Karya : Gutamining Saida
Di pinggir lintasan double track yang membelah kota Cepu, sebuah warung nasi pecel berada. Warung sederhana menjadi saksi bisu bagaimana takdir bekerja dalam porsi-porsi kecil yang mengenyangkan perut. Sepincuk nasi dengan siraman sambal kacang menggugah selera pembeli.
Sore itu, langit berwarna jingga tembaga. Suara gemuruh kereta api yang melintas di jalur ganda menciptakan simfoni bising yang justru terasa akrab di telinga para pelanggan nasi pecel. Kerumunan pembeli semakin memadat. Ada pemuda dengan jaket ojek daringnya, ibu-ibu yang masih mengenakan daster, hingga bapak-bapak parlente yang memarkir mobil mewahnya di bahu jalan. Di mata Tuhan, mereka semua sama: hamba-hamba lapar yang sedang menjemput rezeki dalam bentuk nasi lengkap sayuran rebus dan bumbu kacang.
Saya berdiri di sana, menghirup aroma wangi sambal kacang yang menguar dari adonan di mangkok. Saya sudah membayangkan sepotong tempe goreng yang garing, berwarna cokelat keemasan, sebagai pendamping nasi pecel. Tempe adalah kemewahan sederhana, sebuah bentuk syukur atas hasil bumi yang diolah dengan sabar.
"Tempenya masih digoreng, bu. Masih basah, belum kering. Mau nunggu?" tanya penjual yang sudah nenek-nenek. tanpa mengalihkan pandangan dari tangannya yang lincah menata kangkung dan tauge. Saya melirik ke arah wajan besar. Seorang laki-laki ceritanya cucunya yang bagian mengoreng. Di sana, potongan-potongan tempe masih berenang di dalam minyak panas, mengeluarkan bunyi desis yang menandakan proses pematangan masih panjang. Di belakang, antrean semakin mengular. Beberapa orang memilih untuk setia menunggu. Mereka berdiri mematung, pandangannya terkunci pada wajan, seolah-olah kebahagiaan hidup mereka bergantung sepenuhnya pada tingkat kerenyahan tempe tersebut.
Pada saat itulah, sebuah bisikan lembut muncul di hati. Bukankah hidup seringkali memaksa kita memilih antara keinginan dan ketetapan waktu?
"Mbah, saya lauk kerupuk saja dua," jawab si anak saya mantap.
Keputusan itu spontan, namun terasa benar. Anak saya memilih kerupuk sesuatu yang ringan, rapuh, namun segera tersedia. Mbahnya tersenyum, dengan cepat ia mengambil nasi ditambah sayuran dan sambal, meletakkan dua kerupuk putih yang lebar di atasnya, dan menyerahkannya kepada anak saya.
Saat saya dan anak melangkah keluar warung membawa sepincuk nasi pecel, menoleh sejenak. Orang-orang yang bersikeras menunggu tempe goreng masih berdiri di sana. Mereka terjebak dalam penantian. Sementara itu, saya sudah bisa menikmati di kursi luar. Kerupuk yang kuterima bukan sekadar pelengkap makan, melainkan simbol keridaan atas apa yang ada di depan mata. Sambil menikmati nasi pecel bersama kerupuk yang renyah. Kerupuk itu hancur saat digigit, mengingatkanku bahwa dunia ini pun fana dan mudah hancur. Di balik kriuknya, ia memberikan rasa gembira.
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."
Cepu, 25 April 2026
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar