Sabtu, 15 Maret 2025

Telur Ayam Yang Luar Biasa

Karya: Gutamining Saida

Bulan Ramadan selalu membawa suasana yang berbeda di sekolah. Suasana kebersamaan lebih terasa. Setiap siswa terlihat lebih semangat menjalani hari-hari mereka meskipun sedang berpuasa. Salah satu hal yang membuat ramadan tahun ini semakin spesial adalah adanya program makan bergizi gratis dari pemerintah. Setiap siswa mendapatkan jatah makanan sehat untuk berbuka puasa, berupa telur rebus, buah (pisang, jeruk), energen saset, roti, kurma. Hari biasa nasi, sayur, lauk pauk dan buah. Telur ayam rebus sebagai sumber protein.

Di antara siswa yang menerima jatah makanan ini. Seorang anak bernama Nauril. Ia adalah anak yang kreatif dan selalu punya ide-ide unik di kepalanya. Dia mudah merasa bosan jika hanya duduk diam tanpa melakukan sesuatu yang menarik.

Setelah menerima jatah makanan bergizi, Nauril duduk di kelas sambil memperhatikan telur ayam rebus yang ia dapatkan. Alih-alih langsung menyimpannya untuk berbuka nanti, dia justru mengambil pulpen dari dalam tasnya dan mulai menggambar di permukaan telur.

Saya yang kebetulan sedang berkeliling kelas melihatnya.  Saya penasaran dengan apa yang ia lakukan.

"Apa yang sedang kamu lakukan, Nauril?" tanya saya sambil mendekati mejanya.

"Saya menggambar, Bu," jawabnya singkat sambil tetap fokus pada telur di tangannya.

Saya melihat dengan kagum. Dia menggunakan pulpen sederhana, ia berhasil membuat pola-pola unik di permukaan telur itu. Motif wajah dilengkapi rambut

"Keren sekali! Dari mana kamu dapat ide untuk menggambar di telur?" tanya saya lagi.

Nauril mengangkat bahu. "Tadi saya lihat telur ini, polos banget. Jadi, kenapa tidak saya hias saja? Lumayan buat mengisi waktu."

Saya tersenyum mendengar jawabannya. Ramadan memang momen yang tepat untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat. Saya merasa senang melihat Nauril menggunakan kreativitasnya dengan cara yang unik.

Proses menghias telur ini ternyata sangat menyenangkan baginya. Ada yang menggambar Nauril, yang awalnya hanya iseng, kini menemukan sesuatu yang benar-benar ia sukai. Ia bahkan mulai melukis dengan hati.

Melihat perkembangan ini, saya semakin yakin bahwa kreativitas siswa harus selalu didukung. Tidak semua pembelajaran harus selalu berbentuk teori dan hafalan. Terkadang, memberi mereka ruang untuk mengekspresikan diri bisa menghasilkan sesuatu yang luar biasa.

Dari sebutir telur ayam rebus yang awalnya hanya bagian dari jatah makan bergizi gratis, lahirlah karya seni yang unik. Dan dari tangan seorang anak yang awalnya hanya ingin mengisi waktu luang sebelum berbuka, muncul sebuah bakat yang mungkin akan berkembang lebih besar di masa depan. Selamat berkarya.

Cepu, 16 Maret 2025

 


 

Semangat Literasi

Karya : Gutamining Saida
 
Setelah melaksanakan salat tarawih di musala dekat rumah, saya duduk sejenak di teras. Udara malam terasa sejuk, membelai wajah dengan lembut. Saya menarik napas dalam-dalam, menikmati ketenangan yang hanya bisa dirasakan di bulan Ramadan.

Seperti biasa sebelum beristirahat, saya mengecek handphone. Barangkali ada pesan penting yang masuk. Jari-jari saya menggeser layar perlahan, membaca satu per satu notifikasi yang masuk. Tiba-tiba, mata saya tertuju pada chat dari sahabatku, bu Emy

"Ada lomba literasi, mungkin njenengan tertarik ikut? Ini posternya," tulisnya.

Saya segera membuka file yang dikirimkan. Mata saya membelalak, membaca dengan penuh perhatian. Lomba menulis bertema Ramadan. Kategori umum, terbuka bagi siapa saja yang memiliki minat menulis. Tanpa sadar, senyum tersungging di wajah.

Hati saya bergetar penuh semangat. Literasi adalah dunia yang saya cintai. Saya memang bukan penulis profesional, tapi saya selalu merasa nyaman menuangkan pikiran dalam tulisan. Bagi saya, menulis bukan sekadar hobi, melainkan sarana untuk memahami diri sendiri dan berbagi inspirasi dengan orang lain.

Tanpa berpikir panjang, saya mengetik balasan kepada bu Emy.

"Terima kasih, saya coba ikut. ?"

Tak sampai satu menit, bu Emy membalas, "Masih ada waktu empat hari. Aku yakin njenengan bisa!"

Empat hari! Waktu yang cukup untuk menyusun tulisan dengan baik. Saya kembali membaca persyaratan lomba. Panjang tulisan minimal 700 kata, harus orisinal, dan mengandung pesan inspiratif seputar Ramadan. Saya menghela napas, mencoba merancang ide dalam kepala.

Malam semakin larut, tapi saya justru semakin bersemangat. Saya mengambil buku catatan kecil di meja dan mulai mencoret-coret ide yang muncul. Ramadan adalah bulan penuh keberkahan, bulan refleksi dan perjuangan. Banyak kisah menarik yang bisa diangkat.

Sambil merenung, saya teringat pengalaman berharga yang terjadi Ramadan tahun ini.  Saya berusaha menyeimbangkan kesibukan pekerjaan dengan ibadah, sambil tetap meluangkan waktu untuk menulis. Saya ingat betapa sulitnya menjaga konsistensi, tapi pada akhirnya saya berhasil menyelesaikan beberapa tulisan yang mendapat apresiasi dari teman-teman.

Aha! Saya bisa menulis tentang perjuangan menjaga konsistensi dalam beribadah dan berkarya di bulan Ramadan!

Saya segera membuka laptop dan mulai mengetik. Kata demi kata mengalir begitu saja. Saya menuliskan bagaimana tantangan terbesar dalam bulan Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan juga menahan rasa malas dan godaan untuk menunda-nunda kebaikan.

Saya bercerita tentang bagaimana saya berusaha tetap produktif di tengah jadwal yang padat, bagaimana saya terkadang gagal, tapi tetap berusaha bangkit. Saya ingin tulisan ini bukan hanya menjadi kisah pribadi, tapi juga bisa menginspirasi orang lain yang mengalami hal serupa.

Waktu berlalu tanpa terasa. Saya melirik jam di dinding sudah hampir pukul sebelas. Saya menghela napas lega. Draft pertama sudah selesai. Meski masih butuh revisi, saya merasa puas dengan apa yang telah saya tulis.

Saya meregangkan tubuh, kemudian menutup laptop. Saya tersenyum kecil. Bagi saya, kemenangan dalam lomba bukanlah tujuan utama. Yang lebih penting adalah prosesnya bagaimana saya menantang diri untuk terus berkembang, belajar dari setiap kesalahan, dan tetap semangat dalam berkarya.

Lomba ini bukan hanya sekadar ajang kompetisi, tapi juga kesempatan untuk mengasah kemampuan. Saya percaya, setiap usaha yang dilakukan dengan niat baik pasti akan membawa manfaat, entah dalam bentuk kemenangan atau pengalaman berharga.

Saya menutup mata sejenak, berdoa dalam hati.

"Ya Allah, aku berusaha dengan sebaik-baiknya. Menang atau tidak, aku serahkan pada-Mu. Yang penting, aku telah berjuang."

Dengan perasaan lega dan penuh syukur, saya akhirnya merebahkan diri di tempat tidur. Mata saya perlahan terpejam, tapi hati saya masih dipenuhi semangat. Esok, saya akan kembali membaca tulisan saya, memperbaiki yang perlu diperbaiki, dan mengirimkan naskah terbaik saya.

Malam itu, saya tidur dengan senyuman. Ramadan bukan hanya bulan ibadah, tapi juga bulan perjuangan. Dan saya telah memilih untuk berjuang, dalam dunia yang saya cintai yaitu literasi.
Cepu, 16 Maret 2025 

Senin, 10 Maret 2025

Menebar Manfaat

Karya: Gutamining Saida

Langit masih tampak mendung ketika kami berangkat menuju Bojonegoro untuk menghadiri takziah. Udara pagi terasa sejuk dan jalanan masih lengang. Perjalanan ini bukan sekadar perjalanan biasa; ada rasa duka yang menyelimuti hati karena kabar kepergian mertua adikku. 

Di dalam mobil, saya duduk di dekat jendela, membiarkan pemandangan luar melintas begitu saja. Sambil merenungkan makna kehidupan, saya teringat satu hal yang ingin saya lakukan hari ini. Saya mempraktikkan ilmu yang diajarkan oleh Bu Wiwik, seorang rekan guru yang luar biasa.

Bu Wiwik adalah sosok yang penuh semangat dalam berbagi ilmu, terutama dalam dunia menulis. Ia percaya bahwa ilmu tidak akan berkurang ketika dibagikan, justru sebaliknya. Semakin banyak berbagi, semakin luas manfaat yang bisa dirasakan. Saya mengingat jelas bagaimana ia selalu mendorong teman-teman guru untuk menulis, mencatat pengalaman, dan membagikan pemikiran melalui tulisan.

Menurutnya, menulis bukan hanya tentang menuangkan kata-kata, tetapi juga tentang mengabadikan perjalanan hidup, mencatat momen-momen berharga, serta berbagi hikmah bagi orang lain. "Ilmu itu seperti cahaya," katanya suatu hari. "Jika kamu simpan sendiri, ia hanya menerangi sedikit ruang. Tapi jika kamu bagikan, cahayanya bisa menyinari lebih banyak orang."

Kata-katanya begitu membekas dalam hati saya. Sejak saat itu, saya mulai mencoba menulis, meskipun awalnya tidak mudah. Ada rasa ragu, takut tulisan saya tidak bermakna, atau tidak cukup baik untuk dibaca orang lain. Namun, Bu Wiwik selalu memberi semangat, meyakinkan bahwa yang terpenting adalah memulai.

Perjalanan menuju Bojonegoro cukup panjang dan saya berpikir ini adalah waktu yang tepat untuk praktik menulis. Saya mengeluarkan ponsel, membuka aplikasi catatan, dan mulai mengetik. Saya menulis tentang perjalanan ini tentang makna takziah, tentang perasaan kehilangan, dan tentang bagaimana setiap peristiwa bisa menjadi bahan renungan.

Menulis di perjalanan memberi saya ruang untuk berpikir lebih dalam. Saya teringat bagaimana takziah selalu menjadi pengingat bagi kita semua bahwa hidup ini sementara. Setiap orang memiliki waktunya sendiri dan kita tidak pernah tahu kapan giliran kita akan tiba.

Di sela-sela menulis, saya teringat kembali bagaimana Bu Wiwik selalu menekankan bahwa tulisan bisa menjadi warisan berharga. "Bayangkan, ketika kita sudah tiada, tulisan kita masih bisa dibaca orang lain, masih bisa menginspirasi dan memberi manfaat," katanya.

Saya semakin bersemangat. Kata demi kata mengalir dan saya merasa bahwa menulis memang seperti berbicara dengan diri sendiri. Menulis bukan hanya tentang mengabadikan cerita, tetapi juga tentang memahami makna di balik setiap kejadian.

Saat mobil memasuki kawasan Bojonegoro, saya menyimpan tulisan saya dan merasa lega. Meskipun belum selesai sepenuhnya, setidaknya saya telah memulai. Saya tersenyum kecil, mengingat pesan Bu Wiwik bahwa ilmu harus terus dibagikan. Hari ini, saya bukan hanya menghadiri takziah, tetapi juga belajar untuk terus mengasah kemampuan menulis.

Saya berjanji pada diri sendiri untuk tidak ragu berbagi ilmu seperti yang dilakukan Bu Wiwik. Jika suatu hari ada orang lain yang ingin belajar menulis, saya akan dengan senang hati membimbingnya, sebagaimana saya pernah dibimbing.

Perjalanan ini memberi saya dua pelajaran berharga: bahwa kematian adalah pengingat agar kita lebih memanfaatkan waktu dengan baik dan bahwa ilmu yang kita miliki akan semakin berkembang jika kita bersedia berbagi. Karena sejatinya, ilmu bukan untuk disimpan sendiri, melainkan untuk menerangi banyak orang.
Cepu, 11 Maret 2025

Cermin Kehidupan


Karya: Gutamining Saida

Langit tampak mendung ketika saya, suami dan ibu berangkat menuju rumah duka. Suasana di sepanjang jalan terasa sunyi, seolah alam pun ikut berduka. Saya menatap ke luar jendela, memikirkan betapa hidup ini penuh misteri. Setiap manusia memiliki waktunya sendiri, dan tidak ada seorang pun yang tahu kapan ajal akan menjemput.

Sesampainya di rumah duka, suasana haru begitu terasa. Beberapa kerabat almarhum duduk di teras dengan wajah penuh kesedihan. Isak tangis terdengar samar dari dalam rumah. Kami berjalan perlahan, menyalami keluarga yang ditinggalkan, memberikan ucapan belasungkawa, dan ikut mendoakan kepergian almarhum.

Saya duduk di antara pelayat lain, mencoba merenungkan peristiwa ini. Setiap kali menghadiri takziah, ada perasaan yang selalu hadir dalam hatebuah kesadaran bahwa hidup ini hanyalah perjalanan singkat. Kita semua adalah musafir yang sedang menempuh perjalanan menuju kehidupan yang lebih abadi.

Salah satu saudara mengingatkan kami semua tentang hakikat kematian. “Saudara-saudaraku, kita semua akan mengalami kematian. Tidak ada yang bisa menghindarinya, tidak ada yang bisa menundanya. Semua sudah ditentukan oleh Allah, tanpa bisa dimajukan atau diundur.”

Kata-katanya begitu menohok. Saya teringat beberapa kejadian yang pernah saya saksikan sendiri. Ada orang yang meninggal setelah bertahun-tahun melawan penyakit, ada yang meninggal tiba-tiba dalam kecelakaan, dan ada pula yang pergi dalam kondisi sehat tanpa tanda-tanda sebelumnya. Semua itu mengingatkan saya bahwa kematian tidak memilih usia atau keadaan.

Saya teringat seorang sahabat lama yang beberapa waktu lalu berpulang. Dia adalah sosok yang selalu ceria, penuh semangat, dan tidak pernah mengeluh. Saat terakhir kali bertemu, tidak ada yang aneh darinya. Namun, beberapa hari kemudian, kabar duka itu datang begitu mengejutkan. Ia meninggal mendadak dalam tidurnya. Tidak sakit, tidak ada tanda-tanda.

Peristiwa itu benar-benar menyadarkan saya bahwa hidup ini begitu rapuh. Kita bisa merencanakan banyak hal untuk masa depan, tetapi tidak ada jaminan kita akan sampai ke sana. Yang bisa kita lakukan hanyalah memanfaatkan waktu yang tersisa dengan sebaik mungkin.

Di rumah duka, suasana semakin syahdu ketika lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an terdengar. Doa-doa dipanjatkan untuk almarhum, agar mendapat tempat terbaik di sisi-Nya. Saya menutup mata, membiarkan hati ini larut dalam doa, sembari mengingat diri sendiri. Sudah sejauh mana saya mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian?

Kematian bukan akhir, melainkan gerbang menuju kehidupan yang sebenarnya. Rumah masa depan kita bukanlah rumah yang kita tinggali saat ini, melainkan tempat yang kekal di akhirat. Seberapa banyak bekal yang sudah saya kumpulkan untuk perjalanan menuju ke sana?

Saya menarik napas panjang. Dalam kehidupan yang penuh kesibukan ini, sering kali kita lupa bahwa waktu terus berjalan, usia semakin berkurang, dan kesempatan untuk berbuat baik semakin sempit. Takziah seperti ini menjadi pengingat bahwa hidup harus dijalani dengan penuh makna.

Ketika acara selesai, saya berpamitan kepada keluarga almarhum. Langkah kaki saya terasa lebih berat, bukan karena lelah, tetapi karena hati yang dipenuhi renungan. Saya sadar, setiap hari yang berlalu membawa kita semakin dekat dengan kematian.

Dalam perjalanan pulang, saya berjanji pada diri sendiri untuk lebih menghargai waktu yang tersisa. Saya ingin lebih banyak berbuat kebaikan, lebih banyak berbagi dengan sesama, dan lebih banyak mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata'ala. Karena pada akhirnya, hanya amal yang akan menemani kita ke alam keabadian.

Takziah hari ini bukan sekadar hadir untuk mendoakan orang yang telah pergi, tetapi juga menjadi pelajaran berharga bagi saya. Kematian memang rahasia Allah Subhanahu Wata'alla, tapi bagaimana kita mengisi hidup adalah pilihan kita sendiri.
Cepu, 11 Maret 2025

Kutemukan Inspiratorku

 


Karya: Gutamining Saida

Dua bulan sudah saya bertugas di SMPN 3 Cepu. Meski awalnya ada rasa canggung. Saya perlahan-lahan mulai terbiasa dengan lingkungan baru ini. Setiap sudut sekolah ini mulai terasa akrab, dari ruang guru yang penuh diskusi hingga ruang kelas yang dipenuhi canda tawa siswa. Ada satu pertemuan yang tidak pernah saya sangka akan begitu berarti dalam perjalanan keahidupan ini.  Saya dipertemukan dengan seorang blogger hebat bernama Bu Wiwik.

Saya mengenalnya pertama kali saya datang ke SMPN 3 Cepu di ruang guru. Saat itu ruang guru masih berada di ruang Sasana Krida. Saya datang pertama kali dengan maksud unjuk muka. Di sana bertemu beberapa guru yang piket dianrtaranya bu Wiwik. Kesan pertama selalu melekat di hati. Sekilas saya hanya tahu bahwa beliau adalah salah satu guru senior mata Pelajaran Bahasa Inggris. Dia yang memiliki segudang kesibukan. Saya terkesan adalah caranya berbicara yang lugas dan pemikirannya yang tajam. Ia selalu menyampaikan ide dengan jelas, ringkas dan penuh makna. Dari cara beliau berbicara saja, saya bisa merasakan bahwa beliau adalah seseorang yang terampil dalam menulis.

Rasa penasaran saya semakin besar ketika suatu hari, dia cerita bahwa dia blogger yang cukup dikenal. Beliau itu luar biasa. Selain mengajar dia juga menulis di blog pribadinya. Banyak tulisannya yang ditulisnya baik itu bersifat inspiratif, motivasi, hiburan, cerpen, puisi dan sebagainya. Semua itu  banyak bermanfaat bagi pembaca.

Mendengar itu, saya semakin tertarik untuk mengenalnya lebih dalam. Saya sendiri memang menyukai dunia tulis-menulis, tapi selama ini saya hanya menulis sesekali untuk diri sendiri. Saya hanya sekedar bisa-bisa an saja.

Saya memberanikan diri untuk bertanya langsung kepada Bu Wiwik. Saat istirahat di ruang guru, saya menghampirinya. "Bu, saya diajari menjadi blogger, ya? Saya penasaran, bagaimana awalnya Ibu terjun ke dunia blogging?"

Bu Wiwik mulai menulis di blog sejak beberapa tahun lalu. Awalnya hanya untuk mengisi waktu luang, tapi lama-lama saya merasa menulis adalah cara terbaik untuk berbagi ilmu dan pengalaman. Saya semakin tertarik mendengar ceritanya. "Bagaimana Ibu bisa konsisten menulis? Padahal sibuk luar biasa.” tanya saya singkat.

Bu Wiwik tertawa kecil. "Kuncinya ada di manajemen waktu. Saya selalu menyisihkan waktu setiap hari, meskipun hanya 15-30 menit untuk menulis. Kalau kita menunggu waktu luang, tulisan itu tidak akan pernah selesai. Kita yang harus meluangkan waktu untuknya," jelasnya.

Sejak hari itu, saya semakin sering berbincang dengannya. Saya belajar banyak hal, mulai dari cara mencari ide tulisan. Bagaimana menulis dengan gaya yang menarik, hingga bagaimana mengelola blog agar lebih bermanfaat bagi banyak orang. Yang saya kagumi dari Bu Wiwik bukan hanya kemampuannya dalam menulis, tetapi juga sikapnya yang tidak pelit ilmu.

Bu Wiwik mengajarkan saya langkah demi langkah. Ia membantu saya membuka akun blog, memilih tema yang sesuai, hingga mengajarkan bagaimana cara menulis artikel yang menarik. "Yang penting jangan takut memulai. Tidak perlu sempurna, yang penting konsisten," katanya singkat.

Saya mengikuti sarannya. Saya mulai menulis satu per satu artikel, meskipun awalnya masih sederhana. Namun, semakin saya menulis, semakin saya merasakan kepuasan tersendiri. Saya mulai memahami bahwa menulis bukan hanya tentang berbagi. Tetapi juga tentang mengabadikan pemikiran dan pengalaman.

Saya semakin terinspirasi oleh Bu Wiwik. Saya melihat bagaimana beliau mampu mengatur waktu dengan sangat efisien. Di tengah kesibukannya sebagai seorang guru, beliau masih bisa menulis dan berkarya. Saya sering merasa iri, tetapi itu adalah iri yang bersifat positif. Sifat iri yang mendorong saya untuk terus belajar dan berkembang.

Setiap kali saya merasa malas brkarya saya mengingat kata-kata Bu Wiwik, "Menulis itu seperti menanam pohon. Awalnya kecil, tapi kalau kita rawat dengan baik, suatu hari akan tumbuh besar dan memberi manfaat."

Saya bersyukur pada Allah Subhanahu Wata’alla dipertemukan dengan Bu Wiwik. Beliau bukan hanya seorang guru yang hebat, tetapi juga seorang inspirator yang telah membuka mata saya tentang pentingnya berkarya. Saya berdoa semoga ilmu yang beliau bagikan semakin berkah, dan semoga saya pun bisa menjadi seseorang yang bermanfaat bagi orang lain, seperti beliau. Di SMPN 3 Cepu saya tidak hanya menemukan tempat mengajar.  Namun juga menemukan inspirasi yang akan terus saya bawa dalam perjalanan hidup saya. Aamiin

Cepu, 11 Maret 2025

 


Minggu, 09 Maret 2025

Kejutan Manis di hari Sabtu

 

Karya: Gutamining Saida

Sabtu tanggal 8 Maret 2025, hari yang cerah dan hangat. Seperti biasa saya menghabiskan pagi dengan kegiatan rutin di sekolah. Hari itu terasa sedikit berbeda ada semacam firasat yang sulit dijelaskan. Suara motor kurir terdengar mendekat, berhenti tepat di depan gerbang rumah. Seorang kurir datang membawa sebuah paket yang diterima anak bungsuku. Dia memberitahuku bila dapat kiriman dari seorang kurir.

Rasa penasaran langsung menyergap. Saya jarang sekali berbelanja online.  Dengan hati-hati, saya menerima paket dari anak bungsuku. Saya mulai membolak-baliknya, mencari nama pengirim. Rasa bingung semakin bertambah karena tidak menemukan nama yang familiar. Setelah beberapa saat, akhirnya mata saya menangkap sebuah nama. Nama putri sulung saya.

"Anakku yang pertama?" gumam saya dalam hati. "Tapi, kenapa dia mengirim paket? Bulan ini tidak ada momen spesial, bukan ulang tahun bukan hari ibu juga bukan hari istimewa lainnya."

Kebingungan bercampur rasa penasaran membuat saya segera membuka paket tersebut. Paket berukuran panjang 30 cm sedang lebar 15 cm. Kurobek bungkusnya, di dalamnya terdapat sebuah bantal duduk yang tampak nyaman dan empuk. Sebuah senyuman langsung menghiasi wajah saya. Meskipun sederhana, hadiah ini terasa sangat istimewa.

Rasa syukur langsung membanjiri hati saya. Allah Subhanahu Wata’alla selalu memberikan rezeki yang tak terduga. Melalui cara yang paling sederhana. Hadiah ini terasa seperti berkah di bulan yang suci ini. Saya merenung, mungkin ini adalah cara Allah Subhanahu Wata’alla mengabulkan doa-doa kecil yang sering saya panjatkan.

Saya teringat akan putri sulung saya. Dia adalah sosok yang perhatian dan penuh kasih sayang. Meskipun jarang bertemu karena kesibukan dan tempat tinggalnya jauh berada di kota Tegal. Dia selalu berusaha menunjukkan perhatiannya. Hadiah ini adalah salah satu bentuk perhatiannya yang membuat hati saya terharu.

Bantal duduk ini bukan sekadar benda mati. Ini adalah simbol cinta dan perhatian dari seorang anak kepada uminya. Setiap kali saya duduk di atasnya, saya akan teringat akan kebaikan hatinya. Saya membayangkan betapa bahagianya dia saat memilih dan mengirimkan hadiah ini.

Saya berdoa kepada Allah Subhanahu Wata’alla agar kebaikan putri saya selalu dilimpahkan dengan kebaikan yang berlipat ganda. Semoga dia dan keluarganya selalu diberikan kesehatan, kebahagiaan dan keberkahan dalam hidup. Semoga setiap langkahnya selalu dilindungi dan diridhoi oleh Allah Subhanahu Wata’alla.

Hadiah ini juga mengingatkan saya akan pentingnya bersyukur atas setiap rezeki yang diberikan Allah Subhanahu Wata’alla. Terkadang, kita terlalu fokus pada hal-hal besar.  Kita melupakan nikmat-nikmat kecil yang sebenarnya sangat berharga. Bantal duduk ini adalah salah satu nikmat kecil yang memberikan kebahagiaan besar bagi saya.

Saya juga belajar bahwa cinta dan perhatian tidak selalu diukur dari materi. Sebuah hadiah sederhana yang diberikan dengan tulus dapat memiliki makna yang jauh lebih dalam. Ini adalah pelajaran berharga yang akan selalu saya ingat.

Kali ini saya tidak hanya menerima sebuah bantal duduk, tetapi juga sebuah pelajaran tentang cinta, syukur, dan kebahagiaan. Saya merasa sangat beruntung memiliki putri yang begitu perhatian dan penuh kasih sayang. Semoga Allah Subhanahu Wata’alla. selalu menjaga dan melindungi keluarga kami.

Saya berharap cerita ini dapat menginspirasi orang lain.  Untuk selalu bersyukur atas setiap rezeki yang diberikan Allah Subhanahu Wata’alla sekecil apapun itu. Jangan pernah lupakan orang-orang yang kita cintai dan tunjukkanlah cinta dan perhatian kita kepada mereka. Karena cinta dan perhatian adalah hadiah terindah yang bisa kita berikan.

Cepu, 10 Maret 2025


Jumat, 07 Maret 2025

Bingkisan Di Dalam Tas Kuning

 

Karya: Gutamining Saida


Saat jam keempat pelajaran berlangsung, sebuah pengumuman dari Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan muncul di grup sekolah ESMEGA. Pengumuman tersebut menyebutkan bahwa dua siswa dari setiap kelas diminta untuk mengambil bingkisan makan gratis di ruang Sasana Krida. Kabar ini segera menyebar, dan masing-masing kelas memilih dua perwakilan untuk mengambil bingkisan tersebut.

Di kelas 7B Shesha dan Najwa dipilih untuk mengambil bingkisan. Mereka berjalan beriringan menuju ruang Sasana Krida yang terletak gedung di bagian depan sekolah. Sesampainya di sana, mereka melihat beberapa siswa dari kelas lain sudah berkumpul, menunggu giliran mengambil bingkisan. Meja panjang di tengah ruangan telah dipenuhi dengan berbagai jenis makanan, tertata rapi dalam tas berwarna kuning.

“Silakan ambil satu bagian untuk masing-masing kelas,” kata seorang guru yang bertugas membagikan bingkisan.

Shesha dan Najwa mengambil dua tas berwarna kuning yang telah disiapkan untuk kelas mereka. Mereka melirik isi bingkisan tersebut, yang berisi Energen saset, roti, telur puyuh, kurma, dan salak. Tidak semua siswa mendapatkan isi yang sama. Beberapa bingkisan berisi buah yang berbeda, misalnya ada yang mendapatkan jeruk dan ada pula yang mendapatkan salak.

“Sepertinya di kelas kita ada yang tidak suka jeruk,” kata Shesha sambil mengamati isi tas.

“Iya, kalau ada yang tidak suka, kita bisa saling bertukar,” sahut Najwa

Sesampainya di kelas, mereka meletakkan tas bingkisan di meja depan. Siswa-siswa pun duduk di bangku masing-masing. Mereka menunggu dengan sabar dan penuh rasa penasaran. Petugas memberikan satu-satu kepada temannya. Mereka mulai membuka dan melihat isi masing-masing bingkisan. Ada yang merasa senang dengan isinya, tetapi ada juga yang merasa kurang cocok.

“Wah, aku dapat jeruk. Tapi aku kurang suka jeruk,” kata Arin sambil menghela napas.

“Aku dapat salak, padahal aku lebih suka jeruk,” kata Nova.

Tanpa ragu, mereka pun sepakat untuk bertukar buah. Arina memberikan jeruknya kepada Nova. Sementara Nova menyerahkan salaknya kepada Arin. Mereka berdua tersenyum puas setelah pertukaran itu terjadi.

Melihat kejadian tersebut, siswa lain ikut menyesuaikan diri. Mereka yang mendapatkan sesuatu yang kurang disukai mulai mencari teman untuk bertukar. Beberapa siswa dengan ikhlas memberikan bagian mereka kepada teman yang lebih membutuhkan.

“Ambil saja telur puyuhku, aku tidak terlalu suka,” kata Sofia kepada Neta yang memang menyukai telur puyuh.

“Terima kasih Sofia. Aku akan menggantinya dengan kurma. Aku tidak begitu suka kurma,” balas Sofia.

Interaksi sederhana ini menciptakan suasana yang penuh dengan kebersamaan. Tidak ada rasa iri atau perasaan ingin memiliki lebih banyak. Justru, mereka saling berbagi dengan hati yang lapang.

Setelah semua menikmati bingkisan.  Mereka, tas kuning yang digunakan untuk membawa bingkisan pun dikumpulkan kembali. Sesuai instruksi, tas tersebut harus dikembalikan ke tempatnya agar dapat digunakan kembali di lain waktu. Shesha dan  Kembali Najwa  bertugas mengumpulkan tas dari teman-teman mereka dan mengembalikannya ke ruang Sasana Krida.

“Terima kasih sudah tertib mengembalikan tas ini. Dari kegiatan berbagi bingkisan ini, para siswa belajar banyak hal. Mereka belajar tentang keikhlasan dalam memberi dan menerim. Tidak semua yang didapat selalu sesuai dengan keinginan. Kebersamaan dan sikap saling menghargai juga tumbuh dari momen sederhana ini.

Ketika bel pulang berbunyi, para siswa melanjutkan berdoa yang dipimpin temannya. Mereka pulang dengan hati yang lebih hangat. Meski hanya sekadar bingkisan makanan, pengalaman hari itu memberikan pelajaran berharga tentang arti berbagi dan peduli kepada sesama.

Cepu, 7 Maret 2025

 


Kehebohan Jum'at Pagi

Karya: Gutamining Saida

Suasana di ruang guru yang biasanya tenang berubah menjadi riuh. Hari ini hari Jumat, hari di mana semua guru di sekolah mengenakan seragam batik sesuai aturan. Ada satu sosok yang tampak mencolok di antara para guru.

Bukannya memakai batik seperti guru-guru lain, Pak Budi justru tampil dengan kemeja polos berwarna biru. Awalnya tidak ada yang terlalu memperhatikan. Begitu beliau masuk ke dalam ruang guru, satu per satu rekan-rekan mulai menyadari ada yang berbeda.

“Eh, Pak Budi nggak pakai batik?” bisik Bu Rina kepada Bu Indri sambil melirik ke arah Pak Budi.

Tak lama Bu Peni yang duduk langsung bersuara, “Pak Budi ini kok beda sendiri? Seperti pegawai bank!” katanya dengan nada menggoda.

“Ini tadi memakai baju seragam batik waktu berangkat dari rumah. Tiba-tiba masuk ruang guru jadi luntur,” saut Pak Budi.

Tawa kecil mulai terdengar dari beberapa guru yang sudah menyadari perbedaan seragam itu. Pak Budi yang baru saja duduk hanya bisa tersenyum tipis.

Bu Indri yang selalu sigap menanggapi candaan segera menimpali, “Maksudnya bukan bank, tapi bangunan!” katanya sambil melirik ke arah Pak Budi yang masih santai.

Suasana di ruang guru semakin ramai. Beberapa guru lain yang baru masuk pun ikut penasaran dan melirik Pak Budi dengan ekspresi heran sekaligus geli. Biasanya Pak Budi selalu patuh dengan aturan seragam. Entah karena lupa atau sengaja, hari ini beliau justru tampil beda.

Tidak mau kalah dengan komentar-komentar yang mulai berseliweran, Pak Budi akhirnya meletakkan handphone yang dipegang. Beliau menatap rekan-rekannya dengan senyum penuh percaya diri.

“Iya betul,” katanya dengan nada tenang tapi penuh arti. “Saya sebagai orang yang selalu bangun jiwa raga anak-anak.”

Tugas guru, lebih dari sekadar mengajar tapi sebagai arsitek masa depan bangsa. Mereka memegang peran penting dalam membentuk generasi penerus yang cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan zaman. Tugas mereka tidak hanya sebatas menyampaikan ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai luhur, membentuk kepribadian, dan mengasah keterampilan yang dibutuhkan anak-anak untuk meraih kesuksesan di masa depan.

Nah, Tanggung jawab seorang guru sangatlah besar dan tak tergantikan. Mereka harus mampu satu, tidak hanya fokus pada perkembangan intelektual, tetapi juga memperhatikan kesehatan fisik dan mental anak-anak. Mereka menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan holistik.Dua, sebagai teladan dalam menanamkan nilai-nilai kejujuran, disiplin, tanggung jawab, toleransi, dan gotong royong. Mereka membantu anak-anak memahami pentingnya moral dan etika dalam kehidupan bermasyarakat. Tiga, harus mampu membekali anak-anak dengan keterampilan yang relevan dengan perkembangan zaman. Mereka harus melek teknologi, adaptif, dan inovatif dalam metode pengajaran.

Sejenak suasana hening. Semua guru tampak terdiam, mencoba mencerna kata-kata Pak Budi. Lalu, tiba-tiba…

“HAHHAHAHA!!”

Tawa pecah di seluruh ruangan. Gelak tawa guru-guru menggema. Suara memenuhi setiap sudut ruang guru. Beberapa bahkan sampai menepuk meja saking tak kuasanya menahan tawa.

Bu Peni yang pertama kali bercanda pun sampai mengusap matanya, “Aduh, Pak Budi, saya kira tadi salah kostum, ternyata filosofis sekali jawabannya!” katanya masih tergelak.

Pak Budi hanya tersenyum puas. Ia berhasil membalikkan situasi yang awalnya menyoroti kesalahannya menjadi momen yang menghibur.

Bu Indri yang tadinya menggoda pun mengangguk sambil tersenyum, “Wah, Pak Budi ini bukan cuma membangun jiwa raga anak-anak. Pak Budi juga membangun suasana yang menyenangkan di ruang guru.”

Beberapa guru lain masih tertawa, sementara yang lain mulai melanjutkan aktivitas mereka. Semua mata kembali tertuju pada Pak Budi. Dengan santai, beliau membuka handphone membuka beberapa chat yang masuk.  .

Gelak tawa kembali pecah. Beberapa guru langsung mengulurkan tangan mengambil permen, sementara yang lain masih tertawa geli dengan tingkah Pak Budi yang selalu punya cara mencairkan suasana.

Suasana di ruang guru menjadi lebih hidup. Gara-gara seragam yang berbeda, pagi yang awalnya biasa saja berubah menjadi penuh tawa. Dan yang lebih penting, Pak Budi berhasil menunjukkan bahwa di balik kesalahan kecil, ada cara untuk mengubahnya menjadi sesuatu yang menyenangkan.

Cepu, 7 Maret 2025

 


 

Kamis, 06 Maret 2025

Makan Begizi Gratis di Bulan Suci

Karya : Gutamining Saida

Bulan ramadhan menyapa dengan kehangatan yang berbeda. Di sebuah sekolah SMPN 3 Cepu siswa sudah mulai aktivitas pembelajaran. Pembelajaran dimulai pukul 07.00 – 12.15 WIB. Kamis merupakan hari pertama masuk di bulan suci setelah beberapa hari siswa menikmati pembelajaran mandiri di lingkungan keluarga, tempat ibadah dan masyarakat. Suasana khidmat dan penuh semangat menyelimuti para siswa. Hari ini siswa mendapat jatah Makan Bergizi Gratis (MBG). Kali ini, ada sentuhan khusus yang membuat momen tersebut semakin istimewa. Yaitu tidak seperti hari biasa berupa nasi, lauk, buah.

Sejak pagi para siswa telah belajar dengan tekun, menahan lapar dan dahaga. Jam pelajaran berjalan seperti biasa, namun ada sedikit perbedaan. Para guru memberikan semangat mengingatkan para siswa tentang keutamaan berpuasa dan pentingnya menjaga kesehatan selama bulan Ramadhan.

Ketika jam pelajaran terakhir yaitu jam kedelapan tiba. Suasana kelas mulai berubah ada beberapa petugas kelas diminta untuk menuju Gedung Sasana Krida. Petugas mengambil jatah untuk kelas masing-masing. Ada sedikit rasa penasaran sebab ini bulan suci. Para petugas menenteng tas kecil berwarna hijau. Jatah berbuka puasa dari program MBG.

Petugas kelas dengan senyum ramah memasuki kelas membawa tumpukan tas berwarna hijau. Tas-tas tersebut berisi makanan bergizi yang telah disiapkan khusus untuk berbuka puasa. Ada buah jeruk, sebungkus kurma, satu saset energen, telur rebus dan roti.  Menu takjil yang menggugah selera. Setiap siswa mendapatkan satu tas dan mereka menerimanya dengan mata berbinar-binar. Setelah dibagikan ke siswa, tas hijau harap dikembalikan dalam keadaan kosong.

Tas hijau tersebut bukan sekadar wadah makanan. Ada makna mendalam di baliknya. Warna hijau melambangkan kesegaran, harapan, dan keberkahan. Tas itu juga menjadi simbol kebersamaan, mengingatkan para siswa bahwa mereka tidak sendirian dalam menjalani ibadah puasa.

Setelah menerima tas, para siswa tidak langsung pulang. Mereka duduk dengan tertib di kelas, berdoa pulang yang dipmpin salah satu temannya. "Anak-anak, makanan ini disiapkan dengan cinta dan doa. Makanlah dengan perlahan, nikmati setiap suapan dan jangan lupa untuk bersyukur," pesan seorang guru dengan suara lembut.

Para siswa mengangguk, menyimak dengan seksama. Mereka tahu bahwa makanan yang mereka terima adalah rezeki dari Allah Subhanahu Wata’alla yang diberikan melalui program makan bergizi gratis (MBG).

Setelah selesai berdoa para siswa mulai bergegas pulang. Mereka membawa jatah berbuka dengan hati-hati, seolah-olah membawa harta karun. Senyum lebar menghiasi wajah mereka, terpancar kebahagiaan yang tak terhingga.

Mereka akan berbuka puasa bersama keluarga. Makanan dari program MBG akan menjadi pelengkap hidangan berbuka, menambah kehangatan dan kebersamaan di meja makan.

Program MBG di bulan Ramadhan ini bukan hanya tentang memberikan makanan gratis. Lebih dari itu, program ini mengajarkan para siswa tentang pentingnya berbagi, bersyukur dan menjaga kesehatan. Program ini juga menjadi wujud nyata kepedulian pemerintah terhadap generasi penerus bangsa.

Menu buka puasa yang mereka bawa pulang adalah simbol harapan. Sebuah simbol bahwa di tengah keterbatasan, selalu ada berkah yang melimpah.  Menu yang diterima juga menjadi pengingat bahwa mereka adalah bagian dari komunitas yang saling peduli dan mendukung.

Ketika adzan maghrib berkumandang para siswa bersama keluarga mereka duduk di meja makan. Mereka  siap untuk berbuka puasa. Mereka menikmati hidangan lezat yang telah disiapkan. Doa syukur dipanjatkan, mengiringi setiap suapan.

Makan Bergizi Gratis di bulan Ramadhan telah menjadi tradisi yang indah. Tradisi yang mengajarkan nilai-nilai luhur kepada para siswa. Tradisi ini juga menjadi bukti bahwa di bulan suci ini, kebaikan selalu hadir dengan menu yang sederhana. Selamat berbuka puasa.

Cepu, 6 Maret 2025

 

 

Selasa, 04 Maret 2025

Pengalaman Berharga

 


Karya: Gutamining Saida

Bulan Ramadan selalu membawa berbagai pengalaman berkesan bagi setiap orang yang menjalankannya. Setiap momen berbuka puasa memiliki cerita tersendiri, baik itu di rumah bersama keluarga, di masjid bersama jamaah, atau bahkan di perjalanan. Berbuka puasa hari Senin di atas Kereta Airlangga dalam perjalanan pulang dari Tegal menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi saya.

Saya berangkat dari Tegal dengan tujuan kembali ke rumah Cepu. Perjalanan menggunakan kereta ekonomi Airlangga tentu bukan sesuatu yang asing bagi saya. Berbuka puasa di dalam kereta adalah pengalaman kedua yang saya alami. Saat memasuki gerbong, saya mencari tempat duduk sesuai tiket di gerbong tujuh no 17D. Beberapa penumpang tampak membawa barang bawaan yang cukup banyak. Mungkin mereka juga dalam perjalanan pulang ke kampung halaman atau mengunjungi keluarga.

Seiring berjalan waktu, langit yang tadinya cerah mulai berubah warna. Pertanda sore mulai menjelang. Perjalanan kereta yang melintasi berbagai daerah menyajikan pemandangan sawah, laut, rumah-rumah penduduk, serta perlintasan jalan yang ramai oleh kendaraan. Saya sesekali melirik jam tangan, menghitung waktu menjelang berbuka. Ada rasa yang sedikit berbeda kali ini, karena biasanya saya berbuka bersama keluarga di rumah. Menikmati aneka hidangan yang telah  saya siapkan. Kali ini saya berada di dalam kereta. Bersama penumpang lain yang memiliki cerita dan perjalanan masing-masing.

Ketika pengumuman berbuka puasa terdengar dari pengeras suara di kereta. Suasana dalam gerbong pun berubah. Para penumpang yang berpuasa segera mengambil bekal yang mereka bawa. Ada yang membawa roti dan susu. Ada yang membuka bekal nasi dari rumah.  Ada juga yang memilih berbuka dengan Pop Mie yang dibeli dari petugas kereta. Saya sendiri membawa bekal sederhana, air mineral, kurma dan nasi lengkap dengan lauk.

Suasana berbuka di dalam kereta terasa hangat meskipun kami semua adalah orang-orang asing satu sama lain. Beberapa penumpang tampak saling berbagi makanan dengan orang di sebelahnya. Sebuah pemandangan yang begitu indah di bulan penuh berkah ini. Seorang ibu yang duduk di seberang saya tampak menawarkan kurma kepada penumpang lain. Sementara seorang bapak di dekat jendela membagikan beberapa bungkus camilan kepada anak-anak kecil di sekitar. Kebersamaan seperti ini mengingatkan saya bahwa ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus.  Tetapi juga tentang berbagi dan merasakan kebersamaan dengan sesama.

Saya menikmati momen ini dengan penuh rasa syukur. Betapa Allah Subhanahu Wata’alla telah memberikan kesempatan bagi saya untuk merasakan pengalaman berbuka yang berbeda. Tidak ada meja makan yang tertata rapi. Tidak ada hidangan lengkap seperti di rumah. Tetapi kebersamaan di dalam kereta menciptakan kehangatan tersendiri. Sederhana, namun penuh makna.

Saat semua sudah selesai berbuka. Suasana penumpang dalam gerbong kembali seperti semula. Beberapa penumpang melanjutkan perjalanan dengan berbincang ringan, sementara yang lain memilih beristirahat tidur. Saya sendiri menikmati perjalanan sambil merenungkan pengalaman hari ini. Ramadan kali ini memang berbeda. Ramadan memberikan pelajaran bahwa di mana pun kita berada, rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wata’alla. Makna kebersamaan tetap bisa dirasakan.

Perjalanan dengan Kereta Airlangga yang biasanya terasa biasa saja. Saat ini menjadi lebih istimewa. Buka puasa di perjalanan mengajarkan saya banyak hal. Saya belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu bergantung pada tempat atau kemewahan. Akan tetapi pada bagaimana kita mensyukuri setiap momen yang diberikan. Ramadan adalah bulan penuh berkah. Saya bersyukur pada Allah Sbhanahu Wata’alla bisa menjalani salah satu momen berbuka puasa dengan cara yang berbeda tahun ini.

Ketika kereta terus melaju membawa saya pulang saya tersenyum bahagia. Saya mengingat bagaimana momen berbuka tadi terasa begitu bermakna. Ramadan selalu punya caranya sendiri untuk mengajarkan kita tentang kesabaran, kebersamaan, dan rasa syukur. Saya menutup mata sejenak, membiarkan rasa hangat dari pengalaman hari ini tersimpan dalam ingatan. Sebuah pengalaman berbuka puasa yang tidak akan saya lupakan. Dengan harapan ibadah puasa Ramadan tahun semakin meningkatkan iman dan dapat berjumpa lagi di Ramadan tahun depan. Aamiin.

Cepu, 5 Maret 2025

 


Sedekah

 


Karya: Gutamining Saida

Minggu siang tanggal 2 Maret 2025 suasana kamar terasa hangat dan nyaman. Aku duduk bersama cucu-cucuku.  Zaskia cucu pertamaku, Hamzah cucu kedua dan Elmira yang ceria, di atas tempat tidur. Di hadapan kami terbentang buku tugas ramadan dari sekolah yang penuh warna. Zaskia dengan mata bulatnya yang penuh rasa ingin tahu, menunjuk ke salah satu bagian buku.

"Timi, ini apa?" tanyanya, jarinya menunjuk ke kolom "Sedekah".

Aku tersenyum, menjelaskan dengan bahasa yang sederhana, "Sedekah itu artinya memberikan sesuatu kepada orang lain.

“Sesuatu itu apa Timi?” tanya Zaskia selanjutnya.

“Sesuatu itu bisa berupa uang, makanan, barang.”

Zaskia mengerutkan kening, tampak berpikir keras. "Tapi Timi, Zaskia kan belum punya uang. Gimana Zaskia bisa sedekah?"

Aku mengelus rambutnya dengan lembut. "Sedekah itu tidak harus selalu dengan uang, sayang. Senyum kepada orang lain, membantu teman yang kesulitan. Atau bahkan mengucapkan terima kasih dengan tulus itu juga sedekah."

"Oh… gitu ya, Timi," jawab Zaskia, matanya berbinar. "Jadi, senyum juga sedekah?"

"Betul sekali," jawabku sambil mengangguk. "Senyum itu sedekah yang paling mudah dan paling indah."

Tiba-tiba, Zaskia bangkit dari duduknya dan berlari keluar dari kamar. Aku sedikit bingung, tapi aku membiarkannya pergi. Tak lama kemudian, ia kembali dengan wajah berseri-seri, tangannya menggenggam amplop berwarna putih.

"Timi, ini sedekah dari Zaskia untuk Timi," katanya, menyerahkan amplop itu kepadaku. "Dibuka ya, Timi."

Dengan rasa penasaran, aku membuka perlahan amplop itu.  Tambah ada rasa haru bahagia. Dia mengamati saat amplopnya saya  sobek kemudia kubuka. Didalamnya kutemukan uang kertas dua ribu rupiah.

"Ini amplop dari mana dan ini uang siapa?" tanyaku, sedikit terkejut.

“Amplop minta Uti dan uang saku sekolah Zaskia kemarin," jawabnya dengan polos.

Hatiku langsung menghangat. Kata-kata sederhana yang tertulis di atas selembar amplop bisa menjadi cahaya dalam hari-hariku. Zaskia dengan pemahamannya yang masih sederhana tentang sedekah, telah mempraktikkannya dengan tulus. Ia memberikan uang yang sebenarnya bisa ia gunakan untuk membeli mainan atau permen, kepada orang yang ia sayangi.

"Zaskia sayang, terima kasih banyak ya," ucapku, memeluknya erat. "Ini sedekah yang sangat berharga bagi Timi."

Zaskia tersenyum lebar, menunjukkan deretan gigi susunya yang rapi. "Sama-sama, Timi. Zaskia mau jadi anak yang suka sedekah." Aku mengangguk, merasa bangga dengan cucu kecilku. Ia telah menunjukkan pemahaman yang luar biasa tentang nilai-nilai kebaikan. Aku berharap, kelak ia akan tumbuh menjadi anak yang dermawan, yang selalu peduli terhadap sesama.

Momen itu menjadi pelajaran berharga bagiku. Zaskia telah mengajarkanku bahwa sedekah tidak selalu tentang jumlah materi yang diberikan. Tetapi tentang ketulusan dan niat baik yang menyertainya. Ia juga mengingatkanku bahwa kebaikan bisa diajarkan dan dipraktikkan sejak usia dini.

Aku menyimpan uang dua ribu rupiah itu dengan hati-hati. Sebagai pengingat akan kebaikan hati Zaskia. Setiap kali aku melihat uang itu, aku akan teringat akan senyumnya yang tulus.  Aku akan masukkan ke kotak amal musala serta berdoa agar ia selalu menjadi anak yang penuh kasih dan suka berbagi. Aamiin

Cepu, 5 Maret 2025

 


Senin, 03 Maret 2025

Hujan Pagi Bagai Riszi Yang Melimpah

 

                                    

Karya: Gutamining Saida

Selasa pagi rintik hujan mulai turun. Semakin lama semakin deras. Bagi sebagian orang, hujan pagi mungkin menjadi momok, penghalang untuk memulai aktivitas. Bagi mereka yang mampu melihat dengan hati, hujan adalah anugerah, rezeki yang diturunkan dari langit.

"Alhamdulillah, syukur alhamdulillah," gumamku dalam hati. Rasa syukur itu bukan tanpa alasan. Hujan adalah simbol kehidupan, sumber air yang menghidupi bumi dan segala isinya. Tanpa hujan, tanah akan kering, tanaman akan mati, dan kehidupan akan terancam.

Hujan pagi ini adalah rezeki yang melimpah. Air hujan akan menyuburkan tanah, mengisi kembali sumber-sumber air, dan memberikan kehidupan bagi tanaman dan hewan. Para petani menyambut hujan dengan suka cita, karena mereka tahu bahwa hujan adalah harapan untuk panen yang melimpah.

Hujan pagi juga bisa menjadi ujian. Bagi para guru dan pekerja, hujan bisa menjadi penghalang untuk berangkat ke sekolah atau tempat kerja. Puasa Ramadan guru tetap masuk ke sekolah. Jalanan yang macet, pakaian yang basah, dan rasa dingin bisa membuat semangat menjadi luntur.

Di sinilah kesabaran kita diuji. Mampukah kita tetap bersyukur dan bersemangat meski dalam kondisi yang kurang nyaman? Mampukah kita melihat hikmah di balik setiap tetes hujan yang jatuh?

Hujan pagi mengajarkan kita untuk bersabar dan menerima takdir. Seperti halnya kehidupan, tidak semua hal berjalan sesuai dengan keinginan kita. Ada kalanya kita menghadapi tantangan dan rintangan yang harus kita hadapi dengan sabar dan tawakal.

Hujan pagi juga memberikan kita kesempatan untuk merenung dan bersyukur. Suara rintik hujan yang menenangkan bisa menjadi pengantar untuk meditasi dan introspeksi diri.

Di tengah kesibukan dunia yang serba cepat, hujan pagi memberikan kita waktu untuk berhenti sejenak, merenungkan makna kehidupan. Kita bisa mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan.

Kita bisa merenungkan tentang betapa kecilnya kita di hadapan kebesaran Tuhan. Kita bisa merenungkan tentang betapa beruntungnya kita masih diberikan kesempatan untuk hidup dan menikmati indahnya dunia.

Setelah hujan reda, biasanya akan muncul pelangi yang indah. Pelangi adalah simbol harapan dan kehidupan baru. Setelah badai berlalu, selalu ada keindahan yang menanti.

Hujan pagi juga bisa menjadi simbol harapan. Setelah malam yang gelap, hujan datang membawa kehidupan baru. Setelah kesulitan dan tantangan, selalu ada harapan untuk masa depan yang lebih baik.

Setiap tetes hujan yang jatuh memiliki hikmahnya sendiri. Kita hanya perlu membuka hati dan pikiran kita untuk melihatnya. Hujan pagi mengajarkan kita tentang: Satu,

 Hujan adalah sumber kehidupan dan rezeki yang melimpah. Dua, Hujan menguji kesabaran kita dalam menghadapi tantangan. Tiga, Hujan mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas segala nikmat yang diberikan. Empat, Hujan membawa harapan dan kehidupan baru setelah kesulitan.

Oleh karena itu, mari kita belajar untuk menikmati setiap tetes hujan yang jatuh. Jangan biarkan hujan menjadi penghalang untuk kita meraih impian. Jadikan hujan sebagai pengingat untuk selalu bersyukur, bersabar, dan berharap.

Semoga hujan pagi ini membawa berkah dan hikmah bagi kita semua. Aamiin

Cepu, 4 Maret 2025

 


Berbuka Puasa di Dalam Kereta

 


Karya: Gutamining Saida

Hari pertama ramadan tepatnya tanggal 1 Maret 2025 saya memiliki kesan tersendiri. Bagi banyak orang ramadan momen yang dinanti-nanti. Berbuka bersama keluarga, menikmati hidangan khas yang sudah disiapkan sejak siang. Malam ini saya harus berbuka puasa dalam perjalanan dengan kereta.  Kereta yang membawa saya ke kota Tegal yang sudah direncanakan sebelumnya.

Dari rumah saya sudah mempersiapkan bekal untuk berbuka. Saya memilih membawa air minum, beberapa butir kurma, serta nasi lengkap dengan lauk. Semua itu saya taruh dalam tempat bekal berwarna putih. Bukan karena saya tidak ingin membeli makanan di kereta. Saya ingin tetap menjaga kebiasaan berbuka makanan yang disiapkan sendiri. Ada rasa nyaman ketika mengetahui apa yang akan disantap saat berbuka.

Kereta melaju dengan tenang sesekali berguncang ringan ketika melewati rel yang tidak terlalu mulus. Di gerbong beberapa penumpang tampak sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ada yang membaca buku, ada yang menonton film di ponsel mereka. Ada juga yang tampak hanya duduk diam menikmati perjalanan. Saya sendiri lebih banyak melihat ke luar jendela, memperhatikan pemandangan yang mulai menggelap. Langit yang tadinya berwarna jingga perlahan berubah menjadi biru kehitaman.

Kuucap syukur kepada Allah Subhanahu Wata’alla. Saat ini saya masih diberi kesempatan untuk bertemu bulan suci. Saya melihat ke pemandangan sekitar. Beberapa penumpang tampaknya mulai bersiap berbuka. Ada yang langsung mengambil botol air dari tas mereka. Ada yang mengeluarkan termos kecil berisi kopi atau teh. Ada pula yang menggenggam beberapa butir kurma.

Tiba-tiba suara pengumuman dari petugas KAI terdengar melalui pengeras suara. "Para penumpang saat ini sudah memasuki waktu Magrib. Dipersilakan untuk  yang menjalankan ibadah puasa untuk    berbuka."

Saya mengambil botol air dari tas membuka tutupnya sebelumnya saya awali berdoa berbuka. Lalu meneguk seteguk pertama. Alhamdulillah terasa begitu nikmat dan segar. Setelah menahan haus sepanjang hari saat ini terasa luar biasa nikmat. Saya lalu mengambil sebutir kurma dan memakannya perlahan. Beberapa penumpang lain tampak melakukan hal yang sama. Kami saling menganggukkan kepala sebagai tanda izin. Sebuah keadaan sederhana yang menghangatkan hati.

Seorang pria membuka kotak bekalnya yang berwarna coklat. Di seberangnya, seorang ibu tampak menyiapkan makanan dari wadah berbentuk kotak warna-warni. Ada juga yang membawa makanan dalam sterofoam, mungkin dibeli dari stasiun sebelum berangkat. Semua menikmati makanan mereka dengan tenang, tanpa suara berisik. Hanya sesekali terdengar bunyi sendok yang beradu dengan tempat bekal.

Saya tersenyum sendiri. Walaupun kami semua tidak saling mengenal, ada perasaan kebersamaan yang muncul di momen ini. Saya mulai menyantap nasi yang saya bawa. Meski sederhana, rasanya luar biasa. Bukan hanya karena saya lapar. Tetapi karena ada ketenangan dan rasa syukur dalam setiap suapan.

Di sudut lain gerbong, seorang anak kecil yang duduk bersama ibunya tampak tersenyum senang saat disuapi. Mungkin ini pertama kalinya ia berpuasa. Ia berhasil menahan lapar hingga waktu berbuka. Sang ibu membelai kepalanya dengan bangga.

Momen berbuka puasa di kereta ini benar-benar memberikan pengalaman baru bagi saya. Walaupun tidak bersama keluarga, saya tetap merasakan kebersamaan. Dalam perjalanan, di tengah orang-orang yang tidak saya kenal, tetap ada rasa hangat, ada perasaan bahwa kita semua sedang menjalani sesuatu yang sama.

Setelah selesai makan tempat bekal masukkan ke dalam tas. Beberapa penumpang lain juga mulai merapikan sisa makanan mereka. Kereta terus melaju, membawa kami ke tujuan masing-masing. Langit di luar sudah gelap sempurna.  Lampu-lampu kecil di dalam gerbong menyala lembut.

Saya bersandar di kursi merasa puas dan bersyukur. Hari pertama puasa yang berbeda ini ternyata memberikan pengalaman yang tidak kalah berharga. Ramadan memang selalu membawa cerita, di mana pun kita berada.

Cepu, 4 Maret 2025