Karya: Gutamining Saida
Sabtu tanggal 8 Maret 2025, hari
yang cerah dan hangat. Seperti biasa saya menghabiskan pagi dengan kegiatan
rutin di sekolah. Hari itu terasa sedikit berbeda ada semacam firasat yang
sulit dijelaskan. Suara motor kurir terdengar mendekat, berhenti tepat di depan
gerbang rumah. Seorang kurir datang membawa sebuah paket yang diterima anak
bungsuku. Dia memberitahuku bila dapat kiriman dari seorang kurir.
Rasa penasaran langsung
menyergap. Saya jarang sekali berbelanja online. Dengan hati-hati, saya menerima paket dari
anak bungsuku. Saya mulai membolak-baliknya, mencari nama pengirim. Rasa
bingung semakin bertambah karena tidak menemukan nama yang familiar. Setelah
beberapa saat, akhirnya mata saya menangkap sebuah nama. Nama putri sulung
saya.
"Anakku yang pertama?"
gumam saya dalam hati. "Tapi, kenapa dia mengirim paket? Bulan ini tidak
ada momen spesial, bukan ulang tahun bukan hari ibu juga bukan hari istimewa
lainnya."
Kebingungan bercampur rasa
penasaran membuat saya segera membuka paket tersebut. Paket berukuran panjang
30 cm sedang lebar 15 cm. Kurobek bungkusnya, di dalamnya terdapat sebuah
bantal duduk yang tampak nyaman dan empuk. Sebuah senyuman langsung menghiasi
wajah saya. Meskipun sederhana, hadiah ini terasa sangat istimewa.
Rasa syukur langsung membanjiri
hati saya. Allah Subhanahu Wata’alla selalu memberikan rezeki yang tak terduga.
Melalui cara yang paling sederhana. Hadiah ini terasa seperti berkah di bulan
yang suci ini. Saya merenung, mungkin ini adalah cara Allah Subhanahu Wata’alla
mengabulkan doa-doa kecil yang sering saya panjatkan.
Saya teringat akan putri sulung
saya. Dia adalah sosok yang perhatian dan penuh kasih sayang. Meskipun jarang
bertemu karena kesibukan dan tempat tinggalnya jauh berada di kota Tegal. Dia
selalu berusaha menunjukkan perhatiannya. Hadiah ini adalah salah satu bentuk
perhatiannya yang membuat hati saya terharu.
Bantal duduk ini bukan sekadar
benda mati. Ini adalah simbol cinta dan perhatian dari seorang anak kepada uminya.
Setiap kali saya duduk di atasnya, saya akan teringat akan kebaikan hatinya.
Saya membayangkan betapa bahagianya dia saat memilih dan mengirimkan hadiah
ini.
Saya berdoa kepada Allah Subhanahu
Wata’alla agar kebaikan putri saya selalu dilimpahkan dengan kebaikan yang
berlipat ganda. Semoga dia dan keluarganya selalu diberikan kesehatan,
kebahagiaan dan keberkahan dalam hidup. Semoga setiap langkahnya selalu
dilindungi dan diridhoi oleh Allah Subhanahu Wata’alla.
Hadiah ini juga mengingatkan saya akan pentingnya bersyukur atas setiap rezeki yang diberikan Allah Subhanahu Wata’alla. Terkadang, kita terlalu fokus pada hal-hal besar. Kita melupakan nikmat-nikmat kecil yang sebenarnya sangat berharga. Bantal duduk ini adalah salah satu nikmat kecil yang memberikan kebahagiaan besar bagi saya.
Saya juga belajar bahwa cinta dan perhatian tidak selalu diukur dari materi. Sebuah hadiah sederhana yang diberikan dengan tulus dapat memiliki makna yang jauh lebih dalam. Ini adalah pelajaran berharga yang akan selalu saya ingat.
Kali ini saya tidak hanya
menerima sebuah bantal duduk, tetapi juga sebuah pelajaran tentang cinta,
syukur, dan kebahagiaan. Saya merasa sangat beruntung memiliki putri yang
begitu perhatian dan penuh kasih sayang. Semoga Allah Subhanahu Wata’alla. selalu
menjaga dan melindungi keluarga kami.
Saya berharap cerita ini dapat menginspirasi
orang lain. Untuk selalu bersyukur atas
setiap rezeki yang diberikan Allah Subhanahu Wata’alla sekecil apapun itu.
Jangan pernah lupakan orang-orang yang kita cintai dan tunjukkanlah cinta dan
perhatian kita kepada mereka. Karena cinta dan perhatian adalah hadiah terindah
yang bisa kita berikan.
Cepu, 10 Maret 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar