Minggu, 28 Juni 2026

Pembelajaran Kehidupan Di atas Kaoal

Karya : Gutamining Saida 
Perjalanan menuju Karimunjawa menjadi salah satu pengalaman yang sangat berkesan dalam hidup saya. Bukan semata-mata karena indahnya laut yang terbentang luas atau karena saya akan mengunjungi sebuah pulau yang terkenal akan pesona pantainya. Lebih dari itu, perjalanan ini menghadirkan banyak pelajaran kehidupan yang menyentuh hati. Saya merasa seolah Allah Subhanahu Wata'alla sedang mengajak saya belajar melalui sebuah ruang kelas yang sangat luas, yaitu sebuah kapal yang mengarungi lautan.

Sejak berada di pelabuhan hingga akhirnya kapal bergerak meninggalkan dermaga, mata saya tidak berhenti memperhatikan berbagai peristiwa di sekitar. Hiruk pikuk penumpang begitu terasa. Ada yang berjalan tergesa-gesa karena khawatir tertinggal kapal. Ada keluarga yang saling menggenggam tangan agar tidak terpisah. Ada anak-anak yang berlarian penuh kegembiraan. Ada pula orang tua yang melangkah perlahan sambil dibantu anak atau cucunya.

Semua bergerak menuju tujuan yang sama, meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda-beda.
Saya melihat bayi yang masih berada dalam gendongan ibunya. Bayi itu belum memahami ke mana ia akan dibawa. Ia hanya merasa aman karena berada dalam pelukan orang tuanya. Pemandangan itu mengingatkan saya bahwa manusia pun seharusnya selalu merasa aman dalam pelukan kasih sayang Allah. Kita tidak pernah mengetahui apa yang akan terjadi esok hari, tetapi orang yang bertawakal akan selalu merasa tenang karena yakin Allah adalah sebaik-baik Penjaga.
Di sudut lain terlihat anak-anak yang begitu ceria. Mereka tertawa, menunjuk laut, melambaikan tangan kepada burung-burung yang terbang rendah. Hati mereka masih bersih. Mereka menikmati perjalanan tanpa memikirkan beban kehidupan. Saya pun merenung, alangkah indahnya jika hati orang dewasa tetap dipenuhi rasa syukur dan kegembiraan sebagaimana anak-anak yang menikmati setiap nikmat Allah tanpa banyak mengeluh.
Tidak jauh dari tempat saya duduk, tampak para remaja yang sibuk mengabadikan momen dengan telepon genggam mereka. Mereka tersenyum, saling bercanda, dan mengambil gambar laut yang membentang luas. 

Semoga setiap nikmat yang diabadikan disertai ucapan syukur, dan setiap keindahan yang terlihat berasal dari kemurahan Allah semata.
Kemudian pandangan saya tertuju kepada para orang tua. Sebagian duduk tenang sambil memandang laut. Wajah mereka menyimpan banyak pengalaman hidup. Keriput yang menghiasi wajah seakan menjadi saksi panjangnya perjalanan kehidupan yang telah mereka lalui. Saya membayangkan, suatu hari nanti saya pun akan berada pada usia itu. Yang akan menemani bukan lagi kekuatan fisik, melainkan amal saleh yang telah dikumpulkan selama hidup.

Di atas kapal itu saya juga melihat beragam manusia. Ada masyarakat lokal, wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia, hingga wisatawan mancanegara. Ada yang berkulit sawo matang, ada yang berkulit putih, bahkan ada yang berambut pirang. Bahasa yang terdengar pun bermacam-macam. Semuanya berada di kapal yang sama, menempuh lautan yang sama, menuju tujuan yang sama.

Saya teringat firman Allah bahwa manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal, bukan saling membanggakan diri. Kemuliaan seseorang bukan ditentukan oleh warna kulit, bahasa, atau asal negaranya, melainkan oleh ketakwaannya kepada Allah.
Keberagaman pakaian yang dikenakan para penumpang juga menarik perhatian saya. Ada petugas kapal yang mengenakan seragam rapi sebagai tanda tanggung jawabnya. Ada wisatawan yang memakai pakaian santai karena ingin menikmati liburan. Ada pula saudara-saudara muslim yang mengenakan busana yang menutup aurat dengan baik.
Perbedaan penampilan itu mengingatkan saya bahwa kelak ketika manusia meninggal dunia, semua pakaian kebanggaan akan ditinggalkan. Tidak ada lagi pakaian mahal atau sederhana yang membedakan manusia. Semua akan dibalut kain kafan yang sama. Yang membedakan hanyalah amal yang dibawa menghadap Allah.

Ketika kendaraan mulai memasuki kapal, perhatian saya kembali tertuju pada pemandangan lain. Sepeda motor, mobil pribadi, truk besar, hingga kendaraan pengangkut barang semuanya masuk secara bergantian. Kendaraan yang di darat tampak gagah, di dalam kapal harus mengikuti aturan. Tidak ada yang boleh mendahului sesuka hati. Semua harus tertib sesuai arahan petugas.

Betapa pun hebatnya manusia di dunia, semuanya tetap berada di bawah aturan Allah. Tidak ada seorang pun yang mampu melawan ketetapan-Nya. Jabatan, kekayaan, maupun kekuasaan tidak akan mampu mengubah takdir ketika ajal telah tiba.
Saat kapal mulai bergerak meninggalkan pelabuhan, perlahan daratan semakin menjauh. Bangunan-bangunan yang semula tampak besar berubah menjadi titik-titik kecil. Saya merasakan sebuah pelajaran yang sangat mendalam. Begitulah kehidupan dunia. Yang hari ini terlihat besar, megah, dan penting, suatu saat akan tampak kecil ketika kita telah meninggalkannya.

Angin laut bertiup lembut menerpa wajah. Ombak terus bergerak tanpa mengenal lelah. Laut yang luas menghampar sejauh mata memandang seolah mengajak saya berdialog. Di hadapan kebesaran ciptaan Allah, manusia hanyalah makhluk kecil yang tidak memiliki apa-apa tanpa pertolongan-Nya.
Perjalanan di atas kapal ini juga mengingatkan saya pada perjalanan hidup menuju akhirat. Dunia hanyalah tempat singgah, sebagaimana kapal hanyalah alat untuk mencapai tujuan. Tidak ada penumpang yang ingin tinggal selamanya di atas kapal. Semua ingin sampai di tempat tujuan. Demikian pula kehidupan di dunia. Kita hanya singgah sementara sebelum menuju kampung akhirat yang kekal.

Karena itu, selama perjalanan hidup ini, kita hendaknya memperbanyak bekal. Bekal itu bukan berupa harta yang melimpah atau kedudukan yang tinggi, melainkan iman, takwa, amal saleh, kejujuran, kesabaran, serta kepedulian kepada sesama.
Saya bersyukur Allah Subhanahu Wata'alla mempertemukan saya dengan perjalanan ini. Ternyata sebuah kapal bukan hanya sarana transportasi, tetapi juga tempat belajar tentang kehidupan. Dari hiruk pikuk penumpang, keberagaman manusia, kendaraan yang tertata rapi, hingga luasnya lautan, semuanya menghadirkan pelajaran yang memperkuat keimanan.

Semoga setiap langkah perjalanan yang saya lakukan tidak hanya menambah pengalaman dunia, tetapi juga menambah bekal untuk kehidupan akhirat. Sebab pada akhirnya, tujuan terindah bukanlah tiba di Karimunjawa, melainkan tiba dengan selamat di surga yang dijanjikan Allah bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan senantiasa bersyukur. Aamiin.
Cepu, 28 Juni 2026 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar