Hari kedua Pesantren Ramadan di
Madin Masjid Masjid Al Mujahidin jatuh pada hari Kamis yang cerah.
Sejak pukul delapan pagi, halaman Diniyah masjid sudah dipenuhi suara
riang anak-anak. Dari yang masih duduk di bangku TK dengan wajah polos dan mata
berbinar, hingga siswa SMP kelas IX yang mulai beranjak remaja, semua berkumpul
dalam satu majelis ilmu. Perbedaan usia itu justru menjadi warna tersendiri
ibarat taman bunga dengan berbagai rupa dan aroma, namun tetap satu dalam
keindahan.
Setelah materi pagi disampaikan,
panitia sepakat memberikan selingan agar anak-anak tidak jenuh. Selingan kali
ini bukan sekadar permainan biasa. Kami menamakannya “Game Manajemen Waktu
Islami.” Sebuah permainan sederhana. Dalam Islam, waktu bukanlah sesuatu yang
boleh disia-siakan. Allah Subhanahu Wata'alla bersumpah atas nama waktu dalam
Al-Qur’an Surat Al Ashr, menandakan betapa berharganya ia bagi kehidupan
manusia.
Anak-anak dibagi menjadi sepuluh
kelompok. Setiap kelompok terdiri dari beragam usia. Yang lebih besar otomatis
membimbing adik-adiknya. Di situlah nilai ukhuwah dan kepemimpinan mulai tumbuh
secara alami. Masing-masing kelompok mendapatkan delapan kartu berisi kegiatan
sehari-hari, seperti bangun tidur, salat Subuh, belajar, membantu orang tua,
bermain, mengaji, dan tidur malam, HP.
Tugas mereka adalah mengurutkan
kegiatan tersebut sesuai dengan manajemen waktu yang baik menurut ajaran Islam.
Kelompok tercepat dan paling tepat akan mendapatkan hadiah yang akan dibagikan
pada hari terakhir, Jumat nanti.
“Siap… mulai!” seru ustadzah
dengan semangat. Suasana mendadak berubah riuh. Anak-anak mulai berdiskusi. Ada
yang langsung menyusun dengan cepat, ada yang masih berdebat kecil.
“Bangun tidur dulu, baru salat
Subuh!” kata seorang anak SMP.
“Iya, tapi jangan lupa doa bangun
tidur!” sahut adik kecil dari bangku TK dengan polosnya.
Gelak tawa pun pecah. Diskusi
sederhana itu menjadi indah karena mengandung kesadaran akan adab dan ibadah.
Di kelompok lain, tampak seorang siswa kelas IX dengan sabar menjelaskan kepada
adik kelasnya bahwa bermain memang boleh, tetapi tidak boleh melalaikan waktu
salat dan belajar. Ia mencontohkan bagaimana Rasulullah membagi waktu antara
ibadah, keluarga, sahabat dan umatnya. Tanpa mereka sadari, permainan ini telah
menjadi ruang belajar karakter.
Beberapa menit kemudian, satu
kelompok berlari kecil menuju papan yang telah disediakan di depan. Dengan
wajah sumringah, mereka mulai menempelkan urutan kegiatan yang telah
disepakati.
Sorak sorai terdengar. “Allahu
Akbar! Sudah selesai!” teriak salah satu anak penuh semangat.
Tawa bahagia memenuhi ruangan.
Kelompok lain semakin terpacu. Ada yang sempat salah urutan lalu membetulkan
kembali. Ada pula yang hampir selesai namun ragu, kemudian berdiskusi ulang
agar lebih tepat.
Keceriaan itu terasa berbeda.
Bukan sekadar kegembiraan karena permainan, tetapi ada semangat berlomba dalam
kebaikan. Seperti firman Allah yang menganjurkan manusia untuk berlomba-lomba
dalam amal saleh.
Ketika semua kelompok telah
selesai menempelkan hasilnya, ustadzah mulai memeriksa satu per satu. Ada yang
sudah tepat adalah bangun tidur, salat Subuh, membantu orang tua, belajar,
bermain secukupnya, mengaji, HP lalu tidur tepat waktu. Ada pula yang masih
menempatkan bermain sebelum belajar tanpa batas waktu.
Di situlah momen refleksi
dimulai.
Ustadzah kemudian bertanya,
“Mengapa salat harus di awal waktu?”
Seorang anak kecil mengangkat
tangan, “Karena kalau ditunda bisa lupa, Ustadzah.”
Jawaban polos itu membuat para
guru tersenyum. Sederhana, tetapi benar.
Ustadzah melanjutkan, “Waktu
adalah amanah. Setiap detik akan dimintai pertanggungjawaban. Kalau kita bisa
mengatur waktu, insyaAllah hidup kita tertata. Ibadah terjaga, belajar lancar,
dan hati pun tenang.”
Anak-anak menyimak dengan serius.
Mereka mungkin belum sepenuhnya memahami filosofi waktu, tetapi benih kesadaran
telah ditanamkan.
Perbedaan usia yang semula tampak
mencolok kini justru memperlihatkan keindahan kebersamaan. Yang kecil belajar
dari yang besar. Yang besar belajar bersabar dan membimbing. Semua sama-sama
belajar memaknai Ramadan sebagai bulan latihan latihan menahan diri, latihan
disiplin, dan latihan mengelola waktu.
Salah satu momen paling
mengharukan adalah ketika seorang anak TK yang kelompoknya belum menjadi yang
tercepat tetap tersenyum lebar. Ia berkata, “Tidak apa-apa, yang penting sudah
benar.”
Kalimat sederhana itu mengandung
pelajaran besar bahwa tujuan bukan hanya menjadi yang tercepat, tetapi menjadi
yang tepat.
Akhirnya diumumkan satu kelompok
yang paling cepat dan paling benar. Tepuk tangan bergemuruh memenuhi diniyah
masjid. Ustadzah menegaskan bahwa hadiah akan diberikan pada hari Jumat, agar
mereka tetap semangat mengikuti kegiatan hingga akhir.
“Yang belum menang hari ini,
masih punya kesempatan beramal lebih baik,” ujar ustadzah memberi motivasi.
Menjelang siang, suasana mulai
tenang kembali. Anak-anak duduk rapi. Hasil urutan kegiatan masih tertempel di
papan sebagai pengingat visual bahwa hidup harus terencana.
Kami semua belajar bahwa
manajemen waktu bukan hanya teori, melainkan kebiasaan yang harus dilatih sejak
dini. Ramadan menjadi madrasah terbaik untuk itu. Saat sahur tepat waktu,
berbuka tepat waktu, salat tarawih terjadwal, dan tilawah rutin dilakukan semua
adalah praktik nyata mengelola waktu demi ridha Allah Subhanahu Wata'alla.
Tawa, sorak, dan kebersamaan
berpadu menjadi kenangan indah yang insyaAllah membekas di hati. Semoga dari
permainan sederhana itu, lahir generasi yang menghargai waktu, disiplin dalam
ibadah, tekun dalam belajar, dan santun dalam berakhlak. Sebab siapa yang mampu
menjaga waktunya, berarti ia sedang menjaga masa depannya di dunia maupun di
akhirat. Aamiin Aamiin Aamiin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar