Kamis, 18 Juni 2026

Ketenangan Jiwa

Karya: Gutamining Saida 
Saya berkesempatan menginap di Hotel Citradream Bandung. Hotel ini berada di kawasan yang cukup strategis dan nyaman. Bangunannya menjulang dengan beberapa lantai yang tertata rapi. Dari luar tampak modern dan bersih. Ketika memasuki lobi, suasana sejuk langsung terasa. Para petugas menyambut tamu dengan ramah dan sopan.

Proses check-in berlangsung lancar sehingga kami dapat segera beristirahat setelah perjalanan yang cukup melelahkan.
Saya mendapatkan kamar di lantai satu dengan nomor 109. Kamar tersebut cukup nyaman untuk ditempati dua orang. Di dalamnya tersedia dua tempat tidur yang empuk, pendingin ruangan yang bekerja dengan baik, meja, kursi, televisi, serta kamar mandi yang bersih dan tertata rapi. Air mengalir lancar, perlengkapan mandi tersedia, dan pencahayaan kamar juga cukup baik.Secara umum, pelayanan yang diberikan hotel ini memuaskan. Kebersihan terjaga dan para petugas siap membantu apabila diperlukan.

Sebagai orang yang sehari-hari tinggal di rumah sederhana di kampung, tentu fasilitas seperti ini terasa lebih lengkap dan mewah dibandingkan kamar yang saya miliki di rumah. Kasurnya lebih empuk, ruangan lebih sejuk karena AC, dan suasananya tampak modern. Secara logika, seharusnya saya dapat tidur lebih nyenyak di tempat yang nyaman seperti itu.
Ternyata kenyataannya berbeda.
Malam itu saya tidak bisa langsung tertidur. Tubuh memang lelah, tetapi mata terasa sulit terpejam. Saya berbaring cukup lama sambil memandangi langit-langit kamar. Sesekali terdengar suara kendaraan dari luar hotel. Saya membolak-balikkan badan mencari posisi yang nyaman. Kasur yang empuk ternyata tidak otomatis membuat tidur menjadi nyenyak.

Pikiran saya melayang jauh ke rumah.
Di rumah, kamar saya jauh lebih sederhana. Tidak ada AC yang membuat ruangan terasa dingin. Kasurnya biasa saja, bahkan mungkin tidak semewah yang tersedia di hotel. Anehnya, ketika sampai di rumah dan merebahkan badan, saya biasanya dapat langsung tertidur.  Terkadang terlalu nyenyak hingga sulit bangun saat pagi hari.

Saat itulah saya merenung.
Allah Subhanahu Wata'alla memberikan pelajaran yang sangat berharga melalui pengalaman sederhana tersebut. Selama ini banyak orang beranggapan bahwa kemewahan adalah sumber kebahagiaan dan ketenangan. Padahal kenyataannya tidak selalu demikian. Tempat yang nyaman belum tentu membuat hati tenang. Kasur yang mahal belum tentu membuat seseorang tidur nyenyak. Bangunan yang megah belum tentu menghadirkan rasa damai. Ketenangan sejati ternyata bukan berasal dari fasilitas yang dimiliki, melainkan dari hati yang dekat dengan Allah.

Saya teringat firman Allah bahwa hanya dengan mengingat-Nya hati menjadi tenteram. Ayat tersebut terasa begitu nyata malam itu. Ketika hati dipenuhi berbagai pikiran, rasa khawatir, dan berbagai pertimbangan, maka kemewahan di sekitar tidak mampu menghilangkan kegelisahan. Sebaliknya, ketika hati berserah diri kepada Allah Subhanahu Wata'alla rasa tenang dapat hadir meskipun berada di tempat yang sangat sederhana.

Saya membayangkan kehidupan Rasulullah yang begitu sederhana. Tempat tidur beliau jauh dari kata mewah. Beliau memiliki ketenangan yang luar biasa karena kedekatan dengan Allah Subhanahu Wata'alla. Dari situlah saya menyadari bahwa ukuran kebahagiaan tidak terletak pada banyaknya fasilitas, tetapi pada kualitas rasa syukur yang ada di dalam hati.

Malam di Bandung menjadi malam perenungan. Saya bersyukur masih diberi kesempatan melihat berbagai keadaan kehidupan. Ada orang yang tinggal di rumah sederhana tetapi hidupnya penuh kebahagiaan. Ada pula yang memiliki segala kemewahan namun hatinya tetap gelisah. Semua itu mengajarkan bahwa nikmat terbesar bukanlah harta benda, melainkan ketenangan jiwa.

Menjelang tidur, saya mengucapkan hamdalah berulang kali. Saya bersyukur atas kesempatan belajar, mendampingi siswa, menikmati perjalanan, dan merasakan fasilitas hotel yang baik. Saya juga bersyukur karena Allah Subhanahu Wata'alla mengingatkan bahwa rumah sederhana yang saya tempati selama ini adalah nikmat yang luar biasa. Di sanalah saya dapat beristirahat dengan tenang. Di sanalah keluarga berkumpul. Di sanalah hati merasa lebih tenteram.

Ketika pagi tiba, saya bangun dengan rasa syukur yang lebih besar dibandingkan saat pertama kali memasuki hotel. Saya menyadari bahwa kemewahan hanyalah sarana, bukan tujuan hidup. Fasilitas yang baik patut disyukuri, tetapi jangan sampai membuat kita lupa bahwa sumber ketenangan sesungguhnya berasal dari Allah Subhanahu Wata'alla. 

Perjalanan ke Bandung akhirnya bukan hanya menjadi perjalanan wisata dan pendampingan siswa, tetapi juga perjalanan spiritual yang mengajarkan makna syukur. Saya pulang membawa pelajaran berharga bahwa manusia sering mengejar kenyamanan lahiriah, padahal yang lebih penting adalah kenyamanan batin. Rumah sederhana yang dipenuhi rasa syukur bisa terasa seperti istana. Sebaliknya, kamar hotel yang mewah pun belum tentu menghadirkan ketenangan jika hati jauh dari Sang Pencipta.
Semoga Allah selalu menjadikan kita hamba yang pandai bersyukur, tidak silau oleh kemewahan dunia, dan senantiasa merasa cukup atas nikmat yang telah diberikan. Karena pada akhirnya, ketenangan bukanlah tentang di mana kita tidur, tetapi tentang kepada siapa hati kita bersandar. Aamiin.
Cepu, 18 Juni 2026 

Es Teler

Karya: Gutamining Saida 
Hari libur memang selalu terasa berbeda. Udara pagi seolah lebih ramah, waktu berjalan lebih pelan, dan hati terasa lebih longgar untuk menerima apa pun yang datang. Tidak ada dering bel masuk sekolah, tidak ada tumpukan tugas, dan tidak ada keharusan terburu-buru. Di sela suasana itulah sebuah ajakan sederhana datang. Tidak panjang, tidak pula bertele-tele. Hanya satu kalimat singkat yang langsung saya sambut dengan satu kata penuh makna, “oke”.
Ajakan itu seperti angin segar di sela rutinitas. Ada rasa senang yang sulit dijelaskan, bukan karena tujuannya, melainkan karena kebersamaan yang menyertainya. Sebelum melangkah keluar rumah, tanggung jawab tetap harus ditunaikan. Saya menyelesaikan pekerjaan dapur terlebih dahulu. Memasak dengan niat ibadah, memastikan keluarga tidak kekurangan. Setelah itu, saya beres-beres rumah, merapikan yang perlu dirapikan, menyapu sisa-sisa debu yang menempel, seolah membersihkan bukan hanya lantai, tetapi juga hati.

Setelah semuanya selesai, saya pun siap berangkat. Saya membonceng motor, duduk di belakang, menikmati perjalanan dengan penuh rasa syukur. Angin menyentuh wajah, mata memandang kanan dan kiri jalan raya. Pemandangan sederhana seperti pepohonan, warung kecil di pinggir jalan, orang-orang yang berlalu-lalang, semuanya tampak begitu bermakna. Dalam hati saya berpikir, betapa banyak nikmat Allah Subhanahu Wata'alla yang sering luput dari perhatian karena terlalu sibuk dengan urusan sendiri.
Motor terus melaju hingga akhirnya kami tiba di tempat yang dicari, sebuah warung sederhana penjual es teler. Tidak mewah, tidak besar, namun terlihat ramai dan hidup.

Saya turun dari motor dan melangkah masuk. Pandangan saya langsung menyapu ruangan, mencari kursi kosong. Setelah menemukan tempat duduk, kami pun duduk berdampingan. Suasana warung terasa akrab, ada suara sendok beradu dengan gelas, suara penjual yang ramah melayani pembeli, dan tawa kecil pelanggan yang menikmati hidangan.
Sang anak segera memesan es teler dan beberapa menu lainnya. Saya memperhatikannya dengan senyum kecil. Ada kebahagiaan tersendiri melihat anak menikmati hal-hal sederhana. Sambil menunggu pesanan datang, kami berdua mulai membayangkan rasa nikmatnya es teler. Bayangan itu seperti doa kecil yang terucap dalam hati, berharap kesegaran dan kebahagiaan sederhana dari segelas minuman dingin.
Tidak menunggu lama, pesanan pun datang. Dua gelas es teler diletakkan di hadapan kami. Warnanya begitu menggoda mata. Campuran buah alpukat yang lembut, potongan kelapa muda yang segar, durian dengan aroma khasnya, susu yang menyatu dengan es batu, serta taburan biji selasih yang menambah keindahan tampilan. Segelas es teler itu bukan hanya cantik dipandang, tetapi juga terasa seperti hadiah kecil dari Allah Subhanahu Wata'alla di hari libur.

Sebelum menyentuhnya, saya mengaduk-aduk perlahan. Sendok berputar di dalam gelas, menyatukan semua isi yang ada. Bersamaan dengan gerakan itu, lisan saya tak henti mengucap syukur, “Alhamdulillah.” Syukur atas nikmat yang sederhana namun terasa begitu lengkap. Syukur atas kesehatan yang masih Allah Subhanahu Wata'alla beri, sehingga bisa menikmati makanan dan minuman. Syukur atas waktu luang yang jarang hadir. Syukur atas kebersamaan yang tidak bisa dibeli dengan apa pun.
Setiap suapan, setiap tegukan, terasa lebih nikmat karena disertai rasa syukur. Dingin es batu menyegarkan tenggorokan, manis alpukat dan susu berpadu sempurna, sementara durian memberikan rasa khas yang menguatkan. Di sela menikmati es teler, hati saya kembali merenung.
Betapa sering manusia mengejar kebahagiaan yang jauh, padahal Allah telah menyiapkan kebahagiaan kecil di sekitar kita. Segelas es teler di warung sederhana pun bisa menjadi sumber bahagia jika hati mampu mensyukurinya.
Saya memandang sang anak yang menikmati es telernya dengan penuh semangat. Ada tawa kecil, ada cerita ringan, dan ada kebersamaan yang terasa hangat. Momen itu terasa begitu berharga. Saya sadar, kebahagiaan tidak selalu hadir dalam bentuk perjalanan jauh atau barang mahal. Terkadang ia hadir dalam bentuk ajakan sederhana, perjalanan singkat, dan segelas es teler yang dinikmati bersama orang tercinta.

Hari libur akhirnya menjadi lebih dari sekadar hari tanpa kerja. Ia menjadi hari penuh makna, hari belajar tentang syukur, tentang menikmati yang ada, dan tentang menyadari bahwa Allah Subhanahu Wata'alla selalu menghadirkan nikmat-Nya dengan cara yang lembut. Dari dapur rumah, perjalanan motor, hingga warung es teler, semuanya tersambung dalam satu rangkaian rasa yaitu rasa cukup.

Saya pulang dengan hati yang ringan, jiwa yang terasa disirami ketenangan. Dalam diam saya berdoa, semoga Allah Subhanahu Wata'alla selalu mengajarkan saya untuk mensyukuri nikmat sekecil apa pun, karena dari situlah kebahagiaan sejati bermula.
Cepu, 18 Pebruari 2026 

Rabu, 17 Juni 2026

Tangkuban Perahu


Karya: Gutamining Saida
Tangkuban Perahu adalah gunung berapi yang terletak di dekat Bandung, tepatnya di wilayah Lembang. Nama "Tangkuban Perahu" berasal dari bentuk gunung yang menyerupai perahu terbalik. Gunung ini sangat terkenal karena berkaitan dengan legenda rakyat Sunda tentang Sangkuriang dan Dayang Sumbi.

Kisah Sangkuriang dan Dayang Sumbi. Konon dahulu hiduplah seorang putri cantik bernama Dayang Sumbi. Ia memiliki seorang anak laki-laki bernama Sangkuriang. Suatu hari, karena sebuah kesalahpahaman, Sangkuriang membunuh anjing kesayangannya yang bernama Tumang, padahal Tumang sebenarnya adalah ayahnya yang mendapat kutukan.

Dayang Sumbi sangat marah hingga mengusir Sangkuriang. Bertahun-tahun kemudian, Sangkuriang tumbuh menjadi pemuda gagah dan tanpa sengaja bertemu kembali dengan Dayang Sumbi. Karena tetap awet muda, Dayang Sumbi tidak dikenali sebagai ibunya. Keduanya saling jatuh cinta dan berencana menikah.

Menjelang pernikahan, Dayang Sumbi menyadari bahwa pemuda itu adalah anaknya sendiri. Untuk menggagalkan pernikahan, ia mengajukan syarat yang sangat sulit: Sangkuriang harus membuat sebuah danau dan sebuah perahu besar dalam satu malam.

Dengan kesaktiannya, Sangkuriang hampir berhasil. Dayang Sumbi lalu meminta bantuan kepada Yang Maha Kuasa dan membuat suasana seolah-olah fajar telah tiba. Merasa gagal dan marah, Sangkuriang menendang perahu yang sedang dibuatnya hingga terbalik. Perahu itulah yang dipercaya menjadi Gunung Tangkuban Perahu.

Manusia boleh berusaha sekuat tenaga, tetapi hasil akhirnya tetap berada dalam kehendak Allah Subhanahu Wata'alla. Kejujuran dan keterbukaan dalam keluarga sangat penting agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. Saat berkunjung ke Tangkuban Perahu, kita tidak hanya menikmati keindahan alam ciptaan Allah Subhanahu Wata'alla, tetapi juga dapat merenungkan betapa kecilnya manusia di hadapan kekuasaan-Nya. Gunung, kawah, dan hamparan alam yang indah menjadi tanda kebesaran Allah Subhanahu Wata'alla yang patut disyukuri dan dijaga kelestariannya.
Cepu, 18 Juni 2026

Ban glunDung


Karya: Gutamining Saida

Perjalanan literasi budaya menuju Bandung menjadi pengalaman yang berkesan bagi saya. Kami berangkat dari Cepu pada hari Kamis sore bersama para siswa dan beberapa guru pendamping. Suasana keberangkatan terasa meriah. Para siswa tampak antusias karena akan melakukan perjalanan jauh ke Kota Bandung. Bagi sebagian siswa, perjalanan ini mungkin menjadi pengalaman pertama mengunjungi kota besar di Jawa Barat.

Di dalam bus, suasana begitu hidup. Ada yang bercanda, ada yang menyanyi, ada pula yang sibuk mengabadikan momen dengan telepon genggam mereka. Saya sendiri menikmati perjalanan sambil sesekali berbincang dengan teman guru yang duduk berdekatan.

Sehari sebelum keberangkatan terjadi sebuah percakapan lucu yang hingga kini masih membuat saya tersenyum ketika mengingatnya. Di sela-sela kesibukan koreksi Bu Wiwik yang duduk tidak jauh dari saya tiba-tiba bertanya, “Menginap di hotel Bandung dua hari, ya?”

Saya yang belum berpengalaman menemani siswa literasi budaya hanya menjawab singkat, “Belum tahu nama hotelnya, Bu?”

Mendengar jawaban saya, Bu Wiwik kembali berkata dengan nada meyakinkan, “Biasanya dua hari menginap di hotel Bandung.”

Saya semakin bingung. Dalam pikiran saya, mungkin memang ada hotel bernama Hotel Bandung yang akan menjadi tempat menginap kami. Karena tidak ingin salah bicara, saya hanya mengangguk dan mengiyakan perkataan beliau.

Beberapa saat kemudian Bu Wiwik bertanya lagi.

“Njenengan tahu hotel Bandung yang saya maksud?”

Saya menjawab dengan jujur, “Tidak tahu, Bu.”

Beliau lalu tertawa kecil sambil berkata, “Hotel Bandung itu tidurnya di atas ban glundung alias bus!”

Mendengar penjelasan tersebut, saya langsung memahami maksud candaan beliau. Ternyata yang dimaksud bukan nama sebuah hotel yang berada di Kota Bandung. Bus yang terus melaju dengan roda berputar atau dalam bahasa Jawa disebut ban glundung.

Saya pun spontan ikut tertawa. Tawa kami pecah di tengah kesibukan di ruang guru. Beberapa guru lain yang mendengar candaan itu ikut tersenyum. Suasana yang semula biasa saja mendadak menjadi lebih hangat dan menyenangkan. Memang terkadang kebahagiaan tidak harus datang dari sesuatu yang besar. Sebuah permainan kata sederhana, candaan ringan, atau percakapan singkat mampu menghadirkan kegembiraan yang tulus. Di tengah kesibukan menjalankan rutinitas  menjadi penyegar yang sangat berharga.

Perjalanan yang panjang sering kali membuat tubuh lelah. Duduk berjam-jam di dalam bus tentu bukan perkara mudah, terutama bagi kami yang usianya tidak lagi muda. Suasana akrab dan penuh canda membuat rasa lelah terasa lebih ringan.

Saya teringat sebuah ungkapan bahwa tertawa adalah obat yang murah. Meskipun bukan obat untuk segala penyakit, tertawa dapat membuat hati lebih tenang dan pikiran lebih segar. Saat seseorang tertawa, beban yang semula terasa berat seakan berkurang. Hubungan antar teman pun menjadi lebih dekat karena tawa menciptakan kehangatan dan kebersamaan.

Dalam ajaran agama, kebahagiaan merupakan nikmat yang patut disyukuri. Senyum yang tulus bahkan termasuk amal kebaikan. Apalagi jika senyum dan tawa tersebut mampu menghibur orang lain tanpa menyakiti atau merendahkan siapa pun.

Candaan Bu Wiwik tentang “Hotel Bandung” mungkin terdengar sederhana. Saya belajar bahwa perjalanan hidup tidak selalu harus dijalani dengan wajah tegang dan pikiran penuh beban. Sesekali kita perlu memberi ruang bagi humor dan kegembiraan agar hati tetap sehat.

Perjalanan kami berlangsung dengan lancar. Kami menginap dua malam di hotel Bandung dan sehari di hotel  Citradream kembali pulang ke Cepu pada hari Minggu pagi. Banyak pengalaman berharga yang kami peroleh selama kegiatan literasi budaya tersebut. Berbagai kunjungan dan aktivitas yang dilakukan, menjadi salah satu kenangan.

Sampai sekarang, setiap kali mendengar kata “hotel Bandung”, saya tidak hanya teringat sebuah kota  tempat menginap. Saya justru teringat tawa bersama Bu Wiwik di ruang guru, tawa yang sederhana. Perjalanan panjang terasa lebih ringan, lebih hangat, dan lebih menyenangkan. Tertawa yang penuh kebersamaan memang salah satu cara Allah Subhanahu Wata'alla menghadirkan kesehatan dan kebahagiaan. 

Cepu, 18 Juli 2026

Ploating Market


Karya : Gutamining Saida

Keindahan alam adalah untaian ayat-ayat kauniyah yang terhampar nyata di hadapan manusia. Salah satu tempat yang memancarkan pesona tersebut adalah Ploating Market. Ia sebuah destinasi wisata populer yang terletak di kawasan berudara sejuk, Lembang, Bandung.

Tempat ini bukan sekadar pusat rekreasi buatan manusia, melainkan sebuah ruang di mana kita bisa bersila, merenung, dan mengagumi betapa luasnya karunia yang telah Sang Pencipta anugerahkan kepada bumi Parahyangan. Udara yang dingin, kabut tipis yang kadang menyapa, serta hamparan air yang tenang menjadi pengingat akan kebesaran-Nya yang menenteramkan jiwa.

Ploating Market berarti pasar terapung. Sebuah konsep pasar tradisional yang dinamis dipadukan dengan keindahan tata ruang beralaskan alam. Ketika melangkah masuk, sejauh mata memandang, kita akan disuguhi pemandangan sebuah cekungan besar berisi air jernih seperti sebuah danau atau kolam yang tenang.

Di sepanjang pinggiran cekungan air inilah, para penjual berjejer rapi di atas perahu-perahu kayu yang ditata sedemikian rupa. Air adalah sumber kehidupan dan simbol kesucian. Melihat para pedagang yang menjemput rezeki di tepian air mengingatkan kita pada filosofi bahwa rezeki Allah Subhanahu Wata’alla mengalir. Tugas manusia hanyalah berikhtiar dengan cara yang baik dan halal. Keramaian yang teratur di atas air menciptakan harmoni yang indah. Sebuah gambaran kecil tentang bagaimana manusia memanfaatkan alam demi kelangsungan hidup tanpa merusaknya.

Allah Subhanahu Wata’alla menciptakan manusia dengan berbagai suku bangsa dan budaya, yang melahirkan pula aneka ragam cita rasa kuliner. Di Ploating Market Bandung, keberagaman itu menjelma menjadi surga kuliner yang menggugah selera. Para pengunjung ditawarkan berbagai macam pilihan yang melimpah, di antaranya:

  • Aneka Suvenir: Buah tangan kreatif hasil kerajinan tangan manusia yang memanfaatkan bahan alam.
  • Makanan Kekinian & Kuliner Khas Bandung: Mulai dari camilan modern hingga makanan tradisional yang sarat akan warisan budaya local seperti batagor, siomay, dan colenak.
  • Minuman Tradisional, dan Rebusan: Hidangan hangat yang sangat cocok dengan suasana pegunungan yang dingin.

Setiap aroma makanan yang terhirup dan setiap kepulan asap dari makanan yang baru matang adalah bentuk nyata dari rezeki-Nya. Semua ragam kuliner ini seolah mengundang kita untuk mampir, membelinya, dan menikmatinya di kursi-kursi yang telah disediakan di tepi danau. Duduk di sana, menyantap hidangan, sambil memandang air yang beriak kecil adalah momen terbaik untuk melantunkan rasa syukur yang mendalam atas nikmat rasa yang masih diberikan-Nya kepada kita.

Salah satu keunikan yang menjadi daya tarik di Ploating Market adalah sistem transaksinya. Pengunjung tidak dapat membeli makanan atau barang secara langsung menggunakan uang tunai (cash). Pengelola menerapkan aturan di mana setiap pengunjung harus menukarkan uang tunai mereka terlebih dahulu dengan koin-koin khusus yang telah disediakan di loket penukaran.

Koin-koin tersebut memiliki nilai nominal yang bervariasi untuk memudahkan transaksi, seperti:

  • Pecahan Rp20.000,00
  • Pecahan Rp10.000,00
  • Pecahan Rp5.000,00

Ada sebuah hal menarik dalam sistem penukaran ini. Untuk mendapatkan koin dengan nilai tertentu, misalnya koin senilai Rp25.000,00, pembeli harus membayar sebesar Rp27.500,00. Selisih uang tersebut dapat kita pandang sebagai bentuk nilai jasa, administrasi, atau pengorbanan kecil demi menikmati ketertiban sistem yang ada.

Hal ini mengajarkan kita tentang pentingnya menaati aturan di mana pun kita berada.  Hidup di dunia memiliki sistem dan "mata uang" tersendiri, yaitu amal saleh, kebaikan, dan kesabaran, yang sering kali membutuhkan pengorbanan ego serta materi di awal.

Perjalanan fisik ini terasa semakin sempurna ketika dilewati bersama orang-orang terkasih. Saya berkesempatan melangkah bersama Bu Endang. Bersamanya, perjalanan ini bukan sekadar rekreasi, melainkan ruang untuk mempererat tali silaturahmi yang diberkahi.

Kami berdua ingin merasakan pelayanan yang ramah dari para penjual serta menikmati hidangan hangat di tengah sejuknya udara Lembang. Kami melangkah menuju loket dan mengeluarkan uang sebesar Rp50.000,00. Dari uang tersebut, kami mendapatkan koin yang kemudian kami tukarkan dengan dua porsi hidangan yang sangat sederhana. Satu Porsi Gorengan: Berisi 6 biji gorengan yang renyah dan hangat. Satu Porsi Rebusan: Terdiri dari tiga iris pisang rebus serta sejumput kacang godok (rebus) yang gurih. Total Pengeluaran: Rp50.000,00 ditambah jasa penukaran. Setiap Rp.25.000,00

Jika dihitung secara matematis di tempat lain, mungkin jumlah makanan dengan harga Rp25.000,00 per porsi ini terasa sedikit. Enam biji gorengan, tiga iris pisang, dan sejumput kacang tampak sederhana. Di sinilah letak ujian hati yang disebut dengan Qana'ah merasa cukup dan rida atas apa yang ada di depan mata.

Ketika makanan itu disantap dengan rasa syukur, sepotong pisang rebus terasa begitu nikmat tiada tara. Sejumput kacang godok berubah menjadi berkah yang mengenyangkan. Nilai sebuah hidangan tidak lagi diukur dari seberapa banyak jumlahnya atau seberapa mahal harganya. Seberapa besar rasa syukur yang menyertainya saat masuk ke dalam tenggorokan.

Kami di kursi yang menghadap ke cekungan air Ploating Market. Kami pun tenggelam dalam rasa takjub. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, penguasa semesta alam. Kami sangat bersyukur dapat menikmati suasana yang asri, tempat yang tertata dengan baik, pelayanan yang ramah, serta hidangan yang menghangatkan tubuh.

Pengalaman di Ploating Market Bandung ini kembali mengetuk pintu hati kita. Ia mengingatkan bahwa rezeki Allah Subhanahu Wata’alla ada di mana-mana. Bahkan di atas air sekalipun. Tugas manusia adalah berjalan di muka bumi ini dengan mata hati yang terbuka, mengambil pelajaran dari setiap jengkal langkah, menaati aturan hidup, menjaga silaturahmi.  Paling utama, selalu kembali kepada-Nya dengan hati yang penuh dengan rasa syukur.

Cepu, 17 Juni 2026

 


Jejak Pabrik Es Cepu


Karya: Gutamining Saida

Alhamdulillah, pada hari yang penuh berkah saya mendapatkan kesempatan mengikuti kegiatan Cepu Walking Tour. Kegiatan ini bukan sekadar berjalan kaki menyusuri sudut-sudut Kota Cepu, tetapi juga menjadi perjalanan batin untuk mengenal sejarah, mengenang masa lalu, serta mengambil pelajaran berharga dari jejak kehidupan para pendahulu.

Sebagai seorang yang bertempat tinggal di wilayah Cepu. Saya merasa bahagia karena masih diberi kesehatan dan kesempatan oleh Allah Subhanahu Wata;alla untuk melihat langsung berbagai peninggalan sejarah yang selama ini hanya saya dengar dari cerita atau baca dari berbagai sumber. Salah satu lokasi yang menarik perhatian saya adalah jejak keberadaan pabrik es tua di Kota Cepu.

Mungkin bagi sebagian orang, pabrik es hanyalah tempat memproduksi es. Setelah mendengar penjelasan dari pemandu wisata sejarah, saya menyadari bahwa keberadaan pabrik es memiliki peran penting dalam perjalanan perkembangan Kota Cepu. Di balik bongkahan es yang dahulu diproduksi, tersimpan kisah panjang tentang kerja keras, perkembangan teknologi, dan perubahan zaman.

Dari berbagai catatan sejarah yang berhasil ditemukan, keberadaan pabrik es di Cepu ternyata sudah ada sejak masa Hindia Belanda. Salah satu bukti tertulis berasal dari iklan surat kabar Bataviaasch Nieuwsblad tahun 1918 yang menyebutkan adanya penjualan pabrik es di Cepu. Informasi ini menunjukkan bahwa lebih dari satu abad yang lalu, masyarakat Cepu telah mengenal industri pendingin yang pada masa itu tentu merupakan teknologi yang tidak sederhana.

Saya membayangkan bagaimana kondisi Cepu pada masa tersebut. Jalan-jalan belum seramai sekarang, kendaraan bermotor masih terbatas, dan listrik belum menjangkau seluruh wilayah. Di tengah keterbatasan, sudah berdiri sebuah pabrik yang menghasilkan es. Cepu sejak dahulu merupakan daerah yang berkembang dan memiliki aktivitas ekonomi yang cukup penting.

Dalam perjalanan sejarah berikutnya, surat kabar Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië tahun 1928 bahkan mencatat pabrik es tersebut sebagai salah satu penanda perjalanan menuju Desa Ngroto. Artinya, bangunan pabrik es sudah cukup dikenal oleh masyarakat sehingga dijadikan titik acuan arah. Sebuah bangunan tidak akan dijadikan penanda apabila tidak memiliki keberadaan yang kuat dalam kehidupan masyarakat saat itu.

Seiring berkembangnya industri perminyakan dan bertambahnya pemukiman orang Eropa di Cepu, kebutuhan akan es pun semakin meningkat. Pada masa itu, es bukan sekadar untuk mendinginkan minuman seperti sekarang. Es menjadi kebutuhan penting untuk menyimpan bahan makanan, kebutuhan rumah tangga, hingga berbagai kepentingan industri. Surat kabar De Indische Courant tahun 1935 mencatat bahwa pasokan es bahkan didatangkan dari pabrik es Rejo Muljo di Madiun untuk memenuhi kebutuhan yang terus bertambah.

Mendengar kisah tersebut, saya semakin kagum kepada para pendahulu yang mampu membangun usaha dan teknologi sesuai kebutuhan zamannya. Mereka bekerja keras dengan segala keterbatasan yang ada. Di balik setiap balok es yang dihasilkan, ada tenaga, pemikiran, dan perjuangan manusia yang berusaha mencari rezeki halal untuk keluarganya.

Catatan lain dari surat kabar De Locomotief tahun 1938 menyebut nama Jeronimus sebagai pemilik pabrik es yang telah lama menetap di Cepu. Nama itu kini mungkin hanya tersisa dalam arsip sejarah, tetapi karya dan usahanya pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Cepu. Dari sini saya belajar bahwa manusia boleh datang dan pergi, tetapi amal, karya, dan manfaat yang ditinggalkan akan terus dikenang oleh generasi berikutnya.

Saat berdiri di lokasi yang dahulu menjadi bagian dari perjalanan pabrik es tersebut, hati saya dipenuhi rasa syukur. Allah Subhanahu Wata'alla memperlihatkan kepada saya bagaimana sebuah usaha dapat bertahan melintasi berbagai zaman. Dari masa kolonial, masa kemerdekaan, hingga era modern saat ini, tradisi usaha es di Cepu ternyata masih berlanjut melalui CV Tirta Agung Cepu.

Memang bentuk es yang diproduksi sekarang berbeda dengan masa lalu. Dahulu berupa balok-balok besar yang diangkut dengan tenaga manusia. Kini teknologi telah berkembang sehingga es hadir dalam berbagai bentuk dan ukuran sesuai kebutuhan masyarakat modern. Hakikatnya tetap sama, yaitu memberikan manfaat bagi sesama manusia.

Perubahan tersebut mengingatkan saya pada salah satu sunnatullah dalam kehidupan. Zaman akan terus berubah. Teknologi berkembang. Cara bekerja berganti. Bentuk usaha menyesuaikan kebutuhan masyarakat. Tetapi nilai kerja keras, kejujuran, dan kebermanfaatan akan tetap relevan sepanjang masa.

Dalam Al-Qur'an Allah Subhanahu Wata'alla mengingatkan manusia agar berjalan di muka bumi dan memperhatikan jejak orang-orang terdahulu. Melalui kegiatan walking tour ini saya merasakan makna ayat tersebut secara nyata. Menelusuri sejarah bukan hanya untuk mengetahui kapan sebuah bangunan berdiri atau siapa pemiliknya, tetapi juga untuk mengambil hikmah dari perjalanan kehidupan manusia.

Saya membayangkan para pekerja pabrik es yang dahulu berangkat pagi hari mencari nafkah. Mereka mungkin memiliki harapan yang sama seperti kita saat ini, yaitu ingin keluarga hidup bahagia, anak-anak mendapatkan masa depan yang baik, dan kehidupan berjalan dengan penuh keberkahan. Walaupun mereka telah lama tiada, perjuangan mereka menjadi bagian dari sejarah yang patut dihargai.

Perjalanan ini juga mengingatkan saya bahwa tidak ada yang abadi selain Allah Subhanahu Wata'alla. Bangunan bisa berubah, pemilik usaha bisa berganti, teknologi dapat berkembang, bahkan generasi manusia datang dan pergi. Allah tetap menjadi Penguasa segala zaman. Karena itulah manusia hendaknya tidak hanya sibuk membangun kehidupan dunia, tetapi juga mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.

Saya bersyukur masih diberi kesempatan menyaksikan jejak sejarah yang masih bertahan hingga sekarang. Pabrik es mengajarkan bahwa sebuah usaha yang dikelola dengan baik dapat memberikan manfaat lintas generasi. Setiap jejak masa lalu bukan hanya tentang cerita manusia, melainkan juga tentang tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu Wata'alla yang patut disyukuri dan direnungkan oleh setiap hamba yang beriman. Aamiin.

Cepu, 17 Juni 2026

Cepu Walking Tour


Karya: Gutamining Saida

Hari Minggu  14 Juni 2026 menjadi hari yang cukup istimewa bagi saya. Setelah menempuh perjalanan panjang dari Bandung dan baru tiba di rumah menjelang waktu Subuh, tubuh sebenarnya masih terasa lelah. Mata pun terasa pedih belum cukup beristirahat.  Ketika ada info akan diadakan kegiatan Cepu Walking Tour “Ngareng Weg”, saya berusaha mengumpulkan semangat untuk ikut serta. Saya meyakini bahwa kesempatan seperti ini tidak selalu datang dua kali. Jika dilewatkan, belum tentu di masa mendatang ada kesempatan yang sama.

“Ngareng Weg” merupakan istilah yang merujuk pada Jalan Ngareng, salah satu ruas jalan bersejarah yang berada di kawasan kota bawah Cepu. Jalan ini menyimpan banyak cerita tentang perkembangan Cepu dari masa ke masa. Melalui kegiatan walking tour, para peserta diajak berjalan kaki menyusuri kawasan tersebut sambil mendengarkan berbagai kisah sejarah yang mungkin selama ini luput dari perhatian masyarakat.

Suasana Cepu masih terasa sejuk. Udara segar menyambut para peserta. Mereka yang memiliki ketertarikan terhadap sejarah dan budaya daerah. Wajah-wajah penuh antusias tampak menghiasi titik kumpul kegiatan. Meski sebagian peserta baru saling mengenal, suasana keakraban segera terjalin karena memiliki tujuan yang sama, yaitu belajar memahami sejarah Cepu secara lebih dekat.

Perjalanan dimulai dengan penjelasan dari pemandu yang menguasai sejarah lokal. Beliau menjelaskan bahwa kawasan kota bawah memiliki peran penting dalam perkembangan Cepu, terutama pada masa kejayaan industri minyak dan perkereta apian. Banyak bangunan tua yang masih berdiri menjadi saksi perjalanan panjang daerah ini. Setiap sudut jalan menyimpan cerita yang menarik untuk digali.

Saat berjalan menyusuri jalan Ngareng, saya mencoba mengamati lingkungan sekitar dengan lebih saksama. Bangunan-bangunan lama yang mungkin selama ini hanya dilewati begitu saja ternyata memiliki nilai sejarah yang tinggi. Ada bangunan yang dahulu digunakan sebagai tempat usaha, kantor, maupun hunian yang berkaitan dengan aktivitas masyarakat pada masa lampau. Melihatnya secara langsung membuat saya membayangkan bagaimana kehidupan masyarakat Cepu puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu.

Di beberapa titik, pemandu menceritakan perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu. Dahulu kawasan ini sangat ramai karena menjadi jalur penting aktivitas ekonomi. Kehadiran industri minyak dan transportasi kereta api membawa dampak besar bagi perkembangan kota. Banyak pendatang datang untuk bekerja dan menetap di Cepu. Interaksi berbagai budaya pun turut membentuk karakter masyarakat yang beragam.

Kegiatan ini bukan sekadar berjalan kaki mengelilingi kota. Ada banyak pelajaran berharga yang dapat dipetik. Saya menyadari bahwa sejarah bukan hanya terdapat dalam buku pelajaran, melainkan hadir di sekitar kita. Jalan yang setiap hari dilalui ternyata menyimpan kisah perjuangan, kerja keras, dan perjalanan panjang para pendahulu. Dengan mengenal sejarah daerah sendiri, tumbuh rasa bangga sekaligus tanggung jawab untuk ikut menjaga warisan tersebut.

Meski kondisi fisik masih lelah akibat perjalanan dari Bandung, rasa lelah itu perlahan tergantikan oleh semangat dan rasa ingin tahu. Setiap penjelasan yang diberikan pemandu menambah wawasan baru. Saya merasa beruntung dapat mengikuti kegiatan ini. Jika pagi itu saya memilih beristirahat di rumah, tentu saya akan kehilangan pengalaman yang sangat berharga.

Selain memperoleh pengetahuan sejarah, kegiatan walking tour juga menjadi sarana silaturahmi. Saya dapat bertemu dengan banyak orang yang memiliki kepedulian terhadap budaya dan sejarah lokal. Dari perbincangan ringan selama perjalanan, saya mendapatkan berbagai cerita dan perspektif baru tentang Cepu. Hal ini semakin memperkaya pengalaman yang saya peroleh.

Kegiatan Cepu Walking Tour “Ngareng Weg” mengajarkan bahwa belajar tidak selalu harus dilakukan di dalam ruang kelas. Jalanan, bangunan tua, dan lingkungan sekitar dapat menjadi ruang belajar yang hidup. Melalui langkah demi langkah yang ditempuh, kami diajak memahami perjalanan sebuah kota yang telah memberikan banyak manfaat bagi masyarakatnya.

Saya merasa bersyukur telah mengambil keputusan untuk ikut serta. Walaupun hanya beberapa jam, pengalaman tersebut meninggalkan kesan yang mendalam. Saya pulang dengan membawa pengetahuan baru, rasa bangga terhadap sejarah daerah, serta kesadaran bahwa menjaga dan menghargai warisan masa lalu merupakan tanggung jawab bersama. Semoga kegiatan seperti ini terus dilaksanakan sehingga semakin banyak generasi muda yang mengenal, mencintai, dan melestarikan sejarah Cepu untuk masa depan.

Cepu, 16 Juni 2026

Selasa, 16 Juni 2026

Bandung

Karya : Gutamining Saida 
Perjalanan literasi budaya ke Bandung memberikan banyak pengalaman yang tidak terlupakan. Setelah mengunjungi berbagai tempat yang sarat ilmu pengetahuan dan sejarah, rombongan kami berkesempatan mengunjungi Trans Studio Bandung. Tempat wisata indoor yang terkenal ini menyajikan berbagai wahana permainan, mulai dari yang santai hingga yang mampu menguji keberanian dan memacu adrenalin.

Beberapa wahana yang dikenal sebagai wahana uji nyali di Trans Studio Bandung antara lain Yamaha Racing Coaster, roller coaster yang melaju sangat cepat dengan lintasan maju dan mundur, Giant Swing yang mengayunkan penumpang hingga ketinggian puluhan meter, Vertigo yang membawa pengunjung berputar di udara, Si Bolang Adventure, Dunia Lain, serta beberapa wahana petualangan lainnya yang membuat jantung berdebar lebih kencang.

Dari sekian banyak wahana yang tersedia, saya hanya mencoba dua wahana yang tidak menantang. Usia, kondisi kesehatan, dan kemampuan diri membuat saya lebih memilih menikmati suasana daripada memaksakan keberanian. Dahulu mungkin saya akan merasa malu jika tidak mencoba wahana-wahana ekstrem. Akan tetapi, semakin bertambah usia, saya justru belajar bahwa tidak semua hal harus dicoba hanya karena orang lain melakukannya.

Setiap orang memiliki batas kemampuan yang berbeda, dan mengenali batas diri juga merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Banyak siswa tampak begitu bersemangat. Mereka berlari dari satu wahana ke wahana lain. Teriakan kegembiraan bercampur dengan gelak tawa memenuhi ruangan. Ada yang berkali-kali mencoba wahana ekstrem karena merasa ketagihan. Ada pula yang awalnya takut, tetapi setelah berhasil mencoba satu kali, keberaniannya tumbuh dan ingin mengulang lagi.

Saya memperhatikan mereka sambil tersenyum. Pemandangan itu mengingatkan saya bahwa setiap fase kehidupan memiliki keindahannya sendiri. Masa muda adalah masa penuh semangat, keberanian, dan rasa ingin tahu yang besar. Sedangkan masa yang lebih matang mengajarkan kehati-hatian, kebijaksanaan, dan kemampuan menikmati sesuatu dengan lebih tenang.

Meski hanya mencoba dua wahana yang sederhana, saya tetap merasa bahagia. Saya tidak datang ke Trans Studio Bandung untuk membuktikan keberanian, melainkan untuk menikmati kebersamaan dan mensyukuri kesempatan yang Allah Subhanahu Wata'alla  berikan. Tidak semua orang memiliki kesempatan berkunjung ke Bandung. Tidak semua orang memiliki kesehatan yang cukup untuk berjalan jauh dan menikmati perjalanan bersama teman-teman. Tidak semua orang memiliki waktu untuk melihat keindahan kota yang selama ini hanya dikenal melalui cerita atau tayangan televisi.

Karena itulah, saya memilih mengabadikan momen-momen tersebut melalui foto. Setiap jepretan kamera bukan sekadar gambar, melainkan saksi perjalanan hidup. Ketika suatu saat nanti foto-foto itu kembali dilihat, mungkin wajah akan bertambah keriput, rambut semakin memutih, dan tenaga tidak lagi sekuat sekarang. 

Kenangan yang tersimpan di dalamnya akan tetap hidup. Saat berdiri untuk berfoto bersama teman-teman dan siswa, saya teringat firman Allah Subhanahu Wata'alla bahwa manusia diperintahkan untuk memperhatikan nikmat-nikmat yang telah diberikan-Nya. Sering kali kita sibuk mengejar sesuatu yang belum dimiliki hingga lupa mensyukuri apa yang sudah ada. Padahal kebahagiaan tidak selalu berasal dari hal yang besar. 

Saya melihat gambaran kehidupan. Ada orang yang berani menaiki wahana paling tinggi. Ada yang memilih wahana sedang. Ada pula yang hanya menonton dari bawah. Semua memiliki pilihan masing-masing. Tidak ada yang salah. Bukankah kehidupan juga demikian? Allah Subhanahu Wata'alla memberikan jalan hidup yang berbeda-beda kepada setiap manusia.

Ada orang yang diuji dengan jabatan tinggi. Ada yang diuji dengan kehidupan sederhana. Ada yang harus menghadapi tantangan besar. Ada pula yang menjalani hari-hari dengan lebih tenang. Yang terpenting bukanlah seberapa tinggi wahana yang kita naiki, melainkan bagaimana kita menjalani perjalanan itu dengan penuh keimanan.

Wahana-wahana ekstrem yang membuat orang berteriak ketakutan juga mengajarkan satu hal. Saat ayunan bergerak tinggi atau kereta meluncur dengan cepat, manusia sadar bahwa dirinya tidak memiliki kendali penuh. Dalam hitungan detik, seseorang bisa merasakan takut, cemas, sekaligus pasrah. Begitulah kehidupan. Kita boleh merencanakan banyak hal, tetapi pada akhirnya Allah-lah yang menentukan hasilnya.

Perjalanan ke Bandung ini menjadi pengingat bahwa umur adalah nikmat yang luar biasa. Dulu mungkin saya hanya mendengar cerita tentang tempat-tempat terkenal di Bandung. Kini Allah Subhanahu Wata'alla mengizinkan saya melihatnya secara langsung. Alhamdulillahirabbil 'alamin. Segala puji bagi Allah Subhanahu Wata'alla yang masih memberikan kesehatan, kesempatan, dan kebahagiaan sederhana dalam perjalanan ini. Foto-foto yang diabadikan saya semakin yakin bahwa setiap langkah yang Allah izinkan untuk kita tempuh selalu menyimpan hikmah yang berharga bagi kehidupan.
Cepu, 16 Juni 2026 

Senin, 15 Juni 2026

Jejak Kapur Tulis "NMK"

Karya : Gutamining Saida 
Minggu pagi 14 Juni 2026  menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi saya. Melalui kegiatan Cepu Walking Tour bertajuk Ngareng Weg, saya berkesempatan menyusuri jejak sejarah yang selama ini mungkin luput dari perhatian masyarakat. Salah satu lokasi yang kami kunjungi adalah bekas Pabrik Kapur Tulis Cap Segitiga "NMK", sebuah industri legendaris yang pernah mengharumkan nama Cepu hingga ke seluruh Indonesia.

Saat berjalan menyusuri Jalan Ngareng bersama para peserta dan narasumber, saya merasakan suasana yang berbeda. Jalan yang tampak biasa ternyata menyimpan kisah panjang tentang perjuangan, kreativitas, dan semangat kewirausahaan masyarakat Cepu pada masa lalu. Di sinilah berdiri salah satu pabrik kapur tulis terbesar yang pernah dimiliki Indonesia.

Narasumber menjelaskan bahwa Pabrik Kapur Tulis Cap Segitiga "NMK" didirikan pada tanggal 9 Maret 1952 oleh seorang pengusaha bernama Ng Moei Koei. Nama "NMK" sendiri merupakan singkatan dari nama pendirinya, sehingga menjadi identitas yang melekat kuat pada produk kapur tulis yang dihasilkannya. Pada awal berdirinya, usaha ini masih berskala industri rumahan yang berlokasi di Jalan Pemuda Nomor 74A Cepu. Lokasi tersebut kini telah berubah menjadi kawasan yang dikenal sebagai Grand Cepu Hotel.

Mendengar penjelasan itu, saya membayangkan bagaimana suasana Cepu pada tahun 1950-an. Di tengah berbagai keterbatasan pasca kemerdekaan, ternyata ada sosok yang berani merintis usaha dan menghasilkan produk yang sangat dibutuhkan dunia pendidikan. Kapur tulis pada masa itu merupakan alat utama yang digunakan guru untuk mengajar di sekolah-sekolah. Hampir setiap ruang kelas membutuhkan kapur tulis setiap hari.

Seiring berjalannya waktu, usaha tersebut berkembang pesat. Pada tanggal 16 Juli 1961, pabrik dipindahkan ke Jalan Ngareng Nomor 24 untuk mendapatkan tempat yang lebih luas dan mendukung peningkatan kapasitas produksi. Dari lokasi baru inilah NMK terus bertumbuh hingga menjadi industri kapur tulis terbesar di Indonesia.

Masa kejayaan Pabrik Kapur Tulis NMK berlangsung antara tahun 1970 hingga 1985. Pada periode tersebut, produk NMK dikenal luas dan digunakan di berbagai daerah di Indonesia. Kapur tulis dengan merek Segitiga menjadi pilihan utama banyak sekolah karena kualitasnya yang baik. Bahkan, masyarakat mengenali merek tersebut hanya dengan melihat gambar segitiga pada kemasannya.

Yang membuat saya semakin kagum adalah jumlah tenaga kerja yang pernah terlibat di pabrik ini. Pada masa jayanya, sekitar 200 orang bekerja di sana. Jumlah tersebut tentu sangat besar untuk ukuran industri lokal pada saat itu. Kehadiran pabrik tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Banyak keluarga yang menggantungkan kehidupan mereka dari aktivitas produksi kapur tulis ini.

Narasumber menjelaskan bahwa bahan utama pembuatan kapur tulis NMK adalah gipsum. Dari bahan tersebut dihasilkan berbagai jenis produk, mulai dari kapur tulis istimewa, kapur bebas debu, hingga kapur warna-warni. Inovasi kapur bebas debu merupakan sebuah terobosan yang sangat maju pada zamannya. Produk tersebut membantu mengurangi debu yang biasa beterbangan saat guru menulis di papan tulis. Sementara itu, kapur warna memberikan variasi dalam proses pembelajaran sehingga materi pelajaran dapat disampaikan dengan lebih menarik.

Saat berdiri di lokasi bekas pabrik, saya membayangkan kesibukan yang pernah terjadi di sana puluhan tahun lalu. Mungkin dahulu terdengar suara mesin bekerja, para pekerja yang hilir mudik membawa bahan baku, serta kendaraan yang mengangkut hasil produksi ke berbagai daerah. Kini suasana itu telah berubah. Namun jejak sejarahnya masih terasa melalui cerita-cerita yang disampaikan oleh narasumber.

Bagi saya, kunjungan ini memberikan pelajaran berharga bahwa sebuah tempat tidak hanya terdiri dari bangunan dan jalan semata. Di balik  tersimpan kisah perjuangan manusia yang patut dikenang. Pabrik Kapur Tulis NMK menjadi bukti bahwa Cepu pernah memiliki industri yang mampu bersaing di tingkat nasional dan memberikan kontribusi besar bagi dunia pendidikan Indonesia.

Saya merasa sangat bahagia dapat mengikuti Cepu Walking Tour Ngareng Weg. Kegiatan ini membuka wawasan saya tentang sejarah kota yang selama ini mungkin hanya saya lewati tanpa mengetahui kisah di baliknya. Saya semakin menyadari bahwa sejarah tidak selalu berada di museum atau buku pelajaran, tetapi juga hidup di jalan-jalan yang kita lalui setiap hari.

Perjalanan menyusuri jalan Ngareng pagi itu bukan sekadar berjalan kaki. Perjalanan tersebut menjadi sebuah perjalanan menelusuri waktu, mengenang masa kejayaan industri lokal, sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan sejarah Kota Cepu. Semoga kisah Pabrik Kapur Tulis Cap Segitiga "NMK" tetap dikenang oleh generasi muda sebagai inspirasi bahwa kerja keras, inovasi, dan ketekunan mampu melahirkan karya besar yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
Cepu, 16 Juni 2026 

Sabtu, 13 Juni 2026

Tanggal Special

 

Tanggal 12 Juni biasanya menjadi salah satu tanggal yang selalu saya tunggu. Bukan karena ada pesta besar atau hadiah yang mewah.  Tanggal itu menyimpan sejarah istimewa dalam perjalanan hidup keluarga saya. Pada tanggal tersebut, saya selalu berusaha menyiapkan sesuatu yang sederhana untuk suami dan ibu tercinta. Kadang hanya makan bersama, menikmati hidangan seadanya, bercengkerama sambil mengenang perjalanan hidup yang telah Allah Subhanahu Wata'alla berikan kepada kami.

Bagi saya, kebersamaan adalah nikmat yang tidak ternilai. Makan bersama bukan sekadar mengisi perut, tetapi menjadi sarana bersyukur atas kesehatan, umur panjang, dan kesempatan untuk berkumpul dengan orang-orang yang Allah Subhanahu Wata'alla titipkan. Karena itulah setiap tahun saya berusaha mengingat tanggal tersebut dan mempersiapkannya dengan penuh rasa syukur.

Namun tahun ini berbeda. Kesibukan dan aktivitas membuat saya lupa. Bahkan pada tanggal 12 Juni itu saya sedang tidak berada di rumah. Sejak pagi hingga siang saya menjalani kegiatan seperti biasa. Tidak ada sesuatu yang terasa berbeda. Saya menjalani hari dengan santai tanpa menyadari bahwa ada tanggal penting yang sedang saya lewati.

Sore hari, ketika membuka handphone genggam, saya membaca beberapa komentar dan pesan dari anak-anak. Mereka menuliskan doa-doa yang indah untuk abah mereka. Ada yang mengucapkan selamat, ada yang mendoakan kesehatan, keberkahan umur, dan kebahagiaan. Saat itulah saya terdiam. Jantung saya seakan berhenti sejenak.

"Ya Allah, hari ini tanggal 12 Juni."

Saya baru sadar bahwa hari istimewa yang biasanya saya persiapkan dengan penuh perhatian ternyata telah saya lewati begitu saja. Tidak ada ucapan khusus sejak pagi. Tidak ada makan bersama. Tidak ada persiapan sederhana seperti tahun-tahun sebelumnya. Perasaan bersalah perlahan memenuhi hati saya.

Sebagai seorang istri dan anak, saya merasa telah lalai. Padahal setiap tahun saya selalu berusaha mengingat dan menghormati hari yang bermakna bagi keluarga. Saya menundukkan kepala dan memandang layar handphpne yang masih dipenuhi doa dari anak-anak.

Allah Subhanahu Wata'alla mengingatkan saya tentang satu hal penting. Manusia memang tempatnya lupa. Bahkan kata "insan" dalam bahasa Arab sering dikaitkan dengan sifat lupa yang melekat pada manusia. Tidak ada manusia yang sempurna. Tidak ada manusia yang terbebas dari kekhilafan.

Saya teringat firman Allah Subhanahu Wata'alla bahwa Dia tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Allah juga Maha Mengetahui isi hati hamba-Nya. Dia mengetahui bahwa kelupaan saya bukan karena tidak sayang, bukan karena tidak peduli, melainkan karena keterbatasan sebagai manusia. Saya segera memanjatkan doa.

"Ya Allah, ampunilah kelalaian ini. Limpahkanlah kesehatan, keberkahan umur, kebahagiaan, dan rahmat-Mu kepada suamiku tercinta dan ibuku tersayang. Jadikan mereka hamba-hamba yang selalu Engkau lindungi dalam setiap langkah kehidupannya."

Sebaliknya, ada orang yang hanya mampu mengangkat kedua tangannya dan berdoa dengan tulus. Doa itulah yang menjadi hadiah paling berharga. Kadang Allah membiarkan kita lupa agar kita menyadari bahwa segala sesuatu tidak selalu berada dalam kendali kita. Kelupaan mengajarkan kerendahan hati. Kelupaan mengingatkan bahwa kita hanyalah manusia biasa yang membutuhkan pertolongan-Nya setiap saat.

Saya semakin memahami bahwa hidup bukan tentang menjadi sempurna. Hidup adalah tentang terus memperbaiki diri. Ketika salah, kita meminta maaf. Ketika lupa, kita mengingat kembali. Ketika lalai, kita segera bertobat dan memperbaikinya.

Kini saya bertekad untuk lebih menghargai setiap momen kebersamaan yang Allah berikan. Sebab kita tidak pernah tahu berapa banyak kesempatan yang masih tersisa. Hari ini kita masih bisa berkumpul, masih bisa berbicara, masih bisa mengucapkan terima kasih dan meminta maaf. Besok belum tentu kesempatan itu masih ada.

Semoga Allah senantiasa menjaga suami tercinta dan ibu tersayang dalam lindungan-Nya. Semoga Allah melimpahkan kesehatan, keberkahan umur, rezeki yang halal, serta kebahagiaan dunia dan akhirat kepada mereka Semoga kelupaan yang saya alami menjadi pengingat bahwa manusia memang tidak luput dari salah dan lupa, tetapi pintu rahmat Allah selalu terbuka bagi hamba yang mau kembali kepada-Nya dengan hati yang tulus.

Alhamdulillahi rabbil ‘ala

Jumat, 12 Juni 2026

Tantangan Di Trans Studio

Karya : Gutamining Saida 
Kunjungan ke Trans Studio Bandung menjadi salah satu rangkaian kegiatan literasi budaya yang saya ikuti bersama siswa-siswi dan beberapa guru pendamping. Sejak awal, saya sudah menyadari bahwa usia saya yang telah memasuki kepala lima membuat pilihan wahana. Jika para siswa begitu antusias mencari wahana yang memacu adrenalin, saya justru lebih menikmati wahana yang tenang dan tidak membuat jantung berdebar terlalu kencang.

Di dalam area Trans Studio yang luas dan megah itu, saya hanya mencoba dua wahana yang menurut saya cukup aman dan nyaman. Pertama, wahana perahu yang berjalan perlahan. Kedua, wahana Bolang yang lebih banyak menyuguhkan petualangan dan hiburan tanpa uji nyali yang berlebihan. Selebihnya, saya lebih banyak berjalan mengelilingi lokasi, mengamati berbagai wahana, serta memperhatikan tingkah laku siswa yang sedang menikmati permainan.

Melihat para siswa berlarian dari satu wahana ke wahana lain mengingatkan saya pada masa muda yang penuh semangat. Mereka tampak tidak mengenal lelah. Ada yang berkali-kali mengantri demi mencoba permainan yang sama. Ada pula yang saling mengajak teman-temannya untuk merasakan sensasi menegangkan yang katanya sangat seru.

Setiap kali saya mendengar suara jeritan keras dari wahana-wahana ekstrem itu, hati saya justru merasa miris. Dari kejauhan terdengar teriakan panjang yang bercampur antara rasa takut dan gembira. Ada yang menutup mata, ada yang memegang erat pengaman, bahkan ada yang berteriak memanggil nama temannya.

Saya berdiri memperhatikan sambil tersenyum kecil. Dalam hati muncul pertanyaan sederhana, mengapa manusia terkadang sengaja mencari rasa takut untuk mendapatkan kesenangan? Mungkin begitulah cara sebagian orang menikmati hidup. Mereka ingin merasakan tantangan, ingin menguji keberanian, dan ingin membuktikan bahwa mereka mampu mengalahkan ketakutan. Tidak ada yang salah dengan hal itu selama masih dalam batas yang wajar dan aman.

Sebagai guru pendamping, tugas saya bukan hanya menemani, tetapi juga memastikan siswa tetap dalam kondisi baik. Setelah mereka turun dari wahana, saya sering mendengarkan cerita dan keluhan mereka.

"Bu, tadi rasanya mau copot jantung saya."
"Bu, tangan saya sampai gemetar."
"Bu, kaki saya masih lemas."
"Bu, dingin sekali tangan saya setelah turun."

Ada pula yang tertawa terbahak-bahak sambil menceritakan bagaimana ia berteriak sepanjang permainan berlangsung. Temannya kemudian menyahut bahwa wajahnya pucat saat wahana mulai bergerak cepat.

Mendengar berbagai cerita itu membuat saya merenung. Untuk sebuah permainan yang hanya berlangsung beberapa menit saja, tubuh manusia bisa memberikan reaksi yang luar biasa. Jantung berdebar cepat, tangan menjadi dingin, kaki terasa lemas, bahkan pikiran menjadi tidak tenang.

Saat itulah saya teringat bahwa dalam kehidupan nyata, manusia juga sering menghadapi "wahana-wahana" yang jauh lebih menegangkan daripada permainan di taman hiburan.
Ada wahana bernama ujian kehidupan.
Ada wahana bernama kehilangan.
Ada wahana bernama sakit.
Ada wahana bernama kegagalan.
Ada pula wahana bernama kematian yang pasti akan didatangi setiap manusia pada waktunya.

Bedanya, jika di taman hiburan kita mengetahui bahwa permainan akan berakhir dalam hitungan menit, maka dalam kehidupan nyata kita tidak pernah tahu kapan ujian akan selesai. Kita juga tidak tahu seberapa berat tikungan yang akan dihadapi. Karena itulah Allah Subhanahu Wata'alla mengajarkan kepada manusia agar selalu bergantung kepada-Nya. Ketika hati takut, ingatlah Allah. Ketika tubuh lemah, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketika masa depan terasa menakutkan, serahkan segala urusan kepada Allah.

Di Trans Studio saya melihat satu pelajaran yang sangat sederhana tetapi bermakna. Para siswa berani menaiki wahana ekstrem karena mereka percaya bahwa ada pengaman yang menjaga keselamatan mereka. Mereka percaya kepada teknologi yang dibuat manusia. Lalu mengapa dalam kehidupan nyata kita sering ragu kepada penjagaan Allah yang Maha Kuasa?

Allah adalah sebaik-baik Penjaga. Allah Subhanahu Wata'alla yang menjaga kita sejak masih berada dalam kandungan ibu. Allah yang mengatur detak jantung tanpa pernah berhenti. Allah yang memberikan udara untuk bernapas setiap saat tanpa kita bayar sedikit pun.

Ketika melihat siswa yang tangannya gemetar setelah turun dari wahana, saya semakin bersyukur masih diberi kesehatan. Saya bersyukur karena tubuh ini masih mampu berjalan mengelilingi area Trans Studio. Bersyukur masih memiliki kesempatan mendampingi siswa di luar kelas. Bersyukur masih diberi umur untuk menyaksikan berbagai pengalaman hidup yang penuh hikmah.

Mungkin sebagian orang datang ke Trans Studio untuk mencari hiburan. Sebagian lagi datang untuk mencari tantangan. Bagi saya, kunjungan itu justru menjadi sarana belajar bersyukur. Saya belajar bahwa usia membawa perubahan. Tidak semua hal yang disukai saat muda masih cocok dilakukan saat usia bertambah. 

Setiap fase memiliki kenikmatannya sendiri. Kini saya lebih menikmati menjadi pengamat daripada pelaku. Saya lebih senang melihat kebahagiaan siswa daripada memaksakan diri mencoba semua wahana. Saya menikmati langkah-langkah santai menyusuri area permainan sambil mengamati berbagai prilaku pengunjung.

Menjelang meninggalkan Trans Studio Bandung, saya memandangi para siswa yang masih penuh semangat meskipun tubuh mereka tampak lelah. Saya tersenyum dan mengucapkan hamdalah dalam hati. Alhamdulillah, Allah Subhanahu Wata'alla masih memberi kesempatan untuk menyaksikan kebahagiaan mereka. Alhamdulillah, perjalanan berlangsung lancar. Kami diberi keselamatan sejak berangkat. 
Cepu, 13 Juni 2026 

Rabu, 10 Juni 2026

Suasana Heboh


Karya: Gutamining Saida 
Alhamdulillah, Allah Subhanahu Wata'alla memberikan banyak nikmat dalam kehidupan. Salah satu nikmat yang sering dianggap sederhana, tetapi memiliki manfaat luar biasa adalah kemampuan untuk tersenyum. Senyum tidak membutuhkan biaya, tidak menguras tenaga, tetapi mampu menghadirkan kebahagiaan bagi diri sendiri maupun orang lain.

Saya bersyukur berada di lingkungan yang penuh kehangatan. Teman-teman di sekitar saya gemar bercanda, bergurau, dan saling menyapa dengan senyum. Suasana seperti ini membuat hari-hari terasa lebih ringan. Beban pekerjaan yang berat seolah berkurang ketika diselingi tawa dan canda yang sehat.

Menurut ajaran Islam, tersenyum bukan sekadar ekspresi wajah. Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam. mengajarkan bahwa senyum adalah bagian dari sedekah. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa senyummu kepada saudaramu adalah sedekah. Betapa indahnya ajaran Islam. Sesuatu yang mudah dilakukan ternyata memiliki nilai ibadah di sisi Allah Subhanahu Wata'alla. 

Senyum yang tulus mampu menghadirkan energi positif. Dari sisi kesehatan, banyak penelitian menjelaskan bahwa tersenyum dan tertawa dapat membantu tubuh melepaskan hormon yang menimbulkan rasa bahagia. Pikiran menjadi lebih rileks, ketegangan berkurang, dan hati terasa lebih tenang. Orang yang sering tersenyum cenderung memiliki hubungan sosial yang lebih baik dibandingkan mereka yang selalu memasang wajah muram.

Tentu senyum yang dimaksud adalah senyum yang wajar dan pada tempatnya. Dalam masyarakat kita sering muncul guyonan, “Yang penting jangan tersenyum sendirian.” Kalimat itu memang mengundang tawa, tetapi mengandung pesan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan kebersamaan. Kebahagiaan akan terasa lebih indah ketika dibagikan bersama orang lain.

Beberapa hari lalu, saya kembali merasakan manfaat dari suasana yang penuh canda dan keakraban. Saat itu saya akan melakukan perjalanan ke luar kota. Sehari sebelum keberangkatan, saya berada di ruang kelas bersama beberapa teman guru. Seperti biasa, suasana berlangsung santai dan penuh kehangatan.
Tiba-tiba Bu Kustini yang akrab dipanggil Bu Kus melontarkan komentar.
“Umi, jangan lupa oleh-olehnya, ya!”
Kalimat sederhana itu langsung menarik perhatian teman-teman yang berada di ruangan. Saya pun tersenyum sambil menjawab,
“Lho, njenengan tidak memberi uang saku kok minta oleh-oleh?”
Mendengar jawaban itu, teman-teman langsung tertawa. Suasana yang semula biasa saja mendadak menjadi ramai. Ada yang tersenyum, ada yang tertawa kecil, dan ada pula yang mulai ikut menimpali.
Bu Kus tidak kalah cepat memberikan jawaban.
“Saya memberi sangu doa, Bu.”
Jawaban itu membuat saya semakin penasaran.
“Sangu doa? Apa itu?”
Dengan wajah serius yang justru membuat teman-teman semakin menahan tawa, Bu Kus menjawab,
“Saya doakan semoga Bu Saida slamet.”

Seketika ruangan pecah oleh gelak tawa. Saya sendiri sempat terdiam beberapa detik sebelum akhirnya ikut tertawa. Rupanya Bu Kus sengaja memainkan kata-kata. Nama saya Saida tiba-tiba berubah menjadi “Saida Slamet”.
“Waduh, nama saya kok berubah jadi Saida Slamet?” kata saya sambil tertawa.
Teman-teman yang mendengar langsung semakin terhibur. Ada yang mengulang-ulang kalimat itu. Ada yang menambahkan komentar lain. Dalam hitungan menit, suasana ruangan menjadi sangat hidup dan penuh canda.

Saya menyadari bahwa momen seperti itu sebenarnya sangat berharga. Bukan semata-mata karena lucunya guyonan tersebut, melainkan karena kebersamaan yang tercipta. Kami dapat tertawa bersama tanpa menyakiti siapa pun. Tidak ada ejekan yang merendahkan. Tidak ada kata-kata kasar yang melukai perasaan. Yang ada hanyalah canda ringan yang membuat hati menjadi gembira.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang menghadapi berbagai persoalan. Ada yang sedang memikirkan kesehatan, ekonomi keluarga, atau pekerjaan yang menumpuk. Terkadang seseorang datang ke tempat kerja dengan membawa beban pikiran yang tidak diketahui orang lain. Dalam kondisi seperti itu, sebuah senyuman tulus atau gurauan sederhana dapat menjadi penawar yang menenangkan hati.

Rasulullah, dikenal sebagai pribadi yang murah senyum. Beliau tidak selalu menunjukkan wajah yang tegang meskipun memikul amanah yang sangat besar. Senyum beliau menghadirkan kenyamanan bagi orang-orang di sekitarnya. Dari teladan itulah kita belajar bahwa keramahan merupakan bagian dari akhlak mulia.

Allah Subhanahu Wata'alla mempertemukan saya dengan orang-orang yang suka menebar senyum agar bisa  belajar mensyukuri hidup. Tidak semua kebahagiaan harus datang dari hal-hal besar. Kadang kebahagiaan hadir melalui percakapan sederhana di ruang guru, melalui candaan spontan yang tidak direncanakan, atau melalui tawa bersama yang muncul begitu saja.

Saya belajar bahwa suasana yang akrab adalah anugerah. Persaudaraan akan semakin kuat ketika diisi dengan saling mendoakan, saling menghargai, dan saling menghibur dalam kebaikan. Tawa yang lahir dari hati yang bersih akan menjadi energi positif yang menyehatkan jiwa.

Semoga Allah Subhanahu Wata'alla senantiasa menghadirkan orang-orang baik. Orang-orang yang mampu mengingatkan saat ketika saya salah, menguatkan saat saya lemah, dan membuat kita tersenyum saat hati sedang penat. Semoga senyum yang kita berikan menjadi sedekah, tawa yang kita bagikan menjadi penghibur, dan kebersamaan yang kita jalin menjadi jalan untuk meraih keberkahan hidup di dunia maupun di akhirat.
Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.
Cepu, 11 Juni 2026 

Selasa, 09 Juni 2026

Perjuangan Kehidupan



Karya : Gutamining Saida 
Minggu sore, Pak Gun memberikan instruksi yang sederhana. Kami diminta meluncur bersama dari ujung kolam menuju bagian tengah. Tidak ada perlombaan, tidak ada penilaian siapa yang paling cepat. Kami hanya diminta bergerak menuju tujuan yang sama.

Ketika peluit ditiup, semua peserta mulai bergerak. Saat itulah saya melihat pemandangan yang menarik. Ada teman yang melaju sangat cepat. Dengan gerakan yang mantap, ia segera meninggalkan peserta lain dan sampai lebih dahulu di titik tujuan. Ada pula yang bergerak perlahan. Gerakannya tidak tergesa-gesa, tetapi terus maju sedikit demi sedikit. Meski lambat, akhirnya sampai di tujuan.

Di sisi lain, ada peserta yang sempat belok ke kanan, belok ke kiri. Ada yang tampak ragu-ragu sehingga arah gerakannya tidak lurus. Bahkan ada yang berhenti sejenak karena merasa lelah atau kehilangan keseimbangan. Pada akhirnya, mereka tetap berusaha melanjutkan perjalanan. Melihat kejadian itu, hati saya tiba-tiba teringat pada perjalanan hidup manusia. Bukankah kehidupan ini juga seperti perjalanan di dalam kolam?

Allah Subhanahu Wata'alla menciptakan setiap manusia dengan kemampuan, rezeki, dan jalan hidup yang berbeda-beda. Ada orang yang sejak muda sudah mencapai banyak keberhasilan. Pendidikan lancar, pekerjaan baik, usaha berkembang, dan kehidupan keluarganya tampak harmonis. Mereka seperti teman yang melaju cepat menuju tujuan.

Ada pula yang harus berjalan pelan. Untuk mencapai satu keberhasilan, mereka memerlukan perjuangan yang panjang. Kadang jatuh, bangun, lalu mencoba lagi. Hasil yang diperoleh mungkin tidak secepat orang lain, tetapi mereka tetap bergerak maju. Mereka seperti peserta yang berenang perlahan namun pasti.

Dalam kehidupan, sering kali kita melakukan kesalahan dengan membandingkan diri dengan orang lain. Ketika melihat orang lain lebih cepat mencapai tujuan, hati menjadi gelisah. Kita bertanya-tanya mengapa hidup kita tidak seindah hidup mereka.

Allah Subhanahu Wata'alla tidak pernah meminta kita menjadi seperti orang lain. Allah hanya meminta kita berusaha dan bersungguh-sungguh menjalani takdir yang telah diberikan kepada kita. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Ayat ini mengajarkan bahwa yang dinilai oleh Allah Subhanahu Wata'alla bukanlah siapa yang paling cepat sampai, melainkan siapa yang terus berusaha dan tidak menyerah.

Saat memperhatikan teman-teman di kolam, saya juga melihat beberapa orang yang sempat bergerak ke arah yang kurang tepat. Ada yang terlalu ke kanan dan ada yang terlalu ke kiri sehingga harus mengoreksi arah kembali. Bukankah ini juga sering terjadi dalam kehidupan?

Manusia terkadang memiliki tujuan yang baik, tetapi dalam perjalanan ia tergoda oleh berbagai hal. Ada yang terlena oleh harta, jabatan, atau pujian manusia. Ada pula yang terlalu sibuk memikirkan urusan dunia hingga melupakan akhirat. Akibatnya, arah perjalanan hidup menjadi menyimpang. Beruntunglah orang yang segera menyadari kesalahannya lalu kembali ke jalan yang benar. Sebab dalam Islam, pintu taubat selalu terbuka selama hayat masih dikandung badan.

Di tengah kolam, saya juga melihat beberapa peserta yang tampak kesulitan. Mereka tidak malu meminta bantuan kepada teman di dekatnya. Ada yang diberi semangat, ada yang diarahkan posisi tubuhnya, dan ada yang dibantu agar lebih tenang. Pemandangan itu mengingatkan bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri. Kita membutuhkan pertolongan orang lain. Karena itulah Islam mengajarkan persaudaraan, dan saling menolong dalam kebaikan.

Sering kali Allah Subhanahu Wata'alla menghadirkan seseorang untuk menjadi jalan pertolongan bagi hamba-Nya. Bisa berupa sahabat yang memberi nasihat, guru yang membimbing, keluarga yang menguatkan, atau bahkan orang asing yang hadir pada waktu yang tepat. Karena itu, tidak sepantasnya kita merasa paling hebat atau paling mampu. Keberhasilan yang kita raih sesungguhnya merupakan karunia Allah yang sering kali disertai bantuan banyak orang di sekitar kita.

Hal lain yang saya pelajari dari terapi di air adalah pentingnya kesabaran. Tidak semua peserta langsung mampu menguasai teknik yang diajarkan. Ada yang harus mengulang berkali-kali. Ada yang membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk menghilangkan rasa takut terhadap air.

Begitu pula dalam kehidupan. Tidak semua doa langsung dikabulkan sesuai keinginan kita. Tidak semua usaha segera membuahkan hasil. Ada masa ketika kita harus menunggu sambil terus berikhtiar dan bertawakal kepada Allah. Kesabaran bukan berarti diam tanpa usaha. Kesabaran adalah tetap melangkah meskipun hasil belum terlihat. Tetap berbuat baik meskipun belum mendapatkan penghargaan. Tetap berdoa meskipun jawaban yang diharapkan belum datang.

Ketika seluruh peserta akhirnya berkumpul di titik tujuan, saya menyadari satu hal penting. Yang tercepat maupun yang terlambat akhirnya sama-sama sampai. Tidak ada yang ditertawakan karena lambat. Tidak ada pula yang dipuji berlebihan karena cepat. Semua mendapatkan pengalaman, pelajaran, dan manfaat sesuai proses yang mereka jalani.

Demikian pula kehidupan manusia. Pada akhirnya kita semua sedang menuju tujuan yang sama, yaitu kembali kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Perbedaan harta, jabatan, kepandaian, maupun kecepatan meraih kesuksesan dunia tidak akan menjadi ukuran utama di hadapan-Nya. Yang akan dinilai adalah iman, ketakwaan, keikhlasan, dan amal saleh yang kita bawa.

Semoga kita termasuk hamba yang istiqamah dalam perjalanan hidup, tidak mudah putus asa ketika langkah terasa lambat, tidak sombong ketika diberi kemudahan, serta senantiasa memohon petunjuk agar tetap berada di jalan yang lurus hingga kelak sampai pada tujuan terbaik, yaitu memperoleh rahmat dan ridha Allah Subhanahu Wata'alla . Aamiin.
Cepu, 10 Juni 2026