Karya : Gutamining Saida
Siang hari sering kali menjadi waktu yang tepat untuk beristirahat setelah menjalani berbagai aktivitas. Bagi saya, siang ini saat ada cucu-cucu menjadi kesempatan yang sangat berharga untuk menemaninya. Mereka belajar dengan cara yang menyenangkan. Kami ajak mereka untuk kebersamaan, tawa yang mengalir tanpa henti, dan permainan sederhana yang mampu menghadirkan pembelajaran.
Sehari sebelumnya saya telah menyiapkan media permainan. Dengan semangat saya menggambar pola di atas tiga lembar kertas. Tutup botol yang saya beri angka satu sampai enam. Gambarnya sederhana, dibuat sendiri dengan alat yang tersedia di rumah. Tidak perlu mahal, tidak perlu mewah, melainkan bagaimana media tersebut mampu menghidupkan suasana belajar yang menyenangkan.
Permainan yang kami lakukan menggunakan lemparan dadu. Setiap angka yang muncul menjadi penentu langkah berikutnya. Mereka menunggu giliran melempar dadu. Mata mereka berbinar penuh rasa penasaran. Sesekali terdengar sorak kecil ketika angka yang diharapkan muncul. Terkadang mereka juga tertawa ketika menemukan gambar bulatan satu satu
Suasana rumah pun berubah menjadi arena belajar yang penuh kegembiraan. Tidak ada wajah murung. Yang terdengar hanyalah gelak tawa, canda, dan semangat untuk mencoba lagi. Mereka saling menyemangati, bukan saling menjatuhkan. Ketika salah satu lebih dulu maju, yang lain tetap memberikan tepuk tangan. Ketika ada yang tertinggal, mereka tidak mengejek, melainkan ikut memberi semangat agar tetap melanjutkan permainan.
Mereka belajar persaingan tidak harus melahirkan permusuhan. Mereka belajar bahwa kemenangan akan terasa lebih indah jika diraih dengan cara yang jujur dan sportif. Mereka juga belajar menerima hasil dengan lapang dada, baik ketika menang maupun ketika belum berhasil.
Saya memperhatikan setiap ekspresi mereka. Betapa polosnya wajah-wajah kecil itu ketika tertawa bersama. Tidak sedikit pun tampak keinginan untuk menang sendiri. Mereka menikmati setiap proses permainan. Mereka tetap tersenyum dan kembali berusaha. Anak-anak sebenarnya memiliki kemampuan luar biasa untuk menikmati proses, sesuatu yang kadang justru mulai hilang ketika mereka beranjak dewasa.
Di balik permainan sederhana, tersimpan proses belajar yang alami. Mereka menghitung jumlah titik pada dadu, mengenali angka, menentukan langkah, membandingkan posisi, bahkan tanpa sadar melatih kemampuan berhitung. Semua berlangsung begitu ringan karena dibungkus dalam suasana bermain. Mereka tidak merasa sedang belajar. Otak mereka sedang aktif mengolah berbagai informasi baru.
Ketika suasana penuh kegembiraan, ilmu akan lebih mudah melekat dalam ingatan. Belajar tidak selalu identik dengan duduk diam berjam-jam. Terkadang, pembelajaran terbaik justru hadir melalui permainan yang sederhana, penuh interaksi, dan sarat kasih sayang.
Permainan mengajarkan banyak nilai kehidupan yang tidak ditemukan dalam buku pelajaran. Anak-anak belajar menunggu giliran dengan sabar. Mereka belajar mengendalikan emosi ketika hasil lemparan dadu tidak sesuai harapan. Mereka belajar menghargai orang lain dan menikmati kebersamaan. Nilai-nilai seperti inilah yang kelak akan menjadi bekal dalam kehidupan.
Sebagai nenek, terkadang kita terlalu fokus pada hasil belajar anak. Kita berharap mereka cepat bisa membaca, berhitung. Padahal, yang jauh lebih penting adalah menumbuhkan kecintaan mereka terhadap proses belajar. Anak yang senang belajar akan terus mencari ilmu sepanjang hidupnya.
Anak-anak tidak selalu membutuhkan hadiah mahal atau tempat bermain yang mewah. Mereka lebih membutuhkan kehadiran orang-orang yang mereka cintai. Mereka ingin ditemani, diajak berbicara, didengarkan, dan diajak bermain. Waktu yang saya berikan akan menjadi kenangan yang tersimpan dalam hati mereka hingga dewasa nanti.
Kenangan seperti itulah yang akan menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka. Saat menghadapi berbagai tantangan di masa depan, semoga mereka tetap mengingat bahwa belajar bisa dilakukan dengan gembira, bahwa persaingan tidak harus menghilangkan persaudaraan, dan bahwa kebersamaan adalah hadiah terindah yang tidak dapat dibeli dengan apa pun.
Pendidikan mulai dari rumah yang dipenuhi cinta. Guru pertama seorang anak adalah keluarga, dan media pembelajaran terbaik adalah perhatian yang tulus. Dari sebuah dadu, tiga lembar kertas, dan tawa cucu-cucu tercinta, saya kembali percaya bahwa hal-hal sederhana mampu melahirkan kenangan yang luar biasa.
Mari luangkan waktu untuk bermain bersama anak dan cucu. Tidak harus menunggu momen istimewa, tidak harus memiliki permainan yang mahal. Cukup hadir sepenuh hati, ciptakan suasana yang hangat, dan nikmati setiap detik kebersamaan. Dibalik permainan sederhana, tersimpan pelajaran kehidupan yang akan terus mereka bawa hingga dewasa.
Cepu, 15 Juli 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar