Rabu, 02 September 2026

Jeritan, Pekikan Dan Tawa

 


Karya: Gutamining Saida

Matahari perlahan mulai condong ke arah barat, memancarkan semburat keemasan yang menghangatkan suasana sore di Kota Yogyakarta. Perjalanan penuh kehangatan diawali dengan kesederhanaan, di mana sebuah bus berwarna kuning setia membersamai rombongan guru dan karyawan Esmega. Bus kuning itu bukan sekadar kendaraan, melainkan saksi bisu kebersamaan, canda tawa, dan ikatan kekeluargaan yang terjalin erat di antara kami para pendidik dan tenaga kependidikan. Tujuan kami sore ini adalah salah satu mahakarya alam yang tersembunyi di pesisir selatan, yakni hamparan Gumuk Pasir.

Sesampainya di lokasi, hamparan pasir luas bak gurun sahara menyambut pandangan kami.  Kami tidak sekadar melakukan perjalanan wisata, melainkan sebuah perjalanan tadabbur alam, membaca ayat-ayat kauniyah Allah Subhanahu Wata'alla yang terhampar luas di bumi-Nya. Salah satu daya tarik utama yang kami pilih untuk menelusuri kebesaran alam dengan menaiki mobil jeep. Mesin-mesin menderu, siap membawa kami membelah lautan pasir yang eksotis.

Satu jeep diisi oleh empat orang penumpang. Tidak ada pengelompokan yang diatur secara kaku, kami memilih teman satu jeep secara spontan saat kendaraan tersebut menghampiri. Spontanitas ini justru menghadirkan keindahan tersendiri. Di hadapan alam yang luas dan di bawah naungan langit  tidak ada batasan status atau jabatan. Kami semua adalah hamba-Nya yang sedang sama-sama mencari sejenak jeda dari penatnya urusan duniawi, duduk berdampingan dengan hati yang lapang.

Saat jeep mulai bergerak meninggalkan titik kumpul, mulailah sebuah pengalaman yang memacu adrenalin sekaligus memantik kesadaran spiritual. Kami dihadapkan pada jalanan pasir yang terjal, bergelombang, dan berliku. Tanpa aba-aba, sang pengemudi memacu jeep melaju kencang di atas medan yang sama sekali tidak mulus. Tubuh kami terguncang ke kanan dan ke kiri, terhempas oleh gravitasi saat kendaraan menukik tajam, lalu kembali terdorong ke belakang saat jeep menanjak gundukan pasir yang tinggi.

Kondisi jalan yang ekstrem ini secara alami mengundang suara-suara keluar secara spontan dari mulut kami. Jeritan tertahan, tawa yang meledak, hingga pekikan takbir "Allahu Akbar!" bersahutan di tengah deru angin dan mesin. Kami sangat menikmati setiap guncangan dan rintangan yang kami lewati. Jalan pasir yang terjal dan berliku itu, alih-alih membuat kami marah, justru menghadirkan kegembiraan dan kebahagiaan yang luar biasa.

Di tengah gelak tawa dan guncangan hebat itulah, terlintas sebuah renungan tajam yang menampar relung kesadaran. Ada sebuah ironi besar dalam sikap kita sebagai manusia. Para guru dan karyawan Esmega dengan sadar, bahkan rela membayar sejumlah uang, sengaja memilih jalan yang berliku, terjal, dan sama sekali tidak nyaman untuk dilewati. Kami tertawa lepas dan bersorak gembira di atas jalanan yang penuh rintangan ini.

Mari kita sejenak bermuhasabah dan menengok kehidupan keseharian kita. Betapa sering kita dianugerahi Allah jalan yang teramat mulus dalam kehidupan ini? Berupa kesehatan, keluarga yang rukun, rezeki yang cukup, tempat kerja yang nyaman, hingga jalan aspal peradaban yang memudahkan setiap langkah kita. Jalan-jalan mulus itu adalah manifestasi dari rahmat dan nikmat Allah yang tak terhingga jumlahnya. Sebagaimana firman-Nya, "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya." (QS. Ibrahim: 34).

Lalu, apa yang terjadi ketika di tengah jalanan hidup yang mulus itu terdapat satu lubang kecil saja? Entah itu berupa ban kendaraan yang bocor, gaji yang sedikit terlambat, tubuh yang tiba-tiba disapa flu. Hanya karena satu lubang kecil di jalan yang mulus, lisan kita seketika fasih menggerutu. Kita mengeluh, menyalahkan keadaan, dan seolah-olah dunia telah berbuat tidak adil kepada kita. Satu ujian kecil seketika menutup mata kita dari kilometer demi kilometer jalan mulus yang selama ini kita nikmati tanpa henti.

Sifat asli manusia yang sering kali tidak pandai bersyukur terekspos dengan nyata. Allah SWT telah memperingatkan hal ini dalam Al-Qur'an, "Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar (tidak bersyukur) kepada Tuhannya." (QS. Al-Adiyat: 6). Kita menjadi manusia yang amnesia terhadap ribuan kebaikan hanya karena satu ketidaknyamanan.

Mengapa saat menaiki jeep di jalan yang sengaja dibuat rusak kita bisa menikmati setiap guncangannya, sementara saat menghadapi sedikit "lubang" dalam takdir kehidupan kita begitu mudah berputus asa? Jawabannya ada pada penerimaan dan keikhlasan. Di atas jeep, kita sadar dan menerima guncangan itu bagian dari perjalanan yang pada akhirnya akan membawa kebahagiaan. Seharusnya, demikian pula kita memaknai ujian hidup. Setiap "lubang" dan rintangan yang Allah hadirkan di jalan mulus kehidupan kita bentuk pendidikan dari-Nya. Lubang itu ada untuk menggugurkan dosa-dosa kita, mengangkat derajat kita, dan mengingatkan kita agar tidak sombong dan lupa daratan saat sedang berada di jalan yang nyaman.

Perjalanan di Gumuk Pasir berakhir, meninggalkan jejak ban di atas pasir yang sebentar lagi akan terhapus oleh angin. Jejak hikmah yang terukir di dalam hati kami para guru dan karyawan Esmega pantang untuk terhapus. Melalui sejuknya angin pesisir dan terjalnya lautan pasir, Allah mengajarkan tentang hakekat syukur yang sesungguhnya. Bahwa baik jalan yang mulus maupun jalan yang berliku, keduanya adalah anugerah yang harus dinikmati dengan prasangka baik kepada Sang Pencipta, agar kita tidak tergolong sebagai hamba-hamba-Nya yang kufur nikmat. Aamiin

Cepu, 3 September 2026

Lepaskan Rindumu

 

Karya : Gutamining Saida

Yogyakarta selalu memiliki cara tersendiri untuk memeluk siapa saja yang singgah. Kami ke Jogja bersama rombongan Esmega. Ketika langkah ini kembali menjejakkan kaki di kota yang sarat akan nilai sejarah dan kenangan. 

Jogja selalu berhasil memantik kerinduan yang mendalam akan wajah-wajah lama, memori masa lalu, dan kehangatan tali persaudaraan. Di tengah jeda waktu istirahat yang tersedia, sebuah dorongan batin yang begitu kuat muncul dari dalam hati untuk merajut kembali silaturahmi yang mungkin sempat merenggang karena jarak, tuntutan profesi, dan rutinitas sehari-hari. 

Jemari ini mulai menyusuri daftar kontak di layar ponsel, mencoba mengirimkan pesan demi pesan kepada kawan maupun kerabat yang menetap di kota istimewa ini. Ada sebuah harapan kecil yang menggantung, sebuah kerinduan murni untuk sekadar berjumpa, duduk bersama, membiarkan cerita mengalir begitu saja, dan menertawakan kepolosan masa lalu. 

Kebahagiaan sejati, terutama pada fase kehidupan yang semakin matang ini, tidak lagi berbentuk materi semata, melainkan momen-momen sederhana di mana kita bisa menatap mata seorang sahabat dan melepaskan rindu yang telah lama mengendap.

Jarum jam seolah bergerak sedikit lebih lambat saat hati menunggu sebuah balasan pesan. Ketika layar kecil itu kembali menyala dan menampilkan rentetan kalimat balasan yang hangat, ada desir kebahagiaan luar biasa yang sulit diuraikan dengan sekadar kata-kata. Rasa bahagia itu membuncah, menghangatkan rongga dada, sekaligus menyadarkan bahwa jarak fisik dan panjangnya bentangan waktu tidak pernah benar-benar mampu memutuskan ikatan emosional sebuah persahabatan. 

Perasaan dihargai, diingat, dan direspons dengan antusias oleh seorang kawan lama memberikan asupan energi positif yang sungguh luar biasa. Tidak berselang lama setelah pesan tersebut saling berbalas, sebuah kepastian yang membahagiakan pun datang.

Ia sedang dalam perjalanan, meluangkan waktunya yang berharga hanya untuk menemui saya. Penantian pasif pun seketika berubah menjadi debar antusiasme yang begitu menyenangkan. Sembari menunggu di area lobi Hotel INDIES, sebuah tempat singgah dengan desain arsitektur yang klasik dan memancarkan aura ketenangan, pikiran ini otomatis melayang terbang jauh menembus lorong waktu ke masa lampau. 

Kawan yang sebentar lagi akan melangkah masuk melewati pintu itu bukanlah sekadar kenalan yang kebetulan lewat dalam hidup. Ia rekan seperjuangan di kala seragam putih-biru dan putih-abu-abu masih menjadi identitas kami sehari-hari. Namanya Nanik. Seorang sahabat karib dari masa Sekolah Menengah Pertama hingga Sekolah Menengah Atas, sosok yang menjadi saksi bisu dari fase pencarian jati diri yang penuh dengan dinamika belajar dan canda tawa remaja yang lepas tanpa beban. 

Sudah sekian lama, melewati rentang tahun yang panjang, takdir belum mengizinkan kami bertatap muka secara langsung. Nanik telah mantap memilih jalan kehidupannya di tanah Jogja, menetap di kota budaya ini semenjak momen kelulusan SMA kami dahulu. 

Oleh karena itu, pertemuan hari ini bukanlah sekadar ajang kumpul biasa, melainkan sebuah jembatan emas yang akan menghubungkan dua titik waktu yang berjauhan. Detik-detik yang sangat dinantikan itu pun tiba. Dari kejauhan, di antara lalu-lalang tamu hotel, tampak sesosok wajah yang sangat familier. 

Meski raut wajahnya telah tertup cadar. Ia tetap menyisakan guratan senyum manis serta sorot mata bersahabat yang sangat saya kenal betul. Hal yang membuat momen ini semakin mengharukan adalah kenyataan bahwa Nanik tidak datang menyetir sendiri. Ia diantar oleh anak lelakinya yang kini telah tumbuh menjadi seorang pemuda dewasa. 

Pemandangan itu seketika menjadi cerminan nyata yang menyadarkan saya betapa jauhnya perjalanan hidup yang telah kami lewati di jalan masing-masing. Tanpa perlu aba-aba atau rangkaian kata sambutan yang formal, langkah kaki kami otomatis saling mendekat. 

Di tengah kehangatan nuansa lobi Hotel INDIES, kami berpelukan dengan sangat erat. Pelukan persahabatan itu terasa begitu magis dan syahdu, seolah memiliki kekuatan penyembuh yang mampu meluruhkan semua penat kehidupan dan meleburkan rindu yang menggunung menjadi titik-titik air mata kebahagiaan. Satu dekapan singkat yang tulus itu, tergambar ribuan memori masa lalu yang seolah kembali menari-nari di pelupuk mata.

Meski realitas waktu pertemuan kami sangatlah terbatas, benar-benar hanya berlangsung selama beberapa menit saja. Kualitas dari perjumpaan bernilai tak terhingga. Kami duduk sejenak, saling menatap, dan bertukar kabar dengan ritme yang antusias. 

Suara tawa kami yang khas sesekali memecah keheningan, mengenang kembali sekelumit kisah di lorong-lorong sekolah yang kini terasa begitu berharga untuk diingat. Nanik bercerita sekilas tentang ritme kehidupannya selama di Jogja, sementara saya menyimak setiap tutur katanya dengan penuh rasa syukur. Hati ini merasa sangat lega menyadari bahwa sahabat masa muda saya ini senantiasa berada dalam keadaan baik, sehat, dan menjalani hidup yang bahagia. 

Perjumpaan yang begitu singkat ini seakan menjadi mata air di tengah padang gurun, menyegarkan kembali jiwa yang dahaga akan koneksi manusia yang tulus murni. Rindu kami terobati dengan sempurna, mengukuhkan sebuah kebenaran mutlak bila durasi menit atau jam bukanlah penentu utama dari besarnya makna sebuah pertemuan, melainkan kehadiran hati yang seutuhnya.

Momen singkat  di Hotel INDIES ini menjadi jauh lebih bermakna dari sekadar perjumpaan dua kawan lama. Ia  menjadi sebuah monumen ingatan yang amat berharga, serta penggalan narasi kehidupan yang kelak sangat pantas untuk dirangkai menjadi jejak literasi.

Sebuah warisan cerita yang akan dibaca oleh anak, saudara, hingga cucu-cucu kita di masa depan. Catatan kecil ini menjadi bukti bila kehidupan yang sejati selalu ditopang oleh ikatan cinta kasih dan persahabatan yang tak lekang oleh waktu. Pertemuan dengan Nanik menjadi pengingat yang indah pada akhirnya, kenangan akan perjumpaan-perjumpaan tulus seperti inilah yang akan selalu setia menjadi pelita dan penghangat jiwa. 

Yogyakarta, dengan segala pesona dan keramahannya, sekali lagi telah berbaik hati menjadi saksi bisu sebuah persahabatan sejati memiliki kekuatan luar biasa untuk menembus kerasnya batas waktu, membisikkan sejauh apa pun raga melangkah pergi menempuh takdir, hati kita akan selalu mengingat jalan pulang menuju kehangatan seorang sahabat sejati.

Cepu, 3 September 2026

Nol KM Jogja

 


Karya: Gutamining Saida


Bocor


Karya: Gutamining Saida

Suasana di kolam renang Bumool begitu riuh dan hidup. Suara kecipak air beradu dengan riak tawa yang saling bersahutan. Di sudut dangkal, anak-anak kecil berenang dengan pelampung warna-warni, sementara rombongan remaja asyik berlatih gaya dada, ibu-ibu terapi air. Di area lain, irama musik energetik membahana mengiringi gerak zumba ibu-ibu yang serempak memecah air. Kolam renang itu bukan sekadar tempat olahraga, melainkan sebuah ruang yang sarat energi positif dan kehangatan.

Melihat keramaian itu, ada dorongan kuat dalam diri saya untuk ikut menceburkan diri. Padahal,  sebenarnya tidak ada jadwal terapi khusus untuk ibu-ibu pada Rabu sore. Perasaan rindu yang membuncah setelah absen  Sabtu dan Minggu kemarin. Air seakan mengundang kaki ini tidak bisa ditahan untuk ke kolam. Ada rasa kangen yang menyeruak hanya untuk sekadar berendam, merasakan dinginnya air melingkupi tubuh, dan menyerap keceriaan.

Pusat dari segala keceriaan kami yaitu Pak Gun, sang pelatih renang yang seolah tidak pernah kehabisan energi. Hampir setiap pertemuan, selalu saja ada wajah baru yang bergabung. Hari demi hari, jumlah siswanya terus bertambah pesat, terutama anak-anak yang jumlahnya sungguh luar biasa. Bukan hanya anak-anak yang terikat oleh pesona cara mengajarnya, para ibu pun betah berlama-lama menyerap ilmu dan kegembiraan darinya.

Belajar renang bersama Pak Gun berarti bersiap untuk tertawa sepanjang sesi. Tiada hari yang dilewati tanpa derai tawa yang lepas. Kami tertawa bukan karena ingin menyakiti atau mengejek, melainkan karena kepolosan dan kejadian-kejadian spontan yang menggelitik perut. Bayangkan saja, saat melihat seorang teman yang gerakannya belum pas, atau ketika ada yang berenang miring hingga akhirnya menabrak teman di sebelahnya kejadian-kejadian seperti itu selalu memicu gelak tawa bersama.

Keajaiban dari suasana yang dibangun Pak Gun adalah tidak ada seorang pun yang tersulut emosi saat ditertawakan. Tidak ada rasa gengsi, malu yang berlebihan, apalagi amarah. Sebaliknya, yang ditertawakan justru ikut tertawa paling keras, menyadari kekonyolan gerakannya sendiri. Air kolam seolah melarutkan seluruh beban hidup, ego, dan stres yang biasanya menumpuk di rumah.

Rabu sore kedatangan seorang ibu yang menjadi siswa baru. Pak Gun mulai mengajarkan teknik paling dasar yaitu melatih pernapasan.

"Ayo, Bu, kita latihan menahan napas dulu," ujar Pak Gun dengan nada suaranya yang khas. 

"Atur posisi ya. Tutup mulut rapat-rapat, pejamkan mata, lalu perlahan masukkan kepala ke dalam air."

Siswa baru itu mengangguk paham. Pak Gun mulai bersiap memberi hitungan.

"Saya hitung ya... Satu... Dua... Tiga..."

Belum sempat hitungan ketiga benar-benar usai, kepala sang ibu sudah melesat keluar dari permukaan air. Napasnya terengah-engah, dan matanya berkedip-kedip menahan air.

"Gak kuat, Pak!" ucap siswa baru itu sambil mengusap wajahnya, ngos-ngosan seperti habis berlari marathon.

"Gak apa-apa, Bu! Bagus itu untuk permulaan. Kalau hari ini baru bisa sampai hitungan tiga, besok tambah lagi pelan-pelan. Begitu seterusnya ya, Bu. Yang penting konsisten." ucap pak Gun.

Pak Gun kemudian menambahkan satu petunjuk penting dengan gayanya yang jenaka. 

"Tapi ingat ya, Bu, waktu kepala di dalam air, jangan sampai keluar gelembung air dari mulut atau hidung." kata pak Gun selanjutnya.

"Kalau keluar gelembung air, nanti seperti ban bocor!"

"Lho...itu ada gelembung air, bocor ya!"

"Iya, gak kuat nahan nafas."

Seketika itu juga, ledakan tawa kami pecah di seluruh sudut area berlatih. Analogi "ban bocor" yang diucapkan Pak Gun dengan wajah polosnya benar-benar terlalu menggelitik untuk ditahan. Kami semua tertawa terbahak-bahak, membayangkan sesosok manusia yang mengempis di dalam air seperti ban sepeda.

Ibu-ibu yang baru bergabung sore ini,  kaget mendengar riuhnya suara kami langsung menoleh ke kanan dan ke kiri. Matanya membelalak lucu. "Lho, aku ditertawakan!" serunya.

Pak Gun mendekat dan menepuk air pelan, menyebarkan gelombang kehangatan. "Gak apa-apa, Bu. Tertawa itu sehat. Di kolam ini, kita memang selalu tertawa. Jangan dimasukkan ke hati ya, Bu."

Mendengar ucapan Pak Gun dan melihat ketulusan dari tawa kami semua, raut tegang di wajah ibu perlahan melunak. Senyum mulai terukir di bibirnya, hingga akhirnya ia ikut tertawa terpingkal-pingkal bersama kami. Dalam hitungan detik, rasa canggung sebagai anggota baru musnah tanpa bekas, tergantikan oleh rasa keterikatan yang hangat.

Kejadian sederhana itu membawa kami tidak hanya belajar cara mengapung atau menggerakkan kaki dan tangan di atas air. Secara tidak langsung, Pak Gun sedang mengajarkan kami sebuah terapi kehidupan yang sangat berharga.

Belajar menahan napas di dalam air adalah cerminan dari bagaimana kita menghadapi tekanan hidup. Ada kalanya kita harus menyelam, memejamkan mata dari kebisingan luar, merapatkan mulut dari keluhan, dan bertahan sebentar dalam ketenangan jiwa. Ketika kita merasa tidak kuat dan harus muncul ke permukaan sambil terengah-engah, itu bukanlah sebuah kegagalan. Itu adalah proses bersiap untuk bertahan lebih lama di kesempatan berikutnya.

Dunia di luar sana sering kali begitu keras, menuntut kita untuk selalu sempurna, tidak boleh salah, dan gampang tersinggung jika dikritik. Namun, di kolam renang ini, Pak Gun menciptakan sebuah tempat di mana kesalahan dinikmati sebagai bagian dari proses belajar, dan ketidaksempurnaan dirayakan dengan gelak tawa yang menyembuhkan.

Ketika kita mampu tertawa saat "menabrak" jalan yang salah, tertawa saat arah hidup kita sedikit "serong", atau tertawa saat napas kita terasa bagai "ban bocor", kita sebenarnya sedang menyembuhkan jiwa kita sendiri. Tawa yang lahir dari rasa kebersamaan dan kerendahan hati adalah obat paling mujarab untuk melepaskan penat.

Kolam Bumool akan selalu menjadi saksi bisu bahwa di balik gerakan renang yang sederhana, ada jiwa-jiwa yang sedang disembuhkan oleh hangatnya kebersamaan, ketulusan seorang pelatih, dan terapi terbaik sebuah tawa yang lepas dan tulus.  Semoga kita bahagia bersama. Aamiin.

Cepu, 3 September 2026