Kamis, 06 Februari 2025

Kisah Bilta dan Buah Mangis

Karya: Gutamining Saida

Saat Bilta mengabarkan bahwa dirinya hamil, kebahagiaan memenuhi rumah kami. Sebagai orang tua, aku merasa bahagia, bangga sekaligus cemas. Saat ingin memastikan semua keinginan terpenuhi selama masa kehamilan. Siapa sangka kehamilan itu membawa cerita lucu sekaligus penuh usaha yang tak akan pernah kulupakan.

Suatu pagi, saat kami sedang berbincang santai bersama adiknnya di rumah, Bilta menelpon mengungkapkan keinginannya. "Miii, kok akhir-akhir ini aku pengin banget makan buah manggis ya? Rasanya nggak enak kalau nggak kesampaian," katanya sambil tertawa suara di ujung kota Tegal.

Aku yang sedang menyeduh teh langsung memutar otak. Manggis memang buah yang enak dan menyegarkan, tetapi mencarinya di pasar seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Meski demikian, aku tahu betul bahwa keinginan ibu hamil, atau biasa disebut ngidam harus dipenuhi. Dalam hati, aku berjanji untuk melakukan apapun agar Bilta bisa mendapatkan buah manggis yang diidamkannya.

Keesokan harinya, aku pergi ke pasar terdekat. Mulai dari lapak buah di ujung barat hingga pedagang keliling di sisi timur pasar sudah kutanyai, tetapi semuanya menggeleng. "Bu, sekarang bukan musim manggis. Coba nanti kalau sudah masuk musim biasanya banyak di sini," ujar salah satu pedagang.

Aku pulang dengan tangan kosong, tetapi hatiku tidak tenang. Aku tidak ingin cucuku kelak mendapat julukan "ngiler" karena saat ibunya hamil, keinginannya tidak terpenuhi. Maka, aku mencari cara lain. Aku mulai bertanya kepada teman-teman dan kerabat, siapa tahu ada yang tahu tempat menjual manggis. Ada satu yang memberikan ide, "Coba pesan dari luar daerah, mungkin ada yang masih menyimpan stok."

Berbekal semangat, aku mencari informasi. Akhirnya, aku menemukan seseorang yang bisa mengirim manggis dari luar kota, meski harga dan ongkos kirimnya cukup mahal. Tanpa pikir panjang, aku setuju. Namun, hari demi hari berlalu dan kabar tentang kiriman manggis itu belum juga datang. Kekhawatiranku semakin besar. Sifat Bilta yang sering marah, ngambek, keras kepala bila memiliki keinginan.

Di sudut tokoku, ada sebuah etalase kaca yang selalu mencuri perhatian siapa saja yang berkunjung. Etalase itu penuh dengan celengan dari tanah liat. Ada yang berbentuk buah-buahan, seperti apel, jeruk, dan tentu saja manggis. Ada juga yang berbentuk hewan lucu seperti kucing, ikan, dan kura-kura. Tak ketinggalan, beberapa model karakter kartun favorit anak-anak juga menghiasinya. Aku menyusun semuanya dengan rapi agar terlihat menarik bagi siapa saja yang melintas. Banyak pembeli yang terpikat, terutama anak-anak yang merengek kepada orang tua mereka untuk membeli satu atau dua celengan.

Aku segera mengambil celengan berbentuk buah manggis di etalase. Bentuknya mirip sekali dengan buah manggis asli. Manggis dengan warna ungu tua yang cantik, lengkap dengan hiasan daun hijau di bagian atasnya. Aku membungkusnya dengan hati-hati, menambahkan catatan kecil yang kutulis dengan penuh cinta yaitu "Untuk Bilta tersayang, ini manggis dari Umi. Meski tidak bisa dimakan, semoga ini bisa mengobati keinginanmu. Maafkan Umi yang belum bisa memenuhi keinginanmu buah anggur yang sesungguhnya.”

Keesokan harinya, aku mengirimkan paket itu ke alamat Tegal. Ketika paket itu sampai, Bilta langsung meneleponku. Suaranya terdengar bercampur antara tawa dan haru. "Miii, Umi kirim manggis? Celengan manggis maksudku? Makasih, Mii," katanya sambil terkekeh.

Meski itu bukan buah manggis sungguhan, Bilta menyimpan celengan itu dengan penuh rasa sayang. Celengan manggis itu menjadi kenangan indah yang penuh makna, mengingatkan kami pada perjuangan kecil yang dibalut cinta.

Beberapa minggu kemudian, akhirnya aku berhasil mendapatkan manggis sungguhan dari seorang teman di luar kota. Aku segera mengirimkannya ke Bilta. Aku membayangkan ketika ia mencicipi manggis itu, wajahnya berseri-seri penuh bahagia. Meski demikian, celengan manggis itu tetap menjadi benda yang istimewa. Celengan buah manggis sebuah pengingat bahwa kasih sayang seorang ibu selalu ada, bahkan dalam bentuk yang paling sederhana.

Cerita ini menjadi kenangan indah yang sering kami ceritakan ulang. Aku bahagia bisa melihat anakku tersenyum, dan lebih bahagia lagi ketika cucuku lahir dengan sehat dan ceria. Celengan buah manggis itu tetap menjadi pengingat betapa besarnya cinta seorang ibu kepada anaknya, dan bagaimana usaha kecil sekalipun bisa berarti besar bagi keluarga.

Cepu, 7 Februari 2025

 


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar