Karya: Gutamining Saida
Matahari perlahan mulai condong ke arah barat, memancarkan semburat keemasan yang menghangatkan suasana sore di Kota Yogyakarta. Perjalanan penuh kehangatan diawali dengan kesederhanaan, di mana sebuah bus berwarna kuning setia membersamai rombongan guru dan karyawan Esmega. Bus kuning itu bukan sekadar kendaraan, melainkan saksi bisu kebersamaan, canda tawa, dan ikatan kekeluargaan yang terjalin erat di antara kami para pendidik dan tenaga kependidikan. Tujuan kami sore ini adalah salah satu mahakarya alam yang tersembunyi di pesisir selatan, yakni hamparan Gumuk Pasir.
Sesampainya di lokasi, hamparan pasir luas bak gurun sahara menyambut pandangan kami. Kami tidak sekadar melakukan perjalanan wisata, melainkan sebuah perjalanan tadabbur alam, membaca ayat-ayat kauniyah Allah Subhanahu Wata'alla yang terhampar luas di bumi-Nya. Salah satu daya tarik utama yang kami pilih untuk menelusuri kebesaran alam dengan menaiki mobil jeep. Mesin-mesin menderu, siap membawa kami membelah lautan pasir yang eksotis.
Satu jeep diisi oleh empat orang penumpang. Tidak ada pengelompokan yang diatur secara kaku, kami memilih teman satu jeep secara spontan saat kendaraan tersebut menghampiri. Spontanitas ini justru menghadirkan keindahan tersendiri. Di hadapan alam yang luas dan di bawah naungan langit tidak ada batasan status atau jabatan. Kami semua adalah hamba-Nya yang sedang sama-sama mencari sejenak jeda dari penatnya urusan duniawi, duduk berdampingan dengan hati yang lapang.
Saat jeep mulai bergerak meninggalkan titik kumpul, mulailah sebuah pengalaman yang memacu adrenalin sekaligus memantik kesadaran spiritual. Kami dihadapkan pada jalanan pasir yang terjal, bergelombang, dan berliku. Tanpa aba-aba, sang pengemudi memacu jeep melaju kencang di atas medan yang sama sekali tidak mulus. Tubuh kami terguncang ke kanan dan ke kiri, terhempas oleh gravitasi saat kendaraan menukik tajam, lalu kembali terdorong ke belakang saat jeep menanjak gundukan pasir yang tinggi.
Kondisi jalan yang ekstrem ini secara alami mengundang suara-suara keluar secara spontan dari mulut kami. Jeritan tertahan, tawa yang meledak, hingga pekikan takbir "Allahu Akbar!" bersahutan di tengah deru angin dan mesin. Kami sangat menikmati setiap guncangan dan rintangan yang kami lewati. Jalan pasir yang terjal dan berliku itu, alih-alih membuat kami marah, justru menghadirkan kegembiraan dan kebahagiaan yang luar biasa.
Di tengah gelak tawa dan guncangan hebat itulah, terlintas sebuah renungan tajam yang menampar relung kesadaran. Ada sebuah ironi besar dalam sikap kita sebagai manusia. Para guru dan karyawan Esmega dengan sadar, bahkan rela membayar sejumlah uang, sengaja memilih jalan yang berliku, terjal, dan sama sekali tidak nyaman untuk dilewati. Kami tertawa lepas dan bersorak gembira di atas jalanan yang penuh rintangan ini.
Mari kita sejenak bermuhasabah dan menengok kehidupan keseharian kita. Betapa sering kita dianugerahi Allah jalan yang teramat mulus dalam kehidupan ini? Berupa kesehatan, keluarga yang rukun, rezeki yang cukup, tempat kerja yang nyaman, hingga jalan aspal peradaban yang memudahkan setiap langkah kita. Jalan-jalan mulus itu adalah manifestasi dari rahmat dan nikmat Allah yang tak terhingga jumlahnya. Sebagaimana firman-Nya, "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya." (QS. Ibrahim: 34).
Lalu, apa yang terjadi ketika di tengah jalanan hidup yang mulus itu terdapat satu lubang kecil saja? Entah itu berupa ban kendaraan yang bocor, gaji yang sedikit terlambat, tubuh yang tiba-tiba disapa flu. Hanya karena satu lubang kecil di jalan yang mulus, lisan kita seketika fasih menggerutu. Kita mengeluh, menyalahkan keadaan, dan seolah-olah dunia telah berbuat tidak adil kepada kita. Satu ujian kecil seketika menutup mata kita dari kilometer demi kilometer jalan mulus yang selama ini kita nikmati tanpa henti.
Sifat asli manusia yang sering kali tidak pandai bersyukur terekspos dengan nyata. Allah SWT telah memperingatkan hal ini dalam Al-Qur'an, "Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar (tidak bersyukur) kepada Tuhannya." (QS. Al-Adiyat: 6). Kita menjadi manusia yang amnesia terhadap ribuan kebaikan hanya karena satu ketidaknyamanan.
Mengapa saat menaiki jeep di jalan yang sengaja dibuat rusak kita bisa menikmati setiap guncangannya, sementara saat menghadapi sedikit "lubang" dalam takdir kehidupan kita begitu mudah berputus asa? Jawabannya ada pada penerimaan dan keikhlasan. Di atas jeep, kita sadar dan menerima guncangan itu bagian dari perjalanan yang pada akhirnya akan membawa kebahagiaan. Seharusnya, demikian pula kita memaknai ujian hidup. Setiap "lubang" dan rintangan yang Allah hadirkan di jalan mulus kehidupan kita bentuk pendidikan dari-Nya. Lubang itu ada untuk menggugurkan dosa-dosa kita, mengangkat derajat kita, dan mengingatkan kita agar tidak sombong dan lupa daratan saat sedang berada di jalan yang nyaman.
Perjalanan di Gumuk Pasir berakhir, meninggalkan jejak ban di atas pasir yang sebentar lagi akan terhapus oleh angin. Jejak hikmah yang terukir di dalam hati kami para guru dan karyawan Esmega pantang untuk terhapus. Melalui sejuknya angin pesisir dan terjalnya lautan pasir, Allah mengajarkan tentang hakekat syukur yang sesungguhnya. Bahwa baik jalan yang mulus maupun jalan yang berliku, keduanya adalah anugerah yang harus dinikmati dengan prasangka baik kepada Sang Pencipta, agar kita tidak tergolong sebagai hamba-hamba-Nya yang kufur nikmat. Aamiin
Cepu, 3 September 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar