Rabu, 17 Juni 2026

Ban glunDung


Karya: Gutamining Saida

Perjalanan literasi budaya menuju Bandung menjadi pengalaman yang berkesan bagi saya. Kami berangkat dari Cepu pada hari Kamis sore bersama para siswa dan beberapa guru pendamping. Suasana keberangkatan terasa meriah. Para siswa tampak antusias karena akan melakukan perjalanan jauh ke Kota Bandung. Bagi sebagian siswa, perjalanan ini mungkin menjadi pengalaman pertama mengunjungi kota besar di Jawa Barat.

Di dalam bus, suasana begitu hidup. Ada yang bercanda, ada yang menyanyi, ada pula yang sibuk mengabadikan momen dengan telepon genggam mereka. Saya sendiri menikmati perjalanan sambil sesekali berbincang dengan teman guru yang duduk berdekatan.

Sehari sebelum keberangkatan terjadi sebuah percakapan lucu yang hingga kini masih membuat saya tersenyum ketika mengingatnya. Di sela-sela kesibukan koreksi Bu Wiwik yang duduk tidak jauh dari saya tiba-tiba bertanya, “Menginap di hotel Bandung dua hari, ya?”

Saya yang belum berpengalaman menemani siswa literasi budaya hanya menjawab singkat, “Belum tahu nama hotelnya, Bu?”

Mendengar jawaban saya, Bu Wiwik kembali berkata dengan nada meyakinkan, “Biasanya dua hari menginap di hotel Bandung.”

Saya semakin bingung. Dalam pikiran saya, mungkin memang ada hotel bernama Hotel Bandung yang akan menjadi tempat menginap kami. Karena tidak ingin salah bicara, saya hanya mengangguk dan mengiyakan perkataan beliau.

Beberapa saat kemudian Bu Wiwik bertanya lagi.

“Njenengan tahu hotel Bandung yang saya maksud?”

Saya menjawab dengan jujur, “Tidak tahu, Bu.”

Beliau lalu tertawa kecil sambil berkata, “Hotel Bandung itu tidurnya di atas ban glundung alias bus!”

Mendengar penjelasan tersebut, saya langsung memahami maksud candaan beliau. Ternyata yang dimaksud bukan nama sebuah hotel yang berada di Kota Bandung. Bus yang terus melaju dengan roda berputar atau dalam bahasa Jawa disebut ban glundung.

Saya pun spontan ikut tertawa. Tawa kami pecah di tengah kesibukan di ruang guru. Beberapa guru lain yang mendengar candaan itu ikut tersenyum. Suasana yang semula biasa saja mendadak menjadi lebih hangat dan menyenangkan. Memang terkadang kebahagiaan tidak harus datang dari sesuatu yang besar. Sebuah permainan kata sederhana, candaan ringan, atau percakapan singkat mampu menghadirkan kegembiraan yang tulus. Di tengah kesibukan menjalankan rutinitas  menjadi penyegar yang sangat berharga.

Perjalanan yang panjang sering kali membuat tubuh lelah. Duduk berjam-jam di dalam bus tentu bukan perkara mudah, terutama bagi kami yang usianya tidak lagi muda. Suasana akrab dan penuh canda membuat rasa lelah terasa lebih ringan.

Saya teringat sebuah ungkapan bahwa tertawa adalah obat yang murah. Meskipun bukan obat untuk segala penyakit, tertawa dapat membuat hati lebih tenang dan pikiran lebih segar. Saat seseorang tertawa, beban yang semula terasa berat seakan berkurang. Hubungan antar teman pun menjadi lebih dekat karena tawa menciptakan kehangatan dan kebersamaan.

Dalam ajaran agama, kebahagiaan merupakan nikmat yang patut disyukuri. Senyum yang tulus bahkan termasuk amal kebaikan. Apalagi jika senyum dan tawa tersebut mampu menghibur orang lain tanpa menyakiti atau merendahkan siapa pun.

Candaan Bu Wiwik tentang “Hotel Bandung” mungkin terdengar sederhana. Saya belajar bahwa perjalanan hidup tidak selalu harus dijalani dengan wajah tegang dan pikiran penuh beban. Sesekali kita perlu memberi ruang bagi humor dan kegembiraan agar hati tetap sehat.

Perjalanan kami berlangsung dengan lancar. Kami menginap dua malam di hotel Bandung dan sehari di hotel  Citradream kembali pulang ke Cepu pada hari Minggu pagi. Banyak pengalaman berharga yang kami peroleh selama kegiatan literasi budaya tersebut. Berbagai kunjungan dan aktivitas yang dilakukan, menjadi salah satu kenangan.

Sampai sekarang, setiap kali mendengar kata “hotel Bandung”, saya tidak hanya teringat sebuah kota  tempat menginap. Saya justru teringat tawa bersama Bu Wiwik di ruang guru, tawa yang sederhana. Perjalanan panjang terasa lebih ringan, lebih hangat, dan lebih menyenangkan. Tertawa yang penuh kebersamaan memang salah satu cara Allah Subhanahu Wata'alla menghadirkan kesehatan dan kebahagiaan. 

Cepu, 18 Juli 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar