Saat Bilta mengabarkan bahwa
dirinya hamil, kebahagiaan memenuhi rumah kami. Sebagai orang tua, aku merasa bahagia, bangga sekaligus cemas. Saat ingin memastikan semua keinginan terpenuhi
selama masa kehamilan. Siapa sangka kehamilan itu membawa cerita lucu sekaligus
penuh usaha yang tak akan pernah kulupakan.
Suatu pagi, saat kami sedang
berbincang santai bersama adiknnya di rumah, Bilta menelpon mengungkapkan
keinginannya. "Miii, kok akhir-akhir ini aku pengin banget makan buah manggis
ya? Rasanya nggak enak kalau nggak kesampaian," katanya sambil tertawa
suara di ujung kota Tegal.
Aku yang sedang menyeduh teh
langsung memutar otak. Manggis memang buah yang enak dan menyegarkan, tetapi
mencarinya di pasar seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Meski demikian,
aku tahu betul bahwa keinginan ibu hamil, atau biasa disebut ngidam harus
dipenuhi. Dalam hati, aku berjanji untuk melakukan apapun agar Bilta bisa
mendapatkan buah manggis yang diidamkannya.
Keesokan harinya, aku pergi ke
pasar terdekat. Mulai dari lapak buah di ujung barat hingga pedagang keliling
di sisi timur pasar sudah kutanyai, tetapi semuanya menggeleng. "Bu,
sekarang bukan musim manggis. Coba nanti kalau sudah masuk musim biasanya
banyak di sini," ujar salah satu pedagang.
Aku pulang dengan tangan kosong,
tetapi hatiku tidak tenang. Aku tidak ingin cucuku kelak mendapat julukan
"ngiler" karena saat ibunya hamil, keinginannya tidak
terpenuhi. Maka, aku mencari cara lain. Aku mulai bertanya kepada teman-teman
dan kerabat, siapa tahu ada yang tahu tempat menjual manggis. Ada satu yang
memberikan ide, "Coba pesan dari luar daerah, mungkin ada yang masih
menyimpan stok."
Berbekal semangat, aku mencari
informasi. Akhirnya, aku menemukan seseorang yang bisa mengirim manggis dari
luar kota, meski harga dan ongkos kirimnya cukup mahal. Tanpa pikir panjang,
aku setuju. Namun, hari demi hari berlalu dan kabar tentang kiriman manggis itu
belum juga datang. Kekhawatiranku semakin besar. Sifat Bilta yang sering marah,
ngambek, keras kepala bila memiliki keinginan.
Di sudut tokoku, ada sebuah
etalase kaca yang selalu mencuri perhatian siapa saja yang berkunjung. Etalase
itu penuh dengan celengan dari tanah liat. Ada yang berbentuk buah-buahan,
seperti apel, jeruk, dan tentu saja manggis. Ada juga yang berbentuk hewan lucu
seperti kucing, ikan, dan kura-kura. Tak ketinggalan, beberapa model karakter
kartun favorit anak-anak juga menghiasinya. Aku menyusun semuanya dengan rapi
agar terlihat menarik bagi siapa saja yang melintas. Banyak pembeli yang
terpikat, terutama anak-anak yang merengek kepada orang tua mereka untuk
membeli satu atau dua celengan.
Aku segera mengambil celengan
berbentuk buah manggis di etalase. Bentuknya mirip sekali dengan buah manggis
asli. Manggis dengan warna ungu tua yang cantik, lengkap dengan hiasan daun
hijau di bagian atasnya. Aku membungkusnya dengan hati-hati, menambahkan
catatan kecil yang kutulis dengan penuh cinta yaitu "Untuk Bilta
tersayang, ini manggis dari Umi. Meski tidak bisa dimakan, semoga ini bisa
mengobati keinginanmu. Maafkan Umi yang belum bisa memenuhi keinginanmu buah
anggur yang sesungguhnya.”
Keesokan harinya, aku mengirimkan
paket itu ke alamat Tegal. Ketika paket itu sampai, Bilta langsung meneleponku.
Suaranya terdengar bercampur antara tawa dan haru. "Miii, Umi kirim
manggis? Celengan manggis maksudku? Makasih, Mii," katanya sambil
terkekeh.
Meski itu bukan buah manggis
sungguhan, Bilta menyimpan celengan itu dengan penuh rasa sayang. Celengan
manggis itu menjadi kenangan indah yang penuh makna, mengingatkan kami pada
perjuangan kecil yang dibalut cinta.
Beberapa minggu kemudian,
akhirnya aku berhasil mendapatkan manggis sungguhan dari seorang teman di luar
kota. Aku segera mengirimkannya ke Bilta. Aku membayangkan ketika ia mencicipi
manggis itu, wajahnya berseri-seri penuh bahagia. Meski demikian, celengan
manggis itu tetap menjadi benda yang istimewa. Celengan buah manggis sebuah pengingat bahwa
kasih sayang seorang ibu selalu ada, bahkan dalam bentuk yang paling sederhana.
Cerita ini menjadi kenangan indah
yang sering kami ceritakan ulang. Aku bahagia bisa melihat anakku tersenyum,
dan lebih bahagia lagi ketika cucuku lahir dengan sehat dan ceria. Celengan buah manggis itu tetap menjadi pengingat betapa besarnya cinta seorang ibu kepada
anaknya, dan bagaimana usaha kecil sekalipun bisa berarti besar bagi keluarga.
Cepu, 7 Februari 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar