Kamis, 19 Februari 2026

Game Manajemen Waktu Islami

 

Karya : Gutamining Saida

Hari kedua Pesantren Ramadan di Madin Masjid Masjid Al Mujahidin jatuh pada hari Kamis yang cerah. Sejak pukul delapan pagi, halaman  Diniyah masjid sudah dipenuhi suara riang anak-anak. Dari yang masih duduk di bangku TK dengan wajah polos dan mata berbinar, hingga siswa SMP kelas IX yang mulai beranjak remaja, semua berkumpul dalam satu majelis ilmu. Perbedaan usia itu justru menjadi warna tersendiri ibarat taman bunga dengan berbagai rupa dan aroma, namun tetap satu dalam keindahan.

Setelah materi pagi disampaikan, panitia sepakat memberikan selingan agar anak-anak tidak jenuh. Selingan kali ini bukan sekadar permainan biasa. Kami menamakannya “Game Manajemen Waktu Islami.” Sebuah permainan sederhana. Dalam Islam, waktu bukanlah sesuatu yang boleh disia-siakan. Allah Subhanahu Wata'alla bersumpah atas nama waktu dalam Al-Qur’an Surat Al Ashr, menandakan betapa berharganya ia bagi kehidupan manusia.

Anak-anak dibagi menjadi sepuluh kelompok. Setiap kelompok terdiri dari beragam usia. Yang lebih besar otomatis membimbing adik-adiknya. Di situlah nilai ukhuwah dan kepemimpinan mulai tumbuh secara alami. Masing-masing kelompok mendapatkan delapan kartu berisi kegiatan sehari-hari, seperti bangun tidur, salat Subuh, belajar, membantu orang tua, bermain, mengaji, dan tidur malam, HP.

Tugas mereka adalah mengurutkan kegiatan tersebut sesuai dengan manajemen waktu yang baik menurut ajaran Islam. Kelompok tercepat dan paling tepat akan mendapatkan hadiah yang akan dibagikan pada hari terakhir, Jumat nanti.

“Siap… mulai!” seru ustadzah dengan semangat. Suasana mendadak berubah riuh. Anak-anak mulai berdiskusi. Ada yang langsung menyusun dengan cepat, ada yang masih berdebat kecil.

“Bangun tidur dulu, baru salat Subuh!” kata seorang anak SMP.

“Iya, tapi jangan lupa doa bangun tidur!” sahut adik kecil dari bangku TK dengan polosnya.

Gelak tawa pun pecah. Diskusi sederhana itu menjadi indah karena mengandung kesadaran akan adab dan ibadah. Di kelompok lain, tampak seorang siswa kelas IX dengan sabar menjelaskan kepada adik kelasnya bahwa bermain memang boleh, tetapi tidak boleh melalaikan waktu salat dan belajar. Ia mencontohkan bagaimana Rasulullah membagi waktu antara ibadah, keluarga, sahabat dan umatnya. Tanpa mereka sadari, permainan ini telah menjadi ruang belajar karakter.

Beberapa menit kemudian, satu kelompok berlari kecil menuju papan yang telah disediakan di depan. Dengan wajah sumringah, mereka mulai menempelkan urutan kegiatan yang telah disepakati.

Sorak sorai terdengar. “Allahu Akbar! Sudah selesai!” teriak salah satu anak penuh semangat.

Tawa bahagia memenuhi ruangan. Kelompok lain semakin terpacu. Ada yang sempat salah urutan lalu membetulkan kembali. Ada pula yang hampir selesai namun ragu, kemudian berdiskusi ulang agar lebih tepat.

Keceriaan itu terasa berbeda. Bukan sekadar kegembiraan karena permainan, tetapi ada semangat berlomba dalam kebaikan. Seperti firman Allah yang menganjurkan manusia untuk berlomba-lomba dalam amal saleh.

Ketika semua kelompok telah selesai menempelkan hasilnya, ustadzah mulai memeriksa satu per satu. Ada yang sudah tepat adalah bangun tidur, salat Subuh, membantu orang tua, belajar, bermain secukupnya, mengaji, HP lalu tidur tepat waktu. Ada pula yang masih menempatkan bermain sebelum belajar tanpa batas waktu.

Di situlah momen refleksi dimulai.

Ustadzah kemudian bertanya, “Mengapa salat harus di awal waktu?”

Seorang anak kecil mengangkat tangan, “Karena kalau ditunda bisa lupa, Ustadzah.”

Jawaban polos itu membuat para guru tersenyum. Sederhana, tetapi benar.

Ustadzah melanjutkan, “Waktu adalah amanah. Setiap detik akan dimintai pertanggungjawaban. Kalau kita bisa mengatur waktu, insyaAllah hidup kita tertata. Ibadah terjaga, belajar lancar, dan hati pun tenang.”

Anak-anak menyimak dengan serius. Mereka mungkin belum sepenuhnya memahami filosofi waktu, tetapi benih kesadaran telah ditanamkan.

Perbedaan usia yang semula tampak mencolok kini justru memperlihatkan keindahan kebersamaan. Yang kecil belajar dari yang besar. Yang besar belajar bersabar dan membimbing. Semua sama-sama belajar memaknai Ramadan sebagai bulan latihan latihan menahan diri, latihan disiplin, dan latihan mengelola waktu.

Salah satu momen paling mengharukan adalah ketika seorang anak TK yang kelompoknya belum menjadi yang tercepat tetap tersenyum lebar. Ia berkata, “Tidak apa-apa, yang penting sudah benar.”

Kalimat sederhana itu mengandung pelajaran besar bahwa tujuan bukan hanya menjadi yang tercepat, tetapi menjadi yang tepat.

Akhirnya diumumkan satu kelompok yang paling cepat dan paling benar. Tepuk tangan bergemuruh memenuhi diniyah masjid. Ustadzah menegaskan bahwa hadiah akan diberikan pada hari Jumat, agar mereka tetap semangat mengikuti kegiatan hingga akhir.

“Yang belum menang hari ini, masih punya kesempatan beramal lebih baik,” ujar ustadzah memberi motivasi.

Menjelang siang, suasana mulai tenang kembali. Anak-anak duduk rapi. Hasil urutan kegiatan masih tertempel di papan sebagai pengingat visual bahwa hidup harus terencana.

Kami semua belajar bahwa manajemen waktu bukan hanya teori, melainkan kebiasaan yang harus dilatih sejak dini. Ramadan menjadi madrasah terbaik untuk itu. Saat sahur tepat waktu, berbuka tepat waktu, salat tarawih terjadwal, dan tilawah rutin dilakukan semua adalah praktik nyata mengelola waktu demi ridha Allah Subhanahu Wata'alla.

Tawa, sorak, dan kebersamaan berpadu menjadi kenangan indah yang insyaAllah membekas di hati. Semoga dari permainan sederhana itu, lahir generasi yang menghargai waktu, disiplin dalam ibadah, tekun dalam belajar, dan santun dalam berakhlak. Sebab siapa yang mampu menjaga waktunya, berarti ia sedang menjaga masa depannya di dunia maupun di akhirat. Aamiin Aamiin Aamiin.

 Cepu, 20 Pebruari 2026








Tidak ada komentar:

Posting Komentar