Selasa, 05 Mei 2026

Keberangkatan Calhaj




Karya Gutamining Saida

Fajar di ufuk timur menyisakan rona merah yang membelah kegelapan langit di atas musala Miftahul Falah. Suara zikir pelan masih terdengar di dalam musala, namun ada getaran yang berbeda pagi ini. Jamaah tidak langsung membubarkan diri ke rumah masing-masing. Ada sebuah magnet yang menarik langkah kaki mereka menuju satu titik yaitu kediaman Bapak Puji Utomo.

Bapak Puji Utomo bukan sekadar tetangga. Beliau adalah jamaah dari Musala Miftahul Falah, sosok yang biasa disapa dengan "Pak Ut, Lek Ut". Rumahnya telah berubah menjadi pintu gerbang menuju Tanah Suci. Kekhusyukan doa memenuhi udara, menciptakan suasana yang seolah-olah menghubungkan tanah Jawa dengan padang pasir di Mekah.

Suasana haru langsung menyergap. Bapak Puji Utomo duduk bersimpuh di tengah ruangan, mengenakan pakaian seragam batik haji rapi nan bersih, wajahnya memancarkan cahaya ketenangan sekaligus kegelisahan rindu yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Ini adalah puncak dari penantian belasan tahun sebuah kesabaran yang akhirnya dijawab oleh Allah Subhanahu Wata'alla melalui undangan resmi menjadi tamu-Nya.

Prosesi upacara pelepasan dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an. Setiap lantunan ayat yang dibacakan seolah menjadi pengingat bahwa perjalanan ini bukanlah perjalanan biasa. Ini bukan perjalanan wisata untuk melihat keindahan dunia, melainkan perjalanan "pulang" ke rumah asal bagi setiap jiwa, yaitu Baitullah.

Saat tiba pada sesi yang paling dinanti, yakni acara pamitan, suasana berubah menjadi sangat hening. Beliau tidak kuasa lagi untuk berkata-kata sendiri, Bapak Puji Utomo hanya mampu menunduk. Prosesi pamitan tersebut diwakilkan kepada salah seorang tokoh masyarakat setempat. Hatinya terlalu penuh oleh rasa syukur hingga lidahnya kelu untuk berucap. Beliau menitipkan permohonan maaf atas segala khilaf, baik sengaja maupun tidak, agar langkahnya menuju Tanah Suci menjadi ringan dan suci," ujar sang tokoh masyarakat. Mendengar itu, tangisan jamaah yang sedari tadi ditahan akhirnya pecah. Ruangan itu dipenuhi oleh tetesan air mata dari para sahabat dan tetangga yang hadir.

Bapak Utomo dan ibu melangkah keluar pintu rumahnya. Di ambang pintu, seorang muazin yaitu bapak Joko berdiri tegap dengan tangan menempel di telinga. Suara Adzan pun berkumandang. Dilanjut iqomah di sebelah kiri. Biasanya, adzan memanggil orang untuk menunaikan salat. Kali ini, adzan itu terasa seperti pengumuman kepada alam semesta bahwa seorang hamba Allah sedang memulai langkah kakinya menuju pusat bumi, pusat kiblat. Suara Allahu Akbar yang melengking di pagi itu membuat bulu kuduk merinding. Seolah-olah langit ikut bertasbih menyaksikan keberangkatan seorang calon haji. Disusul kemudian dengan Iqomah, yang menandakan bahwa waktu keberangkatan telah tiba. Tidak ada lagi waktu untuk menoleh ke belakang, fokus hanya pada satu titik yaitu  Allah dan Rasul-Nya.

Saat beliau melangkah menuju kendaraan, seluruh tamu yang berderet di dekat pintu mulai mengumandangkan Talbiyah secara serentak, dengan suara yang mantap

Labbaykallahumma labbayk, labbayka laa syariika laka labbayk. Innal hamda wan ni'mata laka wal mulk, laa syariika lak.

Suara ini bergemuruh, membelah keheningan. Kalimat "Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah" bukan lagi sekadar hafalan manasik, melainkan jeritan kerinduan dari setiap jiwa yang hadir. Air mata tumpah tak terbendung bukan tangis kesedihan karena perpisahan, melainkan tangis haru atas kebesaran Allah. Menyaksikan Bapak Utomo sekalian berangkat.  Bukti nyata bahwa Allah  memampukan orang-orang yang Ia panggil dengan kesabaran dan keikhlasan.

Betapa rasa syukur ini meluap-luap. Kini beliau berangkat untuk menjadi tamu Rasulullah di Madinah dan tamu Allah di Makkah. Kebahagiaan hati ini sungguh tiada tandingan. Ada rasa iri yang mulia di hati setiap orang yang melihatnya. Sebuah keinginan kuat agar suatu saat nanti kami juga dipanggil untuk bersujud di tempat yang sama.

Rombongan kendaraan perlahan bergerak menjauh, meninggalkan debu yang beterbangan dan suara talbiyah yang semakin sayup di telinga. Kami kembali ke rumah masing-masing dengan hati yang dipenuhi doa, berharap suatu saat nanti, kami pun akan berdiri di posisi yang sama yaitu mengenakan kain ihram putih, melupakan dunia, dan hanya berseru dengan penuh cinta, "Labbayk, ya Allah..." Selamat jalan, wahai tamu Allah. Semoga menjadi haji yang mabrur, yang tiada balasannya di sisi Allah Subhanahu Wata'alla kecuali surga-Nya yang abadi. Aamiin ya Rabbal 'Alamiin.

Cepu, 5 Mei 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar