Minggu, 31 Mei 2026
Kunci Kejujuran
Sabtu, 30 Mei 2026
Purnawiyata Esmega
Karya: Gutamining Saida
Hari Sabtu tanggal 30 Mei 2026 menjadi hari yang istimewa bagi keluarga besar Esmega. Sejak pagi, suasana di Gedung Soos Cepu tampak berbeda dari biasanya. Gedung yang menjadi saksi berbagai kegiatan masyarakat itu dipenuhi oleh para siswa, orang tua, guru, tamu undangan, serta berbagai pihak yang turut memberikan dukungan bagi kemajuan pendidikan. Mereka hadir dalam acara Tasyakuran Purnawiyata Murid, sebuah momentum penuh makna sebagai ungkapan syukur atas selesainya perjalanan belajar para siswa di jenjang sekolah menengah pertama.
Langit pagi yang cerah seolah ikut menyambut kebahagiaan hari itu. Para siswa mengenakan pakaian terbaik mereka. Wajah-wajah ceria terpancar dari para lulusan yang sebentar lagi akan melanjutkan perjalanan menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Para orang tua pun tampak bangga melihat putra-putri mereka berhasil menyelesaikan salah satu tahapan penting dalam kehidupan.
Acara ini bukan sekadar seremoni kelulusan. Lebih dari itu, tasyakuran merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wata'alla atas nikmat ilmu, kesehatan, kesempatan belajar, serta keberhasilan yang telah diraih bersama. Tidak semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan dengan baik. Karena itu, setiap keberhasilan layak disambut dengan rasa syukur yang mendalam.
Acara dimulai dengan penuh khidmat. Lantunan ayat suci Al-Qur'an menggema di dalam gedung, menghadirkan suasana yang menenangkan hati. Ayat-ayat Allah yang dibacakan oleh Naila kelas 7H menjadi pengingat bahwa ilmu merupakan cahaya yang diberikan kepada manusia agar mampu membedakan antara yang benar dan yang salah. Pendidikan sejatinya bukan hanya tentang nilai rapor dan ijazah, tetapi juga tentang membentuk akhlak, karakter, dan keimanan.
Setelah rangkaian pembukaan, berbagai penampilan mulai dipersembahkan. Gedung Soos Cepu yang megah semakin hidup dengan beragam kreativitas para siswa. Setiap penampilan mendapat sambutan hangat dari hadirin yang memenuhi ruangan.
Salah satu yang menarik perhatian adalah penampilan dongeng. Dengan penuh percaya diri, Jassen siswa kelas 7H membawakan cerita yang mengandung pesan moral dan nilai kehidupan. Mereka mampu menghidupkan suasana melalui ekspresi, intonasi suara, serta penghayatan yang memukau. Dari dongeng tersebut terselip pelajaran bahwa kebaikan akan membawa manfaat, sedangkan keburukan pada akhirnya akan merugikan diri sendiri.
Tak kalah menarik adalah penampilan vokal suara yang menggema indah di seluruh ruangan. Nada demi nada mengalun merdu, menunjukkan hasil latihan yang sungguh-sungguh. Mendengar suara mereka, saya teringat bahwa setiap manusia memiliki kelebihan yang berbeda-beda. Ada yang pandai bernyanyi, ada yang ahli berbicara, ada yang berbakat dalam bidang olahraga, seni, maupun akademik. Semua bakat itu adalah amanah dari Allah subhanahu Wata'alla yang harus dijaga dan dikembangkan dengan baik.
Penampilan pantomim oleh Faza dan Andhika yang menjadi juara satu tingkat kabupaten Blora. Mereka juga berhasil mengundang kekaguman para hadirin. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, para siswa mampu menyampaikan pesan melalui gerakan tubuh dan ekspresi wajah. Kreativitas mereka menunjukkan bahwa komunikasi tidak selalu harus menggunakan kata-kata. Kadang-kadang sebuah tindakan nyata lebih bermakna daripada ribuan nasihat yang diucapkan.
Suasana semakin semarak ketika kelompok musik tampil di atas panggung. Alunan nada yang harmonis membuat para penonton menikmati setiap detiknya. Para siswa membuktikan bahwa mereka tidak hanya mampu belajar di dalam kelas, tetapi juga mampu mengembangkan bakat seni yang dimiliki.
Yang tidak kalah membanggakan adalah penampilan gamelan tradisional. Denting saron, kenong, gong, dan berbagai alat musik tradisional lainnya berpadu menghasilkan irama yang indah dan menenangkan. Penampilan ini menjadi bukti bahwa generasi muda masih mencintai budaya bangsa. Di tengah derasnya arus modernisasi, mereka tetap menjaga dan melestarikan warisan leluhur. Penampilan dengan dipadu wayang krucil.
Saat menyaksikan gamelan dimainkan dengan penuh penghayatan, saya merasakan kebanggaan tersendiri. Budaya adalah identitas bangsa. Menjaga budaya berarti menjaga jati diri. Dalam pandangan religius, melestarikan budaya yang baik juga merupakan bentuk rasa syukur atas karunia Allah berupa kekayaan tradisi dan peradaban yang diwariskan oleh para pendahulu.
Selain berbagai penampilan seni, acara juga menjadi ajang apresiasi bagi para siswa berprestasi. Nama-nama siswa yang berhasil meraih juara akademik, non akademik. Tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan setiap kali nama mereka dipanggil.
Momen tersebut bukan hanya membanggakan bagi siswa yang menerima penghargaan, tetapi juga bagi orang tua, guru, dan sekolah. Di balik sebuah prestasi terdapat perjuangan panjang, latihan yang tidak mudah, pengorbanan waktu, serta doa yang terus dipanjatkan.
Saya melihat beberapa orang tua tampak terharu ketika putra-putri mereka naik ke atas panggung menerima penghargaan. Mungkin mereka teringat perjalanan panjang sejak mengantar anak pertama kali masuk sekolah hingga kini berhasil menyelesaikan pendidikan dengan berbagai prestasi yang membanggakan.
Acara ini juga mengajarkan bahwa prestasi bukanlah tujuan akhir. Prestasi hanyalah salah satu sarana untuk meningkatkan kualitas diri dan memberikan manfaat bagi orang lain. Yang lebih penting adalah bagaimana ilmu dan kemampuan yang dimiliki digunakan untuk kebaikan.
Di tengah kemeriahan acara, bahwa perjalanan hidup para lulusan masih sangat panjang. Purnawiyata bukanlah garis akhir, melainkan gerbang menuju perjalanan baru yang lebih menantang. Mereka akan melanjutkan pendidikan, bertemu lingkungan baru, menghadapi berbagai tantangan, dan belajar menjadi pribadi yang lebih dewasa.
Sebagai pendidik, saya berharap mereka tidak hanya membawa ilmu pengetahuan yang diperoleh selama belajar di sekolah, tetapi juga membawa nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, disiplin, hormat kepada orang tua, serta semangat untuk terus belajar sepanjang hayat.
Acara tasyakuran hari itu berakhir dengan penuh kebahagiaan. Senyum, tawa, foto bersama, dan ucapan selamat menjadi penutup yang indah. Di balik semua kemegahan yang terlihat, ada satu hal yang paling penting, yaitu rasa syukur kepada Allah.
Segala prestasi, bakat, kemampuan, dan keberhasilan yang ditampilkan pada hari itu sejatinya adalah karunia-Nya. Manusia hanya berusaha, sedangkan Allah yang memberikan jalan, kesempatan, dan hasil terbaik.
Alhamdulillah, Tasyakuran Purnawiyata Murid Esmega di Gedung Soos Cepu berlangsung dengan luar biasa. Acara yang megah itu tidak hanya menampilkan berbagai kebolehan dan prestasi siswa, tetapi juga menjadi pengingat bahwa pendidikan adalah jalan untuk membentuk generasi yang berilmu, berakhlak, mencintai budaya, serta senantiasa bersyukur kepada Allah dalam setiap langkah kehidupannya. Semoga para lulusan Esmega menjadi generasi yang sukses di dunia, bermanfaat bagi sesama, dan memperoleh kebahagiaan.
Cepu, 30 Mei 2026
Sepak Terjang Langkah Kakiku
Karya: Gutamining Saida
Setiap manusia memiliki jalan hidup yang berbeda-beda. Ada yang menempuh perjalanan penuh kemudahan. Ada pula yang harus melewati berbagai tikungan, tanjakan, dan ujian yang menguatkan jiwa. Begitu pula dengan perjalanan hidup saya di dunia pendidikan. Sebuah perjalanan panjang yang tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan. Tetapi juga mengajarkan makna kesabaran, keikhlasan, pengabdian, dan ketundukan kepada Allah Subhanahu Wata'alla.
Perjalanan itu dimulai ketika saya mengabdi di SMAN 2 Cepu. Saat itu, semangat muda masih menyala dalam dada. Saya datang dengan membawa harapan besar untuk menjadi bagian dari upaya mencerdaskan generasi bangsa. Menjadi seorang pendidik bukan sekadar pekerjaan untuk mencari nafkah, melainkan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Setiap hari saya belajar memahami karakter siswa yang beragam, menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah, serta berusaha memberikan yang terbaik dalam setiap proses pembelajaran.
Dari SMAN 2 Cepu, perjalanan berlanjut sebagai guru bantu di SMPN 1 Cepu. Masa itu menjadi salah satu fase penting dalam kehidupan saya. Sebagai guru bantu, tentu ada berbagai keterbatasan yang harus diterima. Keterbatasan tidak pernah menghalangi semangat untuk terus mengabdi. Saya belajar bahwa penghargaan terbesar seorang guru bukanlah materi yang berupa gaji. Ketika saya melihat siswa mampu memahami pelajaran, memiliki akhlak yang baik, dan tumbuh menjadi pribadi yang berguna bagi masyarakat.
Setelah itu, saya mendapatkan kesempatan mengajar di SMPN 2 Kedungtuban. Lingkungan baru menghadirkan tantangan baru. Saya harus kembali beradaptasi dengan budaya sekolah, rekan kerja, serta karakter peserta didik yang berbeda. Di tempat ini, saya semakin memahami bahwa menjadi guru berarti harus siap belajar sepanjang hayat. Setiap siswa membawa cerita dan keunikannya masing-masing. Dari mereka, saya belajar tentang kesederhanaan, semangat, dan harapan.
Perjalanan pengabdian kemudian membawa saya ke SMPN 3 Jiken. Di sana saya harus mencari tambahan jam mengajar. Di sekolah ini, banyak pengalaman berharga yang saya peroleh. Ada suka dan duka yang datang silih berganti. Kadang saya merasa bahagia ketika melihat keberhasilan siswa dalam belajar. Ada pula saat-saat yang menguji kesabaran ketika menghadapi berbagai permasalahan pendidikan. Semua itu menjadi bagian dari proses pendewasaan diri.
Saya menyadari bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Sebagai seorang guru, terkadang saya harus menerima kenyataan yang tidak sesuai harapan. Justru dalam kondisi seperti itulah saya belajar tentang makna tawakal. Allah Subhanahu Wata'alla mengajarkan bahwa tugas manusia adalah berikhtiar sebaik mungkin. Sedangkan hasil akhirnya merupakan hak prerogatif-Nya. Kesadaran ini membuat hati menjadi lebih tenang dan lebih mudah menerima setiap ketentuan yang diberikan.
Pengabdian saya kemudian berlanjut di SMPN 1 Kedungtuban. Di sekolah ini, banyak kenangan indah yang sulit dilupakan. Kebersamaan dengan rekan kerja, interaksi dengan siswa, serta berbagai kegiatan sekolah menjadi warna tersendiri dalam perjalanan hidup saya. Saya merasakan bahwa sekolah bukan hanya tempat bekerja, melainkan juga keluarga besar yang saling mendukung dan menguatkan.
Di sinilah saya semakin memahami bahwa ilmu yang paling penting bukan hanya ilmu yang diajarkan di dalam kelas, tetapi juga ilmu kehidupan. Saya belajar menghargai perbedaan, menjaga silaturahmi, serta membangun kerja sama yang baik dengan berbagai pihak. Saya menyaksikan bagaimana waktu terus berjalan. Siswa datang dan pergi. Mereka lulus dan melanjutkan perjalanan hidup masing-masing. Sebagian masih mengingat dan menyapa ketika bertemu. Bagi seorang guru, hal itu merupakan kebahagiaan yang tidak ternilai harganya.
Kini, menjelang masa purnatugas, saya mendapatkan amanah untuk mengabdi di SMPN 3 Cepu. Sekolah ini menjadi tempat persinggahan terakhir dalam perjalanan panjang sebagai seorang pendidik. Saat menoleh ke belakang, begitu banyak kenangan yang terlintas dalam ingatan. Ada tawa yang pernah menghiasi hari-hari di sekolah. Ada air mata yang pernah jatuh saat menghadapi berbagai ujian kehidupan. Ada keberhasilan yang patut disyukuri, dan ada pula kegagalan yang menjadi pelajaran berharga.
Semua pengalaman itu membentuk diri saya menjadi pribadi yang lebih matang. Saya menyadari bahwa hidup bukanlah tentang seberapa tinggi jabatan yang diraih atau seberapa banyak penghargaan yang diperoleh. Hidup adalah tentang bagaimana setiap langkah mampu mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Semakin bertambah usia, semakin saya memahami bahwa dunia hanyalah tempat singgah sementara. Jabatan, pangkat, dan kedudukan pada akhirnya akan ditinggalkan. Yang tersisa hanyalah amal kebaikan yang pernah dilakukan.
Dunia pendidikan telah mengajarkan banyak hal kepada saya. Mengajarkan arti kesabaran saat menghadapi siswa yang beragam karakter. Mengajarkan arti keikhlasan ketika usaha yang dilakukan belum membuahkan hasil sesuai harapan. Mengajarkan arti syukur ketika menyaksikan keberhasilan anak didik. Mengajarkan arti ketabahan saat menghadapi berbagai cobaan dan tantangan.
Semua pengalaman itu membuat saya semakin merunduk. Semakin banyak ilmu dan pengalaman yang diperoleh, semakin saya menyadari betapa sedikit pengetahuan yang saya miliki dibandingkan luasnya ilmu Allah. Kesadaran tersebut menumbuhkan kerendahan hati dan keinginan untuk terus belajar hingga akhir hayat.
Kini, di penghujung perjalanan karier sebagai pendidik, saya hanya mampu mengucapkan hamdalah. Segala puji bagi Allah Subhanahu Wata'alla yang telah memberikan kesehatan, kesempatan, dan kekuatan sehingga saya dapat menjalani pengabdian di dunia pendidikan selama bertahun-tahun. Tidak ada satu pun keberhasilan yang terjadi tanpa pertolongan-Nya. Tidak ada satu pun langkah yang dapat ditempuh tanpa izin-Nya.
Saya berharap setiap ilmu yang pernah saya sampaikan menjadi amal jariyah yang terus mengalir. Semoga setiap huruf yang diajarkan, setiap nasihat yang diberikan, dan setiap kebaikan yang ditanamkan kepada peserta didik menjadi bekal ketika kelak menghadap Sang Pencipta. Sebab pada akhirnya, perjalanan hidup manusia akan bermuara pada satu tujuan, yaitu kembali kepada Allah Subhanahu Wata'alla.
Dunia pendidikan telah menjadi ladang pengabdian sekaligus ladang pembelajaran bagi diri saya. Dari satu sekolah ke sekolah lainnya, dari satu pengalaman ke pengalaman berikutnya, saya belajar bahwa kehidupan adalah proses panjang untuk memperbaiki diri. Semoga langkah-langkah yang pernah terukir di dunia pendidikan menjadi saksi bahwa saya pernah berusaha memberikan manfaat bagi sesama. Semoga Allah menerima setiap amal yang dilakukan dengan penuh ridha dan kasih sayang-Nya. Aamiin ya Rabbal 'alamin.
Cepu, 30 Mei 2026
Minggu, 24 Mei 2026
Sapaan pak Gun
Rabu, 20 Mei 2026
Dua Foto
Karya : Gutamining Saida
Siang suasana matahari memancarkan cahaya hangatnya menyentuh dedaunan yang bergerak pelan tertiup angin. Di tengah kesibukan masing-masing, sebuah notifikasi muncul dari grup WhatsApp "muda swimming". Nama Pak Gun tampak muncul di layar. Sosok pelatih renang yang selama ini dikenal bukan hanya mengajarkan gerakan tubuh di air. Beliau sering menyisipkan pengetahuan renang, nasihat kehidupan.
Tanpa banyak tulisan panjang, beliau langsung mengirim dua foto. Foto pertama memperlihatkan posisi tubuh terlentang di atas air. Wajah menghadap ke langit, badan mengapung dengan tenang mengikuti gerakan air kolam. Air tampak begitu damai, seolah mengajarkan bahwa manusia kadang perlu berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia untuk menenangkan hati.
Di bawah foto itu, Pak Gun menuliskan komentar singkat tentang keseimbangan hati, perasaan, dan pikiran. Kalimat sederhana, tetapi mampu membuat banyak anggota grup diam merenung. Posisi terlentang dengan pandangan ke atas ternyata bukan hanya soal teknik berenang. Ada makna yang lebih dalam. Saat wajah menatap langit, manusia seakan diingatkan untuk melihat kebesaran Allah. Langit luas tanpa tiang, awan berjalan teratur, cahaya matahari datang tepat waktunya. Semua bergerak atas kuasa Sang Pencipta.
Dalam kehidupan, hati manusia sering tidak seimbang. Kadang pikiran terlalu penuh dengan urusan dunia. Perasaan dipenuhi kecewa, marah, takut, atau iri. Akibatnya hidup terasa berat. Padahal, seperti tubuh yang harus seimbang agar bisa mengapung di air, hati manusia juga perlu keseimbangan agar tidak tenggelam dalam masalah kehidupan.
Renang ternyata bukan sekadar olahraga fisik. Air mengajarkan ketenangan. Tubuh yang terlalu tegang justru sulit mengapung. Semakin panik, tubuh semakin mudah tenggelam. Begitu pula hidup manusia. Ketika hati terlalu dipenuhi kecemasan, semuanya terasa gelap. Saat manusia berserah diri kepada Allah, hati menjadi lebih ringan seperti tubuh yang mengapung di permukaan air.
Foto kedua pun tak kalah menarik. Posisi tubuh menghadap ke bawah. Kepala masuk ke air dengan tenang. Pak Gun memberi komentar bahwa keadaan seperti itu membuat hati damai dan tidak membutuhkan obat penenang.
Kalimat itu langsung memancing balasan dari Bu Hermin. Dengan gaya bercanda beliau menulis bahwa kalau minum obat penenang malah bisa ketiduran di kolam, paaak. Grup WhatsApp pun terasa hangat. Candaan sederhana itu membuat suasana hidup. Pak Gun membalas dengan emoji tersenyum disertai tulisan, “he he nggih.”
Meski terlihat sederhana dan lucu, percakapan itu sebenarnya menyimpan hikmah yang mendalam. Banyak manusia hari ini mencari ketenangan dengan berbagai cara. Ada yang mencari hiburan berlebihan, ada yang sibuk mengejar kesenangan dunia, bahkan ada yang bergantung pada obat penenang karena hati terlalu lelah menghadapi tekanan hidup. Padahal ketenangan sejati tidak selalu datang dari obat. Ketenangan paling dalam lahir dari hati yang dekat kepada Allah.
Saat tubuh berada di dalam air, suara dunia terasa samar. Gerakan menjadi pelan. Nafas diatur dengan hati-hati. Semua itu seperti latihan untuk belajar hening. Dalam keheningan itulah manusia sering lebih mudah mendengar suara hati sendiri.
Air juga mengingatkan manusia tentang asal kehidupan. Allah menciptakan segala sesuatu dari air. Air menjadi sumber kehidupan bagi tumbuhan, hewan, dan manusia. Ketika seseorang berada di dalam air dengan penuh kesadaran, sebenarnya ia sedang belajar tentang kelembutan ciptaan Allah.
Pak Gun mungkin hanya mengirim dua foto sederhana. Bagi kita yang mau berpikir, dua foto itu seperti pelajaran kehidupan. Posisi terlentang mengajarkan tawakal. Pandangan ke atas mengingatkan manusia agar tidak lupa berdoa dan berharap hanya kepada Allah. Sedangkan posisi menghadap ke bawah mengajarkan ketenangan dan kerendahan hati. Manusia diingatkan bahwa sehebat apa pun dirinya, tetaplah makhluk kecil di hadapan Sang Pencipta.
Kadang Allah menghadirkan pelajaran hidup bukan melalui ceramah panjang di mimbar, tetapi lewat percakapan ringan di grup WhatsApp, lewat olahraga, lewat canda sederhana, bahkan lewat gerakan tubuh di kolam renang. Orang yang hatinya peka akan mampu mengambil hikmah dari mana saja.
Belajar tenang di air ternyata bisa menjadi latihan tenang dalam menghadapi kehidupan. Ketika tubuh rileks di kolam, hati pun perlahan belajar ikhlas. Ketika nafas diatur dengan baik, pikiran menjadi lebih jernih. Ketika wajah menatap langit saat mengapung, manusia diingatkan bahwa pertolongan Allah selalu ada di atas sana.
Renang bukan hanya tentang menggerakkan tangan dan kaki. Ada latihan kesabaran, keberanian, keseimbangan, dan ketenangan jiwa. Bercanda pun bisa menjadi ibadah jika menghadirkan kebahagiaan tanpa menyakiti orang lain. Candaan Bu Hermin dan balasan santai Pak Gun membuat grup terasa hangat penuh persaudaraan.
Begitulah indahnya kebersamaan dalam jalan kebaikan. Saling mengingatkan tanpa menggurui, saling menyemangati tanpa merendahkan. Dari kolam renang, mereka bukan hanya belajar sehat jasmani, tetapi juga belajar menyehatkan hati.
Dua foto sederhana berubah menjadi nasihat kehidupan. Air kolam seakan menjadi cermin bagi hati manusia. Bahwa hidup perlu keseimbangan, perlu ketenangan, dan yang paling penting perlu kedekatan dengan Allah agar jiwa tidak mudah tenggelam oleh gelombang dunia.
Cepu, 21 Mei 2026
Kamis, 14 Mei 2026
Jalan-jalan pagi
Karya : Gutamining Saida
Jumat pagi menyapa dengan kehangatan. Libur nasional seolah menjadi peluit panjang. Waktu yang menandakan saat istirahat telah tiba. Angin segar pagi membisikkan undangan, rasa sayang bila terlewatkan. Ajakan untuk keluar rumah, menggerakkan badan, dan menghirup oksigen bersih. Harapan menggebu-gebu, membayangkan ritme langkah kaki santai yang akan memecah keheningan pagi. Rencana awal mengajak sang anak tercinta. Apa daya, rasa malas dia kambuh dengan sukses. Dia menyisakan gelengan kepala. Dia menolak halus yang seketika membuat rencana saya sedikit goyah.
Di titik inilah, pertempuran batin mulai berkecamuk. Ada sebersit keraguan yang menyergap dada. Berjalan sendirian menyusuri rute jalanan kadang terasa aneh. Rasa minder tiba-tiba muncul bagai kabut tipis. Saya membayangkan orang yang berpapasan dan bertanya-tanya. Saya berjalan tanpa kawan di hari libur. Ego dan keinginan untuk sehat segera berontak keras. Pagi terlalu indah untuk dilewatkan hanya dengan rebahan di rumah. Tekad pun dibulatkan. Membangun kepercayaan diri memang bukan hal yang mudah. Ia harus dimulai dari satu langkah dengan keberanian. Saya sambil mengikat tali sepatu dengan mantap. Saya meyakinkan diri sendiri.
Hati ini berusaha tegar berangkat sendiri. Jemari rupanya memiliki kehendak lain. Naluri untuk berbagi momen tetap meronta. Sambil merapikan pakaian, kuambil gawai dan mulai membuka aplikasi whatshap. Satu demi satu, nama-nama saya berikan sapaan. Mengirimkan pesan berisi ajakan spontan. Menit demi menit berlalu, layar ponsel tak kunjung memunculkan balasan. Menunggu jawaban di era digital kadang memang menguji kesabaran. Ada pesan yang hanya terkirim dengan centang satu, ada yang centang dua namun tak kunjung berubah biru. Semangat saya sama sekali tak surut. Kaki terus melangkah mendekati pintu rumah. Saya bersiap menembus pagi.
Sebuah nada dering singkat memecah kesunyian. Layar ponsel menyala, menampilkan pesan balasan. Ternyata dari Bu Wiwik. Tanpa membuang waktu satu detik pun, jemariku langsung menari lincah membalas pesannya.
"Ayo jalan-jalan di Nglajo!" chats saya cepat.
Tak berselang lama, Bu Wiwik membalas dengan sebuah pertanyaan.
"Njenengan dengan Mbak Faiz?"
"Tidak..., sendirian. Saya cari teman nih ceritanya," balas saya jujur.
"Saya mau bersihkan gudang, Bu," tulisnya.
"Ooh, ya sudah," balas saya singkat.
Seolah semesta sedang senang menulis skenario kejutan, tak sampai beberapa menit berselang, ponsel ini kembali bergetar. Nama Bu Wiwik kembali muncul di layar. Kali ini, pesannya membawa angin segar.
"Jalan-jalan di embung ya, nanti saya temani," tulisnya.
"Ya , saya berangkat sekarang," balas saya dengan semangat
"Motor taruh di rumah saya aja," tambahnya lagi.
"Ya," jawab saya mengakhiri percakapan.
Di luar dugaan, ternyata rentetan kejutan pagi ini belum benar-benar usai. Melalui obrolan chat lanjutan. Bu Wiwik sedang mengajak Bu Isna untuk ikut bergabung. Saya awalnya bersiap sendirian menepis rasa sepi. Kini rombongan menjadi sebuah trio (Saida, Wiwik, Isna). Trio melangkah putar embung untuk ikhtiar sehat.
Cepu, 15 Mei 2026
Sabtu, 09 Mei 2026
Panggung Uji Nyali
Karya: Gutamining Saida
Setiap kali kaki ini melangkah masuk area kolam renang, ada semacam energi baru yang meresap ke dalam dada. Air yang tenang seolah menawarkan lembaran pelajaran baru yang siap untuk dituliskan dalam catatan perjalanan hidup. Usia rasanya hanyalah deretan angka ketika semangat untuk menaklukkan ketakutan dan belajar hal baru terus menyala terang. Di sinilah, bersama rekan-rekan yang tergabung dalam semangat kebersamaan, rasa gentar terhadap air perlahan luntur, berganti dengan semangat yang tak pernah padam.
Suasana di sekitar kolam selalu menyimpan kesegaran. Permukaan air bagaikan panggung tempat kami menguji nyali. Para siswa penuh semangat, sang pelatih yang berdedikasi tinggi, semuanya larut dalam harmoni proses belajar yang tak kenal lelah.
Sosok yang kami hormati dan senantiasa kami sapa dengan panggilan yang terdiri dari enam huruf yaitu "PAK GUN". Beliau bukan sekadar pelatih, melainkan seorang pembimbing, motivator kami.
Kami mulai konsentrasi. Suara gemercik air beradu dengan dinding kolam menjadi musik latar yang mengiringi instruksi Pak Gun.
"Silakan semuanya berdiri berjajar di pinggir kolam, rapatkan barisan!" serunya dengan suara lantang yang memecah riuhnya suasana.
Kami segera mengatur posisi membentuk satu garis lurus yang rapi, berdiri di dalam air sambil menghadap lurus ke arah beliau. Tubuh kami yang separuhnya sudah terendam air merasakan sensasi dingin yang menyegarkan. Instruksi selanjutnya terdengar sederhana, sebuah teknik dasar yang esensial.
"Semua menenggelamkan tubuh perlahan ke dalam air," instruksi Pak Gun memecah keheningan sesaat, "kemudian, saat muncul kembali ke permukaan, ucapkan hitungan dengan suara yang jelas!" Namun, ada satu syarat khusus ya.
"Saat muncul di permukaan, pastikan mata kalian tetap terbuka! Ingat, telapak tangan tidak boleh digunakan untuk mengusap air yang menempel di wajah. Biarkan air itu turun dengan sendirinya!" ucap pak Gun.
Sebuah ilmu yang secara teori terdengar sangat sederhana. Hanya menenggelamkan diri, lalu muncul sambil membuka mata dan menghitung. Kenyataan di lapangan sungguh berbeda. Refleks manusiawi, segera memejamkan mata rapat-rapat saat air menyentuh wajah, dan tangan secara otomatis akan bergerak mengusap mata setelah kepala menembus permukaan.
Satu... Dua... Tiga... Suara hitungan terdengar bersahutan saat kepala-kepala mulai bermunculan dari air. Pemandangan yang tercipta mengundang senyum. Ada saja yang belum sesuai instruksi. Beberapa tangan tanpa sadar langsung bergerak cepat mengusap wajah yang basah kuyup. Beberapa yang lain muncul ke permukaan dengan mata yang masih terpejam rapat, menahan rasa tidak nyaman atau sekadar menuruti insting. Pak Gun mengamati setiap gerakan kami dengan saksama, tersenyum kecil melihat tingkah polah siswanya yang tengah berjuang melawan refleks alami.
Melihat banyaknya gerakan yang belum sempurna, Pak Gun tiba-tiba menghentikan latihan sejenak. Suasana menjadi hening, hanya tersisa suara napas kami yang sedikit terengah dan bunyi kepakan air yang perlahan mereda.
"Ibu-ibu..." panggil beliau
"Ada yang tahu apa sebenarnya fungsi dari alis dan bulu mata kita?"
Pak Gun mulai memberikan penjelasan. Beliau menjabarkan bahwa Allah SSubhanahu Wata'alla menciptakan alis dan bulu mata, ada manfaat dan fungsinya . Dari sudut pandang agama, tidak ada satupun ciptaan-Nya yang sia-sia. Alis diciptakan melengkung di atas pelipis bertugas bagaikan talang alami, menahan tetesan keringat atau guyuran air dari dahi agar tidak langsung mengalir deras menembus mata. Begitu pula dengan bulu mata, yang difungsikan layaknya tirai pelindung dari air dan debu. Memastikan mata tetap bisa berkedip dan melihat dengan jelas.
"Itulah mengapa ibu-ibu tidak perlu panik dan buru-buru mengusap wajah," tambah Pak Gun "Percayakan pada desain sempurna yang telah Allah Subhanahu Wata'alla berikan pada raga kita. Bersyukurlah atas keberadaan alis dan bulu mata.
Pak Gun kembali menyuruh kami mengulang gerakan tersebut berulang kali. Ajaibnya, kali ini perbedaannya sangat terasa. Saat tubuh kembali ditenggelamkan dan memecah permukaan air untuk bangkit, tangan-tangan ini menjadi jauh lebih tenang dan bisa ditahan untuk tidak menyentuh wajah. Mata kami berusaha keras untuk menatap lurus ke depan dengan kelopak yang terbuka, membiarkan butiran air mengalir secara alami mengikuti jalur yang telah diciptakan Sang Maha Kuasa melewati rintangan alis dan bulu mata. Hitungan demi hitungan diteriakkan dengan lebih lantang, lebih lepas, dan penuh keyakinan.
Kisah-kisah di kolam tidak akan kami biarkan menguap begitu saja, akan rangkai dan abadikan sebagai jejak langkah yang kelak bisa dibaca, dinikmati, dan direnungkan oleh anak, saudara, hingga cucu di masa depan. Sebuah warisan cerita tentang keberanian, rasa syukur, dan semangat belajar yang tak pernah mengenal kata usai. Aamiin
Cepu, 9 Mei 2026
Angkuk-angkuk en
Siswa Tertua
Karya : Gutamining Saida
Sinar matahari memantul di permukaan air yang beriak tenang. Di antara riuh rendah suara cipratan air dan canda tawa para siswa. Ada sebuah pemandangan yang selalu berhasil membuat hati saya menghangat. Di sanalah ibu saya berada, seorang wanita tangguh yang kini telah menginjak usia 75 tahun. Garis-garis halus di wajahnya adalah peta perjalanan hidup yang panjang, binar matanya menceritakan hal yang berbeda yaitu semangat menolak untuk menua.
Di kelas terapi air, ibu saya menyandang predikat sebagai siswa paling senior, dipandang dari usia di antara yang lainnya. Hal itu tidak sedikit pun menyurutkan langkahnya. Beliau memiliki tekad yang kuat, sebuah ikhtiar sehat dengan menceburkan diri ke kolam. Tujuannya sederhana untuk merawat kebugaran tubuh, memperpanjang usia yang barokah, dan yang terpenting, untuk menemukan kebahagiaan di setiap hela napasnya. Bagi ibu, air sebagai terapi yang menyegarkan raga dan menenangkan jiwa.
Sesi pertemuan sore dimulai, di area yang paling membuat ibu merasa aman dan nyaman, yakni kolam anak-anak. Airnya yang dangkal, hanya sebatas paha orang dewasa, memberikan rasa aman bagi siapa saja yang baru beradaptasi. Ibu melakukan gerakan-gerakan pemanasan ringan. Mengayunkan tangan, memutar bahu, dan melangkah perlahan membelah air. Senyum sesekali mengembang di bibirnya ketika ia berhasil menyeimbangkan diri. Bagi orang lain, mungkin itu hanya gerakan sederhana, tetapi bagi seorang lansia berusia 75 tahun, itu adalah sebuah pencapaian yang patut dirayakan.
Waktu berlalu, tubuh sudah cukup beradaptasi dengan suhu air. Pemanasan di kolam anak-anak dirasa sudah cukup. Saat itulah, sang pelatih yang mendampingi kami, berjalan menghampiri dengan senyum ramahnya. Beliau adalah sosok pelatih yang sabar dan sangat memahami psikologis para siswanya, terutama para lansia.
"Monggo, pindah sana, Yang-ti," ucap Pak Gun dengan nada suara yang lembut namun penuh dorongan. Ia menunjuk ke arah kolam dewasa yang membentang di sisi lain, dengan air kebiruan yang tampak lebih tenang namun menyembunyikan kedalaman yang berbeda.
Mendengar ajakan itu, raut wajah ibu seketika berubah. Senyumnya tertahan, digantikan oleh sorot mata yang menyiratkan keraguan dan kecemasan. Bagi seseorang yang tidak terbiasa, kedalaman air adalah sebuah ketakutan yang sangat nyata. Imajinasi tentang kaki yang tidak menjejak dasar kolam cukup untuk membuat nyali ciut.
"Di sini saja, Pak," jawab ibu saya dengan cepat. Tangannya secara refleks memegang pinggiran kolam anak-anak. Suaranya terdengar sedikit bergetar. "Takuuuut di sana, lebih dalam."
Pak Gun terkekeh pelan, tawa yang menenangkan dan tidak menghakimi. Beliau sangat mengerti bahwa ketakutan itu wajar. "Tidak apa-apa, Yang-ti. Tidak akan kelelep, Yang-ti," bujuk Pak Gun dengan nada meyakinkan, memberikan garansi keamanan bahwa semuanya akan berada di bawah kendalinya.
Melihat ibu yang masih ragu-ragu mematung di tempat, saya pun mengambil inisiatif. Saya berjalan mendekat, menyusulnya ke pinggir kolam. Saya pegang tangan kiri ibu. Sentuhan itu adalah bentuk transfer keberanian, sebuah pesan tanpa kata bahwa ia tidak sendirian.
"Ayo Bu, pelan-pelan saja," bisik saya.
Dengan tangan kiri yang terus saya genggam erat, kami berdua melangkah meninggalkan kolam anak-anak menuju area kolam dewasa. Setibanya di bibir kolam yang baru, ibu menatap tangga besi yang menjorok ke dalam air. Satu per satu, dengan sangat hati-hati, ibu mulai menuruni tangga tersebut. Kakinya meraba dasar kolam pada setiap pijakan. Semakin turun, air terasa semakin naik menyelimuti tubuhnya, dari pinggang, perut, hingga sebatas dada.
"Coba jalan-jalan dulu di sekitar sini, Yang-ti. Rasakan airnya," instruksi Pak Gun yang sudah bersiap di dalam air, menjaga jarak aman di dekat kami.
Ibu mulai melangkahkan kakinya perlahan. Air di kolam dewasa memberikan daya apung yang berbeda. Awalnya langkahnya kaku, namun perlahan-lahan ritmenya mulai terbentuk. Ketenangan mulai menggantikan ketegangan di wajahnya.
"Gimana, masih takut Yang-ti?" tanya Pak Gun memecah konsentrasi ibu, mencoba mengevaluasi kondisi psikologis murid tertuanya itu.
Ibu menoleh ke arah Pak Gun, kemudian menggelengkan kepalanya pelan. Senyum kecil, senyum kemenangan atas ketakutannya sendiri, mulai terukir di wajahnya yang basah oleh air. Kata 'tidak' terwakili dengan sempurna oleh gelengan kepala tersebut. Kekhawatiran akan 'kelelep' perlahan sirna seiring dengan keyakinannya bahwa kakinya masih menjejak kuat dan ada tangan-tangan yang siap menjaganya.
"Bagus. Kalau sudah tidak takut, sambil latihan napas, nggih," lanjut Pak Gun memberikan instruksi berikutnya. Beliau mengajarkan cara mengambil udara dari mulut dan membuangnya perlahan di dalam air. Ibu mengikuti dengan saksama. Wajahnya menunduk ke permukaan air, meniupkan gelembung-gelembung kecil, lalu mengangkat wajahnya kembali untuk meraup oksigen. Ibu tampak begitu bersemangat, aura kesehatannya memancar menembus batasan usianya.
Waktu latihan akhirnya usai. Sebelum kami benar-benar mengakhiri sesi dan naik ke tepian untuk pulang, Pak Gun meminta seluruh peserta untuk berkumpul sejenak. Beliau menginstruksikan kami untuk membentuk sebuah formasi saling berpegangan tangan dalam bentuk melingkar di tengah kolam.
Tangan ibu menggenggam tangan teman-teman seperjuangannya. Di tengah lingkaran itu, terjalin sebuah ikatan solidaritas yang tak terlihat. Pak Gun kemudian mengambil perangkat kameranya dan mengabadikan momen kebersamaan tersebut. Jepretan kamera dan rekaman video singkat itu merekam senyum-senyum sumringah para siswa, dengan ibu.
Momen tersebut diabadikan bukan tanpa alasan. Dokumentasi itu memiliki tujuan yang sangat penting. Ke depannya, saat sedang bersantai di rumah, video dan foto itu bisa dilihat kembali. Dari sanalah, ibu dan peserta lainnya bisa melihat rekam jejak perjuangan di kolam. Mereka bisa melihat secara visual kemajuan yang telah dicapai hari demi hari.
Sebuah pepatah kembali terngiang yaitu "Bisa karena biasa." Pepatah itulah yang selama ini sering dipakai sebagai motivasi utama. Bahwa tidak ada kata terlambat untuk memulai, tidak ada kata terlalu tua untuk belajar, dan bahwa setiap langkah kecil yang diulang secara konsisten akan membuahkan hasil yang luar biasa. Ibu saya, di usianya yang ke-75, telah membuktikan bahwa kebiasaan melawan rasa takut dan kebiasaan berikhtiar adalah kunci menuju hidup yang sehat dan bahagia. Aamiin.
Cepu, 9 Mei 2026
Jumat, 08 Mei 2026
Berdoalah
Karya: Gutamining Saida
Bu Emy, yang kini tengah berada di tanah yang paling dirindukan oleh setiap jiwa yang bersyahadat. Tanah suci Mekkah. Dengan tangan yang sedikit bergetar, saya menjawab panggilan tersebut.
“Assalamualaikum,” sapa Emy.
“Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,” balas saya dengan suara sedikit tertahan di tenggorokan.
Layar handphone seketika berubah. Bukan lagi wajah bu Emy yang memenuhi layar, melainkan sebuah pemandangan yang menggetarkan seluruh hati. Di sana, bangunan suci Ka'bah. Bangunan berbentuk kubus yang diselimuti Kiswah hitam pekat, dihiasi kaligrafi emas. Saya tertegun, mulut terkunci. Mata ini terpaku pada layar kecil berukuran beberapa inci itu, jiwa ini seolah tersedot ribuan kilometer melintasi benua dan samudra, langsung menuju pelataran Masjidil Haram.
"Berdoalah," suara bu Emy memecah keheningan.
"Mumpung saya ada di depan Ka'bah. Biar saya yang aamiin-kan."
Kata-kata itu bagaikan anak panah yang meluncur menembus relung hati terdalam. Di sana, di depan kiblat jutaan umat Islam, bu Emy menawarkan diri menjadi penyambung lidah doa-doa saya. Saya mencoba mengatur napas, mengumpulkan serpihan doa yang selama ini tersimpan rapat dalam dada. Sepatah kata pun terucap, pertahanan diri runtuh.
Air mata, yang entah sejak kapan menggenang di pelupuk mata, akhirnya tumpah tak tertahankan. Bulir-bulir hangat itu mengalir membasahi pipi. Tangisan ini bukan tangisan kesedihan, melainkan luapan kerinduan yang membuncah, rasa syukur yang tak terhingga, dan kepasrahan seorang hamba di hadapan kebesaran Tuhannya.
Melalui layar handphone, saya melihat dengan jelas lautan manusia dari berbagai penjuru dunia, bersatu dalam satu tujuan, satu arah. Mereka tawaf mengelilingi Ka'bah, menengadahkan tangan, merapalkan doa-doa dengan penuh khusyuk. Ada yang menangis, ada yang menempelkan dahi ke lantai marmer, memohon ampunan dan pertolongan Sang Pencipta.
Pemandangan menyayat hati, mengingatkan sebagai hamba yang penuh dosa dan khilaf. Di saat yang sama, pemandangan itu juga menumbuhkan secercah harapan. “Ya Allah,“Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Engkaulah yang menuntun hati hamba-hamba-Mu.” Saya mulai memanjatkan doa. Doa yang tak pernah putus, doa yang selalu mengalir dalam setiap sujud. Saya memohon ampunan, kesehatan, keberkahan hidup, dan kebaikan untuk diri sendiri, keluarga, serta seluruh umat Islam.
Saya dengar suara bu Emy dari seberang sana, “Aamiin... Ya Allah, aamiin.”
Suaranya, yang berpadu dengan gema lantunan talbiyah dari ribuan jamaah lainnya, menciptakan harmoni yang menyayat hati. Doa-doa saya ikut terbawa terbang, melesat menembus langit, menembus hijab, dan sampai ke hadapan Arsy-Nya.
Tetes air mata yang jatuh, terukir kesaksian. Kesaksian bahwa jiwa ini benar-benar terhubung dengan Ka'bah, meskipun secara fisik masih terpisahkan oleh jarak yang teramat jauh. Layar handphone hanyalah perantara, rindu dan imananyang menjadi jembatannya.
“Alhamdulillah,” gumam saya lirih. “Terima kasih, Ya Allah. Engkau telah mengizinkanku menatap baitullah-Mu, meski hanya melalui sebidang layar.”
Saya menyadari, pengalaman ini adalah sebuah anugerah yang tak ternilai harganya. Sebuah pengingat bahwa Allah Subhanahu Wata'alla tidak pernah tidur, dan rahmat-Nya senantiasa mengalir kepada siapa saja yang Dia kehendaki.
Sebuah tekad terpatri kuat. Sebuah keyakinan yang tak terbantahkan. “Apa yang tidak bisa?” tanya saya pada diri sendiri, sebuah pertanyaan yang menggema dalam relung kalbu.
“Jika Allah telah berkehendak, tak ada yang tak mungkin,” jawab saya yakin.
Saya sangat berharap, dengan izin dan ridho Allah, suatu saat nanti kaki ini akan melangkah menapaki pelataran Masjidil Haram. Bahwa dahi ini akan sujud di atas marmer putih yang dingin, dan lisan ini akan merapalkan talbiyah secara langsung di hadapan Ka'bah. Setelahnya, merajut rindu di kota Nabi, Madinah Al-Munawwarah.
Saya yakin, jika Allah telah menetapkan waktunya, tidak ada satu kekuatan pun di alam semesta ini yang bisa menghalanginya. Dia adalah Dzat yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu. Kun Fayakun. Jadilah, maka terjadilah. Panggilan video berakhir. Layar handphone kembali gelap. Bayangan Ka'bah dan gema talbiyah terus menari-nari dalam pikiran.
Kehadiran Allah Subhanahu Wata'alla sangat dekat. Betapa besar cinta-Nya kepada setiap hamba-Nya. Saya menyadari bahwa kerinduan pada Ka'bah adalah sebuah anugerah, sebuah pengingat akan tujuan hakiki dari perjalanan hidup ini akan kembali kepada-Nya dalam keadaan berserah diri seutuhnya. SEMOGA BU EMY SEKALIAN DIBERIKAN KELANCARAN IBADAH, KESEHATAN. PULANG MEMBAWA PREDIKAT HAJI YANG MABRUR. Aamiin Ya Rabbal 'Alamiin.
Cepu, 10 Mei 2026
Rabu, 06 Mei 2026
3 Generasi
Njeplaplang
Karya: Gutamining Saida
Di pagi yang masih menyisakan embun, obrolan di grup komunitas renang mendadak riuh hanya karena satu kata yang dilemparkan oleh sang pelatih kebanggaan kami, Pak Gun. Pak Gun, tiba-tiba mengirimkan sebuah foto dokumentasi latihan sore kemarin. Di layar ponsel, saya melihat sosok yang sedang mempraktikkan posisi njepaplang di atas permukaan air. Melihat foto itu, saya tersenyum sendiri. Foto itu bagi saya, adalah sebuah "pancingan". Tujuannya untuk membakar semangat para pejuang air yang usianya di atas lima puluh tahun, nyalinya harus terus diasah.
Dalam teori renang, posisi ini sebenarnya adalah inti dari kepercayaan diri. Pelaku harus memiliki hati yang tenang, pikiran yang hening, serta tubuh yang rileks sepenuhnya. Pandangan mata harus lurus ke atas menatap langit kedua kaki lurus merapat, dan telapak tangan menelungkup. Kedengarannya sangat sederhana, bukan? Hanya diam dan membiarkan air menopang kita. Bagi saya yang sedang berjuang melawan trauma dan rasa takut pada air, teori ini adalah ujian yang nyata.
Saya ingat betul momen ketika saya mencoba mempraktikkan posisi njepaplang tersebut. Begitu tubuh menyentuh air, niat hati ingin meluncur indah. Apa daya, baru beberapa detik meluncur, tubuh saya justru langsung "nyungsep" ke dasar kolam. Saya tenggelam cukup untuk membuat hidung terasa perih terkena air. Mengapa saya gagal? Mengapa teman saya yang lain bisa begitu tenang bak kayu yang hanyut, sementara saya justru seperti gaya batu?
Kesimpulannya yaitu hati saya belum tenang. Ada ketakutan yang masih bersembunyi, ada kecemasan bahwa air akan menelan saya jika saya lepas kendali. Dalam renang, musuh terbesar kita bukanlah kedalaman air, melainkan kekakuan otot yang dipicu oleh pikiran yang berisik. Ketika hati belum ikhlas "menyerah" pada air, maka tubuh akan menegang, dan tubuh yang tegang secara fisik akan menjadi lebih berat sehingga lebih mudah tenggelam.
Di sinilah peran Pak Gun menjadi sangat penting. Beliau bukan sekadar pelatih yang mengajarkan gerakan tangan atau kaki. Beliau adalah motivator ulung. Beliau paham bahwa bagi kami, belajar renang hanya untuk menaklukkan diri sendiri. Beliau sering berkata dengan nada guyon kuncinya pada kemauan untuk mencoba.
Di grup "Muda Swimming Squad" Yang memotivasi saya yaitu postur tubuhnya jauh lebih berisi daripada saya bisa sukses njeplaplang. Kenyataannya, mereka justru mengapung dengan begitu indahnya, sangat rileks, seolah-olah air adalah kasur empuk bagi mereka. Melihat hal itu, saya merasa terinspirasi. Jika mereka bisa, mengapa saya tidak? Jadi, faktor kegagalan saya murni karena faktor psikologis. Saya bertekad tidak akan patah semangat. Saya belajar untuk berusaha menyinkronkan antara pikiran dan gerakan. Saya mulai menyadari bahwa posisi njepaplang harus pasrah, tetap terjaga.
Puncaknya adalah kepuasan batin yang tak ternilai harganya. Ketika saya berhasil tidak tenggelam dalam beberapa detik rasanya kebahagiaan itu meledak-ledak. Meski hasilnya belum maksimal, meski posisi tangan saya belum sepenuhnya sempurna. Kaki terkadang masih goyah, fakta bahwa saya "tidak tenggelam" saja sudah merupakan kemenangan besar. Bahagia itu sederhana yaitu cukup dengan melihat tubuh kita tidak lagi ditolak oleh air. Hal itu sudah cukup untuk membuat tersenyum dan tertawa.
Hidup itu mirip dengan posisi njepaplang. Kadang kita terlalu keras mencoba mengendalikan segala sesuatu sehingga kita menjadi tegang dan akhirnya "tenggelam" dalam masalah. Padahal, jika kita sedikit lebih rileks, memiliki hati yang tenang, dan pandangan yang selalu menatap kepada Tuhan, hidup akan terasa lebih ringan. Masalah tidak akan menenggelamkan kita jika kita tahu cara "mengapung" di atasnya dengan kepasrahan.
Saya sudah tidak sabar untuk kembali bertemu Pak Gun dan teman-teman. Saya akan kembali mencoba posisi njepaplang. Saya akan menikmati setiap proses belajar tanpa rasa takut yang menghalangi kebahagiaan kita. Sampai jumpa di hari Jum'at mendatang.
Cepu, 7 Mei 2026
Selasa, 05 Mei 2026
Rindu kepada-Mu
Karya: Gutamining Saida
Para Calon Jamaah Haji (Calhaj) melangkah, meninggalkan zona nyaman demi memenuhi panggilan yang telah bergema sejak zaman Nabi Ibrahim AS: Labbaykallahumma Labbayk. Menyaksikan keberangkatan ini, terlebih ketika ada sahabat dekat dan tetangga yang ikut di dalamnya, adalah sebuah pengalaman batin yang menguras emosi. Meski raga ini tak sempat berjabat tangan langsung di depan pintu rumahnya karena kendala jarak, doa-doa tulus telah saya terbangkan melalui langit-langit harapan. Saya memilih hadir dalam upacara pemberangkatan di dekat rumah sebuah titik temu antara doa saksi bisu perjuangan iman.
Prosesi pamitan haji adalah salah satu drama kemanusiaan paling murni dalam ajaran Islam. Di sana, batas antara kesedihan dan kebahagiaan menjadi sangat tipis, bahkan melebur menjadi satu aliran air mata yang tak terbendung.
Sedih karena Berpisah: Ada rasa haru melepaskan orang-orang tercinta menuju tanah yang jauh. Di balik lambaian tangan, ada rasa khawatir sekaligus rasa kehilangan sementara. Lingkungan akan terasa lebih sepi.
Bahagia karena Terpilih: Di atas rasa sedih itu, membuncah kebahagiaan yang tak terlukiskan. Menjadi tamu Allah bukanlah soal kekayaan materi, melainkan soal "undangan" (ma'unah). Banyak orang kaya yang belum tergerak, dan banyak orang sederhana yang justru diberangkatkan dengan cara-cara ajaib. Melihat sahabat berangkat adalah melihat bukti nyata kasih sayang Allah Subhanahu Wata'alla..
Setiap tetesan air mata yang jatuh saat azan dikumandangkan untuk melepas keberangkatan mereka adalah saksi bahwa hati kita masih memiliki iman. Tangisan itu adalah bentuk pengakuan bahwa kita ikut merasakan getaran keagungan Allah yang memanggil hamba-hamba-Nya untuk bersujud di depan Ka’bah.
Melihat mereka berangkat, memicu alarm rindu dalam dada saya sendiri. Makkah Al-Mukarramah dan Madinah Al-Munawwarah bukanlah sekadar titik koordinat di atas peta dunia. Bagi seorang muslim, keduanya adalah tanah suci.
Makkah: Membayangkan diri berdiri di depan Ka'bah, melihat bangunan hitam yang megah di tengah kerumunan manusia dari berbagai bangsa, adalah impian tertinggi. Di sana, identitas duniawi luruh. Tidak ada pejabat, tidak ada rakyat jelata, yang ada hanyalah hamba yang merintih memohon ampunan.
Madinah: Kerinduan pada Madinah adalah kerinduan pada ketenangan. Membayangkan melangkah di Raudhah, menyampaikan salam secara langsung di depan makam Rasulullah SAW, membawa rasa damai yang tak bisa ditawarkan oleh kemewahan kota mana pun di dunia.
Rindu ini seringkali terasa sesak. Ada semacam rasa "iri" melihat sahabat dekat bisa segera mencium aroma tanah haram, sementara kita di sini masih harus bergulat dengan persiapan waktu. Rindu inilah yang menjadi bahan bakar doa agar suatu saat nanti, nama kita pun akan dipanggil.
"Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh." (QS. Al-Hajj: 27)
Ayat ini terngiang-ngiang saat bus mulai bergerak perlahan. Saya menyadari bahwa setiap langkah kaki Calhaj pagi ini adalah penggenapan dari janji Allah ribuan tahun yang lalu. Saya menyelipkan sebuah munajat kecil yang sangat personal. Sebuah harapan agar Allah tidak membiarkan kerinduan ini hanya menjadi mimpi yang tak berujung.
"Ya Allah, hari ini aku melepas sahabatku dengan doa. Jika Engkau izinkan, di waktu yang paling tepat menurut-Mu, gerakkanlah kakiku, mudahkanlah urusanku, dan cukupkanlah rezekiku untuk bisa bersimpuh di Baitullah."
Saya percaya bahwa setiap niat baik yang ditanam hari ini, meski hanya melalui kehadiran di upacara pemberangkatan. Hadirnya saya adalah bentuk penghormatan. Saya ingin atmosfer suci itu menular, ingin aroma keberangkatan itu melekat dalam ingatan, sehingga semangat memperbaiki diri semakin berkobar.
Untukmu, sahabat dan saudara saya yang kini sedang dalam perjalanan menuju embarkasi, ketahuilah bahwa meski jarak memisahkan kita, hatiku tertaut pada setiap doa yang kau panjatkan nanti di depan Multazam.
Titip salam saya pada Baginda Rasulullah. Sebutkan nama saya di antara ribuan doa yang kau panjatkan. Katakan pada Sang Pemilik Ka'bah bahwa di sebuah sudut kecil di wilayah Cepu, ada seorang hamba yang sangat merindukan rumah-Nya.
Selamat jalan, para tamu Allah. Semoga perjalanan ini menjadi safar yang penuh berkah, menjadi jembatan menuju perubahan hidup yang lebih takwa, dan semoga kembalinya nanti membawa cahaya yang menyinari lingkungan sekitar. Makkah dan Madinah, tunggu kami. Kami akan datang, cepat atau lambat, atas izin-Nya. Aamiin Ya Rabbal 'Aalamiin.
Cepu, 6 Mei 2026
Keberangkatan Calhaj
Karya Gutamining Saida
Fajar di ufuk timur menyisakan rona merah yang membelah kegelapan langit di atas musala Miftahul Falah. Suara zikir pelan masih terdengar di dalam musala, namun ada getaran yang berbeda pagi ini. Jamaah tidak langsung membubarkan diri ke rumah masing-masing. Ada sebuah magnet yang menarik langkah kaki mereka menuju satu titik yaitu kediaman Bapak Puji Utomo.
Bapak Puji Utomo bukan sekadar tetangga. Beliau adalah jamaah dari Musala Miftahul Falah, sosok yang biasa disapa dengan "Pak Ut, Lek Ut". Rumahnya telah berubah menjadi pintu gerbang menuju Tanah Suci. Kekhusyukan doa memenuhi udara, menciptakan suasana yang seolah-olah menghubungkan tanah Jawa dengan padang pasir di Mekah.
Suasana haru langsung menyergap. Bapak Puji Utomo duduk bersimpuh di tengah ruangan, mengenakan pakaian seragam batik haji rapi nan bersih, wajahnya memancarkan cahaya ketenangan sekaligus kegelisahan rindu yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Ini adalah puncak dari penantian belasan tahun sebuah kesabaran yang akhirnya dijawab oleh Allah Subhanahu Wata'alla melalui undangan resmi menjadi tamu-Nya.
Prosesi upacara pelepasan dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an. Setiap lantunan ayat yang dibacakan seolah menjadi pengingat bahwa perjalanan ini bukanlah perjalanan biasa. Ini bukan perjalanan wisata untuk melihat keindahan dunia, melainkan perjalanan "pulang" ke rumah asal bagi setiap jiwa, yaitu Baitullah.
Saat tiba pada sesi yang paling dinanti, yakni acara pamitan, suasana berubah menjadi sangat hening. Beliau tidak kuasa lagi untuk berkata-kata sendiri, Bapak Puji Utomo hanya mampu menunduk. Prosesi pamitan tersebut diwakilkan kepada salah seorang tokoh masyarakat setempat. Hatinya terlalu penuh oleh rasa syukur hingga lidahnya kelu untuk berucap. Beliau menitipkan permohonan maaf atas segala khilaf, baik sengaja maupun tidak, agar langkahnya menuju Tanah Suci menjadi ringan dan suci," ujar sang tokoh masyarakat. Mendengar itu, tangisan jamaah yang sedari tadi ditahan akhirnya pecah. Ruangan itu dipenuhi oleh tetesan air mata dari para sahabat dan tetangga yang hadir.
Bapak Utomo dan ibu melangkah keluar pintu rumahnya. Di ambang pintu, seorang muazin yaitu bapak Joko berdiri tegap dengan tangan menempel di telinga. Suara Adzan pun berkumandang. Dilanjut iqomah di sebelah kiri. Biasanya, adzan memanggil orang untuk menunaikan salat. Kali ini, adzan itu terasa seperti pengumuman kepada alam semesta bahwa seorang hamba Allah sedang memulai langkah kakinya menuju pusat bumi, pusat kiblat. Suara Allahu Akbar yang melengking di pagi itu membuat bulu kuduk merinding. Seolah-olah langit ikut bertasbih menyaksikan keberangkatan seorang calon haji. Disusul kemudian dengan Iqomah, yang menandakan bahwa waktu keberangkatan telah tiba. Tidak ada lagi waktu untuk menoleh ke belakang, fokus hanya pada satu titik yaitu Allah dan Rasul-Nya.
Saat beliau melangkah menuju kendaraan, seluruh tamu yang berderet di dekat pintu mulai mengumandangkan Talbiyah secara serentak, dengan suara yang mantap
Labbaykallahumma labbayk, labbayka laa syariika laka labbayk. Innal hamda wan ni'mata laka wal mulk, laa syariika lak.
Suara ini bergemuruh, membelah keheningan. Kalimat "Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah" bukan lagi sekadar hafalan manasik, melainkan jeritan kerinduan dari setiap jiwa yang hadir. Air mata tumpah tak terbendung bukan tangis kesedihan karena perpisahan, melainkan tangis haru atas kebesaran Allah. Menyaksikan Bapak Utomo sekalian berangkat. Bukti nyata bahwa Allah memampukan orang-orang yang Ia panggil dengan kesabaran dan keikhlasan.
Betapa rasa syukur ini meluap-luap. Kini beliau berangkat untuk menjadi tamu Rasulullah di Madinah dan tamu Allah di Makkah. Kebahagiaan hati ini sungguh tiada tandingan. Ada rasa iri yang mulia di hati setiap orang yang melihatnya. Sebuah keinginan kuat agar suatu saat nanti kami juga dipanggil untuk bersujud di tempat yang sama.
Rombongan kendaraan perlahan bergerak menjauh, meninggalkan debu yang beterbangan dan suara talbiyah yang semakin sayup di telinga. Kami kembali ke rumah masing-masing dengan hati yang dipenuhi doa, berharap suatu saat nanti, kami pun akan berdiri di posisi yang sama yaitu mengenakan kain ihram putih, melupakan dunia, dan hanya berseru dengan penuh cinta, "Labbayk, ya Allah..." Selamat jalan, wahai tamu Allah. Semoga menjadi haji yang mabrur, yang tiada balasannya di sisi Allah Subhanahu Wata'alla kecuali surga-Nya yang abadi. Aamiin ya Rabbal 'Alamiin.
Cepu, 5 Mei 2026





