gutaminingsaida SMPN 3 CEPU
Selasa, 09 Juni 2026
Perjuangan Kehidupan
Minggu, 07 Juni 2026
Pejuang Sehat
Karya : Gutamining Saida
Ide menulis pagi ini berasal dari Grup Swimming Squad 2. Seperti biasa, Pak Gun mengirimkan sebuah video latihan yang disertai komentar singkat di bawahnya. Video itu memperlihatkan dua orang peserta terapi renang yang sedang berlatih. Ketika saya perhatikan lebih saksama, ternyata dua orang dalam video tersebut adalah saya dan Bu Aci.
Melihat rekaman itu, hati saya dipenuhi rasa syukur. Saya teringat perjalanan yang telah kami lalui selama beberapa bulan terakhir. Kami datang ke kolam dengan membawa berbagai persoalan dan keluhan kesehatan. Kami memiliki tujuan yang sama, yaitu berikhtiar untuk menjadi lebih sehat, lebih kuat, dan lebih bahagia.
Setiap orang yang datang ke kolam membawa cerita masing-masing. Ada yang ingin mengurangi nyeri pada tubuhnya, ada yang ingin memperbaiki pernapasan, ada pula yang ingin menghilangkan trauma terhadap air. Tidak sedikit yang datang dengan hati yang lelah karena persoalan hidup yang bertubi-tubi.
Saya mengikuti terapi renang, ada rasa takut yang begitu besar. Jangankan berada di bagian kolam yang dalam, melihat air yang tampak gelap saja sudah membuat jantung berdebar lebih cepat. Pikiran buruk sering muncul tanpa diundang. Bagaimana jika tenggelam? Bagaimana jika tidak mampu mengendalikan diri? Bagaimana jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan?
Rasa takut itu ternyata tidak mudah dihilangkan. Saya belajar bahwa keberanian bukanlah keadaan ketika seseorang tidak memiliki rasa takut. Keberanian adalah kemampuan untuk tetap melangkah meskipun rasa takut masih ada.
Pertemuan demi pertemuan kami jalani dengan penuh kesabaran. Pak Gun tidak hanya mengajarkan teknik berenang atau terapi di dalam air. Beliau juga sering menyisipkan pelajaran kehidupan yang sangat berharga. Banyak nasihat sederhana yang ternyata mengandung arti.
Di kolam renang, saya belajar bahwa tubuh yang tegang akan sulit mengapung. Sebaliknya, ketika tubuh rileks dan pikiran tenang, tubuh akan lebih mudah mengapung di atas air. Pelajaran sederhana ini mengingatkan saya pada kehidupan sehari-hari.
Bukankah sering kali kita tenggelam bukan karena masalah yang terlalu besar, melainkan karena hati yang terlalu tegang dalam menghadapinya? Manusia memiliki kewajiban untuk berusaha. Setelah usaha dilakukan, ada saatnya kita harus menyerahkan hasilnya kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Ketika hati dipenuhi kecemasan berlebihan, pikiran menjadi sempit dan langkah terasa berat. Sebaliknya, ketika hati dipenuhi tawakal, jiwa menjadi lebih tenang
Allah Subhanahu Wata'alla berfirman dalam Al-Qur'an bahwa barang siapa bertawakal kepada-Nya, maka Allah akan mencukupkan keperluannya. Ayat ini terasa begitu nyata dalam kehidupan. Banyak persoalan yang dahulu tampak besar ternyata dapat terlewati dengan pertolongan-Nya.
Saya merasakan perubahan yang perlahan tetapi pasti. Rasa berdebar yang dulu sering muncul kini semakin berkurang. Ketakutan yang dahulu menguasai pikiran perlahan mulai meninggalkan saya. Bahkan sesuatu yang dulu terasa mustahil kini mulai bisa saya lakukan.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah ketika saya mulai berani berada di area kolam yang lebih dalam. Dahulu saya selalu mencari tempat yang dangkal agar merasa aman. Kini, dengan pendampingan dan latihan yang teratur, saya mulai berani berada di kedalaman sekitar 200 meter.
Tentu saja keberanian itu tidak muncul dalam semalam. Bim Salabim. Ada proses panjang yang harus dilalui. Ada jatuh bangun, ada keraguan, ada rasa ingin menyerah, dan ada saat-saat ketika saya merasa tidak mengalami kemajuan apa pun. Allah Subhanahu Wata'alla sedang mengajarkan satu hal penting, yaitu kesabaran.
Dalam kehidupan, banyak orang ingin hasil yang cepat. Padahal setiap perubahan membutuhkan proses. Sebagaimana benih yang ditanam tidak langsung menjadi pohon besar, demikian pula kemampuan dan keberanian manusia membutuhkan waktu untuk bertumbuh.
Video yang dikirim Pak Gun pagi ini menjadi saksi perjalanan tersebut. Dalam video itu terlihat saya dan Bu Aci berlatih bersama. Kami tampak tertawa, bercanda, dan menikmati suasana kolam. Tidak ada lagi wajah tegang seperti pada masa-masa awal latihan.
Tawa itu mungkin terdengar sederhana bagi orang lain. Bagi kami, tawa tersebut memiliki makna yang mendalam. Tawa itu adalah tanda bahwa hati mulai menemukan ketenangan. Tawa itu adalah bukti bahwa rasa takut yang dulu begitu besar kini mulai tergantikan oleh rasa percaya diri.
Saya percaya bahwa kebahagiaan adalah salah satu nikmat yang sering terlupakan. Banyak orang menunggu bahagia setelah mendapatkan sesuatu yang besar. Padahal Allah Subhanahu Wata'alla sering menghadirkan kebahagiaan melalui hal-hal kecil yang terjadi setiap hari.
Bisa bernapas dengan lega adalah nikmat. Bisa bergerak tanpa rasa sakit adalah nikmat. Bisa tertawa bersama teman-teman adalah nikmat. Bisa belajar hal baru adalah nikmat. Bahkan bisa bangun pagi dan menyaksikan matahari terbit pun merupakan nikmat yang luar biasa.
Karena itu, pagi ini saya kembali mengucapkan syukur. Syukur kepada Allah Subhanahu Wata'alla, yang telah mempertemukan saya dengan orang-orang baik. Syukur karena diberikan kesempatan untuk terus berikhtiar menjaga kesehatan. Syukur karena diberikan kekuatan untuk menghadapi ketakutan yang dahulu terasa begitu besar.
Saya juga bersyukur atas keberadaan teman-teman di Swimming Squad2 yang selalu saling menyemangati. Kehadiran mereka membuat proses belajar menjadi lebih ringan dan menyenangkan. Kami tidak hanya belajar tentang teknik di dalam air, tetapi juga belajar tentang makna kebersamaan, kesabaran, dan rasa syukur.
Kolam renang ternyata bukan sekadar tempat berolahraga. Bagi saya, kolam telah menjadi ruang pembelajaran kehidupan. Di sana saya belajar tentang keberanian, keikhlasan, kesabaran, dan tawakal. Air mengajarkan bahwa semakin kita melawan dengan ketegangan, semakin berat rasanya. Namun ketika kita percaya, tenang, dan berserah kepada Allah setelah berusaha, banyak hal menjadi lebih mudah. Semoga setiap langkah ikhtiar yang kami lakukan menjadi bagian dari ibadah. Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan. Aamiin.
Cepu, 8 Juni 2026
Senin Berkarya
Bergandengan Tangan
Teriakkannya Mana?
Karya : Gutamining Saida
Minggu sore waktunya untuk berolahraga, kegiatan terapi dan latihan renang. Pak Gun selalu menghadirkan pengalaman yang unik. Tidak hanya melatih fisik, tetapi juga memberikan pelajaran kehidupan yang sering kali sederhana namun bermakna.
Saat latihan hampir selesai. Matahari mulai condong ke barat. Cahaya keemasan memantul di permukaan air kolam, menciptakan pemandangan yang indah dan menenangkan. Setelah berbagai latihan dilakukan, mulai dari meluncur, mengatur pernapasan, hingga mencoba berbagai gerakan, kami mengira kegiatan akan segera ditutup seperti biasa. Pak Gun ternyata masih memiliki satu kegiatan penutup yang harus kami lakukan bersama.
"Ibu-ibu, semuanya berkumpul dulu!" panggil Pak Gun dengan suara lantang.
Kami pun mendekat dan membentuk barisan di dalam kolam. Wajah para peserta terlihat ceria meskipun sebagian tampak lelah setelah berlatih cukup lama. Pak Gun kemudian memberikan instruksi.
"Sekarang angkat kedua tangan ke atas."
Kami mengikuti perintah tersebut. Kedua tangan terangkat tinggi mengarah ke langit.
"Lalu nanti badan masuk ke dalam air. Setelah ada aba-aba peluit, muncul ke permukaan sambil berteriak sekeras-kerasnya. Bayangkan semua beban pikiran, rasa sedih, rasa takut, rasa kecewa, dan penyakit ikut keluar bersama teriakan itu."
Kami mendengarkan dengan saksama. Sebagian mengangguk-angguk, sebagian lagi tersenyum. Saya berpikir bahwa instruksi ini terdengar sederhana. Ternyata ketika harus dilakukan bersama-sama, tidak semudah yang dibayangkan. Peluit pun berbunyi. Tubuh kami serempak masuk ke dalam air. Beberapa detik kemudian kami muncul ke permukaan.
Akan tetapi, sesuatu yang lucu terjadi. Tidak ada teriakan. Tidak ada suara keras. Yang terdengar hanya suara percikan air dan napas peserta yang muncul dari dalam kolam. Semua peserta berdiri dengan wajah biasa saja. Ada yang tersenyum kecil, ada yang menahan tawa, dan ada yang hanya memandang ke kanan dan ke kiri. Pak Gun menatap kami beberapa saat. Kemudian beliau tersenyum sambil menggelengkan kepala.
"Lho, bagaimana ini?" kata beliau sambil tertawa.
"Disuruh teriak keras malah diam semua?"
Mendengar komentar itu, kami langsung saling berpandangan. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba tawa pecah di antara kami. Suasana yang semula hening berubah menjadi penuh gelak tawa. Ada yang menutup wajah karena malu. Ada yang tertawa sambil memegang perut.
Ada pula yang menunjuk temannya sambil berkata, "Saya kira yang lain duluan."
Rupanya semua memiliki pikiran yang hampir sama. Masing-masing menunggu peserta lain memulai teriakan lebih dahulu. Akibatnya tidak ada seorang pun yang bersuara. Pak Gun kembali tersenyum melihat tingkah kami.
"Baik, kita ulang sekali lagi," ujar beliau.
"Tapi kali ini harus sungguh-sungguh. Yang keras ya. Jangan malu. Tidak ada yang akan menertawakan."
Kami mengangguk serempak. Suasana mendadak menjadi lebih serius meskipun senyum masih menghiasi wajah kami. Pak Gun lalu mengangkat tangan memberi aba-aba.
"Saya hitung."
"Satu..." Kami mulai bersiap.
"Dua..." Tubuh perlahan masuk ke dalam air.
"Tiga!" Serentak kami muncul dari dalam kolam.
"Aaaaaaaahhhhhh...!"
Suara teriakan menggema memenuhi area kolam. Kali ini semua kompak. Semua melakukannya dengan penuh semangat. Suasana yang tadinya canggung berubah menjadi sangat meriah. Setelah berteriak, sebagian peserta langsung tertawa. Ada yang tersenyum lega, ada pula yang mengangkat kedua tangan dengan wajah gembira. Pak Gun pun mengacungkan jempol.
"Nah, begitu!"
"Bagus!"
Kami kembali tertawa bersama. Meskipun hanya berupa teriakan singkat, entah mengapa hati terasa lebih ringan. Seakan-akan ada sesuatu yang dilepaskan. Bukan karena teriakan itu memiliki kekuatan ajaib, melainkan karena kami belajar melepaskan ketegangan yang selama ini mungkin tersimpan dalam hati.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia memang sering memikul banyak beban. Ada beban pekerjaan, beban keluarga, beban ekonomi, maupun berbagai persoalan yang tidak selalu dapat diceritakan kepada orang lain. Kadang seseorang terlihat tersenyum di luar, tetapi di dalam hatinya sedang berjuang menghadapi berbagai kesulitan.
Karena itulah, menjaga kesehatan tidak hanya berkaitan dengan tubuh, tetapi juga pikiran dan jiwa. Sebagai orang beriman, kita meyakini bahwa tempat terbaik untuk mencurahkan segala beban adalah kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Dalam setiap salat, doa, dan dzikir, seorang hamba dapat mengadukan segala kesulitan yang dirasakannya.
Allah berfirman bahwa dengan mengingat-Nya hati menjadi tenteram. Ketenteraman itulah yang sesungguhnya dicari oleh setiap manusia. Manusia memang perlu belajar melepaskan beban. Setelah itu, beban tersebut hendaknya diserahkan kepada Allah yang Maha Kuasa.
Kita boleh berusaha menjaga kesehatan melalui olahraga, terapi, dan aktivitas positif lainnya. Akan tetapi, kesembuhan yang sesungguhnya tetap berasal dari Allah Subhanahu Wata'alla. Rasa sedih, kecewa, dan berbagai persoalan hidup. Kita berikhtiar mengelolanya dengan baik, tetapi hati tetap bersandar kepada-Nya.
Setelah kegiatan selesai, Pak Gun kembali memberikan senyum khasnya.
"Ya, boleh pulang, Ibu-Ibu."
"Sampai jumpa Minggu depan."
Ucapan sederhana itu langsung disambut oleh kami dengan wajah ceria.
"Siap, Pak!"
"Sampai jumpa!"
Sebagian peserta masih tertawa mengingat kejadian saat percobaan pertama yang gagal total karena semua diam membisu. Peristiwa sederhana itu justru menjadi kenangan yang menyenangkan. Kebahagiaan bisa muncul dari tawa yang sederhana, dan hati yang bersyukur. Hidup akan terasa lebih ringan ketika dijalani dengan hati yang gembira, tubuh yang sehat, persaudaraan yang erat, serta keyakinan bahwa Allah selalu menemani setiap langkah perjalanan kita. Semoga kebersamaan yang penuh kebaikan itu terus terjaga, dan setiap pertemuan menjadi sarana untuk semakin bersyukur atas nikmat kesehatan, persahabatan, dan kesempatan beribadah yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wata'alla. Aamiin
Cepu, 7 Juni 2026
Gaya Dollpin
Karya: Gutamining Saida
Sabtu sore kembali menjadi waktu yang saya tunggu-tunggu. Seperti biasanya, kami berkumpul di kolam renang untuk mengikuti latihan dan terapi bersama Pak Gun. Setiap pertemuan selalu menghadirkan pengalaman baru, ilmu baru, sekaligus hikmah kehidupan yang dapat direnungkan. Sore itu, materi yang kami pelajari adalah gaya dolpin atau gaya lumba-lumba.
Saat mendengar nama gaya lumba-lumba, saya sempat berpikir gerakan tersebut tidak terlalu sulit. Bayangan saya, gerakannya hanya meniru ikan lumba-lumba yang meluncur di air. Setelah mulai mempraktikkannya, ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Gerakan ini membutuhkan kelenturan tubuh, koordinasi gerak, serta kemampuan mengatur napas dengan baik.
Beberapa kali saya mencoba, tubuh terasa kaku. Gerakan kaki dan badan belum selaras. Napas menjadi pendek sehingga membuat saya engos-engosan. Setelah meluncur beberapa meter, tenaga terasa cepat terkuras. Saya kembali ke tepi kolam sambil mengatur napas.
"Masih belum pas," gumam saya dalam hati.
Saya teringat bahwa setiap kemampuan memerlukan proses. Tidak ada orang yang langsung mahir dalam satu kali percobaan. Begitu pula dalam kehidupan. Banyak hal yang Allah Subhanahu Wata'alla ajarkan melalui proses panjang agar manusia belajar bersabar dan tidak mudah menyerah.
Saya kembali mencoba. Lagi dan lagi. Kadang berhasil meluncur lebih jauh, kadang justru kehilangan keseimbangan. Sesekali air masuk ke hidung sehingga membuat saya batuk kecil. Meskipun demikian, suasana tetap menyenangkan. Tidak ada rasa malu. Tidak ada rasa takut ditertawakan. Yang ada justru semangat untuk terus belajar.
Setelah beberapa kali mencoba sendiri, Pak Gun meminta kami berkumpul. Beliau mengarahkan agar kami berbaris dari ujung kiri kolam hingga ujung kanan. Jarak antar peserta sekitar rentang satu tangan. Kami berdiri berjajar sambil menunggu instruksi berikutnya.
Pemandangan itu sungguh menarik. Ada yang sudah mulai bisa melakukan gerakan lumba-lumba dengan baik. Ada yang masih terlihat kaku. Ada pula yang gerakannya membuat teman-teman tersenyum karena unik dan lucu. tidak ada satu pun yang mengejek. Semua tertawa dalam suasana persaudaraan.
Ketika salah seorang peserta berhasil melakukan gerakan dengan baik, spontan terdengar tepuk tangan dan tawa bahagia.
"Alhamdulillah, sudah bisa!" seru seseorang.
Peserta yang berhasil hanya tersenyum malu-malu, sementara yang lain ikut merasa senang.
Sebaliknya, ketika ada peserta yang belum berhasil, teman-teman tidak mencemooh. Mereka justru memberikan semangat.
"Ayo, Bu, pasti bisa!"
"Coba lagi, sedikit lagi sudah benar."
Kalimat-kalimat sederhana itu terdengar begitu hangat. Tawa yang muncul bukanlah tawa yang melukai hati, melainkan tawa yang menguatkan. Tawa yang lahir dari kebersamaan. Tawa yang menghilangkan beban dan membuat suasana semakin akrab.
Bukankah kehidupan yang indah memang seperti itu? Ketika seseorang berhasil, kita ikut bahagia. Ketika seseorang belum berhasil, kita membantu dan menyemangatinya. Tidak ada iri hati, tidak ada dengki, dan tidak ada keinginan menjatuhkan orang lain.
Di kolam, perbedaan usia, profesi, jabatan, bahkan latar belakang seolah melebur menjadi satu. Semua sama-sama menjadi murid yang sedang belajar. Semua pernah gagal. Semua pernah minum air kolam. Semua pernah melakukan kesalahan gerakan. Karena itulah tidak ada alasan untuk merasa lebih hebat daripada yang lain.
Suasana seperti ini mengingatkan saya pada ajaran agama tentang pentingnya ukhuwah atau persaudaraan. Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wa Sallam mengajarkan agar sesama manusia saling menolong dalam kebaikan dan saling menguatkan. Orang beriman ibarat satu tubuh. Ketika satu bagian merasakan kesulitan, bagian lain ikut merasakan dan membantu.
Nilai kebaikan saya lihat nyata di kolam renang. Tidak ada yang merasa senang ketika temannya gagal. Tidak ada yang bangga melihat orang lain kesulitan. Sebaliknya, semua berharap temannya berhasil dan berkembang.
Yang paling menarik adalah soal emosi. Di kolam renang, saya jarang sekali melihat orang marah atau sakit hati. Mungkin karena suasananya penuh kegembiraan. Mungkin juga karena air membantu menenangkan pikiran. Atau bisa jadi karena semua orang datang dengan niat belajar dan memperbaiki diri.
Ketika seseorang melakukan kesalahan gerakan, ia tertawa. Ketika gerakannya belum benar, ia mencoba lagi. Ketika berhasil, ia bersyukur. Tidak ada ruang bagi kesombongan maupun kemarahan. Betapa indahnya jika suasana seperti ini dapat dibawa ke kehidupan sehari-hari. Ketika menghadapi masalah, kita tetap tersenyum. Ketika gagal, kita tidak putus asa. Ketika melihat orang lain berhasil, kita ikut bahagia. Ketika melihat saudara kita kesulitan, kita memberikan dukungan.
Latihan gaya lumba-lumba bukan sekadar belajar berenang. Ada pelajaran besar yang saya peroleh. Allah Subhanahu Wata'alla mengajarkan bahwa keberhasilan membutuhkan kesabaran. Allah Subhanahu Wata'alla juga mengingatkan bahwa kebahagiaan sering kali hadir melalui kebersamaan, bukan melalui persaingan yang tidak sehat.
Menjelang latihan berakhir, kami kembali berkumpul di tepi kolam. Wajah-wajah peserta terlihat cerah. Sebagian masih membahas gerakan yang baru dipelajari. Sebagian lagi tertawa mengenang kejadian lucu selama latihan. Meskipun belum sepenuhnya menguasai gaya lumba-lumba, saya merasa memperoleh sesuatu yang jauh lebih berharga.
Kebahagiaan tidak selalu ditemukan di tempat-tempat mewah. Terkadang kebahagiaan hadir di kolam renang sederhana, melalui tawa teman-teman yang saling mendukung, melalui perjuangan yang dilakukan bersama, dan melalui hati yang selalu mengingat Allah Subhanahu Wata'alla dalam setiap aktivitas.
Semoga setiap langkah, setiap kayuhan tangan, setiap gerakan di dalam air, serta setiap ilmu yang kami pelajari menjadi sarana untuk menjaga kesehatan, mempererat persaudaraan, dan menambah rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Karena pada akhirnya, tujuan hidup bukan hanya menjadi pandai berenang, melainkan menjadi manusia yang lebih baik, lebih sabar, lebih rendah hati, dan lebih dekat kepada Sang Pencipta. Alhamdulillah, satu kesimpulan yang sama bahwa bisa atau belum bisa, berhasil atau masih belajar, ujung-ujungnya adalah bahagia.
Cepu, 7 Juni 2026
Kamis, 04 Juni 2026
Silaturrahmi ke Bu Neni
Karya: Gutamining Saida
Kadang Allah Subhanahu Wata'alla menghadirkan kebaikan bukan melalui perencanaan yang matang, melainkan melalui bisikan hati yang sederhana. Begitulah yang saya rasakan. Pada suatu ketika saya keliling Cepu. Tidak ada agenda khusus, tidak ada janji yang dibuat sebelumnya. Tiba-tiba terlintas dalam pikiran untuk bersilaturahmi ke Bu Neni, seorang penjual "Tan Cang Djo".
Ide itu muncul begitu saja. Mungkin bagi sebagian orang hal tersebut hanyalah keinginan sesaat. Saya percaya bahwa setiap niat baik yang muncul bisa jadi merupakan jalan yang Allah Subhanahu Wata'alla bukakan untuk mempererat persaudaraan.
"Dik, ayo mampir ke Bu Neni," ucap saya kepada anak yang saat itu mengendarai sepeda motor.
"Oke, siapa takut," jawabnya dengan semangat.
Motor pun melaju membelah jalanan Cepu. Angin malam terasa sejuk menyentuh wajah. Saya sendiri sebenarnya belum mengetahui lokasi rumah Bu Neni. Yang saya tahu hanya perkiraannya saja. Ketika motor tiba-tiba berbelok memasuki sebuah lorong kecil, saya menjadi penasaran.
"Lho... lho... mau ke mana nich?" tanya saya.
"Katanya mau mampir bu Neni," jawab anak saya singkat.
"Memang masih ingat rumahnya?" tanya saya lagi.
Anak saya hanya diam sambil terus menjalankan motornya. Beberapa saat kemudian motor berhenti di depan sebuah warung sederhana.
"Nah, sudah sampai." ucap dia.
Saya memandang sekeliling. Alhamdulillah, ternyata benar. Kami berhasil menemukan warung "Tan Cang Djo" Bu Neni. Hati saya dipenuhi rasa syukur. Di zaman sekarang, ketika banyak orang sibuk dengan urusan masing-masing, kesempatan untuk menjalin silaturahmi adalah nikmat yang patut disyukuri. Ketika kami mengucapkan salam, Bu Neni menyambut dengan wajah cerah penuh keramahan.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam. Lho, siapa nich," sambut beliau dengan hangat.
"Mbak Faiz bu." jawab anak saya.
Senyumnya seolah menghapus rasa lelah. Beliau menerima kami dengan penuh kegembiraan. Kami pun berbincang-bincang ringan. Menanyakan kabar, kesehatan, dan berbagai hal sederhana yang justru membuat hati terasa dekat. Tidak ada pembicaraan tentang urusan yang berat. Hanya percakapan penuh kehangatan yang mengingatkan bahwa manusia memang diciptakan untuk saling menguatkan.
Dalam hati saya teringat sabda Rasulullah bahwa siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi. Hadis tersebut bukan sekadar nasihat, tetapi pedoman hidup yang luar biasa. Silaturahmi terkadang cukup dengan berkunjung, menyapa, menanyakan kabar, dan menunjukkan perhatian yang tulus.
Di tengah perbincangan, saya memperhatikan wajah Bu Neni yang tampak bahagia menerima kedatangan kami. Saya pun merasakan kebahagiaan yang sama. Ternyata kebahagiaan itu menular. Ketika datang energi positif kepada orang lain.
Saya semakin yakin bahwa salah satu penyebab hati terasa sempit adalah ketika kita sibuk dengan diri sendiri. Sebaliknya, ketika kita meluangkan waktu untuk mengunjungi saudara, teman, atau kenalan, hati menjadi lebih lapang. Kita hidup ini tidak dijalani sendirian.
Di zaman media sosial seperti sekarang, banyak orang merasa sudah cukup bersilaturahmi hanya dengan memberikan tanda suka atau mengirim pesan singkat. Memang baik, tetapi bertemu langsung memiliki nilai yang berbeda. Ada senyum yang terlihat nyata, ada jabat tangan yang menghangatkan persaudaraan, ada doa yang terucap secara langsung, dan ada kebahagiaan yang tidak bisa digantikan oleh layar telepon genggam.
Sebelum berpamitan, saya meminta anak saya untuk mengambil foto bersama Bu Neni.
"Mari Bu, foto sebentar."
Beliau tersenyum dan mengiyakan. Jepretan kamera sederhana itu sebenarnya bukan sekadar untuk mengabadikan momen. Saya memiliki niat lain. Foto tersebut ingin saya kirim ke grup terapi renang yang selama ini menjadi tempat kami saling berbagi semangat dan inspirasi.
Saya berharap ketika teman-teman melihat foto tersebut, mereka juga tergerak untuk melakukan hal yang sama. Mungkin ada yang teringat sahabat lamanya. Ada yang ingin mengunjungi guru yang pernah berjasa. Ada yang ingin menyambung hubungan dengan kerabat yang lama tidak ditemui.
Bukankah kebaikan akan semakin indah jika menginspirasi orang lain untuk melakukan kebaikan yang serupa? Perjalanan pulang, hati saya dipenuhi rasa syukur. Saya menyadari bahwa umur manusia memang terbatas. Kesempatan berbuat baik selalu terbuka selama napas masih berhembus. Karena itu, jangan menunda silaturahmi. Jangan menunggu hari raya atau acara khusus. Jika ada kesempatan, datanglah. Jika ada waktu, sempatkanlah.
Siapa tahu, kunjungan sederhana yang kita lakukan hari ini menjadi sebab bertambahnya keberkahan hidup, bertambahnya persaudaraan, dan bertambahnya pahala di sisi Allah Subhanahu Wata'alla.
Semoga Allah Subhanahu Wata'alla. senantiasa menjaga tali persaudaraan di antara kita, melembutkan hati untuk saling memaafkan, melapangkan rezeki, menyehatkan jasmani dan rohani, serta menjadikan setiap langkah silaturahmi sebagai jalan menuju ridha-Nya. Aamiin ya Rabbal 'alamiin
Cepu, 5 Juni 2026
Rabu, 03 Juni 2026
Saling Menguatkan
Karya: Gutamining Saida
Kamis pagi itu suasana grup WhatsApp Muda Swimming Squad 2 terasa hangat dan penuh semangat. Seperti biasa, Pak Gun, pelatih renang sekaligus pembimbing terapi yang selama ini membersamai para peserta, menyapa seluruh anggota grup dengan keramahan.
Beliau mengirimkan sebuah foto dirinya mengenakan baju koko bermotif kotak-kotak yang dipadukan dengan peci hitam. Penampilannya sederhana, tetapi memancarkan kesan bersahaja. Di bawah foto tersebut tertulis pesan singkat.
"Assalamualaikum, selamat pagi. Salam sehat buat semuanya."
Sapaan sederhana itu seolah menjadi pembuka hari yang menyenangkan bagi para anggota grup. Tidak hanya memberikan salam, Pak Gun juga membagikan beberapa video latihan renang dan terapi yang pernah dilakukan bersama para peserta.
Salah satu video yang menarik perhatian memperlihatkan enam belas peserta berdiri di dalam kolam sambil bergandengan tangan membentuk lingkaran besar. Mereka tampak tersenyum, saling menatap, dan mengikuti arahan dengan penuh semangat.
Di bawah video tersebut Pak Gun menuliskan kalimat yang sangat menyentuh.
"Saling menguatkan satu sama lain. Saling mensupport satu dengan yang lain"
Kalimat itu mungkin sederhana, tetapi mengandung pelajaran hidup yang sangat dalam. Manusia memang tidak diciptakan untuk hidup sendiri. Dalam menjalani kehidupan, setiap orang membutuhkan bantuan, dukungan, perhatian, dan doa dari orang lain. Ketika seseorang sedang lemah, yang lain hadir menguatkan. Saat ada yang kehilangan semangat, sahabat-sahabatnya hadir memberikan motivasi.
Tidak lama kemudian, Bu Sulikah membalas pesan tersebut.
"Waalaikumsalam. Pagi juga, Pak Gun."
Balasan itu segera mendapat tanggapan dari Pak Gun.
"Bu Sulikah, sehat?"
Pertanyaan sederhana yang menunjukkan kepedulian. Di dalam sebuah kelompok yang penuh kekeluargaan, perhatian kecil seperti itu sering kali mampu menghadirkan kebahagiaan tersendiri.
Bu Sulikah pun menjawab dengan jujur.
"Alhamdulillah, tangannya agak kram gara-gara makan sate kambing, Pak."
Membaca jawaban tersebut, Pak Gun langsung menanggapi dengan nada bercanda.
"Looooh, habis berapa tusuk?"
Pertanyaan itu membuat suasana grup semakin cair. Bu Sulikah tidak menjawab dengan angka, melainkan hanya mengirimkan gambar tertawa.
Melihat hal itu, Pak Gun kembali menambahkan komentar yang membuat para anggota grup tersenyum.
"Sate itu enak, tetapi tidak mengenakkan juga."
Ucapan tersebut mengandung humor sekaligus nasihat. Makanan yang lezat memang nikmat disantap, tetapi jika berlebihan tentu dapat menimbulkan dampak yang kurang baik bagi kesehatan. Dalam ajaran agama pun, manusia diajarkan untuk tidak berlebihan dalam segala hal, termasuk dalam urusan makan dan minum.
Allah Subhanahu Wata'alla berfirman agar manusia makan dan minum, tetapi tidak berlebih-lebihan. Allah Subhanahu Wata'alla tidak menyukai orang-orang yang berlebihan. Pesan tersebut sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari. Banyak penyakit muncul bukan karena kekurangan makanan, melainkan karena tidak mampu mengendalikan keinginan.
Percakapan ringan di grup terus berlanjut. Anggota yang lain mulai memberikan respons, baik berupa gambar, komentar, maupun candaan yang membuat suasana semakin hidup. Meski hanya melalui media digital, kehangatan persaudaraan tetap terasa.
Menariknya, kebersamaan yang terjalin di grup tidak hanya terjadi saat berada di dunia maya. Hubungan yang akrab itu telah terbangun sejak mereka berlatih bersama di kolam renang. Di sana mereka belajar bukan hanya tentang teknik berenang atau terapi air, melainkan juga tentang kehidupan.
Saat berada di kolam, mereka saling membantu. Peserta yang sudah mahir dengan sabar mendampingi yang masih belajar. Mereka saling menyemangati ketika ada yang merasa takut masuk ke air. Mereka saling memberi tepuk tangan ketika ada yang berhasil melakukan gerakan yang sebelumnya belum mampu dilakukan.
Lingkaran yang dibentuk dalam video itu menjadi simbol persaudaraan yang indah. Bentuk lingkaran tidak memiliki ujung dan pangkal. Semua berada pada posisi yang sama. Tidak ada yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah. Semuanya saling terhubung dan saling menguatkan.
Begitulah seharusnya kehidupan seorang muslim. Persaudaraan tidak dibangun atas dasar kepentingan pribadi, melainkan atas dasar kasih sayang dan keikhlasan. Rasulullah mengajarkan bahwa orang-orang beriman itu ibarat satu tubuh. Jika satu bagian merasakan sakit, maka bagian yang lain ikut merasakan dan berusaha membantu.
Nilai-nilai seperti itulah yang tampak dalam komunitas renang dan terapi. Ketika ada anggota yang sakit, yang lain mendoakan. Ketika ada yang berhalangan hadir, yang lain menanyakan kabarnya. Saat ada yang berhasil mencapai kemajuan dalam terapi, semua ikut bergembira.
Kebersamaan semacam ini merupakan nikmat yang patut disyukuri. Tidak semua orang memiliki lingkungan yang penuh dukungan dan kepedulian. Karena itu, menjaga silaturahmi menjadi hal yang sangat penting.
Dari sebuah foto, beberapa video, dan percakapan ringan tentang sate kambing, tersimpan pelajaran yang sangat berharga. Bahwa hidup akan terasa lebih ringan ketika dijalani bersama orang-orang yang saling mendukung. Bahwa kesehatan bukan hanya soal tubuh yang kuat, tetapi juga hati yang bahagia karena memiliki sahabat-sahabat yang peduli.
Semoga kebersamaan yang terjalin dalam Muda Swimming Squad 2 terus terjaga. Semoga setiap anggota selalu diberikan kesehatan, keselamatan, dan keberkahan oleh Allah . Semoga semangat saling menguatkan, saling mendoakan, serta saling membantu dapat terus tumbuh, tidak hanya di dalam kolam renang, tetapi juga dalam setiap langkah kehidupan. Sesungguhnya manusia yang terbaik bukanlah yang hidup untuk dirinya sendiri, melainkan yang mampu memberi manfaat dan menguatkan orang lain di sekitar.
Cepu, 4 Juni 2026
Selasa, 02 Juni 2026
Fotoku Tak ada?
Karya: Gutamining Saida
Minggu pagi menjadi hari yang menyenangkan. Saya bersama beberapa teman berkesempatan mengunjungi Kracaan Sungai Ketuwan. Tujuannya untuk menikmati keindahan alam yang masih asri. Udara segar, gemericik air, serta suasana pedesaan yang tenang menjadi obat bagi penatnya rutinitas sehari-hari.
Perjalanan menuju lokasi terasa istimewa karena kami diantar oleh Mbak Nafi. Beliau asli Ketuwan sehingga sangat mengenal daerah tersebut. Rumahnya pun tidak jauh dari lokasi wisata yang kami tuju. Selain ramah, Mbak Nafi juga memiliki jiwa melayani yang luar biasa.
Sejak awal, beliau sudah menunjukkan perhatian yang membuat kami merasa nyaman. Beliau mengantar kami menuju lokasi, menunjukkan jalan-jalan yang harus dilalui, sekaligus menceritakan berbagai hal menarik tentang daerah Ketuwan.
Sesampainya di Kracaan, perhatian Mbak Nafi tidak berhenti sampai di situ. Ia membawa tas kresek berisi berbagai jajanan untuk kami nikmati bersama di tepi sungai. Suasana menjadi semakin hangat. Di tengah rindangnya pepohonan dan suara air yang mengalir, kami bercengkerama sambil menikmati makanan ringan yang telah dipersiapkannya. Aneka sunduk an, ada rasa pedas, asin.
Tidak hanya itu, Mbak Nafi juga dengan sabar mengabadikan berbagai momen. Ia memotret kami dari berbagai sudut. Sesekali ia mengambil video agar kenangan indah hari itu dapat tersimpan lebih lengkap. Ia tampak begitu sibuk memastikan semua orang mendapatkan dokumentasi terbaik.
Kami tersenyum, berpose, dan menikmati setiap momen tanpa banyak berpikir. Semua berjalan begitu alami. Mungkin karena terlalu menikmati suasana, kami tidak menyadari satu hal yang ternyata cukup penting. Hari itu hampir semua orang memiliki foto. Kecuali satu orang. Yaitu orang yang memotret.
Keesokan harinya, Mbak Nafi mengirimkan hasil dokumentasi melalui pesan WhatsApp. Foto-foto dan video yang dikirim sangat bagus. Berbagai sudut keindahan Kracaan berhasil ia abadikan dengan apik. Kami pun merasa senang melihat kembali kenangan yang baru saja terjadi sehari sebelumnya.
Setelah melihat satu per satu dokumentasi tersebut, Mbak Nafi tiba-tiba mengirim pesan.
"Lho, saya kok nggak kepikiran ikut foto ya?"
Kalimat itu sederhana, tetapi seolah mengandung sedikit penyesalan yang baru disadari. Rupanya setelah semua dokumentasi selesai dibagikan, beliau baru menyadari bahwa tidak ada satu pun foto dirinya bersama kami. Tidak ada foto saat menikmati jajanan. Tidak ada foto saat duduk di tepi sungai. Tidak ada foto saat menikmati pemandangan. Tidak ada foto kebersamaan yang melibatkan dirinya.
Beliau hadir sepanjang perjalanan, tetapi tidak terekam dalam kenangan visual yang dibuatnya sendiri. Kemudian beliau menambahkan pesan lagi.
"Kalau tahu, saya ikut foto."
Saya bisa memahami perasaannya. Kadang saat sedang sibuk melayani orang lain, seseorang lupa memberi ruang bagi dirinya sendiri. Ia terlalu fokus membuat orang lain bahagia hingga lupa menjadi bagian dari kebahagiaan itu. Untuk menenangkan hati beliau, saya menjawab dengan santai.
"Kapan-kapan kalau ada kesempatan lagii ya. Saya juga nggak kepikiran mengajak Mbak Nafi nimbrung foto."
Jawaban itu bukan sekadar hiburan. Memang benar adanya. Saat itu tidak ada seorang pun yang terpikir bahwa fotografernya belum ikut masuk ke dalam bingkai. Lalu muncul sebuah kalimat yang membuat saya merenung cukup lama.
"Oh iya, kecewa itu datang belakangan ya." benar sekali. ucap mbak Nafi.
Kecewa sering kali tidak datang saat peristiwa terjadi. Kecewa justru muncul setelah semuanya selesai. Saat seseorang mulai membandingkan. Saat seseorang mulai mengingat. Saat seseorang mulai melihat apa yang terlewat. Bukankah banyak hal dalam kehidupan seperti itu?
Ketika masih sehat, kita tidak merasa kehilangan apa pun. Saat sakit datang, barulah kita menyadari betapa berharganya kesehatan. Ketika orang tua masih ada, kita menganggap kehadiran mereka sebagai sesuatu yang biasa. Setelah mereka tiada, kerinduan datang perlahan dan menghadirkan penyesalan. Ketika kesempatan masih terbuka, kita sering menundanya. Setelah kesempatan berlalu, barulah rasa kecewa muncul. Kecewa memang sering datang belakangan. Dari situlah Allah mengajarkan hikmah kepada manusia.
Bahwa tidak semua hal harus disesali. Ada beberapa hal yang cukup dijadikan pelajaran. Mbak Nafi mengajarkan sesuatu yang sangat berharga kepada kami. Beliau memberi pelayanan terbaik tanpa mengharapkan balasan apa pun. Semua dilakukan dengan tulus dan penuh kebahagiaan.
Fotonya tidak ada , ama dan kebaikannya justru tersimpan dalam hati kami. Foto bisa hilang. Video bisa terhapus. File bisa rusak. Tetapi kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas akan tetap hidup dalam ingatan orang-orang yang menerimanya.
Saya yakin Allah tidak pernah lupa mencatat setiap bentuk pelayanan, perhatian, dan kebaikan yang dilakukan seorang hamba. Allah melihat seluruh kebaikan yang ia lakukan sejak awal hingga akhir perjalanan. Dan itu jauh lebih sempurna daripada sekadar sebuah foto. Semoga suatu saat nanti kami dapat kembali berkunjung ke Kracaan Sungai Ketuwan.
Orang yang selalu mengabadikan kebahagiaan orang lain juga pantas untuk diabadikan dalam kebersamaan. Dari peristiwa sederhana itu saya belajar satu hal. Kecewa kadang datang belakangan, tetapi bila disikapi dengan bijaksana, ia akan berubah menjadi pembelajaran yang mendewasakan
Cepu, 2 Juni 2026
Rahasia Tentang Rezeki
Karya: Gutamining Saida
Sejuknya udara pagi, hangatnya mentari yang menyapa dari ufuk timur selalu menjadi pengingat yang indah tentang betapa luasnya kasih sayang Sang Pencipta. Dalam keheningan dan kedamaian, hati ini kembali bertafakur, merenungi sebuah janji pasti dari Sang Maha Pemberi Rezeki, Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sebuah ketetapan yang telah tertulis rapi di Lauhul Mahfudz jauh sebelum kita dilahirkan ke dunia ini: bahwa rezeki setiap makhluk yang bernapas di atas hamparan bumi ini telah dijamin dan ditentukan oleh-Nya. Tidak ada satu pun makhluk melata yang luput dari pandangan-Nya, dan tidak ada satu pun yang akan diwafatkan sebelum seluruh jatah rezekinya diberikan secara sempurna.
Sebagai manusia yang dhaif, terkadang mata kita terlalu sempit dalam memaknai kata "rezeki". Sering kali, pikiran kita hanya terpaku pada lembaran uang, harta benda, jabatan, atau kemewahan duniawi semata. Padahal, jika kita mau menundukkan hati dan menatap lebih dalam, definisi rezeki jauh lebih luas dan lebih indah dari sekadar materi. Hembusan napas yang teratur tanpa bantuan alat medis, tubuh yang sehat sehingga mampu melangkah ke tempat ibadah, akal yang waras, hingga kebahagiaan batin dan ketenangan jiwa semua itu adalah rezeki yang nilainya tidak dapat diukur dengan emas permata. Memiliki keluarga yang harmonis dan dikelilingi oleh orang-orang yang saleh dan tulus juga merupakan rezeki luar biasa yang patut disyukuri setiap detiknya.
Dalam ajaran agama kita yang mulia, rasa syukur memegang peranan yang sangat sentral. Allah Ta'ala telah berjanji dengan janji yang tidak akan pernah diingkari, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan tambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. Ibrahim: 7). Bersyukur bukan sekadar mengucapkan Alhamdulillah di lisan, tetapi juga meyakini dalam hati bahwa segala kebaikan datangnya dari Allah, dan menggunakan nikmat tersebut untuk ketaatan. Siapa yang pandai bersyukur, hatinya akan senantiasa merasa cukup, dan dari rasa cukup itulah Allah akan melipatgandakan karunia-Nya.
Satu hal yang senantiasa menjadi penyejuk hati dan penghilang rasa gundah gulana adalah keyakinan mutlak bahwa rezeki tidak akan pernah tertukar. Layaknya maut yang tahu persis ke mana ia harus menjemput, rezeki pun tahu ke mana ia harus berlabuh. Apa yang ditakdirkan menjadi milik kita, tidak akan pernah jatuh ke tangan orang lain, betapa pun kerasnya orang lain mencoba merebutnya. Sebaliknya, apa yang bukan menjadi hak kita, tidak akan pernah sampai kepada kita, betapa pun kuatnya kita mengejar.
Rezeki Allah memiliki cara kerja yang sangat misterius dan mengagumkan. Ia bisa datang dari pintu mana saja yang Allah kehendaki, bahkan sering kali dari arah yang sama sekali tidak pernah kita sangka-sangka. Allah Maha Kuasa untuk menggerakkan hati hamba-hamba-Nya, menjadikan mereka sebagai perantara atau jalan sampainya sebuah rezeki kepada kita. Aamiin.
Pengalaman mengenai rezeki yang tak terduga ini sangat saya rasakan pada hari Minggu. Keadaan berubah menjadi hari yang penuh dengan limpahan keberkahan. Tanpa pernah saya rencanakan atau saya bayangkan sebelumnya, Allah menghadirkan rezeki-Nya yang berlimpah melalui perantara tangan-tangan orang baik di sekitar.
Dengan senyumnya yang tulus dan wajahnya yang senantiasa memancarkan kebaikan, beliau sampaikan buah tangan saat saya akan pulang. Bukan sekadar nilai dari barang yang beliau bawa, melainkan perhatian, waktu, dan keikhlasan yang mengiringinya membuat hati ini bergetar. Mbak Nafia menjadi jalan pertama yang menyadarkan saya bahwa Allah sedang menyapa saya melalui kepedulian seorang sahabat. Interaksi kami yang hangat, tawa yang lepas, dan rasa persaudaraan yang menguat, adalah rezeki kebahagiaan batin yang melengkapi rezeki materi yang beliau berikan.
Belum habis rasa syukur ini terucap atas kebaikan Mbak Nafia, pada hari yang sama, Allah kembali membuka pintu rezeki-Nya melalui perantara yang lain. Bu Yani , Beliau membawa kebaikan yang tak kalah melimpah, berbagi sebagian dari apa yang dimilikinya dengan hati yang sangat lapang. Sikap Bu Yani yang dermawan dan penuh kasih sayang membuat saya merasa sangat kecil sekaligus sangat bersyukur. Hari Minggu menjadi saksi bisu bagaimana Allah menghujani saya dengan nikmat yang bertubi-tubi lewat dua wanita berhati mulia ini.
Peristiwa tersebut menjadi renungan mendalam bagi saya. Saya menyadari bahwa Mbak Nafia dan Bu Yani adalah kepanjangan tangan dari kasih sayang Allah. Hati mereka digerakkan oleh Dzat Yang Maha Membolak-balikkan Hati untuk berbagi rezeki dengan saya. Melalui kebaikan mereka, saya belajar tentang arti keikhlasan, tentang indahnya berbagi, dan tentang kebenaran janji Allah bahwa rezeki akan senantiasa mencari pemiliknya dengan cara yang tak terduga.
Dari lubuk hati yang paling dalam, saya menengadahkan kedua tangan, memanjatkan doa dan harapan terbaik untuk kedua sosok luar biasa ini. Ya Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, jadikanlah sedekah dan kebaikan yang telah diberikan oleh Mbak Nafia dan Bu Yani sebagai pemberat timbangan amal kebaikan mereka di Yaumul Hisab kelak. Balaslah keikhlasan mereka dengan rezeki yang jauh lebih banyak, lebih berkah, dan tidak terputus.
Karuniakanlah kepada Mbak Nafia dan Bu Yani kesehatan agar mereka dapat terus menebar manfaat bagi sesama. Lindungilah keluarga mereka, jadikanlah rumah tangga mereka sakinah, mawaddah, warahmah. Berikanlah kedamaian di hati mereka, dan angkatlah segala kesulitan yang mungkin sedang mereka hadapi. Semoga setiap langkah kaki mereka senantiasa berada dalam naungan ridha-Mu, dan semoga Allah menjadikan mereka sebagai ahli surga-Nya kelak.
Tugas kita di dunia ini hanyalah terus berikhtiar dengan jalan yang halal, berserah diri (tawakkal), dan senantiasa melangitkan syukur. Karena pada akhirnya, di balik setiap rezeki yang kita terima, ada cinta Allah yang tak terhingga, yang sering kali dititipkan melalui senyum dan kebaikan orang-orang di sekitar kita. Alhamdulillahi rabbil 'alamin.
Cepu, 3 Juni 2026
Senin, 01 Juni 2026
Nostalgia
Karya : Gutamining Saida
Hari Minggu menjadi hari yang istimewa bagi saya. Sejak beberapa hari sebelumnya, hati sudah dipenuhi kerinduan untuk kembali mengunjungi Kedungtuban. Sebuah tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan dalam perjalanan hidup saya. Daerah itu bukan sekadar wilayah yang pernah menjadi rumah kedua atau saya lewati pagi dan siang hari. Ia saksi berbagai kisah perjuangan, persahabatan, pengabdian, dan pembelajaran hidup yang diberikan Allah Subhanahu Wata'alla.
Saya berangkat dengan perasaan bahagia. Tujuan utama bukan hanya sekadar berjalan-jalan, melainkan bernostalgia menyusuri jalanan yang dahulu begitu akrab dengan kehidupan sehari-hari. Ketika kendaraan mulai memasuki wilayah Kedungtuban, berbagai kenangan lama bermunculan satu per satu. Ingatan saya kembali pada masa-masa ketika jalanan masih dipenuhi bebatuan dan lubang yang cukup banyak. Saat musim hujan, jalan menjadi licin dan berlumpur bahkan kubangan air. Ketika musim kemarau tiba, debu beterbangan mengikuti setiap kendaraan yang melintas.
Hari minggu tanggal 31 Mei 2026 pemandangan yang saya lihat sungguh berbeda. Jalanan yang dulu penuh tantangan kini telah berubah menjadi mulus dan nyaman dilalui. Perjalanan terasa lebih cepat dan aman. Saya tersenyum menyaksikan perubahan tersebut. Saya bersyukur karena pembangunan yang dilakukan pemerintah telah memberikan manfaat bagi masyarakat.
Rumah-rumah penduduk yang dahulu sederhana kini banyak yang berdiri megah dan tertata rapi. Beberapa bahkan sudah bertingkat dengan halaman yang asri. Daerah yang dulu terlihat lengang kini semakin ramai dan berkembang. Persawahan yang dahulu terbentang luas di beberapa sudut wilayah telah berubah menjadi kawasan pemukiman. Deretan rumah baru berdiri menunjukkan bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat.
Melihat perubahan itu membuat saya merenung. Waktu memang terus berjalan tanpa pernah berhenti. Tidak ada yang tetap selain perubahan itu sendiri. Apa yang dahulu terlihat biasa, kini berubah menjadi lebih maju. Satu hal yang tidak boleh berubah adalah rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wata'alla yang telah memberikan berbagai nikmat kepada manusia.
Dalam Al-Qur'an Allah mengingatkan bahwa jika manusia bersyukur, maka Allah Subhanahu Wata'alla akan menambah nikmat-Nya. Ketika melihat perkembangan Kedungtuban, saya merasakan betapa besar karunia Allah Subhanahu Wata'allayang diberikan kepada masyarakat di sana. Kemajuan yang terlihat bukan semata-mata hasil kerja manusia, tetapi juga karena izin dan pertolongan-Nya.
Malam sebelum keberangkatan, saya sudah menghubungi beberapa teman yang tinggal di sekitar Kedungtuban. Saya berharap dapat bertemu dan berkumpul bersama untuk melepas rindu. Sudah cukup lama kami tidak berjumpa secara langsung. Kesibukan pekerjaan, urusan keluarga, dan berbagai aktivitas lainnya membuat kesempatan bertemu menjadi semakin jarang.
Saya mengirim pesan kepada beberapa sahabat. Alhamdulillah, mereka menyambut dengan hangat. Ada yang langsung merespons dengan antusias, ada pula yang mengatakan akan berusaha datang jika tidak ada halangan. Saya memahami bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab dan kesibukan masing-masing.
Ketika hari yang dinanti tiba, ternyata tidak semua teman dapat hadir. Ada yang sedang memiliki keperluan keluarga, ada yang sedang bekerja, dan ada pula yang memiliki agenda lain yang tidak bisa ditinggalkan. Mereka tetap menghubungi saya dan menyampaikan harapan agar saya berkenan mampir ke rumah mereka.
Saat itu saya kembali belajar tentang takdir dan ketentuan Allah Subhanahu Wata'alla. Manusia boleh merencanakan pertemuan, tetapi Allah yang menentukan bagaimana pertemuan itu terjadi. Kadang kita berharap berkumpul ramai-ramai, tetapi yang terjadi justru kunjungan sederhana dari rumah ke rumah. Di balik semua itu selalu ada hikmah yang indah.
Saya kemudian menyempatkan diri berkunjung ke rumah Bu Yani. Kehadiran saya disambut dengan penuh keramahan dan kehangatan. Kami berbincang tentang banyak hal, mengenang masa lalu, bertukar cerita tentang keluarga, kesehatan, pekerjaan, dan berbagai pengalaman hidup yang telah dilalui.
Silaturahmi memang memiliki keistimewaan tersendiri. Rasulullah mengajarkan bahwa siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung tali silaturahmi. Saat duduk bersama dan berbincang penuh keakraban, saya merasakan sendiri nikmatnya silaturahmi yang mampu menghangatkan hati dan mempererat persaudaraan.
Waktu terasa berjalan begitu cepat. Tanpa terasa saatnya berpamitan untuk pulang. Saya berpikir bahwa hari itu saya sudah mendapatkan hadiah terbesar berupa kesempatan bertemu dan bersilaturahmi. Allah Subhanahu Wata'alla menyiapkan kejutan lain yang tidak pernah saya duga sebelumnya.
Ketika hendak meninggalkan rumah Bu Yani, beliau memberikan sekarung makanan ternak untuk dibawa pulang. Saya sempat terkejut sekaligus terharu menerima pemberian tersebut. Tidak pernah sedikit pun saya datang dengan niat mengharapkan sesuatu. Tujuan saya murni untuk bersilaturahmi dan melepas kerinduan setelah sekian lama tidak bertemu.
Saat itulah saya kembali diingatkan tentang salah satu rahasia kehidupan yang sering kali terlupakan. Rezeki memang sudah diatur Allah Subhanahu Wata'alla dengan cara yang tidak selalu dapat ditebak oleh manusia. Terkadang rezeki datang dari arah yang tidak pernah diperkirakan. Kadang datang melalui orang yang tidak disangka-sangka. Kadang pula hadir dalam bentuk yang sederhana tetapi sangat bermanfaat.
Saya teringat sebuah keyakinan yang selalu saya pegang bahwa rezeki tidak akan pernah tertukar. Apa yang menjadi bagian seseorang akan tetap sampai kepadanya meskipun harus melalui berbagai jalan dan peristiwa. Sebaliknya, apa yang bukan menjadi haknya tidak akan pernah bisa dimiliki walaupun dikejar dengan berbagai cara.
Perjalanan nostalgia ke Kedungtuban akhirnya memberikan banyak pelajaran berharga. Saya tidak hanya menyaksikan perubahan fisik sebuah daerah, tetapi juga merasakan kehangatan persahabatan, nikmatnya silaturahmi, dan bukti nyata bagaimana Allah Subhanahu Wata'alla mengatur segala sesuatu dengan sangat indah.
Di sepanjang perjalanan pulang, saya bersyukur masih diberi kesehatan untuk melakukan perjalanan. Bersyukur masih memiliki sahabat-sahabat yang baik. Bersyukur dapat menyaksikan kemajuan daerah yang pernah menjadi bagian dari kehidupan saya. Dan tentu saja bersyukur atas rezeki yang Allah Subhanahu Wata'alla titipkan melalui tangan orang-orang yang tulus.
Semakin bertambah usia, semakin saya menyadari bahwa hidup bukan sekadar tentang apa yang kita miliki. Hidup adalah tentang bagaimana kita mensyukuri setiap nikmat yang Allah Subhanahu Wata'alla berikan. Sebab ketika hati dipenuhi rasa syukur, maka sekecil apa pun pemberian akan terasa besar, dan sesederhana apa pun peristiwa akan menghadirkan kebahagiaan.
Alhamdulillah, perjalanan nostalgia ke Kedungtuban bukan hanya mengobati kerinduan, tetapi juga memperkuat keyakinan bahwa Allah Subhanahu Wata'alla adalah sebaik-baik Pengatur kehidupan. Dialah yang mempertemukan manusia, menggerakkan hati-hati untuk bersilaturahmi, dan mengalirkan rezeki melalui jalan-jalan yang tidak pernah terduga. Maka tiada kata yang pantas terucap selain hamdalah yang terus mengalir dari hati, "Alhamdulillahi rabbil 'alamiin."
Cepu, 1 Juni 2026
Menikmati Alam
Karya: Gutamining Saida
Hari Minggu menjadi hari yang sangat saya rindukan. Setelah enam hari disibukkan dengan berbagai aktivitas, tiba saatnya memberikan kesempatan kepada tubuh, pikiran, dan hati untuk beristirahat. Saya memilih melakukan refreshing dengan menikmati keindahan alam yang masih asri dan alami. Bukan ke tempat mewah atau pusat keramaian, melainkan ke sebuah sungai yang menawarkan ketenangan, kesejukan, dan berbagai pelajaran kehidupan yang berharga.
Saya berangkat bersama anak dan ibu tercinta. Di lokasi yang sama hadir pula sahabat lama saya, Bu Endang, bersama anak dan cucunya. Pertemuan tersebut terasa begitu istimewa. Sudah satu setengah tahun kami jarang bertemu sejak saya meninggalkan Kedungtuban. Kesibukan masing-masing membuat komunikasi tidak seintens dulu. Karena itulah kesempatan bertemu kali ini menjadi momen yang sangat berharga.
Sesampainya di lokasi, mata saya langsung dimanjakan oleh panorama alam yang begitu indah. Air sungai mengalir jernih di antara bebatuan besar dan kecil. Dari tepian sungai tampak dasar sungai yang dipenuhi batu-batu dengan berbagai ukuran dan warna. Air yang mengalir memantulkan sinar matahari sehingga terlihat berkilauan seperti permata yang berserakan.
Saya memandangi aliran sungai itu dengan penuh kekaguman. Dalam hati terlintas firman Allah bahwa pada penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda kebesaran-Nya bagi orang-orang yang berpikir. Semakin saya memperhatikan alam, semakin terasa betapa luar biasanya kuasa Allah Subhanahu Wata'alla. Tidak ada satu pun manusia yang mampu menciptakan keindahan seperti ini. Semua tersusun begitu sempurna sesuai kehendak Sang Pencipta.
Suara gemuruh air yang mengalir menjadi musik alam yang menenangkan jiwa. Percikan-percikan air yang menghantam bebatuan menciptakan irama yang indah. Tidak ada suara kendaraan, tidak ada hiruk-pikuk kota, yang terdengar hanya nyanyian alam yang mengajak hati untuk berdzikir dan mengingat kebesaran Allah Subhanahu Wata'alla.
Kami berjalan menyusuri tepian sungai. Sesekali kaki menginjak tanah liat yang licin. Tantangan kecil itu justru menambah keseruan. Kami harus berhati-hati agar tidak terpeleset. Saat itulah saya teringat bahwa kehidupan juga penuh dengan jalan licin yang dapat membuat manusia jatuh kapan saja. Karena itu manusia membutuhkan pegangan yang kuat berupa iman dan takwa agar tidak mudah tergelincir dalam kesalahan.
Di beberapa bagian sungai terdapat batu-batu besar yang harus dilalui dengan penuh keberanian. Langkah demi langkah kami jalani dengan hati-hati. Jantung berdegup lebih cepat, tubuh bergerak lebih aktif, dan tanpa sadar aktivitas tersebut menjadi olahraga yang menyehatkan. Saya bersyukur karena Allah Subhanahu Wata'alla masih memberikan kesehatan sehingga dapat menikmati ciptaan-Nya secara langsung.
Sambil menikmati suasana, kami saling bercengkerama. Saya dan Bu Endang banyak mengenang masa-masa ketika masih sering bersama di Kedungtuban. Berbagai cerita lama kembali hadir dalam percakapan. Ada kisah lucu yang membuat kami tertawa, ada pula kenangan yang menghadirkan rasa haru. Waktu memang terus berjalan, namun persahabatan yang dibangun dengan ketulusan ternyata tetap bertahan meskipun dipisahkan oleh jarak dan kesibukan.
Saya memandang ibu yang tampak bahagia menikmati suasana. Kehadiran beliau menjadi nikmat tersendiri. Tidak semua orang masih memiliki kesempatan berjalan bersama ibu di usia yang semakin bertambah. Dalam hati saya berdoa semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan, umur yang berkah, dan kebahagiaan kepada beliau.
Anakdan cucu bu Endang terlihat gembira bermain di sekitar sungai. Tawa mereka berpadu dengan suara aliran air menciptakan suasana yang hangat dan penuh kebersamaan. Saya menyadari bahwa kebahagiaan sejati sering kali hadir dari hal-hal sederhana. Tidak harus mahal, tidak harus mewah. Kebersamaan keluarga dan sahabat dalam suasana penuh syukur sudah cukup menghadirkan kebahagiaan yang luar biasa.
Di sela-sela menikmati pemandangan, saya mengingat tentang perjalanan hidup. Waktu satu setengah tahun ternyata terasa begitu cepat berlalu. Banyak peristiwa yang telah terjadi, banyak perubahan yang telah dialami. Sungai itu tetap mengalir sebagaimana mestinya. Dari sana saya belajar bahwa kehidupan harus terus berjalan. Seperti air sungai yang tidak pernah berhenti mengalir menuju muara, manusia pun harus terus melangkah menuju tujuan akhir kehidupannya.
Air sungai yang jernih juga mengingatkan saya tentang pentingnya menjaga kebersihan hati. Jika hati dipenuhi iri, dengki, dan kebencian, maka kejernihannya akan hilang. Sebaliknya, hati yang dipenuhi rasa syukur, ikhlas, dan sabar akan memancarkan ketenangan sebagaimana jernihnya air sungai yang mengalir.
Semakin lama berada di sana, semakin terasa ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Kerinduan yang selama ini tersimpan perlahan terobati. Pertemuan dengan sahabat lama, kebersamaan dengan keluarga, serta keindahan alam ciptaan Allah Subhanahu Wata'alla seolah menjadi obat bagi hati yang lelah.
Saya merasakan kesejukan bukan hanya pada tubuh yang terkena percikan air sungai, tetapi juga pada jiwa yang selama ini dipenuhi berbagai kesibukan. Rasanya seperti hati yang kering diguyur hujan rahmat. Segala penat, lelah, dan kerinduan perlahan larut bersama aliran air yang terus bergerak menuju hilir.
Menjelang pulang, saya memandangi sungai itu sekali lagi. Dalam hati saya mengucapkan syukur kepada Allah Subhanahu Wata'alla atas nikmat kesehatan, kesempatan, keluarga, sahabat, dan keindahan alam yang masih dapat dinikmati. Saya menyadari bahwa setiap perjalanan bukan sekadar rekreasi, tetapi juga sarana untuk semakin mengenal kebesaran Sang Pencipta.
Semoga setiap langkah yang kami tempuh menjadi pengingat bahwa hidup ini adalah perjalanan menuju Allah.Semoga kehidupan kita pun senantiasa mengalir menuju ridha-Nya. Semoga setiap keindahan yang kita saksikan di dunia semakin menambah rasa syukur, keimanan, serta kecintaan kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Aamiin.
Cepu, 1 Juni 2026










