Minggu, 08 Maret 2026

Menu Sahur Special

 


Karya : Gutamining Saida

Ketika seseorang melihat foto menu sahur saya, mungkin akan muncul senyum kecil atau bahkan komentar dalam hati. “Lha, hanya telur mata sapi dan tempe goreng saja kok dibilang spesial?” Sekilas memang terlihat sangat sederhana. Tidak ada lauk mewah, tidak ada hidangan beraneka ragam seperti yang sering terlihat di meja makan saat sahur. Hanya nasi, telur mata sapi, dan dua potong tempe goreng.

Bagi saya, menu sahur itu terasa sangat istimewa. Keistimewaannya bukan terletak pada mahalnya bahan makanan atau banyaknya lauk yang tersaji. Keistimewaan itu justru terletak pada tangan yang memasak dan hati yang menyertainya. Menu sahur itu disiapkan khusus untuk saya oleh suami tercinta.

Di hari-hari biasa, peran di dapur saya yang lebih banyak mengambil bagian. Menyiapkan sarapan, memasak lauk sederhana, atau sekadar membuat minuman hangat untuk keluarga adalah hal yang biasa saya lakukan. Suami biasanya tinggal menikmati hidangan yang sudah siap. Ada sesuatu yang berbeda di hari ini.

Ramadan seolah membawa suasana baru dalam keluarga kami. Bulan yang penuh berkah ini tidak hanya mengajarkan tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menumbuhkan rasa kasih sayang, perhatian, dan pengorbanan di antara anggota keluarga.

Suami malam hari datang menghampiri saya sambil membawa sebuah kotak styrofoam. Dengan wajah penuh ketulusan, beliau menyodorkannya kepada saya. Di dalamnya ada nasi hangat, telur mata sapi, dan dua potong tempe goreng yang baru saja dimasak.

Sederhana, tetapi terasa begitu istimewa. Saya tersenyum haru. Bukan karena makanannya yang mewah, melainkan karena perhatian yang terkandung di dalamnya. Saya tahu, menu itu dibuat dengan penuh ketulusan. Dimasak dengan bumbu cinta, kasih sayang, dan niat ibadah kepada Allahbhanahu Wata'alla.

Ramadan memang bulan yang mengajarkan banyak hal kepada manusia. Salah satunya adalah belajar melayani dan memberi tanpa pamrih. Suami saya  biasanya menikmati masakan yang saya buat, kali ini justru mengambil peran sebaliknya. Beliau melayani saya. Menyiapkan makanan sahur dengan tangannya sendiri. Sebuah hal yang sederhana, tetapi bagi saya sangat berarti.

Mungkin ada yang berpikir, “Apakah saya sedang sakit sehingga harus dilayani seperti itu?”Tidak. Alhamdulillah saya dalam keadaan sehat. Letak keindahan Ramadan. Bulan ini seolah membuka pintu hati manusia untuk lebih peduli, lebih perhatian, dan lebih lembut kepada orang-orang terdekatnya. Suami menjadi lebih perhatian kepada keluarga. 

Semua yang dilakukan terasa berbeda ketika diniatkan karena Allah Subhanahu Wata'alla. Dalam Islam, melayani keluarga juga merupakan bentuk ibadah. Bahkan Rasulullah pernah memberi teladan dengan membantu pekerjaan rumah tangga. Dari situlah kita belajar bahwa kebaikan tidak selalu harus berupa hal besar. Hal-hal kecil yang dilakukan dengan ikhlas pun memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah Subhanahu Wata'alla.

Telur mata sapi dan tempe goreng itu akhirnya saya nikmati dengan penuh rasa syukur. Setiap suapan terasa hangat, bukan hanya karena nasinya yang masih mengepul, tetapi juga karena cinta yang menyertainya.

Saya teringat bahwa nikmat Allah tidak selalu datang dalam bentuk yang besar dan mencolok. Kadang ia hadir dalam bentuk yang sangat sederhana. Sepiring nasi hangat di waktu sahur. Suami yang dengan tulus menyiapkannya. Keluarga yang saling menyayangi.

Semua itu adalah karunia yang patut disyukuri. Ramadan memang bulan yang penuh keberkahan. Bukan hanya pahala ibadah yang dilipatgandakan, tetapi juga kesempatan untuk memperbaiki diri, mempererat hubungan keluarga, dan menumbuhkan rasa kasih sayang.

Suami melakukan semua itu bukan untuk dipuji, bukan pula untuk terlihat hebat. Harapan beliau hanya satu, yaitu mendapatkan ridho Allah Subhanahu Wata'alla. Dengan melayani keluarga, dengan berbuat baik kepada orang terdekat, beliau berharap setiap amal kecil itu menjadi jalan menuju keberkahan hidup.

Kebahagiaan tidak selalu datang dari hal yang besar. Kadang kebahagiaan justru hadir dari hal-hal sederhana yang dilakukan dengan hati yang tulus. Nasi, telur mata sapi, dan tempe goreng itu menjadi saksi bahwa cinta dalam keluarga tidak selalu harus diungkapkan dengan kata-kata. Ia bisa hadir dalam tindakan kecil yang penuh perhatian. Di dalamnya ada cinta, ada perhatian, dan ada doa yang sama: semoga semua yang kami lakukan menjadi ibadah dan mendapat ridho dari Allah Subhanahu Wata'alla. Aamiin

Cepu, 9 Maret 2026

Terapi Menulis

 


Karya: Gutamining Saida

Dalam hidup ini, manusia sering kali dihadapkan pada berbagai kesempatan untuk belajar memperbaiki diri. Kadang kesempatan itu datang dalam bentuk nasihat, pengalaman hidup, ataupun sebuah kegiatan yang tampak sederhana tetapi memiliki makna. Salah satu kesempatan yang Allah Subhanahu Wata'alla hadirkan kepada saya adalah mengikuti terapi menulis dengan tema Keberanian dan Percaya Diri yang dipandu oleh Bapak M. Afif, ST., CHA.

Awalnya saya mengira kegiatan ini hanya sekadar latihan menulis biasa. Menulis huruf demi huruf dengan pena di atas kertas. Setelah mengikuti prosesnya, saya menyadari bahwa kegiatan ini bukan hanya tentang tulisan yang rapi. Lebih dari itu, terapi menulis ini adalah latihan kesabaran, ketekunan, dan pengendalian diri.

Kegiatan terapi ini terdapat beberapa aturan atau rule yang harus dipatuhi oleh para peserta. Aturan pertama adalah menyediakan alat tulis berupa pena dan buku tulis. Kedua, mengikuti materi yang diberikan dengan sungguh-sungguh. Ketiga, menyetor tulisan setiap pagi dan malam. Keempat, menjaga komitmen selama proses berlangsung. Dan yang kelima adalah melakukan investasi sukarela sebagai bentuk keseriusan dalam mengikuti program.

Aturan-aturan tersebut tampak sederhana, tetapi bagi saya tidak selalu mudah untuk menjalankannya. Dalam keseharian, saya memiliki berbagai aktivitas lain yang juga menuntut perhatian dan waktu. Ada kegiatan keluarga, pekerjaan, serta berbagai urusan lain yang kadang datang bersamaan. Di tengah kesibukan itu, saya harus meluangkan waktu khusus untuk menulis dan menyetorkan tugas sesuai jadwal.

Di sinilah tantangan mulai terasa. Salah satu tantangan terbesar yang saya rasakan adalah keterbatasan waktu. Ketika jadwal sudah penuh dengan berbagai kegiatan, terkadang muncul rasa lelah dan keinginan untuk menunda tugas. Saya teringat bahwa setiap proses belajar pasti membutuhkan pengorbanan.

Selain itu, saya juga menyadari ada sifat dalam diri saya yang sering menjadi penghambat, yaitu kebiasaan tergesa-gesa. Saya sering ingin segera menyelesaikan tugas dengan cepat. Pikiran saya berkata, “Yang penting selesai.” Padahal dalam terapi menulis ini yang ditekankan bukan sekadar selesai, melainkan proses yang benar, teliti, dan penuh kesadaran.

Beberapa kali ketika saya menulis dengan tergesa-gesa, hasil tulisan menjadi kurang rapi. Garis huruf tidak seimbang, bentuknya kurang konsisten, bahkan terkadang ada kesalahan yang seharusnya bisa dihindari jika saya lebih sabar.

Di sinilah peran pembimbing menjadi sangat penting. Bapak M. Afif, ST., CHA selalu dengan sabar mengoreksi setiap tugas yang peserta kirimkan. Beliau tidak hanya menilai, tetapi juga memberikan arahan yang sangat detail. Komentar beliau sering kali sederhana, tetapi sangat bermakna untuk perbaikan kami.

Beberapa komentar yang pernah beliau berikan antara lain, “Good, awas ada rebah variasi.” Ada juga yang berbunyi, “Good, huruf ‘t’ dibuat lurus.” Pernah pula beliau memberikan arahan, “Sekarang coba setinggi dua zona, sekalian tonton video huruf ‘P’.” Masih banyak lagi komentarnya.

Komentar-komentar tersebut membuat saya tersenyum sekaligus berpikir. Ternyata dalam menulis pun ada banyak hal yang harus diperhatikan. Tidak hanya bentuk huruf, tetapi juga keseimbangan, tinggi huruf, dan konsistensi gerakan tangan.

Setiap kali membaca komentar beliau, saya merasa seperti sedang diingatkan untuk lebih teliti dan lebih sabar. Saya juga merasakan bahwa beliau tidak hanya mengajarkan teknik menulis, tetapi juga menanamkan nilai kedisiplinan dan ketekunan.

Saat perjalanan mengikuti terapi ini, saya mulai menyadari bahwa menulis sebenarnya bisa menjadi sarana untuk melatih hati. Ketika kita menulis dengan tenang, pikiran menjadi lebih fokus. Ketika kita berusaha memperbaiki kesalahan, kita belajar untuk rendah hati. Ketika kita tetap berusaha meskipun menghadapi kesulitan, kita sedang melatih keberanian dan percaya diri.

Saya juga merasakan bahwa proses ini mengajarkan makna kesungguhan dalam berikhtiar. Dalam agama, kita diajarkan bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan niat baik akan bernilai ibadah. Bahkan pekerjaan yang terlihat kecil sekalipun bisa menjadi amal jika dilakukan dengan niat karena Allah Subhanahu Wata'alla.

Begitu pula dengan kegiatan menulis ini. Ketika saya menulis dengan niat memperbaiki diri, melatih kesabaran, dan meningkatkan kualitas pribadi, saya berharap Allah Subhanahu Wata'alla mencatatnya sebagai bagian dari amal kebaikan.

Sering kali saya mengingat sebuah nasihat bahwa Allah tidak menilai hasil semata, tetapi juga usaha dan kesungguhan hamba-Nya. Oleh karena itu, meskipun tulisan saya belum sempurna, saya tetap berusaha untuk terus belajar dan memperbaiki diri.

Hal yang membuat saya semakin bersemangat adalah suasana belajar yang terasa menyenangkan. Ada rasa seru ketika melihat perkembangan tulisan dari hari ke hari. Ada rasa bangga ketika berhasil memperbaiki kesalahan yang sebelumnya sering terjadi.

Yang lebih penting lagi, saya mulai memahami tujuan utama dari terapi ini. Tujuan atau goal dari kegiatan ini bukan sekadar menghasilkan tulisan yang indah, tetapi membentuk karakter yang baik. Kami dilatih untuk menjadi pribadi yang sabar, disiplin, berani mencoba, dan percaya diri. Karakter-karakter inilah yang sangat penting dalam kehidupan.

Dalam perjalanan hidup, seseorang tidak cukup hanya memiliki ilmu. Tetapi harus memiliki karakter yang kuat. Keberanian untuk mencoba, kepercayaan diri untuk melangkah, dan kesabaran untuk menghadapi proses adalah bekal yang sangat berharga.

Saya bersyukur Allah Subhanahu Wata'alla mempertemukan saya dengan kesempatan belajar ini. Dari sesuatu yang terlihat sederhana seperti menulis, ternyata ada banyak pelajaran hidup yang bisa dipetik. Semoga dengan mengikuti terapi menulis ini, saya dapat menjadi pribadi yang lebih baik. Lebih sabar dalam menjalani proses, lebih percaya diri dalam melangkah, dan lebih bersyukur atas setiap kesempatan belajar yang Allah  Subhanahu Wata'alla  berikan. Semoga menginspirasi.

Cepu, 8 Maret 2026


Sabtu, 07 Maret 2026

Rindu Rumah Sendiri (RRS)

Karya : Gutamining Saida 
Rumah mewah, rumah besar, dan rumah yang sangat bagus sering kali menjadi impian banyak orang. Bangunannya kokoh, dindingnya indah, perabotannya mahal, bahkan mungkin dilengkapi berbagai fasilitas yang membuat siapa pun yang melihatnya merasa kagum. Ada satu hal yang sering kali tidak dapat dibeli dengan kemewahan itu, yaitu rasa memiliki.

Ketika seseorang berada di rumah yang bukan miliknya, walaupun rumah itu besar dan nyaman, sering kali hati tetap merasa ada yang kurang. Tempat tidur mungkin empuk, ruangan mungkin sejuk, makanan tersedia dengan baik, tetapi rasa tenang tidak sepenuhnya hadir. Tidur terasa tidak senyenyak ketika berada di rumah sendiri. Pikiran masih terasa gelisah. Ada perasaan asing yang sulit dijelaskan.

Barangkali itulah yang sering dirasakan oleh banyak orang ketika sedang bepergian atau bermalam di tempat lain. Seindah apa pun rumah yang ditempati sementara, hati tetap merindukan rumah sendiri. Rumah yang mungkin tidak besar, tidak mewah, dan tidak dipenuhi perabot mahal, tetapi di sanalah hati merasa paling tenang.

Rumah sendiri memiliki kenangan, memiliki cerita, memiliki kehangatan keluarga. Di sanalah kita terbiasa menjalani hari-hari dengan sederhana tetapi penuh makna. Tidak heran jika baru satu hari saja tidak berada di rumah, hati sudah mulai merasa rindu. Ada dorongan kuat untuk segera pulang.

Rasa rindu itu muncul karena rumah bukan sekadar bangunan. Rumah adalah tempat hati berlabuh. Ada satu tempat di dunia ini yang justru menghadirkan perasaan yang berbeda. Tempat yang membuat seseorang merasa semakin betah semakin lama berada di sana. Tempat yang justru membuat hati berat ketika harus meninggalkannya. Tempat itu adalah tanah suci, khususnya kawasan Masjidil Haram.

Banyak orang yang pernah berkunjung ke sana menceritakan pengalaman yang hampir sama. Ketika pertama kali melihat Ka'bah, hati terasa bergetar. Ada rasa haru yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Mata sering kali tidak mampu menahan air mata. Perasaan itu bukan sekadar kagum. Ia adalah perasaan spiritual yang menyentuh bagian terdalam dari hati manusia. Seolah-olah jiwa menemukan rumahnya yang sesungguhnya.

Di tanah suci, waktu terasa berjalan dengan cara yang berbeda. Hari-hari dipenuhi dengan ibadah. Dari pagi hingga pagi kembali, pikiran hanya tertuju kepada Allah. Tidak ada kesibukan dunia yang mengganggu. Tidak ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Tidak ada tugas mengajar yang menunggu di sekolah. Semua urusan dunia seakan tertinggal jauh. Yang ada hanyalah doa, dzikir, shalat, dan harapan agar Allah menerima setiap amal yang dilakukan.

Pagi hari dimulai dengan shalat Subuh berjamaah. Setelah itu, banyak orang tetap duduk di masjid, membaca Al-Qur’an, berdzikir, atau berdoa dengan khusyuk. Suasana masjid terasa begitu tenang meskipun dipenuhi ribuan orang dari berbagai negara. Ketika siang datang, ibadah kembali dilakukan. Saat sore tiba, hati semakin lembut dengan lantunan doa dan dzikir. Malam hari pun tidak terasa berat karena dipenuhi dengan shalat dan munajat kepada Allah.

Dalam suasana seperti itu, hati merasakan ketenangan yang sangat dalam. Ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain. Mungkin itulah sebabnya banyak orang mengatakan bahwa berada di tanah suci terasa seperti berada di rumah yang sebenarnya. Rumah bagi jiwa. Tempat di mana hati merasa dekat dengan Sang Pencipta.

Berbeda dengan ketika berada di rumah orang lain yang mewah. Walaupun segala fasilitas tersedia, hati tetap ingin pulang. Tetapi di tanah suci justru terjadi kebalikannya. Semakin lama tinggal di sana, semakin berat rasanya untuk pulang.

Ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika tiba saatnya meninggalkan kota suci Makkah. Banyak orang yang menoleh berkali-kali ke arah Masjidil Haram, seolah tidak ingin berpisah. Bahkan ada yang meneteskan air mata ketika perjalanan pulang dimulai.

Air mata itu bukan karena kesedihan semata, tetapi karena rasa cinta kepada tempat yang telah memberikan pengalaman spiritual yang begitu mendalam. Di tanah suci, manusia merasa kecil di hadapan kebesaran Allah. Kesibukan dunia yang selama ini terasa penting tiba-tiba menjadi kecil. Jabatan, pekerjaan, dan urusan dunia tidak lagi mendominasi pikiran. Yang terasa penting hanyalah hubungan antara seorang hamba dengan Tuhannya.

Bagi seorang guru yang sehari-hari disibukkan dengan mengajar, menyiapkan materi, memikirkan siswa, dan menjalankan berbagai tanggung jawab di sekolah, berada di tanah suci tentu menjadi pengalaman yang sangat berbeda. Untuk sementara waktu, semua kesibukan itu bisa dilepaskan. Tidak ada jadwal pelajaran. Tidak ada tugas administrasi. Tidak ada kewajiban mengoreksi pekerjaan siswa. Yang ada hanyalah kesempatan untuk memperbanyak ibadah. Kesempatan untuk lebih banyak bersujud. Kesempatan untuk lebih lama berdoa. Kesempatan untuk berbicara kepada Allah dengan hati yang tulus.

Dalam suasana seperti itu, hati terasa ringan. Pikiran menjadi tenang. Jiwa terasa damai. Tidak heran jika banyak orang yang berkata, “Seandainya bisa lebih lama tinggal di tanah suci.” Bahkan ada yang berkata bahwa ketika kembali ke tanah air, kerinduan kepada tanah suci justru semakin besar. Kenangan tentang ibadah di sana terus terbayang. Suasana masjid, lantunan doa, dan pemandangan Ka’bah seakan selalu hadir dalam ingatan. Kerinduan itu kemudian berubah menjadi doa. Doa agar suatu hari nanti Allah kembali mengundang untuk datang ke rumah-Nya. Doa agar dapat kembali merasakan kedamaian yang pernah dirasakan di sana.

Pada akhirnya, manusia memang memiliki dua jenis kerinduan. Rindu kepada rumah tempat ia tinggal bersama keluarga, dan rindu kepada tempat di mana jiwanya merasa dekat dengan Allah. Rumah dunia memberi kenyamanan bagi tubuh. Tanah suci memberi ketenangan bagi hati. Semoga suatu hari nanti, Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk kembali merasakan kedamaian itu. Datang sebagai tamu-Nya, beribadah dengan penuh keikhlasan, dan pulang dengan hati yang lebih bersih. Aamiin.
Cepu, 7 Maret 2026 

Shofa

Karya: Gutamining Saida 
"Shofa." Ketika kata itu terucap, pikiran seorang muslim seakan langsung melayang jauh menembus jarak ribuan kilometer menuju tanah suci. Sebuah tempat yang tidak sekadar menjadi tujuan perjalanan, tetapi menjadi tujuan hati. Tanah yang selalu dirindukan oleh jutaan umat Islam di seluruh dunia. Tanah yang setiap jengkalnya menyimpan kisah keimanan, pengorbanan, dan kedekatan manusia dengan Sang Pencipta.

Di antara tempat yang sering terlintas dalam benak ketika membayangkan tanah suci adalah Bukit Shofa. Sebuah bukit kecil yang menjadi saksi sejarah perjuangan seorang ibu yang penuh cinta dan keyakinan kepada Allah. Bukit ini berdampingan dengan Bukit Marwah, dan keduanya menjadi bagian penting dalam rangkaian ibadah sa’i ketika umat Islam melaksanakan umrah maupun haji.

Ketika menyebut nama Sofa atau Shafa hati terasa bergetar. Seakan ada panggilan halus yang mengetuk pintu rindu di dalam dada. Rindu yang mungkin belum pernah terbayar oleh langkah kaki, tetapi sudah lama hidup dalam doa dan harapan. Tanah suci bukan hanya tentang tempat. Ia adalah ruang spiritual yang mampu menggugah hati siapa saja yang datang dengan niat tulus. Banyak orang yang pernah menginjakkan kaki di sana bercerita bahwa rindu itu tidak pernah benar-benar hilang. 

Bahkan semakin lama, rasa rindu itu semakin kuat. Seolah ada magnet spiritual yang terus menarik hati untuk kembali. Bukit Shafa menyimpan kisah yang sangat mulia. Di tempat itulah dahulu seorang ibu bernama Hajar berlari dengan penuh harap demi mencari air untuk  putranya, Ismail. Dengan keyakinan penuh kepada Allah. Subhanahu Wata'alla beliau berlari bolak-balik antara Shofa dan Marwah. Tujuh kali perjalanan beliau tempuh, bukan sekadar langkah fisik, tetapi langkah keimanan yang dilandasi kesabaran dan tawakal.

Dari perjuangan itu kemudian Allah Subhanahu Wata'alla menghadirkan mukjizat berupa mata air Sumur Zamzam yang hingga hari ini masih mengalir dan menjadi berkah bagi jutaan manusia. Ketik membayangkan kisah itu, hati terasa kecil. Betapa besar keimanan seorang ibu yang tidak pernah putus berharap kepada pertolongan Allah Subhanahu Wata'alla. Bukit Shofa bukan sekadar bukit  batu atau tanah. Ia adalah simbol keteguhan iman. Ia adalah pengingat bahwa dalam setiap kesulitan selalu ada pertolongan Allah Subhanahu Wata'alla yang datang pada waktu terbaik.

Menyebut nama Sofa menghadirkan harapan yang begitu tinggi. Ada doa yang diam-diam dipanjatkan setiap selesai sujud. Semoga suatu hari nanti Allah Subhanahu Wata'alla benar-benar mengizinkan kaki ini melangkah ke sana. Berdiri di tempat yang pernah menjadi saksi kesabaran seorang hamba yang begitu taat kepada Tuhannya.

Membayangkan berdiri di Bukit Shafa, memandang ke arah Ka’bah di dalam Masjidil Haram, tentu menjadi pengalaman spiritual yang tidak mudah dilukiskan dengan kata-kata. Hati mungkin akan bergetar, mata bisa saja basah oleh air mata. Air mata yang jatuh bukan karena kesedihan, tetapi karena rasa syukur yang begitu dalam.

Syukur karena Allah Subhanahu Wata'alla mempertemukan seorang hamba dengan tempat yang selama ini hanya hadir dalam doa dan bayangan. Syukur karena diberi kesempatan untuk menjalankan ibadah dengan niat lillah, semata-mata karena Allah Subhanahu Wata'alla. Setiap kerinduan yang tumbuh di dalam hati seorang hamba tidak pernah sia-sia. Allah Subhanahu Wata'alla mengetahui setiap doa yang terucap, bahkan doa yang hanya tersimpan dalam hati. 

Mungkin hari ini saya hanya bisa membayangkan, menulis, dan memanjatkan harapan.  Siapa yang tahu, suatu hari Allah Subhanahu Wata'alla membuka jalan yang tidak pernah kita duga.Bukankah banyak kisah orang yang awalnya hanya bermimpi pergi ke tanah suci, tetapi akhirnya benar-benar sampai di sana? Ada yang melalui tabungan bertahun-tahun, ada yang melalui undangan, bahkan ada yang mendapat jalan yang sama sekali tidak disangka-sangka. Karena itu, harapan untuk bisa berkunjung dan beribadah di Bukit Shofa tetap saya simpan dalam hati. Harapan itu saya jaga dalam doa. Semoga suatu saat Allah memanggil dan mengizinkan saya menjadi tamu-Nya di tanah suci.

Bayangan untuk melangkah perlahan menuju Bukit Shafa, membaca doa, kemudian memulai sa’i dengan hati yang penuh harap. Setiap langkah bukan sekadar gerakan tubuh, tetapi perjalanan jiwa menuju kedekatan dengan Allah. Ketika hari itu benar-benar datang, mungkin yang bisa dilakukan hanyalah menangis dalam diam. Menangis karena merasa begitu kecil di hadapan kebesaran Allah Subhanahu Wata'alla. Menangis karena menyadari bahwa semua yang terjadi adalah karunia-Nya.

Bukit Shafa akan tetap menjadi simbol rindu bagi banyak orang. Rindu untuk kembali kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Rindu untuk memperbaiki diri. Rindu untuk mendekatkan hati kepada Sang Pencipta. Semoga suatu hari nanti, rindu itu tidak lagi hanya menjadi cerita dalam tulisan atau doa di dalam hati. Tetapi menjadi perjalanan nyata yang membawa langkah saya sampai ke tanah suci, berdiri di Bukit Shafa, dan beribadah dengan penuh keikhlasan. Lillah karena Allah. Semoga Allah Subhanahu Wata'alla mengabulkan. Aamiin.
Cepu, 7 Maret 2026 

Jumat, 06 Maret 2026

Raudhoh Kecil

Karya : Gutamining Saida 
Rasa rindu itu sudah lama bersemayam di dalam hati. Rindu untuk menginjakkan kaki di Raudhoh, tempat yang sering disebut sebagai taman surga. Setiap kali mendengar kisah orang yang pernah berdoa di sana, hati ini selalu bergetar. Terbayang suasana khusyuk, lantunan doa, dan air mata yang jatuh tanpa terasa. Keinginan itu sudah lama ada, terpendam dalam doa-doa yang sering dipanjatkan setelah shalat.

Saya sadar bahwa tidak semua keinginan manusia bisa langsung terwujud. Ada waktu yang telah Allah Subhanahu Wata'alla tetapkan. Ada jalan yang harus dilalui sebelum sampai pada tujuan. Mungkin Allah Subhanahu Wata'alla belum mengizinkan saya menuju ke sana. Mungkin masih ada banyak hal yang harus saya jalani dalam  kehidupan ini.

Malam ini, Allah Subhanahu Wata'alla belum membawa saya ke Raudhoh yang ada di tanah suci. Allah Subhanahu Wata'alla menempatkan saya di sebuah ruangan yang bernama Raudhoh. Ketika pertama kali mendengar nama ruangan itu, hati saya tertegun sejenak. Sebuah nama begitu indah. Nama yang sama dengan tempat yang selalu saya rindukan. “Ya Allah, malam ini Engkau menempatkan saya di Raudhoh dengan cara-Mu sendiri.” Saya menarik napas panjang.  Hati terucap syukur  Alhamdulillah. Allah Subhanahu Wata'alla masih memberi kesempatan untuk merasakan banyak hal dalam kehidupan ini.

Di ruangan ini saya tidak sendiri. Ada beberapa orang yang sedang menjalani ujian kesehatan. Masing-masing dengan cerita yang berbeda. Ada yang terbaring lemah. Ada yang duduk sambil menahan rasa sakit. Ada pula keluarga yang setia menunggu dengan wajah penuh harap.
 
Kali ini suasana hati saya justru dipenuhi rasa syukur. Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Ucapan itu terlintas dalam hati. Kita semua memang milik Allah Subhanahu Wata'alla, dan kepada-Nya pula kita akan kembali. Allah Subhanahu Wata'alla masih sayang kepada saya dan keluarga. Buktinya ujian ini datang sebagai pengingat. Ujian ini bukan sekadar rasa tidak nyaman pada tubuh. Ujian ini seperti sebuah panggilan lembut dari Allah Subhanahu Wata'alla agar kita kembali mengingat-Nya lebih sering.Terkadang manusia baru benar-benar ingat kepada Allah Subhanahu Wata'alla ketika sedang diuji tidak enak. 

Saat tubuh sehat, langkah terasa ringan, dan kehidupan berjalan lancar, kita sering lupa bahwa semua itu adalah karunia. Ketika sakit datang, manusia menjadi lebih banyak berpikir. Lebih banyak merenung. Lebih sering dan menyebut nama Allah.

Malam semakin larut. Sebagian orang mulai terlelap dalam tidurnya. Ketenangan itu tidak sepenuhnya sunyi. Sesekali terdengar suara rintihan dari luar ruangan. Suara lirih, tetapi cukup membuat hati tergerak. Membangunkan dari tidur. Mendengarkan rintihan itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada rasa iba, ada rasa haru, ada pula rasa syukur yang semakin dalam.

Ujian sakit pada anak justru membuka mata saya lebih lebar. Saya bisa melihat penderitaan orang lain. Saya bisa merasakan betapa beratnya perjuangan mereka yang sedang melawan penyakit. Kadang kita tidak tahu betapa berharganya kesehatan sebelum merasakan sakit. Kadang kita tidak tahu betapa berharganya waktu sebelum melihat seseorang kehilangan kesempatan hidup. Malam itu saya tidak ingin menyia-nyiakan waktu.
  
Saya mendoakan orang-orang yang ada di ruangan ini. Mendoakan mereka yang sedang sakit agar diberikan kesembuhan. Mendoakan keluarga yang sedang berduka agar diberi ketabahan. Dalam hati saya juga memohon, jika suatu saat Allah Subhanahu Wata'alla mengizinkan, semoga saya benar-benar bisa menginjakkan kaki di Raudhoh yang selama ini dirindukan. Tempat di mana doa-doa dilangitkan dengan penuh harap. Allah menghadirkan “raudhoh kecil” di tempat yang tidak kita duga. Tempat yang justru membuat hati lebih dekat kepada-Nya.

Di tengah ujian sakit dan tangisan manusia, saya merasakan kehadiran Allah Subhanahu Wata'alla begitu dekat. Hati menjadi lebih lembut. Air mata menjadi lebih mudah jatuh. Doa menjadi lebih tulus. Malam semakin larut. Sebelum mata benar-benar terpejam, satu kalimat terucap di dalam hati.“Ya Allah, terima kasih atas ujian yang Engkau berikan. Jadikan ini jalan agar aku semakin dekat kepada-Mu.” Aamiin. 
Cepu, 7 Maret 2026 

Ruang Pembelajaran

Karya: Gutamining Saida 
Waktu Ashar mulai mendekat. Cahaya matahari sore masuk perlahan melalui kaca ruangan. Sinar itu jatuh lembut di  dinding, memberi nuansa hangat di tengah suasana yang justru dipenuhi suara yang berbeda yaitu suara tangisan anak-anak kecil. 
Tangisan itu kadang lirih, kadang keras, seakan berlomba menyampaikan rasa yang tidak mampu mereka ucapkan dengan kata-kata.

Saya melangkah masuk dengan hati yang terkejut. Dalam hati sempat terlintas pertanyaan sederhana, mengapa tidak diam-diam saja? Namun pikiran itu segera saya sadari sebagai kekeliruan dalam diri saya. Anak-anak yang masih begitu kecil tentu belum mampu menyampaikan apa yang mereka rasakan dengan bahasa yang jelas. Dunia mereka masih sederhana. Ketika lapar, takut, sakit, atau merasa tidak nyaman, satu-satunya bahasa yang mereka miliki hanyalah tangisan.
Tangisan mereka bukan sekadar suara.
Tangisan itu adalah pesan.
Pesan tentang rasa yang tidak mereka pahami sepenuhnya.
Pesan tentang kebutuhan yang belum terpenuhi.
Pesan tentang tubuh kecil yang sedang berjuang menghadapi sesuatu yang tidak mereka mengerti.

Saya duduk di kursi yang ada di sudut ruangan. Mata saya memandang ke sekeliling. Ada seorang ibu tampak sibuk menemani anak mereka. 
Di wajah ibu itu tampak berbagai rasa cemas, khawatir, lelah, tetapi juga penuh kasih sayang.Selang beberapa waktu, suasana ruangan berubah.    

Bagi saya, suara itu justru terasa menyayat hati.
Tangisan anak kecil selalu memiliki kekuatan. Ia mampu mengetuk pintu hati siapa saja yang mendengarnya. Bahkan bagi orang yang tidak mengenal anak itu sekalipun, tangisan itu tetap terasa menembus perasaan.
Saya menarik napas pelan.
Dalam hati saya bertanya kepada diri sendiri, mengapa Allah Subhanahu Wata'alla menghadirkan saya di ruangan ini pada waktu Ashar seperti sekarang?
Barangkali ini bukan sekadar kebetulan. Allah Subhanahu Wata'alla sedang mengirimkan sebuah pelajaran yang halus.

Tidak lama kemudian, suasana ruangan berubah menjadi lebih sunyi sesaat. Seorang tenaga medis masuk dengan wajah yang tampak serius. Ia mendekati beberapa orang yang sejak tadi duduk dengan penuh harap.Beberapa kalimat pelan disampaikan.
Tidak ada suara keras. Tidak ada pengumuman panjang.
Tetapi kalimat yang singkat itu seolah membawa kabar yang sangat berat.
Dalam hitungan detik, suasana ruangan berubah.
Tangisan memenuhi ruangan disusul oleh tangisan orang dewasa. Beberapa ibu yang berada di dekat ruangan itu langsung menjerit. Tanpa ada komando, tanpa ada aba-aba, mereka menangis keras. Suara tangisan itu pecah seperti gelombang yang tiba-tiba datang.

Ada seorang saudara mereka yang baru saja menghembuskan napas terakhir.Tangisan ini penuh kehilangan. Ada yang memanggil nama orang yang telah pergi. Ada yang menutup wajah dengan kedua tangan.
Ada yang hanya terdiam sambil air mata terus mengalir.
Suasana ruangan berubah menjadi sangat haru. Bahkan orang-orang yang tidak memiliki hubungan keluarga pun ikut terdiam.

Saya merasakan dada saya tiba-tiba terasa sesak.
Entah mengapa, air mata saya ikut jatuh perlahan.
Padahal saya tidak mengenal siapa yang telah pergi itu.
Saya juga tidak mengenal keluarga yang sedang menangis. Tangisan mereka terasa begitu nyata. Begitu dalam. Begitu manusiawi.
Di saat seperti itu, batas antara orang yang dikenal dan tidak dikenal seakan hilang. Yang tersisa hanyalah rasa bahwa kita semua adalah manusia yang sama-sama rapuh di hadapan takdir Allah Subhanahu Wata'alla.

Kematian selalu memiliki cara yang sunyi untuk mengingatkan manusia.Ia datang tanpa memilih waktu yang kita inginkan.Ia datang tanpa menunggu kesiapan hati.

Akhir kehidupan dengan tangisan keluarga yang ditinggalkan.Air mata saya kembali jatuh perlahan.
Bukan hanya karena suasana yang begitu mengharukan, tetapi juga karena hati saya merasa diingatkan dengan sangat jelas.Bahwa kehidupan ini begitu singkat.
Bahwa setiap napas yang kita miliki adalah titipan.
Bahwa suatu saat nanti kita semua juga akan sampai pada titik itu menghembuskan napas terakhir.
Cepu, 6 Maret 2026 

Rabu, 04 Maret 2026

Seru di kelas 8G


Karya : Gutamining Saida 
Awal semester genap selalu menghadirkan suasana bahagia. Setelah melewati libur yang cukup panjang, langkah kaki kembali menapaki halaman sekolah dengan semangat baru. Bagi para siswa, semester genap bukan sekadar lanjutan dari semester sebelumnya, tetapi juga sebuah perjalanan baru yang harus ditempuh dengan tekad yang lebih kuat. Di dalamnya ada harapan, ada perbaikan, ada doa yang disematkan agar apa yang belum maksimal di masa lalu dapat diperbaiki pada waktu yang akan datang.

Sebagai seorang guru, saya menyadari bahwa perjalanan belajar bukan hanya soal menyelesaikan materi pelajaran. Lebih dari itu, belajar adalah proses membentuk karakter, melatih kesabaran, serta menumbuhkan kesadaran bahwa setiap usaha adalah bagian dari ikhtiar yang tidak boleh terlepas dari doa kepada Tuhan.

Saya memasuki kelas 8G dengan sebuah gagasan sederhana. Saya ingin mengajak mereka melakukan refleksi. Saya percaya bahwa setiap manusia, termasuk anak-anak seusia mereka, perlu berhenti sejenak untuk melihat perjalanan yang telah dilalui. Dengan begitu mereka dapat memahami kesalahan yang pernah terjadi dan menata langkah yang lebih baik ke depan.

Di papan tulis saya menuliskan satu kata yaitu SERU.
Sebagian siswa terlihat saling berpandangan. Ada yang tersenyum, ada yang penasaran. Kata itu memang sederhana, tetapi saya ingin menjadikannya pintu untuk membuka pikiran mereka.
Saya kemudian menjelaskan bahwa kata “SERU” bukan sekadar kata yang berarti menyenangkan. Di dalam kata itu mereka harus menuliskan berbagai hal penting tentang perjalanan mereka di semester genap. Saya meminta mereka menuliskan lima hal yaitu harapan di semester genap, perasaan saat memasuki semester baru, sikap buruk yang harus ditinggalkan, mimpi yang belum tercapai, serta target yang ingin diraih.

Tugas ini tidak sekadar menulis. Saya memberikan kebebasan kepada mereka untuk mendesain kata SERU dengan berbagai model sesuai kreativitas masing-masing. Mereka boleh menghiasnya dengan warna, gambar, atau bentuk apa pun yang mereka inginkan. Saya hanya memberi satu pesan, “Buatlah seindah mungkin, karena di dalamnya ada doa dan harapan kalian.”

Ketika kegiatan dimulai, suasana kelas berubah menjadi sangat hidup. Beberapa siswa langsung mengambil pensil warna. Ada yang menulis huruf besar dengan pola unik. Ada pula yang membuat bentuk seperti awan, bunga, bahkan ada yang membuat huruf dengan pola seperti jalan yang berkelok.

Saya berjalan perlahan di antara bangku-bangku mereka. Di setiap meja saya melihat kesungguhan yang berbeda. Ada siswa yang menulis dengan sangat hati-hati, seolah setiap kata yang ditulis memiliki makna mendalam bagi dirinya. Ada juga yang terlihat berpikir cukup lama sebelum menuliskan kalimat.
Di dalam hati saya teringat sebuah ajaran bahwa manusia diperintahkan untuk selalu memperbaiki diri dari waktu ke waktu. Hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan esok harus lebih baik dari hari ini. Saya berharap kegiatan kecil ini dapat menjadi latihan bagi mereka untuk belajar mengenali diri sendiri.

Beberapa tulisan yang saya baca membuat hati saya terharu. Ada siswa yang menuliskan harapan agar ia bisa menjadi anak yang lebih rajin beribadah. Ada yang menulis ingin lebih menghormati orang tua. Ada pula yang berjanji akan meninggalkan kebiasaan menunda pekerjaan rumah.
Salah satu siswa menuliskan kalimat yang sederhana tetapi penuh makna: “Saya ingin menjadi lebih baik karena Allah menyukai orang yang mau memperbaiki diri.”
Membaca kalimat itu membuat saya tersenyum. Ternyata di balik keceriaan mereka, ada kesadaran spiritual yang mulai tumbuh.

Dalam kolom tentang sikap buruk yang harus ditinggalkan, beberapa siswa menuliskan hal-hal yang jujur. Ada yang mengakui bahwa ia sering malas belajar. Ada yang menulis bahwa ia sering berbicara saat guru menjelaskan pelajaran. Ada pula yang menuliskan bahwa ia harus berhenti mengejek temannya.
Kejujuran seperti ini adalah langkah awal yang sangat penting. Dalam ajaran agama, manusia diajarkan untuk melakukan muhasabah, yaitu introspeksi diri. Dengan menyadari kesalahan, seseorang akan lebih mudah memperbaiki dirinya.

Ketika waktu hampir selesai, meja-meja mereka dipenuhi dengan karya yang berwarna-warni. Huruf SERU muncul dalam berbagai bentuk yang unik. Tidak ada satu pun yang sama.
Dari 32 siswa, semuanya menghasilkan karya yang berbeda. Perbedaan itu justru menjadi keindahan tersendiri. Saya merasa seperti melihat taman bunga yang penuh warna.
Saya meminta beberapa siswa maju untuk menunjukkan karyanya. Mereka menjelaskan makna tulisan yang mereka buat. Ada yang berbicara dengan percaya diri, ada pula yang masih malu-malu.

Saya melihat sesuatu yang sangat berharga yaitu mereka belajar mengekspresikan isi hati.
Di akhir kegiatan saya menyampaikan kepada mereka bahwa setiap harapan yang mereka tulis sebaiknya disertai dengan usaha dan doa.

Harapan tanpa usaha hanyalah angan-angan. Usaha tanpa doa juga akan terasa hampa. Keduanya harus berjalan bersama.
Saya juga mengingatkan bahwa waktu adalah amanah. Setiap hari yang kita jalani tidak akan pernah kembali. Karena itu, kesempatan belajar harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Kegiatan sederhana ini ternyata memberikan kebahagiaan tersendiri bagi saya sebagai guru. Melihat kreativitas mereka, membaca harapan-harapan yang tulus, serta menyaksikan keberanian mereka untuk memperbaiki diri membuat hati saya dipenuhi rasa syukur.

Saya berdoa semoga langkah kecil di awal semester ini menjadi awal perjalanan yang baik bagi mereka. Semoga mereka tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara ilmu, tetapi juga kuat dalam iman dan akhlak.

Saya merasa bangga. Bukan karena hasil gambarnya yang indah semata, tetapi karena di balik setiap huruf SERU tersimpan harapan, niat baik, dan doa.

Setiap niat baik yang disertai usaha serta doa kepada Tuhan tidak akan pernah sia-sia. Semester genap baru saja dimulai, tetapi semangat mereka telah memberi keyakinan bahwa perjalanan ini akan menjadi perjalanan yang seru
Cepu, Januari  2026

Terapi Menulis Dengan Tangan

 


Karya : Gutamining Saida

Tanggal 1 Maret 2026 menjadi tanggal yang saya lingkari di kalender. Bukan karena pesta, bukan pula karena perjalanan jauh, tetapi karena sebuah janji kepada diri sendiri yaitu berbenah. Saya ingin menata ulang jiwa dengan ilmu yang telah saya pelajari, lalu mempraktikkannya dengan setia melalui terapi menulis pada pagi dan sore hari.

Anak saya sering berkata bahwa saya ini termasuk orang sibuk. Mengajar, mengurus keluarga, menghadiri kegiatan sosial, menyiapkan administrasi, membersamai siswa dengan segala dinamika remaja mereka. Lalu mengapa masih menambah kesibukan dengan terapi menulis?

Jawabannya sederhana yaitu saya ingin sehat. Terutama sehat jasmani, rohani dan kantong. Saya ingin umur panjang yang tidak sekadar panjang angka, tetapi panjang manfaat. Saya percaya, usia yang berkah adalah usia yang digunakan untuk mendekat kepada Allah Subhanahu Wata'alla dan menebar kebaikan bagi sesama.

Dulu saya mengira terapi menulis itu seperti yang biasa saya lakukan menulis cerita pengalaman, merangkai kenangan, mengabadikan peristiwa. Sehari satu cerita. Itu sudah saya coba dan menjadi kebiasaan. Sesuai arahan mentor saya, Kak Wayan, sehari satu tulisan, dikumpulkan selama setahun, insyaallah akan menjadi satu buku. Saya membayangkan rak kecil di rumah dengan tambahnya satu buku yang lahir dari kisah saya sendiri. Benar, setiap kali tulisan terwujud, ada rasa bahagia yang sulit dijelaskan. Bahagia karena berhasil menaklukkan rasa malas. Bahagia karena satu hari tidak berlalu sia-sia.

Akhir Februari, saya menemukan lagi istilah yang sama yaitu terapi menulis. Saya membaca informasi penuh penasaran. Saya merasa seperti menemukan pintu lain dari rumah yang sama. Ternyata, praktiknya berbeda. Bukan mengetik. Bukan membuat cerita panjang. Tetapi menulis dengan tangan. Di atas kertas atau buku tulis. Beberapa lembar halaman harus disetorkan mentor setiap pagi dan sore hari sekaligus mendapatkan bonus koreksi kakak mentor.

Awalnya saya terdiam. Menulis tangan? Di tengah kesibukan seperti ini? Tetapi justru di situlah saya merasa Allah sedang menguji niat. Bukankah segala sesuatu yang bernilai memerlukan kesungguhan? Bukankah ibadah pun menuntut disiplin waktu?

Hari pertama saya memulai, suasana masih hening. Setelah salat Subuh, saya duduk dengan buku tulis terbuka. Pena saya genggam perlahan. Di hari praktik pertama, saya memiliki keinginan segera selesai. Pikiran saya tergesa-gesa. Saya ingin cepat menuntaskan lembaran-lembaran tulisan. Akibatnya, tulisan menjadi amburadul. Banyak huruf yang salah, beberapa kata terlewat, tulisan tidak rapi. Hati saya sempat kecewa. Mengapa sesuatu yang terlihat sederhana ternyata tidak mudah?

Saat itu saya tersadar, ternyata tergesa-gesa bukan hanya merusak tulisan, tetapi juga merusak ketenangan jiwa. Saya seperti bercermin. Bukankah dalam kehidupan pun sering kali saya ingin hasil cepat? Ingin masalah segera selesai? Ingin perubahan instan?

Padahal Allah mengajarkan proses. Di tulisan kedua, saya mengubah niat. Saya bertekad menulis pelan-pelan. Menarik napas lebih panjang. Mengatur posisi duduk. Menghadirkan kesadaran. Saya mencoba menyelaraskan pikiran dengan gerakan tangan. Namun ternyata tetap saja ada kesalahan. Masih ada huruf yang kurang tepat. Masih ada kalimat yang kurang rapi. Waktu yang dibutuhkan pun lebih lama.

Di situlah saya belajar bahwa menulis dengan tangan membutuhkan ketenangan pikiran. Ia bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi pertemuan antara niat, pikiran, dan tindakan. Ketiganya harus sejalan. Jika pikiran melompat-lompat, tangan pun ikut goyah. Jika hati gelisah, tulisan pun kehilangan arah.

Saya mulai memahami bahwa terapi ini sedang mendidik saya untuk sabar. Untuk menerima bahwa proses tidak bisa dipercepat seenaknya. Ada jeda yang harus dihormati. Ada irama yang harus diikuti. Setiap goresan tinta menjadi latihan sinkronisasi antara pikiran dan tindakan. Ketika saya menulis satu kalimat, saya harus benar-benar memikirkan maknanya. Tidak bisa sambil memikirkan hal lain. Tidak bisa setengah hati. Jika pikiran tidak fokus, hasilnya langsung terlihat di atas kertas.

Sore hari setelah segala aktivitas finis saya kembali membuka buku. Rasa lelah sering menyapa. Kadang mata sudah berat. Tetapi kini saya lebih berhati-hati. Saya tidak lagi mengejar cepat selesai. Saya mengejar hadir sepenuhnya. Saya belajar menikmati setiap huruf, setiap lengkungan tinta.

Saya teringat firman Allah dalam Al-Qur’an tentang pena dan tulisan. Betapa Allah memuliakan ilmu dan proses belajar. Bukankah menulis adalah salah satu bentuk dzikir dalam wujud yang berbeda? Ketika saya menulis kalimat-kalimat kebaikan berulang-ulang, saya seperti sedang menanam benih di dalam hati.

Terapi ini perlahan mengajarkan saya makna tawakal. Saya hanya bisa berusaha menulis sebaik mungkin. Hasilnya saya serahkan kepada Allah. Jika masih ada kesalahan, itu bagian dari proses belajar. Jika tulisan belum rapi, itu tanda saya masih perlu sering latihan.

Saya menyadari bahwa selama ini saya sering menuntut diri untuk sempurna. Padahal kesempurnaan hanyalah milik Allah. Manusia diberi ruang untuk salah, agar belajar rendah hati.

Setiap kesalahan huruf menjadi pengingat bahwa hidup pun penuh koreksi. Jika salah, perbaiki. Jika kurang rapi, ulangi. Jika belum tenang, tarik napas dan mulai lagi. Saya mulai merasakan bahwa terapi ini bukan hanya menyehatkan pikiran, tetapi juga menundukkan ego. Ego yang ingin cepat. Ego yang ingin hasil instan. Ego yang tidak sabar melihat kekurangan diri.

“Ya Allah, ajarkan aku sabar dalam proses. Selaraskan pikiranku dengan tindakanku. Tenangkan hatiku dalam setiap usaha memperbaiki diri. Jadikan tulisan ini saksi bahwa aku pernah berjuang melawan diriku sendiri.”

Perjalanan terapi ini masih panjang satu bulan ke depan baru selesai. Tulisan saya mungkin belum sempurna. Saya percaya, selama saya terus melangkah dengan niat yang lurus, Allah asubhanahu Wata'alla akan menuntun setiap goresan pena sebagai buktinya. Semoga menginspirasi

Cepu, 5 Maret 2026

 


Karya: Gutamining Saida

Jam terakhir di hari Senin selalu menjadi tantangan tersendiri. Apalagi untuk kelas 8G. Setelah seharian mengikuti tes tengah semester yang dilanjut mengikuti pembelajaran. Energi mereka biasanya sudah terkuras. Sebagai guru IPS, saya tak ingin pembelajaran terasa garing. Terbayang wajah-wajah lelah yang butuh sesuatu yang berbeda. Maka saya siapkan kegiatan sederhana  membuat tempat puzzle IPS  dari kertas.

Pagi sebelum berangkat ke sekolah, saya sudah menyiapkan contoh amplop. Pertemuan kemarin sudah membuat pazzlenya. Kita butuh tempat agar tidak tercampur milik temannya

“Anak-anak, hari ini kita belajar sambil praktik,” kata saya membuka pelajaran.

Beberapa wajah yang semula lesu langsung terangkat. Ada yang berbisik, ada yang tersenyum. Saya membagikan kertas dan meminta mereka menggambar pola sederhana, lalu memotongnya menjadi beberapa bagian untuk disusun kembali.

Ternyata, hal yang menurut saya sederhana tidak sesederhana itu bagi mereka.

Mulai dari menggambar garis lurus saja sudah ada yang bertanya, “Bu, ini pakai penggaris atau bebas?”

Saya tersenyum. “Boleh pakai penggaris, supaya rapi.”

Suara gunting mulai terdengar di berbagai sudut kelas. Ada yang terlalu cepat, ada yang terlalu hati-hati. Saya berkeliling, memastikan semua berjalan lancar.

Di pojok kanan belakang, Ravellico duduk dengan wajah serius. Tangannya memegang gunting, tapi belum bergerak.

“Kenapa, Ravellico?” tanya saya.

“Bu… yang dipotong bagian mana?” tanyanya polos.

“Yang sebelah garis ini ya,” jawab saya sambil menunjuk garis yang sudah ia buat.

“Oh… yang ini, Bu?”

“Iya, yang itu.”

Saya melanjutkan berkeliling membantu siswa lain. Ada yang kesulitan memegang gunting dengan benar, ada yang terlalu bersemangat hingga garisnya terpotong miring jauh dari rencana.

Tak berapa lama saya kembali ke meja Ravellico.

Betapa kagetnya saya melihat kertas di tangannya.

Lho… ini kok begini?

Garis yang tadi saya tunjuk memang terpotong—tetapi bukan hanya garis itu. Kertasnya terbelah dua, benar-benar putus memanjang tanpa menyisakan pola puzzle sama sekali.

Teman sebangkunya tak kuasa menahan tawa.

“Kesenggol, Bu… jadwal Ravello singkat,” katanya sambil terkekeh.

Saya menatap Ravellico. Ia hanya nyengir, antara malu dan bingung.

“Hah? Kesenggol kok sampai putus begitu?” jawab saya setengah tertawa, setengah heran.

“Iya Bu… tadi guntingnya kebablasan.”

Seluruh meja itu ikut tertawa. Namun saya tahu, di balik tawa itu ada pelajaran penting.

Saya duduk sebentar di sampingnya. “Ravellico, tidak apa-apa salah. Tapi coba lebih pelan, lebih fokus. Garis itu seperti aturan. Kalau kita keluar sedikit saja, hasilnya bisa berbeda.”

Ia mengangguk pelan.

Saya memberinya kertas baru. Kali ini saya minta ia menarik napas dulu sebelum memotong. Tangannya masih kaku, tapi lebih hati-hati. Potongannya memang belum rapi, tetapi tidak lagi terbelah tak terkendali.

Di kelas itu saya menyadari sesuatu. Anak seusia mereka, yang sehari-hari akrab dengan layar sentuh dan tombol digital, ternyata tidak semua terlatih melakukan keterampilan motorik sederhana seperti memotong kertas dengan presisi.

Jam terakhir hari Senin bukan hanya tentang menyelesaikan materi IPS. Ia menjadi ruang belajar kesabaran, ketelitian, dan keberanian mencoba lagi setelah salah.

Saat bel pulang berbunyi, beberapa kelompok sudah berhasil menyusun kembali puzzle mereka. Ada yang bentuknya masih belum pas, ada yang terbalik, tetapi mereka bangga.

Ravellico mendekati saya sebelum keluar kelas.

“Bu, tadi yang pertama jelek ya,” katanya.

“Bukan jelek. Itu namanya proses,” jawab saya.

Ia tersenyum kecil.

Di perjalanan pulang, saya merenung. Mengajar bukan hanya mentransfer pengetahuan tentang peta, ekonomi, atau interaksi sosial. Mengajar adalah menemani proses—bahkan pada hal sesederhana memotong kertas.

Dari potongan yang salah arah, dari gunting yang kebablasan, dari tawa teman yang menggoda—di sanalah karakter dibentuk.

Dan di jam terakhir yang sering dianggap melelahkan, justru saya menemukan energi baru. Energi dari kepolosan, dari kesalahan, dan dari keberanian untuk mencoba lagi.

Hari itu, kelas 8G mengajarkan saya bahwa setiap garis kehidupan harus dipotong dengan hati-hati. Karena sekali kebablasan, ia bisa terbelah. Namun selama masih ada kertas baru dan kemauan untuk belajar, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki.

Kamis, 26 Februari 2026

Serundeng Daging Sapi


Karya: Gutamining Saida

Siang hari saya sedang membuka ponsel, sekadar melihat-lihat kabar teman di media sosial. Di antara foto anak-anak, status kegiatan sekolah, dan promosi teman. Mata saya tertumbuk pada satu unggahan yang sederhana yaitu vidio pembuatan serundeng dengan kata-kata “Serundeng fresh, siap kirim. Ada pilihan daging sapi lho!”

Yang memasak adalah mama Fara. Saya tahu, dia telaten dan rapi dalam urusan dapur. Foto yang diunggahnya membuat hati saya bergetar. Parutan kelapa yang berwarna cokelat keemasan, tampak kering sempurna, berpadu dengan suwiran daging sapi. Seketika itu juga, pikiran saya melayang jauh ...jauh sekali ke masa kuliah di Surabaya.

Dulu, setiap kali hendak kembali ke kota Surabaya ibu selalu sibuk di dapur sejak pagi. Aroma kelapa disangrai memenuhi rumah. Wajan besar diletakkan di atas tungku, kayu bakar menyala pelan, dan ibu duduk di bangku kecil sambil terus mengaduk agar kelapa tidak gosong. Tangannya cekatan, wajahnya tenang.

Bekal andalan dari rumah bukanlah lauk mewah. Hanya serundeng, sambal pecel, dan peyek. Bagi saya yang akan kembali ke kos-kosan, itu adalah harta yang sangat berharga. Serundeng buatan ibu bisa bertahan lama. Ia menjadi penyelamat dompet biar bisa berhemat.  Ketika saya malas memasak lauk . Ketika ingin membeli buku bacaan. 

Saya masih ingat, di kamar kos saya makan nasi tim hangat dengan taburan serundeng. Kadang hanya itu lauknya. Namun rasanya… nikmat sekali. Gurihnya kelapa berpadu dengan manis dan pedas yang pas. Jika yang dibawakan adalah serundeng daging sapi, saya akan menyimpannya sedikit demi sedikit, agar tidak cepat habis. 

Makan serundeng bukan sekadar mengisi perut. Ia menghadirkan rasa rumah. Setiap suapan seperti menghadirkan wajah ibu yang tersenyum, suara ayah yang bertanya kabar kuliah, dan suasana dapur sederhana di kampung. Di tengah hiruk pikuk kehidupan mahasiswa, serundeng adalah penguat hati.

Kini, bertahun-tahun berlalu. Saya sudah bukan lagi mahasiswa. Saya sudah menjadi seorang ibu dan nenek. Saya sering berdiri di dapur, memasak untuk keluarga. Setiap pagi dan sore selepas maghrib, saya terbiasa menyiapkan makan malam sebagai rasa syukur atas rezeki hari itu. Cabe, bawang, tomat, aneka sayur dan lauk saya olah dengan penuh semangat.

Anehnya, dari sekian banyak masakan yang pernah saya buat, saya belum pernah memasak serundeng sendiri. Bukan karena tidak bisa, mungkin lebih karena belum pernah benar-benar mencoba. Membayangkan prosesnya saja sudah terasa panjang. Kelapa harus diparut, dibumbui, lalu disangrai lama dengan kesabaran ekstra. Harus terus diaduk agar tidak gosong. Ibu dulu melakukannya dengan penuh ketelatenan. Saya menyadari, mungkin di situlah letak cinta seorang ibu pada proses yang panjang dan tak terlihat.

Melihat tawaran serundeng mama Fara, saya tergoda. Rasanya ingin sekali membeli, lalu menyantapnya bersama nasi hangat untuk buka puasa. Sekalian bernostalgia, sekaligus “kembali muda” barang sebentar. Kembali ke masa kuliah, masa penuh perjuangan dan harapan.

Saya membayangkan duduk bersama keluarga, menyajikan serundeng di meja makan. Lalu saya akan bercerita, “Dulu waktu umi kuliah, ini lauk favorit dari rumah.” Mungkin mereka tidak sepenuhnya mengerti, tetapi cerita itu akan menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini.

Tiba-tiba saya tersenyum sendiri. Betapa makanan sederhana bisa membawa perjalanan waktu begitu jauh. Serundeng bukan hanya campuran kelapa dan daging. Ia adalah kenangan, perjuangan, doa, dan kasih sayang ibu.

Saya jadi teringat bagaimana ibu membungkus bekal itu dengan rapi. Disimpan dalam toples plastik besar. Diselipkan pesan sederhana, “Hemat-hemat ya makannya.” Bukan sekadar tentang menghemat lauk, tetapi juga tentang belajar hidup sederhana, bersyukur, dan bertanggung jawab.

Sekarang, ketika saya telah menjadi ibu, saya mulai memahami sepenuhnya. Dulu mungkin saya hanya menikmati hasilnya. Kini saya mengerti prosesnya. Ibu tidak hanya memasak serundeng tapi Beliau sedang mempersiapkan anaknya untuk bertahan di perantauan.

Sore itu saya akhirnya mengirim pesan untuk memesan satu. Untuk nostalgia. Untuk mengobati rindu. Untuk mengenang masa kuliah yang penuh cerita. Untuk menjadi dewasa bukan berarti meninggalkan masa lalu. Kadang kita justru kembali ke sana, lewat rasa, lewat aroma, lewat makanan sederhana yang bernama serundeng. Selamat membaca. Semoga menghibur.

Cepu, 27 Pebruari 2026

Rabu, 25 Februari 2026

Tantangan Terapi Menulis



Karya: Gutamining Saida

Tantangan itu datang tanpa saya duga. Dalam hati saya sempat bertanya, “Mampukah saya mengajak satu kelas untuk menulis bersama dalam gerakan terapi menulis demi Indonesia yang lebih baik?” Sebagai seorang guru, yang setiap hari membersamai anak-anak dengan segala dinamika mereka, saya merasa tertantang sekaligus terpanggil.

Saya teringat pesan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Satu guru, satu kelas. Satu kelas, puluhan jiwa. Jika setiap jiwa disentuh dengan tulisan yang baik, bukankah itu bisa menjadi bagian dari ikhtiar memperbaiki bangsa?

Hari Selasa saya masuk kelas di kelas 7C dengan niat yang berbeda. Bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi mengajak anak-anak menyelami hati mereka sendiri. Saya sampaikan bahwa kita akan belajar menulis sebagai terapi. Bukan untuk dinilai, bukan untuk lomba, tetapi untuk membersihkan hati dan menata pikiran.

Saya awali dengan basmalah. Saya katakan kepada mereka, “Menulis itu bukan hanya tentang kata-kata. Menulis adalah cara kita berbicara kepada Allah Subhanahu Wata'alla tentang apa yang tidak selalu bisa kita ucapkan.”

Beberapa anak terlihat antusias, beberapa bingung, ada pula yang tampak ragu. Maklum, bagi mereka menulis sering kali identik dengan tugas, dengan nilai, dengan kewajiban yang terasa berat. Apalagi ini gerakan baru, yang belum pernah mereka lakukan.

Saya membagikan instruksi sederhana menulis beberapa kalimat yang saya contohkan d papan tulis. Tentang rasa syukur, tentang harapan yaitu " Every day in every way. I am getting better and better. Setiap hari dalam segala hal saya membaik dan terus menerus membaik."

Hambatan pun mulai terasa. Ada yang menulis asal-asalan. Ada yang bertanya, “Bu, ini buat apa sih?” Bahkan ada yang mengeluh, “Bu, susah kalau disuruh nulis bagus.”

Di situlah saya belajar bahwa mendidik bukan sekadar memberi perintah, tetapi memberi pemahaman. Saya jelaskan perlahan, bahwa hati manusia seperti kaca. Jika sering dibersihkan, ia akan bening. Jika dibiarkan, ia akan berdebu. Menulis adalah salah satu cara membersihkan debu itu.

Saya pun ikut menulis bersama mereka. Agar mereka tahu, guru pun berproses. Guru pun belajar. Guru pun punya luka dan harapan. Hari pertama memang belum terlihat perubahan berarti. Tulisan mereka masih asal, masih amburadul. Saya tidak ingin tergesa-gesa. Bukankah segala sesuatu butuh proses? Bukankah bahkan wahyu pertama yang turun kepada Nabi adalah perintah membaca, yang kemudian mengantarkan pada tradisi menulis dan peradaban?

Saya teringat pada Al-Qur'an yang diturunkan secara bertahap. Tidak sekaligus. Ada proses 23 tahun penuh hikmah. Maka saya pun belajar sabar dalam membersamai anak-anak. Setelah terlaksana, saya melaporkan kepada mentor bahwa saya telah menyelesaikan tantangan: mengajak satu kelas menulis bersama. Hati saya campur aduk. Ada rasa lega, ada rasa haru, ada pula rasa belum puas.

Mentor saya bertanya, “Bagaimana rasanya setelah mencoba?”

Pertanyaan itu seperti mengetuk relung hati saya sendiri. Bagaimana rasanya?

Saya jawab dengan jujur yaitu rasanya tidak mudah. Banyak hambatan. Belum terlihat hasil yang luar biasa. Ada kedamaian kecil di dalam hati. Seperti menanam benih yang belum tumbuh, tetapi kita yakin ia sedang berproses di dalam tanah.

Mentor kemudian mendoakan agar siswa-siswa saya kelak memiliki karakter yang lebih baik. Doa itu membuat mata saya berkaca-kaca. Sebab sejatinya, tujuan utama saya bukan sekadar menyelesaikan tantangan. Saya ingin anak-anak saya menjadi pribadi yang lebih jujur, lebih sadar diri, lebih dekat kepada Tuhannya.

Saya mulai melihat perubahan kecil. Ada siswa yang awalnya hanya menulis satu kali, kini mulai menulis satu halaman.  Ada yang menulis setengah halaman Tulisan-tulisan itu mungkin sederhana. Bagi saya, itu adalah tanda hati mereka mulai terbuka.

Hikmah besar tidak selalu datang di awal. Kadang Allah Subhanahu Wata'alla menyimpan keindahan proses agar kita tidak mudah menyerah. Gerakan terapi menulis ini bukan sekadar program, tetapi jalan sunyi memperbaiki diri.

Sebagai bonus, saya diberi kesempatan melihat YouTube dari mentor. Bukan sekadar tontonan, tetapi tuntunan. Saya menontonnya dengan hati yang lebih terbuka. Saya belajar bahwa menulis bukan hanya terapi psikologis, tetapi juga ibadah jika diniatkan karena Allah.

Bukankah setiap huruf yang baik bisa bernilai pahala? Bukankah pena adalah saksi amal manusia? Saya teringat bahwa dalam Islam, ada malaikat yang mencatat setiap amal perbuatan. Jika Allah saja “menuliskan” amal kita, mengapa kita tidak menuliskan refleksi diri kita sendiri?

Perjalanan ini baru dimulai. Hambatan masih ada. Konsistensi masih diuji. Anak-anak kadang semangat, kadang menurun. Saya percaya, perubahan karakter tidak lahir dari ceramah panjang, melainkan dari kesadaran yang tumbuh perlahan.

Menulis telah menjadi jembatan antara hati saya dan hati siswa-siswa saya. Saya lebih memahami kegelisahan mereka. Mereka pun perlahan belajar memahami diri sendiri.

Yaa Allah... kuatkanlah kami untuk istiqamah. Jadikan pena ini saksi kebaikan, bukan saksi kelalaian. Indonesia yang lebih baik tidak lahir dalam sehari. Ia lahir dari ruang-ruang kelas kecil, dari guru-guru yang tidak lelah menanam nilai, dari anak-anak yang belajar mengenal dirinya.

Cepu, 25 Pebruari 2026







Selasa, 24 Februari 2026

Terapi Menulis


Karya : Gutamining Saida

Sepuluh hari berjalan saya melakukan ikhtiar.  Sebagian orang terdengar sederhana, tetapi bagi saya terasa penting. Pilihan saya untuk terapi menulis secara online dengan sistem berbayar. Awalnya bukan karena ikut-ikutan tren, bukan pula karena ingin sekadar mencoba hal baru. Motivasinya sederhana rasa penasaran. Di zaman sekarang, begitu banyak terapi ditawarkan. Ada terapi untuk kesehatan fisik, terapi untuk kebahagiaan, terapi untuk ketenangan batin. Saya pun bertanya dalam hati, benarkah menulis bisa menjadi jalan penyembuhan?

Saya teringat bagaimana wahyu pertama yang turun kepada Nabi kita adalah perintah membaca. Perintah itu diabadikan dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5. Ketika Malaikat Jibril menyampaikan kepada Nabi Muhammad kalimat agung: “Iqra’.” Bacalah. Bahkan dalam ayat tersebut Allah juga menyebut tentang pena sebagai alat untuk menulis. Dari situlah saya merasa, menulis bukan sekadar aktivitas duniawi. Ia memiliki jejak spiritual yang panjang dalam sejarah peradaban Islam.

Tema terapi menulis adalah Cinta Diri dan Hubungan berlangsung satu bulan. Setiap pagi dan sore, kami diminta menulis beberapa kalimat tertentu sesuai panduan mentor. Saya menulis empat lembar. lembar. Justru di situlah tantangannya untuk menyempatkan waktu diantara kesibukan. Konsisten. tertib dan disiplin pada waktu. Setelah selesai, tulisan itu disetor melalui grup WhatsApp. Mentor akan membaca dan memberi koreksi. Jika ada yang kurang tepat, kami diarahkan untuk membuka tautan YouTube yang sudah disediakan, lalu memperbaiki tulisan sesuai arahan.

Sekilas tampak sederhana. Tetapi dalam praktiknya, saya merasakan ada proses pengendapan jiwa. Menulis di pagi hari seperti menanam benih niat. Menulis di sore hari seperti memanen evaluasi diri. Di sela-sela kesibukan sebagai guru, sebagai ibu, sebagai anggota masyarakat, saya berusaha menyediakan waktu. Tidak selalu mudah. Ada hari-hari ketika tubuh terasa lelah, pikiran penat, dan waktu begitu sempit. Setiap kali saya duduk dan mulai menulis, ada rasa hening yang turun perlahan.

Saya mulai menyadari, menulis bukan hanya tentang rangkaian kata. Ia adalah cermin hati. Saat saya menulis kalimat-kalimat afirmasi atau refleksi, saya seperti sedang berdialog dengan diri sendiri dan pada akhirnya dengan Allah. Ada rasa diingatkan. Ada rasa ditegur. Ada pula rasa dikuatkan.

Dalam Islam, kita diajarkan tentang muhasabah atau evaluasi diri. Terapi menulis ini, bagi saya, menjadi salah satu bentuk muhasabah modern. Ketika menuliskan perasaan, saya belajar jujur pada diri sendiri. Ketika menuliskan harapan, saya belajar menggantungkan doa hanya kepada-Nya. Ketika menuliskan rasa syukur, saya diingatkan bahwa nikmat Allah begitu luas, bahkan pada hal-hal kecil yang sering terlewat.

Hasilnya memang berbeda-beda pada setiap peserta. Ada yang merasa lebih bahagia. Ada yang merasa lebih tenang. Ada yang mengaku menjadi lebih jujur pada diri sendiri. Saya pun merasakan efeknya, meski belum maksimal karena kendala waktu. Setidaknya saya merasakan satu perubahan yaitu hati saya menjadi lebih sadar.

Saya menyadari bahwa selama ini mungkin saya terlalu sering berbicara, terlalu sering berpikir, tetapi jarang benar-benar menuliskan apa yang ada di dalam hati. Padahal, ketika sesuatu ditulis, ia menjadi lebih nyata. Ia tidak lagi samar dalam pikiran. Ia menjadi bukti bahwa kita pernah merasakan, pernah berharap, pernah berserah.

Ada satu momen ketika mentor meminta kami menulis testimoni setelah beberapa waktu menjalani terapi. Apa yang sebenarnya berubah dalam diri saya? Saya belum menjadi pribadi yang sempurna. Saya masih sering tergesa-gesa. Saya masih kadang kurang sabar. Saya merasakan ada ruang sunyi yang mulai terisi. Ada jeda yang dulu tidak pernah saya beri pada diri sendiri.

Menulis membuat saya lebih sadar waktu. Pagi bukan lagi sekadar awal aktivitas, tetapi awal niat. Sore bukan sekadar penutup hari, tetapi waktu evaluasi. Saya teringat firman Allah dalam Surah Al-‘Asr, bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Menulis menjadi salah satu cara saya menasihati diri sendiri dalam kebenaran dan kesabaran.

Saya juga belajar bahwa ikhtiar tidak selalu harus besar dan terlihat hebat. Kadang ia hadir dalam bentuk sederhana: duduk, mengambil pena, dan menuliskan beberapa kalimat dengan niat yang lurus. Jika diniatkan karena Allah, aktivitas sekecil apa pun bisa bernilai ibadah.

Setiap bulan terapi ini hadir dengan tema yang berbeda. Seperti bab-bab dalam perjalanan jiwa. Saya belum tahu akan sejauh mana perjalanan ini membawa saya. Saya bersyukur telah diberi kesempatan untuk mencicipinya. Bersyukur atas rasa penasaran yang menggerakkan langkah. Bersyukur atas waktu yang masih Allah berikan. Bersyukur atas hati yang masih mau belajar.

Kini saya memahami bahwa terapi bukan hanya tentang metode atau mentor. Ia tentang kesediaan hati untuk berubah. Tentang kerendahan hati untuk mengakui kekurangan. Tentang keberanian untuk jujur pada diri sendiri. Dan menulis menjadi salah satu jalan yang Allah pertemukan kepada saya untuk proses itu.

Semoga setiap huruf yang saya tulis menjadi saksi di hadapan-Nya. Bahwa saya pernah berusaha memperbaiki diri. Bahwa saya pernah mencoba mendekat. Bahwa di sela kesibukan dunia, saya masih menyediakan ruang untuk berbicara dengan hati dan dengan Tuhan.

Jika suatu hari nanti saya merasa lelah atau kehilangan arah, mungkin saya akan kembali pada cara sederhana ini yaitu menulis. Karena dari tulisan, saya belajar membaca diri. Dari membaca diri, saya belajar mengenal kebesaran Ilahi.

Cepu, 25 Pebruari 2026

Senin, 23 Februari 2026

Tanpa Rasa Ngantuk


Karya: Gutamining Saida

Hari pertama masuk di bulan suci selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Udara pagi terasa lebih tenang, langkah kaki siswa pun sedikit lebih pelan dari biasanya. Di balik wajah-wajah yang menahan lapar dan dahaga, saya melihat semangat yang tetap menyala. Sebagai guru IPS, saya tidak ingin pembelajaran di kelas 8F terasa garing hanya karena sedang berpuasa. Justru bulan suci harus menjadi momentum untuk belajar dengan cara yang lebih seru dan menyenangkan.

Beberapa hari sebelum masuk sekolah, saya sudah mengumumkan di grup kelas agar anak-anak membawa dua kertas bifalo, gunting, dan lem. Sebagian siswa bertanya-tanya, “Bu, mau buat apa ya?” Saya hanya menjawab singkat, “Siapkan saja, nanti kita buat sesuatu yang seru.” Perencanaan sudah saya susun matang. Materi yang akan kami pelajari adalah tentang lembaga keuangan bank dan bukan bank. Materi ini sebenarnya cukup serius, penuh istilah, dan jika disampaikan dengan metode ceramah saja bisa membuat siswa mengantuk apalagi di bulan puasa.

Ketika bel pergantian jam berbunyi, saya melangkah ke kelas 8F dengan membawa semangat. D meja mereka sudah disiapkan kertas bifalo yang sudah dibawa dari rumah. Anak-anak sudah duduk rapi. Ada yang masih mengipas-ngipas buku ke wajahnya, ada yang tersenyum penasaran. Saya membuka pelajaran dengan sedikit motivasi tentang pentingnya tetap semangat belajar walau sedang berpuasa. Puasa bukan alasan untuk malas, justru melatih disiplin dan pengendalian diri.

Setelah apersepsi singkat tentang lembaga keuangan, saya mulai memberikan instruksi. “Sekarang dua kertas bifalo kalian mari kita eksekusi. Satu akan kita jadikan papan game, satu lagi untuk membuat amplop.” Suasana kelas mulai ramai, tapi ramai yang produktif. Mereka saling meminjam penggaris, mengatur posisi duduk, dan memperhatikan instruksi yang saya berikan.

Langkah pertama, yaitu membuat sketsa papan game di kertas bifalo pertama, dilipat bentuk segitiga kecil untuk tempat pertanyaan. Sisi yang besar untuk tempat potongan-potongan jawaban. Berikut ini contohnya.


Langkah kedua adalah setiap siswa harus membuat 10 pertanyaan yang nantinya ditaruh di kertas yang disketsa. 13 jawaban terkait materi lembaga keuangan bank dan bukan bank.  Mengapa dibuat 13 karena dengan alasan untuk bahan pengecoh yang mengerjakan. Bahan materi bisa dicari dari buku paket  IPS mulai halaman 191sampai dengan halaman 201. Saya tidak membagi siswa menjadi kelompok tetapi tugas individu. Mereka mulai membuka buku paket dan menulis di buku catatan. Ada yang mengingat kembali penjelasan awal saya. Saya berusaha berjalan melihat ke belakang. Satu demi satu saya lihat hasil tulisannya.

Pertanyaan yang muncul beragam diantaranya adalah,
“Apa fungsi utama bank?”
“Sebutkan tiga contoh lembaga keuangan bukan bank!”
“Apa perbedaan bank umum dan BPR?”
“Apa itu asuransi?”
“Bagaimana cara kerja pegadaian?”

Saya tersenyum melihat mereka serius berpikir. Anak-anak yang biasanya pasif, kali ini ikut terlibat. Karena dalam game ini, jika pertanyaan atau jawabannya salah, siswa akan kesulitan. Di kertas kedua sisa segitiga bagian soal dipakai untuk tempat 13 jawaban. Mereka menyiapkan potongan-potongan soal dan jawaban yang nantinya dimasukkan ke dalam amplop.

Langkah ketiga adalah menggunting sketsa sesuai pola yang telah ada tulisan soal dan jawaban. Di sinilah keterampilan motorik mereka diuji. Ada yang menggunting terlalu kecil, ada yang terlalu besar, bahkan ada yang sempat salah potong dan harus memperbaiki. Semua dilakukan dengan penuh canda. Bulan puasa tidak mengurangi kreativitas mereka.

Amplop kecil yang dibuat dari kertas bifalo kedua menjadi tempat menyimpan potongan soal dan jawaban. Saya berkeliling dari satu bangku ke bangku lain, memastikan setiap langkah sesuai petunjuk. Jika ada yang bingung, saya arahkan. Jika ada yang kurang rapi, saya beri motivasi untuk memperbaiki. Akhirnya, game puzzle IPS pun siap dimainkan.

Aturannya sederhana. Setiap siswa menukar papan game dengan teman lain. Mereka harus mencocokkan pertanyaan dengan jawaban yang tepat dalam waktu tertentu. Karena jumlah jawaban ada 13 sementara pertanyaan hanya 10, ada tiga jawaban pengecoh. Di sinilah letak tantangannya.

Suasana kelas berubah menjadi lebih hidup. Diskusi terdengar di setiap sudut ruangan.

“Ini jawabannya bank sentral bukan ya?”
“Eh, itu kan tugasnya OJK!”
“Yang ini masuk lembaga keuangan bukan bank!”

Saya melihat wajah-wajah yang penuh konsentrasi. Mereka tidak sadar bahwa sebenarnya sedang mengulang materi secara mendalam. Tanpa terasa, konsep tentang bank umum, BPR, koperasi simpan pinjam, asuransi, pegadaian, hingga pasar modal tertanam lebih kuat di ingatan mereka.

Setelah waktu habis, kami membahas bersama jawabannya. Siswa yang paling cepat dan banyak benar mendapatkan apresiasi. Bukan hadiah besar, hanya tepuk tangan dan pujian. Hal itu sudah cukup membuat mereka bangga.

Saya menutup pelajaran dengan refleksi. “Apa yang kalian rasakan belajar dengan cara seperti ini?” Beberapa siswa menjawab serempak, “Seru, Bu!” Ada yang berkata, “Tidak ngantuk.” Bahkan ada yang mengatakan, “Belajarnya jadi mudah dipahami.”

Pembelajaran tidak harus selalu duduk diam dan mencatat. Dengan sedikit kreativitas, materi yang tampak berat bisa menjadi ringan. Game puzzle sederhana dari dua kertas bifalo ternyata mampu mengubah suasana kelas di bulan puasa menjadi penuh semangat.

Menjadi guru bukan hanya menyampaikan materi, tetapi juga menghadirkan pengalaman belajar yang berkesan. Hari pertama di bulan suci itu menjadi bukti bahwa dengan perencanaan matang dan niat yang tulus, pembelajaran bisa tetap hidup dan bermakna.

Kelas 8F telah menunjukkan bahwa puasa bukan penghalang untuk berkarya. Justru di tengah keterbatasan energi, kreativitas bisa tumbuh lebih kuat. Saya merasakan kebahagiaan, karena telah melihat semangat belajar yang luar biasa dari anak-anak didik saya. Sejatinya, belajar akan selalu menyenangkan jika dilakukan dengan hati. Selamat mencoba dan semoga menginspirasi bagi siapa pun yang ingin menghadirkan pembelajaran kreatif di kelas. 

Cepu, 23 Pebruari 2026