Karya: Gutamining Saida
Saya berkesempatan menginap di Hotel Citradream Bandung. Hotel ini berada di kawasan yang cukup strategis dan nyaman. Bangunannya menjulang dengan beberapa lantai yang tertata rapi. Dari luar tampak modern dan bersih. Ketika memasuki lobi, suasana sejuk langsung terasa. Para petugas menyambut tamu dengan ramah dan sopan.
Proses check-in berlangsung lancar sehingga kami dapat segera beristirahat setelah perjalanan yang cukup melelahkan.
Saya mendapatkan kamar di lantai satu dengan nomor 109. Kamar tersebut cukup nyaman untuk ditempati dua orang. Di dalamnya tersedia dua tempat tidur yang empuk, pendingin ruangan yang bekerja dengan baik, meja, kursi, televisi, serta kamar mandi yang bersih dan tertata rapi. Air mengalir lancar, perlengkapan mandi tersedia, dan pencahayaan kamar juga cukup baik.Secara umum, pelayanan yang diberikan hotel ini memuaskan. Kebersihan terjaga dan para petugas siap membantu apabila diperlukan.
Sebagai orang yang sehari-hari tinggal di rumah sederhana di kampung, tentu fasilitas seperti ini terasa lebih lengkap dan mewah dibandingkan kamar yang saya miliki di rumah. Kasurnya lebih empuk, ruangan lebih sejuk karena AC, dan suasananya tampak modern. Secara logika, seharusnya saya dapat tidur lebih nyenyak di tempat yang nyaman seperti itu.
Ternyata kenyataannya berbeda.
Malam itu saya tidak bisa langsung tertidur. Tubuh memang lelah, tetapi mata terasa sulit terpejam. Saya berbaring cukup lama sambil memandangi langit-langit kamar. Sesekali terdengar suara kendaraan dari luar hotel. Saya membolak-balikkan badan mencari posisi yang nyaman. Kasur yang empuk ternyata tidak otomatis membuat tidur menjadi nyenyak.
Pikiran saya melayang jauh ke rumah.
Di rumah, kamar saya jauh lebih sederhana. Tidak ada AC yang membuat ruangan terasa dingin. Kasurnya biasa saja, bahkan mungkin tidak semewah yang tersedia di hotel. Anehnya, ketika sampai di rumah dan merebahkan badan, saya biasanya dapat langsung tertidur. Terkadang terlalu nyenyak hingga sulit bangun saat pagi hari.
Saat itulah saya merenung.
Allah Subhanahu Wata'alla memberikan pelajaran yang sangat berharga melalui pengalaman sederhana tersebut. Selama ini banyak orang beranggapan bahwa kemewahan adalah sumber kebahagiaan dan ketenangan. Padahal kenyataannya tidak selalu demikian. Tempat yang nyaman belum tentu membuat hati tenang. Kasur yang mahal belum tentu membuat seseorang tidur nyenyak. Bangunan yang megah belum tentu menghadirkan rasa damai. Ketenangan sejati ternyata bukan berasal dari fasilitas yang dimiliki, melainkan dari hati yang dekat dengan Allah.
Saya teringat firman Allah bahwa hanya dengan mengingat-Nya hati menjadi tenteram. Ayat tersebut terasa begitu nyata malam itu. Ketika hati dipenuhi berbagai pikiran, rasa khawatir, dan berbagai pertimbangan, maka kemewahan di sekitar tidak mampu menghilangkan kegelisahan. Sebaliknya, ketika hati berserah diri kepada Allah Subhanahu Wata'alla rasa tenang dapat hadir meskipun berada di tempat yang sangat sederhana.
Saya membayangkan kehidupan Rasulullah yang begitu sederhana. Tempat tidur beliau jauh dari kata mewah. Beliau memiliki ketenangan yang luar biasa karena kedekatan dengan Allah Subhanahu Wata'alla. Dari situlah saya menyadari bahwa ukuran kebahagiaan tidak terletak pada banyaknya fasilitas, tetapi pada kualitas rasa syukur yang ada di dalam hati.
Malam di Bandung menjadi malam perenungan. Saya bersyukur masih diberi kesempatan melihat berbagai keadaan kehidupan. Ada orang yang tinggal di rumah sederhana tetapi hidupnya penuh kebahagiaan. Ada pula yang memiliki segala kemewahan namun hatinya tetap gelisah. Semua itu mengajarkan bahwa nikmat terbesar bukanlah harta benda, melainkan ketenangan jiwa.
Menjelang tidur, saya mengucapkan hamdalah berulang kali. Saya bersyukur atas kesempatan belajar, mendampingi siswa, menikmati perjalanan, dan merasakan fasilitas hotel yang baik. Saya juga bersyukur karena Allah Subhanahu Wata'alla mengingatkan bahwa rumah sederhana yang saya tempati selama ini adalah nikmat yang luar biasa. Di sanalah saya dapat beristirahat dengan tenang. Di sanalah keluarga berkumpul. Di sanalah hati merasa lebih tenteram.
Ketika pagi tiba, saya bangun dengan rasa syukur yang lebih besar dibandingkan saat pertama kali memasuki hotel. Saya menyadari bahwa kemewahan hanyalah sarana, bukan tujuan hidup. Fasilitas yang baik patut disyukuri, tetapi jangan sampai membuat kita lupa bahwa sumber ketenangan sesungguhnya berasal dari Allah Subhanahu Wata'alla.
Perjalanan ke Bandung akhirnya bukan hanya menjadi perjalanan wisata dan pendampingan siswa, tetapi juga perjalanan spiritual yang mengajarkan makna syukur. Saya pulang membawa pelajaran berharga bahwa manusia sering mengejar kenyamanan lahiriah, padahal yang lebih penting adalah kenyamanan batin. Rumah sederhana yang dipenuhi rasa syukur bisa terasa seperti istana. Sebaliknya, kamar hotel yang mewah pun belum tentu menghadirkan ketenangan jika hati jauh dari Sang Pencipta.
Semoga Allah selalu menjadikan kita hamba yang pandai bersyukur, tidak silau oleh kemewahan dunia, dan senantiasa merasa cukup atas nikmat yang telah diberikan. Karena pada akhirnya, ketenangan bukanlah tentang di mana kita tidur, tetapi tentang kepada siapa hati kita bersandar. Aamiin.
Cepu, 18 Juni 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar