Rabu sore langit tampak teduh. Matahari mulai turun di ufuk barat, sinarnya tidak lagi menyengat, justru terasa hangat dan menenangkan. Angin berembus pelan menemani langkah kami menuju kolam renang. Hari istimewa karena kami datang bukan hanya untuk berenang, tetapi untuk berikhtiar sehat bersama tiga generasi yaitu nenek, ibu dan anak..
Di samping saya ada ibu tercinta yang sudah berusia 75 tahun. Beliau berjalan sambil tersenyum menikmati suasana. Sementara di depan kami berjalan anak perempuan saya. Tiga generasi berjalan bersama dengan tujuan yang sama, yaitu menjaga kesehatan dan menikmati kebersamaan.
“Dik, saat usia lanjut tubuh biasanya perlu bantuan alat." ujar saya.
"Lihat mbahyi dan umi." tambah saya.
"Iya, mii."jawabnya singakat.
Ada yang membawa kursi lipat, tongkat, kacamata, atau bantal kecil seperti umi. Itu bukan tanda kelemahan, tetapi bentuk ikhtiar agar tubuh tetap nyaman.”Anak saya mendengarkan sambil tersenyum. “Kalau ingin tetap sehat sampai tua, ikhitiarlah dari sekarang." kata saya.
"Tanpa banyak alat bantu, maka harus dimulai sejak dini. Rajin bergerak, menjaga pola makan, hati dibuat bahagia, dan tubuh dilatih.”lanjut saya.
Suasana kolam sudah cukup ramai. Anak-anak kecil yang bermain air sambil berteriak kegirangan. Ada bapak-bapak dan ibu-ibu yang sedang latihan gerakan terapi di air. Suara cipratan air berpadu dengan tawa para peserta membuat sore itu terasa hidup.
Pelatih kami pak Gun, sudah berdiri di pinggir kolam. Beliau dikenal sabar dan telaten membimbing siapa saja. Mulai anak-anak sampai lansia dibimbing dengan perhatian. Peserta yang awalnya takut air pun perlahan bisa berani masuk kolam.
“Silakan pemanasan dulu,” kata Pak Gun sambil tersenyum.
Kami pun mengikuti arahan. Gerakan demi gerakan kami ikuti. Air kolam sore itu terasa hangat. Tubuh yang awalnya lelah setelah aktivitas sehari penuh perlahan terasa ringan. Kami nikmati setiap gerakan dengan hati senang. Tidak ada target berat, tidak ada siapa paling hebat. Yang ada hanyalah semangat sehat bersama.
Setelah beberapa saat latihan, tiba-tiba Pak Gun memberi tantangan.
“Sekarang coba bertiga pegangan tangan,” katanya.
Kami saling mendekat. Tangan kanan saya memegang tangan ibu, sementara tangan kiri memegang tangan anak saya. Rasanya haru, belum pernah seperti ini di dalam air. Tiga generasi (nenek, ibu dan anak) berdiri di dalam air sambil saling menggenggam tangan.
“Kepala dimasukkan ke dalam air bersama-sama,” kata Pak Gun lagi.
“Satu… dua… tiga!”
Kami mencoba menundukkan kepala bersama-sama ke dalam air. Awalnya terlihat mudah. ternyata menjaga keseimbangan sambil saling berpegangan tangan itu tidak gampang. Anak saya bergerak terlalu cepat. Saya ikut kehilangan keseimbangan. Ibu saya yang memegang tangan saya ikut goyah. Air muncrat ke mana-mana. Kepala kami muncul dari air dengan posisi tidak karuan. Spontan… Kami bertiga tertawa. Bukan tertawa mengejek. Bukan menertawakan ketidak bisa an. Tetapi tawa yang muncul begitu saja karena hati kami benar-benar bahagia.
Suara tawa kami menyatu dengan suara air yang bergelombang kecil di kolam. Pak Gun melihat kami, menjadi heran.
“Njenengan itu kenapa saling menertawakan?” tanyanya sambil ikut tersenyum.
"Tawa kami bahagia, Pak.” jawab saya.
Kalimat itu sederhana, tetapi benar-benar keluar dari hati. Kebahagiaan tidak membutuhkan sesuatu yang mahal. Tidak perlu pergi jauh. Tidak harus memiliki kemewahan. Kebahagiaan bisa hadir dari hal kecil seperti tertawa bersama di kolam renang.
Meski usia sudah 75 tahun, semangatnya luar biasa. Sehat bukan hanya tentang tubuh yang kuat. Sehat juga tentang hati yang gembira. Tentang hubungan keluarga yang hangat. Bisa berkumpul tanpa beban sambil menikmati waktu bersama di kolam.
Kolam menjadi saksi kebersamaan tiga generasi. Tiga usia berbeda, tiga kebiasaan berbeda, tetapi dipersatukan oleh kasih sayang dan semangat hidup sehat. Tidak semua orang memiliki kesempatan menikmati waktu seperti ini bersama nenek, ibu dan anak dalam satu momen sederhana. Sore itu terasa sangat mahal nilainya. Tawa sederhana, menghangatkan hati sepanjang waktu. Sampai jumpa cerita esok.
Cepu, 8 Mei 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar