Karya : Gutamining Saida
Pertemuan yang diatur oleh semesta seringkali bukan sekadar kebetulan, melainkan skenario indah yang telah dituliskan oleh Sang Pemilik Takdir. Sabtu sore yang tenang menyuguhkan langit yang mulai meneteskan air seolah memberikan isyarat bahwa akan ada tangis kebahagiaan. Di tengah keramaian kolam Bumool, Allah Subhanahu Wata'alla mempertemukan saya kembali dengan sepotong kenangan masa lalu yang sempat terpisah oleh tabir waktu dan jarak.
Sudah empat belas bulan lamanya saya meninggalkan tugas di Kedungtuban. Selama itu pula, wajah-wajah murid yang dulu setiap hari menghiasi hari-hari saya perlahan mulai memudar dalam ingatan. Semua itu tertutup oleh rutinitas baru dan pertemuan-pertemuan lain yang tak kalah padatnya. Namun, sore itu berbeda. Di antara sekian banyak anak dan orang perempuan, seorang gadis manis berjalan ke arah saya dengan binar mata yang penuh kerinduan.
Dia masih sangat mengenali saya. Sebaliknya, saya justru terpaku, mencoba mengais sisa-sisa memori yang mungkin tertinggal di sudut pikiran. Saya mengamati langkahnya yang semakin mendekat. Dia bukan lagi gadis kecil yang saya ingat di bangku kelas delapan dulu. Kini, penampilannya tampak jauh lebih dewasa, tubuhnya lebih berisi, dan satu hal yang membuat saya sempat ragu adalah dia sedang tidak mengenakan jilbab. Perubahan fisik yang drastis ini benar-benar menguji daya ingat saya.
"Bu Saida...!" serunya dengan nada penuh kehangatan yang tak mampu ia sembunyikan.
Tanpa ragu, ia merengkuh tubuh saya dalam sebuah pelukan erat. Sebuah pelukan yang seketika meruntuhkan tembok keraguan saya. Kehangatannya terasa tulus, sebuah manifestasi dari rasa hormat seorang murid kepada gurunya.
"Ooooh, kamu Asley ya?" jawab saya singkat setelah berhasil menyusun kepingan ingatan.
"Iya, Bu... Dari tadi sudah saya panggil-panggil, Bu Saida diam saja," lanjutnya dengan nada manja yang mengingatkan saya pada masa-masa di kelas delapan B dulu.
"Maaf, maaf... Ibu tadi samar sekali, kamu sudah banyak berubah, Nak," ucap saya membela diri sambil tersenyum kecil. Ada rasa haru yang menyelinap; betapa seorang guru seringkali lupa pada wajah muridnya karena banyaknya wajah yang ditemui, namun seorang murid jarang sekali melupakan sosok yang pernah menanamkan ilmu di dalam dadanya.
Pertemuan singkat itu terputus sejenak karena saya harus menuju ruang ganti. Rncana Allah tidak berhenti di situ. Saat saya hendak bersiap pulang, langkah saya terhenti oleh sapaan seorang guru senior yang sangat saya hormati, beliau Pak Gun.
"Bu Saida... Ini muridnya, ya?" tanya Pak Gun sambil menunjuk ke arah Asley.
"Iya, Pak. Alhamdulillah bisa ketemu di sini" jawab saya terheran-heran.
"Iya, ini murid saya waktu saya masih bertugas di Kedungtuban dulu," jelas saya lagi.
Akhirnya, kami berempat duduk bersama. Sebuah obrolan hangat pun mengalir, membelah keheningan sore yang kian beranjak menuju maghrib. Kami bercerita banyak hal, mulai dari kabar kawan-kawan lama di Kedungtuban hingga perjalanan hidup yang telah dilalui Asley selama empat belas bulan terakhir. Di sela-sela obrolan itu, betapa luar biasa cara Allah menyambung kembali tali silaturahmi.
Silaturahmi bukan sekadar berkunjung atau mengobrol. Silaturahmi adalah jembatan keberkahan yang mampu memperpanjang usia dan melapangkan rezeki. Pertemuan dengan Asley sore itu adalah rezeki batin yang tak ternilai harganya bagi saya. Melihatnya tumbuh menjadi sosok yang percaya diri dan tetap memiliki adab untuk menyapa gurunya lebih dulu adalah sebuah pencapaian tersendiri bagi seorang pendidik.
Ada rasa syukur yang membuncah di dada. Saya menyadari bahwa tugas seorang guru tidak hanya selesai saat bel sekolah berbunyi atau saat masa pengabdian di suatu daerah berakhir. Jejak-jejak didikan itu akan terus dibawa oleh sang murid ke mana pun ia pergi. Meskipun penampilannya kini berbeda tanpa jilbab. Ssaya tetap melihat percikan cahaya ketulusan dalam dirinya. Saya berdoa dalam hati agar hidayah selalu menyertai setiap langkahnya, dan agar ilmu yang pernah saya bagikan menjadi pelita baginya di tengah perubahan zaman yang kian cepat.
Kerinduan yang selama ini terpendam pun seolah terobati. Hadirnya Asley mewakili kerinduan saya pada seluruh siswa di Kedungtuban. Satu siswa saja sudah mampu membuat hati ini berbunga-bunga, apalagi jika seandainya saya bisa berkumpul kembali dengan seluruh siswa dalam satu kelas. Betapa riuhnya suasana itu, betapa banyak tawa yang akan pecah, dan betapa banyak doa yang akan terucap.
Saya sadar bahwa hidup adalah tentang fase yang harus dilewati. Ada masa untuk menanam, dan ada masa untuk melihat benih-benih itu tumbuh di ladang yang berbeda. Asley adalah salah satu benih yang kini sedang merekah di ladang barunya.
Sore itu ditutup dengan sebuah harapan yang saya gantungkan setinggi langit. Semoga pertemuan ini bukanlah yang terakhir. Semoga di lain waktu, Allah Subhanahu Wata'alla mengizinkan kami berkumpul kembali dalam suasana yang jauh lebih indah, mungkin dalam sebuah reuni besar di mana semua wajah hadir dengan cerita sukses dan keberkahan masing-masing.
Sabtu sore itu bukan lagi sekadar pergantian hari menuju akhir pekan, melainkan sebuah pengingat dari Sang Khalik bahwa tidak ada yang benar-benar hilang dalam kasih sayang-Nya. Jarak boleh memisahkan, waktu boleh berlalu, ikatan batin antara guru dan murid adalah ikatan abadi yang akan terus hidup dalam doa-doa yang tulus. Terima kasih, Ya Allah, atas pertemuan singkat. Kumpulkanlah kami kembali dalam kebaikan, baik di dunia maupun di Jannah-Mu kelak. Aamiiin.
Cepu, 26 April 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar