Selasa, 29 September 2026

Menolak Tua


Karya: Gutamining Saida

Siapa bilang usia kepala lima harus kehilangan daya pikat dan keceriaan? Angka boleh saja terus bertambah, namun urusan semangat dan jiwa, kami bertiga dengan tegas memilih untuk menolak tua. Kami adalah tiga sahabat yang enggan menyerah pada kaku-kaku sendi atau garis-garis halus di wajah. Jiwa kami masih riuh oleh letup-letup hasrat khas kawula muda penuh rasa ingin tahu, gemar mencoba hal baru, dan tentu saja, selalu punya alasan untuk tertawa bersama.

Setiap kali kami bertiga berkumpul, rentang waktu rasanya melesat balik ke puluhan tahun silam. Memori masa remaja kami mendadak bangkit kembali, membawa kenangan akan betapa berbedanya zaman tempo dulu dengan masa kini. Dulu, ketika darah muda kami sedang bergelora, teknologi belum sedemikian memanjakan seperti sekarang. Khususnya dalam urusan mengabadikan momen melalui potret atau foto.

Masa muda kami adalah era di mana sebuah foto memiliki harga dan proses yang tak murah. Jika ingin memiliki foto yang agak keren, kami harus berjalan rapi menuju studio foto profesional, berdiri atau duduk kaku di depan layar latar berwarna polos, lalu mengikuti aba-aba fotografer dengan senyum yang sering kali tertahan. Alternatif lainnya adalah membeli kamera tustel kami biasa menyebutnya "kamera Kodak" yang bentuknya lumayan berat. Tidak berhenti di situ, kami masih harus membeli rol film secara terpisah.

Setiap kali menekan tombol rana, ada rasa waswas yang menyelip: “Apakah matanya kedip?”, “Apakah gambarnya bakal goyang?”, atau “Apakah cahayanya cukup?” Sebab, isi rol film itu sangat terbatas biasanya hanya 24 atau 36 jepretan. Tidak ada kesempatan untuk melihat hasilnya saat itu juga. Setelah rol film habis diputar kembali ke dalam selongsongnya, kami harus membawanya ke studio cetak foto dan menunggu dengan sabar selama beberapa hari, bahkan kadang hingga berminggu-minggu, hanya demi melihat sekeping kertas gambar. Ketika cetakan dibuka dan ternyata ada foto yang buram atau bergaya aneh, ya apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Foto itu tetap tercetak dan tak bisa diubah.

Betapa jauh berbedanya dengan dunia hari ini. Zaman telah berputar cepat, melompati batas-batas imajinasi masa muda kami dulu. Kini, teknologi genggam telah mengubah segalanya menjadi begitu serba instan, praktis, dan menyenangkan.

Dalam satu hari saja, kami bertiga bisa mencoba puluhan model dan pose tanpa rasa ribet sedikit pun. Tidak ada lagi ketakutan kehabisan rol film. Tidak ada lagi penantian berhari-hari di depan pintu toko cetak foto. Cukup satu sentuhan jari di layar telepon pintar, jepret! Hasilnya langsung terpampang nyata di depan mata dalam hitungan detik.

Dunia fotografi modern benar-benar menjadi arena bermain baru bagi kami bertiga. Jika pose yang kami lakukan terasa kaku, gaya kurang pas, atau senyum terlihat agak memaksa, kami cukup menekan tombol hapus (delete). Sekejap mata, foto itu hilang tanpa meninggalkan bekas atau kerugian materi. Setelah itu, tinggal ganti gaya lagi, sesuaikan posisi tubuh lagi, lalu jepret ulang!

Kami bertiga memanfaatkan kemudahan ini dengan penuh suka cita. Layaknya anak muda zaman sekarang yang tak pernah kehabisan ide, kami sibuk mencari referensi dan contoh-contoh gaya foto yang estetik di internet. Kami saling unjuk layar ponsel, "Nah, coba lihat pose yang ini, sepertinya bagus kalau kita tiru!" atau "Ayo, kita coba berdiri sejajar dengan gaya santai seperti yang di foto ini!"

Proses mengambil foto itu sendiri sudah menjadi pertunjukan komedi yang luar biasa bagi kami. Kami mencoba model yang berbeda-beda dari gaya yang anggun, gaya formal, hingga pose-pose ekspresif yang mengejutkan. Kami mengulang dan mengulang lagi. Menggeser sudut pengambilan gambar, menyesuaikan arah cahaya, hingga menyilangkan tangan atau memiringkan kepala demi mendapatkan angle terbaik.

Letak keajaiban sejati dari kegiatan ini bukan sekadar pada gambar yang tersimpan di memori ponsel, melainkan pada energi bahagia yang terpancar selama prosesnya. Ternyata, urusan foto-memfoto ini sanggup memicu ledakan tawa yang sudah lama tidak kami rasakan.

Setiap kali melihat hasil jepretan di layar, kami bertiga bisa mendadak tersenyum lebar, lalu meledak dalam tawa lepas yang seru. Kami tertawa melihat muka sendiri yang kadang terlalu serius, tertawa melihat gaya salah satu teman yang sedikit kaku, atau tertawa gembira karena akhirnya berhasil menirukan pose yang sulit.

Keseruan itu semakin memuncak ketika kami mulai menjelajahi fitur-fitur penyuntingan dan filter modern. Begitu polesan warna dan sedikit sentuhan efek diterapkan, wajah kami di layar tampak begitu segar, anggun, dan memikat. Hasil gambarnya terlihat tambah cantik, bahkan terkadang terasa melebihi aslinya! Melihat transformasi itu, tawa kami kembali pecah lagi dan lagi, makin kencang dan makin riang.

Di antara derai tawa dan gurauan hangat itu, ada rasa bahagia yang begitu murni mengalir di dalam dada. Kami menyadari bahwa menjadi tua adalah kepastian secara usia, namun merasa bahagia dan berjiwa muda adalah sebuah pilihan. Kamera ponsel dan pose-pose foto ini hanyalah perantara; kuncinya ada pada kebersamaan, rasa syukur, dan keberanian untuk menikmati hidup tanpa beban.

Di bawah kilatan kamera ponsel, kami bertiga tidak melihat tiga orang yang mulai dimakan usia. Yang kami lihat di layar dan di dalam hati kami adalah tiga orang yang menang melawan waktu. Tiga jiwa muda yang selalu tahu cara merayakan hidup dengan senyuman dan tawa yang paling lepas.

Cepu, 29 September 2026

Tertangkap Kamera


 Karya : Gutamining Saida

Di dalam riak air yang tenang, terkadang tersimpan sejuta kehangatan yang tak terucapkan. Sebuah foto sederhana yang diunggah di grup Muda Swimming Squad2 mendadak mencuri perhatian dan menghentikan jemari saat menggeser layar ponsel. Di dalam bingkai gambar itu, hanya ada dua sosok saya dan ibu tercinta. Tidak ada orang lain di sekeliling kami, seolah waktu sengaja diputar lebih lambat untuk memberi ruang bagi momen indah tersebut. Foto itu diambil secara diam-diam oleh sang pelatih dari tepi kolam. Sebuah potret kandid yang jujur dan tanpa rekayasa. Di bawah foto tersebut, sang pelatih menyematkan sebuah keterangan singkat yang menggelitik: "Tertangkap kamera."

Kata-kata sederhana itu justru terasa penuh makna. Ada rasa geli sekaligus haru ketika membaca kalimat tersebut. Namun lebih dari sekadar candaan ringan di dalam grup, foto itu langsung menyulut sebuah ide hangat di dalam kepala. Momen tak sengaja ini terlalu berharga untuk sekadar berlalu menjadi tumpukan media di memori ponsel. Momen ini layak diabadikan menjadi sebuah kisah inspiratif yang dapat disuguhkan kepada siapa saja yang membacanya sebuah pengingat akan indahnya ikatan kasih sayang, keberanian, dan semangat hidup yang tak pernah padam.

Melihat ibu berdiri di dalam air, ada rasa bangga yang begitu membuncah dan sulit dilukiskan dengan kata-kata. Di antara seluruh peserta yang tergabung dalam rombongan latihan, beliaulah yang paling senior secara usia kini sudah 75 tahun. Ketika banyak orang di usia senja memilih untuk membatasi diri, berdiam diri di rumah, atau menyerah pada rasa lelah dan keterbatasan fisik, ibu justru melangkah dengan berani menuju kolam renang. Beliau tidak membiarkan usia menjadi penghalang untuk terus bergerak, belajar, dan merawat diri.

Langkah kaki ibu memasuki kolam renang adalah sebuah keputusan yang penuh keberanian. Terapi air yang dijalani beliau bukan sekadar aktivitas fisik rutin untuk mengisi waktu luang, melainkan sebuah bentuk ikhtiar yang sungguh-sungguh untuk meraih kesehatan yang lebih baik. Air yang dingin dan kedalaman yang mungkin dahulu terasa asing, kini telah menjadi sahabat dekat. Hari demi hari berlalu, latihan demi latihan dilalui dengan ketekunan. Rasa canggung yang mungkin sempat singgah di awal perjalanan perlahan luluh, berganti menjadi rasa nyaman yang kian bersemi.

Sungguh menakjubkan menyaksikan bagaimana kebiasaan baik ini mengubah segalanya. Semangat ibu untuk tetap sehat melalui terapi di air semakin hari terasa semakin meluas dan menular. Ada ketenangan yang memancar dari wajah beliau setiap kali berada di dalam air. Gerakan-gerakannya yang semula ragu, kini bertransformasi menjadi kayuhan yang makin mantap dan percaya diri. Rasa nyaman yang beliau rasakan di dalam air bukan datang begitu saja, melainkan hasil dari keberanian untuk melawan rasa takut dan konsistensi yang dijaga dengan penuh kesabaran.

Foto yang "tertangkap kamera" itu menjadi bukti autentik tentang betapa indahnya hubungan antara anak dan ibu yang saling mendukung dalam kebaikan. Menyelam berdua di dalam kolam renang, berdampingan meniti ikhtiar sehat, adalah sebuah anugerah yang sangat diragukan bisa dibeli dengan materi apa pun. Di sana, peran tidak lagi sekadar tentang siapa yang menuntun dan siapa yang dituntun, melainkan tentang bagaimana dua jiwa saling menguatkan. Kehadiran saya di samping beliau adalah bentuk pengabdian dan rasa syukur, sementara semangat pantang menyerah yang ditunjukkan ibu adalah pelajaran hidup yang luar biasa bagi saya.

Kehadiran ibu di tengah kelompok renang ini juga memberikan warna dan inspirasi yang begitu besar bagi anggota lainnya. Beliau adalah simbol hidup bahwa kesehatan adalah investasi sepanjang hayat dan tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baik. Setiap senyuman yang terukir di wajah ibu saat menjalani sesi terapi adalah pengingat bagi kami yang lebih muda, bahwa semangat dan kebahagiaan hidup tidak ditentukan oleh angka usia, melainkan oleh tekad di dalam dada serta rasa syukur yang senantiasa dipelihara.

Momen yang terekam secara tak sengaja oleh lensa sang pelatih ini mengajarkan kita satu hal penting: kebahagiaan terindah sering kali hadir dalam kesederhanaan yang tak direncanakan. Kita tidak perlu panggung yang megah atau pencahayaan buatan untuk menciptakan kenangan yang berharga. Cukup dengan ketulusan hati untuk hadir bersama orang-orang tercinta, berjuang bersama demi kebaikan, maka setiap detik yang tercipta akan menjadi mahakarya yang abadi.

Foto "tertangkap kamera" itu kini bukan lagi sekadar gambar digital di sebuah grup percakapan. Gambar itu diharapkan mampu memberikan sepercik kehangatan, inspirasi, dan senyuman bagi siapa saja yang membacanya. Bahwa selama kita memiliki tekad untuk sehat dan dikelilingi oleh orang-orang yang kita cintai, setiap langkah ikhtiar akan selalu terasa indah, nyaman, dan penuh dengan keberkahan. Aamiiin.

Cepu, 29 September 2026

Bukit Karimunjawa

 


Di balik pesona sejuta warna biru Karimunjawa, ada sebuah titik tinggi yang menjadi saksi bisu tentang bagaimana keindahan alam berkelindan dengan riuhnya ambisi manusia. Bukit Karimunjawa, sebuah bukit dengan pemandangan garis pantai yang memukau dan hamparan lautan luas yang tak bertepi, kini telah menjadi semacam buatan monumen wajib. Di situlah, sebuah spot foto ikonik berdiri tegak, menjadi magnet bagi setiap jiwa yang singgah. Bagi sebagian besar orang, berhasil berdiri di titik itu dan memosisikan raga di depan lensa kamera adalah bukti sahih—sebuah cap kelayakan bahwa footprint mereka benar-benar telah menjejak di surga kecil ini.

Namun, mengabadikan sebuah momen indah di tempat sepopuler itu rupanya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada harga tak kasatmata yang harus dibayar mahal: perjuangan dan kesabaran. Di atas bukit yang dikelilingi hembusan angin laut, suasana tidak selamanya tenang. Puluhan, bahkan ratusan pengunjung berkumpul di arena yang sama, memiliki satu impian seragam yang membumbung tinggi. Antrean memanjang, pasang mata saling mengawasi, dan desir gelisah mulai merayap pelan di antara mereka yang menunggu giliran.

Di sinilah letak ujian sesungguhnya. Berdiri di bawah terik matahari, menahan lelah setelah perjalanan jauh, sambil menyaksikan orang lain berganti gaya demi mendapatkan sudut gambar terbaik, menuntut tingkat kesabaran yang luar biasa. Setiap menit yang berlalu terasa begitu berharga dan menghimpit. Ada tekanan tersendiri yang muncul saat waktu begitu terbatas, sementara puluhan pasang mata di belakang kita sudah mengantre dengan tatapan penuh harap agar kita segera menyudahi sesi foto tersebut.

Saat giliran itu akhirnya tiba, dinamika psikologis yang tak biasa sering kali terjadi. Di bawah desakan waktu dan tatapan antrean yang tak sabar, spontanitas mengambil alih. Jemari menekan tombol rana kamera dengan cepat. Jepret, jepret, jepret! Hanya ada beberapa detik untuk berpose, tersenyum, dan berpindah posisi. Tanpa ada kesempatan untuk melihat ulang hasilnya, tanpa ada waktu untuk mengoreksi pencahayaan atau sudut kemiringan wajah. Semuanya berlalu dalam sekejap mata. Hasilnya? Entah bagaimana. Apakah senyum kita terlihat alami atau dipaksakan? Apakah komposisi gambarnya proporsional atau miring? Tidak ada yang tahu, dan yang paling krusial, momen itu tak bisa diulang kembali. Kesempatan emas itu sudah lewat seketika kita melangkah mundur memberi jalan bagi pengunjung berikutnya.

Namun, jika kita bersedia merenung sedikit lebih dalam dari sekadar persoalan estetika foto, peristiwa kecil di Bukit Karimunjawa ini menyimpan pelajaran hidup yang sangat inspiratif.

Kisah di atas bukit ini adalah miniatur sempurna dari kehidupan kita sehari-hari. Berapa sering kita merasa terburu-buru oleh waktu? Berapa sering kita merasa tertekan oleh ekspektasi lingkungan, antrean kesempatan yang rasanya terbatas, serta keinginan kuat untuk sekadar membuktikan kepada dunia bahwa "aku pernah berada di sini" atau "aku telah berhasil mencapai titik ini"?

Perjuangan menanti giliran foto mengajarkan kita arti penting dari rasa hormat dan empati. Di tempat umum yang dipenuhi banyak orang, kesabaran bukan lagi sekadar kebiasaan pribadi, melainkan sebuah bentuk penghargaan tertinggi terhadap hak orang lain. Ketika kita belajar mengendalikan ego untuk tidak berlama-lama menguasai panggung, kita sedang melatih jiwa kita untuk peduli pada ruang bersama.

Lebih dari itu, proses jepretan cepat yang tak bisa diulang mengajari kita tentang hakikat menghargai waktu. Kehidupan di dunia ini bekerja persis seperti momen singkat di depan lensa kamera Bukit Karimunjawa itu. Setiap kesempatan yang menghampiri sering kali datang tanpa jeda panjang. Waktu tidak pernah menyediakan tombol pause apalagi rewind. Apa yang sudah kita lakukan, apa yang sudah kita ciptakan, dan bagaimana kita mengekspresikan diri dalam satu detik kehidupan akan langsung menjadi sejarah. Kita tidak bisa memutar ulang waktu untuk memperbaiki ikhtiar yang setengah-setengah. Oleh karena itu, keberanian untuk memberikan yang terbaik—meski dalam waktu yang sangat singkat dan di bawah tekanan—adalah sebuah keterampilan hidup yang luar biasa.

Pada akhirnya, bagaimanapun nanti hasil foto yang tersimpan di memori kamera atau ponsel kita, hal paling berharga sebetulnya bukanlah gambar visual yang tercetak di layar. Gambar bisa saja kabur, pencahayaan bisa saja buruk, atau komposisinya tidak sempurna. Namun, pengalaman tentang bagaimana kita melatih kesabaran, bagaimana kita menikmati embusan angin bukit sembari menunggu giliran, dan bagaimana kita tersenyum tulus di tengah keterbatasan waktu—itulah kenangan abadi yang sesungguhnya.

Bukit Karimunjawa bukan hanya tempat untuk berburu kenang-kenangan visual, melainkan sebuah ruang perenungan. Di sana kita diajar bahwa jejak terindah yang pernah kita ukir bukanlah sekadar bukti digital yang diunggah ke media sosial, melainkan keikhlasan, kesabaran, dan kebijaksanaan yang berhasil kita tanam di dalam dada selama proses perjuangan itu berlangsung.

Kamis, 24 September 2026

Bahagia Di Akhir Bulan

Karya: Gutamining Saida

Di penghujung bulan September 2026, ketika dompet merintih halus dan saldo rekening bertransformasi menjadi barisan angka yang dermawan akan ketipisannya. Kami sekelompok pejuang membentangkan bendera kemenangan. Kami tidak menundukkan kepala. Kami menolak untuk tenggelam dalam nestapa finansial yang fana. Sebaliknya, kami mengguncang semesta dengan letupan kebahagiaan yang begitu dahsyat, hingga sanggup meretakkan dinding kesedihan dan meruntuhkan kecemasan yang mencoba mengintai di sudut kalbu.

Di saat orang lain menganggap akhir bulan sebagai drama berderai air mata, bagi kami, ini sebagai panggung untuk menciptakan bahagia. Kebahagiaan kami bukan sekadar senyum tipis yang layu diterpa angin. Kebahagiaan kami adalah ledakan tawa yang membakar segala keputusasaan. Ketika kami berkumpul, menyalakan api energi positif yang memancar hingga ke lapisan atmosfer terluar bumi.

Tawa kami melenting ke udara, membelah angkasa. Setiap kali salah satu dari kami menentukan pose baru, tawa kami pecah tanpa ampun. Gelak tawa itu bergulir bak gelombang suka cita, mengocok perut hingga menjadi baja kebahagiaan, memompa semangat yang tak akan pernah bisa padam oleh tanggal tua. Kami pun mencoba dan mencoba bahkan mengulang kembali dengan berbagai pose baru. Tertawa bersama.

Di dalam tubuh kami, sebuah keajaiban memproduksi hormon bahagia tanpa henti. Endorfin, dopamin, dan serotonin meluap-luap bagaikan air terjun yang tak pernah kering, membanjiri setiap pembuluh darah, membasuh setiap sel yang lelah, dan mengubah menjadi kristal sukacita. Hormon-hormon positif ini mengalir deras, membumihanguskan hormon stres hingga tak tersisa sedikit pun debunya. 

Senyuman kami bukan sekadar lengkungan bibir biasa. Senyuman yang terukir di wajah kami di akhir bulan ini adalah sinar kebahagiaan yang begitu terang benderang. Bintang-bintang di langit terpesona sekaligus cemburu melihat binar-binar keriangan yang memancar dari kelopak mata kami. Senyum ini  benteng pertahanan kami. Sebuah tameng tak akan sanggup ditembus oleh kegelisahan desakan ekonomi sementara.

Kami tertawa, napas lega dan tawa yang kami letupkan. Katanya bahagia membuat panjang umur? Bagi kami, bahagia di akhir bulan bersama kawan-kawan kunci rahasia untuk hidup melintasi zaman! Dengan setiap tawa yang kami guncangkan, kami seolah-olah menambahkan ribuan jam kehidupan baru ke dalam takdir kami. Kami sedang menenun keabadian, mengunci usia muda di dalam jiwa, dan mengusir keriput serta penuaan jauh-jauh. 

Akhir bulan bagi kami bukanlah batas akhir dari kesenangan, melainkan puncak kehidupan! Kebersamaan ini adalah energi murni yang tak terbatas, sebuah ikatan yang membuat hal-hal paling sederhana menjadi kemewahan tiada tara. Kami saling memandang, lalu meledak kembali dalam tawa yang bergema. memancing jiwa untuk tertawa bersama.

Maka biarlah kalender berganti dan angka-angka di rekening sesuai takdirnya, karena tak ada satu pun kekuatan di dunia ini yang sanggup memadamkan kebahagiaan kami. Bersama teman-teman, di penghujung bulan ini, kami sedang menaklukkan dunia dengan pedang tawa dan perisai kebahagiaan yang tak akan pernah hilang. 
Cepu, 29 September 2026

Rabu, 23 September 2026

Bonus Belum Tercapai


Karya: Gutamining Saida

Setiap kali notifikasi dari grup Muda Swimming Squad berdenting, selalu ada energi tersendiri yang memancar. Sekitar pukul 09.15 WIB, layar telepon genggam saya menyala membawa kabar kebaikan. Sebuah pesan dari Pak Gun masuk, membawa deretan kalimat yang tidak sekadar dibaca oleh mata, melainkan langsung meresap jauh merengkuh kedalaman jiwa. Kata-kata itu dilemparkan ke grup bak amunisi semangat, menyuntikkan rasa optimisme dan tawakal, khususnya bagi ibu-ibu yang sedang berjuang menaklukkan dinginnya air serta rasa takut dalam diri.

Pak Gun menulis kata-kata dengan tegas  "Semua pasti 'BISA' tanpa pengecualian. Kita butuh waktu, butuh kontinuitas. Ada yang sudah lima tahun baru bisa berenang. Ada yang tiga bulan sudah bisa berenang, ada yang latihan sekali lalu tak kelihatan lagi. Target kita adalah sehat dengan menjaga, mencegah, dan mengurangi rasa sakit. Jangan sedikit-sedikit kerokan, jangan ketergantungan obat."

Membaca pesan tersebut huruf demi huruf, ada rasa hangat yang mendesir halus di dalam dada. Di balik nasihat itu, saya tersadar betapa pesan tersebut adalah cara Sang Pencipta menegur dan menguatkan hati saya. Sampai hari ini, berbulan-bulan sudah waktu berganti, namun Allah Subhanahu Wata'alla tampaknya belum menakdirkan saya untuk menerima "bonus" berupa keahlian berenang.

Jujur saja, menyusuri ingatan tentang masa-masa awal latihan hingga detik ini kerap menghadirkan perenungan mendalam. Kadang kala, ujian hati berupa rasa iri sempat melintas tanpa diundang. Saya menyaksikan sendiri bagaimana ibu-ibu lain yang mendaftar jauh setelah saya, kini dengan begitu anggun dan ringannya meliuk-liuk membelah air, menguasai berbagai gaya dengan estetik. Sementara saya? Sejauh ini pencapaian utama yang diizinkan-Nya barulah meluncur. Ya, meluncur dan terus meluncur. Jika ditanya apakah bisa gaya bebas, saya akan menjawab bisa namun itu adalah gaya bebas versi saya sendiri, sebuah gerakan ikhtiar mandiri yang tentu masih jauh dari sempurna

"Ibu sudah berapa lama ikut latihan?" tanya Bu Pur suatu ketika, memecah derak gemericik air di tepi kolam.

"Sudah berbulan-bulan Bu," jawab saya singkat.

Jawaban singkat itu menyimpan lembaran kisah panjang tentang sebuah kesabaran. Mengapung pun, jika jujur pada diri sendiri, posisi tubuh saya di air masih jauh dari kata sempurna. Masih sering goyah, masih sering tenggelam perlahan. Di balik keterbatasan itu, keindahan skenario Allah justru hadir melalui hadirnya orang-orang baik. Di kolam renang saya tidak pernah merasa berjuang sendirian. Ada teman-teman yang dengan penuh keikhlasan ulurkan tangan, membantu menjaga tubuh saya agar tetap di atas air, memastikan berjalan bersama menuju kesuksesan. Bukankah ini bentuk rezeki yang tak ternilai, saat Allah Subhanahu Wata'alla menghadirkan sosok-sosok penolong di kala kita berjuang?

Pesan dari Pak Gun pagi ini seolah menjadi pengingat yang menyegarkan keimanan. Berenang ternyata bukan sekadar tentang seberapa cepat kita menyeberangi kolam. Bagi saya, ini adalah ibadah ikhtiar tentang bagaimana kita belajar bersabar meniti proses, merawat amanah berupa tubuh fisik yang telah dikaruniakan Sang Maha Kuasa.

Saya telah berusaha berjuang semampu dan sekuat tenaga. Setiap pekan, rasa malas serta sisa-sisa rasa takut selalu saya serahkan dalam doa, lalu saya bangkit untuk kembali menyentuh air. Walaupun Allah belum memberikan "bonus" berupa kepandaian berenang seperti orang lain, saya sangat bersyukur karena menyadari satu hal: buah dari ikhtiar itu sudah saya rasakan dalam bentuk nikmat yang begitu nyata.

Setelah ikut terapi air, kesehatan saya terasa jauh lebih membaik dari hari ke hari. Rasa pegal dan kaku pada tubuh perlahan terurai, menjadikan badan terasa lebih bugar. Tidur malam pun menjadi sangat nyenyak. Sebuah nikmat istirahat yang luar biasa berharganya. Bahkan, nafsu makan bertambah hidangan apa saja yang tersaji di meja makan terasa nikmat dan penuh keberkahan untuk disantap, walau hanya dengan lauk pauk sederhana tanpa kehadiran ikan sekalipun. Allah Subhanahu Wata'alla mengganti keterbatasan gerak saya di air dengan limpahan nikmat sehat yang tiada tara.

Maka, untuk apa saya harus berkecil hati? Bukti nyata dari ketabahan saya adalah api semangat yang tidak pernah padam. Saya terus berlatih, mencoba, dan tak bosan mengulang. Keberanian untuk tetap melangkah ke kolam Bumool.  Setiap Jum'at, Sabtu dan Minggu bentuk kesyukuran atas kesempatan hidup dan kesehatan yang masih diberikan-Nya.

Kata-kata Pak Gun akan terus saya simpan sebagai penyejuk hati. Bahwa setiap hamba memiliki garis waktu dan takdirnya masing-masing. Ada yang diberi kemudahan dengan cepat, ada pula yang perlahan baru bisa. Yang terpenting, kita tidak berhenti melangkah dan tidak kehilangan rasa syukur. Bonus kemampuan mungkin belum Allah Subhanahu Wata'alla turunkan hari ini, tetapi nikmat sehat, indahnya silaturahmi, dan kedamaian hati sudah lebih dari cukup untuk membuat perjalanan panjang ini terasa begitu indah, penuh berkah, dan bermakna. Aamiin. Terimakasih pak Gun dan teman-teman seperjuangan.

Cepu, 24 September 2026

Shena Kyrani Aurelia Putri


Karya: Gutamining Saida

Shena Kyrani Aurelia Putri. Sebuah nama yang indah, dirangkai dengan penuh cinta oleh kedua orang tuanya. Di ruang kelas 8B, nama itu tidak sekadar tertera di lembar presensi, melainkan mewujud pada sosok seorang siswi yang selalu berhasil mencuri perhatian lewat kesederhanaan dan ketulusannya.

Shena memiliki paras yang manis dengan senyum yang ramah dan tak pernah dipaksakan. Tubuhnya yang langsing dan posturnya yang tegap membuatnya senantiasa terlihat rapi dalam balutan seragam sekolah. Dia selalu memilih duduk di bangku barisan kedua dari depan. Sebuah tempat duduk strategis yang menggambarkan kesiapannya untuk menyerap ilmu tanpa ingin terlalu menonjolkan diri.

Mata saya tak pernah absen memperhatikan gerak-geriknya. Shena memiliki ketertarikan yang sangat kuat pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.  Setiap kali materi pembelajaran dimulai, dari jejak sejarah nusantara hingga dinamika penduduk Indonesia, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu. Dia adalah tipe murid idaman rajin menyimak tanpa memotong penjelasan, selalu mencatat hal-hal penting, dan selalu menjadi yang terdahulu dalam mengumpulkan tugas. Maka, tidak mengherankan jika lembar evaluasinya senantiasa dihiasi angka-angka yang sangat memuaskan. Keseriusannya belajar mencerminkan sikap kedewasaan. 

Di balik prestasinya yang cemerlang di kelas, ada sisi kehidupan keluarga yang hangat dan menarik dari sosok Shena. Rahasia kecil itu baru terkuak pada suatu siang, persis setelah bel tanda berakhirnya jam pelajaran terakhir bergema di seluruh penjuru sekolah.

Saat saya sedang merapikan buku-buku di atas meja guru, sekelompok siswa kelas 8B berjalan mendekati meja saya dengan wajah sumringah dan tawa ceria khas remaja.

"Bu… ayo kita makan-makan di Shena!" seru salah seorang dari mereka dengan semangat yang meluap-luap.

Saya menghentikan gerakan tangan saya, menatap mereka satu persan dengan dahi berkerut heran. "Acara apa?" tanya saya penasaran.

"Itu Bu, mamanya Shena jualan di rumah makan Padang!" sahut yang lain sambil menunjuk ke arah Shena yang berdiri agak tersipu di tengah lingkaran temannya.

"Ohhhh…" ucap saya mengangguk-angguk, kini mengerti alasan di balik riuhnya ajakan mereka. Rasa bangga menyelinap di hati melihat bagaimana Shena tidak pernah malu menunjukkan usaha orang tuanya. 

"Alamatnya di mana?" tanya saya lagi.

"Ngareng, Bu!" jawab mereka serempak.

Suasana kelas yang mulai sepi mendadak terasa makin hangat. Saya lalu menatap Shena yang berdiri  dengan senyum manisnya. 

"Satu porsi berapa, Shena?" goda saya sambil tersenyum.

Shena tersenyum semakin lebar, matanya menyipit ramah saat memberikan jawaban spontan yang tak terduga. 

"Gratis untuk Bu Saida, tapi teman-teman bayar!" ucap Shena polos namun penuh nada gurauan.

Sontak saja, sorak-sorai dan gelak tawa riuh pecah memecah keheningan siang hari. Teman-teman sekelasnya yang berdiri di dekatnya kompak tertawa lepas sambil menepuk-nepuk pelan pundak Shena. Suasana riang itu menghangatkan ruangan kelas 8B, memperlihatkan betapa Shena  menjadi bagian penting dari kebersamaan mereka.

Dia memiliki kepribadian yang hangat dan supel. Kehadirannya selalu membawa keceriaan, membuat siapa saja merasa nyaman berada di dekatnya. Sifatnya yang ramah dan mudah bergaul membuatnya memiliki banyak teman dari berbagai kelas. Di mana pun Shena berada, tawa dan obrolan hangat selalu mengalir di sekitarnya.

Salah satu kebiasaan kecil yang konsisten ia lakukan setiap hari adalah membawa bekal air minum putih sendiri dari rumah. Deretan penjual kantin sekolah menyajikan berbagai pilihan minuman manis yang berwarna-warni, dingin, dan menggoda selera. Hampir sebagian besar siswa tergiur untuk mengantri dan membeli minuman kemasan kekinian tersebut. Dia tidak tergoda untuk ikut-ikutan membeli.

Di meja belajarnya yang berada di barisan kedua, sebuah tumbler berukuran besar selalu berdiri kokoh. Tumbler itu bukan sekadar wadah air, melainkan simbol komitmen Shena untuk belajar hidup sehat dan hemat. Tanpa ada rasa malu sedikit pun di tengah teman-temannya yang sibuk membeli minuman di kantin, Shena dengan percaya diri meneguk air putih dari tumblernya. 

Langkah sederhana ini memberikan dampak yang sangat positif baginya. Tidak  membeli minuman di sekolah, uang saku yang diberikan orang tuanya tetap tersisa. Dia paham betul arti kerja keras orang tuanya, sehingga dia memilih untuk melatih dirinya berhemat sejak dini. 

Cepu, 23 September 2026

Selasa, 22 September 2026

Empat Sekawan


Karya: Gutamining Saida

Sang Empat Sekawan di Kelas 8C, empat sosok terkenal mampu menepis kabut kebodohan dan menyinari sekolah  yang biasa disebut SEKOLAH SULTAN. Reny, Lala, Alifa, dan Nina kelompok siswi yang berada di bangku belakang. Mereka memilih duduk di belakang tentu banyak pertimbangan. Posisi yang nyaman, aman serta cocok.

Mereka melangkahkan kaki menerobos gerbang sekolah menuju ruang kelas 8C. Papan tulis di ruang menantikan sentuhan jemari mereka. Mengucapkan nama mereka satu per satu Reny, Lala, Alifa, Nina bukan sekadar menyapa, melainkan memanggil empat sekawan yang selalu aktif pembelajaran IPS.

Setiap kali jemari mereka untuk berkarya, dunia seni dan logika langsung bertabrakan dalam sebuah ledakan dahsyat yang menciptakan mahakarya tak tertandingi. Tulisan mereka menjelma menjadi tumpukan karya yang memukau mata. 

Sang Empat Sekawan tidak sekadar duduk mendengarkan. Semangat mereka untuk belajar adalah api abadi yang tak sanggup dipadamkan. Ketika murid lain tertunduk layu dihantam kelelahan mereka justru makin berkobar. 

Mereka sosok yang responsif dan berani mengutarakan pendapat. Mereka tidak ragu untuk bertanya saat menemukan materi yang membingungkan, aktif berdiskusi dalam kelompok, dan konsisten menunjukkan semangat yang tinggi terhadap setiap mata pelajaran.

Setiap lembar tugas mata pelajaran yang dibebankan kepada mereka dituntaskan dengan kecepatan kilat. Mereka tersimpul dalam satu ikatan persahabatan sejati yang tak tergoyahkan oleh hantaman fitnah. Mereka bersama bersaing dalam berjuang meraih prestasi tanpa ada permusuhan. Mereka saling memotivasi dengan persaingan yang sehat. Semoga kesuksesan berpihak pada kalian semua. Aamiin.

Cepu 23 September 2026


 

Senin, 21 September 2026

Kekawatiran Sang Mama


Karya; Gutamining Saida

Di bawah mentari pagi yang baru saja menyapa bumi, deru mesin sepeda motor meraung membelah keramaian lalu lintas. Alifa, seorang siswi kelas 8C yang berparas manis, duduk manis di jok belakang dengan seragam putih-biru. Di depannya, sang mama memegang kendali setang dengan penuh ketangkasan. Selasa, sebuah hari yang awalnya berjalan begitu sempurna, meluncur mulus bak kereta api. Sang mama bukan sekadar untuk mengantar sang buah hati menuju gerbang Esmega, melainkan juga untuk menunaikan baktinya sendiri. 

Takdir pagi itu tiba-tiba saja memutar kemudinya dengan begitu drastis. Di tengah perjalanan yang mulus, tepat di sebuah ruas jalan yang dikelilingi rindangnya pepohonan, sepeda motor yang mereka kendarai mendadak terbatuk-batuk. Mesinnya terbatuk sekali, dua kali, lalu mati total. Usaha sang mama untuk menyalakan kembali mesin itu sia-sia belaka, roda besi itu membisu.

Kepanikan seketika meledak di dalam dada sang mama. Jarum jam seolah-olah berputar ribuan kali lebih cepat, bergerak seperti kilat. Bayangan Alifa yang terlambat, berdiri menggeletar di balik gerbang sekolah yang tertutup rapat, membakar pikiran sang mama hingga hangus. Di tengah pusaran kecemasan, melintaslah seorang bapak-bapak mengendarai sepeda motor. Melihat raut wajah sang mama yang hampir meneteskan air mata kecemasan, bapak itu memperlambat laju kendaraannya.

Tanpa berpikir panjang, sang mama mengambil keputusan. Ia menitipkan Alifa kepada bapak asing yang kebetulan searah menuju sekolah tersebut. Alifa pun naik ke boncengan motor bapak itu, menghilang di balik debu jalanan yang membumbung tinggi.

Saat bayangan putri kesayangannya lenyap di telan tikungan jalan, pada saat itulah emosional mamanya bergerak. Perasaan khawatir dan was-was yang melingkupinya. Hati seorang ibu yang selembut sutra kini diliputi kecemasan. Berjuta-juta spekulasi buruk yang mengerikan di dalam benaknya.

Waktu merayap begitu lambat, terasa seperti puluhan jam yang menyiksa. Jam demi jam dilewatinya di tempat kerja dengan jiwa yang melayang-layang entah ke mana, sementara badannya bergetar oleh kecemasan yang membakar sukma.

Ketika jarum jam akhirnya menunjukkan jam ketiga pembelajaran, waktu di mana ruang-ruang kelas mulai dipenuhi riuh rendah proses belajar. Ketahanan batin sang mama benar-benar berada di ambang keruntuhan. Tanpa mampu menahannya lagi, jemarinya mengetik pesan di layar ponselnya. Ia mengirimkan pesan singkat kepada wali kelas 8C.

Tanpa menunda waktu sedetik pun, sang wali kelas segera beranjak dari tempat duduknya. Langkah kakinya yang mantap membelah koridor sekolah yang hening, menuju ruang 8C membawa misi mencari jiwa. Begitu sampai di depan pintu, pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) sedang berlangsung dengan begitu khidmat. Sang guru IPS sedang memaparkan materi dengan begitu memikat, sementara para siswa menyerap ilmu bak spons yang menyerap air.

Sang wali kelas mengetuk pintu dan memohon izin untuk mengganggu jalannya pelajaran sejenak. Matanya yang tajam menyapu seluruh sudut ruangan, mencari satu sosok yang menjadi pusat dari segala kecemasan. Di barisan bangku kelas, terlihatlah Alifa. Anak itu sedang duduk dengan tenang, jemarinya menari-nari menggoreskan pena di atas buku catatan. 

Legalah dada sang wali kelas. Tanpa membuang kesempatan, ia merengkuh ponselnya dan mengambil potret Alifa yang sedang tekun belajar dari jarak dekat. Foto itu seketika dikirimkan kembali melalui aplikasi pesan kepada sang mama, sebagai sebuah bukti sang putri telah sampai di sekolah. 

Ketika layar ponsel sang mama menyala, menampakkan foto Alifa yang tersenyum di tengah pelajaran IPS.  Seketika, benteng kecemasan yang tadinya berdiri setinggi langit langsung hancur berkeping-keping menjadi debu yang hilang diterbangkan angin.

Hati sang mama kini melayang-layang di atas awan kebahagiaan. Rasa syukur yang tak terhingga membumbung tinggi menembus langit, menggema ke seluruh penjuru alam semesta. Rasa lega yang tak terlukiskan dengan kata-kata memenuhi setiap relung sukmanya. Sebuah rasa tenang  menyejukkan jiwa. Alhamdulillah dilafatkan sebagai rasa syukur.

Cepu, 22 September 2026


Minggu, 20 September 2026

Meluncur, Gerak dan Nafas


Karya: Gutamining Saida

Suasana kolam renang Bumool hari itu terasa luar biasa hidup. Gerakan air yang membiru memantulkan derai tawa dan semangat.  Ada satu pemandangan yang selalu konsisten dan menarik perhatian dari minggu ke minggu.  Setiap kali sesi latihan, selalu ada wajah-wajah baru yang bergabung. Mulai dari anak-anak,  remaja yang penuh energi, hingga ibu-ibu yang datang untuk belajar menaklukkan rasa takut pada air.

Mengamati kolam melahirkan sebuah rasa senang dan haru. Di antara sekian banyak pelatih yang membuka kelas di Bumool, harus diakui jumlah anak didik Pak Gun menjadi yang terbanyak. Deretan peserta yang mengular. Bukti nyata betapa metode pendekatan Pak Gun sangat diterima dan diminati. Terbesit doa Semoga ilmu yang dibagikan Pak Gun menjadi bermanfaat, membawa kebaikan, dan berlimpah berkah, baik bagi beliau maupun bagi setiap peserta. 

Ada kejadian unik yang menyedot perhatian di tengah latihan. Di antara jajaran peserta, tampak seorang remaja baru bergabung. Dia sudah menunjukkan kemampuan adaptasi yang luar biasa pesat. Jika biasanya peserta pemula membutuhkan waktu cukup lama untuk menjinakkan rasa cemas terhadap kedalaman air. Dia justru terlihat begitu tenang, rileks, dan sudah sangat nyaman menyatu dengan air.

Pak Gun meminta seluruh peserta untuk berbaris rapi dalam satu deret panjang tepat di bibir kolam. Ibu-ibu berdiri sejajar, siap mendengarkan aba-aba. Ketegangan, fokus membayang di wajah-wajah mereka. Begitu peluit ditiup oleh Pak Gun, gerakan serentak pun terjadi. Ibu-ibu meluncur dengan percaya diri, memadukan gerakan kaki, dorongan tangan yang membelah air, serta napas.  Kolam seketika ramai oleh kecipak air yang berirama.

Tatapan Pak Gun tertuju pada barisan peserta baru, lalu jari telunjuknya tepat kepada peserta baru.

"Satu apa, Mbak?" tanya Pak Gun.

Dia menunjuk dirinya sendiri dengan raut wajah polos.

"Saya, Pak?" balasnya memastikan.

"Iya," jawab Pak Gun singkat sambil mengangguk.

Tanpa ragu, saya pak?, "Dina!"

Pak Gun yang mendengar jawaban itu seketika tak sanggup menahan tawa. Gelak tawa pun langsung meledak pelan di antara peserta lain yang mendengar percakapan jujur tersebut.

"Siapa nanya nama?" sahut Pak Gun tertawa kekeh.

"Maksud saya, hitungan 'satu' itu artinya apa?" tanya Pak Gun kembali.

Tanpa rasa canggungdia tersenyum tipis dan langsung mengambil posisi. Dengan sigap, Mbak Dina mempraktikkan seluruh urutan teknik yang dimaksud. Dia melakukan dorongan meluncur yang mulus, mengibaskan gerakan kaki dengan mantap, disusul gerakan tangan yang rapi menembus air.

Melihat gerakan yang begitu lancar dan sempurna dari Mbak Dina, kekehan Pak Gun berubah menjadi nada kagum yang tulus.

"Mantap!" ucap Pak Gun spontan. 

Momen-momen  seperti inilah yang membuat setiap sesi latihan di kolam Bumool terasa  berharga dan berkesan. Menyaksikan secara langsung bagaimana seorang dari yang awalnya tidak tahu apa-apa, ragu, atau bersalah paham bisa langsung menguasai gerakan.  Sebuah kebahagiaan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Ada rasa senang yang meluap dan kedamaian yang hadir saat melihat proses belajar yang dibalut kehangatan, keakraban, dan tawa. Keberhasilan para murid menaklukkan tantangan di dalam air tak hanya menjadi kebanggaan bagi Pak Gun sebagai pelatih. Juga membawa keceriaan dan inspirasi mendalam bagi siapa saja yang menyaksikannya dari tepi kolam. Ayo kita tetap fokus teman. 

Cepu, 24 September 2026

Kisah Yuyu Kangkang

 


Karya: Gutamining Saida

Sabtu sore tepatnya tanggal 19 September 2026 di sisi kolam renang itu riuh oleh tawa dan keceriaan yang menyeruak di antara kecipak air. Sore yang pelan-pelan meredup, Pak Gun, seorang pelatih terapi renang profesional, bersiap memimpin sesi latihan yang berbeda dari biasanya. Jika pada pertemuan sebelumnya para peserta yang mayoritas terdiri dari ibu-ibu selalu diminta berjalan menyusuri bibir kolam saat hendak menuju area kedalaman dua meter.  Pak Gun menyiapkan sebuah tantangan baru.

Beliau meminta peserta untuk langsung menyeberang melintasi permukaan air. Kami harus membelah lintasan dari kedalaman 1,80 meter menuju area dua meter. Bagi yang sudah mahir dan senior berenang, jarak dan kedalaman tersebut mungkin terdengar biasa. Namun, bagi ibu-ibu lainnya  melangkah dan meluncur ke area yang melebihi tinggi badan tentu mendatangkan sensasi tersendiri. Ragu, was-was, dan rasa khawatir seketika membayang di wajah ibu-ibu. Air kedalaman dua meter seolah menjadi rintangan besar yang harus ditaklukkan.

Melihat raut cemas yang mulai terlihat di antara senyum ibu-ibu, Pak Gun tidak tinggal diam. Sebagai pelatih profesional yang berpengalaman, beliau paham betul. Kunci utama dalam terapi air bukan hanya mengajarkan teknik fisik, melainkan juga membangun rasa aman dan kepercayaan diri. Pak Gun langsung turun tangan. Dengan sigap dan penuh kesabaran, beliau bersiap mendampingi setiap peserta satu per satu, memastikan tak ada seorang pun yang tenggelam dalam ketakutannya sendiri.

Di sinilah keseruan itu bermula. Dengan posisi tubuh yang siap menopang, bergerak lincah ke kiri dan ke kanan membelah air untuk menjemput dan mengawal para ibu-ibu. Gaya Pak Gun mendadak mengingatkan pada satu tokoh cerita rakyat Jawa yang sangat populer tentang Yuyu Kangkang. Si kepiting raksasa penyeberang sungai dalam kisah Klenting Kuning.

"Saya kayak Yuyu Kangkang niiiih..." ucapan Pak Gun terlontar begitu saja di tengah-tengah air, diiringi gaya tubuhnya yang jenaka saat bersiap 'menyeberangkan' ibu-ibu berikutnya. Kelakar spontan itu seketika pecah di udara. Tawa ibu-ibu melelehkan suasana tegang yang sempat menggantung. Metafora Yuyu Kangkang yang dilemparkan Pak Gun sangat pas menggambarkan perannya. Sosok yang siap mengantar siapa saja menyeberangi 'kolam' kedalaman dua meter.

"Tapi kita Klenting Hitam, Pak!" ujar Bu Yeni sambil tertawa lepas.

Suasana di sekitar kolam renang yang semula tegang kini berubah menjadi panggung komedi air. Celetukan Bu Yeni tentang rombongan "Klenting Hitam" rupanya menjadi pemantik dari obrolan kocak yang terus bersambung di antara kecipak air. 

Sautan itu beralasan kuat. Jika dalam cerita rakyat legendaris para gadis yang menyeberang sungai adalah Klenting Kuning dan saudara-saudaranya. Sabtu sore di dalam kolam renang tak ada seorang pun yang memakai baju kuning. Mayoritas ibu-ibu mengenakan baju renang berwarna hitam. Maka, jadilah mereka rombongan "Klenting Hitam" yang siap di bawah pengawalan sang Yuyu Kangkang.

"Waduh, Klenting Hitam ya?" balas Pak Gun sambil memasang muka penuh seloroh, tangannya masih siaga mengapung di kedalaman dua meter. "Tapi inget ya Ibu-ibu, Yuyu Kangkang zaman now itu udah modern! Nggak mau disogok pake ciuman kayak di dongeng legendaris dulu. Sekarang zamannya serba digital!"

"Trus mintanya apa dong, Pak Gun?" sahut Bu Rahayu dari ujung kolam sambil tertawa kekeh, tangannya masih memegang erat tepi kolam.

"Yuyu Kangkang modern minta transferan Bu! Atau minimal di-follow akun TikTok saya biar viral!" jawab Pak Gun sambil memperagakan gerakan capit kepiting dengan kedua tangannya, lalu bergerak lincah mendekati Bu Pur.

Tawa ibu-ibu langsung meledak.. Suara gelak tawa renyah bergema menembus area kolam renang. "Yah, pak Gun! Kalau mintanya transferan  mending kita berenang sendiri aja deh, nggak jadi nyebrang!" celetuk Bu Diah dari seberang, disambut sorak-sorai setuju.

"Wah, jangan gitu dong Bu." potong Pak Gun cepat dengan nada bercanda. 

"Layanan Yuyu Kangkang ini lengkap lho. Pengawalan VIP, dijamin nggak tenggelam."

Rasa takut yang semula mencengkeram perlahan terangkat, berganti menjadi semangat keberanian yang meluap-luap. Gaya Pak Gun yang bergerak ke sana kemari menuntun peserta yang masih ragu, lalu bergerak cepat ke kiri menjemput peserta lain yang panik. Kondisi aman  hingga mendarat di zona dua meter. Tanpa sadar, lewat pendekatan humor dari Pak Gun, ibu-ibu berhasil. Rasa khawatir dikalahkan oleh rasa percaya pada sang pelatih. 

Di tangan seorang pelatih yang humoris dan empatik seperti Pak Gun, terapi air berubah menjadi momen pementasan dongeng modern yang penuh gelak tawa. Pak Gun berhasil memerankan "Yuyu Kangkang" yang tidak meminta imbalan apa pun, selain melihat keberanian dan senyum lega dari para "Klenting Hitam". Sampai jumpa episode yang lebih seru. Terimakasih pak Gun.

Cepu, 20 September 2026







Sabtu, 19 September 2026

Lho ... Jangan Diam

 


Karya: Gutamining Saida

Matahari Sabtu sore merayap turun dengan warna keemasan. Cahaya membakar langit dengan pesona tiada tara. Di usia yang tak lagi belia sebuah fase kehidupan tempat rambut mulai bersalut perak dan sendi-sendi meratapi perjalanan waktu. Jiwa saya menolak untuk layu. Ada sebuah api yang membara di dalam dada. Sebuah tekad untuk mengejar kesehatan. Tekad itu lahir bukan karena keangkuhan, melainkan sebuah ikhtiar sehat. Saya ingin terus berdiri kokoh untuk menemani langkah sang suami tercinta, melukis senyum pada raut wajah anak-anak tersayang, serta melimpahkan kasih tak bertepi kepada cucu-cucu.

Lebih dari sekadar usia panjang, ada rindu yang bergetar di dalam kalbu untuk mempersembahkan ibadah terbaik. Tubuh yang fit adalah bahtera, dan ibadah adalah samudra syukur. Biarlah usia merambat tua, namun semangat dan jiwa ini harus tetap berkobar layak sepeti kawula muda. Sabtu sore, medan perjuangan membentang di hadapan mata. Sebuah kolam renang  dengan air biru jernih tampak tenang. Dia menyimpan misteri di kedalamannya yang mencapai dua meter. Kedalaman tak kasat mata yang menantang keberanian siapa pun yang memandangnya. 

Desir angin sore mengembuskan sedikit keraguan, menembus pori-pori kulit dan membuat denyut jantung berdegup lebih kencang dari biasanya. Bayangan keraguan itu seketika sirnah diterpa ketenangan sang pelatih yang berdiri siap siaga. Pak Gun, sosok pelindung di kolam siap menjadi penjaga keselamatan seluruh siswanya.

Kini, saatnya pembuktian. Kami berbaris rapi dari ujung hingga ke ujung bibir kolam, membentuk deretan yang siap menaklukkan dinginnya air. Satu per satu siswa mulai mempraktikkan petunjuk yang telah disampaikan sebelumnya. Satu tangan terentang lurus ke depan, sementara tangan satunya mencengkeram erat bibir kolam sebagai tumpuan terakhir sebelum melepas tubuh menuju kebebasan.

"Setelah meluncur, ibu-ibu bisa gaya bebas  atau memilih gaya dada dan ketiga jangan pernah berhenti, jangan pernah diam!"

Dengan menahan napas  dan dorongan semangat jiwa muda yang meluap-luap, saya menjejakkan kaki. Tubuh saya meluncur! Air dingin menyergap seketika, memeluk seluruh raga dalam keheningan bawah air.  Saya memutuskan untuk membelah kedalaman air dengan gaya dada. Gerakan demi gerakan saya kayuh dengan penuh keyakinan. Tangan menguak air dengan keteguhan hati, sementara kaki menendang lurus demi mendorong tubuh yang merindukan garis finis.

Namun, alam memiliki hukumnya sendiri yang tak mampu dilawan oleh prasangka manusia. Baru saja setengah perjalanan terlewati, benteng pertahanan fisik saya mulai goyah secara drastis. Paru-paru saya mendadak seperti kehabisan oksigen. Kepanikan kecil mulai merayap, merobohkan seluruh ketenangan. Tak kuasa menahan nafas. 

Sisa-sisa tenaga yang kian terkuras habis, saya menurunkan kedua kaki secara paksa Saya mencari pijakan di dasar kolam demi mengambil seteguk udara untuk bernafas. Di tengah  napas yang terengah-engah, sebuah bayangan tegap mendadak muncul tepat di belakang saya. Pak Gun, sang pelatih, telah berada di sana dengan ketangkasan yang luar biasa. Suaranya membelah gemericik air. "Lhooo, tidak boleh berdiri! Lanjut sampai finis!"

Suara itu sejatinya adalah lecutan semangat, sebuah panggilan untuk melampaui batas kemampuan. Kepakan sayap fisik saya benar-benar telah patah di tengah kolam. Tubuh renta ini telah mengerahkan seluruh daya hingga titik darah penghabisan. Dengan tatapan layu, suara yang bergetar hebat, dan napas yang terputus-putus, saya hanya mampu merintih, "Waaah tidak kuat lagi, Pak... Maaf..."

Kata "maaf" itu terlempar ke udara, membawa serta runtuhnya seluruh cita-cita indah. Ada kepedihan mendalam yang mendadak menyeruak. Semangat membara yang tadi meluap-luap kini padam seketika, tergilas oleh kenyataan pahit bahwa batas fisik tak lagi mampu mengejar kehendak jiwa.

Saya berdiri termangu di tengah kedalaman kolam, terisolasi dalam kegagalan yang memilukan. Menatap garis finis di ujung sana yang terasa mustahil untuk dicapai. Impian untuk menuntaskan tantangan dengan sempurna hancur, tenggelam bersama rasa duka, menyisakan kesadaran pedih. Semoga lain hari mampu mencapai finis dan sehat selalu. Salam sehat.

Cepu, 19 September 2026

Jumat, 18 September 2026

Hutang Sudah Lunas

Karya: Gutamining Saida

Siang yang semula tenang di dalam grup Muda Swimming Squad2 mendadak riuh oleh sebuah hantaman visual. Pak Gun melemparkan sebuah amunisi berupa foto dan video, dipungkasi satu kalimat pemicu yang menohok ulu hati: "Hutangnya sudah lunas bu ibu?" tak lupa dsertakan tameng emoji tertawa.

Pertanyaan itu melayang di udara digital seperti kembang api yang meletup di malam gulita. Reaksinya? Sunyi yang membatu. Para ibu-ibu di grup mendadak diserang amnesia kata-kata. Sebagian besar memilih membisu ada tapi tak bernyawa, tenggelam dalam samudera keheningan. Saya sendiri memilih meringkuk di balik layar, menjadi penonton setia drama singkat ini tanpa berani menyisipkan satu ketukan jempol pun. Hanya Bu Pur, seorang pejuang yang berani membalas lemparan api itu dengan stiker tertawa sebuah respons pertahanan diri yang menggelikan. 

Fenomena ini bukanlah rahasia yang terkunci di dasar samudera. Di zaman sekarang, bank dan lembaga keuangan melambaikan jemari manisnya kepada para pegawai pemerintahan, pedagang. Mereka menenun jaring-jaring godaan yang begitu halus, menjanjikan surga duniawi lewat jalur pintas bernama kredit. Di balik kemilau uang pinjaman yang melimpah ruah itu, tersembunyi belenggu besi yang siap mengikat leher siapa saja yang tergiur.

Dalam kacamata syariat, utang bukanlah sekadar deretan angka di atas kertas tagihan, melainkan sebuah beban yang sanggup meremukkan jiwa.  Islam memandang utang dengan kacamata yang amat tegas dan bernuansa peringatan keras. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam berkali-kali berlindung kepada Allah Subhanahu Wata'alla dari jeratan utang,

Kemudahan mengambil utang di era modern ini kerap kali menyihir mata manusia hingga buta membedakan antara kebutuhan primer dan hawa nafsu yang tak bertepi. Uang pinjaman menyuntikkan ilusi kekayaan yang semu. Seseorang bisa merasa menjadi raja dalam sekejap, membeli segala kemewahan duniawi.

Melihat fenomena yang terjadi di grup WhatsApp tersebut, sebuah doa tulus membubung tinggi ke angkasa. Semoga seluruh anggota grup Muda Swimming Squad2 khususnya  dipelihara oleh Allah Subhanahu Wata'alla dari godaan berwujud utang. Semoga pikiran mereka dijauhkan dari keinginan untuk menggadaikan masa depan demi kenikmatan sesaat.

Tidak ada kekayaan di muka bumi yang mampu menandingi indahnya hidup tanpa utang. Tidak memiliki utang adalah bentuk kemerdekaan jiwa yang paling murni. Manusia yang bebas dari utang adalah raja sejati di dunia. Kita bisa memejamkan mata dengan tenang, menghirup udara pagi dengan dada lapang dan menikmati setiap suapan nasi dengan rasa syukur yang membuncah. Tidur mereka ditemani kedamaian yang membumbung tinggi dan bangun pagi mereka disambut oleh senyuman tanpa bayang-bayang ketakutan. Hidup tenang tanpa kepungan tagihan adalah kenikmatan surgawi yang tiada tara nilainya.

Cepu, 19 September 2026

Kaki Saya Masih Malu-malu


Karya: Gutamining Saida

Suasana sore di kolam renang selalu menyimpan ceritanya sendiri. Angin berembus pelan dan suara kecipak air yang menenangkan biasanya menjadi latar alami latihan kami. Jum'at sore atmosfer di sekitar kolam mendadak terasa berbeda. Ada antusiasme yang membumbung tinggi, bercampur dengan sedikit rasa mendebarkan. Pak Gun, pelatih yang tidak pernah kehabisan ide untuk menguji batasan kemampuan kami, berdiri tegak di tengah kolam dengan gaya khasnya.

"Kalau cuma posisi tangan meluncur di atas air, itu sih sudah biasa!" seru Pak Gun memecah keheningan. Kalimat pembukanya langsung memancing rasa penasaran seluruh anggota kelompok. Kami semua saling pandang, menebak-nebak kejutan apa lagi yang akan disajikan.

Pak Gun kemudian mengumumkan tantangan sore ini. Sebuah gerakan yang menuntut keseimbangan, keberanian, dan kontrol tubuh di dalam air. Kami diminta untuk menyelam perlahan, menyentuh dasar kolam dengan kedua telapak tangan, lalu mendorong tubuh sedemikian rupa hingga kedua kaki lurus mengarah tegak lurus ke atas. Sebuah gerakan menyerupai handstand di dalam air.

Sebelum giliran kami tiba, Pak Gun memberi contoh terlebih dahulu. Tenang dan luwes, beliau meluncur ke bawah. Hanya dalam hitungan detik, kedua tangannya sudah menumpu kokoh di lantai kolam, sementara kedua kakinya menjulang lurus ke atas permukaan air dengan sangat sempurna. Gerakan itu terlihat begitu mudah, elegan, dan tanpa beban. Kami yang menyaksikan dari tepi kolam hanya bisa melongo kagum sekaligus makin berdebar-debar.

Satu per satu dari kami dipanggil untuk mempraktikkannya secara langsung di bawah pengawasan ketat Pak Gun. Momen menunggu giliran selalu menjadi saat-saat yang paling menegangkan sekaligus mendebarkan. Muncul dorongan kuat untuk menaklukkan rasa ragu. Prinsip saya sederhana yaitu bila tidak pernah mencoba, kita tidak akan pernah tahu sampai di mana batas kemampuan kita. Keberanian harus dikedepankan, urusan hasil adalah nomor dua.

Ketika giliran saya tiba, saya menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh fokus, lalu menyelam dengan sepenuh jiwa. Di dalam air, saya mengarahkan tubuh ke bawah dan berusaha menggapai dasar kolam. Perlahan tapi pasti, jemari dan telapak tangan saya akhirnya berhasil menyentuh lantai kolam. Sebuah rasa lega dan syukur langsung menyelimuti pikiran saya. Meski saya sadar gerakan ini jauh dari kata sempurna, berhasil menyentuh dasar kolam saja sudah menjadi pencapaian kecil yang sangat berarti.

Begitu saya kembali muncul ke permukaan air sambil menyapu air dari wajah, Pak Gun yang memperhatikan dari tepi kolam langsung bertanya, "Bagaimana, tangan sudah menyentuh lantai, Bu?"

"Sudah, Pak!" jawab saya singkat, masih sedikit terengah-engah.

Pak Gun terkekeh pelan lalu melempar pandangan jenaka, "Lhoo lhoo... kakinya mana?"

Dengan spontan dan tanpa pikir panjang, saya berseru, "Kaki saya malu, Pak!"

Seketika itu juga, tawa pecah dari rekan-rekan di sekeliling kolam. Jawaban asal bunyi berhasil mencairkan suasana yang semula agak tegang. Gelak tawa berderai memantul di antara dinding-dinding area kolam renang. Belum selesai rasa geli dari percakapan saya, perhatian Pak Gun berpindah ke peserta berikutnya yang sedang berjuang di dalam air.

"Lha, Bu Yeni kakinya belum kelihatan juga!" komentar Pak Gun sambil tertawa kecil mengamati perjuangan Bu Yeni yang mencoba menegakkan kakinya ke atas. Bu Yeni yang baru saja muncul ke udara tidak mau kalah santai. Dengan wajah tanpa dosa dan napas yang agak terengah, beliau menjawab spontan, "Telapak kaki saya pecah-pecah, Pak!"

Sontak, lelucon Bu Yeni makin menambah riuh suasana. Suara tawa ibu-ibu kembali membahana. Kolam renang sore itu benar-benar berubah menjadi panggung komedi spontan yang penuh kehangatan.

"Ayo, sekarang giliran Bu Pur!" perintah Pak Gun mengalihkan fokus ke barisan selanjutnya. Beliau kemudian menunjuk anggota berikutnya dengan penuh semangat, "Ayo, selanjutnya!"

Tiba giliran Bu Ima. Saking semangatnya ingin menuntaskan tantangan dan menyempurnakan gerakan, Bu Ima meluncur dengan dorongan yang terlalu kuat. Bukannya membentuk posisi lurus ke atas, tubuh Bu Ima malah berputar tak terkendali di dalam air hingga gerakannya persis seperti orang sedang koprol atau berguling di udara. Begitu kepalanya muncul kembali ke permukaan dengan ekspresi bingung, gelak tawa kembali meledak tanpa bisa ditahan!

Dasar ibu-ibu, mau gerakannya benar atau salah, semuanya disambut dengan tawa riang. Ketika gagal melakukan gerakan dengan benar pun, kami tetap tertawa lepas tanpa rasa malu atau berkecil hati. Melihat keriuhan dan semangat murid-muridnya, Pak Gun tidak marah sedikit pun. Beliau justru tersenyum lebar dan memberikan apresiasi yang sangat hangat kepada kami semua.

"Bila salah lalu ibu-ibu tertawa, itu bagus!" tegas Pak Gun dengan nada suportif.

Saya yang penasaran langsung menyela, "Lhoo, kok begitu, Pak?"

Pak Gun lalu menjelaskan, "Itu tandanya ibu-ibu mau mencoba dan mencoba, mengulang dan mengulang. Tidak takut salah, tidak takut gagal. Itu kunci utama dalam belajar."

Di tengah-tengah penjelasan Pak Gun yang inspiratif itu, tiba-tiba Bu Ratih melempar celetukan dari sudut kolam dengan raut wajah polos, "Kaki saya kok mengambang terus ya, Pak?"

Pak Gun menatap Bu Ratih lalu menjawab dengan seloroh khasnya yang penuh optimisme, "Lhaaa... itu artinya kita tidak akan pernah tenggelam!"

Jawaban Pak Gun yang menggelitik itu menutup sesi latihan sore dengan gelak tawa yang kembali membahana. Jum'at sore sinar matahari yang mulai meredup, kami belajar tentang arti keberanian untuk mencoba hal baru, indahnya kebersamaan. Semoga besok bisa dipertemukan kembali dan tertawa bersama. Aamiin.