Karya: Gutamining Saida
Setiap kali kaki ini melangkah masuk area kolam renang, ada semacam energi baru yang meresap ke dalam dada. Air yang tenang seolah menawarkan lembaran pelajaran baru yang siap untuk dituliskan dalam catatan perjalanan hidup. Usia rasanya hanyalah deretan angka ketika semangat untuk menaklukkan ketakutan dan belajar hal baru terus menyala terang. Di sinilah, bersama rekan-rekan yang tergabung dalam semangat kebersamaan, rasa gentar terhadap air perlahan luntur, berganti dengan semangat yang tak pernah padam.
Suasana di sekitar kolam selalu menyimpan kesegaran. Permukaan air bagaikan panggung tempat kami menguji nyali. Para siswa penuh semangat, sang pelatih yang berdedikasi tinggi, semuanya larut dalam harmoni proses belajar yang tak kenal lelah.
Sosok yang kami hormati dan senantiasa kami sapa dengan panggilan yang terdiri dari enam huruf yaitu "PAK GUN". Beliau bukan sekadar pelatih, melainkan seorang pembimbing, motivator kami.
Kami mulai konsentrasi. Suara gemercik air beradu dengan dinding kolam menjadi musik latar yang mengiringi instruksi Pak Gun.
"Silakan semuanya berdiri berjajar di pinggir kolam, rapatkan barisan!" serunya dengan suara lantang yang memecah riuhnya suasana.
Kami segera mengatur posisi membentuk satu garis lurus yang rapi, berdiri di dalam air sambil menghadap lurus ke arah beliau. Tubuh kami yang separuhnya sudah terendam air merasakan sensasi dingin yang menyegarkan. Instruksi selanjutnya terdengar sederhana, sebuah teknik dasar yang esensial.
"Semua menenggelamkan tubuh perlahan ke dalam air," instruksi Pak Gun memecah keheningan sesaat, "kemudian, saat muncul kembali ke permukaan, ucapkan hitungan dengan suara yang jelas!" Namun, ada satu syarat khusus ya.
"Saat muncul di permukaan, pastikan mata kalian tetap terbuka! Ingat, telapak tangan tidak boleh digunakan untuk mengusap air yang menempel di wajah. Biarkan air itu turun dengan sendirinya!" ucap pak Gun.
Sebuah ilmu yang secara teori terdengar sangat sederhana. Hanya menenggelamkan diri, lalu muncul sambil membuka mata dan menghitung. Kenyataan di lapangan sungguh berbeda. Refleks manusiawi, segera memejamkan mata rapat-rapat saat air menyentuh wajah, dan tangan secara otomatis akan bergerak mengusap mata setelah kepala menembus permukaan.
Satu... Dua... Tiga... Suara hitungan terdengar bersahutan saat kepala-kepala mulai bermunculan dari air. Pemandangan yang tercipta mengundang senyum. Ada saja yang belum sesuai instruksi. Beberapa tangan tanpa sadar langsung bergerak cepat mengusap wajah yang basah kuyup. Beberapa yang lain muncul ke permukaan dengan mata yang masih terpejam rapat, menahan rasa tidak nyaman atau sekadar menuruti insting. Pak Gun mengamati setiap gerakan kami dengan saksama, tersenyum kecil melihat tingkah polah siswanya yang tengah berjuang melawan refleks alami.
Melihat banyaknya gerakan yang belum sempurna, Pak Gun tiba-tiba menghentikan latihan sejenak. Suasana menjadi hening, hanya tersisa suara napas kami yang sedikit terengah dan bunyi kepakan air yang perlahan mereda.
"Ibu-ibu..." panggil beliau
"Ada yang tahu apa sebenarnya fungsi dari alis dan bulu mata kita?"
Pak Gun mulai memberikan penjelasan. Beliau menjabarkan bahwa Allah SSubhanahu Wata'alla menciptakan alis dan bulu mata, ada manfaat dan fungsinya . Dari sudut pandang agama, tidak ada satupun ciptaan-Nya yang sia-sia. Alis diciptakan melengkung di atas pelipis bertugas bagaikan talang alami, menahan tetesan keringat atau guyuran air dari dahi agar tidak langsung mengalir deras menembus mata. Begitu pula dengan bulu mata, yang difungsikan layaknya tirai pelindung dari air dan debu. Memastikan mata tetap bisa berkedip dan melihat dengan jelas.
"Itulah mengapa ibu-ibu tidak perlu panik dan buru-buru mengusap wajah," tambah Pak Gun "Percayakan pada desain sempurna yang telah Allah Subhanahu Wata'alla berikan pada raga kita. Bersyukurlah atas keberadaan alis dan bulu mata.
Pak Gun kembali menyuruh kami mengulang gerakan tersebut berulang kali. Ajaibnya, kali ini perbedaannya sangat terasa. Saat tubuh kembali ditenggelamkan dan memecah permukaan air untuk bangkit, tangan-tangan ini menjadi jauh lebih tenang dan bisa ditahan untuk tidak menyentuh wajah. Mata kami berusaha keras untuk menatap lurus ke depan dengan kelopak yang terbuka, membiarkan butiran air mengalir secara alami mengikuti jalur yang telah diciptakan Sang Maha Kuasa melewati rintangan alis dan bulu mata. Hitungan demi hitungan diteriakkan dengan lebih lantang, lebih lepas, dan penuh keyakinan.
Kisah-kisah di kolam tidak akan kami biarkan menguap begitu saja, akan rangkai dan abadikan sebagai jejak langkah yang kelak bisa dibaca, dinikmati, dan direnungkan oleh anak, saudara, hingga cucu di masa depan. Sebuah warisan cerita tentang keberanian, rasa syukur, dan semangat belajar yang tak pernah mengenal kata usai. Aamiin
Cepu, 9 Mei 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar