingatan tentang kebersamaan, tentang tawa sederhana di sela-sela tugas, dan tentang persaudaraan yang terjalin bukan karena kepentingan, melainkan karena ketulusan.

Saya bersyukur, karena dalam satu perjalanan hari itu, Allah Subhanahu Wata'alla mengizinkan saya membawa dua niat sekaligus. Pertama, menjalankan amanah sebagai guru IPS dengan mengikuti MGMP. Kedua, menjaga silaturahmi dengan teman-teman lama. Saya meyakini betul, silaturahmi adalah jalan kebaikan yang sering kali menghadirkan kejutan tak terduga. Ia tidak selalu datang dalam bentuk pertemuan besar, kadang justru hadir melalui hal-hal kecil yang menghangatkan hati.

Di zaman sekarang, silaturahmi memang tidak selalu harus bertatap muka. Bisa lewat pesan singkat, panggilan video, atau sekadar saling menyapa di media sosial. Saya tetap percaya, silaturahmi secara langsung memiliki rasa yang berbeda. Ada energi yang mengalir, ada doa yang diam-diam terucap, dan ada kedekatan yang tak bisa digantikan oleh layar ponsel.

Saat berada di lokasi MGMP, saya teringat Bu Peni. Rumah beliau berada di pinggir jalan raya, tepat di jalur yang saya lewati menuju Jiken. Tanpa berpikir panjang, saya mengirim pesan singkat, sekadar memberi kabar.

“Bu, hari ini saya MGMP di Jiken 1.”

Tak lama kemudian, pesan itu dibalas.

“Alhamdulillah, mampir ya.”

Balasan sederhana itu membuat hati saya hangat. Rasanya seperti disambut sebelum benar-benar datang. MGMP pun berlangsung lancar. Diskusi berjalan hidup, ide-ide dibagikan, dan semangat belajar antar guru terasa nyata. Di sela-sela kegiatan itu, hati saya menyimpan niat kecil bahwa jika waktu mengizinkan, saya ingin benar-benar mampir, meski hanya sebentar.

Ketika kegiatan MGMP selesai dan saya bersiap pulang, saya kembali memberi kabar kepada Bu Peni bahwa agenda saya sudah usai. Tak perlu menunggu lama, pesan itu segera terbalas.

“Iya bu, saya masih di posyandu.”

Saya tersenyum membaca balasan tersebut. Tidak apa-apa, pikir saya. Yang penting niat silaturahmi sudah ada. Saya pun memutuskan tetap mampir, sekadar menyapa dan menunjukkan bahwa janji kecil itu saya usahakan untuk ditepati.

Sesampainya di rumah Bu Peni, suasana tampak tenang. Saya disambut oleh suaminya yang biasa disapa dengan panggilan Pak Bandi. Dengan senyum ramah, beliau mempersilakan saya duduk. Obrolan ringan pun mengalir, tentang kesibukan masing-masing. Tidak ada obrolan yang berat, namun cukup untuk membuat suasana terasa akrab.

Tak lama kemudian, Pak Bandi masuk ke dalam rumah. Saya kira beliau hendak mengambil minum. Beliau keluar sambil membawa sebuah tas tentengan berwarna kuning. Saya sedikit terkejut ketika tas itu disodorkan kepada saya.

“Ini, Bu… dibawa pulang,” ucap beliau dengan nada sederhana.

Saya sempat terdiam. Eh… ternyata isinya juga serba kuning. Di dalam tas itu terdapat buah pisang emas dan pisang raja. Warnanya cerah, segar, dan terlihat begitu menggoda. Saya tersenyum lebar, bukan semata karena buahnya, melainkan karena ketulusan yang menyertainya.

Dalam hati langsung terucap syukur. Alhamdulillah...MasyaAllah… rezeki memang sudah ada yang mengatur. Kadang ia datang lewat jalan yang sama sekali tidak kita rencanakan. Saya tidak berniat mampir untuk membawa apa-apa pulang. Saya hanya ingin menyambung silaturahmi. Allah Subhanahu Wata'alla menghadirkan rezeki itu lewat tangan siapa saja yang Dia kehendaki.

Bu Peni belum pulang dari posyandu, namun pertemuan singkat dengan Pak Bandi saja sudah cukup menjadi penguat rasa persaudaraan. Saya berpamitan dengan hati yang hangat dan tangan yang membawa amanah berupa buah pisang. Dalam perjalanan pulang, pikiran saya dipenuhi rasa syukur yang dalam.

Hari ini benar-benar terasa lengkap. Tugas MGMP terselesaikan dengan baik. Silaturahmi terjaga, meski tidak sepenuhnya bertemu. Rezeki datang tanpa diminta. Semua seolah menjadi pengingat bahwa ketika kita meluruskan niat, Allah Subhanahu Wata'alla akan mencukupkan hasilnya.

Saya belajar kembali bahwa silaturahmi bukan soal lama bertemu atau seberapa sering bertatap muka. Silaturahmi adalah soal niat, soal usaha, dan soal keikhlasan. Bahkan ketika hanya bertemu dengan suami sahabat, kebaikan tetap mengalir. Bahkan ketika hanya mampir sebentar, keberkahan tetap hadir.

Saya pulang dengan perasaan lapang. Bukan karena tas kuning berisi pisang, melainkan karena keyakinan bahwa hidup ini selalu punya cara indah untuk mengajarkan kita tentang syukur. Rezeki sudah ditakar, waktu sudah diatur, dan pertemuan sudah dituliskan. Tugas kita hanyalah melangkah dengan niat baik dan percaya penuh kepada Sang Pencipta alam semesta. Satu perjalanan kembali mengajarkan saya bahwa ketika niat bekerja dan niat menyambung silaturahmi disatukan, Allah Subhanahu Wata'alla menghadiahkan lebih dari yang kita bayangkan. 

Cepu, 29 Januari 2026

Jumat, 30 Januari 2026

Aska Ayu Salsabila

Karya : Gutamining Saida

Setelah bel berbunyi menandakan jam pelajaran berakhir, saya meminta anak-anak kelas 8H segera mengumpulkan tugas. Suasana kelas mendadak berubah. Kursi yang semula bergeser ke sana-sini kini kembali rapat, buku-buku ditutup, dan kertas tugas digenggam erat seolah menjadi benda paling berharga. Satu demi satu mereka maju ke depan meja guru. Ada yang melangkah penuh percaya diri, ada pula yang menunduk sambil sesekali melirik ke arah teman.

Saya menerima hasil karya mereka dengan senyum, membolak-balik kertas, membaca sekilas judul dan isi. Sebagian besar sudah sesuai dengan instruksi yaitu tokoh penjelajah samudra lengkap dengan asal negara, tujuan pelayaran, serta dampak penjelajahannya. Hati saya terasa hangat melihat usaha mereka. Ada yang menulis tentang Vasco da Gama, ada yang memilih Christopher Columbus, bahkan ada pula yang berani mengulas Ferdinand Magellan meski tulisannya masih sederhana.

Ketika Azka Ayu Sabila maju ke depan, perasaan saya mendadak berubah. Mata saya seakan salah lihat. Pikiran saya pun menolak untuk yakin dengan apa yang disodorkan di hadapan saya. Nama tokoh yang tertulis di kertas adalah Sisimangaraja. Saya hafal betul tokoh tersebut, bahkan di luar kepala. Tanpa sadar, saya mengangkat wajah, menatap Azka, lalu kembali menatap tugasnya.

Wajah saya berganti-ganti arah, dari Azka ke kertas, dari kertas ke Azka. “Betul ini tugasmu?” tanya saya, berusaha menahan nada agar tetap terdengar biasa saja.

“Iya, Bu,” jawabnya singkat, nyaris tanpa ragu.

Saya menarik napas sejenak. “Ini siapa dan dari mana asalnya?” saya melanjutkan, sambil menunjuk nama yang tertulis di sana.

“Ini Sisimangaraja, Bu, yang melawan penjajah,” jawab Azka dengan suara yakin.. 

Saya mengangguk pelan. “Betul sekali,” jawab saya jujur. “Ibu tidak menyangkal itu. Sisimangaraja adalah pahlawan yang luar biasa.” Saya kemudian melanjutkan dengan nada lebih lembut, “Tapi untuk tugas yang kau kumpulkan ini, ada yang keliru. Maksud Ibu, kita sedang membahas penjelajahan samudra.”

Kalimat itu seolah menjadi garis batas antara keyakinan dan kenyataan bagi Azka. Wajahnya yang semula cerah mendadak berubah. Sorot matanya meredup, bibirnya terkatup rapat. Ia menunduk, menatap lantai kelas yang tiba-tiba terasa begitu luas. Saya bisa melihat kesedihan di wajahnya, bukan karena dimarahi, melainkan karena merasa salah dan kecewa pada dirinya sendiri.

Saat itu, kelas terasa hening. Anak-anak lain yang masih mengantri pengumpulan tugas ikut terdiam. Saya tahu, momen ini bukan hanya tentang satu tugas yang keliru, tetapi tentang proses belajar seorang anak.

Saya mempersilakan Azka kembali ke bangkunya. Saya bergulat dengan perasaan. Ada keinginan untuk langsung menegur, tetapi ada pula dorongan kuat untuk memahami. Saya sadar, tidak semua kesalahan lahir dari kemalasan. Kadang, kesalahan muncul karena ketidaktelitian, salah paham, atau bahkan keterbatasan pemahaman.

Pelajaran hari itu sebenarnya bukan sekadar tentang penjelajahan samudra. Saya ingin anak-anak memahami perbedaan antara tokoh pahlawan nasional dan tokoh penjelajahan Samudra. Sisimangaraja adalah simbol perlawanan, keberanian, dan cinta tanah air. Sementara penjelajahan samudra adalah tokoh yang berlayar melintasi lautan dengan berbagai tujuan, baik ekonomi, politik, maupun agama. Dua hal ini berbeda, namun sama-sama penting untuk dipelajari.

Setelah semua tugas terkumpul, saya berdiri di depan kelas. Saya tidak langsung menyinggung kesalahan Azka. Saya memilih menjelaskan kembali materi secara umum. Saya ulangi apa yang dimaksud dengan penjelajah samudra, kapan peristiwa itu terjadi, dan siapa saja tokoh-tokohnya. Saya sampaikan dengan bahasa sederhana, diselingi contoh-contoh agar mudah dipahami.

Sesekali, saya melirik ke arah Azka. Ia duduk diam, mendengarkan dengan serius. Saya bisa melihat ia berusaha mencocokkan kembali pemahamannya. Dalam hati saya berkata, inilah proses belajar yang sesungguhnya. Bukan tentang selalu benar, tetapi tentang berani menyadari kesalahan dan mau memperbaikinya.

Usai penjelasan, saya mendekati bangkunya. Dengan suara pelan, saya berkata, “Azka, Ibu senang kamu mengenal Sisimangaraja. Itu artinya kamu punya pengetahuan sejarah yang baik. Tapi lain kali, coba baca lagi soal tugasnya, ya.”

Ia mengangguk pelan. “Iya, Bu,” jawabnya lirih.

Saya belajar bahwa menjadi guru bukan hanya tentang memberi nilai benar atau salah. Menjadi guru adalah tentang menemani proses, memahami kegelisahan anak, dan memberi ruang untuk tumbuh. Kesalahan Azka menjadi pengingat bagi saya bahwa setiap anak belajar dengan caranya sendiri, dan tugas saya adalah membimbing, bukan menghakimi.

Bagi Azka, mungkin hari itu terasa berat. Saya berharap, suatu saat nanti ia akan mengingatnya sebagai titik belajar. Bahwa dari kesalahan kecil di kelas, ia belajar untuk lebih teliti, lebih memahami, dan tidak takut untuk mencoba lagi. Bagi saya, hari itu kembali menegaskan satu hal bahwa di balik setiap tugas yang keliru, selalu ada anak yang sedang berproses menjadi lebih baik.

Cepu, 30 Januari 2026

Kamis, 29 Januari 2026

Refleksi 2026 Di Kelas 8H

 


Karya: Gutamining Saida

Awal memasuki tahun baru selalu membawa rasa yang istimewa. Angka di kalender berganti, lembaran lama ditutup, dan semester genap pun dimulai. Bagi sebagian siswa, kembalinya ke sekolah setelah liburan adalah hal biasa. Bagi saya sebagai pendidik, awal semester genap adalah momentum yang sangat berharga yaitu waktu terbaik untuk menata kembali niat, menyelaraskan harapan, dan menyiapkan langkah agar proses belajar berjalan lebih bermakna.

Saya melangkah menuju kelas 8H dengan perasaan penuh harap. Suasana kelas tampak sedikit berbeda dari hari-hari sebelumnya. Wajah-wajah siswa masih menyimpan jejak liburan. Ada yang terlihat ceria karena liburannya menyenangkan, ada pula yang tampak biasa saja, bahkan beberapa masih terlihat enggan kembali ke rutinitas belajar. Saya menyadari, sebelum memulai pelajaran dengan target angka-angka penilaian, ada satu hal penting yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah refleksi.

Saya membuka pembelajaran, “Anak-anak, hari ini ibu tidak langsung masuk ke materi pelajaran. Kita akan melakukan refleksi terlebih dahulu.” Beberapa siswa saling berpandangan. Ada yang mengangkat alis, ada yang tersenyum kecil. Kata refleksi terdengar asing bagi sebagian dari mereka. Maka saya pun mulai menjelaskan dengan bahasa sederhana.

“Refleksi itu artinya kita berhenti sejenak, menengok ke belakang, lalu menata langkah ke depan. Dalam ajaran agama islam, refleksi sangat dekat dengan yang namanya muhasabah atau introspeksi diri. Kita mengingat apa yang sudah kita lakukan, memperbaiki yang kurang, dan bersyukur atas yang sudah baik.”

Saya mengajak seluruh siswa kelas 8H untuk menundukkan kepala sejenak. Kelas yang biasanya ramai perlahan menjadi hening. “Coba ingat kembali semester lalu,” kata saya pelan. “Apa yang sudah kalian lakukan dengan baik? Apa yang masih perlu diperbaiki? Jangan takut mengakui kekurangan, karena Allah Maha Mengetahui isi hati hamba-Nya dan Maha Membuka pintu ampunan.”

Dalam keheningan itu, saya melihat perubahan sikap. Ada siswa yang menatap meja dengan serius, ada yang memejamkan mata, ada pula yang menarik napas panjang. Saya yakin, di antara mereka ada yang teringat tugas yang sering ditunda, belajar yang masih malas, atau sikap yang kurang baik terhadap teman, guru, bahkan orang tua.

Saya lalu menegaskan bahwa refleksi bukan untuk menyalahkan diri. “Anak-anak, refleksi bukan untuk membuat kalian sedih atau merasa gagal. Justru refleksi adalah tanda bahwa kalian ingin menjadi pribadi yang lebih baik. Allah menyukai hamba-Nya yang mau belajar dari kesalahan.” Saya melanjutkan dengan mengaitkan pengalaman liburan mereka. “Liburan kemarin adalah nikmat dari Allah. Kita diberi waktu istirahat, berkumpul dengan keluarga, bermain, dan menyegarkan pikiran. Sekarang, sebagai bentuk syukur, mari kita kembali ke sekolah dengan semangat baru. 

Ingat, menuntut ilmu adalah ibadah. Setiap langkah kalian menuju sekolah, setiap tulisan di buku catatan, insyaallah dicatat sebagai amal kebaikan.” Suasana kelas 8H perlahan berubah. Senyum mulai muncul. Beberapa siswa terlihat lebih rileks. Saya sengaja menciptakan suasana yang nyaman agar mereka merasa bahwa sekolah menjadi ruang untuk bertumbuh.

Saya kemudian mengajak mereka mengingat orang tua di rumah. “Ada ayah dan ibu yang mungkin tidak selalu menuntut kalian dengan kata-kata, tetapi doa mereka tidak pernah putus. Mereka berharap kalian tumbuh menjadi anak yang berilmu, berakhlak baik, dan memiliki masa depan yang lebih baik dari mereka.”

Kalimat itu membuat kelas kembali hening. Saya melihat beberapa siswa kelas 8H menunduk lebih dalam. Ada kesadaran yang perlahan tumbuh bahwa belajar bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk membahagiakan orang tua.

Selanjutnya, saya meminta mereka menuliskan satu harapan sederhana untuk semester genap ini. Bukan tentang menjadi juara kelas, melainkan tentang perubahan sikap yaitu lebih disiplin, lebih rajin, lebih jujur, lebih menghargai waktu dan teman. Saya menekankan bahwa Allah Subhanahu Wata'alla mencintai proses. Tidak harus sempurna, yang penting mau berusaha dan tidak berhenti berdoa.

Di akhir kegiatan refleksi, kami berdoa bersama. Doa sederhana namun penuh harap. Kami memohon agar Allah melapangkan hati siswa kelas 8H, memudahkan mereka memahami pelajaran, memberkahi ilmu yang dipelajari, serta menjadikan ilmu tersebut sebagai bekal untuk masa depan yang lebih baik, dunia dan akhirat.

Ketika bel pelajaran hampir berbunyi, saya melihat perubahan kecil yang sangat berarti. Wajah-wajah yang tadinya tampak datar kini lebih cerah. Bahkan ada siswa yang berkata lirih, “Bu, rasanya jadi lebih semangat sekolah lagi.”

Kalimat sederhana itu menjadi penguat hati saya. Saya yakin, refleksi di awal semester genap di kelas 8H bukan hanya tentang kesiapan belajar, tetapi tentang menata niat. Ketika hati sudah nyaman, jiwa sudah tenang, dan tujuan belajar diluruskan karena Allah Subhanahu Wata'alla, maka prestasi akan mengikuti bukan hanya prestasi akademik, tetapi juga prestasi akhlak dan kepribadian.

Semester genap pun kami sambut dengan optimisme. Dengan doa, usaha, dan kebersamaan, saya berharap siswa-siswa kelas 8H tumbuh menjadi generasi yang membanggakan orang tua, sekolah, serta berguna bagi masyarakat, dan siap menyongsong masa depan.

Cepu, 5 Januari 2026 

Selasa, 27 Januari 2026

Presentasi Di Kelas 7C




Karya: Gutamining Saida

Selasa jam pelajaran ke-1 dan ke-2 selalu memiliki tantangan tersendiri. Sebagian siswa pikiran  melayang belum sarapan. Suasana di luar kelas diiringi hujan rintik-rintik yang jatuh perlahan. Bunyi tetesan air di atap dan jendela seolah menjadi pengantar keheningan. Saat itu saya belajar, bahwa dalam setiap keadaan Allah Subhanahu Wata'alla selalu menyelipkan pelajaran, sekecil apa pun suasananya.

Saya mengajar di kelas 7C. Setelah menyampaikan materi tentang potensi negara Indonesia meliputi  kekayaan alam, sumber daya manusia, letak geografis, serta keberagaman budaya. Kemudian saya melanjutkan pembelajaran dengan metode diskusi kelompok. Anak-anak saya bagi menjadi delapan kelompok kecil, masing-masing beranggotakan tiga sampai empat siswa. Tujuannya sederhana, agar mereka belajar bekerja sama, berani menyampaikan pendapat, dan bertanggung jawab atas tugas yang diberikan.

Hujan di luar semakin menambah suasana kelas terasa syahdu. Sebelum diskusi dimulai, saya mengingatkan mereka bahwa ilmu adalah amanah. Apa yang mereka pelajari bukan sekadar untuk nilai, tetapi untuk bekal menjadi manusia yang bermanfaat. Saya sampaikan dengan pelan, “Anak-anak, apa pun yang kalian lakukan hari ini, niatkan karena Allah .

Semua kelompok mulai berdiskusi. Ada yang serius membaca, ada yang saling bertanya, ada pula yang masih perlu diingatkan agar fokus. Saya bersyukur, perlahan mereka larut dalam tugas masing-masing. Setelah waktu diskusi selesai, tibalah saat presentasi. Saya persilakan kelompok yang sudah siap untuk maju terlebih dahulu.

Kelompok pertama yang maju adalah kelompok Reni, Revan, dan Alifa. Baru saja mereka berdiri di depan kelas dan menempatkan diri, suasana kelas langsung pecah oleh tawa. Bukan tawa mengejek, melainkan tawa spontan karena ada pemandangan yang tidak seperti biasanya. Revan, satu-satunya siswa laki-laki di kelompok itu, berdiri agak menjauh dari dua temannya yang perempuan.

Saya memperhatikan dengan seksama. Wajah Revan terlihat sedikit tegang, ada rasa malu yang jelas terpancar. Reni dan Alifa pun tampak saling melirik sambil tersenyum kecil. Saya membiarkan mereka menenangkan diri sejenak. Dalam hati saya berdoa, semoga suasana ini tidak menjatuhkan keberanian mereka, melainkan justru menjadi latihan mental.

Presentasi pun dimulai. Reni membuka pemaparan tentang potensi alam Indonesia dengan suara yang cukup jelas. Alifa melanjutkan dengan menjelaskan peran sumber daya manusia. Revan, meski berdiri agak jauh, tetap menjalankan tugasnya dengan menyampaikan bagian tentang letak sumber daya alam  Indonesia. Saya melihat usaha yang luar biasa dari anak-anak ini. Di balik rasa malu, mereka tetap bertanggung jawab.

Setelah pemaparan materi selesai, dibuka sesi tanya jawab. Beberapa siswa mengangkat tangan. Saya persilakan kelompok Fabiel untuk bertanya. Fabiel berdiri dan dengan nada polos bertanya, “Bu, saya mau bertanya. Mengapa Revan berdiri menjauh dari teman-temannya?”

Pertanyaan itu sontak membuat kelas kembali tertawa. Bahkan sebelum ada yang menanggapi, tawa itu sudah pecah tanpa komando. Saya tersenyum, lalu mengangkat tangan memberi isyarat agar mereka tenang. Dalam momen sederhana itu, saya melihat betapa alami dunia anak-anak, jujur tanpa banyak filter.

Saya menoleh ke arah Revan. Revan menjawab pelan, “Soalnya kelompok saya, perempuan semua. Jadi saya berdiri agak jauh.” Jawaban itu disambut senyum dan tawa kecil, namun kali ini lebih terkontrol.

Saya lalu mengambil pelajaran dari kejadian tersebut. Saya sampaikan kepada seluruh kelas bahwa rasa malu itu wajar, terlebih dalam menjaga adab. Islam mengajarkan kesopanan, menjaga sikap, dan tahu batas. Di sisi lain, keberanian untuk tampil dan bekerja sama juga penting. Keduanya harus berjalan seimbang.

Diskusi materi pun dilanjutkan. Pertanyaan tentang potensi Indonesia mengalir lancar. Anak-anak saling menanggapi, belajar menghargai pendapat, dan berlatih menyampaikan jawaban dengan santun. Saya melihat perubahan suasana kelas. Dari yang semula riuh karena tawa, menjadi lebih tenang dan penuh perhatian.

Hujan rintik di luar seakan menjadi saksi bahwa hari itu bukan hanya materi IPS yang tersampaikan, tetapi juga nilai-nilai kehidupan. Presentasi sederhana itu melatih tanggung jawab, karena setiap anak harus menguasai bagiannya. Melatih keberanian, karena berdiri di depan teman-temannya bukan hal mudah. Latihan kerja sama, karena tanpa saling mendukung, presentasi tidak akan berjalan baik.

Saya menutup pelajaran dengan refleksi singkat. Saya ingatkan mereka bahwa Allah Subhanahu Wata'alla tidak menilai siapa yang paling pintar berbicara, tetapi siapa yang paling bersungguh-sungguh berusaha. Setiap langkah kecil berani maju, berani bertanya, berani menjawab adalah bagian dari proses menjadi pribadi yang lebih baik.

Ketika bel tanda pergantian jam pelajaran berbunyi, hujan masih turun rintik-rintik. Anak-anak kembali ke tempat duduk masing-masing dengan wajah yang lebih cerah. Saya menatap mereka satu per satu, sambil berdoa dalam hati, semoga ilmu hari itu menjadi amal jariyah, dan pengalaman kecil di kelas 7C menjadi kenangan yang menumbuhkan karakter hingga kelak dewasa nanti.

Cepu, 27 Januari 2026


Roudhoh



Karya : Gutamining Saida

Senin sore itu langkah saya terasa lebih pelan dari biasanya. Ada agenda yang sejak siang sudah terpatri di hati yaitu menjenguk Mbak Rini di PKU berdua dengan dik Faiz. Kabar yang kami terima sebelumnya menyebutkan bahwa Mbak Rini dirawat di ruang Raudhoh. Satu kata itu saja sudah menghadirkan getar yang berbeda di dada saya.

Raudhoh. Sebuah kata yang tidak asing bagi umat Islam. Dalam benak saya, Raudhoh adalah taman surga, tempat mustajabnya doa, ruang di antara mimbar dan makam Rasulullah di Masjid Nabawi. Banyak umat muslim bermimpi, berdoa, dan menabung bertahun-tahun agar bisa menginjakkan kaki di Raudhoh, memanjatkan doa-doa terbaik, mencurahkan harap dan rindu kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Maka ketika mendengar Mbak Rini berada di ruang bernama Raudhoh, hati saya spontan berdoa, “Ya Allah, semoga Mbak Rini dan keluarganya benar-benar Engkau izinkan suatu hari nanti menginjakkan kaki di Raudhoh yang sesungguhnya.”

Perjalanan menuju PKU sore itu terasa syahdu. Matahari mulai condong ke barat, sinarnya lembut, seolah ikut menemani niat baik kami. Dalam hati saya terus melafalkan doa, semoga kunjungan ini membawa kebahagiaan, bukan hanya bagi yang dijenguk, tetapi juga bagi kami yang datang.

Kami tiba di PKU menjelang waktu besuk. Jam di dinding menunjukkan pukul 16.40 WIB. Ternyata jam besuk baru dimulai pukul 17.00 WIB. Dua puluh menit yang singkat, tetapi cukup untuk melatih kesabaran. Kami duduk sejenak, menunggu dengan tenang. Dalam momen menunggu itu, saya kembali merenung. Ternyata dalam hidup pun sering terjadi kita tahu tujuan, tetapi Allah Subhanahu Wata'alla.meminta kita menunggu sebentar, agar hati belajar sabar dan yakin.

Saat menunggu, saya mengirim pesan kepada suami. “Ruang berapa?” tanya saya singkat. Tidak lama kemudian balasan masuk. Sebuah foto muncul di layar ponsel, tertulis jelas: Ruangan 3. Hati saya mantap. Saya yakin melangkah. Dalam pikiran saya, inilah ruang Raudhoh yang dimaksud.

Dengan langkah penuh keyakinan, saya menuju ruang 3. Pintu terbuka, beberapa pasien terlihat beristirahat. Saya mengamati satu per satu wajah di dalam ruangan. Hati saya mulai bertanya-tanya. Tidak ada Mbak Rini di sana. Sekilas rasa ragu muncul. Apa saya salah ruang? Saya masih berusaha menenangkan diri, mungkin Mbak Rini sedang di balik tirai atau baru saja keluar.

Beberapa menit berlalu, dan keyakinan saya mulai goyah. Akhirnya saya memutuskan untuk menelepon suami Mbak Rini. Nada sambung terdengar, lalu suaranya menjawab dengan lembut. Dari percakapan singkat itu, barulah jelas bahwa Mbak Rini berada di ruang Raufidah, bukan Raudhoh. Saya tersenyum kecil. Ternyata keyakinan yang terlalu cepat pun bisa mengantarkan kita ke ruang yang keliru.

Suami Mbak Rini kemudian meminta kami menunggu di dekat lift untuk bersama-sama menuju ke ruangan. Kami pun melangkah ke arah lift. Di sana, saya berdiri sambil kembali merenung. Betapa hidup ini sering mengajarkan bahwa niat baik saja tidak cukup, kita juga perlu memastikan arah. Namun di balik kekeliruan kecil, Allah Subhanahu Wata'alla.selalu menyelipkan hikmah.

Tak lama kemudian, Mbak Rini tampak dengan senyum yang menenangkan. Wajahnya tampak lelah, tetapi bahagia. Di pelukannya, ada seorang bayi mungil yang tidur dengan damai. Hati saya langsung diliputi rasa haru. Bahagia yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Melihat seorang ibu dan bayinya dalam keadaan sehat adalah nikmat besar yang sering kali baru terasa ketika kita menyaksikannya langsung.

Kami saling menyapa, bertanya kabar, dan saling mendoakan. Ruangan Raufidah sore itu terasa hangat. Bukan hanya karena cahaya lampu atau suasana rumah sakit, tetapi karena rasa syukur yang memenuhi hati kami semua. Saya menatap bayi itu dengan penuh kasih. Dalam hati, doa pun mengalir tanpa diminta.

“Ya Allah, jadikanlah anak ini anak yang sholehah. Sehatkan jasadnya, lembutkan hatinya, dan terangilah hidupnya dengan iman.”

Doa itu terucap lirih, namun penuh harap. Saya yakin, setiap doa yang keluar dari hati yang tulus tidak pernah sia-sia. Mungkin tidak langsung terwujud, tetapi Allah Subhanahu Wata'alla.selalu mendengarnya.

Sebelum berpamitan, saya kembali teringat kata Raudhoh. Meski hari itu kami tidak benar-benar berada di Raudhoh yang ada di Masjid Nabawi, saya merasa telah menginjakkan kaki di “raudhoh”  ruang penuh harap, doa, dan rasa syukur. Sebuah tempat di mana hati terasa dekat dengan-Nya.

Senin sore itu menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sering hadir dalam bentuk sederhana. Semoga Mbak Rini dan keluarganya selalu dalam lindungan Allah Subhanahu Wata'alla. dan suatu hari benar-benar diizinkan-Nya menginjakkan kaki di Raudhoh yang sesungguhnya. Aamiin.

Cepu, 27 Januari 2026

Minggu, 25 Januari 2026

Story Di Minggu Pagi



Karya : Gutamining Saida

Minggu pagi udara terasa lebih ramah dari biasanya. Jam tangan baru saja menunjuk pukul 09.30 WIB ketika saya duduk santai di tepi sebuah waduk, ditemani anak putri saya. Kami menikmati pemandangan yang menenangkan mata. Ada perahu kecil dengan dua penumpang sedang menayuh sampan. Dua bebek air yang masing-masing ada dua cewek di atasnya.Tidak ada agenda khusus, tidak pula janji dengan siapa pun. Hanya keinginan sederhana yaitu mengistirahatkan hati setelah hari-hari yang penuh dengan rutinitas dan tanggung jawab.

Entah dorongan dari mana, tangan saya meraih handphone. Saya memotret suasana di depan mata perahu kecil dengan dua penumpang, langit yang cerah, pepohonan yang bergoyang pelan, dan sudut tempat yang terasa damai. Tanpa banyak berpikir, saya unggah foto itu ke story WhatsApp dengan satu kalimat singkat, “Ayo siapa yang mau menyusul, aku di sini.”

Tidak sampai beberapa menit, handphone saya mulai bergetar. Satu notifikasi masuk, disusul yang lain, lalu bertubi-tubi. Saya tersenyum kecil. Pesan pertama berbunyi, “Dimana iki, Mi?” Tak lama kemudian muncul pesan lain, “Dimana bu?”, “Dimana itu?”, “Kok kayaknya sejuk banget?”

Saya terdiam sejenak. Ada rasa hangat yang perlahan menyusup ke dalam hati. Ternyata, satu story sederhana mampu membuka kembali pintu komunikasi yang mungkin selama ini tertutup oleh jarak, kesibukan, dan perubahan keadaan. Teman-teman lama, sahabat seperjuangan, bahkan rekan kerja dari sekolah yang kini sudah tidak lagi satu atap dengan saya, masih peduli. Mereka masih menyapa, masih ingin tahu kabar, masih meluangkan waktu untuk bertanya, meski hari itu bukan hari kerja, meski kami sudah tidak berada di lingkungan yang sama.

Dalam hati saya beristighfar pelan. betapa sering manusia merasa sendirian, padahal Allah Subhanahu Wata'alla masih menitipkan kepedulian melalui orang-orang di sekelilingnya. Kadang bukan karena kita benar-benar sendiri, tetapi karena kita lupa membuka ruang untuk disapa.

Pertanyaan demi pertanyaan terus masuk. Saya menjawab satu per satu dengan santai, diselingi senyum dan rasa syukur. Beberapa di antara mereka mengira saya sedang pergi jauh, ke tempat wisata terkenal, atau bahkan ke luar kota. Padahal, tempat itu tidaklah jauh dari rumah. Sangat dekat, bahkan selama ini terlewatkan begitu saja.

Di situlah saya tersadar. Allah Subhanahu Wata'alla sering menyimpan keindahan di tempat-tempat yang tidak kita sangka. Kita kerap berpikir bahwa ketenangan harus dicari jauh, mahal, dan penuh rencana. Padahal, bisa jadi Allah Subhanahu Wata'alla  telah menyiapkannya dekat dengan kita, hanya menunggu waktu yang tepat untuk kita temukan.

Tempat itu begitu tenang. Tidak bising oleh suara kendaraan, tidak sesak oleh polusi, tidak riuh oleh keramaian yang melelahkan. Hanya suara alam yang jujur: desir angin, kicau burung, dan dedaunan yang saling berbisik. Mata dimanjakan oleh hijaunya pepohonan, hati dilapangkan oleh suasana yang seolah mengajak untuk berdzikir tanpa kata.

Saya duduk lebih lama. Menghela napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Di saat seperti itu, doa terasa mengalir dengan sendirinya. Tidak terucap keras, namun menggema di dalam hati. Saya mengingat betapa Allah Maha Baik, memberikan ruang bagi hamba-Nya untuk berhenti sejenak, menenangkan pikiran, dan merapikan niat.

Story sederhana itu ternyata bukan hanya tentang pancingan candaan kepada teman-teman. Kalimat  menjadi jalan silaturahmi. Ia menjadi pengingat bahwa hubungan baik tidak selalu harus intens bertemu, cukup dijaga dengan sapaan dan perhatian kecil. Dalam Islam, menjaga silaturahmi adalah amalan yang Allah Subhanahu Wata'alla janjikan keberkahan umur dan kelapangan rezeki. Hari itu saya merasakannya, bukan dalam bentuk materi, tetapi dalam bentuk ketenteraman batin.

Saya membatin, mungkin inilah salah satu cara Allah Subhanahu Wata'alla menghibur hamba-Nya. Di saat kita merasa lelah, Allah Subhanahu Wata'alla  hadirkan ketenangan. Di saat kita merasa sendiri, Allah Subhanahu Wata'alla hadirkan kepedulian. Di saat kita merasa jauh, Allah Subhanahu Wata'alla  dekatkan kembali melalui hal-hal sederhana.

Setelah merasa cukup saya pulang dengan hati yang lebih ringan. Bukan karena tempatnya semata, tetapi karena makna yang saya petik. Bahwa rezeki tidak selalu berupa uang atau jabatan. Rezeki bisa berupa waktu luang, udara sejuk, teman yang masih menyapa, dan hati yang mampu bersyukur.

Saya belajar dari pemandangan alam yang indah. Cukup disyukuri, dijaga, dan dimaknai. Dari sebuah story singkat, saya kembali diingatkan bahwa hidup akan terasa lebih ringan jika dijalani dengan rasa syukur, silaturahmi, dan kesadaran bahwa Allah Subhanahu Wata'alla  selalu menyediakan tempat pulang bagi hati yang lelah.

Cepu, 25 Januari 2026

Jumat, 23 Januari 2026

IPS Bersama AdiK SimBa

 


Karya: Gutamining Saida

Pembelajaran mata pelajaran IPS di kelas 8H pada materi Penjelajahan Samudra saya rancang dengan tujuan agar siswa tidak hanya mengenal tokoh-tokoh besar dari sekadar nama dan tahun, tetapi benar-benar memahami cerita, latar belakang, serta dampak dari penjelajahan tersebut. Selama ini, saya menyadari bahwa ketika siswa diberi tugas “mencari tokoh”, sebagian besar langsung membuka internet, menyalin informasi, lalu selesai. Pengetahuan yang diperoleh sering kali tidak bertahan lama karena tidak melalui proses membaca dan memahami secara mendalam.

Berangkat dari kondisi tersebut, saya mencoba menggunakan sebuah teknik sederhana namun bermakna, yaitu AdiK SimBa, agar pembelajaran menjadi lebih hidup dan bermakna. Saya berharap dengan teknik ini, siswa kelas 8H dapat belajar berpikir runtut, teliti, dan bertanggung jawab terhadap informasi yang mereka peroleh.

Pada awal pembelajaran, saya membuka kelas dengan apersepsi ringan. Saya mengajak siswa membayangkan bagaimana rasanya hidup pada masa ratusan tahun lalu, saat teknologi belum secanggih sekarang. Saya bertanya, “Bagaimana perasaan kalian jika harus berlayar berbulan-bulan di lautan luas tanpa peta modern, tanpa GPS, dan tanpa alat komunikasi?” Pertanyaan tersebut langsung menarik perhatian siswa. Beberapa siswa tersenyum, ada yang menggelengkan kepala, dan ada pula yang berkomentar bahwa hal itu pasti sangat menakutkan.

Dari situ, saya menjelaskan bahwa tokoh-tokoh penjelajahan samudra adalah orang-orang yang berani mengambil risiko besar. Mereka berlayar jauh meninggalkan negerinya demi tujuan tertentu, seperti mencari rempah-rempah, kejayaan, kekayaan, dan pengaruh. Setelah suasana kelas mulai fokus, saya menyampaikan tugas utama pembelajaran hari itu.

Setiap siswa kelas 8H diminta untuk mencari dan mempelajari satu tokoh penjelajahan samudra. Tokoh tersebut bebas dipilih, bisa berasal dari Portugis, Spanyol, Belanda, atau Inggris. Namun, saya menekankan bahwa tugas ini tidak boleh dikerjakan dengan cara menyalin data begitu saja. Untuk itu, saya memperkenalkan teknik AdiK SimBa.

Saya menuliskan kata AdiK SamBa di papan tulis, lalu bertanya, “Siapa yang tahu apa maksud AdiK SamBa?” Sebagian siswa terlihat bingung, sebagian lainnya mencoba menebak. Kemudian saya mulai menjelaskan bahwa AdiK SimBa merupakan singkatan dari kata tanya penting yang digunakan untuk memahami sebuah peristiwa atau tokoh secara utuh, yaitu:

  • Apa: Apa yang dilakukan tokoh tersebut? Apa peristiwa penting yang berkaitan dengannya?

  • di mana: Di mana penjelajahan itu terjadi? Wilayah mana saja yang dijelajahi?

  • kapan: Kapan peristiwa penjelajahan itu berlangsung?

  • siapa: Siapa tokoh tersebut dan siapa saja pihak yang terlibat?

  • mengapa: Mengapa tokoh itu melakukan penjelajahan samudra?

  • bagaimana: Bagaimana proses penjelajahan itu berlangsung dan bagaimana dampaknya?

Saya menegaskan kepada siswa kelas 8H bahwa dengan menjawab pertanyaan AdiK SimBa, mereka tidak hanya mengadopsi data, tetapi melewati proses belajar yang sesungguhnya, yaitu membaca, memahami, lalu menjawab dengan baik dan benar. Teknik ini membantu mereka menyusun informasi secara runtut sehingga materi lebih mudah dipahami dan tidak cepat dilupakan.

Setelah penjelasan selesai, siswa mulai mengerjakan tugas. Suasana kelas 8H terlihat lebih hidup dan kondusif. Mereka membuka buku paket, membaca artikel, dan mencari sumber informasi lainnya. Yang membuat saya merasa bersyukur, sebagian besar siswa tidak langsung menulis. Mereka membaca terlebih dahulu, lalu berhenti sejenak untuk memahami isi bacaan sebelum menuliskan jawabannya.

Saya berkeliling kelas untuk memantau proses belajar mereka. Seorang siswa yang memilih tokoh Ferdinand Magellan tampak serius membaca perjalanan pelayaran mengelilingi dunia. Ia kemudian menuliskan jawabannya satu per satu sesuai AdiK SamBa. Siswa lain memilih Vasco da Gama dan sempat bertanya, “Bu, kalau bagian mengapa, boleh ditulis lebih dari satu alasan?” Pertanyaan itu menunjukkan bahwa siswa mulai berpikir kritis dan tidak sekadar menyalin.

Ada pula siswa yang menyadari bahwa penjelajahan samudra tidak hanya membawa dampak positif bagi bangsa Eropa, tetapi juga membawa dampak besar bagi wilayah yang mereka datangi, termasuk penjajahan dan penderitaan bagi bangsa lain. Dari sini terlihat bahwa siswa kelas 8H mulai memahami materi secara lebih mendalam dan luas.

Menjelang akhir pembelajaran, saya meminta beberapa siswa untuk menyampaikan hasil temuan mereka secara lisan. Mereka menjelaskan tokoh pilihannya dengan urutan AdiK SamBa. Penjelasan yang disampaikan terdengar lebih runtut, jelas, dan menggunakan bahasa mereka sendiri. Rasa percaya diri pun terlihat karena mereka benar-benar memahami apa yang disampaikan.

Pembelajaran IPS di kelas 8H pada materi penjelajahan samudra hari itu menjadi pengalaman yang berkesan. Teknik AdiK SimBa terbukti membantu siswa belajar secara lebih bermakna. Mereka tidak hanya menyalin informasi, tetapi melalui proses membaca, memahami, dan menjawab dengan baik dan benar. Dari pengalaman ini, saya semakin yakin bahwa pembelajaran yang bermakna akan tumbuh ketika siswa diajak berpikir, bukan sekadar mencari jawaban. Semoga 8H semakin sukses dalam menyongsong masa depan.

Cepu, 24 Januari 2026

5W dan 1H di kelas 8G



Karya : Gutamining Saida

Pembelajaran mata pelajaran IPS di kelas 8G pada materi Penjelajahan Samudra berlangsung dengan suasana yang berbeda dari biasanya. Sejak awal saya sudah menanamkan niat agar pembelajaran tidak sekadar menjadi aktivitas mencari jawaban cepat di internet, lalu menyalinnya tanpa pemahaman. Materi penjelajahan samudra sejatinya kaya akan cerita, tokoh, semangat zaman, serta dampak besar bagi dunia, termasuk Indonesia. Karena itu, saya ingin siswa benar-benar mengenal tokoh-tokoh penjelajahan samudra, bukan hanya hafal nama dan tahun.

Pada pertemuan itu, saya membuka pelajaran dengan pengantar singkat tentang latar belakang penjelajahan samudra yaitu bagaimana bangsa-bangsa Eropa terdorong untuk berlayar jauh menembus lautan luas, meninggalkan negerinya, demi mencari rempah-rempah, kejayaan, dan pengaruh. Setelah itu, saya menyampaikan bahwa setiap siswa akan mendapat tugas untuk mencari informasi tentang satu tokoh penjelajahan samudra. Tokoh tersebut bisa berasal dari Portugis, Spanyol, Belanda, atau Inggris, seperti Vasco da Gama, Christopher Columbus, Ferdinand Magellan, Bartholomeus Diaz, atau Cornelis de Houtman.

Ada hal yang saya tekankan sejak awal. Tugas ini tidak boleh dikerjakan dengan cara “asal cari di internet lalu salin”. Saya memperkenalkan kembali sebuah teknik berpikir yang sederhana, tetapi sangat bermakna, yaitu 5W dan 1H. Sebelum mereka mulai mencari, saya bertanya kepada siswa, “Siapa yang pernah mendengar istilah 5W dan 1H?” Beberapa siswa mengangkat tangan, sebagian lainnya hanya saling menoleh. Dari situ saya mulai menjelaskan.

Saya sampaikan bahwa 5W dan 1H adalah singkatan dari kata tanya dalam bahasa Inggris yang sangat penting untuk memahami sebuah peristiwa atau tokoh secara utuh. 5W terdiri dari:

  1. What (apa): Apa peristiwa yang terjadi? Apa yang dilakukan tokoh tersebut?

  2. Who (siapa): Siapa tokohnya? Siapa saja yang terlibat?

  3. Where (di mana): Di mana peristiwa itu terjadi? Wilayah mana yang dijelajahi?

  4. When (kapan): Kapan peristiwa itu berlangsung?

  5. Why (mengapa): Mengapa tokoh tersebut melakukan penjelajahan?

Sedangkan 1H adalah:
6. How (bagaimana): Bagaimana proses penjelajahan itu terjadi? Bagaimana cara tokoh tersebut berlayar, rintangan apa yang dihadapi, dan bagaimana hasil akhirnya?

Saya menjelaskan kepada siswa bahwa dengan menjawab keenam pertanyaan ini, mereka tidak hanya mendapatkan data, tetapi juga pemahaman. Mereka akan belajar berpikir runtut, kritis, dan tidak mudah puas dengan jawaban singkat. Teknik ini juga melatih mereka membaca lebih teliti, karena satu sumber biasanya tidak langsung menjawab semua pertanyaan.

Setelah penjelasan itu, saya membagi tugas. Setiap siswa memilih satu tokoh penjelajahan samudra dan menuliskan jawabannya berdasarkan 5W dan 1H. Suasana kelas mulai berubah. Jika biasanya saat diberi tugas mencari informasi siswa cenderung pasif atau sekadar menunduk di layar gawai, kali ini terlihat berbeda. Mereka mulai membuka berbagai sumber bacaan, baik dari buku paket, artikel daring, maupun catatan yang sudah mereka miliki.

Beberapa siswa tampak berdiskusi kecil dengan teman sebangku. Ada yang bertanya, “Bu, kalau why itu alasannya karena mencari rempah-rempah boleh ditulis panjang?” Ada pula yang penasaran, “Kalau how, boleh ditulis tentang kapal dan rute perjalanannya?” Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi tanda bahwa mereka mulai berpikir lebih dalam, bukan sekadar menyalin.

Saya berkeliling kelas, melihat lembar kerja mereka satu per satu. Ada siswa yang memilih Christopher Columbus dan menuliskan dengan runtut siapa Columbus, kapan ia berlayar, ke mana tujuannya, mengapa ia berlayar, serta bagaimana dampak penjelajahannya bagi dunia. Ada pula yang memilih Vasco da Gama dan mulai memahami jalur pelayaran ke India melalui Tanjung Harapan. Dari raut wajah mereka, terlihat kesungguhan dan semangat belajar.

Yang membuat saya bersyukur, siswa terlihat tekun membaca. Mereka tidak langsung menulis, tetapi membaca terlebih dahulu, kemudian mencocokkan informasi dengan pertanyaan 5W dan 1H. Secara tidak langsung, mereka belajar memilah informasi dan menyusunnya menjadi jawaban yang bermakna. Beberapa siswa bahkan menyadari bahwa satu tokoh bisa memiliki dampak positif dan negatif, terutama bagi bangsa-bangsa yang dijajah.

Di akhir pembelajaran, saya mengajak beberapa siswa untuk menyampaikan hasil temuan mereka secara lisan. Dengan percaya diri, mereka menjelaskan tokoh pilihannya menggunakan pola 5W dan 1H. Penjelasan mereka terdengar lebih runtut dan mudah dipahami. Saya pun menegaskan kembali bahwa tujuan pembelajaran hari itu bukan hanya mengetahui nama tokoh penjelajahan samudra, tetapi memahami cerita di baliknya dan melatih cara berpikir kritis.

Pembelajaran di kelas 8G hari itu menjadi pengalaman yang berkesan. Teknik 5W dan 1H terbukti membantu siswa memahami materi secara lebih mendalam. Mereka tidak hanya “tahu”, tetapi juga “mengerti”. Semangat belajar yang terlihat di wajah mereka menjadi pengingat bagi saya bahwa pembelajaran yang bermakna tidak selalu membutuhkan metode yang rumit, cukup dengan mengajak siswa berpikir dan membaca dengan tujuan yang jelas. Semoga kalian semakin sukses.