Kamis, 19 Februari 2026

Komuni Kata Berantai

 


Karya : Gutamining Saida

Suasana pesantren Ramadhan di  Diniyah Masjid Al Mujahidin sedikit berbeda. Memasuki pertengahan kegiatan, terlihat beberapa anak mulai kehilangan fokus. Ada yang mulai menunduk lesu, ada yang saling bercanda kecil dengan teman di sampingnya, bahkan ada yang pandangannya sudah melayang ke luar jendela. Wajar memang, mereka masih anak-anak. Energi yang sejak pagi terkuras untuk menerima materi, menyanyi.

Para guru paham, mendidik anak bukan hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga menjaga hati dan semangatnya tetap hidup. Suasana Ramadhan yang penuh berkah, setiap detik adalah kesempatan menanamkan kebaikan. Maka diputuskanlah sebuah permainan sederhana permainan komuni kata berantai.

Anak-anak diminta berdiri dan membentuk beberapa barisan memanjang ke belakang. Masing-masing kelompok berbaris rapi. Anak yang berdiri paling belakang akan menerima “amanah kata” dari guru. Guru berpesan dengan suara pelan agar tidak terdengar kelompok lain. Kata pertama yang dibisikkan adalah birrul walidain (berbakti kepada orang tua). Kata kedua adalah “Ramadan ceria”.

Sebelum permainan dimulai, salah satu guru memberikan pengantar singkat. Beliau menjelaskan bahwa dalam kehidupan, kita sering menerima amanah baik berupa pesan, ilmu, maupun tanggung jawab. Amanah itu harus dijaga dan disampaikan dengan benar. Seperti ilmu yang kita peroleh, jika tidak dipahami dengan baik, maka bisa berubah maknanya saat disampaikan kepada orang lain. Anak-anak mulai memperhatikan kembali. Rasa penasaran muncul di wajah mereka.

Permainan pun dimulai. Guru membisikkan kata birrul walidain kepada anak paling belakang di kelompok pertama. Anak itu tampak mengernyit, berusaha mengingat dan memahami. Ia lalu membisikkan kepada teman di depannya. Begitu seterusnya, dari satu anak ke anak berikutnya, hingga sampai pada barisan paling depan.

Suasana mendadak menjadi riuh tertahan. Anak-anak berusaha menahan tawa, tetapi tetap serius menyampaikan pesan. Ada yang membisik terlalu pelan hingga temannya harus mendekatkan telinga. Ada pula yang salah dengar namun tetap percaya diri meneruskan pesan.

Ketika giliran anak paling depan maju, guru bertanya, “Apa pesan yang kamu terima?” Anak pertama menjawab dengan yakin, “Biru wali dan!” Spontan teman-temannya tertawa. Guru tersenyum lembut, lalu bertanya lagi kepada kelompok lain. Jawaban berikutnya lebih unik lagi. “Beli wali daun.” Ada pula yang menjawab, “Biru Ramadan.” Bahkan ada yang dengan polos mengatakan, “Biru walimah.”

Gelak tawa pecah di dalam ruang Diniyah. Para guru tetap menjaga agar suasana tidak berlebihan. Di balik tawa itu, ada pelajaran berharga. Kemudian giliran kata kedua, “Ramadan ceria.” Prosesnya sama. Dibisikkan dari belakang hingga ke depan. Hasilnya pun beragam. Ada yang menjawab, “Ramadanceria” menjadi satu kata tak terpisah. Ada yang mengatakan, “Ramadan cerita.” Bahkan ada yang berubah menjadi, “Ramadan sejahtera.”

Di antara beberapa kelompok itu, ada satu kelompok yang berhasil menyampaikan pesan dengan tepat. Anak paling depan berdiri tegap dan menjawab dengan jelas, “Birrul walidain dan Ramadan ceria.”

Semua bertepuk tangan. Guru memberikan apresiasi. Bukan sekadar karena jawaban yang benar, tetapi karena mereka mampu menjaga amanah dengan teliti dan sungguh-sungguh. Setelah permainan selesai, guru mengajak anak-anak duduk kembali di belakang meja masing-masing. Suasana yang tadinya lesu kini berubah menjadi penuh semangat. Wajah-wajah yang semula redup kini kembali bersinar.

Guru lalu menyampaikan hikmah dari permainan tersebut. “Anak-anak,” beliau berkata lembut, “tadi kita belajar bahwa pesan yang tidak dijaga dengan baik bisa berubah maknanya. Begitu juga dengan ilmu agama. Jika kita tidak mendengarkan dengan sungguh-sungguh, maka kita bisa salah memahami. Jika kita salah memahami, lalu mengajarkan kepada orang lain, kesalahan itu akan terus berlanjut.”

Beliau melanjutkan, “Kata pertama tadi adalah birrul walidain. Artinya berbakti kepada orang tua. Itu adalah perintah Allah Subhanahu Wata'alla yang sangat agung. Bahkan dalam Al-Qur’an, setelah perintah menyembah Allah Subhanahu Wata'alla, langsung disambung dengan perintah berbuat baik kepada orang tua. Betapa mulianya kedudukan orang tua.” Beberapa anak mulai terdiam. Mungkin teringat kepada ibu yang menyiapkan sahur, atau ayah yang bekerja keras setiap hari.

“Kata kedua adalah Ramadan ceria. Ramadan seharusnya kita jalani dengan hati yang gembira. Bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga memperbaiki diri, memperbaiki akhlak, memperbaiki cara kita berbicara, dan memperbaiki cara kita menghormati orang tua serta guru.”

Permainan sederhana itu menjadi cermin kecil kehidupan. Bahwa komunikasi yang baik membutuhkan perhatian dan kesungguhan. Bahwa amanah harus dijaga. Bahwa ilmu harus disampaikan dengan benar.

Di akhir sesi, doa dipanjatkan. Semoga Allah Subhanahu Wata'alla menanamkan dalam hati mereka sifat hormat kepada orang tua, taat kepada guru, dan semangat menjaga amanah. Suasana Diniyah  kembali khusyuk. Tawa yang tadi menggema kini berganti dengan ketenangan.

Di Diniyah Masjid Al Mujahidin, 33 anak itu pulang dengan hati yang lebih ringan, lebih ceria, dan semoga lebih dekat kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Semoga ilmunya manfaat sebagai bekal masa depan. Aamiin.

Cepu, 19 Pebruari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar