Karya: Gutamining Saida
Hari pertama masuk di bulan suci selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Udara pagi terasa lebih tenang, langkah kaki siswa pun sedikit lebih pelan dari biasanya. Di balik wajah-wajah yang menahan lapar dan dahaga, saya melihat semangat yang tetap menyala. Sebagai guru IPS, saya tidak ingin pembelajaran di kelas 8F terasa garing hanya karena sedang berpuasa. Justru bulan suci harus menjadi momentum untuk belajar dengan cara yang lebih seru dan menyenangkan.
Beberapa hari sebelum masuk sekolah, saya sudah mengumumkan di grup kelas agar anak-anak membawa dua kertas bifalo, gunting, dan lem. Sebagian siswa bertanya-tanya, “Bu, mau buat apa ya?” Saya hanya menjawab singkat, “Siapkan saja, nanti kita buat sesuatu yang seru.” Perencanaan sudah saya susun matang. Materi yang akan kami pelajari adalah tentang lembaga keuangan bank dan bukan bank. Materi ini sebenarnya cukup serius, penuh istilah, dan jika disampaikan dengan metode ceramah saja bisa membuat siswa mengantuk apalagi di bulan puasa.
Ketika bel pergantian jam berbunyi, saya melangkah ke kelas 8F dengan membawa semangat. D meja mereka sudah disiapkan kertas bifalo yang sudah dibawa dari rumah. Anak-anak sudah duduk rapi. Ada yang masih mengipas-ngipas buku ke wajahnya, ada yang tersenyum penasaran. Saya membuka pelajaran dengan sedikit motivasi tentang pentingnya tetap semangat belajar walau sedang berpuasa. Puasa bukan alasan untuk malas, justru melatih disiplin dan pengendalian diri.
Setelah apersepsi singkat tentang lembaga keuangan, saya mulai memberikan instruksi. “Sekarang dua kertas bifalo kalian mari kita eksekusi. Satu akan kita jadikan papan game, satu lagi untuk membuat amplop.” Suasana kelas mulai ramai, tapi ramai yang produktif. Mereka saling meminjam penggaris, mengatur posisi duduk, dan memperhatikan instruksi yang saya berikan.
Langkah pertama, yaitu membuat sketsa papan game di kertas bifalo pertama, dilipat bentuk segitiga kecil untuk tempat pertanyaan. Sisi yang besar untuk tempat potongan-potongan jawaban. Berikut ini contohnya.
Langkah kedua adalah setiap siswa harus membuat 10 pertanyaan yang nantinya ditaruh di kertas yang disketsa. 13 jawaban terkait materi lembaga keuangan bank dan bukan bank. Mengapa dibuat 13 karena dengan alasan untuk bahan pengecoh yang mengerjakan. Bahan materi bisa dicari dari buku paket IPS mulai halaman 191sampai dengan halaman 201. Saya tidak membagi siswa menjadi kelompok tetapi tugas individu. Mereka mulai membuka buku paket dan menulis di buku catatan. Ada yang mengingat kembali penjelasan awal saya. Saya berusaha berjalan melihat ke belakang. Satu demi satu saya lihat hasil tulisannya.
Saya tersenyum melihat mereka serius berpikir. Anak-anak yang biasanya pasif, kali ini ikut terlibat. Karena dalam game ini, jika pertanyaan atau jawabannya salah, siswa akan kesulitan. Di kertas kedua sisa segitiga bagian soal dipakai untuk tempat 13 jawaban. Mereka menyiapkan potongan-potongan soal dan jawaban yang nantinya dimasukkan ke dalam amplop.
Langkah ketiga adalah menggunting sketsa sesuai pola yang telah ada tulisan soal dan jawaban. Di sinilah keterampilan motorik mereka diuji. Ada yang menggunting terlalu kecil, ada yang terlalu besar, bahkan ada yang sempat salah potong dan harus memperbaiki. Semua dilakukan dengan penuh canda. Bulan puasa tidak mengurangi kreativitas mereka.
Amplop kecil yang dibuat dari kertas bifalo kedua menjadi tempat menyimpan potongan soal dan jawaban. Saya berkeliling dari satu bangku ke bangku lain, memastikan setiap langkah sesuai petunjuk. Jika ada yang bingung, saya arahkan. Jika ada yang kurang rapi, saya beri motivasi untuk memperbaiki. Akhirnya, game puzzle IPS pun siap dimainkan.
Aturannya sederhana. Setiap siswa menukar papan game dengan teman lain. Mereka harus mencocokkan pertanyaan dengan jawaban yang tepat dalam waktu tertentu. Karena jumlah jawaban ada 13 sementara pertanyaan hanya 10, ada tiga jawaban pengecoh. Di sinilah letak tantangannya.
Suasana kelas berubah menjadi lebih hidup. Diskusi terdengar di setiap sudut ruangan.
Saya melihat wajah-wajah yang penuh konsentrasi. Mereka tidak sadar bahwa sebenarnya sedang mengulang materi secara mendalam. Tanpa terasa, konsep tentang bank umum, BPR, koperasi simpan pinjam, asuransi, pegadaian, hingga pasar modal tertanam lebih kuat di ingatan mereka.
Setelah waktu habis, kami membahas bersama jawabannya. Siswa yang paling cepat dan banyak benar mendapatkan apresiasi. Bukan hadiah besar, hanya tepuk tangan dan pujian. Hal itu sudah cukup membuat mereka bangga.
Saya menutup pelajaran dengan refleksi. “Apa yang kalian rasakan belajar dengan cara seperti ini?” Beberapa siswa menjawab serempak, “Seru, Bu!” Ada yang berkata, “Tidak ngantuk.” Bahkan ada yang mengatakan, “Belajarnya jadi mudah dipahami.”
Pembelajaran tidak harus selalu duduk diam dan mencatat. Dengan sedikit kreativitas, materi yang tampak berat bisa menjadi ringan. Game puzzle sederhana dari dua kertas bifalo ternyata mampu mengubah suasana kelas di bulan puasa menjadi penuh semangat.
Menjadi guru bukan hanya menyampaikan materi, tetapi juga menghadirkan pengalaman belajar yang berkesan. Hari pertama di bulan suci itu menjadi bukti bahwa dengan perencanaan matang dan niat yang tulus, pembelajaran bisa tetap hidup dan bermakna.
Kelas 8F telah menunjukkan bahwa puasa bukan penghalang untuk berkarya. Justru di tengah keterbatasan energi, kreativitas bisa tumbuh lebih kuat. Saya merasakan kebahagiaan, karena telah melihat semangat belajar yang luar biasa dari anak-anak didik saya. Sejatinya, belajar akan selalu menyenangkan jika dilakukan dengan hati. Selamat mencoba dan semoga menginspirasi bagi siapa pun yang ingin menghadirkan pembelajaran kreatif di kelas.
Cepu, 23 Pebruari 2026


Tidak ada komentar:
Posting Komentar