Rabu, 02 September 2026

Bocor


Karya: Gutamining Saida

Suasana di kolam renang Bumool begitu riuh dan hidup. Suara kecipak air beradu dengan riak tawa yang saling bersahutan. Di sudut dangkal, anak-anak kecil berenang dengan pelampung warna-warni, sementara rombongan remaja asyik berlatih gaya dada, ibu-ibu terapi air. Di area lain, irama musik energetik membahana mengiringi gerak zumba ibu-ibu yang serempak memecah air. Kolam renang itu bukan sekadar tempat olahraga, melainkan sebuah ruang yang sarat energi positif dan kehangatan.

Melihat keramaian itu, ada dorongan kuat dalam diri saya untuk ikut menceburkan diri. Padahal,  sebenarnya tidak ada jadwal terapi khusus untuk ibu-ibu pada Rabu sore. Perasaan rindu yang membuncah setelah absen  Sabtu dan Minggu kemarin. Air seakan mengundang kaki ini tidak bisa ditahan untuk ke kolam. Ada rasa kangen yang menyeruak hanya untuk sekadar berendam, merasakan dinginnya air melingkupi tubuh, dan menyerap keceriaan.

Pusat dari segala keceriaan kami yaitu Pak Gun, sang pelatih renang yang seolah tidak pernah kehabisan energi. Hampir setiap pertemuan, selalu saja ada wajah baru yang bergabung. Hari demi hari, jumlah siswanya terus bertambah pesat, terutama anak-anak yang jumlahnya sungguh luar biasa. Bukan hanya anak-anak yang terikat oleh pesona cara mengajarnya, para ibu pun betah berlama-lama menyerap ilmu dan kegembiraan darinya.

Belajar renang bersama Pak Gun berarti bersiap untuk tertawa sepanjang sesi. Tiada hari yang dilewati tanpa derai tawa yang lepas. Kami tertawa bukan karena ingin menyakiti atau mengejek, melainkan karena kepolosan dan kejadian-kejadian spontan yang menggelitik perut. Bayangkan saja, saat melihat seorang teman yang gerakannya belum pas, atau ketika ada yang berenang miring hingga akhirnya menabrak teman di sebelahnya kejadian-kejadian seperti itu selalu memicu gelak tawa bersama.

Keajaiban dari suasana yang dibangun Pak Gun adalah tidak ada seorang pun yang tersulut emosi saat ditertawakan. Tidak ada rasa gengsi, malu yang berlebihan, apalagi amarah. Sebaliknya, yang ditertawakan justru ikut tertawa paling keras, menyadari kekonyolan gerakannya sendiri. Air kolam seolah melarutkan seluruh beban hidup, ego, dan stres yang biasanya menumpuk di rumah.

Rabu sore kedatangan seorang ibu yang menjadi siswa baru. Pak Gun mulai mengajarkan teknik paling dasar yaitu melatih pernapasan.

"Ayo, Bu, kita latihan menahan napas dulu," ujar Pak Gun dengan nada suaranya yang khas. 

"Atur posisi ya. Tutup mulut rapat-rapat, pejamkan mata, lalu perlahan masukkan kepala ke dalam air."

Siswa baru itu mengangguk paham. Pak Gun mulai bersiap memberi hitungan.

"Saya hitung ya... Satu... Dua... Tiga..."

Belum sempat hitungan ketiga benar-benar usai, kepala sang ibu sudah melesat keluar dari permukaan air. Napasnya terengah-engah, dan matanya berkedip-kedip menahan air.

"Gak kuat, Pak!" ucap siswa baru itu sambil mengusap wajahnya, ngos-ngosan seperti habis berlari marathon.

"Gak apa-apa, Bu! Bagus itu untuk permulaan. Kalau hari ini baru bisa sampai hitungan tiga, besok tambah lagi pelan-pelan. Begitu seterusnya ya, Bu. Yang penting konsisten." ucap pak Gun.

Pak Gun kemudian menambahkan satu petunjuk penting dengan gayanya yang jenaka. 

"Tapi ingat ya, Bu, waktu kepala di dalam air, jangan sampai keluar gelembung air dari mulut atau hidung." kata pak Gun selanjutnya.

"Kalau keluar gelembung air, nanti seperti ban bocor!"

"Lho...itu ada gelembung air, bocor ya!"

"Iya, gak kuat nahan nafas."

Seketika itu juga, ledakan tawa kami pecah di seluruh sudut area berlatih. Analogi "ban bocor" yang diucapkan Pak Gun dengan wajah polosnya benar-benar terlalu menggelitik untuk ditahan. Kami semua tertawa terbahak-bahak, membayangkan sesosok manusia yang mengempis di dalam air seperti ban sepeda.

Ibu-ibu yang baru bergabung sore ini,  kaget mendengar riuhnya suara kami langsung menoleh ke kanan dan ke kiri. Matanya membelalak lucu. "Lho, aku ditertawakan!" serunya.

Pak Gun mendekat dan menepuk air pelan, menyebarkan gelombang kehangatan. "Gak apa-apa, Bu. Tertawa itu sehat. Di kolam ini, kita memang selalu tertawa. Jangan dimasukkan ke hati ya, Bu."

Mendengar ucapan Pak Gun dan melihat ketulusan dari tawa kami semua, raut tegang di wajah ibu perlahan melunak. Senyum mulai terukir di bibirnya, hingga akhirnya ia ikut tertawa terpingkal-pingkal bersama kami. Dalam hitungan detik, rasa canggung sebagai anggota baru musnah tanpa bekas, tergantikan oleh rasa keterikatan yang hangat.

Kejadian sederhana itu membawa kami tidak hanya belajar cara mengapung atau menggerakkan kaki dan tangan di atas air. Secara tidak langsung, Pak Gun sedang mengajarkan kami sebuah terapi kehidupan yang sangat berharga.

Belajar menahan napas di dalam air adalah cerminan dari bagaimana kita menghadapi tekanan hidup. Ada kalanya kita harus menyelam, memejamkan mata dari kebisingan luar, merapatkan mulut dari keluhan, dan bertahan sebentar dalam ketenangan jiwa. Ketika kita merasa tidak kuat dan harus muncul ke permukaan sambil terengah-engah, itu bukanlah sebuah kegagalan. Itu adalah proses bersiap untuk bertahan lebih lama di kesempatan berikutnya.

Dunia di luar sana sering kali begitu keras, menuntut kita untuk selalu sempurna, tidak boleh salah, dan gampang tersinggung jika dikritik. Namun, di kolam renang ini, Pak Gun menciptakan sebuah tempat di mana kesalahan dinikmati sebagai bagian dari proses belajar, dan ketidaksempurnaan dirayakan dengan gelak tawa yang menyembuhkan.

Ketika kita mampu tertawa saat "menabrak" jalan yang salah, tertawa saat arah hidup kita sedikit "serong", atau tertawa saat napas kita terasa bagai "ban bocor", kita sebenarnya sedang menyembuhkan jiwa kita sendiri. Tawa yang lahir dari rasa kebersamaan dan kerendahan hati adalah obat paling mujarab untuk melepaskan penat.

Kolam Bumool akan selalu menjadi saksi bisu bahwa di balik gerakan renang yang sederhana, ada jiwa-jiwa yang sedang disembuhkan oleh hangatnya kebersamaan, ketulusan seorang pelatih, dan terapi terbaik sebuah tawa yang lepas dan tulus.  Semoga kita bahagia bersama. Aamiin.

Cepu, 3 September 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar