Karya: Gutamining Saida
Air sering kali menjadi guru yang diam. Ia tidak banyak bicara, tidak memberikan nasihat panjang lebar, tetapi mampu menunjukkan keadaan seseorang dengan cara yang unik. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia dapat menyembunyikan banyak hal. Senyum bisa menutupi kesedihan, kata-kata bisa menyamarkan kenyataan, bahkan argumentasi yang panjang dapat digunakan untuk membenarkan sesuatu yang sebenarnya kurang tepat.
Saat berada di dalam air, terutama ketika belajar renang, banyak hal yang sulit disembunyikan. Di tepi kolam renang, suasana terlihat tenang. Cahaya matahari mulai menyinari permukaan air yang berkilauan. Beberapa peserta terapi renang sudah berkumpul. Mereka melakukan pemanasan sambil menunggu arahan dari Pak Gun, pelatih yang sering menyisipkan nilai-nilai kehidupan.
Setelah pemanasan para peserta melakukan latihan meluncur. Satu per satu masuk ke dalam kolam. Ada yang meluncur lurus dengan baik, tetapi ada pula yang tubuhnya bergerak ke kanan atau serong ke kiri. Sebagian peserta menganggap hal itu sekadar masalah teknik biasa. Pak Gun memperhatikan dengan saksama. Setelah semua selesai mencoba, beliau memberikan penjelasan.
"Ibu-ibu kenapa ada yang meluncurnya lurus dan ada yang serong?" tanya Pak Gun.
Berbagai jawaban muncul.
"Mungkin posisi tangan kurang pas, pak."
"Bisa jadi karena kaki tidak rapat."
"Ada yang kurang fokus."
Pak Gun tersenyum lalu mengangguk.
"Semua jawaban ibu-ibu benar. Tetapi ada satu hal lagi yang sering terlupakan, yaitu kondisi hati dan pikiran."
Para peserta saling memandang dan tertawa. Mereka penasaran dengan penjelasan tersebut. Pak Gun melanjutkan, "Saat hati sedang resah, gelisah, banyak pikiran, atau galau, sering kali tubuh ikut memberikan respons. Ketika meluncur, gerakan menjadi tidak seimbang. Tubuh cenderung condong ke kanan atau ke kiri. Sebaliknya, ketika hati tenang dan pikiran siap, arah meluncur lebih mudah lurus."
Ucapan itu membuat suasana menjadi hening. Banyak peserta mulai memikirkan pengalaman mereka sendiri.
Dalam pandangan agama, hati memang memiliki peran yang sangat besar. Rasulullah, pernah menjelaskan bahwa dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, rusaklah seluruh tubuh. Segumpal daging itu adalah hati. Hati yang tenang akan memengaruhi cara berpikir, berbicara, bertindak, bahkan memengaruhi gerakan tubuh. Tidak heran jika seseorang yang sedang banyak beban pikiran terlihat berbeda dibandingkan saat dirinya sedang bahagia.
Di kolam renang, keadaan itu menjadi lebih nyata. Air seakan menjadi cerminan kejujuran. Ia menunjukkan apa adanya tanpa rekayasa. Dalam kehidupan sosial, manusia sering pandai menyusun kata-kata. Ketika melakukan kesalahan, terkadang seseorang berusaha mencari pembenaran. Lidah dapat bergerak lincah seperti pesilat yang memainkan jurus-jurusnya. Argumentasi dibuat sedemikian rupa agar orang lain percaya.
Ada yang mampu berbicara panjang lebar untuk menutupi kekurangan. Ada yang pandai mencari alasan agar terlihat benar. Bahkan terkadang seseorang berhasil meyakinkan banyak orang melalui kata-kata yang indah.
Di hadapan Allah, tidak ada satu pun yang dapat disembunyikan. Allah Subhanahu Wata'alla mengetahui apa yang tampak dan apa yang tersembunyi. Allah Subhanahu Wata'alla mengetahui isi hati manusia bahkan sebelum manusia mengucapkannya. Oleh sebab itu, kejujuran menjadi salah satu kunci utama dalam kehidupan.
Pak Gun kemudian mengajak ibu-ibu kembali ke dalam kolam. "Kali ini sebelum meluncur, pejamkan mata sejenak. Tarik napas perlahan. Niatkan olahraga ini sebagai bentuk syukur kepada Allah karena masih diberi kesehatan. Hilangkan prasangka buruk, hilangkan kemarahan, hilangkan kegelisahan. Serahkan semuanya kepada Allah."
Ibu-ibu mengikuti arahan tersebut. Beberapa saat kemudian mereka mencoba meluncur kembali. Ajaibnya, banyak yang merasakan perubahan. Tubuh terasa lebih ringan. Gerakan menjadi lebih rileks. Arah meluncur pun lebih lurus dibanding sebelumnya.
Seorang ibu berkata, "Pak, ternyata benar. Saat hati saya lebih tenang, rasanya badan juga lebih mudah dikendalikan."
Pak Gun tersenyum. "Itulah pentingnya ketenangan hati. Renang bukan hanya melatih otot, tetapi juga melatih kejujuran terhadap diri sendiri." Perkataan itu sangat dalam maknanya. Kejujuran ternyata bukan hanya tentang berkata benar kepada orang lain. Kejujuran juga berarti berani mengakui keadaan diri sendiri.
Jika sedang sedih, akuilah bahwa diri sedang sedih.
Jika sedang lelah, akuilah bahwa diri sedang lelah.
Jika melakukan kesalahan, akuilah kesalahan itu dan berusahalah memperbaikinya.
Sikap jujur kepada diri sendiri akan membuka jalan menuju ketenangan. Sebaliknya, kebiasaan menutupi kenyataan hanya akan menambah beban dalam hati.
Allah Subhanahu Wata'alla berfirman bahwa dengan mengingat-Nya, hati akan menjadi tenteram. Ketenteraman itulah yang menjadi sumber keseimbangan hidup. Orang yang dekat dengan Allah tidak berarti bebas dari masalah, tetapi ia memiliki tempat bersandar ketika masalah datang. Air kolam seolah memberikan pelajaran berharga. Meluncur lurus bukan sekadar persoalan teknik. Ia menjadi simbol perjalanan hidup manusia. Untuk mencapai tujuan yang benar, diperlukan keseimbangan antara hati, pikiran, dan tindakan.
Jika hati dipenuhi kejujuran, pikiran dipenuhi prasangka baik, dan langkah selalu disertai doa, maka perjalanan hidup akan lebih terarah. Mungkin tidak selalu mulus, tetapi tetap berada pada jalur yang benar. Ketika latihan selesai, para peserta keluar dari kolam dengan wajah cerah. Mereka bukan hanya mendapatkan manfaat kesehatan, tetapi juga memperoleh hikmah yang mendalam.
Hari ini belajar bahwa air tidak pernah pandai berbohong. Air memperlihatkan apa adanya. Dan dari kolam renang sederhana itu, mereka memahami satu pelajaran penting yaitu ketenangan hati adalah anugerah yang sangat berharga, sedangkan kejujuran adalah jalan yang mengantarkan manusia menuju ketenangan tersebut. Siapa yang mampu menjaga hatinya tetap jujur di hadapan Allah, maka ia akan lebih mudah meluncur lurus dalam menjalani perjalanan kehidupan di dunia maupun menuju kehidupan yang abadi di akhirat. Aamiin
Cepu, 1 Juni 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar