Rabu, 05 Februari 2025

Mimpiku Menjadi Nyata


 Karya: Gutamining Saida

Aku memiliki keinginan untuk berkunjung ke Pondok Pesantren Temboro. Beberapa bulan yang lalu, aku sudah merencanakan perjalanan ke sana Bersama ibu-ibu pengurus yatim. Bahkan, kendaraan sudah dipesan dan uang muka sudah dibayarkan. Rncana tinggalah rencana. Rencana itu gagal karena berbagai kepentingan ibu-ibu pengurus yang tiba-tiba muncul.  Ada yang masih berada di rumah anaknya di luar kota, ada yang diuji sakit. Aku pun harus menerima kenyataan bahwa uang muka yang telah dibayarkan hangus begitu saja. Rasanya kecewa tetap ada, tetapi aku percaya bahwa Allah Subhanahu Wata’alla mungkin belum menakdirkan aku pergi ke sana.

Hari-hari berlalu, namun keinginan untuk mengunjungi pondok pesantren itu tidak pernah pudar. Aku sering mendengar cerita tentang kehidupan santri di sana, tentang kesederhanaan, ketekunan dalam menuntut ilmu, dan keistimewaan suasana keagamaan yang begitu kental. Semakin banyak aku mendengar cerita, semakin besar pula keinginanku untuk bisa merasakan sendiri pengalaman berada di lingkungan tersebut.

Hingga suatu hari, Allah Subhanahu Wata’alla mempertemukanku dengan sahabatku yang sangat baik. Aku pernah bercerita dengannya tentang keinginan tersebut. Sehingga sahabatku ini mengetahui keinginanku yang tertunda. Sahabatku memiliki teman yang memiliki anak yang belajar atau mondok di sana. Cerita punya cerita sahabatku menceritakan pada temannya. Akhirnya nomor handphone diberikanlah pada temannya. Aku diajak berkenalan sekaligus ditarawi untuk ikut di saat dia akan menjengguk anaknya. Dia dengan tulus menawarkan kepada aku bisa mewujudkan impianku. Tanpa ragu, aku menerima ajakannya. Aku merasa sangat bersyukur dan terharu karena Allah Subhanahu Wata’alla mengabulkan keinginanku.  Melalui perantara orang baik yang Allah Subhanahu Wata’alla kirimkan kepadaku.

Akhirnya, hari keberangkatan pun tiba. Dengan penuh semangat, aku bersiap untuk perjalanan yang telah lama kudambakan ini. Kami berangkat Minggu pagi sekitar pukul 08.00 WIB agar bisa sampai di Pondok Temboro sebelum waktu dhuhur. Sepanjang perjalanan, aku membayangkan bagaimana suasana pondok pesantren yang akan aku kunjungi. Apakah benar seperti yang diceritakan orang-orang? Ataukah ada kejutan lain yang menanti?

Setibanya di sana, aku langsung disambut dengan suasana yang begitu berbeda dari kehidupan sehari-hariku. Aku melihat santri-santri berjalan dengan pakaian hitam dilengkapi cadar seolah aku berada di tanah suci. Beberapa dari santriwan mengenakan jubah dengan dilengkapi peci. Mereka berjalan dengan penuh ketenangan, wajah-wajah mereka memancarkan keteduhan. Ada yang membawa kitab, ada yang duduk di serambi masjid sambil menghafal ayat-ayat suci, dan ada pula yang sedang berbincang ringan dengan teman-temannya.

Aku mengelilingi area pondok pesantren dengan rasa kagum. Lingkungannya sangat asri, dipenuhi dengan pepohonan yang rimbun. Bangunan pondok megah beberapa tingkat. Di setiap sudut, terdengar lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibaca dengan penuh kekhusyukan. Aku merasa seperti berada di dunia yang berbeda, dunia yang penuh dengan ketenangan dan keberkahan.

Di sela-sela kunjunganku, aku berkesempatan berbincang dengan beberapa santri. Mereka dengan senang hati berbagi cerita tentang kehidupan di dalam pondok pesantren. Salah satu dari mereka bercerita bagaimana setiap hari mereka harus bangun pukul 03.00 WIB untuk melaksanakan shalat tahajud dan membaca Al-Qur’an. Setelah Subuh, mereka akan menghafal hadits, belajar kitab, dan melanjutkan berbagai kegiatan keagamaan lainnya hingga malam tiba. Rutinitas mereka penuh dengan ilmu dan ibadah, sesuatu yang membuatku sangat terinspirasi.

Aku juga berkesempatan mendengar cerita dari santri bagaimana disiplin yang diterapkan di pondok pesantren ini. Para santri diajarkan untuk hidup mandiri, bertanggung jawab atas kebersihan kamar mereka sendiri, dan mengatur waktu dengan baik. Tidak ada waktu yang terbuang sia-sia, setiap detik diisi dengan kegiatan yang bermanfaat. Aku teringat akan kehidupanku sendiri yang masih sering menyia-nyiakan waktu dengan hal-hal yang kurang produktif. Aku merasa mendapatkan pelajaran berharga dari para santri yang jauh lebih muda dariku.

Salah satu momen yang paling berkesan adalah ketika aku berbincang tentang pentingnya keikhlasan dalam beribadah dan bagaimana seharusnya seorang Muslim senantiasa memperbaiki niat dalam setiap perbuatannya. Kata-katanya begitu dalam dan membuatku merenung. Aku merasa seperti diingatkan kembali tentang tujuan hidup yang sebenarnya, tentang bagaimana aku harus lebih mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata’alla.

Tak terasa, waktu berlalu begitu cepat. Hari semakin sore, dan aku diajak bersiap untuk pulang. Rasanya aku belum puas, masih banyak hal yang ingin aku pelajari dari sini. Namun, aku tahu bahwa pengalaman singkat ini sudah cukup memberi pelajaran berharga bagi kehidupanku. Aku merasa sangat bersyukur atas kesempatan yang telah Allah Subhanahu Wata’alla berikan melalui orang-orang baik di sekitarku.

Dalam perjalanan pulang, aku merenung. Allah Subhanahu Wata’alla memang memiliki cara-Nya sendiri dalam mengabulkan doa hamba-Nya. Dulu, ketika aku gagal berangkat ke Temboro, aku merasa sedih dan kecewa. Namun sekarang, aku menyadari bahwa segala sesuatu terjadi pada waktunya yang terbaik. Jika aku berangkat saat itu, mungkin aku tidak akan mendapatkan pengalaman seindah ini. Mungkin aku tidak akan bertemu dengan teman baik yang telah membantuku mewujudkan impianku. Semua ini adalah bukti bahwa Allah Subhanahu Wata’alla selalu memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya, hanya saja terkadang kita terlalu terburu-buru dalam menilai segala sesuatu.

Aku kembali ke kehidupanku dengan hati yang lebih tenang dan penuh rasa syukur. Aku pulang membawa banyak pelajaran berharga yang aku dapatkan dari pondok pesantren ini. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk lebih menghargai waktu, lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah, dan lebih banyak bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah Subhanahu Wata’alla berikan. Aku yakin bahwa kunjungan ini bukanlah yang terakhir. Suatu hari nanti, aku pasti akan kembali ke Pondok Temboro, membawa hati yang lebih siap untuk belajar lebih banyak lagi.

Terima kasih ya Allah atas segala nikmat dan kesempatan ini. Terima kasih juga kepada sahabat baikku yang telah menjadi perantara dalam mewujudkan impianku. Terimakasih temanku. Semoga perjalanan ini menjadi langkah awal menuju kehidupan yang lebih baik dan lebih dekat dengan-Mu. Aamiin.

Cepu, 6 Februari 2025

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar