Jum’at siang saya mendapatkan
pelajaran berharga tentang kemandirian. Biasanya, saya selalu meminta anak saya
untuk menemani ke mana-mana, mengantar, bahkan sekadar menunggu saat saya
mengurus sesuatu. Kali ini berbeda, walau diatar tapi disuruh masuk sendiri.
Anak saya menyarankan agar saya mencoba sendiri, tanpa bergantung padanya. Saya
harus masuk ke Bank BCA sendiri. Dia menunggu di tempat parker.
Awalnya saya merasa sedikit ragu.
"Apa saya bisa?" pikir saya dalam hati. Selama ini, saya terbiasa
dengan sistem lama di mana jika ingin mencetak buku Tabungan hanya menyerahkan
buku tersebut kepada petugas bank. Di
bank BCA ada mesin khusus untuk mencetak buku tabungan sendiri. Saya penasaran
sekaligus cemas, takut melakukan kesalahan.
Saya melangkah ke dalam bank
dengan perasaan campur aduk. Begitu masuk, seorang satpam menyambut saya dengan
ramah. Dia tersenyum dan bertanya dengan sopan, "Bisa dibantu, Bu?" Saya
menarik napas dan berusaha menjawab dengan percaya diri, "Saya mau print
out buku tabungan."
Satpam itu mengangguk dan
menunjuk seorang pegawai wanita yang berdiri tak jauh dari sana. "Silakan
duduk, Bu. Nanti dibantu oleh Mbaknya." Saya pun duduk di kursi yang
disediakan.
Tak lama kemudian, seorang
pegawai bank menghampiri saya. Wanita muda itu tersenyum ramah dan bertanya,
"Ada yang bisa saya bantu, Bu?" Dengan sedikit ragu, saya menjawab,
"Saya mau print buku tabungan."
"Baik, mari silakan saya
bantu," katanya sambil mengajak saya menuju sebuah mesin yang terlihat
modern. Saya mengikuti langkahnya, merasa seperti seorang siswa yang akan
belajar hal baru.
Di depan mesin itu, dia mulai
menjelaskan cara menggunakannya. "Ibu cukup memasukkan ATM dan buku tabungan di sini," katanya sambil
menunjuk slot pada mesin. Saya mengangguk dan mencoba memasukkan ATM dan buku
tabungan ke dalam mesin.
"Pastikan posisinya benar."
lanjutnya sambil membantu saya sedikit merapikan posisi ATM dan buku tabungan
agar terbaca dengan baik oleh mesin.
Begitu ATM masuk, layar mesin
menyala dan mulai memproses transaksi. Saya melihat dengan takjub bagaimana proses
langkah-langkahnya sesuai petunjuk. Tulisan dan angka-angka muncul di layar.
Beberapa detik kemudian, terdengar suara mesin bekerja. Buku tabungan mulai
bergerak sendiri, mencetak transaksi terbaru yang belum tercatat sebelumnya.
Saya mengamati dengan seksama. "Oh, ternyata begini caranya," gumam saya pelan. Pegawai itu tersenyum. "Iya, Bu. Ini lebih cepat dan praktis. Jadi kalau nanti mau print lagi, Ibu bisa langsung ke sini tanpa perlu antri ke teller."
Saya mengangguk, mulai merasa percaya diri. Mesin itu menyelesaikan tugasnya dalam waktu singkat. Buku tabungan keluar dengan cetakan terbaru. Saya mengambilnya dan mengecek hasilnya. Semua transaksi sudah tercetak rapi di dalamnya. "Sudah selesai. Gampang, kan bu?" kata pegawai itu dengan senyum ramah. Saya tersenyum lebar. "Iya, ternyata mudah. Saya pikir bakal sulit."
Pegawai itu tertawa kecil.
"Awalnya terasa baru tapi kalau sudah terbiasa, pasti tidak ada
kesulitan." Sebelum berbalik arah, tak lupa saya minta ijin memfoto mesin
print out pada mbaknya yang cantik. Sekilas muncul ide untuk mengabadikan pengalaman
pertama saya. Lantas saya mengucapkan terima kasih kepadanya dan lanjut keluar
menuju ke tempat parkir. Anak saya menunggu di sana. Dengan tersenyum, saya
menunjukkan buku tabungan yang sudah tercetak.
Anak saya tersenyum. "Tuuuuuh, kan bisa sendiri?" ucapnya. Saya mengangguk. "Iya, ternyata mudah. Umi selama ini selalu bergantung padamu."
Sepulang dari bank BCA, saya
merenung. Pengalaman kecil ini mengajarkan saya sesuatu yang besar. Kadang kita
terlalu nyaman bergantung pada orang lain. Padahal jika mau mencoba, kita bisa
melakukannya sendiri. Saya merasa lebih percaya diri dan bertekad untuk mulai
belajar lebih mandiri dalam hal-hal kecil seperti ini. Hari Jum’at siang bukan
sekedar hari biasa. Itu adalah hari di mana saya mengambil langkah pertama
menuju kemandirian yang lebih besar. Semoga menginspirasi.
Cepu, 8 Februari 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar