Kamis, 06 Februari 2025

Sebuah Perjalanan

Karya: Gutamining Saida

Rabu 29 Januari 2024, aku pergi ke Pondok Temboro. Sebuah perjalanan yang tak pernah aku duga dan rencanakan sebelumnya. Dua hari sebelumnya, seseorang mengajakku pergi ke sana. Aku tak begitu mengenalnya, hanya sekadar tahu namanya dari sahabatku . Ajakan itu terasa begitu tulus, sehingga aku mempertimbangkannya dengan serius.

Awalnya ada keraguan. Bagaimana bisa aku pergi bersama seseorang yang belum begitu kukenal? Apalagi di zaman sekarang di mana setiap orang lebih sibuk dengan urusannya masing-masing. Sulit rasanya menemukan seseorang yang rela berbagi dan mengajak dengan penuh keikhlasan. Namun, hatiku tergerak. Mungkin ini adalah salah satu cara Allah Subhanahu Wata’alla menunjukkan jalan-Nya.

Setelah berbincang lebih lanjut melalui pesan bersamanya. Aku semakin merasa bahwa ajakan ini bukan sekadar ajakan biasa. Namun suami saya ajak tidak bisa. Kemudian saya ijin untuk mengajak teman. Dia memperbolehkan  aku membawa teman lain. "Kalau ada teman yang saya ajak boleh?”,  tulisku  dalam pesan. Aku tersenyum membaca pesan itu. Anehkan, diajak malah mengajak teman-temannya. Dari jawababnya ada ketulusan yang terpancar. Seolah-olah dia hanya ingin berbagi kebaikan tanpa mengharapkan balasan apa pun.

“Ibu-ibu ada yang mau diajak ke Temboro?’’ pesanku terkirim pada ibu-ibu. Emang ibu kenal baik sama yang mengajak?" tanyanya ragu. Aku hanya menjawab tidak.  "Bisa saja, kalau Allah Subhanahu Wata’alla berkehendak. Kadang, ada hal-hal yang tak bisa kita jelaskan dengan logika, tapi kita bisa merasakannya dengan hati."

Hari Rabupun tiba. Aku dan temanku menunggu di depan masjid.  Kami dijemput di depan masjid. Ternyata, dia datang bersama suaminya baru pertama kali kenal dan ketemu. Meski awalnya canggung, ada rasa nyaman yang perlahan tumbuh. Kami pun berangkat menuju Pondok Temboro dengan penuh semangat.

Dalam perjalanan, kami berbincang banyak hal. Serasa sudah mengenal lama. Dia tersenyum dan menjawab, "Kebaikan itu harus disebarkan. Kalau kita punya kesempatan untuk berbagi sesuatu yang baik, mengapa tidak? Kadang, kita berpikir terlalu banyak tentang siapa yang harus kita ajak, padahal bisa jadi orang yang tidak kita kenal justru sedang membutuhkan ajakan itu." Jawabannya membuatku terdiam sejenak. Ada kebenaran dalam kata-katanya.

Setibanya di Pondok Temboro, aku merasakan suasana yang begitu damai. Bangunan pondok yang mewah, santri-santri yang memakai gamis hitam lengkap dengan cadar. Santri laki memakai gamis, semua menciptakan ketenangan di dalam hati. Aku mulai memahami mengapa banyak orang ingin datang ke tempat ini. Ada sesuatu yang berbeda di sini, sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Saya melihat bagaimana kehidupan di pondok berjalan dengan begitu sederhana tetapi penuh keberkahan. Semua itu membuatku merenung. Betapa selama ini aku sibuk dengan dunia luar, dengan hiruk-pikuk kehidupan yang sering kali membuat hati gelisah. Di tempat ini, aku merasa ada ketenangan yang lama kucari.

Akhirnya saya mengakui bahwa perjalanan ini memberikan banyak pelajaran. Aku pikir awalnya ini hanya perjalanan biasa, tapi ternyata lebih dari itu. Aku jadi sadar bahwa ada banyak kebaikan yang masih bisa kita temui, asal kita mau membuka hati.

Dalam perjalanan pulang, aku kembali teringat tentang bagaimana semua ini bermula. Dari sebuah ajakan sederhana melalui WhatsApp, perjalanan ini terjadi. Aku semakin yakin bahwa ketika Allah Subhanahu Wata’alla berkehendak, segala sesuatu bisa terjadi dengan cara yang tak terduga. Mungkin, ini adalah salah satu bentuk kasih sayang-Nya, menunjukkan jalan bagi hamba-Nya yang ingin mencari kebaikan.

Setelah perjalanan ini, aku jadi berpikir bahwa di dunia yang serba sibuk ini, masih ada orang-orang yang dengan tulus ingin berbagi kebaikan. Orang-orang yang rela mengajak, membantu, dan memberi tanpa mengharapkan imbalan. Mungkin, jika lebih banyak orang seperti itu, dunia ini akan menjadi tempat yang lebih indah.

Aku pulang dengan hati yang lebih tenang dan pikiran yang lebih terbuka. Perjalanan ini bukan hanya sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan hati dan pemahaman. Aku belajar bahwa terkadang, kita hanya perlu menerima ajakan kebaikan dengan tulus.  Tanpa terlalu banyak pertimbangan. Karena siapa tahu, di balik ajakan itu, ada sesuatu yang Allah Subhanahu Wata’alla siapkan untuk mengubah hidup kita menjadi lebih baik. Aamiin

Cepu, 7 Februari 2025

 


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar