gutaminingsaida SMPN 3 CEPU
Minggu, 16 Agustus 2026
Uang Tahun Kemerdekaan
Sabtu, 15 Agustus 2026
Jalan Menuju Cinta pada IPS
Karya : Gutamining Saida
Setiap anak memiliki warna favorit. Bukan hanya baju yang dikenakan para anak, melainkan warna semangat, karakter mereka. Sebagai guru IPS, saya belajar bahwa memahami warna kesukaan siswa terkadang menjadi pintu kecil yang mampu membuka semangat belajar mereka. Dari pengamatan sederhana selama mengajar, saya menemukan bahwa warna merah dan pink menjadi dua warna yang paling banyak disukai oleh anak-anak. Warna-warna itu tampak ceria, penuh energi, dan mampu menarik perhatian mereka dalam sekejap.
Bagi sebagian orang, warna mungkin hanya pelengkap. Namun, di dalam kelas, warna dapat menjadi bahasa yang mampu berbicara tanpa kata. Warna mampu mengundang rasa penasaran, menghadirkan kegembiraan, sekaligus menciptakan suasana belajar yang lebih hidup. Karena itulah, saya mencoba mengikuti alur dunia mereka. Saya tidak memaksakan semua harus sesuai dengan keinginan saya sebagai guru, tetapi berusaha menjembatani apa yang mereka sukai dengan tujuan pembelajaran yang ingin saya capai.
Saya menyadari bahwa tanpa keterlibatan siswa, pembelajaran IPS tidak akan berjalan dengan baik. Guru boleh memiliki materi yang lengkap, media yang menarik, bahkan metode yang beragam. Namun, jika hati siswa belum hadir di dalam kelas, semua itu belum tentu menghasilkan pembelajaran yang bermakna. Oleh karena itu, setiap kali memasuki ruang kelas, saya membawa satu tekad sederhana, yaitu memahami siswa terlebih dahulu sebelum mengajar mereka.
Saya berusaha mengenali apa yang mereka sukai, apa yang membuat mereka tersenyum, dan apa yang mampu membangkitkan semangat mereka. Selama semua itu tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan dan kaidah pembelajaran, mengapa tidak dimanfaatkan? Justru dari situlah kedekatan antara guru dan siswa mulai terbangun.
Pendekatan inilah yang saya yakini sebagai salah satu kunci keberhasilan pembelajaran. Guru bukan hanya menyampaikan materi, tetapi juga menjadi sahabat belajar yang mampu memahami dunia peserta didiknya. Ketika siswa merasa dihargai, didengarkan, dan dipahami, mereka akan lebih terbuka menerima pelajaran. Mereka tidak lagi datang ke kelas karena terpaksa, melainkan karena merasa nyaman.
Dalam pembelajaran IPS, saya sering memanfaatkan media dengan dominasi warna merah dan pink. Kartu soal, gambar, tantangan belajar, hingga permainan kelompok saya kemas dengan warna-warna yang mereka sukai. Hasilnya sungguh di luar dugaan. Mata mereka berbinar ketika media pembelajaran dibagikan. Rasa penasaran muncul bahkan sebelum kegiatan dimulai. Suasana kelas berubah menjadi lebih hidup. Anak-anak yang biasanya pasif mulai berani bertanya, berdiskusi, dan mengemukakan pendapat.
Saya semakin yakin bahwa belajar tidak harus selalu dimulai dari buku. Kadang-kadang, belajar dimulai dari hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan siswa. Sebuah warna dapat menjadi jembatan menuju perhatian. Perhatian akan melahirkan rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu akan membawa mereka pada proses belajar yang menyenangkan. Dan ketika belajar terasa menyenangkan, materi IPS yang selama ini dianggap membosankan perlahan berubah menjadi pelajaran yang dinantikan.
Bagi saya, menjadi guru berarti terus belajar membaca bahasa siswa. Ada yang senang permainan, ada yang menyukai tantangan, ada pula yang lebih percaya diri ketika diberi kesempatan bekerja sama dengan teman-temannya. Tidak ada satu cara yang cocok untuk semua siswa. Oleh karena itu, saya terus mencoba berbagai pendekatan agar setiap anak menemukan alasan untuk mencintai pembelajaran IPS.
Saya percaya bahwa keberhasilan seorang guru tidak hanya diukur dari nilai ulangan yang diperoleh siswa. Keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika siswa mulai berkata, "Ternyata IPS itu menyenangkan." Kalimat sederhana tersebut memiliki makna yang luar biasa. Artinya, mereka telah mengubah cara pandang terhadap mata pelajaran yang sebelumnya dianggap sulit, membosankan, atau kurang penting.
Perubahan itu memang tidak terjadi dalam sehari. Dibutuhkan kesabaran, kreativitas, dan kemauan untuk terus berinovasi. Setiap hari saya mencoba menghadirkan pengalaman belajar yang berbeda. Ada permainan, kartu tantangan, gambar, teka-teki, diskusi, hingga media sederhana yang mudah ditemukan di sekitar siswa. Semua saya lakukan dengan satu tujuan, yaitu menghadirkan kebahagiaan dalam belajar.
Saya percaya bahwa pembelajaran yang menyenangkan akan lebih lama tersimpan dalam ingatan. Anak-anak mungkin suatu hari lupa rumus atau definisi, tetapi mereka akan selalu mengingat bagaimana perasaan mereka ketika belajar. Jika yang mereka rasakan adalah kegembiraan, penghargaan, dan semangat, maka kenangan itu akan melekat sepanjang hidup.
Merah dan pink akhirnya bukan sekadar warna. Keduanya menjadi simbol bahwa seorang guru harus mau melihat dunia dari sudut pandang peserta didiknya. Ketika guru bersedia mendekat, memahami, dan menghargai apa yang mereka sukai, maka jarak antara guru dan siswa semakin dekat. Dari kedekatan itu lahirlah kepercayaan. Dari kepercayaan tumbuh semangat belajar. Dan dari semangat belajar itulah kecintaan terhadap IPS mulai bersemi.
Sebagai guru, saya tidak pernah berhenti mencari cara. Saya yakin masih ada seribu jalan untuk membuat siswa tersenyum saat pelajaran IPS dimulai. Selama mereka datang ke kelas dengan wajah ceria, penuh rasa ingin tahu, dan pulang membawa pengalaman belajar yang berkesan, saya merasa telah menjalankan tugas sebagai pendidik dengan sepenuh hati. Karena pada akhirnya, pembelajaran terbaik bukanlah yang paling rumit, melainkan yang mampu menyentuh hati siswa dan menumbuhkan kecintaan mereka untuk terus belajar.
Olah Badan
Jumat, 14 Agustus 2026
Teriakan Sehat
Karya: Gutamining Saida
Ada sebuah tempat yang selalu menghadirkan fenomena menarik. Setiap kali datang ke sana, rasanya seperti memasuki ruang yang berbeda dari kehidupan sehari-hari. Tempat itu adalah kolam. Entah mengapa, kesedihan seolah kehilangan tempat untuk bersembunyi. Kesusahan yang mungkin dibawa dari rumah, persoalan pekerjaan yang belum selesai, kelelahan menghadapi kehidupan, pikiran yang sempat penuh dengan berbagai masalah, perlahan seperti dilarungkan bersama air.
Bukan berarti orang-orang yang datang ke kolam tidak memiliki masalah. Mereka tetap manusia. Mereka memiliki cerita masing-masing. Ada yang datang dengan tubuh lelah, sedang berjuang menjaga kebugaran, ingin menghilangkan rasa takut, ingin belajar berenang, dan sekadar membutuhkan teman untuk berbagi cerita.
Begitu kaki menginjak area kolam, sesuatu seperti berubah. Wajah-wajah yang semula tampak serius perlahan berubah menjadi senyum. Sapaan mulai terdengar. Tawa mulai pecah. Saling menggoda menjadi hal biasa. Kesalahan dalam melakukan gerakan pun bisa menjadi bahan tertawaan bersama.
Di situlah keindahan kolam.Tidak harus selalu sempurna untuk bisa bahagia. Salah gerakan, tertawa. Salah posisi, tertawa. Saling bertabrakan ketika latihan, tertawa. Bahkan ketika tidak sengaja saling menendang pun, bukannya marah, justru tertawa.
Suasana semakin meriah ketika Pak Gun memberikan instruksi. Gaya khasnya yang penuh semangat, ia mengajak semua peserta menikmati latihan bukan sebagai beban, melainkan sebagai kegembiraan bersama.
“Ayo, Bu Ibu, masuk! Tenggelamkan kepala, terus muncul ke atas! Tangan ambil air, lalu lemparkan sambil sorak... sehat!”
Seketika ibu-ibu mengikuti aba-aba tersebut. “Sehaaaat!” Suara itu menggema di sekitar kolam. Kepala masuk ke dalam air, kemudian muncul lagi. Tangan mengambil air dan melemparkannya ke udara. Air berhamburan. Wajah-wajah basah justru semakin ceria. Ada yang gerakannya tepat, ada yang terlambat, ada yang terlalu bersemangat hingga air mengenai teman di sebelahnya.
Pak Gun pun terus memberikan semangat. Instruksinya bukan sekadar mengajak tubuh bergerak, tetapi seperti mengajak hati untuk ikut bergerak. Di kolam, olahraga tidak terasa seperti kewajiban. Ia berubah menjadi permainan. Terapi berubah menjadi kebersamaan. Latihan berubah menjadi kesempatan untuk tertawa.
Salah satu rahasia mengapa orang-orang betah datang kembali. Bayangkan, dalam kehidupan sehari-hari, tersenggol sedikit saja terkadang bisa membuat seseorang kesal. Tetapi di kolam, ketika kaki seseorang tidak sengaja mengenai kaki teman di sebelahnya, yang muncul justru tawa. “Eh, maaaaf!” Lalu disambut dengan senyum. Tidak ada dendam. Tidak ada kemarahan. Semuanya kembali seperti biasa.
Barangkali karena air mengajarkan satu hal penting: jangan terlalu serius menghadapi kesalahan. Air tidak pernah marah ketika seseorang jatuh ke dalamnya. Air menerima. Air tidak menertawakan ketika seseorang belum bisa melakukan gerakan dengan baik. Air tetap menjadi tempat untuk belajar.
Ada yang gerakannya sudah bagus, masih kaku, sudah berani meluncur, masih takut, bisa mengapung dengan tenang serta masih berjuang mengendalikan napas. Tetapi semuanya berada dalam satu tempat. Tidak ada yang merasa lebih tinggi. Mereka belajar bersama.
Kolam bukan sekadar tempat untuk menggerakkan tubuh. Kolam juga menjadi tempat untuk menggerakkan hati. Tawa yang muncul bukan sekadar suara. Tawa itu seperti pelepasan. Pelepasan dari ketegangan, kekhawatiran, dan beban yang selama ini mungkin dipendam sendirian.
Menariknya lagi, setiap pertemuan hampir selalu memiliki penutup yang sama yaitu foto dan video. Setelah latihan selesai, orang-orang berkumpul. Ada yang masih basah, rambutnya berantakan, kelelahan, serta ada yang baru selesai melakukan gerakan tertentu. Ketika kamera diarahkan, hampir semuanya tersenyum.
Foto-foto itu kemudian menjadi bukti bahwa pernah ada sebuah pertemuan yang penuh kebahagiaan. Mungkin beberapa jam sebelumnya masing-masing membawa masalah. Ketika kamera mengambil gambar, yang tersimpan adalah senyum.
Bukankah hidup juga seperti itu? Kita tidak bisa memilih agar kehidupan selalu bebas dari masalah. Kita tidak bisa meminta agar setiap hari berjalan sesuai keinginan. Kesedihan pasti datang. Kegagalan mungkin terjadi. Tubuh bisa lelah. Hati bisa kecewa.
Tetapi kita selalu bisa memilih bagaimana menghadapi semuanya. Kolam memberikan contoh yang sederhana.
Datanglah. Bergeraklah. Tersenyumlah. Berbagilah.
Senyum sederhana dari kita adalah obat bagi seseorang yang sedang menyembunyikan kesedihan. Mereka datang untuk mengingat bahwa kebahagiaan masih bisa ditemukan di tengah berbagai persoalan.
Kesedihan tidak benar-benar hilang. Kesusahan tidak benar-benar selesai. Tetapi untuk sementara, semuanya dititipkan kepada air.
“Ayo, Bu Ibu! Tenggelamkan kepala... muncul lagi... ambil air... lemparkan... dan sorak bersama! Sehat!”
“SEHAAAAT!”
Teriakan itu bukan sekadar suara. Ia seperti doa. Doa agar tubuh tetap diberi kekuatan, hati diberi kebahagiaan, persahabatan tetap terjaga, dan setiap langkah dalam kehidupan selalu mendapatkan keberkahan dari Allah Subhanahu Wata'alla. Aamiin
Cepu, 15 Agustus 2026.
Kue Bikang Unggu
Karya : Gutamining Saida
Jum'at malam, sekitar pukul 18.45, suasana grup Muda Swimming Squad yang biasanya dipenuhi obrolan tentang kesehatan, terapi, renang, dan berbagai pengalaman sehari-hari tiba-tiba menjadi ramai. Bukan karena ada informasi penting tentang latihan. Bukan pula karena ada pengumuman mengenai terapi. Kali ini penyebabnya sederhana, tetapi justru mampu menghadirkan kehangatan yang luar biasa.
Pak Gun mengirimkan sebuah foto kue bikang berwarna ungu. Kue tradisional yang bentuknya sederhana tampak begitu menggoda. Di bawah foto tersebut, Pak Gun menuliskan kalimat:
“Alhamdulillah rezeki Tan Keno Kiniro.”
Kalimat pendek itu ternyata menjadi pemantik obrolan panjang. Grup yang semula tenang mendadak hidup. Satu per satu ibu-ibu mulai memberikan komentar. Ada yang singkat, lucu, ada pula yang seolah-olah sedang berebut kesempatan untuk mendapatkan bagian dari kue tersebut.
Salah satu komentar datang dari Bu Rini, "Alhamdulllah".
“Uwun, Pak 😂.” komentar bu Sulikah
Pendek. Padat. Jelas. Di balik dua kata tersebut tersimpan sebuah harapan yang sangat manusiawi: siapa tahu ada bagian rezeki yang bisa ikut dinikmati.
Tidak lama kemudian, Bu Asih kembali mengirim pesan ke grup.
“Ngapunten, namung kedik, Pak.”
Artinya, mohon maaf, hanya sedikit, Pak. Kalimat sederhana itu justru terasa begitu akrab. Tidak ada tuntutan. Tidak ada permintaan berlebihan. Hanya gurauan kecil di antara orang-orang yang sudah terbiasa berbagi cerita dan tawa.
Bu Rini kemudian ikut menanggapi. “Wes enthek.”
Wah, ternyata sudah habis!
Sontak suasana semakin ramai. Seolah-olah kue bikang yang jumlahnya mungkin tidak seberapa itu menjadi barang paling berharga malam tersebut. Padahal sebenarnya bukan kue itulah yang membuat grup ramai. Ada sesuatu yang jauh lebih berharga yaitu rasa kebersamaan.
Bu Sulikah pun ikut nimbrungi lagi. “Komentar sesuk uwun sing gawe ae.”
Seolah memberikan pesan, kalau besok ada lagi, yang membuat jangan lupa berbagi.
Bu Asih membalas dengan penuh canda, “Besok kalau ada lebihan tak kirimi incip-incip hhhhh.”
Bu Rini langsung menyambut, “Aseeeek.”
Hanya beberapa kalimat pendek. Hanya percakapan ringan. Malam itu, grup Muda Swimming Squad terasa benar-benar hidup.
Begitulah rezeki. Kadang ia datang bukan dalam bentuk sesuatu yang besar. Tidak selalu berupa uang banyak, rumah megah, kendaraan baru, atau keberhasilan yang luar biasa. Terkadang rezeki hadir dalam bentuk sekotak kue bikang yang mampu membuat banyak orang tersenyum.
Rezeki juga bukan hanya tentang apa yang masuk ke dalam rumah kita. Rezeki bisa berupa teman yang baik, saudara yang peduli, tubuh yang masih diberi kesempatan untuk bergerak, hati yang masih bisa tertawa, serta lingkungan yang membuat kita merasa diterima.
Kue bikang itu mungkin hanya makanan biasa. Harganya pun mungkin tidak seberapa. Tetapi ketika diterima dengan rasa syukur, ia berubah menjadi sesuatu yang istimewa. Lebih indah lagi ketika rezeki tidak berhenti pada diri sendiri.
Dalam kehidupan, sering kali kita terlalu sibuk mengejar rezeki sampai lupa bahwa salah satu bentuk rezeki terbesar adalah memiliki orang-orang yang bisa diajak tertawa. Grup Muda Swimming Squad bukan sekadar tempat bertukar informasi tentang kolam renang. Di dalamnya ada cerita kesehatan, pengalaman terapi, perjuangan untuk menjadi lebih sehat, saling menyemangati, dan sesekali muncul humor-humor sederhana yang membuat suasana menjadi ringan.
Kesehatan memang menjadi salah satu alasan mereka berkumpul. Perjalanan, tumbuh sesuatu yang lebih luas yaitu persaudaraan. Mereka belajar bahwa sehat bukan hanya tentang tubuh yang kuat. Sehat juga tentang hati yang bahagia. Hati yang bisa tertawa. Hati yang mampu bersyukur. Hati yang senang melihat orang lain mendapatkan rezeki.
Terasa sederhana, kebahagiaan tidak selalu membutuhkan sesuatu yang mahal. Cukup sebuah foto kue, lalu disambut komentar lucu dari sahabat-sahabat. Jika dilihat dari luar, percakapan tersebut hanyalah candaan ibu-ibu dan Pak Gun tentang kue bikang. Sebab sesungguhnya yang sedang dibagikan malam itu bukan sekadar kue. Yang dibagikan adalah kebahagiaan.
Semoga setiap rezeki yang datang kepada kita, sekecil apa pun bentuknya, selalu membuat kita semakin dekat kepada Allah. Semoga kita tidak hanya pandai menikmati rezeki, tetapi juga pandai mensyukurinya dan membagikannya kepada orang lain.
Sebuah rezeki yang disyukuri akan menghadirkan ketenangan, sedangkan rezeki yang dibagikan akan menghadirkan keberkahan. Sesungguhnya, yang membuat grup itu hidup bukanlah kue bikangnya. Yang menghidupkan adalah rasa syukur, persaudaraan, kepedulian, dan tawa yang dibagikan bersama. Semoga selalu ada rezeki yang datang tan keno kiniro, rezeki yang tidak disangka-sangka, rezeki yang membawa berkah, dan rezeki yang membuat hati semakin dekat kepada-Nya. Aamiin.
Cepu, 15 Agustus 2026
Jum'at Pon
Karya: Gutamining Saida
Jumat sore selalu memiliki suasana yang seru. Ada ketenangan yang perlahan turun bersama sinar matahari yang mulai condong ke ufuk barat. Ketenangan berpadu dengan semangat beberapa ibu-ibu yang datang ke kolam renang untuk menjalani terapi.
Mereka datang bukan sekadar ingin bermain air atau belajar berenang. Ada tujuan yang jauh lebih sederhana, tetapi sangat bermakna yaitu ingin menjadi lebih sehat dan bahagia bersama. Dengan bekal sehat dan semangat yang dibawa dari rumah, langkah mereka menuju kolam terasa begitu ringan. Tidak peduli usia, tidak peduli kemampuan berenang yang masih terbatas. Yang penting adalah kemauan untuk bergerak, belajar, mencoba dan menikmati setiap proses.
Bagi sebagian orang, meluncur di air mungkin terlihat sebagai hal sederhana. Tinggal mendorong tubuh, meluruskan tangan, mengatur napas, kemudian membiarkan tubuh bergerak mengikuti air. Bagi mereka yang sedang belajar mengatasi rasa takut, meluncur membutuhkan keberanian. Di situlah latihan dimulai.
Pak Gun memberikan arahan dengan sabar. Teori demi teori disampaikan. Bagaimana posisi tubuh, bagaimana menenangkan diri, bagaimana mengatur napas, dan bagaimana percaya kepada air. Semua teori dapat dilewati dengan baik dan lancar.
Ketika teori harus diterapkan dalam praktik, ternyata tidak selalu semudah yang dibayangkan. Gerakannya belum sempurna, masih ragu, belum mampu melakukan seperti contoh yang diberikan pak Gun. Bahkan ada yang dalam hati berkata, “Kok sulit, ya?”
Sukses membutuhkan proses. Tidak ada sesuatu yang benar-benar besar yang bisa diperoleh secara instan.
Hari ini belum berhasil, bukan berarti selamanya tidak akan berhasil. Gerakan yang masih salah hari ini bisa diperbaiki pada latihan berikutnya. Rasa takut yang masih muncul hari ini perlahan dapat dikalahkan dengan keberanian yang terus dilatih.
Kita sering kali ingin hasil yang cepat. Ingin sekali mencoba langsung berhasil. Ingin sekali belajar langsung mahir. Padahal kehidupan tidak bekerja seperti itu. Ada proses, ada kesalahan, ada kegagalan, ada pengulangan, dan ada kesabaran.
Menurut pak Gun, yang terpenting bukan siapa yang paling cepat bisa meluncur. Bukan siapa yang paling bagus gerakannya. Tetapi siapa yang mau terus mencoba meskipun hasilnya belum sesuai harapan.
Di sela-sela latihan, Pak Gun kemudian melontarkan sebuah pertanyaan sederhana. “Bu ibu, ini Jumat apa?”
Pertanyaan itu sebenarnya sederhana. Bu Sulikah langsung menjawab secara spontan tanpa sedikit pun keraguan.
“Jumat Pon!”
Mendengar jawaban itu, Pak Gun langsung tersenyum. Entah apa yang ada di dalam pikiran beliau. Mungkin beliau berharap jawaban yang muncul adalah “Jumat Sehat”, “Jumat Ceria”, atau istilah lain yang biasa muncul di grup. Tetapi yang keluar justru jawaban yang sangat khas dan tidak terduga yaitu Jumat Pon.
Pak Gun kemudian berkata sambil tersenyum, “Walah... kalau Jumat Pon, Kliwon... saya nggak hafal, Bu.”
Sontak ibu-ibu tertawa. Tidak ada aba-aba. Tidak ada yang memimpin untuk tertawa. Semuanya tertawa bersama karena pertanyaan sederhana itu berhasil mencairkan suasana. Kebahagiaan memang tidak selalu membutuhkan sesuatu yang mahal. Kadang cukup dengan sebuah pertanyaan sederhana, sebuah jawaban spontan, lalu tawa yang muncul bersama-sama.
Mungkin itulah salah satu alasan mengapa terapi dilakukan bersama. Ketika satu orang mengalami kesulitan, yang lain memberikan semangat. Ketika ada yang salah gerakan, tidak langsung ditertawakan dengan maksud merendahkan, tetapi menjadi bagian dari cerita yang membuat suasana semakin hangat. Ketika ada yang berhasil, keberhasilan itu terasa seperti keberhasilan bersama.
Sehat menjadi lebih menyenangkan ketika dijalani bersama. Latihan pun kembali dilanjutkan. Meluncur lagi. Menenangkan diri lagi. Mencoba lagi. Mengatur napas lagi. Terkadang berhasil, terkadang belum. Tetapi semuanya tetap dijalani dengan semangat.
Waktu ternyata berjalan begitu cepat. Tanpa terasa, jarum jam sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB. Sore mulai beranjak menuju petang. Latihan pun harus diakhiri. Sebelum benar-benar meninggalkan kolam, ada satu kebiasaan yang rasanya tidak boleh dilewatkan: foto bersama.
“Pak Gun, saya tolong dividio ya. Mau saya pakai story,” ucap Bu Nanik.
Permintaan sederhana itu kembali menunjukkan bahwa kegiatan di kolam bukan hanya tentang terapi fisik. Ada kenangan yang ingin disimpan. Ada kebersamaan yang ingin diabadikan. Ada cerita yang suatu saat mungkin akan dilihat kembali dan membuat tersenyum.
Foto dan video menjadi bukti bahwa sore itu pernah terjadi. Bukti bahwa pernah ada sekelompok ibu-ibu yang memilih meluangkan waktu untuk menjaga kesehatan. Bukti bahwa mereka pernah berjuang melawan rasa takut. Bukti bahwa mereka pernah belajar meluncur, belajar menenangkan diri, belajar bernapas, dan belajar menikmati proses. Lebih dari itu, dokumentasi menjadi pengingat bahwa kebahagiaan ternyata bisa ditemukan di tempat yang sederhana.
Jumat sore itu mungkin hanya berlangsung satu jam. Tetapi pesan yang dibawanya jauh lebih panjang. Sehat bukan hanya tentang tubuh yang kuat. Sehat juga tentang hati yang bahagia, pikiran yang tenang, dan lingkungan yang membuat kita merasa tidak sendirian. Sampai berjumpa nanti sore kawan.
Cepu, 15 Agustus 2026
Kamis, 13 Agustus 2026
Senyum Di Balik Kamera
Fani
Karya: Gutamining Saida
Setiap saya masuk ke kelas 8C, selalu saja ada yang menarik perhatian. Anak-anaknya aktif, ramai, penuh energi, dan masing-masing memiliki keunikan. Kadang saya menemukan tingkah lucu, jawaban spontan, kreativitas, benda-benda sederhana yang ternyata menyimpan cerita.
Ketika saya sedang mengajar, pandangan saya tertuju pada meja salah satu siswa perempuan bernama Fani. Saya melihat beberapa lembar kertas putih yang bentuknya agak berbeda. Kertas-kertas itu dibuat seperti contongan, digulung atau dibentuk menyerupai kerucut.
Entah mengapa, benda sederhana itu langsung membuat rasa penasaran saya muncul. Saya pun mendekati meja Fani.
“Ini apa, Fani?”tanya saya sambil mengambil salah satu kertas tersebut dan memperhatikannya.
Fani menjawab singkat,“Untuk membuat buket, Bu.”
Jawaban sangat singkat. Tetapi bagi saya justru mengundang pertanyaan berikutnya. “Buket?”
“Iya, Bu.”
“Buket bunga?”
Fani mengangguk.
Saya semakin penasaran. “Buat sendiri?”
“Iya.”
“Dari kertas ini?”
“Iya, Bu.”
Saya tersenyum. Dalam hati saya berpikir, ternyata anak-anak memiliki kreativitas yang sering kali tidak terlihat ketika mereka duduk mengikuti pembelajaran di kelas. Saya pun mulai kepo.
“Belajarnya dari mana?”
“Lihat tutorial.”
“Tutorial di mana?”
“HP, Bu.”
“Berarti kamu suka membuat kerajinan?”
Fani mengangguk lagi.
Saya kemudian memperhatikan kertas-kertas putih itu lebih teliti. Bentuknya memang sederhana. Hanya kertas putih yang dibuat menyerupai contongan. Namun, di tangan seorang anak yang kreatif, benda sederhana bisa berubah menjadi sesuatu yang bernilai. Saya membayangkan kertas-kertas itu nantinya tersusun menjadi buket yang cantik.
Saya lalu bertanya lagi,“Buketnya nanti untuk siapa?”
Fani tersenyum. Saya menunggu jawabannya. Ternyata, dari sebuah pertanyaan sederhana, saya justru menemukan sisi lain dari seorang siswa yang selama ini saya kenal hanya sebagai bagian dari kelas 8C. Di depan guru, Fani adalah seorang siswa.
Tetapi di luar pembelajaran, ia memiliki dunia kreativitasnya sendiri. Ia mau menghasilkan sesuatu dengan tangannya sendiri. Saya pun semakin menyadari bahwa setiap anak memiliki potensi yang berbeda-beda.
Tugas guru bukan hanya menyampaikan materi pelajaran. Guru juga perlu melihat, memperhatikan, dan menemukan potensi yang tersembunyi dalam diri siswa. Kadang potensi itu tidak muncul ketika kita memberikan soal di papan tulis.
Jangan pernah menganggap sesuatu yang sederhana itu tidak berarti. Mungkin hari ini Fani hanya membuat buket dari kertas. Tetapi siapa tahu, kelak kreativitas sederhana itu menjadi keterampilan yang menghasilkan karya, bahkan menjadi jalan kehidupannya.
“Ternyata anak-anak bukan hanya belajar dari guru. Guru pun harus mau belajar membaca keunikan anak-anaknya.”
Dan Fani, dengan kertas putih berbentuk contongan, telah mengingatkan saya sekali lagi yaitu Setiap anak mempunyai cerita. Tugas guru adalah mau mendekat, bertanya, dan menemukan cerita itu. Semoga kesuksesan menyertai langkah kakimu. Aamiin.
Cepu, 13 Agustus 2026
AL dan EL
Rabu, 12 Agustus 2026
Minggu Membara
Minggu Sore, air kolam renang Bumool Dengok Padangan menjadi saksi sebuah perjuangan kecil yang ternyata menyimpan makna kehidupan begitu besar. Hari demi hari, kolam ini semakin ramai. Bukan hanya oleh anak-anak yang bermain air atau mereka yang datang untuk belajar berenang. Aktivitas olahraga pun semakin beragam.
Ada renang yang pesertanya mulai dari anak-anak, remaja hingga orang tua. Ada terapi untuk ibu-ibu yang ingin menjaga dan memulihkan kebugaran. Ada zumba yang dipenuhi ibu-ibu dengan gerakan penuh semangat. Ada pula aerobik yang membuat suasana semakin hidup.
Sore ini terasa berbeda. Para ibu tidak hanya diajak menggerakkan tubuh. Mereka diajak berdamai dengan ketakutan. Mereka dibawa ke kolam dengan kedalaman sekitar 200 sentimeter. Bagi orang yang sudah terbiasa berenang, mungkin angka itu biasa saja. Tetapi bagi seseorang yang takut air, kedalaman dua meter bisa terasa seperti jurang yang sangat dalam.
Di sinilah perjuangan itu dimulai. Saya melihat tangan-tangan yang terus berpegangan pada bibir kolam, Kuat bahkan sangat kuat. Seolah-olah jika tangan itu terlepaskan, sesuatu yang buruk akan terjadi.
Wajah-wajah tampak tegang. Ada rasa takut. Ada keraguan. Ada kecemasan. Tetapi bukankah kita semua pernah seperti itu? Bukankah dalam kehidupan, kita juga sering berpegangan pada sesuatu karena takut kehilangan?
Kita berpegangan pada keluarga. Berpegangan pada pekerjaan. Berpegangan pada harta. Berpegangan pada orang yang kita cintai. Berpegangan pada sesuatu yang membuat kita merasa aman. Padahal hidup mengajarkan bahwa tidak ada yang benar-benar kekal. Semua yang kita miliki hanyalah titipan.
“Coba Tenggelam...” Instruksi diberikan oleh pak Gun
“Coba tenggelam, kemudian muncul kembali.”tambahnya
Sejenak suasana menjadi tegang. Tenggelam? Di kedalaman dua meter?
Bagi mereka yang takut, perintah itu tentu bukan perkara mudah. Satu demi satu mulai mencoba. Tubuh diturunkan. Wajah menyentuh air. Tenggelam. Kemudian muncul. Menarik napas. Mencoba lagi. Tenggelam. Muncul. Lagi. Dan lagi.
Pada awalnya tangan masih mencari pegangan. Kaki masih tegang. Napas belum teratur. Tetapi sesuatu mulai berubah. Rasa takut yang semula begitu besar, perlahan mulai mengecil. Bukankah ketakutan memang sering kali menjadi besar karena kita belum pernah mencoba menghadapinya?
Ketika kita berani mendekatinya, ternyata tidak selalu seburuk yang kita bayangkan. Ketika berani mencobanya, kita mulai berkata dalam hati,
"Ternyata saya bisa."
Kalimat sederhana. Bagi seseorang yang sedang berjuang melawan rasa takut, kalimat itu sangat berarti.
Sampai Tangan Itu Berani Lepas. Kemudian datang tahap yang lebih menggetarkan hati.
“Tangannya dilepas.”
Inilah saat yang mungkin paling sulit. Tangan yang sejak awal menjadi tempat bergantung harus dilepaskan. Perlahan. Pelan-pelan. Jari-jari mulai membuka. Pegangan dilepas. Tubuh tenggelam. Kemudian muncul. Tenggelam. Muncul. Berulang kali.
Setiap kali berhasil, ada sedikit keberanian yang tumbuh. Saya membayangkan, mungkin bukan hanya air yang sedang mereka lawan. Mungkin mereka sedang melawan suara di dalam hati yang selama ini berkata:
"Saya tidak bisa."
"Saya takut."
"Saya tidak berani."
"Bagaimana kalau saya gagal?"
Tetapi sore itu suara-suara itu perlahan dikalahkan oleh suara yang lain:
"Saya bisa."
"Saya berani."
"Saya mencoba."
Betapa indahnya sebuah keberanian yang lahir dari ketakutan. Keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Berani adalah tetap melangkah meskipun rasa takut masih ada.
Air Mengajarkan Tentang Kehidupan. Di dalam air, kita belajar bahwa tubuh tidak selalu harus melawan. Ada saatnya kita harus rileks, saatnya kita harus mengatur napas, saatnya kita harus percaya bahwa tubuh kita mampu bertahan.
Bukankah kehidupan juga demikian? Terlalu banyak melawan terkadang membuat kita semakin lelah. Terlalu banyak mencemaskan masa depan membuat hati kehilangan ketenangan. Terlalu kuat menggenggam sesuatu membuat kita lupa bahwa segala sesuatu adalah milik Allah.
Allah Subhanahu Wata'alla sedang mengajarkan melalui air,
Belajarlah tenang.
Belajarlah percaya.
Belajarlah melepaskan.
Ketika kita menyerahkan segala sesuatu kepada Allah Subhanahu Wata'alla setelah melakukan ikhtiar terbaik, hati menjadi lebih ringan.
Allah berfirman dalam QS. Al-Insyirah ayat 5:
“Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
Minggu sore saya melihat ayat tersebut seakan hadir dalam bentuk nyata.
Ada kesulitan.
Ada ketakutan.
Ada perjuangan.
Kemudian sedikit demi sedikit datang kemudahan.
Dari Takut Menjadi Percaya Diri
Setelah keberanian mulai tumbuh, latihan dilanjutkan. Gaya bebas dipraktikkan. Gaya dada dicoba. Gaya punggung dipelajari. Bahkan gaya dolphin pun diperkenalkan. Lengkap sudah ilmu sore itu. Tetapi sebenarnya bukan hanya teknik berenang yang didapat. Ada ilmu yang jauh lebih penting.
Ilmu tentang keberanian.
Ilmu tentang mengendalikan rasa takut.
Ilmu tentang percaya kepada kemampuan diri.
Yang paling penting, ilmu tentang bersyukur.
Tubuh KITA yang masih bisa bergerak adalah nikmat. Napas yang masih bisa diatur adalah nikmat. Kaki yang masih mampu menendang air adalah nikmat. Tangan yang masih mampu mengayuh adalah nikmat.
Kesempatan untuk berkumpul, belajar, tertawa dan menjaga kesehatan bersama adalah nikmat yang sering kali kita lupa syukuri.
Lingkaran yang Menenangkan Hati
Menjelang akhir kegiatan, semua peserta diminta membuat formasi lingkaran. Tubuh sudah lelah. Tetapi hati terasa berbeda. Lebih ringan. Lebih tenang. Lingkaran itu seperti mengajarkan satu hal,
Tidak ada manusia yang harus berjalan sendirian.
Kita membutuhkan orang lain. Kita saling menguatkan. Saling menyemangati. Saling mendoakan. Di atas semua itu, kita membutuhkan Allah Subhanahu Wata'alla.
Minggu sore ada ibu yang datang membawa ketakutan. Tetapi ia pulang membawa keberanian. Ada yang datang dengan keraguan. Pulang dengan kepercayaan diri. Ada yang datang dengan kecemasan. Pulang dengan ketenangan.
Saya yakin, pengalaman sederhana di dalam kolam itu akan terbawa ke luar kolam. Ketika suatu hari menghadapi persoalan hidup, mungkin mereka akan teringat:
"Dulu saya takut masuk ke air sedalam dua meter. Tetapi saya mencoba. Saya berani melepaskan pegangan. Saya ternyata bisa."
Maka ketika menghadapi masalah kehidupan, semoga muncul keyakinan yang sama: "Saya pernah melewati ketakutan. Saya pasti bisa melewati ini. Dengan ikhtiar dan pertolongan Allah."
Semoga setiap tetes air menjadi saksi sebuah ikhtiar. Ikhtiar untuk sehat. Ikhtiar untuk berani. Ikhtiar untuk berdamai dengan diri sendiri. Ikhtiar untuk semakin dekat kepada Allah Subhanahu Wata'alla.
Ilmu Yang Luar Biasa
Karya: Gutamining Saida
Kurang lebih sejak pukul 09.45 WIB Pak Gun membagikan sebuah video tentang ibu saya di grup Muda Swimming Squad 2. Saat itu saya hanya sempat melihat sekilas. Beberapa komentar teman-teman juga saya baca sambil lalu. Bukan karena tidak tertarik, tetapi hari Rabu memang menjadi hari yang cukup padat bagi saya.
Sejak jam pertama sampai jam terakhir, saya harus mengajar. Fokus saya tertuju pada tugas dan tanggung jawab di sekolah. Di sela-sela istirahat, sesekali saya membuka ponsel. Bukan untuk membaca semua percakapan di grup, tetapi hanya melihat pesan-pesan yang saya anggap penting.
Saya berpikir, nanti kalau sudah selesai mengajar, saya bisa membaca lebih tenang. Menjelang sore, setelah tugas mengajar selesai, saya mulai membuka kembali beberapa chat di grup Muda Swimming Squad 2.
Wiiiiih...
Ternyata banyak sekali ilmu yang dibagikan Pak Gun!
Saya yang tadi pagi hanya melihat sekilas, sore harinya justru mendapatkan banyak hal yang membuat saya berhenti sejenak untuk membaca. Ternyata, di balik obrolan sederhana di grup, ada banyak pesan tentang kesehatan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pak Gun memang hampir setiap saat berbagi ilmu kesehatan di grup. Tidak hanya sekadar memberikan nasihat, tetapi mengajak kami memahami tubuh sendiri. Lebih menarik lagi, ketika berada di kolam, Pak Gun tidak banyak memberikan teori panjang. Ia lebih suka mengarahkan kami langsung untuk praktik.
“Begini gerakannya...”
Kemudian beliau memberikan contoh.
Kami tinggal mengikuti. Menurut saya, cara seperti ini justru membuat ilmu lebih mudah diterima. Tidak perlu terlalu banyak istilah rumit. Tidak harus mendengarkan teori waktu lama. Tubuh langsung bergerak, mencoba, merasakan, lalu belajar.
Banyak orang yang datang ke kolam membawa keluhan kesehatan masing-masing. Ada yang keluhannya ringan, ada pula yang cukup berat. Sebagian besar adalah ibu-ibu yang memiliki keinginan sederhana. Ingin sehat.
Tidak ada yang lebih mahal daripada kesehatan. Ketika tubuh sehat, kita bisa melakukan banyak hal. Bisa bekerja, mengajar, mengurus keluarga, berkumpul dengan teman, bepergian, bahkan sekadar menikmati pagi dengan perasaan tenang.
Ketika kesehatan terganggu, banyak hal yang sebelumnya terasa biasa menjadi sangat berarti. Berjalan terasa berat, tidur tidak nyaman, bekerja tidak maksimal. Bahkan tersenyum pun kadang membutuhkan perjuangan.
Pesan-pesan Pak Gun tentang kesehatan terasa begitu dekat. Dalam penuturannya, berbagai keluhan yang kita rasakan tidak selalu datang begitu saja. Ada hubungan antara kondisi tubuh dengan hati, pikiran, dan perasaan.
Kadang tubuh terasa lelah bukan semata-mata karena aktivitas fisik. Pikiran yang terlalu penuh juga bisa membuat tubuh ikut lelah. Hati yang tidak tenang bisa membuat tidur terganggu. Perasaan yang terus dipendam bisa membuat kita kehilangan semangat. Di sinilah saya mulai memahami bahwa menjaga kesehatan ternyata bukan hanya soal obat atau terapi, menjaga kesehatan berarti belajar menjaga pikiran, menjaga hati, mengelola perasaan. Tentu saja menjaga pola hidup.
Pak Gun selalu mengingatkan agar kita banyak bergerak, berolahraga, menjaga makan dan minum, serta memberikan tubuh waktu yang cukup untuk beristirahat. Sederhana. Tetapi sering kali justru hal-hal sederhana itulah yang paling sulit kita lakukan. Kita tahu olahraga itu penting, tetapi sering malas bergerak. Kita tahu makanan harus dijaga, tetapi godaan makanan enak begitu besar. Kita tahu istirahat cukup itu penting, tetapi sering kali kita masih sibuk dengan pekerjaan.
Kita tahu pikiran harus tenang, tetapi masalah kehidupan terus datang silih berganti. Maka pesan Pak Gun sebenarnya bukan sekadar tentang berenang. Lebih jauh dari itu, beliau sedang mengajak kami mengubah kebiasaan, mengajak kami lebih peduli kepada tubuh sendiri.
Salah satu bagian chat yang saya baca berisi beberapa keluhan yang sering dialami banyak orang. Sakit gigi, linu-linu, nyeri karena otot kaku, sampai leher yang terasa “cengeng” karena salah posisi tidur atau bantal.
Saya membaca pelan-pelan. Sampai akhirnya tiba pada kalimat terakhir. Saya langsung tersenyum. “Eh...” Rasanya seperti membaca promosi seorang tukang jamu! Hahaha... Ada saja cara Pak Gun menyampaikan pesan kesehatan yang membuat pembacanya tidak merasa sedang digurui.
Saya sebenarnya ingin ikut berkomentar di grup. Namun ketika melihat jam, ternyata sudah malam. Saya pun berpikir, kalau sekarang baru ikut berkomentar, rasanya berita serunya sudah kedaluwarsa.
Akhirnya saya hanya tersenyum sendiri sambil membaca kembali beberapa pesan. Terlambat membaca, tetapi tidak terlambat mendapatkan ilmu. Itulah yang saya rasakan .Kadang sebuah pesan memang tidak harus langsung kita respons. Yang lebih penting, pesan tersebut sampai kepada kita pada waktu yang tepat.
Dari Pak Gun saya belajar berbagi ilmu tidak harus selalu melalui ruang kelas, seminar, atau buku tebal. Ilmu bisa datang dari kolam renang, percakapan sederhana, gerakan yang dicontohkan, sebuah chat di grup yang kita baca setelah pekerjaan selesai.
Dan yang paling penting, ilmu tersebut akan menjadi berarti apabila kita mau mempraktikkannya. Saya pun kembali teringat pada teman-teman di kolam. Mereka datang dengan cerita kesehatan masing-masing, ingin mengurangi rasa sakit, ingin tubuh lebih kuat, ingin kembali aktif, ingin menjaga kesehatan agar tetap bisa mendampingi keluarga.
Tujuannya berbeda-beda, tetapi ada satu kesamaan yaitu Kami ingin sehat. Mungkin itulah alasan mengapa kolam renang terasa begitu istimewa. Di sana kami tidak hanya belajar menggerakkan tangan dan kaki, belajar mendengarkan tubuh, belajar bersabar, belajar konsisten, belajar kesehatan tidak bisa diperoleh hanya dalam satu atau dua kali latihan. Kesehatan membutuhkan kebiasaan, kemauan, kesadaran dari dalam diri sendiri.
Mungkin benar apa yang sering disampaikan Pak Gun, bahwa tubuh kita perlu diajak bergerak. Jangan menunggu sakit baru mulai peduli. Jangan menunggu tubuh memberi tanda keras baru kita memperhatikan pola hidup.
Mulailah dari hal kecil, bergerak, berolahraga, menjaga makanan dan minuman. Beristirahat, menjaga pikiran, menjaga hati, menjaga perasaan. Saya mungkin terlambat membaca pesan Pak Gun. Tetapi saya justru mendapatkan pelajaran yang lebih dalam.
Terlambat membaca bukan berarti terlambat belajar. Dan sebuah pesan sederhana di grup WhatsApp ternyata bisa menjadi pengingat besar, kesehatan adalah investasi yang harus dijaga setiap hari. Terima kasih, Pak Gun. Terima kasih sudah tidak bosan berbagi ilmu. Terima kasih sudah mengajarkan kesehatan bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan gerakan.
Semoga kami semua bukan hanya rajin membaca pesan kesehatan di grup, tetapi juga rajin mempraktikkannya. Karena pada akhirnya, kesehatan bukan sekadar pengetahuan. Kesehatan adalah kebiasaan yang kita lakukan setiap hari.
Malam ini sambil tersenyum merasa ketinggalan “berita seru” di grup, saya kembali menyadari satu hal yaitu Tidak apa-apa menjadi pembaca terakhir, selama kita tetap menjadi pelaku yang tidak pernah berhenti menjaga kesehatan.
Cepu, 13 Agustus 2026
Sebuah Tawa
Karya: Gutamining Saida
Ada kalanya sebuah pertemuan tidak perlu dirancang dengan istimewa untuk meninggalkan kesan yang mendalam. Tidak harus ada acara besar, permainan yang meriah, atau pembelajaran dengan media yang penuh warna. Kadang-kadang, sebuah kalimat sederhana yang terlontar tanpa sengaja justru mampu membuka kembali pintu kenangan yang sempat tertutup.
Kamis saya mendapat tugas piket di kelas 8F. Saya masuk ke kelas bukan sebagai guru yang membawa jadwal pembelajaran seperti biasanya. Saya datang untuk menggantikan guru yang berhalangan hadir. Mata pelajaran yang kosong adalah Seni Budaya. Ada sesuatu yang lebih menarik daripada sekadar menggantikan guru yang tidak hadir.
Saya kembali bertemu dengan anak-anak kelas 8F. Sudah sebulan saya tidak pernah berdiri di depan mereka. Sejak awal tahun pembelajaran 2026–2027, saya memang tidak mendapatkan jadwal mengajar di kelas 8F. Hari-hari berlalu begitu saja. Saya hanya sesekali bertemu dengan mereka ketika berpapasan di halaman sekolah.
Kadang ada yang menyapa. Kadang hanya saling melempar senyum. Kadang saya melihat mereka dari kejauhan ketika sedang berjalan menuju kelas masing-masing. Pertemuan di halaman tentu berbeda dengan pertemuan di dalam kelas. Di halaman, kami hanya bertemu beberapa detik. Tidak ada kesempatan untuk bertanya, bercanda, atau melihat ekspresi mereka lebih lama.
Ketika kaki saya melangkah masuk ke kelas 8F, ada perasaan yang sulit dijelaskan. Rasanya seperti kembali ke sebuah ruang yang pernah begitu akrab. Mereka tampak menyadari kehadiran saya. Saya melihat wajah-wajah yang sebenarnya masih saya kenali. Ada yang langsung tersenyum, memperhatikan, mungkin masih menyimpan kebiasaan-kebiasaan kecil mereka ketika saya mengajar dahulu.
Bertemu di halaman berbeda banget sama ketemu di kelas. Di halaman cuma sebentar. Kami tidak sempat ngobrol, bercanda, atau lihat ekspresi mereka lebih lama. Jadi waktu saya melangkah masuk ke kelas 8F pagi itu, rasanya balik ke tempat yang dulu akrab banget, tapi belakangan menjadi agak jauh.
Saya kemudian bertanya kepada mereka,
“Bagaimana kabar kalian?”
Ada satu suara yang nyeletuk dari salah satu sudut kursi belakang. Saya langsung mengenali suara itu. "Zio" menjawab dengan suara lantang, Anak yang memang sering komentar spontan. Kadang jawabannya membuat kelas jadi hidup.
“Sehat, Paak!”
Sejenak kelas hening. Lalu…Hahaha!
Seketika satu kelas tertawa. Tidak ada aba-aba. Tidak ada yang memimpin. Tidak ada komando. Tawa itu muncul begitu saja, seperti air yang tiba-tiba mengalir setelah bendungan dibuka. Zio sendiri ikut tertawa. Wajahnya tampak santai. Tidak terlihat sedikit pun ekspresi bersalah. Seolah-olah ia tidak merasa salah. Saya pun tidak bisa menahan senyum. Saya memandang ke arah Zio.
“Lho… memangnya saya lelaki?” tanya saya.
Zio tersenyum. “Maaf, Bu,” jawabnya sambil tetap tersenyum.
Jawaban sederhana itu justru semakin membuat suasana kelas hangat. Saya ikut tertawa. Anak-anak pun kembali tertawa. Saya sedang menemukan kembali sebuah kebersamaan yang sempat hilang. Sebulan tidak bertemu dalam pembelajaran ternyata membuat pertemuan terasa begitu berarti. Saya melihat wajah-wajah mereka yang dahulu setiap minggu ada di depan saya. Saya mendengar kembali suara-suara khas mereka. Saya melihat senyum yang mungkin selama ini hanya saya jumpai sekilas di halaman sekolah.
Ada aura bahagia yang tiba-tiba tercipta. Tawa Zio menjadi pemantik. Kalimat “Sehat, Paak!” yang sebenarnya salah sebut justru menjadi pintu pembuka sebuah pertemuan yang hangat. Betapa seringnya kita sebagai guru terlalu sibuk mengejar target pembelajaran, menyelesaikan materi, memberikan tugas. Mengoreksi pekerjaan siswa. Mengisi administrasi. Semua itu memang penting.
Tetapi terkadang kita lupa bahwa di balik semua proses tersebut ada manusia-manusia kecil yang sedang bertumbuh, membutuhkan ruang untuk tertawa, membutuhkan guru yang bisa tersenyum bersama mereka, membutuhkan suasana kelas yang membuat mereka merasa diterima.
Bagi saya, tawa mereka adalah hadiah. Ada rasa kangen yang sedikit terobati. Mungkin Zio bakal lupa tugas yang saya berikan. Teman-temannya juga mungkin nggak ingat detail obrolan setelahnya. Saya berharap mereka nggak lupa satu hal, pagi itu kita pernah ketawa bareng. Kamis pagi yang paling terasa bukan cuma sehat, tapi bahagia. Sampai jumpa lagi.
Cepu, 13 Agustus 2026








.jpeg)