Minggu, 12 Juli 2026

Tawa Yang Terjeda

Karya : Gutamining Saida 
Ada kalanya seseorang tidak menyadari betapa berharganya sebuah tawa sampai ia lama tidak merasakannya. Begitulah yang saya alami. Hampir sebulan saya tidak mengikuti terapi bersama Pak Gun dan teman-teman. Kesibukan dan beberapa kepentingan membuat langkah saya tidak menuju kolam seperti biasanya.

Sore itu akhirnya saya kembali. Langit mulai teduh, angin berembus pelan, dan permukaan air kolam tampak tenang. Rasanya seperti pulang ke tempat yang telah lama saya rindukan. Bukan hanya karena ingin berolahraga, tetapi karena saya tahu di tempat itu selalu ada energi positif yang sulit ditemukan di tempat lain.

Begitu aba-aba diberikan, kami pun menceburkan diri ke dalam kolam. Air yang menyentuh tubuh terasa sangat dingin. 
Saya spontan berkata, "Dingin, Pak!"
Pak Gun yang selalu memiliki cara sederhana untuk menyemangati kami menjawab sambil tersenyum, "Iya, biar hati kita juga belajar beradaptasi dengan air."

Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung makna yang dalam. Dalam kehidupan, sering kali kita ingin semuanya terasa nyaman. Padahal, pertumbuhan justru lahir ketika kita berani menghadapi rasa tidak nyaman. Air yang dingin mengajarkan bahwa tubuh akan mampu menyesuaikan diri jika kita tidak menyerah pada rasa pertama yang muncul.

Setelah beberapa saat berada di dalam air, rasa dingin memang perlahan menghilang. Tubuh mulai beradaptasi. Ternyata benar, tidak semua ketidaknyamanan harus dihindari. Sebagian hanya perlu dihadapi dengan sabar.

Ketika kami sudah berada di bagian tengah kolam, Pak Gun kembali melontarkan pertanyaan yang mengundang senyum.
"Gimana? Hati kita dingin, enggak?"
Tanpa berpikir panjang saya menjawab, "Lebih baik hati kita dingin daripada panas hati, Pak."

Seketika ibu-ibu yang berada di sekitar saya tertawa bersama. Tawa itu terdengar begitu lepas. Tidak dibuat-buat. Tidak direncanakan. Mengalir begitu saja. Saya pun ikut tertawa. Di tengah riuhnya suara tawa itu, saya berkata, "Hari ini kita tertawa bareng lagi, Pak Gun." Beliau tersenyum. Saya kemudian menambahkan, "Saya sudah sebulan tidak tertawa bareng Pak Gun. Rasanya lama sekali."

Ucapan itu benar-benar keluar dari hati. Baru saya sadari bahwa selama satu bulan saya memang kehilangan salah satu vitamin kehidupan, yaitu kebersamaan yang menghadirkan tawa. Pak Gun kemudian menanggapi dengan kalimat yang membuat semua kembali tersenyum.

"Makanya jangan sering absen ke kolam, biar kita bisa tertawa bareng."
Saya menjawab, "Insya Allah, Pak. Kalau tidak ada kepentingan, saya akan rutin lagi."
Percakapan sederhana itu mengingatkan saya bahwa olahraga bukan sekadar menggerakkan tubuh. Lebih dari itu, olahraga juga menggerakkan hati. Di kolam renang kami bukan hanya belajar teknik berenang, tetapi juga belajar saling menyemangati, saling menguatkan, dan saling menghibur.

Setelah pemanasan selesai, latihan dilanjutkan dengan mempelajari gaya dada. Satu per satu peserta diminta mempraktikkan gerakan yang telah dicontohkan. Ada yang masih kaku, ada yang gerakannya sudah cukup baik, dan ada pula yang masih salah koordinasi antara tangan dan kaki. Tidak ada yang ditertawakan karena kesalahan. Yang ada justru tepuk tangan dan semangat agar semua mau mencoba lagi.

Di sinilah saya belajar keberanian untuk mencoba jauh lebih penting daripada rasa takut gagal. Tidak ada perenang hebat yang langsung mampu berenang dengan sempurna. Semua berawal dari belajar mengapung, belajar bernapas, belajar menggerakkan tangan, lalu mengulanginya berkali-kali sampai menjadi kebiasaan. Bukankah kehidupan juga demikian?

Tidak ada guru yang langsung mahir mengajar. Tidak ada penulis yang langsung menghasilkan tulisan yang indah. Tidak ada orang sukses yang tidak pernah jatuh. Semua bertumbuh melalui proses panjang yang sering kali melelahkan. Kolam renang sore itu kembali mengajarkan bahwa proses tidak boleh dihentikan hanya karena merasa belum mampu. Justru karena belum mampu, kita harus terus belajar.

Menjelang latihan berakhir, Pak Gun memberikan satu instruksi yang cukup unik. "Setelah muncul ke permukaan nanti, teriak yang keras! Lepaskan semua beban yang ada di hati." Awalnya kami saling berpandangan. Setelah aba-aba diberikan, satu per satu peserta melakukannya.
"Aaaaa...!"
Suara teriakan menggema di area kolam. Ada yang pelan, ada yang keras, bahkan ada yang disertai tawa. Ternyata setelah berteriak, hati terasa jauh lebih lega. Beban pikiran yang sejak tadi ikut terbawa ke kolam seolah ikut larut bersama air. Kadang manusia memang membutuhkan cara sederhana untuk melepaskan tekanan yang dipendam terlalu lama.

Saya semakin yakin bahwa kesehatan bukan hanya soal tubuh yang kuat, melainkan juga pikiran yang tenang dan hati yang gembira. Saya menyadari bahwa tawa adalah obat yang tidak dijual di apotek. Ia lahir dari kebersamaan, kepedulian, dan lingkungan yang saling menguatkan. Satu jam bersama orang-orang yang membawa energi positif ternyata mampu menghapus penat yang menumpuk selama berminggu-minggu.

Terima kasih, Pak Gun, atas setiap motivasi sederhana yang selalu memiliki makna mendalam. Terima kasih kepada teman-teman seperjuangan yang selalu menghadirkan canda di sela-sela latihan. Kalian bukan hanya teman berenang, tetapi bahwa hidup tidak harus selalu dijalani dengan wajah tegang.

Jangan terlalu sibuk mengejar urusan dunia hingga lupa memberi ruang bagi tubuh untuk bergerak, hati untuk tertawa, dan jiwa untuk beristirahat. Kebahagiaan hadir saat kita berani menceburkan diri ke air yang dingin, belajar menghadapi rasa tidak nyaman, tertawa bersama orang-orang baik, lalu pulang dengan hati yang jauh lebih ringan daripada saat kita datang. Kehidupan akan terasa lebih indah ketika dijalani dengan rasa syukur, semangat untuk terus belajar, dan tawa yang dibagikan bersama.
Cepu, 12 Juli 2026 

Sabtu, 11 Juli 2026

Penangkaran Hiu Di Karimunjawa

                                 


Karya : Gutamining Saida

Hari kedua perjalanan kami di Karimunjawa kembali menghadirkan pengalaman yang tidak terlupakan. Setelah menikmati keindahan laut dan berbagai pesona alamnya, rombongan melanjutkan perjalanan menuju sebuah tempat yang memiliki nilai edukasi sekaligus konservasi, yaitu penangkaran hiu. Tempat ini menjadi salah satu destinasi yang banyak dikunjungi wisatawan karena memberikan kesempatan melihat hiu dari jarak dekat, sekaligus mengenalkan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem laut.

Perjalanan menuju lokasi penangkaran dilakukan dengan naik perahu. Seluruh rombongan berada dalam satu perahu yang bergerak perlahan membelah permukaan laut yang tenang. Angin laut bertiup lembut menyapa wajah kami. Sesekali ombak kecil menggoyangkan perahu sehingga suasana terasa semakin menyenangkan. Dari kejauhan tampak beberapa petak penangkaran yang berdiri kokoh di atas laut. Pemandangan birunya air berpadu dengan langit cerah menjadi lukisan alam yang begitu indah. Hati saya dipenuhi rasa syukur karena Allah Subhanahu Wata'alla masih memberikan kesempatan untuk menikmati salah satu keajaiban ciptaan-Nya.

Sesampainya di lokasi, pemandu wisata menjelaskan bahwa penangkaran hiu ini bukan sekadar objek wisata. Tempat ini dibangun sebagai salah satu upaya menjaga kelestarian hiu yang populasinya terus menurun akibat ulah manusia. Tidak sedikit hiu yang diburu untuk diambil siripnya, sementara bagian tubuh lainnya dibuang begitu saja. Ada pula yang menjadi korban penangkapan ikan secara berlebihan maupun kerusakan habitat laut. Mendengar penjelasan tersebut membuat saya semakin sadar bahwa manusia memiliki tanggung jawab besar sebagai penjaga bumi, bukan sebagai perusaknya.

Penangkaran ini terdiri atas beberapa petak dengan ukuran yang berbeda. Di setiap petak terdapat hiu dengan ukuran yang beragam, mulai dari yang masih kecil, sedang, hingga yang berukuran cukup besar. Airnya begitu jernih sehingga gerakan hiu dapat terlihat dengan jelas dari atas jembatan kayu. Mereka berenang berputar-putar mengikuti naluri alaminya. Kadang bergerak perlahan, kadang melesat dengan cepat. Melihat mereka dari dekat memberikan pengalaman yang sulit digambarkan dengan kata-kata.

Pemandu wisata kemudian mengarahkan rombongan menuju salah satu petak yang memang diperbolehkan untuk aktivitas wisata. Di tempat itulah wisatawan dapat turun ke dalam air dangkal untuk berfoto bersama hiu. Sebelum turun, pemandu memberikan berbagai arahan keselamatan. Salah satunya adalah tidak membuat gerakan tangan yang berlebihan agar hiu tidak merasa terganggu atau terkejut. Selama mengikuti aturan, kegiatan tersebut relatif aman karena hiu yang dipelihara telah terbiasa dengan keberadaan manusia.

Satu demi satu teman dalam rombongan mulai turun ke dalam petak penangkaran. Wajah mereka tampak sedikit tegang. Ada yang tertawa, ada yang berteriak kecil ketika hiu melintas di dekat kaki mereka. Momen itu menjadi pengalaman yang menguji keberanian sekaligus menghadirkan kenangan yang sulit dilupakan. Kamera-kamera pun sibuk mengabadikan setiap detik kebersamaan dengan penghuni laut yang selama ini lebih sering dilihat melalui layar televisi atau media sosial.

Sementara itu, saya memilih tetap berada di atas jembatan kayu. Keputusan tersebut saya ambil bukan karena tidak menghargai pengalaman itu, melainkan karena mempertimbangkan kondisi diri sendiri. Saya menyadari bahwa setiap orang memiliki batas kenyamanan dan keberanian yang berbeda. Saya tidak merasa harus mengikuti semua aktivitas hanya karena orang lain melakukannya. Menikmati pemandangan dari atas, mengamati gerakan hiu, dan merasakan suasana penangkaran sudah menjadi kebahagiaan tersendiri bagi saya.

Bagi sebagian orang, keberanian ditunjukkan dengan berani menghadapi tantangan. Bagi saya, keberanian juga berarti mampu mengatakan "cukup" ketika sebuah aktivitas tidak sesuai dengan kondisi diri. Tidak semua tantangan harus diterima. Tidak semua kesempatan harus diambil. Kadang-kadang keputusan paling bijaksana adalah mengenali kemampuan diri, mempertimbangkan risiko, lalu memilih langkah yang paling aman.

Saya lebih leluasa menikmati keindahan penangkaran dari atas. Dari posisi itu saya dapat melihat seluruh petak dengan lebih jelas. Hiu-hiu kecil berenang lincah mengikuti kelompoknya. Hiu berukuran sedang tampak lebih tenang, sedangkan hiu yang lebih besar bergerak perlahan tetapi memancarkan wibawa sebagai salah satu predator laut. Pemandangan tersebut mengingatkan saya bahwa setiap makhluk memiliki perannya masing-masing dalam menjaga keseimbangan alam. Tidak ada makhluk yang diciptakan tanpa tujuan.

Pengalaman ini juga mengajarkan bahwa hiu tidak selalu seperti gambaran yang sering muncul dalam film. Selama habitatnya tidak diganggu manusia , hiu dapat hidup berdampingan dengan aman. Justru manusialah yang sering kali menjadi ancaman terbesar bagi kehidupan mereka. Karena itu, konservasi menjadi langkah penting agar generasi mendatang masih dapat menyaksikan hiu berenang bebas sebagai bagian dari kekayaan hayati Indonesia.

Laut bukan hanya tempat rekreasi, tetapi juga rumah bagi jutaan makhluk hidup. Jika manusia terus mengeksploitasi tanpa memikirkan dampaknya, bukan tidak mungkin suatu hari nanti anak cucu kita hanya mengenal hiu melalui gambar di buku atau video di internet. Pikiran itu membuat saya semakin menghargai setiap upaya pelestarian yang dilakukan oleh para pegiat konservasi.

Perjalanan singkat ke penangkaran hiu akhirnya memberikan pelajaran yang jauh lebih berharga.  Tidak semua kenangan harus diabadikan dengan turun ke dalam air. Ada kalanya kenangan terbaik justru tersimpan dalam hati, melalui rasa syukur, kekaguman, dan kesadaran bahwa manusia hanyalah salah satu bagian kecil dari alam semesta yang harus hidup selaras dengan seluruh makhluk ciptaan-Nya.

Saya meninggalkan penangkaran hiu dengan hati yang penuh rasa syukur. Alam selalu menjadi guru terbaik. Ia mengajarkan tentang keseimbangan, kehati-hatian, keberanian, dan tanggung jawab. Semoga pengalaman sederhana ini menjadi pengingat bahwa menjaga alam sama artinya dengan menjaga kehidupan, sehingga keindahan laut Indonesia akan tetap dapat dinikmati oleh anak cucu kita di masa yang akan datang

Cepu, 26 Juni 2026

Jejak Langkah Kecil di SD Padangan Satu


Karya : Gutamining Saida 

Setiap orang memiliki tempat yang menyimpan serpihan kenangan. Ada kenangan yang begitu jelas seolah baru terjadi kemarin, ada pula yang tinggal bayangan samar yang sesekali hadir ketika hati sedang rindu pada masa lalu. Bagi saya, salah satu tempat yang menyimpan kenangan itu adalah gedung SD Padangan Satu. Di sanalah saya memulai perjalanan sebagai seorang pelajar, meskipun hanya selama dua tahun. Setelah itu, Allah menakdirkan saya berpindah ke SD Banjarjo Satu untuk melanjutkan pendidikan.

Jika saya kembali mengingat masa itu, ternyata tidak banyak peristiwa yang benar-benar masih tersimpan dalam ingatan. Mungkin karena usia yang masih sangat kecil sehingga banyak kenangan yang telah memudar dimakan waktu. Ada satu hal yang tetap melekat hingga sekarang, yaitu perjalanan menuju sekolah.

Setiap pagi saya berangkat dengan langkah kecil yang penuh semangat. Tidak ada kendaraan yang mengantar. Tidak ada sepeda motor yang menunggu di depan rumah. Saya berjalan kaki seorang diri, kemudian mampir ke rumah  teman sekelas. Setelah berkumpul, kami melanjutkan perjalanan bersama menuju sekolah.

Jaraknya lebih dari satu kilometer. Bagi anak seusia tujuh tahun, tentu bukan perjalanan yang pendek. Saat itu kami tidak pernah menganggapnya sebagai beban. Justru perjalanan itulah yang menjadi bagian paling menyenangkan. Kami berjalan melewati lorong-lorong kecil, jalan setapak, pepohonan yang masih rindang, serta hamparan sawah yang menghijau. Udara pagi terasa begitu segar. Burung-burung berkicau seolah ikut menyambut langkah kami.

Saat itu lalu lintas belum seramai sekarang. Kendaraan bermotor masih sangat sedikit. Jalanan terasa aman bagi anak-anak yang berjalan kaki menuju sekolah. Orang tua pun tidak merasa khawatir seperti saat ini. Hampir semua anak berangkat sendiri atau bersama teman-temannya. Kami belajar mandiri sejak usia dini tanpa merasa dipaksa.

Kini keadaan telah berubah. Banyak orang tua mengantar anak-anaknya hingga depan gerbang sekolah. Bahkan jarak yang sangat dekat pun sering ditempuh dengan kendaraan bermotor. Perubahan zaman memang membawa banyak kemudahan, tetapi saya juga bersyukur pernah menikmati masa kecil yang sederhana. Kesederhanaan itu justru membentuk mental untuk berani, mandiri, dan bertanggung jawab.

Semakin dewasa, saya semakin memahami bahwa setiap langkah kecil menuju sekolah pada masa itu ternyata bukan sekadar perjalanan biasa. Allah Subhanahu Wata'alla sedang mendidik saya melalui jalan-jalan kecil yang saya lalui setiap pagi. Dari perjalanan itu saya belajar disiplin karena harus berangkat tepat waktu. Saya belajar setia kepada teman karena selalu menunggu mereka sebelum berangkat bersama. Saya juga belajar menghargai proses karena setiap tujuan membutuhkan usaha.

Allah Subhanahu Wata'alla berfirman dalam Al-Qur'an bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Saat itu mungkin kami merasa lelah berjalan cukup jauh. Setelah tiba di sekolah, rasa lelah itu seakan hilang berganti kegembiraan bertemu guru dan teman-teman. Dari situlah saya belajar bahwa setiap perjuangan akan menghadirkan kebahagiaan apabila dijalani dengan penuh keikhlasan.

Saya juga menyadari bahwa nikmat Allah Subhanahu Wata'alla tidak selalu berupa harta yang melimpah. Masa kecil kami sangat sederhana. Bekal sekolah pun apa adanya. Seragam tidak berganti-ganti model. Tas sekolah pun dipakai selama masih layak. Namun hati kami terasa ringan dan bahagia. Kami tidak pernah membandingkan apa yang dimiliki teman dengan milik sendiri. Kami belajar menerima rezeki yang Allah Subhanahu Wata'alla berikan dengan penuh rasa syukur.

Perjalanan menuju sekolah menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya terjadi di dalam ruang kelas. Jalan setapak yang kami lalui setiap pagi ternyata juga menjadi ruang belajar. Di sanalah kami belajar saling menyapa, saling membantu ketika ada teman yang tertinggal, dan belajar menghormati orang-orang yang kami jumpai di sepanjang jalan.

Kini ketika saya menjadi seorang guru, kenangan itu sering muncul kembali. Saya membayangkan langkah-langkah kecil yang pernah saya ayunkan puluhan tahun silam. Tidak pernah terlintas dalam benak seorang anak kecil saat itu bahwa suatu hari Allah Subhanahu Wata'alla akan mengizinkan dirinya berdiri di depan kelas sebagai pendidik. Sungguh, rencana Allah Subhanahu Wata'alla selalu jauh lebih indah daripada yang mampu dibayangkan manusia.

Gedung SD Padangan Satu mungkin hanya menjadi tempat saya belajar selama dua tahun. Setiap sudutnya tetap menjadi saksi awal perjalanan hidup saya. Dari sanalah Allah Subhanahu Wata'alla mulai menanamkan benih-benih ilmu yang kemudian tumbuh hingga mengantarkan saya menjadi seorang guru. Tidak ada perjalanan yang sia-sia ketika semuanya diniatkan untuk mencari ilmu.

Rasulullah mengajarkan bahwa menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Kalimat itu kini terasa begitu dekat dengan pengalaman masa kecil saya. Meski harus berjalan kaki cukup jauh, kami tetap berangkat ke sekolah dengan hati gembira. Barangkali langkah-langkah kecil itu menjadi bagian dari ikhtiar mencari ilmu yang dicatat sebagai amal kebaikan di sisi Allah Subhanahu Wata'alla.

Hari ini, ketika sesekali lewat SD Padangan Satu yang pernah saya lalui saat kecil, hati terasa hangat. Lorong-lorong itu sudah berubah. Sawah-sawah  sebagian telah berganti menjadi bangunan. Teman-teman seperjalanan pun telah menempuh jalan hidup masing-masing. Kenangan itu tetap hidup di dalam hati.

Saya percaya bahwa Allah Subhanahu Wata'alla tidak pernah menyia-nyiakan setiap langkah hamba-Nya menuju kebaikan. Allah Subhanahu Wata'alla mengantarkan saya menjadi seorang pendidik yang kini mengajak generasi muda mencintai ilmu.

Semoga setiap langkah yang pernah kita ayunkan untuk mencari ilmu menjadi saksi di hadapan-Nya pada hari kelak. Semoga setiap kenangan masa kecil yang sederhana mampu mengingatkan kita bahwa keberkahan hidup diukur dari rasa syukur, keikhlasan, dan kesungguhan dalam menjalani setiap amanah yang Allah Subhanahu Wata'alla titipkan kepada kita. Aamiin.

Cepu, 12 Juli 2026 

Rindu Yang Menguatkan Langkah Menuju Sehat


Karya: Gutamining Saida

Hari Sabtu menjadi hari yang penuh makna meskipun saya tidak berada di tepi kolam renang. Seperti biasanya, Pak Gun menyapa seluruh anggota grup melalui beberapa pesan yang sederhana.Kalimat-kalimat yang beliau tuliskan seakan menjadi suntikan energi bagi siapa saja yang membacanya. Tidak ada kata-kata yang berlebihan, tetapi setiap pesan mengandung kepedulian yang tulus agar seluruh anggota tetap menjadikan kesehatan sebagai prioritas utama.

Beliau mengingatkan bahwa kesehatan bukanlah sesuatu yang datang begitu saja. Tubuh yang sehat merupakan hasil dari kebiasaan baik yang dilakukan secara terus-menerus. Salah satunya adalah olahraga renang. Menurut beliau, renang merupakan olahraga yang melibatkan hampir seluruh bagian tubuh. Saat berenang, otot-otot bekerja, persendian bergerak, tulang menjadi lebih kuat, jantung memompa darah dengan lebih baik, dan paru-paru dilatih untuk mengatur pernapasan secara optimal. Semua organ tubuh saling bekerja sama sehingga memberikan manfaat yang luar biasa bagi kesehatan.

Saya membaca setiap kalimat yang beliau kirimkan dengan perlahan. Rasanya seperti sedang mendengarkan seorang guru yang sedang memberikan nasihat kepada murid-muridnya. Tidak hanya menjelaskan manfaat fisik, Pak Gun juga membagikan pengetahuan tentang dampak renang terhadap kesehatan mental. Beliau menuliskan bahwa setelah berenang, pikiran akan terasa lebih segar, hati menjadi lebih tenang, dan perasaan menjadi lebih nyaman. Aktivitas di dalam air mampu mengurangi beban pikiran yang selama ini menumpuk akibat rutinitas pekerjaan maupun berbagai persoalan kehidupan.

Saya mengangguk dalam hati karena apa yang beliau sampaikan benar adanya. Saya pernah merasakan sendiri bagaimana setiap selesai berenang tubuh terasa ringan. Nafas menjadi lebih lega, langkah terasa lebih mantap, bahkan tidur pada malam harinya menjadi lebih nyenyak. Renang bukan hanya sekadar menggerakkan tubuh, tetapi juga menjadi terapi bagi pikiran yang lelah.

Pak Gun kembali mengingatkan bahwa olahraga tidak boleh dilakukan hanya ketika sedang bersemangat saja. Kuncinya adalah rutin dan berkesinambungan. Hasil yang baik tidak diperoleh dari satu atau dua kali latihan, tetapi dari kebiasaan yang terus dipelihara. Sedikit demi sedikit, tubuh akan beradaptasi dan menjadi semakin sehat. Pesan itu terasa sangat dalam. Banyak orang memiliki niat untuk hidup sehat, tetapi tidak sedikit pula yang berhenti di tengah jalan karena kesibukan, rasa malas, atau berbagai alasan lainnya.

Di antara pesan-pesan yang beliau kirimkan, terdapat sebuah semboyan yang sangat akrab di telinga saya, yaitu, "Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat." Kalimat sederhana itu langsung membawa pikiran saya melayang jauh ke masa kecil.

Ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar, semboyan tersebut tertulis besar di dinding kelas. Setiap hari kami melihatnya. Guru-guru sering mengingatkan agar kami rajin berolahraga, menjaga kebersihan, dan mengonsumsi makanan bergizi. Saat itu mungkin saya belum memahami maknanya secara utuh. Kalimat itu hanya saya baca berulang-ulang tanpa benar-benar meresap ke dalam hati.

Kini, setelah bertambah usia dan mengalami berbagai perjalanan kehidupan, saya baru benar-benar memahami makna semboyan tersebut. Tubuh yang sehat bukan hanya membuat seseorang mampu bekerja lebih produktif, tetapi juga membantu menjaga kestabilan emosi, ketenangan hati, dan kejernihan pikiran. Ketika tubuh terasa bugar, seseorang lebih mudah bersyukur, lebih sabar menghadapi tantangan, dan lebih siap menjalani aktivitas sehari-hari.

Sebaliknya, ketika kesehatan mulai menurun, banyak aktivitas menjadi terbatas. Hal-hal sederhana yang dahulu mudah dilakukan kini memerlukan tenaga dan perjuangan lebih besar. Pengalaman itulah yang membuat saya semakin menghargai nikmat sehat sebagai salah satu karunia terbesar dari Allah Subhanahu Wata'alla.

Menjelang sore, Pak Gun kembali membagikan beberapa vidio dan aktivitas latihan renang bersama para ibu yang hadir di kolam. Wajah-wajah mereka tampak ceria. Ada yang sedang melakukan pemanasan, ada yang berlatih teknik pernapasan, dan ada pula yang berenang dengan penuh semangat. Melihat kebersamaan mereka, hati saya tiba-tiba dipenuhi rasa rindu.

Sudah cukup lama saya tidak hadir di kolam. Berbagai kesibukan dan kondisi kesehatan membuat frekuensi latihan saya berkurang. Padahal, dulu menjadi tempat yang selalu saya nantikan setiap akhir pekan. Di sana saya tidak hanya belajar teknik berenang, tetapi juga belajar tentang disiplin, keberanian, kesabaran, dan semangat pantang menyerah.

Kolam bukan sekadar tempat berolahraga. Kolam renang adalah ruang belajar kehidupan. Di sanalah saya belajar bahwa untuk bisa mengapung diperlukan ketenangan, bukan kepanikan. Untuk dapat melaju lebih cepat dibutuhkan teknik yang benar, bukan hanya tenaga yang besar. Begitu pula dalam kehidupan. Tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan kekuatan semata. Kadang kita membutuhkan ketenangan, kesabaran, dan strategi yang tepat.

Perasaan rindu itu akhirnya mendorong saya untuk ikut menyapa di grup. Saya menuliskan komentar singkat, "Kangen ke kolam nich!"

Tidak lama kemudian, Pak Gun langsung membalas dengan penuh semangat.

"Ayo besok datang, Bu."

Ajakan itu terasa sederhana. Saya merasakan perhatian seorang pelatih peduli terhadap kesehatan setiap anggotanya. Beliau tidak pernah memaksa, tetapi selalu mengajak dengan penuh kehangatan.

Saya pun menjawab singkat, "Insya Allah."

Dua kata itu menjadi sebuah doa sekaligus komitmen dalam hati. Saya berharap benar-benar dapat kembali ke kolam, kembali merasakan segarnya air yang menyentuh tubuh, kembali melatih napas, menggerakkan otot-otot yang mulai kaku, dan menikmati kebersamaan bersama teman-teman seperjuangan.

Saya menyadari bahwa menjaga kesehatan bukan hanya tanggung jawab tenaga medis atau pelatih olahraga. Menjaga kesehatan adalah tanggung jawab setiap individu sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wata'alla atas amanah tubuh yang telah diberikan. Tubuh yang sehat memungkinkan kita beribadah dengan lebih khusyuk, bekerja dengan lebih optimal, mengajar dengan penuh semangat, serta membersamai keluarga dengan hati yang bahagia.

Sebuah pesan singkat di grup ternyata mampu membangkitkan kembali semangat yang sempat meredup. Terkadang motivasi tidak selalu datang melalui seminar besar atau buku-buku tebal. Sebuah sapaan yang tulus, ajakan sederhana, dan perhatian dari seorang pelatih dapat menjadi pengingat bahwa kesehatan adalah investasi sepanjang hayat.

Semoga kerinduan ini benar-benar berubah menjadi langkah nyata. Sesungguhnya, tubuh yang sehat adalah kendaraan terbaik untuk menebar manfaat, berkarya, beribadah, dan menjalani kehidupan dengan penuh rasa syukur. Sehat bukanlah tujuan akhir, melainkan bekal agar setiap langkah kita semakin bermakna dan semakin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Aamiin

Cepu, 11 Januari 2026

Jumat, 10 Juli 2026

Amah Menghilang



Karya: Gutamining Saida
Liburan panjang selalu menjadi saat yang paling dinantikan oleh ketiga cucu saya. Mereka tinggal di Kota Tegal, sedangkan kami berada di Cepu. Jarak yang cukup jauh membuat pertemuan kami tidak bisa dilakukan setiap saat. Setiap kali liburan tiba, rumah kami berubah menjadi tempat yang penuh tawa, canda, dan langkah-langkah kaki kecil yang berlarian ke sana kemari.

Ada satu orang yang paling mereka tunggu selain Akung dan Timmi. Dialah adik uminya, yang mereka panggil dengan sebutan penuh kasih, "Amah Faiz." Sapaan sederhana itu menyimpaan rasa sayang yang begitu besar. Hubungan mereka sangat dekat, meskipun waktu kebersamaan mereka tidak banyak. Setiap kali ada Amah, ketiga cucu seolah memiliki dunia baru. Mereka ingin bermain bersama, bercerita, menggambar, berjalan-jalan, bahkan makan pun maunya ditemani Amah. 

Melihat kedekatan mereka membuat hati saya selalu hangat. Saya menyadari bahwa kasih sayang tidak diukur dari seberapa sering bertemu, melainkan dari ketulusan saat bersama. Itulah yang terjadi antara Amah Faiz dan ketiga cucu saya. 

Amah Faiz memberi tahu bahwa ia akan ada homecare. Tujuannya agar tidak mencarinya. Setelah beberapa saat mereka beberapa kali bertanya, "Kapan Amah pulang?" Setiap suara kendaraan yang terdengar dari jalan membuat mereka berlari menuju teras rumah. Mereka berharap sosok yang turun dari kendaraan itu adalah Amah Faiz. 

Tak lama kemudian terdengar suara sepeda motor berhenti di depan rumah. Ketiga cucu langsung berlari sambil berseru, "Amah datang... Amah datang!" 

Amah Faiz masih memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Agar pekerjaannya tidak terganggu oleh pelukan dan ajakan bermain dari tiga keponakannya yang lucu, ia memilih bersembunyi di salah satu sudut rumah yang tidak terlihat oleh mereka. 



Mereka keluar rumah. Mereka melihat ada motor Amah terparkir di teras rumah. Mata mereka berbinar-binar. Akan tetapi, setelah menoleh ke kanan dan kiri, mereka tidak menemukan siapa pun. 

"Amaaah...!" teriak mereka. Tidak ada jawaban. Mereka masuk ke ruang tamu, ke dapur, ke kamar, bahkan melihat ke belakang rumah. 

"Amah... di mana?" Tetap sunyi. Wajah ceria mereka perlahan berubah menjadi bingung. Mereka saling berpandangan. Bukankah motornya ada? Mengapa orangnya tidak ada? Mereka terus memanggil berkali-kali. 

"Amaaaah... Amaaaah..." 

Tetapi yang terdengar hanya suara angin dan dedaunan yang bergoyang. Alih-alih menangis, mereka justru memiliki ide yang sangat menggemaskan. Mereka mengambil selembar kertas lalu mulai menulis beberapa kata sederhana untuk Amah Faiz. Tulisan tangan mereka yang masih polos, mereka berharap pesan itu bisa mengundang Amah keluar dari tempat persembunyiannya. 

Sambil membawa tulisan, mereka berjalan perlahan dari arah barat ke timur halaman rumah. Mereka membacanya keras-keras dengan penuh harapan, seolah-olah tulisan itu adalah sebuah mantra yang mampu memunculkan Amah. 

Kami yang melihat dari kejauhan hanya bisa menahan tawa sekaligus merasa terharu. Kepolosan mereka memang sering menghadirkan pelajaran berharga bagi orang dewasa. Beberapa saat kemudian, Amah Faiz tidak tega melihat usaha mereka. Ia pun keluar dari tempat persembunyiannya sambil tersenyum lebar. 

"Amaaaah...!" 

Mereka bertiga langsung berlari sekencang-kencangnya. Mereka memeluk Amah dengan erat. Wajah yang semula kebingungan berubah menjadi penuh kebahagiaan. Tawa mereka memenuhi seluruh rumah. Tidak ada lagi rasa kecewa. Yang tersisa hanyalah pelukan hangat dan kebersamaan. 

Momen sederhana itu mengajarkan sebuah pelajaran yang sangat indah. Anak-anak memiliki hati yang tulus. Mereka tidak menyimpan dendam walau sempat "dikerjai". Yang mereka inginkan hanyalah bersama dengan orang yang mereka sayangi. 

Mereka hanya ingin ditemani, diajak bermain, didengarkan, dan dipeluk oleh orang-orang yang mereka cintai. Suatu hari nanti mereka akan mengenang masa kecil mereka di Cepu. Mereka mungkin sudah lupa mainan apa yang dimiliki, tetapi mereka tidak akan pernah lupa bagaimana mereka berlari memanggil, "Amaah... Amaaah...", bagaimana mereka membawa secarik kertas sambil berharap Amahnya muncul, dan bagaimana akhirnya mereka menemukan sosok yang sangat mereka rindukan. 

Kenangan seperti itulah yang akan menjadi kenangan sepanjang hidup mereka. Karena sesungguhnya, cinta keluarga tidak selalu hadir dalam peristiwa-peristiwa besar. Ia sering bersembunyi di balik hal-hal sederhana yaitu sebuah pelukan.

Semoga keluarga saya selalu diberi kesempatan untuk menciptakan momen-momen sederhana yang kelak menjadi harta paling berharga dalam kehidupan. Sebab waktu akan terus berjalan,mereka akan tumbuh dewasa, tetapi kenangan indah akan tetap hidup selamanya di dalam hati. 
Cepu,  11 Juli 2026

Minggu, 05 Juli 2026

Cikal

Karya: Gutamining Saida

Perjalanan ke Karimunjawa bukan hanya menghadirkan keindahan pantai, laut biru, dan hamparan pasir putih yang memanjakan mata. Di balik setiap perjalanan, selalu ada pelajaran hidup yang dapat dipetik oleh siapa pun yang mau berpikir tentang setiap peristiwa. Salah satu pengalaman sederhana saya rasakan ketika rombongan kami menginap di sebuah penginapan bernama Hotel Cikal.

Nama itu langsung menarik perhatian saya. Singkat, sederhana, tetapi mengandung makna yang dalam. Sebelum memasuki kamar, saya sempat memandangi papan nama hotel tersebut. Dalam hati saya bertanya, mengapa pemilik memilih nama "Cikal"? Tentu bukan sekadar terdengar indah, melainkan ada filosofi yang ingin diwariskan kepada setiap tamu yang datang.

Sebagai orang Jawa, saya teringat dengan berbagai istilah yang berkaitan dengan kelapa. Dalam kehidupan masyarakat Jawa, kelapa bukan sekadar tanaman biasa. Pohon kelapa sering disebut sebagai pohon kehidupan karena hampir seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan. Batangnya dapat dijadikan bahan bangunan. Daunnya dapat dianyam menjadi ketupat, atap rumah, maupun berbagai kerajinan tangan. Lidinya disusun menjadi sapu yang membersihkan rumah. Sabut kelapa dapat diolah menjadi keset, tali, hingga media tanam. Tempurungnya dapat menjadi arang, kerajinan, bahkan peralatan rumah tangga. Air kelapanya menyegarkan sekaligus menyehatkan tubuh. Daging buahnya menjadi santan, minyak kelapa, dan berbagai makanan yang lezat.

Dalam istilah Jawa, terdapat kata cikal atau cikalan, yaitu bagian isi kelapa yang dipotong dengan cara tertentu. Kata tersebut mengingatkan saya bahwa sesuatu yang tampak sederhana ternyata memiliki manfaat besar apabila dikelola dengan baik. Mungkin inilah filosofi yang ingin disampaikan oleh pemilik hotel kepada para tamunya.

Saya semakin yakin bahwa nama Hotel Cikal bukan dipilih secara kebetulan. Barangkali pemilik berharap hotel ini menjadi tempat bertumbuhnya manfaat, tempat lahirnya kenangan indah, serta tempat yang memberikan kesan baik bagi siapa saja yang datang.

Setelah proses check-in selesai, kami mendapatkan kunci kamar. Begitu pintu kamar terbuka, rasa syukur langsung memenuhi hati. Kamar yang bersih, tempat tidur yang nyaman, pendingin ruangan yang sejuk, kamar mandi yang tertata rapi, serta suasana yang tenang membuat rasa lelah selama perjalanan perlahan menghilang. Saya mengucapkan hamdalah karena Allah Subhanahu Wata'alla masih memberikan kesempatan menikmati berbagai nikmat yang mungkin selama ini sering dianggap biasa.

Saya menyadari bahwa rasa syukur tidak harus menunggu memperoleh sesuatu yang mewah. Menikmati tempat beristirahat yang bersih, tidur dengan nyaman, mendapatkan air bersih, listrik yang menyala, dan suasana yang aman merupakan nikmat luar biasa yang tidak semua orang dapat rasakan.

Di dalam kamar itulah saya kembali merenungkan filosofi nama Hotel Cikal. Bukankah manusia juga seharusnya seperti pohon kelapa? Di mana pun berada, keberadaannya memberikan manfaat bagi orang lain.

Seorang guru bermanfaat melalui ilmu yang diajarkan kepada murid-muridnya. Seorang petani bermanfaat melalui hasil panennya yang memberi makan banyak orang. Seorang pedagang memberikan manfaat melalui barang yang dijualnya dengan jujur. Seorang tenaga kesehatan membantu orang sembuh dari penyakitnya. Bahkan seorang anak kecil pun dapat menjadi sumber kebahagiaan bagi keluarganya melalui senyum dan keceriaannya.

Tidak harus menjadi orang terkenal untuk bisa bermanfaat. Tidak harus menjadi orang kaya agar dapat membantu sesama. Senyum yang tulus, ucapan yang sopan, doa yang ikhlas, serta kesediaan mendengarkan orang lain pun sudah menjadi bentuk manfaat yang sangat berarti.

Saya kemudian teringat sebuah pesan bijak bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat bagi orang lain. Kalimat sederhana itu terasa semakin hidup ketika dikaitkan dengan filosofi pohon kelapa. Semakin tinggi pohonnya, semakin banyak pula manfaat yang diberikan. Ia tidak memilih siapa yang boleh menikmati buahnya. Semua orang dapat merasakan manfaatnya.

Perjalanan ini pun menjadi pengingat agar saya tidak hanya mengejar kesuksesan pribadi, tetapi juga berusaha meninggalkan jejak kebaikan di mana pun berada. Ketika menjadi guru, semoga ilmu yang saya sampaikan dapat menginspirasi peserta didik. Ketika berada di tengah keluarga, semoga kehadiran saya membawa ketenangan. Ketika berada di lingkungan masyarakat, semoga saya mampu memberikan kontribusi sekecil apa pun.

Hotel Cikal akhirnya bukan sekadar tempat menginap bagi saya. Tempat ini menjadi ruang belajar kehidupan. Dari sebuah nama sederhana, saya memperoleh pelajaran tentang makna kebermanfaatan. Dari fasilitas yang nyaman, saya belajar untuk terus bersyukur. Dari keramahan pelayanan yang diberikan, saya belajar bahwa melayani dengan hati akan meninggalkan kesan yang mendalam. Terimakasih sudah menjadi kenangan yang terbaik.

Cepu 5 Juli 2026

Jumat, 03 Juli 2026

Permintaan

Arti Permintaan
Permintaan adalah jumlah barang atau jasa yang ingin dan mampu dibeli oleh konsumen pada berbagai tingkat harga dalam periode waktu tertentu. Dalam ilmu ekonomi, permintaan tidak hanya berarti keinginan membeli, tetapi juga harus disertai kemampuan untuk membayar.

Contoh:
Seorang siswa ingin membeli buku seharga Rp50.000 dan memiliki uang Rp60.000. Hal ini termasuk permintaan karena ada keinginan dan kemampuan membeli.
Jika seseorang hanya ingin membeli motor tetapi tidak memiliki uang atau kemampuan membayar, maka itu hanya keinginan, bukan permintaan.

Gambar Ilustrasi Permintaan
Keterangan Kurva Permintaan:
Sumbu vertikal (Y) = Harga.
Sumbu horizontal (X) = Jumlah barang yang diminta.
Kurva permintaan (D) menurun dari kiri atas ke kanan bawah.
Artinya, semakin tinggi harga, jumlah barang yang diminta semakin sedikit. Sebaliknya, semakin rendah harga, jumlah barang yang diminta semakin banyak.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Permintaan
1. Harga Barang
Harga naik → permintaan turun.
Harga turun → permintaan naik.
2. Pendapatan Konsumen
Pendapatan meningkat → daya beli meningkat → permintaan bertambah.
Pendapatan menurun → permintaan berkurang.
3. Selera atau Gaya Hidup
4. Barang yang sedang tren akan lebih banyak diminati.
Jika selera berubah, permintaan juga berubah.

5. Jumlah Penduduk
Semakin banyak penduduk, kebutuhan semakin besar sehingga permintaan meningkat.
6. Harga Barang Pengganti (Substitusi)
Contoh: Harga teh naik, masyarakat membeli kopi lebih banyak.

7. Harga Barang Pelengkap (Komplementer)
Contoh: Harga bensin naik, permintaan mobil dapat menurun.

8. Perkiraan Harga Masa Depan
Jika harga diperkirakan naik, masyarakat membeli lebih banyak sekarang.
Jika harga diperkirakan turun, masyarakat menunda pembelian.

9. Iklan dan Promosi

10. Promosi yang menarik dapat meningkatkan permintaan.

11. Musim
Musim hujan meningkatkan permintaan payung dan jas hujan.
Musim kemarau meningkatkan permintaan minuman dingin.

12 Kemudahan Mendapat Kredit
Kredit yang mudah meningkatkan permintaan barang seperti rumah dan kendaraan.

Dampak Positif Permintaan
1. Meningkatkan kegiatan produksi.
2. Membuka lapangan pekerjaan.
3. Meningkatkan pendapatan produsen.
4. Mendorong inovasi produk.
5. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
6. Menambah penerimaan pajak negara.
7. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dampak Negatif Permintaan
1. Harga barang dapat naik apabila permintaan terlalu tinggi.
2. Terjadi kelangkaan barang.
3. Muncul penimbunan barang oleh oknum tertentu.
4. Inflasi apabila permintaan terus meningkat sementara produksi tetap.
5. Eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan.
6. Kesenjangan sosial karena tidak semua masyarakat mampu membeli barang yang harganya meningkat.
7. Meningkatnya limbah dan pencemaran akibat produksi yang berlebihan.
Contoh Permintaan dalam Kehidupan Sehari-hari
1. Menjelang tahun ajaran baru, permintaan seragam sekolah meningkat.
2. Saat bulan Ramadan, permintaan kurma dan sirup meningkat.
3. Ketika musim hujan, permintaan payung meningkat.
4. Menjelang Hari Raya Idulfitri, permintaan pakaian baru dan makanan meningkat.
Cepu, 4 Juli 2026

Ketika Mimpi Menjadi Nyata

 

Karya: Gutamining Saida

Ada kalanya sebuah mimpi terlihat begitu jauh. Kita hanya mampu memandangnya dari kejauhan, membayangkannya dalam angan, lalu menyimpannya rapat-rapat di dalam hati.  Allah Subhanahu Wata'alla memiliki cara yang begitu indah untuk mewujudkan harapan hamba-Nya. Bukan menurut waktu yang kita inginkan, melainkan pada saat yang paling tepat menurut kehendak-Nya.

Sejak lama saya sering melihat keindahan bawah laut melalui media sosial. Berbagai video dan foto memperlihatkan hamparan terumbu karang yang berwarna-warni, ikan-ikan kecil yang berenang bebas, serta air laut yang begitu jernih hingga dasar laut tampak jelas. Setiap kali melihatnya, saya hanya mampu berkata dalam hati, "Betapa indah ciptaan Allah." Saya tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari saya akan menyaksikan semua itu secara langsung dengan mata kepala sendiri.

Dengan perlengkapan snorkeling yang sudah dikenakan, saya berdiri di atas perahu. Deburan ombak terdengar lembut, sementara angin laut berembus menyentuh wajah. Di hadapan saya terbentang lautan biru yang seolah tidak berujung. Di balik keindahan itu tersimpan sedikit rasa takut. Pikiran mulai bertanya-tanya, "Apakah saya berani? Bagaimana jika saya panik? Bagaimana jika tidak bisa menikmati keindahan itu?"

Saya memilih menenangkan hati. Saya mengucapkan basmalah, memohon perlindungan Allah Subhanahu Wata'alla, lalu menguatkan keyakinan bahwa setiap langkah yang disertai doa akan mendapatkan penjagaan-Nya.

Dengan satu tarikan napas, saya menceburkan diri ke laut bebas. Sesaat tubuh saya menyentuh air, rasa gugup perlahan berubah menjadi rasa kagum. Air laut yang jernih membuat pandangan begitu luas. Ketika wajah menghadap ke bawah, saya seakan memasuki dunia lain yang belum pernah saya kenal sebelumnya.

Masya Allah... Di dasar laut terbentang pemandangan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Kedalamannya lebih dari tiga meter, tetapi air yang begitu bening membuat dasar laut tetap terlihat jelas. Hamparan terumbu karang menghiasi dasar laut bagaikan taman yang disusun langsung oleh Sang Maha Pencipta.

Tidak ada seorang pun manusia yang mampu menciptakan keindahan seperti itu. Karang-karang tumbuh dengan bentuk yang unik. Ada yang menyerupai bunga, ada yang bercabang seperti pepohonan, dan ada pula yang membentuk gugusan menyerupai istana kecil di dasar laut. Semuanya berpadu dalam warna-warna yang begitu memesona.

Di sela-sela karang itu, ratusan ikan berenang dengan bebas. Ada ikan berukuran kecil yang bergerak lincah berkelompok. Ada pula ikan yang lebih besar berenang tenang tanpa rasa takut. Warna tubuh mereka sungguh luar biasa. Ada yang berwarna kuning cerah, biru, hitam bergaris putih, jingga, hingga perpaduan warna yang begitu indah. Mereka berenang seolah sedang menari mengikuti irama ombak yang tidak pernah berhenti.

Selama ini saya hanya melihat gambar di layar telepon genggam. Ketika menyaksikan langsung, keindahannya berkali-kali lipat lebih menakjubkan. Tidak ada kamera yang mampu menangkap seluruh keagungan ciptaan-Nya. Tidak ada kata-kata yang benar-benar mampu menggambarkan rasa takjub yang memenuhi hati.

Saya hanya mampu mengucapkan, "Subhanallah." Sering kali kita membatasi diri oleh rasa takut sebelum mencoba. Kita lebih sibuk memikirkan kemungkinan gagal daripada kesempatan untuk menikmati pengalaman baru. Di balik keberanian melangkah, Allah telah menyiapkan pelajaran yang luar biasa.

Seandainya hari itu saya memilih tetap berada di atas perahu karena takut, tentu saya tidak akan pernah melihat keajaiban bawah laut secara langsung. Saya hanya akan menjadi penonton yang terus membayangkan keindahan tanpa pernah merasakannya.

Banyak mimpi yang gagal bukan karena mustahil dicapai, melainkan karena kita menyerah sebelum mencoba. Rasa takut sering kali lebih besar daripada kenyataan yang akan kita hadapi. Pengalaman snorkeling itu menjadi pengingat bahwa keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Keberanian adalah tetap melangkah meskipun hati masih diliputi keraguan, sambil terus menggantungkan harapan kepada Allah.

Laut yang luas bukan sekadar hamparan air. Di dalamnya tersimpan kehidupan yang begitu menakjubkan. Setiap ikan memiliki rezekinya sendiri. Setiap terumbu karang menjalankan perannya menjaga keseimbangan ekosistem. Semua bergerak sesuai ketetapan Allah tanpa pernah saling berebut kedudukan.

Bukankah manusia pun seharusnya demikian? Kita tidak perlu iri terhadap perjalanan orang lain. Allah telah menentukan rezeki, kesempatan, dan waktu terbaik bagi setiap hamba-Nya. Tugas kita hanyalah terus berusaha, berdoa, dan percaya bahwa pertolongan-Nya akan datang pada saat yang paling tepat.

Ketika saya kembali naik ke perahu, hati terasa penuh dengan rasa syukur. Allah telah mengizinkan saya menyaksikan salah satu tanda kebesaran-Nya secara langsung. Pengalaman, perjalanan iman yang menguatkan keyakinan bahwa seluruh alam semesta adalah bukti nyata kekuasaan Sang Pencipta.

Kini saya semakin percaya bahwa mimpi tidak boleh berhenti hanya menjadi angan. Selama masih disertai ikhtiar, doa, kesabaran, dan keyakinan kepada Allah, tidak ada yang mustahil. Jalan menuju impian memang tidak selalu mudah. Kadang harus melewati rasa takut, keraguan, bahkan tantangan yang membuat kita ingin menyerah. Ketika keberanian bertemu dengan tawakal, Allah akan membuka pintu-pintu yang sebelumnya tidak pernah kita bayangkan.

Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinan saya bahwa tidak ada doa yang sia-sia, tidak ada harapan yang terlalu tinggi bagi Allah, dan tidak ada mimpi yang terlalu jauh jika kita terus melangkah dengan ikhtiar, doa, serta tawakal kepada-Nya. Setiap ciptaan sebagai tanda kebesaran Allah, lalu menjadikannya sumber syukur, motivasi, dan semangat untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik. Aamiin

Cepu, 3 Juli 2026


Kardus dan Kalender Bekas


Karya: Gutamining Saida

Tidak semua proses belajar harus berlangsung di dalam ruang kelas. Tidak semua ilmu harus disampaikan melalui media yang mahal. Kadang. Belajar yang paling membekas justru lahir dari benda-benda sederhana yang disentuh oleh tangan penuh cinta dan hati yang tulus.

Liburan sekolah tahun ini menjadi momen yang sangat saya syukuri. Rumah kami di Cepu kembali dipenuhi suara tawa cucu-cucu yang datang dari Kota Tegal. Kehadiran mereka menghidupkan setiap sudut rumah. Langkah kaki kecil yang berlarian, canda yang tak pernah habis, dan wajah-wajah polos yang selalu ingin mencoba hal baru menjadi anugerah yang tak ternilai.

Sejak mereka datang, saya memiliki satu harapan sederhana. Saya ingin mereka pulang membawa kenangan indah yang akan tetap tinggal di hati hingga mereka dewasa. Saya percaya, anak-anak mungkin akan lupa hadiah yang pernah diterima, tetapi mereka akan selalu mengingat siapa yang meluangkan waktu untuk menemani mereka.

Saya juga tidak membeli alat peraga yang mahal. Saya membuka tumpukan kardus bekas yang masih layak digunakan. Di sudut rumah masih tersimpan kalender tahun lalu yang sudah tidak terpakai. Dengan gunting sederhana, saya memotong angka demi angka. Lembaran-lembaran yang tadinya dianggap tidak berguna perlahan berubah menjadi media belajar penjumlahan dan pengurangan.

Saat menyusun potongan-potongan angka itu, hati saya dipenuhi rasa syukur. Allah Subhanahu Wata'alla mengajarkan bahwa setiap nikmat patut dihargai. Sesuatu yang dianggap usang masih dapat menghadirkan manfaat jika berada di tangan yang mau berikhtiar. Kardus bekas itu seolah mengingatkan bahwa manusia pun akan selalu bernilai ketika mampu memberi manfaat bagi orang lain.

Tidak lama kemudian, cucu-cucu saya yang masih duduk di bangku TK dan SD berkumpul mengelilingi saya. Mata mereka berbinar melihat permainan baru yang belum pernah mereka coba. Mereka tidak peduli bahwa semua dibuat dari barang bekas. Yang mereka lihat hanyalah sebuah permainan yang mengasyikkan bersama nenek yang mereka cintai..

Saya mengambil beberapa angka untuk memberi contoh. Lalu meminta mereka menghitung hasil penjumlahan. Setelah itu saya mengganti dengan soal pengurangan. Suasana langsung berubah menjadi riuh. Mereka saling berebut menjawab. Ada yang menghitung dengan jari-jari mungilnya, ada yang menjawab dengan penuh percaya diri, dan ada pula yang tertawa ketika ternyata jawabannya masih keliru.

Saya tidak pernah mengatakan mereka salah dengan nada yang membuat mereka takut. Saya memilih mendampingi, memberi petunjuk sedikit demi sedikit, hingga mereka menemukan sendiri jawaban yang benar. Saat itulah senyum bangga muncul di wajah mereka. Bukan karena diberi hadiah, melainkan karena berhasil mengalahkan rasa ragu dalam dirinya.

Di tengah-tengah permainan saya tersadar, ternyata anak-anak belajar jauh lebih cepat ketika hati mereka bahagia. Mereka tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka sedang melatih kemampuan berhitung. Yang mereka rasakan hanyalah bermain bersama neneknya. Yang mereka sapa dengan "TIMMI"

Di sela-sela permainan saya mengajak mereka mengucapkan basmalah sebelum memulai. Setelah berhasil menjawab beberapa soal, kami bersama-sama mengucapkan hamdalah. Saya ingin mereka memahami bahwa ilmu adalah karunia Allah Subhanahu Wata'alla. Kepandaian bukan alasan untuk sombong, tetapi jalan untuk semakin bersyukur kepada-Nya.

Saya pun berkata kepada mereka dengan bahasa yang mudah dipahami, "Kalau rajin belajar, Allah akan sayang. Kalau ilmunya dipakai untuk membantu orang lain, pahalanya akan terus mengalir." Saya semakin yakin bahwa mendidik bukan hanya soal mengajarkan angka dan huruf. Mendidik adalah menanamkan rasa percaya diri, kesabaran, rasa syukur, kepedulian, dan cinta kepada Allah  Subhanahu Wata'alla melalui pengalaman-pengalaman kecil yang menyenangkan.

Permainan pun usai. Potongan angka kembali dikumpulkan. Kertas bekas itu mungkin tampak biasa bagi orang lain. Bagi saya, benda-benda sederhana tersebut telah menjadi saksi lahirnya tawa, semangat belajar, dan kasih sayang yang mengalir tanpa syarat.

"Ya Allah, jadikan setiap detik kebersamaan ini sebagai amal jariyah. Tanamkan kecintaan kepada ilmu dalam hati cucu-cucu kami. Jadikan mereka anak-anak yang saleh dan salehah, rendah hati ketika berilmu, serta bermanfaat bagi agama, bangsa, dan sesama." Aamiin.

Cepu, 3 Juli 2026


Rabu, 01 Juli 2026

Kreativitas Bersama


Karya: Gutamining Saida

Liburan sekolah selalu menjadi waktu yang paling dinanti oleh anak-anak. Liburan adalah kesempatan untuk bermain sepuasnya, bertemu keluarga, dan mencoba berbagai pengalaman baru. Bagi saya, liburan memiliki makna yang penting. Liburan adalah kesempatan emas untuk menanamkan kasih sayang, nilai-nilai kehidupan, serta mempererat ikatan keluarga yang telah Allah Subhanahu Wata'alla  anugerahkan.

Alhamdulillah, liburan kali ini cucu-cucu tercinta datang dari Kota Tegal menuju Cepu. Rumah yang biasanya terasa tenang mendadak berubah menjadi penuh canda, tawa, dan langkah-langkah kecil yang berlarian ke sana kemari. Kehadiran mereka menjadi nikmat yang tak ternilai. Saya menyadari bahwa tidak semua kakek atau nenek diberi kesempatan oleh Allah Subhanahu Wata'alla  untuk menemani tumbuh kembang cucunya. Karena itulah, setiap detik kebersamaan menjadi amanah yang harus disyukuri.

Sejak beberapa hari sebelumnya, saya telah mempersiapkan sebuah kegiatan sederhana. Saya ingin mereka tidak hanya menonton televisi, tetapi juga belajar berkreasi menggunakan tangan mereka sendiri. Saya percaya kenangan masa kecil yang paling indah bukanlah tentang mainan yang mahal, melainkan tentang waktu yang diberikan oleh orang-orang yang mencintai mereka.

Saya menyiapkan beberapa lembar kertas bergambar buah-buahan, yaitu stroberi, mangga, dan apel. Saya juga memotong sedotan warna merah dan hijau menjadi potongan-potongan kecil sebagai bahan hiasan. Semua perlengkapan saya tata dengan rapi. Mungkin bagi orang lain benda-benda itu tampak sederhana, tetapi di mata saya, semua itu adalah sarana untuk menghadirkan kebahagiaan sekaligus menanamkan kreativitas kepada cucu-cucu.

Mereka bertiga memiliki usia yang berbeda. Elmira, si bungsu, sebentar lagi akan masuk taman kanak-kanak. Wajahnya masih begitu polos dan penuh rasa ingin tahu. Hamzah, sang kakak, akan memasuki bangku sekolah dasar. Ia mulai belajar berpikir lebih mandiri dan senang mencoba hal-hal baru. Sementara Zaskia, cucu pertama, telah naik ke kelas tiga sekolah dasar. Ia tampak lebih teliti, lebih sabar, dan mampu memahami instruksi dengan baik.

Perbedaan usia ternyata bukan penghalang untuk berkarya bersama. Justru saya melihat betapa indahnya Allah Subhanahu Wata'alla menciptakan manusia dengan kemampuan yang berbeda-beda. Masing-masing memiliki kelebihan sesuai tahap perkembangannya. Hal itu mengingatkan saya pada firman Allah bahwa Dia meninggikan sebagian manusia atas sebagian yang lain dalam berbagai derajat agar mereka saling belajar dan saling melengkapi.

Saat saya mempersilakan mereka memilih gambar, tidak ada sedikit pun pertengkaran. Mereka memilih gambar stroberi, mangga, ataupun apel dengan tenang. Hati saya dipenuhi rasa syukur melihat mereka saling menghargai. Betapa indah jika sikap seperti ini terus tumbuh hingga dewasa nanti.

Setelah semua memperoleh gambar, saya memberikan contoh cara menempel potongan-potongan sedotan mengikuti bentuk buah yang telah tersedia. Mereka memperhatikan dengan baik. Tidak lama kemudian, tangan-tangan mungil itu mulai bekerja. Ada yang menempel perlahan-lahan, ada yang sesekali bertanya, bahkan ada yang tersenyum bangga setiap kali berhasil menempel satu demi satu potongan sedotan.

Saya hanya mengamati, sesekali memberikan semangat, lalu membiarkan mereka berimajinasi. Saya ingin mereka belajar bahwa sebuah karya membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan usaha. Bukankah Allah Subhanahu Wata'alla juga mengajarkan kepada manusia bahwa setiap hasil yang baik lahir dari ikhtiar yang sungguh-sungguh?

Melihat mereka berkarya, hati saya dipenuhi rasa haru. Waktu seolah berjalan begitu cepat. Anak-anak yang dahulu masih digendong orang tuanya, kini mulai belajar menciptakan sesuatu dengan tangannya sendiri. Saya pun teringat bahwa kehidupan di dunia hanyalah perjalanan singkat. Anak-anak akan tumbuh besar, memiliki cita-cita, keluarga, dan kehidupan mereka masing-masing. Karena itulah, saya ingin meninggalkan jejak kenangan yang baik dalam hati mereka.

Saya berharap suatu hari nanti, ketika mereka telah dewasa, mereka akan mengenang masa kecilnya di Cepu. Mungkin mereka akan berkata, "Dulu saat liburan, kami sering membuat karya bersama Timmi." Kenangan seperti itulah yang tidak dapat dibeli dengan uang. Ia lahir dari waktu, perhatian, dan kasih sayang yang tulus.

Tidak membutuhkan waktu lama, satu per satu karya mereka selesai. Hasilnya sungguh luar biasa. Walaupun bentuknya berbeda-beda, semuanya tampak indah. Saya tidak membandingkan hasil karya mereka, sebab setiap anak memiliki keunikan yang Allah Subhanahu Wata'alla  titipkan. Yang terpenting bukanlah siapa yang paling bagus, tetapi siapa yang berani mencoba, belajar, dan menikmati prosesnya.

Saya memuji setiap karya mereka. Senyum bahagia langsung menghiasi wajah-wajah mungil itu. Betapa mudahnya membuat anak merasa dihargai. Cukup dengan kata-kata yang baik dan perhatian yang tulus, semangat mereka tumbuh semakin besar.

"Ya Allah, jadikanlah cucu-cucu saya menjadi anak-anak yang saleh dan salehah. Tanamkan dalam hati mereka kecintaan kepada ilmu, akhlak yang mulia, rasa hormat kepada orang tua, serta semangat untuk selalu berkarya demi kebaikan. Lindungilah mereka di mana pun mereka berada, mudahkan langkah mereka dalam menuntut ilmu, dan jadikan mereka generasi yang membawa manfaat bagi agama, bangsa, dan sesama manusia."

Semoga setiap tawa yang terukir di rumah menjadi saksi rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wata'alla Semoga setiap karya sederhana yang mereka buat menjadi awal tumbuhnya kreativitas, kesabaran, dan rasa percaya diri. Semoga setiap detik kebersamaan selama liburan menjadi amal saleh yang bernilai ibadah. Semoga kenangan indah ini tersimpan dalam hati cucu-cucu saya hingga mereka dewasa kelak, menjadi pengingat bahwa cinta keluarga yang dilandasi iman adalah salah satu nikmat terbesar yang patut disyukuri. Aamiin

Cepu, 2 Juli 2026

Keindahan Pantai Boby


Karya: Gutamining Saida

Setiap jengkal bumi yang Allah Subhanahu Wata'alla ciptakan menyimpan keindahan dan pelajaran bagi manusia yang mau merenungkan. Gunung menjulang mengajarkan keteguhan, sungai yang mengalir mengajarkan keikhlasan, sedangkan laut yang luas mengajarkan kebesaran Sang Pencipta yang tiada berbatas. Salah satu tempat yang membuat hati saya benar-benar merasakan hal itu adalah Pantai Boby di Karimunjawa.

Begitu menginjakkan kaki di pantai ini, rasa lelah selama lima jam perjalanan dengan kapal seolah hilang begitu saja. Mata langsung dimanjakan oleh hamparan laut yang membentang luas dengan gradasi warna biru yang begitu memikat. Airnya tampak sangat jernih hingga dari tepian pantai dasar laut masih terlihat jelas. Sesekali ombak kecil datang menyapa bibir pantai dengan suara yang lembut, seakan sedang melantunkan tasbih memuji kebesaran Allah Subhanahu Wata'alla.

Keindahan yang selama ini hanya saya lihat melalui foto dan video ternyata jauh lebih menakjubkan ketika disaksikan secara langsung. Tidak ada kamera yang mampu menggambarkan seluruh pesona ciptaan Allah Subhanahu Wata'alla dengan sempurna. Mata, hati, dan rasa syukur harus hadir bersamaan agar keindahan itu benar-benar dapat dinikmati.

Pasir Pantai Boby berwarna putih bersih dan terasa sangat lembut ketika dipijak. Setiap langkah seolah mengajak saya untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk kehidupan. Tidak ada kebisingan kendaraan, tidak ada suara klakson, hanya desir angin, deburan ombak, dan kicauan burung yang berpadu menjadi lantunan alam yang menenangkan jiwa.

Saya teringat bahwa Allah menciptakan alam bukan sekadar untuk dipandang, tetapi juga agar manusia mengambil pelajaran darinya. Betapa sering kita sibuk mengejar urusan dunia hingga lupa menikmati tanda-tanda kebesaran-Nya yang telah terbentang di hadapan mata.

Di sepanjang pantai tumbuh beberapa pohon kelapa yang menjulang tinggi. Pohon-pohon itu bukan hanya mempercantik pemandangan, tetapi juga memberikan keteduhan bagi para pengunjung. Di antara pohon-pohon tersebut dipasang tali yang kuat sehingga membentuk ayunan sederhana. Ayunan itu menjadi salah satu daya tarik Pantai Boby.

Banyak wisatawan bergantian duduk di atas ayunan sambil menikmati angin laut yang berembus lembut. Ada yang tersenyum bahagia, ada yang tertawa bersama keluarga, ada pula yang sekadar memejamkan mata menikmati suasana. Saya menyadari bahwa kebahagiaan sejati ternyata tidak selalu berasal dari sesuatu yang mahal. Sebuah ayunan sederhana di bawah pohon kelapa, ditemani semilir angin dan pemandangan laut yang indah, mampu menghadirkan ketenangan yang sulit dibeli dengan harta.

Di sudut pantai berdiri papan bertuliskan "Pantai Boby" yang menjadi ikon tempat tersebut. Hampir setiap pengunjung ingin mengabadikan momen di depan papan itu. Tidak sedikit yang rela mengantre dengan sabar demi memperoleh foto terbaik sebagai kenang-kenangan.

Pemandangan itu memberikan pelajaran tersendiri bagi saya. Dalam kehidupan, sering kali kita harus belajar menunggu giliran. Tidak semua keinginan dapat dipenuhi seketika. Kesabaran adalah salah satu bentuk ibadah yang sangat dicintai Allah Subhanahu Wata'alla. Orang yang mampu bersabar akan lebih mudah menikmati setiap proses kehidupan dibandingkan mereka yang selalu ingin didahulukan.

Di sekitar lokasi terdapat masyarakat setempat yang menawarkan jasa foto dan video. Dengan ramah mereka membantu wisatawan mendapatkan hasil gambar terbaik. Mereka mengetahui sudut-sudut pantai yang paling indah sehingga mampu mengabadikan momen yang berkesan.

Melihat mereka bekerja dengan penuh semangat membuat saya semakin menghargai pentingnya mencari rezeki yang halal. Keindahan alam yang Allah anugerahkan ternyata juga menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat sekitar. Dari jasa fotografi, penyewaan perlengkapan, hingga usaha kecil lainnya, semuanya menjadi jalan rezeki yang telah Allah atur dengan penuh hikmah.

Saya teringat bahwa setiap rezeki datang melalui sebab-sebab yang Allah bukakan. Karena itu, tidak pantas bagi manusia meremehkan pekerjaan orang lain. Selama dilakukan dengan cara yang baik dan halal, setiap pekerjaan memiliki nilai kemuliaan di sisi Allah.

Tidak jauh dari bibir pantai berdiri beberapa warung sederhana. Meskipun bangunannya tidak mewah, suasananya terasa hangat dan bersahabat. Warung-warung tersebut menyediakan berbagai makanan ringan, mi instan, hidangan laut, minuman dingin, hingga es segar yang sangat nikmat disantap setelah bermain di pantai.

Yang paling menggoda tentu saja kelapa muda segar. Air kelapa yang manis alami terasa begitu menyegarkan tenggorokan. Daging kelapanya yang lembut menambah kenikmatan saat disantap sambil memandang laut yang tenang.

Betapa Allah  Subhanahu Wata'alla telah mencukupkan kebutuhan manusia melalui alam. Dari satu pohon kelapa saja manusia memperoleh air yang menyegarkan, buah yang bergizi, daun untuk berbagai keperluan, batang yang bermanfaat, hingga serabut yang dapat diolah menjadi berbagai produk. Tidak ada ciptaan Allah Subhanahu Wata'alla  yang sia-sia.

Perjalanan wisata bukan hanya tentang berpindah tempat atau mengumpulkan foto untuk media sosial. Perjalanan yang sesungguhnya adalah perjalanan hati. Setiap langkah seharusnya semakin mendekatkan manusia kepada Sang Pencipta.

Saya juga melihat banyak wisatawan, baik dari dalam negeri maupun mancanegara, menikmati keindahan pantai dengan penuh kekaguman. Keindahan alam memang menjadi bahasa yang dipahami oleh semua manusia tanpa memandang suku, bangsa, maupun bahasa. Alam menyatukan hati dalam rasa kagum kepada sesuatu yang lebih besar daripada diri kita.

Terima kasih ya Allah, Engkau telah mempertemukan saya dengan salah satu sudut keindahan bumi-Mu. Semoga setiap perjalanan yang saya lakukan tidak hanya menambah koleksi foto, tetapi juga menambah keimanan, rasa syukur, dan kecintaan kepada-Mu. Semoga hati ini selalu mampu melihat bahwa di balik setiap debur ombak, hembusan angin, hijaunya pepohonan, dan luasnya samudra, tersimpan tanda-tanda kebesaran-Mu yang mengajak manusia untuk semakin mengenal dan mengagungkan-Mu.

Semoga tulisan ini dapat menjadi catatan perjalanan yang tidak hanya menceritakan keindahan Pantai Boby, tetapi juga mengajak pembaca merenungkan kebesaran Allah melalui setiap keindahan alam yang diciptakan-Nya. Aamiin

Cepu, 30 Juni 2026

Snorkling Di Karang Bintang


Karya: Gutamining Saida

Setiap manusia memiliki pengalaman pertama yang sulit dilupakan. Ada yang pertama kali naik gunung, pertama kali naik pesawat, atau pertama kali menginjakkan kaki di tempat yang selama ini hanya bisa dilihat melalui layar televisi dan telepon genggam. Bagi saya, salah satu pengalaman yang akan selalu tersimpan rapi dalam memori kehidupan adalah saat pertama kali melakukan snorkling di laut lepas.

Sejujurnya, sejak kecil saya bukanlah orang yang akrab dengan dunia air. Laut yang luas selalu menghadirkan rasa kagum sekaligus takut. Gelombang yang datang silih berganti, kedalaman yang tak terlihat, serta kehidupan bawah laut yang penuh misteri membuat saya hanya bisa menikmati keindahannya dari kejauhan. Selama ini saya hanya menyaksikan keindahan bawah laut melalui foto-foto, video perjalanan wisata, atau tayangan dokumenter. Dalam hati sering terlintas pertanyaan, "Benarkah pemandangan bawah laut seindah itu?"

Allah Subhanahu Wata'alla ternyata memiliki cara-Nya sendiri untuk menjawab rasa penasaran itu. Beberapa bulan sebelum perjalanan ini, Allah Subhanahu Wata'alla mempertemukan saya dengan Pak Gun yang dengan sabar mengenalkan dasar-dasar dunia air. Kami berlatih di kolam renang, tempat yang jauh lebih aman dibandingkan laut lepas. Beliau mengajarkan bagaimana mengatur napas, menjaga keseimbangan tubuh di dalam air, serta tetap tenang ketika berada di permukaan air. 

Yang paling saya ingat bukan hanya tekniknya, melainkan nasihat beliau tentang sifat manusia saat berada di air. Ada orang yang terlalu panik sehingga tubuh menjadi tegang. Ada yang terlalu percaya diri hingga mengabaikan keselamatan. Ada pula yang mampu bersikap tenang sehingga tubuh mengikuti aliran air dengan lebih baik. Dari pelajaran sederhana itu saya belajar bahwa air bukan hanya menguji kemampuan fisik, tetapi juga menguji keadaan hati.

Ketika hari yang dinanti tiba, kapal membawa kami menuju lautan yang begitu luas. Hamparan air biru membentang tanpa batas. Angin laut berembus lembut menyapa wajah. Langit tampak cerah seolah ikut menyambut perjalanan hari itu.

Awalnya saya telah meyakinkan diri. Saya berkata dalam hati, "Insyaallah saya bisa. Bukankah saya sudah berlatih?" Kalimat itu terus saya ulang-ulang untuk menguatkan keberanian. Ternyata kenyataan tidak semudah bayangan.

Saat kapal berhenti dan peserta mulai bergantian turun ke laut, tiba-tiba rasa takut datang begitu saja. Jantung berdegup lebih cepat. Pikiran mulai dipenuhi berbagai kemungkinan yang belum tentu terjadi. Tangan saya menggenggam erat tangga kapal. Saya hanya berdiri memandang permukaan laut yang bergerak perlahan mengikuti ombak.

Saat itulah saya benar-benar merasakan bahwa keberanian manusia sangatlah terbatas. Sering kali kita merasa kuat sebelum menghadapi kenyataan. Ketika ujian benar-benar datang, barulah kita sadar bahwa kekuatan sejati berasal dari Allah Subhanahu Wata'alla semata.

Saya mencoba menenangkan hati. Dalam lirih saya mengucapkan basmalah, istigfar, dan tasbih. Saya memohon perlindungan kepada Allah Subhanahu Wata'alla agar diberikan ketenangan, keselamatan, dan keberanian. Saya menyadari bahwa setiap langkah dalam kehidupan selalu membutuhkan pertolongan-Nya.

Perlahan saya mulai menuruni tangga kapal. Air laut menyentuh tubuh. Rasa dingin langsung terasa. Napas saya atur seperti yang pernah diajarkan. Sedikit demi sedikit rasa panik mulai berkurang. Saya mencoba memandang ke bawah melalui masker snorkeling. Subhanallah... Kalimat itu spontan keluar dari bibir saya.

Pemandangan di bawah permukaan laut sungguh jauh melebihi apa yang pernah saya lihat di layar ponsel. Hamparan terumbu karang dengan berbagai bentuk menghiasi dasar laut. Ikan-ikan kecil berenang bebas tanpa rasa takut. Ada yang berwarna kuning cerah, biru, hitam bergaris putih, bahkan ada yang berwarna-warni seperti lukisan. Air yang begitu jernih membuat semuanya tampak begitu jelas.

Saya seakan sedang memasuki dunia lain yang selama ini tersembunyi. Betapa Maha Hebat Sang Pencipta. Makhluk-makhluk kecil itu hidup dalam keteraturan yang luar biasa. Tidak ada yang saling bertabrakan. Tidak ada yang saling berebut tempat. Semua bergerak mengikuti sunnatullah yang telah Allah Subhanahu Wata'alla tetapkan.

Saya kemudian teringat firman Allah bahwa di langit dan di bumi terdapat tanda-tanda kebesaran-Nya bagi orang-orang yang mau berpikir. Selama ini saya sering membaca ayat tersebut, tetapi hari itu saya benar-benar merasakan maknanya. Laut bukan sekadar tempat wisata. Laut adalah salah satu ayat kauniyah, bukti nyata kekuasaan Allah yang dapat disaksikan dengan mata kepala sendiri.

Beberapa saat saya hanya mengapung sambil menikmati keindahan ciptaan-Nya. Rasanya seperti mimpi. Saya berkali-kali memastikan bahwa semua ini benar-benar nyata. Keindahan yang selama ini hanya saya lihat melalui gambar akhirnya saya saksikan secara langsung.

Hati saya dipenuhi rasa syukur yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Saya menyadari bahwa tidak semua orang diberi kesempatan menikmati pemandangan seindah ini. Semua adalah karunia Allah Subhanahu Wata'alla. Tidak ada yang pantas disombongkan. Jika Allah Subhanahu Wata'alla tidak mengizinkan, mungkin saya hanya akan menjadi penonton yang melihat keindahan laut dari kejauhan.

Pengalaman ini juga mengajarkan bahwa banyak ketakutan hanya hidup di dalam pikiran. Ketika kita berani melangkah dengan tetap bertawakal kepada Allah Subhanahu Wata'alla dan mengikuti petunjuk yang benar, sering kali ketakutan itu berubah menjadi pengalaman yang sangat berharga.

Kini setiap kali melihat foto atau video bawah laut di layar ponsel, saya tersenyum. Saya tidak lagi sekadar membayangkan keindahannya, tetapi pernah merasakan sendiri berada di tengah-tengahnya. Pengalaman pertama itu menjadi kenangan yang tak ternilai dan semakin menguatkan keyakinan saya bahwa di mana pun kita memandang, selalu ada tanda-tanda kebesaran Allah Subhanahu Wata'alla.

Alhamdulillahirabbil 'alamin. Terima kasih ya Allah atas kesempatan yang begitu indah. Semoga setiap nikmat yang Engkau berikan menjadikan hati ini semakin bersyukur, semakin rendah hati, dan semakin dekat kepada-Mu. Semoga setiap langkah perjalanan hidup selalu menjadi jalan untuk mengenal-Mu lebih dalam melalui keindahan ciptaan-Mu yang tiada habisnya. Aamiin.

Cepu, 30 Juni 2026

Selasa, 30 Juni 2026

Lelah yang Bernilai Ibadah


Karya: Gutamining saida

Rabu, 1 Juli 2026, menjadi hari yang terasa berbeda bagi seluruh keluarga besar guru di sekolah kami. Awal tahun ajaran 2026–2027 bukan sekadar pergantian kalender pendidikan, tetapi juga menjadi awal perjalanan baru yang penuh harapan, tantangan, sekaligus amanah. Sejak pagi, para guru mulai berdatangan dengan wajah yang beragam. Ada yang tampak santai, ada yang penuh rasa penasaran, dan ada pula yang menyimpan kecemasan mengenai pembagian tugas mengajar. Semua berkumpul dengan satu tujuan, mendengarkan pembagian tugas sekaligus mempersiapkan diri menjalani amanah baru.

Suasana ruang guru terasa hangat. Obrolan kecil terdengar di berbagai sudut ruangan. Ada yang saling bertanya tentang guru baru, ada yang memperkirakan mata pelajaran yang akan diampu, dan ada pula yang sekadar bercanda untuk mengurangi ketegangan. Ketika Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum mulai menyampaikan sambutan, seluruh ruangan mendadak hening. Semua perhatian tertuju kepada beliau.

Kalimat demi kalimat yang beliau sampaikan tidak hanya berisi informasi teknis, tetapi juga suntikan semangat yang begitu bermakna. Salah satu kalimat yang paling membekas adalah bahwa tahun ajaran ini merupakan tahun yang berat. Bukan karena sekolah mengalami kemunduran, melainkan karena setiap guru memperoleh tanggung jawab mengajar yang lebih besar. Jika sebelumnya batas minimal beban mengajar adalah 24 jam pelajaran, kini tidak ada guru yang hanya mengajar sebanyak itu. Sebagian besar memperoleh sedikitnya 28 jam pelajaran, bahkan ada yang lebih.

Sesaat ruangan kembali sunyi. Mungkin setiap guru sedang menghitung-hitung tenaga, waktu, dan tanggung jawab yang harus dipikul selama satu tahun ke depan. Keheningan itu segera berubah menjadi semangat ketika beliau melanjutkan dengan sebuah kalimat sederhana tetapi sangat dalam maknanya, "Lebih baik lelah bekerja daripada lelah mencari lowongan kerja."

Kalimat itu seperti mengetuk hati setiap guru. Benar adanya, tidak semua orang diberi kesempatan untuk mengabdi sebagai pendidik. Di luar sana masih banyak orang yang berjuang mencari pekerjaan, mengirim lamaran ke berbagai tempat, mengikuti seleksi berkali-kali, namun belum memperoleh kesempatan. Sementara kami masih diberi amanah untuk berdiri di depan kelas, membimbing generasi muda, dan memperoleh rezeki yang halal. Bukankah itu adalah nikmat yang patut disyukuri?

Sebagai orang yang beriman, kami menyadari bahwa setiap rezeki telah diatur oleh Allah. Tidak ada satu pun amanah yang datang tanpa izin-Nya. Jika Allah Subhanahu Wata'alla mempercayakan lebih banyak tugas kepada seseorang, berarti Allah Subhanahu Wata'alla juga telah menyiapkan kemampuan untuk menjalaninya. Firman Allah mengajarkan bahwa Dia tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ayat tersebut menjadi penyejuk hati bagi siapa pun yang mulai merasa berat dengan beban mengajar tahun ini.

Menjadi guru bukan hanya tentang menyampaikan materi pelajaran. Menjadi guru adalah jalan ibadah. Setiap huruf yang diajarkan, setiap kesabaran menghadapi karakter siswa yang berbeda-beda, setiap doa yang dipanjatkan agar murid menjadi anak yang saleh dan sukses, semuanya bernilai pahala apabila dilakukan dengan niat yang ikhlas karena Allah Subhanahu Wata'alla.

Lelah memang tidak dapat dihindari. Tubuh akan merasakan capai setelah berpindah dari satu kelas ke kelas lainnya. Suara akan mulai serak setelah menjelaskan pelajaran berkali-kali. Pikiran akan dipenuhi dengan penyusunan rencana pembelajaran, penilaian, administrasi, dan berbagai kegiatan sekolah lainnya. Kelelahan itu akan terasa ringan apabila hati selalu mengingat bahwa semua adalah bagian dari ibadah.

Rasulullah mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Bukankah guru setiap hari berusaha memberikan manfaat kepada puluhan bahkan ratusan peserta didik? Ilmu yang diajarkan hari ini mungkin akan menjadi bekal mereka puluhan tahun mendatang. Bisa jadi ada dokter, guru, polisi, tentara, pengusaha, pemimpin, atau ulama masa depan yang pernah duduk di bangku kelas kita. Betapa besar pahala yang mengalir apabila ilmu yang kita ajarkan menjadi jalan kebaikan bagi mereka.

Hari itu kami juga belajar tentang kebersamaan menjadi kekuatan utama. Beban yang berat akan terasa  ringan jika dipikul bersama. Senyum rekan sejawat, saling membantu menyusun administrasi, berbagi media pembelajaran, hingga saling menyemangati ketika rasa lelah datang merupakan bentuk kebersamaan yang indah. Sekolah bukan hanya tempat bekerja, tetapi juga tempat bertumbuh sebagai keluarga besar yang saling menguatkan.

Di sela-sela kegiatan, hati ini terus berdoa semoga Allah Subhanahu Wata'alla memberikan kesehatan kepada seluruh guru. Sebab amanah sebesar apa pun tidak akan mampu dijalankan tanpa tubuh yang sehat dan hati yang kuat. Semoga Allah Subhanahu Wata'alla menjaga langkah kami setiap pagi menuju sekolah, memudahkan lisan kami saat menjelaskan pelajaran, melapangkan kesabaran ketika menghadapi berbagai persoalan, serta menjadikan setiap aktivitas sebagai amal saleh yang diterima di sisi-Nya.

Pembagian tugas hari itu akhirnya selesai. Masing-masing guru telah mengetahui tanggung jawabnya. Tidak semua memperoleh jumlah jam yang sama, tetapi semuanya memperoleh amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Tidak terdengar keluhan yang berlebihan. Yang tampak justru wajah-wajah yang siap melangkah, meskipun menyadari bahwa perjalanan satu tahun ke depan tidak akan selalu mudah.

Kehidupan bukan tentang mencari pekerjaan yang paling ringan, melainkan bagaimana menjadikan setiap pekerjaan sebagai ladang ibadah. Selama pekerjaan itu halal, dilakukan dengan penuh tanggung jawab, dan diniatkan karena Allah Subhanahu Wata'alla, maka setiap tetes keringat akan berubah menjadi pahala.

Semoga tahun ajaran 2026–2027 menjadi tahun yang penuh keberkahan bagi seluruh guru Esmega. Semoga Allah Subhanahu Wata'alla melimpahkan kekuatan dalam setiap langkah, kesabaran dalam setiap ujian, keikhlasan dalam setiap pengabdian, serta keberhasilan dalam mendidik generasi yang berilmu, berakhlak mulia, dan bertakwa. Karena pada akhirnya, bukan banyaknya jam mengajar yang akan dikenang, melainkan seberapa besar manfaat yang telah kita berikan kepada anak-anak bangsa sebagai bentuk pengabdian kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Aamiin

Cepu, 1 Juli 2026