Karya: Gutamining Saida
Sebuah pesan sederhana dari pak Gun mampu mengajak kita berhenti sejenak. Kita merenung, lalu menemukan makna kehidupan yang mungkin terlewatkan. Tidak harus melalui ceramah panjang, nasihat yang berlembar-lembar, atau kata-kata bijak dari seorang ahli. Adakalanya, sebuah gambar sederhana yang dibagikan di grup WhatsApp mampu mengetuk hati.
Kala membuka grup Muda Swimming Squad2, pandangan saya tertuju pada sebuah gambar sebathok kopi yang diposting oleh Pak Gun. Di bawah gambar tersebut terdapat keterangan singkat yang membuat saya tersenyum sekaligus berpikir.
“Kopi punya makna sendiri”
"Bathok dari tempurung kelapa."tulis bu Rini.
"KO PIKIRAN" imbuh pak Gun.
"O" komentar bu Rini singkat. menunjukkan rasa paham luar biasa.
Permainan kata yang sederhana, tetapi mengandung pesan yang dalam. Saya membacanya berulang kali. Dalam hati, saya membenarkan makna yang tersirat di balik tulisan tersebut. Betapa banyak persoalan kehidupan yang berawal dari pikiran. Pikiran yang semula sederhana bisa berkembang menjadi beban ketika terlalu banyak dipikirkan, dikhawatirkan, bahkan ditakutkan sebelum sesuatu benar-benar terjadi.
Sebathok kopi yang tampak biasa saja seolah mengajak saya menyelami sesuatu yang luar biasa. Bagaimana manusia memperlakukan pikirannya sendiri?
Manusia dianugerahi akal untuk berpikir, menimbang, belajar, dan mengambil keputusan. Dengan pikiran, kita mampu merencanakan masa depan, menyelesaikan persoalan, serta membedakan mana yang baik dan mana yang perlu dihindari. Namun, pikiran juga bisa menjadi sumber kegelisahan apabila tidak dikelola dengan baik.
Ada orang yang belum menghadapi masalah, tetapi pikirannya sudah dipenuhi berbagai kemungkinan buruk. Belum tentu sesuatu terjadi, tetapi hatinya telah diliputi kecemasan. Belum tentu orang lain bermaksud menyakiti, tetapi pikirannya telanjur menafsirkan perkataan dan sikap orang lain sebagai sesuatu yang menyakitkan.
Akhirnya, tubuh ikut merasakan akibatnya. Tidur menjadi tidak nyenyak, kepala terasa berat, bahu dan leher menegang, bahkan selera makan dapat berubah. Stres berkepanjangan juga bisa memperburuk berbagai keluhan kesehatan.
Saya pun merenung. Selama ini kita terlalu sibuk memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi, sampai lupa menikmati nikmat yang sudah ada di depan mata. Kita memikirkan hari esok, tetapi lupa mensyukuri hari ini. Kita menyesali masa lalu, tetapi lupa bahwa waktu tidak pernah berjalan mundur. Kita sibuk membandingkan kehidupan dengan orang lain, padahal setiap manusia memiliki perjalanan, ujian, dan takdirnya masing-masing.
Bukankah melelahkan apabila pikiran terus bekerja tanpa memberikan kesempatan kepada hati untuk beristirahat?
Saya kemudian membayangkan batok kelapa yang digunakan sebagai wadah kopi. Bentuknya sederhana, permukaannya keras, dan di dalamnya dapat dituangkan minuman yang menghangatkan tubuh. Bathok mengingatkan pada bagian dahi manusia, tempat garis-garis kerutan terkadang tampak ketika seseorang sedang memikirkan banyak persoalan.
Dahi yang semula tampak santai bisa berubah berkerut ketika seseorang sedang menghadapi masalah. Alis bertaut, pandangan menerawang, bibir terkatup rapat. Seolah-olah seluruh beban kehidupan sedang berkumpul di kepala.
Gambaran menjadi perumpamaan yang menarik bagi saya. Betapa mudahnya pikiran yang kusut tercermin dalam ekspresi wajah dan sikap tubuh kita. Pernahkah kita melihat seseorang yang duduk diam, tetapi pikirannya seperti sedang berlari ke berbagai arah? Tubuhnya berada di satu tempat, sementara pikirannya mengembara ke masa lalu, masa depan, persoalan keluarga, pekerjaan, kesehatan, dan berbagai urusan lainnya.
Pikiran memang penting, tetapi tidak semua hal harus dipikirkan secara berlebihan. Ada masalah yang perlu diselesaikan dengan tindakan. Ada persoalan yang perlu dibicarakan baik-baik. Ada pula hal-hal yang harus diterima karena berada di luar kemampuan manusia.
Kita perlu belajar membedakan antara berusaha dan mencemaskan, antara merencanakan dan mengkhawatirkan, serta antara berpikir untuk menemukan jalan keluar dan berpikir tanpa ujung yang justru menguras tenaga.
Kesehatan merupakan nikmat yang sangat berharga. Ketika tubuh terasa sehat, kita sering menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa. Kita bisa berjalan, bekerja, tertawa, bertemu keluarga, menjalankan ibadah, dan melakukan berbagai kegiatan tanpa banyak memikirkan betapa berharganya kemampuan tersebut.
Ketika kesehatan mulai terganggu, barulah kita menyadari bahwa tubuh memiliki keterbatasan. Saya berusaha menjaga kesehatan melalui berbagai ikhtiar, termasuk terapi di kolam renang. Saya belajar bahwa menjaga kesehatan bukan hanya persoalan gerakan tubuh, tetapi juga melatih keberanian, kesabaran, dan ketenangan pikiran.
Ada gerakan yang belum berhasil saya kuasai. Ada rasa takut yang sesekali muncul. Ada saat ketika saya melihat orang lain lebih cepat mengalami kemajuan, sementara saya masih harus berlatih mengulang gerakan yang sama.
Jika pikiran dibiarkan membandingkan diri secara terus-menerus, tentu hati mudah merasa kecil. Akan tetapi, saya berusaha mengingat bahwa setiap orang memiliki kemampuan dan proses belajar yang berbeda. Tugas saya bukan mengalahkan pencapaian orang lain, melainkan memperbaiki diri sesuai kemampuan.
Dari pengalaman, saya semakin memahami pentingnya menjaga pikiran agar tetap sehat. Ketika hati lebih tenang, kita bisa menjalani proses dengan lebih sabar. Ketika kita mampu menerima keterbatasan, kita tidak mudah menyalahkan diri sendiri.
Namun, tidak semua penyakit berasal dari pikiran. Penyakit dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti infeksi, keturunan, lingkungan, pola hidup, dan kondisi tubuh. Pikiran yang tertekan dapat memengaruhi kesehatan, tetapi orang yang sakit bukan berarti kurang bersyukur atau kurang mampu mengendalikan pikirannya.
Ikhtiar sehat tidak hanya berarti menggerakkan tubuh, tetapi juga belajar menerima diri sendiri, mengurangi beban yang tidak perlu, dan menumbuhkan rasa syukur dalam setiap keadaan. Kita berusaha, berdoa, dan bertawakal. Kita boleh memiliki rencana, cita-cita, dan harapan. Tetapi, kita perlu menyadari tidak semua yang kita inginkan akan terjadi sesuai kehendak kita.
Ada pintu yang terbuka setelah perjuangan panjang. Ada pula pintu yang tetap tertutup meskipun kita sudah berusaha sekuat tenaga. Ada doa yang terasa segera terjawab, dan ada doa yang jawabannya belum kita pahami.
Pikiran sering kali menjadi tempat berkumpulnya pertanyaan. Mengapa harus saya? Mengapa tidak sesuai harapan? Mengapa orang lain terlihat lebih mudah menjalani kehidupan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut manusiawi. Kita jangan sampai terus-menerus terperangkap di dalamnya hingga lupa bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang tidak kita ketahui.
Ayat ini menjadi pengingat bagi saya untuk kembali mendekat kepada-Nya ketika pikiran mulai terasa penuh. Bukan berarti setiap persoalan akan langsung hilang setelah berzikir, melainkan zikir membantu saya mengingat bahwa saya tidak menghadapi kehidupan seorang diri. Allah tempat memohon pertolongan, ada doa yang dapat dipanjatkan, dan ada ikhtiar yang tetap harus dijalankan.
Ketika pikiran mulai ruwet, kita belajar berhenti sejenak. Mengambil napas dengan tenang, beristigfar, membaca doa, dan menata kembali persoalan satu demi satu.
Mana yang bisa saya selesaikan hari ini? Mana yang perlu saya bicarakan dengan orang lain? Mana yang harus saya tunggu? Mana yang memang perlu saya serahkan kepada Allah setelah berusaha semampu saya?
Tidak semua persoalan membutuhkan jawaban saat itu juga. Terkadang, yang kita perlukan adalah hati yang lebih tenang agar mampu melihat persoalan dengan jernih.
Kini saya memandang gambar sebathok kopi dari sudut yang berbeda. Bagi sebagian orang, mungkin sekadar gambar kopi dengan permainan kata yang mengundang senyum. Ada pesan kehidupan yang bisa dibawa pulang.
Grup Muda Swimming Squad2 bukan sekadar tempat berbagi informasi tentang jadwal berenang. Di dalamnya ada cerita tentang proses belajar, keberanian mencoba, kegagalan yang mengundang tawa, dan semangat untuk terus berusaha menjaga kesehatan.
Kehadiran Pak Gun dengan pesan sederhana menjadi salah satu warna dalam kebersamaan. Terkadang sebuah arahan disampaikan melalui gerakan di kolam. Terkadang melalui candaan. Kali ini, melalui gambar sebathok kopi.
Mungkin inilah salah satu cara Allah menghadirkan pelajaran dalam kehidupan. Melalui orang-orang di sekitar kita, melalui pengalaman sehari-hari, bahkan melalui sesuatu yang terlihat sepele. Kita hanya perlu belajar peka dan tidak tergesa-gesa melewatkannya.
Saya belajar menikmati kehidupan dengan lebih sederhana. Jika ada masalah, saya berusaha mencari jalan keluar. Jika ada kekurangan, saya belajar memperbaiki diri. Jika ada sesuatu yang belum mampu saya lakukan, saya tidak ingin langsung menyerah. Jika ada hal yang berada di luar kendali, saya belajar menerima sambil terus berdoa.
Saya ingin mengurangi kebiasaan memikirkan sesuatu secara berlebihan. Bukan karena semua persoalan tidak penting, melainkan karena tenaga, waktu, dan ketenangan hati juga perlu dijaga. Hidup terlalu berharga jika hanya dihabiskan untuk mencemaskan hal-hal yang belum tentu terjadi.
Menjaga kesehatan juga berarti belajar mengelola stres, memberikan ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat, memelihara hubungan baik dengan sesama, dan mendekatkan hati kepada Allah. Saya tidak ingin menjadikan pikiran sebagai musuh. Pikiran tetap diperlukan untuk belajar, merencanakan, dan mencari solusi.Saya juga tidak ingin membiarkannya menguasai seluruh ruang kehidupan hingga kebahagiaan hari ini hilang karena kekhawatiran tentang hari esok.
Kita cukup menjalani hari ini dengan ikhtiar terbaik, menjaga amanah tubuh yang Allah titipkan, dan mensyukuri nikmat yang masih dapat dirasakan.
Kopi boleh pahit, tetapi jangan biarkan pikiran membuat kehidupan terasa lebih pahit.
Masalah boleh datang, tetapi jangan sampai kita kehilangan rasa syukur.
Tubuh boleh menua, tenaga boleh terbatas, tetapi semangat untuk berikhtiar.
Semoga Allah Subhanahu Wata' alla senantiasa memberikan kesehatan, ketenangan hati, kejernihan pikiran, dan kekuatan untuk menjalani setiap ujian kehidupan. Semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mampu bersabar ketika diuji, bersyukur ketika diberi nikmat, dan bertawakal setelah berusaha. Aamiin ya Rabbal 'alamin. Terimakasih pak Gun.
Cepu, 15 Oktober 2026