Rabu, 09 September 2026

Najwa Aisyah Zaara

 


Karya: Gutamining Saida

Suara riuh di koridor kelas VIIIB selalu menyimpan kehangatan tersendiri setiap paginya. Di antara derap langkah dan tawa para siswa yang bersahut-sahutan menyambut dimulainya jam pelajaran, ada satu sosok yang kehadirannya selalu berhasil menyita perhatian. Siswi tersebut adalah Najwa Aisyah Zaara, seorang remaja putri asal Nglanjuk yang membawa pesona serta keceriaan tersendiri di lingkungan sekolah.

Najwa memiliki paras yang sungguh cantik dan menawan. Rona wajahnya yang begitu bersih dan terawat memberikan kesan yang sangat segar, membuat siapa saja yang memandangnya merasa teduh dan nyaman. Keelokan rupa itu semakin sempurna manakala ia melangkah menyusuri lorong sekolah. Senyum manisnya yang tulus hampir tidak pernah absen membingkai bibirnya, seolah-olah keceriaan senantiasa menghias dan menuntun di setiap pijakan langkah kakinya. Penampilannya yang rapi berpadu dengan raut wajahnya yang elok menjadikan sosok Najwa sangat anggun dan elok dipandang.

Kistimewaan Najwa tidak hanya terletak pada penampilan fisiknya saja. Ciri khas paling memikat dari dirinya justru hadir dari kelantangan suaranya. Najwa memiliki vokal yang keras dan melengking, mencerminkan karakter anak muda yang terbuka, dan penuh rasa percaya diri. Ketika ia sedang asyik berbincang atau memberikan komentar di luar ruang kelas, gema suaranya dapat terdengar begitu jelas menembus keriuhan selasar. Tak jarang, sebelum saya melangkahkan kaki memasuki pintu kelas VIIIB, suara melengkingnya yang khas sudah lebih dulu menyapa udara. Suara itu begitu akrab di telinga, hingga secara refleks membuat saya sering kali menghentikan langkah dan mencari-cari dari sudut mana keceriaan itu berasal sebelum kelas dimulai.

Di balik suaranya yang nyaring dan sifatnya yang riang di luar ruang belajar, Najwa menunjukkan kesungguhan yang luar biasa tatkala bel pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dimulai. Di dalam kelas, ia menjelma menjadi seorang murid yang sangat tertib, dan penuh tanggung jawab. Najwa tidak pernah menunda-nunda pekerjaan. Ia selalu rajin menyelesaikan setiap tugas yang diberikan dengan hasil yang memuaskan. Tatkala materi IPS disampaikan, matanya menyimak dengan saksama, sementara tangannya dengan cekatan mencatat setiap detail dan hal-hal penting di buku tulisnya. Rasa ingin tahu serta kedisiplinannya dalam belajar menunjukkan dedikasi yang sangat tinggi terhadap pendidikannya.

Najwa Aisyah Zaara adalah gambaran utuh dari seorang siswi yang seimbang. Keindahan paras, kehangatan senyuman, serta keunikan suaranya di luar kelas berpadu harmonis dengan ketekunan serta keseriusannya di meja belajar. Kehadiran siswi cantik dari Nglanjuk ini tidak hanya menghidupkan dinamika kelas VIIIB, tetapi juga menjadi salah satu warna indah yang selalu memberi semangat dalam lembaran rutinitas mengajar sehari-hari.

Cepu, 10 September 2026

Sabya Indah Listiyani

 

Karya: Gutamining Saida

Lingkungan sekolah selalu memiliki warna dan nadanya sendiri. Udara yang masih menyisakan kesejukan sisa malam seolah berpadu dengan derap langkah kaki-kaki kecil yang berlarian menyusuri selasar kelas. Menjadi seorang pendidik, rutinitas pagi ini adalah sebuah kanvas kehidupan yang senantiasa dinikmati dengan penuh rasa syukur. Setelah menempuh perjalanan membelah angin pagi, memacu kendaraan melintasi rute menuju sekolah. Rasa lelah terkadang sempat singgah sejenak di pundak. 

Segala penat itu selalu memiliki cara ajaib untuk menguap, terhapus seketika oleh semaraknya kehidupan khas anak-anak usia menengah pertama yang begitu murni dan jujur. Di antara ratusan wajah yang menghiasi lorong-lorong dan ruang kelas itu, ada satu presensi yang selalu berhasil mencuri perhatian dan menghangatkan hati. 

Sabya Indah Listiyani adalah salah satu siswi yang duduk di bangku kelas VIIIB. Kehadirannya di sekolah tidak pernah luput dari pandangan, bukan semata-mata karena ia berada di lingkungan kelas tempat saya berbagi ilmu.  Energi luar biasa yang selalu ia bawa ke mana pun ia melangkah. Apabila harus merangkum sosok Sabya, kata pertama yang paling pantas untuk mendeskripsikannya  'lincah'. 

Ia seolah memiliki pegas tak kasat mata di kedua kakinya, selalu bergerak dengan kelincahan seorang anak yang sedang merayakan indahnya kehidupan itu sendiri. Tidak pernah sekalipun saya menangkap gurat kesedihan, keluhan, atau kemurungan di wajahnya. Dunia di mata Sabya sepertinya adalah sebuah taman bermain yang luas, penuh dengan hal-hal menakjubkan yang patut disambut dengan gegap gempita dan antusiasme tanpa batas.

Rutinitas pertemuan kami di sekolah pun selalu memiliki koreografinya sendiri yang unik dan mengesankan. Tidak peduli di sudut mana kami berpapasan entah itu di ujung kelas yang ramai, di dekat gerbang sekolah saat senyum pagi merekah, atau di lapangan tatkala jam istirahat tiba. 

Sabya selalu menjadi pihak yang pertama kali menyapa. Ia tidak sekadar mengangguk pelan atau tersenyum malu-malu sambil menunduk seperti kebanyakan anak seusianya. Sebaliknya, ia akan setengah berlari menghampiri, melambaikan tangannya dengan semangat yang meluap-luap, dan berteriak nyaring memanggil-manggil nama saya dari kejauhan.

Panggilannya yang penuh suka cita itu bukan sekadar formalitas seorang murid kepada gurunya, melainkan sebuah sapaan tulus yang merambat bagai gelombang hangat, menembus keriuhan sekolah dan langsung menyentuh relung hati.

Penampilan fisik Sabya juga memiliki daya tarik dan keunikan yang membuatnya semakin istimewa di mata siapa saja yang memandangnya. Ia memiliki rona kulit sawo matang yang eksotis, tipikal kecantikan sejati anak-anak Nusantara yang bersahabat dengan hangatnya sinar matahari saat beraktivitas di luar ruangan. 

Warna kulitnya itu tampak begitu sehat dan berseri-seri, membingkai wajahnya yang selalu memancarkan binar kegembiraan. Di atas hidungnya, bertengger sebuah kacamata minus yang seolah menjadi ciri khas tak terpisahkan dari identitasnya. Bingkai kacamata tersebut sering kali sedikit melorot manakala ia sedang tertawa terbahak-bahak atau bergerak cepat, memaksanya untuk mendorong kacamata itu kembali ke atas dengan gerakan yang teramat natural dan menggemaskan. Kacamata itu sama sekali tidak menutupi keceriaannya, justru memberikan kesan cerdas yang berpadu apik dengan sifat jenakanya.

Pesona yang paling memukau dari seorang Sabya Indah Listiyani adalah senyumannya. Setiap kali ia menyapa, merespons pertanyaan, atau sekadar mendengarkan sebuah cerita di kelas, bibirnya akan melengkung membentuk senyuman paling lebar, memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih dan terawat dengan baik. Kontras antara kulit sawo matangnya dan kilau gigi yang seputih mutiara itu menciptakan sebuah harmoni visual yang membuat penampilannya semakin menarik dan tak terlupakan. Senyuman seolah memancarkan cahaya tersendiri. Sebuah sinyal tak bersuara yang menegaskan  hari ini adalah hari yang baik dan tidak ada ruang untuk berkeluh kesah.

Di dalam ruang kelas VIIIB, semangat sekolahnya benar-benar terasa menghidupkan suasana. Ketika pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial tengah berlangsung, membahas dinamika masyarakat hingga sejarah masa lampau, Sabya bukanlah tipe siswa yang pasif. Matanya di balik lensa kacamata itu selalu berbinar-binar menyiratkan rasa ingin tahu yang besar. 

Kelincahannya bukan sekadar gerak fisik, melainkan cerminan dari kelincahan berpikirnya. Ia merespons segala hal dengan semangat yang sering kali menular kepada teman-temannya yang lain. Bagi seorang pendidik yang telah menyaksikan pergantian generasi dan berbagai macam karakter murid, menemukan seorang anak yang tangguh secara mental dan dibalut dalam keceriaan murni seperti Sabya adalah sebuah oase yang sangat menyegarkan.

Menatap wajahnya yang selalu riang dan mendengarkan suaranya yang melengking ceria saat memanggil dari ujung selasar, diam-diam menjadi semacam pengingat personal. Anak-anak seperti Sabya adalah alasan utama mengapa profesi mendidik ini begitu indah. Mereka bukan sekadar hadir untuk menimba ilmu. Ia membawa energi positif yang mampu mengusir kepenatan orang dewasa di sekitarnya. 

Kelak, ketika lembaran-lembaran ingatan ini dirajut dan dikumpulkan menjadi sebuah naskah tulisan utuh untuk diwariskan kepada anak cucu, nama Sabya Indah Listiyani pasti akan menempati satu ruang cerita tersendiri. Ia akan abadi sebagai sebuah memori manis. Ia dengan langkah lincah dan senyum putih bersihnya, selalu berhasil merayakan sekolah layaknya sebuah panggung kegembiraan yang tak pernah sepi.

Cepu, 10 September 2026

Juna Arya Sismanto

 


Karya: Gutamining Saida

"Mimpi boleh jauh. Langkah boleh perlahan. Yang penting, terus bergerak menuju tujuan."

Setiap anak memiliki mimpi. Ada yang sudah tahu ingin menjadi apa, ada pula yang masih mencari arah. Tugas orang dewasa bukan menentukan mimpi mereka, tetapi membantu agar mimpi itu memiliki jalan untuk diwujudkan.

Juna Arya Sismanto nama lengkap dari kedua orang tuanya. Saya biasa menyapanya dengan nama Juna. Saya mengenalnya cukup dekat karena ketika kelas tujuh, saya mendapat amanah sebagai wali kelasnya. Selama menjadi wali kelas, saya melihat Juna sebagai anak yang memiliki semangat belajar dan kelebihan yang cukup menonjol, terutama dalam mata pelajaran Bahasa Inggris.

Kemampuannya dalam Bahasa Inggris tidak datang begitu saja. Juna mengikuti kursus di kampung Inggris saat liburan. Tujuannya agar semakin mampu menggunakan Bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari. Ia tidak hanya ingin mendapatkan nilai yang bagus di sekolah, tetapi juga ingin memiliki kemampuan yang bisa digunakan dalam kehidupan nyata.

Menurut saya, hal tersebut merupakan sesuatu yang baik. Belajar bahasa bukan sekadar menghafalkan kosakata atau mengerjakan soal. Bahasa adalah alat untuk berkomunikasi. Dengan menguasai bahasa asing, seseorang memiliki kesempatan untuk berkomunikasi dengan lebih banyak orang dan mengenal dunia yang lebih luas.

Juna pernah bercerita tentang mimpinya untuk pergi ke Negeri Sakura, Jepang. Mimpi itu mungkin terdengar sederhana bagi sebagian orang.  Sebuah mimpi yang diucapkan seorang anak adalah sesuatu yang patut dihargai.

Saya masih teringat ketika sedang mengajar materi tentang negara maju. Saat pembelajaran sampai pada pembahasan Jepang, Juna langsung bertanya kepada saya,

“Bu, apakah harus bisa bahasa Jepang?”

“Iya,” jawab saya singkat.

“Saya sudah bisa Bahasa Inggris, Bu.”kata Juna dengan percaya diri, 

“Bagus!” jawab saya.

Saya kemudian menjelaskan kepadanya Bahasa Inggris merupakan bahasa internasional yang banyak digunakan di berbagai negara. Dengan kemampuan Bahasa Inggris, seseorang akan lebih mudah berkomunikasi ketika berada di luar negeri.

Jika tujuan Juna benar-benar ingin pergi ke Jepang, tentu akan lebih baik jika ia juga memiliki bekal Bahasa Jepang. Jepang memiliki bahasa nasional sendiri. Masyarakatnya tentu lebih nyaman menggunakan Bahasa Jepang dalam kehidupan sehari-hari.

Saya mengatakan kepadanya, tidak ada salahnya mempersiapkan diri sejak sekarang. Kalau suatu saat benar-benar mendapatkan kesempatan pergi ke Jepang, kemampuan Bahasa Inggris akan menjadi bekal yang baik, sedangkan Bahasa Jepang akan menjadi bekal tambahan yang sangat berguna.

Saya melihat Juna cukup antusias ketika membicarakan hal tersebut. Dari pertanyaan sederhananya, saya menangkap bahwa ia memiliki rasa ingin tahu yang besar. Ia tidak hanya belajar untuk hari ini, tetapi sudah mulai memikirkan kebutuhan di masa depan.

Di situlah pentingnya sebuah mimpi. Mimpi membuat seseorang memiliki tujuan. Ketika seseorang memiliki tujuan, ia akan lebih mudah menentukan langkah yang harus dilakukan. Juna tinggal di Sambong. Di daerah tempat tinggalnya sebenarnya terdapat sekolah tingkat SMP. Dia memilih bersekolah di SMP yang berada di Cepu. Pilihan itu tentu memiliki pertimbangan tersendiri.

Setiap hari setelah sekolah, Juna pulang ke rumah neneknya yang berada di Cepu. Jarak dan aktivitas sehari-hari menjadi bagian dari perjuangannya dalam mendapatkan pendidikan yang ia inginkan. Cepu sebagai daerah perkotaan memiliki berbagai fasilitas yang dapat menunjang kegiatan belajar. Tidak hanya sekolah, tetapi juga tersedia berbagai tempat kursus dan kegiatan pengembangan diri. Anak-anak dapat mengikuti les mata pelajaran untuk membantu meningkatkan kemampuan akademiknya. Selain itu, ada pula berbagai kegiatan lain seperti kursus musik, renang, dan keterampilan lainnya.

Lingkungan seperti itu tentu memberikan banyak pilihan untuk mengembangkan kemampuan. Saya melihat pilihannya untuk bersekolah di Cepu bukan sekadar memilih tempat belajar. Ada keinginan untuk mendapatkan lingkungan yang lebih luas dan kesempatan yang lebih banyak. Ia ingin memanfaatkan fasilitas yang tersedia untuk mempersiapkan dirinya menghadapi masa depan.

Saat ini mimpi pergi ke Jepang masih sebatas cerita seorang anak kepada gurunya. Belum tentu kapan mimpi itu akan terwujud. Saya percaya bahwa setiap mimpi yang disertai usaha memiliki kemungkinan untuk menjadi kenyataan.

Tidak ada yang tahu seperti apa perjalanan Juna beberapa tahun mendatang. Bisa jadi ia benar-benar menginjakkan kaki di Jepang. Bisa jadi ia melanjutkan pendidikan di tempat yang jauh dari rumah. Bisa jadi kemampuan Bahasa Inggris yang sekarang dipelajarinya menjadi bekal penting dalam pekerjaannya kelak.

Atau mungkin jalan hidupnya membawa Juna kepada sesuatu yang saat ini belum pernah ia bayangkan. Sebagai seorang guru, saya tidak memiliki kuasa untuk menentukan masa depannya. Saya hanya bisa memberikan dorongan, menjawab pertanyaannya, dan menanamkan keyakinan bahwa belajar adalah salah satu jalan untuk membuka kesempatan.

Anak yang hari ini duduk di bangku kelas delapan. Beberapa tahun lagi akan menjadi orang dewasa yang menentukan jalan hidupnya sendiri. Maka, jangan pernah meremehkan mimpi seorang anak. Bisa jadi pertanyaan sederhana yang ia sampaikan di dalam kelas adalah awal dari perjalanan yang panjang. Semoga Juna terus belajar, terus berusaha, dan tidak takut memiliki mimpi yang tinggi. Masa depan memang belum terlihat. Tetapi masa depan dapat dipersiapkan mulai dari hari ini. Semoga tercapai cita-citamu. Semangat...

Cepu, 10 September 2026





Bersama Ibu-ibu Bermutu


Karya: Gutamining Saida

Rabu pagi, grup Musa Swimming Squad 2 kembali mendapat sapaan dari Pak Gun. Beliau menulis, “Saya nanti sore di kolam.” Kabar tersebut tentu menjadi berita menggembirakan bagi ibu-ibu yang ingin berlatih dan menjaga kesehatan bersama. Meskipun Rabu bukan jadwal khusus untuk latihan kami, Pak Gun tetap memberikan kesempatan kepada siapa saja yang ingin datang ke kolam. Beliau bersedia hadir untuk berbagi ilmu dan mengondisikan kegiatan apabila ada ibu-ibu yang datang.

Tidak lama kemudian, beberapa ibu langsung memberikan tanggapan.

“Alhamdulillah, sehat, Pak,” tulis Bu Rini.

“Sehat, Pak!” jawab Bu Aci.

Percakapan sederhana di dalam grup itu menunjukkan bahwa ibu-ibu menyambut kabar tersebut dengan penuh semangat. Kemudian ada yang bertanya, “Adakah nanti yang ke kolam?”

“Ada, Bu."jawab Bu Asih.

"Ya, Bu siap menemani,” jawab Mbak Ima.

Saya hanya membaca percakapan tersebut dalam diam. Tidak ikut memberikan komentar ataupun memastikan akan datang. Bukan karena tidak ingin berenang, tetapi hari Rabu merupakan jadwal mengajar saya yang cukup padat. Sejak pagi hingga siang, kegiatan di sekolah terasa penuh. Setelah menyelesaikan tugas mengajar, tubuh tentu membutuhkan istirahat.

Saya sebenarnya ada keinginan untuk datang ke kolam. Saya membayangkan akan bertemu dengan ibu-ibu yang lain. Pasti suasananya ramai, penuh canda, dan menyenangkan. Hanya saja, rasa lelah dan malas terkadang lebih mudah memenangkan hati daripada keinginan untuk bergerak.

Sore hari pun tiba. Ketika saya masih mempertimbangkan untuk pergi atau tidak, tiba-tiba sang anak bertanya singkat, “Gak ke kolam?”

Pertanyaan itu sederhana, justru mampu menggugah semangat saya. Saya seperti diingatkan kembali bila ingin  sehat membutuhkan usaha. Kalau hanya menunggu tubuh benar-benar segar atau menunggu rasa malas hilang, mungkin saya tidak akan pernah berangkat.

Akhirnya saya memutuskan untuk bersiap. Sesampainya di sana, sudah ada beberapa ibu yang datang. Dari kejauhan, mereka menyambut dengan senyum yang terlihat begitu bahagia. Senyum sederhana  terasa menyejukkan hati. Rasa lelah setelah seharian mengajar seolah perlahan berkurang ketika melihat wajah-wajah yang akrab dan penuh semangat.

Sore itu terasa berbeda. Kami datang bukan hanya untuk berolahraga, tetapi juga untuk bertemu, berbagi cerita, dan saling memberikan semangat. Kolam renang menjadi tempat bertemunya orang-orang yang memiliki tujuan yang sama, yaitu berusaha menjaga kesehatan sambil menikmati kebersamaan.

Pak Gun pun datang menghampiri kami. Meskipun sebenarnya hari itu bukan jadwal khusus bersama ibu-ibu, beliau tetap bersedia meluangkan waktu. Hal tersebut membuat saya kembali mengagumi sosok Pak Gun. Beliau tidak pelit ilmu dan tidak menghitung-hitung waktu ketika ada kesempatan untuk berbagi. Bagi beliau, membantu orang lain agar lebih sehat dan mampu berenang merupakan sesuatu yang menyenangkan.

“Apa kabar, ibu-ibu? Sehat semua?”sapa pak Gun dengan ramah dan senyum.

“Alhamdulillah sehaaaaat!” jawab kami hampir bersamaan tanpa ada yang memberikan komando.

Suasana pun menjadi semakin akrab. Pak Gun kemudian berkata dengan nada bercanda, “Ini kelompok ibu-ibu bermutu, ya?”

“Betul, Pak!” jawab kami.

Ternyata yang dimaksud dengan ibu-ibu “bermutu” adalah ibu-ibu yang sudah memiliki cucu. Candaan tersebut membuat suasana semakin hangat. Kami pun tertawa sambil membicarakan jumlah cucu masing-masing.

Pak Gun kemudian menunjuk deretan ibu-ibu yang berada di sebelah kanan sambil bertanya, “Njenengan berapa?”

“Empat!”

“Tiga!”

“Dua!”

Jawaban tersebut terdengar bersahutan. Ada yang sudah memiliki empat cucu, tiga cucu, dan dua cucu. Masing-masing menyebutkan dengan penuh kebanggaan dan rasa syukur.

Pak Gun kemudian mengatakan, “Alhamdulillah, cucu itu warisan yang berharga, nggih.”

Kalimat tersebut membuat saya diam sejenak. Memang benar, cucu merupakan salah satu anugerah yang begitu berharga. Kehadiran mereka menjadi bagian dari perjalanan kehidupan yang panjang. Dahulu kita sibuk membesarkan anak-anak. Mengasuh mereka, mengantar sekolah, memenuhi kebutuhan mereka, serta mendampingi mereka melewati berbagai tahap kehidupan. Tanpa terasa, anak-anak tumbuh dewasa dan memiliki kehidupan sendiri. Kemudian hadir generasi berikutnya yang membuat kehidupan keluarga terasa semakin lengkap.

Cucu bukan hanya tentang bertambahnya anggota keluarga. Kehadiran mereka juga menjadi pengingat jika waktu terus berjalan. Usia bertambah, anak-anak tumbuh, dan kehidupan terus berganti generasi.Oleh karena itu, menjaga kesehatan menjadi sesuatu yang penting. Bukan semata-mata agar dapat berenang atau melakukan aktivitas fisik, tetapi agar kita masih diberi kesempatan untuk menikmati kebersamaan bersama keluarga, anak-anak, dan cucu-cucu.

Saya semakin memahami kesehatan tidak selalu harus ditempuh dengan cara yang rumit. Kadang-kadang, kemauan untuk bergerak, berkumpul dengan orang-orang yang positif, belajar sesuatu yang baru, serta menikmati suasana dengan hati yang bahagia juga menjadi bagian dari ikhtiar menjaga diri.

Saya bersyukur telah mengalahkan rasa malas sore itu. Jika saya memilih tetap di rumah karena lelah, saya tentu akan kehilangan suasana hangat bersama ibu-ibu. Saya mungkin juga tidak akan mendengar candaan tentang “ibu-ibu bermutu” dan tidak akan mendapatkan pelajaran sederhana tentang arti berbagi dari Pak Gun.

Kebaikan akan terasa lebih indah ketika dilakukan dengan ikhlas. Pak Gun berbagi waktu dan ilmu tanpa mempermasalahkan apakah hari itu merupakan jadwalnya atau bukan. Beliau hadir karena ingin berbagi. Dari sikap tersebut, saya belajar bahwa ilmu yang dibagikan tidak akan berkurang. Justru ketika ilmu diberikan kepada orang lain, manfaatnya dapat menjadi lebih luas.

Berbagi waktu, berbagi ilmu, berbagi pengalaman, bahkan sekadar berbagi senyum, semuanya dapat menjadi kebaikan. Kita tidak pernah tahu, mungkin bagi seseorang sebuah sapaan sederhana atau senyum tulus dapat menjadi penyemangat di tengah rasa lelahnya.

Mungkin suatu hari nanti tubuh kita tidak lagi sekuat sekarang. Gerakan yang hari ini terasa ringan bisa jadi menjadi sesuatu yang sulit dilakukan. Oleh karena itu, selagi Allah Subhanahu Wata'alla masih memberikan kesehatan dan kesempatan, mari kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Pada akhirnya, yang paling berharga dalam hidup bukanlah seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, melainkan seberapa banyak kebaikan yang sempat kita berikan dan seberapa banyak kebahagiaan yang pernah kita bagikan kepada orang lain.

Cepu,  10 September 2026

Senin, 07 September 2026

Refresing Tipis-tipis

 


Karya: Gutamining Saida

Senin, 31 Agustus 2026, seharusnya menjadi hari biasa seperti hari-hari lainnya. Ternyata  hari  Senin kali ini  memiliki cara sendiri untuk menghadirkan cerita. Kami mendapat undangan makan siang di Warung Makan Jendil, milik Pak Pin, yang terkenal dengan menu iwak gawan. Undangan makan siang tentu menyenangkan. Kami menemukan satu keseruan lain yang justru menjadi pembuka cerita hari itu.

Kami melihat sebuah perahu yang siap membawa siapa saja menyusuri aliran Bengawan Solo. Tanpa banyak berpikir, kami berempat sepakat memanfaatkan kesempatan tersebut. Kapan lagi bisa menikmati Bengawan Solo dari atas perahu dengan suasana yang masih begitu alami?

Perahu itu terlihat sederhana. Tidak ada kemewahan, tidak ada fasilitas yang berlebihan. Kesederhanaan itulah yang membuatnya menarik. Perahu akan berangkat setelah ada penumpang. Berapa pun jumlahnya, tetap siap mengantar siapa saja yang ingin menikmati perjalanan menyusuri air bengawan Solo.

Kami pun naik. Perahu mulai bergerak perlahan meninggalkan tepian. Suara mesin terdengar menemani perjalanan. Air Bengawan Solo terbelah oleh laju perahu, menciptakan riak-riak kecil yang bergerak ke belakang. Perlahan suasana di daratan terasa menjauh.

Ada sensasi berbeda ketika melihat alam dari atas air. Jika selama ini kita hanya melihat Bengawan Solo dari pinggir. Kami bisa merasakan bagaimana rasanya berada di tengah alirannya. Pemandangan yang selama ini mungkin luput dari perhatian tiba-tiba menjadi begitu menarik.

Pepohonan tumbuh menghijau di tepian. Beberapa bagian masih terlihat alami, seolah belum banyak tersentuh tangan manusia. Hamparan alam itu menghadirkan kesejukan tersendiri. Tidak ada hiruk-pikuk kendaraan. Tidak ada suara bising perkotaan yang mendominasi. Yang ada hanyalah aliran air, hembusan angin, pepohonan, dan suara kami berempat yang sesekali pecah oleh tawa.

Kami pun tidak menyia-nyiakan kesempatan. Kamera dan ponsel mulai diarahkan ke berbagai sudut. Ada yang berfoto sendiri, berfoto berdua, kemudian tentu saja foto bersama. Bukan karena kami ingin terlihat hebat, tetapi karena kami ingin mengabadikan sebuah kebersamaan sederhana yang suatu hari nanti mungkin akan sangat dirindukan.

Bukankah kenangan sering kali lahir dari hal-hal sederhana? Bukan dari perjalanan mahal. Bukan dari tempat mewah. Bukan pula dari sesuatu yang harus direncanakan berbulan-bulan. Terkadang kebahagiaan justru muncul ketika kita mau berhenti sejenak dari rutinitas, melihat sekeliling, kemudian berkata, “Mengapa tidak kita coba?”

Perjalanan dengan perahu itu menjadi pengingat bagi kami  menikmati hidup tidak harus selalu mahal. Dengan ongkos yang sangat ramah di kantong, cukup Rp10.000 per orang, kami sudah bisa mendapatkan pengalaman yang mungkin nilainya jauh lebih besar daripada uang yang kami keluarkan.

Sepuluh ribu rupiah berubah menjadi perjalanan. Perjalanan berubah menjadi pemandangan. Pemandangan berubah menjadi cerita. Cerita berubah menjadi kenangan. Itulah yang membuat sebuah pengalaman terasa mahal, meskipun harganya murah.

Semakin jauh perahu bergerak, semakin kami menikmati suasananya. Angin yang menerpa wajah seperti membawa pergi sejenak kepenatan yang selama ini menumpuk. Rasanya seperti diberi kesempatan untuk menarik napas lebih panjang.

Kami akhirnya kembali menuju tepian. Perahu perlahan merapat. Perjalanan selesai, tetapi cerita belum berakhir. Setelah turun dari perahu, kami melanjutkan perjalanan menuju Warung Makan Jendil Pak Pin untuk memenuhi undangan makan siang.

Ikan gawan sudah menunggu. Sebelum menikmati hidangan, kami sudah mendapatkan “menu pembuka” yang tidak kalah istimewa yaitu kebersamaan dan pemandangan Bengawan Solo dari atas perahu.

Saya semakin percaya, hidup ini bukan hanya tentang seberapa jauh kita pergi atau seberapa mahal tempat yang kita kunjungi. Hidup adalah tentang bagaimana kita mampu menemukan makna dari setiap perjalanan. Perahu sederhana itu mengajarkan satu hal penting "jangan terlalu sibuk mengejar tujuan sampai lupa menikmati perjalanan."

Kami pulang dengan rasa syukur pernah menikmati satu hari yang sederhana dengan cara yang begitu istimewa. Bengawan Solo mengalir membawa airnya. Kami mengalir membawa cerita serta bahagia.

Cepu, 31 Agustus 2026

Sabtu, 05 September 2026

Masa Kecil Kurang Bahagia


Karya : Gutamining Saida 

Sabtu sore, Bumool seolah sedang mengenakan pakaian terbaiknya. Matahari perlahan condong ke barat. Cahayanya tidak lagi menyengat seperti siang hari. Angin berembus lembut, sementara permukaan kolam berkilauan diterpa cahaya sore.

Air kolam seperti sedang tersenyum. Mungkin ia tahu, sebentar lagi akan datang sekelompok ibu-ibu yang tidak hanya ingin berenang, tetapi juga ingin menitipkan lelahnya kepada air. Satu per satu ibu-ibu datang. Ada wajah-wajah lama yang sudah akrab dengan suasana kolam. Ada pula wajah baru yang membuat rombongan semakin ramai.

Bumool semakin penuh. Suara salam bersahutan. Tawa mulai terdengar. Canda mulai beterbangan.Seolah-olah rasa lelah dari rumah tertinggal di pintu masuk dan tidak diperbolehkan ikut masuk ke kolam.

Sore itu kami berbaris panjang. Dari ujung sampai ujung. Kalau ada yang melihat dari kejauhan, mungkin akan mengira kami sedang mengikuti upacara penting. Padahal kami sedang mempersiapkan diri untuk berperang. Bukan perang melawan manusia. Bukan pula perang melawan musuh. Kami sedang berperang melawan rasa takut, malas, pegal, dan mungkin juga berbagai pikiran yang selama ini memenuhi kepala.

Komandan kami tentu saja Pak Gun. Dengan penuh semangat, aba-aba pun diberikan. Kami bergerak. Gaya bebas dicoba. Gaya dada dicoba, mengapung pun dicoba. Tangan bergerak, kaki menendang, tubuh meluncur, air bergoyang ke sana kemari.

Kolam yang semula tenang berubah menjadi arena penuh gerakan. Seolah-olah air berkata, "Ayo, jangan takut. Percayalah kepadaku."

Kami pun menurut, ada yang meluncur dengan penuh percaya diri, masih ragu-ragu,  gerakannya begitu semangat sampai air pun mungkin kebingungan harus mengalir ke mana. Kami semua tetap mencoba. Kami tahu, tidak ada orang yang langsung pandai hanya dengan sekali mencoba. 

Burung pun harus belajar mengepakkan sayap sebelum mampu terbang. Begitu pula kami, sedang belajar mengalahkan rasa takut sedikit demi sedikit. Tanpa kami sadari, sebenarnya bukan hanya tubuh yang sedang dilatih.  Hati juga sedang dilatih. Belajar percaya, sabar, menerima bahwa setiap orang mempunyai kemampuan dan proses yang berbeda. Ada yang cepat, perlahan, sudah bisa berenang, masih belajar mengapung. Semuanya tetap berada dalam satu kolam yang sama.

Bukankah kehidupan juga demikian? Allah Subhanahu Wata'alla menciptakan manusia dengan jalan yang berbeda-beda. Ada yang hidupnya terlihat mudah. Ada yang harus berjuang lebih keras. Ada yang cepat mendapatkan apa yang diinginkan. Ada yang harus menunggu bertahun-tahun. Kita tetap berada dalam kolam kehidupan yang sama. Masing-masing mempunyai cerita, mempunyai perjuangan.

Masing-masing mempunyai waktu terbaik yang telah Allah Subhanahu Wata'alla tetapkan. Sore semakin berjalan. Latihan semakin seru. Suara tawa semakin sering terdengar. Rasa malu mulai hilang. Yang tersisa hanyalah kegembiraan. Sampai akhirnya kami sampai di penghujung latihan.

Kami pikir, setelah sampai di ujung kolam berarti petualangan selesai. Ternyata kami salah. Pak Gun kembali memberikan instruksi.

"Merapat!" 

Kami pun mendekat. Semakin rapat. Semakin dekat. Air kolam mulai terlihat mencurigakan. Seolah-olah ia sedang menyimpan sebuah rahasia. Kemudian terdengar perintah berikutnya. Kami diminta menepuk-nepuk air. Satu kali. Dua kali. Kemudian semakin ramai. Tangan kami menghantam permukaan kolam. Plak! Plak! Plak!

Air pun seperti terkejut. Ia meloncat-loncat ke udara. Cipratan air mengenai wajah kami. Bukannya marah, kami justru tertawa. Wajah-wajah yang tadinya serius berubah menjadi ceria. Ada yang menghindar. Ada yang terkena cipratan. Ada yang malah sengaja membuat air semakin tinggi. Kolam seolah berubah menjadi taman bermain. Dan tiba-tiba... kami seperti kembali menjadi anak-anak. Tidak ada usia. Tidak ada pekerjaan. Tidak ada jabatan. Tidak ada masalah.Yang ada hanya tawa.

Kemudian Pak Gun kembali memberikan instruksi. Tangan diminta mengambil air. Setelah itu tangan ditarik ke atas.

Byurrrrr! Air jatuh ke wajah. Tawa pun pecah. Bumool sore itu seolah-olah tidak lagi menjadi kolam renang. Ia berubah menjadi mesin waktu. Mengembalikan kami puluhan tahun ke belakang. Ke masa ketika bermain air adalah kebahagiaan.

"Ibu-ibu masa kecil kurang bahagia."ucap Pak Gun

Kami langsung tertawa. Entah itu sindiran. Entah itu candaan. Tetapi mungkin ada benarnya juga. Sebab setelah tua, kita terlalu sibuk mengejar banyak hal. Mengejar pekerjaan, kebutuhan, mengurus keluarga, memikirkan anak. Sampai terkadang lupa bagaimana caranya menikmati hari ini.

Selama Allah Subhanahu Wata'alla masih memberikan kesehatan, teman untuk berbagi, dan kesempatan untuk tertawa, sesungguhnya hidup ini masih menyimpan begitu banyak alasan untuk disyukuri. Bahagia tidak selalu harus dicari jauh-jauh. Kadang ia hanya berjarak beberapa langkah, menunggu kita berani mencelupkan tangan ke dalam air dan tertawa bersama. Alhamdulillah...

Cepu, 6 September 2026 

Jumat, 04 September 2026

Meneng, Mingkem



Karya: Gutamining Saida 
Jum'at sore sudah berlalu. Matahari perlahan tenggelam, suara tawa ibu-ibu di Bumool sudah berganti dengan suasana malam yang lebih tenang. Cerita sore belum benar-benar selesai. Bagi saya ada sesuatu yang masih tertinggal di kepala. Bukan suara air, bukan gerakan renang, bukan pula instruksi Pak Gun.

Tawa yang mungkin bagi orang lain tidak berarti apa-apa, tetapi bagi kami saat di Bumool justru menjadi obat setelah menjalani rutinitas masing-masing. Malam hari saya mencoba menulis. Bukan karena mempunyai tujuan yang muluk-muluk. Saya hanya ingin merefresh kejadian sore hari yang penuh tawa dan bahagia. 

Saya ingin mengabadikannya dalam aksara. Siapa tahu tulisan sederhana itu bisa menjadi hiburan bagi ibu-ibu sambil leyeh-leyeh setelah aktivitas seharian. Bisa dibaca sambil tersenyum, dibaca sambil tertawa. Suatu hari nanti, ketika waktu sudah berjalan begitu jauh, bisa dibuka kembali sebagai sebuah kenangan indah.

“Dulu kita pernah seperti ini…” Betapa bahagianya jika sebuah tulisan mampu mengembalikan kita pada sebuah sore yang sudah lama berlalu. Maka saya menulis,  ceritakan apa yang terjadi, tuliskan tingkah ibu-ibu,  masukkan sedikit kelucuan serta abadikan suasana Bumool. 

Tidak berselang lama, ternyata ada yang membuka. Waaah! Hati saya langsung senang. Ternyata ada yang tertarik. Bagi seorang yang suka menulis, ada pembaca pertama itu rasanya seperti mendapat tepukan kecil di pundak. Apalagi tidak hanya membaca. Tapi ada komentar. Komentar di grup pertama dari Pak Gun. 
“Luar biasa.”
“Pokoke jos jis.”komentar dari bu Isna selanjutnya.

Saya semakin tersenyum. Lalu pak Gun menuliskan sesuatu yang membuat saya berhenti sejenak. “Setiap kata yang muncul bisa jadi tulisan, bisa menjadi sebuah karya istimewa.” Saya membaca kalimat itu berulang-ulang.

Kemudian Bu Pur juga tidak mau ketinggalan. Ikut memberikan komentar di grup. Saya membaca satu demi satu. Saya sengaja tidak langsung membalas. Saya hanya membaca lalu tersenyum. Bahkan beberapa kali senyum-senyum sendiri. Mungkin kalau ada orang melihat saya malam itu, dia akan bertanya, “Bu Saida kenapa tersenyum sendirian?”
Jawabannya sederhana. Saya sedang menikmati kebahagiaan yang berasal dari sebuah tulisan.

Tiba-tiba Pak Gun kembali membuat suasana menjadi semakin menarik. Beliau menulis, “Saya besok mingkem.” Saya langsung membayangkan kejadian esok sore. Mingkem? Benarkah? Pak Gun akan mingkem? Saya mulai berimajinasi. Nanti sore Pak Gun berdiri di pinggir kolam. Ibu-ibu berkumpul. Biasanya suara Pak Gun terdengar memberikan instruksi. “Ayo meluncur…”“Tangan digerakkan…”“Tarik napas…” “Gerakkan kaki…”

Saya membayangkan suasana Bumool nanti sore. Mungkin akan lebih heboh, seru. Mungkin juga akan menjadi cerita baru yang kembali saya tulis malam berikutnya. Karena di Bumool, satu kejadian belum selesai diceritakan, sudah muncul kejadian berikutnya. Begitulah kebersamaan kami.  Cukup kolam, air, teman-teman, dan sedikit humor. Tetapi semakin saya memikirkan semuanya, tiba-tiba hati saya terasa sedikit berbeda.

Suatu saat nanti, yang tersisa hanyalah kenangan dan cerita. Maka biarlah Bumool menyimpan banyak cerita. Biarlah air kolam menjadi saksi. Biarlah tawa kita menjadi bagian dari sore-sore yang pernah indah. Biarlah tulisan-tulisan kecil ini menjadi rumah bagi kenangan. Agar suatu hari nanti, ketika kita membacanya kembali.

Semoga siapa pun yang telah meluangkan waktu membaca tulisan ini diberi kesehatan, umur panjang, kebahagiaan, dan kesempatan menikmati sore bersama orang-orang yang dicintai. Karena mungkin kita tidak pernah tahu…kisah berikut yang kita alami.

Untuk sore nanti… Pak Gun katanya mingkem. Ibu-ibu diperintah tutup mata. Apakah benar? Apakah Pak Gun kuat menahan bicara? Sampai jumpa di Bumool. Mingkemnya Pak Gun, tutup matanya ibu-ibu, dan kejutan apa yang akan terjadi… kita buktikan nanti sore. Bersambung…
Cepu, 5 September 2026

Aura

 


Karya: Gutamining Saida

Lorong-lorong Esmega selalu menyimpan riuh rendah semangat siswa siswi yang tak pernah padam. Sebagai seorang guru IPS yang setiap harinya menempuh perjalanan untuk membersamai para siswa tumbuh dan menemukan jati diri mereka, momen-momen kebetulan di koridor sekolah sering kali menjadi jeda yang paling menyegarkan dari rutinitas mengajar. 

Di sanalah, di antara riuhnya bel pergantian jam dan langkah-langkah kaki yang berlarian, saya sering berpapasan dengan seorang siswi istimewa. Aura namanya. Pertemuan kami belakangan ini memang lebih banyak diwarnai oleh sapaan singkat atau sekadar senyum hangat di antara keramaian selasar kelas. Sebuah rutinitas sederhana yang, entah bagaimana, diam-diam selalu berhasil menerbitkan kehangatan dan rasa syukur di dalam dada.

Melihat Aura yang kini telah berada kelas delapan, tanpa terasa membawa ingatan saya terbang mundur pada setahun yang lalu. Saat itu, ia masih duduk di bangku kelas tujuh dan semesta mempercayakan saya untuk menjadi wali kelasnya. 

Menjadi wali kelas di tingkat Sekolah Menengah Pertama bukanlah sekadar tugas menuntaskan administrasi nilai atau memastikan presensi kehadiran setiap pagi. Jauh dari itu, ia adalah sebuah perjalanan emosional untuk menjadi orang tua kedua bagi mereka yang sedang mencari bentuk kedewasaan. 

Saya mengenali betul bagaimana karakter Aura, keluguannya, senyumnya yang khas, dan ketekunannya yang selalu menonjol saat berada di dalam kelas. Kini, seiring berjalannya waktu dan dinamika penugasan di sekolah, empat orang guru IPS di Esmega yang kebetulan keempatnya adalah perempuan-perempuan tangguh telah berbagi peran. 

Aura tidak lagi berada di kelas tempat saya berdiri di depan papan tulis. Ikatan batin tak kasat mata antara seorang guru dan muridnya sejatinya terbukti jauh lebih kuat daripada sekadar deretan jadwal mata pelajaran di atas kertas.

Aura adalah satu dari sekian banyak sosok yang membuktikan bahwa setiap anak dilahirkan ke dunia dengan warna dan keistimewaannya masing-masing. Di balik sikapnya yang tenang dan bersahaja, ia menyimpan anugerah bakat yang luar biasa dalam menciptakan harmoni garis, warna, dan bentuk. Tangannya begitu terampil menghasilkan karya gambar yang bukan saja memukau secara teknik goresan, tetapi juga terasa sangat hidup dan mampu bercerita tanpa perlu bersuara. 

Hebatnya lagi, ia tidak membiarkan bakat itu mengendap begitu saja atau membiarkannya berlalu menjadi hobi musiman semata. Kesadaran penuh dan semangat yang pantang menyerah, Aura memilih untuk melangkah lebih jauh dengan bergabung dalam ekstrakurikuler melukis di sekolah. Tujuannya sangat jelas dan amat patut diacungi jempol: ia ingin terus bertambah mahir setiap harinya. Menyaksikan hobinya tersalurkan dengan arah yang benar, melihatnya memegang kuas dengan penuh keyakinan dan dedikasi, adalah sebuah kebanggaan tersendiri bagi saya. Ini adalah pesan motivasi tersirat bagi kita semua, bahwa potensi alami sebesar apa pun tetap membutuhkan wadah yang tepat, disiplin, latihan keras, dan ketekunan panjang agar bisa benar-benar mekar secara paripurna.

D tengah hiruk-pikuk jam istirahat yang berlalu begitu singkat, semesta seolah sengaja mengatur langkah kami untuk saling bertemu. Aura menghampiri saya dengan sepasang mata yang berbinar penuh harap, membawa sebuah tantangan yang tak terduga terasa sangat manis. 

Dengan nada yang sedikit mengiba sarat akan keakraban seorang anak kepada sosok ibunya, ia merajuk pelan, "Bu... tolong buatkan kisah cerita saya dong!" Permintaannya begitu tulus, meluncur tanpa tedeng aling-aling dari bibir seorang anak yang sesungguhnya hanya ingin eksistensi, usaha, dan perjalanannya diakui serta diabadikan. Tanpa perlu menimbang, berpikir panjang, saya langsung mengangguk dan memberikan senyum terlebar. "Boleh!" jawab saya singkat namun dengan penuh kemantapan hati.

Kata "boleh" yang terucap saat itu bukanlah sekadar persetujuan basa-basi untuk menyenangkan hati anak kecil, melainkan sebuah komitmen lisan untuk merangkai kata demi kata, mengabadikan sosok Aura dalam sebuah penceritaan. Ada alasan filosofis yang sangat mendalam di balik jawaban singkat saya siang itu. 

Tujuan saya sebenarnya teramat sederhana. Saya hanya ingin membuat orang-orang di lingkungan saya merasa bahagia, dihargai, dan disadari kehadirannya. Kebahagiaan sejati dalam hidup ini sering kali tidak datang dari pencapaian-pencapaian material atau pengakuan monumental yang dielu-elukan banyak orang, melainkan dari kemampuan tulus kita untuk menghadirkan binar kegembiraan di mata orang lain.

Sebuah kebahagiaan tersendiri mengalir begitu hangat dan menentramkan jiwa saat kita menyadari indakan kecil yang kita lakukan. Seperti menggerakkan pena dan menyusun paragraf cerita mampu menjadi alasan seseorang tersenyum lepas. Bagi saya, menuliskan kisah Aura adalah cara untuk merawat ingatan, sebuah upaya berharga untuk mengumpulkan serpihan-serpihan kebaikan harian menjadi jejak karya tulis yang kelak bisa dibaca dan dikenang kembali.

Kisah Aura sejatinya adalah cerminan dari semangat pantang menyerah dalam mengasah nilai diri. Perjalanannya mengajarkan kita .Ketika kita telah menemukan hal yang kita cintai, kita harus memiliki keberanian untuk mengambil langkah ekstra dalam menekuninya. 

Kelak saat ia melangkah keluar menghadapi arena kehidupan yang jauh lebih luas dan menantang dari sekadar koridor sekolah Esmega, tulisan ini akan menjadi penanda waktu. Sebuah pengingat abadi ia pernah menjadi sosok anak perempuan teguh yang penuh dengan mimpi besar, yang setiap goresan karyanya dihargai dengan tulus, dan yang keberadaannya selalu sukses membawa sepercik kebahagiaan bagi orang-orang di sekitarnya. Teruslah melukis masa depanmu dengan warna-warna paling berani, Aura, dan biarkan saya merangkai kisahnya untukmu.

Cepu, 5 September 2026


Kertas Putih


Karya: Gutamining Saida

Di penghujung hari, ketika matahari mulai berada di atas dan udara siang terasa semakin panas, kelelahan biasanya menjadi tamu tak diundang. Situasi yang paling sulit diusir dari ruang kelas. Bagi banyak orang, jam pelajaran terakhir adalah waktu di mana kelopak mata terasa seberat timah. Jarum jam dinding seolah enggan bergerak maju. 

Pemandangan yang tersaji di ruang kelas 8B SMPN 3 Cepu sungguh mematahkan segala stigma tersebut. Ada sebuah energi murni yang tak kasat mata, mengalir deras dan mementahkan segala sisa lelah setelah seharian beraktivitas. 

Sebagai seorang pendidik yang rutin menempuh perjalanan membelah angin demi bisa berdiri di depan kelas. Saya menemukan denyut semangat yang begitu hidup dari anak-anak didik adalah pelipur lara dan bayaran yang jauh lebih berharga dari apa pun.

Mereka menyambut pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dengan mata yang berbinar dan antusiasme yang tak sedikit pun menyurut. Tidak ada satu pun kepala yang tertunduk lesu menahan kantuk di atas meja. 

Sebagai guru yang telah banyak merekam dinamika di ruang kelas. Saya sangat memahami bahwa menjaga ritme konsentrasi anak-anak di usia belasan tahun pada jam-jam rawan membutuhkan kepekaan dan seni tersendiri. 

Ketika saya menangkap adanya sedikit riak penurunan fokus sebuah jeda alami di tengah padatnya materi dan diskusi saya memutuskan untuk mengambil sebuah jalan memutar. Pembelajaran yang sejati tidak selamanya harus terpaku kaku pada teks sejarah atau letak geografis di buku cetak terkadang, ia justru butuh ruang bernapas agar bisa mekar dalam bentuk yang sama sekali tidak terduga.

Tanpa banyak bicara, saya mulai berjalan mengelilingi deretan meja kayu, membagikan selembar kertas kosong kepada setiap siswa. Kertas-kertas putih bersih itu berpindah dari tangan saya ke meja mereka, membawa serta sebuah misteri kecil yang dengan cepat memancing rasa ingin tahu di seluruh penjuru kelas.

"Buat apa, Bu?" tanya Faza, suaranya memecah keheningan yang baru saja terbentuk, mewakili kebingungan teman-temannya yang sedari tadi hanya saling tatap.

Saya hanya tersenyum tipis, menyimpan rapat-rapat rencana ini agar efek kejutnya tidak hilang. 

"Ada deh!" jawab saya dengan nada sedikit menggoda, sengaja membiarkan rasa penasaran mereka tumbuh dan mengambil alih kebosanan.

Setelah memastikan setiap anak mendapatkan bagiannya, saya melangkah kembali ke depan kelas. Sorot mata mereka kini sepenuhnya tertuju pada saya, menunggu instruksi selanjutnya dengan saksama. Saya menatap wajah-wajah belia yang penuh potensi itu dan memberikan sebuah tantangan yang sangat sederhana namun memiliki ruang interpretasi yang sungguh tak terbatas.

"Tolong buatkan gambar sepasang mata di kertas tersebut," instruksi saya perlahan.

Kening mereka sontak berkerut. Tantangan ini terdengar terlalu ganjil untuk sebuah pelajaran IPS. Juna, yang duduk di kursi belakang bersama Alfin, langsung menyahut dengan raut wajah penuh keheranan, "Buat apa, Bu?"

"Setelah kalian menggambar sepasang mata," lanjut saya, sengaja membiarkan pertanyaan Juna menggantung sejenak di udara, "lengkapi sisanya terserah kalian. Kalian bebas mau menggambar apa saja di sekitar dua mata tersebut. Bebas, ya. Biarkan imajinasi kalian yang mengambil alih kemudi."

Selama beberapa detik, suasana kelas terasa hening. Mereka saling berpandangan, mencoba mencerna instruksi yang membebaskan sekaligus menantang tersebut. Kebebasan ruang pikir, terkadang, memang bisa terasa mengintimidasi pada awalnya. 

Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk mulai merespons. Suara goresan pensil dan pulpen di atas kertas mulai mendominasi ruang kelas, menciptakan sebuah simfoni kecil yang begitu menenangkan hati. Kening yang tadinya berkerut karena kebingungan kini berubah menjadi kerutan konsentrasi yang tajam. Mereka mulai berpikir, merenung, dan perlahan mencoret-coret sketsa mereka masing-masing.

Saya tidak tinggal diam mematung di depan kelas. Langkah perlahan, saya kembali berjalan berkeliling, menyusuri lorong sempit di antara bangku-bangku mereka. Saya ingin melihat dari dekat bagaimana proses magis mereka bagaimana sebuah instruksi yang sangat sederhana bisa diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa visual yang sama sekali berbeda.

Masya Allah. Kalimat pujian itu tanpa sadar bergema berulang kali. Saya dibuat takjub, terenyuh, sekaligus merinding melihat apa yang sedang terjadi di depan mata. Di atas lembaran-lembaran kertas yang sepuluh menit lalu hanya kosong melompong, kini telah tercipta sebuah semesta imajinasi yang tak terbayangkan sebelumnya. Dari titik tolak yang persis sama hanya sepasang mata. Mereka melahirkan mahakarya yang tidak ada duanya. 

Ada yang menggambar sosok pahlawan super dengan topeng misterius yang gagah, ada yang melukiskan wajah hewan peliharaan dengan detail goresan yang begitu menggemaskan, ada pula yang menciptakan karakter fantasi unik yang seolah baru saja melompat keluar dari buku dongeng. 

Di sudut lain, ada yang mengelilingi sepasang mata itu dengan pola-pola geometris rumit yang memancarkan kesan futuristik, dan ada yang melukiskan pemandangan alam lepas di mana dua mata tersebut menjelma menjadi matahari dan rembulan yang mengawasi hamparan bumi.

Satu kelas, tidak ada satu pun karya yang sama. Setiap lembar kertas adalah cerminan jiwa, alur pikiran, dan karakter masing-masing anak yang sangat unik. Semuanya bagus. Semuanya istimewa. Tidak ada istilah salah, keliru, atau jelek dalam sebuah karya yang lahir dari kejujuran ekspresi dan bebas berpikir.

Sebagai guru IPS, mungkin orang di luar sana akan mengernyitkan dahi dan bertanya, apa hubungannya menggambar bebas dengan pelajaran  interaksi sosial. Bagi saya, momen siang ini, adalah wujud paling murni dari esensi pendidikan itu sendiri. 

Tugas seorang pendidik bukanlah sekadar menjejalkan hafalan fakta dan deretan angka ke dalam ingatan siswa, melainkan memantik percikan api keberanian di dalam dada mereka. Menjadi fasilitator berupaya keras menyediakan ruang aman agar ide-ide mereka tersalurkan dengan merdeka tanpa rasa takut dihakimi.

Berdiri di tengah-tengah ruang kelas 8B, rasa bangga, senang, dan bahagia membuncah memenuhi rongga dada. Saya menyadari bahwa anak-anak ini sejatinya membawa dunia yang begitu luas dan kaya di dalam benak mereka. 

Seringkali, rutinitas akademis yang ketat dan tekanan nilai membuat mereka lupa betapa hebatnya kekuatan imajinasi yang tertidur di dalam diri mereka. Hanya bermodalkan selembar kertas sisa dan sebuah tantangan kecil, mereka telah membuktikan potensi kreativitas itu tidak pernah mati. Ia hanya selalu menunggu momen yang tepat untuk dibangunkan.

Karya-karya mereka hari ini bukanlah sekadar coretan iseng pengisi waktu luang, melainkan sebuah pesan yang sangat kuat tentang keindahan keberagaman dan kebebasan berekspresi. Ini adalah sebuah pengingat yang begitu membekas bagi saya.

Setiap anak terlahir dengan kanvas kosong masing-masing. Adalah tugas kita untuk menyodorkan mereka warna, lalu melangkah mundur sejenak untuk berdiri di samping mereka, mengagumi mahakarya apa pun yang akhirnya berani mereka ciptakan. 

SMPN 3 Cepu, saya sedang bertugas mengajarkan mereka tentang dunia luar yang luas, tetapi pada saat yang bersamaan, merekalah yang sebenarnya sedang mengajarkan tentang betapa indahnya dunia di dalam diri mereka sendiri. 

Kelak, kepingan cerita-cerita kecil dari ruang kelas akan terus saya kumpulkan, saya rawat, dan saya tuliskan menjadi sebuah jejak abadi sebuah warisan bermakna yang akan selalu mengingatkan kita semua bila mendidik adalah tentang menyentuh jiwa.

Cepu, 4 September 2026

Percil

Karya : Gutamining Saida 

Suasana sore di Bumool selalu menyajikan kehangatan yang khas. Bagi banyak orang, menjaga kesehatan adalah sebuah komitmen, dan Jum'at sore, pilihan untuk tetap bugar bermuara di kolam renang. Kesehatan menjadi dambaan setiap insan, baik mereka yang sedang prima maupun yang tengah berikhtiar memulihkan kondisi tubuh. 

Ada beragam cara yang bisa ditempuh untuk merawat kebugaran mulai dari terapi akupunktur, bekam, jalan kaki santai, hingga senam aerobik. Jum'at sore, olahraga renang menjadi pilihan utama untuk menyegarkan badan sekaligus merawat pikiran.

Sesi latihan sore itu terasa istimewa karena kehadiran Pak Gun, sang pelatih yang selalu membawa energi positif. Dengan suara mantap dan penuh keramahan, beliau menyapa para peserta, "Bu ibu sore ini kita berlatih gaya dada nggih!"

Sebelum para ibu masuk ke air dan mempraktikkan gerakan, Pak Gun memberikan contoh terlebih dahulu dengan cermat. Beliau memperagakan posisi tubuh, ayunan tangan, hingga dorongan kaki secara runtut. Untuk mempermudah pemahaman, Pak Gun menyederhanakan penjelasannya dengan analogi yang sangat akrab di telinga. Beliau menjelaskan bahwa gaya dada kerap dikenal juga sebagai gaya katak.

Untuk memastikan perhatian para peserta tetap tercurah, Pak Gun melontarkan pertanyaan ringan, "Ibu ibu tahu katak?"

"Tahulah pak," sahut saya cepat.

Pak Gun kemudian melanjutkan kelakarnya, "Katak itu besar, kalau kecil namanya apa?"

"Percil, Pak," jawab Bu Pur singkat, padat, dan jelas.

Pak Gun kembali memancing keriangan dengan pertanyaan berikutnya, "Ibu ibu tahu percil?"

"Tahuuuu..." jawab Bu Saroh kompak bersama ibu-ibu lainnya.

Tanpa diduga, Pak Gun melontarkan seloroh penutup, "Percil itu pelawak."

Seketika itu juga, tanpa ada aba-aba khusus, gelak tawa pecah secara bersamaan. Candaan spontan mengenai "Percil" sang pelawak berhasil mencairkan suasana. Kolam renang di Bumool sore itu tidak lagi sekadar dipenuhi air dingin yang menyegarkan, melainkan juga bergelombang oleh tawa riang para ibu yang melepaskan beban pikiran.

Kehadiran sosok pelatih seperti Pak Gun membuktikan bahwa proses menjaga kesehatan tidak harus selalu diisi dengan kekakuan atau ketegangan. Canda tawa yang terjalin di antara gerakan renang menjadi obat penyegar jiwa yang tidak kalah ampuhnya dibanding latihan fisik itu sendiri. Tertawa bersama adalah wujud nyata dari rasa bahagia dan pikiran yang sehat.

Melalui momen sederhana di kolam renang ini, tersirat sebuah pesan inspiratif tentang arti sejati dari menjaga kebugaran. Kesehatan bukanlah sebuah beban rutinitas yang berat, melainkan sebuah perayaan kehidupan yang patut dijalani dengan sukacita. Ketika fisik dilatih melalui kayuhan gaya dada dan jiwa disegarkan oleh kebersamaan serta tawa yang tulus, di sinilah keseimbangan hidup yang sejati tercapai. Kehadiran Pak Gun dan kebersamaan para ibu membuktikan bahwa di mana ada kegembiraan, di situ kesehatan dan kebahagiaan akan selalu bertumbuh subur. Aamiin
Cepu, 4 September 2026 





Jarak Bukan Penghalangmu

Karya : Gutamining Saida 
Sebagian anak, pergi ke sekolah mungkin hanyalah rutinitas biasa. Bangun pagi, mandi, sarapan, mengenakan seragam, lalu berangkat. Tetapi bagi Naila, setiap perjalanan menuju sekolah seperti sebuah langkah kecil yang sedang mengantarkannya menuju sebuah impian besar.

Ia siswi kelas 8B Esmega. Ia berasal dari Kedungtuban, sebuah daerah yang cukup jauh jika perjalanan itu harus ditempuh oleh seorang anak usia SMP setiap hari. Jarak bukanlah sesuatu yang membuatnya mundur. Justru dari perjalanan itulah tampaknya tumbuh sebuah keteguhan dalam dirinya. 

Ia memilih Esmega, sekolah yang oleh sebagian orang sering disebut sebagai sekolah sultan. Sebutan itu tentu membawa konsekuensi. Bersekolah di tempat yang memiliki banyak siswa berprestasi berarti harus siap bersaing, siap belajar lebih giat, dan siap menunjukkan kemampuan terbaik.

Ia datang ke Esmega tidak sekadar untuk menjadi bagian dari banyak siswa. Ia datang dengan keyakinan bila jarak rumah dan sekolah bukan alasan untuk membatasi langkah. Ada sesuatu yang menarik dari dirinya. Ia bukan hanya anak yang pandai. Ia juga memiliki kebiasaan yang sederhana, tetapi sebenarnya sangat luar biasa. Ketika mendapatkan tugas mata pelajaran IPS, ia segera mengerjakannya. Tidak ada kata, "Nanti saja, nanti nanti." Tidak ada kebiasaan menunda,  menunggu sampai batas waktu hampir habis. Jika tugas diberikan, ia kerjakan. Setelah selesai, ia kumpulkan. Sederhana, bukan?

Banyak orang memiliki kecerdasan. Banyak siswa memiliki kemampuan yang tidak kalah hebat. Tetapi terkadang kemampuan itu berhenti pada niat.
"Besok saja."
"Nanti kalau sudah sempat."
"Masih lama."
"Masih ada waktu."
Kalimat-kalimat seperti itu sering terdengar tetapi diam-diam bisa menjadi penghambat kesuksesan.

Naila memilih jalan yang berbeda. Ia memahami jika tugas bukan sekadar kewajiban dari guru. Tugas adalah kesempatan untuk belajar. Maka ketika tugas datang, ia menyambutnya dengan tindakan, bukan dengan penundaan. Kebiasaan itu akhirnya menjadi karakter. Karakter yang dilakukan berulang-ulang akan melahirkan hasil. Tidak mengherankan jika kemudian Naila mampu meraih peringkat pertama.

Prestasi itu tentu membanggakan. Lebih menarik bukan hanya angka atau posisi yang tertulis di daftar peringkat. Di balik peringkat pertama itu ada perjalanan panjang, ada waktu yang digunakan dengan baik, ada tugas-tugas yang diselesaikan, ada kesungguhan belajar, dan ada kemauan untuk terus berusaha. Peringkat pertama bukanlah hadiah yang tiba-tiba jatuh dari langit. Tapi buah dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus.

Naila ternyata tidak hanya unggul dalam bidang akademik. Ia juga aktif dalam berbagai kegiatan. Inilah yang membuat sosoknya semakin menarik. Ada siswa yang pintar tetapi cenderung menutup diri. Ada yang aktif tetapi kurang mampu mengatur waktu belajar. Ada pula yang berprestasi tetapi kesulitan bergaul dengan teman-temannya.

Naila seolah mampu memadukan semuanya. Ia mudah bergaul,  mampu beradaptasi,  tidak membatasi pertemanan hanya dengan kelompok tertentu. Di lingkungan sekolah, ia bisa menemukan teman. Ia mampu menyesuaikan diri dengan suasana baru. Ia bisa bekerja sama dan menjadi bagian dari berbagai kegiatan. Kemampuan beradaptasi seperti ini sangat penting. Sebab kehidupan tidak selalu membawa kita ke tempat yang nyaman. Kadang kita harus berada di lingkungan baru, bertemu orang baru, menghadapi karakter yang berbeda, dan bekerja bersama orang yang tidak selalu memiliki pemikiran yang sama dengan kita. Orang yang mampu beradaptasi akan lebih mudah menemukan jalan.

Naila menunjukkan dirinya menjadi anak pintar tidak berarti harus menjauh dari teman. Justru kepandaian bisa menjadi cahaya yang menerangi sekitar. Prestasi bisa berjalan bersama keramahan. Kesibukan bisa berjalan bersama pertemanan. Belajar bisa berjalan bersama kegiatan. Semua itu membutuhkan satu hal, yaitu kemampuan mengatur diri.

Kadang seseorang tinggal jauh dari sekolah, tetapi memiliki cita-cita yang sangat dekat di hati. Kadang seseorang harus menempuh perjalanan panjang setiap hari, tetapi justru perjalanan itulah yang mengajarkan arti ketekunan. Kadang seseorang memulai dari tempat yang sederhana, tetapi mampu berdiri di posisi yang membanggakan. Yang menentukan bukan hanya dari mana kita berasal. Yang lebih penting adalah ke mana kita ingin pergi dan seberapa sungguh-sungguh kita berjalan menuju ke sana.

Naila masih sebagai siswi SMP. Usianya masih sangat muda. Perjalanannya masih panjang. Prestasi hari ini bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan sebuah tanda bahwa ia berada di jalan yang baik. Kelak ketika ia semakin dewasa. Semoga kesuksesan selalu menyertai perjalanan mu. Aamiin.
Cepu, 4 September 2026 

Dibalik Diamnya Medina


Karya: Gutamining Saida

Ada siswa siswi datang ke sekolah dengan suara riuh, tawa yang memenuhi kelas, dan keberanian tampil di depan banyak orang. Ada pula yang hadir dengan cara yang berbeda. Dia datang dengan tenang. Duduk manis di bangku depan. Tidak banyak bicara. Tidak sibuk mencari perhatian. Bahkan terkadang keberadaannya hampir tidak terdengar di tengah riuhnya suasana kelas.

Di balik diamnya seorang anak, tersimpan potensi besar yang belum sempat ditemukan. Itulah yang saya rasakan ketika mengenal Medina.

“Medina,” begitu biasanya saya menyapanya.

Ia adalah siswa kelas 8B Esmega. Setiap pembelajaran IPS, Medina duduk di bangku depan bersama Alicia. Dari tempat duduknya itu, saya mengenalnya sebagai anak yang pendiam. Tidak banyak bicara, tidak banyak tingkah, dan lebih sering memperhatikan daripada menjadi pusat perhatian. Semakin lama saya mengenalnya, semakin saya menyadari bahwa diamnya Medina bukanlah kekosongan. Diamnya berisi.

Ada satu hal yang membuat saya cukup terkejut ketika mengetahui tentang Medina. Ternyata ayahnya, ketika masih duduk di bangku SMA, pernah menjadi siswa saya. Betapa panjang perjalanan seorang guru. Dahulu saya berdiri di depan kelas dan mengajar ayahnya. Waktu berjalan. Tahun berganti. Anak-anak yang dahulu siswa saya, kini telah menjadi orang tua.

Kemudian, tanpa pernah disangka, saya kembali bertemu dengan generasi berikutnya. Rasanya seperti sebuah pesan kecil dari kehidupan bahwa jejak seorang guru tidak pernah benar-benar berhenti ketika seorang siswa meninggalkan sekolah. Mungkin kita lupa sebagian nama siswa yang pernah kita ajar. Mungkin kita lupa tugas apa yang pernah mereka kumpulkan. Tetapi ternyata, ada sesuatu yang tetap tinggal. Kenangan indah.

Ketika tugas saya diberikan, Medina langsung bergerak. Teman-temannya mungkin masih berbicara, masih memikirkan mau mengerjakan dari mana, atau bahkan ada yang berkata, “Nanti saja, Bu.” Medina sudah mulai menulis. Tangannya bergerak. Pikirannya bekerja. Tugas diselesaikan.

Saya sering berpikir, bukankah sebenarnya seperti itulah karakter yang dibutuhkan dalam kehidupan? Tidak banyak bicara tentang apa yang akan dilakukan. Tetapi langsung melakukan. Tidak sibuk mengatakan dirinya rajin. Tetapi kerajinannya terlihat dari pekerjaannya. Tidak perlu mengatakan ingin berprestasi. Hasilnya sudah berbicara.

Tulisan Medina juga bagus. Rapi dan enak dibaca. Saat ulangan IPS, ia pun hampir selalu memperoleh nilai yang bagus. Di sana saya belajar satu hal,  kadang-kadang mereka hanya memilih berbicara melalui karya.

Ada hal sederhana lain dari Medina yang diam-diam membuat saya kagum. Setiap berangkat sekolah, Medina masih menggunakan sepeda pancal. Di zaman ketika sepeda listrik semakin banyak digunakan anak-anak sekolah, Medina tetap setia mengayuh sepedanya.

Sekarang banyak anak yang merasa lebih nyaman menggunakan sepeda listrik atau diantar orang tua. Tentu tidak ada yang salah dengan itu. Setiap keluarga memiliki pilihan masing-masing. Tetapi melihat Medina mengayuh sepeda menuju sekolah, saya seperti melihat sebuah gambaran tentang kemandirian dan kesederhanaan.

Kisah Medina belum selesai. Ada kejutan yang sampai sekarang masih saya ingat. Ketika menjadi siswa baru, Medina pernah menyumbangkan suara emas di indoor sekolah. Ia membawakan sebuah lagu berbahasa Inggris.

Awalnya saya mungkin tidak memiliki bayangan bahwa anak yang sehari-hari begitu pendiam itu memiliki kemampuan vokal yang istimewa. Tetapi ketika suara itu mulai terdengar...penonton pun terpukau. Suara Medina mengalun dengan percaya diri. Nada demi nada keluar dengan indah.

Peristiwa itu mengingatkan saya sebagai seorang guru terkadang kita terlalu cepat mengenal anak hanya dari apa yang terlihat di kelas. Padahal masih banyak anak yang potensinya tersembunyi. Tetapi ketika seorang guru memberikan ruang dan kesempatan, tiba-tiba sesuatu yang luar biasa muncul. Itulah Medina.

Semoga suara itu kelak menjadi jalan kebaikan, menginspirasi banyak orang, dan membuat namamu dikenang bukan karena seberapa keras kamu bersuara, tetapi seberapa banyak kebahagiaan yang kamu hadirkan melalui suara itu.

Seorang guru hanya ingin melihat satu hal yaitu muridnya tumbuh menjadi manusia baik, menemukan potensinya, berani bermimpi, dan bahagia menjalani hidupnya. Salam sukses selalu buat semua murid-murid saya. Aamiin.

Cepu, 4 September 2026

 


Kamis, 03 September 2026

Oblelix Sea View

 


Karya: Gutamining Saida

Rutinitas di sekolah terkadang membuat kita lupa bila tubuh dan pikiran juga membutuhkan jeda. Setiap hari ada tugas yang harus diselesaikan, siswa yang harus dibimbing, administrasi yang harus dikerjakan, rapat yang harus diikuti, dan berbagai tanggung jawab lain yang menunggu. Sebagai keluarga besar Esmega, kami terbiasa dengan kesibukan itu. Hari-hari berjalan cepat, dipenuhi aktivitas dan tanggung jawab.

Di balik kesibukan itu, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan iyalah kebersamaan. Karena itulah, sebuah perjalanan sederhana menjadi begitu berarti. Kali ini, keluarga besar Esmega memilih Obelix Sea View sebagai tempat untuk sejenak meninggalkan rutinitas sekolah. Bukan sekadar perjalanan untuk melihat tempat indah, tetapi sebuah kesempatan untuk mengistirahatkan pikiran, menyegarkan hati, dan menikmati waktu bersama.

Dari terminal, kami melanjutkan perjalanan menggunakan sebuah kendaraan yang berisi tujuh penumpang. Kendaraan mulai bergerak meninggalkan terminal. Suasana perjalanan pun perlahan berubah menjadi ruang kecil penuh cerita. Ada percakapan, canda, tawa, dan sesekali saling menggoda. Perjalanan yang sebenarnya hanya menjadi sarana menuju tujuan, justru terasa seperti bagian paling menyenangkan.

Suasana berbeda langsung terasa setelah sampai di lokasi. Pemandangan alam terbuka menyambut kami. Laut terbentang luas di bawah sana. Dari ketinggian, warna laut tampak putih berkilauan diterpa cahaya matahari sore. Mata seakan mendapatkan hadiah setelah sekian lama lebih banyak memandang layar komputer, buku, dokumen, dan aktivitas di dalam ruang kelas.

Kami berkesempatan untuk duduk, berbincang, tertawa, menikmati pemandangan, dan merasakan  hidup ternyata tidak selalu harus berjalan tergesa-gesa. Area tempat duduk pun dibuat begitu nyaman. Di salah satu sudut, tersedia tempat duduk lesehan di alam terbuka. Bantal-bantal warna-warni tersusun rapi, seolah mengajak setiap pengunjung untuk duduk santai dan melupakan sejenak kepenatan. Bunga-bunga berwarna magenta dan kuning menghiasinya. Warna-warni itu memberikan kesan ceria, seolah alam sedang ikut tersenyum menyambut kedatangan kami.

Ada pula berbagai bentuk kursi santai yang bisa dipilih. Ada yang ingin duduk bersama teman, ada yang ingin menikmati pemandangan seorang diri, ada pula yang memilih bercengkerama sambil sesekali tertawa lepas. Di tempat lain tersedia kedai makanan dan minuman. Menikmati makanan bersama ternyata bukan sekadar soal rasa. Ada percakapan yang muncul di sela-sela makan, ada cerita yang sebelumnya belum sempat disampaikan, ada candaan yang membuat suasana semakin hangat. Begitulah kebersamaan.

Menjelang Maghrib, suasana semakin menarik. Sebuah pentas seni telah dipersiapkan. Para pengunjung dapat menikmati berbagai penampilan seni yang disuguhkan. Tidak perlu menjadi bagian dari rombongan tertentu untuk menikmatinya. Siapa pun boleh duduk di sekitar area pertunjukan dan menyaksikan pagelaran tersebut.

Seni kembali mengingatkan kita manusia tidak hanya membutuhkan pekerjaan dan pencapaian. Manusia juga membutuhkan keindahan. Alunan musik, penampilan para seniman, suasana sore yang mulai beranjak menuju malam, serta para pengunjung yang duduk menikmati pertunjukan menciptakan suasana yang sulit digambarkan hanya dengan kata-kata.

Di tengah segala fasilitas yang tersedia, terdapat pula musala. Keberadaan tempat ibadah itu menjadi pengingat bahwa menikmati keindahan dunia tidak berarti melupakan kewajiban kepada Sang Pencipta. Waktu untuk berhenti sejenak, menundukkan kepala, mengingat Allah Subhanahu Wata'alla, serta mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan.

Pemandangan laut yang luas di bawah sana pun seolah memberikan pelajaran tersendiri. Laut tidak pernah terlihat kecil meskipun dipandang dari kejauhan. Ombaknya terus bergerak, kadang tenang, kadang bergelombang. Begitu pula kehidupan kita. Kehidupan harus terus bergerak. Yang penting bukan bagaimana kita menghindari gelombang, tetapi bagaimana kita tetap mampu menjaga diri agar tidak kehilangan arah.

Perjalanan keluarga besar Esmega ke Obelix Sea View akhirnya bukan sekadar jalan-jalan. Ia menjadi sebuah ruang untuk mengisi kembali energi kebersamaan. Sekolah bukan hanya tentang gedung, ruang kelas, guru, siswa, dan pekerjaan. Sekolah juga tentang manusia-manusia yang di dalamnya saling membutuhkan, saling mendukung, dan saling menguatkan.

Kebersamaan seperti ini mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Tetapi kenangannya bisa tinggal jauh lebih lama. Ketika esok kembali ke sekolah, mungkin pekerjaan akan kembali menunggu. Administrasi kembali harus diselesaikan. Siswa kembali memenuhi ruang kelas dengan berbagai karakter dan cerita. Kesibukan akan kembali datang.

Setelah menikmati sore di Obelix Sea View, ada sesuatu yang ikut kita bawa pulang. Hati yang lebih ringan, pikiran yang lebih segar, dan semangat yang kembali menyala. Sesekali kita memang perlu meninggalkan rutinitas, bukan karena kita ingin lari dari tanggung jawab, tetapi karena kita ingin kembali dengan tenaga yang lebih kuat.

“Terima kasih, Ya Allah. Di tengah kesibukan hidup, Engkau masih memberi kami kesempatan untuk berhenti sejenak, menikmati keindahan, dan merasakan hangatnya kebersamaan.”

Obelix Sea View menjadi saksi  keluarga besar Esmega tidak hanya bekerja bersama, tetapi juga belajar menikmati kebersamaan. Sampai jumpa pada cerita yang lain.

Cepu, 4 September 2026