Senin, 01 Juni 2026

Ada Satu HurufYang Lari

Karya: Gutamining Saida 

Sore hari yang teduh membawa sebuah pesan singkat ke telepon genggam saya. Pesan itu datang dari seorang teman yang biasa disapa Bu Nanik. Kami memang belum lama saling mengenal. Pertemuan kami baru beberapa kali saja, tetapi entah mengapa terasa begitu akrab. Ada kalanya Allah Subhanahu Wata'alla mempertemukan dua orang yang sebelumnya asing, namun hati mereka terasa dekat seperti saudara yang telah lama bersama.

Saat membuka pesan tersebut, saya membaca sebuah komentar yang cukup singkat.

"Kere Bu Saida" disertai emoji 💖👍

Sekilas saya tersenyum. Dalam hati saya berpikir positif. Saya yakin Bu Nanik sedang terburu-buru saat mengetik pesan itu. Apalagi selama ini beliau dikenal sebagai pribadi yang baik dan suka memberikan apresiasi kepada teman-temannya.

Saya tidak langsung menanggapi secara serius. Setelah membaca pesan tersebut, saya kembali melanjutkan aktivitas yang sedang saya kerjakan. Saya bersyukur Allah  Subhanahu Wata'alla mengajarkan kepada saya untuk tidak mudah tersinggung, tidak gampang marah, dan tidak buru-buru berprasangka buruk kepada orang lain.

Bukankah dalam kehidupan sehari-hari sering kali masalah besar muncul hanya karena salah paham? Sebuah kata yang kurang huruf, sebuah kalimat yang kurang jelas, atau sebuah pesan yang dikirim terburu-buru terkadang mampu memicu pertengkaran. Jika ditelusuri, semuanya hanya karena kesalahan kecil yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan senyum dan pengertian.

Setelah beberapa saat, saya membalas pesan tersebut dengan nada bercanda.

"Kok ada huruf yang lari ya, Bu?"

Saya sengaja membalas dengan ringan agar suasana tetap hangat. Benar saja, tidak lama kemudian Bu Nanik menyadari kesalahannya. Beliau segera mengedit pesan dan mengirimkan permintaan maaf.

"Masya Allah."

"Sudah saya edit, mohon maaf tipo" ditambah emoji 💖.

Saya pun menjawab,

"Biasa sajalah, Bu. Bercanda biar kita awet muda."

Membaca balasan itu, beliau tertawa dan menambahkan satu kalimat yang sangat sederhana tetapi penuh makna.

"Kita wajib bahagia."

Kalimat itulah yang membuat pikiran saya langsung berbinar. Seperti ada lampu kecil yang menyala di dalam hati.

"Kita wajib bahagia."

Betapa indahnya kalimat tersebut.

Bahagia bukan berarti hidup tanpa masalah. Bahagia juga bukan berarti semua keinginan terpenuhi. Bahagia adalah kemampuan menerima takdir Allah  dengan hati yang lapang. Bahagia adalah bersyukur atas apa yang dimiliki, bukan sibuk menghitung apa yang belum dimiliki.

Saya teringat firman Allah bahwa dengan mengingat-Nya hati akan menjadi tenteram. Ketenangan hati itulah sumber kebahagiaan sejati. Kadang manusia terlalu fokus pada kekurangan sehingga lupa mensyukuri nikmat yang telah ada. Padahal masih bisa bernapas dengan sehat, masih memiliki keluarga yang menyayangi, masih diberi kesempatan beribadah, dan masih dapat bertemu dengan orang-orang baik merupakan nikmat yang luar biasa.

Percakapan singkat dengan Bu Nanik sore itu mengajarkan banyak hal kepada saya.

Pertama, pentingnya berprasangka baik kepada sesama. Tidak semua kesalahan dilakukan dengan sengaja. Terkadang jari lebih cepat daripada pikiran saat mengetik pesan. Jika setiap kesalahan kecil dibalas dengan kemarahan, tentu hubungan persaudaraan akan mudah retak.

Kedua, pentingnya memelihara suasana gembira. Rasulullah Salallahu Allaihi Wassalam pun mengajarkan umatnya untuk murah senyum. Senyum adalah sedekah yang tidak membutuhkan biaya, tetapi mampu menghadirkan kebahagiaan bagi banyak orang.

Ketiga, menjaga silaturahmi. Persahabatan yang baik tidak selalu diukur dari lamanya perkenalan. Ada orang yang bertahun-tahun bersama tetapi tetap terasa jauh. Sebaliknya ada pula yang baru beberapa kali bertemu, namun terasa dekat karena dipersatukan oleh kebaikan hati.

Saya bersyukur dipertemukan dengan teman-teman yang membawa energi positif dalam kehidupan. Kehadiran mereka menjadi pengingat bahwa hidup tidak harus dijalani dengan wajah muram. Ada saatnya kita tertawa bersama, saling menyemangati, dan saling mengingatkan dalam kebaikan.

Sore itu saya semakin yakin bahwa Allah Subhanahu Wata'alla sering mengirimkan pelajaran hidup melalui cara-cara sederhana. Kadang melalui anak-anak, melalui peristiwa kecil, melalui kegiatan sehari-hari, bahkan melalui sebuah pesan singkat yang kehilangan satu huruf.

Huruf yang hilang ternyata menghadirkan senyum.

Senyum menghadirkan percakapan.

Percakapan menghadirkan keakraban.

Dan keakraban perlahan tumbuh menjadi persaudaraan.

Semoga persahabatan yang mulai terjalin antara saya dan Bu Nanik senantiasa diberkahi Allah Subhanahu Wata'alla. Semoga kami dapat saling mengingatkan dalam kebaikan, saling mendoakan dalam diam, serta saling mendukung dalam menjalani kehidupan.Karena pada akhirnya, harta yang paling berharga bukanlah materi yang kita miliki, melainkan hati-hati baik yang Allah Subhanahu Wata'alla hadirkan di sekitar kita.

Benar seperti kata Bu Nanik sore ini,

"Kita wajib bahagia."

Bahagia karena bersyukur.

Bahagia karena memaafkan.

Bahagia karena memiliki sahabat yang baik.

Bahagia karena Allah Subhanahu Wata'alla masih memberikan kesempatan kepada kita untuk terus menebar kebaikan dalam kehidupan ini. Semoga Allah menjaga langkah kita.  Aamiin.

Cepu, 1 Juni 2026

Tidak Ada Kata Tenggelam

 


Karya: Gutamining Saida

Setiap kali mengikuti terapi renang bersama Pak Gun, saya selalu merasakan pengalaman yang berbeda. Bukan hanya latihan fisik yang didapatkan, tetapi juga pelajaran hidup yang penuh arti. Ada saja kejutan, nasihat, dan hikmah yang beliau sisipkan di sela-sela praktik renang. Hal itulah yang membuat saya selalu terkesan dan berusaha hadir.

Sore ini suasana kolam renang cukup ramai. Beberapa peserta sudah datang lebih awal. Ada yang sedang melakukan pemanasan, ada yang berbincang santai, dan ada pula yang masih menikmati udara sore sambil duduk di pinggir kolam. Pak Gun tampak tersenyum melihat kami berkumpul.

"Bu ibu, hari ini kita belajar sesuatu yang sederhana, tetapi penting," kata beliau membuka sesi latihan.

Kami saling berpandangan. Masing-masing penasaran apa yang akan dilakukan sore ini.

Setelah beberapa latihan dasar dilakukan, Pak Gun meminta seluruh peserta turun ke kolam.

"Silakan ibu-ibu masuk ke air dan coba duduk di dasar kolam," ujar beliau.

Mendengar instruksi itu, beberapa peserta tampak ragu-ragu. Karena sudah percaya kepada pelatih, kami mencoba mengikuti arahan tersebut. Satu per satu peserta berusaha menurunkan tubuh ke dalam air. Anehnya, beberapa detik kemudian mereka justru muncul kembali ke permukaan.

"Pak Gun, saya tidak bisa duduk di lantai kolam!" ucap salah satu peserta.

Belum sempat Pak Gun menjawab. Bu Aci yang berada di dekatnya langsung berseru sambil tertawa.

"Saya juga, Pak! Mau duduk malah badan ini muncul sendiri!"

“Nich, tubuh saya terangkat ke atas juga!” kata bu Wahyu.

Suasana kolam seketika dipenuhi gelak tawa. Pak Gun ikut tersenyum lalu berkata dengan suara yang tenang,

"Naaaah, inilah yang ingin saya tunjukkan. Tidak ada kata tenggelam. Bu Ibu... yubuh manusia sebenarnya memiliki daya apung. Air akan membantu kita naik ke permukaan." ucap pak Gun.

Kami mendengarkan dengan saksama. "Yang sering membuat orang tenggelam justru rasa takut, panik, dan tidak percaya diri. Saat panik, tubuh menjadi tegang sehingga gerakan menjadi tidak teratur."

Kalimat sederhana itu terasa menancap dalam hati saya. Selama ini, sebelum mengikuti terapi renang, saya memiliki keyakinan bahwa saya termasuk orang yang tidak bisa mengapung. Bahkan saya pernah mendengar istilah yang populer di masyarakat, yaitu "gaya batu."

Konon katanya ada orang yang begitu masuk air langsung tenggelam seperti batu. Saya pun dulu percaya pada teori tersebut. Namun sore ini keyakinan  saya mulai runtuh. Faktanya, ketika mencoba duduk di dasar kolam, tubuh saya justru terdorong naik ke atas. Air tidak serta-merta menarik saya ke bawah seperti yang selama ini saya bayangkan.

Saya mulai menyadari bahwa banyak ketakutan dalam hidup sebenarnya muncul karena prasangka dan asumsi yang belum tentu benar. Bukankah demikian pula dalam kehidupan sehari-hari? Sering kali kita merasa tidak mampu sebelum mencoba. Kita merasa akan gagal sebelum melangkah. Kita merasa akan jatuh sebelum berjalan. Padahal Allah Subhanahu Wata’alla telah memberikan banyak kemampuan yang mungkin belum kita sadari.

Dalam Al-Qur'an, Allah Subhanahu Wata’alla mengingatkan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Allah Subhanahu Wata’alla memberikan akal, hati, dan berbagai potensi agar manusia mampu menjalani kehidupan dengan baik.

Terapi renang sore ini seolah menjadi pengingat bahwa pertolongan Allah Subhanahu Wata’alla sering hadir dalam bentuk yang tidak kita sangka. Air yang selama ini saya takuti ternyata dapat menjadi sahabat.

Kolam yang dulu membuat trauma kini menjadi tempat belajar. Ketakutan yang dulu membelenggu perlahan berubah menjadi keberanian. Saya teringat pengalaman beberapa bulan lalu ketika pertama kali mengikuti terapi renang. Saat itu rasa takut masih sangat besar. Bayangan pernah tenggelam membuat saya selalu waspada. Jangankan berenang, masuk ke kolam saja sudah membuat jantung berdebar.

Pak Gun dengan sabar membimbing setiap langkah. Sedikit demi sedikit rasa takut berkurang. Saya belajar mengenali air, belajar mengendalikan napas, belajar mengapung, dan belajar percaya pada kemampuan diri sendiri.

Kini saya memahami bahwa proses belajar memang membutuhkan waktu. Tidak ada keberhasilan yang datang secara instan. Bim Salabim, kata-kata dari pak Gun yang sering saya dengar. Semua membutuhkan kesabaran, latihan, dan ketekunan.

Sama seperti seorang mukmin yang berusaha memperbaiki diri. Ia tidak langsung menjadi sempurna. Ia belajar sedikit demi sedikit. Kadang jatuh, kadang salah, kadang gagal. Selama mau bangkit dan terus berusaha, Allah Subhanahu Wata’alla akan menunjukkan jalan kemudahan.

Di sela-sela tawa peserta yang mencoba duduk di dasar kolam tetapi terus muncul ke permukaan, saya merasakan kebahagiaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Ternyata belajar tidak harus selalu tegang. Belajar bisa dilakukan dengan gembira. Belajar bisa diselingi canda. Belajar bisa menghadirkan persaudaraan.

Di kolam renang saya tidak hanya mendapatkan ilmu tentang teknik berenang. Saya juga memperoleh teman-teman baru, pengalaman baru, serta pandangan baru tentang kehidupan. Ada yang datang dengan rasa takut seperti saya. Ada yang datang untuk menjaga kesehatan. Ada pula yang sekadar ingin menambah keterampilan. Pada akhirnya kami semua dipersatukan oleh semangat untuk terus belajar dan semangat sehat.

Menjelang akhir sesi, saya memandang permukaan air yang berkilau terkena sinar matahari sore. Hati saya bersyukur kepada Allah Subhanahu Wata’alla atas nikmat kesehatan, kesempatan belajar, dan pertemuan dengan orang-orang baik yang mau berbagi ilmu.

Jangan mudah percaya pada ketakutan yang belum teruji kebenarannya.

Jangan buru-buru menyerah sebelum mencoba.

Dan jangan pernah merasa sendirian menghadapi kesulitan.

Sebagaimana tubuh yang diciptakan Allah Subhanahu Wata’alla memiliki kemampuan untuk mengapung di air, setiap manusia juga telah dibekali kemampuan untuk bangkit dari berbagai persoalan hidup. Selama masih ada ikhtiar, doa, dan tawakal kepada Allah Subhanahu Wata’alla, tidak ada alasan untuk berputus asa.

Karena sebagaimana pesan Pak Gun yang terus terngiang di telinga saya yaitu

"Tidak ada kata tenggelam, Bu Ibu."

Kalimat sederhana tersebut ternyata bukan hanya berlaku di kolam renang, tetapi juga dalam perjalanan kehidupan. Selama kita berpegang kepada Allah Subhanahu Wata’alla, terus berusaha, dan tidak menyerah pada rasa takut, insyaallah kita akan selalu menemukan jalan untuk kembali muncul ke permukaan, bangkit untuk menyongsong masa depan.

Cepu, 1 Juni 2026

Kutemukan Gula dan Garam di Kolam


Karya: Gutamining Saida

Minggu sore salah satu waktu yang selalu saya nantikan. Di saat sebagian orang memilih beristirahat di rumah menikmati suasana santai bersama keluarga. Saya bersemangat menuju kolam renang untuk mengikuti terapi bersama Pak Gun. Menurut sebagian orang, kegiatan ini mungkin hanya dianggap sebagai latihan renang biasa. Bagi saya, setiap pertemuan selalu menghadirkan pelajaran hidup yang berharga. Tidak hanya tubuh yang bergerak dan berlatih, tetapi pikiran dan hati juga diajak untuk belajar memahami makna kehidupan.

Pak Gun bukan hanya seorang pelatih renang. Beliau memiliki kebiasaan menyisipkan nasihat sederhana di sela-sela praktik. Nasihat itu disampaikan dengan bahasa yang ringan, penuh humor, tetapi mengandung makna mendalam. Siapa saja yang mau mendengarkan dan merenungkannya akan menemukan banyak pelajaran yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sore itu suasana kolam cukup ramai. Beberapa peserta sedang berlatih meluncur, sebagian lainnya mencoba berbagai gaya renang yang telah diajarkan sebelumnya. Setelah latihan beberapa saat, Pak Gun mengumpulkan peserta dan mulai berbicara.

"Ibu-ibu pasti sudah tahu yang namanya gula, garam, dan micin atau sasa," kata beliau sambil tersenyum.

Semua peserta mengangguk.

"Warnanya sama-sama putih, tetapi rasanya berbeda." lanjut pak Gun.

Peserta kembali mengangguk setuju.

"Kalau ingin tahu mana yang manis, mana yang asin, dan mana yang gurih, caranya bagaimana?" imbuh pak Gun.

"Diincip, Pak!" jawab beberapa peserta hampir bersamaan.

Pak Gun tersenyum lebar.

"Nah, benar. Jangan sampai membuat wedang malah pakai garam. Bukannya manis, nanti malah membuat kaget yang minum."

Mendengar kalimat itu, peserta langsung tertawa. Suasana menjadi cair dan penuh keakraban.

Setelah tawa mereda, saya mulai merenungkan perkataan tersebut. Memang benar, gula, garam, dan micin memiliki warna yang sama. Jika hanya dilihat dari luar, mungkin sulit dibedakan. Tetapi ketika dicicipi, perbedaannya langsung terasa.

Begitu pula dengan kehidupan manusia. Tidak semua yang tampak baik dari luar benar-benar baik di dalam. Tidak semua yang terlihat sederhana ternyata tidak berharga. Allah Subhanahu Wata'alla mengajarkan manusia untuk tidak hanya melihat penampilan luar, tetapi juga memahami hakikat dan isi yang sesungguhnya.

Di kehidupan sehari-hari, sering kali kita menilai sesuatu hanya berdasarkan pandangan mata. Padahal Allah Subhanahu Wata'alla lebih melihat hati, niat, dan amal seseorang. Ada orang yang tampil sederhana tetapi memiliki akhlak mulia. Ada pula yang terlihat hebat, tetapi ternyata kurang mampu menjaga sikap dan perilakunya.

Setelah jeda sejenak, Pak Gun melanjutkan nasihatnya.

"Sama seperti renang. Kalau ingin tahu teknik mana yang nyaman, gaya mana yang cocok, ya harus dicoba. Kalau tidak pernah praktik, mana tahu enaknya gaya dada, gaya bebas, atau gaya punggung!"

Semua peserta kembali mengangguk.

"Termasuk rasa air kolam," tambah beliau.

Spontan seluruh peserta tertawa lebih keras.

"Hayooo, yang tertawa pasti pernah minum kolam!" ujar pak Gun.

Kalimat sederhana itu ternyata mengandung pelajaran yang sangat dalam. Banyak orang ingin berhasil, tetapi tidak mau mencoba. Banyak yang ingin pandai, tetapi takut berlatih. Bahkan ada yang ingin mencapai tujuan besar, tetapi enggan memulai langkah pertama.

Ilmu tidak cukup hanya dibaca atau didengar. Ilmu harus diamalkan. Pengetahuan yang tidak dipraktikkan ibarat benih yang tidak pernah ditanam. Ia tidak akan tumbuh dan menghasilkan manfaat. Dalam ajaran Islam, menuntut ilmu memiliki kedudukan yang sangat mulia. Namun kemuliaan ilmu akan semakin sempurna ketika ilmu tersebut diamalkan. Rasulullah, mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang belajar dan mengajarkan ilmu. Artinya, ilmu harus hidup dalam tindakan nyata.

Di kolam renang, saya melihat sendiri bagaimana teori dan praktik saling melengkapi. Ketika pertama kali belajar, saya merasa takut terhadap air. Trauma masa lalu membuat saya ragu untuk mencoba. Bahkan berada di tengah kolam saja sudah membuat jantung berdebar.

Kini, perlahan, dengan bimbingan Pak Gun dan dukungan teman-teman, rasa takut itu mulai berkurang. Saya belajar meluncur, belajar mengatur napas, belajar mengapung, hingga mencoba berbagai teknik renang. Hasilnya memang belum seberapa, tetapi ada perkembangan yang saya rasakan.

Pengalaman tersebut mengingatkan saya bahwa Allah Subhanahu Wata'alla menciptakan manusia untuk terus belajar sepanjang hayat. Kesalahan bukan alasan untuk berhenti. Kegagalan bukan tanda akhir perjalanan. Justru dari kesalahan dan kegagalan itulah manusia memperoleh pengalaman yang berharga.

Nasihat tentang gula, garam, dan micin dengan kehidupan spiritual. Ketiganya sama-sama putih, tetapi memiliki fungsi berbeda. Demikian pula manusia. Allah Subhanahu Wata'alla menciptakan setiap orang dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Ada yang pandai berbicara, ada yang pandai bekerja. Ada yang ahli mengajar, ada yang ahli berdagang. Ada yang mampu memimpin, ada yang lebih nyaman menjadi pelaksana. Semua memiliki peran yang berbeda, namun semuanya penting.

Jika gula memaksakan diri menjadi garam, tentu tidak akan tepat. Jika garam ingin menjadi micin, hasilnya juga tidak sesuai. Begitu pula manusia. Kebahagiaan sering kali muncul ketika seseorang mampu mengenali potensi dirinya dan mensyukurinya.

Di penghujung latihan sore itu, saya pulang membawa tubuh yang lelah tetapi hati yang bahagia. Saya sadar bahwa kolam renang bukan sekadar tempat berolahraga. Di sana terdapat banyak pelajaran kehidupan yang bisa dipetik.

Dari gula, saya belajar tentang manisnya syukur. Dari garam, saya belajar bahwa kehadiran yang sederhana sering kali memberi rasa dalam kehidupan. Dari micin, saya belajar bahwa setiap unsur memiliki fungsi yang berbeda-beda.

Dari air kolam, saya belajar tentang keberanian menghadapi ketakutan. Dari praktik renang, saya belajar bahwa keberhasilan membutuhkan usaha dan latihan. Dari Pak Gun, saya belajar bahwa ilmu bisa disampaikan dengan cara yang sederhana, menyenangkan, dan mudah dipahami.

Minggu sore Allah Subhanahu menghadirkan hikmah yang luar biasa. Tugas manusia adalah membuka hati, mendengarkan dengan penuh perhatian, kemudian merenungkan dan mengamalkannya. Sebab ilmu yang paling berharga bukanlah ilmu yang hanya disimpan dalam pikiran, melainkan ilmu yang mampu mengubah perilaku menjadi lebih baik dan mendekatkan diri kepada Allah.

Alhamdulillah, Semoga setiap langkah, setiap gerakan, dan setiap ilmu yang diperoleh menjadi jalan menuju kesehatan, kebahagiaan, serta keberkahan hidup di dunia dan akhirat. Sukses selalu teman-temaan. Sehat selalu buat guru saya bapak Hari Gunawan.

Cepu, 1 Juni 2026