Sabtu, 09 Mei 2026

Siswa Tertua


Karya : Gutamining Saida

Sinar matahari memantul di permukaan air yang beriak tenang. Di antara riuh rendah suara cipratan air dan canda tawa para siswa. Ada sebuah pemandangan yang selalu berhasil membuat hati saya menghangat. Di sanalah ibu saya berada, seorang wanita tangguh yang kini telah menginjak usia 75 tahun. Garis-garis halus di wajahnya adalah peta perjalanan hidup yang panjang, binar matanya menceritakan hal yang berbeda yaitu semangat menolak untuk menua.

Di kelas terapi air, ibu saya menyandang predikat sebagai siswa paling senior, dipandang dari usia di antara yang lainnya. Hal itu tidak sedikit pun menyurutkan langkahnya. Beliau memiliki tekad yang kuat, sebuah ikhtiar sehat dengan menceburkan diri ke kolam. Tujuannya sederhana untuk merawat kebugaran tubuh, memperpanjang usia yang barokah, dan yang terpenting, untuk menemukan kebahagiaan di setiap hela napasnya. Bagi ibu, air sebagai terapi yang menyegarkan raga dan menenangkan jiwa.

Sesi pertemuan sore dimulai, di area yang paling membuat ibu merasa aman dan nyaman, yakni kolam anak-anak. Airnya yang dangkal, hanya sebatas paha orang dewasa, memberikan rasa aman bagi siapa saja yang baru beradaptasi. Ibu melakukan gerakan-gerakan pemanasan ringan. Mengayunkan tangan, memutar bahu, dan melangkah perlahan membelah air. Senyum sesekali mengembang di bibirnya ketika ia berhasil menyeimbangkan diri. Bagi orang lain, mungkin itu hanya gerakan sederhana, tetapi bagi seorang lansia berusia 75 tahun, itu adalah sebuah pencapaian yang patut dirayakan.

Waktu berlalu, tubuh sudah cukup beradaptasi dengan suhu air. Pemanasan di kolam anak-anak dirasa sudah cukup. Saat itulah, sang pelatih yang mendampingi kami, berjalan menghampiri dengan senyum ramahnya. Beliau adalah sosok pelatih yang sabar dan sangat memahami psikologis para siswanya, terutama para lansia.

"Monggo, pindah sana, Yang-ti," ucap Pak Gun dengan nada suara yang lembut namun penuh dorongan. Ia menunjuk ke arah kolam dewasa yang membentang di sisi lain, dengan air kebiruan yang tampak lebih tenang namun menyembunyikan kedalaman yang berbeda.

Mendengar ajakan itu, raut wajah ibu seketika berubah. Senyumnya tertahan, digantikan oleh sorot mata yang menyiratkan keraguan dan kecemasan. Bagi seseorang yang tidak terbiasa, kedalaman air adalah sebuah ketakutan yang sangat nyata. Imajinasi tentang kaki yang tidak menjejak dasar kolam cukup untuk membuat nyali ciut.

"Di sini saja, Pak," jawab ibu saya dengan cepat. Tangannya secara refleks memegang pinggiran kolam anak-anak. Suaranya terdengar sedikit bergetar. "Takuuuut di sana, lebih dalam."

Pak Gun terkekeh pelan, tawa yang menenangkan dan tidak menghakimi. Beliau sangat mengerti bahwa ketakutan itu wajar. "Tidak apa-apa, Yang-ti. Tidak akan kelelep, Yang-ti," bujuk Pak Gun dengan nada meyakinkan, memberikan garansi keamanan bahwa semuanya akan berada di bawah kendalinya.

Melihat ibu yang masih ragu-ragu mematung di tempat, saya pun mengambil inisiatif. Saya berjalan mendekat, menyusulnya ke pinggir kolam. Saya pegang tangan kiri ibu. Sentuhan itu adalah bentuk transfer keberanian, sebuah pesan tanpa kata bahwa ia tidak sendirian.

"Ayo Bu, pelan-pelan saja," bisik saya.

Dengan tangan kiri yang terus saya genggam erat, kami berdua melangkah meninggalkan kolam anak-anak menuju area kolam dewasa. Setibanya di bibir kolam yang baru, ibu menatap tangga besi yang menjorok ke dalam air. Satu per satu, dengan sangat hati-hati, ibu mulai menuruni tangga tersebut. Kakinya meraba dasar kolam pada setiap pijakan. Semakin turun, air terasa semakin naik menyelimuti tubuhnya, dari pinggang, perut, hingga sebatas dada.

"Coba jalan-jalan dulu di sekitar sini, Yang-ti. Rasakan airnya," instruksi Pak Gun yang sudah bersiap di dalam air, menjaga jarak aman di dekat kami.

Ibu mulai melangkahkan kakinya perlahan. Air di kolam dewasa memberikan daya apung yang berbeda. Awalnya langkahnya kaku, namun perlahan-lahan ritmenya mulai terbentuk. Ketenangan mulai menggantikan ketegangan di wajahnya.

"Gimana, masih takut Yang-ti?" tanya Pak Gun memecah konsentrasi ibu, mencoba mengevaluasi kondisi psikologis murid tertuanya itu.

Ibu menoleh ke arah Pak Gun, kemudian menggelengkan kepalanya pelan. Senyum kecil, senyum kemenangan atas ketakutannya sendiri, mulai terukir di wajahnya yang basah oleh air. Kata 'tidak' terwakili dengan sempurna oleh gelengan kepala tersebut. Kekhawatiran akan 'kelelep' perlahan sirna seiring dengan keyakinannya bahwa kakinya masih menjejak kuat dan ada tangan-tangan yang siap menjaganya.

"Bagus. Kalau sudah tidak takut, sambil latihan napas, nggih," lanjut Pak Gun memberikan instruksi berikutnya. Beliau mengajarkan cara mengambil udara dari mulut dan membuangnya perlahan di dalam air. Ibu mengikuti dengan saksama. Wajahnya menunduk ke permukaan air, meniupkan gelembung-gelembung kecil, lalu mengangkat wajahnya kembali untuk meraup oksigen. Ibu tampak begitu bersemangat, aura kesehatannya memancar menembus batasan usianya.

Waktu latihan akhirnya usai. Sebelum kami benar-benar mengakhiri sesi dan naik ke tepian untuk pulang, Pak Gun meminta seluruh peserta untuk berkumpul sejenak. Beliau menginstruksikan kami untuk membentuk sebuah formasi saling berpegangan tangan dalam bentuk melingkar di tengah kolam.

Tangan ibu menggenggam tangan teman-teman seperjuangannya. Di tengah lingkaran itu, terjalin sebuah ikatan solidaritas yang tak terlihat. Pak Gun kemudian mengambil perangkat kameranya dan mengabadikan momen kebersamaan tersebut. Jepretan kamera dan rekaman video singkat itu merekam senyum-senyum sumringah para siswa, dengan ibu.

Momen tersebut diabadikan bukan tanpa alasan. Dokumentasi itu memiliki tujuan yang sangat penting. Ke depannya, saat sedang bersantai di rumah, video dan foto itu bisa dilihat kembali. Dari sanalah, ibu dan peserta lainnya bisa melihat rekam jejak perjuangan di kolam. Mereka bisa melihat secara visual kemajuan yang telah dicapai hari demi hari.

Sebuah pepatah kembali terngiang yaitu "Bisa karena biasa." Pepatah itulah yang selama ini sering dipakai sebagai motivasi utama. Bahwa tidak ada kata terlambat untuk memulai, tidak ada kata terlalu tua untuk belajar, dan bahwa setiap langkah kecil yang diulang secara konsisten akan membuahkan hasil yang luar biasa. Ibu saya, di usianya yang ke-75, telah membuktikan bahwa kebiasaan melawan rasa takut dan kebiasaan berikhtiar adalah kunci menuju hidup yang sehat dan bahagia. Aamiin.

Cepu, 9 Mei 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar