Karya: Gutamining Saida
Sore itu langit di atas Cepu tampak teduh. Angin berembus pelan menyapu halaman rumah, seolah ikut menyambut detik-detik menjelang berbuka. Di dapur sederhana, saya berdiri dengan hati penuh syukur. Di hadapan saya, sepiring bahan-bahan yang tampak biasa, namun sesungguhnya menyimpan kisah luar biasa. Sore itu saya memasak oseng teri menu sederhana yang akan tersaji untuk berbuka puasa keluarga tercinta.
Oseng teri kali ini terasa berbeda. Ia bukan sekadar lauk pauk. Ia adalah pertemuan jarak, perjalanan, doa, dan kasih sayang yang menyatu dalam satu wajan. Teri yang akan saya masak bukan teri biasa. Ia adalah oleh-oleh dari seorang teman yang pulang berlibur dari Riau. Teri itu menempuh perjalanan panjang, melintasi lautan dan awan, dibawa naik pesawat hingga akhirnya tiba di tangan saya di Cepu. Saya membayangkan betapa jauh perjalanan ikan teri nasi itu. Dari laut yang luas, dijemur di bawah terik matahari, dikemas dengan rapi, lalu terbang bersama harapan dan niat baik seseorang yang ingin berbagi.
Cabe dan tomat yang akan saya iris pun bukan hasil membeli di pasar pagi. Ia adalah pemberian orang tua siswa yang rumahnya di Blungun. Dengan wajah tulus mereka menyerahkan hasil kebun kepada saya. Mungkin bagi mereka itu sederhana. Namun bagi saya, itu adalah bentuk cinta, penghormatan, dan doa yang tak terucap.
Sedangkan saya? Saya hanya bermodal bawang putih, bawang merah, sedikit minyak, dan tenaga. Selebihnya adalah rasa syukur yang terus saya pupuk dalam hati. Ketika pisau mulai memotong bawang, aroma khasnya langsung menyeruak. Air mata tipis menggenang, entah karena bawang atau karena hati yang terharu. Saya teringat bahwa dalam hidup ini, sering kali Allah Subhanahu Wata'alla mempertemukan kita melalui jalan-jalan yang tak terduga. Teri dari Riau, cabe dan tomat dari Blungun, dan dapur kecil saya di Cepu semuanya dipertemukan dalam satu waktu yaitu menjelang adzan magrib di bulan Ramadhan.
Ramadhan memang bulan yang mengajarkan makna kebersamaan. Bukan hanya kebersamaan fisik, tetapi juga kebersamaan hati dan niat. Saat wajan mulai panas dan bawang ditumis hingga harum, saya mengaduk perlahan sambil melantunkan doa. “Ya Allah, berkahilah mereka yang telah memberi. Lipat gandakan rezeki mereka. Sehatkan tubuh mereka. Bahagiakan keluarga mereka.”
Teri saya masukkan ke dalam wajan. Suaranya berdesis halus. Cabe dan tomat menyusul, memberi warna merah cerah yang menggoda. Aroma pedas dan gurih menyatu, menguar memenuhi dapur. Dalam hati saya terbersit satu kesadaran betapa Allah Subhanahu Wata'alla mengatur rezeki dengan cara yang indah. Kadang bukan berupa uang yang banyak, tetapi berupa bahan makanan yang datang dari tangan-tangan penuh kasih.
Oseng teri ini. Ia adalah hasil dari laut, hasil kerja nelayan, hasil kebaikan teman, hasil kebun orang tua siswa, dan hasil tenaga kecil saya di dapur. Semua bertemu. Semua berkumpul. Semua menyatu. Bukankah hidup ini pun seperti itu? Kita berasal dari latar yang berbeda, jarak yang berjauhan, namun Allah Subhanahu Wata'alla mempertemukan dalam satu takdir. Dalam satu meja makan. Dalam satu waktu berbuka.
Ramadhan mengajarkan bahwa berbagi tidak selalu harus besar. Kadang hanya sebungkus teri dari perjalanan jauh. Kadang hanya beberapa buah cabe dan tomat dari kebun rumah. Ketika niatnya tulus, Allah Subhanahu Wata'alla jadikan ia bernilai ibadah. Betapa indahnya cara Allah menyatukan hati manusia. Saya percaya, selama kita terus menjaga rasa syukur dan doa untuk sesama, Allah akan terus mempertemukan kebaikan-kebaikan kecil menjadi keberkahan yang besar. Aamiin Aamiin Aamiin.
Cepu, 21 Pebruari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar