Jumat, 13 Maret 2026

MBolang

 


Karya: Gutamining Saida

Jum’at siang selepas pulang mengajar, suasana sekolah mulai sepi. Para siswa sudah pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat. Saya pun bersiap berangkat ke rencana mbolang. Saya bersama Bu Isna sepakat melakukan mbolang berkeliling melihat kehidupan masyarakat di pelosok desa. Bukan sekadar jalan-jalan, tetapi ingin melihat langsung kehidupan yang mungkin jarang tersentuh oleh pandangan kita sehari-hari.

Perjalanan kami menuju sebuah desa yang cukup jauh dari keramaian. Jalan yang kami lalui semakin lama semakin sempit. Rumah-rumah mulai jarang, pepohonan dan sawah terbentang luas di kanan kiri jalan. Udara terasa lebih segar,  membawa aroma khas pedesaan yang begitu kuat. Sawah-sawah tampak sudah selesai dipanen. Jerami tersisa menguning di atas tanah, menjadi tanda bahwa para petani baru saja melewati masa panen.

Kami berhenti di sebuah rumah sederhana di pinggir jalan desa. Dindingnya sebagian dari papan, sebagian lagi dari tembok yang sudah mulai kusam. Halaman rumah tidak begitu luas, namun cukup untuk aktivitas sehari-hari. Saat mendekat, aroma yang cukup tajam langsung terasa menusuk hidung. Di bagian dalam rumah ternyata terdapat kandang kambing dan ayam yang dipelihara oleh pemilik rumah.

Di sudut lain rumah terlihat beberapa karung besar yang ditumpuk rapi. Karung-karung itu berisi hasil pertanian. Ada yang berisi padi, ada pula yang berisi jagung. Semuanya ditaruh begitu saja di dalam rumah karena mungkin tidak ada gudang khusus untuk menyimpannya. Rumah tersebut bukan hanya tempat beristirahat, tetapi juga menjadi tempat menyimpan hasil kerja keras dari ladang dan sawah.

Saya dan Bu Isna saling berpandangan. Di dalam hati muncul perasaan yang sulit dijelaskan. Kehidupan di rumah itu terasa begitu sederhana, mungkin bagi sebagian orang terasa berat untuk menjalani. Bau kandang hewan bercampur dengan aroma gabah dan tanah yang lembap memenuhi ruangan.

Di balik semua itu, ada sesuatu yang terasa sangat kuat yaitu ketulusan hidup. Orang-orang di desa itu menjalani kehidupan mereka dengan apa adanya. Mereka bekerja di sawah, memelihara ternak, menyimpan hasil panen, lalu menjalani hari demi hari dengan penuh kesabaran.

Dalam perjalanan itu, hati saya seperti diajak berbicara. Betapa seringnya kita lupa bersyukur atas nikmat yang sudah Allah Subhanahu Wata'alla berikan kepada kita. Jika mau melihat sedikit saja ke sekitar, masih banyak saudara-saudara kita yang hidup dengan kondisi yang jauh lebih sederhana.

Allah  Subhanahu Wata'alla dalam Al-Qur’an telah mengingatkan manusia yaitu "Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu."

Ayat tersebut terasa begitu nyata saat melihat kehidupan masyarakat desa itu. Mereka mungkin tidak memiliki rumah besar, kendaraan mewah, atau fasilitas lengkap. Mereka tetap bekerja dengan tekun, menjalani kehidupan dengan sabar, dan tetap bersyukur atas apa yang dimiliki.

Saya teringat bahwa sering kali manusia justru lebih mudah melihat orang yang hidupnya di atas kita. Melihat mereka yang lebih kaya, lebih berhasil, lebih memiliki banyak hal. Tanpa sadar hal itu membuat hati merasa kurang, merasa belum cukup, bahkan terkadang mengeluh.

Rasulullah pernah mengajarkan kepada kita untuk melihat kepada orang yang berada di bawah kita dalam urusan dunia, agar kita bisa lebih mudah bersyukur. Melihat kehidupan masyarakat desa tersebut membuat saya benar-benar memahami makna nasihat itu.

Rumah sederhana yang mereka tempati mungkin terasa sempit bagi sebagian orang. Bagi mereka, rumah itu adalah tempat berlindung dari panas dan hujan. Kambing dan ayam yang mereka pelihara bukan sekadar hewan ternak, tetapi menjadi sumber penghidupan bagi keluarga. Karung-karung hasil panen yang tersimpan di rumah adalah bukti kerja keras yang penuh keringat.

Perjalanan siang itu menjadi pengingat yang sangat berharga. Bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dari seberapa banyak yang kita miliki. Kebahagiaan sering kali justru hadir dari rasa cukup dan rasa syukur yang tertanam di dalam hati.

Setiap hari guru mengajar, memberi ilmu kepada siswa, membimbing mereka agar menjadi manusia yang lebih baik. Terkadang kita lelah, terkadang merasa pekerjaan begitu banyak. Jika dipikir kembali, pekerjaan itu sendiri adalah nikmat besar yang Allah Subhanahu Wata'alla berikan.

Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk mengajar, berbagi ilmu, dan berinteraksi dengan generasi muda setiap hari. Profesi guru adalah amanah yang sangat mulia. Perjalanan Jum'at siang bersama Bu Isna siang itu seolah menjadi pelajaran kehidupan yang tidak tertulis di buku. Pelajaran tentang kesederhanaan, tentang kesabaran, dan yang paling penting tentang rasa syukur.

Angin bertiup pelan menggerakkan sisa jerami di ladang. Langit terlihat cerah, seakan mengingatkan bahwa hidup ini penuh dengan nikmat Allah Subhanahu Wata'alla yang sering kali tidak kita sadari.

Semoga Allah Subhanahu Wata'alla selalu menjaga hati kita agar tetap mampu bersyukur. Karena sejatinya kekayaan yang paling besar bukanlah harta yang melimpah, tetapi hati yang selalu merasa cukup atas pemberian-Nya.

Perjalanan Jum’at siang  berkeliling desa, melihat rumah-rumah warga, dan menyaksikan kehidupan apa adanya. Di balik kesederhanaan itu tersimpan pelajaran yang terkesan. Belajar untuk  bersyukur.

Cepu, 14 Maret 2026

Kamis, 12 Maret 2026

Es Buah Yang Mengoda

Karya: Gutamining Saida

Di bulan yang penuh berkah, yaitu bulan Ramadan, suasana belajar di kelas sering kali memiliki tantangan tersendiri. Mengajar mata pelajaran IPS di tengah ibadah puasa bukanlah perkara yang mudah. Tubuh siswa sedang menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Energi mereka tidak sama seperti hari-hari biasa. Ada yang terlihat mengantuk, ada yang kurang bersemangat, bahkan ada yang hanya meletakkan kepala di meja karena merasa lelah.

Bagi saya sebagai seorang guru IPS, kondisi tersebut bukan alasan untuk menyerah. Di situlah letak ujian kesabaran sekaligus kesempatan untuk beramal kebaikan. Saya selalu meyakini bahwa membahagiakan orang lain, termasuk para siswa, adalah bagian dari ibadah. Dalam ajaran Islam, setiap kebaikan sekecil apa pun bisa menjadi amal yang bernilai di sisi Allah Subhanahu Wata'alla. Saya berusaha menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya memberikan ilmu, tetapi juga menghadirkan kegembiraan di hati siswa.

Sehari sebelum mengajar, saya sudah memikirkan cara agar suasana kelas tetap hidup. Saya tidak ingin siswa merasa bahwa pelajaran IPS di bulan puasa adalah pelajaran yang berat. Saya ingin mereka tetap semangat, tetap tersenyum, dan tetap merasa bahwa belajar adalah sesuatu ibadah yang menyenangkan.

Saya mendapat sebuah ide sederhana. Ide itu terinspirasi dari menu pembuka yang sering menjadi favorit saat berbuka puasa, yaitu Es buah. Saat membayangkan semangkuk es buah yang segar, saya sendiri langsung merasakan kesegarannya. Ada potongan buah yang berwarna-warni, ada kuah manis yang menggoda, dan ada rasa segar yang selalu dinanti ketika waktu berbuka tiba.

Saya kemudian membuat media pembelajaran yang menyerupai es buah yang ada di mangkok. Di dalam mangkok terdapat buah berwarna kuning (nangka), merah (semangka), hijau (alpokat), dan berbagai warna lain yang tampak menarik. Warna-warna itu sengaja saya pilih agar bisa menggugah selera dan menarik perhatian siswa. Walaupun hanya berupa media pembelajaran, saya ingin menghadirkan suasana yang terasa dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari.

Di balik mangkuk es buah itu tersimpan sesuatu yang lebih penting. Di bagian belakang setiap mangkuk es buah terdapat sebuah pertanyaan yang harus diselesaikan oleh siswa. Pertanyaan tersebut berkaitan dengan materi IPS yang sedang dipelajari tentang pasar, distribusi barang dan jasa.

Saya menyiapkan sebanyak tiga puluh lima pertanyaan yang berbeda. Tidak ada pertanyaan yang sama. Setiap mangkuk es buah menyimpan soal yang menantang. Dengan demikian, siswa tidak hanya menjawab satu soal saja, bisa berganti soal lain mencoba berbagai pertanyaan yang berbeda.

Saya juga sengaja membuat semua media dengan bentuk yang sama.  Hal itu agar siswa tidak bingung memilih dan agar tidak ada rasa iri di antara mereka. Saya ingin mengajarkan nilai keadilan secara sederhana. Sama bentuknya, sama rasanya, tetapi setiap mangkuk memiliki pertanyaan yang berbeda.

Keesokan harinya ketika pembelajaran dimulai, saya menata semua media tersebut di atas meja. Mangkuk-mangkuk es buah itu terlihat berwarna-warni dan menarik perhatian. Beberapa siswa mulai berbisik dengan teman di sampingnya. Mereka terlihat penasaran.

Bu, itu apa?” tanya salah satu siswa.

"Es buah." jawab saya.

Setelah menjelaskan sedikit materi, saya mulai mengajak siswa untuk belajar sambil bermain. Saya mempersilakan mereka maju ke depan atau meja guru untuk mengambil satu mangkuk es buah. Setelah mengambilnya, mereka harus kembali ke tempat duduk dan membalik bagian belakangnya.

Di sanalah mereka menemukan sebuah pertanyaan yang harus diselesaikan. Mereka membaca dengan penuh perhatian, kemudian mencoba menjawabnya di buku tulis. Ada yang langsung serius berpikir. Ada yang berdiskusi dengan teman di sampingnya. Ada pula yang terlihat tersenyum karena merasa tertantang.

Setelah mereka berhasil menjawab pertanyaan tersebut, kegiatan tidak berhenti sampai di situ. Saya memberikan kesempatan kepada mereka untuk menukar es buah dengan es buah yang lain. Dengan begitu mereka mendapatkan pertanyaan baru yang berbeda. Begitu seterusnya.

Suasana kelas yang tadinya agak lesu perlahan berubah. Tidak ada lagi siswa yang meletakkan kepala di meja. Tidak ada lagi wajah yang tampak bosan. Semua terlihat lebih hidup. Beberapa siswa yang biasanya pasif justru ikut bersemangat mau berjalan maju menuju meja guru. Mereka ingin mencoba sebanyak mungkin pertanyaan yang tersedia. Ada yang tersenyum bangga ketika jawabannya benar, ada yang tertawa ketika harus berpikir lebih keras.

Saya memperhatikan mereka dengan rasa syukur di dalam hati. Rasanya bahagia melihat siswa kembali bersemangat walaupun sedang menjalankan ibadah puasa. Saya berdoa, semoga usaha kecil ini menjadi bagian dari amal kebaikan. Saya mengajar bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga menghadirkan kebahagiaan dan semangat bagi para siswa.

Waktu terasa berjalan cepat. Tanpa terasa, suasana belajar berlangsung dengan penuh antusias. Diskusi kecil terjadi di beberapa sudut kelas. Ada yang bertanya, ada yang mencoba menjawab, dan ada yang saling membantu memahami materi. Hingga akhirnya bel berbunyi sebagai tanda berakhirnya pelajaran IPS .

Saya melihat wajah-wajah siswa yang tampak puas dan senang. Tidak ada yang mengeluh lelah. Bahkan beberapa menit setelah bel berbunyi dari mereka masih membicarakan pertanyaan yang tadi mereka dapatkan dari es buah tersebut.

Mengajar dengan hati, membahagiakan siswa, dan menanamkan semangat belajar adalah bagian dari amal yang semoga dicatat sebagai kebaikan. Semoga setiap langkah kecil dalam mendidik generasi muda menjadi jalan keberkahan, baik bagi siswa maupun bagi guru. Mari kita membimbing mereka menuju masa depan yang lebih baik. Semoga menginspirasi pembaca. Aamiin. 

Cepu, 14 Maret 2026

Rica-rica Kepala Dan Cakar

 


Karya : Gutamining Saida

Di bulan yang penuh berkah seperti bulan Ramadan, suasana kebersamaan terasa lebih hangat. Banyak siswa dan wali kelas yang membagikan momen buka bersama di media sosial. Ada yang terlihat menikmati semangkuk bakso hangat, ada yang memilih stik ayam yang renyah, ada pula yang menyantap ayam geprek dengan sambal pedas menggoda selera. Foto-foto itu menghiasi berbagai story dan cerita di grup maupun media sosial.

Melihat hal itu, siswa-siswa kelas 7G pun mulai tertarik. Mereka ingin merasakan kebersamaan seperti kelas lain. Suatu hari, beberapa siswa mendatangi dan mengajak saya dengan wajah penuh harap. Mereka berkata dengan nada memohon, “Bu, kelas lain buka bersama. Kami juga ingin buka bersama satu kelas.”

Sebagian dari mereka bahkan sudah membayangkan tempatnya. Ada yang mengusulkan rumah makan, ada yang menyebut restoran yang terkenal di Cepu. Mereka tampak begitu antusias, seolah-olah kegiatan buka bersama harus identik dengan makanan yang enak dan tempat yang menarik serta mahal

Saya tersenyum mendengar usulan mereka. Saya berpikir, apakah makna buka puasa bersama hanya sekadar makan di tempat yang enak? Di resto terkenal? Saya menjawab, “Ibu tidak setuju kalau buka bersama harus di rumah makan atau restoran.”

Mereka terlihat sedikit kecewa. Beberapa anak bahkan saling berpandangan. Mungkin mereka berpikir rencana indah mereka tidak akan terwujud. Lalu saya menjelaskan kepada mereka agar mereka memahami maksud saya.

Anak-anak, puasa itu sejatinya adalah ibadah. Puasa mengajarkan kita untuk merasakan bagaimana hidup orang-orang yang kurang mampu. Saat kita lapar dan haus, kita belajar merasakan apa yang setiap hari dirasakan oleh orang yang hidup serba kekurangan.”

Mereka mulai diam dan mendengarkan. Saya melanjutkan, “Kalau buka puasa selalu identik dengan makanan mahal dan tempat mewah, kita justru bisa kehilangan makna dari puasa itu sendiri.” Anak-anak kelas 7G berasal dari keluarga yang cukup berada. Sebagian dari mereka sudah terbiasa makan enak di rumah, bahkan ada yang sering makan di luar bersama keluarga. Karena itu saya ingin mereka merasakan sesuatu yang berbeda.

Saya mengajak mereka buka bersama dengan cara yang sederhana. Kita buka bersama, tapi dengan makanan yang sederhana saja,” kata saya. Mereka sempat terdiam, kemudian beberapa siswa mulai mengangguk. Barangkali mereka mulai memahami maksud saya.

Saya kemudian memesan nasi rica-rica dari seorang teman dengan harga ekonomis. Bukan rica ayam yang biasa ditemui di restoran, melainkan rica yang sederhana.  Setelah pesanan datang dan saya buka rica kepala dan cakar ayam. Saya langsung teringat filosofi orang jawa. Tentang seseorang yang suka makan kepala ayam dan ceker ayam. 

Kepala ayam ini menggambarkan harapan. Kelak yang suka makan kepala ayam di masa depan bisa menjadi ‘kepala’. Kepala di sini berarti pemimpin. Bisa menjadi kepala keluarga yang baik, kepala di sebuah perusahaan, kepala di instansi, atau pemimpin yang mampu membawa kebaikan bagi banyak orang.”

Sedangkan ceker ini memiliki makna perjuangan. Dalam istilah Jawa sering disebut ‘ceker-ceker’, yang artinya berusaha dengan gigih. Hidup itu tidak selalu mudah. Untuk mendapatkan rezeki, kita harus berjuang, bekerja keras, dan tidak mudah menyerah.

Kami pun menunggu waktu berbuka bersama. Ketika adzan Maghrib terdengar, kami mengawali dengan membaca doa bersama. Suasana terasa begitu hangat dan penuh kekeluargaan. Tidak ada restoran mewah. Tidak ada makanan mahal. Hanya nasi hangat dengan rica ceker dan kepala ayam yang sederhana ditambah mie pedas, kerupuk serta tempe.

Disinilah letak keindahannya. Anak-anak makan dengan lahap sambil bercanda ringan. Sesekali terdengar tawa kecil. Saya melihat wajah-wajah yang penuh kebahagiaan. Ramadan memang bukan tentang kemewahan. Ramadan adalah tentang kesederhanaan, tentang belajar menahan diri, dan tentang memahami kehidupan orang lain.

Melalui buka puasa sederhana itu, saya berharap anak-anak kelas 7G tidak hanya sekadar kenyang. Mereka juga mendapatkan pelajaran hidup. Bahwa untuk menjadi “kepala atau pemimpin” di masa depan, mereka harus memiliki pikiran yang bijak dan hati yang rendah hati.

Untuk meraih rezeki yang baik, mereka harus memiliki semangat “ceker”, yaitu terus berusaha dan berjuang dengan sungguh-sungguh. Ramadan adalah madrasah kehidupan. Di dalamnya kita belajar tentang kesabaran, keikhlasan, dan rasa syukur.

Semoga suatu hari nanti, ketika mereka sudah dewasa, mereka masih mengingat buka puasa sederhana kali ini. Mengingat nasi rica ceker dan kepala ayam yang penuh makna. Semoga dari kelas kecil bernama 7G itu, kelak lahir orang-orang hebat yang tidak hanya sukses dalam kehidupan dunia, tetapi juga memiliki hati yang dekat dengan Allah Subhanahu Wata'alla. Aamiin Aamiin. Semoga bermanfaat dan menghibur.



Buka Bersama

 


Karya: Gutamining Saida

Bulan Ramadan selalu membawa suasana yang berbeda di lingkungan sekolah. Ada rasa hangat, kebersamaan, dan semangat berbagi yang terasa lebih kuat dari hari-hari biasa. Banyak siswa dan wali kelas yang mengabadikan momen buka bersama dengan kelasnya masing-masing. Foto-foto mereka terlihat di media sosial, di mana tampak berbagai hidangan lezat tersaji di meja restoran. Ada yang menikmati bakso, ayam geprek, stik ayam, dan berbagai makanan lainnya.

Siswa kelas 7G pun tidak ingin ketinggalan. Mereka juga ingin merasakan kebersamaan dalam buka puasa bersama satu kelas. Setelah melalui pembicaraan dan kesepakatan, akhirnya kami memutuskan untuk mengadakan buka bersama. Sejak awal saya sudah menanamkan satu prinsip kepada mereka, bahwa buka bersama bukan tentang kemewahan makanan, bukan tentang tempat yang mahal, tetapi tentang kebersamaan dan kesederhanaan.

Saya pun menyiapkan konsep buka bersama yang sederhana sarat nilai kebersamaan. Tempat makan tidak menggunakan meja kursi seperti di restoran. Anak-anak saya ajak untuk makan dengan cara yang sangat sederhana, yaitu duduk bersama di lantai.

Ketika waktu pelaksanaan tiba, semua sudah saya atur. Di tengah ruangan dibentangkan daun pisang yang panjang sebagai alas makanan. Daun pisang memanjang seperti sebuah jalur hijau yang menyatukan kami semua.

Anak-anak melihatnya dengan rasa penasaran sekaligus antusias. Sini, duduk memanjang bersama,” kata saya kepada mereka. Satu per satu mereka duduk bersila di lantai. Tidak ada kursi khusus, tidak ada tempat duduk istimewa. Semua sama, semua sejajar.

Di atas daun pisang yang panjang itu kemudian kami sajikan makanan yang sangat sederhana. Nasi putih hangat disampingnya ada rica ayam yang pedas menggugah selera. Ada juga kerupuk yang renyah, mie goreng sederhana, dan tempe goreng yang harum. Ditambah beberapa snak yang dibawa oleh wali murid yaitu poding dan donat.

Minumnya pun hanya es teh manis yang segar. Tidak ada menu mahal. Tidak ada makanan istimewa seperti di restoran. Semua sangat sederhana. Dari kesederhanaan itulah lahir makna yang begitu dalam. Saya juga meminta anak-anak untuk makan tanpa menggunakan sendok dan garpu. Mereka makan dengan tangan secara langsung. Saya menerapkan sunah Rasulullah.

Awalnya beberapa anak terlihat sedikit canggung. Barangkali mereka belum terbiasa makan seperti ini bersama teman-temannya. Perlahan suasana menjadi cair. Mereka mulai menikmati kebersamaan. Tangan-tangan kecil mereka mengambil nasi dan lauk dari tempat yang sama. Tidak ada batas. Tidak ada pemisah.

Saya melihat sebuah pemandangan yang begitu indah. Di hadapan saya tidak ada lagi perbedaan antara siswa yang berasal dari keluarga kaya ataupun yang hidup sederhana. Semua duduk di lantai yang sama. Semua makan dari alas daun pisang yang sama.

Di dalam Islam, kesederhanaan adalah sebuah kemuliaan. Rasulullah mengajarkan hidup yang sederhana meskipun beliau adalah manusia yang paling mulia. Melihat anak-anak makan bersama seperti itu membuat hati saya terasa hangat. Mereka tampak sangat bahagia.

Tawa kecil terdengar di sana-sini. Ada yang bercanda dengan temannya. Ada yang tersenyum sambil menikmati kerupuk yang renyah. Ada pula yang saling berbagi lauk. Tidak ada gengsi. Tidak ada rasa malu. Yang ada hanyalah kebersamaan.

Saya memandang mereka dengan rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Saya berdoa semoga kebersamaan sederhana ini menjadi kenangan yang indah bagi mereka. Ramadan memang bukan tentang kemewahan hidangan. Ramadan adalah tentang melatih hati untuk sederhana, sabar, dan bersyukur.

Ketika seseorang merasakan lapar dan haus sepanjang hari, kita akan lebih mudah memahami penderitaan orang lain yang hidup dalam kekurangan. Buka puasa bersama yang sederhana ini menjadi sebuah pelajaran kehidupan bagi anak-anak kelas 7G.

Mereka belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari makanan yang mahal. Mereka belajar bahwa kebersamaan jauh lebih berharga daripada kemewahan. Mereka belajar bahwa duduk di lantai bersama teman-teman sambil makan dari alas daun pisang ternyata bisa menghadirkan rasa bahagia yang tulus.

Di tengah kesederhanaan itu saya melihat wajah-wajah penuh keceriaan. Senyum mereka begitu tulus. Tawa mereka begitu lepas. Tidak ada yang merasa kurang. Tidak ada yang merasa berbeda. Semua menjadi satu dalam kebersamaan.

Daun pisang yang memanjang itu seakan menjadi simbol persatuan. Mengingatkan bahwa mereka adalah satu keluarga  kelas 7G bagian dari Esmega. Saya berharap pengalaman sederhana ini akan tertanam dalam ingatan mereka.

Suatu hari nanti ketika mereka tumbuh dewasa, mungkin mereka akan makan di tempat yang lebih mewah, duduk di kursi yang nyaman, dan menikmati makanan yang lebih mahal. Semoga mereka tetap mengingat bahwa kebahagiaan sejati pernah mereka rasakan saat duduk bersila di lantai, makan bersama teman-temannya di atas selembar daun pisang panjang.

Semoga kebersamaan bersama kelas 7G itu menjadi amal kebaikan. Semoga Allah Subhanahu Wata'alla menanamkan nilai-nilai kebaikan di hati mereka. Semoga  anak-anak kelak tumbuh generasi yang kuat, rendah hati, serta selalu ingat kepada Allah Subhanahu Wata'alla dalam setiap langkah kehidupannya. Aamiin Aamiin.

Cepu, 14 Maret 2026