Rabu 29 Januari 2024, aku pergi
ke Pondok Temboro. Sebuah perjalanan yang tak pernah aku duga dan rencanakan
sebelumnya. Dua hari sebelumnya, seseorang mengajakku pergi ke sana. Aku tak
begitu mengenalnya, hanya sekadar tahu namanya dari sahabatku . Ajakan itu
terasa begitu tulus, sehingga aku mempertimbangkannya dengan serius.
Awalnya ada keraguan. Bagaimana
bisa aku pergi bersama seseorang yang belum begitu kukenal? Apalagi di zaman
sekarang di mana setiap orang lebih sibuk dengan urusannya masing-masing. Sulit
rasanya menemukan seseorang yang rela berbagi dan mengajak dengan penuh
keikhlasan. Namun, hatiku tergerak. Mungkin ini adalah salah satu cara Allah
Subhanahu Wata’alla menunjukkan jalan-Nya.
Setelah berbincang lebih lanjut
melalui pesan bersamanya. Aku semakin merasa bahwa ajakan ini bukan sekadar
ajakan biasa. Namun suami saya ajak tidak bisa. Kemudian saya ijin untuk mengajak teman. Dia
memperbolehkan aku membawa teman lain.
"Kalau ada teman yang saya ajak boleh?”,
tulisku dalam pesan. Aku
tersenyum membaca pesan itu. Anehkan, diajak malah mengajak teman-temannya.
Dari jawababnya ada ketulusan yang terpancar. Seolah-olah dia hanya ingin
berbagi kebaikan tanpa mengharapkan balasan apa pun.
“Ibu-ibu ada yang mau diajak ke
Temboro?’’ pesanku terkirim pada ibu-ibu. Emang ibu kenal baik sama yang
mengajak?" tanyanya ragu. Aku hanya menjawab tidak. "Bisa saja, kalau Allah
Subhanahu Wata’alla berkehendak. Kadang, ada hal-hal yang tak bisa kita
jelaskan dengan logika, tapi kita bisa merasakannya dengan hati."
Hari Rabupun tiba. Aku dan
temanku menunggu di depan masjid. Kami
dijemput di depan masjid. Ternyata, dia datang bersama suaminya baru pertama
kali kenal dan ketemu. Meski awalnya canggung, ada rasa nyaman yang perlahan
tumbuh. Kami pun berangkat menuju Pondok Temboro dengan penuh semangat.
Dalam perjalanan, kami berbincang
banyak hal. Serasa sudah mengenal lama. Dia tersenyum dan menjawab,
"Kebaikan itu harus disebarkan. Kalau kita punya kesempatan untuk berbagi
sesuatu yang baik, mengapa tidak? Kadang, kita berpikir terlalu banyak tentang
siapa yang harus kita ajak, padahal bisa jadi orang yang tidak kita kenal
justru sedang membutuhkan ajakan itu." Jawabannya membuatku terdiam
sejenak. Ada kebenaran dalam kata-katanya.
Setibanya di Pondok Temboro, aku
merasakan suasana yang begitu damai. Bangunan pondok yang mewah, santri-santri
yang memakai gamis hitam lengkap dengan cadar. Santri laki memakai gamis, semua
menciptakan ketenangan di dalam hati. Aku mulai memahami mengapa banyak orang
ingin datang ke tempat ini. Ada sesuatu yang berbeda di sini, sesuatu yang
sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Saya melihat bagaimana kehidupan
di pondok berjalan dengan begitu sederhana tetapi penuh keberkahan. Semua itu
membuatku merenung. Betapa selama ini aku sibuk dengan dunia luar, dengan
hiruk-pikuk kehidupan yang sering kali membuat hati gelisah. Di tempat ini, aku
merasa ada ketenangan yang lama kucari.
Akhirnya saya mengakui bahwa
perjalanan ini memberikan banyak pelajaran. Aku pikir awalnya ini hanya
perjalanan biasa, tapi ternyata lebih dari itu. Aku jadi sadar bahwa ada banyak
kebaikan yang masih bisa kita temui, asal kita mau membuka hati.
Dalam perjalanan pulang, aku kembali teringat tentang bagaimana semua ini bermula. Dari sebuah ajakan sederhana melalui WhatsApp, perjalanan ini terjadi. Aku semakin yakin bahwa ketika Allah Subhanahu Wata’alla berkehendak, segala sesuatu bisa terjadi dengan cara yang tak terduga. Mungkin, ini adalah salah satu bentuk kasih sayang-Nya, menunjukkan jalan bagi hamba-Nya yang ingin mencari kebaikan.
Setelah perjalanan ini, aku jadi
berpikir bahwa di dunia yang serba sibuk ini, masih ada orang-orang yang dengan
tulus ingin berbagi kebaikan. Orang-orang yang rela mengajak, membantu, dan
memberi tanpa mengharapkan imbalan. Mungkin, jika lebih banyak orang seperti
itu, dunia ini akan menjadi tempat yang lebih indah.
Aku pulang dengan hati yang lebih
tenang dan pikiran yang lebih terbuka. Perjalanan ini bukan hanya sekadar
perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan hati dan pemahaman. Aku belajar bahwa
terkadang, kita hanya perlu menerima ajakan kebaikan dengan tulus. Tanpa terlalu banyak pertimbangan. Karena
siapa tahu, di balik ajakan itu, ada sesuatu yang Allah Subhanahu Wata’alla siapkan
untuk mengubah hidup kita menjadi lebih baik. Aamiin
Cepu, 7 Februari 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar