Rabu, 05 Agustus 2026

Salah Nama

 

Karya: Gutamining Saida

Tahun ajaran 2026–2027 menjadi babak baru dalam perjalanan saya sebagai guru IPS. Kini saya kembali menyambut siswa-siswi kelas VII yang baru memasuki dunia SMP. Rasanya seperti kembali ke titik awal. Mereka datang dengan wajah-wajah penuh harapan, rasa ingin tahu, dan semangat yang meluap-luap. Salah satu kelas yang menjadi tempat saya berbagi adalah kelas 7C.

Sejak pertemuan pertama, saya sudah bisa merasakan bahwa kelas ini berbeda. Suasananya hidup, ramai, penuh energi, bahkan terkadang terasa sangat heboh. Di balik keramaian itu tersimpan semangat belajar yang luar biasa. Mereka aktif bertanya, antusias menjawab, tidak takut mengemukakan pendapat, dan selalu membuat pembelajaran terasa lebih berwarna. Kelas 7C benar-benar menjadi ruang belajar yang seru.

Saya sering bercanda kepada mereka. "Wah, kelas ini cowok-cowoknya ganteng semua, cewek-ceweknya cantik-cantik, ditambah lagi kreatif." Mendengar ucapan itu, mereka langsung tertawa. Ada yang malu-malu, ada yang tersenyum bangga, bahkan ada yang saling menunjuk temannya sambil bercanda. Suasana kelas pun menjadi semakin akrab.

Ketua kelas 7C bernama Jonathan. Dia berasal dari Merah Molyorejo. Agar terdengar lebih unik dan mudah saya ingat, saya sering menggodanya dengan menyebut, "Jonathan rumahnya Blok M." Anak-anak langsung tertawa karena mereka tahu yang saya maksud bukan Blok M di Jakarta, melainkan singkatan yang saya buat sendiri dari Desa Merah. Candaan sederhana itu justru membuat suasana kelas menjadi lebih cair.

Meski demikian, ada satu tantangan yang selalu hadir di awal tahun ajaran, yaitu menghafalkan nama seluruh siswa. Bagi saya yang mengajar tujuh kelas, mengingat ratusan nama dalam waktu singkat bukanlah perkara mudah. Saya baru berhasil menghafal beberapa nama saja.

Di antara siswi yang mulai saya kenal ada Kia, Yunior, Zahwa, Jihan, dan tentu saja Muna. Muna adalah siswi yang paling mudah saya ingat. Bukan karena  karena duduk di barisan belakang, melainkan karena ia sangat aktif berbicara. Hampir setiap kesempatan selalu ada saja yang ingin ia sampaikan. Wajahnya manis, kulit sawo matang, senyumnya ceria, dan ia berasal dari Sambong. Kehadirannya membuat suasana kelas selalu hidup.

Sementara itu, dari siswa laki-laki saya mulai mengenal Bagus, Afif, Alvaro, dan Saka. Walaupun beberapa nama sudah saya hafal, tidak jarang saya masih tertukar ketika memanggil mereka.

"Bambang... eh, maaf, ternyata Bagus."

"Afif... eh, ternyata Alvaro."

Begitulah yang sering terjadi. Setiap kali saya salah menyebut nama, ekspresi mereka berubah. Ada yang langsung tersenyum malu, ada yang tertawa, tetapi ada juga yang memasang wajah kecewa seolah berkata, "Bu..., masa nama saya belum hafal juga?"

Melihat wajah-wajah itu saya selalu meminta maaf sambil berkata, "Sabar ya, Bu Saida masih proses menghafal. Nanti pasti hafal semuanya." Mereka pun akhirnya tersenyum lagi. Saya menyadari bahwa memanggil siswa dengan nama yang benar bukan sekadar formalitas. Nama adalah identitas. Ketika seorang guru mengingat nama muridnya, mereka merasa dihargai, diperhatikan, dan diakui keberadaannya. Karena itulah saya terus berusaha menghafalkan nama satu per satu.

Ternyata, bukan hanya saya yang sering keliru. Mereka pun pernah melakukan kesalahan yang hingga kini selalu mengundang tawa. Suatu hari, saat saya berjalan di lingkungan kelas tujuh, tiba-tiba terdengar suara keras dari kejauhan.

"Bu Peniiiiii...!"

Saya tetap berjalan tanpa menoleh. Dalam hati saya berpikir, "Itu pasti memanggil guru PKn. Beberapa langkah kemudian suara itu terdengar lagi, bahkan lebih keras.

"Bu Peniiiiii...!"

Saya masih tidak merasa dipanggil. Tidak lama kemudian terdengar untuk ketiga kalinya.

"Bu Peniiiiii...!"

Karena penasaran, saya menoleh ke belakang. Ternyata ada seorang siswi yang melambaikan tangan sambil tertawa lebar. Ia adalah Muna. Saya pun ikut tertawa.

"Muna... itu bukan nama saya."

Wajahnya langsung berubah malu. Sambil tersenyum ia berkata, "Maaf, Bu... mirip bu Peni."

Sejak kejadian itu, setiap kali kami berpapasan di sekolah, Muna selalu tersenyum, sering tertawa sendiri. Mungkin ia masih teringat kekeliruannya memanggil saya dengan nama guru lain. Saya pun selalu membalas senyumnya. Kesalahan kecil itu justru menjadi kenangan yang menyenangkan.

Peristiwa sederhana tersebut mengajarkan saya proses saling mengenal membutuhkan waktu. Guru sedang belajar mengenal siswanya, sementara siswa juga sedang belajar mengenal guru-gurunya. Tidak ada yang perlu ditertawakan dengan rasa malu, karena semua itu merupakan bagian dari perjalanan membangun kedekatan.

Saya percaya, hubungan yang baik antara guru dan siswa tidak selalu dibangun melalui pelajaran yang rumit. Justru sering kali lahir dari percakapan ringan, candaan sederhana, atau bahkan kekeliruan yang mengundang tawa. Momen-momen seperti itulah yang membuat kelas terasa hangat dan penuh kenangan.

Setiap kali memasuki kelas 7C, saya semakin bersemangat. Sedikit demi sedikit nama mereka mulai saya hafal. Saya yakin suatu hari nanti saya akan mengenal mereka bukan hanya dari namanya, tetapi juga dari karakter, cita-cita, bakat, dan impian yang mereka miliki.

Kelas 7C telah mengingatkan saya bila menjadi guru bukan hanya tentang menyampaikan materi. Menjadi guru juga membangun hubungan, menumbuhkan rasa percaya, dan menciptakan kenangan indah yang akan selalu dikenang. Siapa sangka, sebuah kesalahan memanggil nama justru menjadi awal lahirnya kedekatan, tawa, dan cerita yang akan selalu tersimpan dalam ingatan, baik bagi guru maupun bagi siswanya. Semoga selalu ingat pada guru IPS kalian.

Cepu, 6 Agustus 2026

Selasa, 04 Agustus 2026

Batu


Karya: Gutamining Saida

Allah Subhanahu Wata'alla tidak pernah menciptakan sesuatu tanpa hikmah. Langit yang membentang, pepohonan yang tumbuh, air yang mengalir, hingga tumpukan batu yang tampak diam sekalipun, semuanya menyimpan pelajaran bagi orang-orang yang mau berpikir.

Saat menatap tumpukan batu di alam, saya terpaku sejenak. Batu-batu itu memiliki ukuran yang berbeda. Ada yang besar, sedang, dan kecil. Namun, ketika tersusun secara alami, semuanya tampak serasi. Tidak saling berebut tempat. Tidak saling menjatuhkan. Justru perbedaan itulah yang melahirkan keindahan.

Saya membayangkan, batu-batu itu telah berada di sana bertahun-tahun, bahkan mungkin puluhan atau ratusan tahun. Hujan datang silih berganti, panas matahari menyengat, angin bertiup kencang, tetapi mereka tetap berdiri pada tempatnya. Alam telah mengajarkan keseimbangan yang begitu indah.

Pemandangan itu mengingatkan saya bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dengan ukuran dan ketentuan yang sempurna. Tidak ada yang sia-sia. Batu besar memiliki fungsinya, demikian pula batu kecil. Semua saling melengkapi dalam harmoni ciptaan-Nya.

Keindahan itu dapat berubah dalam waktu singkat ketika tangan manusia mulai ikut campur tanpa rasa tanggung jawab. Batu-batu yang semula tersusun rapi dipindahkan sesuka hati, dipecah, diambil, atau dirusak demi kepentingan sesaat. Alam yang indah perlahan kehilangan pesonanya karena ulah manusia sendiri.

Bukankah Allah telah mengingatkan dalam Al-Qur'an bahwa kerusakan di darat dan di laut terjadi karena perbuatan tangan manusia? Ayat itu menjadi pengingat bahwa manusia diberi amanah sebagai khalifah di bumi, bukan sebagai perusaknya. Menjaga alam berarti menjaga titipan Allah, sedangkan merusaknya berarti mengkhianati amanah yang telah diberikan.

Tumpukan batu itu akhirnya mengajarkan saya sebuah pelajaran yang sangat berharga. Kehidupan akan indah apabila setiap orang mampu menempatkan diri sesuai porsinya. Yang kuat melindungi yang lemah. Yang besar tidak meremehkan yang kecil. Perbedaan bukan alasan untuk saling menjatuhkan, tetapi kesempatan untuk saling menguatkan.

Semoga setiap langkah tadabur kepada alam semakin menambah keimanan kepada Allah.. Semoga mata kita tidak hanya melihat keindahan ciptaan-Nya, tetapi juga mampu menangkap hikmah di balik setiap ciptaan. Semoga kita termasuk hamba-hamba yang menjaga bumi dengan penuh rasa syukur, sehingga alam tetap indah untuk dinikmati oleh generasi yang akan datang. Aamiin.

Cepu, 4 Agustus 2026

Jepang

Karya: Gutamining Saida

Jam pelajaran ke 5-6 saya mengajar IPS di kelas 7C. Matahari siang mulai terasa hangat. Sebagian siswa baru saja selesai beristirahat. Ada yang masih membawa semangat, ada pula yang tampak mulai lelah. Sebelum memulai materi, saya memiliki kebiasaan sederhana, yaitu menyapa siswa satu per satu. Sapaan itu menjadi cara saya membangun kedekatan sekaligus mengetahui keadaan mereka.

Saat memasuki kelas, pandangan saya tertuju kepada seorang siswa yang duduk di pojok depan. Namanya Afif. Minggu sebelumnya ia tidak masuk sekolah karena izin. Sebagai guru, saya merasa perlu menanyakan kabarnya. Bukan untuk menginterogasi, melainkan menunjukkan bahwa kehadirannya berarti dan selalu diperhatikan.

Saya menghampiri bangkunya. "Afif, minggu kemarin ke mana? Kok tidak masuk sekolah?"

Tanpa berpikir lama, Afif menjawab dengan wajah polos.

"Saya habis dari Jepang, Bu Saida."

Saya sejenak terdiam. Dalam hati saya langsung membayangkan Negeri Sakura. Pikiran saya melayang pada bunga sakura yang bermekaran, Gunung Fuji yang megah, hingga kota Tokyo yang modern. Saya bahkan sempat merasa kagum.

"Wah... luar biasa sekali. Jalan-jalannya jauh amat," kata saya spontan.

Kemudian saya bertanya lagi dengan rasa penasaran.

"Oleh-olehnya apa?"

"Oleh-olehnya barongan."

"Lho...kok!"

"Naik apa ke Jepang?"

Belum sempat saya menerka jawabannya, Afif langsung menjawab dengan penuh percaya diri.

"Itu lho, Bu... Jepang itu Jejeree Ketapang."

Seketika seluruh kelas meledak dalam gelak tawa. Anak-anak tertawa lepas. Bahkan saya sendiri ikut tertawa karena baru menyadari bahwa yang dimaksud bukan negara Jepang, melainkan sebuah istilah yang mereka ciptakan sendiri.

Begitulah dunia anak-anak zaman sekarang. Mereka sangat kreatif memainkan kata. Sebuah singkatan sederhana mampu membuat orang dewasa berpikir jauh, sementara mereka menikmati kelucuannya dengan sangat alami.

Saya pun ikut menikmati suasana tersebut. Tawa yang memenuhi ruang kelas membuat suasana belajar menjadi hangat dan penuh kegembiraan. Tidak ada rasa malu ataupun takut. Yang ada hanyalah kebersamaan.

Saya kemudian berkata kepada seluruh siswa, "Nah, ini namanya kreativitas. Tapi kalau Bu Saida tadi benar-benar percaya kamu habis dari Jepang, berarti kamu pintar membuat cerita."

Seluruh siswa kembali tertawa. Peristiwa sederhana itu membuat saya merenung. Ternyata bahasa terus berkembang mengikuti zamannya. Anak-anak memiliki dunia sendiri, lengkap dengan istilah, singkatan, dan cara berkomunikasi yang terkadang belum tentu dipahami oleh orang dewasa.

Sebagai guru, saya menyadari , kita tidak harus selalu menjadi orang yang paling tahu. Ada kalanya justru siswa yang mengenalkan kosakata baru kepada gurunya. Hubungan belajar akhirnya menjadi dua arah. Guru mengajarkan ilmu pengetahuan, sedangkan siswa mengajarkan bagaimana memahami perkembangan bahasa dan budaya generasi mereka.

Saya pun menjelaskan kepada mereka bahwa kreativitas memang baik, tetapi harus digunakan pada tempat yang tepat. Bermain kata boleh saja untuk menciptakan suasana ceria, selama tidak digunakan untuk mengejek, menyakiti teman, ataupun menyebarkan informasi yang tidak benar.

Kelas kembali menjadi tenang. Kami melanjutkan pembelajaran IPS dengan semangat yang berbeda. Tawa tadi mampu mengembalikan energi siswa yang mulai menurun karena belajar di jam siang. Mereka lebih aktif bertanya, lebih berani menjawab, dan lebih antusias mengikuti kegiatan pembelajaran.

Menjadi guru harus siap menerima kejutan setiap hari. Kadang kejutan itu datang dari jawaban siswa, tingkah laku mereka, atau cara mereka memandang dunia yang jauh berbeda dengan orang dewasa.

Afif mungkin tidak menyadari bahwa jawabannya hari itu akan menjadi kenangan yang sulit saya lupakan. Kalimat "Saya habis dari Jepang" ternyata berhasil menghidupkan suasana kelas hanya dalam hitungan detik. Tawa yang tercipta menjadi pengingat bahwa belajar tidak harus selalu serius. Sesekali humor yang santun justru membuat pembelajaran semakin bermakna.

Saya juga belajar untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan. Ketika mendengar kata "Jepang", pikiran saya langsung menuju sebuah negara yang sangat jauh. Dalam dunia anak-anak, maknanya bisa saja berbeda. Inilah pentingnya mendengarkan sampai selesai sebelum memberikan tanggapan.

Setiap generasi memiliki cara berkomunikasi yang unik. Jika guru mau membuka diri, maka ruang kelas akan menjadi tempat yang menyenangkan bagi semua. Siswa merasa dihargai, guru pun mendapatkan pengalaman baru setiap harinya.

Saya keluar kelas dengan membawa satu cerita baru. Bukan cerita tentang perjalanan ke Negeri Sakura, melainkan perjalanan memahami dunia anak-anak yang penuh kreativitas. Mereka mengajarkan bahwa belajar dapat dimulai dari tawa, dilanjutkan dengan rasa ingin tahu, lalu berakhir menjadi pengalaman yang akan selalu dikenang.

Terima kasih, Afif. Berkat "Jepang" versimu, kelas 7C hari itu menjadi lebih hidup. Saya semakin yakin bahwa setiap anak memiliki cara unik untuk menghadirkan warna dalam pembelajaran. Tugas guru adalah menangkap warna-warna itu, merangkainya menjadi semangat belajar, lalu menjadikannya kenangan indah yang akan terus hidup dalam perjalanan pendidikan. Sukses buat kelas 7C.

Cepu, 4 Agustus 2026

Senin, 03 Agustus 2026

Kopi Pagi yang Menghidupkan Semangat

 

Karya: Gutamining Saida

Senin pagi memiliki energi yang berbeda. Bagi sebagian orang, pagi identik dengan secangkir kopi yang menghangatkan tubuh dan membangkitkan semangat memulai aktivitas. Begitu pula yang saya rasakan ketika memasuki jam pelajaran ke-4 sampai ke-5 di kelas 7A. Saya ingin menghadirkan suasana belajar yang tidak biasa. Saya ingin anak-anak merasakan bahwa belajar IPS juga bisa menyenangkan, penuh tantangan, dan membuat mereka bersemangat sejak pagi.

Sebelum memasuki kelas, saya telah menyiapkan sebuah media pembelajaran sederhana. Bentuknya gambar-gambar kopi saset GULA AREN yang saya beri nama KOPAG, singkatan dari Kopi Pagi. Nama itu sengaja dipilih karena mudah diingat, terdengar akrab, dan sesuai dengan waktu pembelajaran yang masih berlangsung di pagi hari. Saya berharap, sebagaimana satu saset kopi mampu membangunkan semangat seseorang, media pembelajaran ini juga mampu membangunkan semangat belajar peserta didik.

Selesai menjelaskan materi, saya langsung menata media tersebut di atas dua meja. Satu meja saya siapkan untuk peserta didik perempuan, sedangkan satu meja lainnya untuk peserta didik laki-laki. Tiga puluh lima gambar kopi saya susun dengan rapi sehingga tampak menarik perhatian. Belum juga tantangan dimulai, mata anak-anak sudah tertuju pada meja di depan kelas.

Rasa penasaran mulai muncul. Beberapa siswa saling berbisik sambil menebak-nebak tujuan dari gambar kopi yang saya bawa. Tidak lama kemudian, salah seorang siswa memberanikan diri bertanya.

"Bu Saida, itu untuk apa?"

"Sabar sebentar ya. Nanti Ibu jelaskan."

Jawaban singkat itu justru membuat rasa ingin tahu mereka semakin besar. Semua mata kini tertuju ke depan kelas. Saya melihat kesempatan yang sangat baik. Ketika rasa penasaran tumbuh, berarti perhatian mereka sudah berhasil saya dapatkan. Inilah modal awal agar pembelajaran berlangsung lebih hidup.

Setelah semua siap, saya mulai menjelaskan aturan permainan.

"Anak-anak, hari ini kita akan melakukan kegiatan KOPAG, yaitu Kopi Pagi. Kalian nanti bergiliran mengambil satu gambar kopi. Di balik gambar tersebut terdapat sebuah tantangan atau soal IPS. Tugas kalian adalah membacanya dengan teliti, kemudian menuliskan soal dan jawabannya di buku masing-masing. Setelah selesai, kalian boleh mengambil lagi gambar berikutnya."

Belum selesai saya menjelaskan, terdengar beberapa siswa berkata pelan.

"Asyik, ya..."

"Wah, seru ini."

Mendengar tanggapan itu, hati saya ikut senang. Saya tahu mereka mulai tertarik mengikuti pembelajaran.

Ketika permainan dimulai, suasana kelas berubah menjadi sangat aktif. Satu per satu peserta didik maju mengambil gambar kopi Gula Aren. Mereka segera membalik gambar tersebut, membaca tantangan yang ada di belakangnya, lalu kembali ke tempat duduk untuk menuliskan soal dan jawaban.

Kelas yang biasanya terasa tenang kini dipenuhi semangat belajar. Tidak ada siswa yang mengobrol tanpa tujuan. Semua sibuk berpikir, membaca, mengingat materi, dan menuliskan jawaban terbaik mereka.

Beberapa menit kemudian, seorang siswa bernama Al mengangkat tangan.

"Bu, saya sudah selesai!"

Saya tersenyum dan menjawab,

"Bagus. Kalau sudah selesai, silakan ambil lagi satu gambar kopi dan kerjakan tantangan berikutnya."

Tanpa menunggu lama, Al segera berlari kecil menuju meja dan mengambil tantangan berikutnya. Melihat temannya kembali mengerjakan soal, siswa lain tidak mau kalah.

"Bu, saya juga sudah selesai."

"Saya juga, Bu."

"Bu, boleh ambil lagi?"

Suara-suara penuh semangat mulai terdengar dari berbagai sudut kelas. Mereka seakan berlomba dengan waktu. Tidak ada yang ingin menjadi peserta terakhir. Semua ingin menyelesaikan tantangan sebanyak mungkin.

Saya hanya berdiri sambil mengamati. Senyum tidak pernah lepas dari wajah saya. Rasanya bahagia melihat peserta didik begitu antusias. Mereka tidak merasa sedang diuji, melainkan sedang bermain sambil belajar.

Yang membuat saya semakin bangga adalah suasana kompetisi yang muncul berlangsung secara sehat. Mereka saling memotivasi, bukan saling menjatuhkan. Ketika ada teman yang lebih dahulu selesai, siswa lain justru semakin terpacu untuk bekerja lebih cepat dan lebih teliti.

Media yang sederhana ternyata mampu mengubah suasana kelas menjadi lebih hidup. Hanya dengan gambar kopi saset yang dipenuhi tantangan, peserta didik terdorong untuk terus belajar tanpa merasa terbebani.

Saya kembali menyadari bahwa dalam pembelajaran, yang paling penting bukanlah mahal atau canggihnya media yang digunakan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana guru mampu menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan, membangkitkan rasa ingin tahu, serta memberi ruang kepada peserta didik untuk aktif.

KOPAG menjadi bukti bahwa kreativitas kecil dapat menghasilkan dampak yang besar. Gambar kopi saset yang sederhana mampu menjadi jembatan agar materi IPS terasa lebih dekat dengan kehidupan peserta didik. Mereka tidak hanya membaca buku atau mendengarkan penjelasan guru, tetapi juga terlibat langsung dalam proses belajar yang penuh tantangan.

Di akhir pembelajaran, saya melihat wajah-wajah yang penuh kepuasan. Mereka tersenyum karena berhasil menyelesaikan berbagai tantangan. Bahkan beberapa siswa masih bertanya apakah minggu depan kegiatan seperti ini akan diadakan lagi.

Pertanyaan itu menjadi hadiah terindah bagi saya sebagai seorang guru. Artinya, pembelajaran hari itu meninggalkan kesan yang menyenangkan. Ketika peserta didik berharap kegiatan serupa kembali dilakukan, berarti mereka telah menemukan belajar IPS ternyata bisa menjadi pengalaman yang mengasyikkan.

Sebagai guru, saya semakin yakin bahwa setiap hari adalah kesempatan untuk berinovasi. Tidak perlu menunggu memiliki fasilitas yang lengkap. Ide sederhana, jika dirancang dengan penuh kasih sayang dan semangat, mampu menghadirkan pembelajaran yang bermakna.

Semoga KOPAG atau Kopi Pagi ini menjadi salah satu inspirasi bahwa satu saset "kopi" tidak selalu harus diminum. Di ruang kelas, kopi saset dapat berubah menjadi media belajar yang membangunkan rasa ingin tahu, menghangatkan suasana, mempererat kebersamaan, dan menyeduh semangat belajar IPS hingga peserta didik terus haus akan ilmu pengetahuan. Karena sesungguhnya, kelas yang hebat bukanlah kelas yang selalu sunyi, melainkan kelas yang dipenuhi rasa ingin tahu, semangat mencoba, kegembiraan belajar, dan senyum yang tumbuh dari pengalaman belajar yang bermakna. Semoga anak didik saya semakin semangat dan sukses. Aamiin.

Cepu, 3 Juli 2026

Kamis, 30 Juli 2026

Sang Motivator Kesehatan

Karya: Gutamining Saida 
Hari Jumat dan Sabtu tidak ada pak Gun.  Sosok yang biasanya berdiri di tepi kolam, memberikan arahan, menyemangati, sekaligus mengoreksi setiap gerakan peserta, kali ini tidak tampak. Pak Gun harus izin tidak hadir karena ada kepentingan keluarga yang tidak dapat ditinggalkan. Sebagai manusia, setiap orang memiliki tanggung jawab kepada keluarga yang harus dipenuhi. Dalam ajaran Islam pun, memenuhi amanah terhadap keluarga adalah bagian dari ibadah.

Meski tidak hadir secara fisik, ternyata hati seorang guru tidak pernah benar-benar meninggalkan murid-muridnya. Jarak bukanlah penghalang untuk tetap menebarkan manfaat. Di tengah kesibukannya, Pak Gun masih menyempatkan diri mengirimkan pesan kepada kami melalui grup. Siang itu notifikasi ponsel berbunyi. Sebuah pesan sederhana, tetapi maknanya luar biasa.

"Menjaga kesehatan jantung, menguatkan otot-otot, meningkatkan kebugaran, meningkatkan kesehatan mental"
"Solusinya ke kolam".
"Sehat tidak mesti pakai obat."

Rasanya seperti pengingat bahwa kesehatan adalah nikmat Allah Subhanahu Wata'alla yang harus dijaga. Sering kali manusia baru menyadari berharganya sehat ketika tubuh mulai melemah. Padahal Rasulullah, telah mengingatkan bahwa ada dua nikmat yang sering dilalaikan manusia, yaitu kesehatan dan waktu luang. Betapa benarnya sabda tersebut. Ketika tubuh sehat, kita mampu beribadah dengan khusyuk, bekerja dengan semangat, berkumpul bersama keluarga, bahkan tersenyum pun terasa ringan.

Tidak lama kemudian, Pak Gun kembali mengirim sebuah video. Saya membukanya dengan rasa penasaran. Saya mengira video itu berisi latihan terapi atau gerakan renang yang biasa beliau contohkan. Namun, ternyata dugaan saya keliru. Betapa terkejutnya saya ketika melihat sosok yang ada di dalam video itu. Wajah yang sangat saya kenal. Gerakannya pun tidak asing lagi. Ternyata video tersebut adalah rekaman saat ibu saya mengikuti terapi di kolam.

Seketika hati saya dipenuhi rasa haru. Di antara sekian banyak peserta yang pernah mengikuti terapi, ternyata beliau memilih membagikan video ibu saya. Saat ini, ibu saya menjadi peserta yang paling sepuh di kelompok terapi. Usia memang telah lanjut, tetapi semangat beliau untuk berikhtiar menjaga kesehatan tidak pernah surut.

Saya percaya, usia bukanlah penghalang untuk terus berusaha. Selama Allah masih memberikan kesempatan bernapas, selama itu pula manusia diperintahkan untuk berikhtiar. Hasil akhirnya kita serahkan kepada Allah sebagai Dzat Yang Maha Menyembuhkan.

Melihat video itu, saya langsung menuliskan komentar singkat.
"Lama tidak ke kolam."
Beberapa saat kemudian, Pak Gun membalas komentar saya.
"Kenal, Bu?"
Saya tersenyum membaca pertanyaan itu. Rasanya lucu sekaligus menghangatkan hati. Dengan spontan saya menjawab,
"Tidak hanya kenal, Pak?! Kenal banget... hhhh."
Jawaban sederhana itu mengandung banyak cerita. Sosok dalam video itu bukan orang lain. Beliau adalah ibu saya sendiri, yang selama ini berjuang menjaga kesehatan dengan penuh kesabaran. Percakapan singkat tersebut justru membawa pikiran saya melayang pada kebiasaan yang selalu saya lakukan setiap mengajar di sekolah.

Setiap memasuki ruang kelas, pandangan saya tidak hanya tertuju pada papan tulis atau materi pelajaran. Saya selalu memperhatikan bangku-bangku siswa. Jika ada satu bangku kosong, hampir pasti saya akan bertanya.
"Siapa yang tidak masuk hari ini?"
"Ke mana dia?"
"Sakit atau ada keperluan?"
Pertanyaan itu bukan sekadar formalitas. Saya ingin memastikan bahwa setiap siswa merasa kehadirannya berarti. Ketidakhadiran satu orang saja akan saya sadari. Sebab, seorang guru bukan hanya mengajar materi mata pelajaran, tetapi juga menjaga hati peserta didiknya.

Saya merasakan hal yang sama dari Pak Gun. Walaupun beliau tidak berada di kolam, pikirannya tetap tertuju kepada murid-muridnya. Beliau tetap memberikan motivasi, tetap menyemangati, bahkan masih mengingat peserta-peserta yang pernah belajar bersama beliau.

Saya semakin memahami bahwa seorang pendidik sejati tidak pernah berhenti mendidik. Ketika berada di kelas, ia mengajar dengan ilmu. Ketika berada di luar kelas, ia tetap mengajar melalui perhatian, teladan, dan kepedulian. Begitu pula seorang pelatih. Bukan hanya mengajarkan teknik berenang, tetapi juga menanamkan semangat hidup sehat sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wata'alla.

Allah Subhanahu Wata'alla  sering menghadirkan pelajaran melalui cara yang tidak kita duga. Sebuah notifikasi di ponsel dapat menjadi pengingat tentang kasih sayang seorang guru. Sebuah video sederhana mampu mengingatkan kita kepada orang tua yang harus selalu kita hormati dan doakan. Sebuah komentar ringan dapat menghadirkan senyum yang menghangatkan hati.

Saya juga semakin yakin bahwa sehat bukan sekadar urusan fisik. Sehat adalah perpaduan antara ikhtiar, doa, kesabaran, dan tawakal. Berolahraga, menjaga pola makan, beristirahat dengan cukup, serta mengikuti terapi adalah bagian dari usaha manusia. Sementara kesembuhan tetap berada dalam kuasa Allah
.
Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan kepada Pak Gun beserta keluarganya, karena telah menjadi jalan kebaikan bagi banyak orang. Semoga Allah juga memberikan kesehatan dan umur yang penuh keberkahan kepada ibu saya, yang hingga usia senja masih memiliki semangat untuk berikhtiar. Semoga kami semua termasuk hamba-hamba yang pandai mensyukuri nikmat sehat sebelum datang masa ketika tenaga mulai melemah.

Saya percaya, perhatian yang tulus adalah sedekah yang tidak pernah habis pahalanya. Guru yang mengingat muridnya, pelatih yang memikirkan pesertanya, anak yang memperhatikan orang tuanya, semuanya adalah bentuk kasih sayang yang dicintai Allah Subhanahu Wata'alla. Dari perhatian itulah tumbuh kepedulian. Dari kepedulian lahir doa. Dari doa, semoga Allah membukakan pintu kesehatan, keberkahan, serta kebahagiaan bagi kita semua. Aamiin.

Semoga cerita sederhana ini mengingatkan kita bahwa setiap pertemuan adalah takdir Allah Subhanahu Wata'alla, setiap perhatian adalah bentuk kasih sayang, dan setiap ikhtiar menjaga kesehatan adalah wujud syukur atas nikmat kehidupan yang telah Dia titipkan.

Cepu, 31 Juli 2026

Rabu, 29 Juli 2026

Es Krim Mengubah Cara Pandang



Karya : Gutamining Saida 
Menjadi seorang guru harus terus belajar, berinovasi, dan selalu mencari jalan agar ilmu yang diajarkan mampu diterima dengan hati yang gembira. Sebagai guru IPS, rasanya tidak berlebihan jika mengatakan bila seorang guru harus memiliki "seribu cara" untuk menghidupkan pembelajaran. Bukan karena mata pelajaran IPS sulit dipahami, tetapi karena masih banyak siswa yang sejak awal sudah memiliki anggapan bahwa IPS adalah pelajaran yang membosankan.

Kalimat-kalimat seperti, "IPS banyak hafalan," atau "IPS tidak sekeren Matematika dan IPA," sering kali terdengar dari mulut siswa. Ada pula yang menganggap IPS kurang penting dibanding mata pelajaran lainnya. Anggapan seperti inilah yang menjadi tantangan terbesar. Tantangan itu tidak boleh dijawab dengan keluhan, melainkan dengan kreativitas.

Setiap hari saya berusaha mencari cara yang sederhana, mudah diterapkan, tidak menyulitkan guru, tetapi mampu membuat siswa penasaran dan bersemangat. Saya percaya, ketika hati siswa sudah tertarik, maka proses belajar akan berjalan jauh lebih mudah. Guru tidak perlu banyak memaksa karena rasa ingin tahu akan bekerja dengan sendirinya.

Ketika saya memasuki kelas 8D pada jam 5-6 dengan membawa sesuatu yang sederhana. Bukan laptop canggih, bukan alat peraga mahal, melainkan gambar es krim berwarna-warni sebanyak 36 biji. Ada yang berwarna merah muda, cokelat, dan biru. Sekilas memang hanya potongan gambar biasa, tetapi tampilannya cukup menarik perhatian.

Mengapa memilih es krim? Jawabannya sederhana. Hampir semua anak menyukai es krim. Setiap jam istirahat, koperasi sekolah selalu ramai oleh siswa yang membeli berbagai jenis es krim. Mereka mengenal bentuknya, menyukai rasanya, bahkan sering menjadikannya sebagai teman saat cuaca panas. Dari kebiasaan sederhana itulah saya mencoba mengambil inspirasi.

Ketika gambar-gambar es krim itu saya keluarkan, beberapa siswa langsung berkomentar.
"Wah, bu Saida hari ini kita belajar pakai es krim?"
"Rasanya apa, bu Saida ?"
"Coba saja nanti."
"Boleh minta bu?"
"Sangat boleh."
"Boleh ambil dua bu Saida?
Rasa penasaran mulai tumbuh. Itulah tujuan pertama yang ingin saya capai. Sebelum materi disampaikan, perhatian mereka sudah berhasil saya dapatkan.

Ternyata gambar es krim itu bukan sekadar hiasan. Di balik setiap gambar terdapat tantangan yang harus mereka selesaikan. Ada pertanyaan,  yang harus diselesaikan. Siapa yang berani mengambil es krim, berarti siap menerima tantangannya.

Suasana kelas pun berubah. Biasanya ada beberapa siswa yang hanya duduk diam sambil menunggu teman lain menjawab. Kali ini berbeda. Hampir semua tangan ingin terangkat. Mereka saling menyemangati, saling berebut, bahkan ada yang ingin mencoba lebih dulu.

Setiap tantangan yang berhasil diselesaikan menghadirkan motivasi untuk teman-temannya. Tidak ada ejekan ketika ada teman yang kurang cepat. Teman-teman lain membantu mengambilkan. Kelas yang biasanya dipenuhi suara guru menjelaskan kini berubah menjadi ruang belajar yang penuh percakapan, dan semangat.

Saya hanya berperan sebagai fasilitator. Sesekali memberikan arahan, meluruskan jawaban, dan memberikan penguatan. Selebihnya, siswa sendirilah yang membangun proses belajarnya.Yang  membuat saya bahagia bukanlah karena semua soal berhasil dijawab dengan benar. Kebahagiaan itu muncul ketika melihat siswa yang biasanya kurang percaya diri mulai memberanikan diri maju ke depan kelas. Siswa yang biasanya hanya menunduk kini mengangkat tangan. Ada pula yang selama ini kurang tertarik pada IPS ternyata tersenyum bangga ketika mampu menyelesaikan tantangan.

Momen-momen seperti itu mengingatkan saya bahwa setiap anak sebenarnya memiliki potensi. Terkadang yang mereka butuhkan bukanlah tambahan penjelasan yang panjang, melainkan cara belajar yang membuat mereka merasa senang dan dihargai.Saya semakin yakin bahwa pembelajaran yang menyenangkan bukan berarti mengurangi kualitas materi. Justru ketika suasana hati siswa nyaman, mereka lebih mudah memahami konsep-konsep yang dipelajari. Belajar bukan lagi menjadi beban, tetapi menjadi pengalaman yang ingin diulang.

Media es krim hanyalah sebuah alat. Yang paling penting adalah bagaimana media itu mampu membangkitkan rasa ingin tahu, keberanian, kerja sama, dan semangat belajar. Kreativitas guru tidak selalu harus mahal. Benda yang sangat dekat dengan kehidupan siswa, lahirlah pembelajaran yang bermakna.

Di akhir pelajaran saya melihat wajah-wajah yang masih antusias. Beberapa siswa bahkan bertanya, "Bu Saida, besok pakai media apa lagi?" Pertanyaan sederhana itu menjadi hadiah yang sangat berharga. Artinya, mereka mulai menunggu pelajaran IPS, bukan lagi menghindarinya.

Saya menyadari keberhasilan pembelajaran tidak hanya diukur dari nilai ulangan. Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika siswa mulai menyukai proses belajarnya. Ketika mereka datang ke kelas dengan rasa penasaran, pulang membawa pengalaman baru, dan percaya bahwa mereka mampu belajar.

Saya kembali belajar dari siswa-siswa kelas 8D. Sebuah gambar es krim ternyata mampu mencairkan anggapan bahwa IPS adalah pelajaran yang membosankan. Es krim memang tidak bisa mengubah seluruh dunia pendidikan dalam sekejap, tetapi mampu mengubah suasana satu kelas, mengubah semangat beberapa anak, dan mungkin mengubah cara pandang mereka terhadap IPS.

Saya percaya, setiap guru memiliki "seribu cara" untuk menyalakan semangat belajar. Tidak harus sama, tidak harus rumit, dan tidak harus mahal. Yang terpenting adalah ketulusan untuk terus mencoba, keberanian untuk berinovasi, dan keyakinan setiap anak berhak merasakan pembelajaran yang menyenangkan.

Pelajaran yang paling berkesan bukanlah yang paling sulit, melainkan pelajaran yang disampaikan dengan hati. Ketika hati guru bertemu dengan semangat siswa, di situlah lahir pembelajaran yang benar-benar menginspirasi.
Cepu, 29 Juli 2026 

Kreativitas Panitia Hajatan


Karya: Gutamining Saida

Setiap menghadiri sebuah hajatan, saya selalu berusaha melihat sesuatu yang berbeda. Bagi sebagian orang, menghadiri undangan khitanan mungkin hanya sebatas memenuhi undangan, bersalaman dengan tuan rumah, memberikan doa, menikmati hidangan, lalu pulang. Saya memiliki kebiasaan lain. Saya senang mengamati hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian banyak orang. Dari pengamatan sederhana itulah sering lahir sebuah cerita yang layak dibagikan kepada pembaca.

Kemarin saya menghadiri undangan khitanan di rumah salah seorang saudara. Suasana halaman rumah sudah ramai sejak saya datang. Para tamu silih berganti berdatangan. Ada yang datang bersama pasangan, ada pula yang datang bersama anggota keluarganya. Perhatian saya justru tertuju pada sesuatu yang tidak biasa di depan pintu masuk.

Di dekat penerima tamu berjajar beberapa alat dorong bangunan atau gerobak sorong. Biasanya alat itu digunakan para pekerja bangunan untuk mengangkut pasir, batu, semen, atau bata. Melihat gerobak sorong berada di depan rumah yang sedang mengadakan hajatan tentu membuat saya penasaran. Dalam hati saya bertanya-tanya, "Untuk apa gerobak ini disiapkan di serambi depan?"

Saya memilih mengamati daripada langsung bertanya. Tidak lama kemudian, rasa penasaran itu mulai terjawab. Satu per satu tamu berdatangan membawa berbagai macam bawaan. Pemandangan yang saya lihat berbeda dengan beberapa tahun lalu. Sebagian besar tamu datang membawa bahan kebutuhan pokok. Ada yang membawa kantong berisi beras sepuluh kilogram, ada yang membawa tas belanja berisi gula pasir, mi instan, minyak goreng, teh, atau kebutuhan dapur lainnya. Sebagian tamu bahkan membawa beberapa jenis sembako sekaligus. Hanya sebagian kecil saja yang datang dengan membawa amplop.

Bawaan para tamu ternyata cukup berat. Apalagi banyak tamu perempuan yang membawa tas belanja penuh isi. Melihat kondisi itu, para penerima tamu langsung sigap membantu. Begitu tamu menyerahkan bingkisan, mereka segera meletakkannya di atas gerobak sorong yang sudah disiapkan sejak awal. Tidak perlu mengangkat satu per satu menuju ruang penyimpanan di dalam rumah. Setelah gerobak terisi penuh, salah seorang panitia langsung mendorongnya masuk ke dalam rumah. Semua barang ditata rapi di tempat yang telah disediakan. Setelah selesai, gerobak sorong kembali lagi ke halaman depan untuk menerima kiriman sembako dari tamu berikutnya.

Proses itu berlangsung berulang-ulang selama tamu terus berdatangan. Gerobak sorong keluar masuk melewati para tamu yang duduk-duduk menjadi bagian penting dari jalannya acara. Tidak ada yang merasa aneh. Semua berjalan begitu alami. Para penerima tamu tampak lebih ringan pekerjaannya karena tidak harus berkali-kali mengangkat karung beras atau tas belanja yang berat menggunakan tangan.

Saya melihat sendiri bagaimana sebuah alat sederhana mampu membuat pekerjaan menjadi jauh lebih efisien. Biasanya dua orang harus membawa karung beras ke dalam rumah. Kini cukup ditata di atas gerobak sorong, lalu didorong menuju tempat penyimpanan. Tenaga lebih hemat, waktu lebih singkat, dan pekerjaan terasa lebih ringan.

Fenomena ini menurut saya menarik untuk didokumentasikan. Saya pun mengabadikannya melalui beberapa foto. Bukan sekadar memotret gerobak sorong, tetapi ingin menyimpan sebuah cerita tentang perubahan budaya masyarakat. Perubahan kecil yang mungkin belum banyak disadari orang.

Kini, tradisi memberikan hadiah saat menghadiri hajatan tampaknya mulai mengalami penyesuaian. Di kampung, masyarakat memilih memberikan sembako daripada sekadar uang dalam amplop. Beras, gula, minyak goreng, mi instan, dan berbagai kebutuhan pokok dianggap lebih bermanfaat bagi keluarga yang sedang mempunyai hajatan. Di tengah harga kebutuhan sehari-hari yang terus berubah, bantuan dalam bentuk bahan makanan menjadi bentuk kepedulian yang terasa manfaatnya.

Saya merasa inilah bentuk inovasi yang lahir dari pengalaman. Tidak perlu membeli peralatan baru yang mahal. Cukup memanfaatkan alat yang sudah ada di rumah atau meminjam dari tetangga, pekerjaan menjadi jauh lebih mudah. Solusi sederhana, tetapi manfaatnya besar.

Lebih dari itu, saya melihat adanya semangat gotong royong yang tetap hidup di tengah masyarakat. Para penerima tamu bekerja tanpa mengeluh. Mereka saling bergantian mendorong gerobak, mengangkat barang, dan menata sembako di dalam rumah. Semua dilakukan dengan wajah ramah dan penuh semangat. Para tamu pun merasa dihargai karena barang bawaan mereka langsung dibantu sejak turun dari kendaraan.

Peristiwa sederhana ini mengajarkan bahwa pelayanan yang baik sering kali lahir dari kepedulian terhadap hal-hal kecil. Mereka tidak membiarkan tamu atau penerima tamu bekerja lebih keras dari yang diperlukan. Sebaliknya, mereka mencari cara agar semua menjadi lebih mudah. Itulah makna pelayanan yang sesungguhnya. Inspirasi sering kali tidak datang dari peristiwa besar, melainkan dari kebiasaan sehari-hari yang dilakukan dengan penuh kreativitas.

Gerobak sorong menjadi simbol perubahan zaman, kreativitas masyarakat, dan semangat gotong royong yang tetap terjaga. Sebuah alat sederhana, saya belajar setiap persoalan selalu memiliki solusi. Yang diperlukan hanyalah kepekaan untuk melihat kebutuhan dan kemauan untuk berinovasi.

Semoga fenomena kecil yang saya saksikan ini dapat menjadi inspirasi bagi keluarga lain yang akan menyelenggarakan hajatan. Siapa sangka, gerobak sorong yang biasa mengangkut pasir dan batu kini justru menjadi "pahlawan" yang membantu mengangkut beras, gula, minyak goreng, dan berbagai sembako. 

Cepu, 29 Juli 2026

Selasa, 28 Juli 2026

Es Krim


Karya: Gutamining saida

Saya di kelas 8C membawa media es krim. Bukan es krim sungguhan, melainkan tiga gambar es krim berwarna biru, merah muda (pink), dan cokelat. Melihat gambar-gambar itu saja rasanya sudah mampu membangkitkan imajinasi. Siapa yang tidak membayangkan segarnya menikmati es krim di tengah hangatnya pagi menjelang siang? Warna-warna cerahnya langsung menarik perhatian seluruh siswa.
Mereka penasaran.

"Bu Saida , itu buat apa?" tanya salah seorang siswa.
"Nanti kalian akan tahu. Yang jelas, hari ini kita belajar dengan cara yang berbeda."jawab saya
Seketika suasana kelas berubah. Rasa ingin tahu mulai tumbuh. Semua mata tertuju pada gambar-gambar es krim yang saya tata di atas meja. Ternyata, daya tarik sebuah media sederhana mampu membangkitkan semangat belajar.

Di balik setiap gambar es krim ternyata tersimpan sebuah tantangan. Ada soal yang harus dijawab, ada diskusi yang harus diselesaikan, ada materi IPS yang harus dipahami bersama. Bukan sekadar permainan, tetapi sebuah cara agar mereka belajar tanpa merasa sedang dipaksa belajar.

Satu per satu siswa mengambil gambar es krim pilihannya. Begitu tantangan dibuka, suasana kelas langsung berubah menjadi ruang belajar yang penuh aktivitas. Tidak ada lagi wajah mengantuk. Tidak ada lagi siswa yang hanya diam. 

Saya berjalan mengelilingi kelas, memperhatikan setiap siswa. Mereka tampak serius, tetapi tetap menikmati prosesnya. Mereka membuka buku, ada yang mengingat materi minggu sebelumnya, ada yang membantu temannya memahami konsep yang belum dipahami.

Pemandangan seperti inilah yang menjadi kebahagiaan seorang guru. Seorang guru tentu tidak hanya berharap siswanya mampu menjawab soal dengan benar. Lebih dari itu, guru ingin melihat siswanya tumbuh menjadi pembelajar yang aktif, berani bertanya, mau bekerja sama, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan.

Media es krim yang sederhana mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Anak-anak tidak merasa sedang diuji. Mereka merasa sedang bermain sambil belajar. Tanpa disadari, materi yang sebelumnya telah dipelajari kembali mereka ingat. Konsep-konsep IPS yang sempat terlupakan muncul kembali. 

Saya semakin yakin pembelajaran tidak selalu harus menggunakan alat yang mahal atau teknologi yang canggih. Kreativitas guru jauh lebih penting daripada kemewahan media. Kertas sederhana yang bergambar es krim pun dapat menjadi jembatan menuju pembelajaran yang bermakna apabila dirancang dengan tujuan yang jelas.

Hal yang paling membanggakan bukanlah ketika semua siswa memperoleh nilai tinggi, melainkan ketika mereka menunjukkan antusiasme untuk belajar. Semangat itu terlihat dari sorot mata mereka, kesungguhan mereka mengerjakan, serta keberanian mereka mengemukakan pendapat.

Kelas 8C benar-benar memberikan energi positif bagi saya. Mereka membuktikan siswa akan memberikan respons terbaik ketika guru juga memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan. Sebagai guru, saya percaya bahwa setiap kelas memiliki potensi luar biasa. Tugas guru menemukan kunci yang tepat untuk membuka potensi tersebut. Ada kalanya kunci itu berupa cerita, permainan, gambar, video, atau bahkan selembar kertas bergambar es krim.

Saya belajar kebahagiaan idak selalu datang dari sesuatu yang besar. Justru hal-hal kecil yang disiapkan dengan sepenuh hati sering kali meninggalkan kesan paling mendalam. Barangkali beberapa tahun mendatang mereka tidak lagi mengingat semua isi materi IPS yang diajarkan. Saya berharap mereka tetap mengingat bahwa belajar bisa terasa menyenangkan, penuh tawa, dan membuat mereka percaya diri.

Pengalaman di kelas 8C kembali mengingatkan saya bahwa pendidikan bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran. Pendidikan adalah seni menghadirkan semangat, menumbuhkan rasa ingin tahu, dan membangun keyakinan bahwa setiap anak mampu berkembang apabila diberi kesempatan. Semoga kesuksesan berpihak pada siswa-siswi kelas 8C Esmega.
Cepu, 29 Juli 2026

Kebahagiaan seorang guru memang sederhana. Melihat siswa tersenyum saat belajar, bersemangat menyelesaikan tantangan, saling membantu, dan akhirnya memahami materi yang sebelumnya belum mereka kuasai merupakan hadiah yang tidak dapat dinilai dengan apa pun.

Es krim yang saya bawa memang hanya terbuat dari kertas. Tidak bisa dimakan dan tidak benar-benar memberikan rasa dingin di lidah. Es krim sederhana itu telah menghadirkan kesejukan dalam suasana belajar. Ia mencairkan kejenuhan, menghidupkan semangat, dan mempererat kebersamaan di dalam kelas.

Semoga pengalaman sederhana ini menjadi pengingat bagi kita semua, khususnya para pendidik, pembelajaran yang kreatif akan selalu menemukan jalan menuju hati peserta didik. Ketika hati mereka sudah tersentuh, ilmu akan lebih mudah diterima. Ketika belajar menjadi pengalaman yang menyenangkan, maka semangat untuk terus mencari ilmu akan tumbuh sepanjang hayat.
Cepu, 29 Juli 2026 

Lepaskan Atribut

                         


Karya : Gutamining Saida 
Setiap orang memiliki alasan berbeda ketika melangkahkan kaki menuju kolam renang. Ada yang ingin belajar berenang, mengejar prestasi, sekadar mengisi waktu luang. Bagi kami yang berkumpul di kolam terapi, hanya ada satu tujuan utama yang selalu menjadi lebih sehat.

Tujuan itu terdengar sederhana, sesungguhnya menyimpan perjuangan yang panjang. Tidak semua yang datang ke kolam berada dalam kondisi tubuh yang prima. Sebagian datang membawa cerita yang tidak ringan. Ada yang pernah menjalani operasi besar sehingga tubuhnya masih membutuhkan waktu untuk pulih. Memiliki riwayat penyakit jantung sehingga harus berhati-hati dalam setiap gerakan. Sering merasakan dada berdebar tanpa sebab yang jelas. Ada pula yang mudah lelah, mengalami nyeri tulang, sakit pinggang, sesak napas, hingga berbagai keluhan kesehatan lain yang mungkin tidak tampak dari luar.

Semua itu menjadi bekal yang mereka bawa menuju kolam. Menariknya, sesampainya di tepi kolam, satu per satu mereka mulai melepaskan atribut yang selama ini melekat. Jaket dilepas, sepatu ditinggalkan, telepon genggam disimpan, bahkan jabatan dan status sosial seolah ikut tertinggal di ruang ganti. Di dalam air, tidak ada lagi perbedaan antara guru, pengusaha, pensiunan, pegawai, petani, atau ibu rumah tangga.

Air tidak pernah bertanya siapa kita. Air hanya menerima setiap orang yang datang dengan harapan untuk sembuh, lebih kuat, dan lebih bahagia. Begitu tubuh mulai mencebur ke dalam kolam, suasana berubah. Wajah-wajah yang semula tampak lelah perlahan berganti dengan senyum. Tubuh yang sebelumnya terasa berat mulai bergerak lebih ringan karena daya apung air membantu mengurangi beban persendian. Gerakan demi gerakan dilakukan dengan penuh kesadaran. Tidak ada yang memaksa. Tidak ada perlombaan siapa yang paling cepat. Yang ada hanyalah saling menyemangati agar setiap orang mampu bergerak sesuai kemampuannya.

Di sinilah keajaiban kecil itu terjadi. Kolam bukan sekadar tempat berolahraga. Ia menjadi ruang penyembuhan yang menghadirkan harapan baru. Tawa mulai terdengar di berbagai sudut. Ada yang bercanda ketika ada yang salah melakukan gerakan. Ada yang tertawa karena cipratan air mengenai temannya. Ada pula yang saling memberi semangat ketika melihat kemajuan sekecil apa pun. Ternyata, tawa juga merupakan obat.

Saat seseorang tertawa lepas, seakan beban pikiran ikut hanyut bersama riak-riak air. Kekhawatiran tentang hasil pemeriksaan kesehatan, rasa cemas terhadap penyakit, bahkan tekanan pekerjaan untuk sementara terlupakan. Yang tersisa hanyalah rasa syukur karena masih diberi kesempatan bergerak dan menikmati hidup.

Kebersamaan yang terjalin di kolam memiliki nilai yang sulit diukur dengan materi. Tidak ada transaksi jual beli persahabatan. Tidak ada persaingan yang membuat orang saling menjatuhkan. Justru yang tumbuh adalah kepedulian.

Ketika ada anggota yang tidak hadir beberapa kali, teman-teman mulai bertanya kabarnya. Saat ada yang baru sembuh dari sakit, semua memberikan dukungan. Ketika seseorang berhasil melakukan gerakan yang sebelumnya terasa mustahil, tepuk tangan spontan menjadi hadiah yang menghangatkan hati.

Hubungan seperti inilah yang membuat seseorang rindu kembali ke kolam. Banyak penelitian menunjukkan bahwa kesehatan tidak hanya dipengaruhi oleh makanan bergizi atau olahraga rutin. Hubungan sosial yang baik, hati yang gembira, dan pikiran yang tenang juga memiliki peran besar dalam menjaga kualitas hidup. Tanpa disadari, semua unsur itu hadir di dalam kolam.

Air menjadi media terapi bagi tubuh. Tawa menjadi terapi bagi jiwa. Persahabatan menjadi terapi bagi hati. Ketiganya berpadu menjadi kekuatan yang luar biasa. Setiap kali latihan selesai, wajah-wajah yang keluar dari kolam tampak berbeda dibandingkan saat datang. Mungkin penyakit belum sepenuhnya hilang. Mungkin rasa nyeri masih sesekali muncul. Semangat mereka bertambah. Harapan kembali menyala. Beban terasa lebih ringan.

Itulah sebabnya banyak peserta yang berkata bahwa mereka datang bukan hanya untuk berenang, tetapi untuk "mengisi ulang energi kehidupan." Di kolam, kami belajar menerima diri sendiri. Tidak perlu malu karena gerakan masih lambat. Tidak perlu minder karena usia sudah tidak muda lagi. Tidak perlu iri melihat orang lain lebih kuat. Setiap orang sedang menjalani perjalanan kesehatan masing-masing.

Yang terpenting adalah terus bergerak. Setiap kayuhan tangan merupakan bentuk ikhtiar. Setiap gerakan kaki adalah langkah menuju kesehatan. Setiap tarikan napas menjadi pengingat bahwa hidup masih layak disyukuri. Kolam mengajarkan bahwa kesembuhan sering kali tidak datang secara instan. Ia hadir sedikit demi sedikit, melalui latihan yang konsisten, kebersamaan yang tulus, serta keyakinan bahwa Allah Subhanahu Wata'alla selalu memberikan jalan bagi hamba-Nya yang terus berusaha.

Tujuan kami hanya satu. Datang dengan membawa berbagai keluhan, lalu pulang dengan tubuh yang lebih bugar, hati yang lebih bahagia, serta persahabatan yang semakin erat. Sebab, di dalam kolam, semua melebur menjadi satu keluarga yang saling menguatkan. Di sanalah kami menemukan makna sederhana serta mendalam.  Sehat bukan hanya tentang tubuh yang kuat, tetapi juga tentang hati yang dipenuhi syukur, kebersamaan, dan kebahagiaan. Salam sehat.
Cepu, 28 Juli 2026 

Senin, 27 Juli 2026

Rezeki Saya Di Urutan 40

 

Karya : Gutamining Saida

"Sesungguhnya manusia hanya mampu merencanakan, berusaha, dan berdoa. Namun, Allah-lah yang menentukan hasil terbaik."

Kalimat itu terus terngiang di benak saya ketika malam ini membaca pengumuman 90 tulisan terbaik dalam Sayembara Menulis yang diselenggarakan oleh PPITCONNECT. Mata saya berkali-kali menelusuri daftar nama yang terpampang di layar gawai. Jantung berdegup lebih cepat daripada biasanya. Ada rasa penasaran, harapan, sekaligus pasrah kepada Allah Subhanahu Wata'alla
.
Beberapa detik kemudian, mata saya berhenti pada satu nama yang terasa begitu akrab. Nama saya. Berada di urutan ke-40. Tanpa sadar bibir ini mengucapkan, "Alhamdulillah." Ucapan itu keluar begitu saja sebagai ungkapan syukur kepada Allah Subhanahu wata'alla saya tidak melihat angka 40 sebagai sebuah kekurangan. Sebaliknya, saya melihatnya sebagai bukti bahwa Allah masih memberikan kesempatan kepada saya untuk terus belajar, terus berkarya, dan terus memperbaiki diri.

Perjalanan ini sebenarnya dimulai beberapa bulan yaitu bulan Mei 2026, saya mencoba mengikuti Sayembara Menulis yang diadakan oleh PPITCONNECT. Tema yang diangkat sangat menarik, yaitu 76 Tahun Persahabatan Indonesia-Tiongkok. Tema tersebut memberikan ruang bagi para penulis untuk menuangkan gagasan, pengalaman, maupun pandangan tentang hubungan persahabatan kedua negara yang telah terjalin selama puluhan tahun.

Awalnya saya hanya ingin ikut belajar. Saya menyadari bahwa kemampuan menulis saya masih terus berkembang. Masih banyak penulis hebat di luar sana yang memiliki pengalaman, wawasan, dan kemampuan merangkai kata jauh lebih baik daripada saya.

Saya juga percaya bahwa setiap kesempatan adalah ruang untuk bertumbuh. Karena itulah saya menyiapkan tulisan dengan sungguh-sungguh. Saya membaca berbagai referensi, menyusun kerangka tulisan, memilih diksi yang tepat, lalu mengeditnya berulang kali. Saya ingin mengirimkan karya terbaik yang mampu saya hasilkan.

Setelah naskah dikirimkan, saya hanya bisa berdoa. Saya yakin tugas manusia hanyalah berusaha semaksimal mungkin. Soal hasil, biarlah Allah Subhanahu Wata'alla yang menentukan. Tidak lama kemudian panitia mengumumkan bahwa jumlah karya yang masuk mencapai 727 tulisan dari berbagai daerah di seluruh Nusantara.

Angka tersebut membuat saya semakin menyadari bahwa persaingan sangat ketat. Di balik 727 karya itu ada ratusan penulis dengan latar belakang yang berbeda. Ada guru, mahasiswa, dosen, penulis profesional, jurnalis, hingga masyarakat umum yang memiliki kemampuan luar biasa.

Saya tidak berani berharap terlalu tinggi. Saya hanya berharap tulisan saya dapat memberikan manfaat dan layak diapresiasi. Memasuki bulan Juli 2026, panitia mulai mengumumkan hasil seleksi secara bertahap. Pengumuman pertama adalah para pemenang utama. Hadiah yang disiapkan benar-benar mengagumkan. 

Juara pertama memperoleh tiket pesawat pulang-pergi Jakarta–Beijing, uang saku, transportasi selama lima hari, kesempatan menghadiri Upacara Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-76 di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Beijing, e-sertifikat, cinderamata, serta buku antologi. Juara kedua memperoleh uang saku, sertifikat, cinderamata, dan buku antologi. Juara ketiga juga memperoleh uang saku, sertifikat, cinderamata, serta buku antologi.

Selain itu masih ada kategori juara favorit, penerbitan buku antologi, dan pemilihan 90 tulisan terbaik. Melihat hadiah tersebut tentu saya ikut membayangkan betapa indahnya jika suatu saat dapat berkunjung ke Beijing sambil membawa nama Indonesia. Saya segera mengingatkan diri sendiri bahwa tujuan utama saya mengikuti sayembara ini bukanlah mengejar hadiah, melainkan memperkaya pengalaman dan mengasah kemampuan menulis.

Malam ini tibalah saat yang paling saya tunggu. Pengumuman 90 tulisan terbaik.Saya membuka daftar nama itu dengan hati berdebar. Satu demi satu saya baca. Semakin ke bawah, rasa penasaran semakin besar. Lalu...Saya menemukan nama saya. Berada di urutan ke-40. Bagi sebagian orang, mungkin angka itu biasa saja. Tidak berdiri di podium juara. Tidak mendapatkan hadiah utama. Tidak menjadi pusat perhatian.

Bagi saya, angka itu adalah nikmat yang luar biasa. Saya meyakini bahwa posisi tersebut bukan semata-mata hasil kemampuan saya. Ada campur tangan Allah Subhanahu Wata'lla yang begitu besar. Allah yang memberikan kesehatan sehingga saya dapat menyelesaikan tulisan. Allah yang memberikan waktu di tengah berbagai kesibukan. Allah yang memberikan ide ketika saya mulai kebingungan. Allah pula yang menggerakkan hati dewan juri sehingga karya saya dinilai layak masuk dalam 90 tulisan terbaik. Tanpa pertolongan-Nya, mungkin nama saya tidak akan pernah tercantum di sana.

Pengalaman ini mengajarkan kepada saya bahwa setiap keberhasilan selalu melibatkan dua hal yang tidak dapat dipisahkan, yaitu ikhtiar manusia dan pertolongan Allah. Kita diwajibkan bekerja keras, kita juga harus menyadari bahwa hasil akhirnya berada dalam genggaman-Nya.

Karena itu saya tidak ingin berhenti hanya sampai di sini. Urutan ke-40 bukanlah akhir perjalanan. Justru inilah awal untuk terus meningkatkan kualitas diri. Saya ingin lebih rajin membaca agar wawasan semakin luas. Saya ingin lebih disiplin menulis agar kemampuan semakin terasah.Saya ingin belajar kepada para penulis yang lebih berpengalaman agar mampu menghasilkan karya yang lebih baik.

Saya ingin terus memperbaiki niat bahwa menulis bukan sekadar mengejar penghargaan, tetapi menjadi sarana berbagi manfaat kepada sesama. Saya percaya setiap tulisan yang ditulis dengan hati akan menemukan jalannya sendiri. Mungkin tidak langsung menjadi juara. Mungkin tidak langsung dikenal banyak orang. Setiap tulisan yang baik akan selalu meninggalkan jejak kebaikan bagi pembacanya.

Malam ini saya kembali belajar tentang arti syukur. Syukur adalah ketika Allah masih mengizinkan nama kita tercatat di antara orang-orang yang terus berusaha memberikan yang terbaik. Saya yakin, Allah selalu memiliki rencana yang lebih indah daripada rencana manusia.

Saya percaya bahwa setiap proses yang dijalani dengan sungguh-sungguh akan membawa seseorang menuju tempat terbaik menurut kehendak Allah. Semoga pengalaman ini menjadi pengingat bahwa tidak ada usaha yang sia-sia. Setiap tetes keringat, setiap waktu yang digunakan untuk belajar, setiap doa yang dipanjatkan, dan setiap huruf yang ditulis akan bernilai di hadapan Allah Subhanahu Wata'alla. Aamiin.
Cepu, 27 Juli 2026

 

Jumat, 24 Juli 2026

5 M

Karya : Gutamining Saida

Jam mengajar sedang kosong. Suasana sekolah terasa lebih tenang. Sebagian guru memanfaatkan waktu untuk bersantai, ada yang berbincang dengan rekan sejawat, dan ada pula yang sekadar menikmati minuman. Saya memilih membuka telepon genggam. Bukan untuk mencari hiburan, melainkan membaca percakapan di grup Swimming Squad 2. Grup yang sering menghadirkan pelajaran hidup .

Mata saya tertuju pada tulisan dari Pak Gun. Beliau menuliskan tiga kalimat pendek berbentuk pertanyaan.

Mencegah sakit?

Menjaga sehat?

Mengobati sakit?

Hanya tiga kalimat. Tidak panjang, tidak disertai penjelasan. Justru karena singkat, pertanyaan itu mengajak setiap anggota grup untuk berpikir. Masing-masing orang tentu memiliki jawaban berdasarkan pengalaman hidupnya.

Beberapa menit saya membaca tanpa memberi komentar. Saya mencoba memahami maksud pertanyaan tersebut. Saya teringat pengalaman saat mengikuti latihan di kolam renang. Peserta datang dengan berbagai latar belakang. Ada yang memiliki keluhan pada tulang, pinggang, lutut, bahkan jantung. Ada pula yang sebenarnya sehat, tetapi ingin mempertahankan kebugarannya agar tetap bisa menikmati hari-hari bersama keluarga.

Akhirnya saya memberanikan diri menulis satu kalimat singkat.

"Salah satu caranya yaitu dengan terapi di air."

Tidak lama kemudian Pak Gun memberikan tanggapan.

"Mendengar, memahami, melihat, memperhatikan, mencoba."

Saya tersenyum membaca balasan itu. Kata sederhana, tetapi terasa begitu dalam maknanya. Saya spontan menuliskan komentar lagi.

"4M nich..."

Saat itu saya mengira hanya ada empat langkah penting. Saya membacanya sekilas sehingga belum benar-benar menghitung dengan teliti. Grup kembali sunyi. Tidak ada komentar lanjutan. Seperti biasanya, setiap anggota mungkin sedang sibuk dengan aktivitas masing-masing.

Rasa penasaran membuat saya membuka kembali percakapan tersebut beberapa saat kemudian. Saya membaca perlahan, satu demi satu kata yang ditulis Pak Gun.

"Mendengar..."

"Memahami..."

"Melihat..."

"Memperhatikan..."

"Mencoba..."

Saya menghitung ulang.

Satu...

Dua...

Tiga...

Empat...

Lima.

Saya tersenyum sendiri. Ternyata bukan 4M, melainkan 5M. Saya terlalu cepat menyimpulkan sehingga melewatkan satu langkah penting. Peristiwa kecil itu mengingatkan saya bahwa dalam kehidupan kita sering kali terburu-buru memberikan penilaian. Padahal, jika kita mau membaca lebih teliti, memperhatikan lebih saksama, dan memahami lebih dalam, kita akan menemukan pelajaran yang jauh lebih bermakna.

Kelima kata tersebut ternyata bukan hanya berlaku di kolam renang. Semuanya juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Langkah pertama adalah mendengar. Mendengar bukan sekadar suara masuk ke telinga. Mendengar berarti membuka hati terhadap nasihat, pengalaman, dan ilmu dari orang lain. Banyak orang gagal berkembang bukan karena tidak memiliki kesempatan, melainkan karena merasa sudah tahu segalanya sehingga enggan mendengar.

Langkah kedua adalah memahami. Setelah mendengar, jangan buru-buru menyimpulkan. Pahami maksudnya terlebih dahulu. Tidak semua nasihat langsung bisa dimengerti dalam sekali dengar. Kadang kita perlu merenungkannya agar menemukan hikmah yang tersembunyi.

Langkah ketiga adalah melihat. Kita belajar bukan hanya dari teori, tetapi juga dari contoh nyata. Di kolam renang, peserta baru biasanya mengamati gerakan pelatih dan teman-temannya terlebih dahulu sebelum mencoba sendiri. Dari pengamatan itulah muncul gambaran yang benar tentang apa yang harus dilakukan.

Langkah keempat adalah memperhatikan. Melihat saja belum cukup. Memperhatikan berarti fokus pada hal-hal kecil yang sering terabaikan. Posisi tangan, cara bernapas, keseimbangan tubuh, hingga ketenangan pikiran menjadi bagian penting dalam latihan. Demikian pula dalam kehidupan. Keberhasilan sering lahir dari perhatian terhadap hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten.

Barulah langkah kelima adalah mencoba. Tidak ada ilmu yang benar-benar menjadi milik kita jika hanya didengar dan dipahami tanpa dipraktikkan. Keberanian mencoba akan melahirkan pengalaman. Pengalaman akan melahirkan kemampuan. Kemampuan yang terus diasah akan menjadi kebiasaan baik.

Saya kemudian teringat bahwa bonus dari semua proses itu adalah bisa berenang dengan lebih baik. Sesungguhnya bonus yang lebih besar bukan hanya kemampuan berenang. Bonus terindah adalah tubuh yang lebih sehat, pikiran yang lebih segar, hati yang lebih bahagia, serta persahabatan yang semakin erat.

Kolam renang ternyata bukan hanya tempat berolahraga. Ia menjadi ruang belajar yang unik. Di sana tidak ada batasan usia. Anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga lanjut usia dapat belajar bersama. Tidak ada yang merasa paling hebat karena setiap orang memiliki prosesnya masing-masing.

Saya juga belajar kesehatan tidak datang secara instan. Ia harus dijaga dengan kesungguhan, kedisiplinan, dan kesabaran. Mencegah sakit jauh lebih ringan daripada mengobati ketika penyakit sudah datang. Menjaga kesehatan merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat yang telah Allah berikan.

Percakapan singkat di grup WhatsApp hanya berlangsung beberapa menit. Hikmah yang saya peroleh terasa jauh lebih panjang daripada jumlah kalimat yang tertulis. Terkadang Allah menghadirkan pelajaran melalui sebuah pertanyaan sederhana yang mampu menggugah hati.

Kini saya tidak lagi mengingatnya sebagai 4M, melainkan 5M: Mendengar, Memahami, Melihat, Memperhatikan, dan Mencoba. Lima langkah sederhana yang dapat diterapkan bukan hanya saat belajar berenang, tetapi saat belajar menjadi pribadi yang lebih baik.

Menjelang siang, pak Gun kembali komentar, "Naaaaahhhh." Saya jadi malulah 😊

Cepu, 25 Juli 2026


Senin, 20 Juli 2026

Kesan Hari Pertama

Karya: Gutamining Saida 
Malam ini grup WhatsApp Muda Swimming Squad2 cukup ramai. Beberapa hari terakhir grup memang cukup aktif, malam ini suasananya benar-benar hidup. Satu demi satu notifikasi bermunculan. Ada yang memberi komentar, ada yang membalas candaan, ada pula yang menyampaikan pengalaman latihan pertama mereka. Percakapan mengalir  hingga menghadirkan kehangatan. 

Obrolan sudah dimulai sejak sore. Seusai latihan, Pak Gun beberapa kali mengirimkan pesan ke grup. Beliau memang piawai membuka percakapan. Selalu ada cara untuk menghidupkan suasana. Sore hari rupanya bukan waktu yang tepat. Sebagian besar ibu-ibu masih disibukkan dengan rutinitas masing-masing. Ada yang masih di perjalanan pulang, ada yang menyiapkan makan malam keluarga, ada pula yang masih menyelesaikan pekerjaan yang tertunda. Pesan chats Pak Gun memang terbaca, tetapi respons yang muncul belum banyak. Grup terlihat tenang, seolah sedang beristirahat setelah aktivitas seharian.

Memasuki malam, suasana berubah. Rutinitas mulai selesai. Waktu santai bersama keluarga telah terlewati. Sambil menikmati secangkir teh hangat atau sekadar duduk di ruang tamu, para ibu-ibu mulai membuka ponsel mereka. Notifikasi grup pun kembali menarik perhatian. Jari-jari mulai lincah mengetik. Pak Gun membuka percakapan dengan pertanyaan sederhana.
"Bagaimana dengan latihan perdana?"
Pertanyaan itu terdengar biasa, tetapi mampu mengundang banyak jawaban.
Bu Pur menjadi salah satu yang pertama merespons.
"Senang, Pak."
Jawaban singkat itu seolah mewakili perasaan banyak ibu-ibu lainnya. Latihan pertama memang selalu menyisakan kesan yang sulit dilupakan. Ada rasa gugup, ada rasa penasaran, tetapi setelah menjalaninya justru muncul kebahagiaan.
Pak Gun kembali membalas.
"Yang penting nyaman, nggih."
Kalimat sederhana itu terasa begitu bermakna. Bagi beliau, belajar bukan sekadar mengejar hasil. Yang lebih utama adalah menciptakan rasa nyaman. Sebab ketika hati merasa nyaman, proses belajar akan berlangsung lebih menyenangkan. Rasa takut perlahan menghilang, digantikan oleh keberanian untuk mencoba.

Bu Pur pun menjawab penuh keyakinan.
"Nggih Pak, nyaman."
Pak Gun menambahkan lagi tiga kata yang kemudian menjadi inti dari suasana kelompok ini.
"Aman, nyaman, menyenangkan."
Tiga kata yang sederhana, tetapi mengandung filosofi yang dalam. Aman membuat orang berani mencoba. Nyaman membuat orang ingin terus belajar. Menyenangkan membuat seseorang selalu rindu untuk kembali hadir.

Percakapan terus berlanjut. Pak berkomentar kembali. "Belajar renang bersama Pak Gun tanpa menggunakan alat bantu."
"Iya, saya belum pernah latihan. Ternyata bisa tanpa alat bantu." komen bu Pur
Kalimat itu membuat banyak anggota ikut tersenyum. Bagi sebagian orang, papan pelampung atau ban renang adalah perlengkapan yang wajib dimiliki ketika mulai belajar. Di tangan seorang pelatih yang sabar, ternyata keberanian bisa tumbuh sedikit demi sedikit hingga rasa percaya diri mengalahkan rasa takut.

Membaca percakapan itu, saya pun tidak ingin hanya menjadi pembaca. Saya ikut menyelipkan sebuah komentar.
"Ada alat bantunya, Pak Gun. Mau tahu?"
Beberapa detik kemudian muncul balasan penuh rasa penasaran.
"Apa tuh???"tanya pak Gun
Saya tersenyum sendiri sebelum mengetik jawaban.
"Bantuin kita doa doooong." chats saya. 
Sejenak grup menjadi hening, lalu bermunculan berbagai tanggapan. Kalimat itu memang sederhana,  itulah alat bantu yang sesungguhnya. Tidak terlihat oleh mata, tidak dapat disentuh oleh tangan, tetapi kekuatannya mampu menguatkan hati setiap orang.
Pak Gun melanjutkan doa yang saya maksud.
"Semoga diberi kesehatan, badan tetap segar, umur yang penuh keberkahan, diberi kesempatan lama menimang anak dan cucu, serta selalu dikuatkan dalam beribadah kepada Allah. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin." tulis pak Gun
Doa itu langsung saya sambut dengan ucapan "Aamiin" dan beberapa anggota grup.

Sebuah komunitas tidak hanya dipersatukan oleh hobi yang sama. Komunitas akan bertahan lama ketika anggotanya saling mendoakan.
Terapi di air bertujuan agar tubuh menjadi sehat. Lebih dari itu, ada kesehatan lain yang sedang dibangun, yaitu kesehatan hati. Setiap pertemuan bukan sekadar melatih otot dan pernapasan, tetapi juga melatih kepedulian, kebersamaan, serta kemampuan untuk saling menyemangati.

Pak Gun tampaknya memahami benar hal itu. Beliau bukan hanya mengajarkan bagaimana menggerakkan tangan dan kaki di dalam air. Beliau juga mampu menggerakkan hati para anggotanya agar saling mengenal lebih dekat. Obrolan ringan yang beliau mulai setiap hari ternyata bukan sekadar mengisi waktu luang. Di balik percakapan sederhana itu tumbuh rasa memiliki, rasa dihargai, dan rasa ingin terus bertumbuh bersama. Sering kali sebuah komunitas menjadi sepi bukan karena anggotanya sedikit, melainkan karena tidak ada yang memulai percakapan. 

Pak Gun menunjukkan bahwa sapaan sederhana dapat menjadi jembatan yang menghubungkan banyak hati. Pertanyaan singkat, candaan yang santun, dan perhatian yang tulus mampu mengubah grup WhatsApp menjadi ruang yang penuh energi positif.

Orang akan lebih mudah bertahan dalam sebuah komunitas ketika ia merasa diterima. Tidak ada yang merasa paling hebat. Tidak ada yang malu karena masih belajar. Semua saling menguatkan sesuai kemampuan masing-masing. Yang sudah bisa berenang memberi semangat kepada yang masih takut air. Yang baru belajar memberikan inspirasi melalui keberaniannya mencoba. Semua berjalan berdampingan. Malam semakin larut, tetapi percakapan masih terus mengalir. Sesekali diselingi tawa, sesekali muncul doa, lalu berganti dengan cerita-cerita sederhana yang membuat suasana semakin akrab.

Rasanya bukan seperti berada di dalam sebuah grup, melainkan sedang duduk bersama SAHABAT yang telah lama saling mengenal. Semoga kehangatan ini terus terjaga. Semoga Muda Swimming Squad2 bukan hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi tempat bertumbuhnya persaudaraan. Setiap anggota saling menyemangati ketika lelah, saling menguatkan ketika menghadapi kesulitan, saling mendoakan dalam diam, dan saling mengingatkan untuk selalu bersyukur kepada Allah.

Sebab pada akhirnya, kemampuan berenang mungkin hanya menjadi salah satu bonus yang terlihat. Sementara hasil yang jauh lebih berharga adalah lahirnya persahabatan yang tulus, hati yang semakin lapang, dan keyakinan bahwa perjalanan hidup akan terasa lebih ringan ketika dijalani bersama orang-orang yang saling mendukung dalam kebaikan. Semoga persaudaraan ini terus mengalir, sebagaimana air yang selalu bergerak membawa kesejukan bagi siapa pun yang menyentuhnya.
Cepu, 21 Juli 2026 

Minggu, 19 Juli 2026

Akar Pohon


Karya: Gutamining Saida

Di sela-sela menikmati keindahan alam, saya sering memiliki kebiasaan sederhana, yaitu memperhatikan hal-hal kecil yang mungkin luput dari pandangan banyak orang. Ada yang sibuk memotret bunga karena keindahannya, ada yang mengabadikan langit senja karena warnanya yang memikat. Kali ini perhatian saya justru tertuju pada sesuatu yang jarang menjadi objek foto, yaitu akar sebuah pohon.

Bagi sebagian orang, akar hanyalah bagian pohon yang tersembunyi di dalam tanah. Ia tidak berbunga, tidak berbuah, bahkan tidak memberikan keindahan yang mencolok seperti daun yang hijau atau batang yang menjulang tinggi. Akan tetapi, ketika saya menemukan sebuah pohon dengan akar yang menjalar di permukaan tanah, saya seakan diajak berhenti untuk berpikir.

Akar itu tampak begitu unik. Ada yang besar, ada yang kecil. Sebagiannya menjulur ke kanan, sebagian lagi ke kiri. Ada yang melengkung seperti tangan yang sedang merangkul bumi. Ada pula yang tampak kokoh seolah menjadi tiang penyangga batang pohon. Yang membuat saya semakin kagum, akar pohon itu tidak lagi berada di dalam tanah, melainkan muncul ke permukaan dengan bentuk yang tidak beraturan, namun tetap indah dipandang.

Saya pun mengabadikan pemandangan akar pohon. Bukan sekadar untuk koleksi foto, tetapi sebagai pengingat bahwa setiap ciptaan Allah Subhanahu Wata'alla menyimpan hikmah yang luar biasa. Foto itu menjadi pengingat bahwa rasa syukur bisa tumbuh dari sesuatu yang sederhana, selama hati mau melihat dengan mata keimanan.

Mengapa Allah menciptakan akar dengan bentuk yang berbeda-beda? Mengapa ada akar yang tersembunyi, sementara yang lain justru tampak di permukaan? Mengapa ada yang lurus, ada yang berkelok-kelok, bahkan ada yang terlihat saling bertaut?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak harus selalu dijawab dengan pengetahuan ilmiah semata. Justru pertanyaan itu membawa saya bahwa kebesaran Allah Subhanahu Wata'alla  tidak pernah terbatas oleh cara berpikir manusia. Setiap bentuk memiliki tujuan. Setiap lekukan memiliki fungsi. Tidak ada satu pun ciptaan-Nya yang sia-sia.

Akar yang menjalar di permukaan mungkin sedang mencari jalan terbaik agar pohon tetap mendapatkan air. Akar yang membesar mungkin sedang memperkuat batang agar mampu bertahan menghadapi angin kencang. Akar yang kecil mungkin sedang tumbuh perlahan menjalankan tugasnya. Semua memiliki peran sesuai dengan ketetapan Allah Subhanahu Wata'alla .

Bukankah kehidupan manusia juga demikian? Tidak semua orang menempuh jalan yang sama. Ada yang kehidupannya tampak lurus dan mudah. Ada yang harus berbelok, berliku, bahkan jatuh bangun sebelum mencapai tujuan. Ada yang memperoleh rezeki dengan cepat, ada pula yang harus berjuang bertahun-tahun. Semua berjalan sesuai takdir yang telah Allah Subhanahu Wata'alla tetapkan.

Akar mengajarkan bahwa kekuatan tidak selalu terlihat. Justru bagian yang paling menentukan kehidupan pohon adalah bagian yang sering terlupakan. Selama akar bekerja dengan baik, pohon akan tetap berdiri tegak, menghasilkan daun yang rindang, bunga yang indah, dan buah yang bermanfaat.

Begitu pula manusia. Keimanan, keikhlasan, kesabaran, dan ketakwaan ibarat akar kehidupan. Mungkin tidak tampak oleh manusia lain, tetapi itulah yang menjadi sumber kekuatan ketika menghadapi berbagai ujian. Orang lain mungkin hanya melihat keberhasilan seseorang, tidak melihat doa-doa panjang, air mata, kesabaran, dan perjuangan yang menjadi akar dari keberhasilan.

Semakin lama saya memandang akar pohon tersebut, semakin saya menyadari bahwa Allah Subhanahu Wata'alla sedang mengajarkan pelajaran melalui alam. Alam adalah kitab bagi siapa saja yang mau membaca. Pepohonan, sungai, gunung, langit, dan seluruh isi bumi senantiasa bertasbih kepada-Nya. Tinggal manusialah yang mau mengambil pelajaran atau justru melewatinya tanpa makna.

Saya bersyukur masih diberi kesempatan untuk memperhatikan hal-hal sederhana seperti ini. Di tengah kesibukan, ternyata Allah masih menghadirkan momen-momen kecil yang mampu menguatkan hati. Tidak perlu menunggu peristiwa besar untuk meningkatkan keimanan. Terkadang, hanya dengan memperhatikan akar pohon, hati sudah dapat merasakan betapa agungnya Sang Pencipta.

Akar yang muncul ke permukaan seolah mengingatkan bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dugaan. Ada kalanya sesuatu yang seharusnya tersembunyi justru tampak jelas. Ada kalanya jalan yang kita anggap aneh ternyata menjadi jalan terbaik. Allah Maha Mengetahui apa yang dibutuhkan setiap makhluk-Nya. Dari sanalah tumbuh rasa kagum, rasa syukur, dan keinginan untuk semakin mengenal Sang Pencipta. Ketika keimanan bertambah karena merenungi ciptaan-Nya, maka sesungguhnya setiap langkah di alam ini telah menjadi bagian dari ibadah dan perjalanan menuju Allah Subhanahu Wata'alla. Semoga kita juga belajar menghargai akar yang diam, bekerja tanpa pujian, tetapi menjadi penopang kehidupan. Aamiin

Cepu, 20 Juli 2026