Karya: Gutamining Saida
Aku memiliki keinginan untuk
berkunjung ke Pondok Pesantren Temboro. Beberapa bulan yang lalu, aku sudah
merencanakan perjalanan ke sana Bersama ibu-ibu pengurus yatim. Bahkan,
kendaraan sudah dipesan dan uang muka sudah dibayarkan. Rncana tinggalah
rencana. Rencana itu gagal karena berbagai kepentingan ibu-ibu pengurus yang
tiba-tiba muncul. Ada yang masih berada
di rumah anaknya di luar kota, ada yang diuji sakit. Aku pun harus menerima
kenyataan bahwa uang muka yang telah dibayarkan hangus begitu saja. Rasanya
kecewa tetap ada, tetapi aku percaya bahwa Allah Subhanahu Wata’alla mungkin
belum menakdirkan aku pergi ke sana.
Hari-hari berlalu, namun
keinginan untuk mengunjungi pondok pesantren itu tidak pernah pudar. Aku sering
mendengar cerita tentang kehidupan santri di sana, tentang kesederhanaan,
ketekunan dalam menuntut ilmu, dan keistimewaan suasana keagamaan yang begitu
kental. Semakin banyak aku mendengar cerita, semakin besar pula keinginanku
untuk bisa merasakan sendiri pengalaman berada di lingkungan tersebut.
Hingga suatu hari, Allah Subhanahu
Wata’alla mempertemukanku dengan sahabatku yang sangat baik. Aku pernah
bercerita dengannya tentang keinginan tersebut. Sehingga sahabatku ini
mengetahui keinginanku yang tertunda. Sahabatku memiliki teman yang memiliki
anak yang belajar atau mondok di sana. Cerita punya cerita sahabatku
menceritakan pada temannya. Akhirnya nomor handphone diberikanlah pada
temannya. Aku diajak berkenalan sekaligus ditarawi untuk ikut di saat dia akan
menjengguk anaknya. Dia dengan tulus menawarkan kepada aku bisa mewujudkan
impianku. Tanpa ragu, aku menerima ajakannya. Aku merasa sangat bersyukur dan
terharu karena Allah Subhanahu Wata’alla mengabulkan keinginanku. Melalui perantara orang baik yang Allah Subhanahu
Wata’alla kirimkan kepadaku.
Akhirnya, hari keberangkatan pun
tiba. Dengan penuh semangat, aku bersiap untuk perjalanan yang telah lama
kudambakan ini. Kami berangkat Minggu pagi sekitar pukul 08.00 WIB agar bisa
sampai di Pondok Temboro sebelum waktu dhuhur. Sepanjang perjalanan, aku
membayangkan bagaimana suasana pondok pesantren yang akan aku kunjungi. Apakah
benar seperti yang diceritakan orang-orang? Ataukah ada kejutan lain yang
menanti?
Setibanya di sana, aku langsung
disambut dengan suasana yang begitu berbeda dari kehidupan sehari-hariku. Aku
melihat santri-santri berjalan dengan pakaian hitam dilengkapi cadar seolah aku
berada di tanah suci. Beberapa dari santriwan mengenakan jubah dengan
dilengkapi peci. Mereka berjalan dengan penuh ketenangan, wajah-wajah mereka
memancarkan keteduhan. Ada yang membawa kitab, ada yang duduk di serambi masjid
sambil menghafal ayat-ayat suci, dan ada pula yang sedang berbincang ringan
dengan teman-temannya.
Aku mengelilingi area pondok
pesantren dengan rasa kagum. Lingkungannya sangat asri, dipenuhi dengan
pepohonan yang rimbun. Bangunan pondok megah beberapa tingkat. Di setiap sudut,
terdengar lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibaca dengan penuh kekhusyukan.
Aku merasa seperti berada di dunia yang berbeda, dunia yang penuh dengan
ketenangan dan keberkahan.
Di sela-sela kunjunganku, aku
berkesempatan berbincang dengan beberapa santri. Mereka dengan senang hati
berbagi cerita tentang kehidupan di dalam pondok pesantren. Salah satu dari
mereka bercerita bagaimana setiap hari mereka harus bangun pukul 03.00 WIB untuk
melaksanakan shalat tahajud dan membaca Al-Qur’an. Setelah Subuh, mereka akan
menghafal hadits, belajar kitab, dan melanjutkan berbagai kegiatan keagamaan
lainnya hingga malam tiba. Rutinitas mereka penuh dengan ilmu dan ibadah,
sesuatu yang membuatku sangat terinspirasi.
Aku juga berkesempatan mendengar
cerita dari santri bagaimana disiplin yang diterapkan di pondok pesantren ini.
Para santri diajarkan untuk hidup mandiri, bertanggung jawab atas kebersihan
kamar mereka sendiri, dan mengatur waktu dengan baik. Tidak ada waktu yang
terbuang sia-sia, setiap detik diisi dengan kegiatan yang bermanfaat. Aku
teringat akan kehidupanku sendiri yang masih sering menyia-nyiakan waktu dengan
hal-hal yang kurang produktif. Aku merasa mendapatkan pelajaran berharga dari
para santri yang jauh lebih muda dariku.
Salah satu momen yang paling
berkesan adalah ketika aku berbincang tentang pentingnya keikhlasan dalam
beribadah dan bagaimana seharusnya seorang Muslim senantiasa memperbaiki niat
dalam setiap perbuatannya. Kata-katanya begitu dalam dan membuatku merenung.
Aku merasa seperti diingatkan kembali tentang tujuan hidup yang sebenarnya,
tentang bagaimana aku harus lebih mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata’alla.
Tak terasa, waktu berlalu begitu
cepat. Hari semakin sore, dan aku diajak bersiap untuk pulang. Rasanya aku
belum puas, masih banyak hal yang ingin aku pelajari dari sini. Namun, aku tahu
bahwa pengalaman singkat ini sudah cukup memberi pelajaran berharga bagi
kehidupanku. Aku merasa sangat bersyukur atas kesempatan yang telah Allah Subhanahu
Wata’alla berikan melalui orang-orang baik di sekitarku.
Dalam perjalanan pulang, aku
merenung. Allah Subhanahu Wata’alla memang memiliki cara-Nya sendiri dalam
mengabulkan doa hamba-Nya. Dulu, ketika aku gagal berangkat ke Temboro, aku
merasa sedih dan kecewa. Namun sekarang, aku menyadari bahwa segala sesuatu
terjadi pada waktunya yang terbaik. Jika aku berangkat saat itu, mungkin aku
tidak akan mendapatkan pengalaman seindah ini. Mungkin aku tidak akan bertemu
dengan teman baik yang telah membantuku mewujudkan impianku. Semua ini adalah
bukti bahwa Allah Subhanahu Wata’alla selalu memberikan yang terbaik bagi
hamba-Nya, hanya saja terkadang kita terlalu terburu-buru dalam menilai segala
sesuatu.
Aku kembali ke kehidupanku dengan
hati yang lebih tenang dan penuh rasa syukur. Aku pulang membawa banyak
pelajaran berharga yang aku dapatkan dari pondok pesantren ini. Aku berjanji
pada diriku sendiri untuk lebih menghargai waktu, lebih bersungguh-sungguh
dalam beribadah, dan lebih banyak bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah
Subhanahu Wata’alla berikan. Aku yakin bahwa kunjungan ini bukanlah yang
terakhir. Suatu hari nanti, aku pasti akan kembali ke Pondok Temboro, membawa
hati yang lebih siap untuk belajar lebih banyak lagi.
Terima kasih ya Allah atas segala
nikmat dan kesempatan ini. Terima kasih juga kepada sahabat baikku yang telah
menjadi perantara dalam mewujudkan impianku. Terimakasih temanku. Semoga
perjalanan ini menjadi langkah awal menuju kehidupan yang lebih baik dan lebih
dekat dengan-Mu. Aamiin.
Cepu, 6 Februari 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar