Karya: Gutamining Saida
Sore itu langkah kaki saya membawa diri menjauh dari hiruk pikuk kehidupan. Perlahan saya menuju sebuah tempat yang terasa berbeda dari biasanya. Tempat itu jauh dari keramaian kota, jauh dari suara kendaraan yang berlalu-lalang, jauh dari kesibukan manusia yang sering kali membuat hati terasa penat. Perjalanan menuju tempat itu melewati jalan kecil. Pinggir hutan dan hamparan persawahan yang hampir panen. Padi-padi menguning berdiri tegak seolah sedang menunggu waktu untuk dipetik hasilnya.
Langit tampak cerah dengan cahaya matahari yang mulai merendah. Sinar keemasan jatuh perlahan di atas hamparan sawah, membuat bulir-bulir padi terlihat berkilau. Angin berhembus lembut, menggerakkan daun-daun dan batang padi sehingga tampak seperti gelombang kecil yang menari dengan tenang. Tidak ada suara bising kendaraan, tidak ada teriakan manusia, bahkan suara hewan pun hampir tidak terdengar. Keheningan itu justru terasa begitu menenangkan.
Di tempat itu terdapat sebuah tempat duduk sederhana yang sengaja disediakan untuk orang yang ingin beristirahat atau sekadar menikmati pemandangan alam. Saya duduk di sana dengan tenang. Di hadapan saya terbentang luas ciptaan Allah Subhanahu Wata'alla yang begitu indah. Hutan berdiri kokoh seolah menjadi penjaga alam. Persawahan yang hampir panen memberi gambaran tentang kehidupan para petani yang sabar menunggu hasil kerja keras mereka.
Angin sore yang sejuk menyentuh wajah dengan lembut. Rasanya seperti pelukan alam yang menenangkan hati. Dalam suasana sunyi seperti itu, saya merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Hati terasa lebih ringan, pikiran menjadi jernih, dan jiwa seakan diajak untuk kembali mengingat siapa diri ini sebenarnya.
Di tengah keindahan alam itu saya merasa sangat kecil. Begitu kecil di hadapan kebesaran Allah Subhanahu Wata'alla yang menciptakan langit, bumi, hutan, sawah, angin, dan segala yang ada di sekitar kita. Selama ini manusia sering merasa kuat, merasa mampu melakukan banyak hal. Ketika duduk diam di hadapan alam yang luas, kesadaran itu muncul dengan sendirinya bahwa manusia hanyalah makhluk yang lemah.
Saya memandang hamparan sawah yang menguning. Bulir padi yang berisi itu tidak muncul dengan sendirinya. Ada tangan-tangan petani yang menanam, merawat, menyiram, dan menjaga dari hama. Pada akhirnya, semua itu tetap berada dalam kehendak Allah Subhanahu Wata'alla.. Jika Allah Subhanahu Wata'alla menghendaki panen yang baik, maka padi akan tumbuh subur. Jika Allah Subhanahu Wata'alla berkehendak lain, manusia tidak bisa menolaknya.
Pemandangan itu mengingatkan saya tentang nikmat Allah Subhanahu Wata'alla yang sering kali tidak kita sadari. Udara yang kita hirup setiap saat adalah nikmat. Angin yang sejuk adalah nikmat. Pemandangan alam yang indah adalah nikmat. Bahkan kesempatan untuk duduk tenang dan merenung seperti saat itu pun merupakan nikmat yang tidak semua orang miliki.
Sering kali dalam kehidupan sehari-hari kita terlalu sibuk dengan urusan dunia. Pekerjaan, tanggung jawab, dan berbagai aktivitas membuat hati jarang berhenti untuk sejenak memikirkan kebesaran Allah Subhanahu Wata'alla. Melalui alam semesta ini Allah Subhanahu Wata'alla telah menunjukkan begitu banyak tanda kekuasaan-Nya.
Di tempat yang sunyi itu saya merasa seperti sedang diajak berdialog dengan diri sendiri. Tanpa suara manusia, tanpa gangguan telepon, tanpa percakapan apa pun, hati justru menjadi lebih peka. Pikiran mulai mengingat perjalanan hidup yang telah dilalui. Banyak sekali nikmat yang telah diberikan Allah Subhanahu Wata'alla selama ini, namun sering kali manusia lupa untuk bersyukur.
Saya pun menundukkan kepala sejenak. Dalam hati terucap rasa syukur yang mendalam. “Ya Allah, betapa besar nikmat yang Engkau berikan kepada hamba-Mu ini.” Kadang manusia baru merasakan ketenangan ketika menjauh dari keramaian. Padahal ketenangan itu sebenarnya selalu ada jika hati mampu mengingat Allah Subhanahu Wata'alla.
Angin sore terus berhembus pelan. Matahari semakin rendah menuju ufuk barat. Cahaya jingga mulai mewarnai langit, menambah keindahan pemandangan yang ada di depan mata. Suasana seperti itu, hati terasa begitu damai. Tidak ada kegelisahan, tidak ada kegaduhan pikiran.
Tempat seperti ini memang sangat cocok untuk merenung. Alam seolah menjadi guru yang mengajarkan banyak hal tanpa kata-kata. Saya menyadari bahwa manusia membutuhkan waktu untuk menyendiri seperti ini. Bukan untuk melarikan diri dari kehidupan, tetapi untuk menata kembali hati dan pikiran. Dengan merenung, manusia bisa mengingat tujuan hidup yang sebenarnya. Bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara, dan pada akhirnya kita semua akan kembali kepada Allah Subhanahu Wata'alla.
Saat matahari hampir tenggelam, saya pun perlahan berdiri. Hati terasa lebih lapang dan penuh rasa syukur. Saya menyadari keindahan alam bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga untuk mengingatkan manusia akan kebesaran Sang Pencipta.
Saya pulang dengan membawa satu pelajaran penting dalam hati yaitu bahwa ketika manusia mampu berhenti sejenak dari kesibukan dunia dan memandang alam dengan penuh kesadaran, maka ia akan menemukan ketenangan, kerendahan hati, dan rasa syukur yang lebih dalam kepada Allah Subhanahu Wata'alla.
Cepu, 16 Maret 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar