Karya: Gutamining Saida
Di tepi kolam, kami berkumpul dengan satu tujuan yaitu ikhtiar sehat. Ada yang masih muda, ada yang sudah lanjut usia, ada yang sudah pandai berenang, dan ada pula yang masih takut pada air. Di tempat itu kami seperti keluarga yang saling menguatkan.
Di tengah suasana santai itu, muncul satu istilah khas Jawa yang membuat sore terasa lebih hidup, yaitu “angkuk-angkuk en.” Sebagai orang Jawa, istilah itu tentu tidak asing di telinga. Menurut pemahaman saya, angkuk-angkuk en memiliki makna hampir sama dengan ragu-ragu, maju mundur, tidak mantap melangkah karena hati masih penuh keraguan.
Istilah itu muncul saat latihan terjun ke kolam dipandu oleh Pak Gun. Beliau dikenal sabar membimbing. Wajahnya tenang, tetapi penuh semangat. Sore itu beliau memberikan teori sekaligus praktik bagaimana cara terjun ke kolam dengan benar.
“Kita belajar pelan-pelan. Jangan takut air,” ucap beliau sambil tersenyum.
Kami semua diminta berdiri berjajar di bibir kolam. Satu per satu harus mencoba terjun. Sebagian siswa tampak percaya diri, tetapi sebagian lagi terlihat tegang. Ada yang memegang pinggir kolam erat-erat seperti takut kehilangan pegangan hidup.
Pak Gun lalu memberi contoh terlebih dahulu. Beliau berdiri tegap di bibir kolam. Kaki mencengkeram kuat di pinggir kolam. Badan membungkuk. Kedua tangan lurus sejajar, jempol dikunci rapat. Setelah itu beliau meluncur masuk ke air dengan indah dan tenang. Byuuur...
Air terbelah rapi tanpa percikan berlebihan. “Begitu caranya,” kata beliau sambil tersenyum.
Kami semua bertepuk tangan kecil. Ternyata sesuatu yang terlihat mudah sering kali membutuhkan keberanian dan keyakinan. Giliran peserta pertama maju. Ia tampak siap. Ketika sudah berdiri di bibir kolam, mendadak tubuhnya berhenti. Kakinya maju sedikit lalu mundur lagi. Membungkuk sebentar lalu berdiri lagi. Tangannya sudah lurus lalu turun kembali. Pak Gun langsung tertawa kecil.
“Nah, itu namanya angkuk-angkuk en,” katanya.
Semua siswa langsung tertawa. Akhirnya memberanikan diri terjun. Cebuuuur... Air muncrat ke mana-mana. Posisi tubuh kurang sempurna karena tadi terlalu lama ragu-ragu. Kontan terdengar suara kompak tanpa aba-aba. “Geeeeer...” Tawa pecah di pinggir kolam. Yang tadi tegang ikut tertawa. Suasana menjadi cair dan hangat. Tidak ada ejekan yang menyakitkan. Yang ada hanya kebersamaan dan kegembiraan.
Pak Gun geleng-geleng kepala sambil tersenyum. “Jangan angkuk-angkuk en ya. Kalau ragu-ragu malah tidak sempurna,” ujar beliau.
Kata itu menempel pada kita . Bukan hanya tentang terjun ke kolam, tetapi juga tentang kehidupan. Bukankah manusia sering angkuk-angkuk en dalam menjalani hidup?
Kadang ingin berbuat baik tetapi masih ragu. Ingin sedekah takut miskin. Ingin meminta maaf gengsi. Ingin memulai hidup sehat malas. Ingin mendekat kepada Allah Subhanahu Wata'alla tetapi masih menunda-nunda.
Keraguan sering membuat langkah menjadi tidak sempurna. Saya memandangi air kolam yang bergelombang kecil. Belajar berenang bukan hanya melatih tubuh, tetapi juga melatih hati. Air mengajarkan keberanian. Air mengajarkan ketenangan. Air juga mengajarkan tawakal.
Saat seseorang terjun ke air, ada keberanian untuk melepaskan rasa takut. Setelah tubuh masuk ke air, barulah ia belajar menyesuaikan diri dan percaya bahwa tubuhnya mampu mengapung jika tidak panik.
Kehidupan manusia kadang Allah membawa kita masuk ke dalam keadaan yang tidak nyaman agar kita belajar percaya kepada-Nya. Jika terlalu banyak takut, hati menjadi berat. Jika yakin bahwa Allah selalu bersama hamba-Nya, langkah terasa lebih ringan.
Ada yang berkata tertawa itu sehat. Wajah-wajah yang awalnya tegang berubah cerah. Bahkan siswa yang tadi salah posisi tidak malu. Ia justru ikut tertawa paling keras. Di situlah indahnya kebersamaan.
Yang takut diberi semangat. Yang jatuh ditolong. Yang ragu diyakinkan.
Saya jadi teringat bahwa dalam agama pun diajarkan pentingnya saling menguatkan dalam kebaikan. Hidup tidak bisa dijalani sendiri. Manusia membutuhkan saudara, teman, dan guru yang mengingatkan.
Pak Gun sore itu bukan sekadar pelatih. Beliau guru kehidupan. Beliau mengajarkan bahwa keraguan berlebihan hanya membuat seseorang sulit maju.
“Jangan angkuk-angkuk en.” Kalimat itu terus terngiang di kepala saya. Dalam melaksanakan ibadah manusia jangan angkuk-angkuk en. Ketika adzan berkumandang, segeralah shalat. Ketika punya kesempatan berbuat baik, lakukan. Ketika masih diberi kesehatan, gunakan untuk bersyukur dan menjaga amanah tubuh.
Hidup di dunia sebenarnya seperti berdiri di bibir kolam. Kita tidak tahu seberapa dalam air di depan kita. Kita harus yakin bahwa Allah Subhanahu Wata'alla tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang mau berusaha. Sore ini saya mendapat istilah baru, keberanian menjalani hidup tanpa terlalu banyak angkuk-angkuk en. Sampai jumpa. Barokallah ilmunya pak Gun.
Cepu, 9 Mei 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar