Kamis, 14 Mei 2026

Jalan-jalan pagi

Karya : Gutamining Saida 

Pagi Jumat menyapa dengan kehangatan. Libut nasional seolah menjadi peluit panjang. Waktu yang menandakan waktu istirahat telah tiba. Angin segar pagi membisikkan undangan sayang bila dilewatkan. Ajakan untuk keluar rumah, menggerakkan badan, dan menghirup oksigen bersih. Harapan  menggebu-gebu, membayangkan ritme langkah kaki santai yang akan memecah keheningan pagi. Rencana pertama mengajak sang anak tercinta ikut serta. Apa daya, rasa malasnya kambuh dengan sukses. Dia menyisakan gelengan kepala dan penolakan halus yang seketika membuat rencana awal sedikit goyah.

Di titik inilah, pertempuran batin mulai berkecamuk. Ada sebersit keraguan yang menyergap dada. Berjalan sendirian menyusuri rute jalanan kadang terasa aneh. Rasa minder tiba-tiba muncul bagai kabut tipis. Saya membayangkan orang yang berpapasan dan bertanya-tanya. Saya berjalan tanpa kawan di hari libur.  Ego dan keinginan untuk sehat segera berontak keras. Pagi terlalu indah untuk dilewatkan hanya dengan rebahan di rumah. Tekad pun dibulatkan. Membangun kepercayaan diri memang bukan hal yang mudah. Ia harus dimulai dari satu langkah yang berani. Sambil mengikat tali sepatu dengan mantap. Saya meyakinkan diri sendiri.

Hati ini berusaha tegar berangkat sendiri. Jemari rupanya memiliki kehendaknya lain. Naluri untuk berbagi momen tetap meronta. Sambil merapikan pakaian, kuambil gawai dan mulai membuka aplikasi whatshap. Satu demi satu, nama-nama saya berikan sapaan. Mengirimkan pesan berisi ajakan spontan. Menit demi menit berlalu, layar ponsel tak kunjung memunculkan balasan. Menunggu jawaban di era digital kadang memang menguji kesabaran. Ada pesan yang hanya terkirim dengan centang satu, ada yang centang dua namun tak kunjung berubah biru. Semangat saya sama sekali tak surut. Kaki terus melangkah mendekati pintu rumah. Saya bersiap menembus pagi.

Sebuah nada dering singkat memecah kesunyian. Layar ponsel menyala, menampilkan pesan balasan. Ternyata dari Bu Wiwik. Tanpa membuang waktu satu detik pun, jemariku langsung menari lincah membalas pesannya.

"Ayo jalan-jalan di Nglajo!" chats saya cepat.

Tak berselang lama, Bu Wiwik membalas dengan sebuah pertanyaan.

"Njenengan dengan Mbak Faiz?"

"Tidak..., sendirian. Saya cari teman nih ceritanya," balas saya jujur. 

"Saya mau bersihkan gudang, Bu," tulisnya.

"Ooh, ya sudah," balas saya singkat.

Seolah semesta sedang senang menulis skenario kejutan, tak sampai beberapa menit berselang, ponsel ini kembali bergetar. Nama Bu Wiwik kembali muncul di layar. Kali ini, pesannya membawa angin segar.

"Jalan-jalan di embung ya, nanti saya temani," tulisnya.

"Ya , saya berangkat sekarang," balas saya dengan semangat 

"Motor taruh di rumah saya aja," tambahnya lagi.

 "Ya," jawab saya mengakhiri percakapan.

Di luar dugaan, ternyata rentetan kejutan pagi ini belum benar-benar usai. Melalui obrolan chat lanjutan.  Bu Wiwik sedang mengajak Bu Isna untuk ikut bergabung. Awalnya bersiap sendirian menepis rasa sepi, kini rombongan menjadi sebuah trio.

Cepu, 15 Mei 2026




Tidak ada komentar:

Posting Komentar