Selasa, 05 Mei 2026

Rindu kepada-Mu


Karya: Gutamining Saida

Para Calon Jamaah Haji (Calhaj) melangkah, meninggalkan zona nyaman demi memenuhi panggilan yang telah bergema sejak zaman Nabi Ibrahim AS: Labbaykallahumma Labbayk. Menyaksikan keberangkatan ini, terlebih ketika ada sahabat dekat dan tetangga yang ikut di dalamnya, adalah sebuah pengalaman batin yang menguras emosi. Meski raga ini tak sempat berjabat tangan langsung di depan pintu rumahnya karena kendala jarak, doa-doa tulus telah saya terbangkan melalui langit-langit harapan. Saya memilih hadir dalam upacara pemberangkatan di dekat rumah sebuah titik temu antara doa saksi bisu perjuangan iman. 

Prosesi pamitan haji adalah salah satu drama kemanusiaan paling murni dalam ajaran Islam. Di sana, batas antara kesedihan dan kebahagiaan menjadi sangat tipis, bahkan melebur menjadi satu aliran air mata yang tak terbendung.

  1. Sedih karena Berpisah: Ada rasa haru melepaskan orang-orang tercinta menuju tanah yang jauh. Di balik lambaian tangan, ada rasa khawatir sekaligus rasa kehilangan sementara. Lingkungan  akan terasa lebih sepi. 

  2. Bahagia karena Terpilih: Di atas rasa sedih itu, membuncah kebahagiaan yang tak terlukiskan. Menjadi tamu Allah bukanlah soal kekayaan materi, melainkan soal "undangan" (ma'unah). Banyak orang kaya yang belum tergerak, dan banyak orang sederhana yang justru diberangkatkan dengan cara-cara ajaib. Melihat sahabat berangkat adalah melihat bukti nyata kasih sayang Allah Subhanahu Wata'alla..

Setiap tetesan air mata yang jatuh saat azan dikumandangkan untuk melepas keberangkatan mereka adalah saksi bahwa hati kita masih memiliki iman. Tangisan itu adalah bentuk pengakuan bahwa kita ikut merasakan getaran keagungan Allah yang memanggil hamba-hamba-Nya untuk bersujud di depan Ka’bah.

Melihat mereka berangkat, memicu alarm rindu dalam dada saya sendiri. Makkah Al-Mukarramah dan Madinah Al-Munawwarah bukanlah sekadar titik koordinat di atas peta dunia. Bagi seorang muslim, keduanya adalah tanah suci.

  • Makkah: Membayangkan diri berdiri di depan Ka'bah, melihat bangunan hitam yang megah di tengah kerumunan manusia dari berbagai bangsa, adalah impian tertinggi. Di sana, identitas duniawi luruh. Tidak ada pejabat, tidak ada rakyat jelata, yang ada hanyalah hamba yang merintih memohon ampunan.

  • Madinah: Kerinduan pada Madinah adalah kerinduan pada ketenangan. Membayangkan melangkah di Raudhah, menyampaikan salam secara langsung di depan makam Rasulullah SAW, membawa rasa damai yang tak bisa ditawarkan oleh kemewahan kota mana pun di dunia.

Rindu ini seringkali terasa sesak. Ada semacam rasa "iri" melihat sahabat dekat bisa segera mencium aroma tanah haram, sementara kita di sini masih harus bergulat dengan persiapan waktu. Rindu inilah yang menjadi bahan bakar doa agar suatu saat nanti, nama kita pun akan dipanggil.

"Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh." (QS. Al-Hajj: 27)

Ayat ini terngiang-ngiang saat bus mulai bergerak perlahan. Saya menyadari bahwa setiap langkah kaki Calhaj pagi ini adalah penggenapan dari janji Allah ribuan tahun yang lalu. Saya menyelipkan sebuah munajat kecil yang sangat personal. Sebuah harapan agar Allah tidak membiarkan kerinduan ini hanya menjadi mimpi yang tak berujung.

"Ya Allah, hari ini aku melepas sahabatku dengan doa. Jika Engkau izinkan, di waktu yang paling tepat menurut-Mu, gerakkanlah kakiku, mudahkanlah urusanku, dan cukupkanlah rezekiku untuk bisa bersimpuh di Baitullah."

Saya percaya bahwa setiap niat baik yang ditanam hari ini, meski hanya melalui kehadiran di upacara pemberangkatan. Hadirnya saya adalah bentuk penghormatan. Saya ingin atmosfer suci itu menular, ingin aroma keberangkatan itu melekat dalam ingatan, sehingga semangat memperbaiki diri semakin berkobar.

Untukmu, sahabat dan saudara saya yang kini sedang dalam perjalanan menuju embarkasi, ketahuilah bahwa meski jarak memisahkan kita, hatiku tertaut pada setiap doa yang kau panjatkan nanti di depan Multazam.

Titip salam saya pada Baginda Rasulullah. Sebutkan nama saya di antara ribuan doa yang kau panjatkan. Katakan pada Sang Pemilik Ka'bah bahwa di sebuah sudut kecil di wilayah Cepu, ada seorang hamba yang sangat merindukan rumah-Nya.

Selamat jalan, para tamu Allah. Semoga perjalanan ini menjadi safar yang penuh berkah, menjadi jembatan menuju perubahan hidup yang lebih takwa, dan semoga kembalinya nanti membawa cahaya yang menyinari lingkungan sekitar. Makkah dan Madinah, tunggu kami. Kami akan datang, cepat atau lambat, atas izin-Nya. Aamiin Ya Rabbal 'Aalamiin.

Cepu, 6 Mei 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar