Jumat, 20 Februari 2026

Hio Lo (Xiang Lu)

 


Karya : Gutamining Saida

Sejak lama saya sering melewati sebuah bangunan kecil di pinggir jalan raya Cepu. Letaknya tidak jauh dari kawasan pertokoan lama dan jalur utama ramai dilalui kendaraan. Di depannya tampak sebuah benda seperti wadah besar kadang berwarna merah, hitam atau keemasan. Di dalamnya sering terlihat batang-batang dupa yang tertancap, sebagian masih menyisakan asap tipis. Benda itu dikenal dengan sebutan Hio Lo atau Xiang Lu.

Selama ini saya hanya melihat tanpa benar-benar memahami. Sebagai guru IPS yang belajar sejarah dan budaya, rasa penasaran itu akhirnya terjawab ketika saya mengikuti agenda napak tilas kaum Khonghucu bersama komunitas sejarah Cepu. Kesempatan itu menjadi pengalaman berharga, membuka wawasan bahwa di balik benda sederhana yang sering saya lewati, tersimpan makna religius dan historis yang dalam.

Dalam tradisi Tionghoa dan agama Khonghucu, Hio Lo (Xiang Lu) adalah tempat pembakaran hio atau dupa. Secara harfiah, “xiang” berarti harum (dupa) dan “lu” berarti tungku atau wadah. Jadi Xiang Lu adalah tungku dupa. Biasanya terbuat dari logam seperti perunggu atau besi, kadang juga dari batu. Letaknya bisa di depan kelenteng, di halaman, bahkan di altar kecil yang berada di pinggir jalan atau di depan rumah tertentu.

Di Cepu keberadaan Xiang Lu yang saya lihat berada di dekat tempat ibadah Tionghoa, sekitar area klenteng tua. Salah satunya berkaitan dengan aktivitas di sekitar Klenteng Hok Tik Bio Cepu yang menjadi salah satu jejak sejarah komunitas Tionghoa di kota ini. Letaknya biasanya di bagian depan bangunan atau di halaman luar, sebagai tempat umat menancapkan hio sebelum masuk ke ruang utama.

Dalam kegiatan napak tilas itu, kami dijelaskan bahwa fungsi utama Xiang Lu adalah sebagai media penghormatan dan doa. Umat menyalakan hio, lalu menancapkannya di dalam Xiang Lu sebagai simbol pengharuman doa yang naik ke langit. Asap yang mengepul melambangkan harapan agar doa sampai kepada Tuhan dan juga penghormatan kepada leluhur.

Saya terdiam mendengarkan penjelasan. Ternyata benda yang selama ini saya kira hanya hiasan atau sekadar tempat membakar dupa, membakar kertas doa, memiliki makna spiritual yang dalam. Ia menjadi penghubung simbolik antara manusia dan Yang Maha Kuasa, juga antara generasi sekarang dengan leluhur mereka.

Selain fungsi religius, Xiang Lu juga memiliki fungsi sosial dan budaya. Dalam perayaan hari besar seperti Tahun Baru Imlek atau sembahyang tertentu, Xiang Lu menjadi pusat aktivitas ibadah. Umat datang silih berganti menyalakan hio, berdoa, dan menundukkan kepala dengan khidmat. Suasana menjadi sakral dan penuh penghormatan.

Letaknya yang sering berada di pinggir jalan raya bukan tanpa alasan. Dalam tradisi Tionghoa, altar kecil dengan Xiang Lu di depannya kadang didirikan sebagai bentuk penghormatan kepada penjaga tempat atau simbol perlindungan bagi lingkungan sekitar. Itulah sebabnya kita kadang melihat Xiang Lu di tepi jalan, di depan toko, atau di sudut bangunan tua. Ia menjadi tanda bahwa di tempat itu ada keyakinan yang hidup dan tradisi yang dijaga turun-temurun.

Sebagai seorang Muslim, mengikuti napak tilas ini bukan untuk mencampuradukkan keyakinan, melainkan untuk memahami keberagaman budaya dan sejarah yang hidup berdampingan di Cepu. Saya semakin menyadari bahwa sebagai bangsa Indonesia, kita diwarisi keragaman yang indah. Setiap simbol memiliki cerita. Setiap bangunan menyimpan jejak masa lalu.

Pengalaman ini juga memperkaya materi pembelajaran IPS yang saya ajarkan. Anak-anak sering melihat hal-hal di sekitar mereka tanpa tahu maknanya. Sama seperti saya dulu yang sering melewati Xiang Lu tanpa tahu apa itu. Padahal, memahami simbol budaya lain justru membuat kita semakin bijak dan toleran.

Saya teringat bagaimana dalam Islam pun ada simbol-simbol ibadah yang memiliki makna mendalam. Begitu pula dalam tradisi Khonghucu, Xiang Lu bukan sekadar wadah, tetapi sarana ekspresi spiritual. Dari situ saya belajar bahwa setiap agama memiliki cara masing-masing dalam mengekspresikan penghormatan dan doa.

Sepulang dari kegiatan napak tilas, ketika kembali melewati Xiang Lu di pinggir jalan raya itu, perasaan saya berbeda. Kini saya tidak lagi memandangnya dengan kebingungan, tetapi dengan pemahaman. Saya tahu bahwa di sana ada sejarah, ada doa, ada nilai yang dijaga oleh sebuah komunitas.

Napak tilas bersama komunitas sejarah bukan hanya perjalanan fisik menyusuri tempat-tempat lama, tetapi juga perjalanan batin memahami keberagaman. Xiang Lu yang sederhana itu menjadi salah satu pelajaran penting bahwa ilmu bisa datang dari mana saja, bahkan dari benda yang setiap hari kita lewati tanpa sadar. Semoga bermanfaat.

Cepu 21 Pebruari 2026



Tidak ada komentar:

Posting Komentar