Kamis, 30 Juli 2026

Sang Motivator Kesehatan

Karya: Gutamining Saida 
Hari Jumat dan Sabtu tidak ada pak Gun.  Sosok yang biasanya berdiri di tepi kolam, memberikan arahan, menyemangati, sekaligus mengoreksi setiap gerakan peserta, kali ini tidak tampak. Pak Gun harus izin tidak hadir karena ada kepentingan keluarga yang tidak dapat ditinggalkan. Sebagai manusia, setiap orang memiliki tanggung jawab kepada keluarga yang harus dipenuhi. Dalam ajaran Islam pun, memenuhi amanah terhadap keluarga adalah bagian dari ibadah.

Meski tidak hadir secara fisik, ternyata hati seorang guru tidak pernah benar-benar meninggalkan murid-muridnya. Jarak bukanlah penghalang untuk tetap menebarkan manfaat. Di tengah kesibukannya, Pak Gun masih menyempatkan diri mengirimkan pesan kepada kami melalui grup. Siang itu notifikasi ponsel berbunyi. Sebuah pesan sederhana, tetapi maknanya luar biasa.

"Menjaga kesehatan jantung, menguatkan otot-otot, meningkatkan kebugaran, meningkatkan kesehatan mental"
"Solusinya ke kolam".
"Sehat tidak mesti pakai obat."

Rasanya seperti pengingat bahwa kesehatan adalah nikmat Allah Subhanahu Wata'alla yang harus dijaga. Sering kali manusia baru menyadari berharganya sehat ketika tubuh mulai melemah. Padahal Rasulullah, telah mengingatkan bahwa ada dua nikmat yang sering dilalaikan manusia, yaitu kesehatan dan waktu luang. Betapa benarnya sabda tersebut. Ketika tubuh sehat, kita mampu beribadah dengan khusyuk, bekerja dengan semangat, berkumpul bersama keluarga, bahkan tersenyum pun terasa ringan.

Tidak lama kemudian, Pak Gun kembali mengirim sebuah video. Saya membukanya dengan rasa penasaran. Saya mengira video itu berisi latihan terapi atau gerakan renang yang biasa beliau contohkan. Namun, ternyata dugaan saya keliru. Betapa terkejutnya saya ketika melihat sosok yang ada di dalam video itu. Wajah yang sangat saya kenal. Gerakannya pun tidak asing lagi. Ternyata video tersebut adalah rekaman saat ibu saya mengikuti terapi di kolam.

Seketika hati saya dipenuhi rasa haru. Di antara sekian banyak peserta yang pernah mengikuti terapi, ternyata beliau memilih membagikan video ibu saya. Saat ini, ibu saya menjadi peserta yang paling sepuh di kelompok terapi. Usia memang telah lanjut, tetapi semangat beliau untuk berikhtiar menjaga kesehatan tidak pernah surut.

Saya percaya, usia bukanlah penghalang untuk terus berusaha. Selama Allah masih memberikan kesempatan bernapas, selama itu pula manusia diperintahkan untuk berikhtiar. Hasil akhirnya kita serahkan kepada Allah sebagai Dzat Yang Maha Menyembuhkan.

Melihat video itu, saya langsung menuliskan komentar singkat.
"Lama tidak ke kolam."
Beberapa saat kemudian, Pak Gun membalas komentar saya.
"Kenal, Bu?"
Saya tersenyum membaca pertanyaan itu. Rasanya lucu sekaligus menghangatkan hati. Dengan spontan saya menjawab,
"Tidak hanya kenal, Pak?! Kenal banget... hhhh."
Jawaban sederhana itu mengandung banyak cerita. Sosok dalam video itu bukan orang lain. Beliau adalah ibu saya sendiri, yang selama ini berjuang menjaga kesehatan dengan penuh kesabaran. Percakapan singkat tersebut justru membawa pikiran saya melayang pada kebiasaan yang selalu saya lakukan setiap mengajar di sekolah.

Setiap memasuki ruang kelas, pandangan saya tidak hanya tertuju pada papan tulis atau materi pelajaran. Saya selalu memperhatikan bangku-bangku siswa. Jika ada satu bangku kosong, hampir pasti saya akan bertanya.
"Siapa yang tidak masuk hari ini?"
"Ke mana dia?"
"Sakit atau ada keperluan?"
Pertanyaan itu bukan sekadar formalitas. Saya ingin memastikan bahwa setiap siswa merasa kehadirannya berarti. Ketidakhadiran satu orang saja akan saya sadari. Sebab, seorang guru bukan hanya mengajar materi mata pelajaran, tetapi juga menjaga hati peserta didiknya.

Saya merasakan hal yang sama dari Pak Gun. Walaupun beliau tidak berada di kolam, pikirannya tetap tertuju kepada murid-muridnya. Beliau tetap memberikan motivasi, tetap menyemangati, bahkan masih mengingat peserta-peserta yang pernah belajar bersama beliau.

Saya semakin memahami bahwa seorang pendidik sejati tidak pernah berhenti mendidik. Ketika berada di kelas, ia mengajar dengan ilmu. Ketika berada di luar kelas, ia tetap mengajar melalui perhatian, teladan, dan kepedulian. Begitu pula seorang pelatih. Bukan hanya mengajarkan teknik berenang, tetapi juga menanamkan semangat hidup sehat sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wata'alla.

Allah Subhanahu Wata'alla  sering menghadirkan pelajaran melalui cara yang tidak kita duga. Sebuah notifikasi di ponsel dapat menjadi pengingat tentang kasih sayang seorang guru. Sebuah video sederhana mampu mengingatkan kita kepada orang tua yang harus selalu kita hormati dan doakan. Sebuah komentar ringan dapat menghadirkan senyum yang menghangatkan hati.

Saya juga semakin yakin bahwa sehat bukan sekadar urusan fisik. Sehat adalah perpaduan antara ikhtiar, doa, kesabaran, dan tawakal. Berolahraga, menjaga pola makan, beristirahat dengan cukup, serta mengikuti terapi adalah bagian dari usaha manusia. Sementara kesembuhan tetap berada dalam kuasa Allah
.
Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan kepada Pak Gun beserta keluarganya, karena telah menjadi jalan kebaikan bagi banyak orang. Semoga Allah juga memberikan kesehatan dan umur yang penuh keberkahan kepada ibu saya, yang hingga usia senja masih memiliki semangat untuk berikhtiar. Semoga kami semua termasuk hamba-hamba yang pandai mensyukuri nikmat sehat sebelum datang masa ketika tenaga mulai melemah.

Saya percaya, perhatian yang tulus adalah sedekah yang tidak pernah habis pahalanya. Guru yang mengingat muridnya, pelatih yang memikirkan pesertanya, anak yang memperhatikan orang tuanya, semuanya adalah bentuk kasih sayang yang dicintai Allah Subhanahu Wata'alla. Dari perhatian itulah tumbuh kepedulian. Dari kepedulian lahir doa. Dari doa, semoga Allah membukakan pintu kesehatan, keberkahan, serta kebahagiaan bagi kita semua. Aamiin.

Semoga cerita sederhana ini mengingatkan kita bahwa setiap pertemuan adalah takdir Allah Subhanahu Wata'alla, setiap perhatian adalah bentuk kasih sayang, dan setiap ikhtiar menjaga kesehatan adalah wujud syukur atas nikmat kehidupan yang telah Dia titipkan.

Cepu, 31 Juli 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar