Suasana kelas 7A di SMPN 3 Cepu terasa
lebih hidup dari biasanya. Setelah bel berbunyi, para siswa sudah siap dengan
buku dan catatan mereka. Sebagai guru IPS, saya menjelaskan materi tentang pengaruh
Hindu-Buddha di Indonesia.
Saya ingin memastikan pemahaman
mereka dengan cara yang lebih menarik. Bukan sekadar kuis biasa, melainkan
permainan tebak benar atau salah dengan media kertas dua warna. Biru untuk jawaban benar, sedangkan oranye
untuk jawaban salah. Saya telah membagikan dua lembar kertas berwarna kepada
setiap siswa yaitu satu warna biru dan satu warna oranye
“Sebelum kita mulai, siapa yang
siap menjawab dengan benar semuanya?” tanya saya, menyemangati mereka.
“Saya, Bu!” seru beberapa siswa
dengan antusias.
Mereka tampak tak sabar menunggu
pertanyaan pertama. Saya tersenyum melihat semangat mereka.
“Oke, kita mulai! Pertanyaan
pertama: Kerajaan Kutai adalah kerajaan bercorak Hindu tertua di Indonesia.”
Beberapa detik hening. Lalu,
hampir semua siswa serempak mengangkat kertas berwarna biru.
“Semuanya yakin?” saya bertanya
lagi.
“Iya, Bu!” jawab mereka kompak.
Saya tersenyum dan mengangguk.
“Jawaban kalian benar! Hebat!”
Sorak-sorai terdengar di seluruh
kelas. Wajah-wajah mereka tampak berseri-seri. Ada yang bersorak kecil, ada
yang saling memberi tos dengan teman sebangkunya. Saya bisa melihat kebahagiaan
di mata mereka saat mengetahui jawaban mereka benar.
Saya melanjutkan ke pertanyaan
berikutnya.
“Pertanyaan kedua adalah Candi
Borobudur merupakan peninggalan kerajaan hindu.”
Kali ini, beberapa siswa tampak
ragu. Sebagian mengangkat kertas biru, tetapi sebagian lagi mengangkat kertas
oranye. Ada yang saling melirik, mencoba mencari petunjuk dari teman sebangku.
“Jawaban yang benar adalah…
salah! Candi Borobudur merupakan peninggalan kerajaan Syailendra yang bercorak
Buddha, bukan hindu.”
Sepersekian detik, wajah-wajah
kecewa bermunculan. Beberapa siswa yang mengangkat kertas biru menghela napas
panjang, lalu menunduk. “Aduh, salah, Bu…” gumam seorang siswa di bangku
tengah.
Saya tersenyum. “Jangan kecewa.
Justru dari kesalahan ini kalian bisa belajar. Yang tadi salah, sekarang sudah
tahu jawabannya, kan?”
Mereka mengangguk, dan semangat
mereka kembali bangkit. Pertanyaan demi pertanyaan saya lontarkan. Setiap
jawaban yang benar disambut dengan keceriaan, sedangkan jawaban salah sering
kali membuat mereka menghela napas atau menggerutu kecil. Ada juga yang
bercanda, menertawakan diri sendiri karena salah menjawab.
Saat saya memberikan pertanyaan
terakhir, suasana semakin menegangkan.
“Pertanyaan terakhir: Relief di
dinding candi Prambanan termasuk karya sastra cerita Ramayana.”
Beberapa siswa tampak berpikir
keras. Kali ini mereka lebih hati-hati dalam menjawab.
“Lima detik lagi!” saya memberi
aba-aba.
Beberapa siswa yang awalnya ragu
akhirnya mengangkat kertas biru, sementara ada yang tetap bertahan dengan
kertas oranye.
Saya memberikan jeda sejenak
sebelum mengumumkan jawabannya. “Jawaban yang benar adalah… betul! .” Karya
sastra cerita Ramayana dilihat di dinding candi Prambanan yang disebut relief”
Tiba-tiba, kelas dipenuhi suara
sorak-sorai. Para siswa yang menjawab benar tampak sangat bahagia. Beberapa
dari mereka berdiri sebentar lalu duduk kembali, merasa bangga karena berhasil
menjawab pertanyaan terakhir dengan benar.
Sementara itu, mereka yang salah
menjawab tampak kecewa. Namun, saya segera memberi motivasi. “Jangan khawatir.
Kalian sudah berusaha dengan baik! Justru dari sini kalian bisa mengingat lebih
lama mana yang benar dan mana yang salah.”
Salah satu siswa, Ihsan mengangkat
tangan. “Bu, kalau besok-besok ada kuis lagi, boleh pakai cara ini?”
Saya tersenyum. “Tentu! Asal
kalian tetap semangat belajar.”
Mereka bertepuk tangan. Saya
merasa lega dan bahagia melihat mereka menikmati proses belajar. Dengan metode
ini, mereka tidak hanya belajar materi, tetapi juga belajar menerima kesalahan
dan memperbaikinya.
Bel berbunyi, menandakan akhir
pelajaran. Sebelum meninggalkan kelas, beberapa siswa masih membahas
pertanyaan-pertanyaan tadi dengan teman sebangkunya. Saya pun meninggalkan
kelas dengan perasaan puas, karena hari ini bukan hanya mereka yang belajar. Saya juga belajar bahwa pembelajaran yang
menyenangkan akan selalu dikenang oleh siswa. Semoga menginspirasi.
Cepu, 11 Februari 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar