Karya: Gutamining Saida
Jum’at siang selepas pulang mengajar, suasana sekolah mulai sepi. Para siswa sudah pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat. Saya pun bersiap berangkat ke rencana mbolang. Saya bersama Bu Isna sepakat melakukan mbolang berkeliling melihat kehidupan masyarakat di pelosok desa. Bukan sekadar jalan-jalan, tetapi ingin melihat langsung kehidupan yang mungkin jarang tersentuh oleh pandangan kita sehari-hari.
Perjalanan kami menuju sebuah desa yang cukup jauh dari keramaian. Jalan yang kami lalui semakin lama semakin sempit. Rumah-rumah mulai jarang, pepohonan dan sawah terbentang luas di kanan kiri jalan. Udara terasa lebih segar, membawa aroma khas pedesaan yang begitu kuat. Sawah-sawah tampak sudah selesai dipanen. Jerami tersisa menguning di atas tanah, menjadi tanda bahwa para petani baru saja melewati masa panen.
Kami berhenti di sebuah rumah sederhana di pinggir jalan desa. Dindingnya sebagian dari papan, sebagian lagi dari tembok yang sudah mulai kusam. Halaman rumah tidak begitu luas, namun cukup untuk aktivitas sehari-hari. Saat mendekat, aroma yang cukup tajam langsung terasa menusuk hidung. Di bagian dalam rumah ternyata terdapat kandang kambing dan ayam yang dipelihara oleh pemilik rumah.
Di sudut lain rumah terlihat beberapa karung besar yang ditumpuk rapi. Karung-karung itu berisi hasil pertanian. Ada yang berisi padi, ada pula yang berisi jagung. Semuanya ditaruh begitu saja di dalam rumah karena mungkin tidak ada gudang khusus untuk menyimpannya. Rumah tersebut bukan hanya tempat beristirahat, tetapi juga menjadi tempat menyimpan hasil kerja keras dari ladang dan sawah.
Saya dan Bu Isna saling berpandangan. Di dalam hati muncul perasaan yang sulit dijelaskan. Kehidupan di rumah itu terasa begitu sederhana, mungkin bagi sebagian orang terasa berat untuk menjalani. Bau kandang hewan bercampur dengan aroma gabah dan tanah yang lembap memenuhi ruangan.
Di balik semua itu, ada sesuatu yang terasa sangat kuat yaitu ketulusan hidup. Orang-orang di desa itu menjalani kehidupan mereka dengan apa adanya. Mereka bekerja di sawah, memelihara ternak, menyimpan hasil panen, lalu menjalani hari demi hari dengan penuh kesabaran.
Dalam perjalanan itu, hati saya seperti diajak berbicara. Betapa seringnya kita lupa bersyukur atas nikmat yang sudah Allah Subhanahu Wata'alla berikan kepada kita. Jika mau melihat sedikit saja ke sekitar, masih banyak saudara-saudara kita yang hidup dengan kondisi yang jauh lebih sederhana.
Allah Subhanahu Wata'alla dalam Al-Qur’an telah mengingatkan manusia yaitu "Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu."
Ayat tersebut terasa begitu nyata saat melihat kehidupan masyarakat desa itu. Mereka mungkin tidak memiliki rumah besar, kendaraan mewah, atau fasilitas lengkap. Mereka tetap bekerja dengan tekun, menjalani kehidupan dengan sabar, dan tetap bersyukur atas apa yang dimiliki.
Saya teringat bahwa sering kali manusia justru lebih mudah melihat orang yang hidupnya di atas kita. Melihat mereka yang lebih kaya, lebih berhasil, lebih memiliki banyak hal. Tanpa sadar hal itu membuat hati merasa kurang, merasa belum cukup, bahkan terkadang mengeluh.
Rasulullah pernah mengajarkan kepada kita untuk melihat kepada orang yang berada di bawah kita dalam urusan dunia, agar kita bisa lebih mudah bersyukur. Melihat kehidupan masyarakat desa tersebut membuat saya benar-benar memahami makna nasihat itu.
Rumah sederhana yang mereka tempati mungkin terasa sempit bagi sebagian orang. Bagi mereka, rumah itu adalah tempat berlindung dari panas dan hujan. Kambing dan ayam yang mereka pelihara bukan sekadar hewan ternak, tetapi menjadi sumber penghidupan bagi keluarga. Karung-karung hasil panen yang tersimpan di rumah adalah bukti kerja keras yang penuh keringat.
Perjalanan siang itu menjadi pengingat yang sangat berharga. Bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dari seberapa banyak yang kita miliki. Kebahagiaan sering kali justru hadir dari rasa cukup dan rasa syukur yang tertanam di dalam hati.
Setiap hari guru mengajar, memberi ilmu kepada siswa, membimbing mereka agar menjadi manusia yang lebih baik. Terkadang kita lelah, terkadang merasa pekerjaan begitu banyak. Jika dipikir kembali, pekerjaan itu sendiri adalah nikmat besar yang Allah Subhanahu Wata'alla berikan.
Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk mengajar, berbagi ilmu, dan berinteraksi dengan generasi muda setiap hari. Profesi guru adalah amanah yang sangat mulia. Perjalanan Jum'at siang bersama Bu Isna siang itu seolah menjadi pelajaran kehidupan yang tidak tertulis di buku. Pelajaran tentang kesederhanaan, tentang kesabaran, dan yang paling penting tentang rasa syukur.
Angin bertiup pelan menggerakkan sisa jerami di ladang. Langit terlihat cerah, seakan mengingatkan bahwa hidup ini penuh dengan nikmat Allah Subhanahu Wata'alla yang sering kali tidak kita sadari.
Semoga Allah Subhanahu Wata'alla selalu menjaga hati kita agar tetap mampu bersyukur. Karena sejatinya kekayaan yang paling besar bukanlah harta yang melimpah, tetapi hati yang selalu merasa cukup atas pemberian-Nya.
Perjalanan Jum’at siang berkeliling desa, melihat rumah-rumah warga, dan menyaksikan kehidupan apa adanya. Di balik kesederhanaan itu tersimpan pelajaran yang terkesan. Belajar untuk bersyukur.
Cepu, 14 Maret 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar