Karya: Gutamining Saida
Langit sore mulai meredup ketika saya menerima kiriman lombok hijau, lombok merah, dan tomat yang masih segar. Warnanya begitu menggoda hijau yang menenangkan, merah yang menyala, dan tomat yang ranum mengilap. Hati saya langsung berdesir haru. Rezeki memang sering datang lewat tangan orang-orang baik. Tanpa diminta, tanpa disangka, Allah Subhanahu Wata'alla menggerakkan hati seseorang untuk berbagi.
Seperti biasa, selepas salat Maghrib, dapur menjadi tempat saya beraktivitas. Ada rasa bahagia yang sulit dijelaskan setiap kali berdiri di depan kompor untuk menyiapkan makan malam keluarga. Bagi saya, memasak bukan sekadar rutinitas. Ia adalah ibadah. Ia adalah bentuk cinta. Ia adalah rasa syukur yang diwujudkan dalam gerakan tangan, dalam doa-doa yang lirih, dalam niat yang diluruskan karena Allah Subhanahu Wata'alla.
Tadi selepas salam terakhir, bibir ini spontan berucap, “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.” Betapa banyak nikmat yang sering kali tak kita sadari. Cabe yang baru dipetik dari kebun, tomat yang ranum, bihun yang sudah tersedia, bahkan kecap yang masih tersisa di botol semuanya adalah bagian dari skenario indah yang Allah atur.
Saya memandang bahan-bahan itu satu per satu. Cabe hijau segar, seolah masih menyimpan embun pagi. Tomat yang kemerahan, pertanda matang sempurna. Terlintas pertanyaan sederhana, “Mau dimasak apa ya?” Pikiran berputar-putar. Lalu teringat stok soun yang diberi teman beberapa hari lalu dari Klaten. Bihun itu belum tersentuh. Masih tersimpan rapi di lemari dapur.
Ah, kenapa tidak soun goreng saja? Ide itu datang seperti cahaya kecil yang menerangi. Sederhana, tapi terasa pas. Satu porsi besar sudah cukup untuk satu keluarga. Hemat, praktis, dan penuh nikmat. Saya mulai menyiapkan semuanya. Soun direndam dengan air hangat, cabe diiris serong, tomat dipotong kecil-kecil. Setiap irisan terasa seperti zikir yang diam-diam terucap di dalam hati. Ya Allah, berkahilah makanan ini. Ya Allah, jadikan ia penguat tubuh untuk taat kepada-Mu.
Di rak dapur, saya mengambil kecap “KAJ” khas Kudus. Kecap itu memiliki aroma manis yang khas, pekat dan legit. Ketika tutupnya dibuka, semerbak manisnya langsung menyatu dengan udara dapur. Terbayang rasa nikmatnya nanti ketika bercampur dengan soun dan cabe.
Soun dari Klaten, kecap dari Kudus, cabe dan tomat dari Blungun berbagai daerah seperti dipertemukan dalam satu wajan. Saya tersenyum sendiri. Bukankah ini juga gambaran ukhuwah? Berbeda asal, berbeda perjalanan, tetapi bisa bersatu dalam satu tujuan yaitu memberi manfaat.
Api kompor menyala pelan. Wajan mulai panas. Saya menumis bawang hingga harum, lalu memasukkan irisan cabe hijau dan merah. Suara desis minyak seperti alunan tasbih yang mengiringi sore. Tomat menyusul masuk, melebur perlahan. Aroma pedas, manis, dan segar berpadu menjadi satu.
Kemudian soun yang sudah lembut dimasukkan. Saya aduk perlahan, agar tidak putus, agar tetap utuh. Hati saya pun teringat, bahwa dalam hidup ini kita pun harus pandai menjaga keutuhan keutuhan iman, keutuhan keluarga, keutuhan niat.
Kecap “KAJ” saya tuangkan secukupnya. Warna bihun berubah menjadi cokelat keemasan. Cantik sekali. Saya mencicip sedikit. MasyaAllah… rasa manis, pedas, dan gurih menyatu sempurna. Spontan kembali terucap, “Alhamdulillah.”
Sering kali kebahagiaan itu sederhana. Tidak harus makanan mahal. Tidak perlu restoran mewah. Cukup dapur kecil yang hangat, keluarga yang menunggu, dan hati yang penuh syukur. Sambil mengaduk soun, saya teringat bahwa rezeki bukan hanya soal banyak atau sedikit. Rezeki adalah keberkahan. Bisa jadi sedikit, tapi cukup. Bisa jadi sederhana, tapi membahagiakan. Rezeki juga bukan hanya dalam bentuk uang, tapi juga bahan makanan, kesehatan untuk memasak, waktu untuk berkumpul, dan keluarga yang siap menikmati.
Bukankah Allah sudah berjanji, jika kita bersyukur, Dia akan menambah nikmat? Saya menyadari, sore ini bukan sekadar memasak soun. Ini adalah pelajaran tentang syukur. Tentang bagaimana Allah Subhanahu Wata'alla menggerakkan hati seorang teman untuk berbagi. Tentang bagaimana hasil bumi dari berbagai tempat bisa sampai ke dapur sederhana saya. Tentang bagaimana tangan ini masih diberi kekuatan untuk mengiris, menumis, dan menyajikan.
Tak lama kemudian, soun matang sempurna. Saya mematikan kompor, menyajikannya di piring besar. Uapnya mengepul hangat. Warnanya menggoda. Hati saya terasa penuh. Ketika keluarga berkumpul dan mulai menyantap, saya memperhatikan wajah mereka. Ada senyum kecil, ada anggukan tanda suka. Itu sudah cukup bagi saya. Kebahagiaan seorang ibu sering kali tersembunyi dalam piring kosong yang tandanya makanan habis dinikmati.
“Ya Allah, jadikan makanan ini sumber energi untuk beribadah kepada-Mu. Jadikan keluarga kami keluarga yang selalu bersyukur atas nikmat sekecil apa pun. Jangan Engkau cabut rasa cukup dari hati kami.”
Saya kembali mengucap hamdalah. Sebab di dapur sederhana, saya belajar lagi bahwa setiap butir rezeki adalah amanah. Setiap rasa nikmat adalah tanda cinta Allah Subhanahu Wata'alla. Setiap masakan yang lahir dari tangan penuh syukur, insyaAllah akan terasa lebih lezat dan lebih berkah. Aamiin
Cepu, 22 Pebruari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar