Karya: Gutamining saida
Rabu, 1 Juli 2026, menjadi hari yang terasa berbeda bagi seluruh keluarga besar guru di sekolah kami. Awal tahun ajaran 2026–2027 bukan sekadar pergantian kalender pendidikan, tetapi juga menjadi awal perjalanan baru yang penuh harapan, tantangan, sekaligus amanah. Sejak pagi, para guru mulai berdatangan dengan wajah yang beragam. Ada yang tampak santai, ada yang penuh rasa penasaran, dan ada pula yang menyimpan kecemasan mengenai pembagian tugas mengajar. Semua berkumpul dengan satu tujuan, mendengarkan pembagian tugas sekaligus mempersiapkan diri menjalani amanah baru.
Suasana ruang guru terasa hangat. Obrolan kecil terdengar di berbagai sudut ruangan. Ada yang saling bertanya tentang guru baru, ada yang memperkirakan mata pelajaran yang akan diampu, dan ada pula yang sekadar bercanda untuk mengurangi ketegangan. Ketika Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum mulai menyampaikan sambutan, seluruh ruangan mendadak hening. Semua perhatian tertuju kepada beliau.
Kalimat demi kalimat yang beliau sampaikan tidak hanya berisi informasi teknis, tetapi juga suntikan semangat yang begitu bermakna. Salah satu kalimat yang paling membekas adalah bahwa tahun ajaran ini merupakan tahun yang berat. Bukan karena sekolah mengalami kemunduran, melainkan karena setiap guru memperoleh tanggung jawab mengajar yang lebih besar. Jika sebelumnya batas minimal beban mengajar adalah 24 jam pelajaran, kini tidak ada guru yang hanya mengajar sebanyak itu. Sebagian besar memperoleh sedikitnya 28 jam pelajaran, bahkan ada yang lebih.
Sesaat ruangan kembali sunyi. Mungkin setiap guru sedang menghitung-hitung tenaga, waktu, dan tanggung jawab yang harus dipikul selama satu tahun ke depan. Keheningan itu segera berubah menjadi semangat ketika beliau melanjutkan dengan sebuah kalimat sederhana tetapi sangat dalam maknanya, "Lebih baik lelah bekerja daripada lelah mencari lowongan kerja."
Kalimat itu seperti mengetuk hati setiap guru. Benar adanya, tidak semua orang diberi kesempatan untuk mengabdi sebagai pendidik. Di luar sana masih banyak orang yang berjuang mencari pekerjaan, mengirim lamaran ke berbagai tempat, mengikuti seleksi berkali-kali, namun belum memperoleh kesempatan. Sementara kami masih diberi amanah untuk berdiri di depan kelas, membimbing generasi muda, dan memperoleh rezeki yang halal. Bukankah itu adalah nikmat yang patut disyukuri?
Sebagai orang yang beriman, kami menyadari bahwa setiap rezeki telah diatur oleh Allah. Tidak ada satu pun amanah yang datang tanpa izin-Nya. Jika Allah Subhanahu Wata'alla mempercayakan lebih banyak tugas kepada seseorang, berarti Allah Subhanahu Wata'alla juga telah menyiapkan kemampuan untuk menjalaninya. Firman Allah mengajarkan bahwa Dia tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ayat tersebut menjadi penyejuk hati bagi siapa pun yang mulai merasa berat dengan beban mengajar tahun ini.
Menjadi guru bukan hanya tentang menyampaikan materi pelajaran. Menjadi guru adalah jalan ibadah. Setiap huruf yang diajarkan, setiap kesabaran menghadapi karakter siswa yang berbeda-beda, setiap doa yang dipanjatkan agar murid menjadi anak yang saleh dan sukses, semuanya bernilai pahala apabila dilakukan dengan niat yang ikhlas karena Allah Subhanahu Wata'alla.
Lelah memang tidak dapat dihindari. Tubuh akan merasakan capai setelah berpindah dari satu kelas ke kelas lainnya. Suara akan mulai serak setelah menjelaskan pelajaran berkali-kali. Pikiran akan dipenuhi dengan penyusunan rencana pembelajaran, penilaian, administrasi, dan berbagai kegiatan sekolah lainnya. Kelelahan itu akan terasa ringan apabila hati selalu mengingat bahwa semua adalah bagian dari ibadah.
Rasulullah mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Bukankah guru setiap hari berusaha memberikan manfaat kepada puluhan bahkan ratusan peserta didik? Ilmu yang diajarkan hari ini mungkin akan menjadi bekal mereka puluhan tahun mendatang. Bisa jadi ada dokter, guru, polisi, tentara, pengusaha, pemimpin, atau ulama masa depan yang pernah duduk di bangku kelas kita. Betapa besar pahala yang mengalir apabila ilmu yang kita ajarkan menjadi jalan kebaikan bagi mereka.
Hari itu kami juga belajar tentang kebersamaan menjadi kekuatan utama. Beban yang berat akan terasa ringan jika dipikul bersama. Senyum rekan sejawat, saling membantu menyusun administrasi, berbagi media pembelajaran, hingga saling menyemangati ketika rasa lelah datang merupakan bentuk kebersamaan yang indah. Sekolah bukan hanya tempat bekerja, tetapi juga tempat bertumbuh sebagai keluarga besar yang saling menguatkan.
Di sela-sela kegiatan, hati ini terus berdoa semoga Allah Subhanahu Wata'alla memberikan kesehatan kepada seluruh guru. Sebab amanah sebesar apa pun tidak akan mampu dijalankan tanpa tubuh yang sehat dan hati yang kuat. Semoga Allah Subhanahu Wata'alla menjaga langkah kami setiap pagi menuju sekolah, memudahkan lisan kami saat menjelaskan pelajaran, melapangkan kesabaran ketika menghadapi berbagai persoalan, serta menjadikan setiap aktivitas sebagai amal saleh yang diterima di sisi-Nya.
Pembagian tugas hari itu akhirnya selesai. Masing-masing guru telah mengetahui tanggung jawabnya. Tidak semua memperoleh jumlah jam yang sama, tetapi semuanya memperoleh amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Tidak terdengar keluhan yang berlebihan. Yang tampak justru wajah-wajah yang siap melangkah, meskipun menyadari bahwa perjalanan satu tahun ke depan tidak akan selalu mudah.
Kehidupan bukan tentang mencari pekerjaan yang paling ringan, melainkan bagaimana menjadikan setiap pekerjaan sebagai ladang ibadah. Selama pekerjaan itu halal, dilakukan dengan penuh tanggung jawab, dan diniatkan karena Allah Subhanahu Wata'alla, maka setiap tetes keringat akan berubah menjadi pahala.
Semoga tahun ajaran 2026–2027 menjadi tahun yang penuh keberkahan bagi seluruh guru Esmega. Semoga Allah Subhanahu Wata'alla melimpahkan kekuatan dalam setiap langkah, kesabaran dalam setiap ujian, keikhlasan dalam setiap pengabdian, serta keberhasilan dalam mendidik generasi yang berilmu, berakhlak mulia, dan bertakwa. Karena pada akhirnya, bukan banyaknya jam mengajar yang akan dikenang, melainkan seberapa besar manfaat yang telah kita berikan kepada anak-anak bangsa sebagai bentuk pengabdian kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Aamiin
Cepu, 1 Juli 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar