Karya: Gutamining Saida
Di tengah kesibukan yang terus berputar, Allah Subhanahu Wata'alla mempertemukan saya dengan seorang teman yang sudah lama tidak berjumpa. Dia bukan sekadar teman biasa, melainkan seseorang yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidup, seseorang yang sudah seperti saudara sendiri.
Kadang kita berpikir bahwa kebersamaan akan selalu ada. Namun kenyataannya, waktu mempunyai jalannya sendiri. Kesibukan pekerjaan, tanggung jawab keluarga, dan jarak yang memisahkan membuat pertemuan menjadi semakin jarang. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan tanpa terasa bulan pun berganti tahun. Komunikasi masih terjalin sesekali, tetapi tentu berbeda rasanya dengan bertemu secara langsung.
Tanpa direncanakan jauh-jauh hari, Allah Subhanahu Wata'alla mengizinkan kami bertemu kembali. Hanya sebentar, mungkin tidak sampai lima menit. Pertemuan yang nilainya tidak diukur dari lamanya waktu, melainkan dari kehangatan yang dibawanya.
Ketika mata kami saling bertemu, senyum spontan langsung mengembang. Tidak ada rasa canggung. Tidak ada jarak. Tidak ada pertanyaan tentang mengapa lama tidak menghubungi atau mengapa jarang bertemu. Semua seolah hilang dalam satu momen yang sangat singkat.
"Sudah lama tidak ketemu," ucap bu Didik.
"Iya.."jawab saya singkat
Kalimat sederhana itu justru membuka pintu kerinduan yang selama ini tersimpan. Kami saling berjabat tangan dengan erat. Di saat itulah saya merasakan betapa berharganya sebuah persaudaraan yang dibangun karena kebaikan dan ketulusan.
Dalam hati saya teringat sebuah pesan bahwa orang-orang yang saling mencintai karena Allah Subhanahu Wata'allaakan mendapatkan naungan-Nya pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya. Persaudaraan yang dibangun bukan karena kepentingan dunia semata akan tetap terasa hangat meskipun waktu dan jarak memisahkan.
Sungguh benar bahwa rindu adalah salah satu nikmat yang Allah Subhanahu Wata'alla titipkan kepada manusia. Dengan rindu, kita belajar menghargai kebersamaan. Dengan rindu, kita menyadari bahwa kehadiran seseorang dalam hidup ternyata begitu berarti. Dan dengan rindu pula, kita belajar bahwa setiap pertemuan adalah anugerah yang tidak boleh disia-siakan.
Percakapan kami mengalir begitu saja. Tidak perlu mencari topik pembicaraan. Tidak perlu menyusun kalimat yang indah. Semua berjalan alami seperti air yang mengalir dari hulu menuju hilir. Kami saling bertanya kabar keluarga, pekerjaan, kesehatan, dan berbagai cerita sederhana yang terjadi selama beberapa tahun terakhir.
Yang membuat saya terharu adalah perasaan yang muncul seolah waktu tidak pernah berlalu. Meskipun sekian lama tidak bertemu, hubungan itu tetap sama. Tidak ada perubahan dalam rasa hormat, rasa sayang, maupun rasa persaudaraan yang selama ini terjalin.
Saya kemudian menyadari bahwa hubungan yang dibangun dengan ketulusan memang berbeda. Ketika hubungan dibangun atas dasar manfaat dunia, sering kali akan pudar ketika kepentingan itu hilang. Jika dibangun karena Allah, karena saling menghargai dan saling mendoakan, maka hubungan itu akan tetap hidup meskipun jarang bertemu.
Dalam kehidupan ini, kita sering mengejar banyak hal. Kita mengejar pekerjaan, jabatan, harta, dan berbagai pencapaian lainnya. Terkadang kita lupa bahwa salah satu rezeki terbesar adalah dipertemukan dengan orang-orang baik yang membawa kebahagiaan dalam hidup kita.
Pertemuan singkat pagi ini menjadi pengingat bahwa sahabat sejati adalah nikmat yang sangat berharga. Mereka hadir bukan hanya ketika kita tertawa, tetapi juga ketika kita menghadapi kesulitan. Mereka mungkin tidak selalu berada di dekat kita, tetapi doa-doa mereka tetap mengalir meskipun terpisah jarak.
Saya teringat bahwa dalam Islam, seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin lainnya. Persaudaraan tidak selalu lahir dari hubungan darah. Allah Subhanahu Wata'alla mempertemukan dua orang yang tidak memiliki hubungan keluarga, tetapi memiliki ikatan hati yang begitu kuat. Ikatan itu tumbuh dari saling menghormati, saling membantu, dan saling mendoakan dalam kebaikan.
Ketika waktu perpisahan kembali tiba, kami sadar bahwa masing-masing masih memiliki aktivitas yang harus dijalankan. Kali ini perasaan berbeda. Jika sebelumnya ada kerinduan yang menumpuk, kini hati terasa lebih lega. Rindu yang selama ini membuncah seolah telah menemukan tempat untuk berlabuh.
Kami saling mendoakan sebelum berpisah.
Semoga Allah selalu memberikan kesehatan.
Semoga Allah melimpahkan keberkahan kepada keluarga.
Semoga Allah memudahkan segala urusan.
Semoga Allah menjaga persaudaraan ini sampai kapan pun.
Langkah kami kemudian kembali menuju arah masing-masing. Ada kebahagiaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Pertemuan yang mungkin hanya berlangsung lima menit ternyata mampu menghadirkan ketenangan yang luar biasa.
Pagi itu saya belajar bahwa kebahagiaan hadir melalui sebuah senyum, jabat tangan, dan percakapan singkat dengan sahabat yang sudah seperti saudara. Lima menit perjumpaan memang tidak mampu menggantikan tahun-tahun yang telah berlalu. Lima menit cukup untuk menghapus rindu yang menumpuk, menghangatkan kembali kenangan indah, dan mengingatkan bahwa persaudaraan karena Allah tidak akan pernah lekang oleh waktu. Barokallah fii keluarga bapak Didik. Sampai jumpa di lain kesempatan.
Cepu, 24 Juni 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar