Minggu, 22 Juni 2025

Jejak Roda Sepeda Pertama

Karya :Gutamining Saida 
Liburan semester kali ini terasa lebih bermakna di rumah kami di Cepu. Seperti biasa, rumah yang biasanya sepi oleh rutinitas sehari-hari, kini kembali ramai dengan suara tawa dan langkah kaki kecil Zaskia cucu says yang datang berlibur. Di antara mereka, Zaskia cucu sulung kami yang baru saja menginjak usia tujuh tahun membawa semangat dan cerita baru yang membanggakan: ia ingin belajar naik sepeda.

Keinginan ini datang tiba-tiba. Suatu pagi, saat melihat anak-anak tetangga berkeliling menggunakan sepeda kecil, Zaskia menatap penuh minat. Matanya berbinar, dan dengan suara pelan ia berkata, “Aku juga ingin bisa naik sepeda sendiri, Timmi…”

Saya tersenyum. Diam-diam hati saya terharu. Karena di rumah ini, sebenarnya kami masih menyimpan sebuah sepeda lama bukan sembarang sepeda, tapi sepeda penuh kenangan. Sepeda itu dulu milik uminya Zaskia saat masih kecil. Setelah umi tumbuh remaja, sepeda itu diwariskan ke adiknya, lalu ke amah Faiz. Sepeda itu tidak dijual meski sudah berusia tua. Sebaliknya, disimpan dan dirawat. Ketika Zaskia berusia enam tahun, akungnya mengambil keputusan untuk merenovasi sepeda itu. Dengan mengganti sadel, memperbaiki rem, melapisi cat yang sudah mengelupas, dan memastikan rodanya tetap kuat.

“Sepeda ini harus tetap hidup,” kata akungnya. “Kelak akan ada lagi anak kecil yang belajar naik dengan sepeda ini.”

Zaskia sangat antusias. Saya keluarkan sepeda itu dari gudang, dan matanya langsung menyala saat melihatnya. “Ini sepeda Umi?” tanyanya sambil menatap heran. “Iya, ini juga sepeda Om Ya, dan sepeda Amah dulu. Sekarang, ini giliran Zaskia.”

Hari pertama belajar dimulai di dalam rumah, lalu bergeser ke halaman dan  jalan kecil di depan rumah yang tidak terlalu ramai. Zaskia belajar mengenali setang, pedal, dan keseimbangan. Awalnya, dia hanya bisa menaiki dan mendorong sepeda pelan-pelan. Saya memegang bagian belakang sadel, membantu menyeimbangkan saat dia mencoba mengayuh. Beberapa kali kaki kecilnya terpeleset dari pedal. Beberapa kali ia nyaris terjatuh.

Namun tak ada tangis. Tak ada keluhan. Hanya desahan pelan dan kalimat, “Coba lagi ya, Timmi...”

Saya tahu, keberhasilan tak datang dalam sekejap. Hari itu kami berlatih cukup lama. Sekali-dua kali Zaskia berhasil mengayuh satu-dua putaran pedal. Itu pun sudah membuat kami bersorak kecil. Ia juga tampak senang, meski belum bisa seimbang. “Pelan-pelan saja, ya. Yang penting jangan takut jatuh,” ujar saya menyemangati.

Keesokan harinya, semangatnya makin menyala. Sebelum sarapan, ia sudah minta belajar lagi. Kali ini, kami tak perlu memegangi terus. Ia mulai belajar menyeimbangkan sendiri. Kakinya mulai mantap mengayuh pedal. Sekali dua kali melaju, lalu berhenti. Lalu dicoba lagi.

Tiba-tiba, ia berhasil melaju beberapa meter. Melewati dua rumah tetangga dengan roda yang terus berputar tanpa berhenti. Saya teriak kegirangan, sambil tepuk tangan. Zaskia pun tertawa bahagia, wajahnya berseri-seri. “Aku bisa! Aku bisa, Timmi!” katanya sambil menoleh, meskipun akhirnya hampir oleng karena menoleh terlalu cepat. Kami tertawa bersamaan.

Momen itu menjadi titik balik. Zaskia menemukan kepercayaan diri. Ia mulai mencoba sendiri, memutar arah sepeda, bahkan berlatih mengerem. Saat sudah cukup bisa, ia berkata, “Videoin dong, Timmi… Aku mau kirim ke Abah, Umi, sama Uti!”

Saya mengangguk. Saya ambil ponsel dan merekam perjuangannya yang kini membuahkan hasil. Dalam video itu, tampak Zaskia mengayuh sepeda kecil berwarna merah tua dengan percaya diri. Ia tertawa saat berhasil berbelok. Ia berhenti tepat di depan saya, lalu melambaikan tangan sambil berseru, “Zaskia sudah bisa naik sepeda!”

Video itu langsung saya kirim ke keluarganya di Tegal. Tak lama, balasan pesan dan emoji bangga berdatangan. Uminya langsung menelepon dan berkata, “Wah, Zaskia hebat! Nanti kalau pulang, boleh keliling komplek sama Umi ya!”

Zaskia tersenyum puas. “Aku mau naik sepeda tiap hari di sini,” katanya, sambil memeluk saya. Saya memeluknya balik, menahan haru.

Bahwa untuk mencapai sesuatu, butuh keberanian dan ketekunan. Zaskia tak menyerah. Ia belajar dengan sabar, dan dengan dukungan kecil dari orang-orang tercinta, ia bisa menaklukkan rasa takut dan meraih keberhasilan pertamanya di atas dua roda.

Sepeda tua itu, yang pernah menjadi saksi perjalanan masa kecil tiga generasi, kini kembali hidup dan berputar. Sepeda ini membawa Zaskia melaju di jalanan, juga membawa kenangan indah yang akan terus bergulir dalam hati dan kelak dalam cerita masa dewasa Zaskia.
Cepu, 23 Juni 2025 

Senam Otak Bersama Zaskia

Karya :Gutamining Saida 
Liburan sekolah akhirnya tiba. Hiruk-pikuk suasana belajar di kelas mulai mereda. Suara bel yang biasanya menggema sebagai tanda masuk atau pulang kini berganti dengan keheningan khas masa libur. Siswa-siswa belajar di rumah, sebagian bepergian, dan sebagian lainnya menikmati waktu istirahat dengan keluarga. Bagi saya yang berprofesi sebagai guru IPS di sebuah SMP, liburan bukan berarti sepenuhnya berhenti dari peran mendidik.

Setiap liburan semester, saya berubah peran. Tidak lagi berdiri di depan kelas mengajar peta dan peristiwa sejarah, melainkan beralih menjadi guru TK dan PAUD dengan murid-murid istimewa yaitu cucu-cucu saya sendiri. Saya memiliki tiga cucu yang sedang dalam masa emas pertumbuhan, masing-masing berusia tiga, lima, dan tujuh tahun. Mereka datang untuk berlibur di rumah saya, yang mereka panggil timmi dan akung.

Bagi saya, masa kecil cucu-cucu bukan sekadar waktu bermain dan bersenang-senang. Saya ingin liburan mereka bukan hanya diisi dengan gadget atau tontonan semata. Saya ingin menciptakan kenangan. Saya ingin ketika mereka dewasa nanti, ada cerita manis yang bisa mereka ingat dan ceritakan tentang masa kecil yang penuh kasih, tentang liburan yang berharga di rumah timmi dan akungnya.

Hari ini saya memulai aktivitas dengan mengajak mereka melakukan “senam otak”. Mungkin terdengar sederhana, namun bagi anak-anak, kegiatan ini bisa menjadi petualangan baru yang menyenangkan sekaligus menantang. Saya sudah menyiapkan ruangan di ruang tengah, menyisihkan meja dan kursi agar mereka bebas bergerak. Saya juga alat peraga sederhana  gambar telapak tangan yang saya tempel angka. 

Awalnya, Zaskia cucu saya yang paling besar tampak bingung. Saat saya menunjukkan gerakan jari-jari  tangan  mengikuti angka di gambar telapak tangan. “Jari tangan kanan sama dengan gambar telapak kanan dan jari kiri sama dengan telapak tangan kiri, Zaskia! Ayo, bisa!” seruku sambil tersenyum menyemangati. Dia mencoba beberapa kali dan hasilnya belum sempurna, tetapi saya tahu dia berusaha. Saya beri contoh ulang secara perlahan, sambil menyisipkan sedikit cerita lucu agar dia lebih rileks.

Tidak lama kemudian, wajah Zaskia berubah. Dari raut bingung menjadi penuh semangat. Dia mulai bisa mengikuti gerakan. Kegiatan yang awalnya saya rancang sederhana ini berubah menjadi arena keceriaan. Mereka tertawa bersama ketika Zaskia  salah gerakan. Saya pun ikut tertawa tidak ada tekanan, yang ada hanya semangat bermain dan belajar.

Setelah sesi senam gerakan tubuh, saya mengajak mereka mencoba senam otak versi kedua, yaitu menirukan angka dari gambar tangan. Sebelumnya, saya sudah menempelkan gambar-gambar tangan yang membentuk angka satu sampai lima di pintu almari ruang keluarga. Gambar-gambar itu saya cetak berwarna, lalu saya beri angka besar-besar di bawahnya.

Saya berdiri di depan pintu almari, menunjuk satu per satu gambar sambil berkata, “Ayo, siapa yang bisa menirukan jari angka tiga ini?” Zaskia dengan sigap mengangkat tiga jarinya. “Pintar!” saya memuji sambil tersenyum. Kemudian saya tunjukkan angka lima. 

Saya membiarkan, karena baginya yang penting adalah proses mencoba. Kadang saya acak urutannya, lalu saya tantang mereka, “Siapa cepat tunjukkan angka dua!” dan mereka berlomba-lomba mengangkat dua jari.

Aktivitas ini tidak hanya menyenangkan, tapi juga melatih motorik halus dan konsentrasi. Mereka belajar mengenali bentuk, angka, serta mengasah koordinasi antara mata dan tangan. Yang lebih menyenangkan lagi, mereka melakukannya sambil tertawa dan itu membuat saya sangat bersyukur.

Momen sederhana seperti ini memberi saya kebahagiaan yang luar biasa. Ternyata, menjadi “guru” bagi cucu-cucu sendiri adalah berkah yang indah. Saya bisa menyaksikan tumbuh kembang mereka lebih dekat. Bisa menanamkan nilai-nilai sejak dini. Bisa menyusun kenangan yang kelak akan mereka bawa hingga tua.

Liburan kali ini bukan hanya tentang melepaskan penat dari sekolah, tapi juga tentang mempererat ikatan keluarga, menumbuhkan keceriaan, serta menciptakan jejak yang tidak akan lekang oleh waktu. Sebagai nenek dan juga seorang guru, saya ingin hadir di masa tumbuh mereka menjadi bagian dari cerita yang akan mereka kenang dan ceritakan suatu hari nanti.

Karena saya yakin, saat mereka mengingat rumah akungnya  mereka tidak hanya akan mengingat halaman rumah atau suara akung yang memanggil, tetapi juga tawa, pelukan, dan senam otak yang membuat liburan jadi lebih istimewa.
Cepu, 23 Juni 2025 

Liburan Zaskia



Karya : Gutamining Saida 
Liburan semester genap tahun 2025 menjadi momen yang tidak biasa bagi Zaskia, cucu pertama saya yang baru duduk di kelas satu SD. Di usianya yang masih belia, untuk pertama kalinya ia menjalani liburan tanpa abah, umi dan dua adiknya. Liburan kali ini, Zaskia dijemput langsung oleh amahnya. Dia sendirian untuk berlibur ke rumah kami di Cepu.

Ada semangat dan rasa penasaran di matanya saat saya menjemputnya. Meski awalnya tampak ragu, Zaskia bersedia berangkat sendiri, mungkin karena sudah membayangkan liburan penuh kejutan yang akan ia jalani bersama amah, timmi dan akung di Cepu. Dia dan amah menumpang kereta api Airlangga, dan perjalanan itu menjadi pengalaman baru baginya. Duduk di dekat jendela, Zaskia menikmati pemandangan sepanjang perjalanan sambil tak henti bertanya, “Itu sawah, ya Mah? Itu kambing? Itu apa namanya?”

Saat tiba di Cepu malam hari sekitar pukul 20.00 WIB, tubuhnya terlihat lelah, tapi wajahnya tetap ceria. Dia tiba di rumah, dan setelah mandi serta ganti baju, saya menyarankan agar ia langsung tidur. “Besok kamu bisa bermain sepuasnya, tapi malam ini istirahat dulu ya,” ujar saya lembut. Namun, Zaskia menolak. Dia masih ingin berbincang, memeluk saya, melihat-lihat isi rumah, dan bercerita tentang adik-adiknya.

Sambil tersenyum, saya menemaninya sebentar. Namun pukul 20.30 WIB, saya dan akung mulai membujuk agar ia tidur. Tubuh kecilnya pasti sudah sangat letih. Saya juga menjelaskan bahwa besok pagi sampai sore, saya belum bisa menemaninya karena ada urusan penting. Tapi saya tidak ingin dia kesepian.

Jauh sebelum Zaskia datang, saya sudah menyiapkan sesuatu yang spesial yaitu sebuah buku aktivitas untuk mengisi hari-harinya. Buku itu saya buat sendiri, berisi aneka kegiatan yang bisa dilakukan anak seumur Zaskia mewarnai, menggambar, menempel stiker, mencocokkan gambar, menulis cerita dan mencatat pengalaman harian dengan kalimat sederhana. 

Saya serahkan buku itu malam itu juga. Matanya berbinar melihatnya. “Ini buat kakak Zaskia?” tanyanya dengan suara penuh bahagia. 

Buku ini jadi teman kamu saat timmi besok pergi. Isilah dengan ceria, nanti kalau timmi  pulang kita baca bareng-bareng, ya.

Saat saya pulang sore hari, Zaskia langsung menunjukkan hasil karyanya. “Lihat, Timmi ini sudah dikerjakan ! 

Liburan Zaskia di rumah kami bukan sekadar libur dari sekolah. Dia belajar mengenal kemandirian, menghadapi rindu dengan tegar, dan menyimpan kenangan kecil yang kelak akan menjadi bagian dari cerita hidupnya. Bagi saya, melihat Zaskia nyaman, tersenyum, dan tumbuh percaya diri adalah hadiah terbaik dari liburan ini.

Saya yakin, kelak saat dia membuka dan membaca ulang bukunya, dia akan tersenyum, mengenang hari-hari indah ketika pertama kali berani melepas genggaman tangan orang tua dan menapaki cerita barunya di rumah yang penuh kasih.
Cepu, 22 Juni 2025 

Sabtu, 21 Juni 2025

Bahagia Dengan Ragam Jepretan

Karya : Gutamining Saida 
Bahagia itu tidak harus selalu mahal. Kadang, kebahagiaan justru muncul dari momen yang spontan, sederhana, dan tak terencana. Seperti yang kami alami pada Sabtu akhir pekan, saat rombongan kecil kami singgah di Benteng Pendem Ngawi. Bukan untuk liburan atau kunjungan khusus, melainkan hanya mampir sejenak selepas menghadiri resepsi pernikahan teman satu kantor di Sragen. 

Sabtu pagi kami berangkat bersama. Bus mini yang kami tumpangi penuh dengan canda tawa, mengenang masa kerja bersama, serta cerita-cerita ringan tentang teman yang sedang menikah. Resepsi berlangsung hangat, penuh suasana kekeluargaan. Namun, yang membuat hari itu semakin berkesan justru adalah keputusan spontan saat perjalanan pulang.

“Ayo, mampir bentar ke Benteng Pendem. Sayang sudah sewa bus mahal dan masih siang juga nanti sampai Cepu ,” celetuk salah satu teman.

Tanpa pikir panjang, kami pun minta pak sopir untuk belok ke benteng pendem. Angin siang  menyambut kami begitu sampai di halaman benteng. Suasana teduh, langit cerah, dan arsitektur kuno yang kokoh berdiri membuat tempat itu terasa magis seolah menyimpan ribuan kisah dari masa silam.

Tak ingin kehilangan momen, salah satu dari kami mengeluarkan kamera. Awalnya hanya satu-dua foto. Tapi tak lama kemudian, semuanya larut. Ada yang berdiri di atas rumput dengan gaya ala macam-macam, ada yang duduk di sela tembok sambil meniru gaya model , dan ada juga yang spontan membuat pose konyol yang membuat kami tertawa terpingkal-pingkal.

“Eh, gayaku jangan dihapus ya. Mau dijadikan foto profil!” seru Bu Wiwik sambil melihat hasil jepretan yang memperlihatkan dirinya sedang menjulurkan tangan seperti orator ulung.

Klik! Klik! Klik!

Lensa kamera itu menangkap bukan hanya gambar, tetapi juga kebahagiaan yang lepas dari kepenatan. Hari-hari kami biasanya sibuk dengan tugas sekolah, tumpukan administrasi, dan urusan rumah yang tak ada habisnya. Tapi hari itu, semua beban seperti dilepaskan. Di tengah reruntuhan benteng tua, kami seperti anak-anak sekolah yang kembali merasakan riang tawa.

Saat foto-foto itu ditampilkan satu per satu, senyum merekah di wajah kami. Gaya yang lucu, pose yang nyeleneh, dan ekspresi yang spontan semua menjadi bahan candaan yang menyegarkan hati. Kami lupa sejenak tentang koreksi tugas, target mingguan, dan jadwal yang padat. Yang tersisa hanyalah tawa dan rasa syukur.

Malamnya, saat semua sudah kembali ke rumah masing-masing, grup WhatsApp kami ramai dengan kiriman foto. Ada yang membuat kolase, ada yang memberi caption lucu, bahkan ada yang membuat cerita singkat untuk mengenang momen itu.

Aku duduk di ruang tamu, membuka kembali satu per satu foto itu. Hatiku hangat. Bahagia ternyata bisa sesederhana ini. Hanya dengan singgah di tempat bersejarah, berfoto bersama teman-teman dengan gaya jenaka, lalu tersenyum menyaksikannya kembali saat malam tiba.

Setiap kali aku melihat foto-foto di Benteng Pendem itu, aku tahu bahwa bahagia bukan soal kemewahan. Tapi tentang rasa lega saat bisa tertawa bersama, tentang persahabatan yang tulus, dan tentang momen singkat yang meninggalkan jejak panjang di hati.
Cepu, 22 Juni 2025 

Kyai Muhammad Nursalim


Karya : Gutamining Saida 
Di masa kelam penjajahan Belanda , ketika tanah Jawa diguncang oleh kekejaman kolonial Belanda, muncullah sosok-sosok tangguh yang memilih berdiri tegak di jalan perjuangan. Salah satunya adalah seorang ulama dan pejuang tangguh yang namanya mungkin tak tercetak tebal dalam buku sejarah resmi, namun harum dalam kenangan rakyat yaitu Kyai Muhammad Nursalim.

Kyai Muhammad Nursalim bukanlah pejuang biasa. Beliau adalah pengikut setia dari Pangeran Diponegoro, tokoh utama Perang Jawa (1825–1830), perang terbesar melawan Belanda di abad ke-19. Perjuangan Pangeran Diponegoro bukan semata soal tanah dan kekuasaan, tetapi soal harga diri, iman, dan kebebasan umat dari belenggu penjajahan.

Ketika Ngawi jatuh ke tangan Belanda, kabar itu segera sampai ke telinga Pangeran Diponegoro. Hatinya bergemuruh. Ngawi, yang memiliki posisi strategis sebagai gerbang timur Jawa Tengah, tidak boleh dibiarkan menjadi benteng kuat Belanda. Maka, Pangeran Diponegoro menunjuk Kyai Muhammad Nursalim sebagai utusan kepercayaannya untuk menyusup ke wilayah itu dan membangkitkan kembali semangat perlawanan.

Tugas Kyai tidak mudah. Ngawi telah dikepung pasukan Belanda dan diawasi ketat. Namun dengan kebijaksanaan, kecerdikan, dan terutama keikhlasan, Kyai Muhammad Nursalim menjalankan strategi yang tak biasa yaitu berdakwah sambil membangun jaringan perlawanan rakyat.

Beliau tidak datang dengan senjata, tetapi dengan ilmu dan semangat. Di masjid-masjid kecil, di surau-surau pelosok, di tengah pasar, dan di gubuk petani, beliau menyampaikan dakwah. Pesannya sederhana namun membakar semangat  bahwa melawan penjajahan adalah bagian dari iman, dan bahwa kemerdekaan adalah hak setiap insan. Dakwahnya menyentuh hati. Beliau tak hanya berbicara, tetapi hadir dalam kehidupan masyarakat membantu petani menanam, ikut serta dalam panen, membimbing anak-anak mengaji, dan menyembuhkan warga dengan obat-obatan herbal yang dikuasainya.

Lambat laun, nama Kyai Muhammad Nursalim dikenal dan dihormati. Beliau bukan hanya seorang ulama, tetapi pemimpin gerakan bawah tanah. Rakyat menyebutnya Kyai Lurung, karena sering berkeliling menyusuri desa demi desa. Sementara Belanda mulai waspada, merasakan bahwa api perlawanan yang sempat padam mulai menyala kembali.

Beliau sebagaimana api, semakin terang menyala, semakin kuat menjadi incaran. Pada suatu malam, saat Kyai Muhammad Nursalim tengah mengisi pengajian rahasia di sebuah rumah warga, pasukan Belanda datang menyergap. Beliau ditangkap, diborgol, dan dibawa ke Benteng Pendem, sebuah benteng tua yang kini dikenal sebagai situs bersejarah di wilayah Ngawi.

Di balik tembok dingin benteng itu, Kyai Muhammad Nursalim disiksa. Belanda ingin mengetahui jaringan bawah tanah yang dibangunnya. Kyai memilih diam. Bibirnya hanya menyebut nama Allah, matanya tak gentar, dan hatinya tetap tegar.

Berbagai cara penyiksaan dicoba. Tubuhnya dipukul dengan rotan, ditusuk bayonet, bahkan dilempar ke sel air beracun. Keajaiban terjadi Kyai tidak mati. Tubuhnya tetap hidup meski luka parah. Konon, senjata apapun tak mampu membunuhnya. Hal ini membuat para serdadu Belanda panik dan marah.

Merasa gagal menaklukkan iman Kyai Muhammad Nursalim, Belanda memilih cara yang kejam dan tak berperikemanusiaan. Beliau diikat dengan tali tambang, lalu dikubur hidup-hidup, tidak jauh dari sel tempat beliau ditahan, di salah satu sudut Benteng Pendem. Tanpa upacara, tanpa doa, tanpa nisan.

Kisah Kyai Muhammad Nursalim tidak mati di situ. Rakyat yang mengenalnya menyebarkan kisah keberanian dan keajaibannya. Meski tubuhnya dikubur tanpa nama, namanya tumbuh dalam ingatan kolektif. Beliau dianggap syahid mati dalam perjuangan di jalan Allah. Doa-doa disampaikan untuknya. Banyak warga yang percaya, bahwa tempat di mana beliau  dikubur hidup-hidup menjadi tanah keramat, tempat yang menyimpan getar keberanian dan keteguhan iman.

Ketika benteng Pendem hanya menjadi saksi bisu dari masa lalu, cerita tentang Kyai Muhammad Nursalim tetap hidup. Beliau menjadi simbol bahwa perjuangan tidak selalu dengan senjata, tetapi juga dengan ilmu, kesabaran, dan keberanian dalam mempertahankan kebenaran.

Generasi hari ini mungkin tak lagi melihat wajah Kyai Muhammad Nursalim. Namun semangatnya mengalir dalam darah para guru, ulama, dan anak bangsa yang terus berjuang melawan ketidakadilan. Dari sudut sunyi benteng Pendem, dari tanah yang menyimpan tubuh seorang syuhada, terdengar gema sunyi bahwa kemerdekaan adalah harga yang dibayar dengan darah, doa, dan keteguhan hati.

Semoga Allah Subhanahu Wata'alla menerima Kyai Muhammad Nursalim sebagai syuhada. Semoga surga menantinya dengan pintu-pintu yang terbuka lebar.
Cepu, 22 Juni 2025 




Kebersamaan Dalam Perjalanan

Karya : Gutamining Saida 
Sabtu pagi tanggal 21 Juni 2025 menjadi saksi kebersamaan keluarga besar Esmega. Kami berangkat bersama-sama menghadiri resepsi pernikahan Ibu Lala dan Pak Aang, dua guru hebat yang telah mempersatukan cinta mereka dalam ikatan pernikahan suci. Bukan hanya sekadar menghadiri, tetapi perjalanan ini menjadi momen istimewa untuk meneguhkan rasa kebersamaan antar  anggota keluarga besar sekolah kami, SMP Esmega Cepu.

Sejak awal, suasana sudah terasa hangat dan meriah. Kami berkumpul di  dekat lapangan atletik Cepu. Menurut rencana berangkat pukul 06.00 WIB. Saat pukul 05.30 WIB ketua Kekeluargaan mengirim foto bus dan memberi tahu bahwa bus sudah standby. Sesuai jadwal berangkat pukul 06.00 WIB. 
Dua armada telah disiapkan  satu bus besar dan satu mobil pribadi milik kepala sekolah. 
Saya memilih naik bus bersama beberapa guru lainnya dan beberapa staf sekolah.

Ketika jarum jam menunjukkan pukul 06.00 WIB masih ada yang belum datang yaitu pak Zaenul. Ditunggu sampai pukul 06.45 masih juga belum datang. Bus sedikit bergeser ke bawah belum juga datang. Diambil kesepakatan untuk segera berangkat dengan konsekuensi pak Zaenul ditinggal. Eeee dari kejauhan pak Zaenul diantarkan oleh pak Sahli. Saat memasuki bus, seisi bus langsung komentar. Hoooooo. Tanpa diminta, tanpa dikomando. Pak Zaenul tanpa komentar, tanpa ekspresi kakinya melangkah ke bagian belakang. Dia menyadari akan keterlambatan datang dan menyebabkan teman-teman menunggu lama. 

Ketika roda mulai berputar dan bus melaju pelan meninggalkan jalan dekat lapangan atletik, tak lama kemudian terdengar suara musik. Lagu-lagu nostalgia dan lagu dangdut masa kini bergantian menyapa telinga. Tanpa diminta, satu per satu guru mulai unjuk kebolehan bernyanyi. Ada yang suaranya merdu dan memukau, ada pula yang menyanyi sambil bercanda dan membuat kami tergelak.

Saya? Hanya menjadi pendengar setia di pojok kursi. Menyanyi memang bukan bidang saya. Saya merasa lebih nyaman menikmati suara rekan-rekan yang berbakat, memberi tepuk tangan, dan sesekali ikut tertawa bila lagu yang dipilih mengandung lirik jenaka atau gaya menyanyi yang unik.

Perjalanan menjadi terasa singkat karena diwarnai canda tawa dan suasana akrab. Dari deretan kursi depan terdengar suara Bu Isna, bu Wiwik, bu Indri menyanyikan lagu “Lagu Bahagia” sambil sesekali menggoda Pak Wahyudi yang duduk di baris kedua. Di belakang, Bu Rini, bu Fitri dan Bu Ely tak kalah heboh menyanyikan lagu nostalgia, dangdut koplo, mengajak teman-teman lain ikut berjoget kecil di tempat duduk masing-masing.

Saya memandang ke sekeliling. Ada perasaan hangat yang mengalir. Betapa luar biasanya menjadi bagian dari keluarga ini. Guru-guru di Esmega memang hebat bukan hanya dalam mengajar, tetapi juga dalam menjalin kebersamaan. Perjalanan ini menjadi bukti nyata bahwa kami bukan hanya rekan kerja, tetapi juga satu keluarga yang saling mendukung dan menguatkan.

Sesampainya di lokasi resepsi, kami disambut hangat oleh keluarga mempelai. Ibu Lala tampak anggun dengan kebaya berwarna hijau muda, dan Pak Aang tampak gagah dalam balutan baju tradisional. Raut bahagia terpancar dari wajah keduanya. Kami segera menuju tempat yang telah disiapkan untuk tamu undangan. Makanan kecil, sup matahari, nasi, es kopyor pun tersaji dengan menggoda. 

Setelah menikmati hidangan, kami bergiliran memberikan ucapan selamat kepada mempelai. Ada yang menyelipkan amplop sambil mendoakan. Tak lupa, kami sempat berfoto bersama sebagai kenang-kenangan. Foto kebersamaan itu kini menjadi salah satu kenangan manis dalam galeri ponsel saya.

Saat sore mulai menjelang, kami bersiap untuk kembali pulang ke Cepu. Perjalanan pulang tak kalah seru. Rasa kantuk memang mulai menyapa, tetapi suasana dalam bus tetap riuh. 

Di tengah-tengah kegembiraan itu, saya diam-diam merenung. Saya merasa sangat bersyukur menjadi bagian dari keluarga Esmega. Perjalanan ini bukan hanya tentang menghadiri resepsi, tetapi juga tentang mempererat tali silaturahmi, saling mengenal lebih dekat, dan berbagi kebahagiaan bersama.

Sebagai anggota baru di lingkungan ini, saya banyak belajar dari rekan-rekan guru yang luar biasa. Mereka tidak hanya menginspirasi dalam urusan pekerjaan, tetapi juga dalam cara mereka menjaga keharmonisan, membangun solidaritas, dan menciptakan ruang aman untuk tumbuh bersama.

Saya sadar, belum bisa sehebat mereka. Namun, di sinilah harapan saya tumbuh: harapan untuk bisa belajar lebih banyak, berkembang lebih baik, dan suatu hari nanti bisa ikut berkontribusi lebih besar bagi keluarga besar ini. Saya ingin menjadi bagian dari cerita hebat Esmega, bukan hanya sebagai pendengar, tetapi juga pelaku yang membawa warna.

Perjalanan hari itu mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Tapi kenangannya akan tinggal lebih lama menjadi bagian dari jejak langkah saya dalam perjalanan menjadi guru yang tidak hanya mengajar, tetapi juga tumbuh dalam cinta dan kebersamaan.
Cepu, 21 Juni 2025 



Kamis, 19 Juni 2025

Jejak Langkah Kakiku di Lantai Atas

Karya: Gutamining Saida

Lima bulan delapan belas hari saya berada di dunia Esmega. Dunia baru yang menghadirkan berbagai warna dalam kehidupan saya sebagai seorang guru. Saya pikir, selama itu saya telah menginjak hampir semua ruang dan sudut sekolah ini. Tapi nyatanya belum semua. Masih ada ruang-ruang yang belum saya jamah, belum saya kunjungi, bahkan belum pernah saya lihat secara langsung. Salah satunya adalah ruang BK yang berada di lantai atas.

Pagi itu, seperti biasa saya datang dengan motor kesayangan. Saya menyusuri jalanan yang sudah mulai saya hafal lekukannya. Saya menyapa beberapa wajah siswa yang berlalu-lalang. Rutinitas pagi, seperti absen kehadiran guru, menjadi agenda awal. Saat kaki saya baru melangkah beberapa langkah untuk absen, tiba-tiba terdengar suara memanggil nama saya, "Bu Saida!"

Saya spontan menoleh, mencari asal suara. Suara itu tidak datang dari sekeliling, melainkan dari lantai atas. Saya mendongak, menatap ke lantai atas bangunan. Dan... ketemulah! Sesosok wajah yang saya kenal menyapa dari ketinggian. Dia mengukir senyum hangat yang tampak tulus dan penuh persahabatan. Wajah itu adalah Bu Wiwik teman sejawat yang pagi itu sudah lebih dulu datang dan menyiapkan segala sesuatu untuk OSN di ruang BK.

Sejenak sebelum berangkat ke sekolah, saya memang menerima pesan pribadi dari Bu Wiwik. Dia yang memberitahu bahwa hari ini beliau bertugas di lantai atas. Tapi karena kesibukan pagi dan banyaknya hal yang harus saya pikirkan, pesan itu sempat menguap dari ingatan. Hingga sapaan hangat itu mengembalikannya.

"Bu Saida, ke sini ya!" serunya sambil tersenyum lebar.

Saya balas dengan senyum dan anggukan. Rasanya seperti ada ajakan yang tidak bisa saya tolak, bukan karena terpaksa, tapi karena terasa menyenangkan. Sebuah undangan untuk melangkah ke tempat yang belum pernah saya datangi.

Setelah memarkir motor dengan rapi, saya pun berjalan menuju tangga. Langkah demi langkah terasa ringan dan penuh semangat. Lantai atas ini memang lebih sepi, jarang saya kunjungi karena memang belum ada keperluan khusus. Namun pagi ini saya berusaha hadir di sana.

Setibanya di ruang BK, saya melonggok ke dalam ruang dengan perlahan. Udara yang sedikit lebih hangat dari lantai bawah menyambut saya. Namun tak kalah ramah dari senyuman Bu Wiwik yang setia menunggu. Ruangan itu tampak sederhana namun penuh cerita. Ada rak berisi stopmap dan dokumen, meja kerja, dan beberapa kursi untuk konsultasi siswa.

"Alhamdulillah, akhirnya saya menginjakkan kaki di ruangan ini juga," ucap saya spontan.

"Sudah hampir enam bulan di sini, tapi belum pernah ke ruang BK?" sahut Bu Wiwik sambil tertawa kecil.

Saya hanya tersenyum. Kadang tanpa disadari, kita terlalu sibuk di rutinitas hingga lupa menjelajahi lingkungan kerja sendiri.

"Ke sini buat apa, Bu?" saya bertanya.

"Ya survei lingkungan, lah!" jawabnya santai.

“Benar juga ya.” Saya menjawab dengan singkat.

Kalimat yang sederhana tapi mengandung makna mendalam. Ternyata tidak semua kunjungan harus ada alasan formal atau keperluan administratif. Terkadang, langkah sederhana seperti ini bisa membuka cakrawala baru, memperluas pemahaman, dan mempererat tali silaturahmi.

Pandangan saya kemudian menyapu seisi ruangan. Di tengah ruangan, mata saya tertumbuk pada beberapa kursi kayu tua. Kursi itu berbeda dari yang lain. Usianya tampak sudah puluhan tahun, namun tetap kokoh dan terawat. Ada nuansa klasik yang memancarkan keanggunan tersendiri.

"Kursi itu sudah ada sejak saya mulai kerja di sini," cerita Bu Wiwik. "Dulu, katanya kursi itu bekas waktu sekolah RSBI di Esmega."

Saya mendekat, menyentuh sandarannya yang halus. Kayunya masih kuat, pliturnya memang sudah mulai pudar tapi tidak mengurangi keanggunannya. Saya membayangkan berapa banyak siswa yang pernah duduk di situ, berapa banyak air mata dan senyum yang pernah menyertai sesi konseling.

Ruang BK ini bukan sekadar tempat kerja. Ia adalah ruang kehidupan. Tempat berbagai kisah tertutur, tempat beban siswa diturunkan, tempat motivasi kembali disusun. Pagi itu, saya merasa bersyukur bisa menjejakkan kaki di sini.

Percakapan kami berlanjut, hingga kisah ringan seputar keluarga. Tak terasa waktu berjalan cepat, suasana di ruang BK seolah melambatkan waktu. Saya merasa hangat, seperti menemukan bagian dari sekolah yang selama ini luput dari pandangan saya.

Sebelum pamit, saya sempat duduk di kursi tua itu. Rasanya seperti duduk di atas sejarah. Sejenak saya menunduk, berdoa dalam hati, semoga langkah-langkah kecil seperti ini terus membawa saya pada pemahaman yang lebih luas, pada pertemuan yang lebih bermakna, dan pada jejak rasa yang tak hanya tertinggal di lantai, tapi juga di hati.

Hari itu saya belajar, bahwa kadang langkah sederhana menuju ruang yang belum pernah dijejak, bisa menjadi perjalanan yang penuh makna. Dan Esmega, dengan segala sudut dan kisahnya, masih menyimpan banyak ruang untuk saya temukan.

Cepu, 20 Juni 2025

 

 

Rabu, 18 Juni 2025

Gurihnya Gethuk Mawur

 

Karya : Gutamining Saida 
Pagi itu, suasana di ruang guru cukup ramai. Obrolan ringan antar guru, tawa kecil menjadi pengiring aktivitas awal hari. Di antara semua kehangatan itu, ada satu momen kecil yang tiba-tiba menarik perhatian saya kedatangan Bu Ning, rekan sejawat kami, dengan sebuah tas kresek dari rumah.

"Ini, teman-teman, saya bawa gethuk mawur khas Cepu, cobain ya!" katanya sambil tersenyum cerah.

Mata saya langsung berbinar. Gethuk mawur! Sudah lama saya tidak menikmati makanan tradisional yang satu ini. Saya pun mendekat dan mengambil satu bungkus yang masih hangat, dibalut daun pisang yang disemat rapi dengan tusuk gigi. Harumnya langsung menguar begitu saya pegang. Parutan kelapa yang putih dan segar tampak menutupi potongan ketela yang berantakan tapi menggoda.

Begitu saya sampai di meja kerja, saya dikejutkan oleh sebuah pemandangan kecil yang tak saya duga ternyata di atas meja saya sudah ada satu bungkus gethuk yang sama, diletakkan oleh seseorang entah siapa, mungkin Bu Ning atau teman lain yang tahu saya suka makanan tradisional.

Saya sempat terdiam, tersenyum kecil. Dalam hati saya berkata, “Wah, ternyata sudah ada. Kalau begitu, yang saya ambil tadi lebih baik dikembalikan.”

Dengan langkah ringan, saya memutar arah dan kembali ke meja Bu Ning. Saya letakkan bungkus yang saya ambil tadi dengan pelan di atas mejanya.

“Bu, sudah ada di meja. Tadi saya tidak tahu, makanya ambil lagi. Ini saya kembalikan, biar teman lain juga bisa kebagian,” ucap saya dengan senyum.

Bu Ning membalas dengan ramah, “Wah, iya Bu, tadi saya yang taruh di meja njenengan. Makasih ya sudah dikembalikan. Kadang kalau kita buru-buru, memang suka nggak sadar.”

Saya hanya mengangguk. Momen kecil seperti itu mungkin tampak sepele, tapi entah kenapa, hati saya hangat. Ada nilai kejujuran, perhatian, dan kebersamaan yang mengalir diam-diam. Bahkan dari sekadar bungkusan makanan.

Lalu, apa sebenarnya gethuk mawur?

Gethuk mawur adalah makanan khas dari ketela pohon atau singkong yang ditumbuk tidak sampai halus. Mawur, dalam bahasa Jawa, berarti ‘berhamburan’ atau ‘tersebar’, maka ketelanya tidak dibentuk padat dan rapi, melainkan dibiarkan sedikit bercecer. Teksturnya unik, rasa gurihnya menonjol karena kelapa parut yang dicampur dengan sedikit garam, dan aromanya wangi karena dibungkus daun pisang. Gethuk ini sederhana tapi kaya cita rasa. Sekali mencicip, bisa ketagihan.

Saya duduk perlahan di kursi dekat jendela, membuka bungkus gethuk saya yang ternyata sudah disiapkan sejak tadi. Saya mencuil sepotong kecil dengan tangan. Lembut, gurih, dan sedikit kasar teksturnya masih terasa. Rasanya membawa saya pada kenangan masa kecil.

Gethuk ini bukan sekadar jajanan pasar. Ia membawa serta kenangan masa lalu. Dulu Ibu saya sering membelikan gethuk mawur sepulang dari pasar tradisional. Kami biasa menikmatinya di pagi hari, di beranda rumah yang sederhana, sambil menyeruput teh panas. Saat itu saya belum tahu apa istimewanya. Tapi hari ini, duduk di ruang guru sambil menikmati gethuk buatan tangan tulus yang dibawa oleh  Bu Ning, saya benar-benar paham bahwa makanan ini menyimpan rasa rindu dan nilai kebersamaan.

Saya melirik ke arah Bu Ning yang sedang membagikan bungkus-bungkus gethuk lainnya ke rekan guru. Wajahnya berseri-seri, seperti sedang membagikan kebahagiaan yang dibawanya dari rumah. Saya mendekat dan berkata, “Bu Ning, ini gethuknya enak banget. Gurihnya pas, kelapanya gurih sekali.”

Beliau tersenyum. “Alhamdulillah, Bu Saida. Itu belinya di dekat rumah. Saya tadi hanya bantu bungkus dan bawa ke sekolah. Katanya, makanan seperti ini jangan dilupakan.”

Saya mengangguk, sepenuh hati. Memang, di tengah serbuan jajanan kekinian, gethuk mawur tetap punya tempat. Ia bukan hanya mengenyangkan, tapi mengingatkan bahwa kebaikan bisa dibagi lewat hal sederhana. Semoga bermanfaat dan menginspirasi. 
Cepu, 18 Juni 2025 


Meletuskan Balon Meledakkan Sorak Sorai

 

Karya : Gutamining Saida

Langit cerah seolah ikut merayakan keceriaan siswa-siswi SMPN 3 Cepu. Halaman sekolah yang biasanya hanya jadi tempat upacara kini berubah jadi arena lomba yang penuh semangat. Classmeeting tengah berlangsung, dan salah satu lomba yang paling menyita perhatian hari ini adalah Lomba Meletuskan Balon.

Lomba ini begitu unik dan seru. Pesertanya terdiri dari kelas tujuh dan delapan, masing-masing membentuk satu regu yang berisi lima siswa. Perlombaan kelas tujuh musuh kelas tujuh begitu juga kelas delapan bertanding dengan kelas delapan. Mereka berbaris seperti kereta, dengan kedua tangan masing-masing peserta menempel atau pegang pundak teman di depannya. Yang menarik, balon diikat dengan tali rafia di kaki kiri peserta terakhir. Tugas regu yaitu menjaga balon sendiri dan berusaha meletuskan balon milik regu lain, tanpa memutus formasi. Jika tangan terlepas atau balon sendiri meletus, maka mereka langsung dinyatakan kalah.

Yang membuat suasana semakin ramai, penonton mayoritas adalah siswa perempuan dari berbagai kelas. Mereka duduk rapi berjajar di pinggir lapangan, di bawah teduhnya pohon. Meski hanya duduk di pinggir, semangat mereka luar biasa. Sorakan, teriakan, dan yel-yel mengiringi setiap langkah peserta lomba.

"7B... eh salah, 7E ayo kejar balonnya!" "7C jangan mundur terus, 7D serang dong!" "Wah, hampir pecah itu...!"

Terdengar tawa dan jeritan kecil setiap kali satu regu hampir kehilangan keseimbangan. Hanya di beberapa titik terlihat siswa laki-laki, mungkin yang tidak ikut lomba atau menjadi panitia. Mereka berdiri sambil tertawa geli melihat tingkah teman-temannya yang kesulitan menjaga formasi sambil berputar menghindari serangan.

Saya duduk tak jauh dari penonton siswa perempuann, ikut menyaksikan jalannya pertandingan. Ketika aba-aba dari wasit terdengar, ketiga regu langsung bergerak. Beberapa terlihat gugup, beberapa lain tampak sudah mempersiapkan strategi. Yang belakang harus siaga melindungi balon, yang depan harus cerdik mengecoh lawan.

Salah satu regu dari kelas 7D hampir kehilangan kendali saat peserta kedua tergelincir dan nyaris melepas tangan. Sorak penonton makin membahana. Tapi mereka berhasil menjaga formasi. Di sisi lain, regu dari 7D tampak lebih agresif. Mereka memutar dan menutup ruang gerak lawan. Dalam hitungan detik...

“DOOOOR!!”
Balon dari regu 7C meletus! penonton langsung bersorak. "Yaaah pecah balonnya!" "Seruuuu!!"

Meski kalah, regu 7D tetap tersenyum dan kembali ke pinggir lapangan, disambut tepuk tangan teman-teman perempuan yang duduk sambil melambaikan tangan menyemangati.

Pertarungan kini tinggal antara 7E dan 7C. Gerakan mereka semakin hati-hati namun penuh siasat. Tiba-tiba regu 7D melancarkan manuver yaitu  mereka berputar dari sisi kanan lapangan, mencoba mengapit dari belakang. Tapi 7C lebih sigap, peserta terakhirnya melompat kecil menghindar.

Penonton semakin heboh.
“Ayo dong pecahkan! Sedikit lagi!”“Lindungi balonnya, woyy!”

Akhirnya… “DUORR!” Balon regu 7D meletus, tepat saat mereka mencoba menyerang balik.
Lagi-lagi sorakan dan tepuk tangan membahana. "7C  menang 7C juara!""Balas dendam dong besok!"

Regu pemenang pun berjalan ke tengah lapangan dengan penuh bangga. Mereka disalami panitia Teman-teman perempuan dari kelas mereka langsung bersorak lebih keras, ada yang memekik senang, bahkan ada yang merekam dengan ponsel.

Saya melihat momen itu dengan perasaan campur aduk antara haru dan kagum. Anak-anak ini, dengan segala spontanitas dan tawa lepasnya, telah menunjukkan bahwa kegiatan sederhana seperti classmeeting bisa menjadi ruang tumbuh yang luar biasa. Di balik permainan kecil, ada pelajaran besar yaitu kerja sama, ketangkasan, sportivitas, dan kebersamaan.

Kemenangan memang menyenangkan, tapi yang lebih bermakna adalah bagaimana mereka saling mendukung, menertawakan kekonyolan tanpa merendahkan, dan menikmati proses dengan wajah ceria.

Dan saat sorak sorai mereda, siswa-siswi kembali ke tempat duduk mereka di pinggir lapangan, melanjutkan menonton lomba berikutnya. Lomba balon mungkin sudah selesai, tapi kenangannya meletus di dalam hati seperti balon yang pecah tadi meninggalkan kesan yang tak mudah hilang.

Cepu, 18 Juni 2025

 


Selasa, 17 Juni 2025

Selasa Berkah



Karya : Gutamining Saida 
Hari Selasa pagi, langkah saya terasa ringan menuju sekolah. Udara pagi masih segar, embun belum sepenuhnya menguap, dan langit tampak bersih dari awan gelap. Saya memasuki gerbang dengan niat seperti biasa berbagi ilmu, dan berbagi semangat dengan siswa serta lingkungan.

Begitu membuka pintu ruang guru, ada sesuatu yang berbeda. Aroma harum menguar lembut, menyelinap ke dalam hidung dan langsung menyapa indera penciuman saya. Sejenak saya diam, menoleh kiri dan kanan. Ternyata, di meja belakang ruang guru, berderet rapi mangkuk-mangkuk putih berisi soto. Kuahnya kekuningan, hangat mengepul, menggoda siapa saja yang melihat. Potongan ayam, taoge, bihun, seledri, dan bawang goreng tampak menggoda. Tercium harum kaldu yang khas, seakan mengundang untuk segera diseruput.

Saya mendekat, dengan senyum terukir di wajah. “Heeem… nikmatnya,” desah saya pelan. Hidung saya seperti mendapatkan hadiah pagi. Dalam hati saya berkata, "Alhamdulillah… nikmat Allah memang tak akan pernah tertukar." Nikmat bisa mencium aroma soto di pagi yang belum sepenuhnya ramai, adalah bentuk rezeki yang tak ternilai.

Melihat sajian itu, saya pun bertanya sambil mendekati meja kerja Bu Ning, “Ini ada acara, Bu Ning?”

Beliau menoleh, tersenyum singkat sambil menjawab, “Sudah ambil itu soto…”

Jawaban yang pendek tapi penuh makna. Tak perlu basa-basi. Itu tanda bahwa ini bukan untuk satu-dua orang, tapi untuk semua guru yang datang pagi itu.

“Selasa berkah ya, Bu Ning,” ujar saya sambil ikut tersenyum. Bu Ning menjawab tenang sambil mengatur mangkuk, “Semua hari itu baik, Bu. Yang lain mungkin Jumat berkah. Saya ya… sewaktu-waktu.”

Saya mengangguk perlahan, mengagumi caranya berbagi. Tak menunggu hari khusus, tak menunggu ada momen tertentu. Ketika bisa memberi, maka ia memberi. Ada keikhlasan yang sederhana tapi terasa dalam. Sebuah keteladanan yang tidak diumumkan, tapi menginspirasi.

Tak lama kemudian, saya melangkah ke meja belakang tempat deretan soto itu berada. Saya duduk pelan, mengambil satu mangkuk. Saya tambahkan kuah hangat yang ditaruh di panci, lalu menambah sedikit sambal dan memeras jeruk nipis di atasnya. Warna soto jadi lebih cerah dan aromanya makin menggoda.

Baru saja saya mulai mengaduk pelan untuk mencampur isian soto, Bu Ning datang dari arah belakang.

Dengan santai, ia mengambil satu potong kepala ayam, dan meletakkannya di dalam mangkuk saya. Saya kaget sekaligus geli.

“Lho… lho kok ditambah itu?” tanya saya sambil menunjuk ke dalam mangkuk. 

Bu Ning tersenyum, tak menjawab langsung. Matanya hangat, senyumnya tulus. Lalu ia berkata lembut, “Allah Subhanahu Wata'alla itu Maha Kaya. Tidak akan keliru dalam membagikan rezeki.”

Saya terdiam. Kata-kata itu sederhana, tapi menancap kuat. Saya merasa seperti sedang diajar tanpa papan tulis, tanpa spidol, tanpa catatan. Tapi pelajarannya jauh lebih dalam: tentang keikhlasan, rasa syukur, dan makna rezeki.

Saya menunduk sebentar, hati saya hangat. Dalam hati saya kembali berbisik, "Hari ini, rezeki saya luar biasa."

Saya mulai menyantap soto perlahan. Kuahnya meresap ke dalam nasi, sambalnya pas, perasan jeruk nipis membuat rasa makin segar. Dan tentu saja, kepala ayam yang diberikan Bu Ning terasa istimewa. Bukan karena dagingnya, tapi karena makna di balik pemberiannya.

Beberapa guru juga mulai menikmati soto. Obrolan ringan mengalir, tawa bersahut. Tak ada perbedaan siapa yang paling awal atau siapa yang terakhir. Semua duduk bersama, menyantap rezeki yang dibagikan dengan cinta. Soto pagi itu telah menyatukan kami, bukan hanya sebagai rekan kerja, tapi sebagai saudara dalam kebersamaan.

Selasa itu menjadi hari yang tak akan mudah saya lupakan. Di balik semangkuk soto yang tampak sederhana, ada pelajaran mendalam yang saya terima. Bahwa berbagi tak harus menunggu momen, bahwa memberi tidak harus berlebih, dan bahwa rezeki bisa datang dalam bentuk yang tak terduga. Kadang ia berupa makanan, kadang berupa senyuman, kadang berupa ucapan, dan kadang berupa hati yang ikhlas memberi. Teriring doa semoga rezeki tambah berkah, sehat selalu bu Ning. 
Cepu, 18 Juni 2025 



Bola Kesabaran

Karya: Gutamining Saida
Classmeeting di SMPN 3 Cepu selalu menghadirkan kejutan. Setelah penilaian akhir semester selesai, suasana sekolah yang biasanya penuh konsentrasi belajar mendadak berubah menjadi penuh canda, semangat, dan sorak-sorai. Lomba demi lomba digelar dari futsal, tarik tambang, hingga lomba yang satu ini yaitu Bola Kesabaran. Sebuah nama yang unik, sekaligus membuat saya penasaran.

Pagi itu, saya menyempatkan diri bersama siswa di lapangan, menikmati keramaian. Saat itulah mata saya tertuju pada satu sudut lapangan di mana beberapa anak berkumpul, tampak lebih tenang dibandingkan keramaian di tempat lain. Mereka berdiri saling berhadapan dalam formasi empat orang. Di tangan mereka ada seutas tali, satu ujung dipegang oleh pasangan yang berseberangan. Tali itu saling bersilangan, dan di tengah-tengahnya, diletakkan sebuah bola kecil berwarna warni, ada merah, hijau, oren. Yang biasa digunakan permainan mandi bola. 

Saya melangkah mendekat. Ternyata ini adalah lomba Bola Kesabaran. Kata siswa yang saya tanya. 

Panitia lomba, yang terdiri dari pengurus OSIS, tampak sibuk menjelaskan aturan lomba pada peserta dan penonton yang penasaran. Seorang siswa OSIS, yang bertugas sebagai juri sekaligus pemandu, menjelaskan dengan jelas yaitu :
"Setiap kelompok terdiri dari empat orang. Dua anak memegang ujung tali yang satu, dua anak lainnya memegang ujung tali yang lain. Di tengah-tengah tali, kami taruh bola kecil. Tugas kalian adalah berjalan pelan-pelan menuju garis finis sambil menjaga agar bola tidak jatuh. Kalau jatuh sebelum finis, harus kembali ke garis start dan mengulang. Tim yang berhasil membawa bola sampai finis dan memasukkannya ke dalam gelas adalah pemenangnya."

Seketika saya paham mengapa lomba ini dinamai Bola Kesabaran. Bukan hanya butuh keseimbangan, tetapi juga kerja sama dan komunikasi yang baik. Keempat peserta harus menyatu dalam gerak dan ritme. Satu terlalu cepat, yang lain terlambat, bola bisa jatuh. Tidak cukup kuat menahan, bola bisa tergelincir.

Saat lomba dimulai, penonton bersorak, tetapi tidak terlalu keras. Mereka tahu bahwa peserta perlu konsentrasi penuh. Pasangan pertama dimulai dari kelas tujuh. Setiap satu putaran dua regu dari kelas yang berbeda. Gerakan mereka sangat hati-hati, bahkan seperti sedang menginjak lantai yang terbuat dari kaca. Setiap beberapa langkah, mereka berhenti sejenak, melihat posisi bola, lalu melanjutkan.

Belum sampai separuh lintasan, bola goyang. Semua menahan napas. Lalu... jebluk! Bola jatuh ke tanah. Penonton pun berseru kecewa, tapi juga tertawa mendukung. Peserta pun harus kembali ke garis start.

Tak hanya satu dua kelompok yang mengalami hal serupa. Banyak yang bola-nya jatuh berulang kali. Ada yang terlalu tergesa, ada yang terlalu kaku, bahkan ada yang saling menyalahkan. Tapi justru di situlah letak nilai lomba ini melatih kesabaran, kekompakan, dan kemampuan mengendalikan emosi.

Saya melihat satu tim dari kelas 7C yang sangat menarik perhatian. Mereka tampak kompak sejak awal. Sebelum mulai, mereka membentuk lingkaran kecil, menunduk dan saling memberi semangat. “Pelan-pelan, jangan panik. Kita bisa,” kata salah satu dari mereka. 

Saat peluit dibunyikan, keempatnya berjalan perlahan. Langkah mereka selaras, mata mereka saling memberi kode. Tak satu pun dari mereka bicara keras-keras, hanya isyarat dan gerakan kepala. Bola di tengah tali bergerak stabil, perlahan mendekati garis finis. Penonton mulai bersorak lebih keras. “Ayo! Sedikit lagi!”

Beberapa meter menjelang garis finis, tantangan paling berat pun datang: memasukkan bola ke dalam gelas plastik bening yang diletakkan di tengah garis finis. Gelas itu kecil, dan bola harus dijatuhkan tepat ke dalamnya dari posisi tali.

Keempat anak itu berhenti. Mereka menarik napas. Perlahan, tangan mereka bergerak menurunkan posisi tali. Salah satu dari panitia bersiap dengan wajah tegang, menunduk mengamati posisi bola.

“Satu... dua... tiga...” bisik salah satu peserta.

TOK! Bola jatuh. Dan... pluk!—masuk sempurna ke dalam gelas!

Sorak-sorai membahana. Tepuk tangan menggema dari para penonton, dan teman-teman yang ikut menyaksikan. Empat anak itu tersenyum lebar, saling menepuk bahu. Tidak ada yang merasa dirinya paling berjasa, karena mereka tahu bahwa  kemenangan itu hasil kerja sama.

Lomba Bola Kesabaran hari itu memberi pelajaran penting. Di balik permainan sederhana, tersembunyi makna yang mendalam. Kesabaran, komunikasi, kerjasama, dan kemampuan untuk tidak menyerah ketika gagal, adalah nilai-nilai yang jauh lebih penting daripada sekadar menang lomba.
Cepu, 17 Juni 2025 



Senin, 16 Juni 2025

Sudut Lapangan Esmega


Karya: Gutamining Saida,S.Pd
Di tengah hiruk pikuk kegiatan classmeeting yang meriah, tawa riang dan sorak sorai siswa terdengar membahana di seluruh penjuru lapangan SMP Esmega. Sorakan dari lomba futsal, tarik tambang, dan berbagai permainan lainnya menjadikan suasana pagi itu begitu semarak. Namun, ada satu sudut yang menarik perhatian saya bukan karena keramaiannya, tetapi justru karena kesunyiannya.

Di sudut lapangan yang agak teduh karena rindangnya pohon, berdiri empat kursi dan sebuah meja yang seluruhnya terbuat dari semen dan dibentuk menyerupai potongan kayu. Tempat itu biasanya kosong, atau kadang dipakai oleh siswa yang ingin beristirahat sejenak. Pagi ini  berbeda. Dari kejauhan, saya melihat tiga siswi duduk di sana. Mereka tampak serius, bukan sedang bermain atau bercengkerama seperti siswa lainnya. Di atas meja tampak tumpukan kertas gambar, pensil warna, kuas, dan papan ujian. Ada pula cat air yang tertata rapi di sebuah wadah plastik. Pemandangan itu membuat rasa penasaran saya memuncak.

Langkah saya perlahan mendekati mereka. Di tengah keramaian, sudut itu seperti dunia lain yang tenang dan penuh konsentrasi. Ketiganya tidak menyadari kedatangan saya hingga saya benar-benar berdiri di samping mereka.

"Assalamualaikum, sedang apa kalian?” tanya saya sambil tersenyum.

Mereka sedikit terkejut, lalu membalas dengan senyum malu-malu. Salah satu dari mereka, yang duduk paling dekat dengan saya, menjawab, “Kami sedang melukis, Bu.”

“Oh iya? Ini bagus sekali. Boleh saya lihat?” tanya saya lagi sambil menunduk melihat kertas yang tengah digoresi kuas.

Saya takjub melihat detail dan warna yang digunakan. Meski masih kelas 7, sentuhan mereka pada lukisan terasa penuh semangat dan kedewasaan dalam berekspresi.


“Dari 7C, saya bernama Keyza” ujar siswi yang pertama, “Yang dua teman saya dari 7G Aisley dan Livia,” tambahnya sambil menunjuk dua temannya yang tampak masih asyik menggambar.

Saya duduk di salah satu kursi kosong, menyimak penjelasan mereka. Rupanya mereka bertiga tergabung dalam komunitas kecil pelukis di sekolah. Mereka sering berkumpul di tempat ini setiap ada waktu luang, termasuk saat classmeeting. Di saat teman-temannya berlomba dan bersorak, mereka memilih untuk berkarya, menuangkan imajinasi dan perasaan melalui kuas dan warna.

“Kenapa kalian memilih melukis di tengah classmeeting yang ramai begini?” tanya saya, tak mampu menyembunyikan kekaguman.

Salah satu siswi yang bernama Keyza menjawab dengan tenang, “Kami suka suasana riuh. Suara-suara itu seperti jadi inspirasi. Tapi kami memang lebih suka menciptakan daripada berkompetisi secara langsung.”

Saya mengangguk. Jawaban itu begitu tulus. Saya melihat betapa mereka menikmati proses menciptakan karya seni, dan bukan hanya hasil akhirnya. Bahkan mereka tampak saling memotivasi, sesekali saling memberi saran pada lukisan masing-masing, atau berbagi warna yang kurang.

“Apakah kalian sering berkumpul seperti ini?” saya lanjutkan pertanyaan.

“Iya, Bu. Kadang waktu istirahat, kadang sepulang sekolah. Kami punya grup kecil juga di WhatsApp. Sering berbagi gambar, teknik, atau tantangan melukis mingguan. Kadang kami pakai tema bebas, kadang kami tentukan bersama,” jawab Livia.

Saya mengangguk-angguk, dalam hati mengagumi semangat dan inisiatif mereka. Anak-anak seusia mereka biasanya sibuk dengan gawai atau sekadar bermain, namun ketiganya memilih jalan sunyi yang tak banyak dilirik berkarya dalam diam.

Saya ingin sekali mengabadikan momen itu. Saya keluarkan ponsel dari saku dan bertanya dengan antusias, “Boleh Ibu foto kalian sedang melukis?”

Namun secara serempak mereka menggeleng, sambil tertawa malu. “Jangan, Bu. Kami malu,” ucap salah satunya.

Saya hanya tertawa kecil, “Tidak apa-apa. Ibu tetap senang melihat kalian. Teruslah berkarya ya. Kalau nanti ada pameran seni di sekolah, kalian harus ikut.”

Mereka tersenyum dan mengangguk pelan. Saya bangkit dari tempat duduk, meninggalkan mereka yang kembali tenggelam dalam dunia mereka masing-masing. Langkah saya menjauh perlahan, tapi pikiran saya masih tertambat pada ketiga siswi itu. Ada harapan, ada semangat, ada nilai yang ingin saya bagi dengan guru-guru lain  bahwa dalam kebebasan memilih aktivitas, akan tumbuh benih kemandirian dan kreativitas yang luar biasa. Semoga kalian bertiga semakin sukses. Semangat untuk berkaya.
Cepu, 17 Juni 2025

Minggu, 15 Juni 2025

Jejak Silaturrahmi di Tengah Resepsi

Karya: Gutamining Saida

Siang itu langit cerah, seperti turut menyambut kebahagiaan yang akan saya temui. Undangan telah saya terima beberapa hari sebelumnya bukan sekadar undangan biasa, melainkan undangan yang diantarkan langsung oleh teman seprofesi bersama istrinya ke rumah saya. Ia adalah sahabat lama semasa saya masih bertugas di tempat yang sama, SMPN 1 Kedungtuban. Meski kini saya tidak lagi sekantor dengannya, ternyata ia masih menyempatkan diri untuk menjaga jalinan silaturahmi. Sebuah perhatian kecil yang bagi saya terasa begitu hangat dan dalam maknanya.

Hari resepsi pun tiba. Sejak pagi, saya sudah bersiap. Tidak hanya bersiap secara fisik, juga hati saya penuh harap, harap bisa bertemu kembali dengan rekan-rekan guru yang dulu pernah bersama saya mengajar, berbagi tawa, keluh, dan perjuangan dalam dunia pendidikan. Sebelum berangkat, saya mengirim pesan pribadi kepada beberapa teman guru, berharap kami bisa bertemu di sana. Mereka membalas dengan semangat, menyampaikan bahwa mereka pun akan hadir.

Saya tiba di lokasi resepsi sesuai waktu yang disepakati. Tempatnya begitu ramai, suasananya tetap hangat. Musik mengalun dari panggung pelaminan, tamu-tamu datang bergiliran mengucapkan selamat, dan para penerima tamu sibuk menyambut para tamu dengan senyum yang tulus. Saya pun melangkah menuju deretan orang tua, sepasang mempelai. Saya memandangi pelaminan. Sang mempelai tampak anggun dan tampan, bersanding dengan penuh kebahagiaan. Anak dari sahabat saya itu kini telah memasuki fase kehidupan yang baru.

Tak lama kemudian, satu per satu wajah-wajah yang saya rindukan mulai muncul. Ada Bu Endang, bu Yulis, bu Yuli, bu Azkia yang dulu sering duduk Bersama  di ruang guru. Pak Tulas yang dikenal dengan candaan segarnya, dan Bu Iip yang selalu  mengurus kegiatan kekeluargaan. Kami saling menyapa, berjabat tangan, berpelukan. Rasa haru tak bisa disembunyikan. Rasanya seperti dipertemukan kembali dalam ruang yang tak hanya fisik, tapi juga kenangan.

“Alhamdulillah, bisa ketemu lagi ya,” ucap Bu Endang sambil memegang tangan saya erat.

“Rasanya seperti reuni kecil,” timpal bu Yani.

Obrolan mengalir lancar, seolah tak ada jarak yang memisahkan kami selama ini. Topik yang kami bahas pun beragam dari kondisi sekolah saat ini, perkembangan para siswa, hingga kabar keluarga masing-masing. Ada tawa yang pecah, ada pula keheningan sejenak saat kami mengenang momen-momen perjuangan bersama di sekolah.

Seorang dari kami mengusulkan untuk mengabadikan momen ini dengan berfoto bersama. Tentu saja kami setuju. Kami berdiri berjejer, senyum mengembang, dan "klik" kamera menangkap kebersamaan itu dalam satu bingkai. Sebuah foto yang kelak akan menjadi saksi bahwa persahabatan dan silaturahmi itu tak mudah luntur, meski waktu dan tempat telah memisahkan kami.

Sambil menyendok nasi dan lauk, obrolan tetap berlanjut. Bahkan di antara kami ada yang saling membantu membawakan minuman atau mengambilkan makanan untuk yang lain. Nuansa kekeluargaan begitu terasa. Tidak seperti sekadar tamu undangan, tapi seperti anggota keluarga besar yang tengah berkumpul.

Usai makan, kami menyempatkan diri bertemu dengan sahabatyang lain, Ia menyambut dengan hangat, senyumnya lebar.”Bagaimana sehat-sehat ya” katanya penuh tulus. Saya membalas dengan anggukan kepala dan ucapan doa untuknya.

Momen singkat ini seakan menjadi oase dalam rutinitas kami masing-masing. Saling bertemu, berbagi cerita, dan mengenang masa lalu ternyata sangat berarti. Terkadang, kebahagiaan itu sederhana bertemu kembali dengan orang-orang yang pernah berjalan bersama kita di lorong kehidupan. Kehadiran saya hari itu bukan sekadar memenuhi undangan resepsi, tapi juga mempererat ikatan yang sempat longgar karena waktu dan jarak. Silaturahmi adalah harta yang tak ternilai. Dan saya bersyukur, Allah Subhanahu Wata’alla mempertemukan kembali langkah kami dalam suasana yang penuh berkah.

Cepu, 15 Juni 2025