Karya: Gutamining Saida
Bagi umat Islam, Jumat dikenal sebagai sayyidul ayyam, penghulu segala hari. Pada hari ini, banyak orang berlomba-lomba melakukan kebaikan, memperbanyak sedekah, membaca Surah Al-Kahfi, memperbanyak shalawat, serta memohon ampunan kepada Allah Swt.
Suasana seperti ini juga terasa di ruang guru. Meskipun sebagian guru sibuk dengan tugas masing-masing, menata data raport, melengkapi administrasi untuk besok pagi, tetap ada ruang untuk berbagi kebahagiaan sederhana.
Bu Ning datang membawa beberapa tandan pisang raja yang sudah matang. Warnanya kuning kecoklatan dan tampak menggugah selera. Tidak lama kemudian Bu Nikmah datang membawa jamur yang sudah dikemas plastik. Tanpa banyak kata, keduanya mempersilakan teman-teman untuk mengambil.
"Silakan, Bu, diambil saja," kata mereka dengan ramah.
Tidak ada transaksi, tidak ada perhitungan untung rugi. Semuanya dilakukan dengan ikhlas. Dalam kesederhanaan, tersimpan nilai sedekah yang luar biasa. Rasulullah mengajarkan bahwa senyum adalah sedekah, apalagi berbagi makanan kepada sesama.
Betapa indahnya kebersamaan di antara rekan-rekan guru. Terkadang kebahagiaan tidak datang dari sesuatu yang besar dan mahal. Satu pisang atau sekantong plastik jamur yang dibagikan dengan ikhlas justru mampu menghadirkan rasa syukur yang mendalam.
Di ruang guru kami memang sering muncul istilah-istilah baru. Kadang istilah itu berasal dari dunia pendidikan, kadang dari pengalaman sehari-hari, bahkan tidak jarang muncul dari candaan spontan yang membuat suasana semakin hidup.
Interaksi sesama rekan guru menjadi semakin seru dan menarik. Selain menambah wawasan, juga mempererat tali persaudaraan. Di tengah kesibukan mengajar dan berbagai tanggung jawab, tawa menjadi penyegar yang membuat hati lebih ringan.
Saat menikmati suasana tersebut, tiba-tiba Bu Wiwik nyeletuk.
"Saya punya istilah Three G."
Mendengar istilah itu, saya langsung teringat materi IPS tentang penjelajahan samudra yang terkenal dengan 3G yaitu Gospel, Glory, dan Gold.
"Wah, apa itu, Bu?" tanya saya penasaran.
Bu Wiwik tersenyum sambil menahan tawa.
"G yang pertama gedang."
Sebagian guru langsung tersenyum memahami maksudnya. Dalam bahasa Jawa, gedang berarti pisang.
"G yang kedua goreng."
Kini beberapa guru mulai menebak-nebak arah pembicaraan.
"G yang ketiga gosong."
Mendengar jawaban itu, saya semakin penasaran.
"Lho, kok bisa sampai gosong, Bu?"
Dengan wajah penuh kelucuan, Bu Wiwik menjawab singkat,
"Karena ditinggal WhatsApp-an."
Seketika ruang guru pecah oleh gelak tawa. Guru-guru yang sedang memasukkan dokumen raport, membaca berkas, ikut tersenyum. Bahkan ada yang tertawa cukup keras hingga harus menutup mulutnya.
Suasana yang semula tenang berubah menjadi hangat dan penuh keceriaan. Saya pun ikut tertawa. Memang sederhana, tetapi candaan seperti itu mampu mencairkan suasana. Dari sebuah pisang, lahirlah istilah baru yaitu Thee G, Gedang, Goreng, dan Gosong.
Di balik candaan tersebut, saya justru memperoleh pelajaran berharga. Betapa sering manusia kehilangan fokus karena terlalu larut dengan telepon genggamnya. Niat awal ingin menggoreng pisang agar matang dan nikmat, tetapi karena asyik membaca pesan atau membalas WhatsApp, akhirnya pisang menjadi gosong.
Bukankah hal serupa juga dapat terjadi dalam kehidupan? Terkadang Allah Subhanahu Wata'alla telah memberikan banyak nikmat kepada kita. Waktu, kesehatan, keluarga, pekerjaan, dan kesempatan berbuat baik sudah berada di depan mata. Karena terlalu sibuk dengan hal-hal yang kurang bermanfaat, kita lalai mensyukuri nikmat tersebut.
Pisang yang gosong mungkin hanya kerugian kecil. Jika yang gosong adalah kesempatan beramal, kesempatan berbakti kepada orang tua, kesempatan mendidik anak dengan baik, atau kesempatan memperbaiki diri, tentu kerugiannya jauh lebih besar.
Saya teringat firman Allah Subhanahu Wata'alla. bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran. Waktu yang terbuang tidak akan pernah kembali.
Karena itulah, candaan Bu Wiwik sebenarnya mengandung hikmah. Teknologi memang memudahkan kehidupan, tetapi jangan sampai membuat kita lalai terhadap tugas dan tanggung jawab. WhatsApp, media sosial, dan berbagai aplikasi hanyalah alat. Kitalah yang harus mengendalikan alat tersebut, bukan sebaliknya.
Suasana ruang guru pagi itu semakin akrab. Pisang raja dari Bu Ning dinikmati bersama. Jamur dari Bu Nikmah dibawa pulang dengan penuh rasa syukur. Di sela-sela tawa dan percakapan ringan, ada pelajaran tentang berbagi, kebersamaan, dan pentingnya menjaga waktu.
Saya menyadari bahwa Allah Subhanahu Wata'alla sering menghadirkan pelajaran hidup melalui cara-cara yang sederhana. Kadang hikmah datang dari obrolan santai, candaan teman, atau sepotong pisang yang hampir gosong karena ditinggal membaca pesan.
Jumat pagi itu ruang guru bukan hanya menjadi tempat bekerja, tetapi juga menjadi tempat belajar kehidupan. Belajar berbagi dari Bu Ning dan Bu Nikmah. Belajar mencairkan suasana dari Bu Wiwik. Belajar mensyukuri nikmat kebersamaan yang mungkin suatu saat akan menjadi kenangan indah.
Semoga keberkahan hari Jumat senantiasa menyertai kami semua. Semoga Allah Subhanahu Wata'alla menjaga persaudaraan di antara rekan-rekan guru, melapangkan rezeki mereka yang gemar berbagi, menghadirkan kesehatan dan kebahagiaan bagi keluarga mereka, serta menjadikan setiap canda sebagai perekat ukhuwah dan penyejuk hati. Dari kisah hari ini tersimpan pelajaran tentang syukur, kebersamaan, dan pentingnya menggunakan waktu sebaik-baiknya untuk meraih ridha Allah.
Cepu, 19 Juni 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar