“Orang Islam masuk klenteng? Memang ada dan boleh?”
Pertanyaan itu sempat terlintas di benak saya sendiri sebelum mengikuti kegiatan napak tilas kaum Tionghoa beberapa waktu lalu. Sebagai muslimah dan guru IPS, tentu saya memahami bahwa setiap agama memiliki tempat suci masing-masing. Dalam konteks belajar sejarah dan mengenal budaya, kesempatan seperti ini sangat berharga. Jika tidak ada event napak tilas, mungkin saya tidak akan pernah tahu seperti apa suasana di dalam klenteng yang selama ini hanya saya lihat dari luar.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh komunitas sejarah. Titik kumpul kami di Masjid Jami’ Cepu, lalu bersama-sama menuju klenteng yang menjadi tujuan. Sebelum berangkat, saya sudah memastikan bahwa izin resmi telah dilakukan beberapa hari sebelumnya. Bagi rombongan yang bukan keturunan Tionghoa atau bukan penganut agama di sana, memang harus ada izin khusus. Saya merasa bersyukur karena rombongan kami diterima dengan baik.
Begitu sampai di halaman klenteng, suasana terasa berbeda. Arsitekturnya khas dengan dominasi warna merah dan emas. Di bagian atap tampak ornamen naga yang melengkung gagah. Kami disambut oleh penjaga klenteng dengan ramah. Beliau menjelaskan tata tertib selama berada di dalam. Kami diminta menjaga sikap, tidak gaduh, dan menghormati orang yang sedang beribadah.
Klenteng yang kami kunjungi adalah Klenteng Hok Siong Bio. Selama ini saya sering melewatinya ketika ada kegiatan di sekitar kota Cepu, tetapi baru kali itu saya masuk ke dalamnya. Perasaan saya campur aduk antara penasaran dan kagum.
Saat memasuki ruang utama, aroma dupa langsung tercium. Asap tipis mengepul dari batang-batang dupa yang menyala di depan altar. Suasana hening dan khidmat. Di ruang utama itu terdapat beberapa patung dewa yang disembah oleh umatnya. Wajah patung-patung itu tampak tegas dan penuh wibawa. Di depannya tersusun meja altar dengan lilin besar berwarna merah yang menyala.
Saya berdiri beberapa langkah dari altar, memperhatikan dengan saksama. Pemandu menjelaskan bahwa masing-masing dewa memiliki makna dan fungsi tertentu dalam keyakinan mereka. Saya mendengarkan dengan penuh rasa ingin tahu, bukan untuk membandingkan, tetapi untuk memahami.
Di dinding kanan dan kiri ruang utama terdapat hiasan berbentuk ular dan kura-kura. Ornamen itu diukir indah dengan detail yang rapi. Saya teringat bagaimana dalam pelajaran IPS saya sering menjelaskan simbol-simbol budaya kepada siswa. Kini saya melihat langsung simbol itu dalam wujud nyata.
Di salah satu sudut ruangan tergantung sebuah gong besar. Di sebelahnya terdapat beduk. Saya sempat bertanya saat melihat beduk itu, karena dalam tradisi Islam, beduk juga digunakan di masjid untuk menandai waktu salat. Ternyata dalam klenteng pun terdapat alat musik yang digunakan pada momen tertentu. Betapa budaya kadang memiliki titik temu dalam bentuk yang berbeda.
Kami dipersilakan melihat semua sudut ruangan. Bahkan boleh bertanya apa saja. Salah satu teman bertanya tentang gambar-gambar dewa yang terpajang di dinding. Pemandu dengan sabar menjelaskan satu per satu. Saya kagum dengan keterbukaannya. Tidak ada kesan tertutup atau curiga. Justru mereka tampak senang karena ada yang ingin belajar.
Sebagai seorang muslim, tentu saya tetap menjaga niat dan akidah. Saya hanya mengamati dan belajar. Dalam hati saya berzikir, memohon agar pengalaman ini menambah wawasan tanpa mengurangi keimanan. Saya teringat pesan bahwa Islam mengajarkan untuk mengenal dan menghargai perbedaan. Allah Subhanahu Wata'alla menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal.
Kunjungan itu membuka mata saya. Selama ini mungkin banyak orang bertanya-tanya, bolehkah seorang muslim masuk klenteng? Dalam konteks ibadah tentu tidak. Dalam konteks edukasi, sejarah, dan penelitian dengan izin resmi pengalaman ini menjadi sarana belajar yang luar biasa.
Saya membayangkan kelak ketika mengajar tentang keberagaman budaya di Indonesia, saya tidak hanya bercerita dari buku, tetapi dari pengalaman nyata. Saya bisa menceritakan bagaimana aroma dupa memenuhi ruangan, bagaimana ornamen ular dan kura-kura menghiasi dinding, bagaimana gong dan beduk tergantung berdampingan, serta bagaimana penjaga klenteng menyambut kami dengan ramah.
Perjalanan napak tilas hari itu bukan sekadar wisata sejarah. Ia menjadi pelajaran tentang toleransi, penghargaan, dan pentingnya dialog. Saya merasa semakin yakin bahwa belajar bisa dilakukan di mana saja, kepada siapa saja. Tidak perlu takut pada perbedaan selama kita memahami batas dan menjaga keyakinan. Semoga bermanfaat
Cepu, 20 Pebruari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar