Karya: Gutamining Saida
Hari Senin pagi tanggal 2 Pebruari 2026 di SMPN 3 Cepu terasa berbeda dari biasanya. Mentari belum sepenuhnya tinggi, namun halaman sekolah sudah dipenuhi semangat yang mengalir dari wajah-wajah warga Esmega. Seragam putih biru tampak rapi, barisan siswa tertata, guru-guru berdiri dengan penuh wibawa, dan suasana upacara bendera siap dimulai. Ada satu hal yang membuat pagi itu terasa istimewa bukan sekadar rutinitas pengibaran Sang Merah Putih, melainkan sebuah penampilan group band.
Upacara bendera tetap berjalan dengan khidmat. Lagu Indonesia Raya dikumandangkan dengan penuh penghayatan, bendera perlahan naik mengikuti irama kebangsaan, dan semua hadirin berdiri tegak, menundukkan hati pada nilai-nilai persatuan. Dalam rangkaian inti upacara ada penambahan untuk menyanyikan lagu Rukun Bersama Teman. Suasana berubah menjadi lebih hangat dan penuh antusiasme.
Warga Esmega dibuat terpesona oleh penampilan sebuah grup band sekolah yang bertugas membawakan lagu “Rukun Sama Teman”. Lagu terdengar hidup saat dinyanyikan dengan penuh percaya diri oleh para siswa. Dentingan gitar, alunan keyboard, dan suara vokal yang jernih berpadu harmonis. Lagu tersebut seolah bukan hanya dinyanyikan, tetapi dihidupkan menjadi pesan yang mengalir ke seluruh penjuru lapangan upacara.
Yang membuat penampilan ini semakin membanggakan adalah fakta bahwa SMPN 3 Cepu memiliki banyak grup band. Bukan hanya satu atau dua, tetapi tersebar dari kelas 7, 8, hingga kelas 9. Bahkan ada grup band yang anggotanya merupakan gabungan dari kelas 7 dan kelas 8. Keberagaman usia dan tingkat kelas justru melahirkan kekompakan, saling belajar, dan saling menguatkan. Tidak ada sekat senior atau junior, yang ada hanyalah semangat berkarya bersama.
Sekolah memberikan kesempatan kepada seluruh grup band tersebut untuk tampil secara bergantian pada setiap pelaksanaan upacara bendera. Kesempatan ini bukan sekadar hiburan tambahan, melainkan bagian dari proses pendidikan karakter. Melalui panggung sederhana di lapangan sekolah, siswa belajar tentang keberanian tampil di depan umum, disiplin latihan, tanggung jawab terhadap peran masing-masing, dan kepercayaan diri atas bakat yang Allah Subhanahu Wata'alla titipkan pada diri mereka.
Setiap penampilan membawa warna yang berbeda. Satu hal yang sama adalah kebanggaan terpancar jelas dari wajah para personel. Mereka berdiri di hadapan ratusan pasang mata teman, guru, dan tenaga kependidikan bukan dengan rasa takut, melainkan dengan keyakinan bahwa mereka sedang melakukan sesuatu yang bermakna.
Saya melihat bagaimana kesempatan tampil ini menjadi ruang tumbuh bagi siswa. Mereka tidak hanya berkembang dalam keterampilan bermusik, tetapi juga dalam sikap mental. Anak-anak yang sebelumnya pendiam, perlahan berani mengekspresikan diri. Anak-anak yang biasa berada di balik bangku kelas, kini berdiri di depan, menunjukkan potensi terbaiknya. Sekolah benar-benar menjadi rumah kedua yang aman untuk belajar dan mencoba.
Kebanggaan tidak hanya dirasakan oleh para siswa yang tampil. Guru-guru yang menyaksikan pun merasakan keharuan tersendiri. Ada rasa syukur melihat anak didik tumbuh sesuai bakatnya. Ada rasa bangga karena sekolah mampu memberi ruang yang bermakna.
Cepu, 2 Pebruari 2026






.jpeg)


