Karya: Gutamining Saida
Malam ini, di bawah temaram lampu kamar, saya merenungi sebuah perjalanan yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Di usia yang sudah melewati angka lima puluh tahun usia di mana orang-orang biasanya memilih untuk duduk di kursi goyang sambil menimang cucu. Saya justru memilih untuk menceburkan diri ke dalam kolam renang. Bukan sekadar berendam, tapi berjuang melawan rasa takut yang telah mengakar selama puluhan tahun.
Di balik perjuangan ini, ada satu nama yang selalu bergema di telinga kami yaitu Pak Gun. Bagi kami, para siswanya, Pak Gun bukan sekadar instruktur renang. Beliau adalah cermin dari sifat sabar yang luar biasa. Bayangkan saja, rentang usia muridnya begitu kontras. Di satu sisi, ada balita yang tawa dan tangisnya masih murni, yang melihat air sebagai taman bermain. Di sisi lain, ada kami barisan "nenek-nenek" yang membawa beban ketakutan, trauma masa lalu, dan sejuta pertimbangan logis yang justru sering kali menghambat gerak.
Mengajar balita mungkin hanya butuh keceriaan. Pak Gun mengajar kami yang sudah berkepala lima ke atas? Itu butuh mukjizat kesabaran. Kami adalah tipe murid yang penuh dengan "tapi". "Tapi Pak, nanti kalau kaki saya kram bagaimana?" "Tapi Pak, kalau saya tenggelam bagaimana?" "Tapi Pak, kedalaman ini rasanya seperti samudera tak bertepi." Pak Gun hanya tersenyum, mendengar komentar kami.
Pikiran-pikiran itu sering kali membuat kami kaku. Dalam ajaran agama, kita diajarkan bahwa ketakutan yang berlebihan terkadang bisa menutup mata hati kita terhadap kekuasaan Tuhan yang ada di sekeliling kita. Air, yang seharusnya menjadi sumber kehidupan dan penyucian diri, justru menjadi monster dalam hidup kami. Pak Gun dengan ketenangan yang seperti air itu sendiri, tidak pernah sekalipun menunjukkan raut jemu, muka marah yang ada hanyalah senyuman.
Beliau memandang kami bukan sebagai beban, melainkan sebagai hamba Allah yang sedang berikhtiar menjaga amanah berupa tubuh yang sehat. Beliau menghadapi "rewelnya" nenek-nenek dengan senyum yang sama tulusnya saat beliau menyambut tawa balita. Puncak dari kebahagiaan saya terjadi kemarin hari Sabtu. Bagi seorang atlet atau anak muda, kedalaman 120 cm mungkin dianggap remeh, kecil bahkan dangkal. Bagi saya, itu adalah sebuah pencapaian yang besar.
Saat kaki saya tidak lagi menyentuh dasar secara kokoh, dan tubuh saya mulai diselimuti oleh massa air, di sanalah saya belajar tentang Tawakal. Pak Gun membimbing saya untuk tidak melawan air, melainkan bersahabat dengannya. Beliau mengajarkan bahwa jika kita tenang, air akan mengangkat kita. Bukankah hidup juga demikian? Jika kita tenang dan berserah diri kepada takdir-Nya, badai seberat apa pun akan membuat kita tetap mengapung.
"Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup..." (QS. Al-Anbya: 30)
Ayat itu terasa begitu nyata saat saya akhirnya bisa mengambang. Di dalam air yang tenang itu, saya menemukan kedamaian yang luar biasa. Hilang sudah rasa malu saat melihat teman-teman lain yang sudah mahir meluncur dengan lincah. Hilang sudah rasa minder karena usia. Yang ada hanyalah rasa syukur karena Allah Subhanahu Wata'alla masih memberi saya kesempatan untuk mencicipi nikmat-Nya yang berupa nikmat bisa bergerak, nikmat bernapas, dan nikmat menaklukkan ego sendiri.
Ilmu yang diberikan Pak Gun bukan sekadar teknik pernapasan atau gerakan tungkai. Beliau mengajarkan tentang kerendahan hati. Beliau, dengan segala keahliannya, mau merunduk dan membimbing kami yang bergerak lamban. Dari beliau saya belajar bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain, tanpa memandang status atau usia.
Sering kali di tengah latihan, saya melihat Pak Gun mengarahkan kami dengan bahasa yang sangat lembut. Tidak ada bentakan, yang ada hanyalah motivasi. Beliau seolah-olah sedang menanamkan benih keberanian di tanah yang sudah mulai kering. Beliau meyakinkan saya bahwa tidak ada kata terlambat untuk belajar. Tidak ada penghalang walau sudah nenek-nenek.
Belajar di usia senja memang berat. Otot tidak lagi seelastis dulu, ingatan terkadang meleset, dan rasa was-was sering menghantui.Melalui perantara Pak Gun, Allah Subhanahu Wata'alla menunjukkan bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh tidak akan pernah sia-sia.
Saya tidak lagi melihat air sebagai ancaman yang akan menenggelamkan, melainkan sebagai makhluk Allah Subhanahu Wata'alla yang menopang tubuh saya. Saya merasa bahagia. Bahagia yang sangat sederhana.
Bisa mengambang di permukaan air membuat saya merasa begitu ringan. Segala beban pikiran tentang "nanti gini, nanti gitu" seolah luruh bersama aliran air di kolam itu. Saya tidak lagi patah semangat. Justru, semangat ini semakin membara karena saya tahu, di tepi kolam sana, ada Pak Gun yang dengan sabar menunggu dan siap mengoreksi jika saya salah.
Saya merasa sangat beruntung. Di usia saya yang tidak lagi muda, Allah Subhanahu Wata'alla mempertemukan saya dengan lingkungan belajar yang positif. Bersama teman-teman seperjuangan, kami saling menguatkan. Tidak ada kompetisi, yang ada hanyalah keinginan untuk sehat dan bahagia bersama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar