Karya: Gutamining Saida
Dua bulan sudah saya bertugas di
SMPN 3 Cepu. Meski awalnya ada rasa canggung. Saya perlahan-lahan mulai
terbiasa dengan lingkungan baru ini. Setiap sudut sekolah ini mulai terasa
akrab, dari ruang guru yang penuh diskusi hingga ruang kelas yang dipenuhi
canda tawa siswa. Ada satu pertemuan yang tidak pernah saya sangka akan begitu
berarti dalam perjalanan keahidupan ini.
Saya dipertemukan dengan seorang blogger hebat bernama Bu Wiwik.
Saya mengenalnya pertama kali
saya datang ke SMPN 3 Cepu di ruang guru. Saat itu ruang guru masih berada di
ruang Sasana Krida. Saya datang pertama kali dengan maksud unjuk muka. Di sana
bertemu beberapa guru yang piket dianrtaranya bu Wiwik. Kesan pertama selalu
melekat di hati. Sekilas saya hanya tahu bahwa beliau adalah salah satu guru
senior mata Pelajaran Bahasa Inggris. Dia yang memiliki segudang kesibukan.
Saya terkesan adalah caranya berbicara yang lugas dan pemikirannya yang tajam.
Ia selalu menyampaikan ide dengan jelas, ringkas dan penuh makna. Dari cara
beliau berbicara saja, saya bisa merasakan bahwa beliau adalah seseorang yang
terampil dalam menulis.
Rasa penasaran saya semakin besar
ketika suatu hari, dia cerita bahwa dia blogger yang cukup dikenal. Beliau itu
luar biasa. Selain mengajar dia juga menulis di blog pribadinya. Banyak
tulisannya yang ditulisnya baik itu bersifat inspiratif, motivasi, hiburan,
cerpen, puisi dan sebagainya. Semua itu banyak bermanfaat bagi pembaca.
Mendengar itu, saya semakin
tertarik untuk mengenalnya lebih dalam. Saya sendiri memang menyukai dunia
tulis-menulis, tapi selama ini saya hanya menulis sesekali untuk diri sendiri.
Saya hanya sekedar bisa-bisa an saja.
Saya memberanikan diri untuk
bertanya langsung kepada Bu Wiwik. Saat istirahat di ruang guru, saya
menghampirinya. "Bu, saya diajari menjadi blogger, ya? Saya penasaran,
bagaimana awalnya Ibu terjun ke dunia blogging?"
Bu Wiwik mulai menulis di blog
sejak beberapa tahun lalu. Awalnya hanya untuk mengisi waktu luang, tapi
lama-lama saya merasa menulis adalah cara terbaik untuk berbagi ilmu dan
pengalaman. Saya semakin tertarik mendengar ceritanya. "Bagaimana Ibu bisa
konsisten menulis? Padahal sibuk luar biasa.” tanya saya singkat.
Bu Wiwik tertawa kecil.
"Kuncinya ada di manajemen waktu. Saya selalu menyisihkan waktu setiap
hari, meskipun hanya 15-30 menit untuk menulis. Kalau kita menunggu waktu
luang, tulisan itu tidak akan pernah selesai. Kita yang harus meluangkan waktu
untuknya," jelasnya.
Sejak hari itu, saya semakin
sering berbincang dengannya. Saya belajar banyak hal, mulai dari cara mencari
ide tulisan. Bagaimana menulis dengan gaya yang menarik, hingga bagaimana
mengelola blog agar lebih bermanfaat bagi banyak orang. Yang saya kagumi dari
Bu Wiwik bukan hanya kemampuannya dalam menulis, tetapi juga sikapnya yang
tidak pelit ilmu.
Bu Wiwik mengajarkan saya langkah
demi langkah. Ia membantu saya membuka akun blog, memilih tema yang sesuai,
hingga mengajarkan bagaimana cara menulis artikel yang menarik. "Yang
penting jangan takut memulai. Tidak perlu sempurna, yang penting
konsisten," katanya singkat.
Saya mengikuti sarannya. Saya mulai menulis satu per satu artikel, meskipun awalnya masih sederhana. Namun, semakin saya menulis, semakin saya merasakan kepuasan tersendiri. Saya mulai memahami bahwa menulis bukan hanya tentang berbagi. Tetapi juga tentang mengabadikan pemikiran dan pengalaman.
Saya semakin terinspirasi oleh Bu
Wiwik. Saya melihat bagaimana beliau mampu mengatur waktu dengan sangat
efisien. Di tengah kesibukannya sebagai seorang guru, beliau masih bisa menulis
dan berkarya. Saya sering merasa iri, tetapi itu adalah iri yang bersifat positif.
Sifat iri yang mendorong saya untuk terus belajar dan berkembang.
Setiap kali saya merasa malas brkarya
saya mengingat kata-kata Bu Wiwik, "Menulis itu seperti menanam pohon.
Awalnya kecil, tapi kalau kita rawat dengan baik, suatu hari akan tumbuh besar
dan memberi manfaat."
Saya bersyukur pada Allah
Subhanahu Wata’alla dipertemukan dengan Bu Wiwik. Beliau bukan hanya seorang
guru yang hebat, tetapi juga seorang inspirator yang telah membuka mata saya
tentang pentingnya berkarya. Saya berdoa semoga ilmu yang beliau bagikan
semakin berkah, dan semoga saya pun bisa menjadi seseorang yang bermanfaat bagi
orang lain, seperti beliau. Di SMPN 3 Cepu saya tidak hanya menemukan tempat
mengajar. Namun juga menemukan inspirasi
yang akan terus saya bawa dalam perjalanan hidup saya. Aamiin
Cepu, 11 Maret 2025

Wadduuuh, ketinggian menyanjungnya...
BalasHapusMari sama2 belajar bu, saya juga terinpirasi oleh bu Saida yang rajin menulis..
Menulis bisa menjadi cara mengungkapkan perasaan saat kita tak bisa bercerita pada seseorang...
Dengan mengingkapkan dalam bentuk tulisan, hati menjadi lebih lega hehhee 💕💕💕