Karya: Gutamining Saida
Menjadi guru IPS di Esmega memberi saya banyak pengalaman. Ada materi tentang interaksi sosial, sumber daya manusia, keberagaman, mobilitas sosial, dan berbagai konsep kehidupan masyarakat. Ternyata, menjadi guru juga mengajarkan saya satu pelajaran yang sangat sederhana, dan membutuhkan perjuangan luar biasa tentang menghafal nama siswa.
Sudah kurang lebih satu bulan saya bersama anak-anak. Saya mengajar tujuh kelas dengan jumlah siswa sekitar 256 anak. Jika hanya melihat wajah, perlahan saya mulai mengenali mereka. Saya sudah mulai bisa membedakan, “Oh, anak ini kelas 7A,” atau “Ini anak 7B,” atau “Sepertinya ini anak 7C.”
Wajah mulai tersimpan dalam ingatan. Tetapi nama? Nah, ini yang menjadi perjuangan tersendiri. Saya harus jujur kepada mereka bahwa kemampuan saya dalam menghafal nama memang tidak secepat yang mereka harapkan. Terkadang, ketika berpapasan di halaman sekolah, ada siswa yang sengaja menghentikan langkah saya.
“Bu Saida!”ucap dia
Saya menoleh.
“Saya siapa, Bu?”tanya dia
Pertanyaan sederhana. Bagi saya, pertanyaan itu seperti sebuah ujian mendadak. Saya memandang wajahnya. Saya mencoba mengingat. Saya membuka kembali “lemari” ingatan yang ada di kepala. Kadang saya berhasil.
“Eh... kamu Bagus!” ucap saya.
Wajahnya langsung tersenyum.
“Benar, Bu!”jawab dia
Ada kebahagiaan kecil di wajahnya. Tidak jarang saya justru salah.
“Afif?”
“Bukan, Bu!”jawab dia
“Lho... siapa?”tanya saya.
Anak itu tertawa.
“Ya saya, Bu...”
Kemudian saya ikut tertawa. Kami sama-sama menyadari bahwa menghafal nama 256 anak bukanlah pekerjaan yang mudah. Yang lebih lucu lagi adalah ketika saya bertemu dengan dua anak di kelas 7A yang memiliki nama panggilan sangat mirip yaitu Al dan El. Kalau hanya melihat postur tubuh, sebenarnya sangat mudah membedakan mereka. Yang satu bertubuh kecil, sementara yang satunya jauh lebih tinggi. Seharusnya tidak sulit. Tetapi ternyata otak saya memiliki cara sendiri untuk menguji kesabaran.
“Al!”ucap saya
Anak yang saya panggil justru tersenyum sambil menggeleng.
“Bukan..., Bu. Saya El.”
Saya terdiam. “Oh iya... El.”
Pertemuan berikutnya saya mencoba lebih hati-hati. Saya melihat anak yang lain. “Kalau kamu Al, ya?”
Dia menjawab, “Iya, Bu.”jawabnya. Saya merasa menang. Akhirnya saya berhasil! Tetapi beberapa hari kemudian, kejadian yang sama terulang lagi. Saya salah lagi. Anak-anak tentu saja tertawa.
“Bu Saida kok masih ketuker?”
Saya pun tertawa bersama mereka.
“Maaf, Nak. Ibu sedang berjuang menghafal kalian semua.”
Sebenarnya, di balik tawa itu ada perasaan yang cukup dalam. Saya tahu bagi seorang siswa, dipanggil dengan nama sendiri oleh gurunya adalah sesuatu yang menyenangkan. Nama adalah identitas. Nama adalah bagian dari diri mereka. Ketika seorang guru mampu menyebut nama murid dengan tepat, ada perasaan bahwa dirinya diperhatikan, dikenal, dan dianggap penting. Karena itu, saya memahami ketika mereka sering bertanya,
“Bu, saya siapa?”
Mungkin pertanyaan itu bukan sekadar ingin menguji saya.
Mungkin mereka sedang berkata, “Bu, kenali saya.”
“Bu, ingat saya.”
“Bu, saya juga ingin dianggap berarti.”
Dari situlah saya belajar. Menjadi guru ternyata bukan hanya menyampaikan materi pelajaran. Guru juga sedang belajar mengenal manusia. Setiap anak memiliki nama, wajah, karakter, keluarga, kebiasaan, kelebihan, kekurangan, mimpi, dan perjalanan hidup masing-masing.
Ada anak yang cerewet, pendiam, selalu menjawab pertanyaan, lebih suka tersenyum, aktif bergerak, duduk tenang tetapi sebenarnya menyimpan banyak potensi, senang menggoda gurunya hanya untuk mendapatkan perhatian.
Semua itu menjadi warna dalam perjalanan saya mengajar. Saya pun mulai memiliki cara sederhana untuk membantu diri sendiri. Ketika bertemu dengan siswa di luar kelas dan saya lupa namanya, terkadang saya berkata, “Coba sebutkan nama kalian.”
Mereka menyebutkan nama masing-masing. Saya tersenyum. “Terima kasih. Ibu jadi ingat lagi.” Saya tidak ingin berpura-pura hafal jika memang belum hafal. Saya memilih jujur kepada mereka.
Ternyata, meminta mereka menyebutkan nama justru menjadi sebuah proses belajar yang menyenangkan. Mereka membantu saya. Saya membantu mereka. Kami sama-sama belajar.
Saya kemudian menyadari menghafal nama siswa bukan hanya persoalan daya ingat. Ada proses membangun kedekatan di dalamnya. Saya teringat dalam kehidupan ini, manusia diberikan begitu banyak nama dan wajah untuk dikenali. Allah Subhanahu Wata'alla menciptakan manusia dengan keunikan masing-masing. Tidak ada dua manusia yang benar-benar sama.
Dua anak yang memiliki nama panggilan hampir mirip pun tetap memiliki karakter yang berbeda. Al adalah Al. El adalah El. Mereka bukan sekadar nama dalam daftar presensi. Mereka adalah pribadi yang sedang tumbuh. Mereka adalah anak-anak yang kelak akan menjadi bagian dari masyarakat.
Mungkin suatu hari nanti mereka sudah dewasa. Mereka mungkin menjadi dokter, guru, pengusaha, polisi, tentara, petani, teknisi, seniman, atau profesi lain yang hari ini belum mereka bayangkan. Saya salah satu guru yang pernah hadir dalam perjalanan hidup mereka. Karena itu saya berusaha untuk tidak merasa malu ketika salah menyebut nama.
Saya justru menjadikannya sebagai pengingat bahwa saya harus terus belajar. Bukankah belajar tidak mengenal usia? Guru pun tetap seorang pembelajar. Saya belajar IPS dari buku. Saya belajar teknologi dari perkembangan zaman. Saya belajar kesabaran dari tingkah laku siswa.Saya belajar ketulusan dari anak-anak yang tetap menyapa meskipun terkadang nama mereka masih tertukar. Saya belajar kerendahan hati dari kesalahan-kesalahan kecil saya sendiri.
Kadang saya berpikir, mungkin Allah Subhanahu Wata'alla sedang memberikan saya sebuah latihan melalui 256 anak ini. Latihan untuk lebih sabar. lebih teliti, lebih dekat dengan anak-anak, memahami bahwa setiap manusia ingin dihargai.
Mungkin saya belum mampu menghafal seluruh nama mereka dengan cepat. Saya tidak ingin berhenti berusaha. Setiap hari saya mencoba menyimpan satu nama lagi. Satu wajah lagi. Satu karakter lagi. Satu cerita lagi. Sedikit demi sedikit. Hari ini mungkin saya masih berkata, “Maaf, kamu siapa?”
Besok mungkin saya sudah mampu menyebut namanya. Ketika suatu hari seorang siswa datang lalu saya menyapanya lebih dulu, “Eh, Al!” atau “El, bagaimana kabarmu?” Saya yakin akan ada senyum kecil di wajah mereka. Bagi saya mungkin itu hanya keberhasilan mengingat sebuah nama. Tetapi bagi mereka, mungkin itu adalah pesan sederhana yaitu “Bu Saida mengingat saya.”
Betapa indah jika seorang guru bukan hanya diingat karena nilai, tugas, atau materi pelajaran yang pernah disampaikan, tetapi juga karena pernah membuat seorang anak merasa dikenal dan dihargai. Maka saya akan terus belajar, terus menghafal serta meminta mereka menyebutkan namanya jika saya lupa.
Saya akan terus memohon kepada Allah Subhanahu Wata'alla agar diberi kemudahan dalam menjalankan amanah sebagai seorang guru. Sebab pada akhirnya, menjadi guru bukan tentang seberapa cepat kita mampu menghafal 256 nama.
Lebih dari itu, menjadi guru adalah bagaimana kita mampu mengenal, menghargai, menyayangi, dan mendoakan 256 anak yang Allah Subhanahu Wata'alla titipkan dalam perjalanan pengabdian kita. Jika hari ini saya masih sering keliru antara Al dan El. semoga kesalahan kecil itu tidak mengurangi ketulusan saya dalam mendidik mereka. Karena saya percaya, setiap nama yang saya coba hafalkan adalah bagian dari doa.
Setiap wajah yang saya kenali adalah bagian dari amanah. Setiap anak yang saya temui adalah kesempatan dari Allah Subhanahu Wata'alla untuk belajar menjadi manusia yang lebih sabar, lebih rendah hati, dan lebih penuh kasih.
Terima kasih, anak-anakku. Kalian bukan sekadar nama dalam daftar presensi. Kalian adalah bagian dari cerita panjang perjalanan saya sebagai seorang guru. Semoga Allah Subhanahu Wata'alla memudahkan saya mengingat nama kalian, memahami karakter kalian, membimbing langkah kalian, dan menjaga kalian hingga menjadi pribadi-pribadi hebat yang bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama. Aamiin
Cepu, 13 Agustus 2026