Karya : Gutamining Saida
Jum'at sore ada yang menghabiskan waktu dengan beristirahat di rumah. Ada yang menikmati secangkir teh sambil bercengkerama bersama keluarga. Kami memilih datang ke kolam. Bukan sekadar ingin berenang. Bukan pula ingin menunjukkan siapa yang paling pandai menguasai air. Kami datang membawa satu harapan sederhana yaitu ingin sehat. Kami, ibu-ibu yang sedang belajar mencintai tubuh yang selama ini begitu setia menemani perjalanan hidup. Tubuh yang sudah bekerja keras, mengurus keluarga, menyelesaikan banyak pekerjaan, dan sering kali baru kami perhatikan ketika mulai mengeluh. \
Kami mencoba berikhtiar. Mencari jalan untuk sehat tanpa selalu bergantung pada obat, tentu dengan tetap memahami bahwa obat dan pertolongan medis tetap diperlukan ketika memang dibutuhkan. Kolam menjadi tempat kami berusaha. Air menjadi teman. Pak Gun menjadi pembimbing yang tidak hanya mengajarkan bagaimana tubuh bergerak, tetapi juga bagaimana hati belajar berani.
Setelah pemanasan sebentar, Pak Gun memberikan instruksi.
“Pertama meluncur. Kedua gerakan kaki. Ketiga gerakan tangan. Keempat bernapas.”
Kami mencoba. Ada yang lancar, masih kaku, berani, ada pula yang diam-diam masih menyimpan rasa takut.
Begitulah manusia. Tidak semua orang datang dengan keberanian yang sama. Orang memiliki kemampuan yang sama. Pak Gun selalu mempunyai cara untuk membuat kami percaya bahwa belum bisa bukan berarti tidak BISA. “Tidak ada kata tidak bisa.” Kalimat itu berkali-kali kami DENGAR. Entah mengapa, kalimat sederhana itu terasa BEGITU dalam. Di kehidupan, kita sering terlalu cepat mengatakan kepada diri sendiri. Aku tidak bisa. Aku takut. Aku sudah tua. Aku tidak kuat. Padahal mungkin Allah hanya sedang menunggu kita mencoba sekali lagi.
Saat latihan meluncur, Pak Gun melihat ada yang belum tepat. Ada ibu yang ketika meluncur justru menjatuhkan perut ke air. Tiba-tiba terdengar suara Pak Gun,
“Bu ibu, suara perutnya siapa yang jatuh ke air? Terdengar sampai ke rumah!”
Kami semua tertawa. Tawa yang lepas. Tawa yang tidak dibuat-buat.Tawa yang mungkin sederhana bagi orang lain, tetapi terasa mahal bagi kami.
Semakin bertambah usia, kita semakin menyadari bahwa tertawa bersama orang-orang yang membuat kita nyaman adalah sebuah nikmat.
Pak Gun kemudian bertanya,
“Yang dijatuhkan ke air apa hayo? Tumpuan pertama saat renang.”
Lalu beliau mengatakan sesuatu yang sampai sekarang masih terngiang di hati saya.
“Saya tidak menyalahkan. Saya hanya membenarkan siapa yang belum betul. Membetulkan yang sudah betul.”
Saya terdiam. Sebagai seorang guru. Saya setiap hari berdiri di depan siswa dan mengajarkan ilmu. Sore ini di dalam kolam, saya merasa sedang menjadi murid. Saya belajar dari seorang guru kehidupan.
Ternyata membenarkan tidak harus menyakitkan. Menegur tidak harus membuat seseorang malu. Mengoreksi tidak harus membuat orang merasa bodoh.
Pak Gun mengajarkan kesalahan tanpa membuat kami takut pada kesalahan.
Dalam hati saya berkata,
“Ya Allah, semoga saya bisa menjadi guru seperti beliau.” Guru yang ketika muridnya salah tidak langsung membuatnya merasa gagal. Guru yang mampu mengatakan, “Belum benar, ayo kita coba lagi.”Guru yang membuat anak berani mencoba. Guru yang membuat murid percaya bahwa dirinya mampu.Bukankah tugas seorang guru sesungguhnya bukan hanya memindahkan ilmu dari kepala guru ke kepala murid? Tetapi juga menyalakan keyakinan di dalam hati murid bahwa ia berharga dan mampu bertumbuh.
Pelajaran belum selesai. Pak Gun mengajak kami menuju bagian kolam yang kedalamannya dua meter.
Kami berjalan mengikutinya. “Bu ibu, sengaja saya ajak ke kedalaman dua meter,” katanya.
Saya bertanya-tanya dalam hati, Mengapa harus dua meter? Kemudian jawabannya begitu sederhana. “Agar ibu-ibu tidak hanya membaca tulisan dua meter. Sekarang harus merasakan sendiri kedalaman dua meter.”
Ah... Kalimat itu membuat saya berpikir. Bukankah kehidupan juga seperti itu? Ada banyak hal yang hanya kita pahami setelah mengalaminya. Kita bisa membaca tentang kesabaran. Tetapi kita baru memahami arti sabar ketika diuji. Kita bisa membaca tentang keberanian. Tetapi kita baru tahu arti berani ketika berada di hadapan sesuatu yang menakutkan.Kita bisa membaca tentang tawakal. Tetapi kita baru memahami tawakal ketika sudah berusaha sekuat tenaga, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Kami diminta merasakan sendiri kedalaman dua meter. “Takuut, Pak!” suara Bu Asih terdengar singkat.
Saya yakin bukan hanya Bu Asih yang takut. Mungkin beberapa di antara kami juga merasakan hal yang sama. Takut tenggelam.Takut tidak bisa menggerakkan kaki.Takut kehilangan pegangan.Takut sesuatu yang buruk terjadi. Pak Gun menjawab dengan tenang, “Gak papa, Bu. Ayo dicoba. Ada saya di sini.” Entah mengapa, kalimat itu terasa lebih tenang daripada kedalaman kolam.
Bukankah kita semua, dalam perjalanan hidup, pernah berada di titik ketika hanya membutuhkan seseorang yang berkata,
“Jangan takut. Ada saya di sini.”Seorang anak membutuhkan orang tuanya. Seorang murid membutuhkan gurunya. Seorang sahabat membutuhkan sahabatnya. Seorang manusia membutuhkan keyakinan bahwa dirinya tidak sendirian. Lebih jauh lagi, sebagai orang beriman, kita memiliki Allah. Ketika manusia tidak lagi mampu menemani, Allah tetap ada. Ketika manusia tidak memahami air mata kita, Allah mengetahui.
Ketika manusia tidak mengerti ketakutan yang kita simpan dalam hati, Allah Maha Mengetahui. Karena itu, keberanian kami sore itu bukan semata-mata karena kami hebat. Kami belajar percaya. Allah selalu menyertai ikhtiar hamba-Nya.“Kalau sudah berani, lepaskan pegangan tangan.”Kami mencoba.Sedikit demi sedikit.Kaki digerakkan. Tubuh belajar mengapung. Rasa takut perlahan dikalahkan.
“Hilangkan rasa takut, Bu ibu. Kita tidak sendirian.”
Kalimat itu kembali menusuk hati saya. Betapa sering manusia menangis diam-diam karena merasa sendirian.Padahal di sekeliling kita ada orang-orang yang menyayanginya. Paling utama, ada Allah yang tidak pernah meninggalkannya.
Lalu suasana yang semula penuh ketegangan kembali berubah menjadi tawa.
Pak Gun berkata bahwa jika kaki tidak bisa bergerak, berarti perut ibu-ibu ada masalah.
Saya pun spontan menjawab,
“Iya, Pak. Perut saya memang bermasalah.”
Pak Gun langsung bertanya,
“Kenapa, Bu?”
Saya menjawab,
“Hehehe... perutnya lapar, Pak.”
Kontan ibu-ibu tertawa bersama.Lepas.Bahagia.Tanpa beban.
Inilah salah satu bentuk sehat yang sering kita lupakan. Bukan hanya sehatnya tubuh. Tetapi sehatnya hati.Hati yang masih mampu tertawa. Hati yang masih mampu menikmati kebersamaan.Hati yang tidak terlalu sibuk memikirkan kesedihan.Hati yang masih bisa bersyukur atas hal-hal kecil. Kami akhirnya meninggalkan kolam.Tubuh terasa lelah. Anehnya, hati terasa ringan.Ada energi baru yang kami bawa pulang.
Saya pulang sambil membawa satu pelajaran yang mungkin tidak pernah tertulis dalam buku pelajaran mana pun Kadang-kadang kita tidak membutuhkan tempat yang mewah untuk menemukan kebahagiaan. Cukup air.
Beberapa teman.
Seorang pembimbing yang tulus.
Sedikit keberanian.
Dan hati yang mau bersyukur.
Saya juga membawa satu tekad sebagai seorang guru.
Saya ingin belajar dari Pak Gun.
Bukan tentang bagaimana berenang.
Tetapi tentang bagaimana mengolah kata-kata agar seseorang yang sedang takut menjadi berani.
Bagaimana membuat orang yang salah tidak merasa hina.
Bagaimana membuat orang yang belum mampu tidak merasa bodoh.
Bagaimana membuat seseorang berani mencoba lagi.
Sebab mungkin kita tidak pernah tahu, satu kalimat dari seorang guru bisa menjadi penyelamat kepercayaan diri seorang anak.
Mungkin ada siswa yang pulang dari sekolah sambil menyimpan kegagalan.
Mungkin ada yang merasa dirinya tidak pintar.
Mungkin ada yang takut mencoba karena pernah ditertawakan.
Hanya karena seorang guru berkata,
“Tidak apa-apa. Kita coba lagi. Ibu percaya kamu bisa.”
Hatinya kembali menyala.
Itulah guru yang ingin saya pelajari.
Guru yang tidak sekadar mengajar.
Tetapi menguatkan.
Tidak sekadar mengoreksi.
Tetapi membangun.
Tidak sekadar menyampaikan materi.Tetapi menyentuh hati.
Jum'at sore akhirnya berlalu.
Kami pulang membawa tubuh yang lebih segar dan hati yang lebih bahagia.
Ya Allah...
Terima kasih untuk sore yang sederhana ini.
Terima kasih masih memberi kami tubuh yang bisa digerakkan.
Terima kasih masih memberi kami kesempatan untuk belajar.
Terima kasih masih memberi kami teman-teman yang membuat kami tertawa.
Terima kasih menghadirkan orang-orang baik yang dengan caranya masing-masing mengajarkan kami arti kehidupan.
Jika suatu hari tubuh ini kembali lemah, semoga kami tetap kuat dalam hati.
Jika suatu hari kaki ini tidak lagi mampu bergerak seperti sekarang, semoga kenangan tawa di kolam tetap hidup.
Dan jika suatu hari kami merasa takut menghadapi kehidupan, semoga kami selalu mengingat kalimat itu:
“Jangan takut. Ada saya di sini.”
Karena sesungguhnya, di balik semua ikhtiar kita, ada Allah Yang Maha Menjaga.
Maka selama Allah masih memberi kesempatan... jangan berkata tidak bisa.
Cobalah.
Berusahalah.
Berdoalah.
Bersyukurlah.
Dan bila jatuh, bangkitlah lagi.
Sebab bisa jadi, kegagalan hari ini adalah jalan menuju keberhasilan esok hari. Bisa jadi pula, tawa kecil yang kita anggap biasa sore ini adalah kenangan yang kelak paling kita rindukan.
Jum'at sore ceria telah usai. Semoga Allah memberi kami sehat tanpa keluhan, hati tanpa ketakutan, persahabatan tanpa kepura-puraan, dan usia yang dipenuhi kebermanfaatan.
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa dalam kita mampu menyelam.
Tetapi tentang seberapa dalam kita mampu mensyukuri setiap nikmat yang Allah titipkan.
Allah masih memberi kami kesempatan untuk bahagia.
Cepu, 29 Agustus 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar