Karya: Gutamining Saida
Di sebuah sudut desa Malingmati, pernah berdiri kisah keluarga yang begitu hangat dan penuh keberkahan. Mbah Seman dan Mbah Pani, sosok sederhana yang menanamkan nilai-nilai kebersamaan, dikaruniai lima orang anak. Empat laki-laki dan satu perempuan sebagai penutup yang melengkapi keindahan keluarga itu.
Pak Dhe Yadi, Pak Dhe Dali, Pak Dhe Pandi, bapak saya, dan yang terakhir Bulik Yati. Empat di antara mereka tinggal berdekatan, seakan jarak tak diberi ruang untuk memisahkan kasih sayang. Rumah-rumah yang berdiri tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga menjadi saksi tumbuhnya cinta, gotong royong, dan doa yang tak pernah putus.
Hidup mereka sederhana. Dua anaknya menjadi guru, menebar ilmu sebagai amal jariyah yang terus mengalir pahalanya. Tiga menjadi petani, mengolah tanah dengan keringat yang halal, berharap setiap butir padi yang tumbuh menjadi keberkahan bagi keluarga. Perbedaan profesi, mereka tetap satu dalam tujuan yaitu menggapai ridha Allah Subhanahu Wata'alla.
Salah satu anak mbah Seman-Pani yaitu bapak saya, memilih tinggal di Mbaru. Meski jarak memisahkan, hati tetap terpaut. Silaturahmi tidak pernah putus, sebab mereka memahami bahwa menjaga hubungan keluarga adalah bagian dari ibadah.
Waktu terus berjalan. Usia pun menua. Hingga pada akhirnya, Mbah Seman dan Mbah Pani dipanggil kembali oleh Sang Pemilik kehidupan. Kepergian mereka bukan sekadar kehilangan, tetapi juga pengingat bahwa setiap yang hidup pasti akan kembali.
Warisan terbesar dari Mbah Seman dan Mbah Pani bukanlah harta, melainkan keluarga besar yang terus bertumbuh dalam ikatan cinta dan iman. Dari Pak Dhe Yadi, kini telah berkembang menjadi keluarga besar dengan jumlah anak dan cucu mencapai 71 orang. Dari Pak Dhe Dali, tumbuh 33 orang keturunan yang menjadi bagian dari rantai silaturahmi. Begitu pula Pak Dhe Pandi, yang juga memiliki 33 orang anak dan cucu. Dari bapak saya menjadi 23 orang dan dari bulik Yati jumlahnya mencapai 32 orang.
Jumlah itu bukan sekadar angka, melainkan bukti nyata betapa luasnya keberkahan yang Allah Subhanahu Wata'alla, limpahkan melalui generasi yang terus berlanjut. Setiap anak, setiap cucu, adalah doa yang hidup yang kelak akan menjadi penolong bagi leluhurnya melalui doa-doa yang tak terputus.
Kini, yang tersisa dari generasi anak hanyalah Bulik Yati. Sosok perempuan yang menjadi pengikat kenangan, penjaga cerita, sekaligus saksi hidup perjalanan panjang keluarga. Di dalam dirinya, tersimpan jejak didikan orang tua yang penuh kesabaran, keikhlasan, dan keimanan.
Cucu dan cicit yang ditinggalkan adalah amanah sekaligus harapan. Dari mereka, doa-doa terus dipanjatkan. Sebab dalam ajaran agama, anak cucu yang saleh adalah salah satu yang akan terus mengalirkan pahala bagi orang tua yang telah tiada.
Kisah keluarga Mbah Seman-Pani bukan hanya tentang hubungan darah, tetapi tentang bagaimana iman menuntun langkah, bagaimana kebersamaan menjadi kekuatan, dan bagaimana kematian bukanlah akhir, melainkan awal perjalanan menuju kehidupan yang hakiki.
Semoga Allah Subhanahu Wata'alla melapangkan kubur Mbah Seman dan Mbah Pani, menerima segala amal ibadahnya, serta menjadikan keluarga yang ditinggalkan tetap dalam rukun, penuh cinta, dan selalu berada dalam lindungan-Nya. Aamiin.
Cepu, 23 Maret 2026




.jpeg)