Minggu, 22 Juni 2025
Jejak Roda Sepeda Pertama
Senam Otak Bersama Zaskia
Liburan Zaskia
Sabtu, 21 Juni 2025
Bahagia Dengan Ragam Jepretan
Kyai Muhammad Nursalim
Kebersamaan Dalam Perjalanan
Kamis, 19 Juni 2025
Jejak Langkah Kakiku di Lantai Atas
Lima bulan delapan belas hari
saya berada di dunia Esmega. Dunia baru yang menghadirkan berbagai warna dalam
kehidupan saya sebagai seorang guru. Saya pikir, selama itu saya telah
menginjak hampir semua ruang dan sudut sekolah ini. Tapi nyatanya belum semua.
Masih ada ruang-ruang yang belum saya jamah, belum saya kunjungi, bahkan belum
pernah saya lihat secara langsung. Salah satunya adalah ruang BK yang berada di
lantai atas.
Pagi itu, seperti biasa saya
datang dengan motor kesayangan. Saya menyusuri jalanan yang sudah mulai saya
hafal lekukannya. Saya menyapa beberapa wajah siswa yang berlalu-lalang.
Rutinitas pagi, seperti absen kehadiran guru, menjadi agenda awal. Saat kaki
saya baru melangkah beberapa langkah untuk absen, tiba-tiba terdengar suara
memanggil nama saya, "Bu Saida!"
Saya spontan menoleh, mencari
asal suara. Suara itu tidak datang dari sekeliling, melainkan dari lantai atas.
Saya mendongak, menatap ke lantai atas bangunan. Dan... ketemulah! Sesosok
wajah yang saya kenal menyapa dari ketinggian. Dia mengukir senyum hangat yang
tampak tulus dan penuh persahabatan. Wajah itu adalah Bu Wiwik teman sejawat
yang pagi itu sudah lebih dulu datang dan menyiapkan segala sesuatu untuk OSN di
ruang BK.
Sejenak sebelum berangkat ke
sekolah, saya memang menerima pesan pribadi dari Bu Wiwik. Dia yang memberitahu
bahwa hari ini beliau bertugas di lantai atas. Tapi karena kesibukan pagi dan
banyaknya hal yang harus saya pikirkan, pesan itu sempat menguap dari ingatan.
Hingga sapaan hangat itu mengembalikannya.
"Bu Saida, ke sini ya!"
serunya sambil tersenyum lebar.
Saya balas dengan senyum dan
anggukan. Rasanya seperti ada ajakan yang tidak bisa saya tolak, bukan karena
terpaksa, tapi karena terasa menyenangkan. Sebuah undangan untuk melangkah ke
tempat yang belum pernah saya datangi.
Setelah memarkir motor dengan
rapi, saya pun berjalan menuju tangga. Langkah demi langkah terasa ringan dan
penuh semangat. Lantai atas ini memang lebih sepi, jarang saya kunjungi karena
memang belum ada keperluan khusus. Namun pagi ini saya berusaha hadir di sana.
Setibanya di ruang BK, saya melonggok
ke dalam ruang dengan perlahan. Udara yang sedikit lebih hangat dari lantai
bawah menyambut saya. Namun tak kalah ramah dari senyuman Bu Wiwik yang setia
menunggu. Ruangan itu tampak sederhana namun penuh cerita. Ada rak berisi stopmap
dan dokumen, meja kerja, dan beberapa kursi untuk konsultasi siswa.
"Alhamdulillah, akhirnya
saya menginjakkan kaki di ruangan ini juga," ucap saya spontan.
"Sudah hampir enam bulan di
sini, tapi belum pernah ke ruang BK?" sahut Bu Wiwik sambil tertawa kecil.
Saya hanya tersenyum. Kadang
tanpa disadari, kita terlalu sibuk di rutinitas hingga lupa menjelajahi
lingkungan kerja sendiri.
"Ke sini buat apa, Bu?"
saya bertanya.
"Ya survei lingkungan,
lah!" jawabnya santai.
“Benar juga ya.” Saya menjawab
dengan singkat.
Kalimat yang sederhana tapi
mengandung makna mendalam. Ternyata tidak semua kunjungan harus ada alasan
formal atau keperluan administratif. Terkadang, langkah sederhana seperti ini
bisa membuka cakrawala baru, memperluas pemahaman, dan mempererat tali silaturahmi.
Pandangan saya kemudian menyapu
seisi ruangan. Di tengah ruangan, mata saya tertumbuk pada beberapa kursi kayu
tua. Kursi itu berbeda dari yang lain. Usianya tampak sudah puluhan tahun,
namun tetap kokoh dan terawat. Ada nuansa klasik yang memancarkan keanggunan
tersendiri.
"Kursi itu sudah ada sejak
saya mulai kerja di sini," cerita Bu Wiwik. "Dulu, katanya kursi itu
bekas waktu sekolah RSBI di Esmega."
Saya mendekat, menyentuh
sandarannya yang halus. Kayunya masih kuat, pliturnya memang sudah mulai pudar
tapi tidak mengurangi keanggunannya. Saya membayangkan berapa banyak siswa yang
pernah duduk di situ, berapa banyak air mata dan senyum yang pernah menyertai
sesi konseling.
Ruang BK ini bukan sekadar tempat
kerja. Ia adalah ruang kehidupan. Tempat berbagai kisah tertutur, tempat beban
siswa diturunkan, tempat motivasi kembali disusun. Pagi itu, saya merasa
bersyukur bisa menjejakkan kaki di sini.
Percakapan kami berlanjut, hingga
kisah ringan seputar keluarga. Tak terasa waktu berjalan cepat, suasana di
ruang BK seolah melambatkan waktu. Saya merasa hangat, seperti menemukan bagian
dari sekolah yang selama ini luput dari pandangan saya.
Sebelum pamit, saya sempat duduk
di kursi tua itu. Rasanya seperti duduk di atas sejarah. Sejenak saya menunduk,
berdoa dalam hati, semoga langkah-langkah kecil seperti ini terus membawa saya
pada pemahaman yang lebih luas, pada pertemuan yang lebih bermakna, dan pada
jejak rasa yang tak hanya tertinggal di lantai, tapi juga di hati.
Hari itu saya belajar, bahwa
kadang langkah sederhana menuju ruang yang belum pernah dijejak, bisa menjadi
perjalanan yang penuh makna. Dan Esmega, dengan segala sudut dan kisahnya,
masih menyimpan banyak ruang untuk saya temukan.
Cepu, 20 Juni 2025
Rabu, 18 Juni 2025
Gurihnya Gethuk Mawur
Meletuskan Balon Meledakkan Sorak Sorai
Langit cerah seolah ikut
merayakan keceriaan siswa-siswi SMPN 3 Cepu. Halaman sekolah yang biasanya
hanya jadi tempat upacara kini berubah jadi arena lomba yang penuh semangat. Classmeeting
tengah berlangsung, dan salah satu lomba yang paling menyita perhatian hari ini
adalah Lomba Meletuskan Balon.
Lomba ini begitu unik dan seru.
Pesertanya terdiri dari kelas tujuh dan delapan, masing-masing membentuk
satu regu yang berisi lima siswa. Perlombaan kelas tujuh musuh kelas
tujuh begitu juga kelas delapan bertanding dengan kelas delapan. Mereka
berbaris seperti kereta, dengan kedua tangan masing-masing peserta menempel
atau pegang pundak teman di depannya. Yang menarik, balon diikat dengan tali
rafia di kaki kiri peserta terakhir. Tugas regu yaitu menjaga balon sendiri
dan berusaha meletuskan balon milik regu lain, tanpa memutus formasi. Jika
tangan terlepas atau balon sendiri meletus, maka mereka langsung dinyatakan
kalah.
Yang membuat suasana semakin
ramai, penonton mayoritas adalah siswa perempuan dari berbagai kelas.
Mereka duduk rapi berjajar di pinggir lapangan, di bawah teduhnya pohon. Meski
hanya duduk di pinggir, semangat mereka luar biasa. Sorakan, teriakan, dan
yel-yel mengiringi setiap langkah peserta lomba.
"7B... eh salah, 7E ayo
kejar balonnya!" "7C jangan mundur terus, 7D serang dong!" "Wah,
hampir pecah itu...!"
Terdengar tawa dan jeritan kecil
setiap kali satu regu hampir kehilangan keseimbangan. Hanya di beberapa titik
terlihat siswa laki-laki, mungkin yang tidak ikut lomba atau menjadi panitia.
Mereka berdiri sambil tertawa geli melihat tingkah teman-temannya yang
kesulitan menjaga formasi sambil berputar menghindari serangan.
Saya duduk tak jauh dari penonton
siswa perempuann, ikut menyaksikan jalannya pertandingan. Ketika aba-aba dari
wasit terdengar, ketiga regu langsung bergerak. Beberapa terlihat gugup,
beberapa lain tampak sudah mempersiapkan strategi. Yang belakang harus siaga
melindungi balon, yang depan harus cerdik mengecoh lawan.
Salah satu regu dari kelas 7D
hampir kehilangan kendali saat peserta kedua tergelincir dan nyaris melepas
tangan. Sorak penonton makin membahana. Tapi mereka berhasil menjaga formasi.
Di sisi lain, regu dari 7D tampak lebih agresif. Mereka memutar dan menutup
ruang gerak lawan. Dalam hitungan detik...
“DOOOOR!!”
Balon dari regu 7C meletus! penonton langsung bersorak. "Yaaah pecah
balonnya!" "Seruuuu!!"
Meski kalah, regu 7D tetap
tersenyum dan kembali ke pinggir lapangan, disambut tepuk tangan teman-teman
perempuan yang duduk sambil melambaikan tangan menyemangati.
Pertarungan kini tinggal antara 7E
dan 7C. Gerakan mereka semakin hati-hati namun penuh siasat. Tiba-tiba regu 7D
melancarkan manuver yaitu mereka
berputar dari sisi kanan lapangan, mencoba mengapit dari belakang. Tapi 7C
lebih sigap, peserta terakhirnya melompat kecil menghindar.
Penonton semakin heboh.
“Ayo dong pecahkan! Sedikit lagi!”“Lindungi balonnya, woyy!”
Akhirnya… “DUORR!” Balon
regu 7D meletus, tepat saat mereka mencoba menyerang balik.
Lagi-lagi sorakan dan tepuk tangan membahana. "7C menang 7C juara!""Balas dendam dong
besok!"
Regu pemenang pun berjalan ke
tengah lapangan dengan penuh bangga. Mereka disalami panitia Teman-teman perempuan dari kelas mereka
langsung bersorak lebih keras, ada yang memekik senang, bahkan ada yang merekam
dengan ponsel.
Saya melihat momen itu dengan
perasaan campur aduk antara haru dan kagum. Anak-anak ini, dengan segala
spontanitas dan tawa lepasnya, telah menunjukkan bahwa kegiatan sederhana
seperti classmeeting bisa menjadi ruang tumbuh yang luar biasa. Di balik permainan
kecil, ada pelajaran besar yaitu kerja sama, ketangkasan, sportivitas, dan
kebersamaan.
Kemenangan memang menyenangkan,
tapi yang lebih bermakna adalah bagaimana mereka saling mendukung, menertawakan
kekonyolan tanpa merendahkan, dan menikmati proses dengan wajah ceria.
Dan saat sorak sorai mereda,
siswa-siswi kembali ke tempat duduk mereka di pinggir lapangan, melanjutkan
menonton lomba berikutnya. Lomba balon mungkin sudah selesai, tapi kenangannya
meletus di dalam hati seperti balon yang pecah tadi meninggalkan kesan yang tak
mudah hilang.
Cepu, 18 Juni 2025
Selasa, 17 Juni 2025
Selasa Berkah
Bola Kesabaran
Senin, 16 Juni 2025
Sudut Lapangan Esmega
Minggu, 15 Juni 2025
Jejak Silaturrahmi di Tengah Resepsi
Siang itu langit cerah, seperti
turut menyambut kebahagiaan yang akan saya temui. Undangan telah saya terima
beberapa hari sebelumnya bukan sekadar undangan biasa, melainkan undangan yang
diantarkan langsung oleh teman seprofesi bersama istrinya ke rumah saya. Ia
adalah sahabat lama semasa saya masih bertugas di tempat yang sama, SMPN 1
Kedungtuban. Meski kini saya tidak lagi sekantor dengannya, ternyata ia masih
menyempatkan diri untuk menjaga jalinan silaturahmi. Sebuah perhatian kecil
yang bagi saya terasa begitu hangat dan dalam maknanya.
Hari resepsi pun tiba. Sejak
pagi, saya sudah bersiap. Tidak hanya bersiap secara fisik, juga hati saya
penuh harap, harap bisa bertemu kembali dengan rekan-rekan guru yang dulu
pernah bersama saya mengajar, berbagi tawa, keluh, dan perjuangan dalam dunia
pendidikan. Sebelum berangkat, saya mengirim pesan pribadi kepada beberapa
teman guru, berharap kami bisa bertemu di sana. Mereka membalas dengan
semangat, menyampaikan bahwa mereka pun akan hadir.
Saya tiba di lokasi resepsi sesuai
waktu yang disepakati. Tempatnya begitu ramai, suasananya tetap hangat. Musik
mengalun dari panggung pelaminan, tamu-tamu datang bergiliran mengucapkan
selamat, dan para penerima tamu sibuk menyambut para tamu dengan senyum yang
tulus. Saya pun melangkah menuju deretan orang tua, sepasang mempelai. Saya
memandangi pelaminan. Sang mempelai tampak anggun dan tampan, bersanding dengan
penuh kebahagiaan. Anak dari sahabat saya itu kini telah memasuki fase
kehidupan yang baru.
Tak lama kemudian, satu per satu
wajah-wajah yang saya rindukan mulai muncul. Ada Bu Endang, bu Yulis, bu Yuli,
bu Azkia yang dulu sering duduk Bersama di ruang guru. Pak Tulas yang dikenal dengan
candaan segarnya, dan Bu Iip yang selalu mengurus kegiatan kekeluargaan. Kami saling
menyapa, berjabat tangan, berpelukan. Rasa haru tak bisa disembunyikan. Rasanya
seperti dipertemukan kembali dalam ruang yang tak hanya fisik, tapi juga
kenangan.
“Alhamdulillah, bisa ketemu lagi
ya,” ucap Bu Endang sambil memegang tangan saya erat.
“Rasanya seperti reuni kecil,”
timpal bu Yani.
Obrolan mengalir lancar, seolah
tak ada jarak yang memisahkan kami selama ini. Topik yang kami bahas pun
beragam dari kondisi sekolah saat ini, perkembangan para siswa, hingga kabar
keluarga masing-masing. Ada tawa yang pecah, ada pula keheningan sejenak saat
kami mengenang momen-momen perjuangan bersama di sekolah.
Seorang dari kami mengusulkan
untuk mengabadikan momen ini dengan berfoto bersama. Tentu saja kami setuju.
Kami berdiri berjejer, senyum mengembang, dan "klik" kamera menangkap
kebersamaan itu dalam satu bingkai. Sebuah foto yang kelak akan menjadi saksi
bahwa persahabatan dan silaturahmi itu tak mudah luntur, meski waktu dan tempat
telah memisahkan kami.
Sambil menyendok nasi dan lauk,
obrolan tetap berlanjut. Bahkan di antara kami ada yang saling membantu
membawakan minuman atau mengambilkan makanan untuk yang lain. Nuansa
kekeluargaan begitu terasa. Tidak seperti sekadar tamu undangan, tapi seperti
anggota keluarga besar yang tengah berkumpul.
Usai makan, kami menyempatkan
diri bertemu dengan sahabatyang lain, Ia menyambut dengan hangat, senyumnya
lebar.”Bagaimana sehat-sehat ya” katanya penuh tulus. Saya membalas dengan anggukan
kepala dan ucapan doa untuknya.
Momen singkat ini seakan menjadi
oase dalam rutinitas kami masing-masing. Saling bertemu, berbagi cerita, dan
mengenang masa lalu ternyata sangat berarti. Terkadang, kebahagiaan itu
sederhana bertemu kembali dengan orang-orang yang pernah berjalan bersama kita
di lorong kehidupan. Kehadiran saya hari itu bukan sekadar memenuhi undangan
resepsi, tapi juga mempererat ikatan yang sempat longgar karena waktu dan
jarak. Silaturahmi adalah harta yang tak ternilai. Dan saya bersyukur, Allah Subhanahu
Wata’alla mempertemukan kembali langkah kami dalam suasana yang penuh berkah.
Cepu, 15 Juni 2025





