Seketika, kantuk saya hilang. Motivasi itu membuncah hingga saya memutuskan untuk membuka laptop, merangkai kata demi kata. Saya merasa, ilmu yang saya dapatkan dari Pak Gun, meski hanya setetes, adalah amanah yang harus dibagikan. Karena bukankah sebaik-baiknya nikmat adalah yang disyukuri, dan sebaik-baiknya syukur adalah yang bermanfaat bagi sesama?
Dalam obrolan grup yang semakin seru itu, saya tertegun membaca testimoni teman-teman. Pak Gun menceritakan tentang Mas Andrian, yang setelah rutin menceburkan diri di kolam, mendapati perutnya mengecil secara drastis hingga semua celananya kedodoran. Ada pula kisah Bu Etik, yang selama ini "berteman" dengan obat migrain, namun menemukan kesembuhan justru saat belajar "jungkir balik" di dalam air.
Membaca itu, saya teringat akan sebuah pesan spiritual bahwa Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Air bukan sekadar benda mati, ia adalah media penyembuh yang disiapkan Sang Pencipta bagi hamba-Nya yang mau berikhtiar.
Saran Pak Gun sangat menusuk kalbu: "Jika terasa sakit, tidak perlu langsung ke apotek agar tidak ketergantungan obat." Kalimat ini terdengar seperti ajakan untuk kembali ke fitrah. Ke kolam renang bukan sekadar urusan olahraga, tapi urusan "pulang" ke dasar penciptaan manusia. Bu Sulikah pun menimpali dengan kalimat yang sangat puitis namun nyata, bahwa di kolam itulah kita menemukan "obat murah".
Saat Pak Gun membimbing saya untuk tidak lagi takut pada kedalaman, saya menyadari bahwa ketakutan kita selama ini sering kali hanya ada di pikiran. Kita takut tenggelam, kita takut lelah, kita takut pada penilaian orang lain. Di bawah bimbingan Pak Gun yang sabarnya seluas samudera, ketakutan itu luruh satu per satu. Beliau mengajarkan bahwa air akan menopang siapa saja yang tenang. Hanya dalam kondisi tenanglah, manusia bisa mengapung di atas ujian hidup. Jika kita panik dan melawan dengan emosi, kita justru akan tenggelam dalam masalah.
Kisah Mas Andrian yang celananya kedodoran bukan sekadar cerita tentang diet yang berhasil. Secara rohani, itu adalah simbol tentang bagaimana beban-beban lemak dan penyakit bisa luruh jika kita disiplin dalam berikhtiar. Begitu juga dengan Bu Etik migrain yang hilang setelah "jungkir balik" di air mengajarkan bahwa terkadang kita perlu melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda bahkan jika harus jungkir balik untuk menemukan kesembuhan dan solusi dari Sang Khalik.
Saya merasa tertinggal jauh saat ingin mengomentari keramaian di grup itu. Akhirnya menjadi pengamat pun adalah sebuah berkah. Dari layar kecil itu, saya melihat sebuah komunitas yang tidak hanya mengejar kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan jiwa. Kami adalah rombongan orang-orang yang menolak menyerah pada usia.
Pak Gun, dengan sapaannya yang keren dan pembawaannya yang berwibawa, telah menjadi perantara bagi kami untuk melihat kekuasaan Tuhan dalam diri kami sendiri. Beliau meyakinkan saya bahwa nenek-nenek pun punya hak untuk merasa gagah di dalam air. Beliau mengajarkan bahwa rasa malu kepada yang sudah mahir harus digantikan dengan rasa semangat untuk terus memperbaiki diri.
"Belajarlah dari buaian hingga liang lahat," sebuah pesan yang begitu nyata saya rasakan di pinggir kolam itu. Tidak ada kata malu untuk belajar mengambang, meski di samping kita ada balita yang sudah lincah meluncur. Justru di sanalah letak seninya menghancurkan kesombongan diri dan mengakui bahwa di hadapan ilmu Tuhan, kita semua adalah pemula.
Bagi pembaca setia saya, mungkin apa yang saya tulis ini terdengar sederhana. Hanya tentang berenang di usia senja. Namun bagi saya, ini adalah tentang merayakan sisa usia dengan cara yang dicintai Tuhan yaitu menjaga kesehatan.
Bisa bahagia di dalam air adalah sebuah kemewahan batin. Saat tubuh terasa ringan karena daya apung air, saat itulah beban-beban pikiran seolah dilepaskan satu per satu ke dasar kolam. Kita keluar dari air dengan perasaan yang lebih segar, jiwa yang lebih tenang, dan iman yang lebih mantap.
Kita tidak perlu selalu mencari kesembuhan di dalam botol-botol kimia jika kita bisa menemukannya dalam setiap riak air yang kita belah dengan tangan kita sendiri. Pak Gun telah membuka mata kami, bahwa sehat itu dekat, sehat itu murah, dan sehat itu adalah bagian dari ibadah.
Sambil merangkai kata-kata ini, saya tersenyum sendiri mengingat obrolan di grup Muda Swimming Squad. Senin malam ini menjadi istimewa bukan karena pencapaian besar duniawi, melainkan karena rasa syukur yang meluap.
Terima kasih Pak Gun, sang motivator yang tak kenal lelah. Terima kasih teman-teman seperjuangan yang telah menjadi inspirasi lewat celana yang kedodoran dan migrain yang hilang. Semoga tulisan ini menjadi pengingat bagi saya dan siapa pun yang membacanya bahwa selama napas masih dikandung badan, pintu untuk sehat dan belajar selalu terbuka lebar.
Jangan biarkan usia membelenggu langkahmu. Allah Subhanahu Wata'alla menciptakan air untuk kita seberangi, bukan untuk kita takuti. Dan di tangan guru yang tepat seperti Pak Gun, air yang semula asing kini menjadi sahabat karib bagi jiwa-jiwa yang haus akan kesehatan dan kedamaian. Sampai ketemu di hari Jum'at bersama pak Gun.
Cepu, 27 April 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar