Jumat, 18 Juli 2025

Puisi Buat Bapak Prasetyo

 

Puisi ini saya  susun dengan tujuan mulia sebagai ungkapan rasa hormat dan terima kasih yang tulus untuk bapak Prasetyo di ulang tahun beliau ke 57. Semoga bait-bait sederhana ini membawa manfaat menjadi doa yang terangkai indah dan menjadi persembahan kecil dari hati yang penuh Syukur. Aamiin

 

PRASETYO CAHYO NUGROHO

Karya : Gutamining Saida

 

Pintu perlahan terbuka oleh langkah tegas nan  wibawa tercipta olehmu

Ruang ide selalu terbuka bukan hanya suara semata

Arah perubahan tergagas tanpa ragu olehmu

Sejuta keputusan  kau susun satu sikap lahir dari sanubarimu

Engkau padukan dengan pengalaman

Tak gentar hadapi tantangan zaman

Yakin kau kawal amanah dan harapan

Oleh hati yang tulus pikiran tajam

 

Cahaya pemimpin terpancar dari langkahmu

Angin perubahan terhembus dari ilham baru

Hidupkan semangat  hantarkan perubahan

Yakin pendidikan kunci masa depan bangsa

Orang terinspirasi oleh langkahmu

 

Nalar kritis terbingkai empati

Untaian kebijakan penuntun cahaya

Gerakanmu  sederhana namun berdampak

Rencana jelas tak tergoyahkan

Optimisme tersebar dalam setiap kata

Harapan tumbuh di setiap kata kian nyata

Orientasimu jelas  menuntun dengan kehangatan

Cepu, 18 Juli 2025

Terimakasih pak Prasetyo. 

Hikmah dari Status Sahabat

Karya : Gutamining Saida 
Kadang, pelajaran paling dalam tidak datang dari ruang kelas atau buku-buku tebal. Ia bisa datang dari percakapan singkat, dari sebaris status yang tak sengaja lewat di beranda media sosial, atau bahkan dari jawaban sederhana yang menyentuh sisi hati yang paling dalam.

Tadi pagi, saya melihat status sahabat saya . Ia tinggal di Kedungtuban, sahabat sejak lama yang sederhana dalam tutur, namun selalu penuh makna dalam kata. Dia  mengunggah foto dengan menawarkan barang barunya. Beberapa anak unggas berjejer rapi di kandang berwarna kuning sebagian ada hitamnya. Di bawahnya tertulis keterangan: "10K per ekor."

Saya penasaran, karena sekilas saya mengira itu adalah anak bebek. Maka  saya putuskan bertanya lewat pesan singkat.
“Itu bebek, ya?”
Jawabannya langsung, tanpa basa-basi:
“Bukan. Mentok.”
Unggas yang jarang saya lihat belakangan ini. Saya  lalu tertarik menanyakan lebih jauh. Entah karena penasaran atau karena memang sedang ingin berbincang.
“Cara memeliharanya sulit nggak?” tanya saya. 
Ia menjawab dengan ringan, seolah menyuguhkan teh hangat dalam obrolan:
“Nggak. Seperti memelihara ayam saja. Malah kalau diberi makan yang dicampur hijau-hijau, cepat besar.”

Obrolan ini awalnya hanya tentang ternak. Tentang hewan kecil yang dijual dengan harga sepuluh ribu. Namun kemudian saya tergoda untuk bertanya satu hal lagi. Sebuah pertanyaan yang tampaknya biasa, namun ternyata menyentuh bagian dalam diri saya sendiri.
“Kira-kira, bisa disembelih dalam jangka waktu berapa bulan?”

Lalu, datanglah jawaban yang tak terduga. Sebuah kalimat pendek yang menampar pelan hati saya. Kalimat yang mengguncang keangkuhan kecil dalam pikiran manusia yang terbiasa menghitung segalanya secara logika.

“Hanya Tuhan yang tahu.”

Saya terdiam. Tangan ini  menggenggam ponsel tapi tak segera membalas. Kalimat itu begitu kuat, begitu jujur, dan begitu menohok pemahaman aqidah yang selama ini terlalu mengandalkan nalar. Seketika saya merasa bodoh. Terasa benar, betapa dangkalnya aqidah saya dalam menanggapi sesuatu yang sebenarnya hanya Allah yang Maha Mengetahui.

Saya hanya bertanya soal waktu potong unggas. Tapi sahabat saya mengingatkan  bahwa hidup, tumbuh, dan mati adalah urusan Allah Subhanahu Wata'alla, bahkan pada makhluk sekecil mentok sekalipun. Saya yang tadi sibuk menghitung bulan dan menimbang waktu, tiba-tiba merasa tersadar: Ya Allah, betapa sering saya berpikir terlalu sempit… terlalu duniawi.

Saya langsung mengucap istighfar beberapa kali. Dalam hati, saya berbisik penuh penyesalan. 
“Ampuni saya , ya Allah… saya terlalu banyak mengira-ngira apa yang Engkau rahasiakan. Terlalu banyak berharap pada angka, padahal Kau tak pernah terikat hitungan manusia.”

Sahabat saya tidak sedang menguliahi. Ia hanya menjawab dengan jujur, dengan iman yang kuat. Tapi lewat jawabannya, Allah memberi saya pelajaran berharga. Bahwa tidak semua hal bisa diukur dengan matematika manusia. Matematika Allah jauh lebih luas, lebih rumit, dan lebih bijak dari semua rumus yang bisa kita pelajari.

Kadang kita lupa, bahwa rezeki datang bukan karena rencana, tapi karena rahmat. Bahwa hasil panen bukan karena pupuk dan jadwal, tapi karena izin-Nya. Bahwa umur manusia dan hewan sekalipun bukanlah sesuatu yang bisa kita tentukan, meskipun kita bisa memprediksi.  Kesuksesan, pertumbuhan, bahkan kematangan dalam hidup, semua itu adalah rahasia Allah semata.

Status sahabat saya bukan hanya penawaran barang dagangan. Itu adalah jendela yang Allah buka untuk menyadarkan saya. Lewat anak mentok, lewat harga sepuluh ribu, lewat pertanyaan biasa, dan lewat jawaban yang penuh iman, saya merasa dituntun kembali pada hakikat sebagai hamba Allah bahwa kita tidak memiliki apa-apa, bahkan terhadap hal yang tampak kecil.

Saya membalas sahabat saya  dengan ucapan terima kasih. Bukan karena ia menjual dagangan, tapi karena ia telah menyalakan kembali kesadaran yang mulai pudar. Barangkali ia tidak menyadari bahwa jawabannya barusan telah menyentuh satu titik rapuh dalam diri saya. 

Saat ini saya belajar satu hal yaitu jangan pernah anggap remeh hal kecil. Karena dari hal yang kecil, Allah bisa mengajarkan makna yang besar. Kita hanya perlu hati yang terbuka, dan rasa syukur yang jujur.

Terima kasih, sahabat. Terima kasih karena tidak menjawab dengan angka, tapi dengan keimanan. Terima kasih karena mengingatkan saya, bahwa Allah tidak butuh hitungan kita. Justru kitalah yang butuh pengingat dari-Nya. Bahkan meski lewat seekor mentok kecil.
Cepu, 18 Juli 2025 


Kamis, 17 Juli 2025

Satu Baris Doa Pada Delapan Belas Juli



Karya : Gutamining Saida 
Tanggal 18 Juli bukan sekadar tanggal di kalender, bagiku itu adalah momentum penuh makna. Di tanggal itulah sosok yang sangat berjasa dalam hidup saya Pak Prasetyo Cahyo Nugroho, Kepala Sekolah SMPN 1 Kedungtuban merayakan ulang tahunnya. Beliau bukan hanya sekadar atasan atau pimpinan tempat saya dahulu mengajar. Lebih dari itu, beliau adalah motivator dalam diam, dan panutan dalam kepemimpinan.

Beliau adalah kepala sekolah saat saya masih bertugas di SMPN 1 Kedungtuban, sebelum mutasi ke Cepu. Masa-masa itu menjadi pondasi penting dalam perjalanan profesi saya sebagai pendidik. Di bawah arahan dan kepemimpinan beliau, saya  banyak belajar bukan hanya tentang manajemen sekolah, tetapi tentang keteguhan prinsip, kedisiplinan, dan integritas. Beliau memberi contoh, bukan sekadar perintah. Langkahnya tegas, keputusannya penuh wibawa, namun selalu ada kelembutan saat dibutuhkan. Banyak guru yang segan sekaligus hormat padanya seperti sosok pohon besar yang menaungi, bukan menindas.

Sejak jauh-jauh hari, saya telah menandai tanggal ulang tahun beliau dalam ingatan. Bukan karena ada tuntutan atau kewajiban untuk mengingat, melainkan karena ada rasa hormat yang tulus. Saya ingin menyempatkan waktu untuk mendoakan beliau. Meskipun jarak telah memisahkan kami karena mutasi tugas ke Cepu, namun jejak beliau tetap kuat di hati.

Bahkan, saya sudah menyiapkan puisi sederhana untuk beliau. Puisi itu saya tulis dalam malam-malam hening dan pagi yang lirih. Sebuah persembahan dari hati untuk sosok yang berjasa dalam membentuk menjadi pribadi yang lebih baik. Puisi itu belum rampung, masih dalam tahap revisi. Saya merasa belum cukup mewakili segala rasa hormat dan terima kasih yang ingin  saya sampaikan.

Langit terlihat biasa saja, tapi suasana hati terasa berbeda. Saat dalam perjalanan menuju sekolah esmega di Cepu, saya  tak menyangka akan berpapasan langsung dengan beliau. Hanya sesaat, tapi cukup untuk membuat dada ini hangat. Beliau tidak melihat saya. Langkah percaya diri yang tetap menjadi ciri khasnya, seolah mengingatkan saya kembali pada masa-masa ketika masih berada di bawah bimbingan beliau.

Sekejap setelah itu, ingatan  langsung mengarah pada tanggal hari ini yaitu tanggal 18 Juli. Ya, hari ini adalah hari ulang tahun beliau. Tanpa banyak pertimbangan, sampai di sekolah saya langsung membuka kembali puisi yang belum rampung itu. Saya duduk di sudut ruang guru, menyendiri sejenak, menatap lembaran kata yang masih belum sempurna.

Ada haru yang menyeruak. Sebuah rasa syukur karena diberi kesempatan bertemu secara tak terduga di hari yang istimewa. Ada getar di dada saat memperbaiki bait demi bait. Bukan karena puisi itu harus sempurna secara sastra, tapi karena saya ingin menyampaikan isi hati dengan jujur. Setiap kalimat yang tertulis, setiap kata yang saya timbang, semuanya lahir dari rasa hormat yang dalam.

Saya tak lupa menyelipkan doa dalam diam. Untuk Pak Prasetyo. Untuk kesehatan beliau, kebahagiaan keluarganya, dan keberkahan usianya. Dalam doa itu, saya titipkan pula rasa terima kasih yang tak pernah bisa terucap dengan gamblang. Semoga Allah senantiasa menjaga beliau, sebagaimana beliau pernah membimbing. 

Banyak hal yang tidak sempat diungkap secara langsung. Tapi puisi ini, walau sederhana, adalah cara terbaik yang bisa saya lakukan untuk mengenang, menghormati, dan membalas sebagian kecil kebaikan beliau. Dalam bait-baitnya  saya tulis segala rasa yang mungkin tak akan pernah cukup hanya dalam kata-kata.

Walau saya tak lagi di SMPN 1 Kedungtuban, dan jarak fisik memisahkan kami, tapi nilai-nilai yang beliau tanamkan tetap hidup bersama. Dalam setiap kelas yang saya ampu, dalam setiap siswa yang saya dampingi, ada jejak langkah beliau yang tak kasat mata. Dan hari ini, 18 Juli, adalah pengingat bahwa pemimpin  sejati akan selalu hidup dalam hati seorang guru tanpa batas waktu, tanpa dibatasi ruang.

Bahagia rasanya bisa menciptakan puisi ini. Bukan hanya untuk Pak Prasetyo, tapi juga untuk semua orang baik yang pernah Allah hadirkan dalam hidup. Orang-orang yang tak hanya berkata, tapi memberi contoh nyata. Orang-orang yang memotivasi untuk terus belajar, bertumbuh, dan berbagi.

Selamat ulang tahun, Pak Prasetyo. Teriring doa dan hormat yang tak putus. Semoga Bapak selalu dalam lindungan Allah, diberi kekuatan untuk terus menebar kebaikan, dan hidup dalam kebahagiaan bersama keluarga tercinta. Dari hati yang tulus, saya mengucapkan: Terima kasih telah menjadi cahaya dalam langkah-langkah perjalanan saya sebagai pendidik.
Cepu, 18 Juli 2025 

Rabu, 16 Juli 2025

Jaya

Karya : Gutamining Saida 
Hari keempat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMA Esmega selalu dinantikan. Bukan hanya oleh siswa baru, tetapi juga oleh para guru dan panitia yang terlibat. Acara yang paling ditunggu adalah Talenta Show, sebuah ajang yang menjadi wadah untuk menampilkan kemampuan dan bakat siswa dari berbagai angkatan. Selain menjadi panggung apresiasi, acara ini  menjadi sarana untuk mengenalkan ekstrakurikuler yang ada di sekolah.

Di luar dugaan, antusiasme peserta melampaui ekspektasi panitia. Menurut pembawa acara, ada dua puluh dua  penampilan yang akan tampil, terdiri dari siswa baru, kelas 8 dan kelas 9. Semua diberi ruang, semua diberi kesempatan. Tak ada yang ditolak. Mereka tampil dengan penuh semangat ada yang menari, menyanyi, membaca puisi, bermain alat musik, bahkan pantomim pun ada. Suasana lapangan riuh, dipenuhi sorak sorai dan tepuk tangan.

Sebagaimana biasanya, saya mengabadikan momen kegiatan sekolah, sibuk mengambil foto. Saya mengunggah beberapa gambar ke status WhatsApp sebuah cara sederhana untuk mendokumentasikan sekaligus membagikan semangat anak-anak Esmega.

Tak lama setelah status saya tayang, sebuah pesan masuk. Dari seseorang alumni siswa saya yang sudah menjadi seorang guru di SD. "Itu yang pakai baju hitam, teman saya, Bu?" Saya menjawab, "Siapa?" "Jaya, Bu!" Oh. Nama itu membuat saya menarik napas sejenak. Perlahan-lahan kenangan masa lalu menyeruak.

Saya mencoba mengingat tentang sosok Jaya salah satu siswa saya dulu, saat saya masih mengajar lebih dari dua puluh tahun yang lalu. Saya belum yakin seratus persen, rasa penasaran membuat saya memutuskan untuk mencari tahu lebih jauh.

Setelah sesi pertama talenta show usai dan waktu istirahat tiba, saya menyusuri kerumunan dengan mata mencari sosok yang disebut-sebut bernama Jaya. Akhirnya saya temukan, berdiri di pojok lapangan dengan baju hitam dan celana jeans. Wajahnya masih tidak asing, sorot matanya… ya, ada yang tak berubah.

Saya memberanikan diri mendekat. “Hai, kamu Jaya?” Ia menoleh, lalu memandangi saya dari atas sampai bawah. Wajahnya mencoba menebak-nebak. “Maaf, Bu... saya tidak ingat.” Saya tersenyum. “Coba lihat ini,” kata saya sambil menunjuk papan nama di dada saya. 
Matanya mengeja pelan.
“…Saida… Ooooh! Bu Saida! Inget, Bu! Ya Allah, ibu berubah sih!”
Saya terkekeh. “Jelas doong… Semakin tua, ya?” jawab saya ringan.
Tapi dia menggeleng cepat. “Bukan itu, Bu. Ibu sekarang kurusan. Dulu ibu… gendut!” Saya tertawa. Sebuah kejujuran polos dari mantan murid yang baru saja membuka kembali kotak kenangan saya. “Hmm. Iya,” jawab saya singkat, kali ini dengan senyum penuh rasa syukur.

Percakapan singkat,  sangat terkesan. Ada rasa hangat yang mengalir diam-diam di hati saya. Betapa tidak, setelah lebih dari dua dekade, masih ada siswa yang bisa mengenali dan menyapa gurunya. Walau awalnya ia lupa, namun kenangan masa lalu tetap berhasil menembus kabut waktu dan mengantar ingatan kembali ke tempat asalnya.

Usai berbincang sebentar, saya kembali ke tempat untuk menyaksikan penampilan siswa yang lain. Pikiran saya belum sepenuhnya kembali. Pertemuan dengan Jaya menggugah sisi emosional saya sebagai guru. Seringkali kita mengajar, mendidik, dan membina anak-anak tanpa tahu siapa yang akan mengingat kita nanti.  Ketika satu saja dari mereka masih mengenal dan menyapa, rasanya seluruh jerih payah itu terbayar lunas. Ada rasa syukur tak terkira. Saat kita diingat dengan senyum, dikenang dengan tulus, maka itulah hadiah terindah. Karena sejatinya, guru tak pernah berharap balas jasa cukup dikenang, cukup didoakan, itu sudah lebih dari cukup.
Cepu, 16 Juli 2025 


Selasa, 15 Juli 2025

Semarak Sore Esmega

Karya :Gutamining Saida 
Sore tanggal 15 Juli 2025, langit menggantungkan awan tipis seolah hendak menyapa bumi yang tengah sibuk dengan semangat para generasi muda. Lapangan besar SMP Negeri 3 Cepu atau yang akrab disebut Esmega, tampak hidup dengan barisan rapi para peserta MPLS yang berdiri menurut kelas masing-masing.

Dua baris ke belakang, setiap kelas berjejer dengan tertib. Para peserta mengenakan seragam olahraga sekolah yang beragam warna. Ada yang memakai kaos berwarna kuning cerah, merah menyala, biru laut, hingga hijau daun. Warna-warni ini berpadu dengan training olahraga mereka masing-masing, menciptakan harmoni visual yang menyegarkan mata. Sore yang biasanya biasa saja, kini menjelma menjadi semarak penuh semangat.

Kegiatan sore hari ini adalah pelatihan LKBB (Latihan Keterampilan Baris Berbaris) dan pengenalan tata upacara. Meski matahari belum sepenuhnya redup, tidak tampak wajah lelah dari para siswa. Semangat mereka mengalahkan gerah, bahkan beberapa siswa dengan antusias terlihat tertawa kecil saat meluruskan barisan atau memperbaiki posisi berdiri.

Waka Kesiswaan, mengambil alih mikrofon dan mulai berbicara kepada para peserta MPLS. Suaranya jelas, terdengar hingga ke barisan paling belakang. "Anak-anak hebat Esmega," ucapnya mengawali dengan senyum yang tulus, "besok pagi kita akan mengadakan upacara bendera.  Kami ingin petugasnya dari kalian sendiri dan berbeda dengan petugas tadi pagi."

Beberapa wajah langsung tampak saling pandang. Ada yang mengerutkan dahi, ada yang mengangguk - angguk, dan ada pula yang dengan cepat mengangkat alis, tanda mereka mulai tertarik. Waka Kesiswaan melanjutkan, "Tidak perlu saya tunjuk, tidak perlu pakai undian. Cukup dengan kesadaran dan keberanian kalian. Siapa yang siap jadi petugas upacara? Pemimpin? Pengibar bendera? Pembaca UUD? Doa? Dan regu koor?"

Sesaat suasana hening. Lalu perlahan satu tangan terangkat dari barisan kelas 7B, disusul satu lagi dari 7D. Tepuk tangan pun spontan terdengar. Waka Kesiswaan menimpali, "Nah, ini dia semangat yang kita tunggu!" Dua kelas itu dengan percaya diri menyatakan siap menjadi regu koor. Tak lama kemudian, dari berbagai kelas, tangan-tangan mulai terangkat. Seorang siswa dari kelas 7 mengacungkan tangan untuk menjadi pemimpin upacara, siswi dari 7 menyatakan siap menjadi pembaca UUD, dan dari barisan 7E, dua siswa bersahabat mengajukan diri menjadi pengibar bendera.

Proses itu berlangsung cepat, seolah semua sudah siap dari rumah untuk menerima tantangan. Tidak ada wajah takut, tidak ada keluh kesah. Yang ada hanyalah tekad dan rasa percaya diri yang mulai tumbuh. Dalam waktu kurang dari lima belas menit, seluruh petugas sudah lengkap. Siswa yang tunjuk jari langsung disuruh keluar dari barisan.  Panitia dan para anggota OSIS yang sejak awal mendampingi, langsung mengarahkan mereka ke sisi lapangan untuk mulai latihan.

Pelatihan dimulai dengan pengenalan formasi baris, langkah tegap, dan aba-aba standar upacara. OSIS yang bertugas melatih tampak sabar dan telaten membimbing adik-adik kelas mereka. Sesekali terdengar suara tegas penuh semangat dari seorang pelatih OSIS perempuan, "Langkah Satu... dua... tegap!" Siswa-siswa mengikuti dengan antusias, walau terkadang gerakan belum seragam, namun tidak mengurangi semangat mereka.

Di sisi lain lapangan, regu koor sedang berlatih menyanyikan lagu kebangsaan dan hymne sekolah SMPN 3 Cepu . Suara mereka terdengar nyaring dan kompak, walaupun masih perlu diselaraskan nada dan tempo. Ada satu siswa yang suaranya nyaring sekali hingga beberapa teman tertawa kecil, tetapi pelatih OSIS justru memujinya dan memberikan motivasi. “Bagus! Tapi jangan terlalu cepat ya. Kita latih bareng supaya semua enak didengar.” Latihan menyanyi dibawah pengawasan Miss Lian. 

Suasana latihan begitu hidup. Satu sisi menunjukkan ketertiban, sisi lain menunjukkan keharmonisan. Warna-warni baju olahraga yang dikenakan para siswa menjadi simbol dari keberagaman, semangat, dan kebersamaan. Ada yang tampak berkeringat, ada yang melepas topi semuanya tetap bertahan sampai latihan selesai.

Sebagai guru sekaligus wali kelas yang menyaksikan langsung dari sisi lapangan, saya hanya bisa bersyukur dan bangga. Siswa-siswa ini luar biasa. Di hari-hari awal mereka bergabung di sekolah baru, mereka sudah menunjukkan keberanian, antusiasme, dan rasa tanggung jawab. Mereka tak hanya hadir sebagai peserta, tapi sudah belajar mengambil peran, menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.

Mereka pulang dengan membawa rasa percaya diri yang lebih tinggi. Kami, para guru, pulang dengan hati yang penuh harap bahwa generasi hebat ini akan tumbudan berkembang menjadi pribadi yang tangguh, kreatif, dan berkarakter, sebagaimana visi besar Esmega.
Cepu, 15 Juli 2025 

Serunya MPLS di Hari Ketiga

Karya : Gutamining Saida 
Semangat para siswa baru yang bersiap menjalani hari ke tiga kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMP Negeri 3 Cepu atau yang lebih dikenal dengan sebutan Esmega. Suasana sekolah sudah ramai sejak pukul 06.30 WIB. Seragam putih merah tampak berbaris rapi di lapangan, dibimbing oleh kakak-kakak OSIS yang juga mengenakan seragam khusus kegiatan ini.

Kegiatan pagi dimulai dengan upacara singkat namun khidmat. Para siswa baru tampak antusias mengikuti setiap instruksi dari pembina upacara. Setelah upacara selesai, suasana berubah lebih ceria dengan dimulainya senam “Anak Sehat”. Iringan musik yang semangat menggema dari speaker lapangan membuat para peserta bersemangat menggerakkan tubuh mereka. Wajah-wajah ceria dan tawa ringan mulai terdengar, mencairkan suasana canggung antar siswa baru yang sebelumnya belum saling mengenal.

Selepas senam, peserta MPLS diajak masuk ke ruang kelas masing-masing untuk mengikuti materi tentang Profil Lulusan Esmega. Materi ini disampaikan oleh wali kelas  dengan cara yang menyenangkan. Para siswa dikenalkan pada karakter-karakter unggul yang diharapkan bisa terbentuk selama mereka belajar di Esmega. Kata-kata seperti bertaqwa, mandiri, kesehatan, kolaborasi, kreativitas hingga kewargaan mulai akrab di telinga mereka. Siswa tampak aktif menjawab pertanyaan dan memberi pendapat.

Kejutan hari itu belum berakhir. Sekitar pukul 08. 30, sesi  bertajuk You and Me dimulai. Dipandu oleh Ibu Melinda, seorang guru energik dan penuh semangat, siswa diajak melakukan berbagai tantangan seru yang bertujuan membangun kepercayaan diri, mengenal diri sendiri, dan mempererat hubungan dengan teman-teman baru.

Di sesi ini, siswa dibagi dalam beberapa kelompok kecil. Tantangan pertama adalah “Saling Kenal Seru”. Setiap anggota kelompok diminta untuk memperkenalkan diri dengan gaya unik, seperti menyebutkan nama satu kelompok. Gelak tawa pun terdengar di setiap sudut ruangan. Suasana jadi cair, dan para siswa mulai membuka diri.

Selanjutnya, Ibu Melinda memperkenalkan konsep “Senyum Standar Internasional” dengan rumus 2, 2, dan 5. “Tarik bibirmu ke kanan dan kiri masing-masing dua sentimeter, lalu perlihatkan gigimu selama lima detik,” ujarnya sambil mencontohkan dengan ekspresi ceria. Para siswa pun menirukan gerakan itu dengan penuh antusias. Lapangan mendadak dipenuhi senyuman lebar, membuat  tampak lebih hidup dan bersinar.

Ibu Melinda menjelaskan bahwa senyum yang tulus bisa membuka pintu pertemanan dan menumbuhkan rasa percaya diri. “Ingat ya, senyum adalah bahasa universal. Dengan senyum yang tulus, kamu bisa membuat dunia di sekitarmu lebih hangat,” tambahnya. Para siswa mengangguk setuju.

Lalu masuk ke sesi berikutnya, yaitu Salam Hebat. Dalam sesi ini, semua peserta diminta berdiri dan mencari pasangan secara acak. “Sekarang, angkat tangan kiri kalian, letakkan di pundak teman di depanmu,” kata Bu Melinda. “Pijat ringan pundaknya sambil ucapkan: Hai teman, kamu hebat! Kamu cerdas! Semangat ya!”

Perintah selanjunya. “Turunkan tanganmu, sekarang tepuk tangan satu kali, jabat tangan, lalu pandangi wajah temanmu sambil berikan senyum standar internasional,” lanjut Bu Melinda. Kegiatan ini tidak hanya membuat suasana makin akrab, tetapi juga menanamkan nilai-nilai positif dan saling menghargai sejak awal perkenalan.

Bu Melinda kemudian menyampaikan ciri-ciri anak cerdas dengan singkat dan jelas. “Anak cerdas itu cepat berpikir, tepat mengambil keputusan, akurat dalam bertindak, dan rapi dalam bekerja,” katanya sembari mengajak siswa mengulangi bersama-sama. Kata-kata itu menjadi semacam mantra semangat yang menggema di seluruh lapangan. 

Waktu terus berjalan, dan tanpa terasa sesi “You and Me” ditutup dengan tepuk tangan meriah dari semua peserta. Beberapa siswa bahkan sudah mulai saling kenal. Banyak dari mereka merasa sudah mendapatkan lebih dari sekadar teman baru, mereka mulai merasa menjadi bagian dari keluarga besar Esmega.
Jadikan hari ini awal dari petualangan hebat di Esmega. 
Cepu, 15 Juli 2025 

Senin, 14 Juli 2025

Restu Dari Lapangan

Karya : Gutamining Saida 
Matahari belum tinggi saat siswa baru berdiri menunggu  orang tua wali mencari buah hatinya di lapangan sekolah SMPN 3 Cepu . Angin pagi berhembus pelan, membawa semangat baru di hari kedua Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Pagi itu, suasana SMP Negeri 3 Cepu yang akrab disebut Esmega. Tidak hanya dipenuhi siswa baru yang berseragam putih merah tetapi juga para orang tua yang datang memenuhi undangan sekolah untuk menghadiri acara momentum restu.

Setelah pembukaan resmi oleh Kepala Sekolah, suasana mulai menghangat. Para siswa berada lapangan. Sementara itu, wali murid yang hadir mulai mencari putra-putri mereka. Seorang ibu dengan jilbab  merah muda melambaikan tangan ketika matanya menangkap anak perempuannya yang tersenyum malu-malu. Di sisi lain, seorang ayah mendekati anak laki-lakinya dan menepuk pundaknya dengan bangga.

Satu per satu, siswa jongkok di depan orang tua mereka. Kepala tertunduk, tangan menangkup tangan orang tua, lalu suara lirih terdengar dari seberang yang dibacakan oleh petugas dari OSIS. Suasana haru menyelimuti lapangan. Beberapa orang tua tampak mengusap air mata, sementara anak-anak memeluk erat ayah dan ibunya. Hari itu bukan sekadar kegiatan formal, tetapi saat sakral, sebuah titik awal untuk melangkah lebih jauh dalam dunia pendidikan menengah.

Di tengah kebersamaan itu, pandangan saya sebagai wali kelas baru di 7G terarah pada seorang siswi yang berdiri canggung, matanya sembab. Saya baca papan nama di dada  Namanya Kayla. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari-cari orang tuanya yang belum datang. Mungkin terjebak kesibukan, mungkin pula ada halangan lain yang tak terelakkan.

Saya berjalan mendekatinya pelan. “Kayla, kenapa? ”
Ia menggigit bibir, menahan tangis. “Mama belum ada Bu…”
Saya menghela napas pelan. “Kalau begitu, bolehkah Ibu jadi wakil ibumu untuk sekarang?”

Kayla menatap saya sejenak, lalu mengangguk pelan. Air matanya mulai jatuh, dan ia pun jongkok di hadapan saya. Tangannya menggenggam tangan saya erat-erat.

Suasana menjadi sunyi di sekitar kami. Beberapa siswa dan orang tua yang berada dekat dengan kami ikut terdiam, memperhatikan. Saya merasa tenggorokan tercekat. Dengan pelan, saya mengusap kepala Kayla.

Kayla menangis dalam diam. Saya tahu betul, hari itu menjadi momen yang sangat besar baginya. Saya, meski hanya guru wali kelas, merasa turut menjadi bagian dari langkah awal hidupnya di dunia SMP.

Tak jauh dari kami, beberapa siswa dan orang tua mulai terisak. Momen antara anak dan orang tua sebelum benar-benar melepas mereka menjalani dunia baru di sekolah ini mengaduk emosi siapa pun yang menyaksikan.

Setelah semua siswa selesai, acara dilanjutkan menuju kelas  masing-masing. Untuk melanjutkan agenda selanjutnya.

Saya bersama wali murid adalah saksi pertumbuhan anak-anak yang datang dengan latar belakang, cerita, dan harapan masing-masing. Saya menyadari satu hal yaitu menjadi wali kelas adalah amanah yang lebih besar. Itu adalah kesempatan untuk menjadi bagian dari perjalanan hidup seseorang.

Kayla dengan air matanya, dengan restu yang saya sampaikan sebagai pengganti ibunya, telah menorehkan kenangan mendalam pada hari kedua MPLS. Semoga langkah-langkahnya di Esmega menjadi awal dari kebaikan dan prestasi yang menantinya di masa depan.
Cepu, 14 Juli 2025 

MPLS Sore Dihiasi Hujan

Karya : Gutamining Saida 
Sore itu, langit perlahan berubah kelabu. Awan-awan tebal mulai menggantung rendah di atas langit SMP Negeri 3 Cepu. Udara menjadi sejuk, dan angin lembut bertiup membawa aroma tanah yang sebentar lagi akan tersentuh air hujan. Siswa-siswi baru yang sedang menjalani kegiatan MPLS di hari kedua, tampak tetap bersemangat, meski langit mulai mengisyaratkan hujan.

Tak lama kemudian, gerimis turun perlahan, membasahi halaman sekolah. Namun tak satu pun siswa terlihat terganggu. Sebaliknya, semangat mereka justru tetap menyala. Mereka duduk rapi mengikuti kegiatan yang dipandu oleh panitia dan pengurus OSIS.

Semakin sore, hujan turun semakin deras. Suaranya menari-nari di atas atap, menciptakan irama alami yang khas dan menenangkan. Sebagian besar pengurus OSIS yang mendampingi siswa mengenakan seragam kaos putih. Wajah-wajah mereka tetap berseri, menunjukkan wajah luar biasa dalam menyambut adik-adik kelas yang baru.

Di tengah derasnya hujan, kegiatan MPLS tetap berjalan dengan lancar. Waka Kesiswaan berdiri tegak di depan para peserta, memandu acara dengan penuh semangat. Suaranya lantang, menggema melalui pengeras suara, memecah suara rintik hujan yang membanjiri lingkungan sekolah. Beliau mengingatkan para siswa bahwa perjuangan di awal jenjang pendidikan menengah ini akan menjadi fondasi penting bagi masa depan mereka.

Sore ini hujan bukan penghalang, tetapi pertanda bahwa bumi kita sedang diberi rahmat. Meskipun lingkungan sekitar basah oleh rintik hujan, peserta MPLS tetap menunjukkan semangat luar biasa. 

Meski mereka baru memasuki lingkungan ini, mereka mulai merasakan kehangatan dari kebersamaan dan kekompakan yang tercipta selama kegiatan berlangsung.
Hujan yang turun justru menambah suasana menjadi lebih syahdu dan tak terlupakan

Sore itu, hujan menjadi saksi semangat dan harapan baru yang tumbuh di hati para siswa baru Esmega. Di balik setiap tetes hujan, semoga tumbuh tekad yang kuat, keberanian, dan keteguhan hati untuk belajar, bertumbuh, dan menjadi pribadi yang membanggakan.
Cepu, 14 Juli 2025 


Minggu, 13 Juli 2025

Langkah Baru di Kelas Tujuh


Karya :Gutamining Saida 
Sabtu pagi, tanggal 12 Juli, matahari belum sepenuhnya tinggi ketika saya melangkahkan kaki ke sekolah dengan perasaan bahagia. Hari itu adalah hari pertama saya menjalankan tugas baru, sebuah amanah langsung dari kepala sekolah. Saya diberi tanggung jawab sebagai pendamping kelas tujuh tepatnya di kelas Tujuh G.

Saat kabar itu sampai di telinga saya, rasa syukur langsung terucap melalui lisan. Namun tak bisa saya pungkiri, telinga ini juga menangkap berbagai komentar. Beberapa bernada canda, sebagian lagi terdengar seperti celotehan ringan. “Wah, kelas tujuh G, ya... Selamat menikmati!” ujar salah satu rekan guru sambil tertawa kecil. Saya hanya tersenyum. Dalam hati, saya berusaha menerima amanah ini dengan lapang dada.

Bagi saya, setiap amanah adalah ladang amal, jika dijalani dengan niat yang tulus. Pagi itu saya mantapkan hati. Bismillah. Saya niatkan tugas ini sebagai jalan pengabdian, bukan hanya untuk sekolah, tapi juga sebagai bekal di akhirat kelak. Ridho Allah, itulah yang saya harapkan. Jika keberadaan saya bisa bermanfaat bagi lingkungan Esmega, bagi para peserta didik baru yang sedang memulai perjalanannya, maka saya ingin menjalaninya dengan sepenuh hati.

Tugas langsung dimulai hari itu juga. Saya terjun mendampingi kegiatan pra-MPLS bersama siswa-siswa OSIS dan wali kelas tujuh serta guru lainnya. Kegiatan dibagi menjadi dua sesi adalah pagi dan sore. Meski melelahkan, saya justru merasa senang bisa turut serta menyambut siswa baru yang masih polos dan penuh rasa ingin tahu.

Saya melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana para pengurus OSIS menunjukkan dedikasi dan tanggung jawab. Mereka menyambut siswa baru dengan senyum ramah,  mendampingi selama kegiatan, bahkan mengantar hingga ke pintu gerbang saat pulang. Ini bukan sekadar acara seremonial. Ini adalah pendidikan karakter secara nyata. Dan saya bersyukur bisa menjadi bagian dari itu.

Hari Minggu pun saya tidak libur. Sesuai undangan pukul 09.30 WIB semua wali kelas tujuh datang ke sekolah, kali ini mendampingi pengurus OSIS membersihkan ruang-ruang kelas dan mempersiapkan ruangan untuk kegiatan MPLS yang akan dilaksanakan di dalam kelas besok Senin . Melihat mereka menyapu, mengepel, menyusun kursi, membersihkan papan tulis, saya merasa seperti sedang menanam benih. Mereka bukan sekadar membersihkan ruang fisik, tetapi juga menata hati dan kesiapan untuk menyambut adik-adik kelas mereka dengan baik.

Di ruang kelas Tujuh G, saya  melibatkan diri dengan pengurus OSIS. Sesekali saya berdialog dengan siswa OSIS, menyemangati mereka, dan tak jarang tertawa bersama. Momen-momen seperti ini yang justru membuat saya merasa hidup sebagai guru yaitu saat bisa hadir, membersamai, dan belajar bersama mereka. 

Dalam menjalani tugas baru ini saya belum sepenuhnya mahir. Ada banyak hal yang masih harus saya pelajari.  Semangat baru itu terus tumbuh. Saya merasa seperti sedang membuka lembaran baru dalam perjalanan pengabdian saya. Tugas mendampingi kelas Tujuh G bukan sekadar soal administrasi dan pengawasan, tetapi soal mencintai proses tumbuhnya anak-anak yang kelak akan menjadi generasi penerus bangsa.

Saya pun mulai mengenali satu per satu wajah siswa di saat  lapangan. Beberapa terlihat pendiam, ada yang ceria, ada pula yang tampak masih bingung menyesuaikan diri. Saya tahu, masa transisi dari SD ke SMP bukanlah hal mudah. Mereka butuh bimbingan, teladan, dan pendamping yang sabar. Saya ingin menjadi bagian dari proses itu.
Di dalam hati saya berbisik, “Semoga semua langkah ini ada nilainya di sisi Allah Subhanahu Wata'alla.” Saya percaya, setiap peluh yang jatuh, setiap senyum yang saya bagi, setiap kata baik yang saya ucapkan di lingkungan sekolah, jika diniatkan karena Allah Subhanahu Wata'alla, bisa menjadi tabungan kebaikan di akhirat kelak.

Hari-hari awal ini adalah titik tolak bagi saya untuk terus memperbaiki diri. Bukan hanya sebagai guru, tetapi sebagai pribadi yang ingin hidup lebih bermakna. Saya tidak tahu akan seperti apa perjalanan mendampingi kelas Tujuh G ke depan. Tetapi satu yang pasti, saya ingin menjalaninya dengan niat yang lurus dan hati yang ikhlas.

Semoga niat baik ini dijaga oleh Allah. Semoga langkah-langkah kecil saya di sekolah ini bisa menjadi cahaya, tak hanya bagi orang lain, tetapi juga untuk diri saya sendiri.
Cepu, 13 Juli 2025 

Senyum Ramah di Gerbang Esmega

Karya : Gutamining Saida 
Di lingkungan sekolah, ada hal-hal kecil yang sering kali luput dari sorotan, namun menyimpan makna besar dalam mendidik dan membentuk karakter. Di Esmega, sekolah tempat saya mengabdi dan belajar, banyak hal baik yang saya temukan. Salah satunya saya saksikan langsung saat mengikuti dan mengamati agenda pra-MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) kemarin.

Agenda ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Lebih dari itu, ini adalah pintu masuk bagi para siswa baru untuk mengenal suasana dan budaya sekolah. Dan siapa sangka, di balik lancarnya kegiatan tersebut, ada kerjasama apik yang patut diteladani—antara OSIS, waka kesiswaan, serta seluruh jajarannya.

Pagi itu, suasana di halaman depan sekolah sudah terasa berbeda. Matahari belum tinggi, namun semangat para pengurus OSIS sudah menyala terang. Mereka berdiri berjajar, mengenakan seragam khas OSIS dengan senyum ramah yang tidak dibuat-buat. Begitu siswa baru datang bersama orang tua mereka, para pengurus OSIS langsung menyambut di pintu gerbang.

“Selamat datang di Esmega! Silakan masuk, kegiatan akan dimulai di aula,” ucap seorang siswa sambil menunjukkan arah.

Yang membuat saya terkesan, senyum dan sapaan itu bukan formalitas. Mereka benar-benar menjalankan peran dengan tulus. Ada yang membantu membawakan tas adik-adik kelasnya, ada yang menenangkan siswa baru yang masih terlihat canggung, bahkan sebagian dari mereka rela berlarian ke sana kemari memastikan semua berjalan lancar.

Tak berhenti di situ. Saat kegiatan berlangsung, para pengurus OSIS tetap setia mendampingi. Mereka duduk bersama siswa baru, menjelaskan hal-hal teknis dengan sabar. Bila ada yang bingung, langsung dibimbing. Bila ada yang malu bertanya, mereka yang mendekat lebih dulu. Kehadiran mereka seolah menjadi jembatan yang menghangatkan antara siswa baru dan lingkungan sekolah yang masih asing.

Salah satu momen yang saya ingat jelas adalah saat yel-yel dikumandangkan. Serempak mereka menyuarakan semboyan Esmega dengan semangat membara

"Esmega… Ramah! Bahagia! Ceria!"

Suara mereka membahana, menyatu, penuh energi. Tidak hanya menggetarkan halaman sekolah, tapi juga hati saya yang menyaksikan dari sisi lapangan. Ada rasa bangga yang muncul tiba-tiba, bahwa saya menjadi bagian dari sekolah yang menanamkan nilai-nilai positif sejak hari pertama siswa baru menginjakkan kaki.

Hari itu juga berlangsung latihan baris-berbaris. Tidak mudah melatih adik-adik kelas yang baru saja lulus SD untuk berdiri tegap dan mengikuti aba-aba. Namun lagi-lagi, OSIS membuktikan kedewasaan mereka. Dengan suara lantang waka kesiswaan dipraktikkan oleh anggota OSIS diikuti oleh siswa baru. Sebagian yang lain mereka membimbing barisan demi barisan. Ada pula sesi gladi bersih upacara pembukaan MPLS yang akan dilaksanakan hari Senin. Semua berjalan sesuai rencana.

Yang lebih menyentuh, ketika kegiatan selesai menjelang siang dan sore hari, para pengurus OSIS tak langsung pulang. Mereka tetap berdiri di jalur keluar, memastikan setiap siswa baru keluar dengan tertib dan merasa diperhatikan. Bahkan beberapa di antaranya mengantar sampai ke gerbang, mengucapkan sampai jumpa dengan senyum lebar yang sama seperti saat menyambut di pagi hari.

Dalam hati saya bergumam, “Inilah pendidikan karakter yang nyata.” Tidak hanya diajarkan di ruang kelas, tapi dipraktikkan secara langsung. Para pengurus OSIS itu yang dulunya juga pernah disambut dengan cara serupa kini menjadi contoh nyata bagi adik-adik mereka. Mereka tumbuh menjadi pribadi yang peduli, ramah, bertanggung jawab, dan penuh inisiatif. Semua tentu tak lepas dari bimbingan dan arahan dari Waka Kesiswaan beserta tim pembina OSIS yang terus membimbing dengan sabar dan konsisten.

Saya belajar satu hal penting  yaitu pengaruh yang baik itu menular. Jika lingkungan sekolah terus menanamkan semangat positif, maka siswa-siswa pun akan tumbuh dalam suasana yang membangun.

Pra-MPLS di Esmega bukan hanya sukses secara teknis, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam secara emosional dan moral. Sebagai pendidik, saya merasa diingatkan kembali bahwa tugas kita bukan sekadar mengajar, tetapi menumbuhkan. Dan apa yang dilakukan OSIS kemarin adalah bukti bahwa yang tumbuh itu mulai berbuah.

Kini saya menanti hari Senin, saat upacara pembukaan MPLS resmi dimulai. Saya yakin, semangat dari para anggota OSIS akan menular pada siswa baru, dan dari sanalah harapan-harapan baru Esmega bermula dari senyum ramah di gerbang, dari yel-yel yang bersahaja, dari barisan yang tegap, dan dari kepedulian yang nyata.
Cepu, 13 Juli 2025 




Sabtu, 12 Juli 2025

Gas dan Doa Yang Menyala


Karya : Gutamining Saida 
Menjadi istri dan ibu rumah tangga sering kali identik dengan bisa segalanya mulai dari urusan dapur hingga tanggung jawab anak-anak. Namun tidak bagi saya. Ada satu hal yang selalu saya andalkan sepenuhnya pada suami yaitu memasang tabung gas elpiji. Bukan karena saya tidak mampu, tetapi karena memang belum pernah belajar. Ada rasa takut, trauma lama saat dulu mencoba dan terdengar suara mendesis. Sejak saat itu, saya mundur, menyerah, dan selalu berharap suami ada di rumah saat gas habis.

Setiap hari, saya memasak dua kali pagi dan malam. Sudah menjadi rutinitas selepas Subuh dan setelah Magrib. Kami hanya bertiga di rumah suami, saya dan anak. Namun kebutuhan untuk menyediakan makanan tetap sama pentingnya.

Kemarin suami pamit ke kota Tegal untuk antar cucu-cucu yang selesai liburan. Sebelum berangkat, beliau sempat mengecek tabung gas. “Nanti cukup saya sampai pulang nggak, ya?” gumamnya sambil menimbang tabung.

Nada khawatir itu seolah pertanda. Beliau tahu, kalau gas habis saat dia tidak di rumah, saya akan kelimpungan. Saya hanya tersenyum, tak berpikir akan benar-benar terjadi.

Baru hari pertama gas sudah habis. Saya coba lagi, tak juga keluar api. Gasnya habis. Saya duduk terdiam di kursi makan, memandangi kompor. Mau minta tolong tetangga? Malu. Seorang ibu rumah tangga tidak bisa pasang gas? Terlalu sederhana untuk disebut “masalah”, tetapi cukup membuat saya gelisah. Saya sadar, saya tidak bisa seperti ini terus. Menunggu suami pulang masih empat hari lagi. Terlalu lama untuk hanya makan seadanya.

Lalu saya berdoa lirih dalam hati, “Ya Allah, bantu saya. Kalau bisa, kirimkan seseorang yang bisa menolong…”
Doa itu ternyata tidak lama berbalas. Selesai salat subuh  Bu Utomo, tetangga sebelah rumah. 
Saya spontan cerita sambil tersenyum kaku, “Mau masak, gasnya habis. Bingung saya…”
Tanpa banyak tanya, Bu Utomo tersenyum, “Sini, biar saya bantu pasangkan.”

Saya lega. Cepat-cepat saya ajak menuju dapur. Dalam waktu tak sampai lima menit, dengan cekatan Bu Utomo memasang regulator, memastikan tak ada bunyi aneh atau kebocoran. Kompor pun menyala. “Sudah, coba dicek dulu. Aman,” katanya sambil membersihkan tangannya. 
“Masya Allah… Bu, makasih banget. Saya sampai nggak tahu harus bilang apa. Rasanya lega sekali.”
“Lain kali kalau butuh bantuan, bilang saja ya. Kita tetangga, saling bantu.”

Saya mengangguk berkali-kali, terharu. Dalam hati saya sadar, pertolongan datang lewat tangan orang baik. Doa yang saya panjatkan semalam Allah jawab dengan cara yang sederhana tetapi sangat berarti. Tak hanya kompor yang menyala hari itu, tetapi juga semangat saya. Saya pun bertekad suatu hari saya harus bisa belajar memasang gas sendiri. Bukan untuk menggantikan peran suami, melainkan untuk menjadi pribadi yang lebih berani dan mandiri.

Nasi dan sayur kembali tersaji di meja makan.Merasa  lebih dari sekadar makanan, ada rasa syukur yang menghangatkan dada. Bahwa di tengah keterbatasan saya, Allah tetap hadir. Lewat tangan Bu Utomo, gas kembali menyala, dan saya kembali percaya bahwa selama ada niat dan doa, pasti ada jalan.
Cepu, 13 Juli 2025 

Semangat Harus Muda

Karya : Gutamining Saida 
Sabtu, tanggal 12 Juli 2025 diawali dengan koordinasi kegiatan MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) yang dipimpin langsung oleh Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan. Walaupun ini adalah kegiatan rutin tahunan, namun tetap saja, koordinasi di awal menjadi hal yang sangat penting. Mengapa? Karena setiap tahun selalu ada perubahan. Entah itu perkembangan regulasi, kondisi peserta didik, atau dinamika internal sekolah yang tak pernah bisa diprediksi. Maka, seperti membuka buku baru, MPLS pun harus dibaca dari awal, dikaji ulang, dan dilaksanakan dengan kesiapan yang matang.

Sekitar pukul 09.30, saya masih duduk manis, mencatat hal-hal penting di buku tulis saya yang mulai terlihat penuh dengan garis-garis, angka, dan coretan ringan. Tapi detik itu juga, suasana ruang guru berubah drastis. Waka Kurikulum, dengan suara yang tenang namun penuh arti, mulai membacakan daftar nama wali kelas untuk tahun pelajaran baru 2024-2025 . Seperti biasa, saya mencatat sambil membayangkan wajah-wajah siswa dan kelas mana yang kelak akan saya isi dengan cerita.

Daftar dibacakan mulai dari kelas tujuh A, B, C, dan seterusnya. Saya terus mencatat dengan santai, karena dalam benak saya, tugas wali kelas tahun ini tidak bisa saya prediksikan seperti biasa. Beda dunia beda kebijakan. Menurut informasi akan dipercayakan pada guru-guru muda. Itu sudah menjadi pola umum dari tahun ke tahun. Apalagi saya merasa… ya, saya ini sudah termasuk “golongan tua.” Saya sudah siap  menerima tugas di kelas tujuh,  delapan atau sembilan.

Dugaan saya meleset. Saat sampai pada pengumuman wali kelas tujuh G, telinga saya menangkap sesuatu yang membuat tangan saya berhenti menulis. Nama saya disebut. “Bu Saida.”

Seketika itu suasana ruang guru meledak. Beberapa guru bersorak, sebagian lainnya tertawa dan saling melempar pandang. Suara Bu Isna terdengar paling jelas, “Hhhh Bu Saida termasuk muda ya sekarang!” Diikuti gelak tawa dan candaan yang bersahutan dari berbagai penjuru ruangan terutama bagian belakang. 

Saya sendiri sempat bengong beberapa detik, lalu akhirnya ikut tertawa. Buku yang saya pegang sampai jatuh dari pangkuan karena saya refleks berdiri dan membalas komentar ibu-ibu tadi, “Ooooh benar banget! Kalau begitu saya ini masuk kategori muda. Soalnya saya baru enam bulan!”

Tawa semakin keras. Beberapa guru malah menahan geli. Saya lanjutkan, “Usia saya ini baru enam bulan… sejak masuk ke dunia Esmega!” Kalimat itu membuat semuanya paham, bahwa walaupun usia biologis saya bukan lagi belia, tapi di lingkungan SMP Negeri 3 Cepu, saya adalah pendatang baru. Seorang bayi yang belum banyak tahu seluk-beluknya, belum banyak pengalaman, dan masih meraba-raba dunia kerja di tempat ini.

Saya lanjut berkata dengan senyum, “Jadi kalau saya salah-salah nanti, maklum ya… namanya juga masih belajar tengkurap.” 

Dalam hati saya bersyukur. Apapun tugas yang diberikan, selama ini adalah amanah yang datang dari pimpinan sekolah, saya menerimanya dengan lapang dada. Allah tentu punya rencana terbaik untuk setiap hambanya. Mungkin saja penempatan ini adalah salah satu jalan agar saya bisa mengenal siswa lebih dekat, membimbing mereka dari titik awal masa SMP, dan menanamkan nilai-nilai yang baik sejak mereka duduk di kelas tujuh.

Meski sempat terkejut, saya tahu bahwa tugas ini bukan beban, tapi justru peluang. Kesempatan untuk menanam kebaikan, menyiram nilai, dan menumbuhkan semangat pada generasi yang sedang mencari jati diri.

Usia tua bukanlah halangan. Justru pengalaman yang saya punya semoga bisa menjadi bekal. Saya sadar, semangat muda tetap harus dijaga. Saya harus menjadi wali kelas yang tidak hanya mendampingi dari sisi akademik, tapi juga menjadi sosok yang menyenangkan, bisa diajak curhat, bisa memberi solusi, dan yang penting. 

Saat rekan-rekan guru masih menggoda saya hanya tersenyum sambil mengangkat jempol. Dalam hati saya bergumam, “Tak apa, tua di usia, tapi muda di semangat dan penerimaan tugas dengan lapang dada.” Lagi pula, siapa yang bisa menebak? Mungkin ini awal dari cerita-cerita indah bersama kelas tujuh G. Mungkin akan ada tawa, air mata, atau kejutan yang tak pernah saya sangka. 
Perjalanan di dunia Esmega baru saja dimulai.
Cepu, 12 Juli 2025 



Rabu, 09 Juli 2025

Rumah Baru Elmira

Karya :Gutamining Saida 
Cucu-cucu saya adalah sumber tawa, kehebohan, dan rasa haru yang tidak bisa saya lukiskan dengan kata-kata. Sebagai seorang nenek saya selalu memanfaatkan momen kebersamaan ini untuk mendampingi mereka belajar melalui permainan. Tak harus selalu lewat buku atau gawai. Kegiatan sederhana seperti menggambar, menyusun puzzle, atau membuat kerajinan tangan justru sering menjadi sumber pembelajaran yang paling menyenangkan.

Suasana rumah riuh dengan suara Zaskia, Hamzah dan Elmira yang sedang sibuk menempel-nempel stik es krim. Ruang tamu berubah jadi arena  permainan mereka.  Kertas, karton, potongan kardus, bola  dan tentu saja puluhan stik es krim bertebaran di sekeliling mereka.

Elmira yang sejak tadi bermain sendiri di pojokan, berjalan pelan-pelan menuju ruang tamu. Di tangannya ada semangkuk kecil berisi stik es krim yang ia kumpulkan dari ruang tengah. 

“Timmi… Elmira mau bikin rumah,” katanya pelan, dengan mata berbinar penuh harap.

Elmira yang masih berusia tiga tahun memang belum pernah benar-benar ikut permainan, kerajinan seperti kakak-kakaknya. Biasanya ia hanya menonton atau membantu memungut sisa-sisa bahan. Tapi pagi itu, tampaknya ia ingin ikut ambil bagian.

“Wah, boleh banget, sayang. Ayo sini, duduk sama Timmi,” ajak saya sambil menepuk lantai di samping saya.

Elmira duduk. Tangannya masih menggenggam erat mangkuk kecil berisi stik es krim.  Kemudian ia sibuk menempelkan stik es sebagai dinding rumah pada lantai. Suaranya tak banyak, matanya mengamati dengan sangat serius. Saya tahu, di dalam pikirannya sedang bekerja keras membayangkan apa yang ingin ia buat.

“Rumah Elmira…” gumamnya pelan.
Saya menoleh. “Rumah dari stik es krim?”
“Iya, pakai stik es krim. ” jawabnya polos, sambil memiringkan kepalanya.

Saya tertawa kecil. Rupanya ia sedang membayangkan rumah yang baru. Imajinasi anak-anak memang selalu menarik dan kadang tak terduga.

“Wah, rumah! Ide bagus! Ayo kita buat. Timmi bantu ya.”
Elmira mulai menempelkan stik es krim satu demi satu. Gerakannya masih ragu. Saya ingin ia menikmati prosesnya, bukan sekadar hasil akhirnya.

Elmira sibuk menyusun potongan stik seperti membuat pagar mungil. 
Setelah beberapa menit, “rumah versi Elmira pun selesai."

Elmira berhasil menyelesaikan karya pertamanya dari stik es krim. Bukan rumah paling rapi, bukan juga yang paling besar, tapi yang paling imajinatif dan penuh makna.

Saya tahu, bagi anak seusia Elmira, karya seperti ini adalah langkah besar. Dia bukan lagi sekadar penonton. 

Saya merasa sangat bersyukur bisa menyaksikan Elmira membangun rumah dari stik es krim yang penuh cinta.
Cepu, 9 Juli 2025