Rabu, 06 Mei 2026

Njeplaplang

 

Karya: Gutamining Saida

Di pagi yang masih menyisakan embun, obrolan di grup komunitas renang mendadak riuh hanya karena satu kata yang dilemparkan oleh sang pelatih kebanggaan kami, Pak Gun. Pak Gun, tiba-tiba mengirimkan sebuah foto dokumentasi latihan sore kemarin. Di layar ponsel, saya melihat sosok yang sedang mempraktikkan posisi njepaplang di atas permukaan air. Melihat foto itu, saya tersenyum sendiri. Foto itu bagi saya, adalah sebuah "pancingan". Tujuannya  untuk membakar semangat para pejuang air yang usianya di atas lima puluh tahun, nyalinya harus terus diasah.

Dalam teori renang, posisi ini sebenarnya adalah inti dari kepercayaan diri. Pelaku harus memiliki hati yang tenang, pikiran yang hening, serta tubuh yang rileks sepenuhnya. Pandangan mata harus lurus ke atas menatap langit kedua kaki lurus merapat, dan telapak tangan menelungkup. Kedengarannya sangat sederhana, bukan? Hanya diam dan membiarkan air menopang kita. Bagi saya yang sedang berjuang melawan trauma dan rasa takut pada air, teori ini adalah ujian yang nyata.

Saya ingat betul momen ketika saya mencoba mempraktikkan posisi njepaplang tersebut. Begitu tubuh menyentuh air, niat hati ingin meluncur indah. Apa daya, baru beberapa detik meluncur, tubuh saya justru langsung "nyungsep" ke dasar kolam. Saya tenggelam cukup untuk membuat hidung terasa perih terkena air. Mengapa saya gagal? Mengapa teman saya yang lain bisa begitu tenang bak kayu yang hanyut, sementara saya justru seperti gaya batu?

Kesimpulannya yaitu hati saya belum tenang. Ada ketakutan yang masih bersembunyi, ada kecemasan bahwa air akan menelan saya jika saya lepas kendali. Dalam renang, musuh terbesar kita bukanlah kedalaman air, melainkan kekakuan otot yang dipicu oleh pikiran yang berisik. Ketika hati belum ikhlas "menyerah" pada air, maka tubuh akan menegang, dan tubuh yang tegang secara fisik akan menjadi lebih berat sehingga lebih mudah tenggelam.

Di sinilah peran Pak Gun menjadi sangat penting. Beliau bukan sekadar pelatih yang mengajarkan gerakan tangan atau kaki. Beliau adalah motivator ulung. Beliau paham bahwa bagi kami, belajar renang hanya untuk menaklukkan diri sendiri. Beliau sering berkata dengan nada guyon kuncinya pada kemauan untuk mencoba. 

Di grup "Muda Swimming Squad" Yang memotivasi saya yaitu postur tubuhnya jauh lebih berisi daripada saya bisa sukses njeplaplang.  Kenyataannya, mereka justru mengapung dengan begitu indahnya, sangat rileks, seolah-olah air adalah kasur empuk bagi mereka. Melihat hal itu, saya merasa terinspirasi. Jika mereka bisa, mengapa saya tidak? Jadi, faktor kegagalan saya murni karena faktor psikologis. Saya bertekad tidak akan patah semangat. Saya belajar untuk  berusaha menyinkronkan antara pikiran dan gerakan. Saya mulai menyadari bahwa posisi njepaplang  harus pasrah, tetap terjaga. 

Puncaknya adalah kepuasan batin yang tak ternilai harganya. Ketika saya berhasil tidak tenggelam dalam beberapa detik rasanya kebahagiaan itu meledak-ledak. Meski hasilnya belum maksimal, meski posisi tangan saya belum sepenuhnya sempurna. Kaki terkadang masih goyah, fakta bahwa saya "tidak tenggelam" saja sudah merupakan kemenangan besar. Bahagia itu sederhana yaitu cukup dengan melihat tubuh kita tidak lagi ditolak oleh air. Hal itu sudah cukup untuk membuat tersenyum dan tertawa.

Hidup itu mirip dengan posisi njepaplang. Kadang kita terlalu keras mencoba mengendalikan segala sesuatu sehingga kita menjadi tegang dan akhirnya "tenggelam" dalam masalah. Padahal, jika kita sedikit lebih rileks, memiliki hati yang tenang, dan pandangan yang selalu menatap kepada Tuhan, hidup akan terasa lebih ringan. Masalah tidak akan menenggelamkan kita jika kita tahu cara "mengapung" di atasnya dengan kepasrahan.

Saya sudah tidak sabar untuk kembali bertemu Pak Gun dan teman-teman. Saya akan kembali mencoba posisi njepaplang. Saya akan menikmati setiap proses belajar tanpa rasa takut yang menghalangi kebahagiaan kita. Sampai jumpa di hari Jum'at mendatang.

Cepu, 7 Mei 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar