Senin, 07 Juli 2025

Penjumlahan Dengan Stik Es Krim


Karya :Gutamining Saida 
Senin siang itu udara cukup panas. Matahari bersinar terang. Angin hanya sesekali berhembus lewat jendela, membuat suasana dalam rumah terasa gerah. Kakak Zaskia, yang biasanya ceria, terlihat agak lesu. Ia duduk di lantai dekat rak buku sambil memeluk lututnya.

"Kenapa, Kak?" tanya saya sambil menghampiri.
"Aku rindu permainan, Timmi. Sudah beberapa hari ini nggak main yang seru," jawabnya pelan.
Saya tersenyum. Memang beberapa hari belakangan Zaskia dan adiknya, Hamzah, lebih banyak menonton televisi atau bermain dengan mainan masing-masing. Interaksi bersama mulai berkurang. Saya merasa inilah saat yang tepat untuk menghadirkan kembali suasana bermain dan belajar yang menyenangkan.

"Yuk, Timmi siapkan permainan seru untukmu," kata saya sambil berjalan ke laci lemari.
Dari dalam laci, saya mengeluarkan beberapa puluh stik es krim yang sudah saya siapkan sebelumnya. Ada juga tanda tambah (+) dan sama dengan (=). Tujuan saya sederhana yaitu membuat latihan penjumlahan menjadi menyenangkan, seperti bermain puzzle.

Saya menata stik-stik di lantai beberapa stik tanda tambah (+) stik tanda (=) dalam barisan. Ada beberapa barisan. Mereka tinggal mengisi jumlah dengan stik yang tersedia. 
"Ayo, Kak Zaskia. Kita main hitung-hitungan pakai stik es krim!" panggil saya penuh semangat.
Zaskia yang awalnya murung, perlahan mendekat. Matanya mulai memancarkan rasa penasaran.
"Mainnya gimana, Timmi?"
"Gampang! Kamu hitung stik sebelum dan sesudah tanda tambah (+) terus jumlahkan, setelah tanda sama dengan berilah stik sesuai jumlah."

Zaskia mengangguk. Ia mulai menghitung stik. Satu demi satu ia letakkan di sebelah tanda sama dengan. 
"Empat tambah dua... enam!" serunya senang saat berhasil menjumlahkan stik. Dan mengisinya. 
"Bagus! Coba lagi ya," saya menyemangatinya.
Setelah satu kali menjumlahkan, semangat Zaskia mendadak menurun. Ia melihat ke arah televisi yang menyala di ruang tengah. Film kartun kesukaannya sedang tayang.
"Aku nonton TV dulu ya, Timmi..." katanya lalu beranjak meninggalkan permainan.
Saya menghela napas pelan. Tapi saya tidak ingin memaksanya. Bermain harus datang dari keinginan, bukan paksaan.

Sementara itu, adiknya, Hamzah, sedang duduk anteng di depan TV. Matanya tidak lepas dari layar. Film yang sedang tayang rupanya sangat menarik baginya. Saya pun tidak mengganggunya. 
Beberapa menit kemudian, Zaskia sudah asyik menonton. Saya masih duduk di dekat permainan stik es krim, membereskan susunan stik yang tadi digunakan. Tiba-tiba Hamzah menoleh ke arah saya dan permainan di lantai.

"Timmi, itu apa? Aku di sekolah belum diajarin..." katanya sambil mendekat penasaran.
"Boleh dicoba, Hamzah. Ini permainan hitung-hitungan. Coba deh kamu ambil stik kanan kiri tanda tambah (+) 
lalu cari hasilnya," kata saya sambil menunjuk stik-stik yang tersedia.

Hamzah yang masih duduk TK A itu belum lancar berhitung. Tapi dia berani mencoba. Ia menghitung dengan jari kecilnya, sambil menirukan jari saya.
"Tiga... tambah... dua... satu, dua... lima!"
Saya terkejut, tapi senang. Jawabannya benar!
"Bagus! Kamu hebat, Hamzah!" saya berseru sambil memberi tepuk tangan kecil.
Wajah Hamzah langsung berseri-seri. Ia pun jadi semangat mencoba yang lain.
"Ini! Empat tambah satu... lima!"
"Lima tambah dua... tujuh!"
Semakin lama, Hamzah semakin lincah menghitung. Kadang ia keliru, tapi saya tidak pernah langsung menyalahkan. Saya bantu menunjukkan dengan jari atau memberi contoh lain yang lebih mudah.

Hamzah berpikir sejenak. "Delapan tambah dua!" serunya yakin.
"Hamzah, coba stik itu  dijumlahkan!"
Hamzah menghitung perlahan dengan jari. "Lima tambah dua!" katanya pelan, tapi pasti.

Permainan sederhana itu ternyata mampu membuat siang yang panas menjadi penuh makna. Tidak hanya belajar berhitung, tapi juga belajar bersabar, bekerja sama, dan merasa bangga atas pencapaian masing-masing. Saya bersyukur bisa menjadi bagian dari proses tumbuh dan berkembangnya dua anak hebat yaitu Zaskia dan Hamzah.
Cepu, 7 Juni 2025 

Minggu, 06 Juli 2025

Kajian Minggu Wage

Hari Minggu Wage, hari yang sudah dinanti-nanti oleh sebagian jamaah Masjid Al Mujahidin, karena pagi itu ada kajian istimewa yang bertepatan dengan tanggal 10 Muharom. Hari yang dikenal sebagai Hari Asyura, penuh nilai dan makna dalam sejarah Islam.

Selepas subuh, suara merdu hadroh terdengar menggema dari arah masjid. Suaranya berbeda dari biasanya kali ini lebih lembut, lebih harmonis, dan dominan terdengar suara perempuan. Saya pun bergegas menuju masjid, penasaran dengan nuansa baru yang tercipta.

Dari kejauhan tampak deretan grup hadroh yang mengenakan segaram warna pink. Duduk rapi, perempuan di barisan depan, sementara barisan belakang diisi oleh para lelaki. Warna pink yang lembut justru memperindah suasana pagi, memancarkan keteduhan dan kelembutan yang menyentuh hati.

Yang lebih menarik perhatian adalah seorang penari sufi yang berdiri di sisi kiri mimbar. Ia mengenakan pakaian putih bersih dan topi merah khas darwis. Gerakannya perlahan, berputar penuh khidmat, seolah sedang menyampaikan doa dalam gerakan. Setiap putaran membawa ketenangan tersendiri bagi para penonton yang larut dalam dzikir dan irama hadroh.

Tepat pukul enam pagi, acara kajian dimulai. Pembawa acara, Bapak Bedjo, membuka dengan salam penuh semangat dan wajah ceria. Suaranya mantap, membangkitkan semangat para jamaah yang datang dari berbagai penjuru. Tidak hanya warga sekitar masjid tapi juga beberapa ibu-ibu dari desa tetangga yang sengaja datang lebih pagi demi menyerap ilmu dari sang ustadz tamu.

Ustadz K. H Saerozi yang mengisi kajian berasal dari Bojonegoro. Beliau tampil sederhana namun kharismatik. Sorot matanya tenang, senyumnya tulus, dan tutur katanya lembut tapi menggugah. Di awal tausiyahnya, beliau mengingatkan bahwa hari ini adalah hari yang sangat istimewa dalam kalender hijriah10 Muharom. Hari di mana banyak peristiwa penting dalam sejarah para nabi terjadi, mulai dari selamatnya Nabi Nuh dari banjir besar hingga selamatnya Nabi Musa dari kejaran Fir’aun.

Ustadz tidak hanya berhenti pada sejarah. Ia kemudian mengajak seluruh jamaah untuk merenungi nikmat Allah yang sering kali luput dari perhatian kita. Nikmat yang pertama, kata beliau, adalah nikmat wujud, yaitu nikmat menjadi “ada”. Bahwa keberadaan kita di dunia ini bukanlah suatu kebetulan. Ada Sang Pencipta yang Maha Mengatur, yang memberi kita bentuk dan menghidupkan.

“Nikmat kedua,” lanjut beliau, “adalah nikmat hidup. Hidup itu bukan sekadar bernapas. Hidup adalah tentang bagaimana kita menggunakan waktu yang Allah Subhanahu Wata'alla berikan, untuk menjadi insan yang bersyukur.”

Kemudian ustadz menyoroti tentang segumpal darah dalam tubuh manusia itulah hati. Jika hati itu baik, maka seluruh amal dan perilaku manusia akan ikut baik. Namun jika hati rusak, maka rusak pula keseluruhannya.

“Jagalah hati mulai bulan Muharom ini,” pesan beliau. “Mulailah dengan niat baru, semangat baru, dan pemikiran baru. Bukan hanya memperbaiki amal lahiriah, tapi juga amal batiniah.”

Bagian yang paling menyentuh bagi para jamaah perempuan adalah saat ustadz berbicara tentang peran wanita.

“Jangan remehkan tugas seorang wanita,” katanya, “karena ia bekerja dari terbit matahari hingga terbenamnya mata suami.” Kalimat ini membuat beberapa ibu menundukkan kepala, merenungi betapa beratnya peran yang selama ini dijalani dengan penuh keikhlasan, sering tanpa keluhan.

Ia juga menambahkan, “Doa seorang ibu terhadap anaknya, seperti doa seorang nabi kepada umatnya. Jangan sepelekan doa. Ibu adalah penjaga rumah, pendidik pertama, dan tiang kehidupan keluarga.”

Pesan terakhir beliau mengajak para jamaah untuk lebih banyak bersyukur dan bersabar di bulan Muharom ini. Banyak bersyukur atas apa yang sudah diberikan Allah Subhanahu Wata'alla dan banyak bersabar atas apa yang belum kita capai. Hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan, tapi hati yang tenang dan sabar akan memudahkan langkah.

Ketika kajian selesai, hadroh kembali dilantunkan. Penari sufi kembali berputar dengan gerakan tenang, menutup acara dengan indah. Jamaah pun perlahan membubarkan diri, namun aura ketenangan dan semangat baru masih terasa kuat di hati masing-masing.

Saya berjalan pulang dengan hati yang penuh syukur. Pagi itu bukan sekadar mengikuti kajian rutin, tapi juga mendapat pencerahan jiwa. Hari Minggu Wage ini menjadi pengingat bahwa hidup adalah tentang mensyukuri nikmat dan menjaga hati. Sebuah pelajaran penting yang akan saya kenang setiap datangnya bulan Muharom.
Cepu, 7 Juli 2025 


Cahaya 10 Muharom


Karya : Gutamining Saida 
Seharian langit redup. Burung-burung kecil terbang pulang ke sarangnya. Di beranda rumah yang sederhana, seorang nenek yang biasa disapa Timmi duduk bersama ketiga cucunya Zaskia, Hamzah, dan Emira. Mereka baru saja selesai salat ashar berjamaah, dan suasana hati terasa damai.

"Timmi, Kenapa banyak orang bilang tanggal 10 Muharom hari istimewa?" tanya Zaskia. 
Timmi di depan cucu-cucunya, seolah hendak memulai sebuah dongeng yang penuh makna.
“Coba kalian dengarkan baik-baik ya, Timmi mau cerita,” ujar timminya.
Cucu pun duduk rapi, penuh perhatian. Nenek memulai ceritanya.

"Pada tanggal 10 Muharram, yang juga disebut Hari Asyura, banyak peristiwa besar terjadi dalam sejarah umat manusia. Bukan satu, tapi banyak sekali kejadian penting yang Allah jadikan sebagai pelajaran dan pengingat untuk kita."

“Wah, kayak apa, Tiiim?” tanya Hamzah penasaran.
Pertama, “di hari inilah Nabi Nuh dan para pengikutnya selamat dari banjir besar. Setelah berbulan-bulan terombang-ambing di atas bahtera, kapal Nabi Nuh akhirnya bersandar di Gunung Judi pada tanggal 10 Muharram.”

"Serius, Tiim? Jadi itu hari penyelamatan?" seru kakak Zaskia.
Tiimi mengangguk. “Iya. Lalu, Nabi Musa juga diselamatkan dari kejaran Firaun pada tanggal ini. Allah Subhanahu Wata'alla membelah Laut Merah untuk menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya dari kejaran tentara Mesir.”
"Masya Allah!" bisik Zaskia kagum.

Tiimi melanjutkan, "Dan tahukah kalian? Di hari 10 Muharram juga, Nabi Yunus dikeluarkan dari perut ikan paus. Nabi Ibrahim diselamatkan dari kobaran api Namrud. Bahkan, pada hari ini, Allah Subhanahu Wata'alla mengampuni dosa Nabi Adam."

“Wah, banyak banget peristiwa penting ya, Tiim…” kata Hamzah sambil mengangguk-angguk.
Tiimi tersenyum. “Benar. Tapi ada satu peristiwa yang membuat umat Islam sangat terenyuh jika mengingatnya. Peristiwa itu adalah kesyahidan cucu Nabi Muhammad ﷺ, Sayyidina Husain bin Ali, dalam Perang Karbala.”

“Sayyidina Husain itu cucu Nabi ya, Nek?” tanya kakak Zaskia.
“Iya. Ia adalah anak dari Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra, putri Rasulullah. Sayyidina Husain adalah orang yang sangat mulia, pemberani, dan penuh cinta kepada umat. Pada tanggal 10 Muharram tahun 61 Hijriyah, ia dan para pengikutnya dibunuh secara kejam oleh pasukan Yazid di padang Karbala, Irak.”
“Kenapa bisa sampai dibunuh, Tiimi?” tanya kakak. Zaskia sedih.
"Karena Sayyidina Husain menolak mengakui kepemimpinan Yazid yang zalim dan tidak adil. Ia memilih untuk menegakkan kebenaran, walaupun harus berkorban jiwa. Ia dan rombongannya dikepung, dibiarkan kelaparan dan kehausan selama beberapa hari. Hingga akhirnya, mereka semua gugur sebagai syuhada."

Hamzah tampak termenung. “Berarti hari itu juga penuh duka ya, Tiim?”
Tiimi mengangguk pelan. “Ya, hari itu adalah hari air mata bagi umat Islam. Tapi juga hari penuh cahaya, karena Sayyidina Husain menunjukkan pada kita arti keberanian, keteguhan, dan cinta kepada Allah Subhanahu Wata'alla .”

Zaskia mengangkat tangan, “Tiimi kenapa kita memperingati 10 Muharram? Apa yang harus kita lakukan?”
“Sangat bagus pertanyaannya,” kata Tiimi sambil tersenyum. “Pada 10 Muharram, kita dianjurkan untuk berpuasa sunnah. Rasulullah ﷺ sendiri berpuasa di hari itu dan menyuruh umatnya untuk ikut berpuasa sebagai bentuk syukur atas keselamatan para nabi-nabi Allah di masa lalu.”

“Lalu apa lagi, Tiimi?”
“Kita juga dianjurkan untuk berbuat kebaikan. Memberi santunan pada anak yatim, bersedekah, memperbanyak zikir dan doa. Bahkan ada hadits yang menyebut bahwa siapa yang menyenangkan hati keluarganya di hari Asyura, maka Allah Subhanahu Wata'alla akan melapangkan rezekinya sepanjang tahun.”

"Wah, berarti tadi pagi saat Tiimi kasih kami sarapan istimewa itu juga termasuk menyenangkan keluarga ya?" tanya Hamzah sambil tersenyum lebar.
“Iya, sayang,” jawab Tiimi memeluk kakak Zaskia lembut.
Senja mulai datang, suara adzan Maghrib menggema dari mushola kecil di ujung jalan. Tiimi menutup kisahnya dengan lembut.

"10 Muharram bukan sekadar tanggal dalam kalender Hijriyah. Ia adalah pengingat tentang keimanan, kesabaran, pengorbanan, dan kasih sayang. Hari di mana Allah menunjukkan keajaiban-Nya dan juga hari di mana umat Islam belajar untuk tetap berdiri di jalan kebenaran, meski harus mengorbankan yang paling berharga sekalipun.”

Ketiga cucu saya terdiam sejenak. Lalu Zaskia berucap, “Timmi, besok aku mau puasa. Aku juga mau kasih uang jajan untuk teman yatim. 
Timmi tersenyum bangga. Air matanya menetes haru. “InsyaAllah, kita lakukan bersama. Karena dari kisah-kisah itulah kita belajar jadi manusia yang lebih baik.”
Cepu, 6 Juni 2025 

Sabtu, 05 Juli 2025

Belajar Tentang Rezeki Dari Allah

Karya : Gutamining Saida 
Minggu pagi selalu terasa berbeda. Ada udara segar, suasana santai, dan yang paling menyenangkan, saya bisa menghabiskan waktu bersama cucu-cucu saya yaitu  Zaskia, Hamzah, dan Emira. Mereka bertiga sedang menikmati libur panjang di Cepu.

Saya mengajak mereka keluar sebentar untuk melihat suasana pasar tiban.
Pasar Tiban adalah pasar dadakan yang hanya ada setiap Minggu pagi. Di sana banyak pedagang, dari yang menjual nasi pecel, nasi soto, jajanan tradisional, hingga perabot, mainan anak dan ikan hias. Ada satu bagian pasar yang selalu menarik perhatian cucu-cucu saya yaitu kolam ikan dan  penjual ikan hias.

Sebelum menuju ke kolam, kami mampir dulu ke penjual makanan ikan. Di atas meja kecilnya, berjejer bungkus-bungkus kecil berisi pelet ikan. Setiap bungkus dijual dengan harga dua ribu rupiah. Murah meriah, tapi membawa kebahagiaan yang luar biasa.

“Timmi, aku mau beli makanan ikan sendiri ya,” ujar Hamzah sambil menunjuk bungkusan kecil.
“Kalau gitu, kita beli tiga bungkus ya,” kata saya sambil tersenyum. “Satu untuk kakak Zaskia, satu untuk Hamzah, satu lagi Untuk dedek  Emira. Biar semua bisa berbagi rezeki ke ikan.”

Saya menyerahkan enam ribu rupiah dan mendapatkan tiga bungkus makanan ikan. Cucu-cucu saya langsung memegang masing-masing satu bungkus dengan bangga, seakan itu adalah harta karun. Mereka tidak sabar menuju ke kolam.

Kami berjalan ke sudut pasar, tempat kolam ikan berada. Kolam itu tidak besar, hanya kolam semen dengan air. Isinya luar biasa adalah ikan-ikan hias berwarna merah, oranye, putih, dan hitam berenang riang di dalamnya. Anak-anak langsung bersorak kecil saat melihat ikan-ikan itu berenang mendekat.

Kami duduk di tepi kolam. Bagian pinggirnya dibuat agak tinggi sehingga aman untuk anak-anak duduk sambil menaburkan makanan.
“Ayo, buka bungkusnya pelan-pelan ya. Taburnya sedikit-sedikit,” saya mengingatkan.

Zaskia menjadi yang pertama. Ia menaburkan beberapa butir makanan ke permukaan air. Seketika, puluhan ikan langsung datang menyerbu. Ada yang besar, ada yang kecil, semua bergerak cepat, membuka mulut mereka sambil berenang lincah.
“Waaaah, lihat itu!” teriak Hamzah. “Ikan oranye itu paling cepat!”
“Yang kecil malah kalah,” tambah Emira sambil menatap ikan-ikan yang tampak kesulitan bersaing.

Saya ikut mengamati, lalu berkata, “Iya, memang yang besar sering lebih cepat. Coba perhatikan baik-baik. Lama-lama, yang kecil juga kebagian, kan?”

Zaskia yang sudah selesai dengan taburan pertamanya menoleh, “Berarti kayak rezeki ya, Timmi? Ada yang dapat duluan, ada yang harus nunggu.”
Saya tersenyum, merasa bangga dengan kepekaan cucu saya. “Betul sekali. Allah Subhanahu Wata'alla sudah mengatur rezeki semua makhluk. Ikan-ikan ini, meskipun kecil, tetap dapat bagian. Yang penting mereka sabar dan tidak menyerah berenang.”

Hamzah melanjutkan menaburkan makanannya, kali ini dengan lebih pelan dan teratur. Ia seolah ingin memberi kesempatan pada ikan-ikan kecil untuk ikut makan.
“Yang penting jangan serakah, ya,” ujarnya polos.

Saya mengangguk, “Benar. Sama seperti manusia, kita harus tahu cara berbagi. Kalau semuanya rebutan dan tidak peduli satu sama lain, pasti ada yang tidak kebagian.”

Anak-anak terlihat sangat menikmati kegiatan ini. Mereka tertawa saat melihat ikan melompat, berteriak kecil saat melihat ikan yang semula diam tiba-tiba bergerak cepat saat melihat makanan. Emira  sempat terlonjak karena percikan air dari gerakan ikan.

Tak terasa makanan di tangan mereka habis. Tapi mereka masih duduk di tepi kolam, memandangi ikan-ikan yang kini berenang lebih tenang setelah kenyang.

“Timmi, nanti kalau aku punya kolam di rumah, aku mau kasih makan ikan tiap hari,” kata Zaskia penuh semangat.

“Bagus itu,” saya menjawab. “Tapi jangan lupa, kasih makan  dengan sabar, syukur, dan berbuat baik.”

Sebelum pulang, kami duduk sejenak menikmati suasana pasar yang mulai sepi. Zaskia  tampak lebih tenang, tidak lagi melonjak-lonjak. Saya tahu, mereka tidak hanya melihat ikan. Mereka sedang belajar tentang kehidupan tentang rezeki, kesabaran, dan rasa syukur.

Sepulang dari pasar, saya meminta mereka menggambar ikan yang mereka sukai. Zaskia menggambar seekor ikan nila  merah besar dilengkapi tulisan "semua ikan dapat rezeki walau harus sabar," Hamzah menggambar ikan kecil yang berenang cepat.

Dengan enam ribu rupiah dan tiga bungkus makanan ikan. Saya telah belajar tentang kebahagiaan tidak harus mahal. Saya kembali belajar tentang indahnya berbagi dan bersyukur atas hidup ini.
Cepu, 6 Juni 2025 

Jumat, 04 Juli 2025

Jilbab Kakak Zaskia

Karya :Gutamining Saida 
Di teras depan, suara riuh rendah tawa cucu-cucuku mengisi udara. Zaskia, Hamzah, dan El sedang asyik bermain dengan amahnya, sementara akungnya sibuk membersihkan kendaraan di halaman. Saya duduk tak jauh dari mereka, menikmati momen ini dengan  tumpukan kain sisa di pangkuan.

Saya sengaja tidak menyibukkan diri terlalu banyak. Niat saya hanya satu menyempatkan diri untuk berkarya. Di sela-sela waktu saat cucu-cucu tak begitu membutuhkan kehadiran saya, saya ingin berbuat sesuatu yang berguna. Melihat kain-kain yang menumpuk di sudut lemari beberapa hari terakhir, saya tergerak untuk membuat sesuatu yang bisa bermanfaat. Sesuatu yang bukan hanya indah, tapi juga membawa senyum.

Tangan saya mulai bekerja. Saya potong kain dengan rapi, menjahit perlahan dengan tangan, menyusun warna, dan menyelaraskan motif. Kain polos berwarna oren, putih tulang, hitam. Satu demi satu kain mulai saya potong, hingga terbentuklah sebuah jilbab mungil pas untuk Zaskia, cucu perempuan yang paling besar.

Selesai membuatnya, saya memanggilnya.
"Kakak Zaskiaaa... coba sini sebentar, Timmi buatkan sesuatu."

Ia mendekat, matanya berbinar melihat jilbab yang saya buat.
"Untuk kakak, Timmi?" tanyanya setengah tak percaya.

"Iya, coba pakai. Cantik nggak?"
Zaskia pun segera memakainya, lalu bercermin. Senyumnya mengembang lebar. Wajah kecilnya berseri-seri.
"Waah... Zaskia jadi kayak princess!" katanya sambil berputar-putar.

Saya ikut tersenyum. Tak ada yang lebih membahagiakan dari melihat anak kecil bahagia karena sesuatu yang kita buatkan dengan tangan sendiri.

Belum sempat saya duduk kembali, El biasa dipanggil, cucu perempuan yang paling kecil menghampiri. Matanya tertuju pada jilbab Zaskia yang baru.
"Timmi... aku juga mau!" serunya riang. "Tolong El dibikinin jilbab juga, yang warna biru, pink, sama kuning ya!"
Ia menyebutkan warna favoritnya dengan antusias.

Saya mengangkat alis, pura-pura terkejut.
"Lho kok banyak, El?" tanya saya .
"Iya! Kakak juga banyak!" jawabnya cepat, tak mau kalah. Ia menunjuk ke arah kakak  Zaskia yang sedang berlenggak-lenggok memakai jilbabnya.

"Tapi... dipakai nggak nanti sama El?" saya bertanya dengan nada menggoda.
"Pakailah, Timmi. El pakai... celana aja ya? Iya iya..." katanya dengan ekspresi lucu, sedikit ragu tapi tetap ngotot. Mungkin maksudnya ia ingin jilbab, tapi tetap bisa pakai celana warna-warni seperti biasanya.

Saya tertawa kecil. Sungguh, dunia anak-anak memang penuh warna dan logika polos yang tak bisa ditebak.

Akhirnya saya mencari kain-kain lain yang tersisa. Tak banyak memang, tapi cukup kalau dipadupadankan. Saya  manfaatkan apa yang ada. Potongan kain bekas mukena, ujung gamis lama, sisa kerudung yang sudah tersimpan bertahun-tahun. Semua saya jadikan bahan dasar.

Di sinilah saya merasa bersyukur menjadi seorang wanita. Menjadi ibu, nenek, sekaligus pengrajin kecil-kecilan di rumah sendiri. Kemauan dan kreativitas bisa membuat barang tak terpakai menjadi sesuatu yang bernilai. Tak perlu peralatan mahal, cukup dengan cinta dan kesungguhan, maka hasilnya akan terasa istimewa.

Malam harinya, setelah semua cucu tidur, saya lanjut menjahit. Satu persatu jilbab selesai, celana El, baju El selesai juga.  

Keesokan harinya, El bangun lebih awal dari biasanya. Begitu melihat jilbab yang telah jadi tergeletak di meja, ia langsung berseru.
"Waaaah! Udah jadi ya Timmi!"
Ia langsung mengambilnya dan mencoba sendiri, meskipun masih kebesaran sedikit di kepalanya.
"Timmi... cantik enggak?"
"Cantik banget... El jadi kayak kakak !" jawab saya.

El tersipu-sipu, lalu memanggil kakaknya, Zaskia. Mereka berdua pun mulai berlenggak-lenggok seperti model, berjalan berputar di ruang tamu. Hamzah yang melihat mereka, hanya geleng-geleng sambil berkata,
"Aduh... Kakak dan adik ini..". 
Rumah kami penuh dengan tawa, warna-warni, dan cinta. Saya bersyukur bisa membuat mereka bahagia dengan sesuatu yang sederhana. Saya yakin, kebahagiaan mereka juga membuat semangat saya  tumbuh. Bahwa di usia ini pun, saya masih bisa berkarya, mencipta, dan menularkan semangat kreatif kepada generasi kecil di keluarga. 

Kelak, ketika mereka tumbuh besar, saya harap mereka akan mengenang hari-hari ini. Hari ketika sebuah potongan kain sederhana berubah menjadi jilbab yang membawa senyum dan cinta dari tangan seorang nenek Timmi. Semoga menginspirasi. 
Cepu, 5 Juli 2025 

Coretan Wajah

Karya: Gutamining Saida 
Sore itu, menjelang waktu mandi, cucu-cucu saya yaitu Zaskia, Hamzah, dan Emira berlari kecil ke arah saya dengan wajah penuh semangat.
“Timmi, main yuk! Jangan mandi dulu,” pinta Zaskia sambil menarik tangan saya.

Saya tersenyum. Rasa lelah saya langsung menguap melihat semangat mereka. “Main apa ya sore ini?” tanya saya sambil menatap wajah mereka satu per satu.

Tak ingin menyia-nyiakan momen itu, saya segera mendapatkan ide permainan sederhana tapi seru yaitu tebak huruf nama hewan, lengkap dengan hukuman yang mengundang tawa yaitu coretan bedak bayi di wajah!

“Panggil Amah, umi kalian dan kita main ramai-ramai. Harus banyak peserta biar tambah seru,” ajak saya.

Tak lama, anak saya ikut bergabung. Kami semua duduk membentuk lingkaran di atas lantai di ruang tengah. Saya lalu menjelaskan aturannya.

“Sekarang semua ulurkan jari tangan kalian ke tengah. Bebas, mau satu sampai sepuluh jari juga boleh. Nanti kita hitung jari satu per satu sambil menyebut abjad: A, B, C, dan seterusnya. Huruf terakhir yang jatuh di jari terakhir, itulah huruf yang harus kita pakai untuk menebak nama hewan.  Ingat, dalam satu putaran, semua peserta harus menyebut satu nama hewan dengan huruf tersebut. Siapa yang tidak bisa menjawab, wajahnya kita coret pakai bedak bayi!”

Tawa pun langsung pecah. Anak, cucu - cucu sudah tak sabar ingin memulai.
Putaran pertama dimulai. Zaskia mengulurkan lima jari, Hamzah dua, Emira tiga, amah Faiz empat, dan saya tiga. Total ada tujuh belas jari. Saya mulai menyebut, “A, B, C, D, E, F, G, H, I, J, K, L, M, N, O, P, Q...”
Huruf terakhir adalah Q.
Semua serentak berseru, “Waduhhh! Susah banget, huruf Q!”

Zaskia berpikir keras, “Hmm… Q… Q… Quokka!” katanya ragu-ragu. Saya tertawa, ternyata dia tahu hewan kecil dari Australia itu. “Benar! Zaskia lolos!”

Hamzah mulai gelisah. “Q... Qura... Qucing?” katanya, membuat semua tertawa. “Salah, Hamzah, yang benar tetap ‘kucing’, bukan ‘qucing’! Coret!” Kami pun serempak mencoret pipinya dengan bedak bayi. 

Saya dan anak saya sama-sama tidak sempat berpikir cepat. Kami kehabisan ide dan waktu pun habis.
“Coret! Coret!” seru Zaskia.
Dalam waktu singkat, wajah saya dan anak saya penuh garis putih dari pipi hingga dagu. Tawa makin meledak.

Putaran kedua dimulai. Kali ini jari-jari kami menghasilkan huruf S.
“Ah, gak ikut!” kata Emira.
Zaskia langsung menyahut, “Sapi!
Hamzah dengan cepat menambahkan, “Semut!”
Saya berkata, “Siput!”
Anak saya kebingungan. “Aduh… apa lagi ya… S… S… Sowa?” Kami semua memandang heran.

“Sowa? Yang benar burung hantu itu Owl, bukan ‘Sowa’!” protes Zaskia sambil tertawa.

“Wah, siap-siap dicoret,” kata saya sambil menuang bedak di jari.

Wajah dik Faiz kini sudah bercorak seperti badut. Tapi dia hanya tertawa bersama.

Permainan berlanjut dengan huruf “M”, “T”, “B”, dan sebagainya. Semakin lama, semakin banyak wajah yang penuh coretan. Hamzah pernah kena tiga kali berturut-turut dan wajahnya nyaris tak dikenali lagi. Tapi ia justru pali semangat.

“Lagi, lagi! Aku mau kena lagi!” teriaknya dengan polos.

Terkadang, saya harus memberi waktu tambahan bagi yang lebih kecil. Tapi mereka tetap berusaha keras menebak nama hewan yang benar. Permainan ini bukan sekadar seru, tapi juga penuh manfaat—mengasah ingatan, menambah kosa kata, dan tentu saja mempererat kebersamaan.

Ketika hari mulai gelap dan aroma sabun dari kamar mandi mulai tercium, saya mengajak semuanya berhenti.

“Ayo, cukup dulu. Sudah waktunya mandi.”

“Belum, Timmi! Satu putaran lagi!” protes Zaskia.

“Biar setelah mandi tetap bisa ketawa lihat wajah sendiri di cermin, ya?” goda saya.

Akhirnya kami sepakat menyudahi permainan setelah putaran terakhir. Kami semua menuju kamar mandi dengan wajah penuh bedak, hati penuh tawa, dan kenangan penuh warna.

Sore itu, permainan sederhana telah menciptakan kebahagiaan yang tak sederhana. Tak perlu ponsel, tak perlu mainan mahal. Hanya dengan huruf, tawa, dan bedak bayi, hari itu menjadi istimewa dan akan dikenang selamanya.
Cepu, 4 Juni 2025 


-

Kamis, 03 Juli 2025

Bersama Ular Tangga

Karya : Gutamining Saida 
Matahari bersinar cerah, ruang tamu terbuka. Di dalam rumah, ada tiga cucu saya yaitu Zaskia, Hamzah, dan Emira mulai tampak bosan. Sejak pagi mereka menonton televisi, menonton kartun, menonton film anak-anak, dan kini mulai mengeluh.

"Timmi, bosan nonton TV terus," kata Zaskia sambil mematikan televisi dengan remote.
"Iya, main yuk Timmi," tambah Hamzah, matanya bersinar, berharap ada ide permainan seru.

Emira pun ikut duduk mendekat, mengangguk-angguk, meski belum terlalu fasih bicara. Saya tersenyum melihat ketiganya. Saya tahu, saat-saat seperti inilah yang paling mereka rindukan saat berkumpul di rumah. Maka saya putuskan untuk mengajak mereka bermain permainan papan yang sudah lama tersimpan yaitu ular tangga.

Saya ambil papan ular tangga dari lemari, lalu mencari dadu dan penanda pemain. Karena tidak ada pion khusus, saya ambil tiga tutup botol dari dapur. Satu tutup botol berwarna putih untuk Zaskia, yang oren untuk Hamzah, dan yang merah untuk Emira. Mereka langsung semangat saat melihat saya menata papan permainan di lantai ruang tengah. Kami duduk lesehan di atas lantai. 

"Timmi, Emira belum bisa main, kan?" tanya Zaskia.
"Tenang, nanti Timmi bantu Emira," jawab saya sambil tersenyum. "Tapi sebelum melempar dadu, kalian harus menjawab pertanyaan dulu, ya. Kalau bisa jawab, baru boleh lempar dadu!"

Zaskia dan Hamzah langsung tertawa senang. Mereka tahu saya suka memberi tantangan kecil seperti itu. Saya pun mulai permainan dengan memberi pertanyaan ringan.

"Zaskia dulu, ya. Sebutkan nama-nama hari dalam seminggu!"
"Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu!" jawabnya cepat.
"Bagus! Lempar dadunya!"
Zaskia pun melempar dadu dan tutup botol putihnya melaju ke kotak nomor empat aman. Kemudian giliran Hamzah. "Hamzah, berapa hasil dari dua tambah tiga?"
"Enam!" jawabnya yakin.
Saya pura-pura mengerutkan dahi. "Yakin?"
Hamzah pun tersenyum malu, lalu cepat membetulkan, "Lima!"
Saya tertawa. "Bagus! Lempar dadu, Nak!"

Hamzah melempar dan tutup botol oren-nya mendarat di kotak nomor enam masih aman. Saya membantu Emira menjawab pertanyaan mudah, seperti menyebutkan warna-warna. Ia menjawab dengan lucu, "Merah, kuning, ungu, pink," dan langsung bersorak-sorai sendiri.

Permainan pun berlanjut. Setiap giliran menjadi momen seru karena harus menjawab soal-soal sederhana terlebih dahulu. Tak hanya membuat permainan lebih menarik, tapi juga mengasah kemampuan berpikir mereka sambil bersenang-senang.

Semakin lama permainan berjalan, suasana semakin hidup. Mereka saling mengejar poin. Ada momen-momen lucu ketika dadu menunjukkan angka kecil, atau saat harus kembali ke bawah karena tertelan ular.

Suasana mendadak berubah ketika Zaskia melempar dadu dan tutup botol putihnya berhenti tepat di kepala ular besar di kotak 47. Saya melihat wajahnya langsung berubah. "Yaah… harus turun ke ekor ular…" gumamnya pelan. Matanya menatap ke arah kotak bawah tempat ekor ular berakhir. Ia menghitung kotak dengan jari-jarinya. "Empat puluh tujuh… turun ke tiga belas!" Seketika ekspresinya berubah muram. Ia duduk bersila dan memeluk lututnya. Saya bisa merasakan kekecewaannya.

"Zaskia, nggak apa-apa. Namanya juga permainan. Nanti juga bisa naik lagi," saya coba hibur. Namun sebelum Zaskia sempat membalas, tiba-tiba sorakan keras terdengar dari Hamzah.
"Horeee! Aku naik tangga!!" teriaknya kegirangan. Tutup botol oren miliknya berhenti di kotak 28, tepat di bawah tangga yang mengarah ke kotak 84. Ia menghitung dengan penuh semangat dan wajah penuh kemenangan.

"Sekarang aku paling depan! Hamzah menang! Hamzah menang!" katanya bersorak sambil berdiri dan menari kecil. Saya ikut tepuk tangan melihat semangatnya. Emira pun ikut menirukan gaya kakaknya, walau belum mengerti menang atau kalah.

Sementara Zaskia mulai bisa tersenyum kembali. Saya ajak dia mengulang giliran setelah menjawab satu teka-teki lucu, dan dadu akhirnya membawanya kembali ke jalur atas. Permainan terus berjalan sampai tutup botol Hamzah akhirnya mencapai kotak 100. Dengan semangat, ia berdiri dan berteriak, “Aku sampai puncak! Aku menang!”

Saya dan kedua cucunya yang lain ikut memberi tepuk tangan. Meski Hamzah menang, kami semua merasa menjadi pemenang hari itu. Tidak ada hadiah berupa piala atau medali. Tapi yang kami dapatkan jauh lebih berharga yaitu kebersamaan, tawa, dan kenangan indah.

Saya memandang satu per satu wajah mereka. Wajah-wajah kecil yang penuh semangat dan keceriaan. Tidak ada gadget, tidak ada TV, tapi justru momen itu yang paling berkesan. Saya bahagia bisa menciptakan suasana yang menyenangkan untuk mereka di masa liburan ini. Saya tahu, suatu hari nanti, mereka akan mengenang permainan ular tangga di ruang tamu bersama Timmi, sebagai bagian manis dari masa kecil mereka.
Cepu, 4 Juni 2025 

Murid Akung

Karya : Gutamining Saida 
Liburan kali ini, rumah kami kembali ramai oleh tawa dan celoteh cucu-cucu. Zaskia, Hamzah, dan Emira datang berlibur di rumah kami di Cepu. Suasana yang biasanya tenang berubah menjadi penuh semangat sejak pagi. Ketiganya saling bermain, dan tak jarang berebut tempat duduk di pangkuan Timmi atau Akung.

Hamzah, cucu lelaki kami yang kini duduk di TK A, memang punya rasa ingin tahu yang besar. Apa saja yang dilakukan oleh orang dewasa, selalu ingin ia ikuti. Tak terkecuali urusan keluar rumah. Setiap kali Akung atau saya, Timmi-nya, bersiap-siap pergi, dia akan bertanya, “Mau ke mana? Hamzah ikut ya!”

Kami tentu senang dengan semangatnya, meski kadang ada rasa khawatir kalau tiba-tiba ia bosan lalu merengek minta pulang. Senin pagi itu, ketika Akung bersiap berangkat mengajar ngaji di Sambong, Hamzah mendekat dan bertanya dengan suara antusias, “Akung, hari ini ngaji ya? Hamzah boleh ikut?”

Akung memandangnya dan berkata tenang, “Boleh ikut, tapi jangan merengek minta pulang, ya. Duduk tenang, dengarkan, dan lihat-lihat saja dulu.”

Hamzah langsung mengangguk mantap. “Setuju, Hamzah nggak akan rewel. Janji!”

Akhirnya, berangkatlah mereka berdua ke Sambong, sebuah desa yang tak terlalu jauh dari Cepu. Jalanan masih sepi dan sejuk pagi itu. Hamzah duduk dengan penuh semangat, sesekali bertanya ini-itu tentang ngaji. 

Sampai di Sambong tempat yang biasa digunakan untuk mengaji para lansia, Hamzah tampak terdiam sejenak. Ia melihat beberapa orang yang sudah duduk. Semuanya berusia lanjut. Ada yang memakai yang memakai kacamata tebal. Sebagian menyapa hangat kepada Akung, lalu tersenyum ramah kepada Hamzah.

“Lho Akung,” bisiknya pelan. “Itu murid-muridnya Akung? Kok... kakek-kakek dan nenek-nenek semua?”

Akung hanya tersenyum sambil mempersiapkan Al-Qur’an. “Iya, Hamzah. Mereka murid Akung. Mereka sedang belajar ngaji, belajar ilmu agama.”

Hamzah tidak berkata-kata lagi. Ia duduk di samping dan memperhatikan dengan seksama. Ia mengamati bagaimana para lansia itu mendengarkan penjelasan, mengeja huruf-huruf hijaiyah, dan sesekali bertanya dengan suara pelan. 

Setelah dua jam berlalu, ngaji pun selesai. Para lansia bersalaman dengan Akung, lalu berpamitan pulang dengan wajah cerah dan semangat. Hamzah pun diajak pulang.

Sepanjang perjalanan, Hamzah terdiam. Tak seperti biasanya yang banyak bertanya. Begitu sampai di rumah, ia langsung lari menemui uminya dan berkata dengan suara takjub, “Umi... tahu nggak? Muridnya Akung tadi bukan anak-anak, tapi kakek-kakek dan nenek-nenek!”

Uminya tertawa mendengar cerita Hamzah yang penuh ekspresi. “Iya dong. Dalam Islam, belajar itu wajib, dari lahir sampai ke liang lahat. Jadi meskipun sudah tua, mereka tetap wajib menuntut ilmu, terutama ilmu agama.”

Hamzah tampak berpikir sejenak, lalu bertanya, “Berarti nanti kalau Hamzah sudah tua, harus tetap belajar juga ya, Umi?”

“Tentu saja. Kita semua harus terus belajar. Ilmu agama itu bekal untuk kehidupan setelah kita meninggal. Ilmu itu nggak ada batas waktunya. Bahkan Rasulullah SAW bersabda: ‘Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat.’”

Hamzah mengangguk. Matanya bersinar. “Berarti nenek-nenek dan kakek-kakek tadi itu hebat ya, Umi. Sudah tua tapi masih mau belajar ngaji. Hamzah juga mau kayak gitu nanti.

Ada rasa haru yang menyelinap di dada. Si kecil ini memang selalu punya cara sendiri dalam memahami dunia. Apa yang ia lihat hari itu menjadi pelajaran berharga yang mungkin tidak ia dapat dari buku atau sekolah.

Hamzah belajar makna menuntut ilmu dari murid-murid Akung. Bukan dari anak-anak seperti dirinya, tapi dari orang-orang tua yang tetap berjuang mengaji meski usia tak lagi muda. Saya yakin, pelajaran itu akan tinggal lama di dalam hatinya.

Semoga Hamzah tumbuh menjadi anak yang selalu mencintai ilmu, menghargai waktu, dan menjadikan agama sebagai cahaya hidupnya. 
Cepu, 3 Juli 2025 

Rabu, 02 Juli 2025

Berburu Nikmat dari-Mu

Karya : Gutamining Saida 
Rabu siang tanggal 2 Juli 2025 mentari bersinar hangat. Tidak terlalu terik, tapi cukup membuat keringat muncul jika duduk terlalu lama di dalam rumah tanpa kipas. Saat jam dinding menunjukkan pukul dua lewat sedikit, saya mengajak anak-anak dan cucu-cucu untuk keluar sejenak.

“Bagaimana kalau sore ini kita berburu kuliner?” tanya saya sambil tersenyum.

Anak-anak saya yang sedang berbincang di ruang tengah langsung menyambut dengan semangat. Cucu-cucu yang masih asyik bermain pun langsung berhenti dan berseru, “Mauuu! Ayo naik motor, Umi!”

Kami tak berniat pergi jauh, cukup di sekitar Cepu saja. Kota kecil ini memang menyimpan banyak lokasi kuliner yang meski sederhana, penuh cita rasa. Salah satunya adalah tempat yang berada di bawah naungan hutan jati, tepi jalan raya sekitar 15 menit dari rumah jika naik motor pelan-pelan.

Perjalanan kami mulai dengan santai. Motor melaju perlahan menyusuri jalan utama. Pemandangan di kanan kiri menyuguhkan deretan pohon, rumah-rumah penduduk, dan sesekali ladang yang menghijau. Udara terasa bersih, dan angin sore yang menyapa wajah membuat perjalanan singkat ini terasa menyenangkan.

Setibanya di tempat tujuan, suasana ramai langsung terasa. Rupanya kami tidak sendirian. Banyak keluarga lain juga datang untuk menikmati sajian yang tersedia. Aroma kuah bakso mengepul di udara, bercampur dengan wangi cuka empek-empek dan semilir aroma manis dari es buah yang dingin menyegarkan.

Yang membuat tempat ini istimewa adalah lokasinya. Deretan warung berada tepat di tepi jalan raya bawah naungan hutan jati. Pohon-pohon besar menjulang dengan batang kokoh dan daun-daun yang menaungi, membuat tempat itu terasa sejuk meski di siang hari. Sinar matahari yang menembus celah dedaunan menciptakan corak bercahaya di tanah, seolah menyapa kami dengan ramah.

Kami memilih duduk di salah satu spot lesehan yang tersedia. Tikar berwarna biru dibentangkan di atas tanah yang rata, cukup bersih, dan teduh. Duduk di atas tikar, angin hutan jati berhembus pelan, memberi kesejukan alami yang tidak bisa didapat dari pendingin ruangan manapun.

Kami memesan beberapa porsi makanan yaitu dua porsi bakso, satu porsi mie ayam, dan tentu saja es buah yang warnanya menggoda enam porsi. Dalam waktu singkat, pesanan kami datang. Mangkuk es buah diletakkan di atas baki plastik, penuh warna dari potongan nanas, semangka, melon, buah naga, mutiara, agar-agar, dan es batu dengan kuah manis susu yang sejuk.

"Alhamdulillah," saya berucap pelan sambil menyendok suapan pertama. Dingin dan manisnya menyusup ke tenggorokan, segarnya buah membuat hati terasa damai. Saya melihat anak-anak dan cucu-cucu juga tersenyum puas, menikmati setiap suapan mereka sambil duduk santai di atas tikar.

Bakso yang kami pesan juga tidak kalah nikmat. Kuahnya hangat dan gurih, berpadu dengan pentol besar isi telor ayam utuh dan kecil, serta taburan bawang goreng yang harum, terasa kenyal dan nikmat.

Sambil makan, kami berbincang ringan. Tertawa bersama. Cucu-cucu saling mencolek buah dari mangkuk satu sama lain. Ada yang ingin menukar agar-agar dengan mutiara, ada yang justru sibuk mengaduk agar semua rasa tercampur.

Di bawah rindangnya pohon jati, saya memandangi wajah mereka satu per satu. Anak-anak saya sudah tumbuh dewasa, kini punya tiga anak. Cucu-cucu saya tumbuh ceria dan penuh semangat. Dalam suasana sesederhana ini, saya merasa begitu bersyukur kepada Allah atas rezeki ini. 

Duduk di tikar biru, di bawah hutan jati, menikmati kuliner pinggir jalan. Rasanya seperti duduk di istana. Bukan karena kemewahan tempat atau mahalnya makanan, tapi karena hadirnya cinta dan kebersamaan. Inilah rezeki dari Allah yang sejati.

Saya teringat betapa sering manusia mencari kebahagiaan di tempat jauh, menghabiskan biaya besar untuk sesuatu yang terasa istimewa. Padahal, sering kali kebahagiaan itu hadir begitu dekat di sela-sela momen bersama keluarga, di bawah pohon jati yang sejuk, dalam semangkuk es buah yang penuh warna.

Sebelum pulang, saya meminta satu bungkus es buah lagi. “Bungkuskanan buat dibawa pulang rumah." ucap saya pada penjualnya. Dia mengangguk sambil tersenyum dan membungkus dua porsi tambahan untuk di rumah.

Kami pulang dengan perut kenyang dan hati lapang. Motor kembali melaju pelan, angin sore membelai wajah kami dengan lembut. Sinar matahari mulai meredup, berganti jingga yang menggantung manis di cakrawala.
Nikmat Tuhan yang mana lagi yang bisa saya dustakan?
Cepu, 2 Juli 2025 


Selasa, 01 Juli 2025

Kuasa Tuhan


Karya :Gutamining Saida 

Udara terasa lebih segar dari biasanya. Cahaya matahari menembus celah-celah ventilasi dapur, menyinari rak piring yang basah karena cipratan air cucian. Anak perempuan saya, seperti biasa, membantu mencuci peralatan dapur bekas sarapan. Faiz biasa saya sapa anak yang telaten. Tangannya cekatan menggosok piring dan sendok satu per satu, lalu meletakkannya di rak.

Tiba-tiba ia berseru pelan, “Umi… ini apa?” sambil memperlihatkan sesuatu yang dipegangnya. Matanya memandang heran, alisnya sedikit terangkat, dan keningnya berkerut. Saya mendekat. Tangannya menggenggam sesuatu yang tampak aneh tumbuh di bawah rak piring. Sejenis tunas kecil dengan akar yang sudah menyebar ke segala arah. Saya menatapnya sejenak, lalu memegangnya dengan hati-hati. Kulitnya gelap kecoklatan, bentuknya tak asing.

“Ohhh… ini kentang hitam,” jawab saya pelan, “Salah satu jenis krowotan.”

“Kenapa bisa tumbuh di sini, Umi?” tanyanya polos.

Saya tersenyum. Sambil berdiri dekat meja di dapur, saya mulai menjelaskan kepadanya, dan juga pada diri saya sendiri. 

Krowotan adalah istilah dalam budaya Jawa yang merujuk pada jenis-jenis umbi-umbian seperti gembili, gadung, suweg, ketela dan tentu saja kentang hitam. Bagi orang Jawa, krowotan bukan sekadar makanan. Ia adalah simbol kesederhanaan, simbol kebersahajaan yang sangat dihargai, terutama oleh generasi dahulu.

Zaman dulu, saat masa sulit, sebelum beras menjadi makanan utama yang mudah didapat, masyarakat menggantungkan hidup pada krowotan. Mereka menanam dan menyimpan umbi-umbian itu sebagai cadangan makanan. Bahkan sampai sekarang, masih banyak yang sengaja menanamnya di pekarangan sebagai sumber pangan alternatif. Selain bergizi, krowotan memberi rasa kenyang yang menenangkan.

Saya memandang anak saya dan berkata, “Mungkin ini kentang tercecer, yang dulu ikut dibawa dari pasar bersama teman-temannya. Waktu itu kita masak kentang rebus tiga minggu lalu, ingat?”

Dia mengangguk, mencoba mengingat.

“Sepertinya kentang ini lolos dari takdir untuk ikut direbus dan dimakan. Ia jatuh, tersembunyi, dan diam-diam tumbuh di tempat yang tak terduga, di bawah rak piring yang gelap dan lembap.”

Saya terdiam sejenak. Dalam hati, saya tersentuh. Sebuah kentang kecil yang terlupakan, yang mestinya ikut berakhir di dalam perut kami, justru tumbuh dengan kehidupan baru. Betapa luar biasanya kuasa Tuhan. Di tempat yang tidak kita sangka, di ruang yang nyaris tak layak, Ia memberi kehidupan.

Tuhan Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ia yang meniupkan nyawa, Ia pula yang menumbuhkan dan mengatur rezeki tiap makhluk-Nya. Sebiji kentang yang tercecer pun bisa tumbuh dengan izin-Nya. Apalagi manusia, yang lebih sempurna dari kentang, yang punya akal dan hati, tentu punya jalannya masing-masing yang telah ditentukan.

Saya menatap anak saya. “Dik Faiz, kadang manusia juga seperti kentang ini. Kita punya jalan hidup yang berbeda-beda. Ada yang tumbuh di tempat yang terang dan baik, ada yang tumbuh dalam kesempitan. Tapi semua bisa tumbuh jika Tuhan menghendaki.”

Anak saya mendengarkan dengan saksama. Saya melanjutkan. “Kalau kentang itu tidak tercecer, mungkin nasibnya akan habis direbus dan dimakan bersama yang lain. Tapi karena ia tersembunyi, ia justru tumbuh. Begitu pula kita. Kadang hidup memberi jalan yang tidak kita duga. Kita tertinggal, tercecer, merasa tidak berarti. Tapi bisa jadi, di situlah takdir terbaik sedang menanti.”

Saya menghela napas dalam. Kentang hitam kecil itu membuat saya merenung lebih dalam dari biasanya. Hidup memang tidak selalu lurus dan terang. Ada gelap, ada sempit, ada masa tercecer dan tak terlihat. Tapi jika kita bersyukur dan tetap percaya pada kehendak-Nya, kita tetap bisa tumbuh, bahkan di tempat yang paling tidak memungkinkan.

Anak saya masih menggenggam kentang itu. “Umi, kita tanam aja ya?” katanya dengan semangat. “Siapa tahu nanti jadi banyak kentangnya.” Saya mengangguk dan tersenyum. “Ya, kita tanam. Kita rawat. Siapa tahu nanti kita bisa panen sendiri.”

Kami pun mengambil pot bekas cat yang sudah lama kosong, mengisinya dengan tanah dari belakang rumah, dan menanam kentang hitam itu dengan hati yang penuh harapan. Sambil menanam, saya membisikkan doa, agar anak saya pun tumbuh seperti kentang itu kuat, tabah, dan tidak mudah menyerah walau keadaan tak selalu sempurna.

Tuhan tak pernah sia-sia dalam menciptakan. Bahkan yang tercecer sekalipun, ada maksud dan rencana-Nya. Begitulah kuasa Tuhan, selalu bekerja dalam diam dan kejutan yang tak terduga.
Cepu, 2 Juli 2025 

Senin, 30 Juni 2025

Hamzah Aja Ketagihan




Karya : Gutamining Saida 
Bekam, atau dalam istilah Arab disebut hijamah, adalah salah satu terapi pengobatan yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari tubuh melalui permukaan kulit menggunakan alat khusus yang menciptakan tekanan negatif, semacam vakum. Secara umum, bekam terbagi menjadi dua jenis yaitu bekam kering (tanpa sayatan) dan bekam basah (dengan sayatan tipis pada kulit untuk mengeluarkan darah).

Manfaat bekam sangat banyak, antara lain melancarkan peredaran darah, membantu mengatasi pegal-pegal, meringankan migrain, membersihkan racun dalam darah, hingga membantu meningkatkan imunitas tubuh. Tidak heran jika terapi ini kembali populer di kalangan masyarakat modern yang mulai tertarik dengan metode pengobatan alami dan sunnah Nabi.

Tidak semua orang berani mencoba. Banyak yang mundur teratur begitu mendengar kata “sayatan” atau “darah”. Ada yang membayangkan rasa sakit, ada pula yang takut karena trauma dengan jarum suntik. Bagi mereka, terapi bekam terdengar menyeramkan. Saya punya cerita berbeda, soal bekam ini dari cucu saya yang masih  sekolah TK. Saat liburan tiba, anak pertama saya yang tinggal di Tegal pulang ke rumah. Dia membawa serta tiga anaknya yaitu Zaskia, Hamzah, dan Emira.  Anak kedua saya, yang kini tinggal di Salatiga saya  anjurkan pulang ke Cepu. Momen kumpul begini cukup jarang terjadi dan sangat kami syukuri. Seperti biasa, rumah kami menjadi ramai dan penuh tawa anak-anak. Mereka berlarian ke sana kemari, tertawa, bermain, dan membuat rumah kami kembali hidup.

Suatu sore, anak saya, sang umi dari ketiga cucu itu, meminta untuk dibekam karena tubuhnya terasa pegal. Seorang terapis wanita adalah anak saya nomor tiga bernama Faiz. Dia membuka praktik dirumah sehingga memiliki perlengkapan bekamnya. Ia mengeluarkan alat vakum, jarum steril, kapas, alkohol, dan minyak gosok.

Saya ingat betul, saat itu Hamzah, cucu saya yang tengah duduk di TK A, awalnya hanya duduk memperhatikan uminya. Ia tampak penasaran dan matanya membelalak melihat alat-alat bekam. Saya sempat khawatir dia akan takut atau menangis melihat proses bekam yang mengeluarkan darah. Tapi ternyata saya salah besar.

Alih-alih takut, Hamzah malah mendekat dengan semangat. Dia bertanya, “Timmi, itu kenapa umi disedot kayak gitu? Kok ada darahnya? Kayak seru ya, boleh Hamzah coba?” Kami semua tertawa. Saya menatap Hamzah sambil berkata lembut, “Ini namanya bekam, sayang. Ini pengobatan yang dianjurkan Nabi. Tapi biasanya untuk orang dewasa. Hamzah kan masih kecil.”

Anak sekecil Hamzah bisa jadi sangat gigih bila sudah menginginkan sesuatu. Ia mulai merengek, lalu memohon dengan suara manja. “Timmi, Hamzah pengen banget. Masa Umi boleh, Hamzah nggak boleh. Hamzah nggak takut darah, kok!”

Melihat kesungguhan cucu saya, akhirnya sang terapis (Faiz) menjelaskan dengan hati-hati bahwa bekam untuk anak kecil sebenarnya bisa dilakukan, tapi tentu dengan penanganan khusus dan hanya di titik-titik tertentu yang ringan. Dengan persetujuan uminya dan kami semua, serta memakai alat khusus untuk anak-anak, Hamzah pun dibekam yang jenis kering.

Hamzah tidak menangis sama sekali. Ia malah tersenyum puas. Setelah proses selesai, ia bangkit sambil berkata penuh kemenangan, “Wah, enak ya, kayak digigit semut tapi bikin badan adem!” Kami semua terpingkal-pingkal. Anak sekecil itu bisa merasa "ketagihan" bekam. Dan benar saja, keesokan harinya, ia kembali bertanya, “Timmi, kapan Hamzah dibekam lagi?”

Sejak saat itu, setiap kali melihat ada anggota keluarga yang dibekam, Hamzah langsung muncul dan ikut antre. Ia menganggap bekam itu seperti permainan. Bahkan ia pernah bercerita di sekolah bahwa bekam itu seperti “sedotan super yang bisa bikin tubuh jadi superhero.”

Bagi saya pribadi, pengalaman ini memberi pelajaran penting. Kadang kita sebagai orang dewasa terlalu cepat menanamkan rasa takut kepada anak-anak yaitu takut jarum, takut darah, takut sakit. Hamzah, dengan rasa penasaran dan keberaniannya yang polos, malah menunjukkan bahwa keberanian bisa muncul bila rasa ingin tahu didampingi dengan pengertian.

Setiap liburan, jika kami berkumpul dan ada sesi bekam, Hamzah akan jadi yang paling dulu bersorak. “Ayo dibekam, biar sehat seperti Nabi!” Ah, cucuku yang satu ini memang unik. Di usianya yang masih dini, dia sudah mengenal salah satu terapi sunnah. Siapa sangka, di balik tubuh kecilnya, tersimpan semangat besar untuk menjaga kesehatan ala Rasulullah.

Semoga keberaniannya terus tumbuh dan menjadi anak yang sehat jasmani rohani, penuh cinta kepada sunah Nabi meski dimulai dari sesuatu yang sederhana yaitu bekam.
Cepu, 1 Juli 2025 

Rumah Impian Hamzah.

 


Karya: Gutamining Saida

Mentari mulai merunduk di ufuk barat. Cahaya jingga yang lembut masuk ke dalam rumah lewat celah jendela ruang keluarga. Lantai masih dipenuhi jejak-jejak kertas, sisa permainan belajar berhitung yang seru di pagi hari bersama Timmi. Di pojok ruangan, tertata rapi beberapa stik es krim dan  tutup botol plastik. Semua itu adalah karya Zaskia siangnya tadi.

Zaskia memang senang membuat kerajinan. Siang tadi, dia berhasil membuat bentuk rumah mungil dari stik es krim dan menambahkan tutup botol sebagai pintunya. Beberapa tutup botol lainnya ia tempel sebagai hiasan jendela. Setelah jadi, ia memamerkan kepada saya dengan bangga. Saya tentu memujinya sambil mencium pipi dan mengabadikan karyanya.

Setelah puas bermain dan berkarya, Zaskia beristirahat di kamar. Sementara itu, Hamzah yang sedari tadi mengamati karya kakaknya dalam diam, tiba-tiba bergerak perlahan mendekati bahan-bahan yang masih berserakan di lantai.

Hamzah jongkok pelan-pelan, mengambil satu, lalu dua, tiga stik e krim dan mulai menatanya. Tangannya kecil tapi cukup lincah untuk menyusun potongan-potongan sederhana. Sorot matanya penuh rasa ingin tahu, seolah mencoba memahami bagaimana kakaknya tadi membentuk rumah kecil itu.

Lalu ia memanggil saya dengan suara khasnya yang lembut namun mantap, “Tiimmmi… Hamzah mau buat seperti kakak, boleh?”

Saya tersenyum lebar dan langsung menjawab, “Boleh banget, sayang. Silakan.”

Hamzah tampak senang sekali. Ia duduk bersila di lantai, memandangi bahan-bahan di hadapannya. Beberapa stik ia susun menjadi bentuk persegi, lalu menambahkan bagian atas seperti segitiga, tanda atap rumah. Tutup botol ia ambil dan ditaruh di bawah, lalu ia mengambil dua tutup botol dirangkai dengan stik ditaruh di bawah rumah. Dibentuklah seperti orang pemilik rumah.

“Ini orangnya, Timm, di depan rumah,” katanya sambil tersenyum.

Sesekali matanya melirik ke arah saya, seolah meminta dukungan diam-diam. Saya hanya membalasnya dengan senyuman lembut dan anggukan, membiarkannya bereksplorasi dengan imajinasinya sendiri.

Hamzah melanjutkan dengan serius. Ia menempelkan tutup botol di sisi kiri dan kanan rumah sebagai jendela. Lalu ia meletakkan stik dan tutup botol di depan rumah. Ia menyebut orang itu sebagai abah dan umi, meskipun hanya berupa bulatan dan garis-garis untuk tangan dan kaki.

Sekitar dua puluh menit kemudian, ia berdiri dan menghampiri saya dengan karyanya yang sudah selesai ia menunjuk karya yang ada di lantai.

“Nih, Timm, sudah! Ini rumah... dan ini orangnya,” ujarnya sambil menunjuk setiap bagian dengan bangga.

Saya tersenyum haru. Meski sederhana, karya itu adalah hasil dari hati dan imajinasi seorang anak kecil yang tulus. Karya itu bukan hanya tentang stik dan tutup botol, tapi tentang niat belajar dan meniru sesuatu yang ia kagumi.

“Sungguh bagus, Hamzah hebat,” puji saya sambil mengelus rambutnya.

Wajah Hamzah bersinar bahagia. Ia duduk di samping saya dan memandangi hasil karyanya lagi. Sesekali ia menunjuk-nunjuk bagian yang ia buat, menjelaskan apa maksudnya dengan bahasa polos dan penuh semangat. Saya biarkan ia bercerita, sambil mendengarkan dengan hati yang penuh syukur.

Dalam hati saya merasa sangat terharu. Anak kecil itu yang pagi tadi masih bingung menghitung angka- angka kini dengan percaya diri menunjukkan rumah kecil kreasinya. Rasa takutnya berganti dengan rasa percaya diri. Keraguan berubah menjadi kreativitas.

Saya pun diam-diam mengangkat kedua tangan ke atas. Saya menutup mata dan berdoa dalam hati, “Ya Allah, terima kasih atas nikmat yang Engkau titipkan lewat cucu-cucuku. Ya Rabb, mudahkanlah jalan mereka. Bimbing mereka untuk tumbuh menjadi anak yang kreatif, cerdas, dan tetap rendah hati. Lapangkan hati mereka untuk menuntut ilmu dan tuntunlah langkah mereka dalam mencapai ridho-Mu…”

Sore itu menjadi salah satu sore yang indah. Bukan karena langit cerah, atau udara sejuk, tetapi karena ada kebahagiaan sederhana yang datang dari kebersamaan dan proses tumbuhnya seorang anak. Saya tahu, kelak rumah dari stik itu akan rusak, atau mungkin hilang terbuang. Tapi momen ini, semangat Hamzah, dan doa saya akan abadi di dalam hati.

Saya ambil handphone dan mengabadikan karya Hamzah. Saya ingin mereka tahu, betapa berharga setiap usaha mereka, sekecil apa pun. Saya ingin mereka selalu percaya bahwa belajar itu menyenangkan, dan rumah ini akan selalu menjadi tempat yang menyemangati mereka untuk mencoba lagi dan lagi. Semoga bermanfaat dan menjadi inspirasi pembaca saya. Aamiin

Cepu, 29 Juni 2025


Jejak Anak-anak Saya

Karya : Gutamining Saida 
Saya adalah seorang ibu dari tiga anak yaitu Bilta, Abid, dan Faiz. Satu lelaki di tengah-tengah dua putri. Dalam benak, setiap nama mereka adalah doa yang saya tanam sejak mereka lahir ke dunia. Mereka tumbuh dengan karakter dan jalan hidup masing-masing. Dalam satu keluarga, satu cinta yang tak pernah berubah yaitu cinta seorang ibu.

Anak pertama saya , Bilta, adalah perempuan yang kini telah menjadi ibu dari tiga anak yaitu Zaskia, Hamzah, dan Emira. Mereka tinggal di kota Tegal, menjalani hari-hari dalam perannya sebagai ibu rumah tangga. Setiap kali saya mengingat Bilta, kenangan masa kecilnya seperti film yang diputar ulang di benak saya. Ketekunannya, kepandaiannya membantu di rumah, dan kelembutannya masih terasa hingga kini ia menjadi ibu bagi anak-anaknya.

Menariknya, jarak antara anak pertama dan kedua saya sama seperti jarak antara Zaskia dan Hamzah, cucu-cucu saya. Seperti pengulangan waktu, Tuhan mengatur ritmenya dengan indah. Saya melihat cermin masa lalu dalam kehidupan mereka sekarang. Seolah saya diingatkan kembali akan masa-masa mendidik dan membersamai anak-anak saya, namun kali ini dalam wujud cucu-cucu yang menggemaskan.

Abid, anak kedua dan satu-satunya putra dalam keluarga, memiliki jalan hidup yang berbeda. Sejak lulus dari Madrasah Ibtidaiyah, dia sudah melanglang buana. Belajar dan mencari pengalaman dari kota ke kota. Dari Gresik ke Kudus, lalu ke Semarang, Bali, hingga ke Salatiga. Ia seperti burung petualang yang tidak bisa diam di satu dahan terlalu lama. Sering kali saya tak tahu pasti di mana ia sekarang.  Saya  percaya, anak saya sedang mengejar cita-cita, menimba ilmu, dan mengasah kemampuannya untuk masa depan.

Tak jarang saya mendengar kabar darinya melalui pesan singkat atau telepon cepat. Hanya sekadar menyampaikan bahwa dia baik-baik saja, sedang sibuk ini dan itu. Kadang saya tersenyum sendiri, membayangkan betapa sibuk dan dinamis hidupnya, lalu saya berdoa dalam hati, “Ya Allah, jagalah dik Abid di setiap perjalanannya. Jadikan langkah-langkahnya berkah, dan tunjukkan dia jalan yang terbaik.”

Faiz, si bungsu, adalah anak perempuan saya yang kini tinggal satu rumah di Cepu. Dia memilih untuk membuka usaha terapi di rumah. Sejak awal saya mengarahkan tetap berada di rumah. Ada keinginan dalam hati saya untuk memiliki seorang anak yang tetap dekat, yang bisa menemani saya di masa tua. Tidak banyak permintaan saya sebagai seorang ibu, hanya ingin ditemani, disapa setiap hari, dan bisa melihat wajah anak ketika pagi dan malam menjelang. Faiz memenuhi keinginan saya dengan tinggal bersama. 

Dia membuka usaha kecil-kecilan yang lambat laun mulai dikenal banyak orang. Sekarang sudah memiliki banyak pasien. Kadang saya membantunya sebisa mungkin, atau sekadar menemani saat dia lelah. Meski sibuk, Faiz tetap menyempatkan diri menyiapkan kebutuhan, bercerita tentang pelanggan, dan kadang terapi saya saat kelelahan. Ia adalah penyejuk di usia saya yang tak lagi muda.

Ketiga anak-anak saya Bilta, Abid, dan Faiz sekarang sudah menjalani hidup masing-masing. Mereka bukan lagi anak kecil yang merengek atau berlarian di halaman. Mereka sudah dewasa. Sudah menjalani kehidupan dengan cara mereka. Di dalam doa saya, mereka tetap anak-anak kecil yang saya jaga dan saya peluk dalam setiap sujud saya.

Waktu dan jarak membuat mereka jarang berkumpul. Rumah kami yang biasanya sunyi mendadak riuh oleh tawa anak-anak, cucu-cucu, percakapan antar saudara, dan hidangan yang disantap bersama. Kesibukan masing-masing membawa mereka kembali ke kota dan kehidupan mereka. Tapi saya selalu menanti, mungkin di lain waktu, kami akan kembali duduk bersama.

Dalam hati, saya berdoa, “Ya Allah, bahagiakanlah anak-anak saya. Jadikan mereka anak-anak yang sholeh dan sholehah, yang berbakti kepada orang tua, dan senantiasa menyembah kepadaMu. Jadikan mereka cahaya bagi sekelilingnya, manfaat bagi lingkungannya.”

Saya tahu, tugas saya sebagai ibu belum selesai, meski mereka sudah tumbuh dewasa. Doa saya tidak akan pernah berhenti. Setiap detik, setiap tarikan napas, adalah bentuk cinta dan pengharapan untuk mereka.

Jika suatu hari nanti saya tidak lagi bisa menemani, saya ingin mereka tetap mengingat bahwa saya mencintai mereka dalam diam, dalam doa, dan dalam setiap kenangan yang pernah kita bagi. Karena bagi seorang ibu, anak-anak adalah dunia yang tak tergantikan, bagian dari jiwa yang akan selalu melekat di hati, di doa, dan di akhir hayat.
Cepu, 30 Juni 2025