Karya : Gutamining Saida
Tanggal 18 Maret 2026 menjadi hari yang cukup ramai di grup keluarga besar Mbah Seman. Sejak pagi sekitar pukul 10.00 WIB percakapan silih berganti memenuhi layar ponsel. Bukan tanpa sebab, topik yang dibicarakan adalah sesuatu yang sangat dinanti yaitu pertemuan keluarga besar yang sudah menjadi tradisi beberapa tahun lalu/
Seperti tahun-tahun sebelumnya, pertemuan keluarga dilaksanakan pada hari kedua Lebaran. Hari yang penuh makna, ketika suasana Idulfitri masih hangat, hati masih lembut, dan rasa rindu antar saudara begitu terasa. Tahun ini ada sedikit perbedaan yang membuat semuanya harus dipikirkan lebih matang.
Awal bulan Ramadan terjadi perbedaan penetapan antara Muhammadiyah dan pemerintah. Selisih satu hari ini berdampak pada penentuan hari Lebaran. Bagi sebagian orang mungkin hal biasa, namun untuk keluarga besar yang ingin berkumpul dari berbagai daerah, ini menjadi hal yang perlu dipastikan dengan matang.
Di tengah ramainya diskusi, ada satu hal yang terasa menenangkan yaitu semua anggota keluarga menyadari bahwa perbedaan adalah bagian dari kehidupan. Tidak ada perdebatan yang memanas, tidak ada saling menyalahkan. Justru yang muncul adalah sikap saling memahami. Mereka menyadari bahwa perbedaan dalam menentukan awal puasa dan lebaran adalah sesuatu yang sudah sering terjadi di Indonesia, dan tidak perlu menjadi sumber perpecahan.
“Perbedaan itu nikmat, tinggal bagaimana kita menyikapinya,” tulis salah satu anggota grup. Kalimat sederhana, namun mengandung makna yang dalam. Di balik pembahasan tanggal, muncul pula persoalan lain yang tidak kalah penting yaitu transportasi. Mengingat lokasi rumah anggota keluarga yang berjauhan, sebagian mengusulkan untuk menyewa mobil elf agar bisa berangkat bersama. Selain lebih hemat, juga lebih aman dan mengurangi rasa lelah dibandingkan membawa kendaraan sendiri.
Beberapa anggota mulai menghitung jumlah penumpang. Ternyata ada sekitar 17 orang yang akan ikut dalam rombongan. Jumlah yang tidak sedikit, sehingga membutuhkan kendaraan elf berukuran besar. Diskusi pun semakin ramai.
"Kira-kira reuni keluarga tanggal dan hari apa ya?" salah chat yang masuk.
"Gak tahu, lebaranne kapan, pokok e lebaran kedua ya, kumohon hadir semua!" jawab tuan rumah.
“Ayo segera ditentukan, Sabtu atau Minggu?” tulis salah satu anggota dengan nada sedikit mendesak.
Yang lain menimpali, “Kalau tidak segera, takutnya mobilnya sudah dibooking orang lain.”
"Gimana bila dipastikan dan disepakati hari Minggu?"
"Maaf belum bisa memastikan lebaran kapan."
" Gimana pak Ketua?"
"Sepakate lebatran kedua Mas."
"Sewa mobil elef harus ada kesepakatan hari ya."
"Cari yang bisa ae lah."
"Ya sudah biar diputuskan oleh sesepuh kita dulu."
"Jangan dirubah, intinya tetap lebaran kedua."
Memang menjelang lebaran, permintaan sewa kendaraan meningkat drastis. Tidak semua penyedia jasa bisa menyesuaikan jadwal sesuai keinginan. Hal ini menambah kegelisahan di antara anggota keluarga.
Ada yang mulai bertanya-tanya, “Bagaimana pak ketua?”
Semua berharap ketua keluarga bisa memberikan keputusan. Namun, sebagai pemimpin yang bijak, beliau tidak langsung memutuskan. Ia justru meminta pendapat dari tuan rumah, sebagai bentuk penghormatan.
"Kalau saya manut yang ditempati, gimana dik?"
"Saya minta hari Sabtu, Kalau yang memutuskan aku, aku gak tahu lebaaran kapan?"
Jawaban dari tuan rumah pun sederhana, bahkan terkesan menggantung. Hal ini sempat membuat beberapa anggota merasa khawatir. Ada yang mulai merasa putus asa karena belum ada keputusan yang jelas, sementara waktu terus berjalan.
Di sinilah letak ujian kebersamaan. Dalam kondisi seperti itu, kesabaran benar-benar diuji. Tidak semua keinginan bisa langsung terwujud. Tidak semua rencana berjalan mulus. Tetapi justru dari situlah nilai keikhlasan dan tawakal tumbuh.
Beberapa anggota mulai mengambil inisiatif untuk mencari informasi tentang sewa mobil elf yang masih tersedia. Mereka menghubungi beberapa penyedia jasa, menanyakan kemungkinan penyesuaian jadwal.
Dan atas izin Allah, di tengah ketidakpastian itu, datanglah kabar baik. Ada satu penyedia mobil elf yang bersedia menyesuaikan dengan kebutuhan keluarga. Seolah menjadi jawaban dari doa-doa yang terucap dalam diam.
"Ya sudah mbah, Alhamdulillah, Insya Allah ada sewa elef yang bisa menyesuaikan."
Rasa lega pun menyelimuti grup tersebut. Percakapan yang sebelumnya penuh tanda tanya, kini berubah menjadi ungkapan syukur.
“Alhamdulillah… akhirnya dapat juga.”
“Semoga dimudahkan sampai hari H.”
“MasyaAllah, rezeki tidak ke mana.”
Akhirnya, dengan penuh kesepakatan, diputuskan bahwa pertemuan keluarga tetap dilaksanakan pada hari kedua Lebaran, sebagaimana tradisi yang sudah berjalan selama ini.
Keputusan itu bukan sekadar tentang tanggal. Lebih dari itu, ini adalah tentang menjaga silaturahmi. Tentang merawat hubungan kekeluargaan yang mungkin jarang bertemu di hari-hari biasa. Tentang menguatkan kembali ikatan hati yang terkadang renggang karena kesibukan masing-masing.
Dalam suasana religius, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa segala sesuatu membutuhkan ikhtiar dan doa. Manusia boleh merencanakan, berdiskusi, bahkan berdebat dalam batas wajar. Akhirnya, keputusan terbaik adalah yang Allah Subhanahu Wata'alla mudahkan jalannya.
Perbedaan yang sempat menjadi kendala, justru mengajarkan arti toleransi. Ketidakpastian yang sempat membuat gelisah, mengajarkan arti sabar dan tawakal. Kebersamaan yang akhirnya terwujud, menjadi bukti bahwa niat baik yang disertai doa tidak akan sia-sia.
Semoga pertemuan keluarga besar Mbah Seman nanti benar-benar menjadi momen penuh berkah. Momen saling memaafkan, saling menguatkan, dan saling mendoakan. Karena sejatinya, silaturahmi bukan hanya memperpanjang umur dan melapangkan rezeki, tetapi juga mendekatkan hati kepada Sang Pencipta. Semoga Allah meridhai langkah-langkah kecil ini, dan menjadikannya amal kebaikan yang bernilai ibadah. Aamiin.
Cepu, 18 Maret 2026

Alhamdulillah semua pasti ada hikmah dr setiap perbedaan. Semoga memperindah suasana saat bersua.
BalasHapusAlhamdulillah semoga semua anggota keluarga bisa hadir
BalasHapus