Selasa, 11 Februari 2025

Keseruan Bersama Kelas VIIA

Karya: Gutamining Saida

Suasana kelas 7A di SMPN 3 Cepu terasa lebih hidup dari biasanya. Setelah bel berbunyi, para siswa sudah siap dengan buku dan catatan mereka. Sebagai guru IPS, saya menjelaskan materi tentang pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia.

Saya ingin memastikan pemahaman mereka dengan cara yang lebih menarik. Bukan sekadar kuis biasa, melainkan permainan tebak benar atau salah dengan media kertas dua warna.  Biru untuk jawaban benar, sedangkan oranye untuk jawaban salah. Saya telah membagikan dua lembar kertas berwarna kepada setiap siswa yaitu satu warna biru dan satu warna oranye

“Sebelum kita mulai, siapa yang siap menjawab dengan benar semuanya?” tanya saya, menyemangati mereka.

“Saya, Bu!” seru beberapa siswa dengan antusias.

Mereka tampak tak sabar menunggu pertanyaan pertama. Saya tersenyum melihat semangat mereka.

“Oke, kita mulai! Pertanyaan pertama: Kerajaan Kutai adalah kerajaan bercorak Hindu tertua di Indonesia.”

Beberapa detik hening. Lalu, hampir semua siswa serempak mengangkat kertas berwarna biru.

“Semuanya yakin?” saya bertanya lagi.

“Iya, Bu!” jawab mereka kompak.

Saya tersenyum dan mengangguk. “Jawaban kalian benar! Hebat!”

Sorak-sorai terdengar di seluruh kelas. Wajah-wajah mereka tampak berseri-seri. Ada yang bersorak kecil, ada yang saling memberi tos dengan teman sebangkunya. Saya bisa melihat kebahagiaan di mata mereka saat mengetahui jawaban mereka benar.

Saya melanjutkan ke pertanyaan berikutnya.

“Pertanyaan kedua adalah Candi Borobudur merupakan peninggalan kerajaan hindu.”

Kali ini, beberapa siswa tampak ragu. Sebagian mengangkat kertas biru, tetapi sebagian lagi mengangkat kertas oranye. Ada yang saling melirik, mencoba mencari petunjuk dari teman sebangku.

“Jawaban yang benar adalah… salah! Candi Borobudur merupakan peninggalan kerajaan Syailendra yang bercorak Buddha, bukan hindu.”

Sepersekian detik, wajah-wajah kecewa bermunculan. Beberapa siswa yang mengangkat kertas biru menghela napas panjang, lalu menunduk. “Aduh, salah, Bu…” gumam seorang siswa di bangku tengah.

Saya tersenyum. “Jangan kecewa. Justru dari kesalahan ini kalian bisa belajar. Yang tadi salah, sekarang sudah tahu jawabannya, kan?”

Mereka mengangguk, dan semangat mereka kembali bangkit. Pertanyaan demi pertanyaan saya lontarkan. Setiap jawaban yang benar disambut dengan keceriaan, sedangkan jawaban salah sering kali membuat mereka menghela napas atau menggerutu kecil. Ada juga yang bercanda, menertawakan diri sendiri karena salah menjawab.

Saat saya memberikan pertanyaan terakhir, suasana semakin menegangkan.

“Pertanyaan terakhir: Relief di dinding candi Prambanan termasuk karya sastra cerita Ramayana.”

Beberapa siswa tampak berpikir keras. Kali ini mereka lebih hati-hati dalam menjawab.

“Lima detik lagi!” saya memberi aba-aba.

Beberapa siswa yang awalnya ragu akhirnya mengangkat kertas biru, sementara ada yang tetap bertahan dengan kertas oranye.

Saya memberikan jeda sejenak sebelum mengumumkan jawabannya. “Jawaban yang benar adalah… betul! .” Karya sastra cerita Ramayana dilihat di dinding candi Prambanan yang disebut relief”

Tiba-tiba, kelas dipenuhi suara sorak-sorai. Para siswa yang menjawab benar tampak sangat bahagia. Beberapa dari mereka berdiri sebentar lalu duduk kembali, merasa bangga karena berhasil menjawab pertanyaan terakhir dengan benar.

Sementara itu, mereka yang salah menjawab tampak kecewa. Namun, saya segera memberi motivasi. “Jangan khawatir. Kalian sudah berusaha dengan baik! Justru dari sini kalian bisa mengingat lebih lama mana yang benar dan mana yang salah.”

Salah satu siswa, Ihsan mengangkat tangan. “Bu, kalau besok-besok ada kuis lagi, boleh pakai cara ini?”

Saya tersenyum. “Tentu! Asal kalian tetap semangat belajar.”

Mereka bertepuk tangan. Saya merasa lega dan bahagia melihat mereka menikmati proses belajar. Dengan metode ini, mereka tidak hanya belajar materi, tetapi juga belajar menerima kesalahan dan memperbaikinya.

Bel berbunyi, menandakan akhir pelajaran. Sebelum meninggalkan kelas, beberapa siswa masih membahas pertanyaan-pertanyaan tadi dengan teman sebangkunya. Saya pun meninggalkan kelas dengan perasaan puas, karena hari ini bukan hanya mereka yang belajar.  Saya juga belajar bahwa pembelajaran yang menyenangkan akan selalu dikenang oleh siswa. Semoga menginspirasi.

Cepu, 11 Februari 2025

Bottom of Form

 


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar