Selasa, 03 November 2026

Gelak Tawamu


Karya: Gutamining Saida

Percakapan di grup Muda Swimming Squad2 tidak pernah kehilangan daya pikatnya. Setelah sempat menggoyahkan niat sebagian anggota untuk latihan di Bumool, suasana sore itu kembali menemukan hangatnya.

Di tengah gelak tawa di kolam, Pak Gun malam hari meluncurkan barisan doa yang begitu tulus di dalam grup disertai dokumentasi sore tadi.

"Lapangkan dada, memohonlah kepada-NYA, semoga diberi umur panjang, sehat jasmani dan rohani..."

Deretan kalimat doa itu terajut indah, melayang di antara baris-baris pesan singkat sebelumnya. Itu bukan sekadar untaian kata biasa, melainkan pengingat yang menyentuh sanubari di waktu sore yang sejuk.

Membaca untaian doa dari sang pelatih, jemari ibu-ibu yang tadinya ragu langsung bergerak cepat. Tanpa komando, satu per satu ibu-ibu menyambutnya dengan kalimat seruan yang sama.

"Aamiin..."

"Aamiin ya Rabbal 'Alamin..."

“Aamiin Ya Allah…”

Kolom percakapan yang sempat sepi mendadak dipenuhi gelombang amalan doa. Satu demi satu anggota grup menampakkan diri. Mereka yang tadinya hanya menjadi pengamat pasif, termasuk yang ragu-ragu, mendadak kembali aktif memberikan komentar dan emoji hangat. Doa yang dipanjatkan Pak Gun seolah menjadi magnet yang menarik kita  semua.

Pak Gun memang sosok pelatih yang punya daya tarik tersendiri. Beliau sangat pandai memancing suasana agar tetap hidup dan komunikatif. Pendekatannya tidak kaku seperti instruktur pada umumnya, melainkan luwes dan penuh kehangatan. Beliau tahu persis bagaimana cara mencairkan kebekuan, menyapa anggota dengan sapaan akrab, serta memberi semangat di saat yang tepat.

Gaya komunikasinya yang humoris berhasil membangun suasana kekeluargaan yang erat. Di bawah bimbingan dan kehangatan caranya menyapa, ibu-ibu merasa dirangkul, dihargai, dan sangat betah menjadi bagian dari kelompok ini. Berenang bukan lagi sekadar kegiatan fisik untuk mengolah tubuh atau sekadar membasahi diri di kolam Bumool, melainkan sudah menjadi ruang silaturahmi yang penuh warna dan keceriaan.

Kehadiran sosok pelatih yang komunikatif seperti ini menyatukan berbagai latar belakang dan karakter ibu-ibu. Dalam grup selalu konsisten terjaga. Gurauan kecil, perhatian sederhana, dan doa tulus yang saling bertukar membuat ikatan di antara mereka terasa makin kokoh setiap harinya.

Sore yang tadinya dibayangi rasa enggan, akhirnya ditutup dengan rasa syukur. Ungkapan doa dari Pak Gun tak hanya melapangkan dada, tetapi juga meluruskan kembali niat. Di kolam renang, ada kebersamaan dan kesehatan yang patut terus dirawat bersama.

Cepi, 3 November 2026

 

Basah Kuyub


Karya: Gutamining Saida

Hujan yang turun beberapa hari terakhir rasanya seperti penawar dahaga bagi bumi yang sudah terlalu lama merana. Setelah didera kemarau panjang yang menguras sumber air dan meninggalkan debu-debu beterbangan. Tetes-tetes air dari langit hadir membawa berkah yang tak terhingga. Suasana berubah drastic. Hawa panas yang biasanya menyengat perlahan menguap, berganti dengan aroma tanah basah yang khas dan suhu udara yang terasa sedikit dingin menyejukkan. Suasana sejuk ini menjadi pengingat betapa besarnya nikmat Allah Subhanahu Wata’alla yang wajib kita syukuri. Terlebih lagi jika membayangkan saudara-saudara kita di daerah lain yang saat ini masih harus berjuang keras demi mendapatkan setetes air bersih.

Datangnya musim hujan selalu membawa cerita tersendiri dalam dinamika kehidupan sehari-hari, termasuk di dalam grup percakapan digital. Riak-riak semangat mulai menghiasi layar ponsel melalui grup Muda Swimming Squad2. Sebuah pesan berhembus, memecah keheningan siang.

"Bu ibu, ayo nanti sore latihan!" tulis salah seorang anggota grup dengan penuh semangat.

Tak butuh waktu lama, ajakan tersebut langsung menyulut respons dari ibu-ibu lainnya. Wacana berenang di Bumool pun mendadak riuh.

"Nich edisi cari teman. Ayo dilist ya!" lanjutnya singkat, mengajak siapa saja yang siap meluncur ke kolam sore nanti.

Respons demi respons mulai berdatangan mengisi kolom obrolan. Bu Rini menjadi orang pertama yang menyambar ajakan tersebut dengan keyakinan penuh. "Saya rencana datang," tulis beliau tegas, menetapkan namanya di barisan teratas daftar.

Namanya juga musim hujan, kepastian cuaca selalu menjadi fenomena yang sulit ditebak. Keraguan mulai merayap saat bu Isna ikut bersuara. "Insya Allah datang bila gak hujan," saut beliau dengan nada hati-hati.

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Tak lama kemudian, bu Nafia membagikan kabar situasi terkini dari wilayahnya. "Kedungtuban awan gelap, Bu! Tapi Insya Allah hadir," lapornya. Laporan cuaca dari berbagai tempat pun mulai memenuhi ruang percakapan, menggambarkan mendungnya langit sore.

Sementara percakapan di grup semakin hangat, saya memilih bertindak sebagai pengamat saja dari balik layar.  Membaca setiap baris pesan yang masuk membawa keunikan tersendiri. Dalam hati, timbul sebuah pertanyaan yang agak menggelitik.  Kenapa ya orang-orang begitu khawatir hujan turun saat hendak berenang? Bukankah tanpa hujan pun, begitu menceburkan diri ke kolam, kita juga bakal basah kuyup dari ujung kepala sampai ujung kaki? Logika yang sering kali terlupakan saat kita berhadapan dengan rasa enggan menembus gerimis.

Prediksi awan gelap akhirnya terbukti. Bu Lyna menjadi orang pertama yang membatalkan niatnya karena realitas cuaca sudah menghadang di depan mata. "Saya tidak jadi datang, Cepu sudah gerimis," tulisnya, memilih untuk berada di zona aman dan hangat di rumah. Di tengah pembatalan dan keraguan yang mulai meluas, tiba-tiba sebuah pesan masuk memecah suasana. Pak Gun mengirimkan sebuah foto beserta komentar singkat, "Nich saya basah kuyup."

Melihat foto dan membaca pesan dari pak Gun, saya tak sanggup menahan senyum. Saya tertawa geli. Bagaimana tidak? Pak Gun adalah seorang pelatih renang. Bagi seorang pelatih renang saat di tepi maupun di dalam kolam, basah kuyup adalah pakaian sehari-harinya. Ada atau tidak ada hujan turun dari langit, air kolam renang pasti akan selalu membuatnya basah kuyup dari sore ke sore. Kehadiran foto pak Gun seolah menjadi penutup drama cuaca dan niat berenang ibu-ibu sore itu.

Begitulah warna-warni kecil dalam komunitas Muda Swimming Squad2. Hujan mungkin membuat sebagian rencana berenang terhenti dan membasahi jalanan, tetapi kehangatan silaturahmi, gurauan ringan, dan rasa syukur atas rezeki air dari-Nya selalu berhasil menghangatkan grup. Salam Sehat bu ibu dan pak Gun.

Cepu, 3 November 2026

 

Senin, 02 November 2026

Yang Mana Diriku?

 

Karya: Gutamining Saida

Kolam renang Bumool mendadak menjadi panggung keajaiban arena tempat kebahagiaan. Di tempat ini, sekumpulan ibu-ibu perkasa melebur dalam spontan yang melampaui batas-batas gerak tangan yang meraup air, mengangkatnya ke angkasa, lalu membantingnya turun demi menutupi wajah masing-masing dalam tirai cair. 

Tidak ada satu pun manusia di muka bumi yang mampu menemukan gaya tangan yang sama persis dalam detik-detik. Ada yang meraup air dengan jemari terkembang bagai kipas merak, ada yang menggenggamnya erat-erat seolah sedang menggenggam takdir, ada pula yang menciduknya dengan kepalan setengah hati yang justru memercikkan ke segala penjuru arah angin. Raut wajah mereka? Dari bibir yang merekah lebar membentuk kebahagiaan tanpa ujung, mata yang terpejam rapat hingga kerutan dahi yang meleleh pasrah karena gelombang tawa yang teramat dahsyat. 

Dalam satu komando tangan-tangan itu bergerak serempak. Air kehidupan diangkat tinggi-tinggi, membubung megah menantang matahari, sebelum akhirnya diguyurkan deras menutupi seluruh wajah. Seketika itu pula, dunia luar yang penuh hiruk-pikuk, kebisingan rutinitas, dan beban hidup yang menindih pundak mendadak lenyap tanpa jejak, tertelan oleh kepekatan air yang menyegarkan.

Wajah-wajah tertutup air. Di balik tabir air yang mengalir turun di dahi, pipi, dan dagu, tercipta sebuah dimensi tanpa rupa dan tanpa topeng sosial. Kami mendadak menjadi makhluk tanpa identitas duniawi. Betapa luar biasa sensasi ketika mata terpejam di balik guyuran air, di mana kita tidak lagi perlu melihat wajah satu sama lain. Tidak ada lagi penilaian, tidak ada lagi standar kecantikan yang fana, tidak ada lagi sekat usia atau jabatan. Di dalam air yang membasahi sekujur raga, kami semua sama.

Di dalam kolam yang ada di dalam cekungan keramik berair biru itu hanyalah ledakan-ledakan kegembiraan yang membahana, menggetarkan permukaan air hingga menciptakan riak-riak  kebahagiaan yang menjalar sampai ke pusat bumi.

Setiap kali tawa meledak dari mulut-mulut yang tersembunyi di balik guyuran air, suaranya melengking tinggi, menembus awan, menampar angin dengan gelombang energi positif. Tawa itu bukan sekadar pelampiasan. Suara tawa yang berderai-derai itu berbenturan dengan dinding-dinding kolam, memantul berkali-kali lipat, menciptakan gema sukacita . Siap menaklukkan sisa hari dengan senyum yang tidak akan pernah bisa dihapus oleh badai apa pun di dunia luar.

Cepu, 2 November 2026

 

Bahagia Milik Siapa Saja

 

Karya: Gutamining Saida

Suara kecipak air memecah pelan di tepi kolam. Sekelompok ibu-ibu yang hadir, gemercik air bukan sekadar tempat berolahraga biasa. Tempat itu telah menjelma menjadi panggung tempat kegembiraan dilepaskan tanpa sekat. Setiap kali langkah kaki menapaki lantai kolam ada rasa riang yang meletup begitu saja. Di tempat inilah senyum mengembang bebas, gelak tawa pecah tanpa ragu, dan suara keras membahana menembus area renang.

Di tengah keseruan itu, sosok Pak Gun berdiri penuh energi di tepi kolam. Tatapannya tajam mengamati setiap gerakan bu ibu yang antusias. Meski terkadang geraknya masih perlu dibenahi. Ketika aba-aba gerakan belum pas, dorongan semangat dari sang pelatih pun langsung berkumandang.

"Ayo ibu-ibu, diulang! Suara yang keras sambil bawa air ke arah atas!" perintah Pak Gun tegas namun berbalut keakraban.

Tak berhenti di situ, beliau segera menimpali aba-aba dengan kalimat sarat doa. "Ucap sehaaaaat... gitu nggih!" tambah Pak Gun sembari mencontohkan tangannya menepis air ke atas, membumbungkan cipratan jernih.

Seketika itu ibu-ibu menyambut instruksi dengan tawa lepas. Tangan-tangan meraup air, mendorong tinggi ke udara, diiringi teriakan bersahut-sahutan yang membahana "Sehaaaaat!" Suara itu tidak sekadar keluar dari tenggorokan, melainkan meluncur deras dari dalam dada yang penuh kepuasan. Teriakan melengking menyatu bersama riakan air yang terangkat ke atas.

Bukan berarti ketika berada di luar area kolam renang, ibu-ibu kehilangan senyum dan tawa. Tentu saja tidak. Jangan sampai ada salah paham mengira hidup mereka di rumah sepi dari kebahagiaan. Ada aura berbeda yang tercipta saat berkumpul ramai-ramai di air. Atmosfer kebersamaan itu melipatgandakan energi. Beban rutinitas harian, kepenatan mengurus rumah tangga, hingga lelahnya urusan pekerjaan seolah meluruh begitu saja saat tubuh menyentuh air dan tawa bersama meledak.

Kehadiran teman yang sama-sama berjuang menggerakkan badan, serta pelatih yang tak henti memberi dorongan positif membuat suasana kolam riuh. Kolam renang berubah menjadi ruang rekreasi jiwa, sebuah Oase tempat melepaskan segelintir kepenatan hidup.

Di sela-sela jeda latihan, sambil mengelap sisa-sisa air di wajah, Pak Gun sering kali menyelipkan pesan-pesan sederhana. Beliau mengingatkan bahwa kesehatan fisik dan kedamaian pikiran dua hal yang erat. Kesehatan adalah pondasi utama, dan dari sanalah rasa bahagia terpancar.

"Sehat adalah bagian dari bahagia. Gunakan dan manfaatkan kebahagiaan dengan versi dan cara panjenengan merasa nyaman," tutur Pak Gun kepada ibu-ibu yang sedang menyandarkan badan di tepi kolam. Beliau melanjutkan dengan penekanan yang mendalam, "Bahagia itu hak semua orang."

Pesannya begitu mengena. Kebahagiaan tidak memiliki standar baku yang kaku. Bagi ibu-ibu wujud bahagia sangat sederhana berteriak lepas. Tidak perlu syarat yang rumit berlebih untuk hidup. Cukuplah menciptakan momen di mana hati merasa nyaman dan tenang.

Ketika sesi berakhir dan air kolam kembali tenang, riak-riak kecil bekas kecipak gerakan perlahan menyurut. Gema teriakan "Sehaaaaat!" dan gelak tawa hangat itu tidak ikut surut. Energi positif terbawa pulang dan bahagia milik siapa saja yang pandai bersyukur dan nyaman dengan versinya sendiri. Sampai jumpa!

Cepu, 2 November 2026

 

Minggu, 01 November 2026

Keunikan Muda Swimming Squat2


Karya: Gutamining Saida

Tidak semua rezeki datang dalam bentuk materi. Terkadang, Allah Subhanahu Wata'alla menghadirkan rezeki melalui pertemuan dengan orang-orang baik, lingkungan yang menyenangkan, dan kesempatan untuk belajar sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan. Salah satu nikmat yang saya rasakan ketika menjadi bagian dari keluarga besar Muda Swimming Squad2.

Awalnya, kehadiran saya di kolam renang memiliki tujuan sederhana, yaitu berikhtiar menjaga kesehatan. Saya menyadari tubuh membutuhkan perhatian dan perawatan. Usia yang terus bertambah mengingatkan bila kesehatan merupakan amanah Allah Subhanahu Wata'alla yang harus dijaga. Salah satu ikhtiar yang saya pilih  belajar berenang dan membiasakan diri bergerak di dalam air.

Perjalanan ini ternyata memberikan lebih banyak daripada yang saya bayangkan. Saya tidak hanya mendapatkan kesempatan untuk belajar berenang, tetapi juga dipertemukan dengan banyak orang yang membawa semangat dan energi positif.

Muda Swimming Squad2 merupakan kelompok yang cukup unik. Anggotanya didominasi oleh mereka yang berusia tiga puluh sampai ltujuh puluh lima tahun. Meskipun demikian, semangat untuk berolahraga dan menjaga kesehatan tidak kalah dengan mereka yang masih muda.

Keberagaman menjadi salah satu keistimewaan kelompok ini. Ada anggota yang datang bersama tiga generasi, dua generasi.  Ada pula yang terdiri atas anak, cucu dan ibu, empat bersaudara. Sebagian berasal dari satu instansi, ada yang bertetangga, teman dekat, dan berbagai hubungan lainnya.

Sungguh menarik melihat bagaimana orang-orang dengan latar belakang berbeda dapat berkumpul dalam satu tempat dengan tujuan yang sama. Ada yang datang bersama keluarga, ada yang mengajak saudara, ada yang bersama rekan kerja, dan ada pula yang awalnya mungkin hanya ingin mencoba. Lama-kelamaan, kegiatan ini menjadi bagian dari aktivitas yang dinantikan.

Masing-masing memiliki cerita, pengalaman, kemampuan, dan kondisi tubuh yang berbeda. Akan tetapi, semuanya mempunyai kesamaan, yaitu keinginan untuk menjaga kesehatan. Tidak ada persaingan untuk menjadi yang paling hebat. Tidak ada tuntutan semua harus bisa berenang dengan kemampuan yang sama. Setiap orang mempunyai proses dan perkembangan masing-masing.

Berbeda usia, berbeda latar belakang, berbeda kemampuan, tetapi mempunyai satu tujuan ikhtiar sehat. Kegiatan latihan secara khusus dijadwalkan setiap hari Sabtu dan Minggu sore. Kedua hari tersebut menjadi waktu yang dinantikan oleh anggota Muda Swimming Squad2.

Setelah menjalani kesibukan masing-masing, akhir pekan menjadi kesempatan untuk berkumpul, berolahraga, dan belajar bersama. Ada semangat tersendiri ketika mengetahui bahwa hari latihan telah tiba. Karena antusiasme anggota yang terkadang begitu besar, ada kesempatan tambahan atau bonus latihan pada Rabu dan Jumat sore.

Tentu saja, kesempatan ini tidak selalu tersedia. Sifatnya situasional, bergantung pada banyaknya anggota yang hadir dan kesempatan Pak Gun untuk membersamai kami. Ketika banyak anggota datang, Pak Gun memberikan kesempatan untuk berlatih bersama. Wah, tentu saja ini menjadi kebahagiaan tersendiri!

Rasanya seperti mendapatkan bonus yang tidak terduga. Bukan bonus berupa uang atau barang, melainkan tambahan kesempatan untuk belajar, memperbaiki gerakan, dan mendapatkan bimbingan. Bagi saya, kesempatan seperti ini sangat berharga. Sebab, dalam belajar berenang, pengulangan dan latihan sangat diperlukan. Tidak cukup hanya melihat orang lain melakukan gerakan, tetapi kita juga harus berani mempraktikkannya.

Kadang gerakan sudah dicontohkan, tetapi ketika dipraktikkan sendiri hasilnya belum sesuai harapan. Ada yang masih kesulitan mengatur pernapasan, menggerakkan kaki, menjaga keseimbangan, atau menghilangkan rasa takut terhadap air.

Di sinilah pentingnya kesempatan belajar bersama secara berulang. Saya semakin memahami bahwa keberhasilan membutuhkan proses. Tidak ada hasil yang benar-benar baik tanpa kesungguhan dan kesabaran.

Di balik kegiatan Muda Swimming Squad2, ada sosok pembimbing yang mempunyai peran penting, Beliau bernama Pak Gun. Sebagai guru  yang profesional, beliau tidak hanya memberikan contoh gerakan, tetapi juga membimbing, mengarahkan, dan memberikan motivasi kepada para anggota.

Setiap orang mempunyai kemampuan yang berbeda. Ada yang sudah mahir, ada yang sedang mengembangkan teknik, dan ada pula yang masih berada pada tahap awal belajar. Menghadapi keberagaman tersebut tentu membutuhkan kesabaran dan kemampuan tersendiri.

Karena itu, pendampingan dan arahan yang tepat sangat dibutuhkan. Seorang guru bukan hanya mengajarkan bagaimana melakukan gerakan, tetapi juga membantu murid membangun keberanian. Tidak semua orang bisa langsung berhasil. Ada yang harus mencoba berkali-kali sebelum akhirnya mendapatkan hasil yang diharapkan.

Saya sendiri merasakan proses belajar membutuhkan mental yang kuat. Ketika belum berhasil, terkadang muncul rasa malu atau kecewa. Saat melihat anggota lain tetap bersemangat, saya kembali mendapatkan dorongan untuk mencoba.

Kehadiran teman-teman di kolam memberikan suasana yang menyenangkan. Ada sapaan, senyuman, canda, dan cerita yang membuat suasana terasa lebih akrab. Terkadang, hal sederhana seperti saling menyapa sudah cukup membuat hati bahagia. Melihat orang lain tetap bersemangat meskipun memiliki keterbatasan juga menjadi motivasi tersendiri.

Saya bersyukur karena berada di tengah orang-orang yang memberikan energi positif. Mereka menjadi bagian dari perjalanan saya dalam menjaga kesehatan, baik secara fisik maupun mental.

Menjaga kesehatan merupakan bentuk ikhtiar sekaligus rasa syukur atas amanah yang diberikan Allah. Masih diberi kesempatan untuk datang ke kolam, bertemu teman-teman, belajar bersama, dan menggerakkan tubuh merupakan hal yang patut disyukuri.

Bagi saya, berenang bukan sekadar olahraga. Ada pembelajaran tentang kesabaran, keberanian, kedisiplinan, dan keyakinan bahwa setiap proses membutuhkan waktu. Saya tidak pernah menyangka bahwa ikhtiar menjaga kesehatan akan mempertemukan saya dengan begitu banyak orang yang membawa kebaikan.

Terima kasih kepada Pak Gun yang telah memberikan bimbingan dan kesempatan untuk terus belajar. Terima kasih kepada seluruh anggota yang telah menghadirkan suasana hangat dan menyenangkan. Semoga jadwal Sabtu dan Minggu tetap menjadi kesempatan yang membawa manfaat. Begitu pula kesempatan bonus pada Rabu dan Jumat sore, semoga menjadi tambahan kebahagiaan ketika Allah memberikan kelapangan waktu dan kesempatan.

Ya Allah, terima kasih telah mempertemukan saya dengan orang-orang baik. Jagalah kesehatan kami, kuatkan tubuh kami, lapangkan hati kami, dan jadikan kebersamaan ini sebagai jalan untuk saling mengingatkan dalam kebaikan. Semoga usia yang terus bertambah tidak mengurangi semangat kami untuk beraktivitas, belajar, dan beribadah. Semoga setiap ikhtiar menjadi amal kebaikan dan setiap pertemuan membawa keberkahan. Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Cepu, 1 November 2026

Jumat, 30 Oktober 2026

Ular Tangga IPSku

 

Karya: Gutamining Saida

Suasana kelas 8D pada hari Kamis siang menjelang akhir pembelajaran selalu memiliki ritme tersendiri. Pukul 5-6 biasanya menjadi jam-jam yang rawan bagi konsentrasi siswa. Rasa lelah setelah seharian digempur berbagai mata pelajaran membuat energi anak-anak terkuras. Nuansa yang berbeda di sudut ruangan kelas 8D. Udara berhembus melalui jendela-jendela kelas yang terbuka, menambah semangat mereka. Di  depan dekat papan tulis, belakang meja formasi kelompok, terdampar papan permainan ular tangga  menanti untuk dijelajahi.

Pekan lalu, instruksi telah saya diberikan dengan jelas. Setiap kelompok mendapat tantangan  menyiapkan dadu, pion, serta daftar pertanyaan IPS buatan mereka sendiri untuk diintegrasikan ke dalam permainan ular tangga IPS. Ini bukan sekadar permainan ular tangga biasa yang dibeli di toko mainan. Namun sebuah media edukatif di mana materi IPS yang kerap dianggap penuh hafalan, kini menjadi arena petualangan. 

Sejak bel tanda pergantian jam berbunyi  saya memasuki ruangan. Wajah-wajah yang tadinya tampak lesu seketika berbinar cerah. Mereka menagih janji. Suatu janji yang sudah dinanti sejak pekan lalu untuk segera mencoba dan bermain papan permainan ular tangga.

Mereka terbagi menjadi enam kelompok. Pembentukan kelompok secara bebas. Tanpa campur tangan saya. Mereka memilih teman yang mencerminkan kedekatan pertemanan. Sejak awal sudah terlihat sibuk merapikan perlengkapan tulis, mencatat skor, dan memastikan kartu soal tertata rapi. Ada pula kelompok yang diisi sepenuhnya oleh siswa laki-laki, yang langsung memamerkan dadu berukuran agak besar dengan gelak tawa. Mereka saling berbalas candaan mengenai siapa yang paling jago melempar dadu nanti. Tidak ketinggalan, kelompok campuran antara laki-laki dan perempuan turut menghiasi suasana. 

Sebelum melangkah di atas kotak start, sebuah ritual kecil yang tak ditinggalkan oleh mereka yaitu hompimpah. Suara riuh tangan dengan ayunan serentak. "Hompimpah alaium gambreng!" suara mereka Tawa langsung pecah ketika mereka kalah dan harus rela urutan lemparan terakhir. Sementara  pemenang hompimpah bersorak memegang dadu untuk giliran pertama. Ritual sederhana ini bukan sekadar penentu urutan, melainkan sebuah pencair suasana. 

Begitu permainan dimulai, suasana kelas berubah menjadi lautan energi positif. Papan ular tangga IPS  mendadak hidup. Setiap kali dadu dilemparkan mata seluruh anggota kelompok langsung tertuju tajam pada angka yang muncul. Keseruan bukan terletak pada siapa yang paling cepat mencapai kotak finish, melainkan pada momen ketika pion mendarat di kotak tangga dan ular.

Di sinilah proses belajar IPS tanpa terasa sebagai beban. Lembaran kertas berisi soal-soal seputar materi dibacakan dengan nada serius. Jika mampu menjawab dengan tepat, mereka berhak tetap berada di posisinya atau bahkan menaiki tangga keberuntungan. Jika tepat di gambar ular mereka harus meliuk ke bawah. 

Waktu berjalan begitu cepat. Jarum jam dinding kelas bergerak merangkak, mendekati detik-detik berakhirnya jam pelajaran. Waktu istirahat telah tiba. Biasanya, pada jam-jam seperti ini, mereka bersiap menyambut suara bel. 

Suara bel panjang tanda pergantian jam berdering nyarin. Suara bel seakan menguap begitu saja, kalah gaung oleh riuhnya permainan ular tangga. Tidak ada satu pun kelompok yang bergegas merapikan alat permainan. Tangan mereka masih sibuk memegang pion, mata masih mengawasi jalannya giliran kawan sekelompok. 

"Ayo sudah, belnya sudah berbunyi."ucap saya singkat.

Kalimat itu, yang biasanya menjadi komando para siswa untuk berhamburan keluar kelas, hari ini mendatفقkan respons yang sama sekali di luar kebiasaan. Tanpa dikomando, jawaban serempak memenuhi seisi ruangan. 

"Bentar, Bu..."

Jawaban itu diucapkan begitu kompak, oleh anak-anak kelas 8D. Mereka menolak untuk istirahat. Pikiran mereka sepenuhnya terkunci pada guliran dadu berikutnya, pada pertanyaan IPS yang belum terjawab. Seolah-olah, jajanan favorit di kantin, dan rasa lelah seharian menguap begitu saja, tergantikan oleh kepuasan batin belajar bersama melalui permainan.

Ketika materi pelajaran dikemas dengan kreativitas yang menyentuh dunia mereka. IPS tidak lagi membosankan. Ruang kelas bukan lagi tempat di mana siswa duduk pasif mengantuk. Pemahaman konsep IPS berpadu dalam tawa. Bel boleh  berdering, waktu boleh saja menuntut pergantian jam, tetapi kenangan tentang bagaimana pelajaran IPS mampu membuat mereka lupa waktu. Sampai jumpa kembali.

Cepu, 30 Oktober 2026

Kamis, 29 Oktober 2026

Uang Membuat Membara

Karya: Gutamining Saida

Belajar tidak harus menggunakan buku paket dan papan tulis. Terkadang, dengan sesuatu yang sederhana dan  dekat dengan kehidupan sehari-hari mampu menghadirkan kejutan, rasa penasaran, dan semangat belajar yang luar biasa. Salah satunya dengan media uang kertas.

Uang merupakan benda yang menarik bagi semua orang, tidak terkecuali siswa. Melihat uang, siapa yang tidak tertarik? Apalagi jika uang tersebut memiliki beragam pecahan. Dari ketertarikan itulah saya mendapatkan ide untuk menjadikan uang kertas sebagai media pembelajaran IPS. Harapannya, siswa tidak hanya tertarik pada uang sebagai alat pembayaran, siswa semakin semangat mempelajari materi IPS. Saya ingin menumbuhkan minat IPS bukan sebagai pelajaran yang membosankan. 

Hari Kamis, saatnya pembelajaran IPS di kelas 8A di jam terakhir. Waktu yang cukup menantang bagi seorang guru. Setelah mengikuti berbagai pelajaran sejak pagi, biasanya energi siswa mulai berkurang. Ada yang mulai mengantuk, berbicara dengan teman sebangku, bahkan pikirannya sudah tertuju  waktu pulang.

Saya tidak ingin suasana pembelajaran kehilangan semangat. Saya berusaha menghadirkan perhatian mereka kembali tertuju pada pelajaran. Materi yang saya sampaikan berkaitan dengan aktivitas manusia dan hubungannya dengan toponimi. Saya terlebih dahulu menjelaskan materi, memberikan contoh, serta mengajak siswa memahami bagaimana aktivitas manusia, kondisi lingkungan, sejarah, dan kebiasaan masyarakat dapat memengaruhi penamaan suatu tempat.

Setelah penjelasan materi selesai, saya sudah menyiapkan sebuah tantangan. Bukan sekadar soal yang harus dijawab seperti biasanya, melainkan pertanyaan-pertanyaan yang saya tempelkan pada media uang kertas. Saya membawa beberapa pecahan uang rupiah. Ada uang seribu, dua ribu, lima ribu, dua puluh ribu, hingga seratus ribu rupiah. Setiap lembar memiliki pertanyaan yang harus diselesaikan siswa dalam buku tugas masing-masing.

Saatnya memberikan kejutan! Saya mulai mengeluarkan uang satu per satu saya letakkan di atas meja. Kemudian saya jajar hingga memenuhi permukaan meja. Berbagai pecahan uang terlihat jelas. Pemandangan yang tidak biasa dalam pembelajaran IPS.

Seketika perhatian siswa tertuju kepada saya. Mereka memperhatikan dengan ekspresi yang beragam. Ada yang tersenyum, ada yang tampak heran, bahkan ada yang seakan tidak percaya dengan apa yang sedang mereka lihat.

"Bu, buat apa uangnya?" tanya Atta dengan penuh rasa penasaran.

"Bagi-bagi uang ya, Bu?" sahut Kenzi.

"Uang benerankah Bu?"tanya Galih

Pertanyaan itu disambut perhatian teman-temannya. Untuk sementara, saya memilih diam. Saya ingin melihat reaksi mereka lebih dahulu. Ada rasa penasaran yang sengaja saya biarkan tumbuh. Saya merasa senang. Ternyata, hanya dengan meletakkan uang di atas meja, perhatian siswa yang semula mulai berkurang kembali terpusat.

Mereka mengira akan mendapatkan uang secara cuma-cuma. Padahal, ada misi belajar yang sudah menunggu. Setelah beberapa saat, saya mulai memberikan instruksi.

"Silakan pilih satu lembar uang yang kalian sukai. Perhatikan pertanyaan yang ada dibaliknya, kemudian kerjakan jawabannya di buku tugas IPS."ucap saya.

Mendengar instruksi tersebut, mereka mulai bergerak. Ada yang langsung berdiri dan mendekati meja. Ada yang memperhatikan pecahan uang sebelum menentukan pilihan. Ada pula yang terlihat membandingkan satu lembar dengan lembar lainnya.

Masing-masing mempunyai selera. Ada yang tertarik dengan uang pecahan seribu, ada yang memilih dua ribu, lima ribu, bahkan ada yang langsung mengincar uang seratus ribu. Saya membiarkan mereka memilih. Tidak ada paksaan untuk mengambil pecahan tertentu. Semua mempunyai kesempatan yang sama untuk mengikuti tantangan.

Ada satu hal yang perlu mereka pahami. Uang yang mereka pilih bukan hadiah untuk dibawa pulang. Uang tersebut merupakan media yang berisi soal-soal IPS. Hadiah sesungguhnya adalah ilmu dan pengalaman belajar yang mereka dapatkan.

Setelah mengambil satu lembar uang, siswa kembali ke tempat duduk masing-masing. Mereka mulai membaca pertanyaan dan menuliskan jawabannya di buku tugas. Suasana kelas perlahan berubah. Siswa yang sebelumnya mungkin terlihat kurang bersemangat kini mulai sibuk dengan tugasnya. Ada yang membaca pertanyaan berulang kali, ada yang berpikir mencari jawaban, dan ada pula yang berdiskusi kecil dengan teman di dekatnya.

Saya mengamati pekerjaan mereka. Sesekali saya mendekati siswa yang terlihat kebingungan. Saya memberikan arahan tanpa langsung membocorkan jawabannya. Saya ingin mereka berusaha menemukan jawaban berdasarkan pemahaman materi yang telah dipelajari.

Setelah menyelesaikan satu pertanyaan, mereka kembali untuk memilih uang berikutnya. Begitu seterusnya sampai batas waktu yang sudah saya tentukan. Aktivitas sederhana itu ternyata mampu menghadirkan suasana belajar yang berbeda. Siswa tidak hanya duduk mendengarkan penjelasan guru. Mereka bergerak, memilih, membaca, berpikir, menulis, dan menyelesaikan tantangan.

Inilah salah satu bentuk pembelajaran aktif. Siswa dilibatkan secara langsung dalam proses belajar. Mereka mempunyai kesempatan untuk menentukan pilihan sekaligus bertanggung jawab menyelesaikan tugasnya.

Oleh karena itu, uang sangat tepat dijadikan media untuk menghubungkan pembelajaran IPS dengan kehidupan nyata. Dari uang, siswa dapat belajar banyak hal. Mereka dapat mengenal berbagai pecahan rupiah, memahami fungsi uang, belajar mengelola keuangan, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta membangun kebiasaan menggunakan uang secara bijak.

Materi toponimi mengajak siswa memahami hubungan antara manusia dan tempat tinggalnya. Penamaan suatu wilayah tidak muncul begitu saja. Ada sejarah, kondisi alam, aktivitas masyarakat, serta kebudayaan yang menjadi latar belakangnya.

Saya ingin menunjukkan yang mereka sukai dapat dijadikan pintu masuk untuk mengenal IPS dari dekat dan keberhasilan. Pembelajaran bukan hanya ketika seluruh soal selesai dikerjakan. Ada kebahagiaan tersendiri ketika melihat siswa yang awalnya kurang memperhatikan berubah menjadi aktif. Ketika mereka berani bertanya, mau mencoba, dan bersemangat menyelesaikan tantangan.

Saya berharap pengalaman belajar ini meninggalkan kesan di hati mereka. Kelak, ketika mendengar kata IPS, mereka mengingat pengalaman memilih uang di atas meja, membaca pertanyaan, berpikir, dan menyelesaikan tantangan bersama teman-temannya.

Tugas seorang guru bukan sekadar menyampaikan materi sampai selesai. Lebih dari itu, guru harus  menyalakan rasa ingin tahu, membangun keberanian untuk mencoba, dan menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan. Yang diperlukan adalah kemauan untuk terus berkreasi agar IPS semakin dekat dengan kehidupan dan semakin dicintai siswa. Semoga menginspirasi guru lain.

Cepu, 30 Oktober 2026

Selasa, 27 Oktober 2026

Taman Enceng Gondok

 

Karya: Gutamining Saida

Setelah seharian bergelut dengan aktivitas di sekolah, saya mendapatkan ajakan yang cukup menarik. Bukan ajakan untuk pergi ke pusat perbelanjaan, makan di restoran, atau jalan-jalan ke tempat wisata yang sedang ramai dikunjungi orang. Ajakannya sederhana, tetapi cukup membuat rasa penasaran saya muncul. Saya diajak melihat bunga enceng gondok yang sedang bermekaran di sepanjang aliran Bengawan Solo.

Pemandangan itu sedang viral di media sosial. Wah, mendengar kata viral, rasa penasaran saya langsung bangkit. Maklum, zaman sekarang kalau ada sesuatu yang viral, rasanya sayang sekali kalau hanya menjadi penonton dari kejauhan. Apalagi lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal saya. Masa iya, orang lain sudah berfoto ria, sementara saya hanya bisa melihat unggahannya di layar ponsel?

Akhirnya, tanpa berpikir panjang, saya pun ikut berangkat. Anggap saja ini sebagai hadiah kecil untuk diri sendiri setelah menjalani rutinitas sebagai seorang guru. Seharian berada di sekolah tentu membutuhkan energi, kesabaran, dan pikiran yang tidak sedikit. Maka, menikmati pemandangan sore hari menjadi salah satu cara sederhana untuk menyegarkan pikiran.

Siapa tahu, setelah melihat bunga enceng gondok, pikiran gondoknya hilang. Hehehe!

Bengawan Solo bukanlah sungai yang asing bagi masyarakat di sekitar kami. Sungai ini memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari. Airnya menjadi sumber penghidupan bagi petani, membantu memenuhi kebutuhan masyarakat, serta menjadi bagian dari kehidupan warga yang tinggal di sekitarnya.

Musim kemarau panjang membawa perubahan pada wajah sungai yang selama ini akrab dengan kehidupan masyarakat. Debit air menyusut, permukaan air menurun, dan bagian-bagian yang sebelumnya dipenuhi air kini tampak tanah. Di beberapa bagian, hamparan enceng gondok tumbuh memenuhi permukaan sungai.

Tanaman yang biasanya hanya dianggap tumbuhan air biasa itu kini justru menjadi pusat perhatian. Terlebih ketika bunganya bermekaran, menciptakan pemandangan yang menarik untuk dilihat. Siapa sangka, tanaman yang sering dianggap mengganggu aliran air itu mendadak naik kelas menjadi objek wisata dadakan?

Kalau biasanya orang berbondong-bondong mencari bunga di taman, kali ini bunga enceng gondok di Bengawan Solo pun berhasil mengundang perhatian. Tanpa tiket masuk, tanpa gerbang megah, dan tanpa papan bertuliskan "Welcome to Bengawan Solo" masyarakat sudah berdatangan untuk menikmati pemandangannya.

Begitulah kehidupan. Kadang-kadang sesuatu yang selama ini dianggap biasa, bahkan kurang diperhatikan, bisa mendadak menjadi istimewa ketika dilihat dari sudut pandang yang berbeda.

Pemandangan ini ramai diperbincangkan. Hamparan tanaman air yang tumbuh memenuhi permukaan sungai terlihat menarik, apalagi ketika bunga-bunganya sedang bermekaran. Orang-orang berdatangan silih berganti. Ada anak-anak berseragam sekolah yang datang bersama teman-temannya, ibu-ibu yang asyik berbincang sambil mencari sudut foto terbaik, anak-anak yang ikut menikmati suasana, hingga kaum bapak yang ternyata tidak mau kalah dalam urusan berburu foto.

Pemandangannya benar-benar seperti tempat wisata dadakan. Semakin sore, jumlah pengunjung semakin bertambah. Ada yang berdiri berkelompok, ada yang sibuk mengatur posisi kamera, dan ada pula yang berkali-kali mengulang pengambilan gambar demi mendapatkan hasil terbaik.

Ternyata, kebahagiaan tidak selalu harus dicari di tempat yang jauh dan mahal. Cukup dengan pemandangan yang sedang menarik perhatian, suasana sore yang menyenangkan, dan teman untuk berbagi cerita, orang-orang sudah bisa menikmati waktu dengan penuh kegembiraan.

Di tengah keramaian itu, saya pun tidak ingin ketinggalan. Masa iya, sudah datang, tetapi pulang hanya membawa cerita tanpa bukti foto? Tentu saja tidak! Saya pun ikut mencari posisi yang bagus. Sesekali melihat ke arah hamparan enceng gondok, kemudian mengatur gaya, tersenyum, dan berusaha tampil sebaik mungkin di depan kamera.

Kalau hasil fotonya bagus, bisa dipajang di status WhatsApp. Kalau kurang bagus, tinggal diulang. Kalau masih kurang bagus juga, mungkin kameranya yang perlu diajak bermusyawarah. Hehehe!

Namanya juga usaha. Yang penting, hati senang dan kenangan tersimpan. Setelah puas menikmati suasana dan berfoto, saya merasa sayang kalau pengalaman sederhana ini hanya berhenti sebagai kenangan pribadi. Maka, beberapa foto pilihan pun saya unggah ke status WhatsApp.

Bagi saya, status WhatsApp menjadi jendela kecil untuk berbagi cerita dengan keluarga, sahabat, teman kerja, dan orang-orang yang tidak bisa bertemu setiap hari. Termasuk anak-anak saya yang berada di luar kota.

Saya tahu, jarak membuat kami tidak selalu bisa menikmati momen bersama. Mereka memiliki kesibukan sendiri, begitu pula saya. Karena itu, melalui foto dan cerita sederhana, setidaknya mereka masih bisa mengikuti sebagian aktivitas uminya di rumah.

Saya tidak menyangka unggahan tentang bunga enceng gondok itu justru menuai berbagai komentar dari anak saya. Ada saja tanggapan mereka yang membuat saya tersenyum. Rasanya seperti sedang berada di rumah bersama mereka, meskipun sebenarnya kami terpisah jarak.

Saya membayangkan mereka melihat foto uminya yang sedang asyik menikmati pemandangan enceng gondok. Mungkin ada yang terkejut, mungkin ada yang geli, atau mungkin mereka berpikir, Wah, umi ternyata tidak mau kalah dengan anak-anak muda kalau urusan jalan-jalan dan berfoto!

Lho, memangnya kalau sudah menjadi nenek-nenek tidak boleh menikmati pemandangan? Tentu tidak! Usia boleh bertambah, tetapi semangat menikmati kehidupan jangan sampai ikut menua. Apalagi kalau ada kesempatan untuk menyegarkan pikiran setelah menjalani aktivitas yang melelahkan. Mengapa harus dilewatkan?

Bunga enceng gondok bukan hanya memberi saya pengalaman melihat pemandangan yang sedang viral, tetapi juga menghadirkan kebahagiaan kecil. Di balik keseruan berburu foto, saya sempat berpikir bahwa ada sesuatu yang bisa direnungkan dari kejadian sore itu.

Bengawan Solo sedang mengalami penyusutan air akibat musim kemarau panjang. Kondisi ini tentu bukan sesuatu yang sepenuhnya menggembirakan. Berkurangnya air sungai dapat memengaruhi kehidupan masyarakat, terutama petani dan warga yang bergantung pada ketersediaan air.

Di satu sisi, hamparan enceng gondok yang bermekaran menghadirkan pemandangan menarik. Di sisi lain, kita juga perlu mengingat bahwa pertumbuhan enceng gondok yang berlebihan dapat mengganggu aliran air dan keseimbangan ekosistem sungai. Artinya, kita boleh menikmati keindahan yang hadir, tetapi jangan sampai melupakan kondisi alam yang melatarbelakanginya.

Jangan pula karena ingin mendapatkan foto yang bagus, kita mengabaikan keselamatan. Bengawan Solo  tetaplah bengawan. Permukaan air yang tampak tenang belum tentu aman, terlebih ketika kondisi air sedang surut dan dasar sungai tidak terlihat jelas.

Menikmati keindahan alam tidak harus dengan mengambil risiko. Cukup melihat dari tempat yang aman, mengabadikan momen sewajarnya, dan tetap menjaga kebersihan lingkungan. Kebahagiaan bisa ditemukan dalam hal-hal sederhana. Tidak harus menunggu liburan panjang, tidak harus pergi ke luar kota, dan tidak harus mengeluarkan banyak uang.

Hidup tidak selalu membutuhkan peristiwa besar untuk menghadirkan kebahagiaan. Ada kalanya, kebahagiaan justru bersembunyi di balik kejadian sederhana yang tidak pernah kita rencanakan. Hari ini bunga enceng gondok menjadi bintang. Besok mungkin ada pemandangan lain yang mencuri perhatian. Kesempatan untuk menikmati kehidupan dengan hati yang bersyukur. Viral boleh, berfoto jangan ketinggalan, tetapi yang paling penting, jangan sampai lupa bersyukur kepada Sang Pencipta.

Cepu, 27 Oktober 2026


Jumat, 23 Oktober 2026

Indahnya Kebersamaan

Karya: Gutamining Saida

Jum’at sore, saya kembali mendapatkan kesempatan untuk hadir di tengah keluarga besar Muda Swimming Squad 2. Sebuah kebersamaan yang menyimpan kebahagiaan luar biasa. Bagi sebagian orang, mungkin kehadiran di kolam renang hanyalah kegiatan olahraga untuk mengisi waktu luang. Bagi saya, ada makna yang lebih. Saya tidak sekadar berjuang menggerakkan tubuh agar tetap sehat, tetapi juga belajar menguatkan hati, menumbuhkan keberanian, dan merasakan indahnya persaudaraan yang tumbuh tanpa memandang perbedaan.

Saya semakin menyadari bila kesehatan merupakan salah satu nikmat Allah yang sering kali baru benar-benar kita syukuri ketika tubuh mulai merasakan keterbatasan. Saat tubuh tidak lagi sekuat dahulu, langkah tidak lagi sebebas dulu, dan beberapa gerakan membutuhkan usaha lebih keras, barulah kita memahami bahwa bisa bergerak, berjalan, mengangkat tangan, bahkan sekadar menikmati udara sore merupakan anugerah yang luar biasa. Oleh karena itu, selagi Allah masih memberikan kesempatan, saya ingin terus berikhtiar. Saya ingin merawat tubuh yang telah Allah titipkan ini dengan penuh rasa syukur, meskipun perjalanan menuju sehat tidak selalu mudah.

Kami berkumpul bersama, mengikuti arahan Pak Gun, sosok pelatih yang senantiasa membimbing kami dengan kesabaran. Beliau bukan hanya mengajarkan gerakan di dalam air, tetapi juga menanamkan semangat agar kami tidak mudah menyerah pada keterbatasan diri. Ada kalanya kami berhasil melakukan gerakan yang sebelumnya terasa sulit. Ada pula saat kami harus mengulang berkali-kali karena tubuh belum mampu mengikuti apa yang diharapkan. Semua butuh proses,  setiap orang mempunyai perjalanan masing-masing. Tidak perlu membandingkan langkah sendiri dengan langkah orang lain, sebab yang terpenting adalah terus berusaha sesuai kemampuan.

Di bawah bimbingan Pak Gun, kami mendapatkan arahan untuk saling bergandengan tangan. Tangan yang satu bertemu dengan tangan yang lain. Jari-jari saling menguatkan, genggaman dipertahankan, dan tidak seorang pun boleh melepaskannya begitu saja. Berkali-kali terdengar pesan agar kami memegang dengan erat. Pegang erat, jangan dilepas. Kalimat sederhana itu seolah mengandung pesan kehidupan yang begitu dalam.

Saya memandangi tangan-tangan yang saling terhubung. Ada tangan yang mungkin lebih kuat, ada yang masih gemetar, ada yang terbiasa bergerak lincah, dan ada pula yang masih belajar mengatasi rasa takut. Ketika semua tangan itu bergandengan, tidak ada lagi yang merasa berjalan sendirian. Kekuatan bukan hanya berasal dari diri sendiri, melainkan juga dari orang-orang yang bersedia berdiri di samping kita.

Bukankah demikian pula kehidupan yang kita jalani? Tidak selamanya kita mampu menghadapi segala sesuatu seorang diri. Ada saatnya kita membutuhkan uluran tangan, dukungan, dan semangat dari orang lain. Ada masa ketika hati terasa lemah, keyakinan mulai goyah, dan langkah terasa berat. Pada saat seperti itulah kehadiran seseorang yang berkata, “Ayo, kamu pasti bisa. Kita berjuang bersama,” dapat menjadi sumber kekuatan yang tidak ternilai harganya.

Saya merasakan sendiri betapa berharganya dukungan semacam itu. Ketika seseorang memberikan semangat, kita merasa lebih berani. Ketika teman-teman tetap bertahan menggenggam tangan, tumbuh keyakinan bahwa kita tidak sendirian. Ketika ada yang mengingatkan untuk tidak menyerah, muncul kembali keinginan untuk mencoba. Terkadang, yang dibutuhkan seseorang bukanlah nasihat panjang atau bantuan yang mahal, melainkan kesediaan untuk menemani dan meyakinkan bahwa dirinya tetap berharga.

Genggaman tangan sore itu mengajarkan saya tentang arti kebersamaan yang sesungguhnya. Bergandengan tangan bukan sekadar menyatukan telapak dan jari, melainkan menyatukan hati dalam tujuan yang sama. Kami datang dengan latar belakang, pengalaman, kemampuan, dan cerita kehidupan yang berbeda-beda. Masing-masing membawa harapan untuk menjadi lebih sehat. Ada yang ingin tubuhnya lebih bugar, ada yang ingin mengatasi rasa takut terhadap air, dan ada pula yang ingin menjaga kesehatan agar tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih baik.

Meskipun tujuan kami mungkin tidak sepenuhnya sama. Kami dipertemukan oleh satu semangat: berjuang bersama. Tidak ada yang perlu merasa paling hebat. Tidak ada pula yang harus merasa rendah diri hanya karena belum mampu melakukan gerakan tertentu. Semua mendapatkan kesempatan untuk belajar, mencoba, dan memperbaiki diri. Di dalam kebersamaan itu, perbedaan seolah melebur. Tidak ada batas yang memisahkan kami. Kami merasa sama sebagai sesama manusia yang sedang berikhtiar menjaga amanah kesehatan dari Allah.

Saya teringat firman Allah dalam Al-Qur’an, Surah Al-Ma'idah ayat 2, yang mengajarkan agar kita saling menolong dalam kebajikan dan ketakwaan. Bagi saya, kebersamaan di kolam renang itu menjadi salah satu gambaran sederhana bagaimana semangat saling menolong dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Kami saling menguatkan, saling menyemangati, dan berusaha menciptakan suasana yang membuat setiap orang merasa diterima.

Tidak harus menunggu memiliki harta berlimpah untuk dapat berbuat baik. Tidak harus menjadi orang hebat untuk memberikan manfaat kepada sesama. Sebuah genggaman yang tidak dilepaskan, senyuman yang menenangkan, sapaan yang ramah, atau kalimat penyemangat yang tulus pun dapat menjadi kebaikan yang berarti. Barangkali bagi kita hal itu terlihat sederhana, tetapi bagi orang yang sedang berjuang, perhatian kecil tersebut bisa menjadi alasan untuk kembali melangkah.

Saya pun belajar bahwa sehat bukan hanya persoalan tubuh. Hati yang bahagia, pikiran yang lebih tenang, dan lingkungan pertemanan yang positif ikut memberikan warna dalam perjalanan menjaga kesehatan. Ketika berada di tengah teman-teman yang saling mendukung, beban terasa lebih ringan. Kegiatan yang awalnya mungkin melelahkan berubah menjadi pengalaman yang dinantikan. Rasa takut perlahan mendapatkan ruang untuk dikalahkan oleh keberanian. Keraguan sedikit demi sedikit digantikan oleh kemauan untuk mencoba.

Tentu saja, kebersamaan tidak serta-merta membuat semua kesulitan menghilang. Setiap orang tetap memiliki keterbatasan dan tantangannya sendiri. Namun, kebersamaan mengajarkan bahwa kesulitan tidak harus dihadapi dengan perasaan terasing. Kita bisa tetap berjuang sambil tertawa, belajar sambil saling mengingatkan, dan menerima kenyataan bahwa kemampuan setiap orang tidak selalu sama. Yang penting bukan siapa yang paling cepat berhasil, melainkan siapa yang tetap mau berusaha dan tidak berhenti menghargai proses.

Di bawah bimbingan Pak Gun, kami belajar mempertahankan genggaman. Saya memaknai pesan itu bukan hanya sebagai arahan dalam kegiatan sore tersebut, tetapi juga sebagai pengingat untuk kehidupan yang lebih luas. Dalam keluarga, genggaman berarti saling menjaga. Dalam persahabatan, genggaman berarti setia mendukung. Dalam lingkungan masyarakat, genggaman berarti tidak membiarkan seseorang merasa sendirian ketika menghadapi kesulitan. Dan dalam perjalanan menuju sehat, genggaman berarti saling memberikan semangat tanpa harus mengukur siapa yang lebih mampu.

Betapa indahnya jika semangat itu juga kita bawa pulang. Ketika kembali ke rumah, kita berusaha lebih sabar terhadap keluarga. Ketika bertemu tetangga, kita menyapa dengan ramah. Ketika melihat seseorang sedang kesulitan, kita berusaha membantu sesuai kemampuan. Ketika ada teman yang belum berhasil mencapai tujuannya, kita tidak menertawakan, tetapi memberikan dorongan agar ia tetap bersemangat. Sebab, kehidupan akan terasa lebih damai apabila setiap orang bersedia menjadi penguat bagi orang lain.

Air kolam akan kembali tenang, aktivitas akan berakhir, dan kami akan pulang ke rumah masing-masing. Namun, kebahagiaan yang saya rasakan tidak berhenti ketika langkah meninggalkan kolam renang. Ada pelajaran yang ingin saya simpan erat-erat di dalam hati: bahwa kesehatan patut diperjuangkan, persaudaraan patut dirawat, dan kebaikan sekecil apa pun layak disyukuri.

Saya bersyukur kepada Allah karena masih diberikan kesempatan untuk hadir, bergerak, belajar, dan bertemu dengan orang-orang yang menghadirkan semangat positif. Saya juga bersyukur karena di tengah perjuangan menjaga kesehatan, saya menemukan kebahagiaan yang tidak dapat dinilai dengan uang. Kebahagiaan itu hadir melalui kebersamaan, melalui genggaman tangan yang saling menguatkan, dan melalui perasaan bahwa kami semua memiliki tempat yang sama untuk belajar menjadi lebih baik.

Terima kasih, Pak Gun, atas bimbingan dan semangat yang diberikan. Terima kasih pula kepada seluruh teman seperjuangan yang telah menghadirkan suasana hangat, tanpa sekat dan tanpa membeda-bedakan. Semoga kebersamaan ini tidak hanya bertahan selama kami berada di kolam renang, tetapi juga tumbuh menjadi persaudaraan yang terus menguatkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, saya memahami bahwa perjalanan menuju sehat bukan semata-mata tentang kemampuan menguasai gerakan atau mencapai hasil tertentu. Perjalanan ini juga tentang belajar bersabar, menghargai diri sendiri, menerima perbedaan, dan mensyukuri setiap kemajuan sekecil apa pun. Kita mungkin tidak selalu mampu berjalan dengan kecepatan yang sama, tetapi kita tetap bisa berjalan berdampingan. Kita mungkin memiliki keterbatasan yang berbeda, tetapi kita tetap dapat saling menguatkan.

Genggam erat, jangan dilepas. Sebuah pesan sederhana yang sore itu terasa begitu bermakna. Semoga Allah senantiasa menjaga kesehatan kami, melapangkan hati kami, menguatkan langkah kami, dan menjadikan kebersamaan ini sebagai jalan untuk menebar kebaikan. Semoga setiap ikhtiar yang kami lakukan bernilai ibadah, setiap tawa menjadi penghibur hati, dan setiap genggaman menjadi pengingat bahwa kita tidak harus menjadi sempurna untuk dapat saling menguatkan.

Ketika tangan saling menggenggam dan hati saling menguatkan, perbedaan tidak lagi menjadi pemisah. Yang tersisa adalah persaudaraan, rasa syukur, dan harapan untuk terus berjuang bersama. Semoga Allah meridai ikhtiar kecil kami, karena sehat adalah nikmat yang patut dijaga, kebersamaan adalah anugerah yang patut disyukuri, dan saling menguatkan adalah kebaikan yang semoga mengantarkan kita pada keberkahan hidup. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Cepu, 24 Oktober 2926

Sabtu, 17 Oktober 2026

Gaya Ayam Sayur Tenggelam

Karya: Gutamining Saida
Rasa-rasanya, menunggu video sendiri diunggah ke grup itu lebih menegangkan daripada menunggu pengumuman hasil seleksi kelulusan. Dari kemarin, jempol saya sudah siap standby untuk tekan tombol download, tapi setiap kali notification bunyi "Ting!", yang muncul video milik ibu-ibu yang profesional  bagaikan lumba-lumba di laut lepas.

Mereka berenang dengan gaya dada, gaya bebas, yang begitu gemulai. Begitu air terciprat, rasanya seperti adegan di film-film Hollywood. Tak lupa, pelatih kebanggaan kami, Pak Gun, memberikan deretan emotikon jempol dan komentar di bawah videonya. Semuanya nampak sempurna, bagaikan deretan atlet siap tanding olimpiade.

Lalu, di manakah video milik saya? Jawabannya, masih tersimpan rapi mungkin sengaja dikarantina dalam di gallery HP Pak Gun agar saya tidak malu.

Dalam dunia media sosial ada sebuah hukum tak tertulis yang berlaku Foto dan Video yang indah, estetik, dan menawan akan dipajang.  Sedangkan video yang gayanya amburadul siap-siap disingkirkan.

Pak Gun mungkin mengalami pergulatan batin yang amat dahsyat sebelum mengunggah video saya. Bayangkan, dari total 12 peserta, 11 di antaranya sudah berhasil berenang dengan mulus. Tinggal satu ya, saya sendiri. Ha ha ha yang gaya renangnya masih sulit terdefinisi dalam kamus Bahasa Indonesia. Kalau gaya peserta lain adalah "Gaya Dada" atau "Gaya Bebas", gaya saya saat berada di dalam air mungkin lebih tepat dinamakan "Gaya Ayam Sayur Tenggelam". Air kolam yang tadinya tenang seketika berubah menjadi ombak laut selatan setiap kali saya mulai mengayuh tangan.

Padahal kalau dipikir-pikir, justru foto dan video yang "jelek" itulah yang paling berharga! Video yang ngelagepan karena kemasukan air kaporit, serta kayuhan tangan tanpa arah, adalah materi kilas balik yang sangat mahal harganya. Itu bukan sekadar rekaman visual, melainkan sebuah perjuangan! Dari sanalah kita bisa belajar, mengintrospeksi diri, dan tertawa bersama atas segala kesalahan yang perlu diperbaiki.

Tadi malam, begitu beberapa video dibagikan ke grup, ibu-ibu pasti tertawa. Saat menonton rekaman ingatan ibu-ibu langsung terbang kembali ke  kolam kemarin. Gelak tawa pun tak diragukan lagi. Saya sendiri yang melihatnya jangankan marah, malah tertawa! Saya sadar betul di mana letak kekurangannya. Tubuh saya di air mungkin terlihat seperti sedang bertarung melawan monster air tak kasat mata. Padahal saya cuma berusaha maju satu meter ke depan.

Di balik semua canda tawa, ada satu hal yang patut saya syukuri yaitu mental juara! Tidak semua orang berani tersenyum, atas kesalahannya sendiri di hadapan umum. Memiliki keberanian untuk tertawa di atas ketidaksempurnaan diri sendiri. 

Untuk Pak Gun Harap bersabar ya, Pak! Saya tidak akan menyerah. Semangat saya tidak akan pernah surut. Saya akan tetap giat berlatih, mengayuh tangan, dan menendang air demi satu tujuan mulia Mendapatkan bonus renang! Mari kita terus tertawa, belajar dari kesalahan, dan bersiap ke  kolam renang lagi! Semangat terus Pak Gun, saya siap beraksi kembali!
Cepu, 18 Oktober 2026 

Jumat, 16 Oktober 2026

Tak Sesuai Impian


Karya: Gutamining Saida

Gelisah melingkupi dada, sebuah rasa yang datang di luar perkiraan saya. Sebelum menyentuh dinginnya air di kolam, saya sempat mengukur batas diri dan membayangkan mampu menuntaskan setidaknya setengah dari jarak perjalanan yang ditentukan oleh Pak Gun. Ada bisikan harapan yang membumbung, sebuah kerinduan hati untuk bisa meluncur sejajar dan selincah teman-teman lain yang sudah mahir menaklukkan kedalaman.

Namun, realita kerap mengajarkan ketundukan. Teman-teman yang sudah mahir meluncur bebas tanpa perlu pendampingan. Pak Gun cukup mengawasi dari kejauhan. Sementara saya, sebagai peserta terakhir yang mengarungi lintasan, mendapatkan perhatian khusus. Pak Gun yang sangat paham akan batas kemampuan saya merasa khawatir. Beliau tidak sekadar berdiri di tepi, melainkan rela menunggu dan bereaksi langsung di dalam kolam.

Ternyata kekhawatiran beliau terbukti. Dari kejauhan, gerakan saya benar-benar amburadul dan tak beraturan. Karena jernihnya air kolam sore itu, setiap kepakan tangan dan kayuhan kaki saya terlihat sangat jelas dari permukaan. Teman-teman yang melihat dari tepi kolam pun tak sanggup menahan tawa. Riuh gelak tawa pecah menyelimuti suasana sebuah hal yang sangat biasa dan lumrah terjadi di tengah keakraban kami di kolam renang. Uniknya, alih-alih merasa berkecil hati, saya yang menjadi pusat perhatian dan objek tertawaan justru ikut tertawa lepas bersama mereka. Suasana canggung seketika mencair menjadi kehangatan. 

Di tengah perjuangan itu, saya terengah-engah menahan napas hingga tak sengaja menelan air kolam beberapa kali tegukan. Di saat rasa lelah dan tenggorokan yang basah oleh air kolam itu menyapa, spontan saya teringat pada sebuah ucapan yang pernah disampaikan oleh seorang teman: "Kalau sudah merasakan minum air kolam, itu tandanya sebentar lagi bakal bisa berenang!"

Seketika, kalimat sederhana itu terngiang-ngiang indah di telinga dan membuncahkan rasa senang yang luar biasa di dalam dada. Tertelan air kolam bukan lagi sebuah kegagalan, melainkan "syarat" atau tradisi kecil menuju keberhasilan.

Allah Azza wa Jalla mungkin belum mengizinkan jemari, tungkai kaki, dan irama napas saya menyatu sempurna. Yang Maha Kuasa memberi saya hal lain yang tak kalah berharga. Kepedulian seorang pelatih, kehangatan tawa bersama teman-teman, dan semangat yang tak pernah padam. Tantangan dari Pak Gun bukan lagi beban, melainkan proses belajar yang menyenangkan. Dengan rasa senang yang membayang, saya yakin tiap kayuhan basah dan setiap teguk air kolam sore itu adalah bagian dari langkah kecil menuju kemampuan yang saya impikan. Terimakasih Pak Gun dan teman-teman semua.

Cepu, 16 Oktober 2026

Pertemuan Di Gerbang Sekolah

Karya: Gutamining Saida

Waktu menunjukkan sekitar pukul 10.24 WIB sebuah denting pesan WhatsApp masuk ke ponsel saya. Di tengah riuhnya riak ilmu dan antusiasme para siswa kelas 8B, saya belum sempat menyentuh layar kaca tersebut. Seluruh fokus, jiwa, dan ragam pengabdian saya padukan untuk menuntun anak-anak bangsa. Menjalankan amanah, dan menghadirkan hati secara utuh di dalam kelas sebagai bentuk ketakwaan yang berusaha saya jaga.

Setelah bel tanda berahirnya jam pelajaran berbunyi dan suasana kelas kembali tenang, barulah saya menyempatkan diri membuka gawai. Di layar tertera sebuah pesan dari salah satu orang tua siswa

"Assalamu'alaikum, nanti jam 11.00 saya minta ijin bertemu boleh apa tidak?"

Membaca salam tersebut, hati saya berdesir hangat. Salam adalah doa, dan setiap doa yang terucap di antara sesama muslim adalah simpul kebaikan. Tanpa ragu, saya pun segera mengetikkan balasan dengan penuh keikhlasan:

"Wa'alaikumsalam, silakan. Dengan senang hati. Saya tunggu di mana?"

Tak butuh waktu lama, balasan berikutnya datang dengan singkat namun sarat akan kesungguhan:

"Di sekolah saja Bu." jawabnya.

          "Saya tunggu."

         "Saya sudah di gerbang."

Subhanallah. Tanpa saya sadari, tatanan Allah Subhanahu Wata'alla sungguh teramat rapi. Ibu tersebut telah menunggu dengan sabar di gerbang sekolah, menantikan momen kecil ini untuk bersilaturahmi. Saya pun bergegas melangkahkan kaki menuju pintu gerbang, toleh kanan, kiri tertuju tamu yang dihadirkan Sang Maha Mengatur Takdir.

Saya menyambut beliau dengan senyuman terbaik dan sapaan yang hangat. Untuk menciptakan suasana yang nyaman, saya mengajak beliau duduk santai dan berbincang-bincang. Beliau langsung menyapa saya dengan nada suara yang begitu ramah dan penuh keakraban.

"Saya pernah bertemu dengan bu Saida di Kedungtuban Satu," ujar beliau membuka percakapan.

Rasa ingin tahu tumbuh di dalam dada. Saya tersenyum sembari bertanya, "Lho, acara apa Bu?"

"Anak saya dulu sekolah di sana," jawab beliau menjelaskan asal usul kebersamaan kami di masa lalu.

"Ohh, nama siapa Bu?" rasa penasaran saya kian terpanggil untuk mengingat kembali jejak-jejak pengabdian masa lalu.

"Fattah," jawabnya singkat.

Ingatan saya melesat ke masa lalu. Nama Fattah seolah membukakan kembali lembaran kenangan di ruang kelas Kedungtuban satu. Masya Allah, Alhamdulillah! Memori tentang anak bernama Fattah langsung terbayang jelas. Dalam ingatan saya, Fattah adalah sosok anak yang cerdas, santun, dan senantiasa bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Setiap kali mata pelajaran yang saya ampu berlangsung, Fattah kerap meraih nilai yang sangat memuaskan di antara teman-temannya. Sungguh, anak yang giat belajar selalu meninggalkan jejak indah di hati seorang guru.

Percakapan kami berlanjut dengan hangat. Tiba-tiba, beliau menambahkan sebuah fakta yang membuat hati saya kian tersentuh dan terharu. Beliau berkata dengan lembut.

"Saya pernah beli buku karya Bu Saida."

Alhamdulillah wa syukrulillah... Kalimat tasyakur itu bergema halus di dalam dada saya. Sungguh, bumi Allah ini begitu luas, jika Allah berkehendak mempertemukan dua jiwa yang pernah terikat dalam kebaikan, maka jarak dan waktu bukanlah halangan. Siapa yang menyangka bahwa karya sederhana berupa buku yang pernah saya tulis dapat sampai ke tangan beliau, dan ilmu yang sempat saya bagikan kepada putranya menjadi jembatan silaturahmi yang tak terputus?

Dengan rasa haru yang membuncah, saya menatap wajah seorang ibu dan menyampaikan rasa syukur yang mendalam:

"Alhamdulillah, ternyata kita sudah pernah bertemu dan hari ini dipertemukan kembali," jawab saya penuh rasa syukur. "Saya sangat bersyukur dipertemukan dengan orang-orang baik seperti Ibu."

Pertemuan singkat di sudut sekolah itu rasanya bukan sekadar kebetulan biasa. Allah Azza wa Jalla yang menggerakkan hati ibu tersebut untuk berkunjung, Allah pula yang mengatur  hingga kami bisa duduk bersama menyambung tali silaturahmi.

Rasulullah bersabda bahwa silaturahmi dapat melapangkan rezeki dan memanjangkan umur . Pertemuan Jum'at siang menjadi cermin bagi saya tentang betapa indahnya menanam benih kebaikan. Ketika seorang guru mengajar dengan hati dan melahirkan karya berupa buku dengan niat lillahi ta'ala, kebaikan itu akan berputar dan kembali dalam bentuk kasih sayang serta ikatan ukhuwah yang tulus dari masyarakat.

Pertemuan di gerbang sekolah berakhir dengan rasa bahagia dan kedamaian yang membuncah. Saya memohon kepada Allah Subhanahu Wata'alla senantiasa menjaga hubungan baik ini, melimpahkan keberkahan kepada kita. Serta menjadikan setiap langkah kaki kita sebagai ladang pahala jariyah yang tak pernah terputus hingga yaumil akhir. Amin ya Rabbal 'Alamin.

Cepu, 16 Oktober 2026