Sejak lama saya sering melewati
sebuah bangunan kecil di pinggir jalan raya Cepu. Letaknya tidak jauh dari
kawasan pertokoan lama dan jalur utama ramai dilalui kendaraan. Di
depannya tampak sebuah benda seperti wadah besar kadang berwarna merah, hitam atau keemasan. Di dalamnya sering terlihat
batang-batang dupa yang tertancap, sebagian masih menyisakan asap tipis. Benda
itu dikenal dengan sebutan Hio Lo atau Xiang Lu.
Selama ini
saya hanya melihat tanpa benar-benar memahami. Sebagai guru IPS yang belajar sejarah dan budaya, rasa penasaran itu akhirnya terjawab ketika saya
mengikuti agenda napak tilas kaum Khonghucu bersama komunitas sejarah Cepu.
Kesempatan itu menjadi pengalaman berharga, membuka wawasan bahwa di balik
benda sederhana yang sering saya lewati, tersimpan makna religius dan historis
yang dalam.
Dalam tradisi Tionghoa dan agama
Khonghucu, Hio Lo (Xiang Lu) adalah tempat pembakaran hio atau
dupa. Secara harfiah, “xiang” berarti harum (dupa) dan “lu” berarti tungku atau
wadah. Jadi Xiang Lu adalah tungku dupa. Biasanya terbuat dari logam seperti
perunggu atau besi, kadang juga dari batu. Letaknya bisa di depan kelenteng, di
halaman, bahkan di altar kecil yang berada di pinggir jalan atau di depan rumah
tertentu.
Di Cepu keberadaan Xiang
Lu yang saya lihat berada di dekat tempat ibadah Tionghoa, sekitar
area klenteng tua. Salah satunya berkaitan dengan aktivitas di sekitar Klenteng
Hok Tik Bio Cepu yang menjadi salah satu jejak sejarah komunitas Tionghoa
di kota ini. Letaknya biasanya di bagian depan bangunan atau di halaman luar,
sebagai tempat umat menancapkan hio sebelum masuk ke ruang utama.
Dalam kegiatan napak tilas itu,
kami dijelaskan bahwa fungsi utama Xiang Lu adalah sebagai media penghormatan
dan doa. Umat menyalakan hio, lalu menancapkannya di dalam Xiang Lu sebagai
simbol pengharuman doa yang naik ke langit. Asap yang mengepul melambangkan
harapan agar doa sampai kepada Tuhan dan juga penghormatan kepada leluhur.
Saya terdiam mendengarkan
penjelasan. Ternyata benda yang selama ini saya kira hanya hiasan atau
sekadar tempat membakar dupa, membakar kertas doa, memiliki makna spiritual yang dalam. Ia menjadi
penghubung simbolik antara manusia dan Yang Maha Kuasa, juga antara generasi
sekarang dengan leluhur mereka.
Selain fungsi religius, Xiang Lu
juga memiliki fungsi sosial dan budaya. Dalam perayaan hari besar seperti Tahun
Baru Imlek atau sembahyang tertentu, Xiang Lu menjadi pusat aktivitas ibadah.
Umat datang silih berganti menyalakan hio, berdoa, dan menundukkan kepala
dengan khidmat. Suasana menjadi sakral dan penuh penghormatan.
Letaknya yang sering berada di
pinggir jalan raya bukan tanpa alasan. Dalam tradisi Tionghoa, altar kecil
dengan Xiang Lu di depannya kadang didirikan sebagai bentuk penghormatan kepada
penjaga tempat atau simbol perlindungan bagi lingkungan sekitar. Itulah
sebabnya kita kadang melihat Xiang Lu di tepi jalan, di depan toko, atau di
sudut bangunan tua. Ia menjadi tanda bahwa di tempat itu ada keyakinan yang
hidup dan tradisi yang dijaga turun-temurun.
Sebagai seorang Muslim, mengikuti
napak tilas ini bukan untuk mencampuradukkan keyakinan, melainkan untuk
memahami keberagaman budaya dan sejarah yang hidup berdampingan di Cepu. Saya
semakin menyadari bahwa sebagai bangsa Indonesia, kita diwarisi keragaman yang
indah. Setiap simbol memiliki cerita. Setiap bangunan menyimpan jejak masa
lalu.
Pengalaman ini juga memperkaya
materi pembelajaran IPS yang saya ajarkan. Anak-anak sering melihat hal-hal di
sekitar mereka tanpa tahu maknanya. Sama seperti saya dulu yang sering melewati
Xiang Lu tanpa tahu apa itu. Padahal, memahami simbol budaya lain justru
membuat kita semakin bijak dan toleran.
Saya teringat bagaimana dalam
Islam pun ada simbol-simbol ibadah yang memiliki makna mendalam. Begitu pula
dalam tradisi Khonghucu, Xiang Lu bukan sekadar wadah, tetapi sarana ekspresi
spiritual. Dari situ saya belajar bahwa setiap agama memiliki cara masing-masing
dalam mengekspresikan penghormatan dan doa.
Sepulang dari kegiatan napak
tilas, ketika kembali melewati Xiang Lu di pinggir jalan raya itu, perasaan
saya berbeda. Kini saya tidak lagi memandangnya dengan kebingungan, tetapi
dengan pemahaman. Saya tahu bahwa di sana ada sejarah, ada doa, ada nilai yang
dijaga oleh sebuah komunitas.
Napak tilas bersama komunitas
sejarah bukan hanya perjalanan fisik menyusuri tempat-tempat lama, tetapi juga
perjalanan batin memahami keberagaman. Xiang Lu yang sederhana itu menjadi
salah satu pelajaran penting bahwa ilmu bisa datang dari mana saja, bahkan
dari benda yang setiap hari kita lewati tanpa sadar. Semoga bermanfaat.
Cepu 21 Pebruari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar