Minggu, 28 Juni 2026

Trio AL Fath Berkarya


Karya : Gutamining Saida

Tidak semua kebahagiaan harus dicari di tempat yang jauh. Tidak selalu harus hadir dalam bentuk perjalanan wisata atau hadiah yang mahal. Terkadang, kebahagiaan justru tumbuh dari kegiatan sederhana di rumah bersama orang-orang yang kita cintai. Itulah yang saya rasakan ketika merencanakan sebuah kegiatan berkarya bersama cucu-cucu tercinta.

Sejak beberapa hari sebelumnya saya sudah menyiapkan berbagai bahan. Saya membuat potongan kertas karton berbentuk menyerupai kue donat. Bentuknya sederhana, tetapi cukup menarik perhatian anak-anak. Selain itu saya juga menyiapkan berbagai bahan sebagai hiasan atau topping, di antaranya tepung, beras yang sudah saya beri warna merah, tepung roti, lem dobel tape, gunting, sendok, dan beberapa mangkuk kecil sebagai wadah. Semua saya tata dengan rapi agar mudah dijangkau oleh tangan-tangan mungil mereka.

Saya menyiapkan sembilan donat dari karton. Masing-masing anak mendapatkan tiga buah. Saya tidak memberikan contoh yang harus ditiru. Saya juga tidak menentukan warna apa yang harus dipilih atau pola seperti apa yang harus dibuat. Saya hanya mengatakan kepada mereka, "Silakan berkreasi sesuai keinginan kalian."

Mendengar itu, mata mereka berbinar-binar. Mereka segera mengambil bahan yang disukai. Ada yang memilih beras berwarna terlebih dahulu, ada yang lebih tertarik pada tepung roti, ada pula yang sibuk membuka lem agar bisa segera menempelkan hiasannya.

Yang menarik perhatian saya, masing-masing begitu fokus dengan pekerjaannya. Mereka tidak sibuk memperhatikan hasil karya saudaranya. Tidak ada yang berkata, "Punyaku harus lebih bagus." Tidak ada pula yang sibuk membandingkan. Mereka larut dalam dunianya sendiri, menikmati proses dengan penuh kegembiraan.

Saya tersenyum melihat pemandangan itu. Betapa anak-anak sering kali mengajarkan sesuatu yang mulai hilang dari kehidupan orang dewasa. Anak-anak berkarya karena ingin bergembira. Sementara orang dewasa kadang berkarya karena ingin dipuji, ingin diakui, atau ingin lebih hebat daripada orang lain.

Di antara ketiga cucu itu, si kecil Elmira memberikan kejutan yang luar biasa. Usianya yang paling kecil tidak membuatnya tertinggal. Justru dialah yang paling cepat menyelesaikan ketiga donat buatannya.

Tangannya bergerak lincah mengambil sendok kecil, menaburkan beras warna-warni, lalu menambahkan tepung roti tanpa banyak berpikir. Sesekali ia menekan perlahan agar semua bahan menempel dengan baik. Wajahnya tampak ceria. Ia tidak terlihat bingung memilih warna. Ia tidak terlalu banyak mempertimbangkan apakah hasilnya akan dipuji atau tidak.

Begitu selesai, ia segera memperlihatkan hasil karyanya. Saya memandang karya kecil itu dengan penuh rasa syukur. Mungkin jika dilihat oleh orang lain, hiasannya belum tentu sempurna. Bagi saya, hasil itu luar biasa. Di balik karya sederhana itu tersimpan keberanian untuk mencoba, rasa percaya diri, dan kegembiraan yang muncul dari hati yang masih bersih.

Saat itu saya mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Ternyata terlalu banyak pertimbangan sering kali justru membuat seseorang lambat memulai. Terlalu banyak berpikir kadang membuat seseorang kehilangan keberanian untuk berkarya. Sebaliknya, hati yang sederhana akan lebih mudah melangkah.

Saya teringat bahwa Allah Subhanahu Wata'alla mencintai hamba yang mau berusaha dengan sungguh-sungguh. Kesempurnaan bukanlah syarat utama dalam beramal. Yang paling penting adalah keikhlasan dan kesungguhan hati. Bukankah Allah Subhanahu Wata'alla lebih melihat ketakwaan dan niat daripada penampilan lahiriah semata?

Kegiatan sederhana bersama cucu-cucu itu kemudian berubah menjadi ruang kecil yang penuh pelajaran. Saya melihat bagaimana mereka menikmati setiap proses tanpa mengeluh. Jika beras tumpah, mereka memungutnya kembali. Jika tepung berceceran, mereka tertawa. Tidak ada wajah yang murung hanya karena hasilnya belum sesuai harapan.

Betapa berbeda dengan kehidupan orang dewasa. Sedikit kesalahan saja kadang membuat semangat menjadi hilang. Sedikit kritikan sudah cukup membuat seseorang enggan berkarya lagi. Anak-anak justru mengajarkan bahwa proses jauh lebih penting daripada rasa takut gagal.

Saya pun merenung bahwa kehidupan ini sebenarnya mirip dengan menghias donat dari karton itu. Allah Subhanahu Wata'alla telah memberikan kepada setiap manusia "media" yang sama berupa kehidupan. Hasil akhirnya akan berbeda-beda sesuai dengan pilihan, usaha, dan amal yang dilakukan masing-masing.

Ada yang menghiasi hidupnya dengan kejujuran, kesabaran, kasih sayang, ilmu, dan ibadah. Ada pula yang mengisinya dengan kesombongan, iri hati, dan kemalasan. Pada akhirnya, setiap manusia akan mempersembahkan hasil karyanya kepada Sang Pencipta.

Karena itulah, hidup ini hendaknya dipenuhi dengan warna-warna kebaikan. Setiap ucapan yang lembut adalah hiasan. Setiap sedekah adalah hiasan. Setiap senyum yang tulus adalah hiasan. Setiap doa yang dipanjatkan adalah hiasan yang akan memperindah perjalanan menuju akhirat.

Saya juga belajar dari sikap Elmira yang tidak banyak berpikir rumit. Kesederhanaannya mengingatkan saya pada pentingnya bertawakal. Setelah berusaha, jangan terlalu sibuk memikirkan penilaian manusia. Serahkan hasilnya kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Tugas kita adalah melakukan yang terbaik dengan hati yang ikhlas.

Rasulullah, mengajarkan bahwa amal yang paling dicintai Allah  Subhanahu Wata'allaadalah amal yang dilakukan dengan ikhlas dan terus-menerus, meskipun tampak kecil. Maka kegiatan sederhana menghias donat karton bersama cucu-cucu pun dapat bernilai ibadah apabila diniatkan untuk menumbuhkan kasih sayang, melatih kreativitas, mengajarkan kesabaran, serta mengenalkan bahwa setiap kemampuan adalah karunia dari Allah Subhanahu Wata'alla.

Suasana rumah dipenuhi tawa. Tangan-tangan kecil yang masih dipenuhi sisa tepung menjadi pemandangan yang menghangatkan hati. Saya tidak hanya melihat tiga anak yang sedang membuat karya, tetapi juga menyaksikan bagaimana Allah sedang mengajarkan banyak hikmah melalui kepolosan mereka.

Saya bersyukur diberi kesempatan menikmati masa-masa indah bersama cucu-cucu tercinta. Semoga kebersamaan seperti ini menjadi kenangan yang kelak tetap hidup dalam ingatan mereka. Semoga dari kegiatan sederhana ini tumbuh jiwa-jiwa yang kreatif, percaya diri, saling menyayangi, serta senantiasa bersyukur atas setiap nikmat yang Allah Subhanahu Wata'alla anugerahkan.

Semoga setiap detik kebersamaan, setiap senyum yang terukir, setiap karya kecil yang lahir dari tangan-tangan mungil mereka, dicatat sebagai amal kebaikan. Sebab dalam pandangan Allah Subhanahu Wata'alla, tidak ada kebaikan yang sia-sia apabila dilakukan dengan niat yang tulus. Semoga keluarga kami senantiasa dipenuhi keberkahan, dipersatukan dalam kasih sayang, dan kelak dipertemukan kembali di surga-Nya yang penuh kenikmatan. Aamiin.

Cepu, 29 Juni 2026

Bekal Kata Dari Karimunjawa


Karya: Gutamining Saida

Beberapa hari saya tidak menghasilkan karya tulis. Biasanya hampir setiap hari ada saja kisah yang saya abadikan melalui rangkaian kata. Terkadang kisah itu berasal dari pengalaman pribadi, percakapan sederhana dengan teman, tingkah lucu cucu, atau peristiwa kecil yang terjadi di sekitar saya. Bagi sebagian orang mungkin hal itu biasa saja, tetapi bagi saya setiap kejadian menyimpan hikmah yang layak dikenang.

Saya percaya bahwa setiap saat Allah Subhanahu Wata'alla menghadirkan pembelajaran dan hikmah. Tugas manusialah membuka mata, telinga, dan hati untuk menemukannya. Karena itulah, ketika ide terasa mulai menipis, saya tidak memilih mengeluh. Saya memutuskan melakukan perjalanan ke sebuah pulau yang selama ini hanya saya kenal melalui buku, internet, media sosial dan cerita para pelancong. Pulau itu adalah Karimunjawa.

Perjalanan ini bukan sekadar untuk berlibur. Saya membawa niat yang lebih banyak, yaitu mengumpulkan bekal untuk melahirkan tulisan-tulisan yang bermanfaat. Saya ingin pulang bukan hanya membawa foto-foto indah, melainkan juga membawa ide yang dapat menginspirasi banyak orang.

Saya selalu meyakini bahwa sebuah tulisan yang baik bukan hanya menghibur, tetapi juga mampu mengajak pembacanya semakin dekat kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Jika suatu saat nanti usia saya telah berakhir, saya berharap tulisan-tulisan itu tetap hidup, dibaca orang, menghadirkan manfaat, dan menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya. Betapa indahnya jika rangkaian huruf yang kita susun dengan niat ikhlas menjadi saksi kebaikan di hadapan Allah Subhanahu Wata'alla.

Sesampainya di Karimunjawa, saya benar-benar dibuat kagum. Hamparan laut berwarna biru jernih seolah memantulkan langit. Ombak kecil berkejaran menuju bibir pantai. Pasir putih yang lembut memanjakan setiap langkah kaki. Pepohonan kelapa melambai perlahan mengikuti tiupan angin. Burung-burung sesekali melintas di atas laut, menambah indah pemandangan yang terbentang.

Saya berdiri memandangi lautan. Tidak banyak kata yang keluar dari mulut saya. Hanya ucapan, "Subhanallah." Begitu luas ciptaan Allah Subhanahu Wata'alla. Begitu indah karya-Nya. Semua tersusun dengan sangat sempurna tanpa bantuan manusia sedikit pun. Laut mengetahui batasnya. Ombak datang dan kembali sesuai ketetapan-Nya. Matahari terbit dan tenggelam tepat pada waktunya. Semua tunduk kepada Sang Pencipta.

Saat itulah saya sadar bahwa selama ini saya hanya mengenal Karimunjawa dari gambar dan tulisan. Kini menyaksikannya secara langsung menghadirkan rasa syukur yang jauh lebih besar. Benarlah, melihat sendiri kebesaran Allah Subhanahu Wata'alla akan menambah keimanan dibanding hanya mendengarnya dari cerita.

Di sela-sela perjalanan, saya bertemu berbagai macam orang. Ada yang datang bersama keluarga, ada yang menikmati perjalanan bersama sahabat, bahkan ada pula yang datang seorang diri. Masing-masing memiliki tujuan berbeda. Saya berharap tujuan utama saya tidak berubah, yaitu semakin mengenal kebesaran Allah Subhanahu Wata'alla melalui ciptaan-Nya.

Saya teringat firman Allah yang mengajak manusia memperhatikan langit, bumi, gunung, laut, dan seluruh isi alam sebagai tanda-tanda kekuasaan-Nya. Alam bukan sekadar tempat wisata. Alam adalah kitab terbuka yang mengajarkan manusia tentang kebesaran Sang Khalik. Sayangnya, tidak semua orang mampu membacanya dengan hati yang bersyukur.

Semakin lama berada di Karimunjawa, semakin saya merasa kecil. Manusia sering kali bangga dengan jabatan, harta, atau kepandaiannya. Padahal di hadapan luasnya samudra, kita hanyalah setitik debu. Ombak yang tenang bisa berubah besar atas izin Allah Subhanahu Wata'alla. Angin yang sejuk dapat menjadi badai jika Dia menghendaki. Semua mengingatkan bahwa tidak ada kekuatan selain milik-Nya.

Pasang surut air laut mengingatkan bahwa kehidupan pun demikian. Kadang kita berada di atas, kadang berada di bawah. Ada saatnya tertawa, ada saatnya menangis. Semua itu akan terasa ringan jika hati selalu bersandar kepada Allah Subhanahu Wata'alla.

Saya paham bahwa mencari inspirasi bukan hanya tentang menemukan cerita yang menarik. Inspirasi sejati adalah ketika hati mampu menangkap hikmah dari setiap peristiwa. Batu karang mengajarkan keteguhan. Ombak mengajarkan semangat yang tidak pernah berhenti. Pasir mengajarkan kerendahan hati karena selalu diinjak tetapi tetap memberi kenyamanan. Langit mengajarkan keluasan harapan kepada siapa pun yang memandangnya.

Perjalanan ke Karimunjawa menjadi pengingat bahwa manusia tidak boleh berhenti belajar. Semakin jauh melangkah, semakin banyak pelajaran yang diperoleh. Semakin banyak melihat ciptaan Allah Subhanahu Wata'alla, semakin bertambah rasa syukur dalam hati.

Saya merasa sudah mendapatkan bekal. Bukan berupa oleh-oleh mahal atau barang berharga, melainkan kumpulan inspirasi yang akan saya tuangkan menjadi tulisan. Saya ingin setiap kisah yang tertulis dari perjalanan ini menjadi pengingat bahwa dunia begitu indah karena Allah Subhanahu Wata'alla menciptakannya dengan penuh kesempurnaan.

Semoga tulisan-tulisan yang lahir setelah perjalanan ke Karimunjawa mampu menjadi jendela bagi para pembaca untuk lebih mencintai alam, menjaga lingkungan, serta semakin mengagungkan kebesaran Allah Subhanahu Wata'alla. Saya berharap setiap kalimat yang saya tulis menjadi jalan hadirnya senyum, semangat, dan keimanan bagi siapa saja yang membacanya.

Sesungguhnya perjalanan terbaik bukanlah perjalanan yang menghasilkan banyak foto, melainkan perjalanan yang membuat hati semakin mengenal Sang Pencipta. Tulisan terbaik bukanlah yang paling indah bahasanya, melainkan yang mampu mengajak manusia semakin bersyukur kepada Allah.

Semoga Allah Subhanahu Wata'alla menerima setiap langkah yang diniatkan karena-Nya, memberkahi setiap huruf yang saya tulis dengan keikhlasan. Serta menjadikan karya-karya sederhana ini sebagai amal jariyah yang terus mengalir pahalanya, bahkan ketika penulisnya telah kembali menghadap-Nya. Aamiin.

Cepu, 29 Juni 2026

Pembelajaran Kehidupan Di atas Kapal


Karya : Gutamining Saida 
Perjalanan menuju Karimunjawa menjadi salah satu pengalaman yang sangat berkesan dalam hidup saya. Bukan semata-mata karena indahnya laut yang terbentang luas atau karena saya akan mengunjungi sebuah pulau yang terkenal akan pesona pantainya. Lebih dari itu, perjalanan ini menghadirkan banyak pelajaran kehidupan yang menyentuh hati. Saya merasa seolah Allah Subhanahu Wata'alla sedang mengajak saya belajar melalui sebuah ruang kelas yang sangat luas, yaitu sebuah kapal yang mengarungi lautan.

Sejak berada di pelabuhan hingga akhirnya kapal bergerak meninggalkan dermaga, mata saya tidak berhenti memperhatikan berbagai peristiwa di sekitar. Hiruk pikuk penumpang begitu terasa. Ada yang berjalan tergesa-gesa karena khawatir tertinggal kapal. Ada keluarga yang saling menggenggam tangan agar tidak terpisah. Ada anak-anak yang berlarian penuh kegembiraan. Ada pula orang tua yang melangkah perlahan sambil dibantu anak atau cucunya.

Semua bergerak menuju tujuan yang sama, meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Saya melihat bayi yang masih berada dalam gendongan ibunya. Bayi itu belum memahami ke mana ia akan dibawa. Ia hanya merasa aman karena berada dalam pelukan orang tuanya. Pemandangan itu mengingatkan saya bahwa manusia pun seharusnya selalu merasa aman dalam pelukan kasih sayang Allah Subhanahu Wata'alla. Kita tidak pernah mengetahui apa yang akan terjadi esok hari, tetapi orang yang bertawakal akan selalu merasa tenang karena yakin Allah adalah sebaik-baik Penjaga.

Di sudut lain terlihat anak-anak yang begitu ceria. Mereka tertawa, menunjuk laut, melambaikan tangan kepada burung-burung yang terbang rendah. Hati mereka masih bersih. Mereka menikmati perjalanan tanpa memikirkan beban kehidupan. Saya pun berpikir, alangkah indahnya jika hati orang dewasa tetap dipenuhi rasa syukur dan kegembiraan sebagaimana anak-anak yang menikmati setiap nikmat Allah tanpa banyak mengeluh. 

Tidak jauh dari tempat saya duduk, tampak para remaja yang sibuk mengabadikan momen dengan telepon genggam mereka. Mereka tersenyum, saling bercanda, dan mengambil gambar laut yang membentang luas. 

Semoga setiap nikmat yang diabadikan disertai ucapan syukur, dan setiap keindahan yang terlihat berasal dari kemurahan Allah semata. Kemudian pandangan saya tertuju kepada para orang tua. Sebagian duduk tenang sambil memandang laut. Wajah mereka menyimpan banyak pengalaman hidup. Keriput yang menghiasi wajah seakan menjadi saksi panjangnya perjalanan kehidupan yang telah mereka lalui. Saya membayangkan, suatu hari nanti saya pun akan berada pada usia itu. Yang akan menemani bukan lagi kekuatan fisik, melainkan amal saleh yang telah dikumpulkan selama hidup.

Di atas kapal itu saya juga melihat beragam manusia. Ada masyarakat lokal, wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia, hingga wisatawan mancanegara. Ada yang berkulit sawo matang, ada yang berkulit putih, bahkan ada yang berambut pirang. Bahasa yang terdengar pun bermacam-macam. Semuanya berada di kapal yang sama, menempuh lautan yang sama, menuju tujuan yang sama.

Saya teringat firman Allah bahwa manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal, bukan saling membanggakan diri. Kemuliaan seseorang bukan ditentukan oleh warna kulit, bahasa, atau asal negaranya, melainkan oleh ketakwaannya kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Keberagaman pakaian yang dikenakan para penumpang juga menarik perhatian saya. Ada petugas kapal yang mengenakan seragam rapi sebagai tanda tanggung jawabnya. Ada wisatawan yang memakai pakaian santai karena ingin menikmati liburan. Ada pula saudara-saudara muslim yang mengenakan busana yang menutup aurat dengan baik.

Perbedaan penampilan itu mengingatkan saya bahwa kelak ketika manusia meninggal dunia, semua pakaian kebanggaan akan ditinggalkan. Tidak ada lagi pakaian mahal atau sederhana yang membedakan manusia. Semua akan dibalut kain kafan yang sama. Yang membedakan hanyalah amal yang dibawa menghadap Allah Subhanahu Wata'alla.

Ketika kendaraan mulai memasuki kapal, perhatian saya kembali tertuju pada pemandangan lain. Sepeda motor, mobil pribadi, truk besar, hingga kendaraan pengangkut barang semuanya masuk secara bergantian. Kendaraan yang di darat tampak gagah, di dalam kapal harus mengikuti aturan. Tidak ada yang boleh mendahului sesuka hati. Semua harus tertib sesuai arahan petugas. Betapa pun hebatnya manusia di dunia, semuanya tetap berada di bawah aturan Allah Subhanahu Wata'alla. Tidak ada seorang pun yang mampu melawan ketetapan-Nya. Jabatan, kekayaan, maupun kekuasaan tidak akan mampu mengubah takdir ketika ajal telah tiba.

Saat kapal mulai bergerak meninggalkan pelabuhan, perlahan daratan semakin menjauh. Bangunan-bangunan yang semula tampak besar berubah menjadi titik-titik kecil. Saya merasakan sebuah pelajaran yang sangat mendalam. Begitulah kehidupan dunia. Yang hari ini terlihat besar, megah, dan penting, suatu saat akan tampak kecil ketika kita telah meninggalkannya. Angin laut bertiup lembut menerpa wajah. Ombak terus bergerak tanpa mengenal lelah. Laut yang luas menghampar sejauh mata memandang seolah mengajak saya berdialog. Di hadapan kebesaran ciptaan Allah Subhanahu Wata'alla, manusia hanyalah makhluk kecil yang tidak memiliki apa-apa tanpa pertolongan-Nya.

Perjalanan di atas kapal ini juga mengingatkan saya pada perjalanan hidup menuju akhirat. Dunia hanyalah tempat singgah, sebagaimana kapal hanyalah alat untuk mencapai tujuan. Tidak ada penumpang yang ingin tinggal selamanya di atas kapal. Semua ingin sampai di tempat tujuan. Demikian pula kehidupan di dunia. Kita hanya singgah sementara sebelum menuju kampung akhirat yang kekal. Karena itu, selama perjalanan hidup ini, kita hendaknya memperbanyak bekal. Bekal itu bukan berupa harta yang melimpah atau kedudukan yang tinggi, melainkan iman, takwa, amal saleh, kejujuran, kesabaran, serta kepedulian kepada sesama.

Semoga setiap langkah perjalanan yang saya lakukan tidak hanya menambah pengalaman dunia, tetapi juga menambah bekal untuk kehidupan akhirat. Sebab pada akhirnya, tujuan terindah bukanlah tiba di Karimunjawa, melainkan tiba dengan selamat di surga yang dijanjikan Allah Subhanahu Wata'alla bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan senantiasa bersyukur. Aamiin.
Cepu, 29 Juni 2026 

Rabu, 24 Juni 2026

Lima menit Kuhapus Rindu



Karya: Gutamining Saida

Di tengah kesibukan yang terus berputar, Allah Subhanahu Wata'alla mempertemukan saya dengan seorang teman yang sudah lama tidak berjumpa. Dia bukan sekadar teman biasa, melainkan seseorang yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidup, seseorang yang sudah seperti saudara sendiri.

Kadang kita berpikir bahwa kebersamaan akan selalu ada. Namun kenyataannya, waktu mempunyai jalannya sendiri. Kesibukan pekerjaan, tanggung jawab keluarga, dan jarak yang memisahkan membuat pertemuan menjadi semakin jarang. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan tanpa terasa bulan pun berganti tahun. Komunikasi masih terjalin sesekali, tetapi tentu berbeda rasanya dengan bertemu secara langsung.

Tanpa direncanakan jauh-jauh hari, Allah Subhanahu Wata'alla mengizinkan kami bertemu kembali. Hanya sebentar, mungkin tidak sampai lima menit. Pertemuan yang nilainya tidak diukur dari lamanya waktu, melainkan dari kehangatan yang dibawanya.

Ketika mata kami saling bertemu, senyum spontan langsung mengembang. Tidak ada rasa canggung. Tidak ada jarak. Tidak ada pertanyaan tentang mengapa lama tidak menghubungi atau mengapa jarang bertemu. Semua seolah hilang dalam satu momen yang sangat singkat.

"Sudah lama tidak ketemu," ucap bu Didik.

"Iya.."jawab saya singkat

Kalimat sederhana itu justru membuka pintu kerinduan yang selama ini tersimpan. Kami saling berjabat tangan dengan erat. Di saat itulah saya merasakan betapa berharganya sebuah persaudaraan yang dibangun karena kebaikan dan ketulusan.

Dalam hati saya teringat sebuah pesan bahwa orang-orang yang saling mencintai karena Allah Subhanahu Wata'allaakan mendapatkan naungan-Nya pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya. Persaudaraan yang dibangun bukan karena kepentingan dunia semata akan tetap terasa hangat meskipun waktu dan jarak memisahkan.

Sungguh benar bahwa rindu adalah salah satu nikmat yang Allah Subhanahu Wata'alla titipkan kepada manusia. Dengan rindu, kita belajar menghargai kebersamaan. Dengan rindu, kita menyadari bahwa kehadiran seseorang dalam hidup ternyata begitu berarti. Dan dengan rindu pula, kita belajar bahwa setiap pertemuan adalah anugerah yang tidak boleh disia-siakan.

Percakapan kami mengalir begitu saja. Tidak perlu mencari topik pembicaraan. Tidak perlu menyusun kalimat yang indah. Semua berjalan alami seperti air yang mengalir dari hulu menuju hilir. Kami saling bertanya kabar keluarga, pekerjaan, kesehatan, dan berbagai cerita sederhana yang terjadi selama beberapa tahun terakhir.

Yang membuat saya terharu adalah perasaan yang muncul seolah waktu tidak pernah berlalu. Meskipun sekian lama tidak bertemu, hubungan itu tetap sama. Tidak ada perubahan dalam rasa hormat, rasa sayang, maupun rasa persaudaraan yang selama ini terjalin.

Saya kemudian menyadari bahwa hubungan yang dibangun dengan ketulusan memang berbeda. Ketika hubungan dibangun atas dasar manfaat dunia, sering kali akan pudar ketika kepentingan itu hilang. Jika dibangun karena Allah, karena saling menghargai dan saling mendoakan, maka hubungan itu akan tetap hidup meskipun jarang bertemu.

Dalam kehidupan ini, kita sering mengejar banyak hal. Kita mengejar pekerjaan, jabatan, harta, dan berbagai pencapaian lainnya. Terkadang kita lupa bahwa salah satu rezeki terbesar adalah dipertemukan dengan orang-orang baik yang membawa kebahagiaan dalam hidup kita.

Pertemuan singkat pagi ini menjadi pengingat bahwa sahabat sejati adalah nikmat yang sangat berharga. Mereka hadir bukan hanya ketika kita tertawa, tetapi juga ketika kita menghadapi kesulitan. Mereka mungkin tidak selalu berada di dekat kita, tetapi doa-doa mereka tetap mengalir meskipun terpisah jarak.

Saya teringat bahwa dalam Islam, seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin lainnya. Persaudaraan tidak selalu lahir dari hubungan darah.  Allah  Subhanahu Wata'alla mempertemukan dua orang yang tidak memiliki hubungan keluarga, tetapi memiliki ikatan hati yang begitu kuat. Ikatan itu tumbuh dari saling menghormati, saling membantu, dan saling mendoakan dalam kebaikan.

Ketika waktu perpisahan kembali tiba, kami sadar bahwa masing-masing masih memiliki aktivitas yang harus dijalankan. Kali ini perasaan berbeda. Jika sebelumnya ada kerinduan yang menumpuk, kini hati terasa lebih lega. Rindu yang selama ini membuncah seolah telah menemukan tempat untuk berlabuh.

Kami saling mendoakan sebelum berpisah.

Semoga Allah selalu memberikan kesehatan.

Semoga Allah melimpahkan keberkahan kepada keluarga.

Semoga Allah memudahkan segala urusan.

Semoga Allah menjaga persaudaraan ini sampai kapan pun.

Langkah kami kemudian kembali menuju arah masing-masing. Ada kebahagiaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Pertemuan yang mungkin hanya berlangsung lima menit ternyata mampu menghadirkan ketenangan yang luar biasa.

Pagi itu saya belajar bahwa kebahagiaan hadir melalui sebuah senyum, jabat tangan, dan percakapan singkat dengan sahabat yang sudah seperti saudara. Lima menit perjumpaan memang tidak mampu menggantikan tahun-tahun yang telah berlalu. Lima menit cukup untuk menghapus rindu yang menumpuk, menghangatkan kembali kenangan indah, dan mengingatkan bahwa persaudaraan karena Allah tidak akan pernah lekang oleh waktu. Barokallah fii keluarga bapak Didik. Sampai jumpa di lain kesempatan. 

Cepu, 24 Juni 2026

Jumat, 19 Juni 2026

Three G



Karya: Gutamining Saida

Bagi umat Islam, Jumat dikenal sebagai sayyidul ayyam, penghulu segala hari. Pada hari ini, banyak orang berlomba-lomba melakukan kebaikan, memperbanyak sedekah, membaca Surah Al-Kahfi, memperbanyak shalawat, serta memohon ampunan kepada Allah Swt.

Suasana seperti ini juga terasa di ruang guru. Meskipun sebagian guru sibuk dengan tugas masing-masing, menata data raport, melengkapi administrasi untuk besok pagi, tetap ada ruang untuk berbagi kebahagiaan sederhana.

Bu Ning datang membawa beberapa tandan pisang raja yang sudah matang. Warnanya kuning kecoklatan dan tampak menggugah selera. Tidak lama kemudian Bu Nikmah datang membawa jamur yang sudah dikemas plastik. Tanpa banyak kata, keduanya mempersilakan teman-teman untuk mengambil.

"Silakan, Bu, diambil saja," kata mereka dengan ramah.

Tidak ada transaksi, tidak ada perhitungan untung rugi. Semuanya dilakukan dengan ikhlas. Dalam kesederhanaan, tersimpan nilai sedekah yang luar biasa. Rasulullah mengajarkan bahwa senyum adalah sedekah, apalagi berbagi makanan kepada sesama.

Betapa indahnya kebersamaan di antara rekan-rekan guru. Terkadang kebahagiaan tidak datang dari sesuatu yang besar dan mahal. Satu pisang atau sekantong plastik jamur yang dibagikan dengan ikhlas justru mampu menghadirkan rasa syukur yang mendalam.

Di ruang guru kami memang sering muncul istilah-istilah baru. Kadang istilah itu berasal dari dunia pendidikan, kadang dari pengalaman sehari-hari, bahkan tidak jarang muncul dari candaan spontan yang membuat suasana semakin hidup.

Interaksi sesama rekan guru menjadi semakin seru dan menarik. Selain menambah wawasan, juga mempererat tali persaudaraan. Di tengah kesibukan mengajar dan berbagai tanggung jawab, tawa menjadi penyegar yang membuat hati lebih ringan.

Saat menikmati suasana tersebut, tiba-tiba Bu Wiwik nyeletuk.

"Saya punya istilah Three G."

Mendengar istilah itu, saya langsung teringat materi IPS tentang penjelajahan samudra yang terkenal dengan 3G yaitu Gospel, Glory, dan Gold.

"Wah, apa itu, Bu?" tanya saya penasaran.

Bu Wiwik tersenyum sambil menahan tawa.

"G yang pertama gedang."

Sebagian guru langsung tersenyum memahami maksudnya. Dalam bahasa Jawa, gedang berarti pisang.

"G yang kedua goreng."

Kini beberapa guru mulai menebak-nebak arah pembicaraan.

"G yang ketiga gosong."

Mendengar jawaban itu, saya semakin penasaran.

"Lho, kok bisa sampai gosong, Bu?"

Dengan wajah penuh kelucuan, Bu Wiwik menjawab singkat,

"Karena ditinggal WhatsApp-an."

Seketika ruang guru pecah oleh gelak tawa. Guru-guru yang sedang memasukkan dokumen raport, membaca berkas, ikut tersenyum. Bahkan ada yang tertawa cukup keras hingga harus menutup mulutnya.

Suasana yang semula tenang berubah menjadi hangat dan penuh keceriaan. Saya pun ikut tertawa. Memang sederhana, tetapi candaan seperti itu mampu mencairkan suasana. Dari sebuah pisang, lahirlah istilah baru yaitu Thee G, Gedang, Goreng, dan Gosong.

Di balik candaan tersebut, saya justru memperoleh pelajaran berharga. Betapa sering manusia kehilangan fokus karena terlalu larut dengan telepon genggamnya. Niat awal ingin menggoreng pisang agar matang dan nikmat, tetapi karena asyik membaca pesan atau membalas WhatsApp, akhirnya pisang menjadi gosong.

Bukankah hal serupa juga dapat terjadi dalam kehidupan? Terkadang Allah Subhanahu Wata'alla telah memberikan banyak nikmat kepada kita. Waktu, kesehatan, keluarga, pekerjaan, dan kesempatan berbuat baik sudah berada di depan mata. Karena terlalu sibuk dengan hal-hal yang kurang bermanfaat, kita lalai mensyukuri nikmat tersebut.

Pisang yang gosong mungkin hanya kerugian kecil. Jika yang gosong adalah kesempatan beramal, kesempatan berbakti kepada orang tua, kesempatan mendidik anak dengan baik, atau kesempatan memperbaiki diri, tentu kerugiannya jauh lebih besar.

Saya teringat firman Allah Subhanahu Wata'alla. bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran. Waktu yang terbuang tidak akan pernah kembali.

Karena itulah, candaan Bu Wiwik sebenarnya mengandung hikmah. Teknologi memang memudahkan kehidupan, tetapi jangan sampai membuat kita lalai terhadap tugas dan tanggung jawab. WhatsApp, media sosial, dan berbagai aplikasi hanyalah alat. Kitalah yang harus mengendalikan alat tersebut, bukan sebaliknya.

Suasana ruang guru pagi itu semakin akrab. Pisang raja dari Bu Ning dinikmati bersama. Jamur dari Bu Nikmah dibawa pulang dengan penuh rasa syukur. Di sela-sela tawa dan percakapan ringan, ada pelajaran tentang berbagi, kebersamaan, dan pentingnya menjaga waktu.

Saya menyadari bahwa Allah Subhanahu Wata'alla sering menghadirkan pelajaran hidup melalui cara-cara yang sederhana.  Kadang hikmah datang dari obrolan santai, candaan teman, atau sepotong pisang yang hampir gosong karena ditinggal membaca pesan.

Jumat pagi itu ruang guru bukan hanya menjadi tempat bekerja, tetapi juga menjadi tempat belajar  kehidupan. Belajar berbagi dari Bu Ning dan Bu Nikmah. Belajar mencairkan suasana dari Bu Wiwik. Belajar mensyukuri nikmat kebersamaan yang mungkin suatu saat akan menjadi kenangan indah.

Semoga keberkahan hari Jumat senantiasa menyertai kami semua. Semoga Allah Subhanahu Wata'alla menjaga persaudaraan di antara rekan-rekan guru, melapangkan rezeki mereka yang gemar berbagi, menghadirkan kesehatan dan kebahagiaan bagi keluarga mereka, serta menjadikan setiap canda sebagai perekat ukhuwah dan penyejuk hati. Dari kisah hari ini tersimpan pelajaran  tentang syukur, kebersamaan, dan pentingnya menggunakan waktu sebaik-baiknya untuk meraih ridha Allah.

Cepu, 19 Juni 2026

Kamis, 18 Juni 2026

Gantungan Kunci


Karya: Gutamining Saida
Hari Jumat siang suasana ruang guru SMPN 3 Cepu terasa berbeda. Biasanya pada jam-jam tertentu terdengar percakapan ringan, candaan, atau diskusi tentang pembelajaran. Kali itu suasana relatif sepi. Masing-masing guru tampak sibuk dengan tumpukan raport. Masa pembagian rapor semakin dekat sehingga banyak guru fokus memasukkan lembaran nilai ke dalam dokumen rapor.

Beberapa guru sesekali mengecek data, mencocokkan nilai, lalu kembali tanda tangan. Semua larut dalam pekerjaan masing-masing. Di tengah kesunyian itu, tiba-tiba muncul sosok Bu Putri yang berjalan dari depan menuju bagian belakang ruang guru. Di tangannya terdapat sebuah kresek besar yang tampak penuh berisi sesuatu. Langkahnya perlahan sambil sesekali berhenti di meja guru.
"Hayoo... apa itu, Bu?" tanya salah seorang guru yang baru saja menerima sebuah bingkisan kecil.
"Kiriman oleh-oleh dari Mekah," jawab Bu Putri sambil tersenyum.

Mendengar kata "Mekah", suasana yang tadinya tenang mendadak berubah. Guru-guru yang berada di deretan belakang spontan menghentikan pekerjaannya. Beberapa mengangkat kepala, sementara yang lain berdiri untuk melihat isi kresek yang dibawa Bu Putri. Oleh-oleh dari Tanah Suci memang selalu menghadirkan rasa bahagia tersendiri. Bukan semata-mata karena bentuk atau nilainya, melainkan karena benda itu datang dari tempat yang setiap hari disebut dalam doa dan salat umat Islam di seluruh dunia.

Satu per satu bingkisan dibagikan. Mereka yang telah menerima langsung membuka bungkusnya karena penasaran. "Wah, gantungan kunci!" seru salah seorang guru. Salah satu isi bingkisan yang paling menarik perhatian adalah gantungan kunci khas Arab. Bentuknya beraneka ragam. Ada yang berbentuk unta, dan ada pula yang menampilkan ciri khas budaya Timur Tengah.

Seketika ruang guru yang semula hening berubah menjadi penuh tawa. "Eeeeeh... biar bisa naik unta," kata Bu Indri sambil memperlihatkan gantungan kunci miliknya. Guru-guru lain tertawa mendengar celetukan tersebut. Tak lama kemudian muncul pertanyaan yang semakin membuat suasana meriah.
"Onta saya ini laki-laki apa perempuan? Saya pingin onta yang laki-laki," ujar seorang guru sambil mengamati gantungan kunci yang diterimanya.
Yang lain ikut memperhatikan.
"Yang naik perempuan ya?"
"Iya, ini pakai jilbab putih," jawabnya disambut gelak tawa rekan-rekan yang lain.
Candaan sederhana itu membuat ruang guru terasa hidup. Sesaat mereka melupakan kesibukan memasukkan nilai dan menyusun rapor.

Di tengah suasana riang tersebut terdengar suara Bu Wiwik.
"Lhooo... saya kok tidak dapat gantungan kunci?"
Semua langsung menoleh ke arahnya.
"Lha diganti apa, Bu?" tanya salah seorang guru.
"Parfum," jawab Bu Wiwik sambil menunjukkan botol kecil yang diterimanya.
"Ayooo... siapa yang ingin mencoba, boleh," tambahnya dengan ramah.
Beberapa guru mendekat. Aroma parfum khas Arab yang lembut dan harum segera memenuhi sebagian ruang guru. Keharuman itu seakan membawa imajinasi mereka menuju kota suci yang selama ini hanya mereka lihat melalui televisi, buku, atau cerita para jamaah haji dan umrah.

Di balik canda dan tawa itu, teringat akan kebesaran Allah. Rezeki memang datang dengan cara yang tidak pernah disangka-sangka. Hari itu tidak ada seorang pun yang datang ke sekolah dengan harapan memperoleh oleh-oleh. Tidak ada yang meminta. Tidak ada yang menunggu. Allah Subhanahu Wata'alla  menghadirkan kebahagiaan melalui tangan seorang hamba-Nya.

Saya teringat firman Allah bahwa Dia memberi rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Rezeki bukan hanya berupa uang atau harta benda. Senyuman, persaudaraan, kesehatan, ilmu yang bermanfaat, bahkan oleh-oleh dari Tanah Suci pun termasuk bagian dari rezeki yang patut disyukuri.

Hari Jumat dikenal sebagai hari yang penuh keberkahan. Pada hari itu umat Islam dianjurkan memperbanyak doa, membaca Al-Qur'an, bersedekah, dan melakukan berbagai amal saleh. Mungkin pembagian oleh-oleh itu hanyalah peristiwa sederhana, tetapi Allah Subhanahu Wata'alla menjadikannya sarana untuk menumbuhkan rasa syukur dan mempererat tali persaudaraan di antara kami.

Melihat wajah-wajah guru yang tersenyum menerima bingkisan kecil tersebut, saya semakin yakin bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari sesuatu yang besar. Kadang kebahagiaan hadir melalui hal-hal sederhana yang dibagikan dengan ikhlas. Pekerjaan menata raport yang semula terasa berat seakan menjadi lebih ringan. Ruang guru yang tadi sunyi berubah menjadi hangat oleh percakapan, tawa, dan rasa syukur bersama.

"Ya Allah, betapa banyak nikmat-Mu yang sering kami abaikan. Engkau hadirkan kebahagiaan melalui cara-cara yang tidak kami duga." Benarlah bahwa rezeki tidak akan tertukar. Apa yang menjadi bagian kita akan sampai kepada kita dengan izin Allah. Tidak perlu iri terhadap rezeki orang lain, karena Allah telah mengatur bagian masing-masing dengan sangat adil.

Rezeki tidak akan lari ke mana. Ia akan datang tepat waktu kepada pemiliknya, melalui jalan yang telah Allah tentukan. Tugas kita hanyalah bersyukur, menjaga hati tetap baik, dan terus berikhtiar sambil meyakini bahwa setiap nikmat berasal dari Allah Yang Maha Pemurah.
Cepu, 19 Juni 2026

Ketenangan Jiwa

Karya: Gutamining Saida 
Saya berkesempatan menginap di Hotel Citradream Bandung. Hotel ini berada di kawasan yang cukup strategis dan nyaman. Bangunannya menjulang dengan delapan lantai yang tertata rapi. Dari luar tampak modern dan bersih. Ketika memasuki lobi, suasana sejuk langsung terasa. Para petugas menyambut tamu dengan ramah dan sopan.

Proses check-in berlangsung lancar sehingga kami dapat segera beristirahat setelah perjalanan yang cukup melelahkan. Saya mendapatkan kamar di lantai satu dengan nomor 109. Kamar tersebut cukup nyaman untuk ditempati dua orang. Di dalamnya tersedia dua tempat tidur yang empuk, pendingin ruangan yang bekerja dengan baik, meja, kursi, televisi, serta kamar mandi yang bersih dan tertata rapi. Air mengalir lancar, perlengkapan mandi tersedia, dan pencahayaan kamar juga cukup baik.Secara umum, pelayanan yang diberikan hotel ini memuaskan. Kebersihan terjaga dan para petugas siap membantu apabila diperlukan.

Sebagai orang yang sehari-hari tinggal di rumah sederhana di kampung, tentu fasilitas seperti ini terasa  mewah dibandingkan kamar yang saya miliki di rumah. Kasurnya empuk, ruangan lebih sejuk karena AC, dan suasananya tampak modern. Secara logika, seharusnya saya dapat tidur lebih nyenyak di tempat yang nyaman seperti itu.

Ternyata kenyataannya berbeda. Malam itu saya tidak bisa langsung tertidur. Tubuh memang lelah, tetapi mata terasa sulit terpejam. Saya berbaring cukup lama sambil memandangi langit-langit kamar. Sesekali terdengar suara kendaraan dari luar hotel. Saya membolak-balikkan badan mencari posisi yang nyaman. Kasur yang empuk ternyata tidak otomatis membuat tidur menjadi nyenyak.

Pikiran saya melayang jauh ke rumah. Di rumah, kamar saya jauh lebih sederhana. Tidak ada AC yang membuat ruangan terasa dingin. Kasurnya biasa saja, bahkan mungkin tidak semewah yang tersedia di hotel. Anehnya, ketika sampai di rumah dan merebahkan badan, saya biasanya dapat langsung tertidur.  Terkadang terlalu nyenyak hingga sulit bangun saat pagi hari.

Allah Subhanahu Wata'alla memberikan pelajaran yang sangat berharga melalui pengalaman sederhana tersebut. Selama ini banyak orang beranggapan bahwa kemewahan adalah sumber kebahagiaan dan ketenangan. Kenyataannya tidak selalu demikian. Tempat yang nyaman belum tentu membuat hati tenang. Kasur yang mahal belum tentu membuat seseorang tidur nyenyak. Bangunan yang megah belum tentu menghadirkan rasa damai. Ketenangan sejati ternyata bukan berasal dari fasilitas yang dimiliki, melainkan dari hati yang dekat dengan Allah Subhanahu Wata'alla.

Saya teringat firman Allah bahwa hanya dengan mengingat-Nya hati menjadi tenteram. Ayat tersebut terasa begitu nyata malam itu. Ketika hati dipenuhi berbagai pikiran, rasa khawatir, dan berbagai pertimbangan, maka kemewahan di sekitar tidak mampu menghilangkan kegelisahan. Sebaliknya, ketika hati berserah diri kepada Allah Subhanahu Wata'alla rasa tenang dapat hadir meskipun berada di tempat yang sangat sederhana.

Saya membayangkan kehidupan Rasulullah yang begitu sederhana. Tempat tidur beliau jauh dari kata mewah. Beliau memiliki ketenangan yang luar biasa karena kedekatan dengan Allah Subhanahu Wata'alla. Dari situlah saya menyadari bahwa ukuran kebahagiaan tidak terletak pada banyaknya fasilitas, tetapi pada kualitas rasa syukur yang ada di dalam hati.

Malam di Bandung menjadi malam perenungan. Saya bersyukur masih diberi kesempatan melihat berbagai keadaan kehidupan. Ada orang yang tinggal di rumah sederhana tetapi hidupnya penuh kebahagiaan. Ada pula yang memiliki segala kemewahan namun hatinya tetap gelisah. Semua itu mengajarkan bahwa nikmat terbesar bukanlah harta benda, melainkan ketenangan jiwa.

Ketika pagi tiba, saya bangun dengan rasa syukur dibandingkan saat pertama kali memasuki hotel. Saya menyadari bahwa kemewahan hanyalah sarana, bukan tujuan hidup. Fasilitas yang baik patut disyukuri, tetapi jangan sampai membuat kita lupa bahwa sumber ketenangan sesungguhnya berasal dari Allah Subhanahu Wata'alla. 

Perjalanan ke Bandung akhirnya bukan hanya menjadi perjalanan wisata. Saya membawa pelajaran berharga bahwa manusia sering mengejar kenyamanan lahiriah, padahal yang lebih penting adalah kenyamanan batin. Semoga Allah selalu menjadikan kita hamba yang pandai bersyukur, tidak silau oleh kemewahan dunia, dan senantiasa merasa cukup atas nikmat yang telah diberikan. Karena pada akhirnya, ketenangan bukanlah tentang di mana kita tidur, tetapi tentang kepada siapa hati kita bersandar. Aamiin.
Cepu, 18 Juni 2026 

Es Teler

Karya: Gutamining Saida 
Hari libur memang selalu terasa berbeda. Udara pagi seolah lebih ramah, waktu berjalan lebih pelan, dan hati terasa lebih longgar untuk menerima apa pun yang datang. Tidak ada dering bel masuk sekolah, tidak ada tumpukan tugas, dan tidak ada keharusan terburu-buru. Di sela suasana itulah sebuah ajakan sederhana datang. Tidak panjang, tidak pula bertele-tele. Hanya satu kalimat singkat yang langsung saya sambut dengan satu kata penuh makna, “oke”.
Ajakan itu seperti angin segar di sela rutinitas. Ada rasa senang yang sulit dijelaskan, bukan karena tujuannya, melainkan karena kebersamaan yang menyertainya. Sebelum melangkah keluar rumah, tanggung jawab tetap harus ditunaikan. Saya menyelesaikan pekerjaan dapur terlebih dahulu. Memasak dengan niat ibadah, memastikan keluarga tidak kekurangan. Setelah itu, saya beres-beres rumah, merapikan yang perlu dirapikan, menyapu sisa-sisa debu yang menempel, seolah membersihkan bukan hanya lantai, tetapi juga hati.

Setelah semuanya selesai, saya pun siap berangkat. Saya membonceng motor, duduk di belakang, menikmati perjalanan dengan penuh rasa syukur. Angin menyentuh wajah, mata memandang kanan dan kiri jalan raya. Pemandangan sederhana seperti pepohonan, warung kecil di pinggir jalan, orang-orang yang berlalu-lalang, semuanya tampak begitu bermakna. Dalam hati saya berpikir, betapa banyak nikmat Allah Subhanahu Wata'alla yang sering luput dari perhatian karena terlalu sibuk dengan urusan sendiri.
Motor terus melaju hingga akhirnya kami tiba di tempat yang dicari, sebuah warung sederhana penjual es teler. Tidak mewah, tidak besar, namun terlihat ramai dan hidup.

Saya turun dari motor dan melangkah masuk. Pandangan saya langsung menyapu ruangan, mencari kursi kosong. Setelah menemukan tempat duduk, kami pun duduk berdampingan. Suasana warung terasa akrab, ada suara sendok beradu dengan gelas, suara penjual yang ramah melayani pembeli, dan tawa kecil pelanggan yang menikmati hidangan.
Sang anak segera memesan es teler dan beberapa menu lainnya. Saya memperhatikannya dengan senyum kecil. Ada kebahagiaan tersendiri melihat anak menikmati hal-hal sederhana. Sambil menunggu pesanan datang, kami berdua mulai membayangkan rasa nikmatnya es teler. Bayangan itu seperti doa kecil yang terucap dalam hati, berharap kesegaran dan kebahagiaan sederhana dari segelas minuman dingin.
Tidak menunggu lama, pesanan pun datang. Dua gelas es teler diletakkan di hadapan kami. Warnanya begitu menggoda mata. Campuran buah alpukat yang lembut, potongan kelapa muda yang segar, durian dengan aroma khasnya, susu yang menyatu dengan es batu, serta taburan biji selasih yang menambah keindahan tampilan. Segelas es teler itu bukan hanya cantik dipandang, tetapi juga terasa seperti hadiah kecil dari Allah Subhanahu Wata'alla di hari libur.

Sebelum menyentuhnya, saya mengaduk-aduk perlahan. Sendok berputar di dalam gelas, menyatukan semua isi yang ada. Bersamaan dengan gerakan itu, lisan saya tak henti mengucap syukur, “Alhamdulillah.” Syukur atas nikmat yang sederhana namun terasa begitu lengkap. Syukur atas kesehatan yang masih Allah Subhanahu Wata'alla beri, sehingga bisa menikmati makanan dan minuman. Syukur atas waktu luang yang jarang hadir. Syukur atas kebersamaan yang tidak bisa dibeli dengan apa pun.
Setiap suapan, setiap tegukan, terasa lebih nikmat karena disertai rasa syukur. Dingin es batu menyegarkan tenggorokan, manis alpukat dan susu berpadu sempurna, sementara durian memberikan rasa khas yang menguatkan. Di sela menikmati es teler, hati saya kembali merenung.
Betapa sering manusia mengejar kebahagiaan yang jauh, padahal Allah telah menyiapkan kebahagiaan kecil di sekitar kita. Segelas es teler di warung sederhana pun bisa menjadi sumber bahagia jika hati mampu mensyukurinya.
Saya memandang sang anak yang menikmati es telernya dengan penuh semangat. Ada tawa kecil, ada cerita ringan, dan ada kebersamaan yang terasa hangat. Momen itu terasa begitu berharga. Saya sadar, kebahagiaan tidak selalu hadir dalam bentuk perjalanan jauh atau barang mahal. Terkadang ia hadir dalam bentuk ajakan sederhana, perjalanan singkat, dan segelas es teler yang dinikmati bersama orang tercinta.

Hari libur akhirnya menjadi lebih dari sekadar hari tanpa kerja. Ia menjadi hari penuh makna, hari belajar tentang syukur, tentang menikmati yang ada, dan tentang menyadari bahwa Allah Subhanahu Wata'alla selalu menghadirkan nikmat-Nya dengan cara yang lembut. Dari dapur rumah, perjalanan motor, hingga warung es teler, semuanya tersambung dalam satu rangkaian rasa yaitu rasa cukup.

Saya pulang dengan hati yang ringan, jiwa yang terasa disirami ketenangan. Dalam diam saya berdoa, semoga Allah Subhanahu Wata'alla selalu mengajarkan saya untuk mensyukuri nikmat sekecil apa pun, karena dari situlah kebahagiaan sejati bermula.
Cepu, 18 Pebruari 2026 

Rabu, 17 Juni 2026

Tangkuban Perahu


Karya: Gutamining Saida
Tangkuban Perahu adalah gunung berapi yang terletak di dekat Bandung, tepatnya di wilayah Lembang. Nama "Tangkuban Perahu" berasal dari bentuk gunung yang menyerupai perahu terbalik. Gunung ini sangat terkenal karena berkaitan dengan legenda rakyat Sunda tentang Sangkuriang dan Dayang Sumbi.

Kisah Sangkuriang dan Dayang Sumbi. Konon dahulu hiduplah seorang putri cantik bernama Dayang Sumbi. Ia memiliki seorang anak laki-laki bernama Sangkuriang. Suatu hari, karena sebuah kesalahpahaman, Sangkuriang membunuh anjing kesayangannya yang bernama Tumang, padahal Tumang sebenarnya adalah ayahnya yang mendapat kutukan.

Dayang Sumbi sangat marah hingga mengusir Sangkuriang. Bertahun-tahun kemudian, Sangkuriang tumbuh menjadi pemuda gagah dan tanpa sengaja bertemu kembali dengan Dayang Sumbi. Karena tetap awet muda, Dayang Sumbi tidak dikenali sebagai ibunya. Keduanya saling jatuh cinta dan berencana menikah.

Menjelang pernikahan, Dayang Sumbi menyadari bahwa pemuda itu adalah anaknya sendiri. Untuk menggagalkan pernikahan, ia mengajukan syarat yang sangat sulit: Sangkuriang harus membuat sebuah danau dan sebuah perahu besar dalam satu malam.

Dengan kesaktiannya, Sangkuriang hampir berhasil. Dayang Sumbi lalu meminta bantuan kepada Yang Maha Kuasa dan membuat suasana seolah-olah fajar telah tiba. Merasa gagal dan marah, Sangkuriang menendang perahu yang sedang dibuatnya hingga terbalik. Perahu itulah yang dipercaya menjadi Gunung Tangkuban Perahu.

Manusia boleh berusaha sekuat tenaga, tetapi hasil akhirnya tetap berada dalam kehendak Allah Subhanahu Wata'alla. Kejujuran dan keterbukaan dalam keluarga sangat penting agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. Saat berkunjung ke Tangkuban Perahu, kita tidak hanya menikmati keindahan alam ciptaan Allah Subhanahu Wata'alla, tetapi juga dapat merenungkan betapa kecilnya manusia di hadapan kekuasaan-Nya. Gunung, kawah, dan hamparan alam yang indah menjadi tanda kebesaran Allah Subhanahu Wata'alla yang patut disyukuri dan dijaga kelestariannya.
Cepu, 18 Juni 2026

Ban glunDung


Karya: Gutamining Saida

Perjalanan literasi budaya menuju Bandung menjadi pengalaman yang berkesan bagi saya. Kami berangkat dari Cepu pada hari Kamis sore bersama para siswa dan beberapa guru pendamping. Suasana keberangkatan terasa meriah. Para siswa tampak antusias karena akan melakukan perjalanan jauh ke Kota Bandung. Bagi sebagian siswa, perjalanan ini mungkin menjadi pengalaman pertama mengunjungi kota besar di Jawa Barat.

Di dalam bus, suasana begitu hidup. Ada yang bercanda, ada yang menyanyi, ada pula yang sibuk mengabadikan momen dengan telepon genggam mereka. Saya sendiri menikmati perjalanan sambil sesekali berbincang dengan teman guru yang duduk berdekatan.

Sehari sebelum keberangkatan terjadi sebuah percakapan lucu yang hingga kini masih membuat saya tersenyum ketika mengingatnya. Di sela-sela kesibukan koreksi Bu Wiwik yang duduk tidak jauh dari saya tiba-tiba bertanya, “Menginap di hotel Bandung dua hari, ya?”

Saya yang belum berpengalaman menemani siswa literasi budaya hanya menjawab singkat, “Belum tahu nama hotelnya, Bu?”

Mendengar jawaban saya, Bu Wiwik kembali berkata dengan nada meyakinkan, “Biasanya dua hari menginap di hotel Bandung.”

Saya semakin bingung. Dalam pikiran saya, mungkin memang ada hotel bernama Hotel Bandung yang akan menjadi tempat menginap kami. Karena tidak ingin salah bicara, saya hanya mengangguk dan mengiyakan perkataan beliau.

Beberapa saat kemudian Bu Wiwik bertanya lagi.

“Njenengan tahu hotel Bandung yang saya maksud?”

Saya menjawab dengan jujur, “Tidak tahu, Bu.”

Beliau lalu tertawa kecil sambil berkata, “Hotel Bandung itu tidurnya di atas ban glundung alias bus!”

Mendengar penjelasan tersebut, saya langsung memahami maksud candaan beliau. Ternyata yang dimaksud bukan nama sebuah hotel yang berada di Kota Bandung. Bus yang terus melaju dengan roda berputar atau dalam bahasa Jawa disebut ban glundung.

Saya pun spontan ikut tertawa. Tawa kami pecah di tengah kesibukan di ruang guru. Beberapa guru lain yang mendengar candaan itu ikut tersenyum. Suasana yang semula biasa saja mendadak menjadi lebih hangat dan menyenangkan. Memang terkadang kebahagiaan tidak harus datang dari sesuatu yang besar. Sebuah permainan kata sederhana, candaan ringan, atau percakapan singkat mampu menghadirkan kegembiraan yang tulus. Di tengah kesibukan menjalankan rutinitas  menjadi penyegar yang sangat berharga.

Perjalanan yang panjang sering kali membuat tubuh lelah. Duduk berjam-jam di dalam bus tentu bukan perkara mudah, terutama bagi kami yang usianya tidak lagi muda. Suasana akrab dan penuh canda membuat rasa lelah terasa lebih ringan.

Saya teringat sebuah ungkapan bahwa tertawa adalah obat yang murah. Meskipun bukan obat untuk segala penyakit, tertawa dapat membuat hati lebih tenang dan pikiran lebih segar. Saat seseorang tertawa, beban yang semula terasa berat seakan berkurang. Hubungan antar teman pun menjadi lebih dekat karena tawa menciptakan kehangatan dan kebersamaan.

Dalam ajaran agama, kebahagiaan merupakan nikmat yang patut disyukuri. Senyum yang tulus bahkan termasuk amal kebaikan. Apalagi jika senyum dan tawa tersebut mampu menghibur orang lain tanpa menyakiti atau merendahkan siapa pun.

Candaan Bu Wiwik tentang “Hotel Bandung” mungkin terdengar sederhana. Saya belajar bahwa perjalanan hidup tidak selalu harus dijalani dengan wajah tegang dan pikiran penuh beban. Sesekali kita perlu memberi ruang bagi humor dan kegembiraan agar hati tetap sehat.

Perjalanan kami berlangsung dengan lancar. Kami menginap dua malam di hotel Bandung dan sehari di hotel  Citradream kembali pulang ke Cepu pada hari Minggu pagi. Banyak pengalaman berharga yang kami peroleh selama kegiatan literasi budaya tersebut. Berbagai kunjungan dan aktivitas yang dilakukan, menjadi salah satu kenangan.

Sampai sekarang, setiap kali mendengar kata “hotel Bandung”, saya tidak hanya teringat sebuah kota  tempat menginap. Saya justru teringat tawa bersama Bu Wiwik di ruang guru, tawa yang sederhana. Perjalanan panjang terasa lebih ringan, lebih hangat, dan lebih menyenangkan. Tertawa yang penuh kebersamaan memang salah satu cara Allah Subhanahu Wata'alla menghadirkan kesehatan dan kebahagiaan. 

Cepu, 18 Juli 2026

Ploating Market


Karya : Gutamining Saida

Keindahan alam adalah untaian ayat-ayat kauniyah yang terhampar nyata di hadapan manusia. Salah satu tempat yang memancarkan pesona tersebut adalah Ploating Market. Ia sebuah destinasi wisata populer yang terletak di kawasan berudara sejuk, Lembang, Bandung.

Tempat ini bukan sekadar pusat rekreasi buatan manusia, melainkan sebuah ruang di mana kita bisa bersila, merenung, dan mengagumi betapa luasnya karunia yang telah Sang Pencipta anugerahkan kepada bumi Parahyangan. Udara yang dingin, kabut tipis yang kadang menyapa, serta hamparan air yang tenang menjadi pengingat akan kebesaran-Nya yang menenteramkan jiwa.

Ploating Market berarti pasar terapung. Sebuah konsep pasar tradisional yang dinamis dipadukan dengan keindahan tata ruang beralaskan alam. Ketika melangkah masuk, sejauh mata memandang, kita akan disuguhi pemandangan sebuah cekungan besar berisi air jernih seperti sebuah danau atau kolam yang tenang.

Di sepanjang pinggiran cekungan air inilah, para penjual berjejer rapi di atas perahu-perahu kayu yang ditata sedemikian rupa. Air adalah sumber kehidupan dan simbol kesucian. Melihat para pedagang yang menjemput rezeki di tepian air mengingatkan kita pada filosofi bahwa rezeki Allah Subhanahu Wata’alla mengalir. Tugas manusia hanyalah berikhtiar dengan cara yang baik dan halal. Keramaian yang teratur di atas air menciptakan harmoni yang indah. Sebuah gambaran kecil tentang bagaimana manusia memanfaatkan alam demi kelangsungan hidup tanpa merusaknya.

Allah Subhanahu Wata’alla menciptakan manusia dengan berbagai suku bangsa dan budaya, yang melahirkan pula aneka ragam cita rasa kuliner. Di Ploating Market Bandung, keberagaman itu menjelma menjadi surga kuliner yang menggugah selera. Para pengunjung ditawarkan berbagai macam pilihan yang melimpah, di antaranya:

  • Aneka Suvenir: Buah tangan kreatif hasil kerajinan tangan manusia yang memanfaatkan bahan alam.
  • Makanan Kekinian & Kuliner Khas Bandung: Mulai dari camilan modern hingga makanan tradisional yang sarat akan warisan budaya local seperti batagor, siomay, dan colenak.
  • Minuman Tradisional, dan Rebusan: Hidangan hangat yang sangat cocok dengan suasana pegunungan yang dingin.

Setiap aroma makanan yang terhirup dan setiap kepulan asap dari makanan yang baru matang adalah bentuk nyata dari rezeki-Nya. Semua ragam kuliner ini seolah mengundang kita untuk mampir, membelinya, dan menikmatinya di kursi-kursi yang telah disediakan di tepi danau. Duduk di sana, menyantap hidangan, sambil memandang air yang beriak kecil adalah momen terbaik untuk melantunkan rasa syukur yang mendalam atas nikmat rasa yang masih diberikan-Nya kepada kita.

Salah satu keunikan yang menjadi daya tarik di Ploating Market adalah sistem transaksinya. Pengunjung tidak dapat membeli makanan atau barang secara langsung menggunakan uang tunai (cash). Pengelola menerapkan aturan di mana setiap pengunjung harus menukarkan uang tunai mereka terlebih dahulu dengan koin-koin khusus yang telah disediakan di loket penukaran.

Koin-koin tersebut memiliki nilai nominal yang bervariasi untuk memudahkan transaksi, seperti:

  • Pecahan Rp20.000,00
  • Pecahan Rp10.000,00
  • Pecahan Rp5.000,00

Ada sebuah hal menarik dalam sistem penukaran ini. Untuk mendapatkan koin dengan nilai tertentu, misalnya koin senilai Rp25.000,00, pembeli harus membayar sebesar Rp27.500,00. Selisih uang tersebut dapat kita pandang sebagai bentuk nilai jasa, administrasi, atau pengorbanan kecil demi menikmati ketertiban sistem yang ada.

Hal ini mengajarkan kita tentang pentingnya menaati aturan di mana pun kita berada.  Hidup di dunia memiliki sistem dan "mata uang" tersendiri, yaitu amal saleh, kebaikan, dan kesabaran, yang sering kali membutuhkan pengorbanan ego serta materi di awal.

Perjalanan fisik ini terasa semakin sempurna ketika dilewati bersama orang-orang terkasih. Saya berkesempatan melangkah bersama Bu Endang. Bersamanya, perjalanan ini bukan sekadar rekreasi, melainkan ruang untuk mempererat tali silaturahmi yang diberkahi.

Kami berdua ingin merasakan pelayanan yang ramah dari para penjual serta menikmati hidangan hangat di tengah sejuknya udara Lembang. Kami melangkah menuju loket dan mengeluarkan uang sebesar Rp50.000,00. Dari uang tersebut, kami mendapatkan koin yang kemudian kami tukarkan dengan dua porsi hidangan yang sangat sederhana. Satu Porsi Gorengan: Berisi 6 biji gorengan yang renyah dan hangat. Satu Porsi Rebusan: Terdiri dari tiga iris pisang rebus serta sejumput kacang godok (rebus) yang gurih. Total Pengeluaran: Rp50.000,00 ditambah jasa penukaran. Setiap Rp.25.000,00

Jika dihitung secara matematis di tempat lain, mungkin jumlah makanan dengan harga Rp25.000,00 per porsi ini terasa sedikit. Enam biji gorengan, tiga iris pisang, dan sejumput kacang tampak sederhana. Di sinilah letak ujian hati yang disebut dengan Qana'ah merasa cukup dan rida atas apa yang ada di depan mata.

Ketika makanan itu disantap dengan rasa syukur, sepotong pisang rebus terasa begitu nikmat tiada tara. Sejumput kacang godok berubah menjadi berkah yang mengenyangkan. Nilai sebuah hidangan tidak lagi diukur dari seberapa banyak jumlahnya atau seberapa mahal harganya. Seberapa besar rasa syukur yang menyertainya saat masuk ke dalam tenggorokan.

Kami di kursi yang menghadap ke cekungan air Ploating Market. Kami pun tenggelam dalam rasa takjub. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, penguasa semesta alam. Kami sangat bersyukur dapat menikmati suasana yang asri, tempat yang tertata dengan baik, pelayanan yang ramah, serta hidangan yang menghangatkan tubuh.

Pengalaman di Ploating Market Bandung ini kembali mengetuk pintu hati kita. Ia mengingatkan bahwa rezeki Allah Subhanahu Wata’alla ada di mana-mana. Bahkan di atas air sekalipun. Tugas manusia adalah berjalan di muka bumi ini dengan mata hati yang terbuka, mengambil pelajaran dari setiap jengkal langkah, menaati aturan hidup, menjaga silaturahmi.  Paling utama, selalu kembali kepada-Nya dengan hati yang penuh dengan rasa syukur.

Cepu, 17 Juni 2026

 


Jejak Pabrik Es Cepu


Karya: Gutamining Saida

Alhamdulillah, pada hari yang penuh berkah saya mendapatkan kesempatan mengikuti kegiatan Cepu Walking Tour. Kegiatan ini bukan sekadar berjalan kaki menyusuri sudut-sudut Kota Cepu, tetapi juga menjadi perjalanan batin untuk mengenal sejarah, mengenang masa lalu, serta mengambil pelajaran berharga dari jejak kehidupan para pendahulu.

Sebagai seorang yang bertempat tinggal di wilayah Cepu. Saya merasa bahagia karena masih diberi kesehatan dan kesempatan oleh Allah Subhanahu Wata;alla untuk melihat langsung berbagai peninggalan sejarah yang selama ini hanya saya dengar dari cerita atau baca dari berbagai sumber. Salah satu lokasi yang menarik perhatian saya adalah jejak keberadaan pabrik es tua di Kota Cepu.

Mungkin bagi sebagian orang, pabrik es hanyalah tempat memproduksi es. Setelah mendengar penjelasan dari pemandu wisata sejarah, saya menyadari bahwa keberadaan pabrik es memiliki peran penting dalam perjalanan perkembangan Kota Cepu. Di balik bongkahan es yang dahulu diproduksi, tersimpan kisah panjang tentang kerja keras, perkembangan teknologi, dan perubahan zaman.

Dari berbagai catatan sejarah yang berhasil ditemukan, keberadaan pabrik es di Cepu ternyata sudah ada sejak masa Hindia Belanda. Salah satu bukti tertulis berasal dari iklan surat kabar Bataviaasch Nieuwsblad tahun 1918 yang menyebutkan adanya penjualan pabrik es di Cepu. Informasi ini menunjukkan bahwa lebih dari satu abad yang lalu, masyarakat Cepu telah mengenal industri pendingin yang pada masa itu tentu merupakan teknologi yang tidak sederhana.

Saya membayangkan bagaimana kondisi Cepu pada masa tersebut. Jalan-jalan belum seramai sekarang, kendaraan bermotor masih terbatas, dan listrik belum menjangkau seluruh wilayah. Di tengah keterbatasan, sudah berdiri sebuah pabrik yang menghasilkan es. Cepu sejak dahulu merupakan daerah yang berkembang dan memiliki aktivitas ekonomi yang cukup penting.

Dalam perjalanan sejarah berikutnya, surat kabar Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië tahun 1928 bahkan mencatat pabrik es tersebut sebagai salah satu penanda perjalanan menuju Desa Ngroto. Artinya, bangunan pabrik es sudah cukup dikenal oleh masyarakat sehingga dijadikan titik acuan arah. Sebuah bangunan tidak akan dijadikan penanda apabila tidak memiliki keberadaan yang kuat dalam kehidupan masyarakat saat itu.

Seiring berkembangnya industri perminyakan dan bertambahnya pemukiman orang Eropa di Cepu, kebutuhan akan es pun semakin meningkat. Pada masa itu, es bukan sekadar untuk mendinginkan minuman seperti sekarang. Es menjadi kebutuhan penting untuk menyimpan bahan makanan, kebutuhan rumah tangga, hingga berbagai kepentingan industri. Surat kabar De Indische Courant tahun 1935 mencatat bahwa pasokan es bahkan didatangkan dari pabrik es Rejo Muljo di Madiun untuk memenuhi kebutuhan yang terus bertambah.

Mendengar kisah tersebut, saya semakin kagum kepada para pendahulu yang mampu membangun usaha dan teknologi sesuai kebutuhan zamannya. Mereka bekerja keras dengan segala keterbatasan yang ada. Di balik setiap balok es yang dihasilkan, ada tenaga, pemikiran, dan perjuangan manusia yang berusaha mencari rezeki halal untuk keluarganya.

Catatan lain dari surat kabar De Locomotief tahun 1938 menyebut nama Jeronimus sebagai pemilik pabrik es yang telah lama menetap di Cepu. Nama itu kini mungkin hanya tersisa dalam arsip sejarah, tetapi karya dan usahanya pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Cepu. Dari sini saya belajar bahwa manusia boleh datang dan pergi, tetapi amal, karya, dan manfaat yang ditinggalkan akan terus dikenang oleh generasi berikutnya.

Saat berdiri di lokasi yang dahulu menjadi bagian dari perjalanan pabrik es tersebut, hati saya dipenuhi rasa syukur. Allah Subhanahu Wata'alla memperlihatkan kepada saya bagaimana sebuah usaha dapat bertahan melintasi berbagai zaman. Dari masa kolonial, masa kemerdekaan, hingga era modern saat ini, tradisi usaha es di Cepu ternyata masih berlanjut melalui CV Tirta Agung Cepu.

Memang bentuk es yang diproduksi sekarang berbeda dengan masa lalu. Dahulu berupa balok-balok besar yang diangkut dengan tenaga manusia. Kini teknologi telah berkembang sehingga es hadir dalam berbagai bentuk dan ukuran sesuai kebutuhan masyarakat modern. Hakikatnya tetap sama, yaitu memberikan manfaat bagi sesama manusia.

Perubahan tersebut mengingatkan saya pada salah satu sunnatullah dalam kehidupan. Zaman akan terus berubah. Teknologi berkembang. Cara bekerja berganti. Bentuk usaha menyesuaikan kebutuhan masyarakat. Tetapi nilai kerja keras, kejujuran, dan kebermanfaatan akan tetap relevan sepanjang masa.

Dalam Al-Qur'an Allah Subhanahu Wata'alla mengingatkan manusia agar berjalan di muka bumi dan memperhatikan jejak orang-orang terdahulu. Melalui kegiatan walking tour ini saya merasakan makna ayat tersebut secara nyata. Menelusuri sejarah bukan hanya untuk mengetahui kapan sebuah bangunan berdiri atau siapa pemiliknya, tetapi juga untuk mengambil hikmah dari perjalanan kehidupan manusia.

Saya membayangkan para pekerja pabrik es yang dahulu berangkat pagi hari mencari nafkah. Mereka mungkin memiliki harapan yang sama seperti kita saat ini, yaitu ingin keluarga hidup bahagia, anak-anak mendapatkan masa depan yang baik, dan kehidupan berjalan dengan penuh keberkahan. Walaupun mereka telah lama tiada, perjuangan mereka menjadi bagian dari sejarah yang patut dihargai.

Perjalanan ini juga mengingatkan saya bahwa tidak ada yang abadi selain Allah Subhanahu Wata'alla. Bangunan bisa berubah, pemilik usaha bisa berganti, teknologi dapat berkembang, bahkan generasi manusia datang dan pergi. Allah tetap menjadi Penguasa segala zaman. Karena itulah manusia hendaknya tidak hanya sibuk membangun kehidupan dunia, tetapi juga mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.

Saya bersyukur masih diberi kesempatan menyaksikan jejak sejarah yang masih bertahan hingga sekarang. Pabrik es mengajarkan bahwa sebuah usaha yang dikelola dengan baik dapat memberikan manfaat lintas generasi. Setiap jejak masa lalu bukan hanya tentang cerita manusia, melainkan juga tentang tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu Wata'alla yang patut disyukuri dan direnungkan oleh setiap hamba yang beriman. Aamiin.

Cepu, 17 Juni 2026

Cepu Walking Tour


Karya: Gutamining Saida

Hari Minggu  14 Juni 2026 menjadi hari yang cukup istimewa bagi saya. Setelah menempuh perjalanan panjang dari Bandung dan baru tiba di rumah menjelang waktu Subuh, tubuh sebenarnya masih terasa lelah. Mata pun terasa pedih belum cukup beristirahat.  Ketika ada info akan diadakan kegiatan Cepu Walking Tour “Ngareng Weg”, saya berusaha mengumpulkan semangat untuk ikut serta. Saya meyakini bahwa kesempatan seperti ini tidak selalu datang dua kali. Jika dilewatkan, belum tentu di masa mendatang ada kesempatan yang sama.

“Ngareng Weg” merupakan istilah yang merujuk pada Jalan Ngareng, salah satu ruas jalan bersejarah yang berada di kawasan kota bawah Cepu. Jalan ini menyimpan banyak cerita tentang perkembangan Cepu dari masa ke masa. Melalui kegiatan walking tour, para peserta diajak berjalan kaki menyusuri kawasan tersebut sambil mendengarkan berbagai kisah sejarah yang mungkin selama ini luput dari perhatian masyarakat.

Suasana Cepu masih terasa sejuk. Udara segar menyambut para peserta. Mereka yang memiliki ketertarikan terhadap sejarah dan budaya daerah. Wajah-wajah penuh antusias tampak menghiasi titik kumpul kegiatan. Meski sebagian peserta baru saling mengenal, suasana keakraban segera terjalin karena memiliki tujuan yang sama, yaitu belajar memahami sejarah Cepu secara lebih dekat.

Perjalanan dimulai dengan penjelasan dari pemandu yang menguasai sejarah lokal. Beliau menjelaskan bahwa kawasan kota bawah memiliki peran penting dalam perkembangan Cepu, terutama pada masa kejayaan industri minyak dan perkereta apian. Banyak bangunan tua yang masih berdiri menjadi saksi perjalanan panjang daerah ini. Setiap sudut jalan menyimpan cerita yang menarik untuk digali.

Saat berjalan menyusuri jalan Ngareng, saya mencoba mengamati lingkungan sekitar dengan lebih saksama. Bangunan-bangunan lama yang mungkin selama ini hanya dilewati begitu saja ternyata memiliki nilai sejarah yang tinggi. Ada bangunan yang dahulu digunakan sebagai tempat usaha, kantor, maupun hunian yang berkaitan dengan aktivitas masyarakat pada masa lampau. Melihatnya secara langsung membuat saya membayangkan bagaimana kehidupan masyarakat Cepu puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu.

Di beberapa titik, pemandu menceritakan perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu. Dahulu kawasan ini sangat ramai karena menjadi jalur penting aktivitas ekonomi. Kehadiran industri minyak dan transportasi kereta api membawa dampak besar bagi perkembangan kota. Banyak pendatang datang untuk bekerja dan menetap di Cepu. Interaksi berbagai budaya pun turut membentuk karakter masyarakat yang beragam.

Kegiatan ini bukan sekadar berjalan kaki mengelilingi kota. Ada banyak pelajaran berharga yang dapat dipetik. Saya menyadari bahwa sejarah bukan hanya terdapat dalam buku pelajaran, melainkan hadir di sekitar kita. Jalan yang setiap hari dilalui ternyata menyimpan kisah perjuangan, kerja keras, dan perjalanan panjang para pendahulu. Dengan mengenal sejarah daerah sendiri, tumbuh rasa bangga sekaligus tanggung jawab untuk ikut menjaga warisan tersebut.

Meski kondisi fisik masih lelah akibat perjalanan dari Bandung, rasa lelah itu perlahan tergantikan oleh semangat dan rasa ingin tahu. Setiap penjelasan yang diberikan pemandu menambah wawasan baru. Saya merasa beruntung dapat mengikuti kegiatan ini. Jika pagi itu saya memilih beristirahat di rumah, tentu saya akan kehilangan pengalaman yang sangat berharga.

Selain memperoleh pengetahuan sejarah, kegiatan walking tour juga menjadi sarana silaturahmi. Saya dapat bertemu dengan banyak orang yang memiliki kepedulian terhadap budaya dan sejarah lokal. Dari perbincangan ringan selama perjalanan, saya mendapatkan berbagai cerita dan perspektif baru tentang Cepu. Hal ini semakin memperkaya pengalaman yang saya peroleh.

Kegiatan Cepu Walking Tour “Ngareng Weg” mengajarkan bahwa belajar tidak selalu harus dilakukan di dalam ruang kelas. Jalanan, bangunan tua, dan lingkungan sekitar dapat menjadi ruang belajar yang hidup. Melalui langkah demi langkah yang ditempuh, kami diajak memahami perjalanan sebuah kota yang telah memberikan banyak manfaat bagi masyarakatnya.

Saya merasa bersyukur telah mengambil keputusan untuk ikut serta. Walaupun hanya beberapa jam, pengalaman tersebut meninggalkan kesan yang mendalam. Saya pulang dengan membawa pengetahuan baru, rasa bangga terhadap sejarah daerah, serta kesadaran bahwa menjaga dan menghargai warisan masa lalu merupakan tanggung jawab bersama. Semoga kegiatan seperti ini terus dilaksanakan sehingga semakin banyak generasi muda yang mengenal, mencintai, dan melestarikan sejarah Cepu untuk masa depan.

Cepu, 16 Juni 2026