Karya: Gutamining Saida
Suasana kelas 7A pagi itu terasa sedikit berbeda. Lembar Penilaian Tengah Semester (PTS) yang bertumpuk rapi di atas meja guru bukan sekadar tumpukan kertas berisi angka-angka merah dan hitam, melainkan cermin kecil dari setiap ikhtiar, doa, dan perjuangan yang telah dilalui anak-anak selama setengah semester terakhir. Hari ini adalah hari pembagian hasil, sebuah momen penting agar setiap siswa mampu menakar seberapa jauh melangkah, mengenali potensi diri, serta bersyukur atas setiap jengkal hasil yang diperoleh.
Satu per satu nama dipanggil ke depan. Di hadapan meja guru, dinamika jiwa anak-anak terpancar begitu jujur melalui bahasa tubuh mereka. Ada yang berjalan ragu sambil menundukkan kepala, Seolah sedang bersiap menanggung rasa malu di hadapan takdir. Ada yang melangkah dengan dada terangkat dan senyum terkembang, penuh keyakinan akan hasil yang diraih. Saat kertas bertuliskan angka-angka itu berpindah tangan, panggung kecil di depan kelas berubah menjadi pentas ekspresi mereka.
Seorang siswa spontan menepuk jidatnya begitu melihat angka yang disebut gurunya. Dia mungkin mendapati harapannya belum selaras dengan realitas. Setelah ucapan gurunya berbah lebih baik, siswa langsung mengelus dada seraya membisikkan doa, mengalirkan rasa lega yang membuncah dari relung hatinya. Ada pula yang tak sanggup menahan kebahagiaan hingga berteriak riang, menyuarakan rasa syukur atas buah dari malam-malam panjang yang dihabiskannya bersama buku pelajaran. Semua gerak dan raut wajah itu adalah gambaran betapa berharganya sebuah penilaian bagi jiwa-jiwa yang sedang bertumbuh.
Hingga tibalah giliran seorang murid bernama Abas.
"Abas," panggil saya singkat, memecah keriuhan kecil di sudut kelas.
Abas bangkit dari tempat duduknya dan melangkah ke depan. Wajahnya polos, menyimpan campuran antara rasa cemas dan penasaran. Ia berdiri tepat di hadapan meja guru, menunggu ketetapan apa yang akan diserahkan kepadanya hari itu.
Tanpa sengaja, lidah saya terselip ketika membaca baris nilai pada lembar jawabannya. "Kamu dapat dua puluh," ucap saya datar, mengonfirmasikan angka yang salah saya baca.
Seketika itu juga, reaksi refleks terpancar dari tubuh Abas. Kedua tangannya langsung melayang menempel di kepala. Wajahnya menyiratkan keterkejutan yang mendalam, seolah langit baru saja runtuh menimpa pundaknya yang kecil. Angka dua puluh sebuah cobaan berat, sebuah tamparan keras bagi prasangka dan harapannya. Dalam pandangan Islam, manusia memang sering kali diuji dengan rasa takut dan kekurangan, dan saat itu Abas sedang mengecap kepasrahan yang mendalam atas takdir yang disangkanya pahit.
Melihat ekspresi dan perubahan mendadak pada raut wajahnya, saya teringat kembali pada lembar kertas di tangan. Saya mencermati ulang angka yang tertera. Seketika sadar atas kekhilafan lisan tersebut, saya bergegas membetulkan.
"Eh... maaf, delapan puluh. Saya keliru mengucap," ralat saya seraya menyunggingkan senyum penyesalan.
Seketika itu pula, sebuah keajaiban kecil terjadi di depan mata. Tangan Abas yang tadinya mencengkeram kepala bergeser dengan cepat, berpindah menempel rapat di dadanya. Matanya terpejam sejenak, dan dari hembusan napas panjang yang keluar dari mulutnya, terucap rasa lega yang begitu membuncah. Angka delapan puluh mungkin bukanlah nilai sempurna di atas kertas, namun di mata Abas detik itu, nilai tersebut terasa seperti hujan rahmat yang menyiram tanah kering berdebu. Dari jurang keputusasaan, ia mendadak diangkat menuju rasa syukur.
Teman-temannya di kelas yang menyaksikan kejadian tersebut tak kuasa menahan tawa dan rasa heran. Saya sendiri hanya bisa menggelengkan kepala, terpesona oleh betapa cepatnya mood dan ekspresi seorang hamba berubah hanya karena sebuah kabar.
Kejadian singkat bersama Abas bukan sekadar peristiwa lucu di sela-sela jam pelajaran, melainkan sebuah ikhtibar pelajaran spiritual yang sangat mendalam. Al-Qur'an mengingatkan manusia diciptakan dengan sifat keluh kesah dan mudah berputus asa, namun juga sangat mudah bergembira ketika menerima kebaikan.
Berapa sering manusia merasa dunianya hancur berkeping-keping saat menerima kabar buruk atau ujian hidup yang terasa berat? Kepala dipegang, dada terasa sesak, dan harapan seolah sirna. Ketika Allah menyingkap tabir rahasia-Nya dan menunjukkan rahmat yang sebenarnya, belas kasih-Nya ternyata jauh lebih besar dari apa yang dikhawatirkan. Perubahan dari angka dua puluh ke delapn puluh mengajarkan bahwa sesudah kesulitan, selalu ada kemudahan yang melapangkan dada.
PTS adalah takdir kecil yang melatih anak-anak untuk bersikap sabar ketika hasil tak sesuai harapan, dan syukur ketika mendapati kebaikan. Abas dan teman-temannya tidak hanya belajar tentang nilai akademik, tetapi juga belajar menyadarkan diri tempat bersandar terbaik saat cemas adalah dengan menepuk dada, menyebut nama Allah, dan meyakini bahwa setiap ketetapan-Nya selalu menyimpan hikmah yang melapangkan hati. Aamiin
Cepu, 1 Oktober 2026






.jpeg)